Anda di halaman 1dari 18

Praktikum Analisis Spektrometri

Tahun Akademik 2013/2014

POLARIMETRI
I. TUJUAN
1. Mempelajari dan memahami prinsip kerja alat polarimeter.
2. Menentukan konsentrasi larutan tugas dengan metoda polarimeter.
II. TEORI
Cahaya terpolarisasi bidang adalah cahaya yang getaran (vibration) gelombangnya telah
tersaring semua, kecuali getaran yang berada pada satu bidang. Metoda polarimetri dapat
digunakan untuk menentukan senyawa optik aktif, identifikasi senyawa optik aktif,
menentukan konsentrasi atau kadar suatu senyawa. Gula (sukrosa) adalah salah satu
bahan optik aktif, memutar bidang polarisasi ke kanan (dextrorotary). [1]
Polarimetri merupakan suatu metoda analisis yang didasarkan pada pengukuran daya
putaran optis dari suatu larutan. Atau bisa juga diartikan polarimetri adalah suatu cara
analisa yang didasarkan atas pengukuran sudut putaran (optical rotation) cahaya
terpolarisir oleh senyawa yang transparan dan optis aktif apabila senyawa tersebut dilewati
sinar monokromatis yang terpolarisir tersebut.[3]
Prinsip dasar polarimetris ini adalah pengukuran daya putar optis suatu zat yang
menimbulkan terjadinya putaran bidang getar sinar terpolarisir. Pemutaran bidang getar
sinar terpolarisir oleh senyawa optis aktif ada 2 macam, yaitu:
1.

Dexro rotary (+), jika arah putarnya ke kanan atau sesuai putaran jarum jam.

2.

Levo rotary (-), jika arah putarnya ke kiri atau berlawanan dengan putaran
jarum jam.[2]
Polarimeter adalah instrumen yang digunakan untuk mendeteksi aktivitas optis.

Polarimetri merupakan teknik untuk mengukur aktivitas optik yang ditunjukkan oleh
senyawa organik dan non organik. Pada polarimetri ini, yang digunakan sebagai detektor
umumnya adalah mata.[1]
Daya putaran optis adalah kemampuan suatu zat untuk memutar bidang getar sinar
terpolarisir. Sinar terpolarisir merupakan suatu sinar yang mempunyai satu arah bidang
getar dan arah tersebut tegak lurus terhadap arah rambatannya. [3]
Senyawa optis aktif adalah senyawa yang dapat memutar bidang getar sinar
terpolarisir. Zat yang optis ditandai dengan adanya atom karbon asimetris atau atom c kiral
dalam senyawa organik, contoh : kuarsa ( SiO2 ), fruktosa. [2]

Polarimetri

Praktikum Analisis Spektrometri


Tahun Akademik 2013/2014

Komponen-komponen alat polarimeter adalah:[1]


1.Sumber Cahaya monokromatis
Yaitu sinar yang dapat memancarkan sinar monokromatis. Sumber cahaya yang
digunakan biasanya adalah lampu D Natrium dengan panjang gelombang 589,3 nm.
Selain itu juga dapat digunakan lampu uap raksa dengan panjang gelombang 546 nm.
2.Polarisator dan Analisator
Polarisator berfungsi untuk menghasilkan sinar terpolarisir. Sedangkan analisator
berfungsi untuk menganalisa sudut yang terpolarisasi. Yang digunakan sebagai
polarisator dan analisator adalah Prisma nikol
3.Prisma setengah nikol
Merupakan alat untuk menghasilkan bayangan setengah yaitu bayangan terang gelap
dan gelap terang.
4.Skala lingkar
Merupakan skala yang bentuknya melingkar dan pembacaan skalanya dilakukan jika
telah didapatkan pengamatan tepat baur-baur.
5.Wadah sampel ( tabung polarimeter)
Wadah sampel ini berbentuk silinder yang terbuat dari kaca yang tertutup dikedua
ujungnya berukuran besar dan yang lain berukuran kecil, biasanya mempunyai ukuran
panjang 0,5 ; 1 ; 2 dm. Wadah sampel ini harus dibersihkan secara hati-hati dan tidak
bileh ada gelembung udara yang terperangkap didalamnya.
6.Detektor
Pada polarimeter manual yang digunakan sebagai detektor adalah mata, sedangkan
polarimeter lain dapat digunakan detektor fotoelektrik.
Isomer optis merupakan senyawa-senyawa dengan rumus molekul sama tetapi tatanan
atom-atomnya dalam ruang berbeda. Isomer-isomer optis dapat mengalami reaksi yang
sama, mempunyai sifat fisika yang mirip, perbedaan isomer-isomer tersebut terletak pada
interaksinya dengan bidang cahaya terpolarisasi. Bila cahaya terpolarisasi dilewatkan pada
larutan isomer optis, maka isomer aktif ini akan memutar bidang cahaya terpolarisasi
dengan arah tertentu.[2]
Rotasi spesifik disimbolkan dengan [] sehingga dapat dirumuskan :
[] = / dc

Polarimetri

Praktikum Analisis Spektrometri


Tahun Akademik 2013/2014

Dimana,
= besar sudut yang terpolarisasi oleh suatu larutan dengan konsentrasi c gram zat
terlarut per mL larutan.
d = merupakan panjang lajur larutan (dm).
c = merupakan konsentrasi (g/mL).
Hal-hal yang dapat mempengaruhi sudut putar suatu larutan adalah sebagai berikut:
1.

Jenis zat
Masing masing zat memberikan sudut putaran yang berbeda terhadap bidang getar
sinar terpolarisir.

2.

Suhu
Makin tinggi suhu maka sudut putarannya makin kecil, hal ini disebabkan karena zat
akan memuai dengan naiknya suhu sehingga zat yang berada dalam tabung akan
berkurang.
3. Konsentrasi zat
Konsentrasi sebanding dengan sudut putaran, jika konsentrasi dinaikkan maka
putarannya semakin besar.
4. Jenis sinar ( panjang gelombang)
Pada panjang gelombang yang berbeda zat yang sama mempunyai nilai putaran yang
berbeda.
5. Pelarut
Zat yang sama mempunyai nilai putaran yang berbeda dalam pelarut yang

berbeda.

Contoh : Calciferol dalam kloroform = +52,0 o sedangkan Calciferol dalam aseton =


+ 82,6o
6. Panjang lajur larutan dan panjang tabung
Jika lajur larutan diperbesar maka putarannya juga makin besar. [1]
Jenis jenis polarimeter:
1. Spektropolarimeter
Merupakan satu jenis polarimeter yang dapat digunakan untuk mengukur aktifitas optik
dan besarnya penyerapan. Pada alat ini mula mula sinar berada dari lampu akan
melalui suatur monokromator dan melewati suatu polarisator untuk menghasilkan sinar
terpolarisir. Polarisator ini berhubungan langsung dengan modulator yang berguna
untuk menghatur tingkat sinar yang terpolarisasi secara elektris yang dapat diamati
pada servo amplifier. Kemudian sinar melewati sampel dan analisator sebelum

Polarimetri

Praktikum Analisis Spektrometri


Tahun Akademik 2013/2014

mencapai tabung pengadaan sinar, dan dapat dilakukan dengan pengamatan pada
indikator.
2. Optical rotatory dispersion ( ORD )
Alat ini merupakan modifikasi dari spektropolarimeter, prinsipnya sama dengan
spektropolarimeter, tetapi terdapat perbedaan yaitu pada ORD ini sinar diatur
berdasarkan tingkat polarisasinya, yaitu pada frekuensi 12 Hz oleh motor driven yang
menyebabkan polarisator bergerak gerak dan membentuk sudut 1 atau 2 derajat
atau lebih.
3. Circular Dichroism Apparatus ( CDA )
CDA ini merupakan modifikasi dari spektrofotometer konfensional yang digunakan
untuk menentukan dua serapan atau absorban. Nilai polarisasi sekular ini dapat
ditentukan dalam 2 langkah, yaitu yang pertama sinar harus mengalami polarisasi
bidang dan kedua yaitu sinar terpolarisasi tersebut diubah menjadi komponen
terpolarisasi sirkular kanan dan sirkular kiri. Untuk mengubah komponen menjadi
terpolarisasi sekular kanan dan kiri, dapat digunakan tiga tipe alat, yaitu the Fresnel
rhomb, modulator pockets elektro-optik dan modulator tekanan photo-elastic.
4. Saccarimeter
Alat ini hanya dapat digunakan untuk menentukan kadar gula. [1]
Sinar polikromatis adalah sinar mempunyai arah getar atau arah rambat kesegala arah
dengan variasi warna dan panjang gelombang. Untuk menghasilkan sinar monokromatis,
maka digunakan suatu filter atau sumber sinar tertentu. Sinar monokromatis ini akan
melewati suatu prisma yang terdiri dari suatu kristal yang mempunyai sifat seperti layar
yang dapat menghalangi jalannya sinar, sehingga dihasilkan sinar yang hanya mempunyai
satu arah bidang getar yang disebut sebagai sinar terpolarisasi. [3]
Sinar monokromatis dari lampu natrium akan melewati lensa kolimator sehingga berkas
sinarnya dibuat paralel. Kemudian dipolarisasikan oleh prisma kalsit atau prisma nikol
polarisator. Sinar yang terpolarisasi akan diteruskan keprisma setengah nikol untuk
mendapatkan bayangan setengah dan akan melewati sampel yang terdapat dalam tabung
kaca yang tertutup pada kedua ujungnya yang panjangnya diketahui. Sampel tersebut
akan memutar bidang getar sinar terpolarisasi ke kanan atau ke kiri dan dianalisa oleh
analisator. Besarnya sudut putaran oleh sampel dapat dilihat pada skala lingkar yang
diiamati dengan mata.[2]
Polarimetri biasanya dilakukan pada gelombang elektromagnetik yang telah melalui
perjalanan atau telah tercermin, refraksi, atau difraksi oleh beberapa bahan.

Polarimetri

Praktikum Analisis Spektrometri


Tahun Akademik 2013/2014

Syarat senyawa yang bisa dianalisa dengan polarimetri adalah:


1.

Memiliki struktur bidang kristal tertentu ( dijumpai pada zat padat)

2.

Memiliki struktur molekul tertentu atau biasanya dijumpai pada zat cair. Struktur
molekul adalah struktur yang asimetris, seperti pada glukosa. [1]

Penggunaan polarimeter antara lain:


1.
2.
3.
4.
5.

III.

Untuk menganalisa molekul-molekul pada optis aktif.


Untuk mengukur kadar gula (analisa langsung).
Untuk menentukan antibiotik dan enzim (analisa tidak langsung).
Untuk mengukur rotasi optik dan konsentrasi sampel.
Untuk menghitung komposisi isomer optik dalam campuran rasemik. [2]

PROSEDUR PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
1. Peralatan polarimeter : sebagai pengukur sudut putaran optis aktif
2. Labu ukur
: sebagai tempat pengenceran larutan
3. Buret
: sebagai tempat memindahkan
larutan dengan volume tertentu

Polarimetri

Praktikum Analisis Spektrometri


Tahun Akademik 2013/2014

3.1.2

Bahan
1. Larutan sukrosa 25% : sebagai larutan yang akan
2. Akuades

ditentukan sudut optis aktifnya.


: sebagai pelarut untuk pengenceran.

3.2 Cara Kerja


1.

Larutan sukrosa 0, 2, 4, 6, 8, 10% dibuat dari larutan standar sukrosa 25%


dalam labu ukur 50 mL.

2.

Cuvet/tabung polarimeter diisi dengan akuades dan diusahakan jangan


ada gelembung udara terperangkap di dalam tabung.

3.

Pengukuran dilakukan dengan alat polarimeter dimana sasaran yang


harus dicapai adalah pengamatan tepat berbaur-baur pada kedua sisi lingkaran
pengamatan indikatornya.

Polarimetri

Praktikum Analisis Spektrometri


Tahun Akademik 2013/2014

4.

Nilai posisi skala analisatornya diamati dan dinyatakan dengan satu


desimal. Pengamatan minimal harus dilakukan untuk dua kali dari arah datang
pencapaian sasaran yang berbeda, lalu didapatkan nilai rata-ratanya.

5.

Larutan standar diganti dengan larutan sampel/tugas asisten. Lakukan


pengukuran yang sama.

6.

Kurva kalibrasi standar nilai putaran optis dari larutan ini vs konsentrasi
dibuat.

7.

Harga Cx dari larutan tugas ditentukan.

3.3 Skema Kerja


Larutan standar
- Diencerkan larutan sukrosa 25% menjadi : 0%, 2%, 4%, 6%, 8%, 10%
dalam labu ukur 50 mL.
Tabung Polarimeter
-

Polarimetri

Diisi dengan aquadest, dan jangan ada gelembung udara.

Praktikum Analisis Spektrometri


Tahun Akademik 2013/2014

Diukur dengan alat polarimeter, sampai tepat baur-baur pada kedua belah
sisi lingkaran pengamatan indikatornya.

Amati
-

Diukur nilai posisi skala analisatornya


Dinyatakan dalam satu decimal
Dilakukan dua kali dari arah datang pencapaian sasaran yang berbeda
Didapatkan nilai rata-rata

Larutan Standar
-

Diganti dengan larutan sampel


Dilakukan pengukuran yang sama.

Kurva Kalibrasi
-

Dibuat dengan standar putaran optis dari larutan vs konsentrasi.

Ditentukan Cx dari larutan tugas.

3.4 Skema Alat

Polarimetri

Praktikum Analisis Spektrometri


Tahun Akademik 2013/2014

3.5 Gambar Alat

Polarimetri

Praktikum Analisis Spektrometri


Tahun Akademik 2013/2014

1
2
3

Keterangan :
1
2
3
4

Skala lingkar
Tabung polarimeter
Penggeser skala
Lensa

IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
4.1.1 Data dan Perhitungan

Polarimetri

Praktikum Analisis Spektrometri


Tahun Akademik 2013/2014

a. Pengenceran Sukrosa 25%


V1 x C1 = V2 x C2

V1 . 25 % = 50 mL x 0 %
V1 = 0 mL

V1 . 25 % = 50 mL x 2 %
V1 = 4 mL

V1 . 25 % = 50 mL x 4 %
V1 = 8 mL

V1 . 25 % = 50 mL x 6 %
V1 = 12 mL

V1 . 25 % = 50 mL x 8 %
V1 = 16 mL

V1 . 25 % = 50 mL x 10 %
V1 = 20 mL

Polarimetri

Praktikum Analisis Spektrometri


Tahun Akademik 2013/2014

b. Data hasil percobaan


Konsentrasi (%)

Nilai Putaran Optis


L

D
0
2
4
6
8
10

0
62,9
63,7
70,7
72,6
76,6

0
43,5
44,2
66,8
68,8
72,7

X
0
53,2
53,95
68,75
70,7
74,65

c. Persamaan Regresi
x = Konsentrasi y = Daya putaran optis
x
0
2
4
6
8
10
x = 30

Y
0
53,2
53,95
68,75
70,7
74,65
y = 321,25

x rata-rata = 5

B =
A =

n . x ( x )

-B

y = 22,04 + 6,3x
D. Konsentrasi Larutan Tugas
- Nilai putaran optis sampel
51,9+57,8
=54,85
2

Polarimetri

6. ( 2046,8 ) (30.321,25)
2
6. ( 220 )(30)

= 53,54 (6,3.5) = 22,04

- Konsentrasi x

x2
0
4
16
36
64
100
x2 = 220

rata-rata = 53,54

n. ( xy )( x ) ( y)
2

xy
0
106,4
215,8
412,5
565,6
746,5
xy = 2046,8

= 6,3

Praktikum Analisis Spektrometri


Tahun Akademik 2013/2014

= 22,04 + 6,3 x

54,85 = 22,04 + 6,3 x


x

= 5,20

- Volume sampel
V1 . N1 = V2 . N2
V1 . 25% = 50 mL . 5,20 %
V = 10,4 mL
E. Pesentase Kesalahan
%

V teori V percobaan
V teori

Polarimetri

x 100%

7 mL10,4 mL
7 mL

= 48,5 %

kesalahan

x 100%

Praktikum Analisis Spektrometri


Tahun Akademik 2013/2014

4.1.2 Kurva

Kurva Kalibrasi Standar Putaran Optis dari Larutan Vs Konsentrasi


25
f(x) = 1.82x + 6.25
20 R = 0.74
15
Daya Putar Optis

Linear ()

10
5
0
0

Konsentrasi (%)

Polarimetri

10 12

Praktikum Analisis Spektrometri


Tahun Akademik 2013/2014

4.2 Pembahasan
Prinsip dari polarimeter adalah memutar bidang polarisasi dari suatu senyawa optis aktif
oleh sinar terpolarisir. Senyawa optis aktif yang digunakan dalam percobaan ini adalah
fruktosa dengan berbagai variasi konsentrasi.
Polarimeter digunakan untuk mencari putaran optis dari fruktosa dan juga untuk
menentukan konsentrasi sampel. Pada tabung polarimeter terdapat dua ujung yang
berbeda diameter. Ujung yang lebih kecil diameternya dihadapkan dengan cahaya,
sedangkan yang lebih besar ke detektor. Hal demikian dilakukan supaya memudahkan
sinar dari sumber mengenai sampel karena resiko untuk pemantulan sinar tidak terjadi
disebabkan sinar masuk dari bidang sempit ke bidang lebar, sehingga sinar dapat
diteruskan dan hasilnya dapat terbaca pada skala.
Ada hal lain yang juga penting untuk dicermati, yakni gelembung udara pada tabung
polarimeter. Jika ini terjadi pada sampel yang akan kita uji, maka akan menyebabkan
terganggunya sinar yang masuk karena sinar dapat menghindari dan melewati daerah lain
(ruang yang lebih lebar pada tabung) yang berakibat sinar tidak dapat diteruskan menuju
detektor. Jadi sebaiknya saat memasukkan sampel pada tabung, pastikan tidak adanya
gelembung udara yang terbentuk.
Pengamatan polarimeter dilihat tepat baur-baur. Hasil yang terlihat pertama kalinya
adalah daerah gelap terang. Oleh karena itu, temukan hingga tidak ada lagi perbedaan
gelap terang tersebut (baur-baur), putaran optis ke kanan akan bernilai + (dekstro) dan
putaran ke kiri akan bernilai (levo). Dan senyawa fruktosa memiliki putaran optis levo.
Berdasarkan percobaan tersebut, bahwa nilai putaran optis akan berbanding lurus
dengan konsentrasi. Semakin besar konsentrasi, maka nilai putaran optis juga semakin
besar. Hasil yang diperoleh dari percobaan pada larutan tugsa, konsentrasi dari larutan
tugas dicari menggunakan persamaan regresi dari nilai perbandingan konsentrasi dengan
putaran optis fruktosa berbagai variasi, konsentrasi sampel yang didapatkan sebesar 5,20
% dan untuk persen kesalahannya sebesar 48,5 %. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh

Polarimetri

Praktikum Analisis Spektrometri


Tahun Akademik 2013/2014

detektor yang kita gunakan yang kurang akurat. Kesalahan yang didapatkan cukup besar.
Ini disebabkan karna kurang teliti ketika membaca nilainya.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan:
1. Nilai yang didapatkan dari alat polarimeter merupakan nilai putaran optis.
2. Semakin tinggi konsentrasi suatu sampel maka semakin tinggi sudut putar bidang
optisnya.
3. Larutan fruktosa mempunyai kemampuan untuk memutar bidang optis ke arah kiri
(levo).
4. Konsentrasi larutan tugas yang didapatkan adalah 5,20 % dengan persen kesalahan
sebesar 48,5 %.
5.2 Saran
Agar praktikum selanjutnya berjalan dengan lancar, sebaiknya:
1. Memahami betul prosedur kerja yang akan dilakukan agar tidak terjadi kesalahan
nantinya.
2. Hati-hati dalam mengencerkan larutan agar tidak lewat konsentrasinya.
3. Dalam memasukkan kuvet kedalam polarimeter agar dibersihkan terlebih dahulu agar
tidak terjadi kesalahan.
4. Bekerjasama dalam melakukan praktikum.

Polarimetri

Praktikum Analisis Spektrometri


Tahun Akademik 2013/2014

VI. ANALISA JURNAL


VI.1Judul
Karakterisasi Film Tipis dengan Spectroscopic Elipsometry dan pengolahan data
Menggunakan software RefFIT untuk mendapatkan konstanta optik.
VI.2Tujuan
Untuk menentukan besar perubahan polarisasi cahaya dengan karakterisasi film tipis.
VI.3Skema Kerja
Material Film Tipis
-

dilakukan pengukuran dengan elipsometer


diukur berdasarkan sinar pantul sampel dan polarisasi cahaya
dibaca hasil pada elipsometer

Hasil
- didapatkan data rasio amplitudo dan beda fasa
VI.4Hasil Dan Kesimpulan
Hasilnya adalah data rasio amplitudo dan beda fasa yang diperoleh dari karakterisasi
substrat dengan elipsometer. Metode yang digunakan dalam penelitan ini adalah
spectroscopic elipsometry.
VI.5Kelebihan dan Kekurangan Jurnal
Kelebihan jurnal:
Pada praktikum alat yang digunakan adalah polarimeter, sedangkan pada jurnal ini alat
yang digunakan adalah elipsometer. Hanya saja metode nya hampir sama menggunakan
polarisasi. Menggunakan alat film tipis pada penelitiannya. Hasil selanjutnya diolah dengan
software RefFIT.
Kekurangan jurnal:
Hanya menggunakan alat film tipis pada penelitiannya.

Polarimetri

Praktikum Analisis Spektrometri


Tahun Akademik 2013/2014

DAFTAR PUSTAKA
1. Isomono. 1983. CARA-CARA OPTIK DALAM ANALISA KIMIA. Bandung:
Departemen Kimia ITB.
2. Khopkar, S, M. 1990. KONSEP DASAR KIMIA ANALITIK. Jakarta: Universitas
Indonesia.
3. Underwood, LA. 1989. ANALISA KIMIA KUANTITATIF. 3thed. Jakarta : Erlangga.

Polarimetri

Anda mungkin juga menyukai