Anda di halaman 1dari 19

Tugas Kelompok

Analisis Studi Kasus


Case#1: Walt Disney around the Globe

Group 1
Aridito Priyambodo

28P1407
1

Chinthya Disa
Damayanti

28P1407
5

Dhoni Rahadi
Kembarajati

28P1407
7

Iwan Yuli Widyastanto

28P1408
7

Micka Chiara Siwy

28P1409
0

Natasha Adhalia H.

28P1409
1

Trisya Widya Utomo

28P1409
8

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS


MAGISTER MANAJEMEN - UNIVERSITAS GADJAH MADA

DAFTAR ISI
Daftar
Isi

2
Deskripsi
Singkat
Kasus

3
Identifikasi
Permasalahan
.
5
Perumusan
Problem
Solving

6
Analisis
Pertanyaan
Kasus
..
10
Daftar
Pustaka
.
15

Deskripsi Singkat Kasus


The Walt Disney Company telah menjadi trademark yang begitu
lekat dengan dunia hiburan keluarga selama lebih dari sembilan dekade.
Perusahaan yang diawali dengan nama The Disney Brothers Studio ini
didirikan pada 16 Oktober 1923 melalui penandatanganan kontrak antara
Walt dengan M. J. Winkler untuk produksi
sebuah komedi seri berjudul
Alice
(http://thewaltdisneycompany.com/about-disney/disney-history/192001-01--1929-12-31). Pada 1930-an, mereka merilis Mickey Mouse Cartoon
untuk pertama kalinya yang kemudian berhasil menjadi ikon kartun
kebanggaan Amerika.
Keberhasilan Disney dalam membuat karakter-karakter kartun yang
dapat
diterima
oleh
masyarakat
Amerika
mendorong
Disney
mengembangkan bisnisnya dalam bentuk taman hiburan yang diberi nama
Disneyland. Disneyland pertama kali dibuka di Anaheim, California pada 17
Juli 1955 lalu disusul dengan lokasi selanjutnya di Orlando, Florida pada 1
Oktober 1971. Kedua lokasi Disneyland ini menarik minat banyak wisatawan
dari berbagai belahan dunia yang ingin merasakan sensasi Disneyland
sebagai happiest place on earth.
The Walt Disney Company terus berkembang menjadi perusahaan
raksasa di Amerika Serikat sehingga pada tahun 1980-an mereka
memutuskan untuk mengembangkan bisnis taman hiburannya secara
internasional. Tokyo Disneyland adalah International Disney Theme Park
pertama yang dibuka di luar Amerika Serikat pada 15 April 1983. Menurut
Scimone (1989) dalam Burgoyne (1995), para eksekutif Disney berkeyakinan
bahwa mereka telah cukup belajar cara mengoperasikan sebuah taman
hiburan di negara lain melalui pembukaan Tokyo Disneyland yang secara
cepat menjadi sebuah kesuksesan besar bagi mereka. Oleh karena itu
mereka mulai untuk mencari lokasi keempat untuk pembukaan taman
hiburan mereka selanjutnya.
Sejak tahun 1983 hingga 1987, Disney melakukan riset mengenai
lokasi selanjutnya dari pembukaan taman hiburan mereka. Menurut Scimone
(1989) dalam Burgoyne (1995), Disney akhirnya memutuskan Paris, Perancis
sebagai lokasi keempat taman hiburan mereka dengan pertimbangan Paris
memiliki jumlah populasi yang besar, jaringan transportasi yang spektakular
dan kondisi cuaca dingin yang sama dengan Tokyo Disneyland yang
dianggap sebagai tonggak keberhasilan bisnis taman hiburan internasional
mereka. Oleh karena itu Euro Disneyland yang kemudian berganti nama

menjadi Disneyland Paris resmi dibuka pada 12 April 1992. Pembukaan Euro
Disneyland ini sayang sekali tidak mengulang kesuksesan instan yang sama
seperti Tokyo Disneyland. Bahkan pendirian Euro Disneyland ini justru
dikecam oleh berbagai pihak sebagai hinaan terhadap budaya Perancis mulai
dari para intelektual Paris yang menyebut Disneyland sebagai a cultural
Chernobyl;
Menteri Kebudayaan Perancis yang menyatakan akan
memboikot, serta menyatakan Disneyland sebagai American clichs and
consumer society hingga para petani Perancis yang menggunakan
Disneyland sebagai lokasi protes terhadap pemerintah Amerika Serikat
karena mendukung kebijakan pemotongan subsidi pertanian di Perancis
(Gumble & Turne, 1994). Berbagai aksi di atas beserta dengan operational
error, major staffing problem, dan melesetnya ekspektasi Disney atas tingkat
kunjungan para wisatawan membuat Euro Disneyland mengalami
pencapaian target bisnis yang tidak baik dan berujung pada kesulitan
finansial. Akhirnya pada tahun 1995, Euro Disneyland mengalami perubahan
mulai dari pengadaan atraksi baru, harga tiket masuk yang lebih murah,
marketing campaign serta financial restructuring sehingga membuat taman
hiburan ini dapat bangkit dan meningkatkan jumlah pengunjung (Ferrel &
Ferrel, 2014). Bahkan kini Euro Disneyland menjadi tempat tujuan utama
para wisatawan di Eropa.
Belajar dari pengalaman di Paris, Perancis, Disney kembali membuka
taman hiburannya di Hong Kong dengan mengedepankan penghormatan
terhadap budaya lokal setempat. Taman hiburan ini mengusung budaya lokal
setempat namun tetap menyiratkan pesan-pesan khas dari Disney. Hal ini
tercermin dari keputusan Disney untuk mempekerjakan ahli fengshui untuk
membantu Disney dalam mengatur layout taman hiburan mereka agar
sesuai dengan budaya lokal tsb. Walaupun Disney telah fokus pada detail
mengenai adaptasi taman hiburan mereka terhadap budaya lokal setempat,
tahun-tahun pertama Disneyland Hong Kong tidak berjalan mudah. Angka
kedatangan wisatawan jauh berada di bawah perkiraan serta ditambah
dengan munculnya protes mengenai isu budaya dan sosial sekaligus
komplain para pengunjung atas sempitnya ukuran taman hiburan (Ferrel &
Ferrel, 2014). Untuk mengatasi kondisi ini, Disney sepuluh tahun kemudian
memutuskan untuk melakukan investasi setengah juta dollar untuk
pengembangan taman hiburan di Hong Kong. Lebih lanjut Disney juga
berencana untuk membuka kembali Disneyland di Shanghai pada tahun
2016 yang memiliki luas dua hingga tiga kali lebih besar dibandingkan
Disneyland Hong Kong.
Mengamati
pengalaman
yang
dialami
oleh
Disney
dalam
mengembangkan bisnis taman hiburannya secara internasional yang
seringkali mendapatkan protes dari penduduk setempat, negara-negara

yang menjadi tempat di mana Disneyland berada sebenarnya memperoleh


keuntungan dalam hal peningkatan aktivitas ekonomi lokal negara tersebut.
Contohnya dari peningkatan jumlah wisatawan lokal maupun asing hingga
tersedianya lapangan pekerjaan baru untuk para penduduk setempat.
Pengalaman ini mengajarkan Disney untuk harus mengamati dengan
seksama variasi faktor budaya dan sosial dalam pasar global sebelum
mereka mengembangkan bisnisnya secara internasional agar sukses
diterima oleh pasar.

Identifikasi Permasalahan
1.

Apa yang mendorong The Walt Disney Company yakin bahwa bisnis
taman hiburan mereka akan sukses secara internasional?

2.

Apa kendala yang dihadapi oleh The Walt Disney Company pada kasus
taman hiburannya di Paris (Perancis) dan Hong Kong?

3.

Apa faktor yang merintangi pengembangan bisnis secara internasional


dari merek seperti Disney? Apakah tindakan mitigasi yang dapat
dilakukan oleh perusahaan/ korporasi multinational atas isu-isu
tersebut?

Perumusan Problem Solving


A. Pendekatan Teoritis
A.1.a Definisi International Business
Menurut Ferrel & Ferrel (2014), international business adalah
kegiatan beli, jual dan perdagangan barang atau jasa yang dilakukan
dengan menyeberangi batas nasional suatu negara.
International
business terjadi karena adanya suatu negara yang memiliki absolute
advantage (saat suatu negara menjadi produsen tunggal dari sutau
produk/ jasa), comparative advantage (saat suatu negara lebih efisien
memproduksi suatu produk/ jasa dibandingkan produk/ jasa lainnya)
maupun dianggap menjadi pilihan lokasi yang tepat untuk melakukan
outsourcing (pengalihan suatu fungsi perusahaan ke negara lain di mana
harga tenaga kerja dan sumber daya lebih murah).
Aktivitas international business ini seringkali dikaitkan dengan
kegiatan Ekspor Impor. Ketika suatu negara menjual produk atau
jasanya kepada negara lain maka disebut sebagai ekspor, sedangkan
ketika suatu negara membeli produk atau jasa dari negara lain maka
disebut sebagai impor.

A.1.b Hambatan dalam International Business


Untuk melakukan international business, menurut Ferrel & Ferrel
(2014) suatu perusahaan pasti dihadapkan pada hambatan yang dapat
berupa:
1. Hambatan Ekonomi
Pada saat akan melakukan bisnis secara internasional, kita perlu
mengamati
sejumlah
faktor
dasar
dalam
ekonomi
seperti
perkembangan ekonomi, kondisi infrastruktur maupun exchange rate
(nilai tukar) yang berlaku pada saat tersebut.
2. Hambatan Legal dan Politik
Sebuah perusahaan yang memutuskan untuk masuk ke pasar global
harus paham mengenai hubungan kompleks antara hukum-hukum
yang berbeda di suatu negara pengekspor maupun negara pengimpor,
hukum yang berlaku secara internasional hingga hambatan umum
yang dihadapi dalam perdagangan internasional serta perubahan iklim
politik di suatu negara (misal instabilitas politik hingga perang). Untuk

hambatan yang dihadapi dalam perdagangan internasional dapat


berupa pemberlakukan import tariff (pajak yang dikenakan untuk
barang yang diimpor ke suatu negara), exchange controls (peraturan
yang membatasi jumlah mata uang yang dapat dibeli atau dijual),
quotas (pembatasan mengenai jumlah barang yang dapat diimpor ke
suatu negara) hingga embargo (larangan untuk perdagangan suatu
produk tertentu).
3. Hambatan Sosial dan Budaya
Banyak perusahaan yang tidak memperhatikan hambatan sosial dan
budaya ketika memutuskan untuk mengembangkan bisnisnya secara
internasional. Padahal hambatan ini justru dapat menyebabkan
kegagalan bahkan protes dari penduduk setempat bila kita abaikan.
Hambatan sosial dan budaya ini dapat berupa perbedaan dalam hal
bahasa (tertulis maupun lisan), pemaknaan atas bahasa tubuh dan
personal space, komposisi keluarga beserta kebiasaannya hingga hari
libur maupun keyakinan yang dijunjung tinggi di sebuah negara.
4. Hambatan Teknologi
Tingkat kemajuan teknologi dari suatu negara dapat menjadi hambatan
sekaligus kesempatan bisnis bagi negara lain di saat mereka
memutuskan untuk ekspansi ke negara tertentu. Contohnya saat India,
Cina dan beberapa negara di Afrika yang penduduknya masih terbatas
dalam memiliki akses telepon pribadi; menjadi kesempatan bisnis
wireless communication via handphone bagi negara lain yang akan
investasi di negara-negara tersebut.

A.1.c Ikut Serta dalam International Business


Keikutsertaan suatu perusahaan dalam international business dapat
dibedakan berdasarkan derajat komitmen atas sumber daya dan usaha
yang dibutuhkan untuk menjalankannya menurut Ferrel & Ferrel (2014)
seperti:
Exporting Importing
Suatu perusahaan telah dikatakan menjalani international business
minimal ketika mereka melakukan aktivitas pembelian atau penjualan
produk dengan negara lain. Aktivitas ini sekalipun dapat dilakukan sendiri
oleh perusahaan, mereka umumnya dibantu oleh pihak ketiga yang
disebut export agent dalam pengurusan dokumen, penjualan kembali
produk yang diekspor hingga bertanggung jawab dalam hal penyimpanan

dan transportasi barang. Keuntungan dari penggunaan export agent ini


adalah kemudahan perusahaan untuk tidak lagi mengurus nilai tukar,
pembayaran tarif hingga dokumen-dokumen administrasi. Sedangkan
kelemahannya adalah harga produk yang diperjualbelikan tentunya akan
mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan mengingat orientasi
profit dari export agent sehingga entah harga dasar produk perlu
diturunkan atau perusahaan domestik yang membeli barang dari export
agent ini perlu memberikan diskon ekstra agar produk yang
ditransaksikan dapat terjangkau oleh konsumen di negara tujuan.
Trading Companies
Trading company membeli barang dari satu negara dan menjualnya pada
pembeli di negara lain. Kegiatan yang dijalankan oleh trading company
ini serupa dengan export agent yakni menghubungkan antara penjual
dan pembeli produk di negara-negara berbeda, tetapi peranan dari
trading company jauh lebih besar daripada sekedar export agent.
Licensing & Franchising
Licensing adalah pengaturan dagang di suatu perusahaan di mana the
licensor mengijinkan perusahaan lain the licensee untuk
menggunakan nama, produk, paten, merek, hak cipta, bahan baku dan/
atau proses produksinya, tetapi the licensor berhak memperoleh fee
atau royalty dari the licensee sebagai timbal balik atas bentuk
kerjasama ini.
Sedangkan Franchising adalah sebuah bentuk licensing dimana the
franchiser setuju untuk menyediakan the franchisee sebuah nama,
logo, metode operasi, iklan, produk dan elemen lainnya yang berasosiasi
dengan bisnis the franchiser. Sebagai timbal baliknya, the franchiser
akan menerima komitmen finansial dan the franchisee setuju untuk
menjalankan bisnisnya sesuai dengan standar operasi yang dilakukan
oleh the franchiser.
Licensing maupun franchising ini membuka kesempatan kepada
perusahaan untuk memasuki international business tanpa banyak
berinvestasi dalam jumlah besar di luar negeri atau mempekerjakan/
mentrasfer pegawainya ke luar negeri untuk menangani bisnis ini.
Contract Manufacturing
Contract manufacturing terjadi ketika suatu perusahaan mempekerjakan
perusahaan asing lain untuk memproduksi suatu produk dengan jumlah

tertentu di mana hasil produksi tersebut akan dilabeli dengan nama


perusahaan domestik tersebut.
Outsourcing
Outsourcing merupakan aktivitas transfer tugas tertentu atau kegiatan
manufaktur suatu perusahaan ke perusahaan lain di mana harga tenaga
kerja dan sumber dayanya lebih murah. Outsourcing dapat membantu
bisnis skala kecil untuk terus berkembang dan menjadi kompetitif
dibandingkan dengan perusahaan lain yang lebih besar.
Joint Venture & Alliances
Joint venture dilakukan dengan cara mencari partner lokal di negara
tujuan di mana biaya dan operasional dari bisnis akan dibagi antara
perusahaan asing dengan partner lokal tersebut.
Sedangkan Alliance adalah bentuk kerjasama yang dibentuk untuk
menciptakan competitive advantage dalam basis international business.
Contohnya New United Motor Manufacturing, Inc. (NUMMI) yang dibentuk
atas aliansi antara Toyota dan General Motor di mana keunggulan atas
quality engineering milik Toyota berbaur dengan marketing expertise
serta akses ke pasar yang luas milik General Motor.
Direct Investment
Direct investment adalah bentuk international business yang paling tinggi
level komitmen dan derajat usahanya mengingat perusahaan yang
melakukan direct investment adalah pemilik dari fasilitas bisnis mereka di
negara lain. Perusahaan yang menerapkan bentuk ini biasanya disebut
sebagai Multinational Corporation (MNC), seperti IBM atau ExxonMobile,
yang beroperasi secara mendunia dan tanpa ikatan pada negara atau
wilayah tertentu.

A.1.d Strategi dari International Business


Untuk terjun dalam international business, perusahaan perlu
melakukan perencanaan yang memperhatikan sisi ekonomi, legal, politik
dan realita sosiokultural dari perusahaan di mana mereka akan
beroperasi. Pertimbangan atas berbagai sisi ini tentunya akan
mempengaruhi strategi apa yang akan diambil oleh perusahaan tersebut.
Berikut adalah strategi yang dapat diambil oleh perusahaan yang akan
terjun dalam international business:
Multinational Strategy

Strategi ini menekankan pada kustomisasi produk, cara promosi, dan


distribusi berdasarkan kondisi budaya, teknologi, regional dan nasional
dari negara yang menjadi tempat tujuan perusahaan untuk
berkembang.
Global Strategy (Globalization)
Strategi ini menitikberatkan pada standarisasi produk termasuk cara
promosi dan distribusi produk mereka ke seluruh dunia. Strategi ini
memandang bahwa negara manapun yang menjadi tujuan
international business mereka merupakan satu entitas sehingga tidak
memerlukan kustomisasi/ pembedaan.

Analisis Pertanyaan Kasus


1. Apa yang mendorong The Walt Disney Company yakin bahwa bisnis
taman hiburan mereka akan sukses secara internasional?
The Walt Disney Company memiliki beberapa alasan mengapa mereka
akhirnya berani mengembangkan bisnis taman hiburannya secara
internasional antara lain:
Disney telah memiliki penggemar tersendiri sejak tahun 1930-an
melalui karakter-karakter kartun yang berhasil merebut hati para
penduduk Amerika Serikat melalui fantasi dan kesan magic yang
ceria. Hal ini menjadi brand image bagi Disney sekaligus keuntungan
untuk memvisualisasikannya dalam bentuk pengembangan bisnis baru
berupa taman hiburan.
Bisnis taman hiburan mereka di California dan Florida mengalami
kesuksesan luar biasa. Kedua lokasi Disneyland ini menarik minat
banyak wisatawan dari berbagai belahan dunia yang ingin merasakan
sensasi Disneyland sebagai happiest place on earth.
Disney mulai menjajaki bisnis taman hiburannya secara internasional
di Jepang pada 15 April 1983 di mana bentuk kegiatan bisnisnya
berupa Licensing, yakni Disney mengijinkan Oriental Land Company
untuk menggunakan nama, produk, paten, merek, dan hak cipta
mereka. Menurut Ferrel & Ferrel (2014), perusahaan melakukan
licensing dalam pengembangan bisnis internasionalnya agar
memperkecil resiko bisnis. Disney melakukan testing the water
terlebih dahulu dalam pengembangan bisnis taman hiburannya secara
internasional melalui bentuk bisnis ini sehingga mereka tidak perlu
berinvestasi dalam jumlah besar di awal.
Kesuksesan Disney dalam pembukaan Tokyo Disneyland memicu
keyakinan dari para eksekutif Disney bahwa mereka telah cukup
belajar cara mengoperasikan sebuah taman hiburan di negara lain
melalui pembukaan Tokyo Disneyland yang secara cepat menjadi
sebuah kesuksesan besar bagi mereka (Scimone, 1989 dalam
Burgoyne, 1995). Oleh karena itu mereka mulai untuk mencari lokasi
keempat untuk pembukaan taman hiburan selanjutnya sebagai bentuk
pengembangan kontinu dari bisnis taman hiburan mereka secara
internasional.

2. Apa kendala yang dihadapi oleh The Walt Disney Company pada kasus
taman hiburannya di Paris (Perancis) dan Hong Kong?
The Walt Disney Company memiliki beberapa kendala dalam
pengembangan bisnis taman hiburannya di Paris (Perancis) dan Hong
Kong antara lain:
Euro Disneyland:
Euro Disneyland yang kemudian berganti nama menjadi Disneyland Paris
resmi dibuka pada 12 April 1992. Pembukaan Euro Disneyland ini sayang
sekali tidak mengulang kesuksesan instan yang sama seperti Tokyo
Disneyland. Padahal pihak eksekutif Disney telah mempertimbangkan
hal-hal esensial seperti jumlah populasi, kondisi infrastruktur transportasi
hingga kondisi iklim dari kota Paris, Perancis. Para eksekutif Disney
melupakan dua pertimbangan besar yang perlu ditinjau terlebih dahulu
sebelum membangun Euro Disney ini antara lain:
Hambatan Sosial dan Budaya
Menurut Ferrel & Ferrel (2014), banyak perusahaan yang tidak
memperhatikan hambatan sosial dan budaya ini ketika memutuskan
untuk mengembangkan bisnisnya secara internasional. Padahal
hambatan ini justru dapat menyebabkan kegagalan bahkan protes
dari penduduk setempat bila kita abaikan. Hambatan sosial dan
budaya ini dapat berupa perbedaan dalam hal bahasa (tertulis
maupun lisan), pemaknaan atas bahasa tubuh dan personal space,
komposisi keluarga beserta kebiasaannya hingga hari libur maupun
keyakinan yang dijunjung tinggi di sebuah negara.
Pada awal pendirian Euro Disneyland ini, menurut Gumble & Turne
(1994), banyak pihak yang menganggap Euro Disney sebagai hinaan
terhadap budaya Perancis seperti yang diungkapkan oleh
para intelektual Paris yang menyebut Disneyland sebagai a
cultural Chernobyl; dan
Menteri Kebudayaan Perancis yang menyatakan akan memboikot,
serta menyatakan Disneyland sebagai American clichs and
consumer society.

Selain itu adanya ketidakpahaman para eksekutif Disney mengenai


kebiasaan dari para warga Eropa juga membuat ekspektasi mereka atas
tingkat kunjungan para wisatawan berbeda jauh dengan kenyataan yang
terjadi. Tidak tercapainya ekspektasi mereka ini berujung pada
memburuknya kondisi finansial dari Euro Disney. Berikut adalah contoh
dari kesalahan para eksekutif Disney dalam memahami budaya setempat
menurut Gumble & Turne (1994):
Disney melakukan operational error di mana mereka menerapkan
kebijakan untuk tidak menyajikan alkohol padahal warga Eropa
terbiasa untuk mengkonsumsi alkohol bahkan di saat makan siang
sekalipun.
Disney berpikir bahwa hari Senin adalah hari yang sepi dari para
pengunjung dan Jumat adalah hari yang ramai untuk taman hiburan
mereka sehingga pengaturan staf taman hiburan pun mengikuti
asumsi tersebut. Namun kenyataan justru berlaku sebaliknya.
Menurut salah satu eksekutif Disney bahwa orang Eropa tidak
terbiasa untuk sarapan sehingga mereka memperkecil ukuran
restoran yang terdapat di taman hiburan. Namun pada
kenyataannya, hampir seluruh pengunjung justru melakukan
sarapan sehingga muncullah antrian panjang yang mengerikan dan
tentunya membuat pengunjung menjadi tidak nyaman. Selain itu
asumsi bahwa orang Eropa tidak menginginkan menu French
breakfast (croissants dan kopi) melainkan American breakfast
(bacon dan telur) dalam sarapan mereka juga mendatangkan
bencana. Hampir seluruh pengunjung akhirnya ingin makan siang
pada pukul 12.30 AM sehingga kembalilah terjadi antrian panjang.
Kekacauan ini bahkan hingga menyebabkan para Disneyland Caster
harus turun tangan untuk mengalihkan perhatian para pengunjung
dan mengajarkan mereka untuk makan siang dalam 2 shift yaitu
pukul 11.00 AM atau 02.00 PM.
Hambatan Legal
Ada masalah dalam hal staffing di Euro Disney. Disney gagal dalam
melihat bahwa ada perbedaan dalam hal staffing di Amerika dan
Jepang dengan di Perancis. Menurut Gumble & Turne (1994), dalam
sembilan minggu pertama Euro Disney sudah kehilangan 10% dari
total jumlah pegawai yang berjumlah sekitar 1000 orang. Disney
tidak menghormati hak pekerja menurut para pegawai asli Perancis
contohnya dalam hal pekerjaan yang seringkali mengharuskan
mereka untuk melewati jam makan siang.

Adanya perbedaan penerimaan dari para pegawai di Paris bahwa di


saat mereka sedang tidak dibutuhkan di taman hiburan, mereka
akan dipulangkan. Bagi pegawai asli Perancis, hal ini sangat
menyakitkan dan sulit bagi mereka untuk menerima jadwal
pekerjaan yang tak tentu (Gumble & Turne, 1994 dalam Burgoyne,
1995).
Pada Desember 1994, Euro Disney disidang dalam French Court
terkait peraturan pakaian kerja yang ketat di Euro Disney seperti
pegawai dilarang mewarnai rambut atau menggunakan aksesoris
berlebihan. Menurut Du Bois (1994) dalam Burgoyne (1995), warga
Eropa meyakini bahwa peraturan pakaian kerja tersebut menyalahi
French Labor Law. Hal ini akhirnya membuat pihak Disney
mengalah dengan merestrukturisasi peraturan pakaian kerja tsb.
Hambatan yang dihadapi oleh Euro Disney hingga menyebabkan
kesulitan ekonomi ini akhirnya ditanggulangi oleh Disney melalui
beberapa langkah antara lain:
Penggantian nama Euro Disney menjadi Disneyland Paris untuk
mengukuhkan identitas sekaligus melakukan Multinational Strategy
yang menurut Ferrel & Ferrel (2014) adalah taktik untuk masuk dalam
international business melalui kustomisasi produk, cara promosi, dan
distribusi berdasarkan kondisi budaya, teknologi, regional dan
nasional dari negara yang menjadi tempat tujuan perusahaan untuk
berkembang. Sajian makanan, toko pakaian, atraksi dan lain
sebagainya disesuaikan dengan kebiasaaan setempat dengan tujuan
mengurangi cultural gap dan menghilangkan paradigma penghinaan
terhadap budaya Perancis.
Disneyland Paris melakukan financial restructuring serta menurunkan
tarif masuk dan harga hotel hingga 30% menurut Gumble & Turner
(1994).

Disneyland Hong Kong:


Belajar dari pengalaman di Paris, Perancis, Disney kembali membuka
taman hiburannya di Hong Kong dengan mengedepankan penghormatan
terhadap budaya lokal setempat. Taman hiburan ini mengusung budaya
lokal setempat namun tetap menyiratkan pesan-pesan khas dari Disney.
Hal ini tercermin dari keputusan Disney untuk mempekerjakan ahli
fengshui untuk membantu Disney dalam mengatur layout taman hiburan
mereka agar sesuai dengan budaya lokal tsb. Walaupun Disney telah

fokus pada detail mengenai adaptasi taman hiburan mereka terhadap


budaya lokal setempat, tahun-tahun pertama Disneyland Hong Kong
tidak berjalan mudah. Angka kedatangan wisatawan jauh berada di
bawah perkiraan serta ditambah dengan munculnya protes mengenai isu
budaya dan sosial sekaligus komplain para pengunjung atas sempitnya
ukuran taman hiburan (Ferrel & Ferrel, 2014). Untuk mengatasi kondisi
ini, Disney sepuluh tahun kemudian memutuskan untuk melakukan
investasi setengah juta dollar untuk pengembangan taman hiburan di
Hong Kong. Lebih lanjut Disney juga berencana untuk membuka kembali
Disneyland di Shanghai pada tahun 2016 yang memiliki luas dua hingga
tiga kali lebih besar dibandingkan Disneyland Hong Kong.

3. Apa faktor yang merintangi pengembangan bisnis secara internasional


dari merek seperti Disney? Apakah tindakan mitigasi yang dapat
dilakukan oleh perusahaan/ korporasi multinational atas isu-isu tersebut?
Hambatan yang seringkali merintangi pengembangan bisnis secara
internasional dari merek besar seperti Disney adalah kurangnya pekanya
mereka terhadap kondisi sosial dan budaya negara setempat. Hal ini
sering terjadi mengingat faktor sosial dan budaya tidak sejelas faktor
ekonomi, legal dan politik atau teknologi untuk diamati oleh orang di luar
lingkungan tersebut. Faktor ini seringkali tidak tertulis dan baru dapat
diketahui dari observasi yang cukup mendalam melalui bantuan orang
lokal dan dilakukan dalam beberapa waktu.
Selain itu kegagalan dalam melihat dampak dari faktor lainnya seperti
pengaruh cuaca terhadap perkembangan bisnis seringkali diabaikan.
Sebuah korporasi multinational dalam menghindari celah tersebut agar
sukses menjalani international business-nya sebaiknya melakukan
beberapa hal berikut:
Lakukan studi mengenai kondisi yang jelas dapat diamati di negara
tersebut seperti keadaan ekonomi (jumlah populasi, perkembangan
ekonominya, kondisi kesiapan infrastruktur termasuk jaringan
transportasinya), kondisi legal dan politik (kondisi negara tsb. aman
ataukah sedang tidak stabil) maupun kondisi kemajuan teknologinya.
Lakukan studi mengenai kondisi yang sulit untuk diamati secara
langsung oleh orang di luar negara tsb. yaitu faktor sosial dan
budaya. Hal ini dapat dibantu oleh pihak lokal seperti pemerintah
negara setempat atau melalui jasa para ahli seperti market
researcher atau ahli fengshui.

Lakukan multinational strategy melalui kustomisasi produk, cara


promosi, dan distribusi berdasarkan kondisi budaya, teknologi,
regional dan nasional dari negara yang menjadi tempat tujuan
perusahaan untuk berkembang.
Tentukan
bentuk
investasi
yang
ingin
dilakukan
untuk
mengembangkan international business-nya ke negara baru ini misal
menggunakan bentuk Licensing ataukah Direct Investment.

Daftar Pustaka
Burgoyne, Lyn. (1995). Walt Disney Companys Euro Disneyland Venture: A
Study
in
Corporate
Foreign
Expansion.
www.hiddenmickeys.org/Paris/English/LynEuroDisney.htm diunduh pada
16 April 2014.
Ferrell, Hirt & Ferrel. (2014). Business: A Changing World, 9th Edition. McGraw
Hill International Edition (FHF).
Gumble, P. & Turner, R. Mouse Trap: Fans Like Euro Disney but Its Parents
Goofs Weigh the Park Down. The Wall Street Journal, March 10, 1994,
p. AI: R. J. Barnet and J. Cavanagh, Global Dreams (New York:
Touchstone Books, 1994), pp. 33-34: J. Huey, Eisner Explains
Everything, Fortune, April 17, 1995, pp. 45-68; R. Anthony, Euro:
Disney: The F irst 100 days, Harvard Business School Case # 9-693013;
and Charles Masters, French Fall for the Charms of Disney, Sunday
Telegraph, April 13, 1997, p. 21.
The Walt Disney Company Website: http://thewaltdisneycompany.com/aboutdisney/disney-history/1920-01-01--1929-12-31 diunduh pada 19 April
2014.