Anda di halaman 1dari 40

PENGGUNAAN/PEMBERIA

N OBAT PADA PASIEN


POLITEKNIK KESEHATAN BANTEN
JURUSAN KEPERAWATAN TANGERANG

Obat
Setiap zat kimia (alamiah maupun sintetik)
selain makanan yg mempunyai pengaruh thd
atau dpt menimbulkan efek pd m.o hidup, baik
efek psikologis, fisiologis, maupun biokimiawi
Menurut SKMenkes No. 125/Ka/Bab VII/71
Obat: suatu bahan/panduan bahan-bahan untuk
dipakai dalam menetapkan diagnosis,
mencegah, mengurangi, menghilangkan,
menyembuhkan penyakit, luka/kelainan
badaniah dan rohaniah pd hewan/orang,
memperelok badan/bagian badan

TUJUAN PEMBERIAN OBAT


Untuk

menghilangkan rasa nyeri


yang dialami klien.
Obat topikal pada kulit memiliki
efek yang lokal
Efek samping yang terjadi
minimal
Menyembuhkan penyakit yang
diderita oleh klien

PEMBERIAN OBAT PERLU


DIPERTIMBANGKAN
Efek

apa yang dikehendaki


Onzet yang bagaimana
Durasi yang bagaimana
Dilambung/ usus rusak tidak
Rute relatif aman dan
menyenangkan
Harga murah

Dalam pelaksanaannya ,tenaga medis


memiliki tanggung jawab dalam
keamanan obat dan pemberian secara
langsung ke pasien. Hal ini semata-mata
untuk memenuhi kebutuhan pasien
Obat yang di gunakan sebaiknya
memenuhi berbagai standar persyaratan
obat,di antaranya kemurnian, yaitu
suatu keadaan yang dimiliki obat karena
unsur keasliannya,tidak ada percampuran,
dan standar potensi yang baik. Selain
kemurnian, terdapat efektivitas. Standarstandar tersebut harus dimiliki obat agar
menghasilkan efek yang optimal.

Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan


Dalam Pemberian Obat
1.

2.

Tepat obat: pastikan kebenaran obat


sebanyak tiga kali, yakni : ketika
memindahkan obat dari tempat penyimpanan
obat, saat obat diprogramkan, dan saat
mengembalikan obat ke tempat penyimpanan
Tepat dosis: Untuk menghindari kesalahan
dalam pemberian obat, maka penentuan dosis
harus diperhatikan dengan menggunakan alat
standar seperti obat cair harus dilengkapi alat
tetes, gelas ukur, spuit atau sendok khusus,
alat untuk membelah tablet, dan lain-lain.
Dengan demikian, penghitungan dosis benar
untuk diberikan ke pasien.

Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan


Dalam Pemberian Obat (contd)
3.
4.

5.

6.

Tepat pasien: benar pasien yang akan diberikan obat.


Tepat jalur pemberian: Kesalahan rute pada
pemberian dapat menimbulkan efek sistemik yang
fatal pada pasien.
Tepat waktu : Pemberian obat harus benar-benar
sesuai dengan waktu yang diprogramkan karena
berhubungan dengan kerja obat yang dapat
menimbulkan efek terapi dari obat
Benar pendokumentasian
Dokumentasi yang benar membutuhkan tindakan
segera untuk mencatat informasi sesuai dengan obat
obatan yang telah diberikan. Hal ini meliputi nama
obat, dosis, rute, waktu dan tanggal serta inisial dan
tanda tangan pelaksana pemberi obat

DOSIS
Dosis

atau takaran obat adalah


banyaknya suatu obat yang dapat
dipergunakan atau diberikan kepada
seorang penderita, baik untuk obat
dalam atau obat luar.
Kecuali dinyatakan lain, yang
dimaksud dosis maksimum adalah
dosis maksimum dewasa untuk
pemakaian melalui mulut, injeksi
subkutan dan rektal.
Dosis lazim tercantum dalam FI untuk
dewasa dan anak yang merupakan
petunjuk yang tidak mengikat.

MACAM-MACAM DOSIS
Dosis

terapi:takaran obat yang diberikan


dan dapat menyembuhkan penderita
Dosis minimum; takaran obat terkecil
yang masih dapat menyembuhkan dan
tidak menimbulkan resistensi
Dosis maksimum: takaran obat terbesar
yang masih dapat menyembuhkan dan
tidak menimbulkan keracunan penderita
Dosis toksik: takaran obat yang dapat
menyebabkan keracunan penderita
Dosis letalis: takaran obat yang
menyebabkan kematian pada penderita

PERHITUNGAN DOSIS
Faktor

penderita: meliputu umur,


bobot badan, jenis kelamin, luas
permukaan tubuh, toleransi, habituasi,
adiksi, sensitivitas, serta kondisi
penderita
Faktor obat: sifat kimia fisika obat,
sifat farmakokinetik (ADME) dan jenis
obat
Faktor penyakit: sifat dan jenis
penyakit

Secara pendekatan keamanan


obat dinyatakan:
Indeks

Terapi Obat (IT)

IT = DL50/DE50
DL50 = median dosis letal
DE50 = median dosis yang efek khusus
Margin

Dosis Keamanan (MDK)

MDK = dosis yang menimbulkan efek


samping/dosis yang memberi terapi efektif
MDK digunakan untuk mengevaluasi
keamanan dalam penentuan dosis

PERHITUNGAN DOSIS
Berdasarkan

umur
Berdasarkan bobot badan
Berdasarkan luas permukaan
tubuh
Dengan pemakaian berdasarkan
jam

PERHITUNGAN DOSIS
BERDASARKAN UMUR
Rumus

Young (untuk anak < 8 th)

Dosis = n(tahun)/n(tahun) +12 X dosis


dewasa
Rumrs

Fried

Dosis = n(bulan)/150 X dosis dewasa


Rumus

Dilling

Dosis = n(tahun)/20 X dosis dewasa


Rumus

Cowling

Dosis = n(tahun)/24 X dosis dewasa


N = umur dalam satuan tahun yang
digenapkan keatas. Misal pasien 1 tahun 1
bulan dihitung 2 tahun.

Rumus

Gaubius (pecahan X dosis dw

0-1th = 1/12 X dosis dws


1-2th = 1/8 X dosisi dws
2-3th = 1/6 dosis dws
3-4th = 1/4 X doisis dws
4-7th = 1/3 X dosis dws
7-14th = 1/2 X dosis dws
14-20 = 2/3 X doisis dws
21-60th = dosis dws

Rumus

Bastedo

Dosis = n(tahun)/30 X doisis dws

PERHITUNGAN BERDASAR
BOBOT BADAN
Rumus

Clark (Amerika)

Dosis = bobot badan (pon)/150 X dosis


dws
Rumus

Thremich-Fier (Jerman)

Dosis = bobot badan anak (kg)/70 X dosis


dws
Rumus

Black (Belanda)

Dosis = bobot badan anak (kg)/62 X doisis


dws
Rumus

Junkker & Glaubius (paduan


umur dan bobot badan)
Dosis = % X doisi dws

PERHITUNGAN DOSIS
BERDASARKAN LUAS PERMUKAAN
TUBUH
Farmakologi

Dosis = luas permukaan tubuh


anak/1,75 X dosis dewasa
Rumus

Catzel

Dosis = luas permukaan tubuh


anak/luas permukaan tubuh dewasa
X 100 X dosis dewasa

PERHITUNGAN DOSIS DENGAN


PEMAKAIAN BERDASARKAN JAM
FI

Satu hari dihitung 24 jam sehingga


untuk pemakaian sehari dihitung:
Dosis = 24/n X
N = selang waktu pemberian
Tiap 3 jam = 24/3 X = 8 X sehari semalam:

Menurut

Va Duin: pemakaian sehari


dihitung 16 jam, kecuali antibiotik
sehari dihitung 24 jam
16/3 +1X = 5,3 + 1 = 6,3 dibulatkan 7 X

Medication Error
SOME COMMON CAUSES OF
MEDICATION ERRORS :
Failed communication
Poor drug distribution practices
problems
Dose miscaculations
Drug and drug device-related
problems
Incorrect drug administration
Lack of patient education

FAILED COMMUNICATION
Handwriting

Terutama yang namanya mirip: longatin largactil,


epatin enatin, difenilhidantoin - difenilhidramin
Drugs

with similar names

Losec - Lasix
Zerroes

and decimal points

Vincristin 2.0 mg 20 mg
Metric

and apothecary systems

Supaya ada standar


1/200 grain (0,3 mg) nitroglycerin tablet
menggunakan 2x1/100 grain (0,6 mg masingmasing, atau 1,2 dosis total) .

Continue..
Ambiguous

or incomplete orders

Cyclophosphamide dosis 4 g, 1 4 hari,


maksudnya 4 gram untuk total 4 hari ( 1 gram
per hari, tetapi diberikan 4 gram per hari

Abbraviations
D/C discharge and discontinue: digoxin,
propranolol, insulin Pasien pulang, obat masih
diteruskan, dikira pulang obat discontinue
HS half strength,. Pasien menerima HS hora
somni, hora somni dan full strength

POOR DRUG DISTRIBUTION


PRACTICES
Distribusi

dengan satu unit doses adalah


untuk mengurangi kesalahan dalam
pengobatan, disiapkan, masuk wadah, diberi
etiket dan dicek oleh farmasis dan diberikan
oleh perawat kepada pasien dengan
pengecekan tambahan untuk kepastian.
Sekarang persediaan multiple-dose
terswedia di bangsal dimana perawat dapat
lansung menggunakan maka dapat terjadi
salah vial.
Menggunakan label umum dengan komputer
dapat salah dibanding resep asli.
Pelaksana yang tidak dididik

DOSE MISCALCULATIONS
Biasanya

terjadi pada obat yang


digunakan pediatri dan sediaan
yang digunakan intravenus.
Perhitungan dosis dapat
mengakibatkan kesalahan 10 kali
lipat atau lebih.

PROBLEM RELATED to DRUGS


and DRUG DEVICES
Profesi

kesehatan membaca label


tiga kali yaitu waktu mengambil,
menggunakan dan
mengembalikan.

Labeling

dan packaging
menyebabkan medication errors.

INCORRECT DRUG
ADMINISTRATION
Walaupun

dalam persiapan dispensing


sudah benar tetapi masih
kemungkinan terjadi kesalahan pada
penggunaan obat.
Untuk memperoleh pengobatan tepat
pasien dengan tepat route dan tepat
waktu adalah esensial.
Pasien kadang kurang perhatian. Misal
tetes mata, tetes hidung, tetes
diminum; obat topikal diminum
(vaginal tablet, suppositoria), enteral
feeding dengan gasric tube diberikan
iv

LACK of PATIENT
EDUCATION
Tenaga

kesehatan mendidik pasien secara


profesional merupakan hal yang penting
dalam meyakinkan penggunaan obat.
Pasien yang tahu penggunaan obat untuk
apa, cara pemakaian, seperti apa obat
tersebut, bagaimana obat bekerja sangat
membantu meminimalkan tidak terjadinya
medication errors
Konseling dan edukasi tentang pengobatan
dan semua pengelolaan obat dan penyakit
sangat penting
Pasien diusahakan untuk bertanya dan
mendapat jawaban yang memuaskan

Contoh perhitungan dosis


1. Bp. R membutuhkan 400 mg antibiotic sesuai
dengan resep yang ada, tablet antibiotic yang
tersedia adalah 200 mg. Berapa tablet
antibiotic yang perawat harus berikan pada
Bp. R?
Jawab :
Jika tablet yang harus diberikan = X Tablet.
Diketahui: 1 tablet = 200 mg
Maka:
X = 400 mg/dosis per tablet
X= 400 mg /200 mg
X = 2 tablet

Contoh perhitungan dosis


2. Ibu S, 65 tahun, harus diberikan obat antiaritmia
(digoksin) sebanyak 0,25 mg per intra vena (IV).
Pada vial / kemasan obat tersebut tertulis 0,125
mg = 1 cc. Berapa cc digoksin yang harus
perawat berikan untuk Ibu S?
Jawab :
Dosis digoksin yang harus Ibu S terima = X cc.
0,125 mg = 0,25 mg
1 cc X
0,125X = 0,25
X = 2 cc

Contoh perhitungan dosis


3. An. P, 2 tahun, membutuhkan
paracetamol untuk menurukan
panas tubuhnya.Berat badan (BB)
An. P 10 kg. Dalam kemasan obat
tercantum dosis untuk anak
adalah 10 mg/KgBB.
Jawab:
Misalkan Anak. P membutuhkan =
a mg Paracetamol.
Maka a= 10 mg X 10 Kg = 100

EFEK SAMPING OBAT

DEFINISI ESO
setiap

efek yang tidak dikehendaki yang


merugikan atau membahayakan pasien
(adverse reactions) dari suatu pengobatan.
Dapat tjd krn adanya interaksi antara
molekul obat dengan tempat kerjanya.
Jadi, suatu obat yg bekerja pd tubuh kita
tidak selalu bekerja secara spesifik, ia
dapat bekerja pada suatu reseptor tertentu
yang terdistribusi luas pada jaringan
tubuh. Jika interaksi ini terjadi maka ada
efek lain yang dapat timbul.

ESO (contd)
Efek

samping tdk mungkin


dihindari/dihilangkan sama sekali, tetapi
dapat ditekan atau dicegah seminimal
mungkin dengan menghindari faktor-faktor
risiko yg sebagian besar sdh diketahui
Contoh:
1. reaksi alergi akut karena penisilin (reaksi
imunologik),
2. Hipoglikemia berat karena pemberian
insulin (efek farmakologik yang berlebihan)
3. osteoporosis karena pengobatan
kortikosteroid jangka lama (efek samping
karena penggunaan jangka lama),
4. hipertensi karena penghentian pemberian

ESO
Tidak dpt dikesampingkan begitu saja krn
dpt terjadi dampak yg negatif, spt:
1. Kegagalan pengobatan,
2. Timbulnya keluhan penderitaan atau
penyakit baru karena obat (druginduced disease atau iatrogenic
disease), yang semula tidak diderita
oleh pasien,
3. Pembiayaan yang harus ditanggung
sehubungan dengan kegagalan terapi,
memberatnya penyakit atau timbulnya
penyakit yang baru tadi (dampak
ekonomik).

FAKTOR PENDORONG ESO


Faktor bukan obat
Faktor-faktor pendorong yang tidak berasal dari obat
antara lain adalah:
a) Intrinsik dari pasien, yakni umur, jenis kelamin,
genetik, kecenderungan untuk alergi, penyakit, sikap
dan kebiasaan hidup.
b) Ekstrinsik di luar pasien, yakni dokter (pemberi
obat) dan lingkungan, misalnya pencemaran oleh
antibiotika.
2. Faktor obat
a) Intrinsik dari obat, yaitu sifat dan potensi obat
untuk menimbulkan efek samping.
b) Pemilihan obat.
c) Cara penggunaan obat.
d) Interaksi antar obat.

1.

HAL YG DPT DILAKUKAN UNTUK


MENCEGAH EFEK SAMPING:
Berikan

perhatian khusus terhadap konsumsi obat dan dosisnya pada


anak dan bayi, usia lanjut, dan pasien-pasien yang juga menderita
gangguan ginjal, hati dan jantung.
Perhatikan petunjuk pada leaflet/ kemasan obat. Biasanya tertera efek
samping yang mungkin terjadi, dengan begitu kita akan menjadi lebih
waspada.
Perhatikan juga riwayat alergi yang terjadi. Bisa ditelusuri dari riwayat
alergi yang terjadi di keluarga maupun alergi obat yang pernah terjadi.
Gunakan obat dengan indikasi yang jelas dan tepat, sesuai dengan yang
diresepkan dokter.
Hindari pengobatan dengan berbagai jenis obat dan kombinasi sekaligus
Bila dalam pengobatan terjadi gejala penyakit baru, atau kondisi malah
tidak membaik, selalu ditelaah lebih dahulu, apakah perubahan tersebut
karena perjalanan penyakit, komplikasi, kondisi pasien memburuk, atau
justru karena efek samping obat harus segera periksa ke dokter untuk
mencegah hal yang tidak dinginkan
Selalu harus ditelusur riwayat rinci mengenai pemakaian obat oleh
pasien pada waktu-waktu sebelum pemeriksaan, baik obat yang
diperoleh melalui resep dokter maupun dari pengobatan sendiri

JIKA TERJADI ESO:


1.

Segera hentikan semua obat bila diketahui atau


dicurigai terjadi efek samping. Telaah bentuk dan
kemungkinan mekanismenya. Bila efek samping dicurigai
sebagai akibat efek farmakologi yang terlalu besar, maka
setelah gejala menghilang dan kondisi pasien pulih
pengobatan dapat dimulai lagi secara hati-hati, dimulai
dengan dosis kecil. Bila efek samping dicurigai sebagai
reaksi alergi atau idiosinkratik, obat harus diganti dan obat
semula sama sekali tidak boleh dipakai lagi. Biasanya
reaksi alergi/idiosinkratik akan lebih berat dan fatal pada
kontak berikutnya terhadap obat penyebab. Bila
sebelumnya digunakan berbagai jenis obat, dan belum
pasti obat yang mana penyebabnya, maka pengobatan
dimulai lagi secara satu-persatu.

2.

Upaya penanganan klinik tergantung bentuk efek


samping dan kondisi penderita.Pada bentuk-bentuk
efek samping tertentu diperlukan penanganan dan
pengobatan yang spesifik. Misalnya untuk syok anafilaksi
diperlukan pemberian adrenalin dan obat serta tindakan
lain untuk mengatasi syok. Contoh lain misalnya pada

TINDAK LANJUT STLH ESO:


1. Jika menghadapi suatu kasus efek samping obat dan sudah ditangani secara
medis sebagaimana mestinya, masih diperlukan langkah-langkah tindak lanjut.
Dibuat laporan dokumentasi lengkap mengenai kasus efek samping yang
bersangkutan dan dilaporkan ke lembaga yang berwenang, yakni ke Panitia
MESO (Monitoring Efek Samping Obat) di Badan Pengawasan Obat dan
Makanan. Ada formulir khusus (form kuning) yang tersedia dan dapat
diperoleh.
2. Jika anda bekerja di rumah sakit cobalah bahas di Panitia Farmasi dan Terapi
rumah sakit. Dengan mengacu ke sumber-sumber referensi, dicari
kemungkinan faktor risiko terhadap kasus efek samping tersebut. Apakah
faktor risiko ini kemudian dapat dihindari? Tergantung kepada faktor risikonya.
Jika salah dosis maka mungkin penentuan dosis dapat lebih di cermati.
3. Langkah-langkah koreksi dalam upaya pengelolaan resiko efek samping obat
mencakup hal-hal berikut,
Membatasi

indikasi pemakaian obat yang bersangkutan. Beberapa obat sering


dipakai tidak pada indikasi yang benar.
Memperluas/mempertegas kontraindikasi.
Mempertegas cara pemakaian obat (pemberian, dosis, lama dan lain-lain).
Mengeluarkan obat dari formularium rumah sakit atau anda tidak memakai
obat yang bersangkutan jika ada alternatif yang lebih aman.

Contoh ESO yg sering


dilaporkan/dirasakan pasen:
NSAID

(Non-steroidal anti-inflammatory) memicu perdarahan


lambung
Obat-obat anti inflamasi seperti asam mefenamat, NA diklofenak biasanya
digunakan untuk demam, nyeri ringan. Jika anda memiliki masalah dengan
pencernaan sebaiknya berkonsultasi dulu dengan dokter/Apoteker sebab
obat-obat ini bisa memicu luka dan perdarahan di lambung jika diminum
saat perut kosong. Penangannnya : minum obat-obatan ini 5-10 menit
setelah makan, makanan ini berfungsi untuk melapisi mukosa lambung
agar produksi asam lambung yang meningkat tidak mengiritasinya.

Obat

asma memicu sariawan


Steroid untuk asma yang diberikan dalam bentuk spray (semprotan) bisa
memicu sariawan di mulut jika obat ini tidak semuanya masuk ke paruparu, namun berbalik ketika baru mencapai tenggorokan. Risiko ini bisa
diatasi dengan berkumur setelah penyemprotan, atau menggunakan alat
khusus untuk memastikan arah semprotan sudah tepat menuju ke
tenggorokan. Penanganannya : berkonsultasilah kepada dokter /Apoteker
cara penggunaan sediaan spray sehingga obat dapat maksimal masuk ke
dalam tubuh.

Contd
Obat

kolesterol memicu nyeri otot


Beberapa orang yang memang menderita nyeri otot kronis, efek
samping semacam ini mungkin tidak terlalu menjadi masalah karena
sudah terbiasa. Namun bagi sebagian orang akan sangat
mempengaruhi kualitas hidup dan mengurangi produktivitas saat
bekerja. Sekitar 1 dari 20 pemakai obat kolesterol paling populer
yakni statin mengalami efek samping berupa nyeri otot. Jika
sekiranya kondisi ini mengganggu aktivitas, konsultasikan dengan
dokter untuk menurunkan dosisnya atau menggantinya dengan obat
lain.

Obat

hipertensi memicu disfungsi ereksi


Obat-obat penurun tekanan darah diberikan untuk mencegah
serangan jantung sehingga penderita hipertensi bisa hidup lebih
lama. Namun beragam efek samping mulai dari pembengkakan sendi
hingga tidak bisa ereksi kadang membuat si penderita merasa
frustras. Efek samping obat hipertensi memang sangat beragam,
beberapa di antaranya juga memicu pusing dan batuk-batuk.
Mintalah dokter untuk menyesuaikan dosis dan kombinasi obat agar
efek samping yang muncul bisa diminimalkan

Contd
Obat

jantung memicu sakit kepala ringan


Obat-obat anti angina bekerja dengan cara melebarkan pembuluh
darah. Mekanisme ini ampuh untuk mencegah serangan jantung,
namun efek sampingnya bisa menyebabkan nyeri hebat di kepala
karena efek vasodilatasi obat. Jika dibandingkan dengan risiko
kematian yang begitu tinggi pada serangan jantung maka obat ini
masih diresepkan. Resiko lebih kecil daripada manfaat yang diperoleh

Antidepresan

memicu orgasme
Jenis orgasme yang disebut orgasme spontan ini terjadi akibat efek
samping beberapa obat antidepresan terutama golongan Serotonin
Selective Reuptake Inhibitor (SSRI). Untungnya tidak semua orang
mengalami efek samping seperti ini, hanya terjadi pada sebagian kecil

ARV (obat HIV) memicu Osteoporosis


Efek samping ini sering terjadi pada ODHA (Orang dengan HIV AIDS)
Mineral tulang dapat hilang dan tulang menjadi rapuh. Pastikan
konsumsi cukup zat kalsium dalam makanan dan suplemen.