Anda di halaman 1dari 93

ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN

TL 4201
KERANGKA ACUAN INDUSTRI TEXTILE PT. MANEDA
(KELURAHAN CIBEBER, CIMAHI SELATAN)

disusun oleh :
Evans Azka

15310094

Aghasa

15311009

Siti Maryam

15311013

Yuniki Mediayati

15311016

M. Andhika Putra

15311018

Ayu Listiani

15311019

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan industri di Indonesia terus meningkat, salah satunya adalah industri
tekstil. Permintaan pasar akan kebutuhan tekstil semakin tinggi sehingga mendorong suatu
industri untuk terus memproduksi produk. Untuk mengatasi masalah tersebut maka
dibutuhkan pembangunan industri tekstil.
Pembangunan industri tekstil ini sudah sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Cimahi
Nomor 4 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Cimahi Tahun 2012-2032,
pada BAB III Pasal 41 point 2 bahwa Rencana Pengembangan Kawasan Industri Menengah
dan Besar di Leuwigajah dan Cibeber, terkait rencana pembangunan industri tekstil di
Cibeber. Selain itu, proyek pembangunan industri ini mengacu pada Peraturan Menteri
Perindustrian RI Nomor 35 Tahun 2010 mengenai Pedoman Teknis Kawasan Industri.
Studi Amdal rencana kegiatan pembangunan industri tekstil tidak dilaksanakan secara
terintegrasi, tetapi dilakukan setelah adanya studi kelayakan baik secara teknis maupun
ekonomis. Adapun studi kelayakan rencana kegiatan pembangunan industri tekstil telah
disahkan oleh Departemen Industri Republik Indonesia pada tanggal 15 Maret 2015, dengan
nomor pengesahan 03/IV-DI/INDTXTL/11.
Perencanaan dalam studi kelayakan tersebut dimulai dengan studi pemilihan lokasi dan
perencanaan luas area industri tersebut. Setelah itu dilakukan identifikasi kondisi lingkungan
berdasarkan rona awal lingkungan pada saat proyek belum berjalan. Dari aspek teknis,
penentuan tapak pondasi bangunan dari sisi geologi-teknik dan struktur dan stabilitas tanah
dari sisi mekanika tanah juga dilakukan. Demikian pula dengan kondisi yang terjadi pada saat
konstruksi dilakukan, seperti mobilisasi alat berat, kebisingan, polusi, dan hal-hal lain yang
dapat mengganggu kenyamanan masyarakat. Dari sisi lingkungan dan sosial dilakukan kajian
tentang perubahan kehidupan sosial masyarakat dilingkunan kawasan proyek dari keadaan
sebelum dan sesudah bangunan proyek dibuat. Sedangkan dari sisi ekonomi kajian dilakukan
berdasarkan azas bahwa proyek akan dibangun demi mendapatkan manfaat untuk kehidupan
masyarakat, baik manfaat langsung ataupun tidak langsung, sehingga semuanya ini berada
dalam kajian analisis ekonomi proyek yang menyeluruh.
Rencana pembangunan industri ini wajib memiliki Amdal karena tercantum pada
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 05 Tahun 2012 tentang Jenis Rencana Usaha
1

dan/atau Kegiatan yang Wajib Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
Lampiran H bagian 8. Bidang Perindustrian. Pada lampiran tersebut dijelaskan bahwa untuk
jenis kegiatan industri yang tidak termasuk angka 1 sampai dengan angka 7 yang
menggunakan areal urban dan rural wajib memiliki Amdal karena berpotensi memberikan
dampak negatif terhadap lingkungan hidup. Selain itu, pendekatan studi yang digunakan
dalam rencana pembangunan industri tekstil ini adalah pendekatan tunggal dikarenakan
pembinaan dan pengawasannya berada di bawah satuan kerja pemerintahan kota. Rencana
pembangunan industri tekstil ini akan dinilai oleh Komisi Penilai Amdal (KPA) tingkat Kota
Cimahi, mengingat proyek berlokasi di Kelurahan Cibeber Kecamatan Cimahi Selatan Kota
Cimahi.

1.2 Tujuan Rencana Kegiatan


Tujuan dari rencana pembangunan industry tekstil adalah:
a.

Memenuhi permintaan pasar akan kebutuhan sandang

b.

Menambah pendapatan negara

c.

Meningkatkan pendapatan penduduk di wilayah rencana.

1.3 Pelaksanaan Studi


1.3.1 Pemrakarsa
a. Instansi
Nama Instansi

: PT Maneda

Alamat Lengkap

: Jl. Raya Cibeber No. 19 Kelurahan Cibeber, Kecamatan


Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat

Telepon

: 022 201092

b. Penanggungjawab
Nama

: Yudhistira Putra, S.T., M.T.

Alamat

: Jl. Raya Cibeber No. 19 Kelurahan Cibeber, Kecamatan


Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat

Telepon

: 081574489900

1.3.2 Penyusun AMDAL


Penyusunan studi AMDAL terhadap perencanaan pembangunan kawasan industri
Tekstil di Kelurahan Cibeber, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat ini
dilakukan oleh konsultan independen, yaitu:
Nama lembaga

: Maneda Consultant

Alamat

: Jalan Plesiran No. 21, Bandung

Telepon

: 022 93525765

Tim studi AMDAL mencakup empat bidang keahlian pokok, yaitu :


a. Bidang Lingkungan Fisik Kimia
b. Bidang Keahlian Biologi
c. Bidang Keahlian Kesehatan
d. Bidang Keahlian Sosial Ekonomi Budaya

Ketua tim penyusun studi AMDAL bersertifikat AMDAL B, sedangkan anggota tim
penyusun lainnya mempunyai keahlian yang sesuai dengan lingkup studi AMDAL yang akan
dilakukan. Berikut adalah tim inti penyusun studi AMDAL:
a. Ketua Tim AMDAL

: Prof. Ir. Muhammad Andhika Putra

Alamat

: Jalan Surya Sumantri No 70 Bandung

Telepon

: 081908986689

b. Ketua Subtim Lingkungan Fisik Kimia

: Yuniki Mediayati, S.T., M.T.

Alamat

: Jalan Lengkong Besar No. 17 Bandung

Telepon

: 085721909081

c. Ketua Subtim Lingkungan Biologi

: Ayu Listiani, S.T., M.T.

Alamat

: Jalan Sarijadi No. 19, Bandung

Telepon

: 08122178618

d. Ketua Subtim Kesehatan

: dr. Siti Maryam, M.Kes, Sp.BA.

Alamat

: Pondok Mas Indah Blok B No.19A


Baros Cimahi

Telepon

: 08122217816

e. Ketua Subtim Sosil Ekonomi Budaya

: Evans Azka, S.E.

Alamat

: Jalan Kepatihan No 21, Bandung

Telepon

: 085642219100

f. Ketua Subtim Hukum

: Aghasa, S.H.

Alamat

: Jalan Lembang 14, Bandung

Telepon

: 08121456788

g. Ketua Subtim Proses Tekstil

: Azka Putra, S.T., M.T.

Alamat

: Jalan Softball 14 Antapani, Bandung

Telepon

: 08121456788

BAB II
PELINGKUPAN
2.1 Deskripsi Rencana Usaha dan/atau Kegiatan
PT. Maneda adalah industri yang bergerak di industri tekstil memiliki 7 kawasan industri
yaitu wilayah untuk pemintalan, wilayah untuk penenunan, wilayah untuk perajutan, wilayah
penyempurnaan kain, wilayah penyempurnaan batik, wilayah pakaian jadi, wilayah kantor
dan wilayah IPAL. Proyek PT Maneda ini direncanakan akan didirikan di atas lahan seluas
75 ha yang berada di antara daerah pertanian, Kelurahan Cibeber Kecamatan Cimahi Selatan
Kota Cimahi. Kegiatan yang berlangsung di sekitar lokasi rencana proyek adalah kegiatan
industri selayaknya kawasan industri.

a. Lokasi Proyek
Pembangunan pabrik tekstil PT Maneda direncanakan di Jalan Cibeber Raya No. 19,
Kelurahan Cibeber Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi, Jawa Barat.

Gambar 2.1 Peta Jawa Barat

Gambar 2.2 Lokasi Kota Cimahi

Gambar 2.3 Peta Kota Cimahi

Gambar 2.4 Lokasi Kelurahan Cibeber

1 2
3
4
5 7
6

1 : IPAL
2 : Pabrik pemintalan
3 : Pabrik penenunan
4 : Pabrik perajutan
5 : Pabrik penyempurnaan kain
6 : Pabrik penyempurnaan batik
7 : Kantor dan showroom

Gambar 2.5 Lokasi Proyek dan Pembagian Wilayah

b. Sumber Daya yang dibutuhkan


Sumber daya yang dibutuhkan per-tahapan pelaksanaan, antara lain :
1. Tahap pra-konstruksi

5 orang sumber daya manusia sebagai satu tim untuk mengurus pembebasan
lahan dan administrasi-administrasi lain yang dibutuhkan

1 orang pengawas tim pengurus administrasi

2. Tahap konstruksi

100 orang pekerja konstruksi


7

Kebutuhan air selama proses konstruksi = 20 liter/orang/hari x 100 orang =


2000liter/hari

Timbulan limbah domestik selama konstruksi = 18 liter/orang/hari x 100


orang = 1800 liter/hari (timbulan air limbah = 90% kebutuhan air bersih)

Material bangunan seperti beton, semen, besi beton, bekisting, pasir, batako,
dan lain-lain.

Beberapa alat berat sepeti Scraper, Bull Dozer, Motor Grader, Excavator,
Crane, Dump Truck, Wheel Loader, Tamping Roller, Crusher, dan Concrete
Spreader.

3. Tahap operasi

750 orang pekerja pabrik

Material-material tekstil seperti benang, pewarna, dan lain-lain

Alat-alat tekstil seperti alat tenun, conveyer belt, dan lain-lain

Kebutuhan air perkantoran selama tahap operasi = 20 liter/orang/hari x 750


orang = 15000 liter/hari

Timbulan limbah domestik selama operasional = 18 liter/orang/hari x 750


orang = 13500 liter/hari. (timbulan air limbah = 90% kebutuhan air bersih)

4. Tahap pascaoperasi

(sama seperti tahap operasi, hanya saja diadakan maintenance pada beberapa
sistem yang telah berjalan selama 20 tahun)

c. Tahapan Pelaksanaan Pembangunan PT Maneda


Studi AMDAL terhadap pembangunan proyek industri tekstil ini direncanakan
melalui beberapa tahap sehingga dapat memudahkan menentukan prakiraan dampak apa
saja terhadap lingkungan yang mungkin timbul pada setiap tahapannya. Adapun tahapantahapan tersebut adalah tahap prakonstruksi, tahap konstruksi, tahap operasi, dan tahap
pascaoperasi.

1. Tahap Prakonstruksi
Tahap prakonstruksi merupakan tahap penyiapan pelaksanaan kegiatan berupa
pengadaan lahan lokasi. Pada tahap ini, uraian secara mendalam difokuskan pada
kegiatan selama masa persiapan (prakonstruksi) yang menjadi penyebab timbulnya
dampak penting terhadap lingkungan hidup. Kegiatan yang dilakukan antara lain:
8

Survey lapangan untuk menentukan lokasi rencana pembangunan proyek dan


melakukan invetarisasi lahan sekitar lokasi perencanaan proyek untuk selanjutnya
dijadikan bahan acuan dalam pembuatan Rona Lingkungan Hidup pada awal
pelaksanaan studi AMDAL.
Survey kondisi sosial-ekonomi-budaya masyarakat sekitar terhadap kemungkinan
terjadi perubahan yang signifikan setelah dilaksanakannya pembangunan dan operasi
proyek yang direncanakan.
Pengurusan perizinan pembangunan proyek pada Kantor Badan Pertanahan Kota
Cimahi untuk lahan seluas 75 ha di kawasan industri Cibeber, Kecamatan Cimahi
Selatan.

2. Tahap Konstruksi
Tahap konstruksi merupakan tahapan rencana proyek mulai dibangun. Uraian
secara mendalam difokuskan pada usaha dan/atau kegiatan yang menjadi penyebab
timbulnya dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, antara lain:
Pembukaan lahan
Kegiatan ini secara garis besar terdiri atas tahapan-tahapan berikut:
a) Pembersihan lahan
b) Pengalihgunaan fungsi lahan
c) Penggalian dan penimbunan tanah untuk keperluan penyiapan lokasi bangunan
d) Perataan lahan secara parsial
e) Penyiapan tapak untuk pembangunan
Rencana penyerapan tenaga kerja menurut jumlah, tempat asal tenaga kerja, dan
kualifikasi pendidikan. Kegiatan ini dimulai dari perekrutan tenaga kerja,
pendeskripsian bidang pekerjaan, hingga pemberian pelatihan bila dibutuhkan. Pada
kegiatan ini diharapkan masyarakat dapat turut diberdayakan secara aktif melalui
perekrutan masyarakat sekitar menjadi pegawai sehingga dapat turut merasa
memiliki serta turut menjaga keberlangsungan produksi dan lingkungan sekitarnya.
Rencana penyerapan tenaga kerja yang direncanakan adalah 100 pekerja yang
berasal dari daerah Cibeber dan sekitarnya dengan kualifikasi mau bekerja keras dan
biasa dalam bekerja bangunan. Khusus untuk kontraktor dan mandor minimal
berpendidikan D3.

Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana (jalan, listrik, air) dari rencana usaha
dan/atau kegiatan. Secara umum pekerjaan yang dilakukan adalah:
a) Pembangunan pabrik; kegiatannya antara lain pemadatan tanah, penyiapan
pondasi bangunan, pembangunan konstruksi rangka dan beton
b) Pemasangan jaringan listrik, telepon, dan air bersih
c) Penyiapan lahan hijau dan tempat parkir
Kegiatan pengangkutan dan penimbunan bahan atau material yang dapat
menimbulkan dampak lingkungan hidup. Secara umum, kegiatan ini meliputi:
a) Pembelian/peminjaman material dan alat
b) Pengangkutan alat dan bahan
c) Penyimpanan alat dan bahan
d) Jenis-jenis dan tipe peralatan yang digunakan
Di samping fokus terhadap kegiatan pembangunan, pada tahapan ini juga kegiatan
lain yang perlu mendapat perhatian adalah usaha dan/atau kegiatan pembangunan
unit atau sarana pengendalian dampak (misal: unit pengolahan limbah, unit
pengendali pencemaran udara), bila unit atau sarana dimaksud direncanakan akan
dibangun oleh pemrakarsa. Selain itu, perlu diperhatikan pula upaya-upaya untuk
mengatasi berbagai masalah lingkungan hidup yang timbul selama masa konstruksi
serta rencana pemulihan kembali bekas-bekas material/bahan, gudang, jalan-jalan
darurat, dan lain-lain setelah usaha dan/atau kegiatan konstruksi berakhir.

3. Tahap Operasi
Pada tahap operasi ini direncanakan berumur 20 tahun. Pada tahap operasi ini
terdapat kegiatan-kegiatan yang dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan.
Proses pembuatan tekstil PT Maneda
Pada proses pembuatan bahan tekstil dibutuhkan beberapa bahan baku
diantaranya
a. Tahap penentuan ukuran bahan yang digunakan diantaranya kanji, alkohol
polyvenil, sekrosa, karboksimetil dan lem galasin.
b. Tahap desizing, bahan yang digunakan diantara lain air, asam-asam, dan enzim.
c. Tahap scouring, bahan yang digunakan diantara lain deterjen, sabun dan alkalis
d. Tahap merserisasi, bahan yang digunakan adalah NaOH dan air

10

e. Tahap pemucatan, bahan yang digunakan adalah hydrogenperoksida, hipoklorida


dan asam
f. Tahap pewarnaan, bahan yang digunakan adalah pewarna basa, pewarna asam,
pewarna dispesal, pewarna mordant (logam dan krom), indigo, quinon dan
cabazol.
g. Tahap proses akhir , bahan yang digunakan adalah resin, silikon, THPC,
fungisida dan lain-lain.
Bahan-bahan tersebut jika telah melalui proses akan menimbulkan suatu limbah.
Rencana penyerapan tenaga kerja menurut jumlah, tempat asal tenaga kerja, dan
kualifikasi pendidikan. Kegiatan ini dimulai dari perekrutan tenaga kerja,
pendeskripsian bidang pekerjaan, hingga pemberian pelatihan bila dibutuhkan. Pada
kegiatan ini diharapkan masyarakat dapat turut diberdayakan secara aktif melalui
perekrutan masyarakat sekitar menjadi pegawai sehingga dapat turut merasa
memiliki serta turut menjaga keberlangsungan produksi dan lingkungan sekitarnya.
Rencana penyerapan tenaga kerja yang direncanakan adalah 750 pekerja yang
berasal dari daerah Cibeber dan sekitarnya dengan kualifikasi mau bekerja keras dan
biasa dalam bekerja bangunan. Khusus untuk posisi diatas buruh harus
berpendidikan minimal D3.
Penyelamatan dan penanggulangan bahaya atau masalah selama operasi baik yang
bersifat fisik maupun sosial diantaranya adanya departemen SHE (Safety, Healty dan
Environmental) untuk mengevaluasi dan mengawasi pekerja yang beraktivitas di
pabrik. Jika terjadi sesuatu yang emergency terdapat alarm bahaya yang dipasang
pada pabrik tersebut dan disediakan fasilitas seperti ambulance dan P3K serta
pemasangan poster-poster tentang SOP saat bekerja dan cara-cara pertolongan
pertama. Jika bahaya yang terjadi adalah bahaya terhadap lingkungan maka akan
dibangun sumur-sumur pemantauan dan Instalasi pengolahan air limbah industri,
sehingga air limbah yang keluar dapat sesuai dengan baku mutu PP 82 tahun 2001
dan sumur pemantauan untuk pencegahan apabila air limbah yang dikeluarkan dari
IPAL tidak sesuai baku mutu.

11

Gambar 2.6 Proses Pembuatan Tekstil

Karakteristik limbah yang dihasilkan


Pada kegiatan operasi akan menghasilkan beberapa limbah seperti limbah cair, udara
dan padat. Berikut uraian dari masing-masing limbah:
12

1. Limbah cair
Limbah cair pada industri tekstil dihasilkan dari tahap desizing, scoursing,
merserisasi, pemucatan, pewarnaan, tahap akhir. Karakteristik dari limbah cair
dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Karakteristik Limbah Cair Industri Tekstil


Proses dan Unit (U)

Volume Limbah
(m3/U)

BOD
(kg/U)

TSS
(kg/U)

Polutan lain
(kg/U)

Wool processing
(produksi: 1 ton wol)
Stok unscoured rata-rata
Stok scoured rata-rata

544
537

314
87

196
43

Minyak
Cr
Fenol

191
1,33
0,17

Proses spesifik
Scouring
Dyeing
Washing
Carbonizing
Bleaching

17
25
362
138
12,5

227
27
63
2
1,4

153
44
-

Cr
Fenol
Minyak
Cr
Fenol

1,33
0,17
191
1,33
0,17

265

115

70

4,2
22
100
100
35
50
14

2,8
58
53
8
8
60
54

30
22
5
2,5
25
12

42
75
125
210
100

30
45
45
125
185

55
43
30
87
95

Cotton processing
(produksi: 1 ton
cotton/kapas)
Compounded rata-rata
Proses spesifik
Yarn sizing
Desizing
Kiering
Bleaching
Mercerizing
Dyeing
Printing
Serat lain (produksi: 1 ton
produk)
Rayon processing
Acetate processing
Nylon processing
Acrylic processing
Polyester processing

Sumber : World Bank ESH, 1998

13

Limbah yang dihasilkan bersifat berbahaya karena mengandung sejumlah logam


yang bersifat iritan. Limbah

dari proses pembuatan tekstil ini akan diolah di

instalasi pengolahan air limbah dan akan dibuang ke sungai Cibaligo, lalu ke sungai
Rancamalang dan bermuara di Sungai Citarum.
Proses pengolahan air limbah pabrik tekstil

meliputi

tiga

tahap

pemprosesan yaitu:
a. Proses Primer

Penyaringan kasar. Air limbah dari proses pencelupan dan pembilasan


melalui saluran pembuangan terbuka menuju pengolahan air limbah.
Saluran tersebut terbagi menjadi dua bagian yaitu saluran berwarna (water
colour) dan saluran tidak berwarna (uncolour water). Untuk mencegah agar
sisa-sisa benang atau kain dalam air limbah terbawa pada saat proses, maka
air limbah disaring dengan saringan kasar berdiameter 50 mm dan 20mm.

Penghilangan Warna (decolouring). Limbah cair berwarna yang berasal


dari proses pencelupan setelah melewati tahap penyaringan ditampung
dalam dua bak penampung, masing-masing berkapasitas 64 m3 dan 48 m3,
air tersebut kemudian dipompakan ke dalam tangki koagulasi pertama yang
terdiri atas tiga buah tangki, yaitu pada tangki pertama ditambahkan
koagulasi

FeSO4(Ferosulfat) konsentrasinya

600700

ppm

untuk

pengikatan warna. Selanjutnya dimasukkan ke dalam tangki kedua dengan


ditambahkan kapur (lime) konsentrasinya 150 300 ppm, gunanya untuk
menaikkan pH yang turun setelah penambahan FeSO4. Dari tangki kedua,
limbah dimasukan ke dalam tangki ketiga pada kedua tangki tersebut
ditambahkan polymer berkonsentrasi 0.50.2 ppm, sehingga akan.terbentuk
gumpalan-gumpalan besar (flock) dan mempercepat proses pengendapan.
Setelah gumpalan-gumpalan terbentuk akan terjadi pemisahan antara
padatan hasil pengikatan warna dengan cairan secara gravitasi dalam tangki
sedimentasi. Meskipun air hasil proses penghilangan warna ini sudah jernih
tetapi pH-nya masih tinggi yaitu 10 sehingga tidak bisa langsung dibuang
ke perairan. Untuk menghilangkan unsur-unsur yang masih terkandung
di dalamnya, air yang berasal dari koagulasi I diproses dengan sistem
lumpur aktif. Cara tersebut merupakan perkembangan baru yang dinilai
lebih efektif dibanding dengan cara lama yaitu air yang berasal dari
koagulasi I digabung dalam bak equalisasi.
14

Gambar 2.6 Proses Pengolahan Limbah Tekstil


(Sumber: http://www.kelair.bppt.go.id)

15

Ekualisasi. Bak equalisasi atau disebut juga bak air umum, memiliki
volume 650 m3 menampung dua sumber pembuangan yaitu limbah cair
tidak berwarna dan air yang berasal dari mesin pengempres lumpur. Kedua
sumber pembuangan mengeluarkan air dengan karakteristik yang berbeda.
Oleh karena itu untuk memperlancar proses selanjutnya air dari kedua
sumber ini diaduk dengan menggunakan blower hingga mempunyai
karakteristik yang sama yaitu pH 7 dan suhunya 320C. Sebelum kontak
dengan sistem lumpur aktif, terlebih dahulu air melewati saringan halus dan
cooling tower, karena untuk proses aerasi memerlukan suhu 320 C. Untuk
mengalirkan air dari bak equalisasi ke bak aerasi digunakan dua buah
submersible pump (Q 60 m3 / jam).

Saringan Halus. Air hasil equalisasi dipompakan menuju saringan halus


untuk memisahkan padatan dan larutan sehingga air limbah yang diolah
bebas dari padatan kasar berupa sisa-sisa serat benang yang masih terbawa.

Cooling Tower. Karakteristik limbah produksi tekstil umumnya mempunyai


suhu antara 350- 400C, sehingga memerlukan pendinginan untuk
menurunkan suhu yang bertujuan kerja bakteri dalam sistem lumpur aktif,
karena suhu yang diinginkan antara 290- 300 C.

b. Proses Sekunder

Proses Biologi. Di sini terdapat tiga bak aerasi yang mempunyai separator
yang mutlak diperlukan untuk mensuplai oksigen ke dalam air bagi
kehidupan bakteri. Parameter yang diukur dalam bak aerasi dengan sistem
lumpur aktif adalah DO (Dissolved Oxygen), MLSS (Mixed Liquor
Suspended

Solid)

dan

suhu.

Parameter-parameter tersebut

dijaga

kestabilannya sehingga penguraian polutan yang ada dalam limbah dapat


diuraikan secara

maksimal

oleh bakteri. DO, MLSS dan suhu

yang diperlukan oleh bakteri tersebut berkisar antara 0.5 2.5 ppm; 4000
6000; 290C - 300 C.

Proses Sedimentasi. Bak sedimentasi II mempunyai bentuk bundar pada


bagian atasnya dan bagian bawahnya berbentuk konis yang dilengkapi
dengan pengaduk agitator dengan putaran 2 kph. Desain ini dimaksudkan
untuk mempermudah pengeluaran endapan dari dasar bak. Pada bak
sedimentasi ini akan terjadi settling lumpur yang berasal dari bak aerasi dan
endapan lumpur ini harus segera dikembalikan lagi ke bak aerasi (return
16

sludge), karena kondisi pada bak sedimentasi hampir mendekati anaerob.


Pada bak sedimentasi ini juga dilakukan pemantauan kaiment (ketinggian
lumpur dari permukaan air) dan MLSS dengan menggunakan alat MLSS
meter.
c. Proses Tersier
Pada proses pengolahan ini ditambahkan bahan kimia yaitu Aluminium Sulfat
(Al2(SO4)3), Polymer dan Antifoam (silicon base) untuk mengurangi padatan
tersuspensi yang masih terdapat dalam air. Tahap lanjutan ini diperlukan untuk
memperoleh kualitas air yang lebih baik sebelum air tersebut dibuang ke
perairan. Air hasil proses biologi dan sedimentasi ditampung dalam bak
intermediet yang dilengkapi dengan alat yang disebut inverter untuk mengatur
level

air, kemudian

dipompakan

ke

dalam

tangki

koagulasi

dengan menggunakan pompa sentrifugal. Pada tangki koagulasi ditambahkan


aluminium sulfat (konsentrasi antara 150 33 ppm) dan polymer (konsentrasi
antara 0.5 2 ppm) sehingga terbentuk flock yang mudah mengendap. Selain
kedua bahan koagulan tersebut juga ditambahkan tanah yang berasal dari
pengolahan air baku (water treatment) yang bertujuan menambah partikel
padatan tersuspensi untuk memudahkan terbentuknya flock. Pada tangki ini
terdapat mixer (pengaduk) untuk mempercepat proses persenyawaan kimia
antara air dan koagulan, juga terdapat pH kontrol yang berfungsi
untuk memantau pH effluet sebelum dikeluarkan ke perairan. Setelah
penambahan koagulan dan proses flokulasi berjalan dengan sempurna, maka
gumpalan-gumpalan yang berupa lumpur akan diendapkan pada tangki
sedimentasi II. Hasil endapan kemudian dipompakan ke tangki penampungan
lumpur yang selanjutnya akan diolah dengan belt press filter machine.

2. Emisi Udara
Dampak lingkungan yang dihasilkan pada tahap operasi diantaranya adalah
TSP, CO, SO2 dan NO2. Dibutuhkan pengendalian pencemaran dengan
pemasangan teknologi-teknologi seperti wet scrubber, cyclone, dan lain-lain.

3. Limbah Padat
Limbah padat yang dihasilkan dari proses operasi diantaranya adalah Majun
dan kain sisa produksi
17

4. Tahap Pascaoperasi
Tahap pascaoperasi merupakan tahapan di mana operasi telah berjalan, dapat
ketika operasi tersebut telah berhenti ataupun ketika terjadi perubahan kegiatan operasi
dari rencana usaha dan/atau kegiatan semula dalam suatu kurun waktu tertentu. Hal ini
meliputi uraian tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadwal usaha dan/atau
kegiatan pada tahap pascaoperasi yang meliputi:
Setelah operasi berjalan selama 5 tahun, akan dilakukan beberapa hal berikut:
1. Rencana merapikan kembali barang bekas serta tempat timbunan bahan/material,
bedeng kerja, gudang, jalan darurat;
2. Rencana perbaikan mesin-mesin yang rusak dan penggantian mesin yang sudah
tidak dapat diperbaiki;
Setelah operasi berjalan selama 10 tahun, akan dilakukan beberapa hal berikut:
1. Rencana perbaikan bangunan agar dapat digunakan kembali untuk 10 tahun yang
akan datang.
2. Rencana perbaikan mesin-mesin yang rusak dan penggantian mesin yang sudah
tidak dapat diperbaiki agar dapat digunakan kembali 10 tahun yang akan datang;
Setelah operasi benar-benar selesai (2x10 tahun, mungkin lebih), akan dilakukan
beberapa hal berikut:
1. Rencana rehabilitasi atau reklamasi lahan.
2. Rencana

pemanfaatan

kembali

lokasi

rencana

usaha

dan/atau

kegiatan

pertamanan/paru-paru kota;
3. Rencana penanganan tenaga kerja yang dilepas setelah masa usaha dan/atau kegiatan
berakhir, yaitu tenaga kerja yang dilepas akan diberi tunjangan hingga masa pensiun.

d. Alternatif-Alternatif Yang Dikaji Dalam ANDAL


Kajian AMDAL merupakan studi kelayakan dari aspek lingkungan hidup, dengan
demikian komponen rencana usaha dan/atau kegiatan dapat memiliki beberapa alternatif,
antara lain alternatif lokasi, desain, proses, tata letak bangunan, atau sarana pendukung.
Alternatif-alternatif yang dikaji dalam AMDAL dapat merupakan alternatif-alternatif yang
telah direncanakan sejak semula atau yang dihasilkan selama proses kajian AMDAL
berlangsung.
Demi meminimalisasi dampak negatif yang mungkin timbul dari rencana
pembangunan proyek, maka perlu dilakukan pemilihan alternatif dalam hal lokasi, desain,

18

dan proses dalam daerah industri tekstil ini. Langkah yang harus ditempuh dalam
melakukan proses pencarian alternatif adalah :
1. Kunjungan ke lokasi rencana pengerjaan proyek
2. Memprediksikan kegiatan yang akan berlangsung pada lokasi rencana proyek dan
dampak yang ditimbulkan hingga operasional daerah industri
3. Melakukan perbandingan dengan industri sejenis yang telah ada
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti ketersediaan lahan, kemudahan
akses ke lokasi rencana proyek, potensi masyarakat, dan sumber daya sekitar, maka
alternatif terpilih untuk pembangunan daerah industri ini adalah bertempat di Kelurahan
Cibeber, Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi. Berikut adalah alternatif-alternatif
terpilih dalam proyek pembangunan daerah industri tekstil di Kelurahan Cibeber,
Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi ini:
Proses produksi tekstil dengan peralatan dan teknologi yang modern
Proses produksi tekstil menggunakan teknologi terbaru yang akan mempercepat proses
produksi dengan limbah yang lebih sedikit karena meningkatnya efisiensi produksi
industri serta menghasilkan kain yang berkualitas baik.
Pemberdayaan masyarakat sekitar
Pegawai diharapkan berasal dari masyarakat sekitar sehingga industri akan lebih mudah
mendapatkan dukungan. Hal ini juga akan dirasakan lebih banyak manfaatnya karena
secara langsung akan meningkatkan dan menggerakkan perekonomian rakyat sekitar
daerah industri serta meningkatkan pendapatan daerah.
Pengelolaan limbah industri terpadu
Pengolahan limbah industri secara terpadu dapat lebih memudahkan pengelola industri
dalam menangani buangan dari masing-masing proses produksi. Dengan demikian,
diharapkan potensi pencemaran lingkungan dapat dikurangi dan masyarakat tidak perlu
lagi resah akan kemungkinan kerugian akibat rusaknya lingkungan sekitar.
Peningkatan akses jalan dan transportasi
Industri akan memiliki akses jalan tersendiri yang dapat mempermudah transportasi
kendaraan-kendaraan dari dan ke dalam pabrik serta tidak mengganggu jalan yang
umum dipergunakan oleh masyarakat.

19

e. Keterkaitan Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan Dengan Kegiatan Lain Disekitarnya


Keberadaan daerah industri tekstil di Kelurahan Cibeber, Kecamatan Cimahi Selatan
Kota Cimahi ini nantinya pasti akan berdampak pada kegiatan lain yang telah lebih dulu
ada di daerah tersebut. Uraian pada bagian ini fokus terhadap kegiatan-kegiatan yang
berada di sekitar rencana lokasi beserta dampak-dampak yang ditimbulkannya, baik
dampak rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap kegiatan-kegiatan yang sudah ada atau
sebaliknya maupun dampak kumulatif dari rencana usaha dan/atau kegiatan dan kegiatan
yang sudah ada terhadap lingkungan hidup. Berikut adalah uraian kegiatan eksisting yang
berpotensi terkena dampak dari rencana usaha/dan atau kegiatan tersebut:
Permukiman
Sektor permukiman akan mengalami peningkatan volume seiring dengan beroperasinya
daerah industri. Hal ini dapat terjadi akibat adanya perrmintaan akan tempat tinggal
yang besar dari pekerja yang datang dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan
industri. Akibatnya, akan terjadi perubahan fungsi lahan secara besar-besaran sebagai
permukiman. Harga sewa/beli tanah dan bangunan juga akan mengalami lonjakan
akibat permintaan pasar yang tinggi.
Pertanian dan perkebunan
Lahan pertanian dan perkebunan, sedikit demi sedikit akan tergusur dan digantikan oleh
pertumbuhan permukiman yang tinggi. Akan tetapi lahan yang tersisa dipastikan dapat
terus bertahan dan bermanfaat selama produk yang dihasilkan merupakan bahan baku
atau bahan pendukung yang dipakai oleh industri tekstil.
Perdagangan
Penyediaan barang dan jasa akan mengalami pertambahan permintaan seiring dengan
berkembangnya daerah industri. Hal ini sangat positif bila dipandang dari segi
ekonomi. Para pedagang dan penyedia jasa nantinya akan terus bertambah dan semakin
dibutuhkan keberadaannya. Perkembangan perniagaan secara tidak langsung akan
menguntungkan indstri terkait dikarenakan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan
para pekerjanya semakin terjamin. Di samping itu, dengan adanya industri yang
memproduksi kain sebagai komoditas utama, diharapkan timbulnya pabrik yang
berbahan baku kain katun, sehingga dapat meningkatkan inflow cash perusahaan
sebagai konsekuensi atas peningkatan permintaan pasar akan kain katun serta mampu
meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar dari kegiatan tersebut. Hal positif lain

20

adalah terbentuknya pusat aktivitas industri tekstil yang mampu menjadi ciri khas
daerah tersebut yang dikenal secara luas.
Transportasi
Sudah dapat dipastikan jalan di sekitar daerah industri akan jadi sangat sibuk saat
daerah tersebut mulai beroperasi. Jumlah individu yang lalu-lalang di sekitar daerah
industri tekstil akan menumbuhkan sektor transportasi. Pertumbuhan ini juga akan
menguntungkan bagi industri dalam hal kemudahan mobilitas tenaga kerjanya.
Layanan Masyarakat
Dengan terus bertambahnya jumlah penduduk di sekitar daerah industri akibat
keberadaan tenaga kerja, maka akan berdampak pada peningkatan permintaan layanan
masyarakat seperti di sektor kesehatan, pendidikan, dan hiburan. Keberadaan
puskesmas/klinik, sekolah, dan tempat rekreasi akan jadi sangat penting di wilayah
Kelurahan Cibeber Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi ke depannya.

2.2 Lingkup Rona Lingkungan Hidup


Kelurahan Cibeber terletak di Kecematan Cimahi Selatan Kota Cimahi. Secara geografis
letak Kelurahan Cibeber berada pada 10731,145 LS & 653,567 BT. Batas utara
Kelurahan Cibeber berbatasan dengan Kelurahan Padasuka; sebelah timur berbatasan dengan
Kabupaten Bandung; sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung: sebelah barat
berbatasan dengan Kelurahan Baros.

Gambar 2.8 Batas Kelurahan Cibeber

21

2.2.1 Iklim dan Kualitas Udara


A. Iklim
Letak rencana proyek pembangunan kawasan tekstil berada Kelurahan Cibeber
Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi Jawa Barat. Data diambil selama satu tahun sejak
bulan Januari Desember 2014. Data iklim meliputi suhu, kelembaban

udara, curah

hujan , serta keadaan angin.


1. Temperatur
Suhu mempengaruhi besarnya curah hujan, laju evaporasi, dan transpirasi. Suhu
dianggap sebagai salah satu faktor yang dapat memperkirakan dan menjelaskan kejadian
dan penyebaran air di muka bumi. Suhu udara rata-rata di daerah rencana kawasan
industri tekstil sebesar 2 5 , 6 C, dengan suhu minimum sebesar 20,4C dan maksimum
30,2C.
35

30

Suhu 0C

25
20
Suhu Rata-rata
15

Suhu Minimum

10

Suhu Maksimum

5
0
1

9 10 11 12

Bulan

Gambar 2.9 Grafik Suhu Tahun 2014


(Sumber: climate-data.org)
2. Kelembaban
Daerah studi mempunyai kelembaban rata - rata udara tahunan sebesar 80,6%.
3. Curah Hujan
Curah hujan (CH) rata-rata tahunan di daerah rencana kawasan industri textil adalah 3346
mm/tahun. Curah hujan minimum terjadi pada bulan Agustus dengan curah hujan 199
mm/bulan dan curah hujan maksimum terjadi pada bulan November dengan curah hujan
442 mm/bulan

22

500
Curah Hujan (mm/tahun)

450
400
350
300
250
200

Curah Hujan

150

100
50
0
1

9 10 11 12

Bulan

Gambar 2.10 Grafik Curah Hujan Tahun 2014


(Sumber: climate-data.org)
4. Kecepatan dan Arah Angin
Angin adalah gerakan massa udara, yaitu gerakan atmosfer atau udara nisbi terhadap
permukaan bumi. Parameter tentang angin yang biasanya dikaji adalah arah dan
kecepatan angin. Dalam satu hari, kecepatan dan arah angin dapat berubah-ubah.
Perubahan ini seringkali disebabkan oleh adanya beda suhu antara daratan dan lautan.
Angin pada umumnya bertiup dari bidang permukaan lebih dingin ke bidang
permukaan lebih hangat. Misalnya pada siang hari di bulan kemarau, arah angin
cenderung bertiup dari lautan ke daratan yang lebih hangat. Kecepatan angin maksimum
di lokasi rencana proyek pembangunan kawasan industri tekstil sebesar 1,6

m/det.

Arah angin rata-rata setiap tahun mengalami perubahan. Saat musim hujan antara
bulan Oktober dan Maret, arah angin dominan berkisar antara utara dan barat laut.
Pada musim kemarau antara bulan April dan September, arah angin berkisar antara barat
daya dan selatan. Arah angin tersebut dapat dilihat pada gambar windrose di bawah ini.

23

Gambar 2.11 Windrose

B. Kualitas Udara
Secara umum kualitas udara di daerah studi baik. Hasil pengukuran KLH (2014)
menunjukkan semua parameter masih dibawah baku mutu ambien sesuai dengan Peraturan
Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Data selengkapnya
mengenai kualitas udara dapat dilihat pada Tabel 2.3.

24

Tabel 2.2 Pengukuran Kualitas Udara


No

Parameter

FISIKA
1
Suhu
2
Kelembagaan
3
Kebisingan
4
Kecepatan
Angin
5
Arah Angin
6
PM10
7
TSP
8
PM25
9
Dustfall
1
2
3
4
5
6

SO2
NO2
O3
HC
CO
Timbal

Satuan
0

Baku Mutu

U1

U2

U3

U4

Lokasi Sampling
U5

U6

U7

U8

U9

C
%
dbA
m/s

Tt
Tt
70
Tt

31,7
54,3
69,62
0,1 0,6

30
55,1
69,46
0,4 1,6

31,5
56,9
60,55
0,4 0,6

31,6
58
56,71
0,1 0,8

28,8
62,6
54,64
0,1 0,5

30,7
60,9
63,96
1,2 1,8

30,3
62,3
62,73
0,1 0,8

30
65,1
45,3
0,1 0,3

29,9
61,6
51,43
0,1 0,3

Tt
mg/Nm3
mg/Nm3
mg/Nm3
Ton/Km/Bln

Tt
150
65
-

140
223,69
2260,3
183,13
<0,2

240
621,34
1116,1
219,07
0,49

130
153,46
393,15
101,07
<0,2

140
184,68
384,65
56,69
<0,2

210
69,08
360,64
17,27
<0,2

200
111,27
267,32
<8,14
<0,2

135
67,51
258,31
49,57
<0,2

180
156,79
287,59
71,4
<0,2

mg/Nm3
mg/Nm3
mg/Nm3
mg/Nm3
mg/Nm3
mg/Nm3

900
400
235
160
30000
2

73,34
24,06
0,88
<10
916,6
0,24

168,62
20,29
16,49
<10
2290,4
0,23

75
78,06
134,93
40,70
<0,2
KIMIA
18,26
11,57
6,38
<10
229,04
<0,1

7,1
8,19
43,3
<10
<102
<0,1

2,22
19,59
41,25
<10
229,04
<0,1

8,24
13,65
12,69
<10
<102
<0,11

2,84
14,25
27,71
<10
458,08
0,11

4,68
18,35
30,81
<10
<102
<0,1

28,15
35,77
3,10
<10
458,08
<0,1

25

U1
1 2 3
4
5 7
6

U2

U9

U3
U4

U8
U5
U7

U6

Gambar 2.12 Lokasi Sampling Kualitas Udara

2.2.2 Hidrologi dan Kualitas Air


A. Hidrologi
Kondisi hidrologi yang teramati meliputi, air permukaan dan air tanah dangkal yang
terdapat di wilayah Cibeber, Cimahi Selatan.
1. Air Permukaan
2. Air Tanah Dangkal
Lokasi Kelurahan Cibeber mempunyai kuantitas air permukaan yang dapat
dimanfaatkan dalam pembangunan industri tekstil. Berikut titik sampling air tanah di
Kelurahan Cibeber. Air yang biasa digunakan untuk kegiatan sehari-hari oleh
penduduk di Kelurahan Cibeber, Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi Jawa Barat,
berasal dari air tanah (sumur terlindung), air PDAM, dan pompa.

Tabel 2.3 Sumber Air Minum Keluarga Kelurahan Cibeber


Sumber Air Minum
Keluarga
Air Kemasan
Air Isi Ulang
Ledeng Meteran
Ledeng eceran
Pompa
Sumur Terlindungi
Mata Air Terlindungi
Pompa Listrik
Lain-lain
TOTAL

26

Jumlah
(jiwa)
629
2.562
101
293
112.3
1.345
1.366
21
329
6.646

B. Kualitas Air
1. Air Tanah
Menurut laporan Kantor Lingkungan Hidup Cimahi (2014), menunjukkan hampir semua
parameter masih di bawah baku mutu. Baku mutu ini mengacu kepada Peraturan Menteri
No. 416 Tahun 1990.

U1
U2

U4

U3

1 2 3
4
5 7
U5
6

U8

U7
U6

Gambar 2.13 Lokasi Sampling Air Sumur

27

Tabel 2.4 Hasil Pengukuran Kualitas Air Sumur


No

Parameter

Satuan
0

Baku Mutu

1
2
3
4

Temperatur
Residu terlarut
Residu Tersuspensi
Kekeruhan

C
mg/L
mg/L
NTU

30C
1500
25

24
423
-

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

pH
BOD
COD
DO
Total Fospat sebagai P
NO3 sebagai N
NH3-N
Arsen
Kobalt
Barium
Boron
Selenium
Kadmium
Khrom
Tembaga
Besi
Timbal
Mangan
Air Raksa
Seng
Klorida
Sianida
Fluorida
Nitrit sebagai N
Sulfat
Klorin bebas
Belerang sebagai H2S

mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L

6,5 - 9
10
0,005
0,05
1
0,05
0,5
15
600
1
400
-

6,63
4,9
<0,005
0,03
<0.3
<0.05
0,67
<0.05
66,65
0,02
70,52
-

FISIKA
24,9
306
-

25
240
-

KIMIA ANORGANIK
6,51
6,6
6
1,6
<0,005
<0,005
0,08
0,03
<0.3
4,18
<0.05
<0.05
0,65
0,91
<0.05
<0.05
43,47
25,47
0,04
0,01
92
15,52
-

28

Lokasi Sampling
4
5

24,5
369
-

25
229
-

25
141
-

26,5
354
-

24,5
329
-

6,73
3,6
<0,005
<0,05
<0.3
<0.05
0,33
<0.05
69,93
0,05
38,59
-

6,26
2
<0,005
<0,05
<0.3
<0.05
5,26
<0.05
40,55
2
6,66
-

7,05
0,01
<0,005
<0,05
<0.3
<0.05
<0,1
<0.05
7,04
0,01
7,36
-

6,8
1,5
<0,005
<0,05
0,58
<0.05
2,26
0,22
52,94
0,04
23,85
-

6,65
1,45
<0,005
0,05
1,85
<0.05
<0,1
0,07
60,22
0,17
57,270
-

32
33

Fecal coliform
Total coliform

Jml/0,1 L
Jml/0,1 L

0
-

217000
-

34
35

Gross A
Gross - B

Bq/L
Bq/L

MIKROBIOLOGI
50200
1100
RADIOAKTIVITAS
-

29

718
-

810
-

34
-

300
-

0
-

3. Air Embung
Tabel 2.5 Hasil Pengukuran Kualitas Air Embung

No.

Parameter

(1)

(2)

Baku Mutu Air


Permukaan
PP No. 82/2001
(K-3)
(3)
FISIKA
Deviasi 3

Satuan
(4)

(5)

1
2
3

Temperatur
Residu Terlarut
Residu Tersuspensi

4
5
6
7
8
9
10
11

KIMIA ANORGANIK
pH
6 sampai 9
DHL (Konduktivitas)
TDS
TSS
DO
BOD
COD
NO2

mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L

6,92
522
215
36
5,48
134
33,38
0,21

12

NO3

mg/L

13

NH3

mg/L

<0,1

14
15
16
17
18

Klorin bebas (CL2)


T-P
Fenol
Minyak dan Lemak
Detergen/MBAS

0,29
0,68
0,38

19

Fecal coliform

20

Total coliform

21
22

Sianida
H2S

0,002

mg/L
mg/L
g/L
g/L
g/L
jmlh/10
0 ml
jmlh/10
0 ml
mg/L
mg/L

0,05

mg/L

23

1
200

6+

Krom heksavalen (Cr )

C
mg/L
mg/L

Nilai

25

0,142

0,03
0,055

Lokasi sampling dilakukan di Jl. Tol Padalarang-Cileunyi Kel. Cibeber (Dekat Makam
Kramat).

30

2.2.3 Fisiografi
A. Kemiringan Lereng
Kota Cimahi memiliki kemiringan lereng yang cukup bervariasi, yaitu kemiringan lereng 08%, 8-15%, dan 15-25%. Keluruhan Cibeber termasuk daerah yang mempunyai kemiringan
lereng yang landai, yaitu 08% (SLHD Kota Cimahi, 2014).

Gambar 2.14 Peta Kemiringan Lereng

B. Hidrogeologi
Keadaan hidrogeologi di wilayah Kota Cimahi adalah terdapatnya daerah aliran langka,
potensi mata air langka dengan daerah penyebaran di Kecamatan Cimahi Selatan seluas 553,02
ha. Disamping itu terdapat akuifer produktif di wilayah Kecamatan Cimahi Selatan seluas 855,12
ha.

31

Gambar 2.15 Peta Hidrogeologi Kota Cimahi


(Sumber : Kantor Lingkungan Hidup Kota Cimahi, 2011)

Menurut Kantor Lingkungan Hidup Kota Cimahi (2010), aliran air tanah Kota Cimahi
dikontrol oleh topografi yang sebagian besar semakin rendah ke arah selatan sehingga secara
morfologi Kecamatan Cimahi Utara berperan sebagai daerah resapan Kota Cimahi, sebagimana
diperlihatkan dalam Peta 2.4 Peta Hidrogeologi Kota Cimahi 2010. Oleh karena itu, perlu
dilakukan konservasi di daerah Cimahi Utara untuk menjaga kuantitas dan kualitas air tanah
Kota Cimahi.
Potensi air tanah di Kota Cimahi secara hidrogeologi dapat dibagi menjadi 3 wilayah air
tanah:
1. Wilayah akuifer produktif tinggi dengan penyebaran luas
Penyebaran wilayah air tanah ini meliputi bagian timur Kecamatan Cimahi selatan serta
sebagian besar wilayah Kecamatan Cimahi Tengah. Pada awalnya sumur bor di daerah ini
merupakan sumur bor artesis positif, namun seiring peningkatan jumlah penggunaan air tanah
maka pada saat ini sumur bor di daerah ini bukan lagi merupakan sumur artesis positif,
32

2. Wilayah akuifer produktif sedang dengan penyebaran luas


Wilayah dengan akuifer produktif sedang meliputi Kecamatan Cimahi selatan serta sebagian
besar wilayah Kecamatan Cimahi Utara. Air tanah dangkal dijumpai pada kedalaman lebih 10
m.
3. Wilayah akuifer setempat berarti
Wilayah ini dijumpai terutama dibagian barat kecamatan cimahi selatan yang berbatasan
dengan batu jajar.

C. Struktur Geologi
Berdasarkan kondisi geologinya wilayah Kota Cimahi terdiri dari formasi batuan lempung
dan batuan tufa. Formasi batuan lempung terdapat di wilayah Kecamatan Cimahi Selatan
teramsuk Kelurahan Cibeber dan Cimahi Tengah dengan luas 715,75 ha. Sedangkan formasi
Raja Mandala anggota batu gamping hanya tedapat di wilayah Kecamatan Cimahi Selatan seluas
198,88 ha, dan tufa dari gunung Tangkuban Perahu hanya terdapat di wilayah Kecamatan
Cimahi Selatan seluas 708, 1 h, Kecamatan Cimahi Tengah seluas 1.091,69 ha, dan Kecamatan
Cimahi Utara seluas 1.359,89 ha.

D. Jenis Tanah
Jenis tanah di wilayah Kota Cimahi meliputi jenis tanah aluvial coklat kekelabuan yang
tersebar di seluruh wilayah kecamatan dengan luas total 1.968,29 ha. Jenis tanah padsolik kuning
yang tersebar di wilayah Kecamatan Cimahi Selatan seluas 522,09 ha.

E. Tingkat Erodibilitas
Berdasarkan data tingkat erodibilitas lahan di wialayah Kota Cimahi mempunyai tingkat
erodibilitas ringan dan sedang. Lahan dengan tingkat erodibiltas ringan menunjukkan bahwa
daerah ini secara umum relatif aman dari bahaya longsor. Lahan dengan tingkat erodibiltas
sedang menunjukkan bahwa daerah ini secara umum relatif kurang aman dan cenderung dapat
terjdi pergerakan tanah atau longsor.

33

2.2.4 Biologi
Komponen lingkungan biologi di wilayah studi akan diuraikan menjadi tiga bagain
bahasan yang terdiri dari flora darat, fauana darat, dan biota perairan.
a. Flora Darat
Berbagai jenis tanaman yang berada di tapak proyek dapat berfungsi sebagai tanaman
pangan bagi para warga dan rerumputan/tanaman liar. Tapak proyek juga digunakan untuk
lahan sawah warga.
Pada dasarnya keberadaan jenis tanaman yang yang ditanam oleh masyarakat sekitar
digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di sekitar proyek.
Yang teramati di lapangan antara lain sawah, kebun, pohon pisang, pohon singkong,
tanaman liar, rumput dan lain-lain.

Tabel 2.6 Jenis Flora di Sekitar Wilayah Proyek


Flora
Jenis

Nama Latin

Pohon pisang

Musa acuminata, M. balbisiana

Pohon singkong

Manihot utilissima

Tanaman Liar

Centella asiatica

Rerumputan

Pennisetum purpureum

Padi

Oriza Sativa
(Sumber : Kantor Lingkungan Hidup Kota Cimahi, 2011)

b. Fauna Darat
Keberadaan fauna pada tapak poyek seperti halnya vegetasi darat juga sangat terbatas
jenisnya. Pengumpulan data satwa darat dilakukan pada jalur pengamatan yang juga
digunakan untuk pengamatan vegetasi dan pada tempat ditemukannya satwa. Satwa yang
diamati terutama adalah satwa bukan piaraan (domestik) hanya diinventarisir melalui temuan
di lapangan maupun informasi penduduk sekitar lokasi. Satwa yang teramati di lapangan
antara lain adalah:

34

Tabel 2.7 Jenis Fauna Darat Disekitar Wilayah Proyek


Fauna
Jenis

Nama Latin

Anjing

Canis familiaris

Semut

Hymenoptera sp.

Belalang

Dissosteira carolina

Jangkrik

Gryllus assimilis

Capung

Neurothemis sp.

Nyamuk

Aedes albopictus

Tikus

Rattus sp

(Sumber : Kantor Lingkungan Hidup Kota Cimahi, 2011)

c. Biota Perairan
Jenis biota perairan yang ditemukan dapat dilihat pada Tabel 2.8.

Tabel 2.8 Biota Perairan


Fauna
Jenis

Nama Latin

Plankton

Raohidium sp, Cylodrocystic

Katak

Polypedates sp

Ular kadut

Python sp

Ikan

Nekton

Lele

Clarias batrachus
(Sumber : Kantor Lingkungan Hidup Kota Cimahi, 2011)

35

2.2.5 Sosial, Ekonomi, Budaya


2.2.5.1 Kependudukan
a. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

Laki - laki

13.011
13.392

Perempuan

Gambar 2.16 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin


(Sumber: cimahikota.go.id, 2015)

Mayoritas penduduk di Kelurahan Cibeber berjenis kelamin laki-laki dengan jumlah 13.392 jiwa.

b. Jumlah Penduduk Berdasarkan Umur


343

301

427

633

1861
2346

1019

1414
1954

2528

2174
2300
2353

2208
2055

2487

Gambar 2.17 Jumlah Penduduk Berdasarkan Umur


(Sumber: cimahikota.go.id, 2015)

36

75+
70 74
65 69
60 64
55 59
50 54
45 49
40 44
35 39
30 35
25 29
20 24
15 19
10 14
59
0-4

Mayoritas penduduk di Kelurahan Cibeber berumur 10-14 tahun dengan jumlah 2.528 jiwa.
Kelompok umur terbanyak kedua adalah umur 30-35 tahun dengan jumlah 2.487 jiwa, diikuti
kelompok umur 35-39 tahun, 15-19 tahun, 20-24 tahun dan 25-29 tahun.

c. Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama


25

411 1

12

724

Islam
Kristen
Katholik
Budha
Hindu

25230

Lainnya

Gambar 2.18 Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama


(Sumber: cimahikota.go.id, 2015)

Mayoritas penduduk di Kelurahan Cibeber beragama Islam dengan jumlah 25.230 jiwa.

d. Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan


76 11

1007

1881

Belum sekolah
4987
7

5765

1797

Usia 7 - 45 tidak pernah


sekolah
Pernah sekolah
Tamat SD/sederajat

5331
5541

SLTA/sederajat

Gambar 2.19 Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan


(Sumber: cimahikota.go.id, 2015)
Mayoritas penduduk di Kelurahan Cibeber berpendidikan D-1 dengan jumlah 5.765 jiwa.
37

e. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian


359

139

11

213
Buruh

52

Karyawan Swasta
Karyawan BUMN

2455

PNS

101
23

Pengrajin
Pedagang

417

69
345

Penjahit

7202

Tukang batu
Tukang kayu
3028

Peternak
Wiraswasta
Montir

213

Gambar 2.20 Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian


(Sumber: cimahikota.go.id, 2015)

Mayoritas penduduk di Kelurahan Cibeber bermata pencaharian karyawan swasta dengan jumlah
7.202 jiwa.

2.2.5.2 Sarana Prasarana


a. Pendidikan
Kecamatan Kutawaringin memiliki fasilitas pendidikan yaitu PAUD 5 unit, TK berjumlah 2
unit, SD berjumlah 4 unit.

b. Peribadatan
Tabel 2.9 Tempat Peribadatan Agama Islam
Kecamatan

Mesjid

Langgar

Mushola

Jumlah

Cimahi Selatan

140

102

97

339

Sumber: Kota Cimahi Dalam Angka, 2010

38

Tabel 2.10 Tempat Peribadatan Selain Agama Islam


Gereja

Gereja

Kecamatan

Protestan

Katolik

Pura Hindu

Vihara Budha

Cimahi Selatan

Sumber: Kota Cimahi Dalam Angka, 2010

c. Kesehatan
Tabel 2.11 Sarana Kesehatan
Kecamatan

Puskesmas
Umum Pembantu

Cimahi Selatan

Balai
Keliling

Pengobatan

27

Posyandu
132

Pengobatan
Alternatif
0

Sumber: Data Kependudukan Kota Cimahi, Disdukcapil Kota Cimahi 2010

Tabel 2.12 Jumlah Posyandu


Jumlah Posyandu

Puskesmas
Pra Tama

Madya

Pur Nama

Man Diri

Jum Lah

10

19

Cibeber

Sumber: Data Kependudukan Kota CImahi, Disdukcapil Kota Cimahi 2010

2.2.6 Kesehatan Masyarakat


Fasilitas kesehatan masyarakat di wilayah Cibeber di layaani oleh Puskesmas Cibeber.
Berdasarkan Profil Sosial Budaya Kota Cimahi tahun 2009, bahwa masyarakat Cibeber pernah
ada yag menderita diare, TB Paru, Influenza.

2.3 Hasil Pelibatan Masyarakat


Daerah Cibeber didominasi oleh lahan persawahan, kolam permancingan dan daerah
pemukiman. Daerah ini masih memiliki begitu lahan kosong, namun lahan kosong yang tersedia
tidak datar dan bergelombang. Selain itu, daerah ini begitu dekat dengan jalan masuk tol Baros.
Sehingga untuk arus transportasi tidaklah begitu sulit. Selain di dominasi oleh lahan persawahan
disekeliling lahan rancangan pabrik adalah daerah pemukiman penduduk dan perkebunan sayur.
Daerah pemukiman terdekat berjarak sekitar 15 meter dari lahan pabrik yang akan direncanakan
39

sedangkan untuk lahan perkebunan terdekat berjarak 800 meter. Karena tidak terdapat sungai
yang melintasi tempat ini, warga membuat waduk kecil sebagai tempat penampungan air
limpasan. Namun sayangnya, seiring berjalannya waktu waduk ini juga dijadikan tempat
pembuangan limbah cair domestik.

Gambar 2.21 Waduk Cibeber


Umumnya penduduk di sekitar daerah ini bekerja sebagai petani, tukang kebun, pns, dan
berwiraswasta. Dengan mayoritas penduduk beragama islam, sehingga daerah ini terdapat rumah
ibadah.
Aspirasi masyarakat tentang keberadaan pembangunan pabrik tekstil di daerah Cibeber adalah
masyarakat khawatir jika proses konstruksi maupun operasi dari pabrik tekstil menimbulkan
ketidaknyamanan berupa bising yang berlebih. Selain itu, kekhawatiran akan kemacetan lalu
lintas di sekitar Cibeber dan berkurangnya sumber air di daerah ini merupakan harapan-harapan
yang tidak ingin terjadi. Namun masyarakat juga berharap jika pabrik ini jadi dibangun, proses
penarikan tenaga kerja mementingkan masyarakat sekitar daerah Cibeber karena daerah ini
masih kekurangan lahan pekerjaan. Hal ini dapat dilihat dari angka pengganguran di Kelurahan
Cibeber pada tahun 2011 sebesar 2063 jiwa. (cimahikota.go.id)

40

Gambar 2.22 Jumlah Pengangguran di Kelurahan Cibeber dan Kelurahan Sekitarnya


(Sumber: cimahikota.go.id, 2011)

2.4 Dampak Penting Hipotetik


Dampak penting penting didapatkan dari proses indentifikasi dampak potensial. Tujuan dari
identifikasi dampak potensial adalah menduga semua dampak yang berpotensi terjadi jika usaha
dan / atau kegiatan pabrik tekstil dilakukan pada kelurahan cibeber. Proses indentifikasi
dilakukan dengan menggunakan metode simple checklist.
Metode simple checklist merupakan metode standar dalam menentukan dampak dari setiap
aktivitas terhadap komponen lingkungan. Metode ini digunakan untuk menampilkan informasi
dampak terhadap aktivitas dan memastikan agar dampak potensial dari aktivitas tersebut
teridentifikasi.
Perbedaan simple checklist dengan metode checklist lainnya adalah tidak terdapat deskripsi
kuatitatif inter parameter maupun pembobotan antar parameter terhadap dampak yang terjadi
dari sebuah aktivitas seperti yang terdapat dalam Descriptive Checklist, Scaling Checklist, atau
Scaling Weighting Checklist. Baik metode checklist maupun matrik, keduanya biasanya

41

ditampilkan dalam bentuk table yang diisi dengan informasi dampak lingkungan yang terjadi
akibat dari sebuah aktivitas.
2.4.1 Indentifikasi Dampak Potensial
Rencana pembangunan Proyek Pabrik Tekstil PT. Maneda akan dibagi menjadi empat tahap;
pra-konstruksi, konstruksi, operasional, dan pasca-operasi. Berdasarkan keempat tahap ini dapat
diidentifikasi dampak yang mengkin akan terjadi.

Tahap Prakonstruksi
1. Survei Lokasi Pabrik Tekstil
- Sosial Ekonomi
Pada tahap pra-konstruksi masyarakat mengalami keresahan karena adanya survei yang
dilakukan sebelum proyek. Keresahan ini timbul dari ketakutan mereka akan kemungkinan lahan
dan rumah yang mereka miliki akan digusur untuk melancarkan jalannya proyek.

2. Pembebasan Lahan
- Sosial Ekonomi
Keresahan juga muncul ketika pihak pelaksana proyek mulai melakukan pembebasan lahan
karena banyak masyarakat yang tidak mau menyerahkan lahannya. Sebagian lahan rencana
proyek merupakan lahan pertanian dan kolam pemancingan. Lahan ini merupakan tempat mata
pencaharian utama masyarakat di sana.

- Hidrologi
Pada tahap pra konstruksi ini, terjadi perubahan fungsi lahan yaitu dari lahan pertanian diubah
menjadi lahan terbuka, sehingga mempengaruhi infiltrasi dan run off air pada lahan terbuka
tersebut. Pembukaan lahan ini akan menurunkan jumlah vegetasi yang berarti bila terjadi hujan
maka terjadi run off yang besar karena tidak ada vegetasi yang berfungsi menahan air untuk
diinfiltrasi ke dalam tanah.

42

Tahap Konstruksi
1. Mobilisasi Alat dan Personil untuk Pabrik Tekstil
- Debu
Kegiatan-kegiatan konstruksi seperti pengadaan peralatan berat, pematangan lahan dan
pemasangan tiang pancang diperkirakan akan menimbulkan dampak terhadap kandungan debu
udara di dalam proyek.
Peningkatan debu di udara tersebut disebabkan oleh lalu lintas alat berat di atas tanah terbuka
yang akan memudahkan tanah mudah mengelupas dan sebagian pertikel tanah tersebut terlepas
ke udara menjadi debu. Kondisi serupa juga terjadi dalam kegiatan pematangan lahan dan
pemasangan tiang pancang. Peningkatan debu di udara tersebut akan menjadi besar terutama bila
pekerjaan tersebut dilakukan pada musim kemarau.
Dampak terhadap kualitas udara gas kegiatan pematangan lahan, pemancangan tiang pancang
dan konstruksi pabrik berasal dari pengoperasian alat berat konstruksi. Pengoperasian alat berat
ini menghasilkan gas buang sisa pembakaran bahan bakar yang akan menurunkan kualitas udara
ambien di sekitar pabrik.
Besarnya peningkatan kadar debu dan gas buang akibat pengoperasian alat berat konstruksi
tergantung dari jenis dan jumlah alat yang digunakan. Berdasarkan Environmental Data Book,
emisi masing-masing alat dapat dilihat pada Tabel 2.13 berikut.

Tabel 2.13 Faktor Emisi untuk Berbagai Alat


Faktor emisi, lb/jam

No.

Jenis alat berat

1.

Bulldozer

0,793

5,050

0,384

0,165

2.

Scrapper

1,460

6,220

0,463

0,406

3.

Motor Grader

0,215

1,050

0,086

0,061

4.

Lain-lain

0,414

2,270

0,143

0,139

CO

NOX

SO2

Debu

- Bising
Kegiatan yang akan menimbulkan dampak terhadap bising adalah pengoperasian alat berat,
pemasangan tiang pancang, dan kegiatan uji produksi. Pelaksanaan kegiatan-kegiatan ini akan

43

meningkatkan intensitas bising di tapak proyek yang mengganggu kenyamanan dan akan
semakin terasa dampaknya apabila dilakukan pada malam hari atau pada jam-jam istirahat.
Berdasarkan data primer, perhitungan menggunakan alat Sound Level Meter daerah Cibeber
memiliki tingkat kebisingan yang sedang untuk skala perumahan yaitu sekitar 58,32 dBA
(perhitungan di siang hari). Namun, berdasarkan KepMenLH No. 48 Tahun 1996, baku tingkat
kebisingan untuk pemukiman dan perumahan adalah 55 dBA. Tahap konstruksi seperti kegiatan
pematangan lahan, penanaman tiang pancang dan konstruksi pabrik akan menimbulkan dampak
negatif penting pada komponen bising dan dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan.

- Flora dan Fauna


Kegiatan konstruksi ini berhubungan langsung dengan lingkungan yang mempengaruhi habitat
atau tempat hidup flora dan fauna. Kegiatan mobilisasi alat dan personil ke lokasi proyek tidak
terlalu mengganggu keanekaragaman flora fauna yang ada, beberapa organisme dapat pindah ke
daerah lain tetapi hal ini dianggap tidak signifikan mengingat tidak terdapatnya flora maupun
fauna yang langka.
Mobilisasi alat dan personil dapat menyinggung habitat biota air sehingga dapat mengurangi
kelimpahan jumlah biota air yang ada, namun hal ini tidak terlalu signifikan dan dengan
mobilisasi yang tertib dapat dihindarkan.

- Sosial Ekonomi
Pada tahap konstruksi inilah pabrik mulai dibangun dengan begitu otomatis daerah konstruksi
akan menjadi lebih ramai dan padat. Keramaian tersebut disebabkan oleh mobilitas alat dan
personil. Sudah pasti bahwa keberadaan suatu proyek pasti akan menyebabkan penyerapan
tenaga kerja. Mobilisasi ini merupakan kesempatan atau peluang kerja baru bagi masayarakat
setempat yang biasanya bertani. Mereka dapat bekerja sebagai kuli panggul bahan ataupun
sebagai pekerja bangunan pada proyek tersebut.
Aktifitas ekonomi lokal juga akan meningkat. Maksudnya adalah dengan adanya proyek maka
akan muncul aktifitas-aktifitas ekonomi lainnya. Mobilisasi alat dan personil yang terjadi
mungkin akan cukup tinggi, artinya bahwa jumlah orang, kendaraan yang akan keluar masuk
daerah tersebut akan meningkat. Masyarakat yang terbiasa dengan keadaan lingkungan mereka
yang lengang dan tidak ramai mungkin akan mengalami keresahan karena mereka merasa
44

terganggu dengan aktifitas lalu lalang yang dilakukan oleh baik manusia yaitu para pekerja
maupun kendaraan-kendaraan proyek.

- Kesehatan Masyarakat
Salah satu hal yang paling berharga adalah kesehatan. Kesehatan masyarakat berpotensi besar
terganggu ketika konstruksi sebuah proyek berlangsung. Mobilisasi alat, kendaraan, bahan dan
personil konstruksi merupakan salah satu penyebabnya. Debu-debu dan asap yang ditimbulkan
dari kendaraan proyek menurunkan kualitas udara. Kualitas udara yang menurun dapat
menggangu kesehatan masyarakat setempat diindikasikan dengan timbulnya berbagai penyakit
saluran pernapasan seperti batuk, sesak napas, asma, dll. Mobilitas personil atau para pekerja
konstruksi juga dapat membawa penyakit ke daerah konstruksi. Misalnya saja seorang pekerja
yang berasal dari luar kota yang terkena penyakit menular yang berada di kotanya, lalu ia bekerja
di daerah konstruksi dan menulari pekerja lainnya dan masyarakat setempat sehingga terjadi
wabah penyakit baru di daerah tersebut.

2. Pematangan Lahan
- Debu dan Bising
Penggunaan alat-alat berat pada saat pematangan lahan akan menimbulkan kebisingan yang akan
mengganggu kesehatan pendengaran penduduk setempat. Selain itu debu-debu yang dihasilkan
dari pengerukan dan penimbunan tanah juga dapat mengganggu pernapasan. Dampak yang
paling dominan dari pekerjaan sipil adalah bising, karena hampir setiap pekerjaan konstruksi
sipil menggunakan alat-alat berat contohnya pemancangan tiang pondasi, pekerjaan galian, dll.
Debu yang ditimbulkan dari pematangan lahan dan pemasangan tiang pancang disebabkan oleh
hilangnya tanaman penutup di tapak proyek. Hilangnya tanaman penutup ini menyebabkan tanah
menjadi terbuka dan akan mudah mengelupas serta terlepas ke udara menjadi debu. Peristiwa ini
mudah terjadi pada musim kemarau, sedangkan pada musim hujan, kelembaban udara yang
tinggi akan menyebabkan tanah tidak mudah terlepas menjadi debu.
Secara kuantitatif, peningkatan dan persebaran debu sulit diprediksi secara matematis. Namun
demikian persebaran debu ini diprakirakan hanya berlangsung di lingkungan sekitar areal kerja
saja.

45

- Hidrologi
Pada tahap konstruksi ini, lahan terbuka setelah dilakukan pematangan lahan diubah menjadi
lahan yang diperkeras. Hal ini berarti semakin besar nilai koefisien run off dan semakin kecilnya
koefisien infiltrasi.
Bila makin sedikit air yang terinfiltrasi ke dalam tanah maka makin lama muka air tanah akan
semakin menurun karena tidak ada air yang tersimpan. Air membutuhkan waktu yang sangat
lama untuk meresap ke dalam tanah. Kegiatan proyek ini dapat berakibat timbulnya potensi
banjir di daerah cibeber, mengingat lahan tempat konstruksi dilaksanakan merupakan daerah
cekungan. Sehingga dampak negatif terhadap hidrologi merupakan dampak penting.

- Kualitas Air
Prakiraaan dampak terganggunya sanitasi lingkungan akan terjadi karena kegiatan pengoperasian
base camp proyek diantaranya pengoperasian kantor, penumpukan material bangunan, dan
bengkel. Kegiatan karyawan kantor base camp akan menghasilkan limbah domestik berupa
sampah padat, cair, dan tinja. Limbah lainnya berasal dari pencucian peralatan dan kendaraan
proyek dan ceceran sisa pelumas. Bahan pencemar ini akan menurunkan kualitas air permukaan
dan tanah yang merupakan sebagian dari indikator kualitas kesehatan lingkungna yang penting.
Di samping itu juga penumpukan material pasir, batu, besi, dan material lainnya yang dapat
mengganggu estetika lingkungan sekitarnya. Dampak lanjutan dari terganggunya sanitasi
lingkungan adalah terganggunya kesehatan dan kenyamanan penduduk yang bermukim di
sekitarnya.

- Bentuk Lahan (Morfologi)


Pematangan lahan yang berhubungan dengan perataan tanah akan menyebabkan terjadinya
perubahan bentuk lahan. Lokasi kegiatan yang memiliki kemiringan terjal sehingga banyak
dilakukannya kegiatan perataan tanah. Kegiatan penyediaan infrastruktur yang menyebabkan
terjadinya perubahan bentuk lahan adalah pembuatan jalan dan saluran drainase. Karena wilayah
studi merupakan daerah yang miring maka kegiatan pembuatan jalan dan saluran drainase
menyebabkan perubahan yang besar.

46

- Struktur Geologi dan Tanah


Pembukaan lahan dan pemadatan serta perataan akan menyebabkan permukaan tanah menjadi
terbuka, agregat tanah hancur dan menurunkan kapasitas infiltrasi. Sehingga tanah menjadi peka
terhadap erosi. Konstruksi bangunan baik bangunan pabrik tekstil maupun bangunan penunjang
lainnya (jalan, saluran drainase, parkir, dll) menyebabkan berkurangnya luas daerah resapan air,
disamping itu proses pemadatan akan menyebabkan terjadinya pengurangan kapasitas resapan
air. Secara umum kegiatan tersebut menyebabkan kepekaan tanah terhadap erosi menjadi tinggi.
Penataan drainase ditinjau dari aspek konservasi tanah dan air pada hakekatnya mengatur aliran
permukaan agar air mengalir dengan kecepatan yang tidak merusak tanah.

- Flora dan Fauna


Kegiatan pematangan lahan akan memberikan dampak terhadap tipe komunitas dan
keanekaragaman jenis flora. Dalam pematangan lahan, yang dilakukan adalah penebangan
pohon-pohon dan pemotongan rumput serta tanaman lainnya di daerah yang akan dibuat Pabrik
Tekstil, akibatnya banyak jenis flora yang hilang dan habitatnya pun kemungkinan besar ikut
hilang. Dampak yang terjadi hanyalah gangguan habitat dan kelimpahan jenis pada fauna
terestrial yang ada di lokasi proyek misalnya semut, ular, ulat, dll, serta satwa liar yang ada di
lokasi proyek.

3. Pekerjaan Sipil Pembuatan Pabrik


- Hidrologi
Pada tahap konstruksi ini, pabrik akan mengambil air dari sumur air tanah dangkal untuk
kepentingan pembangunan. semakin banyaknya run off yang terjadi maka makin sedikit air yang
terinfiltrasi dalam tanah, hal ini bisa mengakibatkan turunnya muka air tanah.

Tahap Operasi
Tahap operasi dari industri tekstil dapat dibagi menjadi beberapa tahap,
a. Input, seluruh bahan baku dikumpulkan dan disiapkan untuk pasuk ke tahap operasi.
b. Proses, terdiri atas tiga tahap; Sizing and twisting, weaving, dyeing finishing.

47

Sizing adalah proses melapisi benang dengan campuran zat kimia yaitu penganjian.
Setelah dilakukan penganjian dilakukan pemasakan dengan temperature 120 derajat dan
dilanjutkan dengan proses pematangan dan pencucian. (Elnathan, 2014)
Twisting adalah benang dilinting sehingga benang menjadi tebal.
Weaving (tenun) adalah proses persilanga anatara dua benang yang terjalin sehingga
menghasilkan kain grey.
Dyeing finishing adalah proses pemberian warna secara merata pada kain.
c. Output, merupakan proses persiapan untuk pemasaran produk jadi. Pemisahan antara kain
bewarna dan kain grey. Seluruh kain yang telah siap dipasarkan ditata dan disimpan ke
dalam kardus pengiriman.

Gambar 2.23 Proses Produksi Industri Tekstil


(Sumber: Elnathan, 2014)

1. Mobilitas Tenaga Kerja untuk Pabrik Tekstil


- Debu
Pada tahapan konstruksi debu dihasilkan oleh pengangkutan tanah dan material yang
dipergunakan dalam pembangunan sarana dan prasarana yang berhubungan pembangunan
pabrik. Hal ini meliputi pembangunan pabrik, jalan, barak tempat hunian pekerja pabrik, serta
instalasi berbagai pendukung pabrik ini.
Debu menjadi dampak penting bagi komponen biotik yang terdapat di sekitar daerah
pembangunan pabrik. Adapun komponen biotik tersebut adalah manusia yang berada di sekitar
pabrik (penduduk setempat dan pekerja pabrik), selain itu yang terganggu adalah flora dan fauna
48

yang terdapat

di

sekitar

daerah

tersebut.

Tumbuhan

mengalami

hambatan

dalam

pertumbuhannya apabila partikel debu sudah sangat banyak menutupi daun maupun batang
tumbuhan. Tumpukan partikel debu yang tebal pada daun dapat menyebabkan tertutupnya
stomata. Hal ini akan menghambat proses respirasi yang berujung pada terhambatnya
pertumbuhan tumbuhan. Pada batang aktivitas respirasi juga terhambat akibat tertutupnya
lentisel.
Bagi manusia debu memiliki dampak penting akibat efeknya yang cukup berbahaya bagi sistem
pernafasan. Gangguan kesehatan bagi yang mengalami alergi debu, radang tenggorokan,
bronkitis dan beberapa penyakit yang berkaitan dengan pernafasan lainnya akan sangat mudah
terpicu (terutama yang kronis) akibat meningkatnya kuantitas dan kualitas debu yang berada di
daerah tersebut.

- Sosial Ekonomi
Dengan adanya sebuah pabrik tekstil tentu akan

banyak menyerap tenaga kerja baik dari

penduduk lokal maupun dari luar. Keberadaan tenaga kerja luar yang bermobilisasi inilah yang
kemudian membuka peluang usaha dan kesempatan kerja baru. Pada umumnya tenaga kerja luar
ini pasti tidak memiliki tempat tinggal ketika mereka bermobilisasi ke tempat kerja mereka yang
baru oleh karena itu maka bermunculanlah usaha baru yaitu menyediakan kamar kos-kosan atau
rumah kontrakan yang dilakukan oleh penduduk setempat. Ada juga yang kemudian membuka
usaha warung atau toko karena pasti akan laku disebabkan jumlah konsumen yang meningkat.
Pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan usaha jasa seperti jasa cuci baju, jasa ojeg, dll
juga makin berkembang. Dengan munculnya berbagai kesempatan usaha maka aktivitas ekonomi
lokal otomatis akan meningkat, tetapi peningkatan yang terjadi tidak begitu besar.
Mobilitas tenaga kerja yang tinggi menyebabkan keresahan masyarakat. Karena tenaga kerja dari
luar yang datang dengan budaya yang berbeda dapat mempengaruhi atau bahkan menimbulkan
benturan dengan budaya/ kebiasaan setempat.

2. Operasi Pabrik Tekstil


- Kualitas Udara
Dalam operasi pabrik tekstil yang terdiri dari banyak tahapan ini, akan menimbulkan dampak
bagi kualitas udara. Tahapan-tahapan yang mempengaruhi kualitas udara adalah:
49

1. Tahap Pembersihan
Pada tahap ini dilakukan pembersihan terhadap kapas dan material yang menjadi bahan
baku industri ini. Dampak yang dihasilkan dari proses ini adalah debu. Debu ini dapat
berasal dari partikel partikel yang terlepas saat terjadi pelepasan gumpalan kapas. Debu
yang dihasilkan pada tahap ini dihasilkan ini berpengaruh terhadap kesehatan pekerja
yang berada di sekitar area pembersihan ini.
2. Tahap pemintalan
Dari tahapan ini dihasilkan juga dihasilkan debu. Seperti halnya pada tahap pembersihan
debu ini memberikan dampak bagi pekerja dan pihak-pihak yang beraktivitas di sekitar
lokasi tersebut.
3. Weaving (Penenunan)
Pada tahapan ini juga dihasilkan debu. Debu ini pun cukup berbahaya bagi pekerja dan
pihak-pihak yang beraktivitas di sekitar area proses tersebut. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa debu memberikan dampak, baik bagi pekerja maupun penduduk yang
berdomisili di sekitar lokasi pabrik
4. Bleaching
Pada tahapan ini dihasilkan uap air, soda abu, dan peroksida. Uap air merupakan emisi
yang tidak memberikan dampak bagi lingkungan. Soda abu memberikan dampak karena
partikelnya yang cukup besar. Ukuran partikelnya dapat dikatakan mirip dengan debu.
Bila soda abu ini masuk ke sistem pernafasan, maka akan menyebabkan gangguan
pernafassan. Bila dibandingkan dengan debu soda abu memiliki dampak yang lebih
besar. Hal ini terjadi karena terdapat partikel kimia yang dikandungnya dapat bereaksi
pada sistem pernafasan dan menyebabkan efek yang lebih besar.
Peroksida memberikan dampak bagi kesehatan manusia yang berada di sekitar zat ini
diemisikan. Zat ini dapat menyebabkan degradasi sel yang berakibat pada penurunan
fungsi organ tubuh.
5. Pencetakan
Pada tahapan ini yang dihasilkan adalah uap-uap air yang mengandung bahan kimia. Hal
ini berbahaya karena apabila zat ini masuk ke dalam sistem pernafasan dalam jumlah
yang melewati baku mutu dapat menyebabkan kerusakan atau penurunan fungsi dalam
sistem pernafasan tersebut.
50

- Bising
Keseluruhan proses yang terjadi pada industri tekstil perusahaan ini mempergunakan mesingmesin mekanis. Keseluruhan mesin mekanis ini mengeluarkan bunyi. Tingkat kebisingan yang
dimiliki oleh mesin-mesin pabrik tersebut memberikan dampak bagi pekerja dan pihak-pihak
yang melakukan aktivitas di daerah tersebut.
Adapun mesin-mesin pabrik yang harus diperhatikan karena produksi bisingnya yang tinggi
adalah mesin pemintalan, mesin penenunan, generator listrik, mesin sizing, mesin pencetakan,
mesin penggulungan dan mesin-mesin yang lain. Berbagai mesin-mesin tersebut apabila
dinyalakan secara bersamaan akan menghasilkan intensitas bising sebesar 76-91 dBA.
Bila ditinjau dari segi penduduk yang berdomisili di sekitar daerah industri tersebut, dapat
diketahui bahwa kebisingan yang diakibatkan oleh kinerja mesin-mesin yang dipergunakan
dalam proses memberikan dampak.

- Hidrologi dan Hidrogeologi


Pada tahap operasi sangat dibutuhkan air yang banyak untuk pencelupan, pewarnaan. Pada
proses ini air akan di ambil dari sumur bor (air tanah dalam). Pengambilan air sangat
berpengaruh pada keadaan air tanah, sehingga pabrik harus melakukan konservasi air tanah, agar
kontinuitas air tetap dan muka air tidak turun.

- Sosial Ekonomi
Masalah pengangguran merupakan masalah besar yang umumnya dihadapi oleh negara
berkembang seperti Indonesia. Makin banyak proyek yang akan dibangun maka makin banyak
pula tenaga kerja yang akan terserap terutama tenaga kerja setempat. Jadi jelas dalam operasinya
proyek membuka lapangan kerja baru.
Aktivitas ekonomi lokal akan menurun dengan beroperasinya pabrik dikarenakan meningkatnya
pengangguran buruh tani, menurunnya pendapatan sejumlah petani.
Beroperasinya pabrik membuat adanya persaingan antara tenaga kerja lokal dengan pendatang.
Hal ini menimbulkan keresahan dan kecemburuan sosial dalam masyarakat. Keresahan juga
muncul kalau-kalau industri yang beroperasi tidak mengolah limbahnya dengan baik sehingga
dapat mencemari lingkungan mereka.

51

3.

Pembuangan Sisa Produksi

- Kualitas Udara
Sisa produksi dapat memberikan dampak. Hal ini sangat berhubungan dengan emisi gas buang
yang dikeluarkan oleh cerobong. Adapun gas buangan yang dikeluarkan adalah CO, CO2, debu,
dan partikulat, soda abu, serta uap peroksida. Gas-gas buang ini memberikan dampak yang
berbahaya bagi kesehatan manusia. Gas CO dapat menyebabkan keracunan akibat kurangnya
oksigen ke otak, CO2 merupakan gas rumah kaca yang berbahaya bagi temperatur global. Debu,
partikulat, soda abu, serta uap peroksida dapat menyebabkan gangguan pada sistem pernafasan.
Pembuangan sisa produksi melalui cerobong juga dapat memberikan dampak. Hal ini disebabkan
karena intensitas kebisingan yang dihasilkan cerobong yang tidak terlalu tinggi.

- Kualitas Air
Limbah cair merupakan limbah yang paling banyak dihasilkan dalam industri tekstil dan paling
berpotensi untuk menimbulkan pencemaran lingkungan. Limbah cair ini dihasilkan dari proses
sizing, desizing, dyeing, printing, dan finishing.
Setiap proses dalam industri tekstil menghasilkan tingkat pencemaran yang berbeda. Tingkat
tertinggi adalah proses pencelupan (dyeing) dan proses akhir (finishing) 30 - 40%, printing 20%
dan perajutan 2 - 15%. Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) dalam industri tekstil di
Indonesia dari proses pencelupan dan finishing sebesar 273 - 2842 mg/l (International Research
Development Cooperation ITIT Project, 1987 dari Harimurti, Bimo : Penulisan Laporan &
Seminar), sedangkan kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) limbah cair tekstil di
Indonesia dari proses pencelupan berkisar 40 - 1700 mg/l (Badan Penelitian & Pengembangan
Industri Semarang, dari Harimurti, Bimo). Kandungan padatan tersuspensi dalam limbah cair
tekstil berkisar 1000 - 4000 mg/l.
Proses penghilangan kanji biasanya memberikan BOD paling banyak dibandingkan dengan
proses-proses lain. Pemasakan dan merserisasi serta pengelantangan kain adalah sumber-sumber
limbah cair yang penting, yang menghasilkan asam, basa, COD, BOD, padatan tersuspensi dan
zat-zat kimia. Proses-proses ini menghasilkan limbah cair dengan volume besar, pH yang sangat
bervariasi, dan beban pencemaran yang tergantung pada proses dan zat kimia yang digunakan.
Pewarnaan dan pembilasan menghasilkan air limbah yang berwarna dengan COD tinggi, dan
bahan-bahan lain dari zat warna yang dipakai seperti fenol dan logam. Di Indonesia zat warna
52

berdasar logam (krom) tidak banyak dipakai. Proses pencetakan menghasilkan limbah yang lebih
sedikit daripada pewarnaan. Proses finishing kapas menghasilkan limbah cair yang lebih banyak
dan lebih kuat daripada limbah penyempurnaan bahan sintetis.
Pada tabel di bawah ini diperlihatkan berbagai jenis limbah yang dihasilkan industri tekstil
dengan bahan baku serat alam kapas serta kemungkinan proses yang menjadi sumber penghasil
limbah-limbah tersebut:

Tabel 2.14 Berbagai Limbah Cair yang Dihasilkan dari Sumbernya


Sumber Limbah

Limbah Cair

[1]

Pembersihan

[2]

Pemintalan

[3]

Sizing

sisa larutan sizing

[4]

Penenunan

[5]

Desizing

sisa kanji
sisa larutan penghilang kanji
air pembilas

[6]

Scouring

sisa larutan NaOH


kotoran, lemak, lilin

[7]

Merserisasi

sisa lar. NaOH


sisa air atau larutan asam pembilas,
yang mengandung serat-serat lepas

[8]

Bleaching

sisa cairan pemutih

[9]

Pewarnaan/

sisa zat-zat pewarna dan zat kimia

pencetakan

lain, sisa kanji

[10] Proses akhir

sisa resin, softener, silikon, fungisida

- Flora dan Fauna


Pembuangan sisa produksi Pabrik Tekstil dapat berupa limbah cair maupun emisi udara. Hal ini
berpengaruh pada kehidupan flora dan fauna. Tercemarnya habitat ini akan mengakibatkan
banyak flora fauna yang mati. Pembuangan limbah sisa dari operasional Pabrik Tekstil ke badan

53

air penerima akan mempengaruhi terhadap biota air. Banyak biota air yang mati karena buangan
tersebut.

- Kesehatan Masyarakat
Hampir semua proses industri yang terjadi dalam industri tekstil menghasilkan limbah. Limbahlimbah tersebut harus diolah dengan benar sebelum nantinya dibuang ke lingkungan seperti
sungai atau tanah. Karena jika tidak akan mencemari dan mengganggu kesehatan masyarakat.
Dalam simple checklist, terdapat beberapa jenis komponen lingkungan sebagai elemen yang
diduga menerima dampak dari aktivitas. Komponen meliputi elemen dasar yang meliputi
komponen fisik, biologi, sosial, atau ekonomi.

54

Tabel 2.15 Identifikasi Dampak dengan Menggunakan Metode Simple Checklist


No.

3.

4.

Komponen
Kegiatan
Komponen
lingkungan

Prakonstruksi
Pembebasa
n lahan

Fisik-Kimia
Penurunan
kualitas udara
Peningkatan
kebisingan
Hidrologi
(peningkatan run
off)
Penurunan
kualitas air
Erosi
Amblesan
Kerusakan
sawah/tanaman
Gangguan lalu
lintas
Kemacetan lalu
lintas
Kerusakan
prasaran jalan
Biologi
Flora
Fauna
Biota air
Sosekbud
Keresahan
masyarakat
Keresahan
pemilik lahan
Penurunan
pendapatan
Peningkatan
aktifitas ekonomi
local
Kesehatan
Gangguan
kesehatan
masyarakat
Gangguan
kenyaman
masyarakat

Konstruksi
Mobilisasi
alat dan
bahan

Pematangan
lahan dan
vegetasi

Konstruksi
bangunan
utama

Pemasangan
pipa dan
pembongkaran
bangunan lama

Operasional
alat berat

Perlintasan
jalan raya

X
X

X
X
X

X
X

X
X

55

No

Komponen Kegiatan
Komponen
lingkungan

Sizing and twisiting

Proses
pengkajian

3.

4.

Fisik-Kimia
Penurunan kualitas
udara
Peningkatan
kebisingan
Hidrologi
(peningkatan run off)
Penurunan kualitas
air
Erosi
Amblesan
Kerusakan
sawah/tanaman
Gangguan lalu lintas
Kemacetan lalu lintas
Kerusakan prasaran
jalan
Biologi
Flora
Fauna
Biota air
Sosekbud
Keresahan
masyarakat
Keresahan pemilik
lahan
Penurunan
pendapatan
Peningkatan aktifitas
ekonomi local
Kesehatan
Gangguan kesehatan
masyarakat
Gangguan kenyaman
masyarakat

Proses
Pencucian

X
X

X
X

Operasi
Wearing
(tenun)
Proses
Tenun

Dying Finishing

Pembersiha
n kotoran

Pemberi
an
warna

Pembongkar
an dan
perapihan
lokasi

Transportasi
bahan bekas

Pengeraha
n tenaga
kerja

Pelepasan
tenaga
kerja

X
X
X

Pasca Operasi
Penggunaan
lahan sesuai
tata ruang
(reklamasi,
restorasi,
rehabilitasi)

X
X

X
X
X

X
X
X

X
X
X
X

X
X
X
X

X
X
X

X
X

X
X

56

2.4.2 Evaluasi Dampak Potensial


Evaluasi dampak bertujuan untuk menghilangkan atau meniadakan dampak yang dipandang
tidak relevan atau tidak penting sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetik
(Bapedal, 1991). Evaluasi dilakukan berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan hasil
diskusi/konsultasi dengan para pakar/pemrakarsa/instansi terkait dan juga masyarakat
mengenai rencana pembangunan industry tekstil PT Maneda di Kelurahan Cibeber, Cimahi
Selatan. Hasil konsultasi dengan masyarakat dapat dilihat pada Tabel 2.16.

Tabel 2.16 Ringkasan Hasil Konsultasi Warga


No. Kelurahan

Kecamatan

1.

Cimahi Selatan

Cibeber

Hasil Konsultasi
1. Memprioritaskan warga cibeber sebagai
pekerja di pabrik.
2. Tidak melakukan pencemaran air, udara,
dan tanah.
3. Tidak

mengambil

air

tanah

dengan

seenaknya.
4. Mengganti lahan untuk konstruksi pabrik
dengan cepat dan jelas.
2.

Baros

Cimahi Tengah

1. Tidak mencemari air, udara dan tanah.

3.

Cibeureum

Cimahi Selatan

1. Tidak membuat kemacetan lalu lintas.


2. Tidak mencemari air terutama air sungai.

4.

Leuwigajah

Cimahi Selatan

1. Tidak mencemari sumber air.


2. Mengambil tenaga kerja dari daerah sekitar.

Dari kajian diatas beberapa dampak potensial pada setiap tahap pembangunan dinilai tidak
penting dengan pertimbangan sebagai berikut.

A. Tahap Prakonstruksi dan Konstruksi


- Mobilisasi Alat
Pada tahap ini, akan dilakukan mobilisasi alat-alat yang diperlukan untuk memulai tahap
konstruksi. Pada tahap ini akan terjadi peningkatan volume kendaraan di jalan sekitar
Kelurahan Cibeber dan Kelurahan sekitarnya. Namun, pada aktivitas ini tidak akan
berpengaruh besar pada flora dan fauna yang ada disekitar Kelurahan Cibeber. Selain karena

57

dikelurahan ini tidak terdapat flora dan fauna khusus, sebelum tahap konstruksi dimulai
seluruh flora dan fauna telah di bersihka dari area konstruksi.
Untuk mengatasi kemacatan di jalan. Pihak pemrakarsa berinisiatif membuat jalur masuk
tersendiri, memgingat akses jalan di kelurahan Cibeber yang telalu kecil sehingga
dibutuhkan jalur khusus. Dengan pembangunan jalur khusus inilah diharapka kemacetan
tidak akan terjadi.

- Pematangan lahan dan Penebangan Vegetasi


Pada aktivitas ini dianggap tidak begitu memberikan efek besar terhadap flora dan fauna.
Mengingat di daerah ini tidak terdapat flora dan fauna yang khusus.

- Pengupasan dan Perataan Tanah


Pada proses ini memerlukan bantuan alat beras. Proses pengupasan dan perataan tanah
diprediksi akan menimbulkan gangguan berupa polusi udara dari partikulat dan debu. Pada
proses seluruh area akan di lapisi oleh filter udara sehingga diluar daerah konstruksi tidak
akan terkena dampak yang begitu besar. Oleh karena itu, aktivitas ini tidak digolongkan pada
kegitan berdampak besar dan penting.

- Konstruksi Bangunan Utama


Sebelum tahap ini dimulai, telah dilakukan clearing area terlebih dahulu. Oleh karen itu,
aktivitas konstruksi bangunan utama diharapkan tidak memberikan dampak negative
terhadap fauna sekitar kelurahan cibeber.
Seluruh ringkasan evaluasi dampak dapat dilihat pada Tabel 2.18 dibawah ini,

58

Tabel 2.17 Evaluasi Dampak Potensial

B. Tahap Operasi
- Pembangkit Listrik
Pada proses ini dihasilkan sumber bising dan polusi udara. Sumber bising dapat menjadi
gangguan untuk masyarakat sekitar. Mengingat begitu dekatnya daerah konstruksi dengan
perumahan. Sehingga, perlu dibangun bagunan peredam suara disekililing daerah
pembangkit listrik ini. Sehingga tidak terjadi ketidaknyamananbagi masyarakat yang tinggal
di sekitar pabrik tekstil PT. Maneda. Selain itu, bangunan pelindung ini juga di desain
59

memiliki penyaring udara berupa cerobong kecil untuk mencegah terjadinya pencemaran
udara.

- Proses Pengkajian
Proses pengkajian membutuh suhu yang sangat tinggi, kira-kira 120C. Karena daerah
perumahan berjarak kira-kira 700m dari pabrik sehingga diperkirakan aktivitas ini tidak akan
berdampak besar pada peningkatan suhu di lingkungan sekitar.
Rangkuman hasil evaluasi dampak potesil untuk tahap operasi dapat dilihat pada Tabel 2.19
dibawah ini.
Tabel 2.18 Evaluasi Dampak Potensial Tahap Operasi

C. Tahap Pascaoperasi
- Pembongkaran dan Perapian Lokasi Kegiatan
Pada proses ini digunakan bantuan alat berat untuk mempercepat proses pembongkaran dan
perapian. Penggunaan alat berat dikhawatirkan dapat meningkatkan polusi udara dan
kebisingan. Dengan menerapkan sistem jam kerja yang benar dan melarang proses
berlangsung pada malam hari atau dihari libur diharapkan proses ini tidak memberikan
dampak yang besar dan penting.

60

- Transportasi Bahan Bekas


Pada tahap ini, dampak yang paling besar adalah akan timbul kemacetan disekitar area pasca
konstruksi. Untuk mencegah hal ini terjadi akan dibangun jalur khusus untuk alat dan
transportasi yang akan keluar dari area proyek. Jalur ini akan langsung terhubung dengan
jalan raya di belakang area pabrik. Sehingga diharapkan kemacetan, polusi udara maupun
polusi suara tidak akan terjadi.

- Penggunaan Lahan Sesuai Tata Ruang


Sesuai dengan rencana kerja, setelah masa kerja pabrik ini berakhir lahan pabrik akan
dikembalikan sesuai dengan peruntukkannya. Hal ini dapat dilihat dari peraturan daerah
Kota Cimahi yang terbaru.

- Pengerahan Tenaga Kerja


Untuk pengerahan tenaga kerja tidak akan dilakukan dalam waktu yang bersamaan.
Pengerahan tenaga kerja telah dimulai sejak 5 tahun sebelum pabrik tutup. Hal ini dilakukan
untuk menghindari peningkatan angka pengangguran secara drastis. Selain itu untuk menjaga
kesejarteraan tenaga kerja, ex-pekerja masih akan menerima gaji hingga setahun setelah
pemecatannya. Ini bertujuan untuk memberikan waktu setahun bagi para pekerja untuk
menemukan pekerjaan baru. Sehingga para pekerja tidak akan kehilangan kesejahteraan
walaupun telah diberhentikan. Ringkasan evaluasi dampak potensial dari tahap pasca operasi
dapat dilihat pada Tabel 2.19 dibawah ini.

61

Tabel 2.19 Evaluasi Dampak Potensial pada Tahap Pasca Operasi

2.5 Batas Wilayah Studi dan Batas Waktu Kajian


2.5.1 Batas Wilayah Studi
Penetapan lingkup wilayah studi ini dimaksudkan untuk membatasi luas wilayah studi
AMDAL sesuai hasil pelingkupan dampak penting, dan dengan memperhatikan keterbatasan
sumber daya, waktu dan tenaga, serta saran pendapat dan tanggapan dari masyarakat yang
berkepentingan. Batas wilayah studi Analisis Dampak Lingkungan Pembangunan Kawasan
Industri Tekstil dibentuk oleh batas proyek, batas ekologis, batas sosial, serta batas
administratif dengan mempertimbangkan kemampuan sumber daya, dana, dan waktu yang
dapat dialokasikan untuk penyusunan studi.
1. Batas proyek
Batas proyek / rencana kegiatan merupakan ruang dimana akan dilakukan kegiatan pra
konstruksi, konstruksi dan operasi, dan dari ruang rencana usaha dan atau kegiatan yang
akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Luas batas proyek
62

bukan hanya terbatas pada lokasi dimana proyek berada yang biasanya oleh pagae
sekeliling lokasi proyek tersebut. Batas proyek sebetulnya lebih luas lagi dari batas
tersebut karena termasuk juga jalan proyek dan juga lahan-lahan yang akan digunakan
untuk penyimpanan bahan-bahan konstruksi dan tempat dimana alat-alat berat disimpan
dan diperbaiki pada saat proyek berlangsung. Batas proyek pada rencana kegiatan pabrik
tekstil PT Maneda berada pada lokasi pembangunan yaitu Jl. Raya Cibeber No. 19,
Kelurahan Cibeber, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat dengan luas
wilayah 75 ha, dengan deskripsi rencana kegiatan sebagai berikut :
Alamat

: Jl. Raya Cibeber No. 19, Kelurahan Cibeber


Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi Jawa Barat

Luas lahan

: 75 ha

Luas bangunan

: 50 ha

Lahan parkir dan jalan

: 19 ha

Taman

: 5 ha

Lahan cadangan kosong : 1 ha

1 2
3
4
5 7
6

1 : IPAL
2 : Pabrik pemintalan
3 : Pabrik penenunan
4 : Pabrik perajutan
5 : Pabrik penyempurnaan kain
6 : Pabrik penyempurnaan batik
7 : Kantor dan showroom

Gambar 2.24 Batas Proyek (Garis Kuning)

2. Batas administratif
Batas administratif adalah suatu ruang di mana masyarakat dapat melakukan kegiatan
sosial, ekonomi dan budaya menurut ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku, yang
pada umumnya merupakan batas administratif pemerintahan. Berikut adalah perbatasan
rencana usaha dan/kegiatan pabrik tekstil PT Maneda:
63

Perbatasan Utara

: Kelurahan Padasuka

Perbatasan Selatan

: Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan

Perbatasan Barat

: Kabupaten Bandung

Perbatasan Timur

: Kelurahan Baros, Kelurahan Setiamanah

3. Batas sosial
Batas sosial ditentukan berdasarkan persebaran dampak yang timbul terhadap kehidupan
sosial ekonomi masyarakat di sekitar rencana kegiatan seperti hubungan komunikasi dan
interaksi sosial masyarakat pada kawasan permukiman dan kawasan pabrik. Diperkirakan
batas sosial dari kegiatan pabrik tekstil ini adalah di sekitar perumahan penduduk yang
masih berada pada Kelurahan Cibeber. Pengaruh lain yang mungkin diakibatkan oleh
adanya rencana usaha dan atau kegiatan pabrik tekstil ini diantaranya adalah perubahan
pendapatan dan kesempatan kerja masyarakat sekitar.

4. Batas ekologis
Batas ekologis adalah batas atau ruang persebaran dampak dari sebuah kegiatan yang
dapat ditinjau dari media transportasi limbah, dimana ruang tersebut akan terkena dampak
atau perubahan secara mendasar. Termasuk dalam ruang ini adalah ruang di sekitar
rencana usaha dan / atau kegiatan yang secara ekologis memberi dampak terhadap
aktivitas usaha dan / atau kegiatan. Dampak yang akan disebarkan dan luas persebarannya
akan berbeda-beda menurut media transportasinya.

Persebaran dampak oleh media udara kurang lebih berkisar 1 km dari rencana usaha /
kegiatan. Dampak yang akan disebarkan oleh media udara diantaranya adalah debu yang
dihasilkan dari kegiatan konstruksi dan transportasi bahan bangunan, kebisingan dari
kegiatan konstruksi seperti pembangunan gedung dan kegiatan operasional seperti
kebisingan dari genset dan produksi barang tekstil.

Untuk mengetahui arah persebaran dampak oleh udara perlu diketahui arah angina yang
bertiup melewati lokasi proyek. Arah angin mayoritas bertiup dari utara menuju selatan.
Dilakukan percobaan (sampling) yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana dampak
akan mempengaruhi lingkungan sekitar. Percobaan yang dilakukan bertujuan untuk
mengetahui kecepatan angin dan arah angin, sehingga dapat diketahui kemanakah dan
sebesar apakah persebaran dampak yang akan terjadi.
64

Dampak yang mungkin akan disebarkan melalui media air adalah limbah cair yang diolah
dengan IPAL kemudian dibuang ke danau.

Batas-batas yang disebutkan di atas dapat dilihat pada gambar berikut:

1 : IPAL
2 : Pabrik pemintalan
3 : Pabrik penenunan
4 : Pabrik perajutan
5 : Pabrik penyempurnaan kain
6 : Pabrik penyempurnaan batik
7 : Kantor dan showroom

Danau
Danau

4
Danau

Batas Proyek
Batas Ekologi
Batas Administrasi &
Batas Sosial
Batas Studi AMDAL

Gambar 2.25 Batas Studi AMDAL

2.5.2 Waktu Studi


Waktu studi AMDAL untuk pabrik tekstil PT Maneda dimulai dari tahap persiapan
studi hingga penyerahan laporan ke instansi yang berkewenangan. Jangka waktu yang
disediakan adalah 1,5 tahun dikarenakan hal sebagai berikut:
a. Asumsi perkembangan dari proyek ini sangat cepat sehingga dampaknya pun dapat
diketahui dengan cepat pula.
b. Waktu satu setengah tahun maksimum merupakan waktu yang cukup lama dalam melihat
reaksi warga terhadap proyek pembangunan kawasan industri tekstil ini.

Waktu kajian dibagi dalam tahapan berikut.


1. Identifikasi Kegiatan Proyek : Dilakukan perencanaan seluruh kegiatan proyek dan
dampak apa saja yang dapat dihasil kan dari kegiatan proyeknya
-

Oleh : Seluruh Tim AMDAL

2. Pemetaan Lokasi proyek : Dilakukan pemetaan pada daerah yang akan di lakukan proyek,
seperti pembagian tata guna lahan, letak geografis, kondisi topografis dan lain lain.
65

Oleh : Seluruh tim AMDAL

3. Identifikasi dampak hipotetik : Mengidentifikasi dampak yang mungkin terjadi selama


proyek berlangsung (perkiraan)
-

Oleh : Seluruh Tim AMDAL

4. Pemetaan Sumber mata pencaharian dan tk. Ekonomi : Dilakukan pemetaan penduduk
sekitar lokasi proyek, termasuk mata pencaharian dan tingkat ekonominya.
-

Oleh : Ahli Sosial-Ekonomi-Budaya

5. Mengukur tingkat kebisingan awal : Mengukur kebisingan yang ada disekitar lokasi
proyek (baik yang dihasilkan dari transportasi yang lalu lalang di sekitar lokasi ataupun
66ndustry yang mungkin ada disekitar lokasi)
-

Oleh : Ahli Lingkungan

6. Mengamati kualitas udara awal : Mengukur kualitas udara di sekitar lokasi proyek
-

Oleh : Ahli Lingkungan

7. Memeriksa kualitas air awal : Mengukur Kualitas air yang mengalir di sekitar lokasi
proyek, baik air permukaan ataupun air tanah
-

Oleh : Ahli Lingkungan, Ahli Kimia

8. Memeriksa struktur dan topografi tanah : Mengecek keadaan tanah tempat lokasi,
mengidentifikasi jenis tanah, struktur dan topografi
-

Oleh : Ahli Geologi

9. Pemantauan dampak pelaksanaan proyek : Memantau segala dampak yang ada saat
proyek berlangsung
-

Oleh : Seluruh Tim AMDAL, Ahli Mesin (mesin-mesin yang dgunakan saat
proyek berlangsung)

10. Pemantauan dampak pasca pelaksanaan proyek : Memantau segala dampak yang ada
setelah proyek selesai
-

Oleh : Seluruh Tim AMDAL

66

Tabel 2.20 Timeline Proyek

Kegiatan

Timeline proyek (bulan ke-)


1

Identifikasi kegiatan
proyek
Pemetaan Lokasi
Proyek
Identifikasi dampak
hipotetik
Pemetaan sumber mata
pencaharian dan tingkat
ekonomi
Mengukur tingkat
kebisingan awal
Mengamati kualitas
udara awal
Memeriksa kualitas air
awal
Memeriksa struktur dan
topografi tanah
Pemantauan dampak
pelaksanaan proyek
Pemantauan dampak
pasca pelaksanaan
proyek

67

10

11

12

13

14

15

16

17

18

BAB III
METODE STUDI
Bab ini berisi metode-metode yang digunakan untuk pelaksanaan studi ANDAL yang
dapat menjawab berbagai dampak penting hipotetik hasil proses pelingkupan. Metodenya
terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu metode pengumpulan dan analisis data, metode
identifikasi dampak hipotetik, dan metode evaluasi dampak penting.

3.1 Metode Pengumpulan Data


Bagian ini berisi metode pengumpulan data primer dan sekunder yang sahih serta
dapat dipercaya (reliable) untuk digunakan sebagai masukan dalam melakukan prakiraan
besaran dan sifat penting dampak. Metode pengumpulan dan analisis data harus relevan
dengan metode prakiraan dampak yang digunakan, sehingga data yang dikumpulkan relevan
dan representatif dengan dampak penting hipotetik yang akan dianalisis dalam proses
prakiraan dampak.
Data mengenai kualitas air yang digunakan ialah data primer dan sekunder. Data
primer digunakan sebagai acuan data untuk kondisi eksisting pada waktu sekarang-sekarang
ini. Sedangkan data sekunder digunakan untuk menjadi tren atau pola keadaan wilayah yang
dijadikan tempat proyek berlangsung.
Pengumpulan data primer untuk kualitas air ialah dengan mengambil air dari beberapa
titik sampel menggunakan metode grab sampling, continuous sampling, dan composite
sampling. Metode ini bervariasi peralatan yang digunakan berdasarkan jenis air yang diambil,
lokasi sampling, dan waktu pengambilan sample.
Pengumpulan data sekunder untuk kualitas air didapatkan dari BPLHD, tugas akhir
mahasiswa, juga jurnal ilmiah terkait. Selain itu, dilihat kevalidan dari data yang didapat.
Jadi, tidak serta-merta langsung diambil, namun dilihat dan disesuaikan dengan tren yang
ada.
Untuk data jumlah penduduk didapatkan dari hasil sensus penduduk yang dapat
diakses melalui website Pemerintahan Kota Cimahi. Selain itu, data untuk tingkat ekonomi
juga didapatkan dari sumber yang sama untuk data sekunder. Sedangkan data primer
mengenai tingkat ekonomi penduduk sekitar ialah didapatkan dari hasil wawancara dengan
penduduk setempat. Data yang diambil ialah jenis pekerjaan hingga penghasilan.

68

3.2 Metode Analisis Data


Setelah pengambilan data, data akan diolah dan dianalisis sehingga dapat disimpulkan
beberapa dampak yang akan muncul. Data tersebut akan dianalisis berdasarkan jenis dan
kebutuhannya. Terdapat berbagai metode untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan.
Pada Tabel 3.1 dijabarkan secara jelas mengenai parameter yang diukur dari berbagai data
yang diambil, juga metode serta peralatan untuk mengalisisnya, sehingga dapat dihasilkan
dampak penting hipotetik yang akan dievaluasi dan menjadi dampak penting potensial.

Tabel 3.1 Metode Analisis Data Primer dan Sekunder


Data Primer

Data
Sekunder

Parameter

Metode Analisis

Peralatan

Kebisingan

Statistik

Sound level
meter

Permen
LH No.
48/1996

CO

NDIR

NDIR
Analyzer

PP No.
41/1999

O3

Chemiluminescen
t
Pararosanilin
Griess Saltzman

Spektrofoto
meter

Gravimetrik

HVS

Ion elektroda

Cannister
Impinger

Udara

SO2
NO2
Pb
PM2.5

Lokasi
Sampling

Ket.

Metode
Analisis

PM10
Dustfall
Total F
Cl/ClO2
Indeks F
Indeks S
HC

Air

Kolorimetri

Limed filter
paper

Flamed ionization

Gas
Kromatogra
fi

FISIKA
Temperatur

Termometer
69

PP No.
82/2001

Bau
TDS
TSS

Organoleptik
Gravimetrik

Kekeruhan

Turbidimetrik

BOD
COD
DO
NH3-N
Cl2
Co
Pb
Cu
Cd
Cr (IV)
B
Arsen
P
Fe
F
CaCO3

Timbangan
analitik dan
kertas saring

Turbidimete
r
KIMIA ANORGANIK
Analisis BOD
Titrimetrik
Buret

Argentometri
Spektrofotometrik

Spektrofoto
meter

Mn
NO3sebagai N
NO2sebagai N
Hg
Zn
CN
F
pH
Se
Ba
H2S
SO4
KMnO4

SPADNS
pH meter
Timbangan
analitik

Potensiometrik
Gravimetrik

Turbidimetrik
KIMIA ORGANIK
Titrimetrik

Sisa klor

70

Buret

Minyak dan
lemak

Gravimetrik

Timbangan
analitik

Fenol
Detergen
BHC
Aldrin/Diel
drin

Spektrofotometrik

Spektrofoto
meter

Chlordane
DDT
Heptaklor
dan
heptaklor
epoksida
Lindan
Metoksiklo
r
Endrin
Toksafan
Gross-
Gross-
Fecal
coliform

RADIOAKTIVITAS
Spektrometri
MIKROBIOLOGI
MPN

Total
coliform

Transporta
si
Iklim

Data
berasal
dari
BMKG di
stasiun
ITB,
Bandung

3.3 Metode Prakiraan Dampak Besar dan Penting


Metode prakiraan dampak diidentifikasikan dengan bagan alir vertikal, sehingga
memudahkan dalam deskripsi urutan terjadinya dampak yang mungkin timbul. Telaahan
terhadap prakiraan dampak besar dan penting yang mungkin timbul antara lain:

71

- Prakiraan dampak kegiatan pada tahap pra konstruksi, tahap konstruksi, tahap operasi, dan
tahap pasca operasi terhadap lingkungan dengan cara menganalisis perbedaan antara
kondisi kualitas lingkungan yang diprakirakan dengan adanya kegiatan, dan kondisi
kualitas lingkungan yang diprakirakan tanpa adanya kegiatan.
- Penentuan arti penting perubahan kualitas lingkungan, dengan mengacu pada Pedoman
Mengenai Ukuran Dampak Penting.
- Memperhatikan dampak yang bersifat langsung maupun tidak langsung pada saat
menelaah prakiraan dampak kegiataan dan penentuan arti penting perubahan kualitas
lingkungan. Karenanya, perlu memperhatikan adanya mekanisme aliran dampak pada
berbagai komponen lingkungan, sebagai berikut:
a. Kegiatan menimbulkan dampak besar dan penting yang bersifat langsung pada
komponen-komponen sosial
b. Kegiatan menimbulkan dampak besar dan penting yang bersifat langsung pada
komponen fisik kimia, kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut
turut terhadap komponen biologi dan sosial
c. Kegiatan menimbulkan dampak besar dan penting yang bersifat langsung pada
komponen fisik kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen
sosial
d. Dampak besar dan penting berlangsung saling berantai diantara komponen sosial itu
sendiri
e. Dampak besar dan penting yang telah diuraikan diatas selanjutnya menimbulkan
dampak balik pada rencana pembangunan industri tekstil
Besar dampak lingkungan akan dipekirakan dengan metode sebagai berikut:

a. Metode Formal
Melalui metode ini, ada hubungan sebab akibat yang menggambarkan pengaruh kegiatan
proyek terhadap perubahan komponen lingkungan tertentu dirumuskan dalam bentuk
persamaan-persamaan matematik, model eksperimental, dan model pendugaan cepat.
Peilihan atas metode prakiraan dampak disesuaikan dengan masalah yang dihadapi.

b. Metode Non Formal


Metode non formal ini digunakan apabila ada parameter yang tidak dapat dikuantifikasi,
sehingga untuk menprakirakan dampak lingkungan dilakukan dengan professional
judgement. Dua jenis metode non formal yang akan digunakan yaitu, prakiraan dampak
secara analaog dan penilaian para ahli. Prakiraan secara analaog, yaitu yang telah
72

berlangsung pada waktu yang lampau akan dijadikan bahan pertimbangan untuk
memprakirakan dampak lingkungan yang akan terjadi pada pembangunan industry tekstil.
Penilian para ahli menentukan prakiraan dampak yang didasarkan pada pengetahuan dan

pengalaman peneliti di bidangnya. Teknik ini digunakan apabila dijumpai hal hal dimana data
dan informasi yang tersedia terbatas, serta kurang dipahaminya fenomena yang diperkirakan
akan terjadi.
Metode prakiraan dampak untuk komponen fisik-kimia, biologi serta sosial ekonomi dan
sosial budaya pada pembangunan industri tekstil.

3.3.1 Iklim dan Kualitas Udara


A. Kualitas Udara
Gangguan kualitas udara akan timbul dari kegiatan pembangunan terutama transpotasi.
Untuk memperkirakan dampak yang akan timbul dari kegiatan tersebut terhadap kualitas
udara digunakan model berdasarkan distribusi Gauss.
a. Dispersi Pencemar Udara
Hubungan antara tingkat pengemisian pencemar dengan konsentrasi pencemar yang akan
terjadi terhadap lingkungan berdasarkan distribusi Gauss dinyatakan dengan persamaan.
[

C (x,z) =

( ) ]

Dimana :
C (x,z)

= konsentrasi zat pencemar (g/m3)

= laju emisi per unit jarak (gr/dt.m)

= jarak antara jalan dan penerima/receptor (m)

= ketinggian penerima (receptor) di atas tanah

= kecepatan angina rata-rata pada arah sumbu x, (m/dt)

= koefisien disperse vertical Gaussian, (m)

Berdasarkan perhitungan tersebut di atas, maka dapat digambarkan prakiraan sebaran


konsentarsi penmar sebagia akibat dari kegiatan transportasi.
b. Resuspensi debu
Resuspensi debu dari badan jalan akibat kegiatan transportasi diprakirakan berdasrakan
formula empiris dari ePA ( Canter, 1996), yaitu :
E = (0,81d) ( ) (

73

Dimana

= factor emisi, lb berdasarkan per kendaraan mile

= kadar debu dari permukaan badan jalan, %

= kecepatan kendaraan rata rata, mile/jam

W = rata-rata hari hujan daalm satu tahun

c. Kebisingan
Kebisingan yang akan timbul dari kegiatan pembanguan diperkirakan berdasarkan
persamaan sebagai berikut:
-

Sumber Diam
SL1 SL2 = 20 log r2/r1

Sumber Bergerak
SL1 SL2 = 10 log r2/r1
Dengan :
SL1

= Tingkat kebisingan di titik 1

SL2

= Tingkat kebisingan di titik 2

R1

= Jarak Pengukuran Kebisingan dar Sumber Kebisingan Sumber 1

R2

= Jarak Pengukuran Kebisingan dar Sumber Kebisingan Sumber 2

3.3.2 Hidrologi dan Kualitas Air


A. Hidrologi
Penambahan debit air sungai dihitung dengan rumus rasional, sebagai berikut:

Q = 0,00278 x C x I x A
Dimana :
Q

: debit, m3/s

: koefisien run off

: Intensitas hujan, mm/jam

: Luas daerah aliran sungai

B. Kualitas Air
Prakiraan dampak penting terhadap kualitas air baik yang diakibatkan oleh unsur
konservatif maupun non konservatif didasarkan pada model zona pengadukan, yaitu:
Cr =

74

Dimana

Cr : konsentrasi campuran air limbah dan sungai, mg/l


Qr : debit campuran air limbah dan sungai, l/s
Cw : konsentrasi air limbah, mg/l
Qw : debit air sungai, l/s
Cu : konsentrasi air sungai, mg/l
Qu : debit air sungai, l/s

3.3.3 Geologi
Meneliti dan mengkaji kegiatan proyek dan kenungkinan dampaknya, baik sebelum
maupun sesudah adanya kegiatan proyek dengan menggunakan peta geologi dan struktur
geologi, peta kemiringan lereng, peta geologi hazard, dan peta hidrogeologi.
Mempertimbangkan rencana kegiatan proyek, maka prakiraan dampak penting terhadap
sub komponen fisiografi dan geologi akan menggunakan metode formal dan non formal.
Metode formal digunakan untuk perhitungan prakiraan dampak terhadap daya dukung tanah

pada berbagai unit litelogi atau lahan teridentifikasi.


Untuk mengetahui kemungkinan terjadinya gangguan terhadap daya dukung tanah,

maka dianalisis berdasarkan sifat fisik tanah/batuan dengan rumus:


Qb = c Ncscbcicgc + qNqsqbqiqgq + 0,5tBNtstbtitgt
Dimana

Qb

: daya dukung maksimum (ton/m2)

: kohesi (t/m3)

Nc, Nq, Nt : factor daya dukung


Sc, sq, st

: factor kemiringan dasar fondasi

Ic, iq, it

: factor inklinasi

Gc, gq, gt : factor kemiringan permukaan


q

: t. D {D = kedalaman fondasi (m)}

: lebar fondasi (m)

: Berat isi tanah

Metode prakiraan dampak penting aspek geologi adala dengan mengkaji rencana-rencana
kegiatan proyek yang berpotensi menimbulkan dampak di lokasi-lokasi yang berpotensi
menimbulkan dampak di lokasi lokasi yang rona lingkungan geologinya kurang
mendukung, seperti:

75

a. Di daerah rawan longsor akan dikaji apakah pemotongan lereng/penggalian tanah akan
menyebabkan bertambah curangnya lereng sampai melebihi sudut kritis, sehingga
menimbulkan terjadinya tanah longsor
b. Di daerah yang berdaya dukung tanah rendah akan dikaji apakah beban bangunan
masih dapat didukung lapisan tanah atau akan terjadi amblesan tanah
c. Di daerah yang berkelulusan air tinggi akan dikaji apakah penggalian tanah akan
menyebabkan keluarnya air tanah dari sekitarnya secara berlebihan.

3.3.4 Ruang, Lahan, Tanah, dan Transportasi


A. Ruang dan Lahan
Meneliti dan mengkaji tapak proyek dan daerah di sekitarnya serta kaitannya dengan
kemungkinan dampak yang akan terjadi dan membandingkan kondisi lingkungan sebelum
dan sesudah proyek. Prakiraan perubahaan tata ruang dan tata guna lahan pada umumnya
akan mengikuti preferensi masyarakat dalam pemanfaatan lahan untuk keperluan
hidupnya. Oleh karenanya, informasi yang berhasil dihimpun dari observasi dan
penyiigian lapangan maupun wawancara dengan msyarakat akan bermanfaat dalam
memprakirakan pola pemanfaatan ruang pada masa yang akan datang.

B. Tanah
Memprakirakan dampak rencana kegiatan industry tekstil terhadap erosi tanah ditentukan
berdasarkan metode USLE (Universal Soil Loss Equation) dari Wisschmeier dan
Smith.menurut formula berikut:
A=RKLSCP
Dimana :
A

: besarnya erosi tanah, ton/Ha/th

: nilai indeks erisitivotas hujan

: factor erodibilits tanah

: panjang lereng, m

: kemiringan lereng, %

LS : nilai factor lereng


C

: factor tanaman

: factor tindakan manusia dalam konservasi/pengelolaan tanah

76

C. Aspek Transportasi
Untuk memperkirakan dampak yang terjadi terhadap ruas jalan yang terpengaruh akibat
adanya bangkitan pembangunan proyek, maka digunakan formula yang disesuaikan
dengan kondisi wilayah, yaitu perhitungan derajat kejenuhan dan kapasitas jalan.
a. Kemacetan Lalu Lintas
Untuk lalu lintas jalan raya, hasil perhitungan lalu lintas eksisting akan menjadi dasar
proyeksi perubahan volumelalu lintas pada masa yang akan dating dengan
mempertimbangkan potensi hambatan pergerakan yang diakiatkan oleh kegiatan
operasioanl dengan prasarana yang ada. Dampak penting terkait dengan indikasi yang
signifikan adanya hambatan terhadap kelancarana lalu lintas jalan di wilayah studi,
maak dilakukan predisksi pergerakan menurut masing-masing moda transportasi.
Hambatan diprakirakan melalui hubungan volume lalu-lintas dengan kapasitas
pelayanan prasarana jalan dan tundaan yang terjadi oleh perpotongan sebidang, yaitu
tingkat kejenuhan jalan yang disusun oleh Dirjen Jalan Departemen Pekerjaan Umum:
DS = Qp/C
Dimana :
DS

: tingkat kejenuhan

Qp

: volume lalu lintas actual dalam SMP

: kapasitas jalan

Sedangkan antrian kendaraan berbelok ke tapak proyek, dihitung dengan persamaan:


E=
Dimana :
E

: jumlah antrian kendaraan

: tingkat pelayanan per menit (60/t)

: jumlah kendaraan per menit

: lamanya kendaraan berbelok (t)

b. Kerusakan Jalan
Tingkat kerusakan jalan diketahui berdasarkan tonase kendaraan yang tidak sesuaia
dengan kelas jalan.

77

3.3.5 Biologi
Prakiraan dampak penggunaan industry tekstil terhadap flora darat termasuk fauna dan
biota perairan dilakukan dengan metode informal, yaitu berdasarkan analogi proyek sejenis
dan perbandingan dengan teori atau data data literatur.

3.3.6 Sosial Ekonomi Budaya


Prakiraan dampak pada aspek sosial ekonomi budaya dan kesehatan masyarakat
berdasarkan analogi pada kegiatan proyek sebelumnya. Prakiraan dampak merupakan
hipotesis yang disusun berdasarkan pengalaman yang terjadi selama kegiatan pembangunan
industry tekstil tyang terlihat dari hasil pengamatan.

3.3.7 Kesehatan Masyarakat


Prakiraan dampak dari aspek kesehatan masyarakat berdasarkan analogi pada kegiatan

sebelumnya. Prakiraan dampak merupakan hipotesis disusun berdasarkan pengalaman yang


terjadi selama kegiatan pembangunan yang sudah ada sebelumnya dibandingkan dengan hasil
pengamatan/pengumpulan data.

3.4 Metode Evaluasi Dampak Besar dan Penting


Evaluasi dampak penting atau tidak penting akan ditempuh melalui sintesis:
1. Penelaahan secara holistic segenap komponen lingkungan yang diperkirakan akan
mengalami perubahan mendasar karena kegiatan proyek
2. Penelaahan persebaran dampak lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan proyek
menurut ruang persebaran dampak
3. Penelaahan kegiatan proyek yang bersifat strategis bagi keperluan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan
Evaluasi dampak penting akan menguraikan hasil telaahan dampak penting dari rencana
usaha atau kegiatan pembangunan industri tekstil PT Maneda. Hasil evaluasi ini
selanjutnya menjadi masukan bagi instansi yang berwenang untuk memutuskan kelayakan
lingkungan dari rencana usaha atau kegiatan.

78

Telaahan terhadap dampak penting


a. Telaahan secara holistic atas berbagai komponen lingkungan yang diprakirakan
mengalami perubahan mendasar sebagaimana dikaji pada Metoda Prakiraan
Dampak Penting.
b. Evaluasi dampak yang bersifat holistic adalah telaahan secara totalitas terhadap
beragam dampak penting lingkungan yang dimaksud pada Metode Prakiraan
Dampak Penting, dengan sumber usaha atau kegiatan penyebab dampak. Beragam
komponen lingkungan yang terkena dampak penting tersebut (baik positif maupun
negatif) ditelaah sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan saling pengaruh
mempengaruhi, sehingga diketahui sejauh mana perimbangan dampak penting
yang bersifat positif dengan yang bersifat negatif.
c. Dampak-dampak penting yang dihasilkan dari evaluasi disajikan sebagai dampakdampak penting yang harus dikelola.

Telaahan sebagai dasar pengelolaan


a. Hubungan sebab akibat (kausatif) antara rencana kegiatan dan rona lingkungan
dengan dampak positif dan negative yang mungkin timbul.
b. Ciri dampak penting ini juga akan dikemukakan dengan jelas, dalam arti apakah
dampak penting, baik positif atau negatif, akan berlangsung terus selama rencana
usaha atau kegiatan itu berlangsung nanti, atau antara dampak satu dengan dampak
yang lainnya akan terdapat hubungan timbal balik yang antagonistis atau
sinergisitis. Bila mungkin diuraikan pula ambang batas dampak penting ini akan
mulai timbul setelah rencana usaha atau kegiatan dilaksanakan atau akan terus
berlangsung sejak masa pra konstruksi dan akan berakhir bersama selesainya
rencana usaha atau kegiatan, atau mungkin akan terus berlangsung, misalnya lebih
dari satu generasi.
c. Kelompok masyarakat yang akan terkena dampak negative dan kelompok yang
akan terkena dampak positif. Identifikasi kesenjangan antara perubahan yang
diinginkan dan perubahan yang mungkin terjadi akibat usaha atau kegiatan
pembangunan.
d. Kemungkinan luas daerah yang akan terkena oleh dampak penting ini, apakah
hanya akan dirasakan dampaknya secara local, regional atau bahkan nasional.
Karena itu akan diuraikan pula usulan pengendaliannya ditinjau dari segi tingkat
kemampuan

pemerintah

untuk
79

bisa

mengatasi

dampak

negnegativen

mengembangkan dampak positif pada tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi atau


pemerintah tingkat pusat.
e. Analisis bencana dan analisis resiko bila rencana kegiatan berada di dalam daerah
bencana alam atau di dekat sumber bencana alam.
Evaluasi dampak penting untuk masing-masing komponen lingkungan adalah seperti
diuraikan berikut ini:
a.

Evaluasi dampak penting untuk komponen iklim dan kualitas udara adalah
membandingkan antara kondisi rona lingkungan awal dan besarnya kontribusi
pencemar yang timbul sebagai akibat dari kegiatan industry tekstil PT Maneda di
Kelurahan Cibeber. Resultan dari rona lingkungan awal dan hasil prakiraan
dampak kemudian akan dibandingkan dengan baku mutu lingkungan yang berlaku.
Penentuan nilai penting dilakukan dengan pemberian nilai verbal penting atau tidak
penting, yang ditentukan berdasarkan hasil pendugaan dampak tersebut.

b.

Evaluasi dampak penting untuk komponen fisiografi dan geologi yaitu dengan
mengkaji perubahan lingkungan fisik (fisiografi dan geologi), sejak dari kondisi
rona lingkungan awal hingga setelah kegiatan pengembangan proyek dan
memprakirakan dampak penting yang mungkin terjadi akibat pelaksanaan kegiatan
proyek.

c.

Evaluasi dampak penting untuk komponen kualitas air akan dilakukan dengan
membandingkan antara kondisi rona lingkungan awal dengan baku mutu yang ada.

d.

Evaluasi dampak penting untuk komponen ruang dan lahan dilakukan dengan
meneliti dan mengkaji tapak proyek dan kawasan di sekitarnya serta kaitan dengan
kemungkinan dampak yang akan terjadi dan membandingkan kondisi lingkungan
sebelum dan sesudah adanya proyek. Mengevaluasi kondisi transportasi sebelum
kegiatan proyek dengan saat kegiatan proyek berlangsung meliputi peningkatan
kemacetan dan kecelakaan lalu lintas.
Metode evaluasi terhadap kesuburan tanah adalah dengan membandingkan
kesuburan tanah adalah dengan membandingkan kesuburan tanah akibat kegiatan
proyek dengan kondisi awal, sedang penilaiannya didasarkan pada kriteria status
hara.

e.

Evaluasi dampak penting terhadap komponen flora dilakukan melalui beberapa


pendekatan, yaitu dengan membandingkan tingkat besarnya kerusakan habitat
terhadap total habitat yang tersedia, tingkat besarnya resiko kenaikan gas-gas
80

tertentu seperti Sox, NOx dan hidrokarbon dibandingkan dengan nilai ambang
batas konsentrasi yang dapat merusak vegetasi, ada tidaknya jenis tumbuhan
dilindungi dan ketersediaan habitat serupa.
f.

Evaluasi dampak penting terhadap komponen fauna dilakukan dengan pendekatan


teoritis berdasarkan perubahan habitat yang tersedia dan resiko penurunan kualitas
lingkungan, terutama bising dan gas. Resiko perubahan mutu lingkungan ini
dibandingkan dengan nilai ambang toleransi fauna.

g.

Evaluasi dampak penting terhadap komponen biota perairan dilakukan dengan


pendekatan teoritis berdasarkan perubahan-perubahan habitat yang tersedia dan
tingkat resiko penurunan kualitas lingkungan perairan dalam bentuk polusi air.
Resiko perubahan mutu lingkungan ini dibandingkan dengan nilai ambang
toleransi biota perairan.

h.

Evaluasi dampak penting terhadap komponen social ekonomi dan social budaya
dilakukan dengan mempertimbangkan tujuh kriteria penentu dampak penting yang
ditetapkan berdasarkan pengalaman proyek sejenis dan kondisi ruang yang relative
seragam serta teori relevan yang ada (professional judgement).

81

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Lampiran Permen LH No. 16 Tahun 2012 Tentang Pedoman Penyusunan Dokumen
Lingkungan Hidup
PermenLH No. 48 Tahun 1996 Tentang Baku Tingkat Kebisingan
Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara
Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air
Badan Geologi
Buku Data Status Lingkungan Hidup Daerah (SLDH) Kota Cimahi
www.cimahikota.go.id
www.climate-data.org

82

LAMPIRAN 1
BAKU MUTU UDARA
Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara

LAMPIRAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 41 TAHUN 1999
TENTANG
PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA
TANGGAL : 26 MEI 1999
BAKU MUTU UDARA AMBIEN NASIONAL
No

Parameter

Waktu

Baku Mutu

Metode Analisis

Peralatan

Pengukura
n
1 SO2
(Sulfur
Dioksida)

1 Jam
24 Jam

900 ug/Nm3
365 ug/Nm
60 ug/Nm

1 Jam

30.000 ug/Nm3

(Karbon

24 Jam

10.000 ug/Nm3

Monoksida)

1 Thn

3 NO2(Nitroge
n Dioksida)

4 O3
(Oksidan)
5 HC

Spektrofotomete
r

1 Thn

2 CO

Pararosanilin

NDIR

NDIR Analyzer

Saltzman

Spektrofotomete

1 Jam

400 ug/Nm3

24 Jam

150 ug/Nm3

1 Thn

100 ug/Nm3

1 Jam

235 ug/Nm3

Chemiluminescen

Spektrofotomete

1 Thn

50 ug/Nm3

3 Jam

160 ug/Nm3

Flame Ionization

Gas

(Hidro

Chromatogarfi

Karbon)
6 PM10

24 Jam

150 ug/Nm3

Gravimetric

Hi - Vol

24 Jam

65 ug/Nm3

Gravimetric

Hi Vol

1 Jam

15 ug/Nm3

Gravimetric

Hi - Vol

(Partikel <
10 um)
PM 2.5*

83

24 Jam

230 ug/Nm3

(Debu)

1 Jam

90 ug/Nm3

8 Pb(Timah

24 Jam

Hitam)

1 Jam

7 TSP

Gravimetric

Hi Vol

2 ug/Nm3

Gravimetric

Hi Vol

1 ug/Nm3

Ekstraktif

AAS

Pengabuan
9 Dustfall

30 Hari

10

Gravinetric

Cannister

Spesific ion

Impinger atau

Electrode

Continous

Ton/Km2/Bula

(Debu Jatuh)

n
(Pemukiman)
20
Ton/Km2/Bula
n
(Industri)
10 Total
Fluorides (as

24 Jam
90 Hari

3 ug/Nm3
0,5 ug/Nm

F)
11 Fluor Indeks

Analyzer
30 Hari

40 ug/100

Colourimetric

cm2dari kertas

Limed Filter
Paper

limed filter
12 Khlorine dan

24 Jam

150 ug/Nm3

Khlorine

Spesific ion

Impinger atau

Electrode

Continous

Dioksida
13 Sulphat
Indeks

Analyzer
30 Hari

1 mg SO3/100

Colourimetric

cm Dari Lead

Lead Peroxida
Candle

Peroksida

Catatan :

(*) PM2.5 mulai diberlakukan tahun 2002

Nomor 10 s/d 13 Hanya berlakukan untuk daerah/kawasan Industri Kimia Dasar


Contoh : Industri Petro Kimia; Industri Pembuatan Asam Sulfat

84

METODE PENGUKURAN PENCEMARAN UDARA


1. SOx
Metode pararosaniline-spectrofotometri.
SO2 di udara diserap/diabsoprsi oleh larutan kalium tetra kloromercurate (absorbent)
dengan laju flowrate 1 liter/menit. SO2 bereaksi dengan kalium tetra kloromercurate
membentuk komplek diklorosulfitomercurate . Dengan penambahan pararosaniline
dan formaldehide akan membentuk senyawa pararosaniline metil sulfonat yang
berwarna ungu kemerahan. Intensitas warna diukur dengan spectrofotometer pada
panjang gelombang 548 nm.
Susunan peralatan untuk sampling SO2
Midget Impinger trap rotameter pompa hisap
2. NOx
Metode Griess-Saltman spectrofotometri.
NO2 di udara direaksikan dengan pereaksi Griess Saltman (absorbent) membentuk
senyawa yang berwarna ungu. Intensitas warna yang terjadi diukur dengan
spektrofotometer pada panjang gelombang 520 nm.
Susunan perlatan untuk sampling NO2
Fritted Impinger trap rotameter pompa hisap
Absorber untuk penangkapan NO2 adalah absorber dengan desain khusus dan
porositas frittednya berukuran 60 m. Untuk pengukuran NO, sample gas harus
dilewatkan ke dalam oxidator terlebih dahulu ( seperti KMnO4, , Cr2O3) .
3. CO
Metode Nondispersive infrared (NDIR).
Pengukuran ini berdasarkan kemampuan gas CO menyerap sinar infra merah pada
panjang 4,6 m . Banyaknya intensitas sinar yang diserap sebanding dengan
konsentrasi CO di udara. Analyzer ini terdiri dari sumber cahaya inframerah, tabung
sampel dan reference, detektor dan rekorder.

85

86

LAMPIRAN 2
BAKU MUTU PENCEMARAN AIR
Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air

87

METODE PENGUKURAN PENCEMARAN AIR

Pengukuran total logam berat dengan menggunakan metode AAS. Spektrofotometer


Serapan Atom (AAS) adalah suatu alat yang digunakan pada metode analisi untuk penentuan
unsur-unsur logam dan metaloid yang berdasarkan pada penyerapan absorbs radiasi oleh
atom bebas. Spektrofotometer serapan atom (AAS) merupakan teknik analisis kuantitafif dari
unsur-unsur yang pemakainnya sangat luas di berbagai bidang karena prosedurnya selektif,
spesifik, biaya analisisnya relatif murah, sensitivitasnya tinggi (ppm-ppb), dapat dengan
mudah membuat matriks yang sesuai dengan standar, waktu analisis sangat cepat dan mudah
dilakukan. AAS pada umumnya digunakan untuk analisa unsur, spektrofotometer absorpsi
atom juga dikenal sistem single beam dan double beam layaknya Spektrofotometer UV-VIS.
Sebelumnya dikenal fotometer nyala yang hanya dapat menganalisis unsur yang dapat
memancarkan sinar terutama unsur golongan IA dan IIA. Umumnya lampu yang digunakan
adalah lampu katoda cekung yang mana penggunaanya hanya untuk analisis satu unsur saja.

88

Metode AAS berprinsip pada absorbsi cahaya oleh atom. Atom-atom menyerap
cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya. Metode
serapan atom hanya tergantung pada perbandingan dan tidak bergantung pada temperatur.
Setiap alat AAS terdiri atas tiga komponen yaitu unit teratomisasi, sumber radiasi, sistem
pengukur fotometerik.
Teknik AAS menjadi alat yang canggih dalam analisis. Ini disebabkan karena
sebelum pengukuran tidak selalu memerlukan pemisahan unsur yang ditentukan karena
kemungkinan penentuan satu unsur dengan kehadiran unsur lain dapat dilakukan, asalkan
katoda berongga yang diperlukan tersedia. AAS dapat digunakan untuk mengukur logam
sebanyak 61 logam.
Sumber cahaya pada AAS adalah sumber cahaya dari lampu katoda yang berasal dari
elemen yang sedang diukur kemudian dilewatkan ke dalam nyala api yang berisi sampel yang
telah teratomisasi, kemudia radiasi tersebut diteruskan ke detektor melalui monokromator.
Chopper digunakan untuk membedakan radiasi yang berasal dari sumber radiasi, dan radiasi
yang berasal dari nyala api. Detektor akan menolak arah searah arus (DC) dari emisi nyala
dan hanya mengukur arus bolak-balik dari sumber radiasi atau sampel.
Atom dari suatu unsur pada keadaan dasar akan dikenai radiasi maka atom tersebut
akan menyerap energi dan mengakibatkan elektron pada kulit terluar naik ke tingkat energi
yang lebih tinggi atau tereksitasi. Jika suatu atom diberi energi, maka energi tersebut akan
mempercepat gerakan elektron sehingga elektron tersebut akan tereksitasi ke tingkat energi
yang lebih tinggi dan dapat kembali ke keadaan semula. Atom-atom dari sampel akan
menyerap sebagian sinar yang dipancarkan oleh sumber cahaya. Penyerapan energi oleh atom
terjadi pada panjang gelombang tertentu sesuai dengan energi yang dibutuhkan oleh atom
tersebut.

CARA KERJA AAS :


1. pertama-tama gas di buka terlebih dahulu, kemudian kompresor, lalu ducting, main
unit, dan komputer secara berurutan.
2. Di buka program SAA (Spectrum Analyse Specialist), kemudian muncul
perintah apakah ingin mengganti lampu katoda, jika ingin mengganti klik Yes dan
jika tidak No.
3. Dipilih yes untuk masuk ke menu individual command, dimasukkan nomor lampu
katoda yang dipasang ke dalam kotak dialog, kemudian diklik setup, kemudian soket

89

lampu katoda akan berputar menuju posisi paling atas supaya lampu katoda yang baru
dapat diganti atau ditambahkan dengan mudah.
4. Dipilih No jika tidak ingin mengganti lampu katoda yang baru.
5. Pada program SAS 3.0, dipilih menu select element and working mode.Dipilih unsure
yang akan dianalisis dengan mengklik langsung pada symbol unsur yang diinginkan.
6. Jika telah selesai klik ok, kemudian muncul tampilan condition settings. Diatur
parameter yang dianalisis dengan mensetting fuel flow :1,2 ; measurement;
concentration ; number of sample: 2 ; unit concentration : ppm ; number of standard :
3 ; standard list : 1 ppm, 3 ppm, 9 ppm.
7. Diklik ok and setup, ditunggu hingga selesai warming up.
8. Diklik icon bergambar burner/ pembakar, setelah pembakar dan lampu menyala alat
siap digunakan untuk mengukur logam.
9. Pada menu measurements pilih measure sample.
10. Dimasukkan blanko, didiamkan hingga garis lurus terbentuk, kemudian dipindahkan
ke standar 1 ppm hingga data keluar.
11. Dimasukkan blanko untuk meluruskan kurva, diukur dengan tahapan yang sama
untuk standar 3 ppm dan 9 ppm.
12. Jika data kurang baik akan ada perintah untuk pengukuran ulang, dilakukan
pengukuran blanko, hingga kurva yang dihasilkan turun dan lurus.
13. Dimasukkan ke sampel 1 hingga kurva naik dan belok baru dilakukan pengukuran.
14. Dimasukkan blanko kembali dan dilakukan pengukuran sampel ke 2.
15. Setelah pengukuran selesai, data dapat diperoleh dengan mengklik icon print atau
pada baris menu dengan mengklik file lalu print.
16. Apabila pengukuran telah selesai, aspirasikan air deionisasi untuk membilas burner
selama 10 menit, api dan lampu burner dimatikan, program pada komputer dimatikan,
lalu main unit AAS, kemudian kompresor, setelah itu ducting dan terakhir gas.

90

LAMPIRAN 3
BAKU MUTU KEBISINGAN

Dalam upaya pencegahan dan perlindungan masyarakat terhadap gangguan


kebisingan ditetapkan baku tingkat kebisingan yaitu Keputusan MenLH No.
48/MenLH/11/1997 yang mana baku tersebut didasarkan pada nilai tingkat kebisingan
siang dan malam. Nilai ini diperoleh dari hasil perata-rataan hasil pengukuran Leq
selama 24 jam. Untuk Leq siang hari (Ls) pengukuran dilakukan dari jam 06.00
22.00, sedangkan pengukuran Leq malam hari (Lm) dilakukan dari jam 22.00 06.00
pagi ( hasilnya ditambah faktor pembobotan 5 dB(A). Berikut ini adalah kawasan
peruntukan dan baku tingkat kebisingan yang diijinkan.

91

METODE PENGUKURAN KEBISINGAN


Pengukuran menggunakan alat sound level meter, dengan prosedur :
-Posisikan sound level meter pada kedudukan yang merepresentasikan tingkat
intensitas bising di tempat itu.
-Aktifkan pengukuran dengan mengatur saklar geser pada kedudukan Lo atau Hi. Lo
atau Low Intensity berada pada skala 40 s/d 80 dB, sedangkan Hi atau High Intensity
berada pada skala 80 s/d 120 dB.
-Pencatatan pada satu kedudukan akan terkait dengan pembacaan skala minimum dan
skala maksimum.
-Ambil jumlah titik kedudukan sebanyak yang diperlukan.

METODE PENGUKURAN JUMLAH KENDARAAN


Pengukuran dilakukan secara manual, yaitu menghitung setiap kendaraan yang lewat

92