Anda di halaman 1dari 23

PANDUAN MAHASISWA KEPERAWATAN

KUMPULAN ASUHAN
KEPERAWATAN
(Askep Morbid
Obesitas)
2012

WWW.SAKTYAIRLANGGA.WORDPRESS.COM

DEFINISI
Morbid Obesitas
Kata obesitas berasal dari bahasa latin:obesus,obedere yang
artinya gemuk atau kegemukan.Obesitas atau gemuk merupakan
suatu kelainan atau penyakit yang ditandai dengan penimbunan
jaringan lemak tubuh secara berlebihan (Effendi 2009).Ditinjau dari
segi klinis,obesitas adalah kelebihan lemak dalam tubuh yang
umumnya ditimbun dalam jaringan subkutan (bawah kulit),sekitar
organ tubuh dan kadang terjadi perluasan kedalam jaringan
organnya.Obesitas merupakan salah satu bentuk salah gizi yang
banyak dijumpai diantara golongan masyarakat dengan social
ekonomi tinggi.Menurut WHO 2006,obesitas didefinisikan sebagai
kumpulan lemak berlebih yang dapat mengganggu kesehatan dengan
Body Mass Index (BMI) 30 kg/m2.
Pengukuran Obesitas
Banyak metode yang dapat dilakukan untuk menentukan
criteria overweight dan obesitas pada seseorang diantaranya adalah
pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT),tebal lemak bawah kulit dan
dengan menghitung rasio lingkar pinggang terhadap lingkar
panggul.Dalam hal ini,untuk menentukan overweight dan obesitas
dapat diketahui dengan menghitung indeks massa tubuh yang
merupakan indicator status gizi.IMT dihitung dengan menggunakan
rumus:
Indeks Massa Tubuh (IMT)=BB (kg) :TB (m2)

Tabel 2.1 Klasifikasi IMT Menurut WHO Tahun 2004


Kategori

IMT

Resiko Penyakit

Kurus (underweight)

< 18,5

Rendah

Berat Badan normal

18,5-24,9

Rata-rata

Berat

25-29,9

Meningkat

30-34,9

Sedang

badan

berlebih

(overweight)
Obesitas-kelas 1

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 2

Obesitas-kelas 2

35-39,9

Berbahaya

Obesitas kelas 3

40

Sangat berbahaya

Atmarita

(1992),

mengemukakan

batasan

terhadap

tingkat

kegemukan dengan menggunakan IMT, dimana berat badan


dikatakan normal bila IMT 20,1-25 untuk laki-laki dan 18,7-22,8
untuk perempuan. Bila IMT di atas 25 maka digolongkan sebagai
overweight dan bila di atas 30 dinyatakan sebagai obese. Seseorang
dikatakan kurus atau underweight bila IMT nya sekitar 18,5-20.
Sedangkan bila IMT nya 17,0-18,5 dinyatakan kurus dengan risiko
tinggi terhadap infeksi.
Jenis-jenis Obesitas
1. Obesitas Berdasarkan Tempat Penimbunan Lemaknya
a. Obesitas Android (Tipe Apel)
Merupakan karakteristik obesitas pada laki-laki dengan ciri
abdomen besar, namun bagian paha dan pantat relatif
kecil. Juga dapat terjadi pada wanita menopause, yaitu bila
lemak tertimbun di tengah bagian atas tubuh (perut, dada,
punggung, dan muka). Lemak

yang menumpuk pada tipe

android sebagian besar merupakan lemak jenuh yang


mengandung sel-sel lemak yang besar, sehingga lebih mudah
mengalami metabolism. Menurut Vague, seorang peneliti dari
Perancis, tipe android mempunyai risiko lebih tinggi terhadap
penyakit yang berhubungan dengan metabolisme lemak dan
glukosa,

seperti penyakit

koroner,

stroke,

dan

diabetes

mellitus,

jantung

tekanan darah tinggi. Namun

kegemukan tipe ini lebih mudah untuk menurunkan berat


badan dibanding tipe ginoid asalkan melaksanakan diet dan
olahraga dengan disiplin.
b. Obesitas Ginoid (Tipe Pear)
Merupakan karakteristik dari obesitas pada wanita dengan ciri
abdomen kecil, namun bagian panggul atau pantat dan paha

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 3

relatif besar. Hal ini disebabakan karena sel-sel yang ada pada
daerah tersebut lebih banyak terdiri dari lipoprotein lipase.
Tipe ginoid lebih aman bila dibandingkan dengan tipe
android, sebab lebih kecil kemungkinan terserang penyakit
yang berhubungan dengan metabolisme lemak dan glukosa.
Jenis timbunan lemaknya adalah lemak tidak jenuh dengan
ukuran sel lemaknya lebih kecil dan lembek.
2. Obesitas Berdasarkan Kondisi Sel
a. Tipe Hiperplastik
Tipe hiperplastik

merupakan kegemukan yang disebabkan

oleh jumlah sel lemak lebih banyak dibandingkan dengan


kondisi normal. Akan tetapi, ukuran sel lemak tersebut masih
sesuai dengan ukuran sel yang normal. Kegemukan tipe
hiperplastik biasanya terjadi sejak masa anak-anak dan sulit
untuk diturunkan ke berat badan

normal.

Bila

terjadi

penurunan berat tubuh sifatnya hanya sementara dan


kondisi tubuh akan mudah kembali ke keadaan semula.
b. Tipe Hipertropik
Kegemukan yang termasuk dalam tipe ini mempunyai
jumlah sel yang normal, tetapi ukuran sel lebih besar dari
ukuran normal. Kegemukan ini biasanya terjadi pada orang
dewasa dan relatif lebih mudah menurunkan berat tubuh
dibanding tipe hiperplastik. Namun, kegemukan tipe ini
mempunyai risiko lebih mudah terserang penyakit gula dan
tekanan darah tinggi.
c. Tipe Hiperplastik-Hipertropik
Pada kegemukan tipe ini jumlah maupun ukuran sel yang
terdapat pada tubuh seseorang melebihi ukuran normal. Proses
kegemukan dimulai sejak masa anak-anak dan berlangsung
terus hingga dewasa. Mereka yang mengalami kegemukan
tipe ini paling sukar menurunkan berat tubuh. Dengan

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 4

demikian, seseorang dengan tipe kegemukan seperti ini paling


mudah terserang berbagai penyakit degeneratif.
3. Obesitas Berdasarkan Tingkatan
a. Simple obesity (kegemukan ringan)
Merupakan kegemukan akibat kelebihan berat tubuh sebanyak
20% dari berat ideal dan tanpa disertai penyakit diabetes
melitus, hipertensi, dan hiperlipidemia.
b. Mild Obesity
Merupakan kegemukan akibat kelebihan berat tubuh antara
20-30% dari berat ideal yang belum disertai penyakit tertentu,
tetapi sudah perlu diwaspadai.
c. Moderat obesity
Merupakan kegemukan akibat kelebihan berat tubuh antara
30-60% dihitung dari berat ideal. Pada tingkat ini penderita
termasuk berisiko tinggi untuk menderita penyakit yang
berhubungan dengan obesitas.
d. Morbid obesity
Merupakan kegemukan akibat kelebihan berat tubuh dari berat
ideal lebih dari 60% dengan risiko sangat tinggi terhadap
penyakit

pernapasan,

gagal

jantung,

dan

kematian

mendadak.Sedangkan kegemukan atau obesitas berdasarkan


usia yaitu kegemukan masa bayi (infancy-onset obesity), masa
anak-anak (childhood-onset obesity), dan masa dewasa (adultonset obesity).
Etiologi
Penyebab morbid obesity adalah multifaktor, faktor berikut
ini sedikitnya terlibat pada beberapa kasus obesitas:
a. Genetik atau Keturunan
b. Endokrin
Hipotiroid menjadi obesitas, kemungkinan karena hilangnya
aktivitas katabolisme, juga karena kerja tiroksin untuk liposis, dapat
dilihat pada miksudem.Resisten insulin pada diabetes tipe II sering

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 5

merupakan akibat obesitas, menurunnya reseptor insulin terutama di


otot skelet, hati dan jaringan lemak.Fenomena ini diikuti dengan
menurunnya kemampuan insulin untuk transpor glukose, oksidasi
glukose, dan hipogenesis oleh sel adipose.Sensitivitas penghambat
liposis dalam sel lemak individu obesitas menjadi naik.
c. Pola makan
Saat ini masyarakat cenderung memilih makanan yang siap saji
karena dianggap lebih instan,hal tersebut akan menimbulkan
kelebihan pada nilai gizinya apalagi diikuti dengan kemalasan
melakukan aktivitas fisik.
d. Gaya hidup
Gaya hidup seseorang sangat berpengaruh terhadap kecenderungan
terjadinya obesitas,hal ini akan bertambah parah jika tidak ada
pengeluaran energy basal tubuh.
e. Faktor Neurologik
Adanya lesi pada hipotalamus akan meningkatkan produksi insulin
sehingga akan meningkatkan penyimpanan lemak.
f. Faktor psikologik
Faktor psikologis sering juga disebutkan sebagai salah satu faktor
predisposisi yang dapat mendorong terjadinya obesitas. Gangguan
emosional akibat adanya tekanan
kehidupan

masyarakat

yang

psikologis

dirasakan

atau

lingkungan

tidak menguntungkan,

dapat mengubah kepribadian seseorang sehingga orang tersebut


menjadikan makanan sebagai pelariannya.
g. Hormon
Hormon adalah salah satu faktor obesitas. Hormon leptin,
estrogen dan hormon pertumbuhan mempengaruhi nafsu makan,
metabolisme dan distribusi lemak tubuh. Orang obesitas memiliki
kadar hormon ini yang mendorong akumulasi lemak tubuh.

Patofisiologi

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 6

Metabolisme

glukosa

berperan

penting

dalam

mengatur penumpukan lemak, selama kelebihan kalori disimpan


sebagai lemak dan kekurangan glukosa akan terjadi pelepasan lemak
sebagai sumber energi. Individu yang obesitas mampu menyimpan
lemaknya dengan mudah, namun tidak mampu melepas lemak ini
atau membakarnya untuk energi.Faktor hereditas juga berperan
penting dalam perkermbangan obesitas. Individu yang obesitas
ditandai dengan kebiasaan makan pada malam hari dan sering kali
tidak makan saat pagi hari.Ada teori yang menjelaskan mengenai
perkembangan obesitas yaitu pertama, teori sel adipose menjelaskan
jumlah sel di jaringan adipose meningkat maka ukuran sel lemak
juga meningkat. Kedua, teori point set bahwa individu yang
mempunyai tingkat predetermine untuk berat badan relatif stabil
selama usia dewasa, maka dengan meningkatnya intake kalori maka
metabolik rate meningkat untuk membakar kelebihannya, bila intake
dikuirangi maka metabolisme menurun untuk menyimpan energi.
Faktor

sosial

budaya

juga

berperan

penting

dalam

peningkatan berat badan.pola makan tiap budaya dan sosial berbeda.


Begitu juga denga faktor psikologis bisa memberikan suatu dasar
untuk pola makan. Pada remaja juga kebiasaan makannya adalah
mencoba berbagai makanan dan senang makan dengan kawan
bermain dibandingkan dengan keluarga. Para remaja umumnya
emosional mereka yang dipengaruhi adalah gangguan body image,
harga diri rendah, isolasi sosial, depresi dan merasa ditolak.

Manifestasi Klinis
Obesitas dapat terjadi pada setiap umur dan gambaran klinis
obesitas pada anak dapat bervariasi dari ringan sampai dengan yang
berat sekali,antara lain:

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 7

a. Pertumbuhan berjalan dengan cepat/pesat disertai adanya


ketidakseimbangan antara peningkatan berat badan yang
berlebihan dibendingkan dengan tinggi badannya.
b. Jaringan lemak bawah kulit menebal sehingga tebal lipatan
kulit yang normal dan kulit Nampak lebih kencang.
c. Kepala Nampak relative lebih kecil dibandingkan dengan
dadanya (pada bayi)
d. Bentuk pipi lebih tembem
e. Pada dada terjadi pembesaran payudara
f. Perut membesar menyerupai bandul lonceng dan kadangkadang disertai gars-garis putih atau ungu (striae)
g. Kelamin luar pada anak wanita tidak jelas ada kelainan,akan
tetapi pada anak laki-laki tampak relative kecil.
h. Lingkar lengan atas dan paha lebih besar dari normal,tangan
relative lebih kecil dan jari-jari bentuknya meruncing.
i. Pada kegemukan yang mungkin terjadi gangguan jantung dan
paru-paru,sesak nafas,sianosis.
Kegemukan dan obesitas menimbulkan banyak masalah dan
memperbesar risiko seseorang terserang penyakit degeneratif
(penyakit

yang

timbul akibat

ada perubahan atau

kerusakan

tingkat seluler yang meluas ke jaringan yang sama). Beberapa


penyakit yang disebabkan oleh obesitas, antara lain :
a. Hipertensi
Penderita kegemukan mempunyai risiko yang tinggi
terhadap hipertensi. Seseorang dikatakan menderita hipertensi
bila tekanan systole >140 mmHg dan diastole >90 mmHg.
Penderita obesitas tipe buah apel beresiko lebih tinggi dalam
kemungkinan menderita hipertensi dibandingkan dengan orang
yang kurus dan penderita obesitas tipe buah pear.
Berat

badan yang

berlebih

sudah tentu

akan

meningkatkan beban jantung dalam memompa darah keseluruh


tubuh. Hal ini menyebabkan tekanan darah cenderung akan lebih

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 8

tinggi. Selain itu, pembuluh darah pada lansia lebih tebal dan
kaku atau disebut aterosklerosis, sehingga tekanan darah akan
meningkat. Untuk itu lansia hendaknya mengurangi konsumsi
natrium (garam), karena garam yang berlebih dalam tubuh dapat
meningkatkan tekanan darah.
b. Diabetes Mellitus (DM)
Obesitas dapat menyebabkan penyakit diabetes mellitus
tipe II. Sebagaimana diketahui, diabetes mellitus adalah suatu
keadaan/kelainan
karbohidrat,

dimana

lemak,

dan

terdapat

gangguan

protein

yang

metabolisme

disebabkan

oleh

kekurangan insulin atau tidak berfungsinya insulin, akibatnya


gula dalam darah tertimbun (tinggi). Biasanya 75% penderita
DM tipe II adalah orang yang mengalami obesitas atau riwayat
obesitas.Diabetes mellitus sebenarnya merupakan penyakit
keturunan, tetapi kondisi tersebut tidak selalu timbul jika
seseorang tidak kelebihan berat badan.Pada umumnya, penderita
diabetes mempunyai kadar lemak yang abnormal dalam darah.

c. Kanker
Hasil penelitian menunjukkan bahwa laki-laki yang
mengalami obesitas akan berisiko lebih tinggi untuk menderita
kanker usus besar, rektum, dan kelenjar prostat. Adapun pada
wanita penderita obesitas,

akan

mengalami risiko

terkena

penyakit kanker payudara dan rahim. Wanita yang telah


menopause, umumnya pada usia lebih dari 50 tahun dan
mengalami kelebihan berat badan akan mudah terserang penyakit
kanker payudara. Untuk mengurangi risiko

terkena kanker,

konsumsi lemak total harus dikurangi.


d. Penyakit Jantung Koroner (PJK)
Penyakit jantung koroner merupakan penyakit yang
terjadi akibat penyempitan pembuluh darah koroner (pembuluh
darah

yang

mendarahi

dinding jantung). Hasil penelitian

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 9

menunjukkan bahwa dari 500 penderita kegemukan sekitar88%


mendapat

risiko

terserang

penyakit

jantung

koroner.

Meningkatnya faktor risiko penyakit jantung koroner sejalan


dengan terjadinya penambahan berat badan seseorang.
Konsumsi lemak jenuh dan kolesterol yang berlebihan
akan meningkatkan risiko penyakit ini. Lemak jenuh dan
kolesterol hanya terdapat pada bahan makanan hewani. Oleh
karena itu, usia lanjut

lebih disarankan mengkonsumsi ikan

karena dapat menurunkan risiko menderita penyakit jantung


dibandingkan sumber protein hewan lain. Pengaruh kegemukan
pada penyakit jantung koroner tidak selalu berdiri sendiri, tetapi
biasanya diperburuk oleh faktor risiko lain seperti hipertensi,
diabetes,dan hiperlipidemia.
e.Arthritis dan Gout
Orang

yang

menderita

kegemukan

dan

obesitas

mempunyai risiko tinggi terhadap penyakit arthritis (radang


sendi) yang lebih serius bila dibandingkan dengan orang yang
memiliki berat badan ideal atau gemuk.Gout merupakan salah
satu bentuk penyakit arthritis atau lebih tepatnya radang
sendi akibat meningkatnya kadar asam urat dan terbentuknya
kristal asam urat pada sendi. Penyakit ini sering menyerang
penderita kegemukan yang mengalami kelebihan berat badan >
30% dari berat badan ideal dan kandungan asam urat dalam
darahnya tinggi.
f. Batu Empedu
Sewaktu tubuh mengubah kelebihan lemak makanan
menjadi lemak tubuh, cairan empedu lebih banyak diproduksi di
dalam hati dan di simpan dalam kantong empedu. Hal inilah
yang meningkatkan risiko terkena penyakit batu empedu (adanya
endapan zat-zat berbentuk seperti batu di dalam empedu).

Pemeriksaan Diagnostik

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 10

1. Pemeriksaan metabolik atau endorin


Dapat menyatakan ketidaknormalan misalnya hipotiroidisme,
hipogonadisme, peningkatan pada insulin, hiperglikemi. Dapat
juga menyebabkan gangguan neuroendokrin dalam hipotalamus
yang mengakibatkan berbagai gangguan kimia.
2. Pemeriksaan antropometrik
Dapat memperkirakan rasio lemak dan otot.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Obesitas dianjurkan agar melalui banyak
cara secara bersama-sama. Terdapat banyak pilihan antara lain:
a) Gaya hidup
Perubahan

perilaku

dan

pengaturan

makan

prinsipnya

mengurangi asupan kalori dan meningkatkan keaktifan fisik,


dikombinasikan dengan perubahan perilaku. Kata pepatah Cina
kuno makan malam sedikit akan membuat Anda hidup sampai
sembilan puluh sembilan tahun. Pertama usahakan mencapai
dan mempertahankan BB yang sehat. Konsumsi kalori kurang
adalah faktor penting untuk keberhasilan penurunan BB.
Pengaturan makan disesuaikan dengan banyak faktor antara lain
usia, keaktifan fisik. Makan jumlah sedang makanan kaya
nutrien, lemak rendah dan kalori rendah. Pilih jenis makanan
dengan kepadatan energi rendah seperti sayur-sayuran dan buahbuahan, jenis makanan sehat, jenis karbohidrat yang berserat
tinggi, hindari manis-manisan, kurangi lemak. Awasi ukuran
porsi, dan hitung kalori misalnya makanan yang diproses
mengandung lebih banyak kalori daripada yang segar. Perbanyak
kerja fisik, olahraga teratur, dan kurangi waktu nonton TV.
b) Bedah bariatrik
Di Amerika Serikat cara ini dianjurkan bagi mereka dengan IMT
40 kg/m2 atau IMT 35,0-39,9 kg/m2 disertai penyakit
kardiopulmonar, DM t2, atau gangguan gaya hidup dan telah
gagal mencapai penurunan BB yang cukup dengan cara non-

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 11

bedah. (NIH Consensus Development Panel pada tahun 1991).


Kemudian pada tahun 2004 ASBS Consensus menganjurkan
juga cara ini untuk mereka dengan IMT 30,034,9 kg/m2 dengan
keadaan komorbid yang dapat disembuhkan atau diperbaiki
secara nyata. Dapat diharapkan penurunan BB maksimal 21
38%.
c) Obat-obat anti obesitas
Terdapat obat yang mempunyai kerja anoreksian (meningkatkan
satiation, menurunkan selera makan, atau satiety, meningkatkan
rasa kenyang, atau keduanya), contohnya Phentermin. Obat ini
hanya dibolehkan untuk jangka pendek. Orlistat menghambat
enzim lipase usus sehingga menurunkan pencernaan lemak
makanan dan meningkatkan ekskresi lemak dalam tinja dengan
sedikit kalori yang diserap. Sibutramine meningkatkan statiation
dengan

cara

menghambat

ambilan

kembali

monoamine

neurotransmitters (serotonin, noradrenalin dan sedikit dopamin),


menyebabkan

peningkatan

senyawa-senyawa

tersebut

di

hipotalamus. Rimonabant termasuk kelompok antagonuis CB1,


yang menghambat ikatan cannabinoid endogen pada reseptor
CB1 neuronal, sehingga menurunkan selera makan dan
menurunkan BB. Orlistat, sibutramin dan rimonabant dapat
dipergunakan untuk jangka lama dengan memperhatikan efek
sampingnya; rimonabant masih ditunda di Amerika Serikat.
Sayangnya obat-obatan tersebut tiada yang dapat memenuhi
harapan dan kebutuhan orang. Oleh karena itu industri farmasi
masih mengembangkan banyak calon obat baru.
d) Balon Intragastrik
Balon Intragastrik adalah kantung poliuretan lunak yang
dipasang ke dalam lambung untuk mengurangi ruang yang
tersedia untuk makanan.
e) Pintasan Usus

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 12

Pintasan usus meliputi penurunan berat badan dengan cara


malabsorbsi. Tindakan ini kadang-kadang dilakukan dengan
diversi biliopankreatik, yang memerlukan reseksi parsial
lambung dan eksisi kandung empedu dengan transeksi jejunum .
jejunum proksimal dianastomosiskan (dihubungkan melalui
pembedahan)

ke

ilium

distal,

dan

jejunum

distal

dianastomosiskan ke bagian sisa dari lambung.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 13

ASUHAN KEPERAWATAN

Kasus Semu Morbid Obesitas


An.R jenis kelamin laki-laki usia 12 tahun BB 70 kg dengan TB
130cm,pasien mengeluh mudah sesak nafas walaupun hanya
melakukan aktifitas ringan dan sering tertidur waktu siang hari.
Pasien tidak hobi berolahraga,sering tidak sarapan pada pagi hari dan
gemar mengkonsumsi camilan ketika menonton televisi atau main
game. Pasien tidak suka mengkonsumsi buah-buahan dan sayursayuran karena sejak kecil orang tua tidak membiasakanya selain itu
ketika tidur pasien mendengkur,dari hasil pemeriksaan fisik
diperoleh bahwa dada dan payudara membesar,dinding bagian perut
pasien berlipat dan membuncit tampak paha bagian dalam
bergesekan sehingga timbul semacam ulserasi dan bagian perut
membesar sedangkan alat kelamin tampak mengecil. Pada bagian
ekstrimitas bawah terdapat edema di daerah tungkai dan pergelangan
kaki, pasien mengeluh nyeri tungkai dan punggung bagian bawah.
Dari pemeriksaan tanda-tanda vital diperoleh
TD: 140/90
RR:24x/menit
T: 36
Nadi:90x/menit
Dalam keluarga pasien diketahui genetik obesitas dari ibu, kedua
orang tua bekerja sehingga kurang memantau aktifitas dan tingkat
konsumsi anak selain itu mereka tampak khawatir dengan keadaan
anak mereka.
Analisis Data Morbid Obesitas
No
.
1.

Data
Data Subjektif :
Pasien mengeluh sesak ketika
melakukan aktifitas ringan dan tidur
Data Objektif :

Etiologi

Masalah

Dada dan payudara


membesar

Menekan paru-paru

Pola nafas tidak


efektif

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 14

RR pasien 24x/menit

Sesak nafas

Polan nafas tidak


efektif
Kadar insulin
naik,retensi air dan
garam

Laju jantung naik

Hipertensi

2.

Data Subjektif :
Pasien merasakan jantungnya berdebar
dan terkadang pusing
Data Objektif :
TD pasien 140/90
Nadi 90x/menit

Gangguan perfusi
jaringan

3.

Data Subjektif :
Pasien mengaku suka mengkonsumsi
camilan
Data Objektif :
BB:70kg
TB:130cm
Perut terlihat membuncit dan berlipat

Intake energi
berlebih
BB:70kg
TB:130cm
Perut terlihat
membuncit dan
berliTimbunan lemak

Kebutuhan nutrisi
>kebutuhan tubuh

4.

Data Subjektif :
Pasien mengaku suka menkonsumsi
camilan
Pasien mengaku sesak nafas
Data Objektif :
BB:70kg
TB:130cm
RR:24x/menit
Perut terlihat membuncit dan berlipat
Paha bagian dalam bergesekan
Data Subjektif :
Pasien menyatakan tidak percaya diri
dengan keadaannya
Data Objektif :
Pipi tembem,perut berlipat, paha
membesar

Nafsu makan naik

Kelebihan BB

Sesak nafas

Intoleransi aktifitas

Nafsu makan naik

Kelebihan BB

Gangguan citra diri

Pengkajian
a) Biodata :
- Nama

: An.R

- Usia

: 12tahun

- Jenis kelamin : Laki-laki

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 15

- Alamat

:Mulyorejo no.56 Surabaya

- Suku/bangsa : Jawa
- Agama

: Islam

- Pendidikan

: SD kelas 6

b) Riwayat penyakit sekarang :Pasien menderita morbid obesity


c) Keluhan utama

: Pasien mudah sesak nafas ketika

melakukan aktifitas yang ringan,nyeri pada tungkai dan punggung


bawah,adanya ulser pada bagian dalam paha.
d) Riwayat penyakit dahulu : e) Riwayat penyakit keluarga: pada umumnya morbid obesity
berhubungan dengan genetika keluarga.
f) Riwayat psikososial

: klien mengalami gangguan

pencitraan diri karena merasa tidak percaya diri dengan kondisi


tubuhnya yang kelebihan berat badan.
Pemeriksaan fisik (ROS)
1) B1 (breath)
RR meningkat karena penimbunan lemak yang berlebihan dibawah
diafragma dan di dalam dinding dada menekan paru - paru, sehingga
timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas, meskipun penderita
hanya melakukan aktivitas yang ringan. Gangguan pernafasan bisa
terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan
untuk sementara waktu (tidur apneu), sehingga pada siang hari
penderita sering merasa ngantuk.
2)

B2 (blood)

Pasien mengalami hipertensi ringan kemungkinan disebabkan karena


lemak yang meningkatkan aliran darah meningkatkan kadar insulin
sehingga retensi garam dan air meningkat sehingga laju jantung
meningkat dan kapasitas pembuluh darah yang mengangkut darah
berkurang. Selain itu ditemukan edema (pembengkakan akibat
penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan
kaki hal ini menunjukkan kompensasi dari hipertropi ventrikel
karena beban jantung yang memompa terlalu berat.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 16

3)

B3 (brain)

Nyeri tungkai dan punggung bawah


4)

B4 (bladder) :-

5)

B5 (bowel)

Nafsu makan meningkat,energi tidak digunakan sehingga timbul


lemak .
6)

B6 (bone)

Nyeri tungkai dan ekstrimitas bawah karena tergelincirnya epifisis


kaput femoris (slipped capital femoral epiphysis) sehingga tekanan
berat badan pada persendian ekstrimitas bawah.
Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
1. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh b.d
ketidakseimbangan antara masukan kalori dan penggunaan
energi
Tujuan: Menyeimbangkan berat badan
Kriteria hasil:
a. Menurunkan berat badan sesuai kontrak dalam progam rawat
jalan
b. Menyiapkan diet yangbergizi
c. Mematuhi progam latihan
d. Mengidentifikasi pola makan dan latihan
Intervensi
Rasional
1. Tingkatkan kesadaran
klien dan keluarga
tentang
bagimana
berat
badan
dipengruhi
oleh
keseimbangan antara
masukan
makanan
dan aktivitas
2. Bantu klien mencapai
progam
penurunan
berat badan yang
aman.
3. Bantu
klien
dan
keluarga
mengidentifikasi

1. Tujuan penurunan
berat badan dapat
dicapai
melalui
kombinasi
penurunan masukan
kalori
dan
peningkatan
penggunaan kalori
dengan latihan.
2. Tujuan
yang
realistik
meningkatkan
peluang
keberhasilan.
3. Dengan membantu

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 17

faktor
lingkungan
yang menunjang pola
makan yang buruk.
4. Ajarkan klien dasardasar masukan nutrisi
seimbang.
4.

5. Bahas
keuntungan
latihan diet

5.
6. Ajarkan klien dan
keluarga
tentang
resiko obesitas.

7. Kolaborasi
Berikan diet cair,

6.

lebih lembut, tinggi


protein dan serat dan
rendah lemak dengan
tambahan cairan
sesuai
kebutuhan.Rujuk ke
ahli gizi.

7.

mengidentifikasi
faktor-faktor
eksternal
dapat
meningkatkan
motivasi
internal
untuk mengatasinya.
Penurunan
dan
pemeliharaan berat
badan
jangka
panjang
yang
berhasil
dapat
dicapai melalui diet
rendah lemak dan
tinggi karbohidrat
komplek.
Latihan
juga
menambah perasaan
sehat yang secara
positif
dapat
mempengaruhi
harga diri selama
latihan diet
Klien dan keluarga
harus
memahami
bahwa
obesitas
merupakan bahaya
kesehatan
dari
berbagai
sistem
tubuh
Asupan diet tepat
dan tidak melebihi
dari
kebutuhan
tubuh

2. Gangguan citra diri b.d perubahan penampilan


Tujuan: Meningkatkan rasa percaya diri klien
Kriteria hasil:
a. Menunjukkan perubahan yang mengarah pada rekonstruksi
perubahan citra tubuh

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 18

b. Klien akan menunjukkan faktor penunjang yang mengubah


citra tubuh
Intervensi
Rasional
1. Tingkatkan interaksi
sosial

2. Dorong klien untuk


meningkatkan
perasaan
tentang
perubahan
penampilan.
3. Jelaskan kepada klien
dan keluarga bahwa
perubahan
penampilan adalah
akibat dari masukan
diet yang berlebihan.

1. Isolasi sosial dapat


meningkatkan rasa
takut
dan
persepsitidak
realistis.
2. Berbagi
kekhawatiran
meningkatkan rasa
percaya.
3. Penjelasan ini dapat
mengurangi rasa
takut tentang
perubahan
penampilan
permanen dan
membantu membuat
konsep diri positif.

3. Intoleransi aktifitas b.d kelebihan berat badan


Tujuan: Kebutuhan untuk beraktivitas klien terpenuhi.
Kriteria hasil:
a. Klien menunjukkan peningkatan aktifitas fisik.
b. Klien bisa melakukan ROM yang normal
Intervensi
Rasional
1. Buat jadwal kegiatan
yang harus dilakukan
klien dan minta klien
melakukannya
dengan disiplin.
2. Bantu klien dalam
melakukan kegiatan
yang susah dilakukan
klien.

1. Kegiatan latihan yang


rutin membuat target
penurunan berat
badan efektif terjadi.
2. Mengurangi
kekakuan dan
membiasakan klien
beraktivitas.

3. Pastikan motivasi

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 19

klien untuk
mempertahankan
pergerakan.

3. Motivasi klien
merupakan kunci
penting untuk
terlaksananya latihan
kegiatan

4. Kolaborasi dengan
fisioterapi.

4. Pola nafas tidak efektif b.d penurunan ekspansi paru


Tujuan: Pola nafas menjadi efektif
Kriteria hasil:
a. Memperthankan ventilasi adekuat.
b. Tidak mengalamai sianosis atau tanda hipoksia
Intervensi
Rasional
1. Awasi
kecepatan/kedalaman
nafas.
2. Auskultasi bunyi nafas.
3. Tinggikan kepala tempat
tidur 30 derajat.
4. Dorong latihan nafas
dalam.

1. Kedalaman nafas
menentukan seberapa
besar pengembangan
dada dan O2 dan CO2
yang diambil dan di
buang.
2. Terdengar adanya
bunyi nafas tambahan
atau tidak.
3. Mempermudah dan
mempernyaman
melakukan pernafasan.
4. Nafas dalam
merupakan metoda
yang efektif untuk
mengoptimalkan
pernafas agar tidak
sesak.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 20

5. Gangguan perfusi jaringan b.d laju jantung meningkat


Tujuan: Perfusi jaringan baik
Kriteria hasil:
a. Klien menunjukkan kulit hangat/kering dan tanda vital dalam
rentang normal.
b. Mengidentifikasi faktor penyebab/resiko.
c. Klien menunjukkan perilaku memperbaiki/mempertahankan
sirkulasi
Intervensi
Rasional
1. Dorong latihan
rentang gerak sering
untuk kaki dan tumit.

1. Gerak ROM
membuat sirkulasi
darah lancar.

2. Dorong ambulasi
dini;hentikan duduk
atau mengantungkan
kaki di tempat tidur.

2. Ambulasi berguna
untuk memperlancar
aliran darah di
seluruh tubuh

Kolaborasi:
Berikan terapi
heparin, sesuai
indikasi.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 21

PENUTUP
Kesimpulan
Obesitas adalah suatu penyakit yang berarti kelebihan kebutuhan
tubuh yang melebihi normal.Obesitas dapat memicu terjadinya penyakit lain
yang

sangat

membahayakan

kesehatan

seperti:hipertensi,stroke,aterosklerosis,kanker dan penyakit lainnya yang


tidak diharapkan selain juga menimbulkan ketidaknyamanan bagi seseorang
yang menderitnya. Selain itu morbid obesity juga dapat merusak citra diri.
Oleh karena itu penyakit ini harus dihidari.
Saran
Penyakit morbid obesity merupakan penyakit yang membahayakan
kesehatan sehingga juga harus dihindari dengan cara menjaga gaya hidup
agar tetap berada pad jalan hidup yang sehat. Dengan mengkonsumsi
banyak makanan berserat dan mengurangi memakan makanan yang
mengandung lemak jahat, serta dengan melakukan olah raga rutin. Dapat
mencegah agar masalah tersebut tidak sampai menyerang.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 22

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito,Lynda j.2000.Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktik


Klinis.Jakarta:ECG
Carpenito,Lynda j.1999.Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan.
Jakarta: ECG.
M. sjaifullah noer.1996.Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid 1 edisi
3.Jakarta: Balai penerbit FKUI
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G.Bare.2002.Keperawatan Medikal
Bedah.Jakarta:EGC
Sudoyo,Aru.W dkk.2006.Buku Ajar Ilmu penyakit Dalam Jilid III Edisi
IV.Jakarta: Pusat

Penerbitan Depertemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI

Suyono, slamet.2001. Buku ajar penyakit dalam jilid 2 edisi 3.Jakarta : Balai
penerbit FKUI.

www.saktyairlangga.wordpress.com

Page 23

Anda mungkin juga menyukai