Anda di halaman 1dari 33

KESIMPULAN KAUSAL

Keinginan untuk bertindak berdasarkan hasil dari kajian-kajian etiologis, secara


berkala menemui kesulitan yang sangat menjengkelkan dalam mencari panudan tunuk
tindakan yang akan dilakukan. Dengan menimbang semua bukti-bukti epidemiologis
dalam membentuk opini dan penilaian tentang kausasi.
Perspektif Historis
Pemahaman kita tentang kausasi merupakan bagian terbesar dari kehidupan seharihari yang mana sangat mudha dilupakan bahwa sifat dari kasuasi adalah topik utama
dalam ilmu pengetahuan dan secara khusus, konsep-konsep dari kasuasi penyakit
telah berubah secara dramatis selama ini. Dalam penelitian kami dan dari praktekpraktek klinis, kami bertindak sesuai dengan bukti yang telah diperlihatkan oleh ilmu
pengetahuan abad 21 ini dan menyelamatkan kami dari semua kesalahan konsepsi di
masa lalu, dan kebenaran tersebut pada hari ini akan membawa kita ke arah
kebenaran di masa depan. Tetapi, akan sangat berguna dan korektif jika kita
mengamati bagaimana generasi pertama peneliti bisa memiliki pemikiran yang
sekarnag dianggap keliru itu.
Pada tahun 1950-an, di pertengahan dari apa yang kita kenal sebagai abad terakhir
milenium ke dua, para ahlimedis dan ahli ilmu pengetahuan lainnya telah mencapai
kemajuan yang, menurut Dubos (hal. 163), hampir semua klinisi, pejabat kesehatan
masyarakat, epidemiolog dan mikrobiolog dapat memproklamirkan diri bahwa
mereka telah mengalahkan penyakit-penyakit akibat infeksi. Para dekan dan fakultasfakultas ilmu pengobatan telah memulai praktek, sebagai ahli mikrobiologi medis,

biokimia dan genetika yang tidaklagi tertarik dengan mekanisme dari proses infeksi.
Ketika epidemiologi infeksi berlanjut hingga mencapai gelombang popularitas, kita
hanya dapat menggelengkan kepala dalam ketidakpercayaan terhadap pandangan
yang sangat pendek seperti itu dari ilmu medis dan institusi-institusi kesehatan
masyarakat dimana mereka melepaskan begitu saja kemampuan mereka untuk
mempelajari dan mengontrol penyakit-penyakit infeksi, yang secara epidemis telah
kembali berulang membinasakan populasi dan bahkan merubah arah sejarah.
Di satu sisi, kemungkinan hubungan seperti itu tidak terjadi secara langsung. Menurut
Dubos, penurunan tingkat kematian akibat penyakit-penyakit infeksi dan malnutrisi di
abad ke 19 kembali muncul pada pertengahan abad, beberapa dekade sebelum
penemuan medis dalam era keilmuan dapat berbalik arah menjadi kebijaksanaan
politik. Ilmu medis dan teori-teori kuman telah menerima pembagian penghargaan
yang sangat sedikit karena kemunduran tersebut tidak diketahui hingga akhir abad.
Lebihjauh lagi, Dubos, menyatakan, bahwa:
Generasi terbaru (mungkin generasi pra-Perang Dunia II hingga ke tahun
1910-an) tetap lebih maju dan sekarang diyakini bahwa kontrol terhadap
penyakit-penyakit infeksi dan malnutrisi bermual dari saat penyebar-luasan
penggunaan obat-obat antibakterial dan dari kemampuan dan ketersediaan
vitamin-vitamin dan makanan olahan. Betapa pendek dan piciknya ingatan
kita! (hal. 365)
Sementara kita tetap mengingat betapa pentingnya peran dari dewan kesehatan lokal
dan semua dinas terkait lainnya, Dubos memasukkan hampir semua perbaikan

kesehatan ke dalam perbaikan kesejahteraan dan transportasi yang akan


memungkinkan banyak orang untuk mendapatkan paling tidak satu kali makan sehat
sehari
Belum ada terobosan medis yang dilakukan selama dekade terakhir yang
dapat dibandingkan dengan kepentingan praktis dengan memperkenalkan
kesejahteraan sosial dan ekonomi dalam kehidupan manusia biasa. Kemajuan
terbesar dalam kesehatan dari masyarakat kemungkinan adalah hasil langsung
dari perumahan yang lebih baik dan kondisi kerja yang lebih sehat,
kemampuan umum untuk menyediakan sabun, dan linen untuk pakaian, bahan
kaca untuk jendela rumah, dan perhatian kemanusiaan terhadap standar hidup
yang lebih tinggi. (hal. 365)
Sebelum melanjutkan penelitian kita terhadap kesimpulan kausal, akan sangat
membantu untuk melihat kembali sejenak sejarah kesehatan masyarakat dan penyakit
di abad ke 17 dan 19.
Pada awal abad ke tujuhbelas, ilmu medis baru saja lepas dari rawa-rawa Abad
Pertengahan (Smillie, 1955:18). Penyakit yang paling mematikan pada koloni-koloni
di Amerika Serikat pada abad tersebut adalah cacar. Penyakit tersebut bahkan lebih
merusak pada populasi-populasi lokal dari Dunia baru tersebut dan diyakini telah
membunuh lebih dari setengah populasi Indian di Mexico setelah penyerbuan
Spanyol (Smillie, 1955:21). Di Eropa, cacar adalah penyakit endemik pada anakanak; tetapi pada situasi yang lebih terisolasi dalam koloni, epidemik yang berulang
akan menghancurkan pemukiman. Menurut Smillie (hal. 22), epidemik cacar pada

tahun 1633 di koloni Massachusetts bay menyebar ke India dan dan membunuh
seluruh perkebunan mereka. Epidemik pada tahun 1689-1690 di New England telah
membunuh 1.000 orang dalam waktu satu tahun (sebagai perbandingan, pada masa
itu total populasi di Boston adalah sekitar 7.000 orang).
Selama abad ke delapanbelas, praktek-praktek suntik cacar (dipublikasikan pertama
kali oleh Greek Timotius, tahun 1714) cukup berhasil dalam menunda epidemi di
koloni-koloni Amerika, walaupun praktek tesebut pada awalnya di tolak. Penyuntikan
cacar di cekal di luar Kota New York pada tahun 1747, membutuhkan keputusan
Gubernur di Carolina pada tahun 1764, dan membutuhkan pemungutan suara di kotakota Massachusetts (Smillie, 1955, hal. 28)
Tidak kurang, suntikan cacar kemudian terbukti berhasil. Pada awal dari perang
Revolusi, tahun 1776, cacar tiba di Boston. Kampanye yang herois untuk penyuntikan
terhadap 9.152 orang yang tidak kebal terhadap cacar dalam tiga hari, dilaksanakan.
Walaupun suntikan menghasilkan 8.114 kasus dengan 165 kematian (1.8%), 232
infeksi alami pada mereka yang rentan dan belum pernah mendapatkan suntikan
memberi hasil hanya 33 kematian (14.2%). Dua dekade kemudian, Edward jenner,
seornag praktisi dari desa di Inggris, mendemonstrasikan kekebalan tubuh terhadap
cacar pada sepuluh orang yang sebelumnya telah terkena penyakit cacar. Walaupun
suratnya kepada Royal Society di tolak, dia tetap mempublikasikan monograf
klasiknya pada tahun 1798 dan dikenal sebagai bapak vaksinasi.
Penyakit terbesar kedua setelah cacar pada abad ke sembilanbelas di Amerika Utara,
demam kuning, juga sangat ditakuti oleh masyarakat Dunia baru saat itu. Artikel

pertama dari Amerika untuk demam kuning (oleh Dr. John Lining dari Charleston)
menggambarkan penyakit tersebut sebagai sangat menular dan berasal dari luar
(Smillie, 1955, 35). Karantina terhadap orang sakit dan kapal yang dicurigai
membawa demam kuning di atasnya seringkali dilakukan untuk mencegah atau
menghentikan epidemi.
Pada akhir abad ke sembilanbelas, walaupun, teori miasma mulai muncul-teori yang
menyatakan bahwa semua penyakit berasal dari udara yang buruk-kontaminasi
(miasma) berasal dari berbagai macam sumber. Pengaruh dari teori ini sangat kuat,
sehingga Dr. Benjamin Rush, ahli fisik Amerika terbesar pada saat itu, yakin bahwa
epidemi demam kuning tahun 1793 di Philadelphia merupakan penyakit menular atau
terbawa dari Hindia Belanda.
Pada awal abad ke sembilanbelas, pergerakan kesehatan masyarakat dan medis
didominasi oleh teori miasma ini. Jalur-jalur penelitian dilakukan untuk membuktikan
efek-penyakit dari miasma ini: serangkaian pencegahan untuk melenyapkan sumber
penyakit miasma di daerah kumuh dan daerah dengan sanitasi buruk. Walaupun
konsep darimiasma, yang pada abad setelahnya telah dikalahkan, pada masa ini
dianggap sangat tidak masuk akal, ukuran-ukuran sanitasi yang diajukan oleh teori
miasma menunjukkan hasil yang cukup dramatis efektifitasnya dalam menurunkan
tingkat kematian. Selama abad ke sembilannbelas, seperti yang ditulis oleh Susser,
Jacob Henle merumuskan kondisi yang dibutuhkan untuk membuktikan teori kuman,
dan sekitar 20 tahun kemudian, Louis Pasteur mendemontsrasikan kehadiran dari
mikroorganisme. Masa kini, penyebab penyakit dapat terlihat jelas-mikrobiologi telah

berkembang maju dari ilmu kesimpulan menjadi ilmu observasi langsung.


Mikroorganisme kemudian berubah menjadi objek untuk mencari penyebab penyakit.
Penyimpanan mikroba yang menyebar telah menjadi tujuan pencegahan. Asepsis,
antisepsis, dan disinfeksi-merupakan ukuran yang dipakai sebagai dasar dari teori
kuman-juga terbukti efektif. Lebih jauh lagi, paradigma baru terbukti sangat kuat
dibanding dengan teori miasma melalui spesifikasi yang lebih luas dan
kemampuannya untuk menjelaskan dan memprediksikan fenomena-fenomena
tertentu di luar dari teori miasma, seperti imunisasi dan kemoterapi.
Penemuan mikroorganisme dan merebaknya teori kuman penyakit juga membawa
pandangan bahwa penyakit terdiri dari banyak sekali enititas klinis yang beragam,
yang masing-masing disebabkan oleh agen khusus, dan masing-masing memilki
manifestasi morbid berbeda yang menghasilkan sindrom yang berbeda pula. Konsep
ini telah bertahan hingga hari ini, seperti yang diilustrasikan dalam definisi kamus
yang ditunjukkan pada bab Fenomena Penyakit. Pencarian terhadap agen-agen
khusus telah mengarah pada gebrakan besar-besaran dalam ilmu medis dan ilmu
kesehatan masyarakat, seperti kontrol yang efektif terhadap beragam penyakit infeksi
yang berkembang di seluruh dunia dan pemberantasan cacar di seluruh dunia. Bahkan
dimana teori kuman tidak dipakai, mislanya dalam kasus defisiensi vitamin, konsepkonsep spesifikasi penyebab juga terbukti efektif untuk etiologi dan pengendalian
penyakit.

Tetapi, tetap saja ada yang menolak model satu-penyakit-satu-sebab ini. Tetapi
gelombang telah berpaling pada mereka. Seperti yang dikatakan Dubos (1965, dikutip
dalam Berkman dan Breslow, hal. 6):
Argumentasi yang tidak jelas ini tidak dapat mengalahkan eksperimen yang
tepat oleh Pasteur, Koch, dan penerus-penerus mereka yang membela doktrin
penyebab spesifik dari penyakit. Ilmu eksperimental telah mengalahkan seni
klinis, dan dalam satu dekade tepri etiologi spesifik telah diterima secara
universal, dan kemudian akan menjadi, seperti yang kita lihat sekarang,
kekuatan yang dominan dalam ilmu pengobatan.
Pada saat yang sama, dorongan yang kuat dalam penelitian medis mengurangi
kewaspadaan terhadap kejadian langka hubungan-satu-ke-satu dan hubungan yang
kompleks antara penyebab dan efek yang terjadi di dunia. Bahkan hingga akhir 1950an, sebagai contoh, sangat sulit untuk mengkonseptualkan bahwa merokok dapat
menyebabkan banyak sekali penyakit, dan fakta bahwa terlalu banyak penyakit yang
diasosiasikan dengan merokok tembakau diajukan sebagai argumen terhadap
penjelasan asosiasi sebagai kausal.
Lord Bertrand Russel telah menulis, setiap kemajuan dalam ilmu pengetahuan telah
membawa kiat semakin maju dari ketidak-seragaman pemahaman yang diamati
pertama kali ke arah perbedaan yang lebih besar dari antiseden dan konsekuen masuk
ke dalam lingkaran yang lebih luas dari antiseden yang lebih relevan. Sejumlah
perkembangan yang mengurangi superioritas dari model satu-kausa-satu-penyakit.

Pernah ada predominansi yang berkembang dari penyakit mikrobial pada suku-suku
asli, penyakit yang disebabkan oleh organisme yang dibawa oleh banyak sekali orang
dalam populasi mereka (Dubos, 176). Contoh-contoh kontemporer adalah infeksi
bakterial skeudner pada penyakit-penyakit viral akut, infeksi oportunistis pada
seseorang dengan AIDS, dan infeksi jalur uriner oleh E. colii. Yang kedua adalah
dikenalinya banyak patogen termasuk basil tubercle, yang dapat dibawa dalam tubuh
selama waktu yang sangat panjang, hanya untuk menyebabkan penyakit ketika
kekebvalan tubuh dari inang melemah. Ketiga adalah perpindahan perhatian dari
penyakit infeksi ke penyakit jantung dan kanker, dimana berbagai macam faktor
berhubungan dengan resiko tetapi tidak selalu dibutuhkan; karena itu, istilah penyakit
multifaktor muncul. (walaupun CHD adalah penyakit multifaktor klasik, telah ada
beberapa pendapat terbaruyangmenyatakan bahwa proses infeksi mungkin merupakan
dimensi yang penting). Akhirnya, ketika epidemiologi telah berkembang menjadi
kajian terhadap penyakit-penyakit perilaku dna lingkungan (misalnya kecelakaan
kendaraan bermotor, alkoholisme, pembunuhan dan hubungan seksual yang tidak
aman), model unikausal belum berarti dalam hal ini.
Tidak kurang, dalam prakteknya banyak dari ahli epidemiologi berfokus pada satu
faktor tunggal saja. Secara ideal kita dapat memakai model umum yang
mengkombinasikan agen-agen etiologis ganda menjadi sistem yang komprehensif.
Tetapi, seringkali, penelitian epidemiologis memiliki peran utama dalam tahapan
penelitian sebelum didapatkan gambaran kausal yang komprehensif. Memang, kajiankajian epidemiologis merupakan salah satu dari awal utama dalam mendefiniskan

faktor-faktor yang mungkin akan membentuk gambaran tersedniri. Maka, pendekatan


yang sering dilakukan adalah untuk mengambil satu atau dua faktor yang dicurigai
pada satu saat dan melihat apakah, dengan memasukan apa saja yang telah diketahui
tentang penyakit, faktor-faktor yang dicurigai tersebut meningkatkan daya
ekspalnatoris atau prediktif dari penelitian yang dilakukan. Pendekatan satu-faktorsatu-waktu ini adalah inti dari faktor resiko epidemiologi, dari konsep-konsep yang
membentuknya dna efek dari modifikasi terhadap konsep tersebut kemudian, dan dari
pendekatan-pendekatan epidemiologis terhadap kesimpulan kausal.
Konsep Kausalitas
Dalam Modern Epidemiology, Rithman dan Greenland mengilustrasikan proses
pemahaman terhadap penyebab dengan deskripsi dari seornag bayi yang belajar
menggerakkan tombol yang menyebabkan lampu menyala. Tetapi apa yang kami
ambil sebagai penyebab tergantung pada tingkat dimana kita mencari pemahaman
atau konstituensi yang kami pelrihatkan. Karena itu:
Seorang Ibu yang mengganti bola lampu yang terbakar mungkin akan melihat bahwa
tindakannya adalah penyebab dari menyalanya lampu, bukan karena dia
menolak fakta bahwa hal tersebut adalah efek dari dipasangnya tombol lampu
pada posisi menyala, tetapi karena fokus yang diamatinya berbeda.
Seorang ahli listrik yang mengganti sirkuit yang rusak mungkin akan menyatakan
bahwa hal tersebut adalah penyebab dari menyalanya lampu, bukan karena
dia menolak fakta pentingnya tombol lampu dan bola lampu, tetapi karena
fokus yang diamatinya berbeda.

Seorang ahli kabel yang memperbaiki transformer yang menyebabkan lampu mati
mungkin akan menyatakan bahwa penyebab dari menyalanya lampu adalah
karena dia membetulkan transformer tersebut.
Seorang agen layanan sosial yang mengatur pembayaran tagihan listrik mungkin
akan menganggap bahwa pembayaran tersebut adalah penyebab dari
menyalanya lampu, karena jika listrik diputus, maka tombo, sirkuit dan bola
lampu akan tidak berarti.
Seorang pegawai perusahaan listrik, pejabat politik menilai bahwa perusahaan,
para investor yang memasukkan dana, Bank Pemerintah yang menurunkan
tingkat suku bunga, politisi yang memotong pajak, dan penyedia layanan
kesehatan yang menyumbangkan pengembangan proses kelahiran yang aman
dan kesehatan mungkin akan menganggap bahwa tindakan mereka adalah
penyebab dari menyalanya lampu.
Slogan dari National Rifle Association Senjata tidak membunuh orang, oranglah
yang membunuh orang lain bukan merupakan pernyataan kesehatan, tetapi memberi
ilustrasi atas kompleksitas dari memproporsikan kausasi.
Mervyn Susser mengajukan bahwa untuk hubungan kausal, epidemiologi memiliki
atribut-atribut sebagai berikut: asosiasi, urutan waktu, dan arah. Sebuah kausa adalah
sesuatu yang diasosiasikan dengan efeknya, yang muncul sebelum atau paling tidak
pada saat yang bersamaan dengan efek tersebut, dan bertindak terhadap efeknya.
Dalam prinsipnya, sebuah kausa dapat diharuskan-tanpanya efek tidak akan munculdan/atau memadai-dengannya efek akan muncul walaupun tidak ada atau ada faktor

lainn yang terlibat di dalamnya. Dalam prakteknya, bagaimanapun, akan selalu


mungkin untuk mendapatkan faktor-faktor lain yang ada atau tidak ada yang mungkin
dapat mencegah efek, karena, seperti contoh tombol lampu di atas-asumsi-asumsi
akan selalu bermunculan. Kegagalan dalam membangun lima tahapan seperti di atas
mungkin akan menjadi penyebab yang memadai untuk kematian. Tetapi tetap dapat
disanggah bahwa kematian tidak akan terjadi jika ada pencegahan sebelumnya.
Rothman, telah merincikan komponen-komponen model kausal yang mencoba untuk
mengakomodasikan semua multiplisitas faktor tersebut, yang berkontribusi dalam
munculnya hasil. Dalam model Rothman tersebut, penyebab-penyebab yang memadai
diperlihatkan dalam lingkaran penuh (kue kausal), segmen-segmen memperlihatkan
komponen penyebab. Ketika semua komponen penyebab muncul, maka kausa yang
memadai telah lengkap dan hasil akan muncul. Ada kemungkinan dari munculnya
lebih dari satu penyebab yang memadai (misalnya lingkaran penuh) untuk hasil, maka
hasil akan muncul dalam banyak jalur. Komponen-komponen penyebab yang
merupakan bagian dari setiap kausa yang memadai juga dianggap sebagai penyebab.
Periode induksi untuk sebuah kejadian didefinisikan melalui relasi terhadap setiap
komponen khusus kausa, pada saat waktu yang dibutuhkan bagi komponen kausa
yang tersisa juga memunculkan diri. Maka, komponen kausa terakhir yang memiliki
periode induksi nol. Model ini sangat berguna untuk mengilustrasikan sejumlah
konsep-konsep epidemiologis, khususnya dalam hubungan dengan sinergisme dan
modifikasi efek, dan kita akan kembali lagi pada bab kemudian.

Kesimpulan kausal
Observasi langsung vs. Kesimpulan
Banyak pengetahuan keilmuan dikumpulkan melalui observasi langsung. Pengenalan
terhadap teknologi-teknologi baru untuk observasi bersamaan dengan persepsipersepsi optikal, aura dan dimensi kimia, melalui alat-alat seperti mikroskop, sinar-X,
gelombang suara ultra, pemindaian resonansi magnetis, dan uji kadar logam biokimia
telah semakin memperluas kesempatan kita untuk melakukan observasi langsung dan
berkontribusi bagi kemajuan-kemajuan besar dalam ilmu pengetahuan. Sebagai
contoh, pemenang Hadiah Nobel terbaru telah dianugerahi penghargaan karena
mengukur jalur-jalur ion dalam sel, sebuah proses yang sebelumnya telah
disimpulkan lebih dahulu. Karena itu, telah dikatakan bahwa kemajuan-kemajuan
dalam teknik-teknik biologi molekuler telah mengkonversi ilmu genetika dari satu
kesimpulan ke satu observasi langsung.
Secara umum, bagaimanapun, tantangan-tantangan dalam memahami melebihi yang
dapat diobservasi secara langsung, maka, kesimpulan adalahaspek yang penting dari
aktifitas keilmuan. Tampaknya tidakmungkin untuk mengobservasi semua aspek dari
fenomena yang dijadikan perhatian, dan situasi ini merupakan kasus yang paling
sering hubungan-hubungan dalam penelitian-penelitian epidemiologis. Lebih
jauhlagi, bahkan observasi juga melibatkan kesimpulan.
Dengan memperhitungkan kesulitan-kesulitan yang akan muncul dari induksi dan
latensitas. Kecepatan dimana penyakit kudis dengan segera membaik setelah Lind
memulai perawatannya adalah bantuan yang sangat besar dalam memahami efek dari

jeruk. Periode induksi dua-minggu dari campak dan infeksinya sebelum munculnya
gejala pada saat yang sama juga menjadi penghalang dalam memahami transmisi
penyakit tersebut. Pada saat penelitian Goldberger, pellagra secara umum
berkembang dalam waktu sekitar empat bulan setelah awal serangan dari diet
defisien-niacin. Periode induksi yang lebih panjang pasti telah membuat hal tersebut
yang lebih sulit untuk mengasosiasikan efek dengan penyebab.
Sebagai contoh, interval selama empat bulan dikacaukan dengan cara musiman, maka
kasus akan lebih tinggi pada musim panas dan musim semi (ketika makanan lebih
banyak tersedia) . pada saat tersebut, lawan dari penerimaan hubungan kausal antara
tembakau dan kanker paru-paru menunjukkan tingkat kanker paru-paru yang rendah
dalam populasi dengan tingkat merokok yang tinggi ( sebagai contoh, wanita
Amerika Serikat pada tahun 1950-an), sebagai bukti kontradiksi, dengan
mengabaikan untuk memasukkan interval yang panjang antara waktu merokok
dimulai dan perkembangan kanker paru-paru.
Serupa dengan di atas, penakit-penyaki tlangka membutuhkan observasi dari banyak
subjek, yang sangat membatasi tingkat rincian yang dapat divisualisasikan atau
diperiksa. Desakan-desakan yang parah pada pengukuran juga diakibatkan oleh
kebutuhan yang sangat tergantung pada metode-metode pengukuran non-invasif.
Tinjauan idealis terhadap proses ilmiah.
Untuk sebab-sebab seperti ini, sumber-sumber utama dalam epidemiologi harus
disimpulkan, melalui:

mengajukan model-model konseptual (hipotesis konseptual);

deduksi dari spesifik, hipotesis operasional; dan

menguji hipotesis operasional tersebut.

Seperti yang diperlihatkan dalam Kleinbaum, Kupper, dan Morgensten, siklus dari
kemajuan ilmiah dapat berlanjut sebagai berikut:

Mengajukan hipotesis operasional

Deduksi terhadap hipotesis kajian spesifik

Desain kajian dan pengumpulan data

Analisis data dan kesimpulan tentang hipotesis kajian

Modifikasi terhadap hipotesis konseptual, jika diperlukan

Potret yang diakui sangat ideal ini cukup tepat untuk menekankan pentingnya model
konseptual. Seperti yang dibedakan oleh sejarahwan Edward Hallet Carr, dalam
tulisannya (What is history, NY: Knopf, 1968, hal. 136) Dunia ahli sejarah, seperti
dunia ilmuan lainnya, bukan merupakan slainan fotografis dari dunia nyata, tetapi
merupakan model kerja yang membuat manusia semakin efektif atau kurang efektif
untuk memahami dan menguasainya. Para ahli sejarah belajar dari masa llau, atau
dari sangat banyak pengalaman di masa lalu yang dapat mereka kumpulkan, yang
sebagian disetujui sebagai eksplanasi dan interpretasi rasional, dan dari situ kemudian
kesimpulan ditarik yang mana akan bertindak sebagai panduan dalam bertindak.

Penulis populer terbaru, yang berbicara tentang pencapaian ilmu pengetahuan, secara
grafis merujuk terhadap proses dari pikiran umat manusia yang menggerayangi
kantong usang berisi fakta, yang telah diamati, melakukan seleksi terhadap
potongan-potongan, dan pola dari fakta-fakta relevan yang telah diamati, menolak
semua yang tidak relevan, hingga disatukan bersama-sama dengan logika dan selimut
rasional dari pengetahuan.
Carr kemudian meneruskan, dalam pasasi yang mengaplikasikan lebih luas lagi
dibanding dengan sebab-sebab historis saja, Karena itu sejarah adalah sebuah proses
dalam artian signifikansi historis. Untuk meminjam istilah dari Talcott Parson, sekali
lagi, sejarah adalah sebuah sistem selektif yang tidak hanya kognitif tetapi
memiliki orientasi kausal terhadap realitas. Sama seperti samudera yang tidak terbatas
dari fakta yang dipilih para ahli sejarah yang mana hanya seignifikan bagi tujuan
mereka sendiri, maka, multiplikasi dari rangkaian-rangkaian kausa dan efek yang
disarikan itulah, dan hanya itu saja, yang secara historis signifikan; dan standar bagi
signifikansi historis ini adalah kemampuannya dalam mencocokkannay ke dalam pola
penjelasan rasionalnya sendiri dan interpretasi. Rangkaian lainnya dari kausa dan efek
harus ditolak sebagai insindentil, bukan karena hubungan antara kausa dan efek
berbeda, tetapi karena rangkaian itu sendiri yang tidak relevan. Ahli sejarah tidak
melakukan apapun dengan hal tersebut; hal tersebut tidak termasukdalam persetujuan
tentang interpretasi rasional, dan tidak memiliki arti dalam masa lalu atau juga masa
sekarang. (E.H. Carr, op.cit., hal. 138). Karena itu dalam situasi hipotetis dari Carr
(hal. 137) di masa kini yang mana Jones berkendara dari sebuah pesta dimana dia

terllau mabuk, dengan mobil yang remnya rusak, pada sebuah persimpangan dengan
daya pandang yang buruk menabrak dan membunuh Robinson, yang menyebrnag
jalan untuk membeli sebungkus rokok, maka kita akan menunjuk alkohol, remm yang
rusak, dan daya penglihatan yang buruk sebagai kausa (dan target potensial dalam
tindakan pencegahan), tetapi bukan merokok itu sendiri yang jadi sebab walaupun
memang benar bahwa jika Robinson bukan seorang perokok maka dia tidak akan
terbunuh malam itu.
Hipotesis konseptual yang muncul dari penyebab induktif, berdasarkan kepada
observasi dan teori, dianalogikan sebagai proses, dan seterusnya. Sebagai contoh,
efek dari perokok pasif pada kanker paru-paru dan dari kontrasepsi oral terhadap
kanker payudara pertama kali dipakai berdasarkan pengetahuan tentang efek dari
perokok aktif pada kanker paru-paru dan dari kontrasepsi oral terhadap jaringan
sensitif-estrogen. Pengetahuan yang ada sekarang dapat cocok dengan lebih dari satu
macam model. Sebagai contoh, data yang ada tentang efek dari radiasi terhadap
resiko kanker dapat cocok dengan hubungan linear, dimana tidak ada ambang batas
bawah yang tidak menunjukkan resiko, atau dengan model kurvalinear dimana
ambang batas resiko ada.
Dari hipotesis-hipotesis konseptual ini, penyebab deduktif dapat menumbuhkan
prediksi spesifik atau hipotesis kajian yang dianggap benar jika model konseptualnya
benar. Jika prediksi ini atrau hipotesis kajian ini tidak cocok dengan data valid dari
kajian-kajian empiris, maka model konseptual yang menumbuhkan prediksi dianggap

sebagai pertanyaan. Situasi tersebut memaksa penilaian ulang atau modifikasi


terhadap hipotesis konseptual dan berdasarkan pada kemajuan pemahaman.
KARL POPPER: Kekuatan Falsifikasi
Asep dari proses investigasi ilmiah ini telah ditekankan oleh filsuf Karl Popper.
Dalam konseptualisasi Popper, falsifikasi dari hipotesisi tampak lebih informatif
dibanding dengan pembenaran hipotesis. Ada sejumlah data yang tampak konsisten
dengan hipotesis salah. Satu contoh tunggal terbalik, bagaimanapun, akan memaksa
terjadinya modifikasi. Karena itu, Popper menilai, bahwa, kajian-kajian harus
mencoba untuk menyangkal, dari pada mengkonfirmasi, hipotesis yang diuji. Sebuah
hipotesis yang dapat bertahan melewati percobaan penyangkalan tersebut akan
mendapatkan kekuatan yang lebih dibanding dengan hipotesis yang dibenarkan
berulang-ulang kali.
Walaupun moder Popper tampak cukup menarik, seberapa jauhkah model tersebut
dapat menjelaskan bagaimana sebenarnya ilmu pengetahuan berkembang? Salah satu
masalah dari proses uji induksi-deduksi ini membutuhkan sejumlah besar
pengetahuan yang mana akan dikonseptualisasikan dan dideduksi. Secara khusus
dalam tahapan-tahapan awal penelitian dari satu area, ada kebutuhan tersendiri bagi
investigasi deskriptif untuk menumbuhkan sekumpulan data yang dapat memberikan
arah pemikiran tentang isu-isu dan menyediakan beberapa dasar untuk penyebab
induktif. Lebih serius adalah fakta bahwa dalam penelitian-penelitian epidemiologis,
hasil negatif (temuan yang tidak menunjukkan asosiasi) seringkali tidak dapat

menyangkal hipotesis awal karena sangat banyak bias sumber yang bekerja sebagai
penutup dari asosiasi.
Poin yang lebih jauh lag dimana kemajuan yang berurut seperti yang digarisbawahi di
atas belum memadai yang merupakan situasi dimana model konseptual yang telah ada
selalu membutuhkan terobosan baru yang belum ditemukan, untuk memecahkan
kebuntuan. Dalam fisika, sebagai contoh, teori Einstein tentang relativitasrekonseptualisasi revolusioner dari fenomena fisika-memecah kebuntuan yang telah
dicapai dari bagian lain dari abad ke sembilanbelas, dan membuka jalan bagi
kemajuan-kemajuan dramatis dalam ilmu pengetahuan. Investigasi Goldberger pada
pellagra memberikan hasil yang kurang dramatis tetapi merupakan ilustrasi yang
penitng dari peran rekonseptualisasi dalam mengkaji penyakit-penyakit spesifik.
Maka sangat penting untuk mengingat bahwa kemajuan dari ilmu pengetahuan dapat
berasal dari sebuah observasi yang hati-hati, deskripsi yang tepat, dan pemikiran
kreatif-walaupun dalam banyak kasus pemikiran seperti itu melalui penempatan
hipotesisi secara implisit dan mengujinya dengan semua pengetahuan yang ada.
Memang, bahkan proses dari observasi langsungpun melibatkan paradigma yang
membawa kita ke arah observasi dan interpretasi.
Menurut D.C Stove, filosofi Popper tentang ilmu pengetahuan dapat dipahami hanya
dalam referensi terhadap keadaa sosial pada awal masanya(Vienna dalam tahun-tahun
setelag Perang Dunia Pertama). Dalam pandangan Stove, filosofi Popper berdasar
kepada pembalikan citra-citra tradisional dari ilmu pengetahuan dan filosofi. Secara
tradisional, proposisi dalam ilmu pengetahuan adalah dapat diverifikasi. Bagi Popper,

hal tersebut dibedakan sebagai dapat difaksifikasi. Metode ilmu pengetahuan telah
dianggap induktif secara esensialnya. Popper tetap bertahan bahwa ilmu pengetahuan
adalah dektif secara fundamental. Terlalu banyak, intisari dari ilmu pengetahuan yang
memberi peringatan: Popper berkata bahwa keberanian adalah inti dari ilmu
pengetahuan. Ilmu pengetahuan seharusnya dibedakan dari pekerjaan mengira-ngira
dan opini sehari-hari melalui fakta bahwa kesimpulan adalah tertentu atau paling
tidak memiliki sejumlah besar kemungkinan yang membantu; Popper akan berkata
bahwa kesimpulan ilmiah tidak pernah lebih dari mengira-ngira, hipotesis, terkaanterkaan, dan tidak ada teori yang akhirnya menjadi lebih mungkin. Untuk sebab-sebab
historis, menurut Stove, filosifi ilmu pengetahuan dari Popper mendapat banyak
sekali penerimaan yang luas dari publik dan komunitas ilmiah. Khusus dalam
epidemiologi, dimana memungkinkan untuk mengontrol banyak sekali sumber
pengaruh luar, kemungkinan adanya hubungan yang tepat akan digelapkan yang akan
lebih menyulitkan untuk menyangkal sebuah hipotesis epidemiologis dan karena itu
membatasi pengaplikasian model Popper.
Akal Sehat
Sebuah model alternatif dari kemajuan ilmiah adalah dalam bentuk akal sehat,
sebuah fenomena yang mendapatkan perhatian yang meningkat dari penelti-peneliti
intelejensi artifisial. Perhatikan situais di bawah ini:
Anda keluar rumah pada pagi hari dan mendapati bawah rumput-rumput basah
Kesimpulan yang jelas adalah bahwa semalam telah turun hujan.

Tetapi, jika saja anda mengetahui bahwa seseorang telah meninggalkan penyiram
tanaman otomatisnya dalam keadaan terbuka tadi malam. Maka, dengan begitu
keyakinan bahwa semalam turun hujan akan runtuh dengan sendirinya-karena telah
mendapatkan fakta baru, anda kemudian menarik kesimpulan awal.
Sesuai dengan presentasi pada American Association for Artificial Intelligence di
bulan Juli 1987, hal tersebut dikenla dengan nama logika flip-flop (penyebabpenyebab non-monotis dalam komunitas intelinjensia artifisial) adalah ringkasan
dari akal sehat. Hal tersebut adalah pelanggaran yang kentara terhadap teori logika
konvensional (berdasarkan kepada aksioma tersebut, teorema, membuktikan
teorema). Tetapi, tampaknya khsus dalam jenis penilaian seperti itu pada karakteristik
tertentu dari pengalaman manusia dan sistem berbasis-komputer. Pada akal sehat,
kausa bersaing, bukti-bukti saling mendukung. Semakin banyak petunjuk yang
dimiliki untuk mendukung hipotesis kita, maka semakin yakinlah kita bahwa
hipoetsis tersebut benar.
Kesimpulan statistik dan kesimpulan kausal
Kesimpulan statistik tidak sama dengan kesimpulanm kausal, walaupun memang ada
paralelisme dalam proses penyimpulan itu sendiri, dan kesimpulan statistik secara
umum memakai data yang dievaluasi untuk digunakan bagi pembentukan kesimpulan
kausal. Dalam kesimpulan statistik, data dari sampel yang diobservasi dipergunakan
untuk menyimpulkan tentang populasi yang mana telah ditentukan sebelumnya.
Model statistik, diekspresikan dengan hipotesis kosong (H0), kemudian diuji
terhadap data. Berdasarkan data, model statistik dapat diterima atau ditolak sebagai

eksplanasi yang memadai dari data. Penolakan merupakan pernyataan yang lebih kuat
dan biasanya didasari oleh kriteria yang lebih keras (tingkat signifikansi 5% berarti
hasil yang sama kuatnya dengan yang diobservasi akan muncul dengan kemungkinan
hanya 5%dari waktu keseluruan, sementara tingkat 80% dari kekuata statistik berari
ada hubungan nyata yang tampaknya tidak signifikan 20% pada saat yang sama).
Tetapi dengan mengeluarkan eksplanasi yang berbasis pada kesempatan tidak serta
merta mendirikan sebuah kausalitas, karean ada beberapa banyak kemungkinan
lainnya untuk sebab-sebab non-kausal bagi asosiasi yang ada. Asosiasi tersebut harus
cukup meyakinkan dan merefleksikan beberapa keanehan-keanehan dalam kelompok
kajian, masalah dengan pengukuran terhadap penyakit atau bukaan terhadap penyakit,
atau efek dari beberapa faktor lainnyta dapat berdampak pada penyakit DAN dugaan
kausa. Bahkan, dugaan faktor resiko dapat saja muncul SETELAH (bahkan sebagai
hasil dari) penyakit. Dalam kesimpulan kausal, seseorang yang meneliti struktur dan
hasil dari banyak investigasi dalam percobaannya untuk melakukan penaksiran, jika
mungkin, akan menghilangkan semua sebab-sebab non-kausal yang mungkin ada
untuk asosiasi yang telah diamati
Pengaruh pengetahuan dan paradigma
Karena kesimpulan kasual adalah proses dari pencarian sebab yang masuk akal, maka
dikondisikan oleh apa yang diyakini benar adanya dan bisa mengungkapkan konsepkonsep penyakit. Konsep-konsep ini berdasar kepada pengetahuan pada saat itu,
demikian juga semua ketidakacuhan dan keyakinan-keyakinan yang kleiru.

Anggap saja dalam satu kasus agen-agen mikrobial. Rumus-rumus Henle-Koch


(1884) untuk mengimplikasi bakteria sebagai penyebab dari penyakit adalah:
1. Parasit (bentuk asli) yang harus didapati pada semua yang terkena penyakit
2. Parasit tidak boleh muncul pada orang sehat
3. Parasit dapat diisolasi, dibiakkan dan dapat menyebabkan perpindahan
penyakit ke orang lain.
Telah menjadi model yang sangat berhasil bagi penyakit-penyakit seperti anthrax,
tuberculosis, dan tetanus. Tetapu, dalil-dalil ini belum memadai bagi banyak penyakit
lainnya, terutama penyakit-penyakit viral, karena (Rivers, 1937; Evans 1978):
1. Produksi penyakit mungkin memerlukan faktor pendukung
2. Virus tidak dapat dibiakkan seperti bakteria karena virus membutuhkan sel-sel
hidup untuk bertumbuh
3. Virus-virus patogenis dapat muncul tanpa penyakit klinis (infeksi sub-klinis,
keadaan pembawa).
Ketika patogen-patogen ini tidak terlalu beracun atau tidak mematikan dimana
kehadirna

patogen

tersebut

selalu

membawa

penyakit,

maka

kita

harus

memperhitungkan faktor-faktor ganda dan jaringankausasi.


Kriteria untuk kesimpulan kausal dalam epidemiologi
Kriteria untuk kesimpulan kausal menjadi isu yang penting dan kontroversial dengan
dibentuknya Advisory Comitte pertama untuk Surgeon General on Health
Consequences of Smoking. Pada laporan lembaga ini di tahun 1964, komite ini
memperlihatkan daftar kriteria epidemiologis untuk kausalitas yang mana oleh Sir

Austin Bradford Hill kemudian diurai lagi dalam tulisan klasiknya tahun 1965
President Address to the newly formed Section of Occupational Medicine dari Royal
Society. Kriteria yangdibuat Hill secara luas diketahui sebagai basis untuk
menyimpulkan kausal-kausal.
Pertanyaan mendasarnya adalah:
1. Apakah asosiasi ini nyata atau artefaktual?
2. Apakah asosiasi ini sekunder terhadap kausa asli

Kriteria Bradford Hill


1. Kekuatan asosiasi-semakin kuat asosiasi, maka emain sedikit hal tersebut
dapat merefleksikan pengaruh dari faktor-faktor etiologis lainnya. Kriteria ini
membutuhkan juga presisi statistik (pengaruh minimal dari kesempatan) dan
kekakuan metodologis dari kajian-kajian yang ada terhadap bias (seleksi,
informasi, dan kekacauan)
2. Konsistensi-replikasi dari temuan oleh investigator yang berbeda, saat yang
berbeda, dalam tempat yang berbeda, dengan memakai metode berbeda dan
kemampuan untuk menjelaskan dengan meyakinkan jika hasilnya berbeda.
3. Spesifisitas dari asosiasi-ada hubungan yang melekat antara spesifisitas dan
kekuatan yang mana semakin akurat dalam mendefinisikan penyakit dan
penularannya, semakin juat hubungan yang diamati tersebut. Tetapi, fakta

bahwa satu agen berkontribusi terhadap penyakit-penyakit beragam bukan


merupakan bukti yang melawan peran dari setiap penyakit.
4. Temporalitas-kemampuan untuk mendirikan kausa dugaan bahka pada saat
efek sementara diperkirakan
5. Tahapan biologis-perubahan yang meningkat dalam konjungsi dengan
perubahan kecocokan dalam penularan verifikasi terhadap hubungan dosisrespon konsisten dengan model konseptual yang dihipotesakan.
6. Masuk akal-kami lebih siap untuk menerima kasus dengan hubungan yang
konsisten dengan pengetahuan dan keyakinan kami secara umum. Telah jelas
bahwa kecenderungan ini memiliki lubang-lugang kosong, tetapi akal sehat
selalu saja membimbing kita
7. Koherensi-bagaimana semua observasi dapat cocok dengan model yang
dihipotesakan untuk membentuk gambaran yang koheren?
8. Eksperimen-demonstrasi yang berada dalam kondisi yang terkontrol merubah
kausa bukaan untuk hasil yang merupakan nilai yang besar, beberapa orang
mungkin, mengatakannya sangat diperlukan, untuk menyimpulkan kausalitas
9. Analogi-kami lebih siap lagi untuk menerima argumentasi-argumentasi yang
menyerupai dengan yang kami dapatkan
Kekuatan asosiasi

ekses-ekses yang telah diketahui sebelumnya dari penyakit dan diasosiasikan


dengan bukaan

besaran dari rasio kejadian bukaan terhadap kejadian tidak ada bukaan

seberapa kuatkah kuat itu? Perhatikan, contoh:


Resiko relatif
1.1-1.3
1.4-1.7
1.8-3.0
3-8
8-16
16-40
40+

Arti
Lemah
Agak kuat
Rata-rata
Kuat
Sangat kuat
Dramatis
Tidak dapat ditangani

Asosiasi yang kuat tampak kurang menjadi hasil dari faktor-faktor etiologis lainnya
dibanding dengan asosiasi yang lemah.
Telur, Merokok dan kanker paru-paru; Merokok dan CHD
Konsistensi
Asosiasi telah diamati berulang kali oleh orang yang berbeda, tempat yang berbeda,
keadaan dan waktu yang berbeda pulaKonsistensi membantu dalam perlindungan
dari munculnya kesalahan atau artefak. Tetapi hasil yang diobservasi dengan
konsisten tidak langsung bebas dari bias, terutama dalam sejumlah kecil kajian, dan
hasil dalam populasi yang berbeda akan sama sekali berbeda jika hubungan kausal
dipengaruhi olhe ada atau tidak adanya variabel-variabel pemodifikasi.
Spesifisitas
Hubungan antara bukaan dan penyakit adalah spesifik dalam beragam cara-penyakit
spesifik terhubung dengan bukaan yang spesifik pula, tipe spesifik dari bukaan lebih
efektif, dan seterusnya. Ada hubungan dekat antara spesifisitas dan kekuatan dimana

didefinisikan lebih akurat untuk penyakit dan bukaan, akan semakin kuat resiko
relatif yang diobservasi.
Misalnya., Schildkraut dan Thompson (Am J Epidemiol 1988; 128:456)
mempertimbangkan bahwa pengumpulan familial yang mereka amati untuk
kanker rahim tampaknya bukan karena bias informasi keluarga sebab dari
spesifisitas hubungan dalam kontrol-kasus berbeda dalam sejarah keluarga (a)
melibatkan penularan tetapi tidak merupakan batas penyakit dan (b) lebih
besar kemungkinan untuk rahim dibanding untuk kanker.
Tetapi adanya fakta bahwa satu agen berkontribusi terhadap banyak penyakit bukan
merupakan bukti yang menyanggah perannya dalam setiap penyakit. Sebagai contoh,
rokok dapat menyebabkan banyak penyakit.
Temporalitas
Pertama adalah bukaan, kemudian penyakit.
Terkadang sangat sulit untuk mendokumentasikan rangkaian, terutama jika ada
tundaan yang panjang antara bukaan dan penyakit, penyakit subklinis, bukaan
(misalnya perlakuan) yang membawa manifestasi awal dari penyakit.
Tahapan Biologis
Verifikasi terhadap hubungan respon-dosis konsisten dengan model konseptual
hipotesis.
resiko

bukaan

Harus memasukkan ambang batas dan efek penjenuhan, karakteristik bukaan.


Masuk akal
Apakah asosiasi masuk akal secara biologis
Misalnya, estrogen dan kanker endometrial, estrogen dan kanker payudara,
kontrasepsi oral dan kanker payudara.
Koherensi
Apakah interpretasi kausal cocok dengan fakta yang diketahui dalam sejarah alam
dan biologi dari penyakit, termasuk juga pengetahuan tentang distribusi dari bukaan
dan penyakit (orang, tempat, waktu) dan hasil dari eksperimen laboratorium. Apakah
semua potongan telah cocok tempatnya
Bukti-bukti eksperimental
Beberapa tipe desain kajian dapat memberikan bukti yang lebih meyakinkan
dibanding desain kajian jenis lainnya. Kajian-kajian intervensi dapat menyediakan
dukungan yang terkuat, terutama ketika bukaan dapat dilakukan secara acak. Karena
tidak etis dan/atau tidak praktis untuk menentukan banyak bukaan sebagai kajian
epidemiologis. Satu alternatif yang mungkin adalah dengan menghilangkan bukaan

dan melihat apakah penyakit menurun, kecuali jika proses kausal dianggap tidak
dapat lagi dibalikkan.
Misalnya, pellagra, kudis, HDFP, LRC-CPPT, MRFIT.
Analogi
Apakah pernah ada situasi yang serupa di masa lalu? (misalnya rubella, thalidomide
selama kehamilan)
Pengecualian bagi temporalitas, tidak ada kriteria yang absolut, karena asosiasi kausal
dapat sangat lemah, relatif non-spesifik, diobservasi tidak konsisten, dan dalam
konflik dengan pengungkapan penmahaman biologis. Tetapi, setiap kriteria yang
memperkuat jaminan kami dalam mencapai penilaian kausalitas.
Beberapa dari kriteria (misalnya, koherensi, tahapan biologis, spesifisitas, dan
mungkin juga kekuatan) dapat dirumuskan dalam bentuk isu yang lebih umum dari
konsistensi data yang diobservasi dengan model hipotesisasi etiologis (biasanya
biologis). Sebagai contoh, tahapan biologis tidak harus monoton, seperti dalam kasus
dosis radiasi tinggi yang mana akan mengarah kepada pembunuhan sel-sel dan karena
itu menurunkan kemungkinan perkembangan tumor. Serupa dengan itu, spesifisitas
dapat dipakai pada situasi-situasi tertentu tetapi tidak untuk situasi lain, tergantung
pada proses patofisiologis yangdihipotesiskan.
Pencarian Kausa versus Pembuatan-Keputusan
Kesimpulan kausal sangat penting secara fundamental untuk memajukan pengetahuan
ilmiah. Pendirian Popper adalah dalam sifat akhirnya, setiap teori itu tentatif. Setiap
teori dapat secara potensial dapat dijatuhkan oleh data yang tidak cocok yang tidak

mungkin dijadikan pertanyaan. Maka berbagai sudut pandang, pengetahuan ilmiah


dan kemajuannya selalu melalui beragam percoban untuk menyangkal teori-teori
yang telah ada.
Dengan memperhatikan isu-isu dalam kesimpulan kausal dalam epidemiologi,
walaupun, akan sangat berguna untuk membuat pembedaan antara kesimpulan yang
ditujukan untuk mendirikan etiologi dan kesimpulan yang ditujukan untuk
mendapatkan keputusan tindakan atau keputusan tidak ada tindakan. Pendirian
Popper kurang bisa dialikasikan dalam kesimpulan kausal untuk mendukung
pembuatan-keputusan, karena pentingnya tindakan sesuai dengan waktu. Walaupun
keputusan individual dan kolektif seringkali didasarkan pada konsiderasi selain dari
pengetahuan ilmiah, dan bahkan tanpa data kausal valid sekalipun, kesimpulan kausal
sangat fundamental dalam pembuatan-keputusan. Lebih jauh lagi, penilaian
kausalitas-akhirnya oleh kewenangan pemerintah dan publik yang lebih besarmerupakan basis kritis untuk resolusi dari isu-isu kontroversial, misalnya, pembatasan
produk-produk seperti tembakau, saccharin, kopi, kontrasepsi oral, senjata genggam;
kontrol polusi dan seterusnya. Mereka yang bertindak dapat memuji kata-kata Hill:
Semua

kerja ilmiah

itu tidak lengkap-apakah

itu eksperimental

ataupun

observasional. Semua kerja ilmiah itu berkemungkinan untuk ditumbangkan atau


dimodifikasi oleh pengetahuan yang lebih maju. Yang mana tidak memberikan kita
kebebasan untuk mengabaikan pengetahuan yag telah kita miliki, atau menangguhkan
tindakan yang tampaknya dibutuhkan setiap waktu.
A. B. Hill, The Environment and causation, hal. 300

Konsep-konsep paralel dalam kesimpulan epidemiologis dan proses-proses legal.


Seseorang dapat menarik analogi yang sangat menarik antara proses dalam
pembuatan-keputusan pada epidemiologi dan pada proses legal. Pada kedua proses
tersebut, keputusan tentang fakta harus dicapai berdasarkan bukti-bukti yang tersedia.
Jika tidak ada kebenaran yang terungkap (misalnya bukti-bukti matematis), maka
kedua pendekatan di atas menekankan integritas dari proses pengumpulan dan
presentasi informasi, representasi yang memadai dari setiap pandangan pendapat,
bukti, standar khusus bagi beragam konsekuensi potensial. Kedua area menekankan
pada keamanan prosedural (metodologis), karena fakta dalam situasi tertentu secara
umum hanya terjadi ketika ada temuan dalam proses investigasi yang memadai.
Serupa dengan hal tersebut, sangat penting bagi keduanya, epidemiologi dan hukum
agar tidak hanya keadilan (misalnya dengan memakai prosedur/metodologi yang
tepat) yang diperhatikan, tetapi juga bahwa hal tersebut pernah dilakukan oleh
lainnya. Dalam hukum, pola penilaian instruksi memberikan basis bagi penilai untuk
mengukur bukti-bukti. Serupa dengan itu, epidemiologi memiliki kriteria-kriteria
untuk kesimpulan kausal.
Hukum-hukum bukti legal memberikan beberapa paralel dengan pendekatan
epidemiologi untuk mengukur bukti-bukti dan menyimpulkan kausal. Dalam kedua
sistem, keterandalan informasi (data) adalah rasional utama. Beberapa contohnya
adalah:

Hukum Hearsay: bukti tidak dapat diterima jika berbasis pada desas-desus dan
bukan berdasarkan observasi langsung
Contoh: jika seorang dokter bersaksi bahwa pasiennya telah berkata dia
mengendarai kendaraan bermotor di sisi jalan yang salah, maka pengakuan
tersebut adalah bukti desas-desus dan karena itu tidak diperbolehkan untuk
dipakai. Jika dokter tersebut tidak melihat langsung pasiennya mengendarai
kendaraan bermotor di sisi jalan yang salah.
Ada perkecualian: sumber-sumber pemerintah, catatan-catatan bisnis yang
diambil selama kegiatan tetap dalam bisnis (tanpa mengalami tuntutan
hukum), catatan-catatan lainnya yang secara rutin dibuat adalah bukti-bukti
yang diperbolehkan.

Patung orang mati: pengakuan tentang pembicaraan dengan seseorang yang


sekarang telahmeninggal tidak diperbolehkan (karena dia, orang mati tersebut
tidak dapat memberi respon).

Pada hukum dan etiologi, ada hubungan antara keseriusan tindakan dan derajat bukti
yang dibutuhkan untuk melakukan tindakan. Beberapa contoh disini mempelrihatkan
perluanya penelitian, perebutan dan penilaian:

Untuk mengeluarkan surat pencarian, pengadilan harus menemukan bahwa


ada kecurigaan yang bersebab bahwa objek yang dicari dapat ditemukan

Untuk mengeluarkan surat pencarian, pengadilan harus menemukan bahwa


ada kausa kemungkinan bahwa seseorang yangakan dicari telah melakukan
kejahatan.

Untuk petugas kepolisian dalam menangkap seseorang tanpa surat pencarian,


maka petugas tersebut harus memiliki kausa yang masuk akal untuk yakin
bahwa sebuah kejahatan akan terjadi atau baru saja terjadi.

Untuk mengeluarkan dakwaan, para juri harus menemukan adanya kasus


tingkat pertama yang memperlihatkan seorang individu melakukan kejahatan

Untuk keputusan yang dijatuhkan kepada terdakwa dalam tuntutan perdata,


hakim atau juri harus mencari sejumlah besar bukti-bukti

Untuk menghukum terdakwa dalam percobaan kriminal, juri harus


menemukan bahwa bukti-bukti didirikan berdasarkan keadaan yang tidak
diragukan lagi terhadap terdakwa.

Untuk memutuskan seseorang bersalah yang sepenuhnya berdasarkan pada


bukti-bukti tidak langsung, maka juri harus puas dengan setiap hipotesis
masuk akal telah dikeluarkan kecuali bahwa terdakwa itu bersalah (Jika ada
bukti-bukti yang nyata, maka hipotesis tidak terlalu dibutuhkan)

(di Skotlandia, ada keputusan hukum tidak terbukti, yang mana tetap paralel
dengan penilaian epidemiologis).

Pada hukum dan epidemiologi, fakta bahwa setiap kasus individu selalu menjadi
faktor penting dalam keputusan, dan keputusan secara umum dipengaruhi oleh
konsiderasi dari:

Sepenting apakah untuk bertindak?

Sedekat apa bahaya itu?

Seserius apa bahaya itu nantinya?

Secara umum lebih bagus untuk berbuat salah di sisi yang aman (walaupun dalam
hukum hal tersebut tetap menjadi implisit, dan tidak pernah menjadi sebab yang
eksplisit).