Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dokumentasi khusus merupakan pencatatan tentang perubahan pada
asuhan keperawatan yang berdasrkan respon klien yang komprehensif, di
lakukan pada tempat atau tatanan khusus, Area perawatan khusus, dan pada
populasi khusus.
Dalam tindakan keperawatan dirasakan penting bagi seorang perawat
untuk memiliki kemampuan mendokumentasikan setip tindakan yang telah di
berikan dan respon klien terrhadap tindakan tersebut. Dalam suatu keadaan
khusus maka pendokumentasian yang di buat adalah Dokumentasi khusus,
Oleh karena itu kelompok dalam kesempatankali ini ingin mengangkatnya
menjadi topik makalah kelompok.
B. Tujuan Penulisan
a. Tujuan umum
Agar mahasiswa/i dapat memahami dan menguasai tehnik Dokumentasi pada
populasi khusus
b. Tujuan Khusus
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Dokumentasi Khusus.
C. Metode Penulisan
Dalam pembuatan makalah ini penyusun menggunakan metode
kepustakaan
D. Sistematika Penulisan
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I

PENDAHULUAN
Latarbelakang, tujuan penulisan,metode penulisan, dan sistematika
penulisan

BAB II

TINJAUAN TEORITIS
A. Dokumentasi Khusus.
B. Dokumentasi pada populasi khusus
1. Dokumentasi pada pediatrik
2. Dokumentasi pada lansia
3. Dokumentasi pada Perinatal
4. Dokumentasi pada Psikiatrik

BAB III

PENUTUP
Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

BAB II
TINJAUAN TEORITIS PENYAKIT
A. Konsep Dasar Penyakit
1. Definisi
CA Hepar adalah tumor ganas hati yang disebabkan oleh metastosis tumor
ganas dari tempat lain.
(Buku Ajar Ilmu Bedah, R. Sjamsuhidajat, 1997)
2. Etiologi
Penyebab sirosis hepatitis B serta C dan kontak racun dengan racun
kimia tertentu (misalnya-. vinil klorida, arsen) turut berperan dalam
menyebabkan KHS. Kebiasaanmerokok juga dikenali sebagal faktor resiko,
khususnya bila disertai kebiasaan minurnan keras (penggunaan alkohol).
Substansi lain yang turut berperan adalah afiatoksin atau karsinogen dalam
preparat herbal, dan nitrosamin.
3. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik penyakit kanker hati mencakup tanda dan gejala
antara lain
1. Nyeri perut
2. Distensi perut - rasa lelah
3. Penurunan berat badan - anoreksia
4. Ikterus
5. Gawat abdomen - nyeri tulang
6. Dispnea
7. Hematemesis atau melena - pembesaran hati

4. Pemeriksaan Diagnostik

a.

Diagnosis kanker dibuat berdasarkan tanda-tanda dan gejala klinik riwayat


penyakit, hasil pemeriksaan fisik, laboratorium serta radiologi. Peningkatan
kadar bilirubin, alkali fosfatase, aspartat amino-transferase (AST); glutamic
oxaloacetic transaminase (SGOT) dan lactic dehidrogenase (LDH) dapat
terjadi leukositosis (peningkatan jumlah sel darah putih), eritrositosis
(peningkatan jumlah sel darah merah), hiperkalsemia, hipoglikemia dan
hiperkolesterolemia juga dapat terlihat dalam pemeriksaan laboratorium.

b. Kadar alfa fetoprotein (AFP) serum yang berfungsi sebagai penanda tumor
(tumor marker) akan mengalami kenaikan yang abnormal pada 30% hingga
40% penderita kanker hati. Kadar antigen karsineombrinik (CEA;
carcineombryonic antigen) yang berfungsi sebagai penanda kanker saluran
cerna dapat meningkat.
c. Pemeriksaan radiologi, pemindal hati CT, USG, MRI dan laparoskopi
menjadi bagian dalam menegakan diagnosa dan menentukan derajat atau
luas penyakit kanker tersebut.
5. Penatalaksanaan Non Bedah
a. Terapi Radiasi
Metode pelaksanaan radiasi rnencakup
(1) Penyuntikan anti bodi berlabel istop radioaktif secara intravena yang
secara spesifik akan menyerang antigen yang berkaitan dengan tumor.
(2) Penempatan sumber radlasi perkutan intensitas tinggi untuk terapi
radiasi interstisial.
-

Tujuan terapi ini adalah memberikan radiasi langsung kepada sel-sel


tumor.

b.

Kernoterapi
-

Kemoterapi digunakan untuk memperbaiki kualitas hidup pasien dan


memperpanjang kelangsungan hidupnya. Bentuk terapi ini juga dapat
dilakukan sebagai terapi asupan setelah dilakukan reseksi tumor hati.

c. Drainase Bilier Perkutan


-

Digunakan untuk melakukan pintasan saluran empedu yang tersumbat


oleh tumor hati, pankreas atau saluran empedu pada pasien tumor yang
tidak dapat dioperasi atau pada pasien yang dianggap beresiko.

d. Bentuk Terapi Non Bedah Lainnya


-

Hipertermia
Digunakan sebagai sebagai suatu bentuk terapi untuk mengatasi
metastosis pada hati.

Pengembangan teknik pembekuan dingin sel-sel tumor hati dengan


cryosurgery dan penggunaan bedah laser.
Digunakan sebagai salah satu bentuk terapi masih berada dalam tahap
awal.

Embolisi
Digunakan untuk mengganggu aliran darah arterial ke dalam jaringan
tumor dengan memasukkan partikel-partikel gelfoam ke dalam
pembuluh arteri yang memperdarahi tumor ternyata cukup efektif pada
pasien-pasien dengan tumor yang kecil.

Imunoterapi
Merupakan bentuk terapi lain yang masih diteliti. Pada terapi ini,
limpisit dengan reaktivitas antitumor diberikan kepada penderita tumor
hati.

6. Penatalaksanaan Bedah
Labektomi hati untuk penyakit kanker dapat sukses dikerjakan apabila
tumor primer hati terlokalisir atau pada kasus metastosis, apabila lokasi
primernya dapat dieksisi seluruhnya dan metastosisnya terbatas.
Evaluasi dan persiapan praoperatif dalam menyiapkan pembedahan,
status nutrisi, cairan serta keadaan umum pasien harus dikaji dan berbagai
upaya perlu dilakukan untuk menjamin kondisi fisik pasien seoptimal mungkin.

Dukungan, penjelasan dan dorongan diberikan untuk membantu pasien


menyiapkan dirinya secara psikologis dalam menghadapi pembedahan.
Sementara itu, penelitian diagnostik yang ekstensif dan melelahkan dapat
dikerjakan. Persiapan traktu, intestinalis diperlukan dengan bantuan preparal
katartik, ingasikolon serta antibiotik usus untuk memperkecil kemungkinan
penumpukkan amonia dan untuk mengantisipasi kemungkinan insisi yang tidak
disengaja ke dalam usus pada saat pembedahan pada hati.
Pemeriksaan yang spesifik dapat mencakup pemindahan hati, biopsi hati
kolar-igiografi, angiografi selektif hati, biopsi jarum perkutan, peritoneoskopi,
laparoskopi, ultrasound, perrilridal CT, dan pemeriksaan clarah, khususnya
pengukuran kadar alkali fosfatase darah, khususnya pengukuran kadar alkali
fosfatase serta AST (SGOT) serum.
Transplantasi hati meliputi pengangkatan total hati yang sakit dan
menggantikannya dengan hati yang sehat. Transplantasi hati digunakan untuk
mengatasi penyakit hati stadium - terminal yang mengancam jiwa penderitanya
setelah bentuk terapi yang lain tidak mampu menanganinya. Keberhasilan
transplantasi hati bergantung pada keberhasilan terapi imunosupresi.
Preparatimunosupresan

yang

digunakan

saat

ini

adalah

siklosporin,

kortikosterold azathiolpfin, OKT 3 (antl bodl inonoklonal) dan FK 50 G.


lndikasi umurn untuk transplantasi hati mencakup penyakit hati kronis
iriversibel yang lanjut, gagal hati fulminan, penyakit hati metabolik dan kelainan
malignitas hati dimana tindakan reseksi untuk menyembuhkan pasien
memerlukan pengangkatan total hati. Contoh-contoh kelainan yang merupakan
indikasi bagi transplantasi hati adalah penyakit hepatoseluler (misalnya:
hepatitis virus, penyakit hati yang ditimbulkan oleh obat dan alkohol, serta
penyakit Wilson) dan penyakit kolestatis (yaitu. sirosis bilier primer, kolangitis
skelerosis serta atresia bilier).
7. Patofisiologi
Etiologi

Proliferasi set hati


Diferensiasi buruk set
Hati

Carsinoma Hepar

Menekan serabut saraf

Gangguan rasa nyaman


nyeri

Hematomegali

Penekanan pada
lambung

HCI

Mual dan muntah

Anorexia

Gangguan
pemenuhan
kebutuhan nutrisi

Penyumbatan saluran
empedu oleh tekanan
nodul malignan dalam
hilus hati

lkterus
Penekanan
rongga pleura

compliance
paru

inefektif pola
nafas

B. Asuhan Keperawatan dan Rencana Tindakan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Anamnesa
-

Identitas klien

: nama, usia, pekerjaan, umur, satu


bangsa, agama.

Keluhan utama/RPS

: nyeri pada abdomen, gejala lain yang


terjadi seperti anurexia, dispnoe, rasa
lelah.

RPD (Riwayat Penyakit


Dahulu)

: adanya infeksi virus hepatitis B,


pernah mengalami hepatitis B, C dan
pernah mengalami rearosis hati.

- RPK

: ada atau tidaknya keluarga yang


pernah mengalami Ca Hepar.

b. Pemeriksaan Fisik
Infeksi:

adanya benjolan pada

area Abdomen

Palpasi dan auskultasi

: adanya

nyeri

tekan

pada

area

abdomen menunjukkan perabaan dan


suara gesekan yang
disebabkan oleh

permukaan

pentoniurn

kasar

karena

infiltrasi,

infiltrasi

rangsang

yang
dan

tomor permukaan hepar

dan

dinding. Auskultasi di atas benjolan


kadang menemukan suara bising
aliran

darah

karena

hepar

vaskularisasi tomor.
2.

Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul


a. Inefektif pola napas berhubungan dengan penurunan compliance paru.
b. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan penekanan serabut
saraf.
c. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan anorexsia.
d. Anxietas/berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit
pembesaran hati.

3. Rencana Tindakan Keperawatan


a. Inefektif pola napas berhubungan dengan penurunan compliance paru
Kriteria hasil
-

Mempertahankan pola pernapasan efektif

Bebas dispensasi dan sianosis Dengan GDA dan kapasitas vital dalam
rentang normal
-

Intervensi
Awasi
kedalaman,

dan

frekuensi, upaya

Rasional
Pernapasan dongkal
cepat / dispnea mungkin ada

pernapasan

sehubungan

dengan

hipoksiadan / atau akumuIasi


cairan dalam abdomen.

Auskultasi

bunyi

Menunjukkan
terjadinya komplikasi, contoh

napas, catat krekels, mengi,

adanya

bunyi

tambahan

ronki

menunjukkan akumulasi cairan


(sekresi; tak ada/menurunkan
bunyi atelektosis) meningkstkan
resiko infeksi
-

Memudahkan
pernapasan dengan menurunkan
tekanan pada diafragma dan

Pertahankan kepala
tempat

tidur

tinggi,

meminimalkan ukuran aspirasi

posisi

sekret

miring.

Membantu ekspansi
paru dan memobilisasi sekret

Mungkin

perlu

Ubah posisi dengan

untuk mengobati / mencegah

sering, dorong napas dalam,

hipoksia, bila pernapasan /

latihan dan buruk

oksigenasi

Berikan

tambahan

ventilac;

O2 sesuai indikasi

tidak

adekuat,

mekanik

sesuai

kebutuhan.

b. Gangguan rasa nyannan nyri berhubungan dengan penekanan serabut saraf.


Kriteria hasil
-

Mengatakan nyeri hilang/terkontrol

Mengikuti program terapeutik

Menunjukkan penggunaan metode yang menghilangkan nyeri


Intervensi
Selidiki

keluhan -

Rasional
Nyeri

verbal nyeri, lihat lokasi dan

menyebar,

intensitas khusus (skala 0- 10).

berhubungan pada pankrealitis

Catat

akut atau pendarahan. Nyeri

faktor-faktor

yang

berat

sering
dan

tidak

meningkatkan

dan

berat sering merupakan gejala

menghilangkan nyeri.
-

utama

Pertahankan

pada

pasien dengan

tirah

pankreatitis

kronis.

baring selama serangan akut

tersembunyi

pada

Berikan lingkungan tenang.

kanan

Berikan

atas

Nyeri
kuadran

menunjukkan

analgesik

keterlibatan kepala pankreas.

pada waktu yang tepat (lebih

Nyeri pada kuadran kiri atas

kecil, dosis lebih sering).

diduga
pankreas.

keterlibatan
Nyeri

menunjukkan

ekor

terlokalisir
terjadinya

Pseugokista atau asbes


-

Menurunkan

laju

metabolik

dan

rangsangan/sekresi

G1,

sehingga menurunkan aktivitas


pankreas.
-

Nyeri

berat/lama

dapat meningkatkan syok dan


lebih sulit hilang, memerlukan
dosis obat lebih besar, yang
dapat

mendasari

masalah/komplikasi dan dapat


mempertebal
pernapasan

c. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan anorexia

10

depresi

Kriteria hasil
-

Menunjukkan peningkatan berat badan progresif mencapai tujuan dengan


nilai laboratorlum normal.

Tidak mengalami tanda malnutrisi lebih lanjut


-

Bantu

Intervensi
dan dorong

pasien -

Rasional
Diet yang tepat penting untuk

Untuk makan; jelaskan alasan

penyembuhan. Pasien mungkin

tipe diet. Beri pasien makan

makan lebih baik bila keluarga

bila mudah lelahatau biarkan

terlibat dan makanan yang

orang

disukai sebanyak mungkin

terdekat

membantu

pasien. Pertimbangkan pilihan


makanan yang sesuai.
-

Berikan makanan sedikit dan -

Buruknya toleransi terhadap

sering.

makanan

banyak

Mungkin

berhubungan
peningkatan

dengan
tekanan

intra

abdomen/asites.
-

Awasi

pemeriksaan -

Glukosa

menurun

karena

laboratorium, contoh glukosa

gangguan

glikogenesis,

serum, albumin, total protein,

penurunan simpanan glikogen,

amonia

atau

masukkan

protein

takadekuat,

menurun

gangguan

karena

metabolisme,

penurunan sistesis hepotik, atau


kehilangan ke rongga peritoneal
(asites).

Peningkatan

amonia

perlu

masukan

kadar

pembatasan

protein

untuk

mencegah komplikasi serius.

d. Anxietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang

11

penyakit.

Kriteria hasil
-

Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognos,s

Menghubungkan gejala dengan faktor penyebab

Melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam keperawatan


-

Intervensi
Tekankan

perlunya -

mengevaluasi kesehatan

dan

mentaati program terapeutik.

Sifat

Rasional
penyakit

mempunyai

kronis

potensial

untuk

kompikasi mengancam hidup.


Memberikanm

kesempatan

untuk

keefektifan

evaluasi

program termasuk potensi pirau


yang digunakan.
-

Anjurkan menghindari infeksi, -

Penurunan

khususnya ISK

gangguan status nutrisi dan


respons

pertahanan,
imun

(contoh

leukopenia, dapet terjadi pada


spienomegalil) potensial resiko
infeksi.

12

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
CA Hepar adalah tumor ganas hati yang disebabkan oleh metas tosis tumor
ganas dari tempat lain.
Penyebab tosis hepatitis B serta C dan kontak racun dengan racun kimia
tertentu (misalnya : Vinel, klorida, arsen) turut berperan dalam menyebabkan KHS
kebiasaan meroko juga di kenali sebagai paktor resiko, khususnya bila disertai
kebiasaan meminum minuman keras (penggunaan alcohol). Subsransi lain yang
turut berperan adalah aflat oksin / karsinozen dalam preparat herbal dan nitro
samin.

13

MAKALAH
KMB I
CA HEPAR

Disusun Oleh :
Kelompok I
1. Dian Kristina
2. Kartika
3. Muhamad Sopian Hadi
4. Reza

Tingkat II A Jalur Umum

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
TANGERANG
2007

14

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................

DAFTAR ISI ..................................................................................................

ii

BAB I

: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .....................................................................

B. Tujuan Masalah ....................................................................

C. Metode Penelitian ................................................................

D. Sistematika Penelitian ..........................................................

BAB II : TINJAUAN TEORITIS PENYAKIT


A. Konsep Dasar Penyakit

B.

1. Definisi .........................................................................

2. Etiologi..........................................................................

3. Manifestasi Klinis .........................................................

4. Pemeriksaan Diagnostik ...............................................

5. Penatalaksanaan Non Bedah ........................................

6. Pelaksanaan Bedah .......................................................

7. Patofisiologi .................................................................

Asuhan Keperawatan dan Rencana Tindakan Keperawatan


1. Pengkajian ....................................................................

2. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul ...........

3. Rencana Tindakan Keperawatan ..................................

BAB III : PENUTUP


Kesimpulan .................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR
ii

15

14

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT berkat rahmat dan
hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul CA
HEPAR penyusunan ini dimaksud untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah
KMB I.
Dalam penysunan makalah ini penyusun menyadari bahwa selesainya
makalah ini berkat dukungan dari beberapa pihak. Untuk itu penulis ingin
mengucapkan rasa terima kasih kepada :
1. Ibu Een Sukaedah, SKM. M. Kes., selaku Ketua Program Studi Keperawatan
2. Ibu Lindawati, SKP.Ners., selaku Koordinator Sekaligus Dosen KMB I
3. Ibu Kusniawati, SKP.Ners., selaku Dosen KMB I
4. Rekan-rekan seperjuangan yang selalu membantu dalam penyusunan makalah
ini.
Akhirnya penyusun mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat khususnya
bagi penyusun dan umumnya bagi Mahasiswa/i Prodi Keperawatan Tangerang
Tangerang, Februari 2007

Penyususn

16