Anda di halaman 1dari 20

Case Report Session

SINUS PREAURIKULAR SINISTRA


TERINFEKSI

Oleh:
Milfa Sari Muzamil

0910314184

Rahmi Dina Indra

1110312004

Preseptor :
dr. Al Hafiz, Sp. THT-KL

BAGIAN ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG TENGGOROK


BEDAH KEPALA LEHER
RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2015
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Definisi Sinus Preaurikular


Sinus preaurikuler merupakan kelainan kongenital berupa adanya lubang kecil
pada telinga luar yang biasanya terdapat di anterior dari heliks asendens.1
1.2 Anatomi Aurikular
Telinga luar terdiri dari daun telinga, liang telinga sampai membran timpani.
Daun telinga (aurikula) berasal dari pinggir-pinggir celah brankial pertama dari arkus
brankialis pertama dan kedua. Daun telinga disarafi oleh cabang aurikulotemporalis
dari saraf mandibularis serta saraf aurikularis mayor dan oksipitalis minor yang
merupakan cabang pleksus servikalis. Liang telinga berasal dari celah brankial
pertama ektoderm. Membrana timpani mewakili membran penurup celah tersebut.2,3
Daun telinga merupakan gabungan dari tulang rawan yang di liputi kulit.
Bentuk tulang rawan ini unik dan dalam merawat trauma telinga luar, harus di
usahakan untuk mempertahankan bagunan ini. Kulit dapat terlepas dari rawan di
bawahnya oleh hematom atau pus, dan rawan yang nekrosis dapat menimbulkan
deformitas kosmetik pada pinna (telinga kembang kol).3

Gambar 1: Anatomi daun telinga4


1.3 Embriologi Aurikular

Aurikula berkembang saat kehamilan berumur enam bulan. Aurikula


terbentuk dari enam proliferasi mesenkim di ujung dorsal arkus faring pertama dan
kedua, yang mengelilingi celah faring pertama. Penebalan ini (auricular hillocks),
tiga di masing-masing sisi meatus akustikus eksternus, kemudian menyatu dan
membentuk aurikula defenitif. Karena penyatuan tonjolan aurikula adalah suatu
proses yang rumit, sering terjadi kelainan perkembangan aurikula.5
Adanya lubang preaurikula menunjukkan kelainan perkembangan tonjolan
aurikula.5 Teori yang paling sering dikutip dan diterima mengenai terbentuknya sinus
preaurikula yaitu teori yang mengungkapkan bahwa sinus preaurikula terbentuk
akibat defek dan tidak lengkapnya penyatuan dari enam auditory hillocks pada saat
pembentukan aurikula.6

Gambar 2 : Embriologi aurikula5


Hillock 1 dan 6 adalah yang paling pertama dapat diidentifikasikan secara
terpisah, namun pada minggu ke enam semua hillock ini sudah terpisah. Pada saat
minggu ke delapan aurikula telah mempunyai struktur yang jelas, dan bagian-bagian
dari hillock tersebut yaitu: hillock 1, tragus; hillock 2, crus helix; hillock 3, ascending
helix; hillock 4, horizontal helix, bagian atas scapha, dan antihelix; hillock 5,
descending helix, bagian tengah scapha dan antihelix; dan hillock 6, anti tragus dan
bagian dalam dari helix. Saat mendekati usia kehamilan 18 minggu, aurikula

mencapai bentuk dewasa aslinya, meskipun ia tetap tumbuh pada masa kanak-kanak
dengan perubahan yang tetap berlanjut hingga usia dewasa.5,7

Gambar 3 : Sinus preaurikula8

1.4 Epidemiologi Sinus Preaurikular


Prevalensi sinus preaurikula bervasiasi di berbagai belahan dunia. Prevalensi
sinus preaurikula di Amerika Serikat adalah 0,1-0,9%, Inggris 0,9%, Taiwan 1,62,5%, negara-negara di Asia adalah 4-6% dari populasi dan beberapa negara bagian
Afrika adalah 4-10%.9
Sinus preaurikula lebih sering unilateral, terkadang bisa bilateral. Sinus yang
terdapat disebelah kanan biasanya sering pada perempuan daripada laki-laki.10 Dari
sudut pandang klinis, sinus preaurikula paling sering muncul seperti sebuah lubang
kecil dekat margin anterior bagian pertama heliks. Topografi sinus terletak lebih
dangkal dari fasia temporalis, lateral dan superior dari kelenjar parotis, saraf wajah
dan kulit terminal. Bagian ini sangat dekat, dan sering mengikuti tulang rawan dari
bagian pertama dari helix.7

1.5 Patofisiologi Sinus Preaurikular Terinfeksi

Kebanyakan sinus preaurikula secara klinis tidak mempunyai gejala, namun


tidak jarang muncul gejala-gejala terkait dengan proses infeksi seperti eritema,
pembengkakan,

nyeri

dan

keluarnya

cairan

dari

lubang

sinus

tersebut.

Mikroorganisme patogen yang paling sering menyebabkan infeksi tersebut adalah


Staphylococcus Epidermidis dan Staphylococcus Aureus. Selain itu, bisa juga bakteri
Proteus, Streptococcus dan Spesies Peptococcus.10
1.6 Manifestasi Klinis
Sinus preaurikular biasanya asimptomatik sehingga terjadinya proses
inflamasi akibat infeksi seperti;

Eritem atau kemerahan, bengkak dan nyeri di daerah sinus preaurikular


Adanya sekret purulen dan berbau keluar dari lobang sinus. Jika terjadi
obstruksi kronis, sekret dapat keluar melalui jaringan yang terbuka di daerah

sinus. Sekret dapat hilang timbul atau intermitten.


Gejala lain; demam, rasa gatal

Gambar 4 : Sinus Preaurikular yang terinfeksi.11

Lubang yang terlihat dapat mewakili derajat deformitas atau menandai adanya
saluran sinus yang bervariasi panjangnya serta bercabang dan untuk mengikuti sinus
yang berliku-liku. Sinus preauricular dapat menyebabkan pembentukan kista
subkutan yang dekat dengan tulang rawan tragus dan anterior crus helix. Pada kondisi
lanjut dapat terjadi komplikasi seperti pioderma, selulitis fasial atau ulserasi di daerah
depan telinga. 10,12

1.7 Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik serta
pemeriksaan penunjang. Anamnesis akan ditemukan riwayat keluarya cairan dari
sinus preaurikular yang hilang timbul, bengkak yang semakin membesar dan keluhan
nyeri di daerah depan telinga. Pemeriksaan fisik didapatkan eritem di daerah depan
telinga, keluar secret dari lubang sinus preaurikular yang terinfeksi, gejala sisa dari
infeksi sebelumnya yang berupa scarring dan juga kemungkinan adanya anomali
telinga luar lainnya.10
Pemeriksaan penunjang untuk sinus preaurikular antara lain; pemeriksaan
laboratorium seperti kultur sekret untuk mengetahui kuman penyebab dan pemilihan
antibiotik sesuai. Bakteri yang sering menjadi penyebabnya adalah Staphylococcus
Epidermidis dan Staphylococcus Aureus. 10
Pemeriksaan radiologi seperti fistulografi dengan kontras untuk melihat sinus
preaurikular dan muaranya. Ultrasonografi juga dapat melihat hubungannya dengan
jaringan sekitar seperti kartilago, arteri temporal superficial dan membedakan massa
padat atau kista.13

1.8 Diagnosis Banding


1. Karsinoma sel basal
2. Kista epidermal inklusi

1.9 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan sinus preaurikular ini tidak di perlukan kecuali pencegahan
terjadinya infeksi yaitu dengan menghindari manipulasi dan membersihkan muara
dari sumbatan dengan alkohol atau cairan antiseptik lainnya secara rutin.10 Apabila
fistula preaurikular ini terinfeksi maka pemberian antibiotik yang sesuai diperlukan
untuk melawan kuman patogen, dan apabila terdapat manifestasi abses biasanya akan
diperlukan tindakan insisi abses dan drainase.7
i.

Medikamentosa
Antibiotik dapat diberikan per oral atau intravena jika ditemukan infeksi.

Kuman penyebab infeksi yang paling sering adalah Staphylococcus Aureus. Jika
terdapat abses, abses tersebut harus diinsisi dan didrainase dan eksudat harus dikirim
untuk dilakukan pemeriksaan gram dan kultur untuk memilih antibiotik yang lebih
sensitif. Antibiotik golongan penicilin seperti amoxicillin, erithromycin dapat
diberikan pada pasien dengan komplikasi selulitis.
ii.

Drainase
Tindakan insisi abses dan drainase dilakukan untuk mengeluarkan abses. Ada

beberapa teknik drainase yaitu aspirasi lansung dengan menggunakan spuit dan
kedua, menggunakan lacrimal probe. Drainase dengan teknik lacrimal probe ini
memerlukan anestetik topikal di kulit dan prosedur ini dapat diulang jika perlu.

Gambar 4: Lacrimal probe

iii.

Operasi
Jika terjadi infeksi berulang, dapat dianjurkan untuk tindakan operasi diseksi

dan insisi komplit dari sinus dan salurannya. Operasi ini dilakukan apabila inflamasi
sudah sembuh dan berada dalam masa tenang. Diseksi dilakukan sampai ke
periosteum dari tulang temporal, dan semua cabang-cabang dari salurannya harus di
angkat untuk mencegah infeksi berulang. Pengangkatan yang tidak lengkap
menimbulkan sinus yang mengeluarkan cairan sehingga membutuhkan pengangkatan
yang lebih sulit dan lebih radikal kedepannya.15
Sebelum operasi dilakukan, saluran fistula preaurikular diisi dengan
menggunakan methylen blue. Penyuntikan harus di lakukan dengan menggunakan
tekanan yang lembut untuk memperlihatkan garis bentuk seluruh sistem saluran.
Prosedur ini untuk memudahkan diseksi selanjutnya. Cara lain adalah dengan
fistulografi, yaitu dengan cara memasukkan zat kontras ke dalam muara fistel, lalu
dilakukan pemeriksaan radiologik. Pada pemeriksaan fistulografi tidak dapat
menggambarkan jalur traktus yang sebenarnya karena infeksi yang berulang
menimbulkan tersumbatnya traktus oleh jaringan fibrosis.15

Gambar 5: Pewarnaan dengan methylen blue.

Gambar 6. Dibuat insisi berbentuk oval.

Gambar 7. Bebaskan jaringan yang tidak terlihat.


Insisi dibuat berbentuk oval mengelilingi muara fistula. Selanjutnya diseksi
diteruskan sampai ke saluran dan kantong fistula. Diseksi ini menggunakan gunting
lengkung. Setelah itu bagian yang bergerak dari sistem saluran dipegang secara hatihati dengan forsep dan dengan sedikit penarikan dapat membebaskan jaringan yang
tidak terlihat.15

1.10 Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain seperti; perdarahan, infeksi yang
berulang dengan pembentukan abses, parase fasialis, pembentukan jaringan fibrotik
disekitar depan telinga dan kekambuhan dapat terjadi pada operasi eksisi saluran
sinus atau sinectomy yang tidak sempurna.16

1.11 Prognosis
Sinus preaurikular yang terinfeksi umumnya memiliki prognosis yang baik
jika belum terjadi komplikasi dan ditangani dengan cepat dan benar.16

BAB II
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama

: Nn. D

Umur

: 14 tahun

Tanggal pemeriksaan : 11 April 2015

Jenis Kelamin : Perempuan


Pekerjaan

: Pelajar

Alamat

: Jalan Ganting II, no 13, RT 5, RW 10, Padang


9

Suku bangsa : Minangkabau


ANAMNESIS
Seorang pasien perempuan berumur 14 tahun ke poli THT RS Dr M Djamil Padang
pada tanggal 10 April 2015 dengan
Keluhan Utama : Bengkak di depan telinga kiri sejak + sebulan yang lalu.
Riwayat penyakit sekarang :
-

Bengkak di depan telinga kiri sejak + sebulan yang lalu.

Bengkak awalnya kecil, tidak nyeri, kemudian semakin membesar dan nyeri
saat disentuh.

Keluar cairan warna bening di lubang depan telinga yang hilang timbul

Pasien berobat di Puskesmas dan kemudian dirujuk ke RS Tentara. Pasien


kontrol rutin dan diberi obat. Bengkak tidak berkurang dan akhirnya pasien
dirujuk ke RSUP Dr. M Djamil Padang.

Riwayat demam, batuk, pilek disangkal.

Riwayat keluar cairan dari telinga disangkal.

Riwayat penurunan pendengaran tidak ada.

Riwayat penyakit dahulu :


Riwayat infeksi sebelumnya tidak ada.
Riwayat penyakit keluarga :
Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita seperti ini.
Riwayat pekerjaan, sosial ekonomi dan kebiasaan :
-

Pasien merupakan pelajar kelas II SMP

Kebiasaan merokok tidak ada

Kebiasaan menyentuh daerah depan telinga ada

10

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum

: Tampak sakit ringan

Kesadaran

: Composmentis cooperative

Tekanan darah

: 120/70 mmHg

Frekuensi nadi

: 80 x/menit

Frekuensi nafas

: 20 x/menit

Suhu

: 36.8 0C

Pemeriksaan Sistemik
Kepala

: tidak ada kelainan

Mata

: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Leher

: tidak ditemukan pembesaran KGB

Thorak

: Kor dan Pulmo dalam batas normal

Abdomen

: Distensi tidak ada, BU (+) normal

Ekstremitas

: Akral hangat, perfusi baik

Status Lokalis THT


TELINGA
Pemeriksaan

Daun telinga

Liang & Dinding


telinga

Kelainan
Kel kongenital
Trauma
Radang
Kel. Metabolik
Nyeri tarik
Nyeri tekan tragus
Cukup lapang (N)
Sempit
Hiperemis
Edema
Massa
Bau

Dekstra
Sinus preaurikula
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Cukup lapang
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

11

Sinistra
Sinus preaurikula
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Ada
Cukup lapang
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak bisa dinilai

Sekret/serumen

Warna

Coklat

Tidak bisa dinilai

Jumlah
Jenis

kekuningan
Minimal
Mukus

Tidak bisa dinilai


Tidak bisa dinilai

Warna
Reflek cahaya
Bulging
Retraksi
Atrofi
Jumlah perforasi
Jenis
Kwadran
Pinggir

Putih mengkilat
(+) arah jam 5
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak bisa dinilai


Tidak bisa dinilai
Tidak bisa dinilai
Tidak bisa dinilai
Tidak bisa dinilai
Tidak bisa dinilai
Tidak bisa dinilai
Tidak bisa dinilai
Tidak bisa dinilai

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
(+)
Sama dengan

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
(+)
Sama dengan

Membran timpani

Utuh

Perforasi

Gambar Membran Timpani

Mastoid

Tes Garpu Tala

Tanda radang
Fistel
Sikatrik
Nyeri tekan
Nyeri ketok
Rinne
Schwabach
Weber
Kesimpulan

Audiometri
Timpanometri

pemeriksa
pemeriksa
Tidak ada lateralisasi
Normal
Normal
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

HIDUNG
Pemeriksaan

Hidung luar

Kelainan
Deformitas
Kelainan kongenital
Trauma
Radang
Massa

Dektra
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Sinus paranasal

12

Sinistra
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Pemeriksaan
Nyeri tekan
Nyeri ketok

Dekstra
Tidak ada
Tidak ada

Sinistra
Tidak ada
Tidak ada

Rinoskopi Anterior
Pemeriksaan
Vestibulum

Cavum Nasi
Sekret
Konka inferior

Konka media

Septum

Massa

Kelainan
Vibrise
Radang
Cukup lapang (N)
Sempit
Lapang
Lokasi
Jenis
Jumlah
Bau
Ukuran
Warna
Permukaan
Edema
Ukuran
Warna
Permukaan
Edema
Cukup

Dekstra
Ada
Tidak ada
Lapang
Ada
Lapang
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Eutrofi
Merah Muda
Licin
Tidak ada
Sukar dinilai
Sukar dinilai
Sukar dinilai
Sukar dinilai
Cukup lurus

Sinistra
Ada
Tidak ada
Sempit
Ada
Tidak
Tidak Ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Hipertrofi
Merah Muda
Licin
Tidak ada
Sukar Dinilai
Sukar Dinilai
Sukar Dinilai
Sukar Dinilai
Cukup lurus

lurus/deviasi
Permukaan
Warna
Spina
Krista
Abses
Perforasi
Lokasi
Bentuk
Ukuran
Permukaan
Warna
Konsistensi
Mudah digoyang
Pengaruh

Licin
Merah Muda
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Licin
Merah Muda
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

vasokonstriktor

13

Gambar Rinoskopi Anterior

Rinoskopi Posterior
Pemeriksaan

Kelainan
Cukup lapang (N)

Dekstra

Sinistra

Koana

Sempit

Sempit

Sempit

Merah muda
Tidak ada
Tidak ada
Eutrofi
Merah muda
Licin
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Merah muda
Tidak ada
Tidak ada
Hipertrofi
Merah muda
Licin
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Mukosa
Konka inferior
Adenoid
Muara tuba
eustachius
Massa
Post Nasal Drip

Lapang
Warna
Edem
Jaringan granulasi
Ukuran
Warna
Permukaan
Edem
Ada/tidak
Tertutup sekret
Edem mukosa
Lokasi
Ukuran
Bentuk
Permukaan
Ada/tidak
Jenis

Gambar
Rinoskopi
Posterior

Orofaring dan mulut


14

Pemeriksaan
Trismus
Uvula

Palatum mole +
Arkus Faring
Dinding faring

Tonsil

Peritonsil

Tumor
Gigi

Lidah

Kelainan
Edema
Bifida
Simetris/tidak
Warna
Edem
Bercak/eksudat
Warna
Permukaan
Ukuran
Warna
Permukaan
Muara kripti
Detritus
Eksudat
Warna
Edema
Abses
Lokasi
Bentuk
Ukuran
Permukaan
Konsistensi
Karies/Radiks
Kesan
Warna
Bentuk
Deviasi
Massa

Dekstra
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Simetris
Merah muda
Tidak ada
Tidak ada
Merah muda
Licin
T1
Merah muda
Rata
Tidak Melebar
Tidak ada
Tidak ada
Merah muda
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Baik
Merah muda
Normal
Tidak ada
Tidak ada

Sinistra
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Simetris
Merah muda
Tidak ada
Tidak ada
Merah muda
T1
Merah muda
Rata
Tidak Melebar
Tidak ada
Tidak ada
Merah muda
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Merah muda

Gambar
Orofaring
(Mulut)

Laringoskopi Indirek
Pemeriksaan

Kelainan
Bentuk
Warna

Dekstra
Normal
Merah muda
15

Sinistra
Normal
Merah muda

Epiglotis
Ariteniod

Ventrikular band
Plica vokalis
Sinus piriformis
Valekulae

Edema
Pinggir rata/tidak
Massa
Warna
Edema
Massa
Gerakan
Warna
Edema
Massa
Warna
Gerakan
Pingir medial
Massa
Massa
Sekret
Massa
Sekret (jenisnya)

Tidak ada
Rata
Tidak ada
Merah muda
Tidak ada
Tidak ada
Simetris
Merah muda
Tidak ada
Tidak ada
Putih
Simetris
Rata
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Rata
Tidak ada
Merah muda
Tidak ada
Tidak ada
Simetris
Merah muda
Tidak ada
Tidak ada
Putih
Simetris
Rata
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Gambar

Pemeriksaan Kelenjar getah bening leher : tidak ada pembesaran KGB


Inspeksi

: tidak terlihat pembesaran kelenjar getah bening di leher

Palpasi

: tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening di leher

16

Telinga kanan

Telinga kiri
RESUME

1. Anamnesis
-

Bengkak di depan telinga sejak 1 bulan yang lalu disertai nyeri bila dipegang.
Bengkak semakin lama semakin membesar.

pasien mengatakan bahwa terkadang keluar cairan bening dari lubang yang
ada di depan telinga.

Pasien berobat ke dokter puskesmas sebelumnya, dari puskesmas dirujuk ke


rumah sakit tentara, diberikan obat dan kontrol rutin dan kemudian dirujuk ke
RSUP DR. M Djamil Padang.

2. Pemeriksaan fisik
Inspeksi telinga luar;
-

Auris dextra: Terdapat sinus preaurikular.

17

Auris sinistra: Terdapat sinus preaurikular. Terdapat luka di bagian


depan telinga yang hiperemis.

Palpasi Telinga luar;


-

Terdapat nyeri tekan pada tragus.

3. Diagnosis Utama : Sinus preaurikula yang terinfeksi


4. Diagnosis Tambahan : 5. Diagnosis Banding : kista preaurikular sinistra
6. Pemeriksaan anjuran : kultur sekret
7. Terapi : antibiotik, drainase, redressing
8. Terapi Anjuran : sinectomy
9. Prognosis :
Quo ad vitam : bonam
Quo ad sanam : bonam
10. Nasehat :
-

Jaga higinitas pada telinga dan sekitarnya.


DAFTAR PUSTAKA

1. Jacky M, Effy H, Rusli P. Penatalaksanaan Sinus Preaurikuler Tipe Varian


Dengan Pit pada Heliks Desenden Postero-Inferior. 2012, Jurnal Kesehatan
Andalas; 1(1): 42-6.
2. Sloane E. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. 2010, Penerbit Buku
Kedokteran EGC;189.
3. Adam, George L. BOIES Buku Ajar Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorokan
THT Edisi 6. 1997;57-9.
4. Simbar S, Lita F. Embriologi dan Anatomi Telinga. Diunduh dari
http://ocw.usu.ac.id/slide_embryologi_dan_anatomi_telinga.pdf. Diakses pada
tanggal 12 April 2015.
5. Bailey BJ. Head & Neck Surgery Otolaryngology. 2006, Penssylvania;129131

18

6. Currie AR, King WWK, Vlantis AC, Li AKC. Pitfalls in the management of
preauricular sinuses. 1996, Br J Surg.;17224.
7. Tan. T, Constantinides. H, Mitchell T.E. The preauricular sinus: A review of
its aetiology, clinical presentation and management. Journal of Pediatric
Otorhinolaryngology. 2005; 69:1469-74.
8. Hari J. Kelainan itu Bernama Fistula Preaurikula Kongenital. Diunduh dari :
http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/06/26/kelainan-itu-bernamafistula-preaurikular-kongenital-472566.html. Diakses pada tanggal 12 April
2015.
9. Jimoh OR, Alabi BS, Adebayo SS. Prevalence of preauricular sinus among
Nigerians. 2008, Surgery Journal.; 3: 61-3.
10. Scheinfeld NS, Silverberg NB, Weinberg JM, Nozad V. The preauricular
sinus: a review of its clinical presentation, treatment, and associations.
2004,Pediatr Dermatol; 21:191-6.
11. Tony R. Bull, Color Atlas of ENT Diagnosis,2003, Thieme
12. Kavuturu VS, Nelakurthi SC, Ratnavelu KM, 2012. Preauricular Sinus: A
Novel Approach, Indian J Otolaryngol Head Neck Surgery. (JulySept 2013)
65(3):234236; DOI 10.1007/s12070-012-0520-y
13. McArdle AJ, Shroff R. Is ultrasonography required to rule out congenital
anomalies of the kidneys and urinary tract in babies with isolated
preauricular tags or sinuses?. Arch Dis Child. 2013;98:84-7.
14. Ballenger JJ. Tumor Telinga Luar dan Telinga Tengah. Penyakit Telinga,
Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. 1997,Edisi 13. Jilid 2. Jakarta:
BinaRupaAksara.
15. Nauman HW. Operation on the Meatus and on the Tympanic Membrane. In:
Nauman HH, Ed. Head and Neck Surgery. Volume 3. New York: George
ThiemeVerlag. 1982,pp: 107-10.
16. Austin
M.
Preauricular
Cysts,

Pits

and

Fissures.

Dari

http://www.emedicine.com/ent/topic200.htm diakses pada tanggal 12 April


2015

19