Anda di halaman 1dari 82

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di segala bidang

kehidupan yang membawa kesejahteraan bagi umat manusia, pada kenyataannya


juga menimbulkan berbagai akibat yang tidak diharapkan. Salah satu diantara
akibat yang tidak diharapkan tersebut adalah meningkatnya kuantitas maupun
kualitas mengenai cara atau teknik pelaksanaan tindak pidana, khususnya yang
berkaitan dengan upaya pelaku tindak pidana dalam usaha meniadakan barang
bukti, sehingga tidak jarang dijumpai kesulitan bagi para petugas hukum untuk
mengetahui korban atau pelakunya. (Ristania et al., 2011)
Dewasa ini terlihat peningkatan kualitas kejahatan dimana pelakunya
sering

berusaha

menyembunyikan

korbannya

yang

bertujuan

untuk

menghilangkan jejak serta barang bukti agar pelaku dan korbannya tidak dikenal
lagi, dengan demikian seringkali korban ditemukan sudah tinggal tulang belulang.
(Ristania et al., 2011)
Selain itu, kemajuan teknologi yang dijumpai dan pembangunan gedunggedung besar dan bertingkat di kota-kota besar yang semuanya mempunyai resiko
terhadap adanya kemungkinan terjadinya musibah kecelakaan masal atau
kebakaran, demikian pula persenjataan perang dan bencana alam yang akan dapat
menghancurkan semua benda dan manusia yang menjadi korbannya sehingga sulit
atau bahkan tidak dapat dikenali lagi. Disinilah proses identifikasi mempunyai arti

penting baik ditinjau dari segi kepentingan forensik maupun non-forensik.


(Marini, 2013)
Dalam proses penyelidikan suatu tindak pidana, mengetahui identitas
korban merupakan suatu hal yang mempunyai arti yang sangat penting, yaitu
sebagai langkah awal penyidikan yang harus dibuat jelas lebih dahulu sebelum
dapat dilakukan langkah-langkah selanjutnya dalam proses penyidikan tersebut.
Apabila identitas korban tidak dapat diketahui, maka penyidikan menjadi tidak
mungkin dilakukan. Selanjutnya apabila penyidikan tidak sampai menemukan
identitas korban, maka dapat dihindari adanya kekeliruan dalam proses peradilan
yang dapat berakibat fatal. (Ristania et al., 2011)
Identifikasi manusia adalah hal yang sangat penting di bidang forensik
karena identifikasi merupakan hal yang sangat mendasar dalam kehidupan
manusia baik dari sisi sosial maupun hukum (Filho et al., 2009). Pada dasarnya
identifikasi merupakan penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup
maupun mati berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut, sedangkan
identifikasi forensik merupakan usaha untuk mengetahui identitas seseorang yang
ditujukan untuk kepentingan forensik, yaitu kepentingan proses peradilan
(Fatmah, 2011).
Secara garis besar terdapat dua metode dalam identifikasi forensik, yaitu
identifikasi primer dan identifikasi sekunder. Identifikasi primer meliputi
pemeriksaan DNA, sidik jari (finger print), serta identifikasi gigi (odontology),
sedangkan identifikasi sekunder meliputi wajah/foto, rambut, tinggi badan, serta

tanda-tanda khusus lainnya (tatto, tanda lahir, jaringan parut bekas luka lama, dll)
(Novanka, 2012).
Terdapat lima persyaratan teknis dasar yang harus dipenuhi untuk bisa
menjamin penggunaan suatu proses identifikasi, yaitu : (1) unicity, individuality
or variability; (2) immutability; (3) perennity (persistence); (4) practicability;
serta (5) possibility of classification (Filho et al., 2009). Di Indonesia pelaksanaan
proses identifikasi ini dikendalikan oleh dua institusi, yaitu kepolisian selaku
penyidik serta pihak kedokteran forensik dari kalangan medik (Novanka, 2012).
Identifikasi visual adalah cara identifikasi yang paling sering digunakan
pada kasus forensik karena kebanyakan kematian tidak terjadi dalam keadaan
yang luar biasa (unusual circumtances), melainkan merupakan kejadian yang
dapat diidentifikasi secara visual. Namun pada kejadian-kejadian tertentu yang
memerlukan identifikasi kompleks dibutuhkan metode yang lebih objektif dan
akurat. Metode yang biasa digunakan adalah identifikasi primer yang
karakteristiknya sangat individualistik yaitu sidik jari, gigi, serta DNA. (Bansode
et al., 2009)
Pemeriksaan sidik jari digunakan sebagai standar suatu identifikasi, tetapi
pemeriksaan sidik jari postmortem seringkali tidak bisa dilakukan terutama pada
kasus kebakaran, dekomposisi, dan trauma berat. Selain itu, pada keadaan tertentu
dimana pemeriksaan gigi tidak dapat dilakukan, misalnya pada rahang yang
edentulous (ompong), maka analisis terhadap palatal rugae (ruga palatum) dapat
menjadi metode alternatif pada proses identifikasi. (Bansode et al., 2009)

Analisis terhadap ruga palatum (palatoscopy atau rugoscopy) diyakini


cukup menjanjikan karena ruga palatum merupakan analog dari sidik jari dan
memiliki karakteristik yang unik pada setiap individu (Surekha et al., 2012). Ruga
palatum terlindung dari trauma dan suhu tinggi karena posisinya yang berada di
dalam rongga mulut yang dikelilingi oleh bibir, pipi, gigi, lidah, serta tulang
(Indira et al., 2012).
Kemampuan ruga palatum untuk bertahan dari terjadinya dekomposisi bisa
mencapai tujuh hari setelah kematian sehingga korban yang ditemukan sampai
tujuh hari setelah kematian masih dapat dilakukan identifikasi menggunakan
analisis ruga palatum ini (Shubha et al., 2013). Pola maupun jumlah ruga palatum
dapat berbeda pada laki-laki dan perempuan sehingga bisa membantu dalam
melakukan identifikasi terhadap jenis kelamin korban (Shetty et al., 2013). Selain
itu, identifikasi menggunakan ruga palatum ini tidak membutuhkan biaya yang
mahal (Surekha et al., 2012).
Menurut pandangan islam, pemeriksaan terhadap ruga palatum dalam
identifikasi jenis kelamin pada kasus forensik, dan lebih luas lagi, pemeriksaan
terhadap tulang belulang maupun bagian tubuh lainnya dari jenazah masih
menjadi perdebatan di kalangan ulama. Hukum yang mendukung legalisasi
praktek ini menitikberatkan pada segi kemaslahatan umat yang lebih besar,
melalui ilmu pengetahuan di bidang kedokteran. Pada sisi lain, bahwa kedudukan
manusia dalam hukum Islam menempati posisi yang paling dimuliakan Allah jika
dibandingkan dengan makhluk lain ciptaan-Nya. Kemuliaan ini tidak saja pada
waktu hidupnya saja, tetapi sampai wafatnya pun manusia harus tetap dimuliakan.

Sehingga beberapa ulama menolak tindakan pemeriksaan terhadap jenazah


dikarenakan berbagai alasan, diantaranya : (1) kesucian hidup/tubuh manusia, (2)
tubuh manusia adalah amanah, dan (3) bahwa praktek tersebut bisa disamakan
dengan memperlakukan tubuh manusia sebagai benda material (Salamah, 2006).
Secara umum hukum syari masalah ini adalah berangkat dari apakah
pemeriksaan terhadap jenazah seorang muslim tersebut memang terpaksa harus
dilakukan atau tidak, karena pada dasarnya kita tidak boleh melukai, mematahkan
tulang dan lainnya dari jasad seorang muslim berdasarkan hadits Rasulullah SAW,
kecuali dalam keadaan darurat harus melakukan hal itu, maka boleh dilakukan.
Juga berdasar kaidah fiqih bahwa dalam keadaan darurat (terpaksa) bisa
menghalalkan yang haram. Namun untuk memprediksikan apakah ini sudah
dalam keadaan darurat atau belum seringkali terjadi perbedaan diantara para
ulama, sehingga hukum akhirnyapun akan berbeda. (Wibowo, 2009)
Adanya penelitian tentang penggunaan ruga palatum (palatal rugae) untuk
identifikasi jenis kelamin ini merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan
ilmu pengetahuan, dan dengan adanya upaya ini dirasakan dapat memberi manfaat
untuk membantu proses identifikasi. Mengingat analisis terhadap ruga palatum
(palatal rugae) dapat digunakan untuk identifikasi jenis kelamin pada kasus
forensik, maka penulis perlu membahas tentang penelitian ini baik dari segi
kedokteran maupun dari segi Islam.

1.2.

Permasalahan
1. Bagaimana jenis kelamin seseorang dapat ditentukan dengan pengukuran
terhadap ruga palatum (palatal rugae) ?
2. Bagaimana perbedaan hasil pengukuran pada ruga palatum (palatal rugae)
antara laki-laki dan perempuan ?
3. Bagaimana perbedaan postur tubuh antara laki-laki dan perempuan
menurut Islam dan pandangan Islam terhadap pemeriksaan tulang belulang
orang yang telah meninggal serta bagaimana anjuran Islam dalam
menghormati orang yang sudah meninggal dunia?
4. Bagaimana kaitan pandangan kedokteran dan Islam mengenai penggunaan
ruga palatum (palatal rugae) untuk identifikasi jenis kelamin pada kasus
forensik?

1.3.

Tujuan

1.3.1.

Tujuan Umum
Memberikan informasi mengenai identifikasi jenis kelamin dengan
pengukuran ruga palatum (palatal rugae) pada kasus forensik ditinjau dari
kedokteran dan Islam.

1.3.2. Tujuan Khusus


1. Mengetahui dan dapat menjelaskan tentang identifikasi jenis kelamin
berdasarkan pengukuran terhadap ruga palatum (palatal rugae)

2. Mengetahui dan dapat menjelaskan perbedaan hasil pengukuran pada ruga


palatum (palatal rugae) antara laki-laki dan perempuan
3. Mengetahui dan dapat menjelaskan tentang perbedaan postur tubuh antara
laki-laki dan perempuan menurut Islam dan pandangan Islam terhadap
pemeriksaan tulang belulang orang yang telah meninggal serta anjuran
Islam dalam menghormati orang yang sudah meninggal dunia
4. Mengetahui dan dapat menjelaskan kaitan pandangan kedokteran dan
Islam mengenai penggunaan ruga palatum (palatal rugae) untuk
identifikasi jenis kelamin pada kasus forensik

1.4.

Manfaat

1.4.1. Bagi Penulis


Untuk memenuhi persyaratan untuk mendapat gelar dokter muslim di
Fakultas Kedokteran Universitas YARSI serta menambah wawasan dan
pengetahuan dalam bidang kedokteran dan Islam tentang identifikasi jenis
kelamin berdasarkan pengukuran terhadap ruga palatum (palatal rugae)
pada kasus forensik.
1.4.2. Bagi Universitas YARSI
Penyusunan skripsi ini diharapkan dapat memberikan wawasan serta
menjadi sumber pengetahuan dan kepustakaan bagi civitas akademika
Universitas YARSI.

1.4.3. Bagi Masyarakat


Diharapkan skripsi ini dapat membantu dalam memberikan informasi
mengenai manfaat pengukuran ruga palatum (palatal rugae) untuk
identifikasi jenis kelamin pada kasus forensik ditinjau dari kedokteran dan
Islam.

BAB II
PENGGUNAAN RUGA PALATUM (PALATAL RUGAE) UNTUK
IDENTIFIKASI JENIS KELAMIN PADA KASUS FORENSIK
DITINJAU DARI SEGI KEDOKTERAN

2.1. Dasar Pemikiran Penggunaan Ruga Palatum (Palatal Rugae) untuk


Identifikasi Jenis Kelamin Pada Kasus Forensik
2.1.1. Definisi Ruga Palatum (Palatal Rugae)
Ruga palatum (disebut juga plica palatina transversa atau rugae palatina)
merupakan tonjolan pada bagian anterior mukosa palatum yang terdapat pada
kedua sisi raphe palatum media dibelakang papilla incisivus yang membentuk
suatu pola yang unik dan berbeda pada setiap individu (Gambar 1). Secara
anatomis, ruga palatum terdiri dari tiga sampai tujuh tonjolan yang menyebar
secara tangensial dari papilla incisivus. (Hemanth et al., 2010).

Gambar 1 : Gambaran ruga palatum dalam rongga mulut (Santos, 2011)

Ruga palatum merupakan tonjolan asimetris dan irregular yang terletak


pada sepertiga anterior mukosa palatum yang perkembangan nya dimulai pada
bulan ketiga kehidupan intra uterin (Mohammed et al., 2013).
Ruga palatum merujuk pada sekelompok tonjolan transversal pada bagian
anterior mukosa palatum. Ruga-ruga ini terdapat pada setiap sisi raphe palatum
media dibelakang papilla incisivus (Shetty et al., 2013).
Ruga palatum terbentuk dari jaringan penyambung keras yang menutupi
tulang palatum pada bulan ketiga in utero, sedangkan pembentukan pola pada
ruga palatum terjadi pada minggu ke 12 sampai minggu ke 14 kehidupan pre natal
dan tetap dalam keadaan stabil sampai mukosa oral mengalami degenerasi setelah
kematian. Secara histologi, ruga palatum tersusun atas epitel squamosa yang
sebagian besar mengalami parakeratinisasi (Bansode et al., 2009).
Menurut suatu penelitian histologis yang dilakukan oleh Amasaki et al.,
(2003), dilaporkan bahwa ruga palatum berkembang pada bulan ketiga kehidupan
intrauterin sebagai daerah yang terbentuk dari proliferasi dan penebalan epitel
yang terlokalisasi. Kemudian fibroblas dan serat kolagen terakumulasi di dalam
jaringan ikat di bawah epitel yang mengalami penebalan tersebut hingga mencapai
orientasi yang khas (Bharath et al., 2011).

2.1.2. Fungsi Ruga Palatum (Palatal Rugae)


Fungsi dari ruga palatum adalah untuk memfasilitasi transportasi makanan
dan membantu proses pengunyahan. Selain itu, dengan adanya reseptor gustatori

10

dan taktil pada ruga palatum, maka ikut berkontribusi dalam persepsi rasa,
persepsi posisi lidah dan tekstur dari makanan (Chairani, 2008).
Menurut Venegas et al., (2009), secara fisiologis ruga palatum berfungsi
dalam membantu proses menelan, persepsi rasa, berpartisipasi dalam proses
berbicara, proses menelan pada anak-anak dan dalam proses identifikasi
medikolegal (Bharath et al., 2011).

2.1.3. Klasifikasi Ruga Palatum (Palatal Rugae)


Sejumlah klasifikasi penilaian ruga palatum telah dikembangkan, mulai
dari yang sederhana hingga kompleks. Contoh dari klasifikasi sederhana adalah
klasifikasi Carrea yang hanya membagi ruga palatum berdasarkan arah dari ruga
palatum. Klasifikasi ini membagi ruga palatum menjadi 4 tipe yaitu tipe I : ruga
dengan arah posterior-anterior, tipe II : ruga dengan arah perpendikuler ke raphe
mediana, tipe III : ruga dengan arah anterior-posterior dan tipe IV : ruga dengan
berbagai arah. (Chairani, 2008)
Sedangkan yang kompleks contohnya adalah klasifikasi sistem Cormoy.
Pada sistem tersebut ruga palatum diklasifikasikan berdasarkan ukurannya, yaitu :
ruga utama (principal rugae) yang berukuran lebih dari 5 mm, ruga tambahan
(accessory rugae) yang berkisar 3 hingga 4 mm dan ruga fragmentasi (fragmental
rugae) yang kurang dari 3 mm. (Chairani, 2008)

11

Kemudian ruga dinilai bentuknya, asal dan arah dari tiap ruga, namun
kedua tipe klasifikasi ini tidak memungkinkan penggunaan suatu formula
(rugogram) sehingga pemerosesan data dapat menjadi sulit. (Chairani, 2008)
Klasifikasi yang memungkinkan penggunaan rugogram antaranya adalah
klasifikasi Matins dos Santos, Trobo dan Basauri. Secara umum klasifikasi
tersebut menilai ruga palatum berdasarkan bentuknya (garis, titik, kurva, sirkular,
bergelombang, bersudut dan lain-lain). Bentuk ruga palatum tersebut kemudian
ditulis dalam huruf kapital untuk ruga palatum utama dan angka untuk ruga
palatum tambahan, kecuali pada klasifikasi Trobo yang ditulis dalam huruf kecil.
Sedikit perbedaan dari klasifikasi tersebut terletak pada pengkodean dari bentuk
ruga, seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini. (Chairani, 2008)

12

Gambar 2 : Klasifikasi ruga palatum menurut Trobo (Krishanappa S et al., 2013)

13

Klasifikasi lain yang cukup sering dipakai adalah klasifikasi yang dibuat
oleh Thomas CF dan Kotze TFW. Klasifikasi tersebut meliputi jumlah, panjang,
ukuran dan pola penyatuan (unifikasi) dari ruga palatum. Panjang ruga palatum
dibagi atas : lebih dari 10 mm (primary rugae), 5-10 mm (secondary rugae), dan
kurang dari 5 mm (fragmented rugae). Bentuk ruga palatum diklasifikasikan
menjadi kurva (curved), bergelombang (wavy), lurus (straight) dan sirkular
(circular) (Gambar 3). Pola penyatuan (unifikasi) ruga palatum dibagi menjadi
konvergen dimana dua ruga berawal dari asal yang berbeda dan kemudian bersatu
saat menjauh dari pusat, dan divergen dimana ruga berasal dari ruga yang sama
yang kemudian menyebar saat menjauh dari pusat. (Chairani, 2008)

Gambar 3 : Bentuk-bentuk dari ruga palatum : (a) Divergen, (b) Konvergen, (c)
Curvy (melengkung), (d) Wavy (bergelombang), (e) Straight (lurus), (f) Sirkular
(melingkar) (Krishanappa S et al., 2013 dan Chairani, 2008)

2.1.4. Latar Belakang Penggunaan Ruga Palatum (Palatal Rugae) dalam


Identifikasi Forensik
Ditilik dari sejarahnya, identifikasi manusia telah dipelajari sejak abad ke
empat belas dan secara berangsur-angsur mulai menunjukkan manfaat yang amat

14

besar bagi dunia kedokteran forensik hingga saat ini (Mohammed et al., 2013).
Identifikasi pada setiap individu baik yang masih hidup maupun yang sudah
meninggal adalah berdasarkan teori bahwa setiap individu adalah unik. Semakin
unik karakteristik individu tersebut, maka semakin mudah pula proses
identifikasinya (Khanna et al., 2014).
Identifikasi manusia memiliki arti penting dalam kedokteran forensik dan
hal ini merupakan suatu tantangan besar mengingat bahwa setiap individu
memiliki karakteristik yang berbeda (Mutalik et al., 2013). Oleh karena itu,
penentuan identitas seseorang merupakan salah satu proses yang sulit dalam
identifikasi forensik (Paliwal et al., 2010). Identitas merupakan sekumpulan
karakteristik fisik, fungsional atau psikologis, baik normal maupun patologis yang
dapat menjelaskan seorang (Mutalik et al., 2013).
Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah
tidak dikenal, jenazah yang telah membusuk, rusak, hangus terbakar dan pada
kecelakaan masal, bencana alam atau huru-hara yang mengakibatkan banyak
korban meninggal dunia, serta potongan tubuh manusia atau kerangka. Selain itu,
identifikasi forensik juga berperan dalam berbagai kasus lain seperti penculikan
anak, bayi yang tertukar atau diragukan orangtuanya (Marini, 2013).
Metode identifikasi seperti pemeriksaan gigi, sidik jari, serta analisis DNA
merupakan metode yang paling sering digunakan dalam identifikasi forensik yang
memungkinkan berlangsungnya proses identifikasi yang cepat dan aman
(Mohammed et al., 2013). Namun pada keadaan tertentu seperti pada kasus

15

jenazah yang terbakar atau pada jasad yang telah mengalami dekomposisi
sehingga tidak memungkinkan identifikasi dengan menggunakan sidik jari, atau
pada korban dengan rahang edentulous (ompong) yang tidak memungkinkan
identifikasi dengan mengunakan gigi-geligi, maka diperlukan metode alternatif
untuk dapat membantu proses identifikasi (Paliwal et al., 2010).
Terlebih lagi dengan besarnya tuntutan yang dibebankan terhadap
pemberlakuan hukum (law inforcement) demi terciptanya keadilan, maka wajar
saja bila dibutuhkan karakteristik fisik lainnya dalam proses identifikasi (Mutalik
et al., 2013).
Untuk melaksanakan proses identifikasi ini dibutuhkan lima persyaratan
teknis, antara lain variability, immutability, perennity, practicability, serta
possibility of classification. Kelima persyaratan ini dapat ditemukan dalam
analisis ruga palatum (Mohammed et al., 2013), sehinggga dapat disimpulkan
bahwa pemeriksaan terhadap ruga palatum (palatal rugae) yang juga dikenal
dengan istilah Palatal rugoscopy dapat dijadikan sebagai salah satu metode
alternatif yang dapat digunakan dalam identifikasi forensik (Paliwal et al., 2010).
Pemanfaatan ruga palatum sebagai salah satu metode identifikasi
menunjukkan prospek yang menjanjikan karena morfologinya yang unik pada
setiap individu. Pola maupun jumlah ruga palatum dapat berbeda pada laki-laki
dan perempuan sehingga bisa membantu dalam melakukan identifikasi terhadap
jenis kelamin (Shetty et al., 2013).

16

Penggunaan pola ruga palatum sebagai identifikasi personal pertama kali


digagaskan oleh Allen pada tahun 1889, sementara istilah Palatal Rugoscopy
pertama kali diperkenalkan oleh seorang penyidik dari Spanyol bernama Trobo
Hermosa pada tahun 1932 dan sejak saat itu penelitian tentang manfaat ruga
palatum dalam proses identifikasi terus dilakukan dan berbagai metode pun
dikembangkan untuk mempelajari pola ruga palatum agar dapat digunakan untuk
tujuan identifikasi. (Bansode et al., 2009)
Ruga palatum memiliki ketahanan yang cukup baik terhadap perubahan
dari penyakit, trauma, dan zat kimia (Hemanth et al., 2010). Dari penelitian
diketahui bahwa ruga palatum dapat bertahan dari dekomposisi hingga tujuh hari
setelah kematian (Shubha et al., 2013). Posisi anatominya yang berada di dalam
rongga mulut dan dikelilingi oleh pipi, bibir, lidah, gigi, dan lapisan lemak buccal
memungkinkan terbentuknya perlindungan terhadap kebakaran dan trauma berat.
Ruga palatum merupakan bagian tubuh yang dapat terus diakses selama masa
kehidupan, dan diantara bagian tubuh lainnya, ruga palatum termasuk bagian yang
paling terlindungi dengan baik bahkan setelah kematian. (Hemanth et al., 2010)
Adanya kebiasaan mengisap jempol yang ekstrim, pencabutan gigi,
tekanan akibat perawatan ortodonti atau operasi sumbing palatum mungkin bisa
berkontribusi dalam perubahan pada pola ruga palatum. Meskipun bisa saja terjadi
perubahan dari ruga palatum akibat faktor-faktor tersebut, namun perubahan
tersebut tidak terjadi pada keseluruhan dari ruga palatum. Ada bagian ruga
palatum yang tetap stabil meskipun telah dilakukan perawatan ortodonti atau
operasi sumbing palatum. (Chairani, 2008)

17

Perubahan yang terjadi akibat pergerakan gigi karena alat ortodonti,


pencabutan gigi, proses penuaan dan ekspansi palatal tidak menyebabkan
perubahan signifikan pada ruga palatum yang dapat menganggu proses
identifikasi. Dengan begitu dapat dikatakan bahwa ruga palatum tetap bisa
memberikan kontribusi yang cukup besar dalam membantu proses identifikasi.
(Hemanth et al., 2010)
Identifikasi terhadap ruga palatum yang juga dikenal dengan Palatal
Rugoscopy memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan dengan metode identifikasi
lainnya yaitu pola ruga palatum yang unik dan individualistik sehingga
berkontribusi positif untuk identifikasi. Teknik ini juga murah, karena cukup
dengan pembuatan cetakan atau foto intra oral dari rahang atas maka sudah dapat
dilakukan analisa. (Paliwal et al., 2010). Hal menguntungkan lain dari teknik ini
bila dibandingkan dengan teknik lain seperti cheiloscopy atau sidik bibir adalah
masih memungkinkan adanya data ante mortem. Data ante mortem dapat berupa
model gigi, gigi palsu rahang atas atau foto intra oral yang bisa didapat dari dokter
gigi yang merawat korban atau pihak keluarga (Chairani, 2008).
Penelitian terhadap ruga palatum dapat memberikan manfaat yang besar
dikarenakan sifatnya yang sangat individualistik, unik, dan stabil serta biaya
penyelenggaraannya yang terjangkau (low utilization cost). Oleh karena itu,
analisis terhadap ruga palatum dapat dijadikan metode identifikasi forensik yang
ideal. (Mohammed et al., 2013)

18

2.1.5. Tehnik Analisis Ruga Palatum (Palatal Rugae)


Ada beberapa cara untuk menganalisis ruga palatum, yaitu :
1. Pemeriksaan intraoral
Pemeriksaan intraoral merupakan cara yang paling mudah dan
murah, dimana cukup dengan menggunakan kaca mulut dapat dilihat
gambaran ruga palatum dari seseorang (Gambar 4). Namun cara ini
sulit digunakan bila hendak membandingkan antara ruga palatum satu
individu dengan individu yang lain. (Chairani, 2008)

Gambar 4 : Pemeriksaan intra oral (Winans, 2014)


2. Membuat fotografi oral dengan menggunakan kamera intra oral
Fotografi intra oral diambil dengan menggunakan kamera digital
SLR (Gambar 5 b). Peralatan pendukung lainnya yaitu tripod, cermin,
dan batangan logam (sebagai tempat penempelan cermin). Ketiga
peralatan ini dipasangkan ke kamera digital untuk menstandarisasi foto
yang akan diambil (Gambar 5 a) (Hemanth et al., 2010)

19

Gambar 5 : (a) Kamera digital SLR yang telah dilengkapi dengan


perangkat pendukung (tripod, cermin, dan batangan logam sebagai
tempat penempelan cermin); (b) Pengambilan foto intra oral dengan
kamera digital SLR beserta perangkat pendukungnya. (Hemanth et al.,
2010)
Foto yang telah diambil akan dipindahkan ke dalam komputer dan
kemudian titik permulaan dan akhir ruga palatum ditandai dengan
perangkat lunak MS paint version 5.1, lalu hasilnya akan dianalisa
dengan perangkat lunak khusus yaitu Palatal Rugae Comparison
Software (PRCS Version 2.0) (Gambar 6 a-h) (Hemanth et al., 2010)

20

Gambar 6 : (a, b, f) Palatal Rugae Comparison Software


(PRCS); (c) Titik permulaan dan akhir ruga palatum ditandai dengan
perangkat lunak MS paint version 5.1; (d) Titik permulaan dan akhir
ruga palatum ditandai dengan perangkat lunak PRCS; (e)
Memperlihatkan hasil foto yang yang disimpan dalam perangkat lunak
PRCS; (g, h) Memperlihatkan hasil PRCS (Hemanth et al., 2010)

21

3. Pembuatan cetakan
Cara ini juga mudah dan murah yaitu cukup dengan mencetak
rahang atas individu. Rahang dicetak dengan menggunakan irreversible
hydrocolloid dan diisi dengan dental stone. Kemudian hasil cetakan
diperiksa dengan kaca pembesar, pensil, jangka, dan penggaris atau
caliper (Gambar 7) (Chairani, 2008).

Gambar 7 : Peralatan yang digunakan dalam pemeriksaan ruga palatum


(dari kiri ke kanan); kaca pembesar, hasil cetakan ruga palatum, pensil,
jangka, dan penggaris (Rajan et al., 2013)
Hasil cetakan harus bebas dari porus atau gelembung udara
terutama pada bagian anterior dari palatum. Dengan bantuan kaca
pembesar,

ruga

palatum

pada

model

gigi

diwarnai

dengan

pensil/bolpoin hitam untuk memperjelas gambaran pola dari ruga


palatum (Gambar 8). Bila perlu, dapat dibuat foto dan dianalisa dengan
program Photoshop. (Chairani, 2008)

22

Gambar 8 : Pembuatan garis pinggir ruga dengan pensil untuk


memperjelas gambaran pola dari ruga palatum (Mohammed et al.,
2013)
Pengukuran ruga dapat menggunakan penggaris (contohnya
penggaris

Kenson)

atau

kaliper

(Gambar

9).

Untuk

analisa

perbandingan dapat dibuat calcorrugoscopy atau overlay print dari ruga


palatum pada model maksila. (Chairani, 2008)

23

Gambar 9 : Pengukuran ruga palatum : (a) dengan menggunakan


penggaris (Chairani, 2008); (b) dengan menggunakan kaliper (Chopra
et al., 2013)

24

2.2. Perbandingan Hasil Pengukuran Ruga Palatum (Palatal Rugae) Antara


Laki-laki dan Perempuan Pada Kasus Forensik
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Shetty et al (2013) diketahui
bahwa ruga palatum memiliki karakteristik yang lengkap dalam menentukan jenis
kelamin seseorang dan juga bersifat stabil dalam populasi penelitian. Dari
penelitian ini diketahui bahwa perempuan memiliki ruga palatum yang lebih
banyak daripada laki-laki. (Shetty et al., 2013)
Selain itu juga didapatkan perbedaan yang signifikan pada pola ruga
palatum antara perempuan dan laki-laki dimana pola divergen lebih banyak
ditemukan pada perempuan, sementara pada laki-laki lebih banyak ditemukan
pola konvergen (Tabel 4) (Shetty et al., 2013).

Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Chopra et al (2013) juga


didapatkan perbedaan yang signifikan pada pola penyatuan (unifikasi) ruga

25

palatum antara laki-laki dan perempuan, dimana pola divergen lebih banyak
ditemukan pada perempuan, sementara pada laki-laki lebih banyak ditemukan
pola konvergen (Tabel 5 dan Grafik 1) (Chopra et al., 2013)

Grafik 1 : pola ruga palatum pada laki-laki dan perempuan. (Chopra et al., 2013)

26

Penelitian lain yang juga menunjukkan perbedaan signifikan antara pola


ruga palatum pada laki-laki dan perempuan adalah penelitian yang dilakukan oleh
Saraf et al., (2011) (Tabel 6)

Berdasarkan penelitian Bharath et al., (2011), penentuan jenis kelamin


berdasarkan pola penyatuan ruga palatum memiliki nilai P 0,04 yang
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan
secara statistik (Tabel 7) (Bharath et al., 2011)

27

Selain itu, variabel panjang dan bentuk ruga palatum secara statistik
menunjukkan perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan dan
selanjutnya

analisis

diskriminan

terhadap

variabel-variabel

ini

dapat

mengklasifikasikan jenis kelamin individu (Tabel 8, Tabel 9, Tabel 10) (Bharath et


al., 2011).

28

Dari rincian yang diperoleh dari (Tabel 9) dapat dibuat persamaan yang
dapat digunakan untuk penentuan jenis kelamin jika panjang dan bentuk ruga
palatum dipertimbangkan. Persamaan tersebut adalah :

Setelah menggunakan persamaan di atas, penentuan jenis kelamin dapat


dibuat dengan bantuan adjusted canonical centroids -0,3088 sampai 0,3088 yaitu
jika hasil yang diperoleh mendekati -0,3088 maka jenis kelamin individu tersebut
adalah perempuan dan jika centroid yang lain mendekati 0,3088 maka jenis
kelamin dari orang tersebut adalah laki-laki. Dengan uji F likelihood ratio,
persamaan ini memiliki akurasi hingga 73,08 %. (Bharath et al., 2011).
Dari rincian yang diperoleh dari Tabel 10, persamaan berikut ini hanya
dapat digunakan untuk menentukan jenis kelamin hanya jika panjang ruga
palatum dipertimbangkan. Persamaan tersebut adalah :

29

Setelah menggunakan persamaan di atas dengan data baru, penentuan jenis


kelamin dapat dibuat dengan bantuan adjusted canonical centroids -0,2144
sampai 0,2144 yaitu jika hasil yang diperoleh mendekati -0,2144 maka jenis
kelamin individu tersebut adalah laki-laki dan jika centroid yang lain mendekati
0,2144 maka jenis kelamin dari orang tersebut adalah perempuan. Dengan uji F
likelihood ratio, persamaan ini memiliki akurasi hingga 78 %. (Bharath et al.,
2011).
Penentuan jenis kelamin adalah analisis kunci dalam identifikasi forensik
dalam rangka membangun profil biologis dari sisa-sisa jasad manusia. Dalam
konteks ini, penilaian jenis kelamin secara substansial dapat mempersempit profil
biologis untuk jasad yang tidak dikenal. Memang, dalam banyak kasus, klarifikasi
peristiwa dan keputusan pengadilan nantinya akan tergantung pada presisi dan
kehandalan prosedur identifikasi. (Bharath et al., 2011).

30

BAB III
PENGGUNAAN RUGA PALATUM (PALATAL RUGAE) UNTUK
IDENTIFIKASI JENIS KELAMIN PADA KASUS FORENSIK
DITINJAU DARI SEGI ISLAM

3.1. Ruga Palatum (Palatal Rugae) Menurut Pandangan Islam


Di dalam al-quran maupun hadits tidak terdapat penjelasan khusus
mengenai ruga palatum (palatal rugae). Namun dalam proses penciptaan manusia,
sedikit banyak telah menyebutkan satu proses dimana terjadinya pembentukan
tulang secara umum. (Kosasih, 2010) Allah SWT berfirman :

Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati


(berasal) dari tanah (12). Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang
disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) (13). Kemudian air mani itu kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging,
dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu
kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang
(berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik (14). (AlMuminun : 12-14)

31

Adapun proses yang menyebutkan tentang pembentukan tulang adalah

dalam kalimat

(Dan

segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami
bungkus dengan daging). Sebagian Mufassir mengatakan bahwa
perubahan gumpalan daging

menjadi

tulang belulang

bisa

seluruhnya, bisa pula sebagian dari daging. Pada fase ini yang
terpenting

adalah

pembentukan

tulang,

yaitu

berubahnya mudghah menjadi idzam, atau gumpalan kecil darah


menjadi tulang belulang yeng merupakan rangka dari tubuh
manusia. (Mesir, 2013)
Tulang juga merupakan salah satu tanda kebesaran Allah
(Fathullah, 2014), sebagaimana firman Allah SWT :

32

Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang
(temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: "Bagaimana Allah
menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?" Maka Allah mematikan orang
itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya:
"Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?" Ia menjawab: "Saya tinggal di sini
sehari atau setengah hari". Allah berfirman: "Sebenarnya kamu telah tinggal di
sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang
belum lagi beubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang
belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia;
dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya
kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging". Maka tatkala telah nyata
kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata:
"Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Baqarah :
259)

3.2. Perbedaan Postur Tubuh Antara Laki-laki dan Perempuan dalam


Islam
Laki-laki dan perempuan, menurut kodrat, syariat, indra dan akal, jelasjelas berbeda. Baik secara fisik, nilai-nilai maupun ketetapan syariat untuk
masing-masingnya. Sebab Allah SWT telah menciptakan jenis manusia menjadi
dua jenis, laki-laki dan perempuan. (Zaid, 2002). Allah SWT berfirman :

Dan bahwasanya Dialah (Allah) yang menciptakan berpasang-pasangan lakilaki dan perempuan. (QS. An-Najm : 45)
Perempuan dan laki-laki berbeda dalam kodratnya. Allah menegaskan dalam
Al Quran pada peristiwa kelahiran Maryam dalam Surat Ali Imran ayat 36.

33

Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: "Ya Tuhanku,
sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih
mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak
perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon
perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan)
Engkau daripada syaitan yang terkutuk." (QS. Ali Imran : 36)
Perbedaan secara kodrati ini tidak membedakan perempuan dan laki-laki
dalam hal kedudukan namun menentukan perannya dalam kehidupan. Dari segi
fungsi reproduksi perempuan memungkinkan mengandung calon keturunannya
karena perempuan memiliki rahim yang tidak dimiliki oleh laki-laki. Demikian
juga dalam hal pengasuhan dan keberlangsungan bayi saat masih kecil,
perempuan dianugerahi kemampuan untuk menyusui dan perasaan kasih sayang
yang lebih dibandingkan dengan laki-laki. (Muslikh, 2011)
Secara anatomi biologis, laki-laki dan perempuan memiliki bentuk tubuh,
alat kelamin, serta kadar hormon yang berbeda. Contoh yang paling sederhana
adalah, tenaga fisik laki-laki lebih besar dari pada tenaga fisik perempuan. Para
lelaki lebih kuat dalam melakukan pekerjaan keras dan kasar dibandingkan
dengan perempuan. Otot-otot lelaki lebih kekar daripada perempuan. Namun
berdasarkan proses penciptaan manusia baik laki-laki maupun perempuan adalah
sama dan tidak ada kelebihan antara satu dengan lainnya. Allah SWT pun

34

menganggap sama ciptaan-Nya dan tidak ada kekurangan dalam ciptaan-Nya.


(Pajhohesh, 2012). Allah SWT berfirman :

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya. (QS. AsSajdah :7)
Al-quran tidak menceritakan secara kronologis mengenai asal usul dan
proses penciptaan laki-laki dan perempuan, juga tidak dijelaskan secara rinci
tentang pembagian peran laki-laki dan perempuan. (Zuhroni, 2010)
Ayat yang menyebutkan tentang penciptaan perempuan adalah firman Allah
dalam al-quran :

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan


kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari
keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang
banyak.... (QS. An-Nisa : 1)

35

Secara kodrati anatomi biologis, perbedaan laki-laki dan perempuan tidak


dapat disangkal, namun di pihak lain harus diakui bahwa sangat jelas, masingmasing mempunyai keistimewaan (Zuhroni, 2010), sebagaimana diisyaratkan
dalam al-quran :

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada
sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang
laki-laki ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita
(pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan. (QS An-Nisa : 32)

Menurut al-Allamah al- Nasafi dalam Munawar, kelebihan laki-laki atas


perempuan adalah pada akalnya, keteguhan hati, pola pikir, kekuatan fisik,
kemampuan perang, kesempurnaan puasa dan shalat, adzan, khutbah, jamaah,
takbir pada hari tasyrik, kesaksian dalam kasus pidana dan qishas, dua kali lipat
dalam bagian waris, hak nikah dan talak (Muslikh, 2011). Sebagaimana firman
Allah SWT :

36

Allah mensyariatkan bagimu ihwal (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu.


Yaitu, bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak
perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, bagi mereka
dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja,
ia memperoleh separuh harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi
oleh ibu-bapaknya (saja), ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu
mempunyai beberapa saudara, ibunya mendapat seperenam. (Pembagianpembagian tersebut) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah
dibayar utangnya. (Tentang) orangtuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu.
Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi
Mahabijaksana. (QS. An-nisa : 11)
Dalam ayat tersebut, nampak terjadi diskrimasi terhadap perempuan dan
perlakuan tidak adil dalam pembagian warisan. Dan inilah yang dipahami oleh
beberapa orang, namun pada hakekakatnya kalau di teliti secara seksama dan
direnungkan secara akal sehat dan jiwa yang jernih, justru yang demikian itu
adalah pembagian yang adil, karena adil bukanlah harus sama , akan tetapi adil
adalah menempatkan sesuatu pada porposinya masing- masing, karena laki- laki
akan mempunyai tanggung jawab di dalam masyarakat nanti, karena di saat dia

37

mau menikah, dialah yang harus membayar mahar dan menanggung nafakah
keluarga. Berbeda dengan perempuan yang tidak banyak mempunyai tanggung
jawab, bahkan ketika dia setelah menikah, maka kewajiban nafakah di bebankan
kepada suaminya, oleh karenanya sangatlah adil pembagian tersebut.
Namun baik laki-laki maupun perempuan, keduanya sama-sama berhak
menghuni dunia, tetapi menurut kekhususan masing-masing. Keduanya samasama berhak meramaikan bumi dengan peribadatan kepada Allah SWT. Dalam hal
ini, secara umum tidak ada perbedaan antara laki-laki dan wanita. Tentang tauhid,
aqidah, iman, Islam, pahala dan siksa. Begitu pula tentang hak dan kewajiban
syariat secara umum. (Zaid, 2002). Allah SWT berfirman :

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembahKu. (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan


dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik. (QS. An-Nahl : 97)

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia

38

diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. (QS.
Al-Hujuraat :13)
Dalam ayat tersebut Allah SWT menjelaskan bahwa tolak ukur yang dapat
membedakan kemulian manusia satu sama lainnya baik perempuan maupun lelaki
adalah ketakwaannya. (Pajhohesh, 2012)
Akan tetapi, Allah SWT juga telah menetapkan takdir bahwa laki-laki tidak
sama dengan perempuan. Mulai dari bentuk fisik, gerak-gerik sampai sifatsifatnya. Dalam diri laki-laki ada pembawaan kekuatan fisik yang lebih sempurna.
Sementara pada diri perempuan tidak sekuat laki-laki. Sebab perempuan harus
mengalami haid, hamil, melahirkan, menyusui, mengurusi anak yang disusuinya
dan melakukan pendidikan bagi lahirnya generasi masa depan. Perbedaan secara
fisik ini berakibat pada perbedaan kemampuan, baik fisik, akal, pemikiran,
perasaan, kemauan, pekerjaan maupun daya kerjanya. (Zaid, 2002)
Perbedaan-perbedaan tersebut adalah sesuatu yang alami dan tidak boleh
diingkari. Karena di balik semua perbedaan itu pasti ada hikmahnya. Perbedaan
ini seringkali juga menimbulkan perbedaan-perbedaan lain yang berkaitan dengan
hak laki-laki dan perempuan. Namun perbedaan tersebut tidak bertentangan
dengan persamaan esensial lelaki dan perempuan, serta tidak dapat disalah artikan
dengan lebih sempurna atau lebih kurang (Pajhohesh, 2012). Dari perbedaan
itulah maka perempuan dan laki-laki memiliki peran yang saling melengkapi.
Dalam perbedaan peran ini bukan berarti perempuan harus menggantikan peran
laki-laki ataupun sebaliknya, karena masing-masing memiliki proporsi yang
berbeda sesuai dengan kodratnya. (Muslikh, 2011)

39

Secara khusus Allah SWT memberikan tugas kepada laki-laki dengan


beberapa hukum yang sesuai dengan fisiknya, ototnya, kemampuannya, daya
kerjanya, kesabarannya, keuletannya dan kekuatan kerjanya di luar rumah untuk
mencari nafkah bagi orang yang ada di dalam rumah. Sedangkan kepada wanita,
Allah SWT memberikan tugas-tugas khusus yang sesuai dengan fisik,
kemampuan, keahlian, daya kerja dan daya tahan tubuhnya yang lebih lemah.
Allah SWT juga memberikan sejumlah pekerjaan kepada wanita untuk
menyelesaikan urusan-urusan di dalam rumah serta mendidik generasi masa
depan yang ada di rumahnya. (Zaid, 2002)
3.3. Pengurusan Jenazah dalam Islam
Agama Islam sebagai agama terakhir yang dibawa oleh Nabi Muhammad
SAW, untuk semua manusia telah mewajibkan bagi mereka saling hormat antar
sesamanya, walaupun mereka berbeda etnis atau agama. Sikap saling hormat
menghormati ini bukan hanya ketika seseorang itu hidup, namun juga ketika ia
telah meninggal dunia, karena menghormati seseorang yang sudah meninggal
dunia sama halnya dengan menghormati seseorang yang masih hidup. (AlHanaah, 2013)
Rasulullah SAW telah menunjukkan kepada kita bagaimana rasa hormatnya
ketika jenazah seorang yahudi berlalu dihadapannya, dan bagaimana beliau
menyatakan rasa duka yang dalam ketika mendengar raja Najasyi (seorang raja
yang beragama Kristen di Habasyah) meninggal dunia. Akan tetapi, lain halnya
kewajiban kaum muslimin terhadap saudaranya sesama muslim yang meninggal
dunia. (Al-Hanaah, 2013)

40

Mereka yang masih hidup mempunyai kewajiban terhadap hak-hak yang


dimiliki oleh seorang muslim yang meninggal dunia. Bilamana kewajiban ini
ditinggalkan dan tak seorang pun dari mereka memberikan hak-hak orang yang
meninggal dunia tersebut, maka semua orang muslim di tempat itu akan
menanggung dosa, kecuali jika ada seseorang atau sebagian orang yang
melaksanakan hak-hak orang yang meninggal dunia tersebut, maka gugurlah dosa
bagi semuanya. (Al-Hanaah, 2013)
Di antara masalah penting yang terkait dengan hubungan manusia dengan
manusia lainnya adalah masalah perawatan jenazah. Islam menaruh perhatian
yang sangat serius dalam masalah ini, sehingga hal ini termasuk salah satu
kewajiban yang harus dipenuhi oleh umat manusia, khususnya umat Islam.
Perawatan jenazah ini merupakan hak si jenazah dan kewajiban bagi umat Islam
untuk melakukannya dengan pengurusan yang terbaik. (Marzuki, 2012)
Setiap orang yang meninggal dunia harus melalui proses yang dianjurkan
hukum Islam, seperti memandikan, mengkafani, menyalatkan dan kemudian
menguburkannya. Hukumnya fardhu kifayah bagi orang yang masih hidup
terhadap orang yang sudah meninggal, sebagai bentuk penghormatan terakhir.
(Salamah, 2006)
3.3.1. Memandikan Jenazah
Hukum memandikan jenazah adalah fardhu kifayah. Sebagaimana sudah
diketahu, apabila dilakukan oleh orang lain gugurlah kewajiban itu dari yang
lainnya (Ziyad, 2011). Yang wajib dimandikan adalah jenazah Muslim yang tidak

41

mati syahid, yaitu orang yang meninggal dunia dalam pertempuran fi sabilillah
melawan orang kafir (Marzuki, 2012). Orang yang mati syahid tidak perlu
dimandikan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW tentang orang-orang yang gugur
dalam

pertempuran

Uhud:

Jangan

kamu

mandikan

mereka,

karena

sesungguhnya setiap luka dan darah akan semerbak bau kesturi pada hari
kiamat, dan tidak usah mereka dishalati (HR. Ahmad dari Jabir).
Disunnahkan agar orang yang memandikan jenazah adalah yang paling
mengetahui sunnah memandikan jenazah. Ia mendapat pahala besar apabila
berniat ikhlas karena Allah, menutupinya, dan tidak menceritakan apa yang
dilihatnya dari yang tidak disukai (Muhammad, 2007).
Rasulullah SAW bersabda :

Barang siapa memandikan (jenazah) muslim dan merahasiakan keburukannya,


maka Allah mengampuninya empat puluh kali. Dan barangsiapa menggali untuk
kuburnya maka baginya pahala bagaikan pahala memberikan tempat baginya
hingga hari kiamat. Dan barangsiapa mengafaninya, maka Allah akan
memberikan pakaian baginya dari sutera murni surga. (HR. Al-Hakim)
Orang yang memandikan jenazah sebaiknya adalah keluarga terdekat dari si
jenazah, kalau dia tahu cara memandikannya. Apabila jenazah itu laki-laki
seharusnya yang memandikan juga laki-laki. Apabila jenazah itu perempuan yang

42

memandikan juga perempuan. Kecuali untuk anak kecil, maka boleh dimandikan
oleh orang yang berlainan jenis kelamin (Marzuki, 2012). Nabi bersabda:
Apakah yang menyusahkanmu seandainya engkau mati sebelum aku, lalu aku
memandikanmu dan mengkafani, kemudian aku menyalatkan dan menguburmu
(HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Ibnu Hiban, Ad-Daruquthni, dan AlBaihaqi dari Aisyah).
Yang paling utama memandikan jenazah laki-laki saat terjadi perselisihan
adalah yang menerima wasiatnya, kemudian bapaknya, kemudian kakeknya,
kemudian kerabat terdekat dan seterusnya dari ashabahnya, kemudian karib
kerabatnya. Dan yang paling berhak memandikan jenazah perempuan adalah
perempuan yang menerima wasiatnya, kemudian ibunya, kemudian neneknya,
kemudian kerabat terdekat dan seterusnya. Boleh bagi pasangan suami istri
memandikan pasangannya yang wafat. (Muhammad, 2007)
Tata cara memandikan jenazah adalah melaksanakannya di tempat tertutup
yang tidak dilihat orang lain, tidak ada yang hadir selain yang ikut memandikan
atau yang membantunya. Kemudian dilepas pakaiannya setelah diletakkan kain di
atas auratnya sehingga tidak terlihat. Kemudian mengeluarkan kotoran yang ada
diperutnya dan membersihkannya. Kemudian diwudhukan seperti wudhu untuk
shalat, namun para ulama mengatakan tidak memasukkan air ke hidung dan
mulutnya. Sesungguhnya hanya menggunakan kain yang dibasahi dan digosokkan
ke gigi dan dalam hidungnya. Kemudian setelah itu dibasuh kepalanya kemudian
dibasuh semua tubuhnya, dimulai dari sebelah kanan dan kemudian menyusul
sebelah kiri hingga bersih (Ziyad, 2011). Jika dengan sekali basuhan sudah bersih,

43

maka jumlah yang wajib adalah sekali, sedangkan sunnahnya tiga kali. Adapun
jika belum bersih dengan sekali basuhan, maka basuhannya ditambah hingga
bersih sampai tujuh kali basuhan. Disunnahkan pada basuhan terakhir
menggunakan kapur barus (Abdullah, 1985). Rasulullah SAW bersabda :

Dari Ummu Athiyah, ia berkata: Ketika putri Rasulullah SAW meninggal, beliau
datang kepada kami dan bersabda, "Siramlah tiga kali, atau lima kali, atau lebih
dari itu jika kalian pandang itu perlu dengan air (bercampur bunga) bidara.
Jadikanlah yang terakhir (air bercampur) dengan kapur barus, atau bahan
seperti kapur barus; jika kalian sudah selesai memandikannya, beri tahu saya"
Setelah selesai memandikannya, kami beritahukan beliau, kemudian beliau
memberikan kain kepada kami dan bersabda, "Tutuplah dengan kain ini. " (HR.
Bukhari & Muslim)

Dari Ummu Athiyah bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada para perempuan
yang memandikan putrinya, "Mulailah memandikannya dari sisi badan yang
kanan dan tempat anggota wudhu." (HR. Bukhari & Muslim)
Kemudian jenazah dikeringkan, lalu diletakkan di atas kain kafan (Ziyad, 2011)

44

3.3.2. Mengkafani Jenazah


Setelah usai memandikan jenazah, maka diwajibkan mengkafaninya.
Hukum mengkafani jenazah adalah fardhu kifayah atas orang yang hidup. Kafan
diambil dari harta si jenazah sendiri jika dia meninggalkan harta. Kalau ia tidak
meninggalkan harta, maka kafannya menjadi kewajiban orang yang wajib
menghidupinya ketika ia hidup. Kalau orang yang wajib membeli belanja itu juga
tidak mampu, hendaknya di ambilkan dari baitul-mal. Jika baitul-mal itu tidak ada
atau tidak teratur, maka hal itu menjadi kewajiban muslim yang mampu.
Demikian pula keperluan lainnya yang bersangkutan dengan jenazah. (Al-Hanaah,
2013).
Kafan sekurang-kurangnya selapis kain yang menutupi seluruh badan
jenazah, baik jenazah laki-laki maupun perempuan. Sebaiknya untuk laki-laki tiga
lapis kain; tiap-tiap lapis menutupi seluruh badannya. Cara mengafani jenazah
laki-laki yaitu dengan menghamparkan kain kafan sehelai demi sehelai, dan di
atas tiap-tiap lapis itu ditaburkan wangi-wangian, seperti kapur barus dan
sebagainya; lalu jenazah diletakkan di atasnya. Kedua tangannya diletakkan di
atas dadanya, tangan kanan di atas kanan kiri; atau kedua tangan itu diluruskan
menurut lambungnya (rusuknya) (Al-Hanaah, 2013). Kemudian kain kafan itu
dibungkuskan selembar demi selembar, setelah itu diikat dengan tiga ikat tali yang
terbuat dari bagian kain kafan (Arsyi, 2011). Tentang tiga lembar kain kafan ini,
disebutkan dalam hadits :

45

Bagi jenazah wanita disunatkan dikafani dengan 5 lembar, yaitu : basahan


(kain bawah), baju, penutup kepala dan kemudian dibungkus dengan dua lembar
kain yang menutupi seluruh tubuhnya. Pada setiap lembar kain kafan juga
disunatkan diberi harum-haruman, kemudian juga disiapkan tiga utas tali dari
bagian kain kafan. Setelah semuanya siap lalu ditata dengan baik dan berurutan
untuk memudahkan pembungkusan. Pertama tali diletakkan, diperkirakan pada
bagian atas kepala, perut dan di bawah kaki, lalu dua kain pembungkus
dihamparkan satu persatu, kemudian tutup kepala, lalu baju dan paling atas kain
basahan. Mengkafani dimulai dari kain basahan, baju, kerudung lalu dibungkus
dengan dua lembar secara berurutan, dan yang terakhir diikat dengan tali yang
telah dipersiapkan. (Arsyi, 2011). Kain kafan sebaiknya berwarna putih dan bersih
sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

46

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Pakailah pakaian
kalian yang berwarna putih, karena itu adalah pakaian terbaik kalian. Selain itu,
kafanilah jenazah kalian dengan (kain warna putih)

Dari Jabir bin Abdullah, ia memberitahukan Nabi SAW bahwa pada suatu hari ia
telah berkhitbah. Kemudian Jabir menyebutkan kepada beliau bahwa semalam
ada di antara sahabat beliau meninggal yang dibungkus dengan kain kafan yang
tidak panjang dan dikuburkan di malam hari. (Mendengar berita dari Jabir ini)
kemudian Rasulullah SAW mencerca sikap penguburan di malam hari tersebut
sehingga mayat di shalati (terlebih dahulu), kecuali penguburan itu dalam
kondisi darurat. Nabi SAW bersabda, "Jika kalian mengkafani Mayat, maka
perbaguslah kain kafannya. " (HR. Bukhari dan Muslim)
Kafan yang baik maksudnya baik sifatnya, baik cara memakainya, serta
terbuat dari bahan yang baik. Sifat-sifatnya telah diterangkan, yaitu kain yang
putih, begitu pula cara memakainya yang baik. Adapun baik yang tersangkut
dengan dasar kain ialah, jangan sampai berlebih-lebihan memilih dasar kain yang
mahal-mahal harganya (Arsyi, 2011).

47

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid Al Muharibi, telah


menceritakan kepada kami Amr bin Hasyim Abu Malik Al Janbi dari Ismail bin
Abu Khalid dari Amir dari Ali bin Abu Thalib, ia berkata; janganlah kalian
bermewah-mewah dalam mengkafaniku. Karena sesungguhnya aku mendengar
Rasululloh shallallohu alaihi wasallam bersabda: Janganlah kalian bermewahmewah dalam mengkafani, karena sesungguhnya kain tersebut akan cepat
rusak. (HR. Abu Dawud).
3.3.3. Menyalatkan Jenazah (Al-Hanaah, 2013)
Hukum menyalatkan jenazah adalah fardhu kifayah sebagaimana
memandikan dan mengkafaninya. Rasulullah SAW bersabda :

Sholat jenazah disunnatkan berjamaah dan menyalatkan jenazah memiliki


keutamaan yang besar, baik bagi yang menyalatkan maupun bagi jenazah yang
dishalatkan (Marzuki, 2012). Keutamaan bagi yang menyalatkan jenazah
dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam salah satu haditsnya :

48

Barang siapa menyaksikan jenazah sehingga dishalatkan, maka ia memperoleh


pahala satu qirath. Dan barang siapa menyaksikannya sampai dikubur, maka ia
memperoleh pahala dua qirath. Ditanyakan: Berapakah dua qirath itu? Jawab
Nabi: Seperti dua bukit yang besar. (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu
Hurairah)
Syarat melakukan shalat jenazah antara lain : niat; menghadap kiblat;
menutup aurat; suci badan, pakaian, dan tempat; hadirnya jenazah jika ia ada di
tempat; serta mukallaf (Abdullah, 1985).
Adapun rukun shalat jenazah (Muhammad, 2007) yaitu : (a) Niat; (b)
Berdiri Bila Mampu; (c) Takbir 4 kali : dimana takbir pertama dengan membaca
lafadz Allahu akbar, kemudian dilanjutkan dengan membaca surat al-fatihah.
Takbir kedua, yaitu dengan membaca lafadz Allahu akbar, kemudian
dilanjutkan dengan membaca shalawat atas Nabi Muhammad SAW seperti :

49

Takbir ketiga, yaitu dengan membaca lafadz Allahu akbar, kemudian


dilanjutkan dengan membaca doa berikut :

Ya Allah! Ampunilah dia (mayat) berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia


(dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di
tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju
dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau
membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari
rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik
daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada
istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa
kubur dan Neraka.
atau bisa secara ringkas :

"Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat, sejahtera dan maafkanlah dia"
Jika jenazah wanita, maka lafadz hu diganti dengan ha

Takbir keempat, yaitu dengan membaca lafadz Allahu akbar, kemudian


dilanjutkan dengan membaca doa berikut :

50

Ya Allah jangan Engkau halangi kami dari mendapat pahala (atas musibah
kematian)-nya dan jangan Engkau menguji kami sepeninggalnya. Dan ampunilah
kami dan dia.
Jika jenazah wanita, maka lafadz hu diganti dengan ha
Selanjutnya yang terakhir adalah memberi salam dengan memalingkan kepala ke
kanan dan ke kiri.
3.3.4. Menguburkan Jenazah
Setelah jenazah dishalatkan, maka disunatkan segera dikebumikan (Arsyi,
2011), hal ini berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW :

Hukum menguburkan jenazah adalah fardhu kifayah atas orang yang hidup.
Dalamnya kuburan sekurang-kurangnya kira-kira tidak tercium bau busuk jenazah
dari atas kubur dan tidak dapat dibongkar oleh binatang buas, sebab maksud
menguburkan jenazah adalah untuk menjaga kehormatan jenazah itu dan menjaga
kesehatan orang-orang yang ada di sekitar lokasi pemakaman. (Al-Hanaah, 2013)

51

Lubang kubur disunatkan memakai lubang lahad, kalau tanah perkuburan


itu keras, tetapi jika tanah perkuburan tidak keras, mudah runtuh, seperti tanah
yang bercampur pasir, maka lebih baik dibuatkan lubang tengah saja. Lahad
adalah lubang yang digali di sebelah kiblat untuk menempatkan mayat, sedang
lubang tengah adalah lubang kecil di tengah-tengah kubur (Arsyi, 2011).
Sesampainya di kuburan, kepalanya hendaklah di letakkan di sisi kuburan, lalu
diangkat ke dalam lahad atau lubang tengah, kemudian dimiringkan ke sebelah kanan,
dan seterusnya dihadapkan ke kiblat (adapun kiblat yang dimaksud dengan kiblat sesudah
mati ialah dalam lubang lahad) (Al-Hanaah, 2013). Ketika meletakkan jenazah

disunatkan membaca :

Kemudian tiga tali pengikat kain kafan dilepas, pipi kanan dan ujung kaki
ditempelkan ke tanah, lalu jenazah ditutup dengan papan kayu, lalu ditimbun
tanah sampai setinggi satu jengkal dari tanah asal, lalu dipasang tanda atau batu
nisan. Setelah itu menyiram air di atas kubur, sesuai dengan yang dikerjakan Nabi
SAW (Arsyi, 2011) :

52

Dan hal yang tidak boleh dilupakan yaitu mendoakan jenazah, sesuai hadits Nabi
SAW :

3.4. Anjuran untuk Menghormati Orang yang Sudah Meninggal Dunia


dalam Islam
Kedudukan manusia dalam hukum Islam menempati posisi yang paling
dimuliakan Allah SWT jika dibandingkan dengan makhluk lain ciptaan-Nya.
Kemuliaan ini tidak saja pada waktu hidupnya saja, tetapi sampai wafatnya pun
manusia harus tetap dimuliakan. Agama Islam memerintahkan dengan perintah
wajib, agar orang menghormati jenazah dan melarang untuk menodainya, baik
jasmani maupun rohani. (Salamah, 2006)

53

Maka dalam islam tidak diperbolehkan membunuh, melukai, menyakiti


serta mematahkan tulang jenazah atau mencincang tubuhnya walaupun dia telah
meninggal (Wibowo, 2009). Allah SWT berfirman :

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka
di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami
lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk
yang telah Kami ciptakan. (QS : Al-Isra: 70)

Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja, maka


balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya,
dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS. An-Nisa :
93)

Dua prinsip penghormatan jenazah dalam Islam yaitu; kewajiban merawat


jenazah, dan larangan melukai jenazah. Wujud penghormatan terhadap jenazah
bagi manusia yang masih hidup adalah larangan melukai jenazah, baik secara fisik
maupun non-fisik (Salamah, 2006).
Larangan melukai jenazah secara non-fisik sebagaimana diterangkan dalam
hadits dari Aisyah ra., sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda :

54

Dari Aisyah ra. katanya Nabi SAW bersabda, Janganlah kamu memaki orang
yang telah mati karena sesungguhnya mereka telah menemui apa yang mereka
amalkan semasa hidupnya. (HR. Bukhari)
Sedangkan larangan untuk melukai jenazah secara fisik dijelaskan dalam
sabda Rasulullah SAW :

Dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW berkata: mematahkan atau menghancurkan


tulang orang yang sudah mati itu (dosanya) sama saja dengan memecahkan
tulang orang dalam keadaan hidup. (HR. Abu Daud)
Latar belakang turunnya hadits tersebut adalah pada saat penggalian kubur,
para sahabat menemukan tulang belulang yang berserakan. Ketika salah satu
sahabat akan mematahkan tulang tersebut, Nabi bersabda seperti hadits di atas,
dan akhirnya tulang tersebut dikuburkan lagi bersamaan dengan jenazah baru.
(Salamah, 2006).

3.5. Pandangan Islam Mengenai Pemeriksaan Terhadap Tulang Belulang


Orang yang Sudah Meninggal Dunia
Praktek anatomi yang di lakukan dalam dunia kedokteran untuk mengetahui
seluk beluk organ tubuh manusia, agar bisa mendeteksi organ tubuh yang tidak
normal dan terserang penyakit untuk mengobatinya sedini mungkin atau tujuan

55

lainnya seperti untuk mengetahui penyebab kematiannya seiiring maraknya dunia


kriminal saat ini, yaitu salah satunya dengan membedah jasad manusia (otopsi).
(Wibowo, 2009).
Di lihat dari tujuannya praktek bedah dan otopsi jenazah ada beberapa
macam, namun yang paling sering dilakukan adalah : (1) Untuk mengetahui
penyebab kematiannya, saat terjadi tindakan kriminal. Untuk keperluan ini
seorang dokter mengotopsi jenazah untuk mengetahui penyebab kematiaannya.
Apakah jenazah tersebut meninggal secara wajar atau karena tindak kriminal.; (2)
Untuk mengetahui penyebab kematian secara umum. Dengan otopsi ini seorang
dokter dapat mengetahui penyakit yang menyebabkan kematian jenazah tersebut,
sehingga kalau memang itu suatu wabah dan dikhawatirkan akan menyebar, bisa
segera diambil tindakan preventif, demi kemashlahatan.; (3) Otopsi untuk praktek
ilmu kedokteran. Otopsi ini dilakukan oleh para mahasiswa fakultas kedokteran
untuk mengetahui seluk beluk organ tubuh manusia. Ini sangat diperlukan untuk
mengetahui adanya penyakit pada organ tubuh tertentu secara tepat. (Wibowo,
2009).
Pada sisi lain, bahwa kedudukan manusia dalam hukum Islam menempati
posisi yang paling dimuliakan Allah SWT jika dibandingkan dengan makhluk lain
ciptaan-Nya. Kemuliaan ini tidak saja pada waktu hidupnya saja, tetapi sampai
wafatnya pun manusia harus tetap dimuliakan. Hal ini menimbulkan beberapa
kontroversi di kalangan ulama. Di antara ulama yang menolak pelaksanaan otopsi
yaitu Mufti Muhammad Syafi dalam kitabnya Insani Adha seperti yang dikutip
oleh Abul Fadl dengan alasan : (1) kesucian hidup/tubuh manusia, (2) tubuh

56

manusia adalah amanah, dan (3) bahwa praktek tersebut bisa disamakan dengan
memperlakukan tubuh manusia sebagai benda material. (Salamah, 2006)
Selain beberapa alasan diatas Abd al-Salam al-Syukri menambahkan
keberatannya karena untuk menghindari keraguan. Sebab pemanfaatan organ
tubuh manusia termasuk hal yang belum jelas hukumnya, sehingga dikhawatirkan
hal tersebut termasuk dalam kategori subhat bahkan terlarang.
Beberapa dalil normatif menyatakan dengan tegas tentang larangan merusak
mayit, di antaranya di sebutkan dalam hadits-hadits berikut:

Dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW berkata: mematahkan atau menghancurkan


tulang orang yang sudah mati itu (dosanya) sama saja dengan memecahkan
tulang orang dalam keadaan hidup. (HR. Abu Daud)

Apa yang dikemukakan di atas adalah sebuah problematika. Disiplin ilmu


yang sangat penting seperti ilmu bedah atau forensik dalam ilmu kedokteran perlu
diselaraskan dengan prinsip-prinsip hukum Islam, karena ia berada di antara
perintah dan larangan. Di dalam al-Quran maupun hadits tidak ditemukan
anjuran yang tegas untuk melaksanakan otopsi untuk keperluan-keperluan
tertentu. Namun tindakan untuk melakukan otopsi terhadap jenazah, terutama
untuk kepentingan pembuktian di pengadilan semangatnya dapat diselaraskan
dengan firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 58. (Aliboron, 2010)

57

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang


berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di
antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah
memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah
Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. An-Nisa : 58)
Secara umum, hukum syari masalah ini berangkat dari apakah otopsi
jenazah seorang muslim tersebut memang terpaksa harus dilakukan atau tidak,
karena pada dasarnya kita tidak boleh melukai, mematahkan tulang dan lainnya
dari jasad seorang muslim berdasarkan hadits diatas, kecuali dalam keadaan
darurat harus melakukan hal itu, maka boleh dilakukan, sebagaimana diqiyaskan
dengan hukum memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan darurat.
(Wibowo, 2009) Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 173 :

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging


babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi
barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak
menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa

58

baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayan. (QS. AlBaqarah: 173)
Hukum Islam untuk mendukung legalisasi praktek anatomi menitikberatkan
pada segi kemaslahatan umat yang lebih besar, melalui ilmu pengetahuan di
bidang kedokteran. Meskipun ada hadits yang menyatakan larangan merusak
tulang jenazah, namun terdapat perbedaan pendapat boleh tidaknya. Pada hadits

dilarangnya melukai tulang jenazah


karena tanpa ada alasan apa-apa yang membawa pada fungsi kemaslahatan umat.
Di dalam praktek anatomi pada dasarnya bukan untuk merusak tulang jenazah,
meskipun dalam menggunakannya yang terkadang seolah-olah merusak.
(Salamah, 2006).
Menurut Aliboron (2010), untuk mengetahui status hukum terhadap
tindakan

otopsi jenazah yang digunakan sebagai pembuktian hukum di

pengadilan dengan menggunakan teori Qawaid al-Fiqhiyah dapat diterapkan


kaidah-kaidah berikut :
1.

Kaidah Pertama

Kemudaratan yang khusus boleh dilaksanakan demi menolak kemudaratan


yang bersifat umum
Berdasarkan kaidah di atas, kemudaratan yang bersifat khusus boleh
dilaksanakan demi menolak kemudaratan yang bersifat umum. Sebuah

59

tindakan pembunuhan misalnya, adalah tergolong tindak pidana yang


mengancam kepentingan publik atau mendatangkan mudharat am. Untuk
menyelamatkan masyarakat dari rangkaian tindak pembunuhan maka
terhadap pelakunya harus diadili dan dihukum sesuai ketentuan hukum yang
berlaku. Bukti-bukti atas tindakan pembunuhan yang dilakukannya harus
diperkuat agar ia dapat dihukum dan jangan sampai bebas dalam proses
pengadilan, sungguhpun untuk pembuktian itu harus dengan melakukan
otopsi atau membedah jenazah korban.
Dari penerapan kaidah ini, dapat disimpulkan bahwa bedah jenazah
dalam hukum Islam diperbolehkan dengan tujuan untuk memelihara
kemaslahatan masyarakat atau menolak kemudaratan yang bersifat publik,
seperti tindak pidana pembunuhan. Dengan kata lain, otopsi yang
mendatangkan kemudaratan khusus (karena merusak jenazah), boleh
dilakukan untuk melindungi masyarakat dari kemudaratan yang lebih besar,
yakni bebasnya seorang pembunuh karena tidak terbukti jika tindakan otopsi
tidak dilakukan.
Di dalam hukum Islam, suatu tindakan yang dilandasi oleh alasan
untuk menjamin keamanan dan keselamatan diri orang yang hidup harus
lebih diutamakan daripada orang yang sudah mati.
2.

Kaidah Kedua

Kemudaratan itu membolehkan hal-hal yang dilarang

60

Dari kaidah kedua dapat dipahami bahwa persoalan darurat itu


membolehkan sesuatu yang semula diharamkan. Berangkat dari fenomena
diatas, maka otopsi forensik sangat penting kedudukannya sebagai metode
yang dapat membantu dalam mengungkap kematian yang diduga karena
tindak pidana.

Dengan melaksanakan otopsi forensik maka dapat

dipecahkan misteri kematian yang berupa sebab kematian, cara kematian,


dan saat kematian korban.
Dalam proses pembuktian, otopsi adalah tindakan memeriksa tubuh
jenazah, yang meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar maupun dalam,
dengan tujuan menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera,
melakukan interpretasi atas penemuan-penemuan tersebut, menerangkan
penyebab kematian serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainankelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian.
Di dalam sebuah negara atau bangsa tegaknya keadilan hukum
adalah hal yang sangat diperlukan dalam mengatur masyarakat. Penegak
hukumlah yang paling bertanggungjawab atas tegaknya keadilan hukum di
tengah masyarakat. Tegaknya hukum yang adil dalam perspektif Islam tentu
diserahkan pada ahlinya agar di dalam penerapannya dengan cara yang adil
dan teratur.
Berkaitan dengan otopsi, maka penegak hukum harus bekerja sama
dengan dokter ahli bedah yang dapat dipercaya kejujurannya, agar jenazah

61

tersebut

mendapatkan

visum

et

repertum,

sehingga

dari

hasil

penyelidikannya itu memberi keterangan yang sebenarnya kepada penegak


hukum untuk mengetahui dengan baik suatu perbuatan tindak pidana.
Menjatuhkan sanksi hukum terhadap si terdakwa tidak boleh
dihalang-halangi oleh siapapun dan alasan apapun, misalnya; pelaku
kejahatan tidak diketahui, tidak ada tanda-tanda yang dapat dijadikan bukti,
pembuktian melalui penyelidikan biasa sulit dilakukan, maka dalam kondisi
seperti ini otopsi atau bedah jenazah dapat dilakukan sebagai wahana
penyelidikan karena dianggap sangat diperlukan dalam penegakan hukum.
3.

Kaidah Ketiga

Tiada keharaman dalam kondisi darurat, dan tidak ada makruh dalam
kondisi hajat
Kaidah ketiga ini menyatakan bahwa tiadanya keharaman dalam
kondisi darurat, seperti halnya tidak adanya kemakruhan dalam kondisi
hajat. Maka jika otopsi di atas dipahami sebagai hal yang bersifat darurat,
artinya satu-satunya cara membuktikan, maka otopsi itu sudah menempati
level darurat, dan karena itu status hukumnya dibolehkan.
4.

Kaidah Keempat

Keperluan dapat menduduki posisi keadaan darurat

62

Kaidah keempat di atas dapat memperkuat argumentasi kaidah


sebelumnya. Maksudnya kaidah ini adalah hajat menempati kedudukan
darurat, baik hajat umum maupun hajat yang bersifar perorangan.
Dari kaidah-kaidah di atas, dapat dipahami bahwa otopsi untuk kepentingan
penegakkan hukum itu karena keperluan yang berada pada level hajat statusnya
diperbolehkan di dalam hukum Islam (Aliboron, 2010).

63

BAB IV
KAITAN PANDANGAN KEDOKTERAN DAN ISLAM TENTANG
PENGGUNAAN RUGA PALATUM (PALATAL RUGAE)
UNTUK IDENTIFIKASI JENIS KELAMIN
PADA KASUS FORENSIK

Dalam kedokteran diperbolehkan menggunakan ruga palatum (palatal rugae)


untuk menentukan jenis kelamin dalam proses identifikasi forensik karena :
1.

Ruga palatum memiliki fitur parameter identifikasi forensik yang ideal karena
polanya yang unik dan berbeda pada laki-laki dan perempuan sehingga dapat
digunakan dalam proses identifikasi jenis kelamin.

2.

Pemeriksaan terhadap ruga palatum telah memenuhi persyaratan teknis dalam


proses

identifikasi,

antara

lain

variability,

immutability,

perennity,

practicability, serta possibility of classification.


3.

Penggunaan ruga palatum dalam identifikasi forensik sangat menguntungkan


karena biayanya yang relatif murah, proses analisanya yang cukup sederhana,
dan hasil yang reliable serta ketahanannya yang cukup baik terhadap
sejumlah faktor seperti suhu, dekomposisi, usia atau intervensi perawatan.
Menurut Islam, secara anatomi biologis, perbedaan antara laki-laki dan

perempuan memang tidak dapat disangkal, namun harus diakui bahwa di pihak
lain setiap individu mempunyai keistimewaan masing-masing. Oleh karena itu

64

Allah SWT memerintahkan manusia untuk saling menghargai dan menghormati


baik kepada orang yang masih hidup maupun orang yang sudah meninggal dunia.
Kewajiban yang harus dilakukan oleh orang yang masih hidup terhadap orang
yang meninggal dunia sesuai dengan ajaran islam yaitu memandikan, mengkafani,
menyalatkan dan kemudian menguburkannya. Hukumnya fardu kifayah dan hal
ini merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap orang yang meninggal
tersebut.
Wujud penghormatan lainnya terhadap orang yang sudah meninggal dunia
adalah larangan melukai jenazah, baik secara fisik maupun non-fisik. Maka dalam
islam tidak diperbolehkan mematahkan tulang jenazah atau mencincang tubuhnya.
Hal ini kemudian menimbulkan dilema dalam kedokteran forensik, khususnya
menyangkut proses identifikasi jenis kelamin dengan menggunakan ruga palatum.
Secara umum hukum syari masalah ini adalah berangkat dari apakah
pemeriksaan terhadap tulang belulang jenazah tersebut memang terpaksa harus
dilakukan atau tidak, karena pada dasarnya kita tidak boleh melukai, mematahkan
tulang dan lainnya dari jasad, kecuali dalam keadaan darurat harus melakukan hal
itu, maka boleh dilakukan, sebagaimana diqiyaskan dengan hukum memakan
makanan yang diharamkan dalam keadaan darurat. Hukum Islam untuk
mendukung legalisasi pemeriksaan tulang belulang ini menitikberatkan pada segi
kemaslahatan umat yang lebih besar, melalui ilmu pengetahuan di bidang
kedokteran.

65

Kedokteran dan Islam sependapat bahwa penentuan jenis kelamin dengan


pemeriksaan terhadap ruga palatum demi terciptanya kemaslahatan umat yang
lebih besar melalui proses identifikasi adalah hal yang diperbolehkan.

66

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
1. Pola ruga palatum yang unik dan berbeda antara laki-laki dan perempuan
memberikan kontribusi positif dalam proses identifikasi jenis kelamin.
Penggunaan

ruga

palatum

dalam

identifikasi

forensik

sangat

menguntungkan karena biayanya yang relatif murah, proses analisanya


yang cukup sederhana, dan hasil yang reliable serta ketahanannya yang
cukup baik terhadap sejumlah faktor seperti suhu, dekomposisi, usia atau
intervensi perawatan.
2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti, didapatkan
perbedaan yang signifikan pada pola ruga palatum antara perempuan dan
laki-laki, dimana pola divergen lebih banyak ditemukan pada perempuan,
sementara pada laki-laki lebih banyak ditemukan pola konvergen.
3. Menurut Islam, secara anatomi biologis, perbedaan antara laki-laki dan
perempuan memang tidak dapat disangkal, namun harus diakui bahwa di
pihak lain setiap individu mempunyai keistimewaan masing-masing. Allah
SWT memerintahkan manusia untuk saling menghargai dan menghormati,
baik kepada orang yang masih hidup maupun orang yang sudah meninggal
dunia. Sehingga dalam islam terdapat larangan melukai jasad orang yang
telah meninggal dunia, baik secara fisik maupun non-fisik.

67

4. Penentuan jenis kelamin dengan pemeriksaan terhadap ruga palatum demi


terciptanya kemaslahatan umat yang lebih besar melalui proses identifikasi
forensik adalah hal yang diperbolehkan dalam kedokteran maupun Islam.

5.2.

Saran

1. Meskipun analisa ruga palatum cukup menjanjikan dalam menentukan


jenis kelamin dalam proses identifikasi forensik, namun masih tetap
diperlukan penelitian lebih lanjut sehingga pemanfaatan ruga palatum
dalam hal ini dapat menjadi semakin luas dan optimal.Perlu ada suatu
konsensus mengenai klasifikasi yang dipakai dalam rugoskopi.
2. Adanya

keseragaman

klasifikasi

tersebut

akan

memungkinkan

perbandingan yang valid dari hasil-hasil penelitian. Hal itu juga akan
mempermudah

bagi

para

peneliti,

bila

kelak

suatu

saat

akan

mengembangkan bank data dari pola ruga palatum dalam suatu populasi.

68

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah. 1985. Tata Cara Mengurus Jenazah Disertai Fatwa Para Ulama
Terkemuka
Seputar
Masalah
Jenazah.
Tersedia
di
http://books.islamway.net/id/id_how_to_pray_for_the_dead.pdf. Diakses
pada tanggal 21 Maret 2014.
Al-Hanaah,
Irma.
2013.
Pengurusan
Jenazah.
Tersedia
di
http://irmaalhanaah.wordpress.com/2013/09/14/pengurusan-jenazahmengkafani-sampai-takziah/. Diakses pada tanggal 21 Maret 2014.
Aliboron.
2010.
Hukum
Bedah
Mayat
(Otopsi).
Tersedia
di
http://aliboron.wordpress.com/2010/10/26/hukum-bedah-mayat-otopsi/.
Diakses pada tanggal 21 Maret 2014.
Arsyi,
Noer
Faqih.
2011.
Merawat
Jenazah.
Tersedia
di
http://sman1jember.sch.id/materipai/3.%20FIQIH/PDF/XI.2.11%20MENG
URUS%20JANAZAH.pdf. Diakses pada tanggal 21 Maret 2014.
Bansode et al., 2009. Journal of Forensic Dental Sciences, July-December 2009,
Vol 1, Issue 2 Importance of palatal rugae in individual identification.
Tersedia
di
http://www.jfds.org/temp/JForensicDentSci1277152038_041323.pdf. Diakses pada tanggal 21 Maret 2014.
Bharath et al. 2011. Journal of Forensic Dental Sciences July-December 2011, Vol
3, Issue 2 Sex determination by discriminant function analysis of ruga
palatume from a population of coastal Andhra. Tersedia di
http://www.jfds.org/temp/JForensicDentSci3258-1470126_040501.pdf.
Diakses pada tanggal 21 Maret 2014.
Chairani, Shanty. 2008. Indonesian Journal of Dentistry 2008; 15 (3):261-269,
Pemanfaatan Ruga Palatal Untuk Identifikasi Forensik. Tersedia di
http://www.jdentistry.ui.ac.id/index.php/JDI/article/view/35/31.
Diakses
pada tanggal 18 Maret 2014.
Chopra et al., 2013. Universal Research Journal of Dentistry May-August 2013,
Vol 3, Issue 2 Ruga palatume and Arch Length: A Tool in Gender
Determination. Tersedia di http://www.urjd.org/temp/UnivResJDent32541840541 050645.pdf. Diakses pada tanggal 20 Maret 2014.
Fathullah, Ahmad Lutfi. 2014. Tulang sebagai Tanda Kebesaran Allah. Tersedia di
http://alquranalhadi.com/index.php/kajian/tema/2618/tulang-sebagai-tandakebesaran-allah. Diakses pada tanggal 10 April 2014.
Fatmah, Syaulia. 2011. Romans Forenik Edisi 20 Identifikasi Forensik.
Tersedia
di
http://id.scribd.com/doc/54671022/3/IDENTIFIKASIFORENSIK. Diakses pada tanggal 21 Maret 2014.
Filho et al. 2009. RFO, v. 14, n. 3, p. 227-233 Palatal rugae patterns as
bioindicators of identification in Forensic Dentistry. Tersedia di
http://files.bvs.br/upload/S/1413-4012/2009/v14n3/a227-233.pdf. Diakses
pada tanggal 19 Maret 2014.

69

Hemanth et al., 2010. Journal of Forensic Dental Sciences July-December 2010,


Vol 2, Issue 2 Identification of individuals using palatal rugae :
computerized
method.
Tersedia
di
http://www.jfds.org/temp/JForensicDentSci2286-1226188_032421.pdf.
Diakses pada tanggal 21 Maret 2014.
Indira et al., 2012. Journal of Forensic Dental Sciences, January-June 2012, Vol 4,
Issue 1 Ruga palatume patterns for establishing individuality. Tersedia di
http://www.jfds.org/temp/JForensicDentSci412-1672023_043840.pdf.
Diakses pada tanggal 21 Maret 2014.
Khanna et al., 2014. Journal of Forensic Dental Sciences January-April 2014,Vol
6, Issue 1Training module for cheiloscopy and palatoscopy in forensic
odontology. Tersedia di http://www.jfds.org/temp/JForensicDentSci61361252973_032849.pdf. Diakses pada tanggal 20 Maret 2014.
Kosasih, Aceng. 2010. Konsep Manusia Utuh dalam Pendidikan Umum. Tersedia
di
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/M_K_D_U/196509171990011ACENG_KOSASIH/Konsep_Manusia_Utuh.pdf. Diakses pada tanggal 10
April 2014.
Krishanappa S et al. 2013. J Adv Med Dent Scie 2013;1(2):53-59 Palatal
Rugoscopy: Implementation in Forensic Odontology- A Review. Tersedia
dihttp://www.jamdsr.com/pdf/8.PalatalRugoscopyImplementationinForensi
cOdontology-AReview.pdf. Diakses pada tanggal 21 Maret 2014.
Marini.
2013.
Identifikasi
Forensik.
Tersedia
di
http://id.scribd.com/doc/186418574/referat-identifikasi-3. Diakses pada
tanggal 21 Maret 2014.
Marzuki.
2012.
Perawatan
Jenazah.
Tersedia
di
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/dr-marzuki-mag/drmarzuki-mag-perawatan-jenazah.pdf. Diakses pada tanggal 21 Maret 2014.
Mesir. 2013. Manusia dalam Al-quran : Memahami Terminologi Al-Insan Dalam
Al-Quran. Tersedia di http://www.sangpencerah.com/2013/07/manusiadalam-al-quran-memahami.html. Diakses pada tanggal 10April 2014.
Mohammed et al., 2013. Journal of Forensic Dental Sciences July-December
2013, Vol 5, Issue 2Rugoscopy : human identification by computerassisted photographic superimposition technique. Tersedia di
http://www.jfds.org/temp/JForensicDentSci5290-1237044_032610.pdf.
Diakses pada tanggal 19 Maret 2014.
Muhammad,
2007.
Hukum-hukum
jenazah.
Tersedia
di
http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_books/single/id_Rulings_Of_The_Fun
erals.pdf. Diakses pada tanggal 20 Maret 2014.
Muslikh. 2011. Peran dan Kedudukan Perempuan dalam Pandangan Islam.
Tersedia di http://www.scribd.com/doc/53535348/MAKALAH. Diakses
pada tanggal 21 Maret 2014.
Mutalik et al., 2013. Journal of Forensic Dental Sciences January-June 2013,Vol
5, Issue 1 Utility of cheiloscopy, rugoscopy, and dactyloscopy for human
identification
in
a
defined
cohort.
Tersedia
di
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3746468/. Diakses pada
tanggal 21 Maret 2014.

70

Novanka, H. 2012. Penentuan Bentuk Dan Pola Permukaan Bibir Orang Indonesia
(Cheiloscopy). Tersedia di http://www.scribd.com/doc/79929676/Untitled.
Diakses pada tanggal 27 Desember 2013.
Pajhohesh, Parto. 2012. Persamaan dan perbedaan lelaki dan perempuan.
Tersedia di http://hauzahmaya.com/2012/04/22/persamaan-dan-perbedaanlelaki-dan-perempuan/. Diakses pada tanggal 22 Maret 2014.
Paliwal et al., 2010. Journal of Forensic Dental Sciences, January-June 2010, Vol
2, Issue 1 Palatal rugoscopy : Establishing identity. Tersedia di
http://www.jfds.org/temp/JForensicDentSci2127-8125199_223411.pdf.
Diakses pada tanggal 21 Maret 2014.
Rajan et al., 2013. J Pharm Bioallied Sci Morphology of palatal rugae patterns
among
5-15
years
old
children.
Tersedia
di
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3722704/. Diakses pada
tanggal 19 Maret 2014
Ristania et al., 2011. Penentuan Usia Saat Kematian Dari Sebuah Jenazah
Berdasarkan
Kerangka
Tubuhnya.
Tersedia
di
http://id.scribd.com/doc/64931514/referat-forensik-2. Diakses pada tanggal
21 Maret 2014.
Salamah. 2006. Analisis Tinjauan Hukum Islam Terhadap Bedah Mayat Anatomi.
Tersedia di http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/18/jtptiain-gdls1-2006-umisalamah-898-BAB4_210-5.pdf. Diakses pada tanggal 21 Maret
2014.
Saraf et al., 2011. J Forensic Odontostomatol 2011;29:1:14-19 Rugae Pattern
As an Adjunct to Sex Differentiation in Forensic Identification. Tersedia
dihttp://www.iofos.eu/Journals/JFOS%20Jun11/3_RUGAE%20PATTERNS
%20AS%20AN%20ADJUNCT%20TO%20SEX
%20DIFFERENTIATION.pdf. Diakses pada tanggal 21 Maret 2014.
Shetty et al., 2013. Journal of Forensic Dental Sciences July-December 2013, Vol
5, Issue 2 Assessment of palatal rugae pattern and their reproducibility
for
application
in
forensic
analysis.
Tersedia
di
http://www.jfds.org/temp/JForensicDentSci52106-1918592_051945.pdf.
Diakses pada tanggal 19 Maret 2014.
Shubha et al. 2013. J Indian Acad Forensic Med. July-September 2013, Vol. 35,
No. 3 A Study of Palatal Rugae Pattern among North and South Indian
Population
of
Davanagere
City.
Tersedia
di
http://medind.nic.in/jal/t13/i3/jalt13i3p219.pdf. Diakses pada tanggal 21
Maret 2014.
Surekha et al., 2012. Journal of Forensic Dental Sciences, July-December 2012,
Vol 4, Issue 2 Assessment of ruga palatume patterns in Manipuri and
Kerala
population.
Tersedia
di
http://www.jfds.org/temp/JForensicDentSci4293-1573205_042212.pdf.
Diakses pada tanggal 21 Maret 2014.
Wibowo, Heru Yulias. 2009. Otopsi Jenazah Dalam Tinjauan Syar'i. Tersedia di
http://masbadar.files.wordpress.com/2009/07/otopsi-jenazah-dalamtinjauan-syari.pdf. Diakses pada tanggal 21 Maret 2014.

71

Winans, J Lawrence, 2014. Comprehensive Oral Exams. Tersedia di


http://www.drwinans.com/general-dentistry/comprehensive-oral-exams/.
Diakses pada tanggal 9 April 2014.
Zaid, Syekh Bakar Abu. 2002. Perbedaan Yang Wajib Diimani. Tersedia di
http://esinislam.com/MediaIndonesian/modules.php?
name=News&file=article&sid=31. Diakses pada tanggal 23 Maret 2014.
Ziyad, Eko Haryanto Abu. 2011. Tata Cara Mengurus Jenazah Muslim dan
Menguburnya.
Tersedia
di
http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_fatawa/single/id_Tata_Cara_Mengurus
_Jenazah_Muslim_dan_Menguburnya.pdf. Diakses pada tanggal 21 Maret
2014.
Zuhroni. 2010. Dasar dan Sumber Syariat Islam. Bagian Agama Universitas
YARSI Jakarta.

72

LEMBAR PERSETUJUAN

Skripsi ini telah kami setujui untuk dipertahankan di hadapan Komisi


Penguji Skripsi, Fakultas Kedokteran UNIVERSITAS YARSI

Jakarta, April 2014

Pembimbing Medik

Pembimbing Agama

(dr. Ferryal Basbeth, Sp.F, DFM)

(Drs. M. Arsyad, M.A.)

ABSTRAK
PENENTUAN JENIS KELAMIN DENGAN PENGUKURAN LINEAR
BASIS CRANII (PALATAL RUGAE) PADA KASUS FORENSIK
DITINJAU DARI KEDOKTERAN DAN ISLAM
Ruga palatum yang juga dikenal sebagai plica palatina transversa atau rugae palatina merupakan
tonjolan pada bagian anterior mukosa palatum yang terdapat pada kedua sisi raphe palatum media
dibelakang papilla incisivus. Pemanfaatan ruga palatum sebagai salah satu metode identifikasi
menunjukkan prospek yang menjanjikan karena morfologinya yang unik pada setiap individu.
Pola maupun jumlah ruga palatum dapat berbeda pada laki-laki dan perempuan sehingga bisa
membantu dalam melakukan identifikasi terhadap jenis kelamin.
Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk memberikan informasi mengenai identifikasi jenis
kelamin dengan pengukuran ruga palatum (palatal rugae) pada kasus forensik ditinjau dari
kedokteran dan Islam. Selain itu penulisan skripsi ini juga bertujuan untuk mengetahui dan
menjelaskan tentang perbedaan postur tubuh antara laki-laki dan perempuan menurut Islam dan
pandangan Islam terhadap pemeriksaan tulang belulang orang yang telah meninggal serta anjuran
Islam dalam menghormati orang yang sudah meninggal dunia.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti, diketahui bahwa perempuan
memiliki ruga palatum yang lebih banyak daripada laki-laki. Selain itu juga didapatkan perbedaan
yang signifikan pada pola ruga palatum antara perempuan dan laki-laki, dimana pola divergen
lebih banyak ditemukan pada perempuan, sementara pada laki-laki lebih banyak ditemukan pola
konvergen.
Penggunaan ruga palatum dalam identifikasi forensik sangat menguntungkan karena biayanya
yang relatif murah, proses analisanya yang cukup sederhana, dan hasil yang reliable serta
ketahanannya yang cukup baik terhadap sejumlah faktor seperti suhu, dekomposisi, usia atau
intervensi perawatan.Pemeriksaan terhadap ruga palatum juga telah memenuhi persyaratan teknis
dalam proses identifikasi, antara lain variability, immutability, perennity, practicability, serta
possibility of classification.
Allah SWT memerintahkan manusia untuk saling menghargai dan menghormati baik kepada orang
yang masih hidup maupun orang yang sudah meninggal dunia. Sehingga dalam Islam terdapat
larangan melukai jasad orang yang telah meninggal dunia, baik secara fisik maupun non-fisik.
Hukum Islam mengenai pemeriksaan terhadap tulang belulang orang yang telah meninggal dunia
menitikberatkan pada segi kemaslahatan umat yang lebih besar, melalui ilmu pengetahuan di
bidang kedokteran. Hukum pengurusan jenazah dalam islam adalah fardu kifayah, dan kewajiban
yang harus dilakukan oleh orang yang masih hidup terhadap orang yang meninggal dunia sesuai
dengan ajaran Islam yaitu memandikan, mengkafani, menyalatkan dan kemudian
menguburkannya.
Skripsi ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat, agar lebih mengenal dan
mempercayakan penggunaan ruga palatum untuk identifikasi jenis kelamin pada kasus forensik.
Untuk kalangan medis agar lebih mendalami manfaat ruga palatum dalam proses identifikasi,
khususnya identifikasi jenis kelamin melalui penelitian lebih lanjut sehingga pemanfaatan ruga
palatum dalam hal ini dapat menjadi semakin luas dan optimal.

ii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah


SWT, yang telah melimpahkan rahmat taufiq dan hidayah-Nya dan shalawat dan
salam kepada Rasulullah SWA, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan
skripsi

yang

berjudul

PENENTUAN

JENIS

KELAMIN

DENGAN

PENGUKURAN LINEAR BASIS CRANII (PALATAL RUGAE) PADA


KASUS FORENSIK DITINJAU DARI KEDOKTERAN DAN ISLAM.
Adapun skripsi ini merupakan salah satu syarat mencapai gelar Dokter
Muslim Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Terwujudnya skripsi ini adalah
berkat bantuan dan dorongan berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. DR. dr. Artha Budi Susila Duarsa, M.kes, selaku Dekan Fakultas
Kedokteran Universitas YARSI.
2. dr. Insan Sosiawan Tunru, Sp.PK, selaku dosen Komisi Skripsi, semoga
Allah SWT memberikan rahmat dan hidayah-Nya.
3. dr. Ferryal Basbeth Sp.F, DFM, selaku Dosen dan Pembimbing Medik
yang telah membimbing dan memberikan arahan terutama dari segi

iii

kedokteran untuk menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih untuk segalanya,


semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya.
4. Drs. M. Arsyad, M.A., selaku Dosen dan Pembimbing Agama yang telah
membimbing dan memberikan arahan terutama dari segi Islam untuk
menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih untuk segalanya, semoga Allah
SWT melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya.
5. Ayahanda tercinta, Neflizal dan Ibunda tercinta Warmawati, selaku orang
tua yang selalu mendukung, membantu dalam segala hal, serta
memberikan semangat, doa dan kasih sayang. Terimakasih untuk
segalanya, semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya.
6. Saudara penulis, Edo Febrian Ananda dan Surya Nugraha Al-Madani yang
ikut mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Sahabat dan teman-teman penulis, Medya Septina T, Melda Khairunisa,
Melyanti Lestari, Nidya Febrina, Putri Ilhami, dan Raja Friska Yulanda.
Terimakasih atas dukungan dan doanya.
8. Seluruh Dosen Fakultas Kedokteran dan Dosen Agama Universitas
YARSI, yang telah memberikan ilmu serta bimbingan selama penulis
mengikuti pendidikan.
9. Staf Perpustakaan Universitas YARSI, yang telah membantu penulis dalam
mencari buku sebagai referensi dalam menyelesaikan skripsi.

iv

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.
Akhir kata dengan mengucapkan Alhamdulillah, semoga Allah SWT selalu
meridhai kita semua. Amin

Jakarta, April 2014

Penulis

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN............................................................................................
ABSTRAK.......................................................................................................................
KATA PENGANTAR....................................................................................................
DAFTAR ISI...................................................................................................................
DAFTAR GAMBAR....................................................................................................
DAFTAR TABEL...........................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang..................................................................................................
1.2. Permasalahan....................................................................................................
1.3. Tujuan...............................................................................................................
1.3.1. Tujuan Umum.........................................................................................
1.3.2. Tujuan Khusus........................................................................................
1.4. Manfaat.............................................................................................................
1.4.1. Bagi Penulis............................................................................................
1.4.2. Bagi Universitas Yarsi.............................................................................
1.4.3. Bagi Masyarakat.....................................................................................
BAB II PENGGUNAAN RUGA PALATUM (PALATAL RUGAE) UNTUK
IDENTIFIKASI JENIS KELAMIN PADA KASUS FORENSIK
DITINJAU DARI SEGI KEDOKTERAN
2.1. Dasar Pemikiran Penggunaan Ruga Palatum (Palatal Rugae) untuk
Identifikasi Jenis Kelamin Pada Kasus Forensik.............................................
2.1.1. Definisi Ruga Palatum (Palatal Rugae)................................................
2.1.2. Fungsi Ruga Palatum (Palatal Rugae)................................................
2.1.3. Klasifikasi Ruga Palatum (Palatal Rugae)..........................................
2.1.4. Latar Belakang Penggunaan Ruga Palatum (Palatal Rugae)
dalam Identifikasi Forensik................................................................

vi

2.1.5. Tehnik Analisis Ruga Palatum (Palatal Rugae) Forensik...................


2.2. Perbandingan Hasil Pengukuran Ruga Palatum (Palatal Rugae) Antara
Laki-laki dan Perempuan dalam Identifikasi Forensik...................................

BAB III PENGGUNAAN RUGA PALATUM (PALATAL RUGAE) UNTUK


IDENTIFIKASI JENIS KELAMIN PADA KASUS FORENSIK
DITINJAU DARI SEGI ISLAM
3.1. Ruga Palatum (Palatal Rugae) Menurut Pandangan Islam...........................
3.2. Perbedaan Postur Tubuh Antara Laki-laki dan Perempuan dalam Islam
........................................................................................................................
3.3. Pengurusan Jenazah dalam Islam...................................................................
3.3.1. Memandikan Jenazah..........................................................................
3.3.2. Mengkafani Jenazah............................................................................
3.3.3. Menyalatkan Jenazah..........................................................................
3.3.4. Menguburkan Jenazah.........................................................................
3.4. Anjuran Untuk Menghormati Orang yang Sudah Meninggal Dunia
dalam Islam....................................................................................................
3.5. Pandangan Islam Mengenai Pemeriksaan Terhadap Tulang Belulang
Orang yang Sudah Meninggal Dunia.............................................................

BAB IV KAITAN PANDANGAN KEDOKTERAN DAN ISLAM TENTANG


PENGGUNAAN RUGA PALATUM (PALATAL RUGAE) UNTUK
IDENTIFIKASI JENIS KELAMIN PADA KASUS FORENSIK

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan.....................................................................................................
5.2. Saran...............................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Gambaran ruga palatum dalam rongga mulut ............................................


Gambar 2. Klasifikasi ruga palatum menurut Trobo..................................................
Gambar 3. Berbagai macam bentuk ruga palatum......................................................
Gambar 4. Pemeriksaan intra oral..............................................................................
Gambar 5. Pembuatan fotografi intra oral dengan kamera digital SLR....................
Gambar 6. Analisa hasil fotografi intra oral dengan Palatal Rugae Comparison
Software (PRCS Version 2.0).......................................................................................
Gambar 7.

Peralatan yang digunakan dalam pemeriksaan ruga palatum.................

Gambar 8. Memperlihatkan pembuatan garis pinggir ruga dengan pensil untuk


memperjelas gambaran pola dari ruga palatum...........................................................
Gambar 9.

Metode pengukuran ruga palatum...........................................................

Grafik 1.

Pola ruga palatum pada laki-laki dan perempuan....................................

viii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Klasifikasi ruga palatum menurut Matins dos Santos....................................


Tabel 2. Klasifikasi ruga palatum menurut Trobo.......................................................
Tabel 3. Klasifikasi ruga palatum menurut Basauri.....................................................
Tabel 4. Perbedaan pola penyatuan (unifikasi) ruga palatum antara laki-laki dan
perempuan....................................................................................................................
Tabel 5. Uji t signifikasi perbedaan antara pola ruga palatum laki-laki dan
perempuan ...................................................................................................................
Tabel 6. Statistik deskriptif dari berbagai jenis ruga palatum dikategorikan
berdasarkan jenis kelamin............................................................................................
Tabel 7. Analisis uji chi square untuk menilai perbedaan pola penyatuan
(unifikasi) ruga palatum pada laki-laki dan perempuan..............................................
Tabel 8. Analisis diskriminan univariat terhadap variabel yang berhubungan
dengan panjang dan bentuk ruga palatum....................................................................
Tabel 9. Koefisien fungsi diskriminan untuk menentukan jenis kelamin dengan
mempertimbangkan panjang dan bentuk ruga palatum..............................................
Tabel 10. Koefisien fungsi diskriminan untuk menentukan jenis kelamin dengan
hanya mempertimbangkan panjang ruga palatum......................................................

ix

PENENTUAN JENIS KELAMIN DENGAN PENGUKURAN LINEAR


BASIS CRANII (PALATAL RUGAE) PADA KASUS FORENSIK
DITINJAU DARI KEDOKTERAN DAN ISLAM

Oleh :

NADYA ADNITA
NPM : 110.2010.200

Skripsi Ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat


Untuk Mencapai Gelar Dokter Muslim
Pada

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


JAKARTA
2014