Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM KIMIA PRODUK ALAM

IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER


JALUR SIKIMAT
DENGAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

Disusun oleh:
Golongan IV Kelas B Kelompok A
1 Ziana Walidah
13/348742/FA/09660
2 Nida Al Husna
13/348838/FA/09661
3 Rusyda Dyah
13/348874/FA/09662

Dosen Jaga
Apt
Asisten Jaga

: Dr. rer.nat. Yosi Bayu Murti, M.Si.,

: Fairuz Sakina Mufida


Annisafia Rizky Damaskha
Dewi Rahmawati
Tanggal Praktikum
: Rabu, 22 April 2015

LABORATORIUM KIMIA PRODUK ALAM


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015
IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER

DENGAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS


I. Tujuan
1. Mahasiswa mampu memisahkan senyawa-senyawa metabolit sekunder dalam ekstrak
tumbuhan yang akan dianalisis.
2. Mahasiswa mampu mengidentifikasi golongan senyawa metabolit sekunder yang ada
pada ekstrak tumbuhan dengan menggunakan KLT.
3. Mahasiswa mampu memahami prinsip pemisahan dan identifikasi golongan senyawa
metabolit sekunder dengan metode KLT.
II. Alat dan Bahan
A. Alat
1. Pipa Kapiler
2. Kertas saring
3. Penggaris
4. Lampu UV 254 dan 366
5. Bejana KLT + tutup
6. Penyemprot
7. Kompor
B. Bahan
1. Silika gel F254
2. KLT Toyo no 51
3. Etil asetat : toluen (7:93)
4. Eter : toluen : asam asetat 10% (55:45:0,8)
5. Klroform : Metanol (98:2)
6. Asam asetat 30%
7. Ekstrak cinnamomum cortex
8. Ekstrak mengkudu
9. Ekstrak temulawak
10. Ekstrak ketela pohon
11. Larutan pembanding sinamaldehid 0,1%;
12. Vanilin-asam sulfat
13. Larutan pembanding Kumarin 0,1%
14. KOH
15. Larutan pembanding Kurkumin 1%
16. Pembanding rutin
17. Pembanding kuersetin

III.

Cara Kerja

Larutan
uji ditandai
dan pembanding
pada lempeng
KLT
(silika gel F
Batas
elusi
5 cm dariditotolkan
tempat penotolan
dengan
menggunakan
254 untuk ekstrak cinamomum,
mengkudu dan ekstak
pensil secaraekstrak
perlahan
temulawak; kertas Toyo untuk ekstrak daun ketela pohon) dengan diberi
jarak pada masing-masing sampel
Lempeng dimasukkan dalam bejana KLT yang sudah dijenuhkan dengan
diberi fase gerak

ekstrak
mengkudu
dengan fase
gerak etertoluen-asam
asetat

ekstrak
cinnamomum
dengan fase
gerak toluenetil asetat

ekstrak
temulawak
dengan fase
gerak
kloroformmetanol

ekstrak daun
ketela pohon
dengan fase
gerak asam
asetat 30%

Diamati dan didokumentasikan pada kondisi sinar tampak, sinar UV 254 dan UV
366

disemprot
dengan vanilinasam sulfat

disemprot
dengan KOH 5%
etanolik

dipanaskan110
o
C selama 5
menit, diamati
UV 254 dan UV
366

diamati pada UV
254 dan UV 366

diamati pada
kondisi sinar
tampak dan UV
366

dihitung Rf

dihitung Rf

dihitung Rf

IV.Data dan Hasil Praktikum


A. Ekstrak cinnamomum cortex
Dokumentasi
Sebelum disemprot
a Tampak

UV 254

UV 366

dihitung Rf

disemprot
dengan
sitoborat

Sesudah disemprot
a

Tampak

UV 254

UV 366

Data dan perhitungan Rf

1
2
3
4

Sebelum disemprot
TAMPAK
UV 254
UV 366
P
S
P
S
P
S
3,5 0,4
2,5
0,7
3,2
Rf =

jarak rambat bercak senyawa


jarak rambat fase gerak

Sebelum disemprot
1. Tampak
a. Pembanding
-

Setelah disemprot
1. Tampak
a. Pembanding
-

b. Sampel
2. UV 254
a. Pembanding
3,5
Rf = 5,2 = 0,67
b. Sampel
0,4
Rf = 5,2

= 0,07

Rf =

0,7
5,2

= 0,13

Rf =

3,2
5,2 = 0,62

a. Pembanding
-

Rf =

3,2
5,2

= 0,62

2. UV 254

Rf =

0,7
5,2

= 0,13

Rf =

1,5
5,2

= 0,29

Rf =

2
5,2

= 0,38

Rf =

3,5
5,2

= 0,67

Rf =

0,7
5,2

= 0,13

Rf =

2
5,2

= 0,38

Rf =

2,5
5,2

= 0,48

Rf =

3,2
5,2

= 0,62

b. Sampel

b. Sampel
2,5
5,2

b. Sampel

a. Pembanding

3. UV 366

Rf =

Setelah disemprot
TAMPAK
UV 254
UV 366
P
S
P
S
P
S
3,2 0,7 0,7
3,2
1,5
2
2
2,5
3,5 3,2
-

= 0,48

3. UV 366
a. Pembanding
b. Sampel
Rf =

3,2
5,2

= 0,62

B. Ekstrak mengkudu
Dokumentasi
Sebelum disemprot
a. Tampak

b. UV 254

c. UV 366

Sesudah disemprot
a. Tampak

b. UV 254

c. UV 366

Data dan perhitungan Rf

Setelah
Sebelum disemprot
UV 254
1
2
3
4
Rf =

1. UV 254

S
2
2,5
4,5
5,2

P
-

S
0,6
1
1,5
-

Setelah disemprot

3,8
5,5

a. Pembanding
= 0,69

b. Sampel

Rf =

P
2

TAMPAK

1. Tampak

a. Pembanding

Rf =

S
1,5
4,3
-

UV 366

jarak rambat bercak senyawa


jarak rambat fase gerak

Sebelum disemprot

Rf =

P
3,8
-

disemprot

1,5
5,5

= 0,27

4,3
5,5

= 0,78

2. UV 366
a. Pembanding
2
Rf = 5,5 = 0,36
b. Sampel
Rf =

2
5,5

= 0,36

Rf =

2,5
5,5

= 0,45

Rf =

4,5
5,5

= 0,82

Rf =

5,2
5,5

= 0,94

C. Ekstrak temulawak
Dokumentasi
a. Tampak

b. Sampel
Rf =

0,6
5,5

= 0,11

Rf =

1
5,5

= 0,18

Rf =

1,5
5,5

= 0,27

b. UV 254

c. UV 366

Data dan perhitungan Rf


TAMPAK

a. Pembanding

UV 366

2,3

1,3

2,3

1,3

1,3

0,5

2,6

2,5

2,5

2,4

1,3

4,3

1,8

4,9

4,3

2,5

4,7

4,3

4,9

Rf =
1. Tampak

UV 254

jarak rambat bercak senyawa


jarak rambat fase gerak

Rf =

2,3
5

= 0,46

Rf =

2,6
5

= 0,52

b. Sampel
Rf =

1,3
5

= 0,36

Rf =

2,5
5

= 0,5

Rf =

4,3
5

= 0,86

Rf =

4,9
5

= 0,98

2. UV 254
a. Pembanding
2,3
5

= 0,46

Rf =

1,3
5

= 0,26

Rf =

2,5
5

= 0,5

Rf =

4
5

Rf =

4,3
5

= 0,86

Rf =

4,7
5

= 0,94

Rf =
b. Sampel

= 0,8

3. UV 366
a. Pembanding
Rf =

1,3
5

= 0,26

Rf =

2,4
5

= 0,48

b. Sampel
Rf =

0,5
5

= 0,1

Rf =

1,3
5

= 0,26

Rf =

1,8
5

= 0,36

Rf =

2,5
5

= 0,5

Rf =

4,3
5

= 0,86

Rf =

4,9
5

= 0,98

D. Ekstrak ketela pohon


Dokumentasi
Sebelum disemprot
a. Tampak

b. UV 254

c. UV 366

Sesudah disemprot
a. Tampak

b. UV 366

Data dan perhitungan Rf


Sebelum disemprot
TAMPAK

1
2
3
4

K
-

S
-

Setelah disemprot

UV 254
R
-

K
-

S
-

UV 366
R
-

K
-

S
2,4
5,75
-

TAMPAK
R
5,75
-

K
-

S
6
-

UV 366
R
-

Keterangan :
K = pembanding kuersetin
S = sampel
R -= Pembanding rutin
jarak rambat bercak senyawa
Rf =
jarak rambat fase gerak

Sebelum disemprot
1. Tampak
a. Pembanding Kuersetin
b. Sampel

Setelah disemprot
1. Tampak
a. Pembanding Kuersetin
b. Sampel

c. Pembanding Rutin
-

Rf =

6
8

= 0,78

K
0,5
-

S
3
-

R
-

3. UV 254
a. Pembanding Kuersetin
b. Sampel
c. Pembanding Rutin
-

c. Pembanding Rutin
2. UV 366
a. Pembanding Kuersetin
0,05
Rf =
= 0,06
8
b. Sampel

3. UV 366
a. Pembanding Kuersetin
b. Sampel

Rf =

3
8

= 0,375

c. Pembanding Rutin

Rf =

2,4
8

Rf =

5,75
8

= 0,3

= 0,71

c. Pembanding Rutin
Rf =

5,75
8

= 0,71

V. PEMBAHASAN
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui adanya senyawa fenilpropanoid atau dengan
kombinasi poliketida atau building block dari jalur fenilpropan atau jalur kombinasi
fenilpropan dengan asetat-malonat dalam ekstrak tumbuhan yang dianalisis dan diidentifikasi
menggunakan teknik Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Senyawa yang akan diuji adalah
senyawa Sinamaldehid, Kumarin, Kurkuminoid, Rutin serta Kuersetin. Bahan-bahan tersebut
dianalisis dari beberapa tumbuhan yang telah diekstraksi yaitu: kayu manis (Cinnamomum
cortex) yang dianalisis kandungan Sinamaldehid, mengkudu yang dianalisis kandungan
Kumarin, temulawak (Curcuma xanthorriza) yang dianalisis kandungan kurkuminoid, dan
ketela pohon yang dianalisis kandungan rutin dan kersetinnya.
Berikut ini adalah klasifikasi dari tumbuhan yang digunakan dalam percobaan ini :
1 Cinnamomum cortex (Cinnamomum verum)
- Kingdom: Plantae
- Subkingdom : Tracheobionta
- Superdivisi : Spermatophyta
- Divisi: Magnoliophyta
- Kelas : Liliopsida
- Subkelas: Zingiberidae
- Orde: Zingiberales
- Famili: Costaceae
- Genus: Costus L.
- Spesies : Costus speciosus
2 Mengkudu (Morinda citrifolia L.)
- Kingdom: Plantae
- Divisi : Spermatophyta
- Sub divisi : Angiospermae
- Kelas : Dicotyledone
- Anak kelas : Sympatalae
- Bangsa: Rubiales

3
4

- Suku : Rubiaceae
- Marga / genus : Morinda
- Jenis / spesies : Morinda citrifolia L.
Temulawak (Curcuma xanthorizza)
Ketela pohon
(Wijayakusuma, 1994)
Praktikum kali ini menggunakan teknik KLT, dimana metode ini digunakan untuk

memisahkan senyawa berdasarkan kepolarannya. Semakin polar senyawa yang


diidentifikasi, maka akan semakin suka dengan fase diamnya (like dissolve like) dan tidak
akan bergerak jauh. Sedangkan untuk senyawa yang non polar akan lebih menyukai
dengan fase geraknya yang sama sama non polar sehingga akan memiliki jarak gerak yang
lebih jauh dibandingkan dengan senyawa yang polar. Pada praktikum ini, fase diam yang
digunakan bersifat polar (silika gel F254) dan fase geraknya bersifat non polar.Senyawa
yang dipisahkan adalah senyawa-senyawa yang terdapat dalam ekstrak tumbuhan. Pada
teknik KLT terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan.Diantanya adalah fase gerak,
fase diam dan senyawa pembanding. Masing-masing senyawa mempunyai komposisi fase
gerak yang berbeda, disesuaikan dengan sifat kepolaran senyawa yang akan dianalisis.
Tumbuhan yang disediakan sudah dalam keadaan ekstrak sehingga tidak perlu lagi
melakukan ekstraksi atau pembuatan larutan. Selain itu bejana KLT pun sudah dijenuhkan
dengan fase gerak. Langkah awal yang dilakukan adalah menotolkan sampel pada plat
KLT. Terdapat dua plat KLT, plat KLT pertama, plat silika,

digunakan untuk

mengidentifikasi metabolit sekunder yang terkandung dalam kayu masin, mengkudu dan
temulawak, dan plat KLT kedua, kertas toyo, untuk mengidentifikasi adanya metabolit
sekunder yang terkandung pada ketela pohon. Tanda yang digunakan untuk penotolan
adalah titik. Dimana masing-masing titik pada plat ditotol dengan ukuran yang sesuai,
tidak terlalu besar ataupun kecil. Totolan yang terlalu besar dapat mengakibatkan pelebaran
hasil yang ditakutkan dapat mengganggu senyawa lain, sedangkan totolan yang terlalu
kecil dikhawatirkan tidak terlihat ketika telah dilakukan elusi. Baik titik untuk pembanding
maupun untuk sampel, masing-masing penotolan harus menunggu sampai penotolan
sebelumnya kering terlebih dahulu agar totolan yang dihasilkan tidak melebar.
Lalu plat KLT yang telah ditotol dengan fase gerak tersebut dimasukkan kedalam
bejana yang telah dijenuhi oleh fase gerak. Plat KLT dimasukkan ke bejana dengan hatihati agar fase gerak tidak menyentuh totolan (dikhawatirkan senyawa larut dalam fase
gerak). Selain itu saat memasukkan plat KLT juga harus cepat agar kejenuhan fase gerak
dalam bejana tidak berubah. Penempatan palt ke dalam bejana pun harus lurus, jangan
sampai nantinya hasil yang didapat akan memperlihatkan fase gerak yang bergerak tidak
lurus. Hal tersebut akan mempersulit dalam penentuan batas elusi dan perhitungan Rf
nantinya. Kemudian ditunggu hingga fase gerak mencapai batas elusi yaitu 5cm dari
totolan untuk plat kayu manis, mengkudu dan temulawak, sedangkan batas elusi untuk
ketela pohoon mencapai 8 cm. Setelah mencapai batas elusi, plat KLT diambil dan
ditunggu hingga kering. Untuk pengeringan elusi ketela pohon menggunakan hair dryer
agar benar-benar kering.

Selanjutnya hasil KLT yang didapatkan nantinya akan diuji dalam beberapa uji yang
harus dilakukan secara berurutan. Yaitu uji deteksi sinar tampak, UV 254, UV 366, deteksi
UV 254 dan 366 setelah penyemprotan untuk visualisasi, kecuali temulawak. Untuk
mengetahui keberadaan senyawa yang dianalisis, senyawa pembanding menjadi penting.
Senyawa pembanding yang digunakan adalah senyawa yang diperkirakan ada di dalam
ekstrak tumbuhan yang akan diidentifikasi. Sehingga nantinya apabila antara senyawa
pembanding dengan senyawa yang diidentifikasi memiliki nilai Rf yang sama, keduanya
merupakan suatu senyawa yang sama pula.
Analisis senyawa fenilpropanoid dibagi menjadi 2, yaitu senyawa sinamaldehid dan
kumarin. Fenilpropanoid merupakan derivat enyawa fenol dar asam aamino fenlalanin dan
tirosin yang dibentuk melalui jalur biosintesis sikimat. (Kar, 2007) Senyawa sinamaldehid
yang dianalisis berada pada tanaman kayu mans (Cinnamomum cortex), sedangkan
senyawa kumarin berada pada tanaman mengkudu.

Untuk uji senyawa sinamaldehid, bahan yang digunakan adalah kayu manis
(Cinnamomum cortex), dimana kayu manis mengandung senyawa yang termasuk dalam
fenilpropan, yaitu sinamaldehid, safrol, sineol dan eugenol. (Kar, 2007) Berikut adalah
struktur kimia dari sinamaldehid yang terkandung dalam kayu manis:

(Kar, 2007)
Setelah dilakukan elusi dengan fase gerak toluen-etil asetat (93-7), didapatkan hasil Rf untuk
pembanding sinamaldehid adalah 0,67 sedangkan dari kayu manis terdapat bercak dengan
nilai Rf sebesar 0,62. Hal ini memperkuat dugaan bahwa kayu manis mengandung
sinamaldehid, terlebih warna kedua bercak yang sama yaitu kecoklatan. Hasil ini didapatkan
pada sinar UV 254 nm, sebelum mendapatkan perlakuan visualisasi.

(Anonim, 2008)
Berdasarkan gambar, Rf pebanding sinamaldehid berkisar diantara 0,65 dan
kemungkinan dugaan kayu manis mengandung sinamaldehid benar. Untuk lebih
memperjelas hasilnya, dilakukan visualisasi berupa penyemprotan dengan vanilin-asam
sulfat dan pemanasan dengan suhu 1100C. Pemanasan harusnya menggunakan oven,
sehingga suhu tetap terjaga dengan baik. Namun, pada praktikum ini, pemanasan dilakukan
dengan menggunakan kompor dan terdapat kesalahan dalam pemanasan, dimana
kemungkinan terjadi pemanasan yang melebihi dari suhu seharusnya sehingga terdapat
beberapa bagian kertas KLT. yang terbakar dan tidak dapat diamati kembali pada UV 366
setelah dilakukan penyemprotan. Penyemprotan dilakukan agar bercak dapat terlihat dengan
bantuan energi sinar UV. Hasil penyemprotan dan pemanasan menunjukkan bahwa bercak
yang terlihat ada UV 254 sebelum penyemprotan masih sama dengan Rf yang sama. Namun,
ada UV 366 dan sinar tampak, hanya bercak sampel dengan Rf 0,62 saja yang terlihat. Hal
inii dikarenakan kerusakan struktur pada saat penyemprotan dan pemanasan.
Pada uji senyawa kumarin, bahan yang digunakan adalah mengkudu, dimana
mengkudu mengandung skopoletin, (Kar, 2007) Berikut adalah struktur kimia dari kumarin:

(Kar, 2007)
Setelah dilakukan elusi dengan fase gerak eter-toluen-asam asetat 10% (55;45;0.8)
didapatkan hasil Rf untuk pembanding kumarin adalah 0,36 sedangkan dari ekstrak
mengkudu terdapat bercak dengan nilai Rf sebesar 0,36 dilihat pada UV 366 nm sebelum
visualisasi. Nilai Rf yang sama memberikan dugaan yang kuat bahwa mengkudu
mengandung kumarin. Untuk memperjelas dan membuktikan lebih lanjut dugaan yang ada,
dilakukan visualisasi dengan penyemprotan KOH metanolik. Hasil yang didapatkan pada
setelah visuaisasi menggunakan sinar UV 366 nm menunjukkan bahwa nilai Rf pembanding

dan sampel sama, yaitu 0,33. Dibandingkan dengan gambar, Rf pembanding berkisar diantara
0,4 dan masih bisa dikatakan bahwa mengkudu mengandung senyawa kumarin (skopoletin).

(Anonim, 2008)

Pada uji kurkuminoid, bahan yang akan diuji kandungan kurkuminoid adalah Curcuma
xanthorrizha Roxb., dimana rimpang temulawak ini mengandung kurkuminoid tidak kurang
dari 4,0% dihitung sebagai kurkumin (Anonim, 2008)
Temulawak memiliki permukaan luar berkerut, warna coklat kekuningan hingga coklat; memiliki
garis tengah hingga 6cm, tebal 2-5 mm, memiliki korteks yang sempit, berkas patahan berdebu,
warna kuning jingga hingga coklat jingga terang, berbau khas, rasa tajam dan agak pahit
(Anonim, 2008)
Pada temulawak, kurkuminoid yang dimiliki merupakan senyawa xantorizol yang
memiliki gugus yang merupakan ciri kurkuminoid. yaitu:

Uji KLT yang dilakukan dengan memberikan totolan pada silica gel F 254 yang
merupakan lempeng fase diam dengan senyawa sampel yaitu ekstrak kental temulawak, dengan
senyawa pembanding yaitu kurkumin. Fase gerak yang digunakan adalah kloroform : methanol
(98:2 v/v). dilihat dari struktur kimia xantrorizol dan kurkumin, keduanya bersifat nonpolar,
sehingga akan lebih terbawa dengan fase gerak.

Setelah diuji menggunakan sinar tampak, UV 254 dan UV 366. Terdapat hasil dimana
pada sinar tampak Nampak bercak berwarna abu-abu pada titik 0,49 sedangkan pada senyawa
temulawak terdapat bercak pada Rf 0,5. Titik yang sama pun Nampak dibawah sinar UV 254 dan
UV 366 dengan warna kuning tua. Berdasarkan teori dalam buku Farmakope Herbal Indonesia,
akan terdapat bercak yang sama pada Rf sebesar 0,5

(Anonim, 2008)
sehingga dapat diperkirakan bahwa temulawak memiliki senyawa kurkuminoid dalam
ekstraknya.
Pada uji flavonoid, bahan yang akan diuji adalah daun ketela pohon, yang merupakan
anggota family Euphorbiaceae dengan nama spesies yaitu Manihot utilissima Pohl.
(Wijayakusuma, 1994). Salah satu golongan flavonoid yang adalah kuersetin dan retin yang
diduga terdapat juga dalam daun ketela pohon.

Struktur Rutin

Struktur kuersetin
Uji KLT yang dilakukan pada senyawa ini menggunakan kertas toyo no 51, dimana kertas
toyo terbuat dari selulosa yang bersifat nonpolar, sehingga KLT yang dilakukan merupakan KLT
terbalik. Dimana fase diam bersifat lebih nonpolar dibanding dengan fase gerak. Fase gerak yang
digunakan adalah asam asetat 30%. Setelah fase gerak telah jenuh dalam bejana KLT dilakukan
penotolan pada kertas toyo yang berukuran panjang 8 cm, kertas ditotol pada 3 ttik, dimana
sebelah kiri merupakan kuersetin, tengah berupa sampel, dan bagian kanan adalah rutin. Sampel
diletakkan ditengah agar dapat dengan mudah melihat bercak Rf antara dua pembanding yang
ada. Pembanding yang diberika dua dengan tanpa dicampur, karena kedua pembanding memiliki
Rf dan sifat kepolaran yang berbeda. Ditakukan apabila dicampur, nantinya keduanya tidak dapat
terdeteksi.

Pengamatan hasil KLT dilakukan dua kali, yaitu sebelum penyemprotan dan setelah
penyemprotan. Sebelumnya perlakuan KLT terjadi cukup lama Karena fase KLT yang digunakan
tebalik, setelah dilakukan KLT. Pengamatan sinar tampak dan UV 254 tidak memberikan hasil
apapun, sedangkan pada isnar UVterdapat bercak pada sampel dengan nilai Rf sebesar 0,3 dan
0,71. Pada pembanding kuersetin tidak terlihat apa-apa. Dan pada rutin terapat Rf sebesar 0,71.
Diduga sementara daun ketela pohon mengandung rutin karena memiliki bercak Rf yang sama
dengan warna yang sama yaitu gelap keabu-abuan.
Setelah itu dilakukan penyemprotan dengan sitroborat dan dilakukan pengamatan
kembali. Pada sinar tampak, bercak tidak terlihat sama sekali pada kedua pembanding.
Sedangkan pada sampel uji terdapat Rf senilai 0,78. Kemudian dilakukan pengamatan pada UV
254 dan tidak terlihat apapun pada bercak, sedangkan pada UV 366 terdapat bercak pada
pembanding kuersetin dengan nilai Rf sebesar 0,06, senyawa uji memiliki bercak yang panjang
mulai dari 0 mm hingga 6 cm dengan nilai Rf : 0,375 sedangkan rutin tidak terlihat bercak sama
sekali. Tidak nampaknya bercak ataupun hasil yang kurang bagus dapat terjadi karena beberapa
kemungkinan, salah satunya adalah terlalu polarnya fase gerak yang digunakan, Karena pada
KLT ini digunakan sistem terbalik, bisa jadi kemungkinan rutin ynag merupakan bersifat terlalu
polar dibanding dengan fase gerak yang dugunakan sehingga terlewat dalam mengikuti fase
gerak. Dugaan sementara pada uji daun ketela pohon ini, setelah dilakukan penyemprotan dapat
diduga bahwa ekstrak mengandung senyawa flavonoid yaitu kuersetin karena terdapat lintas
becak totolan yang sama.
Semua bercak yang didapatkan pada percobaan kali ini terelusi dengan bagus (tidak ada
yang gagal) sehingga Rf yang dihasilkan cukup baik. Namun, terdapat beberapa titik yang
kurang jelas bahkan tidak tampak pada UV 366 setelah penyemprotan. Hal ini dikarenaka terlalu
panasnya perlakuan setelah penyemprotan.

VI.

KESIMPULAN
1 Sampel Cinnamomum cortex diduga mengandung sinamaldehid berdasarkan
2

kedekatan Rf Cinnamomum dengan pembanding dan persamaan warna


Sampel mengkudu diduga mengandung kumarin berdasarkan kesamaan nilai Rf

yang didapat
Diperkirakan bahwa temulawak memiliki senyawa kurkuminoid dalam ekstraknya

baik berdasarkan nilai Rf dengan pembanding maupun teori


Diduga daun ketela pohon mengandung rutin karena memiliki bercak Rf yang sama
dengan warna yang sama yaitu gelap keabu-abuan. Pada uji daun ketela pohon ini,
setelah dilakukan penyemprotan dapat diduga bahwa ekstrak mengandung senyawa
flavonoid yaitu kuersetin karena terdapat lintas becak totolan yang sama.

VII.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2008, Farmakope Herbal Indonesia, Edisi I, DepKes RI, Jakarta
Dewick, Paul M., 2002, Medicinal Natural Product A Biosynthettic Approach, Edisi 2, John Wiley &
Son Ltd, Inggris

Kar, Ashutosh, 2007, Pharmacognosy and Pharmacobiotechnology, Edisi 2, New Age International
(P) Limited Publishers, New Delhi
Wijayakusuma, H.M Hembing; Setiawan Dalimartha, dkk , 1994, Tanaman BerkhasiatObat di
Indonesia, Pustaka Kartini, Jakarta