Anda di halaman 1dari 6

RUMUSAN PERTEMUAN

EVALUASI KETAHANAN PANGAN TAHUN 2010 DAN SINKRONISASI


PROGRAM KERJA DAN ANGGARAN KETAHANAN PANGAN TAHUN 2011
TINGKAT KAB/KOTA WILAYAH I

Dalam rangka meningkatkan kinerja ketahanan pangan dan memantapkan


pelaksanaan program ketahanan pangan di tingkat kabupaten/kota Wilayah I
Indonesia, maka Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian bekerjasama
dengan Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Banten menyelenggarakan
"Evaluasi Kegiatan Tahun 2010 dan Sinkronisasi Program Kerja dan Anggaran
Ketahanan Pangan Tahun 2011 tingkat Kabupaten/Kota Wilayah I" di Hotel Le
Dian Serang Provinsi Banten pada tanggal 1 3 Maret 2011. Pertemuan tersebut
dihadiri oleh Eselon I, II, III dan IV lingkup Badan Ketahanan Pangan, perwakilan
dari Direktorat Pelaksana Anggaran Ditjen Perbendaharaan Kemenkeu, Biro
Keuangan dan Perlengkapan Sekretariat Jenderal

Kementerian Pertanian,

Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian, Kepala Badan/Dinas Ketahanan


Pangan Kabupaten/Kota Wilayah I (Se Kalimantan, Se Sumatera, Banten, DKI
Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta) serta salah satu Pejabat dari Badan/Unit Kerja
Ketahanan Pangan Provinsi Wilayah I.
Rumusan hasil informasi dan pemaparan para nara sumber serta hasil diskusi
panel dapat dirangkum menjadi langkah-langkah utama yang perlu ditindaklanjuti
sebagai berikut :
A.

Pengembangan Distribusi dan Cadangan Pangan

1.

Persyaratan Gapoktan LDPM yang berhak menerima bansos tahap ke 2


adalah Gapoktan yang telah melalui 2 putaran dalam pemanfaatan dana
bansos tahap pertama untuk pembelian dan penjualan gabah sebanyak 2 kali
dalam satu tahun. Hasil transaksi dicatat dilaporkan melalui sms setiap
minggu ke SMS Centre Pusat Distribusi dan Cadangan Pangan.

2.

Bansos Pengisian Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) hanya disalurkan


kepada Kelompok LPM terpilih yang telah memiliki Bangunan Lumbung yang
1

dibangun oleh Dana Alokasi Khusus (DAK) dan APBN Tahun 2009.
Pemerintah Daerah diharapkan dapat mendorong upaya pengembangan dan
pembangunan lumbung yang bersumber pada APBD setempat. Selain itu
mengingat keterbatasan anggaran pemerintah, pengembangan Lumbung
Pangan Masyarakat di wilayah perkotaan belum menjadi kebutuhan
mendesak, mengingat akses transportasi yang relatif lancar serta potensi
rawan pangan dan bencana yang lebih rendah dari wilayah perdesaan.
B.

Pengembangan Diversifikasi Pangan dan Keamanan Pangan Segar

3.

Pengembangan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber


pangan lokal dilaksanakan secara sungguh-sungguh dengan memaksimalkan
potensi sumber-sumber pangan di daerah. Melalui penerapan sentuhan
teknologi pangan, serta promosi dan jalinan pemasaran yang memadai,
diharapkan sumber pangan lokal tersebut dapat semakin dikenal dan
dikonsumsi oleh masyarakat secara luas.

4.

Agar lebih optimal di dalam pembinaannya, lokasi dan sasaran kelompok


penerima manfaat pada kegiatan pengembangan pekarangan P2KP berada
satu lokasi dengan atau juga merupakan sasaran kelompok wanita pelaku
UMKM yang menerima bantuan peralatan pengolah tepung, kecuali jika di
desa penerima manfaat P2KP tidak ada kelompok wanita/dasa wisma, maka
dapat dialihkan ke desa lain.

5.

Hasil

evaluasi

terhadap

preferensi

masyarakat

menyatakan

bahwa

penggunaan sumber pangan karbohidrat non beras kurang diminati karena


bentuknya tidak seperti bentuk beras, dan selama ini hanya digunakan
sebagai makanan sampingan. Sehubungan hal tersebut, maka pada tahun
2011 akan dilaksanakan kajian tentang beras analog sebagai bahan dasar
pengganti/substitusi

beras,

selain

itu

akan

dikaji

kemungkinan

pengembangan dan aplikasi teknologi dan mekanisasi berupa alat ekstruder


pembuatan beras analog.

C.

Pengembangan Ketersediaan dan Kerawanan Pangan

6.

Pelaksanaan kegiatan Desa Mandiri Pangan dan Penanganan Daerah Rawan


Pangan (PDRP) tahun 2011 mengacu pada Pedoman Umum dan Pedoman
Teknis Kegiatan Desa Mandiri Pangan Tahun 2011 serta Pedoman Teknis
Penanganan Daerah Rawan Pangan (PDRP) Tahun 2011. Pada pelaksanaan
kegiatan Desa Mandiri Pangan Tahun 2011 peran camat, khususnya dalam
gerakan kemandirian pangan untuk memobilisasi sumberdaya di wilayahnya
sudah mulai ditingkatkan.

7.

Dana PDRP dapat segera dicairkan setelah ada rekomendasi tim SKPG
sesuai dengan Permentan No. 43 Tahun 2010 di daerah yang dinyatakan
dalam peta FSVA berwarna kuning dan merah, tanpa harus menunggu
terjadinya bencana. Hasil analisis SKPG perlu diekspose dan dikoordinasikan
bersama instansi lintas sektor. Untuk itu perlu dukungan APBN dan APBD
terkait dengan operasional pelaksanaan SKPG yang sesuai kondisi wilayah.

8.

Pada tahun 2011 akan dilakukan penyusunan FSVA Provinsi dirinci hingga
wilayah kecamatan di 19 provinsi, sedangkan penyusunan FSVA kabupaten
yang dirinci hingga wilayah desa di 14 provinsi. Diharapkan Provinsi dan
Kabupaten/kota sudah mengalokasikan APBD untuk mendukung penyusunan
kegiatan tersebut.

D.

Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya

9.

Sesuai dengan kebijakan percepatan pelaksanaan kegiatan dan anggaran


tahun 2011 dimana pada bulan Maret (Triwulan I) serapan anggaran harus
sudah mencapai 20 % dan 50 % pada bulan Juni (Semester) 2011, sehingga
diharapkan realisasi anggaran tidak menumpuk di akhir tahun. Implementasi
kebijakan tersebut dilaksanakan melalui percepatan penyaluran dana bansos,
antara lain

Penyaluran Bansos pada kegiatan Lembaga Distribsi Pangan

Masyarakat (LDPM) dan Pengembangan Pekarangan pada kegiatan


Percepatan Penganekaragaman Pangan (P2KP) tahun kedua (LDPM dan
P2KP) dicairkan sebelum Juni, sedangkan penyaluran dana bansos tahun
pertama (LDPM, P2KP dan Desa Mapan) akan dilaksanakan pada bulan Juli
3

sampai Agustus. Meski demikian terdapat beberapa kendala yang ditemukan


dalam implementasi langkah percepatan tersebut, antara lain belum
ditetapkannya SK Pejabat Pengelola Keuangan (KPA, PPK, Bendaharawan
dan Penguji SPM) pada Satuan Kerja Pengelola Dana Tugas Pembantuan
Kabupaten/kota, keterlambatan penyelesaian dokumen Juklak/Juknis dan
pemanfaatan dana bansos yang kurang sesuai dengan kondisi wilayah
spesifik.
10.

Sehubungan

dengan

adanya

arahan

Menteri

Keuangan

tentang

Penghematan Anggaran APBN Kementerian/Lembaga TA. 2011 sebesar 10


% untuk direalokasi pada pembiayaan kebijakan nasional berupa Percepatan
Peningkatan Produksi Padi Nasional. Implementasi Kebijakan tersebut akan
diperkuat dengan diterbitkannya Inpres pada bulan Maret.

Menyikapi hal

tersebut, Badan Ketahanan Pangan telah melakukan exercise penghematan


terhadap seluruh Satuan Kerja (Kantor Pusat, Dekonsentrasi maupun Tugas
Pembantuan) dan telah disampaikan kepada seluruh daerah pelaksana
program untuk disesuaikan dengan kebutuhan dan urgensi kegiatan
Ketahanan Pangan. Agar pelaksanaan anggaran dan kegiatan tidak
terhambat, seluruh SKPD masih dapat melaksanakan pencairan dana APBN
pada pos kegiatan dan anggaran yang tidak dilakukan penghematan.
Langkah tersebut diambil agar kinerja penyerapan anggaran tidak terganggu
dengan adanya Inpres dimaksud.
11.

Sesuai dengan adanya Surat Edaran Menteri Keuangan tentang batas waktu
pengajuan usulan pencairan tanda blokir pada kegiatan dan anggaran di
beberapa Satuan Kerja yang ditetapkan bulan Juni 2011, diharapkan seluruh
Satuan Kerja yang memiliki anggaran yang diblokir untuk segera mengajukan
usulan pencairan tanda blokir dengan dilengkapi Kerangka Acuan Kerja, serta
data pendukung lain yang diperlukan. Usulan tersebut ditujukan kepada
Kepala Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian paling lambat
bulan April 2011.

12.

Hasil temuan Inspektorat maupun Badan pemeriksa lainnya, menyatakan


bahwa secara umum pemanfaatan dana bansos oleh kelompok sasaran tidak
sesuai Rencana Usulan Kegiatan (RUK), sehingga pelaksanaannya dinilai
4

kurang sesuai dengan Pedoman Teknis. Berkaitan hal tersebut, disarankan


agar RUK dapat direvisi untuk disesuaikan dengan kondisi pada saat
pencairan.
13.

Hasil evaluasi pelaksanaan SIMAK BMN dan SAI menyatakan bahwa


pendataan dan pencatatan aset inventaris hasil perolehan dari dana APBN
Ketahanan Pangan masih kurang baik, Hal tersebut disebabkan oleh
keberadaan aset digunakan oleh instansi di luar Ketahanan Pangan,
sehingga tidak terpantau kondisi dan terkoordinasi penggunaanya. Oleh
sebab itu diharapkan kepada seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
pengelola

dana

inventarisnya

APBN

kepada

ketahanan

pihak

lain.

pangan
Apabila

tidak
dalam

meminjamkan
kondisi

aset

mendesak,

peminjaman aset untuk masa 2 tahun kepada pihak lain wajib mengikuti
prosedur yang telah ditetapkan. Selanjutnya apabila masa peminjaman
melebihi waktu 2 tahun wajib mendapat persetujuan Kuasa Pengguna Barang
di tingkat Eselon I dengan tembusan kepada Sekretariat Jenderal
Kementerian Pertanian yang selanjutnya akan dilaporkan kepada Ditjen
Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan. Untuk pengalihan aset dari
Satker non aktif harus mengikuti langkah-langkah penyerahan aset untuk
satker mati yang dikeluarkan oleh Sekretariat Jenderal Kementerian
Pertanian.
14.

Khusus untuk penyaluran bantuan barang ke masyarakat sasaran program,


agar dipastikan barang yang akan disalurkan tidak masuk pada kategori akun
Belanja Modal sehingga terhindar dari masalah baik dalam penggunaannya
maupun di dalam pelaporan keuangannya. Selain itu, aset modal yang sudah
terlanjur disalurkan ke masyarakat pada masa lalu akan diupayakan
persetujuan penghapusannya oleh Ditjen Kekayaan Negara, Kementerian
Keuangan melalui Biro Keuangan dan Perlengkapan setelah diperiksa oleh
Inspektorat Jenderal, Kementerian Pertanian.

15.

Mekanisme pelaksanaan kegiatan dan anggaran tetap mengacu pada


pedoman yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian, Kepala Badan Ketahanan
Pangan, maupun peraturan lainnya yang dikeluarkan oleh Kementerian
Keuangan.

16.

Revisi perubahan belanja modal ke belanja sosial pada dana Tugas


Pembantuan dapat dilakukan di masing-masing Eselon I, dan dilaporkan ke
Kementerian

Keuangan.

Namun

pelaksanaan

revisi

tersebut

akan

memerlukan waktu lama, sehingga berpotensi menghambat pelaksanaan


anggaran.
17.

Gapoktan/kelompok sasaran program Badan Ketahanan Pangan, pada


prinsipnya diperbolehkan mendapat bansos dari program lain, sepanjang
pemanfaatannya berbeda dengan peruntukan dan tujuan penyaluran bansos
Demapan, LDPM, Lumbung Pangan, dan P2KP.

18.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam revisi DIPA dan POK antara lain :
a) Pergeseran akun sebanyak 4 digit atau lebih selama tidak merubah DIPA
masih

merupakan

Komputer

(ADK)

kewenangan
tetap

KPA,

meskidemikian

disampaikan

ke

Kanwil

Arsip
atau

Data
Ditjen

Perbendaharaan untuk dilakukan rekonsilisasi keuangan.


b) Tidak diperkenankan merevisi yang mengurangi spesifikasinya.
c)

Pergeseran

dari

52

(belanja

barang)

ke

53

(belanja

modal)

kewenangannnya berada di Kanwil Ditjen Perbendaharaan setempat.


d) Pengusulan pejabat Pengelola Keuangan atau Pejabat Perbendaharaan
dapat diusulkan oleh Kepala Badan/Unit Kerja KP Kab/Kota ke Kepala
Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian dengan tembusan
kepada Bupati/Walikota;
e) Salah satu persyaratan menjadi Bendahara adalah memiliki sertifikat
pengadaan barang dan jasa, namun jika tidak ada pegawai yang memiliki
sertfikat tersebut maka pegawai yang ditunjuk sebagai bendahara minimal
berpendidikan Sarjana dan diberi toleransi hingga 1 tahun untuk
mendapatkan sertifikat Pengadaan Barang dan Jasa.
19.

Berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Ketahanan Pangan,


ketersediaan pangan di tingkat provinsi pada tahun 2015 sebesar 100 %
karena dianggap sarana dan prasarana serta kondisi SDM yang dimiliki
dianggap sudah baik.
Banten, 3 Maret 2011
6