Anda di halaman 1dari 29

FLORENCE

NIGHTINGALE PELOPOR
KEPERAWATAN
MODEREN
Florence Nightingale (lahir di Florence,
Italia, 12 Mei 1820 meninggal di London,
Inggris, 13 Agustus 1910 pada umur 90 tahun)
adalah pelopor perawat modern, penulis dan
ahli statistik. Ia dikenal dengan nama Bidadari
Berlampu (The Lady With The Lamp) atas
jasanya yang tanpa kenal takut
mengumpulkan korban perang pada perang
Krimea, di semenanjung Krimea, Rusia.
Florence Nightingale menghidupkan kembali
konsep penjagaan kebersihan rumah sakit dan
kiat-kiat juru rawat. Ia memberikan
penekanan kepada pemerhatian teliti terhadap
keperluan pasien dan penyusunan laporan
mendetil menggunakan statistik sebagai
argumentasi perubahan ke arah yang lebih
baik pada bidang keperawatan di hadapan
pemerintahan Inggris.
1

Masa kecil

Florence Nightingale lahir di Florence, Italia


pada tanggal 12 Mei 1820 dan dibesarkan
dalam keluarga yang berada. Namanya diambil
dari kota tempat ia dilahirkan. Nama depannya,
Florence merujuk kepada kota kelahirannya,
Firenze dalam bahasa Italia atau Florence
dalam bahasa Inggris. Semasa kecilnya ia
tinggal di Lea Hurst, sebuah rumah besar dan
mewah milik ayahnya, William Nightingale yang
merupakan seorang tuan tanah kaya di
Derbyshire, London, Inggris. Sementara ibunya
adalah keturunan ningrat dan keluarga
Nightingale adalah keluarga terpandang.
Florence Nightingale memiliki seorang saudara
perempuan bernama Parthenope. Pada masa
remaja mulai terlihat perilaku mereka yang
kontras dan Parthenope hidup sesuai dengan
martabatnya sebagai putri seorang tuan tanah.

Pada masa itu wanita ningrat, kaya, dan


berpendidikan aktivitasnya cenderung
bersenang-senang saja dan malas,
sementara Florence lebih banyak keluar
rumah dan membantu warga sekitar yang
membutuhkan.

Perjalanan ke Jerman

Pada tahun 1846 ia mengunjungi


Kaiserswerth, Jerman, dan mengenal lebih
jauh tentang rumah sakit modern pionir
yang dipelopori oleh Pendeta Theodor
Fliedner dan istrinya dan dikelola oleh
biarawati Lutheran (Katolik).
Di sana Florence Nightingale terpesona
akan komitmen dan kepedulian yang
dipraktekkan oleh para biarawati kepada
pasien.
Ia jatuh cinta pada pekerjaan sosial
keperawatan, serta pulang ke Inggris
dengan membawa angan-angan tersebut.

BELAJAR MERAWAT

Florence Nightingale sewaktu masih muda.


Pada usia dewasa Florence yang lebih cantik
dari kakaknya, dan sebagai seorang putri tuan
tanah yang kaya, mendapat banyak lamaran
untuk menikah. Namun semua itu ia tolak,
karena Florence merasa "terpanggil" untuk
mengurus hal-hal yang berkaitan dengan
kemanusiaan. Pada tahun 1851, kala menginjak
usia 31 tahun, ia dilamar oleh Richard
Monckton Milnes seorang penyair dan seorang
ningrat (Baron of Houghton), lamaran inipun ia
tolak karena ditahun itu ia sudah membulatkan
tekad untuk mengabdikan dirinya pada dunia
keperawatan.

DITENTANG OLEH
KELUARGA

Keinginan ini ditentang keras oleh ibunya dan


kakaknya. Hal ini dikarenakan pada masa itu
di Inggris, perawat adalah pekerjaan hina dan
sebuah rumah sakit adalah tempat yang jorok.
Banyak orang memanggil dokter untuk datang
ke rumah dan dirawat di rumah.
4

Perawat pada masa itu hina karena:


Perawat disamakan dengan wanita tuna susila
atau "buntut" (keluarga tentara yang miskin)
yang mengikuti kemana tentara pergi.
Profesi perawat banyak berhadapan langsung
dengan tubuh dalam keadaan terbuka,
sehingga dianggap profesi ini bukan profesi
sopan wanita baik-baik dan banyak pasien
memperlakukan wanita tidak berpendidikan
yang berada di rumah sakit dengan tidak
senonoh
Perawat di Inggris pada masa itu lebih banyak
laki-laki daripada perempuan karena alasanalasan tersebut di atas.
Perawat masa itu lebih sering berfungsi sebagai
tukang masak.
Argumentasi Florence bahwa di Jerman
perawatan bisa dilakukan dengan baik tanpa
merendahkan profesi perawat patah, karena
saat itu di Jerman perawat juga biarawati
Katolik yang sudah disumpah untuk tidak
menikah dan hal ini juga secara langsung
melindungi mereka dari perlakuan yang tidak
hormat dari pasiennya.

Walaupun ayahnya setuju bila Florence


membaktikan diri untuk kemanusiaan, namun ia
tidak setuju bila Florence menjadi perawat di
rumah sakit. Ia tidak dapat membayangkan
anaknya bekerja di tempat yang menjijikkan. Ia
menganjurkan agar Florence pergi berjalan-jalan
keluar negeri untuk menenangkan pikiran.
Tetapi Florence berkeras dan tetap pergi ke
Kaiserswerth, Jerman untuk mendapatkan
pelatihan bersama biarawati di sana. Selama
empat bulan ia belajar di Kaiserwerth, Jerman di
bawah tekanan dari keluarganya yang takut akan
implikasi sosial yang timbul dari seorang gadis
yang menjadi perawat dan latar belakang rumah
sakit yang Katolik sementara keluarga Florence
adalah Kristen Protestan.
Selain di Jerman, Florence Nightingale juga
pernah bekerja di rumah sakit untuk orang miskin
di Perancis.

KEMBALI KE INGGRIS

Pada tanggal 12 Agustus 1853, Nightingale


kembali ke London dan mendapat pekerjaan
sebagai pengawas bagian keperawatan di
Institute for the Care of Sick Gentlewomen,
sebuah rumah sakit kecil yang terletak di Upper
Harley Street, London, posisi yang ia tekuni
hingga bulan Oktober 1854. Ayahnya
memberinya 500 per tahun (setara dengan
25,000 atau Rp. 425 juta pada masa sekarang),
sehingga Florence dapat hidup dengan nyaman
dan meniti karirnya.
Di sini ia beragumentasi sengit dengan Komite
Rumah Sakit karena mereka menolak pasien
yang beragama Katolik. Florence mengancam
akan mengundurkan diri, kecuali bila komite ini
mengubah peraturan tersebut dan memberinya
izin tertulis bahwa;
rumah sakit akan menerima tidak saja pasien
yang beragama Katolik, tetapi juga Yahudi
7

dan agama lainnya, serta


memperbolehkan mereka menerima
kunjungan dari pendeta-pendeta
mereka, termasuk rabi, dan ulama
untuk orang Islam
Komite Rumah Sakit pun mengubah
peraturan tersebut sesuai permintaan
Florence.

PERANG KRIMEA

Pada 1854 berkobarlah peperangan di


Semenanjung Krimea. Tentara Inggris bersama
tentara Perancis berhadapan dengan tentara
Rusia. Banyak prajurit yang gugur dalam
pertempuran, namun yang lebih menyedihkan lagi
adalah tidak adanya perawatan untuk para
prajurit yang sakit dan luka-luka. Keadaan
memuncak ketika seorang wartawan bernama
William Russel pergi ke Krimea. Dalam
tulisannya untuk harian TIME ia menuliskan
bagaimana prajurit-prajurit yang luka
bergelimpangan di tanah tanpa diberi perawatan
sama sekali dan bertanya, "Apakah Inggris tidak
memiliki wanita yang mau mengabdikan dirinya
dalam melakukan pekerjaan kemanusiaan yang
mulia ini?". Hati rakyat Inggrispun tergugah oleh
tulisan tersebut. Florence merasa masanya telah
tiba, ia pun menulis surat kepada menteri
penerangan saat itu, Sidney Herbert, untuk
menjadi sukarelawan.
9

Pada pertemuan dengan Sidney Herbert


terungkap bahwa Florence adalah satu-satunya
wanita yang mendaftarkan diri. Di Krimea
prajurit-prajurit banyak yang mati bukan karena
peluru dan bom, namun karena tidak adanya
perawatan, dan perawat pria jumlahnya tidak
memadai. Ia meminta Florence untuk memimpin
gadis-gadis sukarelawan dan Florence
menyanggupi. Pada tanggal 21 Oktober 1854
bersama 38 gadis sukarelawan yang dilatih oleh
Nightingale dan termasuk bibinya Mai Smith,
berangkat ke Turki menumpang sebuah kapal.

1
0

Pada November 1854 mereka mendarat di


sebuah rumah sakit pinggir pantai di Scutari.
Saat tiba di sana kenyataan yang mereka hadapi
lebih mengerikan dari apa yang mereka
bayangkan. Beberapa gadis sukarelawan
terguncang jiwanya dan tidak dapat langsung
bekerja karena cemas, semua ruangan penuh
sesak dengan prajurit-prajurit yang terluka, dan
beratus-ratus prajurit bergelimpangan di halaman
luar tanpa tempat berteduh dan tanpa ada yang
merawat. Dokter-dokter bekerja cepat pada saat
pembedahan, mereka memotong tangan, kaki,
dan mengamputasi apa saja yang
membahayakan hidup pemilik, potonganpotongan tubuh tersebut ditumpuk begitu saja
diluar jendela dan tidak ada tenaga untuk
membuangnya jauh-jauh ke tempat lain. Bekas
tangan dan kaki yang berlumuran darah
menggunung menjadi satu dan mengeluarkan
bau tak sedap.

11

Florence diajak mengelilingi neraka tersebut oleh


Mayor Prince, dokter kepala rumah sakit tersebut
dan menyanggupi untuk membantu.
Florence melakukan perubahan-perubahan
penting. Ia mengatur tempat-tempat tidur para
penderita di dalam rumah sakit, dan menyusun
tempat para penderita yang bergelimpangan di
luar rumah sakit. Ia mengusahakan agar
penderita yang berada di luar paling tidak
bernaung di bawah pohon dan menugaskan
pendirian tenda.

1
2

Penjagaan dilakukan secara teliti, perawatan


dilakukan dengan cermat;
Perban diganti secara berkala.
Obat diberikan pada waktunya.
Lantai rumah sakit dipel setiap hari.
Meja kursi dibersihkan.
Baju-baju kotor dicuci dengan mengerahkan
tenaga bantuan dari penduduk setempat.
Akhirnya gunungan potongan tubuh, daging,
dan tulang-belulang manusiapun selesai
dibersihkan, mereka dibuang jauh-jauh atau
ditanam. Dalam waktu sebulan rumah sakit
sudah berubah sama sekali, walaupun baunya
belum hilang seluruhnya namun jerit dan rintihan
prajurit yang luka sudah jauh berkurang. Para
perawat sukarelawan bekerja tanpa kenal lelah
hilir-mudik di bawah pengawasan Florence
Nightingale. Ia juga menangani perawat-perawat
lain dengan tangan besi, bahkan mengunci
mereka dari luar pada malam hari

1
3

Ini dilakukan untuk membuktikan pada orang tua


mereka di tingkat ekonomi menengah, bahwa
dengan disiplin yang keras dan di bawah
kepemimpinan kuat seorang wanita, anak-anak
mereka bisa dilindungi dari kemungkinan
serangan seksual.
Ketakutan akan hal inilah yang membuat ibu-ibu
di Inggris menentang anak perempuan mereka
menjadi perawat, dan menyebabkan rumah sakit
di Inggris ketinggalan dibandingkan di benua
Eropa lainnya dimana profesi keperawatan
dilakukan oleh biarawati dan biarawati-biarawati
ini berada dibawah pengawasan Biarawati
Kepala.

Pada malam hari saat perawat lain


beristirahat dan memulihkan diri, Florence
menuliskan pengalamannya dan cita-citanya
tentang dunia keperawatan, dan obat-obatan
yang ia ketahui. Namun, kerja keras Florence
membersihkan rumah sakit tidak berpengaruh
banyak pada jumlah kematian prajurit,
1
4

malah sebaliknya, angka kematian malah


meningkat menjadi yang terbanyak dibandingkan
rumah sakit lainnya di daerah tersebut. Pada
masa musim dingin pertama Florence berada di
sana sejumlah 4077 prajurit meninggal dirumah
sakit tersebut. Sebanyak 10 kali lipat prajurit
malah meninggal karena penyakit seperti; tipes,
tifoid, kolera, dan disentri dibandingkan dengan
kematian akibat luka-luka saat perang.
Kondisi di rumah sakit tersebut menjadi sangat
fatal karena jumlah pasien melimpah lebih
banyak dari yang mungkin bisa ditampung, hal ini
menyebabkan sistem pembuangan limbah dan
ventilasi udara memburuk.
Pada bulan bulan Maret 1855, hampir enam
bulan setelah Florence Nightingale datang, komisi
kebersihan Inggris datang dan memperbaiki
sistem pembuangan limbah dan sirkulasi udara,
sejak saat itu tingkat kematian menurun drastis.
1
5

Namun Florence tetap percaya saat itu bahwa


tingkat kematian disebabkan oleh nutrisi yang
kurang dari suplai makanan dan beratnya beban
pekerjaan tentara. Pemikiran ini baru berubah
saat Florence kembali ke Inggris dan
mengumpulkan bukti dihadapan Komisi Kerajaan
untuk Kesehatan Tentara Inggris (Royal
Commission on the Health of the Army), akhirnya
ia diyakinkan bahwa saat itu para prajurit di
rumah sakit meninggal akibat kondisi rumah sakit
yang kotor dan memprihatinkan.
Hal ini berpengaruh pada karirnya di kemudian
hari dimana ia gigih mengkampanyekan
kebersihan lingkungan sebagai hal yang utama.
Kampanye ini berhasil dinilai dari turunnya angka
kematian prajurit pada saat damai (tidak sedang
berperang) dan menunjukkan betapa pentingnya
disain sistem pembuangan limbah dan ventilasi
udara sebuah rumah sakit.

1
6

BIDADARI BERLAMPU

Pada suatu kali, saat pertempuran


dahsyat di luar kota telah berlalu, seorang
bintara datang dan melapor pada Florence
bahwa dari kedua belah pihak korban
yang berjatuhan banyak sekali.
Florence menanti rombongan pertama,
namun ternyata jumlahnya sedikit, ia
bertanya pada bintara tersebut apa yang
terjadi dengan korban lainnya. Bintara
tersebut mengatakan bahwa korban
selanjutnya harus menunggu sampai
besok karena sudah terlanjur gelap.
Florence memaksa bintara tersebut untuk
mengantarnya ke bekas medan
pertempuran untuk mengumpulkan korban
yang masih bisa diselamatkan karena bila
mereka menunggu hingga esok hari
korban-korban tersebut bisa mati
kehabisan darah.

1
7

Saat bintara tersebut terlihat enggan, Florence


mengancam akan melaporkannya kepada Mayor
Prince. Berangkatlah mereka berenam ke bekas
medan pertempuran, semuanya pria, hanya
Florence satu-satunya wanita. Florence dengan
berbekal lentera membalik dan memeriksa tubuhtubuh yang bergelimpangan, membawa siapa
saja yang masih hidup dan masih bisa
diselamatkan, termasuk prajurit Rusia. Malam itu
mereka kembali dengan membawa lima belas
prajurit, dua belas prajurit Inggris dan tiga prajurit
Rusia. Semenjak saat itu setiap terjadi
pertempuran, pada malam harinya Florence
berkeliling dengan lampu untuk mencari prajuritprajurit yang masih hidup dan mulailah ia
terkenal sebagai bidadari berlampu yang
menolong di gelap gulita. Banyak nyawa
tertolong yang seharusnya sudah meninggal.
Selama perang Krimea, Florence Nightingale
mendapatkan nama "Bidadari Berlampu". Pada
tahun 1857 Henry Longfellow, seorang penyair
AS, menulis puisi tentang Florence Nightingale
berjudul "Santa Filomena", yang melukiskan
bagaimana ia menjaga prajurit-prajurit di rumah
sakit tentara pada malam hari, sendirian, dengan
membawa lampu.
1
8

Pada jam-jam penuh penderitaan


itu, datanglah bidadari berlampu
untukku.

1
9

PULANG KE INGGRIS

Florence Nightingale kembali ke Inggris sebagai


pahlawan pada tanggal 7 Agustus 1857, semua
orang tahu siapa Florence Nightingale dan apa
yang ia lakukan ketika ia berada di medan
pertempuran Krimea, dan menurut BBC, ia
merupakan salah satu tokoh yang paling terkenal
setelah Ratu Victoria sendiri. Nightingale pindah
dari rumah keluarganya di Middle Claydon,
Buckinghamshire, ke Burlington Hotel di
Piccadilly. Namun, ia terkena demam, yang
disebabkan oleh Bruselosis ("demam Krimea")
yang menyerangnya selama perang Krimea. Dia
memalangi ibu dan saudara perempuannya dari
kamarnya dan jarang meninggalkannya.
Sebagai respon pada sebuah undangan dari Ratu
Victoria - dan meskipun terdapat keterbatasan
kurungan pada ruangannya - Nightingale
memainkan peran utama dalam pendirian Komisi
Kerajaan untuk Kesehatan Tentara Inggris,
dengan Sidney Herbert menjadi ketua.
2
0

Sebagai wanita, Nightingale tidak dapat ditunjuk


untuk Komisi Kerajaan, tetapi ia menulis laporan
1.000 halaman lebih dan termasuk laporan
statistik mendetail, dan laporan tersebut
merupakan alat implementasi rekomendasinya.
Laporan Komisi Kerajaan membuat adanya
pemeriksaan tentara militer, dan didirikannya
sebuah Mekolah Medis Angkatan Bersenjata dan
sistem rekam medik angkatan bersenjata. Ketika
ia masih di Turki, pada tanggal 29 November
1855, publik bertemu untuk memberikan
pengakuan pada Florence Nightingale untuk hasil
kerjanya pada perang yang membuat didirikannya
Dana Nightingale untuk pelatihan perawat. Sidney
Herbert menjadi sekretaris honorari dana, dan
Adipati Cambridge menjadi ketua. Sekembalinya
Florence ke London, ia diundang oleh tokohtokoh masyarakat. Mereka mendirikan sebuah
badan bernama "Dana Nightingale", dimana
Sidney Herbert menjadi Sekertaris Kehormatan
dan Adipati Cambridge menjadi Ketuanya
2
1

Badan tersebut berhasil mengumpulkan dana


yang besar sekali sejumlah 45.000 sebagai
rasa terima kasih orang-orang Inggris karena
Florence Nightingale berhasil menyelamatkan
banyak jiwa dari kematian.
Florence menggunakan uang itu untuk
membangun sebuah sekolah perawat khusus
untuk wanita yang pertama, saat itu bahkan
perawat-perawat pria pun jarang ada yang
berpendidikan.
Florence berargumen bahwa dengan adanya
sekolah perawat, maka profesi perawat akan
menjadi lebih dihargai, ibu-ibu dari keluarga
baik-baik akan mengijinkan anak-anak
perempuannya untuk bersekolah di sana dan
masyarakat akan lain sikapnya menghadapi
seseorang yang terdidik.

2
2

Sekolah tersebut pun didirikan di lingkungan


rumah sakit St. Thomas Hospital, London. Dunia
kesehatan pun menyambut baik pembukaan
sekolah perawat tersebut.
Saat dibuka pada tanggal 9 Juli 1860 berpuluhpuluh gadis dari kalangan baik-baik
mendaftarkan diri, perjuangan Florence di
Semenanjung Krimea telah menghilangkan
gambaran lama tentang perempuan perawat.
Dengan didirikannya sekolah perawat tersebut
telah diletakkan dasar baru tentang perawat
terdidik dan dimulailah masa baru dalam dunia
perawatan orang sakit.
Kini sekolah tersebut dinamakan Sekolah
Perawat dan Kebidanan Florence Nightingale
(Florence Nightingale School of Nursing and
Midwifery) dan merupakan bagian dari Akademi
King College London.

2
3

Sebagai pimpinan sekolah Florence mengatur


sekolah itu dengan sebaik mungkin.
Tulisannya mengenai dunia keperawatan dan
cara mengaturnya dijadikan bahan pelajaran
di sekolah tersebut.
Saat tiba waktunya anak-anak didik pertama
Florence menamatkan sekolahnya, berpuluhpuluh tenaga pemudi habis diambil oleh
rumah sakit sekitar, padahal rumah sakit
yang lain banyak meminta bagian.
Perawat lulusan sekolah Florence pertama
kali bekerja pada Rumah Sakit Liverpool
Workhouse Infirmary. Ia juga berkampanye
dan menggalang dana untuk rumah sakit
Royal Buckinghamshire di Aylesbury dekat
rumah tinggal keluarganya.
Dengan perawat-perawat terdidik, era baru
perawatan secara modernpun diterapkan
ditempat-tempat tersebut.
2
4

Dunia menjadi tergugah dan ingin meniru.


Mereka mengirimkan gadis-gadis berbakat untuk
dididik di sekolah tersebut dan sesudah tamat
mereka diharuskan mendirikan sekolah serupa di
negerinya masing-masing.
Pada tahun 1882 perawat-perawat yang lulus
dari sekolah Florence telah tumbuh dan
mengembangkan pengaruh mereka pada awalawal pengembangan profesi keperawatan.
Beberapa dari mereka telah diangkat menjadi
perawat senior (matron), termasuk di rumah
sakit-rumah sakit London seperti St. Mary's
Hospital, Westminster Hospital, St Marylebone
Workhouse Infirmary dan the Hospital for
Incurables (Putney); dan diseluruh Inggris,
seperti: Royal Victoria Hospital, Netley;
Edinburgh Royal Infirmary; Cumberland Infirmary;
Liverpool Royal Infirmary dan juga di Sydney
Hospital, di New South Wales, Australia.
2
5

Orang sakit menjadi pihak yang paling beruntung


di sini, disamping mereka mendapatkan
perawatan yang baik dan memuaskan, angka
kematian dapat ditekan serendah mungkin. Buku
dan buah pikiran Florence Nightingale menjadi
sangat bermanfaat dalam hal ini.
Pada tahun 1860 Florence menulis buku Catatan
tentang Keperawatan (Notes on Nursing) buku
setebal 136 halaman ini menjadi buku acuan
pada kurikulum di sekolah Florence dan sekolah
keperawatan lainnya. Buku ini juga menjadi
populer di kalangan orang awam dan terjual
jutaan eksemplar di seluruh dunia.
Pada tahun 1861 cetakan lanjutan buku ini terbit
dengan tambahan bagian tentang perawatan
bayi.
Pada tahun 1869, Nightingale dan Elizabeth
Blackwell mendirikan Universitas Medis Wanita.
Pada tahun 1870-an, Linda Richards, "perawat
terlatih pertama Amerika", berkonsultasi dengan
Florence Nightingale di Inggris
2
6

dan membuat Linda kembali ke Amerika Serikat


dengan pelatihan
dan pengetahuan memadai untuk mendirikan
sekolah perawat. Linda Richards menjadi pelopor
perawat di Amerika Serikat dan Jepang.
Pada tahun 1883 Florence dianugrahkan medali
Palang Merah Kerajaan (The Royal Red Cross)
oleh Ratu Victoria.
Pada tahun 1907 pada umurnya yang ke 87
tahun Raja Inggris, di hadapan beratus-ratus
undangan menganugerahkan Florence Nightingale
dengan bintang jasa The Order Of Merit dan
Florence Nightingale menjadi wanita pertama
yang menerima bintang tanda jasa ini.
Pada tahun 1908 ia dianugrahkan Honorary
Freedom of the City dari kota London.
Nightingale adalah seorang universalis Kristen.
Pada tanggal 7 Februari 1837 tidak lama
sebelum ulang tahunnya ke-17 sesuatu terjadi
yang akan mengubah hidupnya: ia menulis,
"Tuhan berbicara padaku dan memanggilku untuk
melayani-Nya."
2
7

MENINGGAL DUNIA

Florence Nightingale meninggal dunia di usia 90


tahun pada tanggal 13 Agustus 1910.
Keluarganya menolak untuk memakamkannya di
Westminster Abbey, dan ia dimakamkan di
Gereja St. Margaret yang terletak di East
Wellow, Hampshire, Inggris

2
8

SUMBER BACAAN

(Inggris) Baly, Monica E. and H. C. G. Matthew,


"Nightingale, Florence (18201910)"; Oxford
Dictionary of National Biography, Oxford
University Press (2004); online edn, May 2005
accessed 28 Oct 2006
(Inggris) Pugh, Martin; The march of the women: A
revisionist analysis of the campaign for women's
suffrage 1866-1914, Oxford (2000), at 55.
(Indonesia) Soeroto, A. Florence Nightingale,
Bidadari Berlampu. Penerbit Djambatan. Seri
"Kisah orang-orang yang telah berjasa". Cetakan
pertama 1974. ISBN 979-428-073-9.
(Inggris) Sokoloff, Nancy Boyd.; Three Victorian
women who changed their world, Macmillan,
London (1982)
(Inggris) Webb, Val; The Making of a Radical
Theologician, Chalice Press (2002)
(Inggris) Woodham Smith, Cecil; Florence
Nightingale, Penguin (1951), rev. 1955
2
9