Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam perkembangannya, modifikasi perilaku berkembang secara pesat mulai tahun
enam puluhan. Modifikasi perilaku mulai mempengaruhi praktik-prkatik perlakuan
terhadap perilaku pada psikologi yang lain. Sebagai konsekuensinya, modifikasi perilaku
tidak lagi begitu ketat, tidak memperlakukan manusia seperti binatang eksperimen dalam
laboratorium, tetapi perlakuanya lebih manusiawi. Modifikasi perilaku banyak
mengasimilasi praktik-praktik psikologi lain. Sasaran utama tetap mengubah perilaku
lahiriah, dalam arti menghilangkan gejala-gejala kelainan, bukan hanya mencapai insight
mengenai penyebab perilaku. Telah disadari oleh para pengembangnya, bahwa
mengabaikan dasar atau penyebab perilaku adalah tindakan yang tidak masuk akal.
Namun insight mengenai dasar dan penyebab itu bukan tujuan utama dalam modifikasi
perilaku, tetapi perhatian utama pada perilaku subjek sekarang (here and now), bukan
pada saat usul perilaku.
Perilaku sebagai hasil proses belajar menyatakan bahwa sebagian besar perilaku tak
adaptif atau simtom-simtom kelainan sampai tingkat tertentu diperoleh sebagai hasil
proses belajar. Kenyataan ini ternyata tidak menjadi perdebatan, bahwa perilaku
seseorang berasal dari dasar (pembawaan) dan ajar (diperoleh dari lingkungan).
Modifikasi perilaku memanfaatkan penelitian-penelitian yang cermat mengenai caracara lingkungan mempengaruhi perilaku manusia terutama penelitian-penelitian yang
menggunakan prinsip proses belajar yang telah teruji. Perilaku tak-adaptif dapat diubah
dengan menggunakan prinsip-prinsip proses belajar. Cara-cara pengubahan disesuaikan
dengan perilkau sasaran dan dengan situasi dan kondisi serta interaksi klien dengan
lingkungan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa konsep dasar dari prosedur peneladanan atau modeling ?
2. Apa konsep dasar dari tabungan kepingan atau token ekonomi ?
3. Bagaimana bentuk pelatihan asertivitas ?
4. Bagaimana prosedur aversi ?
5. Bagaimana prosedur rileksasi ?
6. Bagaimana konsep pengelolaan diri ?
7. Bagaimana bentuk pelatihan keterampilan sosial ?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui konsep dasar dari prosedur peneladanan atau modeling.
2. Mengetahui konsep dasar dari tabungan kepingan atau token ekonomi.
1 | Modifikasi Perilaku

3.
4.
5.
6.
7.

Mengetahui bentuk pelatihan asertivitas.


Mengetahui prosedur aversi.
Mengetahui prosedur rileksasi.
Mengetahui konsep pengelolaan diri.
Mengetahui bentuk pelatihan keterampilan sosial.

BAB II
PENDAHULUAN
2.1 PENATAAN AWAL DAN TUJUAN
Sebagian besar perilaku manusia dapat diubah melalui modifikasi perilaku. Hal ini
juga bergantung pada kemampuan subjek mencerna informasi(kognitif), konpleksitas

2 | Modifikasi Perilaku

kendali gerak, kepauhan subjek pada pelaksanaan program, ketahanan subjek dalam
melaksanakan program modifikasi perilaku.
Pada umumnya penerapan modifikasi perilaku sellu berawal dari:
1. Kejelasan dalam mendefinisikan perilaku yang akan diubah (jelas dan rinci);dalam
hal ini perilaku tersebut harus dapat diamati.
2. Penetapan tujuan harus teramati, spesifik, dan dapat diukur perubahannya dari waktu
ke waktu.
Penerapan modifikasi perilaku pada anak luar biasa sangat bergantung pada kelainan
perilaku anak. Setelah mempelajari bab ini diharapkan anda:
1. Memahami prinsip pelaksanaan prosedur meneladani(modelling)
2. Menerapkan prosedur meneladani dalam mengubah perilaku anak.
3. Memahami prinsip-prinsip pelaksanaan tabungan kepingan.
4. Menerapkan prosedur tabungan kepingan dalm mengubah perilaku anak.
5. Memahami konsep dasar pelatihan asertivitas.
6. Menerapkan konsep pelatiha asertivitas dalam mengubah perilaku anak.
7. Memahami prinsip-prinsip prosedur aversi
8. Menerapkan prosedur aversi dalam mengubah perilaku anak.
9. Memahami prinsip-prinsip prosedur rilaksasi.
10. Menerapkan prosedur rilaksasi dalam mengubah perilaku anak
11. Memahami prinsip pengelolahan diri dalam mengubah perilku anak.
12. Menerapkan prosedur pengellahan diri untuk mengubah perilaku anak
13. Memahami prnsip pelatihan sosial dalam mengubah perilaku anak.
14. Menerapkan pelatihan keterampilan sosial dalam mengubah perilaku anak.

2.2 PROSEDUR PENELADANAN (MODELLING)


1. Konsep dasar peneladanan
Prosedur meneladani adalah prosedur yang memanfaatkan proses belajar mellui
pengamatan, dimana perilaku seseorang atau bebrapa orang teladan, berperansebagai
perangsang terhadap pikiran, sikap,atau subjek pengamat tindakan untuk ditiru atau
diteladani(Bandura,1977;soetarlinah Soekadji, 1983)
Prosedur meneladani berjalan wajar dalam kehidupansehari-hari baik secara
ataupunwajak
lewatanak
media
cetak, elektronik dll.dalam modifikasi perilaku,
Misal langsung
meniru ekspresi
autisme
prosedur meneladanidapat digunakan sebagai alternatif untuk melatih anak-nak luar
Tujuan
: Anak meniru ekspresi wajah agar anak lebih sadar akan dirinya sendiri
biasa, normal maupun pekerja, terutama bila instruksi verbal gagal. Andi suka judi dan
Target perilaku
: Buka mulut
menipu, hal ini terjadi karena bapaknya seorang penjudi dan penipu. Pada ABK (autis)
Media
: Cermin
prosedur peneladanan dikikuti dengan prosedur lain yang hasilnya lebih efektif
Langkah-langkah :
dibanding hukuman.
1. Duduklah bersama depan cermin pastikan anak melihat bayangan anda di cermin lalu
katakan tirukan! lalu buka mulut anda lebar-lebar
2. Bila anak belum meniru berikan bantuan.
3 | Modifikasi Perilaku
3. Sesudah anak menirukan membuka mulut dihadapan cermin, mulailah mengajarkan ia
dalam posisi berhadapan muka.
4. Ajarkan anak beberapa ekspresi. Ajarkan perilaku tersebut seperti anda mengajarkan
imitasi(meniru) gerakan motorik kasar.

2. Prinsip-prinsip prosedur peneladanan


Prosedur meneladani berlangsung dalam dua tahap, yaitu:
a. Tahap pemilikan. Tahap masuknya perilaku dalam pernendaharaan subjek. Subjek
memperoleh dan mempelajari teladan yang diamati. Terdapat dua prinsip, yaitu:
1) Pengamatan intensif dan mengesankan, mempercepat pamilikan perilaku ini.
2) Perilaku yang dipersiapkan untuk diteladani berulang-ulang.
b. Tahap pelaksanaan. Tahap subjek melakukan perilaku yang telah dipelajari.ada dua
prinsip, yaitu:
1) Faktor penunjang berupa prasarat perilaku dan sarana untuk melakukan
perilaku tersebut.
2) Kehadiran pengukuh, yaitu dapat meningkatkan intensitas perilaku.
Perilaku yang diteladani tidak hanya berupa tindakan akan tetapi juga berupa
ketrampilan, teknik, gaya, dan ucapan, bahkan sikap emosi, pikiran dan peran pun
dapat diteladani (Soetarlinah Soekadji, 1983).
3. Implementasi prosedur teladanan
Prosedur meneladani terlihat sederhana akan tetapi perlu di lakukan dengan cermat
agar memperoleh hasil yang makssimal.rambu-rambu langkah dasar yang perlu
diperhatikan yaitu:
a. Mengenali danmenentukan garis awal perilaku yang akan diubah melalui prosedur
meneladani.
b. Menemtukan prakiraan urutan perilaku yang akan diperagakan dri yang paling
kecil tingkat resiko kecemasannya yang paling besar.
c. Menentukan pengukuh yang akan diberikan bila subjek berhasil melakukan yang
dirancangkan.
d. Melaksanakan rancangan prosedur meneladani yang telah dirancang.
e. Mempertahankan perilaku subjek yang telah terbentuk dan berupaya melakukan
generalisasi perilaku.
Rambu-rambu langkah-langkah dasar dalam implementasi prosedur meneladani
menurut Soetarlinah Soekadji (1983) :
4 | Modifikasi Perilaku

a. Memusatkan Perhatian Subjek


Perilaku dapat dipelajari bila subjek memusatkan perhatian pada perilaku
tersebut. Pemusatan perhatian merupakan tahap pertama, dimana subjek memperoleh
dan mempelajari perilaku yang diamati melalui perilaku teladan.
Bagi subjek normal, pemusatan perhatian akan lebih efektif bila perilaku yang
harus diamati ini dibicarakan, diartikan, diberi nama atau label, dan dibuat menarik
perhatian.
Contoh: mengajarkan anak memasukkan versenelling mobil. Letakkan tangan
menghadap ke kiri bila akan memindahkannya ke sebelah kiri. (Dibicarakan agar
perhatian pengamat tertuju pada posisi telapak tangan).
Bagi subjek tidak normal, seperti anak autisme, perlu ada paksaan pertolongan,
arahan, model (prompt) untuk membentuknya sehingga mereka mau memperhatikan.
Contoh: lihat! Katakan, Ma!. Bila ia belum mengarahkan perhatiannya, maka
dipegangi kepalanya, diarahkan supaya melihat ke arah mulut terapis. Katakan
Ma!
b. Memilih Media Pameran
Pemilihan media penyajian yang tepat dapat membantu memusatkan perhatian
subjek pada perilaku yang dipamerkan.Penyajian audiovisual dapat diatur agar yang
tampak hanya perilaku yang dipamerkan, dapat diedit, diulang-ulang, atau
diperlambat untuk melihat perincian langkah demi langkah. Selain media audiovisual,
media lain dapat dalam bentuk verbal, yaitu dengan teladan simbolis (bukan orang
yang sebenarnya) misalnya cerita, bacaan, dan sebagainya.
Prosedur meneladani dapat dilakukan dengan penyajian orang yang betul-betul
hidup, dibutuhkan bagi subjek-subjek yang memerlukan umpan balik dari teladan,
partisipasi teladan, atau bantuan fisik. Prosedur meneladani ini banyak dilakukan bagi
subjek luar biasa, misalnya pada anak tuna mental, anak tuna laras. Penyajian ini
dapat dilakukan secara langsung atau melalui bermain pern, misalnya pretend play.
c. Memilih teladan
Dalam memilih, pertimbangan orang lebih memperoleh prioritas. Teladan dapat
dipergunakan orang yang dianggap ahli, berpengalaman, sukses, berkuasa, populr,
atau memiliki sesuatu yang dikagumi, dijadikan teladan atau panutan.
Penggunaan beberapa teladan, adakalanya lebih efektif, sebab menimbulkan
efek generalisasi, dalam arti perilaku yang dipamerkan bukan cocok untuk teladan
saja, tetapi cocok untuk semua orang
d. Memamerkan secara Mengesankan atau Berulang-ulang
Pameran yang mengesankan selain menarik perhatian, juga menyebabkan
perilaku yang dipamerkan tertanam dalam ingatan. Kesan ini dapat dari medianya,
teladan yang digunakan, atau dari pengukuh yang didapat dari teladan. Bila pameran
5 | Modifikasi Perilaku

belum mengesankan, perlu dibuat berulang-ulang secara wajar(menghindari


kejenuhan).
e. Meminta Menirukan dengan Segera dan Berulang-ulang
Ingatan terhadap perilaku sasaran akan lebih tertanam bila subjek secara aktif
meniru dan latihan selama perilaku it dipamerkan atau segera setelah pameran
berakhir.
Pada anak autisme diajarkan melalui bantuan (prompt) diikuti dengan pemberian
pengukuh dapat benda atau verbal. Setelah terbentuk, diulang-ulang sehingga perilaku
itu menjadi milik dirinya.Mengulang dan berlatih juga membantu subjek menjabarkan
perilaku sasaran dan mengembangkan keterampiln motorik atau keterampilan verbal
yang dibutuhkan. Dengan demikian, pelaksanaan perilaku akan lancar dan efisien, dan
seterusnya dapat merupakan pengukuh positif bagi subjek.
f. Melakukan Bertahap Bila perlu
Perilaku yang kompleks sulit untuk diteladani. Untuk itu perilaku yang kompleks
hendaknya dijabarkan menjadi perilaku yang sederhana dan disajikan tahap demi
tahap. Sajikan dahulu langkah-langkah paling dasar sebelum menyajikan seluruh
urutan perilaku.Kegagalan mencontoh model sering terjadi karena perilaku yang harus
ditirukan terlalu kompleks, sehingga sukar dijabarkan dan sukar diingat urutannya.
g. Mengikuti Pelaksanaan Perilaku Bila diperlukan
Beberapa program memerlukan teladan berpartisipasi dalam pelaksanaan (participant
modelling). Contoh: ami ikut mengelus-elus anjing susi, selagi susi memangku anjing
kesayangannya. Tangan susi ditempelkan di atas tangan ami untuk membimbing
gerakan mengelus.
Beberapa program memerlukan dukungan verbal, umpan baik, penilaian, bimbingan,
atau saran-saran tambahan dalam pelaksanaannya.
h. Memberi Pengaruh Segera
Perilaku yang diperoleh dari mencontoh tidak berbeda dengan perilaku-perilaku lain.
Bila perilaku ini mendapat pengukuh dengan segera, maka perilaku ini cenderung
berulang. Karena itu perilaku yang tidak dapat dipisahkan dari konsekuensi
positifnya, cenderung cepat terkukuhkan. Segera setelah dicoba dilaksanakan.
Selain rambu-rambu positif dalam implementasi prosedur meneladani, ada beberapa
catatan yang perlu diperhatikan dalam penerapannya pada kehidupan sehari-hari. Prosedur
meneladani dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi secara tidak sadar. Orang secara wajar
memamerkan kemampuan,kekayaan, dan perilaku-perilaku lain. Para pengamat secara tidak
sadar mencontoh perilaku yang dipamerkan secara langsung tanpa memperhatikan
konteksnya. Untuk menghindari subjek mencontoh perilaku yang tidak sepatutnya, perlu
6 | Modifikasi Perilaku

dikomunikasikan hal-hal yang menyangkut perilaku yang dicontoh. Beberapa hal tersebut
(Soetarlinah Soekadji,1983) adalah sebagai berikut :
a) Latar Belakang dan Dasar Pikiran Perilaku
Latar belakang dan dasar pikiran perilaku seyogyanya diinformasikan kepada subjek
yang diberi teladan agar ia memahami konteks kejadian dan dasar pemikirannya.
Banyak orang, terutama anak-anak dan remaja, mencontoh perilaku yang mereka
amati tanpa melihat latar belakang kejadian dan dasar pemikirannya.
b) Konsekuensi Jangka Panjang dan Lebih Luas
Konsekuensi jangka panjang dan lebih luas dari meneladani perlu diinformasikan
kepada subjek. Beberapa perilaku yang secara langsung diikuti dengan konsekuensi
hukuman bila dijadikan teladan (dicontoh) cenderung perilaku tersebut tidak diulang.
c) Pendukung yang tidak Dipamerkan
Pendukung yang tidak dipamerkan perlu diinformasikan agar tidak ditiru secara
superficial. Beberapa pengamat meniru gaya hidup seorang teladan secara superficial.
Mereka meniru bagian yang enak, tetapi enggan pada bagian lain. Efek telenovela di
acara TV menjadikan sebagian besar pemirsanya meniru secara superficial.
Selain rambu-rambu positif dan kondisi yang perlu diperhatikan dalam inplementasi
prosedur meneladani adalah efek yang timbul dari penggunaan prosedur meneladani. Ada
empat macam efek diperoleh menggunakan prosedur meneladani:
A.
B.
C.
D.

Belajar hal baru melalui pengamatan (observational learning);


Efek pelepasan perilaku tertahan (disinhibitory effect);
Efek menahan perilaku (inhibitory effect); dan
Efek mempermudah timbulnya perilaku yang sudah ada (facilitation effect)
(Soetarlinah Soekadji,1983)

Uraian dari masing-masing efek meneladani adalah sebagai berikut :


A. Efek Belajar Hal Baru
Prosedur meneladani mendorong subjek untuk belajar hal yang baru. Subjek mendapat
memperoleh peristiwa baru yang merupakan perilaku yang belum pernah dilakukan
sebelum ia mengamati perilaku seorang teladan. Perilaku baru ini dapat berupa
sepotong perilaku,dapat juga berupa integrasi atau pola kumpulan perilaku. Orang
dewasa normal, jarang sekali belajar perilaku yang sama sekali baru. Biasanya perilaku
baru merupakan kombinasi dan integrasi atau pola kumpulan dari perilaku yang telah
ada dalam dirinya.
B. Efek pelepasan Perilaku Tahanan

7 | Modifikasi Perilaku

Efek pelepasan perilaku subjek sering tertahan. Subjek yang telah dimiliki perilaku
baru sering tidak memanfaatkan karena berbagai hal, diantaranya karena
ketakutan,ragu-ragu,enggan. Adanya teladan dapat melepaskan perilaku ini untuk
dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
C. Efek Menahan Perilaku
Berbeda dengan pelepasan perilaku tertahan, menahan perilaku adalah menunda
munculnya perilaku yang telah dimiliki karena mengamati konsekuensi perilaku
tersebut bila dilakukan. Perilaku yang pada awalnya dikuasai bebas atau ragu-ragu,
ditahan untuk tidak dilakukan akibat mengamati perilaku seorang teladan.
D. Efek Mempermudah Timbulnya Perilaku
Seseorang cenderung akan mudah meniru perilaku yang sudah dikuasai orang lain
mana kala orang tersebut menjadi teladan. Kekuatan teladan ini akan menjadi lebih
efektif bila orang tersebut merupakan significance others bagi orang yang
meneladaninya.

2.3 TABUNGAN KEPINGAN (TOKEN EKONOMIC)


1. Konsep dasar tabungan kepingan
Tabungan kepingan adalah salah satu tekhnik modifikasi perilaku dengan cara
pemberian satu kepingan (atau satu tanda,satu isyarat) sesegera mungkin setiap kali
setelah perilaku-sasaran muncul. Kepingan kepingan ini nantinya dapat ditukar
dengan benda aktivitas pengukuh lain yang diingini subjek. Pengukuh lain acap kali
disebut dengan pengukuh idaman.
Pengertian lain dari tabungan kepingan adalah suatu cara atau tekhnik untuk
pengukuhan tingkah laku yang ditujukan seseorang anak yang sesuai dengan targer
yang telah disepakati, dengan menggunakan hadiah untuk penguatan secara simbolik
(Walket, et.al. 1981; Napsiah Ibrahim dan Rohana Aldy, 1995) anak menerima uanguangan (uang simbolik), kertas ataupun logam, yang dapat ditukarkan di kantin
sekolah dengan harga sesuai dengan nilai kepingan.
Berbagai jenis kepingan (token) sebagai symbol pengukuhan yang sering
digunakan antara lain adalah: bintang emas, kertas kupon, sepotong kecil kertas
warna, uang logam, stiker, perangko, kancing plastic, dan sebagainya.
Prosedur tabungan kepingan tidak berbeda dengan orang bekerja yang
menerima upah berupa uang langsung setelah satu porsi pekerjaannya selesai. Uang
adalah semacam kepingan, yang bila telah terkumpul dapat dibelikan sesuatu yang
diingini pemiliknya.
8 | Modifikasi Perilaku

Program kepingan dapat diterapkan pada anak-anak normal, pada anak-anak


atau orang-orang yang perkembangannya terlambat, yang cacat mental, atau yang
mengalami penyimpangan kepribadian.
2. Prinsip-prinsip Tabungan Kepingan
Tabungan kepingan merupakan prosedur kombinasi untuk meningkatkan,
mengajar, mengurangi, dan memelihara berbagai perilaku. Tabungan kepingan (token
program) dicadangkan untuk menangani perilaku-perilaku yang tidak mempan dengan
program-program lain. Oleh karena itu perencanaan dalam penggunaan program ini
harus cermat.
Salah satu prinsip yang harus diperhatikan oleh pengembang adalah berkaitan
dengan kepingan (tokennya) itu sendiri. Meskipun jenis dan ukuran kepingan itu
berbeda-beda, tetapi karakteristik tertentu harus dimiliki oleh semua kepingan.
Kazdin, 1980, Ollendick & Cerny yang dikutip oleh Morris (1985) menyebutkan
bahwa kepingan itu harus dapat dilihat dengan jelas oleh anak, dapat diraba, dan dapat
pula dihitung. Maksudnya bahwa salah satu dari 3 karakteristik kepingan itu harus
terpenuhi. Anak harus memahami cara menggunakan kepingan tersebut, mengetahui
berapa harga kepingan yang dimilikinya, sehingga prosedur ini benar-benar dapat
menjadi alat pendorong dan penguat secara fakta. Kepada anak diberitahukan bahwa
kepingan dapat ditukarkan dengan barang-barang atau kegiatan yang ia sukai. Ikuran
token seyogyanya dipilih benda yang dapat dimasukkan dalam dompet anak.Selain
berkaitan dengan kepingannya sendiri, Walker. et.al (1981) mengatakan ada elemen
pokok sebagai prinsip dalam tabungan kepingan. Elemen pokok tersebut adalah:
a. Lingkungan dapat dikontrol; maksudnya bahwa dalam pelaksanaan program
kepingan lingkungan yang menimbulkan perilaku dapat diprediksi dan
dikendalikan.
b. Sasaran perilaku harus spesifik; maksudnya bahwa perilaku yang akan diubah
harus dideskripsikan dengan jelas. Misalnya: tidak berkelahi; tidak keluar rumah;
mengucapkan salam; mandi dengan bersih.
c. Tujuan dapat terukur; maksudnya bahwa tujuan yang telah ditetapkan dapat diukur
kemunculannya. Pengukuran dapat dari segi frekuensi, besaran, atau intensitasnya.
d. Bentuk atau jenis benda sebagai kepingan jelas; maksudnya bahwa benda yang
digunakan sebagai kepingan (token) tertentu bentuk dan jenisnya. Misalnya uanguangan dari plastik, materai, perangko.
e. Kepingan sebagai hadiah; maksudnya bahwa kepingan tersebut dapat berfungsi
sebagai hadiah bagi anak yang telah menjalankan program sesuai dalam
9 | Modifikasi Perilaku

rancangan. Oleh karena itu, kualitas kepingan seyogyanya yang lenih menarik,
supaya makna hadiah dapat terpenuhi.
f. Sesuai dengan perilaku yang diinginkan; maksudnya bahwa bila perilaku yang
diinginkan telah muncul atau terjadi, maka segera diberi kepingan. Dalam hal ini
ketepatan wakti (timing) dalam memberikan dapat meningkatkan efektivitas
pelaksanaan prosedur tabungan kepingan.
g. Mempunyai makna lebih sebagai pengukuh; maksudnya bahwa kepingan yang
diperolehnya mempunyai makna sebagai pengukuh perilaku berikutnya. Misalnya:
Iwan tidak berkelahi sepanjang hari, ia sukses di hari itu maka ia mendapatkan
perangko sebagai kepingan. Perangko tersebut menjadi penguat bagi Iwan untuk
tidak berkelahi pada hari berikutnya, sehingga ia akan memperoleh tambahan satu
perangko lagi.
3. Implementasi tabungan kepingan
Pelaksanaan tabungan kepingan dibagi dalam 3 tahap, yaitu tahap persiapan,
tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi. Masing-masing tahap ada hal-hal yang harus
diperhatikan agar pelaksanaan program tabungan kepingan dapat berjalan dengan
baik.
a. Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan ini ada empat hal yang perlu dipersiapkan (Napsiah
Ibrahim dan Rohana Aldy, 1995), yaitu (1) menetapkan tingkah laku atau kegiatan
yang akan diubah disebut sebagai tingkah laku yang akan ditargetkan; (2) menetukan
barang (benda) atau kegiatan apa saja yang mungkin dapat menjadi penukar
kepingan. Guru atau orangtua harus yakin benar bahwa kegiatan atau barang tersebut
disukai oleh anak hiperaktif pada umunya. Dalam hal ini, guru atau orang tua dapat
juga memilih barang-barang atau kegiatan dengan cara menanyakan kepada anak
barang-barang atau kegiatan apa yang disukai anak sebagai hadiah; (3) memberi nilai
taua harga untuk setiap kegiatan atau tingkah laku yang ditargetkan dnegan kepingan.
Mislanya, apabila anak menyerahkan PR (pekerjaan rumah)-nya kepada guru setiap
pagi sebelum masuk kelas, ia akan menerima 25 poin kepingan; (4) menetapkan
harga barang-barang atau kegiatan penukar (reinforcers= sebagai pengukuh) dengan
kepingan. Misalnya anak boleh menggunakan video game selama 15 menit dnegan
harga 30 kepingan.
Bagan di bawah ini contoh pembayaran kegiatan atau tingkah laku yang
ditargetkan dnegan kepingan, dan harga barang-barang atau kegiatan sebagai

10 | Modifikasi Perilaku

pendorong atau pengukuh (reinforcers) tingkah laku yang ditargetkan dengan


kepingan (Morris, 1985)
Contoh Pembayaran dan Harga Program Kepingan
No

Kegiat

Diba No

Pendoro

an/Peri

yar

ng/Pengu

laku

Harga

kuh
(Reinfor

1.

Menyer

25 kp

ahkan

komputer

yang

selama

selesai

15 menit

perpustak

setiap

selama

kepada

25 menit
30 kp

Mendeng

menola

arkan

musik di

seseora

ruang

ng

musik

sepanja

selama

ng pagi

15 menit

di
sekolah
Mempe
roleh
nilai C
pada

Memaink
30 kp

an suling
sekolah
selama
25 menit

suatu

Melucu

tes

di

11 | Modifikasi Perilaku

25 kp

40 kp

aan

pagi

3.

30 kp

Pergi ke

kan

guru
Tidak

30 kp

akan

PR

dikerja

2.

cers)
Menggun

muka

20 kp

4.

Mempe

40 kp

kelas

roleh

selama

nilai B

10 menit

pada
suatu
5.

tes
Mempe

50 kp

roleh
nilai A
pada
suatu
6.

tes
Menunj

15 kp

uk
tangan
sebelu
m
bertany
a
Dari contoh pada bagan di atas dapat dilihat bahwa setiap tingkah laku yang ditargetkan
telah ditetapkan berapa poin kepingan yang diterima. Demikian pula dari contoh tersebut
terlihat pula setiap kegiatan (atau benda) sebagai pengukuh atau pendorong dihargai dengan
kepingan.
b. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan diawali dnegan pembuatan kontrak antara subjek dengan
terapis. Kegiatan yang sederhana, biasanya kontraknya cukup secara lisan dan
keduanya dapat saling memahami, tetapi pada kegiatan yang kompleks sering
kontrak ditulis dan ditandatangani oleh keduanya dan bahkan ada saksinya. Contoh
kontrak untuk perilaku umum dari Rosenberg, et.al. (1992).
Contoh Kontrak Tingkah Laku Umum
Ini adalah kontrak antara...................(Nama Peserta Didik)................................
dan ...................................... (Nama Guru)....................................
12 | Modifikasi Perilaku

Peserta didik............................................................. setuju melaksanakan beberapa


tingkah laku berikut:
1. ......................................................
2. ......................................................
3. ......................................................
Jika saya melaksanakan apa yang tertera di atas, maka saya akan menerima dari
guru:
........................................................................................................................................
........................................................................................................................................
..
Sebagai hadiah khusus. Jika isi kontrak tidak dilaksanakan oleh peserta didik, semua
hadiah akan ditangguhkan (ditahan).
Tanda tangan dan tanggal
..........................................
Peserta didik
..........................................
Guru
..........................................
Saksi

.........................................
Tanggal
..........................................
Tanggal
..........................................
Tanggal

Kami akan memeriksa kembali kontrak ini pada: .........................................................


Untuk menyepakati ulang nilai kontrak ini
Pada tahap pelaksanaan guru dan pembimbing, serta orang yang ditugasi untuk
mencatat peristiwa yang timbul dalam melaksanakan kontrak tingkah laku
melaksanakan tugas sesuai dengan pos masing-masing. Bila tingkah laku yang
ditargetkan muncul, maka segera subjek mendapat hadiah kepingan. Setelah
kepingan cukup subjek dibimbing ke tempat penukaran kegiatan dengan membeli
kegiatan sesuai dengan nilai kepingannya.

13 | Modifikasi Perilaku

Pada tahap awal pelaksanaan bimbingan perlu dilakukan, tetapi setelah kegiatan
berjalan beberapa kali subjek diminta melaksanakan sendiri penukaran kepingan
yang ia peroleh di tempat yang telah ditentukan.
Dalam pelaksanaan diperlukan ketelitian dalam melaksanakan rencana, staf
pelaksana yang terlatih, dan staf pencatat kegiatan dari dekat yang merekam kegiatan
anak. Lamanya pelaksanaan bergantung kesepakatan dalam kontrak, tetapi biasanya
guru (terapis) telah menentukan sesuai dengan bobot perilaku yang akan diubah.
Dalam kaitannya dengan rambu-rambu bagi pelaksana program tabungan kepingan
(Martin dan Pear, 1992) menyarankan:
1) Pelaksana perlu menyiapkan alat merekam data, siapa yang mengambil data, dan
kapan data direkam;
2) Menentukan siapa yang akan mengelola pengukuh;
3) Menentukan jumlah kepingan yang dapat diperoleh setiap perilaku setiap subjek,
setiap hari;
4) Waspada terhadap kemungkinan hukuman; seyogyanya menggunakan sedikit
hukuman.
c. Tahap Evaluasi
Pada tahap ini akan diketahui faktor-faktor apa yang perlu ditambah ataupun
dikurangi dalam daftar pengukuhan ataupun pengubahan tingkah laku yang telah
dilaksanakan tersebut. Misalnya apakah nilai-nilai kepingan perlu diuji untuk setiap
tingkah laku yang akan diubah; apakah subjek tertarik atau terlibat dalam program
yang dibuat. Keberhasilan dan kekurangan dalam program yang dibuat. Keberhasilan
dan kekurangan dalam pelaksanaan didiskusikan untuk merencanakan program
selanjutnya.
Tabungan kepingan juga dapat diterapkan untuk memodifikasi perilaku anak
tunalaras yang belajar bersama dengan anak normal (integrasi). Di bawah ini contoh
program tabungan kepingan untuk anak yang mengalami gangguan tingkah laku
(agresif). Perilaku yang sering muncul adalah memukul, menolak teman sebelahnya,
bicara dengan teman dikala sedang diterangkan guru, sering melempar objek ke
udara di ruang kelas. Anak tersebut berusia 10 tahun dan belajar dalam kelas integrasi
penuh (Morris, 1985).
Contoh Program Kepingan dalam Ruang Kelas

14 | Modifikasi Perilaku

No

Kegiat

Dibay No

Pendoro

an/Per

ar

ng/Peng

ilaku

Harga

ukuh
(Reinfor

1.

Menye

25 kp 1.

cers)
Memakai

rahkan

ruang

tugas

kompute

PR

kepada

menit)

20 kp

(15

guru
setiap
2.

pagi
Setiap

10 kp 2.

Makan

loncen

siang

dengan

berbun

guru

yi

kantin

250 kp

di

Bobby
tidak
bicara
denga
n
teman,
tetap
duduk,
dan
dada
mengh
adap
ke
3.

depan
Memp
eroleh

15 | Modifikasi Perilaku

30 kp 3.

Melawak
di muka

200 kp

nilai C

kelas (15

dari

menit)

duatu
4.

tes
Memp

50 kp 4.

Mendeng

eroleh

arkan

nilai B

musik

dari

dengan

suatu

tape

tes

recorder

25 kp

(15
5.

Memp

60 kp 5.

menit)
Mendapa

eroleh

tka

nilai A

tambaha

dari

suatu

istirahat

tes

(15

40 kp

menit)
pada satu
6.

Tidak

30 kp 6.

tes
Ke

memu

perpusta

kul

kaan (15

teman

menit)

30 kp

di
dalam
kelas
selama
hari
sekola
7.

h
Angka

15 kp 7.

Memban

tu murid

tangan

kelas I

16 | Modifikasi Perilaku

250 kp

sebelu
m
bertan
ya dan
menja
wab
pertan
yaan
8.

9.

guru
Tidak

30 kp 8.

Menggu

menol

nakan

ak

kolam

seseor

renang

ang

waktu

selama

istirahat

hari

(30

sekola

menit)

h
Tidka

40 kp 9.

Di

menco

gedung

ret

olahraga

dindin

waktu

istirahat

selama
hari
sekola
10.

h
Tidak

30 kp 10.

Waktu

memb

istirahat

uang

di ruang

sampa

musik

h
melalu
i
17 | Modifikasi Perilaku

75 kp

60 kp

jendel
a
selama
hari
sekola
h
Beberapa aturan dan pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam implementasi
tabungan kepingan agar efektif dikemukakan oleh Soetarlinah Soekadji (1983) antara
lain sebagai berikut:
a. Hindari Penundaan
Salah satu keunggulan tabungan kepingan diperoleh dari pemenuhan
persyaratan efektivitas pengukuhan, ialah pemberian pengukuhan dilakukan
seketika setelah perilaku sasaran muncul. Meskipun pengukuh yang sebenarnya
baru dapat diberikan kemudian, tetapi kepingan-kepingan mewakili, menandai,
merupakan isyarat, atau merupakan simbol bahwa sebagian pengukuh idaman
telah ada di tangan subjek.
Seandainya dalam contoh Tining dan Aji yang masih kecil-kecil itu harus
menunggu pemberian pengukuh sampai perjalanan usai, maka mereka akan
lupa atau bahkan sudah tidak tertarik untuk berusaha mendapatkan pengukuh
idaman mereka.
b. Berikan Kepingan Secara Konsisten
Pemberian pengukuh yang terus menerus (continuous) dan konsisten akan
mempercepat peningkatan perilaku sasaran. Pada program tabungan kepingan,
setiap kali perilaku yang telah disetujui dilaksanakan, secara konsisten diberi
imbalan kepingan sesuai dengan jumlah yang telah disepakati dalam kontrak.
Waktu pemberian kepingan perlu diperhatikan, karena bila mundur atau maju
cukup lama intensitas program berkurang.
Misalnya, dalam contoh kasus Tining dan Aji di depan, bila mereka tidak
berkelahi sepanjang pagi, setiap jam 11 mereka masing-masing mendapat satu
meterai. Selesai makan, setelah mereka makan tanpa banyak cingcong, mereka
langsung mendapat satu meterai.
c. Memperhitungkan Pengukuh dengan Harga Kepingan
Harga kegiatan dan penguat dalam nilai kepingan perlu mendapat perhatian.
Dalam perencanaan perlu dipertimbangkan banyaknya kepingan yang akan
diterima cukup untuk ditukar dnegan pengukuh idaman. Harga pengukuh yang
terlalu banyak atau dihargai terlalu tinggi, akan menimbulkan kejenuhan.
18 | Modifikasi Perilaku

Seandainya setiap meterai Tining dapat ditukar dnegan seperangkat cangkircawan-sendok, Tining paling banter hanya butuh 10 meterai, sesudah itu meterai
tidak menarik minat lagi. sebaliknya bila kepingan dihargai terlalu rendah,
sehingga program berjalan terlalu lama untuk dapat mencapai pengukuh idaman,
maka subjek akan enggan berusaha memperoleh kepingan.
Pengukuh idaman bagi Tining yang berbentuk bagian-bagian (cangkir, teko,
dan baki) lebih fleksibel daripada pengukuh idaman bagi Aji. Karena itu Aji perlu
mendapat penerangan, apa yang harus ia lakukan nanti bila ia tidak dapat
memperoleh 60 meterai. Misalnya, ia akan mendapat kesempatan lain sesudah
tiba kembali di rumah. Bila Aji diberi tahu bahwa ia tidak akan mendapat apa-apa
bila meterai yang diperoleh kurang dari 60, maka ia akan drop-out dari program
segera setelah pertama kali gagal memperoleh meterai. Lebih celaka lagi, ia akan
menganggur agar Tining sulit memperoleh meterai.
d. Persyaratan Hendaknya Jelas
Sebelum penandatanganan kontrak atau kesepakatan pelaksanaan program
tabungan kepingan, aturan yang akan dipakai harus jelas dan mudah diikuti.
Lebih baik lagi bila subjek diajak berdiskusi mengenai aturan-aturan dan
persyaratan untuk memperoleh kepingan. Kekeliruan-kekeliruan karena salah
pengertian hendaknya segera dijelaskan. Demikian juga peringatan dnegan
simbol-simbol dan dukungan perlu diberikan agar subjek ingat bahwa program
kepingan masih berjalan (ini terutama diperlukan bila jarak memperoleh
kepingan agak lama).
e. Pilih Pengukur yang Macam dan Kualitasnya Memadai
Agar pengukur idaman yang ditawarkan efektif, perlu dicocokkan macam dan
kualitasnya dengan situasi dan kondisi subjek. Bermacam-macam pengukuh
idaman dapat digunakan, misalnya berbagai benda, berbagai aktifitas yang cocok
dengan suasana maupun yang dibuat-buat (artifisial). Misalnya suatu program
kepingan dilaksanakan bagi anak-anak dalam kelas anak hiperaktif untuk
pelajaran-pelajaran menggambar. Pengukuh idaman yang dipilih dapat saja
berupa nonton sirkus, tetapi pengukuh ini tidak ada hubungannya dengan
pelajaran menggambar. Pengukuh secara artifisial semacam ini jangan dipakai
dahulu, bila ada acara yang lebih wajar dnegan suasana program yang
ditumpangi. Pengukuh yang lebih pas misalnya mendapatkan gambar karton yang
paling disukai, atau masuk ke studi gambar selama 15 menit.

19 | Modifikasi Perilaku

Pemilihan pengukuh idaman juga perlu memperhatikan masalah etika dan


persetujuan masyarakat. Untuk membantu menentukan pengukuh beberapa
disarankan oleh Martin dan Pear (1992), di antaranya adalah:
1) menarik bagi subjek;
2) menggunakan prinsip Premack dalam menentukan pengukuh kegiatan;
3) mendaftar kegiatan, barang yang disukai subjek dari yang biasa sampai yang
paling disukai dan dapat dilaksanakan;
4) bila berupa benda, pengukuh tersebut harus ringan, menarik, mudah dibawa,
atau disimpan.
f. Kelancaran Pengadaan Pengukuh Idaman
Perlu dipikirkan cara-cara pengadaan pengukuh, sebab banyak program
kepingan terbentur pada pengadaan pengukuh idaman ini. Tanpa pengukuh
idaman yang berharga, kepingan sebagai pengukuh akan tidak efektif.
Pengukuh idaman yang berupa benda atau barang sering kesulitan dalam
pengadaan karena berhubungan dengan harga. Untuk itu berbagai jalan harus
ditempuh misalnya, mengumpulkan dana/barang dari orang tua murid, dari
g.

dermawan, dari perusahaan-perusahaan, bila ini program untuk sekelompok anak.


Pemasaran Pengukuh Idaman
Tidak berbeda dengan pemasaran barang di dunia ekonomi tertutup, maka
pemasaran pengukuh idaman perlu memperhitungkan hukum penawaran dan
permintaan. Makin banyak permintaan suatu barang / aktivitas, makin dapat
dipasang harga tinggi nilai tukarnya. Artinya, pengukuh yang banyak peminatnya
berharga lebih tinggi daripada pengukuh yang tidak banyak minatnya. Demikian
juga, bila sempit pilihan yang disediakan, makin tinggi jumlah peminatnya
daripada bila disediakan pilihan yang luas. Harga pengukuh ini dapat diubahubah. Misalnya suatu saat bermain kelereng lebih berharga daripada bermain

karambol, atau sebaliknya.


h. Jodohkan Pemberian Kepingan dengan Pengukuh Sosial Positif
Bila aktivitas / tindakan sosial positif telah efektif sebagai pengukuh, tentu
tidak dibutuhkan program kepingan. Salah satu tujuan yang harus dicapai dalam
penggunaan kepingan adalah agar subjek dapat berpindah dari pengukuh
kepingan ke pengukuh sosial. Oleh karena itu pemberian kepingan hendaknya
bersama-sama dengan pengukuh sosial. (Martin dan Pear, 1992)
Ketika Ardi (anak Debil) telah berhasil membenahi kamar tidurnya: Nah,
begitulah. Kamarmu sudah kau benahi. Ini kepinganmu, dengan menunjukkan
senyum dan muka senang.
Senyum dan muka senang merupakan pengukuh sosial yang sengaja
dipasangkan dengan pengukuh kepingan yang diberikan kepada Ardi.Dengan
20 | Modifikasi Perilaku

merencanakan memasangkan kepingan dengan pengukuh sosial positif ini, juga


melatih pengelola subjek (guru, terapis, atau petugas) untuk memberi
penghargaan pada perilaku subjek. Ada kemungkinan sebelum program kepingan
berjalan, pengelola subjek kurang memberi penghargaan / pengakuan terhadap
usaha subjek tetapi malah mencela bila subjek bila ia tidak berusaha. Jadi,
program kepingan dapat mendidik ketrampilan social pengelola maupun
subjek.Dengan berpindah dari pengukuh kepingan ke penukuh sosial, pengukuh
ini dapat diterapkan pada perilaku-perilaku lain yang tidak dikenai program
kepingan.
i. Perhitungkan Efeknya Terhadap Orang Lain
Program tabungan kepingan seyogyanya melibatkan satu kelompok. Karena
itu perlu diusahakan agar mereka ikut membantu subjek memperoleh kepingan,
yang bila sampai jumlah tertentu seluruh kelompok akan ikut menikmati
pengukuhnya. Namun perlu dijaga, agar mereka tidak mendorong terlalu keras
atau mengancam subjek.
j. Perlu Persetujuan Berbagai Pihak
Pelaksanaan program tabungan kepingan mengganggu dan mericuhi acara
program utama yang ditumpanginya. Karena itu perlu ijin pelaksanaan dari
orangtua, guru, kepala sekolah, dan orang-orang lain yang mengelola program
yang ditumpangi. Misalnya program tabungan kepingan untuk menekan perilaku
merusak yang diterapkan ketika sedang belajar berhitung. Guru pelajaran
berhitung jangan sampai merasa terganggu karena pelaksanaan program ini.
Gangguan ini timbul karena kadang-kadang
subjek terlalu banyak
mencurahkan perhatian pada program kepingan sehingga tugas-tugas lain
terganggu. Pemberian benda sebagai imbalan juga sering tidak disetujui, dengan
anggapan mendidik anak jadi materialistis.
k. Perlu Kerjasama Subjek
Program tabungan kepingan sulit berhasil bila tidak ada komunikasi yang jelas
dengan subjek. Makin jelas aturan main, makin setuju subjek pada program yang
akan dilaksanakan, makin lancar pelaksanaan program dan makin efektif
hasilnya.
Bagi anak-anak bentuk kepingan yang menarik dapat menambah gairah
mengumpulkannya. Pengukuh idaman dapat direklamekan dengan gambargambar untuk mengingatkan dan memikat subjek agar lebih giat berusaha.
l. Perlu Latihan Bagi Pelaksana
Program tabungan kepingan sering membutuhkan bantuan dalam
pelaksanaannya, misalnya guru yang lain, orangtua, perawat, atau oranglain,
21 | Modifikasi Perilaku

maka pelaksana tersebut perlu mendapat latihan-latihan dan pengetahuan yang


diperlukan dalam pelaksanaan program tabungan kepingan. Latihan tersebut
berhubungan dengan ketepatan dalam mengamati perilaku yang muncul,
ketepatan dalam memberikan kepingan, ketepatan dalam menukarkan nilai
kepingan

dengan

pengukuhannya,

dan

kepekaannya

terhadap

perilaku

pengganggu yang lain.


m. Perlu Pencatatan
Pencatatan cermat mengenai frekuensi-sasaran dan perilaku lain perlu
dilakukan. Selain ini mungkin dibutuhkan sebagai pertanggungjawaban, juga
untuk mendeteksi keberhasilan program. Bila program tidak berhasil mencapai
sasaran, perlu dilakukan perubahan bahkan mungkin dihentikan.
n. Kombinasi dengan Prosedur Lain
Sebaik apapun program tabungan kepingan, nilai fantasinya mesti ada,
sehingga diperlukan penerapan bersama dengan program yang lain. Program
kepingan dapat dikombinasikan dengan program lain, seperti denda dan
penyisihan. Meskipun dapat meningkatkan efektivitas, kombinasi dengan
program yang menggunakan stimulus aversif perlu pertimbangan mengenai efek
sampingnya.
Misalnya, yang paling menyusahkan dalam mengelola Tining dan Aji ialah
bila mereka berebut. Maka dalam program kepingan untuk mereka berdua
ditetapkan : siapa yang merebut hak / milik orang lain (tempat duduk, mainan,
giliran, dan lain-lain yang biasa mereka perebutkan) akan didenda 2 materai.
o. Follow-up dan Penundaan Pengukuhan
Bila program kepingan telah berhasil meningkatkan perilaku, sedang
pengukuh social belum dapat menggantikan keseluruhan program kepingan,
maka perlu diadakan latihan penundaan pemberian kepingan. Ini mirip dengan
praktek pemberian upah mingguan. Misalnya dalam panti asuhan anak, subjek
harus membersihkan kamar, mengatur tempat tidur, mandi dan merapihkan diri
sebelum mendapat sejumlah kepingan, pujian.
2.4 PELATIHAN ASERTIVITAS
1. Konsep Dasar Pelatihan Asertivitas
Asertivitas mempunyai makna kemampuan dan kemauan untuk menyatakan
secara langsung berdasarkan kondisi interpersonalnya. Pada situasi interpersonal,
individu sering dihadapkan pada situasi yang mengalami kesulitan untuk menyatakan
atau menegaskan pendirian dirinya adalah tindakan yang layak dan benar.
Pelatihan asertivitas adalah prosedur pengubahan perilaku yang mengajarkan,
membimbing, melatih, dan mendorong klien untuk menyatakan dan berperilaku tegas
22 | Modifikasi Perilaku

dalam situasi tertentu (Walter, et.al. 1981). Klien diajarkan untuk menguasai
perilakunya dalam menghadapi perilaku yang problematik untuk meningkatkan
efektivitas kehidupan dan mencegah kecemasan.
Misalnya Ani diajak makan oleh temannya; padahal pada waktu yang sama Ani
mempunyai tugas yang lebih penting, yaitu menylesaikan PR-nya. Ani menuruti
ajakan teman dengan perasaan gundah dan bingung kalau PR-nya tidak selesai,
padahal ia ingin sekali menyelasaikan PR tersebut. Dalam kasus seperti ini Ani
berada dalam kondisi tidak asertif. Lain halnya bila Ani memberikan jawaban
Maaf, saya ada acara yang harus saya selesaikan sekarang!, dalam kasus ini Ani
dalam kondisi Asertif.
Pada masyarakat kita, perilaku tidak asertif sering kali muncul dan terbentuk
melalui tata krama yang diajarkan oleh orang tua atau masyarakat di sekitarnya. Hal
ini tampak lebih kental pada masyarakat jawa dengan berbagai ajaran tentang
sopan santun, andhap asor, tabu bila berterus terang, dan sebagainya. Pada tingkat
tertentu perilaku ini memang menjadi tidak asertif, dan akhirnya akan merugikan
dirinya sendiri.
2. Prinsip-prinsip Pelatihan Asertivitas
Menurut Getald Corey (1997), latihan asertivitas akan membantu bagi orangorang yang (a) tidak mampu mengungkapakan kemarahan dan perasaan tersinggung;
(b) menunjukkan kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk
mendahuluinya; (c) memiliki kesulitan untuk mengatakan tidak; (d) mengalami
kesulitan untuk mengungkapkan afeksi dan respon-respon positif lainnya; dan (e)
merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran sendiri.
Perilaku asertif adalah perilaku interpersonal yang melibatkan aspek kejujuran dan
keterbukaan

pikiran

dan

perasaan.

Perilaku

asertif

dilakukan

dengan

mempertimbangkan perasaan dan kesejahteraan orang lain. Cristoffs Kelly dalam


Singgih D. Gunarso (1992), mengemukakan bahwa perilaku asertif dapat digolongkan
menjadi tiga kategori, yaitu :
a. Asertif Penolakan
Asertif penolakan dapat dilakukan dengan halus, misalnya maaf. Pada anak
hiperaktif, guru atau terapis dapat melakukan dengan tegas, misalnya jangan!,

23 | Modifikasi Perilaku

tidak boleh!. Pada anak dapat dilakukan untuk menyatakan Maaf, saya tidak
mau!, Jangan diambil, itu milikku!, Todak boleh!.
b. Asertif Pujian
Asertif pujian ditandai dengan kemampuan untuk mengekspresikan perasaan
setuju, cocok, senang, mencintai, mengagumi, memuji, dan bersyukur. Perilaku ini
lebih diarahkan pada kemampuan mengapresiasikan sesuatu atau peristiwa yang
dialami dalam dirinya. Misalnya : Saya mencintaimu!; Wah, ini cocok untuk
kamu!, dsb.
c. Asertif Permintaan
Asertif permintaan merupakan ltihan untuk meminta orang lain melakukan
sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu tanpa tekanan atau paksaan. Misalnya :
Apakah Bapak mau membantu saya menjelaskan penerapan rumus matematika
ini?, dan sebagainya.
3. Implementasi Pelatihan Asertivitas
Pelatihan asertivitas menggunakan prosedur bermain. Bermain merupakan
kegiatan

yang

dilakukan

untuk

kesenangan

yang

ditimbulkan

tanpa

mempertimbangkan hasil akhir, dilakukan dengan sukarela dan tidak ada paksaan atau
tekanan dari luar (Hurlock, 1993). Johnson dan Ershler (dalam Hendrick, 1991)
memberikan batasan bermain sebagai perilaku yang didorong oleh motivasi dari
dalam, memilih kegiatan secara bebas, berorientasi pada proses, dan mendapatkan
kesenangan dalam kegiatan tersebut.
Ada dua bentuk bermain yang sering digunakan dalam pelatihan asertivitas,
yaitu pretend play (pemain pura-pura) dan bermain peran (Purwandari dan Tin
Suharmini, 2002). Pretend play atau permainan pura-pura merupakan permainan aktif
yang dulu banyak dilakukan anak-anak. Permainan ini hampir serupa dengan
permainan sisiodrama, namun lebih menekankan pada alat permainan, misalnya
permainan pasar, dokter dan rumah sakit, kemah, perjalanan, sekolah, dan lain-lain.
Setting yang dipilih untuk permainan biasanya sesuai denga perkembangan jaman dan
minat anak. Menurut Hendrich (1991) setting sudah dikelompokkan dalam kelompok
permainan tertentu, misalnya alat-alat yang digunakan dalam permainan perjalanan
adalah tiket pesawat, peta, majalah, makanan kecil, topi untuk Pilot dan Co-Pilot.
Anak-anak yang bermain bebas berdialog mengenai tujuan penerbangan atau segala
sesuatu yang terjadi. Dari sinilah anak belajar berkomunikasi dengan yang lain,
mengungkapkan perasaan secara langsung, jujur, dan belajar berpikir mengenai
rencana perjalanan yang akan dilakukan.

24 | Modifikasi Perilaku

Di dalam permainan ini jelaslah nampak bahwa anak seolah-olah menghadapi


dunia nyata sebagai perannya. Anak dapat mengekspresikan segala harapan,
keinginan, cita-cita, hambatan dalam permainan ini, sehingga dapat meningkatkan
keterampilan sosial anak dalam kehidupan sehari-hari.
Manfaat permainan pura-pura selain diperolehnya kesengangan adalah
meningkatkan kemampuan berbahasa anak, karena perbendaharaan kata menjadi
meningkat; kemampuan menyatakan perasaan secara terus terang, karena anak tidak
terhambat dalam berekspresi; dan secara kognitif anak mampu memahami berbagai
situasi atau permasalahan yang timbul dalam permainan dan mampu memecahkannya.
Penelitian tentang penggunaan permainan pura-pura telah banyak dilakukan,
terutama untuk mengurangi gangguan emosi anak. Anak tunalaras mempunyai
gangguan emosi, sehingga mengalami problem perilaku. Penelitian Dewi Retno
Suminar (1997) dan Purwandari dan Tin Suharmini (2002), menunjukkan bahwa
permainan pura-pura efektif untuk mengurangi perilaku menyimpang seperti
mengancam, berbicara kotor, melempar kapur kepada guru, memaki-maki (agresif),
kecemasan, dan anak withdrawal untuk berterus terang.
Bentuk bermain lainnya yang dipergunakan dalam pelatihan asertivitas adalah
prosedur-prosedur bermain peran. Suatu masalah yang khas yang biasa dikemukakan
klien dalam menghadapi atasannya di kantor. Misalnya, klien mengeluh bahwa ia
acap kali merasa ditekan oleh atasannya untuk pertama-tama klien memainkan peran
sebagai atasan member contoh bagi terapis, sementara terapis mencontoh cara
berpikir dan cara klien menghadapi atasannya. Kemudian mereka saling menukar
peran sambil klien mencoba tingkah laku baru dan terapis memainkan peran sebagai
atasannya. Pada saat klien mampu menunjukkan perilaku asertif terhadap sikap yang
semestinya dilakukan klien, saat itu juga terapis segera memberikan pengukuh.
Misalnya, Bagus!, ternyata kamu cukup tegas!
Tingkah laku menegaskan diri pertama-tama dipraktekkan dalam situasi
bermain peran, dan dari sana diusahakan untuk digeneralisasikan ke situasi-situasi
kehidupan yang nyata. Pelatihan asertivitas banyak direkomendasikan pada anak yang
mengalami Social Withdrawal. Pada anak ini dapat dilaksanakan secara individual,
maupun kelompok, yaitu melalui bermain peran. Catatan yang perlu diperhatikan
dalam melaksanakan pelatihan ini adalah bahwa perilaku yang akan diubah harus
dirumuskan lebi dahulu. Misalnya berani menyatakan tidak mau, maka focus
pelatihan juga hanya pada perilaku tersebut.

25 | Modifikasi Perilaku

2.5 PROSEDUR AVERSI


1. Konsep Dasar Prosedur Aversi
Prosedur aversi telah digunakan secara luas untuk mengurangi atau bahkan
menghilangkan gangguan perilaku yang spesifik, melibatkan pengasosiasian tingkah
laku simtomatik dengan suatu stimulus yang menyakitkan atau tidak menyenangkan
sampai tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat kemuncullanya (Corey, 1997).
Kendali prosedur aversi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu penarikan atau tidak
menghadirkan pengukuh positif dan penggunaan berbagai bentuk hukuman. Contoh
penarikan pengukuhan positif adalah mendiamkan atau mengabaikan kemarahan anak
yang meledak-ledak tat kala anak sedang marah agar kebiasaan marahnya hilang; atau
mendiamkan anak yang cengeng agar kebiasaan cengeng anak hilang.
Contoh penggunaan hukuman pada prosedur aversi misalnya pemberian
kejutan listrik kepada anak autism ketika tingkah laku spesifik yang tidak diinginkan
muncul; pemberian obat mual kepada peminum alcohol untuk mengurangi keinginan
untuk minum alcohol; memberikan hadiah sesuatu yang tidak menyenangkan kepada
seseorang.
2. Prinsip-Prinsip Prosedur Aversi
Prosedur aversi adalah metode yang banyak digunakan para ahli terapi
perilaku sebagai metode untuk membawa orang-orang kepada tingkah laku yang
diinginkan. Sebagian besar lembaga social menggunakan prosedur aversi untuk
mengendalikan para nanggotanya dan untuk membentuk perilaku individu agar sesuai
dengan apa yang telah digariskan.
Dalam setting yang lebih formal dan teraputik prosedur aversi digunakan
dalam penanganan berbagai tingkah laku maladaptive, mencakup minum alcohol
secara berlebihan, ketergantungan obat bius, merokok, kompulsi, fetisisme, berjudi,
homoseksualitas, dan penyimpangan seksual yang lain (Corey, 1997). Prosedur aversi
merupakan metode utama dalam penanganan alkoholisme. Seorang alkoholik tidak
dipaksa untuk menjauhi diri dari alcohol, tetapi justru disuruh meminum alcohol.
Akan tetapi setiap tegukan alcohol disertai dengan pemberian ramuan yang membuat
si alkoholik merasa mual dan kemudian muntah. Si alkoholik lambat laun akan
merasa sakit, bahkan meskipun hanya melihat botol alcohol saja ia merasa sakit. Bila
ini sudah terjadi, maka ia akan berangsur-angsur akan menghentikan minum alcohol.
Namun demikian perlu diperhatikan kemungkinan terjadi spontaneous recovery
(kembali secara spontan) bila masa penahanan diri hanya berjalan singkat.
26 | Modifikasi Perilaku

Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam prosedur aversi adalah (Corey,
1997) sebagai berikut:
a. Prosedur aversi menyajikan cara-cara menahan respons-respons maladaptive
dalam suatu periode, sehingga terdapat kesempatan untuk memperoleh tingkah
laku alternative yang adaptif dan yang akan terbukti memperkuat dirinya sendiri.
b. Prosedur aversi yang menggunakan hukuman sedapat mungkin dikurangi, bila ada
alternative lain yang lebih mengarah pada pengukuh positif. Bila terpaksa
menggunakan hukuman, hindari cara-cara yang mengakibatkan klien merasa
ditolak secara pribadi.
c. Klien dibantu agar ia mengetahui bahwa kosekuaensi-konsekuensi aversi
diasosiasikan hanya dengan tingkah laku maladaptive yang spesifik, bukan
tingkah laku pada umumnya.
Menurut Kanfer dan Phillips (1970) dan Walker, at.al. (1981) menyatakan bahwa ada
tiga paradigm prosedur aversi dasar, yaitu:
a. Hukuman: stimulus yang tidak menyenangkan diberikan dengan segera bila
munculnya respon dengan tujuan mengurangi terjadinya perilaku yang menyertai
tidak diinginkan secara khusus.
b. Melarikan diri dan menghindar: pada kondisi melarikan diri stimulus yang tidak
diingikan diakhiri pada saat terjadinya pola respon yang diinginkan telah dipilih
sebelumnya; sedangkan kondisi menghindar terjadi pada saat perilaku yang
diinginkan dan telah dipelajari mencegah munculnya perilaku yang tidak
diinginkan dan telah dipilih sebelumnya.
c. Kondisioning klasik: suatu stimulus yang tidak diinginkan dipasangkan dengan
stimulus lain yang dipilih; pada akhirnya menghasilkan stimulus lain yang
memperoleh sifat yang menyebabkan reaksi-reaksi yang tidak menyenangkan
sama dengan reaksi yang ditimbulkan oleh stimulus yang tidak diinginkan.
3. Implementasi Prosedur Aversi
Meskipun prosedur aversi dapat mengontrol perilaku dengan berbagai cara,
prosedur aversi tersebut pada dasarnya digunakan dengan dua alasan (Walker, et.al
(1981), yaitu pertama, prosedur aversi digunakan untuk mengurangi atau menghambat
perilaku yang tidak diinginkan dengan memberikan konsekuensi-konsekuensi aversi
sesuai dengan perilaku yang muncul. Kedua; prosedur aversi digunakan untuk
membuat stimulus menyenangkan menjadi kurang menarik dengan menghubungakan
stimulus itu dengan beberapa stimulus yang tidak diinginkan dan telah dipilih
sebelumnya.
27 | Modifikasi Perilaku

Walter & Grusec (1977), menyatakan bahwa hukuman dapat efektif dalam
menekan perilaku, bahkan dapat berfungsi sebagai pengukuh yang kuat. Namun
demikian, penggunaan hukuman sebaiknya dilakukan secara etis sehingga dapat
diterima oleh subjek sebagai upaya perbaikan dalam dirinya. Beberapa proble
perilaku yang berupa kecanduan alcohol, kecanduan narkotika, berjudi, agresif baik
fisik maupun verbal, serta pelupa, obisitas dapat dimodifikasi secara efektif melalui
prosedur aversi (Edi Purwanta, 1998).
2.6 PROSEDUR RILEKSASI
1. Konsep Dasar Prosedur Releksasi
Prosedur rileksasi merupakan prosedur atau teknik yang digunakan untuk
mengurangi tekanan darah dan perasaan cemas dengan melatih klien untuk dapat
santai melalui kesanggupan mengendorkan otot kapan saja mereka menghendaki.
Sasaran prosedur rileksasi adalah mengurangi tingkat kecemasan individu secara
umum, membuat senang, dan pernyataan nyaman (Walker, et.al. , 1981).
Asumsi umum yang mendasari prosedur rileksasi adalah bahwa orang dapat
terganggu oleh persoalan-persoalan yang mencemaskan dan selalu mendorong serta
mempengaruhi system saraf sentral, sehingga mempengaruhi tekanan darah. Keadaan
ini dapat berulang secara intensif, sehingga merupakan stimulus terhadap kecemasan
yang ada menjadi lebih meningkat. Untuk menguranginya dapat dilakukan dnegan
memotong siklus yang mempengaruhi kecemasan. Pemotongantersebut dapat dimulai
dengan pengendoran otot, baik partial maupun keseluruhan secara berulang-ulang.
Keadaan ini bias dilakukan dengan rileks akan menurunkan tensi secara progresif.
Turunnya tensi akan mempengaruhi system saraf sentral sehingga rasa cemas
berangsur-angsur akan berkurang.
2. Prinsip-prinsip Prosedur Rileksasi
Prosedur rileksasi telah banyak digunakan pada klien yang mengalami gangguan
dengan symptom psikosomatis, diantaranya adalah sakit kepala (migrant), ulcer
(tukak lambung), exzim. Selain itu prosedur rileksasi dapatt juga untuk membantu
sebjek yang mengalami insomnia, hiperaktif, gangguan bicara, phobia.Ada beberapa
prinsip yang perlu diperhatikan dalam penerapan prosedur rileksasi, (Walker, et.al.,
1981), yaitu:
a. Subjek perlu disadarkan akan kebutuhan rileksasi sebagai upaya untuk
mengurangi kecemasan yang selama ini dialaminya.
b. Prosedur rileksasi akan lebih efektif bila subjek mampu melakukan self-control.

28 | Modifikasi Perilaku

c. Situasi sekitar, ruangan, peralatan lain yang digunakan termasuk terapis mampu
menjamin subjek untuk bebas dalam berekspresi, sehingga subjek dapat bergerak
dengan leluasa.
d. Rileksasi dapat dilakukan bagian per bagian tubuh mulai dari yang paling mudah
dengan menggerak-gerakkan otot tangan, kaki, leher, baru secara keseluruhan.
3. Implementasi Prosedur Rileksasi
Untuk memulai latihan rileksasi, subjek dapat disuruh berbaring pada suatu kursi
atau dipan yang nyaman dan bebas dari pengaruh aktivitas lain. Situasi ruangan
dijamin sepi, dan sinar lampu tidak langsung mengenai mata. Terapis meminta subjek
untuk mulai merileksasikan kelompok otot tertentu, misalnya tangan, lengan, kaki,
muka (mata terpejam), baru secara keseluruhan. Terapis seyogyanya menggunakan
suara yang tenang, lembut, dan volume yang rendah.
Misalnya:Baiklah! Silahkan sekarang tidur telentang dengan tangan diletakkan
disamping badan, telapak tangan menghadap ke atas. Kaki membujur bebas dan mata
dipejamkan sambil menarik napas kuat dan dihembuskan dengan pelan; mata
dipejamkan, sambil tarik napas dan hembuskan dengan pelan. Coba ulangi tiga kali
Setelah mengikuti perintah, jika subjek belum rileks, perintah dapat diulangi dan
menyuruh subjek untuk lebih santai dari pada waktu pertama. Sampai subjek
mendapatkan perasaan rileks dan nyaman.
Prosedur rileksasi dapat dikombinasikan dengan prosedur modifikasi perilaku
yang lain. Prosedur ini dapat medahului prosedur yang lain atau diberikan setelah
prosedur yang lain diterapkan.
2.7 PENGELOLAAN DIRI
1. Konsep Dasar Pengelolaan Diri
Terminologi yang sama dan digunakan dalam modifikasi perilaku dan terapi dari
pengelolaan diri adalah Self Control. Pengelolaan diri dalam arti luas ialah prosedur
dimana seseorang mengarahkan atau mengatur perilakunya sendiri (Soertarlinah
Soerkadji, 1983). Pada prosedur ini biasanya subjek terlibat langsung minimal pada
beberapa kegiatan atau seluruh lima kegiatan (komponen) dasar yaitu : menentukan
perilaku sasaran, memonitor perilaku tersebut, memilih prosedur yang akan
diterapkan, melaksanakan prosedur tersebut, dan mengevaluasi efektivitas prosedur
tersebut.
Pada umumnya perilaku sasaran yang dipilih mengandung suatu aspek yang
dinikmati oleh subjek. Misalnya : exhibisionis, ketagihan (kecanduan) obat-obatan
atau orang yang senang mengambil barang oranglain (kleptomani). Ada dua perilaku
yang saling bertentangan pada diri subjek, yaitu mengeluh kesengsaraan (sebab
29 | Modifikasi Perilaku

banyak konsekuensi aversif yang diterimanya), dan ingin menghilangkannya, tetapi


perilaku ini juga mengandung aspek yang menyenangkan atau yang memuaskan bagi
dirinya sebagai akibat dari pengukuhan perilakunya. Umumnya pengukuhan ini
terjadi dengan segera, sedang hukuman terjadi setelah tertunda.
Beberapa wanita Amerika mengingatkan rekan mereka yang suka makan coklat
yang menggemukkan It stays one minute in your mouth, one year in your hip.
Enaknya makan coklat memang terasa segera setelah masuk mulut ; kegemukkan baru
terasa kemudian, setelah kumpulan lemak tertimbun dipantat. (Soertarlinah Soerkadji,
1983)
Dari contoh kasus diatas, tampak ada hambatan pertama yang harus disisihkan
ialah menanggulangi godaan aspek yang menyenangkan ini. Kadang-kadang godaan
ini cukup memikat sehingga subyek berusaha agar tidak terhindar dari konsekuensi
aversif yang akan dideritanya. Pengelolaan diri tidak mungkin disarankan bagi subyek
yang tidak yakin bahwa tujuan pengelolaan ini bermanfaat baginya, atau tidak yakin
bahwa program ini dapat mencapai sasaran; misalnya bila perilaku ini sudah lama
diderita, atau kekhawatiran akan kemungkinan kebahagian hidup yang diperoleh
dengan gaya hidup cara lama akan ikut hilang. Karena itu seorang terapis perlu
dengan usaha; menanamkan kesediaan dan motivasi pada klien/pasien. Banyak hal
dapat mempengaruhi kesediaan subyek. Misalnya pada seorang wanita yang
kegemukan, mempengaruhi kesehatan, dapat menyebabkan baju-baju favorit terbuang
karena kekecilan, pengaruh banyak teman memutuskan untuk diet dapat
mempengaruhi motivasi untuk ikut diet.
Beberapa problem dalam kehidupan sehari-hari dapat ditangani dengan
pengelolaan diri, antara lain (Sutarlinah Soekadji, 1983; Walker, 1981) :
a. Perilaku tidak menyangkut orang lain secara meluas, tetapi menganggu dalam
kehidupan diri sendiri; hubungan suami-isteri, hubungan dengan anak, hubungan
dengan teman dekat. Misalnya : perilaku yang bersifat pribadi seperti perilaku sex,
pikiran-pikiran yang timbul pada saat sendirian (Ida sehabis menonton film horor,
selalu timbul pikiran ada sesuatu yang menakutkan dikamarnya), tukak lambung,
ketergantungan alkohol, hipertensi, insomnia, kesulitan belajar spesifik,
kecemasan, obsesi kompulsi dan sebagainya.
b. Perilaku yang sering timbul dan timbulnya tidak menentu saatnya, sehingga
pengontrolan dari orang lain kurang ekonomis. Misalnya : menghentikan
merokok, menghentikan dorongan untuk terus menerus makan.
c. Perilaku sasaran terbentuk verbal, yang berkaitan dengan evaluasi diri, reaksi diri,
atau kontrol diri. Misalnya terlalu mengkritik diri sendiri : Ah. Cuma saya saja,
30 | Modifikasi Perilaku

siapa yang perduli ?, selalu menyalahkan diri sendiri terus menerus : Memang
saya jelek, saya tidak tampan.
d. Perilaku yang berhubungan dengan tanggung jawab perubahan atau pemeliharaan
perilaku

harus

dipegang

sendiri.

Misalnya

menulis

karangan/tesis/skripsi/desertasi, mendidik diri sendiri (autodidak) baik pada


remaja, maupun pada orang dewasa yang bertekat meningkatkan diri.
Dalam pengelolaan diri hampir seluruh kegiatan dapat diserahkan kepada subjek,
terapis berperan sebagai pencetus gagasan, fasilitator yang membantu merancang perilaku
yang akan dikukuhkan, memberikan pengukuhan dan motivator gagasan.Pada aspek lain,
terapis dapat diminta bantuannya untuk memonitor perubahan yang terjadi pada diri klien.
2. Prinsip prinsip Pengelolaan Diri
Ada beberapa persyaratan yang perlu diperhatiakn dalam menggunakan pengelolaan
diri, yaitu berhubungan dengan perilaku subjek itu sendiri dan lingkungan subjek.
Perilaku subjek yang akan memprakarsai pengelolaan diri harus memenuhi lima hal
(Walker,1981), yaitu :
a. Sasaran perilaku harus dinyatakan dengan jelas. Misalnya : mengurangi rokok
lima batang sehari.
b. Perilaku alternatif

sebagai

treatmen

perlu

diidentifikasi

kemungkinan

keterlaksanaanya dalam jangkauan si subjek. Misalnya : mengganti dengan


permen, mengambil buku yang diminati untuk dibaca.
c. Perilaku pilihan harus ditawarkan kepada subjek, lebih diutamakan perilaku yang
diusulkan oleh si subjek. Dalam bagian ini Prinsi Premac dapat diterapkan
sebagai pengukuh. Misalnya bila ia berhasi mengurangi rokok, ia dapa melihat
film yang paling ia sukai (lewat VCD)
d. Tujuan treatmen harus dapat diamati dengan jelas dan dapat diukur.
e. Subjek harus diberi kemudahan dalam berkonsultasi manakala memerlukan
bantuan dalam mengevaluasi atau melaksanakan treatmen.
Dari sisi lingkunga, pengelolaan diri memerlukan pengaturan lingkungan agar
mempermudah terlaksananya. Pengaturan lingkungan ini terutama dibutuhkan untuk
menghilangkan anteseden maupun dukungan atau pengukuhan terhadap perilaku yang
akan dikurangi. Pengaturan lingkungan ini dibutuhkan, paling tidak pada permulaan
program. Pengaturan lingkungan dapat berupa (Soetarlinah Soekadji, 1983) :
a. Mengubah lingkungan fisik sedemikian rupa sehingga perilaku yan tidak dikehendaki
sulit atau tidak mungkin dilaksanakan.
31 | Modifikasi Perilaku

Bagi orang yang suka ngemil, diatur sedemikian rupa sehingga tidak ada
persediaan makanan kecil dirumah. (Ibu-ibu biasanya membuat alasan : persedian
bagi tamu)
Bagi orang yang suka nyomot barang ditoko, diatur agar ia tidak pergi ke toko bila
perlu, dan ini pun harus dikawal oleh orang lain.
b. Mengubah lingkungan sosial sedemikian rupa sehingga lingkungan sosial ikut
mengontrol perilaku subjek, paling tidka diharapkan tidak menimbulkan godaan :
Tekad diet akan luntur bila keluarga dirumah suka kumpul-kumpul makan besar
bersama, yang bila subjek tidak ikut akan merasa tersisih dari keluarganya.
c. Mengubah lingkungan atau mengubah kebiasaan sehingga perilaku yang tidak
dikehendaki hanya dapat berlangsung atau hanya boleh berlangsung pada saat dan
tempat tertentu saja :
Bagi orang yang harus mengurangi frekuensi makan, diatur hanya makan pada saat
tertentu dan ditempat tertentu. Misalnya sehari makan dua kali pagi dirumah dan
sore jam 16.00 dirumah juga.
Banyak mahasiswa lebih berhasil belajar diperpustakaan sebab perpustakaan
berasosiasi dengan membaca dan belajar
d. Mengubah keadaan dari fisik atau fisiologis, agar menimbulkan perubahan perilaku :
Mita yang selalu terganggu keinginan berbaring sambil membaca majalah waktu
belajar, mengatur lingkungan diri sendiri demikian : pada waktu belajar ia
berpakaian lengkap sampai kaos kaki dan sepatu, seperti bila belajar diperpustakaan
sekolah.
3. Implementasi pengelolaan diri
Pengelolaan diri paling tidak ada empat tahap (Soetarlinah Soekadji, 1983) yaitu
tahap monitor diri atau observasi diri, tahap pengaturan lingkungan tahap evaluasi diri
dan tahap pemberian pengukuh, penghapusan atau hukuman.
a. Tahap Monitor atau Observasi
Dalam tahap ini subjek dengan sengaja dan cermat mengamati perilaku sendiri
dan mencatat jenis, waktu, durasi perilaku yang ada pada diri subjek yang akan
dimodifikasi. Pada tahap ini subjek kadang-kadang minta bantuan terapis untuk
memilih cara pencatatan atau perekanam perilaku yang praktis. Misalnya dapat
berbentuk format atau formulir.Pencatatan data ini penting sekali untuk melihat
perubahan dengan cermat, sehingga tidak menimbulkan kekeliruan kesan bahwa
ada perubahan perilaku yang sebenarnya hanya harapan saja.
Kadang kadang pencatatan data perilaku saja sudah menimbulkan perilaku
ini berubah frekuensinya. Mungkin ini disebabkan subjek lebih menyadari
perilakunya (yang tadinya bersifat automatis), atua mungkin juga sudah ada
32 | Modifikasi Perilaku

pengukuhan atau hukuman terharap diri sendiri pada saat mencatat perubahan
perilaku. Makin cermat dalam mengobservasi perilaku dan memonitornya hasil
perilaku yang diharapkan akan lebih baik.
b. Mengatur Lingkungan
Lingkungan perlu diatur sehingga dapat mengurangi atau bahkan meniadakan
perilaku-perilaku

yang

memungkinkan

mendapatkan

pengukuhan

segera.

Pengaturan lingkungan juga bertujuan untuk memilih perilaku aversi yang


mungkin dapat ditimbulkan. Misalnya bila akan mengurangi rokok, dikamar atau
diruangan rumah tidak ada asbak, korek, dibebaskan dari putung rokok, diberi
pewangi untuk menghilangkan bau rokok, gambar rokok dihingkan dari kamar
dsb.
c. Tahap Evaluasi Diri
Dalam tahap ini subjek membandingkan apa yang tercatat sebagai kenyataan
dengan apa yang seharusnya dilakukan. Catatan data observasi-perilaku yang
teratur sangat penting untuk mengevaluasi efisiensi dan efektivitas program. Bila
evaluasi data menunjukkan bahwa program tidak berhasil, maka perlu ditinjau
kembali. Letak kegagalan mungkin pada tidak cocoknya perilaku sasaran,
pengukuh, atau prosedurnya yang harus ditinjau kembali. Kadang-kadang
semuanya ini sudah merupakan pilihan yang tepat, tetapi prosedur tidak
dilaksanakan sebagai mana mestinya.Iwan telah berhasil tidak merokok dalam
waktu sehari. Ternyata hadiah yan harus ia berikan sendiri tidak terpenuhi : Ia
lupa memuji diri sendiri.
d. Tahap Pemberian Pengukuh, Penghapusan, atau Hukuman.
Tahap ini diperlukan kemauan diri yan kuat untuk menentukan dan memilih
pengkuh apa yang perlu segera dihadirkan, atau perilaku mana yang segera
dihapus, dan bahkan hukuman diri sendiri apa yang harus segera ditetapkan.
Orang dewasa biasanya lebih konsekuen terhadap program yang telah ditetapkan
dirinya. Bagi anak- anak sering diperlukan pengawasan agar komitmen dirinya
dapat terjaga.
2.8 PELATIHAN KETERAMPILAN SOSIAL
1. Konsep dasar pelatihan keterampilan social
Menurut Baron dan Byrne (1994) bahwa keterampilan social merupakan wujud
dari perilaku social. Perilaku social dapat terbentuk melalui kondisi-kondisi yang
meliputi tindakan, perasaan, kepercayaan, ingatan, dan penarikan kesimpulan tentang
orang lain. Di bagian lain, Wentzel dan Erdley (1993), Purwandari, (1997)
mengatakan bahwa perilaku seseorang dapat dihubungkan dengan strategi berteman.
33 | Modifikasi Perilaku

Strategi berteman merupakan salah satu aspek kemampuan social yang merupakan
pengetahuan untuk menyelesaikan masalah-masalah interpersonal dengan cara yang
efektif dan adaptif.
Lebih lanjut Wentzel dan Erdley (1993) menjelaskan bahwa strategi berteman
yang memadai meliputi lima kategori hal-hal yang harus dilakukan dalam berteman,
yaitu :
a. Inisiatif, terdiri dari mempelajari tentang temannya, memulai perilaku prososial
meliputi mengenalkan dirinya sendiri, memulai pembicaraan, melakukan kegiatan
bersama.
b. Bersikap menyenangkan, menjadi orang yang menyenangkan, ramah, dan penuh
perhatian.
c. Perilaku prososial, meliputi kejujuran dan sifat dapat dipercaya, bermurah hati,
berbagi rasa dan dapat di ajak bekerjasama.
d. Menghargai diri sendiri dan orang lain, terdiri dari menhargai orang lain dan
memiliki kebiasaan yang baik, sopan, menjadi pendengar yang baik, memiliki
sikap dan kepribadian yang positif, menjadi diri sendiri dan meningkatkan reputasi
diri.
e. Memberikan dukungan social, terdiri dari bersikap suportif, terlibat dalam aktivitas
bersama, memuji orang lain.
Strategi berteman yang tidak memadai meliputi tiga kategori hal-hal yang harus
dihindari dalam berteman, yaitu :
a. Agresi secara psikologis, yaitu menunjukkan sikap yang buruk, tidak menghargai,
berprasangka buruk, menyalahgunakan orang lain, kasar, memaki, tidak kooperatif,
mengabaikan orang lain, tidak mau berbagi rasa, merugikan reputasi orang lain
( menyebar gossip, mengkritik orang lain ).
b. Penampilan diri yang negative, terdiri dari membanggakan diri sendiri, sombong,
cemburu, sok aksi, pemberang, merusak, kejam, bermusuhan, penggerutu, marah
dalam setiap saat, merugikan diri sendiri, bertindak bodoh, cerewet, menyulut
masalah.
c. Perilaku antisocial yang negative, terdiri dari agresi secara fisik ( berkelahi,
menyerang, merusak, meludahi ), agresi verbal ( berteriak, mengusik orang lain ),
tidak jujur, tidak setia, melanggar peraturan sekolah, membolos, menggunakan
obat-obatan terlarang.
Pelatihan keterampilan social merupakan suatu prosedur pelatihan yang di buat
untuk melatih keterampilan subjek yang mempunyai perilaku menarik diri, sukar
34 | Modifikasi Perilaku

bergaul (Purwandari,(1997); Ramadhani,N. (1994). Teknik pelatihan ini disusun


berdasarkan terapi kognitif behaviouristik, yaitu suatu terapi yang menggunakan
pendekatan terstruktur, aktif, direktif, dan berjangka waktu singkat untuk menghadapi
berbagai hambatan dalam kepribadian (Gunarso, 1992). Teknik ini menitik beratkan
pada perubahan yang terjadi pada aspek kognitif dengan keyakinan akan diikuti oleh
perubahan pada perilakunya (Kazdin, 1978).
Dengan memperhatikan berbagai batasan tersebut, pelatihan keterampilan social
lebih menekankan pada peranan kognitif dalam mendorong perubahan perilaku pada
diri subjek. Perubahan akan cepat terjadi bila ada konsekuensi yang mengikutinya,
dimana konsekuensi tersebut telah mendapatkan kendali dari segi kognitif.
2. Prinsip-prinsip Pelatihan Keterampilan Sosial
Pelatihan keterampilan social merupakan terapi kognitif behavioristik. Terapi ini
mempunyai tiga anggapan dasar, yaitu bahwa (a) aktivitas kognitif mempengaruhi
perilaku, (b) aktivitas kognitif dapat di pantau dan diubah-ubah, (c) perubahan
perilaku yang di kehendaki dapat dilakukan melalui perubahan kognitif ( Gunarsa,
1992 ).
Menurut Meichenbaum ( dalam Gunarsa, 1992 ) perubahan perilaku terjadi melalui
proses yang melibatkan interaksi dari berbicara dalam pikiran, struktur kognitif, dan
perilaku dengan akibat-akibatnya. Selanjutnya dikatakan bahwa ada tiga tahap dalam
proses perubahan perilaku yang terjadi saling berkaitan, yaitu :
a. Tahap pertama, adalah pengamatan terhadap diri sendiri yang merupakan proses
belajar tentang bagaimana melihat perilakunya, yaitu melalui dialog internal yang
ditandai oleh penilaian negative terhadap keadaannya. Individu perlu melepaskan
diri dari pikiran-pikiran negative tersebut agar diperoleh perubahan yang
konstruktif.
b. Tahap kedua, dimulai dengan bidang internal baru dalam tahap ini individu mulai
menyadari perilakunnya yang malasuai dan mulai melihat kemungkinankemungkinan perubahan pada aspek-aspek perilakunnya baik yang kognitif
maupun afektif.
c. Tahap ketiga, adalah

mengajarkan

kepada

individu

tentang

bagaimana

mempergunakan keterampilannya secara lebih efektif yang di gunakan dalam


kehidupan nyata sehari-hari.
3. Implementasi Pelatihan Keterampilan Sosial

35 | Modifikasi Perilaku

Argyle (1994) mengatakan bahwa keterampilan social diperlukan dalam


kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan keluarga, teman-teman, tetangga,
orang-orang di took-toko, perkantoran dan sebagainya. Disebutkan dalam
penelitiannya bahwa kurang dari 7% orang-orang mengalami kurang mampu menjalin
persahabatan atau berteman, sehingga pelatihan keterampilan social yang di berikan
pada anak-anak dapat membantu perilaku berteman mereka menjadi lebih baik.
Intervensi untuk meningkatkan perilaku prososial. Atau pengubahan perilaku
menarik diri seperti model kelompok sebaya, pelatihan keterampilan social dan
pengukuh social dapat dihasilkan melalui perbaikan-perbaikan dari sisi kualitas
interaksi anak di dalam kelompok sebayannya(Argyle, 1994). Intervensi terhadap
anak yang kurang melakukan interaksi social berhubungan dengan strategi berteman
mereka.
Pendapat lain dikatakan oleh Rosenberg, et.al. (1992) bahwa perilaku menarik
diri dapat dikurangi dengan menggunakan program pengubahan. Martin dan Pear
(1992) sependapat dengan Rosenberg secara lebih rinci mengatakan bahwa masalahmasalah yang berhubungan perilaku kemungkinan dapat dikurangi dengan
menggunakan pengubahan perilaku. Apabila identifikasi terhadap sumber-sumber
pengukuh perilaku sudah didapatkan, maka kemungkinan untuk mengubah atau
menghilangkan perilaku akan dapat berhasil. Strategi alternative untuk mengurangi
perilaku antara lain dengan instruksi, keteladanan (model-modeling), dan gladian
(role playing).
Pelatihan keterampilan social dapat digunakan untuk melatih individu-individu
yang merasa sendiri dan menyendiri. Lebih lanjut dijelaskan mengenai keterampilan
yang perlu diberikan kepada subjek menurut Argyle (1994) antara lain adalah
(a)komunikasi non verbal, terutama lebih pada penggunaan senyum, tatapan mata,
dan nada suara yang ramah; (b) keterampilan percakapan, terutama memulai
percakapan, memberi perhatian kepada orang lain, sikap terbuka, percaya, dan
menemukan sesuatu persamaan dengan orang lain; (c) menjadi lebih asertif, tidak
pasif, lebih berguna dan tidak egosentris.
Adanya pengukuh positif dan negative mungkin dapat mempengaruhi yang lain
dalam situasi yang paling dekat dengan keadaan subjek. Pengukuh positif didasarkan
pada kebutuhan untuk berafiliasi dapat berbentuk senyum, persetujuan, anggukan
kepala, dan sebagainya.Pengukuh negative dapat berupa mengerutkan dahi,
membuang muka, melihat dengan bosan, melihat arloji, tidak setuju, dan sebagainnya.

36 | Modifikasi Perilaku

Purwandari (1997) mengimplementasikan pelatihan keterampilan social dalam


program pelatihan strategi berteman ternyata subjek lebih dapat mengenali dirinya
baik yang menyangkut kelebihan-kelebihannya maupun kekurangan-kekurangannya,
sehingga subjek dapat memperbaiki perilaku yang kurang menguntungkan dirinya dan
kecenderungan perilaku menarik diri subjek dapat berkurang.
Pelatihan ini menggunakan empat langkah, yaitu pertama, subjek diajarkan untuk
mengenali dirinya, sehingga akan diketahui kelebihan dan kekurangannya. Kedua,
subjek diperkenalkan perubahan-perubahan yang menyangkut psikis, fisik, dan social.
Ketiga, subjek diperkenalkan kepada cara-cara berteman yang memadai, sehingga ia
makin mengerti mengapa perilaku dapat terjadi. Keempat, subjek diberi kesempatan
untuk latihan keterampilan mengenai cara-cara berteman. Pengukuh positif maupun
negative diberikan pada setiap tahap pelatihan, sehingga intensitas penguasaan
perilaku akan lebih kuat.

37 | Modifikasi Perilaku

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

38 | Modifikasi Perilaku