Anda di halaman 1dari 14

Makalah pertumbuhan dan produksi AYAM BROILER

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Peningkatan jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun berdampak pada
peningkatan konsumsi produk peternakan (daging, telur, susu). Meningkatnya
kesejahteraan dan tingkat kesadaran masyarakat akan pemenuhan gizi
khususnya protein hewani juga turut meningkatkan angka permintaan produk
peternakan. Daging banyak dimanfaatkan oleh masyarakat karena mempunyai rasa
yang enak dan kandungan zat gizi yang tinggi. Salah satu sumber daging yang paling
banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia adalah ayam.Daging ayam yang
sering dikonsumsi oleh masyarakat diperoleh dari pemotongan ayam broiler, petelur
afkir, dan ayam kampung.
Ayam broiler merupakan salah satu penyumbang terbesar protein hewani asal
ternak dan merupakan komoditas unggulan. Industri ayam broiler berkembang pesat
karena daging ayam menjadi sumber utama menu konsumen. Daging ayam broiler
mudah didapatkan baik di pasar modern maupun tradisional. Produksi daging ayam
broiler lebih besar dilakukan oleh rumah potong ayam modern dan tradisional. Proses
penanganan di RPA merupakan kunci yang menentukan kelayakan daging untuk
dikonsumsi. Perusahaan rumah potong ayam (RPA) atau tempat pendistribusian
umumnya sudah memiliki sarana penyimpanan yang memadai, namun tidak dapat
dihindari adanya kontaminasi dan kerusakan selama proses pengo;ahan dan distribusi.
Mengingat tingginya kewaspadaan masyarakat terhadap keamanan pangan,
menuntut produsen bahan pangan termasuk pengusaha peternakan untuk
meningkatkan kualitas produknya. Walaupun kualitas karkas tergantung pada
preferensi konsumen namun ada standar khusus yang dijadikan acuan. Karkas yang
layak konsumsi harus sesuai dengan standar SNI mulai dari cara penanganan, cara
pemotongan karkas, ukuran dan mutu, persyaratan yang meliputi bahan asal,
penyiapan karkas, pengelolaan pascapanen, bahan pembantu, bahan tambahan, mutu
produk akhir hingga pengemasan. Untuk itu perlu ada penerapan manajemen yang
baik sejak masih di sektor hulu sampai ke sektor hilir.

Bab II
PEMBERIAN RANSUM
Pakan
Ayam broiler sebagai bangsa unggas umumnya tidak dapat membuat
makanannya sendiri. Oleh sebab itu ia harus makan dengan cara mengambil makanan
yang layak baginya agar kebutuhan nutrisinya dapat dipenuhi. Protein, asam amino,
energi, vitamin, mineral harus dipenuhi agar pertumbuhan yang cepat itu dapat
terwujud tanpa menunggu fungsi- fungsi tubuhnya secara normal.Dari semua unsur
nutrisi itu kebutuhan energi bagi ayam broiler sangat besar.
Ransum memiliki peran penting dalam kaitannya dengan aspek ekonomi yaitu
sebesar 65-70% dari total biaya produksi yang dikeluarkan. Pakan yang diberikan
harus memberikan zat pakan (nutrisi) yang dibutuhkan ayam, yaitu karbohidrat,
protein, lemak, vitamin dan mineral, sehingga pertambahan berat badan perhari
(Average Daily Gain/ADG) tinggi.Pemberian pakan dengan sistem ad libitum (selalu
tersedia/tidak dibatasi).Apabila menggunakan pakan dari pabrik, maka jenis pakan
disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan ayam, yang dibedakan menjadi 2 (dua)
tahap. Tahap pertama disebut tahap pembesaran (umur 1 sampai 20 hari), yang harus
mengandung kadar protein minimal 23%. Tahap kedua disebut penggemukan (umur
diatas 20 hari), yang memakai pakan berkadar protein 20 %.Jenis pakan biasanya
tertulis pada kemasannya.
BAHAN PAKAN LOKAL POTENSIAL UNTUK AYAM BURAS
1. singkong dan hasil ikutannya
Singkong juga merupakan tanaman yang dapat dijumpai dan banyak
dihasilkan di Indonesia. Bagian singkong yang dapat digunakan sebagai
bahan pakan ayam buras adalah umbi/gaplek, daun singkong, dan
onggok. Tepung singkong/gaplek mempunyai kandungan karbohidrat atau
sumber energi yang tinggi, hampir menyamai jagung, akan tetapi miskin
kandungan protein (sekitar 2%) dan asam amino. Daun singkong
mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi (21-30% dari bahan
kering), sedangkan onggok kandungan proteinnya rendah, tetapi
mengandung karbohidrat. Salah satu zat antinutrisi dalam umbi dan daun
singkong
adalah
adanya
"sianogenat
glukosida"
yang
dapat
membebaskan asam sianida (HCN). Pada umbi singkong, sebagian besar
sianida terdapat pada kulitnya (RAVINDRAN dan BLAIR, 1991). Dalam daun
singkong segar kandungan sianida ini cukup tinggi, yaitu sekitar 400-600
ppm. Pengupasan kulit umbi, perendaman, dan pengeringan dapat
menurunkan kadar sianida. Penggunaan tepung gaplek dalam ransum
ayam ras sudah banyak dilaporkan dengan rekomendasi batas
penggunaan maksimum antara 20% hingga 40% untuk ransum bentuk
tepung dan 50% hingga 60% untuk ransum bentuk pelet (RAVINDRAN dan
BLAIR, 1991). Faktor-faktor yang membatasi penggunaan tepung singkong
dalam ransum unggas terutama adalah rendahnya kadar protein, sifat
amba, sifat berdebu, dan tidak adanya pigmen atau zat pewarna.
Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung tapioka hingga 40%
dalam ransum ayam broiler (TOGATOROP, 1988) dan petelur (ESHIET dan
ADEMOSUN dalam TOGATOROP, 1988) dapat dilakukan tanpa

mengganggu produksi ayam tersebut asalkan keseimbangan gizi dalam


ransum diperhatikan. WANG et al. (1992) telah mencoba penggunaan
tepung daun singkong di dalam ransum itik pedaging, dengan saran
penggunaan tidak melebihi 10%. Pada tingkat ini, penggunaan tepung
daun singkong tidak menghasilkan penampilan ternak yang berbeda
dengan kontrol. Akan tetapi, penggunaan tepung daun
singkong 10% dalam ransum ayam broiler dapat menghambat
pertumbuhan (SINURAT et al., 1994), oleh karena itu hanya disarankan 5%
dalam ransum ayam broiler, seperti terlihat pada Tabel 2. Hal ini
menunjukkan bahwa daun singkong mengandung zat anti nutrisi (sianida
dan serat kasar tinggi) yang dapat membatasi penggunaannya dalam
ransum ternak unggas. Salah satu cara yang sudah dilaporkan oleh
SINURAT et al. (1994) untuk mengurangi pengaruh zat antinutrisi ini
adalah dengan teknologi fermentasi dengan A. niger. Dilaporkan, bahwa
produk fermentasi tepung daun singkong dapat digunakan hingga 10%
dalam ransum ayam broiler.
Tabel penampilan ternak yang diberi pakan daun singkong
parameter
0%
5%
10%
bobot badan awal 0.08
0,08
0,08
(kg)
PBB (kg)
0,93
0,86
0,93
konversi pakan
1,70
1,77
1,79
2. Ampas tahu
Ampas tahu dihasilkan dalam bentuk semi solid, dengan kandungan air
yang cukup tinggi. Hal ini merupakan kendala, terutama bila harus
diangkut ke tempat jauh. Kandungan gizi ampas tahu sangat bervariasi,
tergantung cara yang digunakan dalam pembuatan tahu. Kadar protein
yang cukup tinggi (23- 29% BK), menyebabkan bahan ini cepat busuk bila
tidak segera digunakan atau dikeringkan. Dalam ransum ayam ras,
penggunaan ampas tahu kering biasanya tidak lebih dari 5%
(ANONYMOUS, 1998). Akan tetapi, setelah ampas tahu diolah (fermentasi
dengan menggunakan ragi tempe), dapat digunakan hingga 12% dalam
ransum ayam pedaging tanpa mengganggu pertumbuhan (NUR et al.,
1997). Penggunaan ampas tahu segar untuk ransum ayam buras sudah
diujicobakan oleh peternak di Kalimantan Timur dengan hasil yang
memuaskan (WINARTI dan BARIROH, 1998). Jumlah ampas tahu segar
yang diberikan untuk anak ayam adalah 30 g/ekor/hari dan untuk ayam
petelur 75 g/ ekor/hari.
3.Bekicot atau keong Bekicot cukup banyak dijumpai di sawah atau
tanaman yang cukup basah dan sering dianggap sebagai hama tanaman.
Bekicot dapat diolah menjadi makanan ternak karena mengandung
protein yang cukup tinggi dan dapat digunakan sebagai pengganti tepung
ikan. Bekicot dapat diolah menjadi tepung atau silase bekicot. Tepung
bekicot mengandung protein 4462%, sedangkan silase bekicot

mengandung protein 18,7%. Penggunaan tepung bekicot (Achatina fulica)


hingga 22,6% atau silase bekicot hingga 32% dalam ransum tidak
menyebabkan gangguan produksi ayam petelur (KOMPIANG, 1984).
HARMENTIS et al. (1998) telah mencoba membuat tepung daging keong
mas (Pomacea canadiculata) untuk pakan ayam. Tepung daging keong
Mas dibuat dengan terlebih dahulu direndam dalam larutan kapur 5%
selama 60 menit dan kemudian dikeringkan dengan sinar matahari.
Tepung keong Mas ini mempunyai kandungan protein kasar 46,2%,
metionin 0,3%, lisin 1,37%, lemak 5,15%, serat kasar 1,43%, kalsium
2,98%, dan fosfor 0,35% serta dapat digunakan dalam ransum ayam
broiler sebanyak 4%.

Kandungan zat gizi dalam ransum ayam buras yang disarankan


(SINURAT, 1991)
zat gizi

energi
metabolis(kkal/kg)
kalsium(%)
fosfor tersedia(%)
protein kasar(%)
metionin(%)
lisin(%)

umur
(minggu)
0-12

12-22

2600

2400

>22(dewasa
)
2400-2600

0,9
0,45
15-17
0,37
0,87

1,0
0,40
14
0,21
0,45

3,4
0,34
14
0,22-0,30
0,68

Menurut Bambang (1995) untuk pemberian pakan ayam ras broiler ada 2 (dua)
fase yaitu fase starter (umur 0-4 minggu) dan fase finisher (umur 4-6 minggu):
a.
Kuantitas pakan fase starter adalah terbagi/digolongkan menjadi 4 (empat) golongan
yaitu minggu pertama (umur 1-7 hari) 17 gram/hari/ekor, minggu kedua (umur 8-14
hari) 43 gram/hari/ekor, minggu ke-3 (umur 15-21 hari) 66 gram/hari/ekor dan minggu
ke-4 (umur 22-29 hari) 91 gram/hari/ekor. Jadi jumlah pakan yang dibutuhkan tiap
ekor sampai pada umur 4 minggu sebesar 1.520 gram.
b. Kuantitas pakan fase finisher adalah terbagi/digolongkan dalam empat golongan umur
yaitu: minggu ke-5 (umur 30-36 hari) 111 gram/hari/ekor, minggu ke-6 (umut 37-43
hari) 129 gram/hari/ekor, minggu ke-7 (umur 44-50 hari) 146 gram/hari/ekor dan
minggu ke-8 (umur 51-57 hari) 161 gram/hari/ekor. Jadi total jumlah pakan per ekor
pada umur 30-57 hari adalah 3.829 gram.
Sedangkan Pemberian minum disesuaikan dangan umur ayam yang
dikelompokkan dalam 2 (dua) fase yaitu:

a.

b.

a.
b.
c.

Fase starter (umur 1-29 hari), kebutuhan air minum terbagi lagi pada masing-masing
minggu, yaitu minggu ke-1 (1-7 hari) 1,8 lliter/hari/100 ekor; minggu ke-2 (8-14 hari)
3,1 liter/hari/100 ekor, minggu ke-3 (15-21 hari) 4,5 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-4
(22-29 hari) 7,7 liter/hari/ekor. Jadi jumlah air minum yang dibutuhkan sampai umur 4
minggu adalah sebanyak 122,6 liter/100 ekor. Pemberian air minum pada hari pertama
hendaknya diberi tambahan gula dan obat anti stress kedalam air
minumnya.Banyaknya gula yang diberikan adalah 50 gram/liter air.
Fase finisher (umur 30-57 hari), terkelompok dalam masing-masing minggu yaitu
minggu ke-5 (30-36 hari) 9,5 liter/hari/100 ekor, minggu ke-6 (37-43 hari) 10,9
liter/hari/100 ekor, minggu ke-7 (44-50 hari) 12,7 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-8
(51-57 hari) 14,1 liter/hari/ekor. Jadi total air minum 30-57 hari sebanyak 333,4
liter/hari/ekor.
Cara Pemberian Pakan:
Untuk anak ayam umur 1 - 6 hari (kutuk), pakan ditabur atau sediakan pada wadah
yang mudah terjangkau, jenis pakan yang dipakai adalah ransum ayam ras starter
(pakan komersial).
Ayam umur 7 hari s/d 1 bulan dapat diberikan pakan campuran yaitu pakan ayam ras
starter dicampur dengan katul dan dedak halus, dengan perbandingan 1: 1 atau jagung
giling dan katul dengan perbandingan 2 : 1 dan dapat di tambah protein hewani.
Ayam umur 2-4 bulan dan seterusnya, diberikan pakan campuran, dedak halus, jagung
giling, dan pakan komersil dengan perbandingan 3:1:1 dan dapat di tambahan gabah,
gaplek dan tepung ikan.
Bab III
Persyaratan dan modal kandang yang digunakan
Salah satu aspek penting dalam bisnis ayam pedaging adalah bagaimana merencanakan
kebutuhan kandang dan peralatan kandang agar kegiatan usaha bisa berjalan efektif dan efisien.
1. Syarat, Lokasi, Fungsi, tipe dan sistem kandang
Ayam pedaging komersil pada umumnya dipelihara secara intensif dengan system
pemeliharaan ayam selalu dikandangkan dari mulai ayam datang sampai ayam siap
dipanen.
Adapun syarat-syarat kandang yang baik agar social walfare ayam terjaga adalah :
a. Dinding kandang dapat terbuat dari papan, bilah bambu, ram kawat. Dinding kandang tidak
boleh terlalu rapat, hal ini dimaksudkan untuk keleluasaan sirkulasi udara kandang, dan tidak
boleh terlalu jarang sehingga predator tidak dapat masuk kedalam kandang.
b. Arah kandang sebaiknya membujur timur-barat. Hal ini dimaksudkan agar ayam tidak terlalu
kepanasan, tetapi pagi hari masih dapat memperoleh sinar mata hari,
c. Tinggi tiang tengah keatap minimal 6-7 meter dan tiang tepi minimal 2.5 - 3 meter, hal ini
berhubungan dengan sirkulasi udara dalam kandang, lebar kandang maksimal 6-8 m.
d. Atap kandang dirancang sesuai dengan fungsinya yaitu melindungi bangunan beserta isinya
dari hujan, panas matahari atau angin.
e. Lantai kandang sebaiknya disemen kasar sehingga mudah dibersihkan dan akan
mengurangi dari bahaya penyakit coccidiosis.
Pemilihan lokasi kandang
Lokasi kandang yang baik adalah:
a. Sumber air bersih mudah diperoleh
b. Topografi
c. Tekstur tanah
d. Sarana transportasi mudah terjangkau
e. Sirkulasi udara lancar
f. Jarak dari lingkungan perumahan penduduk tidak terlalu dekat

Gambar 1. Syarat lokasi kandang ayam broiler yang ideal


Fungsi kandang bagi ternak
Ada dua fungsi kandang bagi ternak yaitu sebagai fungsi primer dan fungsi sekunder.
a. Fungsi Primer. Secara makro, kandang untuk tempat tinggal dan berlindung dari cuaca, dan
gangguan predator. Secara mikro, kandang berfungsi menyediakan lingkungan yang nyaman
agar ternak terhindar dari cekaman (stress).
b. Fungsi sekunder, kandang berfungsi tempat bekerja bagi peternak untuk melakukan
kegiatan harian dalam melakukan pemeliharaan ternak.
Tipe dan sistem kandang
Ada beberapa macam tipe kandang untuk budidaya ayam pedaging yaitu :
a. Kandang terbuka atau disebut open house
b. Kandang terbuka bagian depan
c. Kandang dengan dinding tirai
d. Kandang tertutup
e. Kandang disertai bak penampung kotoran
f. Kandang dengan tiang / atap yang tinggi
g. Kandang dengan koridor ditengah
Tetapi untuk kondisi di negara Indonesia yang merupakan negara tropik maka tipe kandang yang
paling sesuai adalah tipe open house, dengan menggunakan sistem litter atau slat.
Contoh pada gambar berikut ini

Gambar 2. Type open house dengan sistim lantai slatt dan litter
Bentuk atap kandang biasanya
a. Monitor
b. Semi monitor
c. Shade/ miring

d.
e.

Gable
Sawtooth

Gambar3. Macam-macam bentuk atap kandang


Bentuk atap kandang yang ideal untuk kondisi negara tropis seperti Indonesia adalah
bentuk atap monitor untuk kandang kapasitas sedang sampai besar dan bentuk atap semi
monitor untuk kandang kapasitas kecil
Bab IV
Jenis penyakit yang sering ditemukan

Penyakit yang sering menyerang ayam broiler yaitu:


1)

Tetelo (Newcastle Disease/ND)


. Penyakit ini merupakan suatu infeksi viral yang menyebabkan gangguan pada saraf

pernapasan. Disebabkan virus Paramyxo yang bersifat menggumpalkan sel darah dan
biasanya dikualifikasikan menjadi:

1.

a.

Velogenik

b.

Mesogenic

c.

Lentogenik

Tipe Velogenik, yaitu Strain yang sangat berbahaya atau disebut dengan Viscerotropic
Velogenic Newcastle Disease (VVND) Tipe Velogenic ini menyebabkan kematian yang luar
biasa bahkan hingga 100%.

2.

Tipe Mesogenic, Kematian tipe mesogenic pada anak ayam mencapai 10% tetapi ayam
dewasa jarang mengalami kematian. Pada tingkat ini ayam akan menampakan gejala seperti
gangguan pernapasan dan saraf.

3.

Tipe Lentogenik, merupakan stadium yang hampir tidak menyebabkan kematian. Hanya saja
dapat menyebabkan produktivitas telur menjadi turun dan kualitas kulit telur menjadi jelek.
Gejala yang tampak tidak terlalu nyata hanya terdapat sedikit gangguan pernapasan.
Virus ini tidak akan bertahan lebih dari 30 hari pada lokasi pemaparan.

2)

Penyakit cacar ayam


Yaitu penyakit yang terjadi pada ayam dengan ditandai adanya kutil-kutil ditubuh
ayam.

3)

Gumboro (Infectious Bursal Disease/IBD)


Penyakit gumboro (Infectious Bursal Disease / IBD) ini ditemukan tahun 1962 oleh
Cosgrove di daerah Delmarva Amerika Serikat. Penyakit Gumboro merupakan penyakit yang
menyerang sistem kekebalan tubuh yang disebabkan virus golongan Reovirus. Ayam yang
terkena

penyakit

makan, gangguan

Gumboro
saraf,

akan

menunjukkan

merejan, suka

bergerak

gejala
tidak

seperti hilangnya
teratur, diare,

nafsu
tubuh

gemetar, peradangan disekitar dubur,bulu di sekitar anus kotor dan lengket serta diakhiri
dengan kematian ayam. Sering menyerang pada umur 36 minggu..
4)

Penyakit Ngorok (Chronic Respiratory Disease)


Merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma
gallisepticum. Gejala yang nampak adalah ayam sering bersin dan ingus keluar lewat hidung
dan ngorok saat bernapas. Pada ayam muda menyebabkan tubuh lemah, sayap terkulai,
mengantuk dan diare dengan kotoran berwarna hijau, kuning keputih-keputihan. Penularan
melalui pernapasan dan lendir atau melalui perantara seperti alat-alat. Pengobatan dapat
dilakukan dengan obat-obatan yang sesuai. Untuk ayam broiler atau ayam pedaging penyakit
CRD masih menduduki posisi pertama (yang sering menyerang ayam pedaging).
5)

Berak Kapur (Pullorum)


Disebut penyakit berak kapur karena gejala yang mudah terlihat adalah ayam diare

mengeluarkan kotoran berwarna putih dan setelah kering menjadi seperti serbuk kapur.
Disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum (Anonimus, 2009). Pullorum atau Berak
kapur disebabkan oleh bakteri salmonella pullorum dan bakteri gram negatif.
Bakteri ini mampu bertahan ditanah selama 1 tahun.Kejadian penyakit. Di
Indonesia penyakit pullorum merupakan penyakit menular yang sering ditemui.
Meskipun segala umur ayam bisa terserang pullorum tapi angka kematian

tertinggi terjadi pada anak ayam yang baru menetas. Angka morbiditas pada
anak ayam sering mencapai lebih dari 40% sedangkan angka mortalitas atau
angka kematian dapat mencapai 85%..

6)

Berak darah (Coccidiosis)


Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam

menggigil kedinginan.
7)

Pasteurellosis (Kolera unggas)


Kholera atau dikenal juga dengan nama fowl cholera, avian pasteurellosis dan avian

hemorrhagic

septicaemia merupakan

salah

satu

penyakit

infeksius

yang

banyak

menyebabkan masalah di peternakan ayam dan kalkun. Kholera merupakan penyakit


bakterial yang umum ditemukan pada peternakan kecil di Asia. Mortalitas dapat mencapai
80% terutama pada musim penghujan. Penyakit ini biasanya menyerang ayam diatas 6
minggu ditandai dengan adanya peningkatan angka kematian yang mendadak dan tidak
terduga. Kholera banyak ditemukan pada ayam yang stress akibat sanitasi yang jelek,
malnutrisi, kandang terlalu padat, dan adanya penyakit lain.
.

8).

Pilek Pada Ayam

Penyakit pilek yang menyerang pada ayam masuk ke dalam kategori penyakit yang
berbahaya dikarenakan penyakit ini dapat menular dengan sangat cepat dan dapat menyerang
ke semua jenis ayam. Ayam yang menderita penyakit pilek pergerakannya berubah menjadi
pasif. Gejala lain yang muncul pada ayam yang terserang pilek adalah nafsu makannya
menghilang, kepalanya bergoyang goyang dan sering bersin bersin.

Bab V
Pertumbuhan dan produksi
5.1 kurva pertumbuhan
Pertumbuhan ayam broiler tumbuh kembangnya di pengaruhi oleh
pertambahan bobot badan dan kwalitas ransum yang dikonsumsi.
Ini adalah tabel pertumbuhan berdasarkan bobot badan aayam broiler :
umur( minggu)
1
2
3
4

berat (gram)
< 500 gram
< 1000 gram
< 1500 gram
< 2000 gram

5.2 konsumsi ransum


Konsumsi pakan adalah kemampuan ternak dalam mengkonsumsi sejumlah ransum yang
digunakan dalam proses metabolisme tubuh. Tingkat konsumsi ransum akan mempengaruhi laju
pertumbuhan dan bobot akhir karena pembentukan bobot, bentuk dan komposisi tubuh pada

hakekatnya adalah akumulasi pakan yang dikonsumsi ke dalam tubuh ternak. Faktor yang
mempengaruhi konsumsi pakan antara lain umur, nutrisi ransum, kesehatan, bobot badan, suhu dan
kelembaban serta kecepatan pertumbuhan. Konsumsi pakan dihitung dengan cara pakan yang diberikan
dikurangi sisa pakan.

Konsumsi ransum adalah kemampuan untuk menghabiskan sejumlah


ransum yang diberikan. Konsumsi ransum dapat dihitung dengan
mengurangkan jumlah ransum yang diberikan dengan sisa ransum.
Dimana ransum yang diberikan adalah ransum dari hasil formulasi yang
disesuaikan dengan perlakuan yang diberikan.dan ransum yang diberikan
adalah ampas tahu dengan kisaran pemberian pada anak ayam adalah 30
gram/ekor/hari.
5.3 bobot badan
Pertambahan Bobot Badan
Pertambahan bobot badan (PBB) mencerminkan tingkat kemampuan ayam
broiler dalam mencerna ransum untuk diubah menjadi bobot badan. Pertambahan
bobot badan sebagai kriteria untuk mengukur pertumbuhan. Pertumbuhan dapat
didefinisikan sebagai proses yang sangat kompleks meliputi pertambahan bobot hidup
dan pertambahan semua bagian tubuh secara merata dan serentak . Pertumbuhan
meliputi peningkatan ukuran sel-sel tubuh akan peningkatan sel-sel individual dimana
pertumbuhan itu mencakup empat komponen utama yaitu adanya peningkatan ukuran
skeleton, peningkatan total lemak tubuh dalam jaringan adipose dan peningkatan
ukuran bulu, kulit dan organ dalam. Peningkatan bobot badan mingguan tidak terjadi
secara seragam. Setiap minggu pertumbuhan ayam pedaging mengalami peningkatan
hingga mencapai pertumbuhan maksimal, setelah itu mengalami penurunan. PBB
ayam pedaging umur 4 s/d 6 minggu yang dipelihara pada suhu lingkungan 32 C
sebesar 515 gram/ekor, sedangkan pada suhu 22 C PBB ayam pedaging sebesar 1084
gram/ekor.
5.4 FCR
FCR Ayam Broiler Umur 1-30 hari
Efisiensi pakan dinyatakan dalam perhitungan FCR (Feed Convertion Ratio). Cara
menghitungnya adalah:
Diketahui
;
Populasi ayam = 10 ekor
Konsumsi ransum(1 bulan) = 900 gram/ekor
Pertambahan bobot badan(bulan) = 1084 gram/ekor
Ditanyakan :
Berapa FCR-nya ?
Penyelesaian : berat total ayam dipanen = 10 x 1084 = 10840
FCR-nya
= 900 : 10840 = 0,08303 dibulatkan 1,2 .
Semakin rendah angka FCR, semakin baik kualitas pakan, karena lebih efisien (dengan
pakan sedikit menghasilkan bobot badan yang tinggi).
1.

2.

Dibawah ini akan kami uraikan beberapa hal yang mempengaruhi nilai FCR ternak ayam:
kualitas pakan ayam broiler
Kualitas pakan ayam akan sangat berpengaruh pada nilai FCR, salah satu yang penting adalah kadar
protein yang ada dalam pakan. Semakin rendah nilai kadar protein tentu saja kualitas pakan kurang
bagus, ini bisa menyebabkan nilai FCR tinggi.
metode pemberian pakan

3.

4.

Metode dalam pemberian pakan cukup berpengaruh terutama pada ayam mulai masuk minggu ke 3, ada
yang menerapkan pola pagi 20% sore 80%, ada yang pagi 40% sore 60% ada juga yang pagi 20% sore
60 % dan tengah malan 20%.
anak kandang
Anak kandang tentu saja berpengaruh karena jika anak kandang kurang jujur pakan bisa tidak masuk
ke ayam tapi masuk kantong mereka.
cuaca
Cuaca yang ekstrim dingin maupun ekstrim panas akan mempengaruhi nilai FCR
5. kesehatan ayam broiler
Jika ayam dalam kondisi sehat tentu ini tidak masalah asal cuaca dan hal lain mendukung, namun jika
ayam sudah terserang penyakit tentu ini akan berpengaruh pada pembengkakan FCR. Contoh saja ayam
broiler yang terserang CRD komplek, jika kematian tinggi dan bobot tidak jadi sedangkan pakan tetap
banyak maka tentu saja konversi pakan ke daging akan sangat kecil.
6. obat ,vitamin ,Suplemen
Pemilihan obat dan juga suplemen untuk memacu pertumbuhan dan juga menurunkan FCR cukup
berpengaruh pada nilai FCR tentunya.

Bab VI
Penutup
1. Ayam broiler merupakan salah satu penyumbang terbesar protein hewani asal
ternak dan merupakan komoditas unggulan. Industri ayam broiler berkembang
pesat karena daging ayam menjadi sumber utama menu konsumen. Daging
ayam broiler mudah didapatkan baik di pasar modern maupun tradisional.
Produksi daging ayam broiler lebih besar dilakukan oleh rumah potong ayam
modern dan tradisional.
2.

Syarat dan lokasi pemilohan kandang


a. Dinding kandang dapat terbuat dari papan, bilah bambu, ram kawat. Dinding
kandang tidak boleh terlalu rapat, hal ini dimaksudkan untuk keleluasaan sirkulasi udara
kandang, dan tidak boleh terlalu jarang sehingga predator tidak dapat masuk kedalam
kandang.
b. Arah kandang sebaiknya membujur timur-barat. Hal ini dimaksudkan agar ayam
tidak terlalu kepanasan, tetapi pagi hari masih dapat memperoleh sinar mata hari,
c. Tinggi tiang tengah keatap minimal 6-7 meter dan tiang tepi minimal 2.5 - 3 meter,
hal ini berhubungan dengan sirkulasi udara dalam kandang, lebar kandang maksimal 6-8
m.
d. Atap kandang dirancang sesuai dengan fungsinya yaitu melindungi bangunan
beserta isinya dari hujan, panas matahari atau angin.

3.

e. Lantai kandang sebaiknya disemen kasar sehingga mudah dibersihkan dan akan
mengurangi dari bahaya penyakit coccidiosis.
Penyakit yang sering di temukan
:
1. Totelo
2. Penyakit cacar ayam
3. Penyakit gumboro
4. Penyakit ngorok
5. Berak darah
6. Berak kapur
7. Kolera ayam
8. Pilek pada ayam

4. Konsumsi ransum ayam pedaging tergantung pada kandungan energi ransum, strain,

umur, aktivitas, serta temperatur lingkungan. Nutrien yang harus ada dalam ransum
adalah energi, protein, lemak, kalsium, fosfor, dan air
5. Pemberian ransum bertujuan menjamin pertambahan bobot badan dan produksi daging.
Dan Semakin rendah angka FCR, semakin baik kualitas pakan, karena lebih
efisien (dengan pakan sedikit menghasilkan bobot badan yang tinggi).

Daftar pustaka
ANONYMOUS. 1998. Untung rugi menggunakan pakan alternatif. Infovet
58:20-22.
Anggorodi, R. 1985. Kemajuan Mutakhir dalam Ilmu Makanan Ternak Unggas. P. T.
Gramedia, Jakarta.
Amrullah, I. K. 2004. Nutrisi Ayam Broiler. Lembaga Satu Gunung Budi. Bogor.
Cahyono dan Bambang, 1995. Cara Meningkatkan Budidaya Ayam Ras Pedaging
(broiler). Penerbit Pustaka Nusatama: Yogyakarta.
KOMPIANG, I. P. 1984. Silase bekicot-onggok singkong dalam ransum
ayam petelur. Ilmu dan Peternakan 6:227230
NUR, S.Y., D. ADE, dan F.L. YOSE. 1997. Penggunaan biokonversi ampas
tahu dengan laru tempe dalam ransum broiler. Pros. Seminar Nasional II
Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian
Bogor. Bogor. hal. 113-114.
Rasyaf,M. 1995. Pengelolaan Usaha Peternakan Ayam Pedaging.Gramedia
Pustaka Utama. Jakarta

SINURAT, A.P., J. DARMA, T. HARYATI, T. PURWADARIA, and R. DHARSANA.


1994. The Use of fermented cassava leaves for broilers. Proc. 7th AAAP
Animal Sci. Congress. Vol. II. ISPI. Bali. Indonesia. pp. 152-153.
Siregar, A.P., dan M. Sabrani. 1970. Teknik Modern Beternak Ayam. C.V. Yasaguna, Jakarta.
Suprijatna, E., U. Atmomarsono., dan R, Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas.
Penebar Swadaya. Jakarta.
TOGATOROP, M.H. 1988. Pengaruh Penggunaan Tapioka dalam Ransum
yang Mengandung Tingkat Energi dan Protein Terhadap Performans Ayam
Pedaging. Disertasi S3. Fakultas Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Wahju, J. 1992. Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan Keempat. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta
WANG, Z., Z. XIA, J. SHI, X. ZHOU, Z. WANG, and S. CHEN. 1992. Studies
on effects of cassava leaf meal used as ingredient in diets of growingfinishing pigs and meat type ducks. Procs. 6th AAAP Animal Sci. Congress.
Bangkok. pp. 190.
WINARTI, E dan N.R. BARIROH. 1998. Pemanfaatan limbah agroindustri
sebagai bahan penyusun ransum alternatif ayam buras. Kumpulan
Abstrak. Seminar Sehari Tek. Pert. Dalam rangka Mendukung gerakan Olah
Bebaya Bumi Hijau (GOBBH) di Kalimantan Timur. LPTP Samarinda. 15
Desember 1998.

http://www.pustakadunia.com/artikel-pustaka-umum/sistem-perkadangan-ayamras-pedaging/
http://kuliah-peternakan.blogspot.com/2014/03/pemeliharaan-ayam-broiler.html
http://wiki4shared.blogspot.com/2014/11/perencanaan-kebutuhan-kandangdan.html
file:///C:/Users/Megga%20Lestari/Downloads/Jurnal%20Peternakan
%20%20Pemeliharaan%20Ayam%20Broiler.htm
file:///E:/Makalah%20Ayam%20Broiler.htm