Anda di halaman 1dari 9

Mengapa Kita Memerangi Orang Kafir (Apakah karena kekafiran mereka

atau karena permusuhan mereka?)

Jan 14, '09 10:39


PM
for everyone

Oleh: Farid Numan Hasan


Mukadimah
Telah terjadi perselisihan para ulama tentang masalah ini, apakah sebab peperangan kita dengan orang
kafir; apakah karena kekafiran mereka semata, atau karena sikap permusuhan mereka terhadap kaum muslimin.
Namun, sayang perselisihan ini oleh sebagian orang dijadikan sebagai ajang untuk memusuhi dan memfitnah sesama
muslim dan ulama. Syaikh Hasan Al Banna dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi yang memandang bahwa peperangan
dengan Yahudi adalah karena sikap mereka yang memusuhi, mengusir, dan memerangi umat Islam. Fatwa ini
disebut oleh Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkhali sebagai pendapat dan fatwa yang jahat. Lalu, diaminkan oleh
yang sepemikirann dengannya. Masih bagus seandainya dikatakan, Ada dua pendapat dalam masalah ini,
pendapat yang kuat adalah ini dan yang itu lemah. Apa perlunya dibubuhi dengan istilah fatwa yang jahat?
bukankah itu juga difatwakan oleh para imam seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad? Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah mengatakan inilah pendapat yang benar. Maka, jahatkah fatwa para imam ini?
Ada sebagian kaum muslimin, meyakini bahwa memerangi orang kafir adalah karena kekafirannya, bukan
karena permusuhan mereka terhadap kita. Inilah pandangan Imam Asy Syafii Radhiallahu Anhu, dan Syaikh
Sayyid Quthb Rahimahullah. Sikap ini tentu membawa konsekuensi bahwa orang kafir di muka bumi ini harus
binasa tanpa sisa. Namun, kadang terjadi sikap yang kontradiksi, ketika mereka meyakini bahwa orang kafir harus
diperangi karena faktor aqidah mereka yang kafir, namun dalam kehidupan keseharian, orang-orang ini justru jauh
dari sikap keras terhadap orang kafir.
Ketika para ulama, seperti Syaikh Farid Washil, Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Syaikh Sayyid Ath
Thanthawi, Syaikh Ali Jumah, Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, dan lain-lain, memfatwakan boikot produk Yahudi dan
Amerika, justru mereka melecehkan fatwa ini, dan melawan fatwa tersebut dengan fatwa Syaikh Muhammad bin
Shalih Utsaimin tentang hukum jual beli dengan orang kafir (Yahudi), yang pada dasarnya adalah mubah. Lucunya,
mereka bersemangat menghajr (boikot) sesama muslim, bahkan sesama mereka sendiri, hanya karena berbeda
pendapat dengan mereka, hanya karena berhubungan dengan organisasi dakwah Islam atau yayasan Islam tertentu.
Sementara memboikot penjajah kafir mereka tidak mau. Wallahul Mustaan!
Ketika ramai segenap umat Islam mengecam Yahudi, atas serangannya ke Jalur Gaza, dan memberikan
dukungan moril dan materil terhadap pejuang Palestina, khususnya HAMAS, justru anehnya sebagian dari mereka
menyalahkan HAMAS. Bahkan menyebarkan tulisan di internet tentang kesesatan HAMAS yang ditulis oleh
beberapa masyayikh mereka, serta ada beberapa SMS gelap yang diterima beberapa ikhwah bahwa menurut mereka
HAMAS lebih Yahudi dibanding Yahudi!. Walau ini hanyalah oknum, tetapi ada apa sebenarnya ini?
Maka, inilah kenyataan, sedangkan sebelumnya hanyalah teori belaka. Dan Allah Taala berfirman:
Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. Ash Shaff
(61): 2-3)

Peperangan Terjadi Karena Adanya Permusuhan

Inilah pendapat yang benar. Berdasarkan nash-nash yang jelas, dan dikuatkan oleh pemahaman para
ulama, dan didukung sejarah Islam dalam pensyariatan jihad.
Allah Taala berfirman:
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada
memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orangorang yang Berlaku adil.
Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang
memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu.
dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al
Mumtahanah (60): 8-9)
Dua ayat yang mulia ini, menerangkan bahwa tidak ada larangan berbuat baik dan adil kepada: orang kafir
yang tidak memerangi dan mengusir kaum muslimin.
Sedangkan Allah Taala melarang berkawan dengan: orang kafir yang memerangi dan mengusir kaum
muslimin, dan pihak membantu pengusiran kaum muslimin. Bahkan Allah Taala menyebut sebagai perbuatan zalim
jika kita berkawan dengan orang kafir seperti ini.
Ada sebagian orang membantah ayat ini dijadikan sebagai dalil, alasan mereka karena ayat ini (ayat 8)
hanya berlaku ketika awal Islam saja, dan telah di nasakh (dihapus) dengan ayat: faqtuluu musyrikina haitsu
wajadtumuuhum .. bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kalian bertemu dengan mereka ... .
Demikianlah pendapat Ibnu Zaid dan Qatadah.
Sedangkan Imam Al Qurthubi mengatakan, ayat ini merupakan rukhshah dari Allah Taala bagi orang kafir
yang tidak memusuhi dan memerangi orang beriman. Ada juga yang mengatakan, ayat ini berlaku karena adanya
illah (alasan) yakni perjanjian damai, maka ketika perjanjian damai sudah tidak berlaku dengan adanya penaklukan
kota Mekkah, maka ayat ini tinggal tulisannya saja. Ada pula yang mengatakan ayat ini khusus orang kafir dari
kalangan wanita dan anak-anak, karena mereka tidak memerangi kaum beriman. Namun kebanyakan ahli tafsir
mengatakan, hukum ayat ini masih berlaku, dengan alasan kisah Asma binti Abu Bakar yang diizinkan Rasulullah
untuk bergaul dengan baik dengan ibunya yang masih musyrik. (Imam Al Qurthubi, Jami Li Ahkamil Quran,
Juz. 18, Hal. 15)
Benarkah ayat ini telah mansukh? Imam Abu Jafar bin Jarir Ath Thabari menyebutkan ada tiga tafsir para
ulama terhadap ayat ini.
Pertama, ayat ini bercerita tentang orang-orang beriman di Mekkah dan tidak berhijrah, maka Allah Taala
izinkan mereka untuk berbuat baik dan ihsan kepada orang kafir. Inilah pendapat Mujahid.
Kedua, ayat ini bercerita tentang orang-orang beriman di luar Mekkah dan tidak berhijrah, maka Allah
Taa izinkan mereka berbuat baik dan ihsan kepada orang kafir.
Ketiga, ayat ini bercerita tentang orang musyrik yang tidak memerangi orang-orang beriman, dan mereka
juga tidak mengusir orang beriman dari negerinya, namun ayat ini telah di nasakh setelah itu, dengan ayat perintah
memerangi orang musyrik. Inilah pendapat Ibnu Zaid dan Qatadah. Ibnu Zaid berkata: Ayat ini telah di nasakh,
dengan perintah berperang dan kembali dengan pedang-pedang mereka, berjihad melawan mereka dengannya, dan
memenggal mereka.
Imam Ibnu Jarir mengatakan, yang benar adalah pendapat yang pertama. Tidak benar dikatakan bahwa
ayat ini telah mansukh. Kaum beriman tidak dilarang untuk berbuat baik dan adil terhadap orang-orang yang tidak
memerangi dan mengusir mereka, apa pun millah dan agama mereka, tetap dibolehkan berbuat baik (Al Birr),

berhubungan, dan berbuat adil kepada mereka. Hal ini dikuatkan dengan riwayat Ibnu Zubeir tentang Asma bin
Abu Bakar yang ingin menemui ibunya yang masih jahiliyah (musyrik), dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam mengizinkan Asma untuk menemuinya dan berbuat baik kepadanya. (Imam Abu Jafar Ath Thabari,
Jami Al Bayan fi Tawilil Quran, Juz. 23, Hal. 322-323)
Imam Asy Syaukani mengatakan bahwa Allah Taala tidak melarang berbuat baik dan adil kepada orang
kafir yang telah membuat perjanjian (damai) dengan orang beriman untuk meninggalkan perang. (Imam Asy
Syaukani, Fathul Qadir, Juz. 7, Hal. 205. Al Maktabah Asy Syamilah) Artinya, perang baru ada lagi setelah
mereka melanggar perjanjian dengan menyerang kaum muslimin.
Asbabun Nuzul ayat di atas pun, menolak pemahaman mereka. Ayat ini turun karena Asma binti Abu
Bakar ingin memberikan hadiah kepada ibunya yang masih musyrik, tetapi dia tidak berani melakukannya sebelum
ada izin dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, hal itu diadukan kepada Aisyah, lalu turunlah ayat di atas:
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada
memerangimu ..dst. Lalu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan Asma untuk memberikan
hadiah kepada ibunya dan masuk ke rumahnya. (Imam Abu Jafar bin Jarir Ath Thabari, Jami Al Bayan fi
Tawilil Quran, Juz. 23, Hal. 322. Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al Azhim, Juz. 8, Hal. 90)
Dari keterangan ini, menunjukkan bahwa peperangan kita melawan orang kafir, bukan karena semata-mata
kekafiran mereka, melainkan karena perbuatan jahat mereka seperti yang diterangkan dalam ayat 9. Jika mereka
berbuat baik, mau berdamai, tidak mengajak berperang, tidak mengusir, maka ada tidak larangan berbuat baik dan
adil terhadap mereka. Namun, jika mereka memerangi dan mengusir orang beriman seperti yang dilakukan Zionis
Yahudi terhadap umat Islam Palestina- maka tidak boleh berbuat baik dengan mereka, apa lagi kerja sama dengan
mereka, dan tetap membeli produk-produk mereka dengan alasan jual beli dengan orang hukumnya mubah!
Jika benar bahwa memerangi orang kafir adalah karena kekafirannya, maka tidak akan ada izin dari
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk berbuat baik kepada orang tua yang masih musyrik. Bahkan Allah
Taala tetap memerintahkan untuk berbakti kepada orang tua, walau mereka kafir, selama tidak diperintah dalam
maksiat dan kekafiran. Jika benar bahwa memerangi orang kafir adalah karena kekafirannya, maka tidak akan ada
izin dari Allah Taala atas pembolehan kaum laki-laki beriman menikahi dengan wanita ahli kitab, dan dalam
pandangan kita, ahli kitab juga kafir bukan? Seharusnya mereka pun juga diperangi bukan dinikahi, karena mereka
kafir.
Maka, bagaimana mungkin memerangi orang kafir beralasan karena kekafirannya, padahal Allah Taala
tetap mengizinkan berbuat baik (Al Birr) kepada orang tua walau pun kafir? Seharusnya jika konsisten dengan
pendapat mereka- maka konsekuensinya orang tua pun harus diperangi karena kekafirannya itu. Ternyata Allah
Taala tetap mengizinkan berbuat baik kepada mereka.
Akhirnya, tidak ada manfaatnya pula para ulama membagi-bagi orang kafir menjadi kafir dzimmi dan
kafir harbi, sebab baik itu dzimmi atau harbi, keduanya tetaplah beraqidah kafir yang harus diperangi.
Selain ayat di atas, ayat-ayat berikut ini pun menunjukkan bahwa peperangan terjadi karena penyerangan
orang kafir terhadap umat Islam, yakni:
Dan perangilah fisabilillah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas (QS.
Al Baqarah (22):190)
Ada dua pendapat dalam memahami ayat ini, sebagian ahli tafsir mengatakan surat Al Baqarah ayat 190
ini telah di nasakh oleh surat Al Baraah (At Taubah). Inilah pendapat Ar Rabi dan Ibnu Zaid. Namun yang lain
mengatakan ayat ini tidak di nasakh oleh ayat mana pun. Peperangan dibolehkan untuk yang memerangi saja, bagi
yang tidak ikut memerangi kita, seperti anak-anak, wanita, orang tua, dan rahib, orang yang tidak ikut memerangi,
tidak boleh diperangi, jika diperangi juga maka itu melampaui batas. inilah hukum yang berlaku hingga hari ini.
Perang terjadi karena adanya penyerangan, jika mereka diam kita pun diam. Demikianlah pendapat Ibnu Abbas,

Umar bin Abdul Aziz, dan Imam Ibnu Jarir mengatakan inilah pendapat yang benar. (Jami Al Bayan, Juz. 3, Hal.
361-363)
Lebih jelasnya, saya kutip ucapan Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma:

Jangan kalian memerangi kaum wanita, anak-anak, orang tua, orang yang menemuimu dengan salam, dan
orang yang menahan tangannya (dari memerangimu, pen). Jika kalian melakukan itu, maka kalian telah melampaui
batas. (Ibid, Juz. 3, Hal. 563)
Adapun ayat tentang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), Perangilah orang-orang yang tidak beriman
kepada Allah dan hari Akhir, tidak mengharamkan apa-apa yang Allah dan RasulNya haramkan, serta tidak
beragama dengan agama yang haq dari kalangan yang telah diberikan kepada mereka Al Kitab ..dst (QS. At
Taubah: 29) oleh Syaikh Muhammad Abduh dan Syaikh Rasyid Ridha dikatakan bukan memerangi semua Ahli
Kitab, melainkan mereka yang memerangi kaum muslimin saja.
Selanjutnya, pada ayat lainnya:
Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah
dianiaya (QS. Al Hajj (22):39)
Ayat ini dengan jelas menerangkan bahwa, izin perang melawan orang musyrik baru ada karena kaum
beriman dizalimi dan diperangi. Imam Ibnu Jarir Rahimahullah berkata:

Allah Taala mengizinkan orang-orang beriman untuk berperang fisabilillah terhadap orang-orang
musyrik, lantaran orang-orang musyrik telah menzalimi mereka dengan memerangi mereka. (Imam Abu Jafar
bin Jarir Ath Thabari, Jami Al Bayan fi Tawilil Quran, Juz. 18, Hal. 642)
Hal ini juga di tegaskan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu Anhu setelah ayat ini turun, katanya:


Maka, aku tahu bahwa akan terjadi perang. (Ibid, Juz. 18, Hal. 644)
Sementara Mujahid Radhiallahu Anhu berkata:


.
Orang-orang beriman keluar untuk hijrah dari Mekkah ke Madinah, tetapi orang-orang kafir
mencegahnya, maka Allah Taala mengizinkan bagi orang-orang beriman untuk memerangi orang kafir, maka
mereka pun memeranginya. (Ibid, Juz. 18, Hal. 645)

Sekali lagi apa yang dikatakan oleh Imam Mujahid juga Imam Ibnu Jarir- menunjukkan bahwa orang
beriman memerangi orang kafir karena dilatarbelakangi permusuhan, kezaliman, dan penyerangan mereka terhadap
kaum mukminin. Maka kaum mukminin pun membalasnya, bukan karena faktor kekafiran mereka semata-mata.
Betul, bahwa orang-orang kafir membenci, menganiaya, mengusir dan memerangi kaum mukmimin karena faktor
agama (lihat Al Mumatahanah ayat 9), tetapi tidak sebaliknya kita terhadap mereka. Ini menunjukkan keluhuran
agama Islam dan keunggulan Islam dibanding mereka.
Namun pada kenyataannya nanti, peperangan tersebut pun berimplikasi pada perang agama, sebab pada
akhirnya simbolisasi dan syiar agama tidak bisa dielakkan, seperti yang terjadi antara mujahidin Palestina melawan
Zionis Yahudi. Tujuan peperangan pun bukan karena semata-mata faktor sebidang tanah yang bernama Palestina,
atau karena membela sebuah bangsa dan ras, tetapi lebih dari itu adalah mempertahankan eksistensi umat Islam,
meninggikan kalimat Allah Taala di sana, dan inilah yang fisabilillah.
Dari Abu Musa Al Asyari Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:




Barangsiapa yang berperang dengan tujuan meninggikan kalimat Allah, maka itulah yang fisabilillah
Azza wa Jalla. (HR. Bukhari, Kitab Al Ilmu Bab Man Saala wa Huwa Qaimun Aliman Jalisan, Juz. 1, Hal.
209, No. 120. Muslim, Kitab Al Imarah Bab Man Qaatala Litakuna Kalimatallah Hiyal ulya Fahuwa fi
sabilillah, Juz. 10, Hal. 6, No. 3525)
Ayat yang paling tegas dan jelas dalam menguatkan pendapat ini adalah sebagai berikut:
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang
beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. dan Sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat
persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Kami ini orang
Nasrani". yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta
dan rahib-rahib, (juga) karena Sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri. (QS. Al Maidah (5): 82)
Lihat, perangnya kita dengan orang kafir Yahudi, adalah karena kerasnya permusuhan mereka terhadap
orang-orang beriman. Karena inilah kita memerangi mereka. Kita tidak memerangi meraka dengan alasan mereka
menyembah sapi betina, tidak memerangi mereka dengan alasan mereka membunuh para nabi, tidak memerangi
mereka dengan alasan mereka telah merubah taurat, tetapi memerangi mereka dengan alasan kerasnya permusuhan
mereka terhadap kaum muslimin.

Bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah


Diantara ulama Ahlus Sunnah yang berpendapat bahwa memerangi orang kafir adalah disebabkan
permusuhan dan penindasan mereka terhadap kaum muslimin, adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah,
dalam dalam buku kecil Risalah Al Qital, pada kompilasi Majmu Ar Rasail An Najdiyyah.
Imam Ibnu Taimiyah membahas masalah ini bahwa asal diwajibkannya perang dan apa yang menjadi
menyebabnya. Dia menegaskan bahwa secara realitas pendapat yang mengatakan kewajiban perang adalah
disebabkan adanya tindakan orang kafir yang melakukan tindakan permusuhan keras terhadap Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya. Mereka dikeluarkan dari negeri dan tempat tinggal mereka. Lalu
apakah yang menjadi penyebab peperangan itu? Apakah karena mereka itu orang kafir atau karena mereka
melakukan permusuhan? Jika jawabannya yang pertama, maka boleh saja memerangi orang kafir kapan saja dan di
mana saja. Jika jawabannya yang kedua, maka sesungguhnya tidak boleh bagi siapa pun untuk memerangi orang
kafir kecuali jika dia melakukan permusuhan. Sebab tidak semua orang kafir bisa diperangi. Jika sebab perang
karena seseorang statusnya yang kafir, maka hubungan antara kaum muslimin dan orang kafir adalah hubungan

perang hingga ada satu perjanjian dan kesepakatan. Dan tentu saja setiap negeri yang tidak beragama Islam adalah
negeri perang (Darul Harb) sebelum adanya kesepakatan.
Namun jika sebab perang adalah karena permusuhan mereka terhadap kaum muslimin, maka dasar
hubungan kaum muslimin dan non muslim adalah damai, hingga adanya hal-hal yang mendorong terjadinya perang.
Dan jika dasar hubungan kaum muslimin dan non muslim adalah damai, maka boleh saja melakukan perjanjian yang
sifatnya abadi. Sebab, makna kesepakatan tersebut adalah kesepakatan untuk tidak saling mengganggu. Jika asal
hubungan kaum mslimin dan non muslim adalah perang, maka tidak boleh mengadakan suatu perjanjian kecuali
dalam batas tertentu.
Dengan demikian ada tiga masalah yang saling berhubungan. Pertama, masalah perang, apakah karena
kekafiran atau karena permusuhan mereka. Kedua, dasar hubungan antara kaum muslimin dan non muslim, apakah
damai atau perang. Ketiga, boleh tidaknya mengadakan perjanjian damai yang permanen.
Kita akan membahas masalah pertama saja. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan ada dua pendapat
tentang apakah peperangan kita dengan orang kafir karena kakafiran mereka, atau karena mereka memusuhi kaum
muslimin.
Pertama, pendapat jumhur seperti Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah dan yang lainnya yang
mengadakan bahwa asal diperangi orang kafir adalah karena mereka melakukan permusuhan. Konsekuensi dari
pendapat ini adalah bahwa tidak ada perang jika tidak permusuhan. Sebab perang itu hanyalah untuk membela diri
dan bukan untuk melakukan sergapan dan penyerangan. Dan jika perang bergolak maka tidak boleh ada
pembunuhan kecuali terhadap orang-orang yang ikut berperang dan para ahli strategi mereka. Tidak diperkenankan
membunuh para wanita, pendeta ahli ibadah, orang jompo, dan yang berpenyakit parah karena mereka tidak ikut
memerangi kaum muslimin dan tidak memiliki pengalaman perang yang bisa diambil manfaatnya oleh mereka
sendiri. Ringkasnya adalah, orang-orang yang tidak ikut berperang dan tidak memerintahkan orang lain untuk
berperang, serta tidak bisa diambil manfaatnya dalam perang, mereka tidak boleh dibunuh.
Kedua, sesungguhnya yang membolehkan seseorang itu diperangi adalah karena dia memiliki sifat kafir
dan bukan karena mereka melakukan tindakan permusuhan. Inilah pendapat Imam Asy Syafii. Dengan demikian,
maka setiap orang kafir yang telah baligh boleh diperangi, baik yang mampu berperang atau tidak, baik dia seorang
yang terlibat perang atau tidak, baik yang membantu atau tidak.
Imam Ibnu Tamiyah mengatakan pendapat jumhur adalah pendapat yang benar, yang memiliki dasar dan
sandaran kuat dari Al Quran dan As Sunnah. Beliau berkata, Perkataan jumhur ulama dalah pendapat yang
ditetapkan oleh Al Quran dan As Sunnah. (Risalah Al Qital, Hal. 116)
Imam Ibnu Taimiyah memaparkan beberapa dalil Al Quran, di antaranya:
Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah
mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi
mereka di Masjidil haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. jika mereka memerangi kamu (di
tempat itu), Maka bunuhlah mereka. Demikanlah Balasan bagi orang-orang kafir. kemudian jika mereka berhenti
(dari memusuhi kamu), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan perangilah
mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka
berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.
Bulan Haram dengan bulan haram , dan pada sesuatu yang patut dihormati , Berlaku hukum qishaash. oleh sebab
itu Barangsiapa yang menyerang kamu, Maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.
bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Baqarah (2):
191-194)
Beliau membahas, bahwa ayat ini menunjukkan atas disyariatkannya perang untuk membela diri bisa
dilihat dari beberapa sisi.

Pertama: sesungguhnya Allah Taala berfirman: Dan perangilah di jalan Allah terhadap orang-orang
yang memerangi kamu, dengan demikian kebolehan berperang untuk kaum muslimin adalah karena adanya
serangan dari pihak lain. Inilah alasan dibolehkannya perang itu.
Kedua: firman Allah Taala dalam ayat itu yang mengatakan, dan janganlah kamu melampaui batas ,
ayat ini menerangkan bahwa memerangi orang yang tidak memerangi kita, atau orang-orang yang tidak pantas
diperangi, adalah tindakan permusuhan yang terlarang.
Ketiga: seseungguhnya Allah Taala menjadikan puncak dari perang adalah mencegah fitnah. Allah Taala
berfirman, Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya sematamata untuk Allah. Dengan demikian, jelas bagi kita semua, tentang pendorong dan tujuan akhir dari perang.
Pendorongnya adalah permusuhan yang menimbulkan fitnah, sedangkan tujuan akhirnya adalah penghentian fitnah.
Demikian.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membantah pihak yang menilai bahwa ayat in telah di nasakh (dihapus
hukumnya dan telah diganti dengan hukum lain), beliau membantah satu persatu alasan mereka, hingga akhirnya dia
mengatakan bahwa pendapat yang mengatakan ayat ini telah di nasakh adalah pendapat yang lemah. Beliau berkata:
Sesungguhnya anggapan bahwa ayat ini mansukh adalah perkataan yang membutuhkan dalil. Sebab di dalam Al
Quran tidak ada satu ayat pun yang bertentangan dengan ayat ini. Semua ayatnya sepakat dengan ayat ini. Lalu
manakah ayat yang menghapusnya (nasikh)? (Ibid, Hal. 118)
Menurutnya adalah hal yang aneh, jika larangan jangan melampaui batas di hapus, tetapi mereka justru
mengatakan, Sesungguhnya melampaui batas itu adalah satu kezaliman dan Allah tidak menyukai kezaliman.
Imam Ibnu Taimiyah juga berdalil dengan ayat lain, yakni:
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar
daripada jalan yang sesat. (QS. Al Baqarah (2): 256)
Ayat ini bersifat umum. Seandainya perang itu adalah karena kekafiran seseorang, maka pastilah perang
merupakan paksaan untuk masuk Islam. Imam Ibnu Taimiyah berkata, Sesungguhnya kami tidak pernah memaksa
orang lain untuk masuk Islam. andai seseorang diperangi agar dia masuk Islam, maka hal itu merupakan pemaksaan
paling besar terhadap orang lain untuk masuk Islam.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membantah pihak yang mengatakan bahwa ayat ini telah di nasakh. Beliau
mengatakan: Semua ulama salaf mengatakan bahwa ayat ini tidak bersifat khusus dan tidak pula mansukh. Bahkan
mereka mengatakan bahwa kami tidak pernah melakukan pemaksaan kepada orang lain untuk masuk ke dalam
Islam. Kami akan memerangi orang-orang yang memerangi kami, dan jika mereka masuk Islam, maka darah dan
harta mereka terlindungi. Jika dia bukan dari orang yang pantas untuk diperangi, maka kami tidak akan
memeranginya dan kami tidak akan memaksakannya untuk masuk ke dalam Islam. (Ibid, Hal. 123)
Syaikhul Islam juga memaparkan dalil-dalil dari As Sunnah. Dikisahkan bahwa Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam penah melewati seorang wanita yang terbunuh. Saat itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda, Tidak sepantasnya wanita ini diperangi dan dibunuh. Dari sini jelaslah bahwa sebab larangan
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membunuh wanita itu adalah karena dia tidak ikut perang. Dengan
demikian, perang yang mereka lakukanlah sebagai pendorong bagi kita untuk memerangi mereka.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu memperingatkan kepada tentaranya yang akan berangkat
perang agar tidak membunuh siapa pun kecuali mereka yang ikut berperang. Beliau bersabda: Berangkatlah kalian
dengan menyebut nama Allah, bersama Allah dan selalu tetap di atas agama Rasulullah. Jangan membunuh orang
jompo, anak-anak, dan wanita. Janganlah kalian melampaui batas, kumpulkanlah harta rampasan kalian, berbuat
baiklah sesungguhnya Allah senang terhadap orang yang berbuat baik.

Nabi juga pernah menawan laki-laki dan perempuan musyrikin, tetapi beliau tidak pernah memaksa
mereka untuk masuk agama Islam. Bahkan Rasulullah pernah berbuat baik kepada musyrikin yang ditawan,
Tsumamah bin Utsal. Rasulullah tidak memaksanya untuk masuk Islam, hingga akhirnya ia sadar sendiri untuk
masuk Islam. Hal ini juga dilakukan Rasulullah dalam menyikapi tawanan perang Badar.
Syaikhul Islam mengatakan, Sirah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunjukkan kepada kita,
bahwa siapa saja yang mengangkat kesepakatan dengannya, maka dia tidak akan pernah memeranginya. Kitab-kitab
sirah, hadits, tafsir, dan kisah-kisah peperangan Rasulullah membuktikan hal itu, berita tentang hal ini telah menjadi
berita yang hampir semua orang tahu. Bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah memulai
peperangan dengan siapa pun. (Ibid, Hal. 125)
Demikianlah. Maka, pendapat yang menyebutkan bahwa peperangan umat Islam dengan orang kafir
(termasuk Yahudi), adalah karena faktor permusuhan dan penyerangan mereka terhadap kaum muslimin, adalah
pendapat yang kuat. Inilah pendapat jumhur (mayoritas) ulama, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam
Ahmad bin Hambal, lalu dikuatkan oleh Imam Ibnu Taimiyah. Pendapat inilah yang difatwakan oleh Syaikh Hasan
Al Banna dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, namun sayangnya pendapat ini disebut oleh sebagian mereka sebagai
fatwa yang jahat. Laa haulaa walaa quwwata illa billah...
Berperang Karena Membela Palestina dan Al Aqsha
Sebagian manusia juga ada yang melecehkan hal ini, kata mereka, perang saat ini karena sebidang tanah!
Kami sudah katakan sebelumnya, peperangan kita adalah lebih tinggi dari itu yaitu mempertahankan eksistensi umat
Islam dan meninggikan kalimat Allah Taala di sana.
Namun, perang karena membela Palestina dan Al Aqsha juga bukan kesalahan, dan tidak juga dikatakan
bukan jihad, dan jika terbunuh bukan syahid. Tidak demikian! Sebab Allah Taala telah memuliakan wilayah
tersebut, memberkahinya, serta tempatnya para nabi dan shalihin.
Allah Taala berfirman:
Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al
Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Al Isra (17): 1)
Berkata Imam Ali Asy Syaukani Rahimahullah tentang makna telah Kami berkahi sekelilingnya:


Dengan buah-buahan, sungai, para nabi dan shalihin, maka Allah Subhanahu wa Taala telah
memberikan keberkahan di sekitar masjid Al Aqsha dengan keberkahan dunia dan akhirat. (Imam Asy Syaukani,
Fathul Qadir, Juz. 4, Hal. 280)
Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:


Janganlah kalian bersungguh-sungguh untuk melakukan perjalanan kecuali menuju ke tiga masjid:
masjidku ini (masjid nabawi), masjid Al Haram, dan masjid Al Aqsha. (HR. Muslim, Kitab Al Hajj Bab Safar Al
Marah maa Mahram ilaa Hajji wa Ghairih, Juz. 7, Hal. 46, No. 2383)
Maka, berperang mempertahankan bumi Palestina, yang di dalamnya terdapat Al Aqsha yang diberkahi
sekelilingnya, shalat di dalamnya lebih utama 500 kali dibanding di masjid lain (kecuali Masjidl Haram dan Masjid

An Nabawi), kiblat pertama umat Islam, bumi dilahirkannya para nabi, dan tanah waqaf Umar bin Al Khathab
kepada umat Islam, jelas adalah suatu kemuliaan. Jadi, sungguh keterlaluan dan melampaui batas jika ada orang
yang melecehkan perjuangan saudaranya karena membela bumi Palestina dengan alasan ini.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menetapkan, orang yang mempertahankan harta pribadi
dan membela keluarga adalah syahid, maka apalagi mempertahankan bumi yang diberkahi ini, milik kaum muslimin
-bukan milik pribadi- dan segudang keutamaan lainnya.
Dari Ibnu Umar Radhiallahu Anhuma, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

Barangsiapa yang dibunuh karena hartanya, maka dia syahid. (HR. Bukhari, Kitab Al Mazhalim wal
Ghashbi Bab Man Qaatala Duuna Malihi, Juz. 8, Hal. 377, No. 2300)
Dari Said bin Zaid Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

Barangsiapa yang dibunuh karena hartanya maka dia syahid, barangsiapa dibunuh karena agamanya
maka dia syahid, barangsiapa yang dibunuh karena darahnya maka dia syahid, barangsiapa yang dibunuh karena
membela keluarganya maka dia syahid. (HR. At Tirmidzi, Kitab Ad Diyat An Rasulillah Bab Maa Jaa fiman
Qutila Duuna Malihi fahuwa Syahid, Juz. 5, Hal. 315, No. 1341, katanya: hasan shahih. Abu Daud, Kitab As
Sunnah Bab Fi Qitaalil Lushush, Juz. 12, Hal. 388, No. 4142. An Nasai, Kitab Tahrim Ad Dam Bab Man
Qaatala Duuna Diinihi, Juz. 12, Hal. 465, No. 4027. Ahmad, Juz. 4, Hal. 76, No. 1565. Dishahihkan oleh
Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib, Juz. 2, Hal. 75, No. 1411)
Para ulama mengomentari hadits ini:

:
.

Yang dimaksud adalah syahadah (mati syahid) bagi mereka semua, bukan karena terbunuh di jalan
Allah, dan sesungguhnya bagi mereka di akhirat akan mendapatkan ganjaran syuhada, ada pun di dunia mereka
tetap dimandikan dan dishalatkan. (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 2, Hal. 633)
Maka, beberapa keterangan dari Al Quran, Al Hadits, dan para ulama, menunjukkan bahwa bukan aib dan
cela, bahkan merupakan sebuah keutamaan dan tidak mengurangi nilai kesyahidan, jika seorang mujahidin
berperang karena membela bumi yang diberkahi, Al Aqsha dan disekitarnya (Palestina), bumi para nabi dan kiblat
pertama umat Islam. Tentunya, lebih utama hendaknya dibarengi niat li ila kalimatillah (demi meninggikan kalimat
Allah Taala). Memang demikianlah perjuangan para mujahidin.