Anda di halaman 1dari 13

PENGARUH PENGGUNAAN KONTRASEPSI

HORMONAL TERHADAP PENINGKATAN TEKANAN


DARAH
A. PENDAHULUAN
Kontrasepsi berasal dari kata Kontra berarti mencegah atau melawan,
sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur (sel wanita) yang
matang dan sel sperma (sel pria) yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari
kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai
akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut.1,2
Kontrasepsi hormonal adalah alat atau obat kontrasepsi yang bertujuan
untuk mencegah terjadinya kehamilan dimana bahan bakunya mengandung
preparat estrogen dan progesteron.1,2
Lebih dari 13 juta wanita di Amerika Serikat menggunakan salah satu
di antara sejumlah preparat kontrasepsi hormonal yang tersedia untuk
mengendalikan kehamilan. Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa dari
peserta KB aktif dan KB baru, penggunaan Kontrasepsi Hormonal yang terdiri
dari Pil, Suntik dan Implant di Indonesia yaitu 80 %.1,2,3
Metode kontrasepsi hormonal terbagi atas kombinasi estrogen
(biasanya Ethnyil Estradiol) dengan progesterone atau progesterone dosis
tunggal. Kontrasepsi hormonal tersedia dalam berbagai macam dosis dan
preparat (oral, IM, vaginal, transdermal, subdermal implant dan alam bentuk
IUD). Tujuannya adalah untuk menghalangi ovulasi dengan menghambat
sekresi FSH dan LH; yang fungsinya untuk mengentalkan cairan serviks,
sehingga sperma sulit untuk masuk; menyebabkan endometrium tidak siap
untuk implantasi; mengubah pola sekresi dan peristaltik tuba fallopi.4,6
Beberapa peneliti saat ini tertarik dengan dampak dari hormone seks
wanita terhadap system kardiovaskuler, karena beberapa pembuluh darah
memiliki reseptor estrogen dan progesterone di lapisan pembuluh darahnya.

Beberapa studi epidemiologi telah menunjukkan asosiasi antara


penggunaan kontrasepsi oral tunggal maupun kombinasi dengan peningkatan
resiko hipertensi. Meskipun ada beberapa faktor resiko untuk thrombosis vena
dan arterial, blood statis dan hypercoagulability

merupakan faktor

etiopatogonik bagi Venous Tromboembolism (VTE), sementara kerusakan


endotel merupakan mekanisme utama pada Arterial Trombosis (AT). Selama
masa reproduktif, AT biasanya lebih jarang dibandingkan VTE (1 kasus AT
untuk setiap 5-10 kasus VTE)4,5
Tujuan dari ulasan ini adalah untuk mendiskusikan efek utama dari
hormone

seks

kaitannya

sebagai

faktor

resiko

terhadap

penyakit

kardiovaskular terutama peningkatan tekanan darah dan mengekspose bukti


ilmiah yang ada untuk menggambarkan hubungan kontrasepsi hormonal
dengan thrombosis vena dan arterial serta peningkatan tekanan darah.
B.

JENIS KONTRASEPSI HORMONAL


1.

Hormon Estrogen Kombinasi


Kontrasepsi hormon kombinasi memiliki efek yang multipel, tapi efek

yang paling penting adalah untuk mencegah ovulasi dengan supresi faktor GnRH di hipotalamus sehingga dapat mencegah sekresi FSH dan LH.Progesteron
mencegah ovulasi dengan menekan skresi LH dan mengentalkan mukus
serviks sehingga mengganggu jalan sperma masuk ke dalam serviks, serta
menciptakan lingkungan yang tidak baik untuk implantasi. Sedangkan
estrogen

mencegah

ovulasi

dengan

menekan

pelepasan

FSH

dan

mempertahankan endometrium.6,7
Implantasi telur yang sudah dibuahi dihambat oleh estrogen dosis tinggi
(dietil stilbestrol, etinil estradiol) yang diberikan pada pertengahan siklus haid.
Jarak waktu antara konsepsi dan implantasi rata-rata 6 hari. Biopsi
endometrium yang dilakukan setelah pemberian estrogen dosis tinggi pasca
konsepsi menunjukkan efek anti-progesteron, yang dapat menghambat
implantasi. Perjalanan ovum di percepat dengan pemberian estrogen pasca
konsepsi.1,7

Efek samping esterogen :6,7

Mual, muntah, oedem, rasa berat pada tungkai bawah, dapat jadi
gemuk.

Hipertensi, sakit kepala.

Mudah tersinggung, mastalgia, gangguan fungsi hati, timbul chloasma


pada wajah.

2.

Hormon Progesteron
Fungsi progesteron ialah menyiapkan endometrium untuk implantasi
dan mempertahankan kehamilan. Disamping itu progesteron mempunyai
pula khasiat kontrasepsi, sebagai berikut: 6,7
a. Lendir serviks mengalami perubahan menjadi lebih pekat, sehingga
penetrasi dan transportasi sperma selanjutnya lebih sulit
b. Kapasitas sperma dihambat oleh progesteron. Kapasitas diperlukan
sperma untuk membuahi sel telur dan menembus rintangan disekeliling
ovum.
c. Jika progesteron diberikan sebelum konsepsi, maka perjalanan ovum
dalam tuba akan terhambat.
d. Implantasi dihambat bila progesteron diberikan sebelum ovulasi.
Walaupun ovulasi dapat terjadi, produksi progesteron dari korpus
luteum akan berkurang sehinga implantasi dihambat.
e. Penghambatan ovulasi melalui fungsi hipotalamus-hipofisis-ovarium.
Efek samping progesterone :6,7

Langsung: Varices, obstipasi, kaki rasa kejang,fluor albus, lendir


serviks jadi kental.

Tidak Langsung: Lekas marah, depresi, apati, lekas capek,


metrorrhagia,hipermenorrhoea.

C.

DAFTAR OBAT KONTRASEPSI HORMONAL DI INDONESIA


Sediaan yang mengandung progestin saja ( Mini pil )8
Sediaan

Progestin

Excluton

0,5 mg Lynestrenol

Cerazette

75 ug Desogestrel

Sediaan yang mengandung gestagen ( Depo injeksi )8


Sediaan

Progestin

Depo Provera

150 mg Medroxy Progesteron Acetat

Sediaan yang mengandung kombinasi estrogen +progestin (injeksi)8


Sediaan

Estrogen + Progestin

Cyclofem

50 mg Medroxy Progesteron Acetat


10 mg Estradiol cypionate

Sediaan yang mengandung Progestin ( Implant )8


Sediaan

Progestin

Implanon

68 mg Etonogestrel

Indoplant

75 mg Levonorgestrel

Norplant

36 mg Levonorgestrel

AKDR
Inert, dibuat dari plastik (Lipppes Loop) atau baja anti karat (The Chinese
Ring)
Mengandung tembaga, CuT 380 A, CuT 200 C, Multiload ( ML Cu 250 dan
375 ) dan Nova T.

Khusus Obat Oral:9


ESTROGEN
KELAS

CONTOH OBAT

Etinilestradiol

Lynoral 0,05 mg

Etniliestradiol dan Norgestrel

Mikrodiol (Etinilestradiol 30 mcg dan


norgestrel 150 mcg)

PROGESTERON
KELAS
Allylestrenol
Noretisteron
Medroksi Progesteron Asetat
Dydrogesterone

CONTOH OBAT
Alylestrenol 5 mg
Gravynon 5 mg
Norelut 5 5 mg
Primolut N 5mg
MPA 5 mg
Dydrogesterone 10 mg
Duphaston 10 mg

D. EFEK ESTROGEN PADA PEMBULUH DARAH


Setelah terjadi maturasi seksual, seorang wanita akan mensekresikan
beberapa hormon dalam siklus 28 hari ini. Gonadoliberin (=Gn-RH) dan
dopamin (PIH) disekresikan oleh hipotalamus. FSH, LH dan Prolaktin
dihasilan oleh hipofisis anterior. Progesteron, estrogen dan inhibin
disekresikan oleh ovarium. Gn-RH mengatur gradian sekresi dari FSH dan
LH, yang dimana hormon-hormon tersebut akan regulasi sekresi estradiol dan
progesterone. Fungsi seks wanita dikendalikan oleh pelepasan periodik
hormon-hormon, yang mana tujuannya adalah untuk menghasilkan telur yang
dapat difertilisasi pada setiap ovarium setiap bulannya dan menciptakan

suasana yang cocok untuk penerimaan sperma (fertilisasi) dan implantasi telur
yang telah difertilisasi. Aktivitas siklus ditunjukkan dengan adanya menstruasi
bulanan.10
Hormon estrogen selain berperan penting dalam fungsi seks wanita juga
dapat mempengaruhi aktivitas pada pembuluh darah. Ini disebabkan karena
estrogen memiliki dua reseptor, estrogen receptor a & estrogen receptor b,
keduanya termasuk bagian dari resptor hormone steroid. Estrogen receptor a
dapat ditemukan pada pembuluh darah dan sel miokardia, sedangkan untuk
estrogen receptor b ditemukan pada beberapa jaringan anatara lain prostat,
uterus, ovarium, testis, vesika urinaria, paru-paru, dan otak. Estrogen dapat
mempengaruhi konsentrasi serum lipid, fungsi koagulasi dan sistem
fibrinolisis, sistem antioksidan dan produksi dari berbagai molekul vasoaktif,
seperti nitrit oksida dan prostaglandin, semuanya dapat mempengaruhi
perkembangan dari penyakit pembuluh darah salah satunya ialah peningkatan
tekanan darah.5,10,11
Efek langsung estrogen yang disebabkan oleh pengeluaran Nitric Oxide
(NO) oleh sel endotel pembuluh darah akan menyebabkan vasodilatasi
sehingga tekanan darah dapat menurun, namun ini hanya berlangsung
sementara saja. Dari hasil suatu penelitian percobaan klinik yang
menggunakan terpi pengganti estrogen yang dapat menurunkan tekanan darah
pada wanita post-menopausal yang menderita hipertensi. Pada penelitian acak,
dengan metode double-blind crossover menunjukkan 30 wanita postmenopausal dengan hipertensi sedang yang menerima estradiol pada 24 jam
pertama akan menurunkan tekanan darah secara signifikan, begitu juga pada
wanita post-menopausal dengan hipertensi moderate.10,11
Estrogen meningkatkan ekspresi gen yang penting untuk enzim vasodilator
seperti prostacyclin synthase dan NO synthase. Pada paparan dalam jangka
waktu yang lama estrogen akan mengubah ekspresi gen vaskular dan ekpresi
protein yang dimediasi oleh estrogen recptor a & b atau keduanya. Sehingga
menyebabkan peningkatan bioavaibilitas dari NO yang kemudia menghambat

migrasi dan proliferasi dari sel otot polos pembuluh darah agar melindungi
dari kerusakan pembuluh darah.10,11,12
Pada wanita post-menopausal dimana penghasilan estrogen alami
(estradiol) sudah berkurang sampai habis, menyebabkan tingginya resiko
hipertensi pada wanita usia lanjut.10,11

Gambar 1. Hipertensi yang disebabkan oleh perubahan rasio hormone seks yang
akan menyababkan disfungsi endotel sehingga terjadi penurunan produksi NO yang
akan berakibat peningkatan tekanan darah. 12

E. EFEK PROGESTERON PADA PEMBULUH DARAH


Sama dengan estrogen alami (estradiol), progesterone menstimulasi
relaksasi dari endotel pembuluh darah. Data dari penelitian pada manusia dan
binatang mengindikasikan bahwa progesterone, progestin alami, memiliki
efek netral atau bahkan menurunkan tekanan darah. Buktinya, penurunan
tekanan darah yang progresif terjadi pada wanita hamil yang berkolerasi
dengan peningkatan progesterone. Suatu penelitian menunjukkan pemberian
oral progestin alami dapat menurunkan tekanan darah pada enam pria dan
empat wanita post-menopausal dengan hipertensi sedang hingga berat.4,13
7

Progesteron mengambat mitogen yang menstimulasi pertumbuhan dan


proliferasi dari fibroblast jantung, sel otot polos pembuluh darah, dan sel
mesangial glomerular, yang berkonstribusi pada remodelling pembuluh darah
dan glomerular yang berhubungan dengan hipertensi, atherosklerosis, dan
glomerulosklerosis.4,13
F. KONTRASEPSI HORMONAL DAN HIPERTENSI SISTEMIK
Ethylen Estradiol (EE) merupakan kandungan dari kontrasepsi hormonal
yang serupa dengan estrogen alami namun memiliki banyak perbedaan
terutama efeknya pada pembuluh darah. EE memiliki kemampuan untuk
mempengaruhi sintesis hepatik angiotensinogen dan menyebabkan retensi
natrium dan air sehingga malah menyebabkan peningkatan tekanan darah.
Selain itu, EE juga mengganggu metabolisme glukosa dan menstimulasi
terjadinya intoleransi glukosa, efek prokoagulan, hiperkolesterolemia, dan
efek yang merugikan pada plasma lipid. Didapatkan juga pemberian dosis
tinggi EE meningkatkan resiko tejadinya stroke iskemik dan tromboemboli
vena.4,12,13
Zat yang mengandung kontrasepsi oral kombinasi memiliki mekanisme
mereproduksi sifat steroid endogen. Namun, Ethynil Estradiol (EE), karena
potensi biologinya yang tinggi, dibandingkan dengan estradiol yang
merupakan estrogen alami (seribu kali lebih berpotensi), menghambat
produksi angiotensinogen hepatik, yang mengakibatkan sistem renninangiotensin-aldosterone

meningkatkan

tekanan

darah.

Terlebih

lagi,

progesterone terkait dengan kontrasepsi oral kombinasi yang mengandung EE


memiliki kemiripan, namun tidak mereproduksi semua karakteristik dari
progesterone alami. 4,12,13
Banyak penelitian yang menghubungkan pengaruh progestin sintesis untuk
kontrasepsi atau terapi pengganti hormone dengan peningkatan tekanan darah.
Kontrasepsi progestin memiliki aktivitas androgen, sedangkan progesterone
alami bersifat non-androgen. Efek peningkatan tekanan darah pada
penggunaan kontasepsi progestin bergantung pada sifat androgen dari

progestin alami individu. Progestin sintetik meningkatkan tekanan darah


dengan cara menstimulasi retensi natrium. Bagaimanapun, data dari penelitian
klinik yang dikontrol memberikn bukti bahwa pemberian androgenic
progesterone medroxyprogesterone (MPA) atau

androgenic progesterone

norethisterone (NETA) tidak merubah atau meningkatkan efek penurunan


tekanan darah dari estrogen. 4,12,13
Meskipun telah ditemukan progesterone jenis baru, hanya drospirenone
yang mempertahankan efek anti-mineralokortikoid dari progesterone alami.
Meskipun demikian, masih tidak memungkinkan untuk menentukan
keuntungan dari formula kontrasepsi ini pada tekanan darah pada pengguna
dengan hipertensi. Penyelesaian dibedakan antara wanita post-menopausal
dengan hipertensi, di mana senyawa (drospirenone dan estradiol) terkait
dengan penurunan tekanan darah pada wanita yang menderita hipertensi. Hal
ini tidak berlaku bagi kaitan antara drospirenone dengan kontrasepsi pada EE.
Pada kontrasepsi, sebuah penelitian menunjukkan pada orang dengan tekanan
darah normal menunjukkan tekanan darah menurun 4 mmHg, pada pengguna
EE+drospirenone pada evaluasi spesifik 6 bulan setelah penggunaan obat.
Penelitian lain juga melakukan evaluasi spesifik pada 160 wanita dengan
tekanan darah normal, membandingkan kontrasepsi oral kombinasi yang
mengandung drosipirenone dengan yang mengandung gestonede. Peneltian
tersebut menunjukkan penurunan tekanan darah pada drospirenone selama
proses penelitian, namun pada ada perbedaan antara kedua kelompok pada
evaluasi tahap akhir, setelah 12 bulan. Namun, dari data disebutkan tidak ada
metode kontrasepsi apapun yang aman digunakan pada wanita dengan
hipertensi. Kami dapat menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan dalam hal
keamanan antara progesterone dengan tekanan darah dalam kontrasepsi. 4,12,13
Pada studi cross-sectional, Lubianca et al mengevaluasi 171 wanita
didiagnosa hipertensi dan peningkatan diastolic preassure (DBP), meskipun
setelah mengkoreksi variable pengganggu. Penulis yang sama pun
menemukan terjadi penurunan tekanan darah sistolik (-15,1 2,6 mmHg) dan
DBP (-10,4 1,8 mmHg), setelah penangguhan selama 6 bulan, terjadi

peningkatan risiko pada wanita yang berlanjut menggunakan kontrasepsi


kombinasi. 4,12,13
Rute administrasi pada kontrasepsi hormonal tidak mengganggu tekanan
darah. Tidak seperti yang didapatkan pada terapi hormonal pada wanita postmenopausal , di mana tidak ada perubahan negative dari level tekanan darah
dari wanita menopause dengan hipertensi yang menggunakan terapi hormonal
transdermal, dibandingkan dengan placebo. 4,12,13
Meskipun kontrasepsi oral kombinasi menyebabkan peningkatkan level
tekanan darah antara 2-3 mmHg, rata-rata, pada wanita sehat, terapi antihipertensi tidak dibutuhkan pada sebagian besar kasus. Namun, pada wanita
yang sebelumnya pernah di diagnosis hipertensi, pemberian kontrasepsi yang
mengandung EE harus dihindari, karena prognosisnya dapat memburuk dan
dapat terjadi peningkatan risiko AT. 4,12,13
Efek merugikan akibat penggunaan kontrasepsi hormonal berupa EE dapat
terjadi pada dosis tinggi ( 150

ug). Namun dengan dosis 30 ug dapat

menurunkan resiko peningkatan tekanan darah. Briggs & Briggs, melaporkan


penggunaan EE dengan dosis 30 ug selama 3 tahun tidak meningkatkan
tekanan darah, sedangkan dengan penggunaan 50 ug terjadi peningkatan
tekanan darah. Namun,dengan penggunaan dosis minimal tersebut masih
banyak juga laporan peningkatan tekanan darah, sehingga hipertensi akibat
penggunaan kontraspsi hormonal masih merupakan penyebab terbanyak dari
hipertensi sekunder pada wanita. 4,12,13
Pada suatu penelitian acak double-blind crossover dari 53 wanita postmenopausal diberikan terapi conjugated equine estrogen (0.625 mg perhari)
dan pemberian secara sekuen dengan pemberian masing-masing 2.5, 5, dan 10
mg MPA selama 14 hari, terdapat penurunan tekanan diastole dan tekanan
darah arteri rata-rata dengan terapi MPA. 4,12,13
Ada beberapa penelitian yang ditujukan untuk mengevaluasi perubahan
tekanan darah dan kontrasepsi progesterone dosis tunggal, namun terdapat

10

bukti yang konsisten bahwa tidak ada hubungan antara penggunaannya dengan
hipertensi pada wanita sehat selama 20 tahun follow up. 4,12,13
G. KESIMPULAN
Penggunaan kontrasepsi hormonal banyak digunakan oleh wanita di seluruh
dunia termasuk di Indonesia karena harganya yang cukup murah dan cara
pemakaiaannya yang mudah. Ada banyak jenis kontrasepsi hormonal antara lain
oral, injeksi, implant maupun IUD yang mengandung hormon. Kegunaan
kontrasepsi hormonal memang sangat baik untuk mencegah kehamilan karena
bekerja mirip dengan hormon seks alami yaitu estrogen dan progesterone, namun
memiliki beberapa perbedaan yang juga pasti memiliki perbedaan dalam hal efek
sampingnya termasuk efek samping peningkatan tekanan darah. Pada wanita yang
menderita hipertensi, kita harus merekomendasikan untuk menggunakan
kontrasepsi non-hormonal, atau kontrasepsi hormonal progesterone dosis tunggal.
Kontrasepsi kombinasi, mempengaruhi tekanan darah dan meningkatkan risiko
thrombosis arteri pada pasien yang telah memiliki faktor predisposisi. Pada pasien
hipertensi yang terkontrol dengan baik, dibawah usia 35 tahun, boleh
menggunakan kontrasepsi kombinasi, namun berdasarkan kriteria WHO, ada
beberapa ilmuan yang lebih menyukai opsi yang terdahulu karena mereka merasa
lebih aman.

11

DAFTAR PUSTAKA
1. Wiknjosastro Hanifa, Bari Saifuddin Abdul, Rachinhadhi Trijatmo, editor.
Kontrasepsi Hormonal. In: Ilmu Kandungan. Edisi Kedua. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirodihardjo; 2007. Hal 543 556.
2. DeCherney Alan, Nathan Lauren, MuphyGoodwin, Laufer Neri. Chapter
36 Contraceptiuon & Family Planning in Current Diagnosis and Treatment
in Obstetric and Gynaecology. Cunningham : McGraw-Hill Companies.
2003.
3. Paul A.T. Kawatu, Grace E.C. Korompis, B.H.R. Kairupan, Gaby G.
Langi. Analisis hubungan penggunaan pil kb dengan kejadian hipertensi
pada wanita subur di kecamatan tombariri. FKM Universitas Sam
Ratulangi, FK Universitas Sam Ratulangi. Manado. 2012.
4. Milena Bastos Brito, et al. Hormonal contraception and cardiovascular
system. Universidade de Sao Paulo. Sao Paulo. 2013.
5. Susana Novella, Magda Heras, Carlos Hermenegildo, Ana Paula Dantas.
Effects of estrogen on vascular inflammation: a matter timing. Arterioscler
Thromb Vasc Biol . 2012;32:1035-42.
6. Cunningham Gary, dkk. Contraception, Chapter 32. William Obstetrics.
22th ed. Cunningham : McGraw-Hill Companies. 2007.
7. Baziad Ali. Kontrasepsi Hormonal. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. 2008. Hal 11-30.
8. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi edisi 6 tahun 2006-2007
9. Formularium Obat InHealth edisi IV. PT. Asuransi Jiwa InHealth
Indonesia. 2014
10. Despopoulos Agamemnon, Silbernagl Stefan. Color Atas of Physiology.
New York: Thieme. 2003. Hal. 289-291.
11. Michael E. Mendelsohn, Richard H. Karas. The protective effects of
estrogen on the cardiovascular system. Mechanisms of Disease, Molecular
12

Cardiology Research Institute and the department of Medicine, New


England Medical Center and Tufts University School of Medicine, Boston.
1999; 340:23: 1801-08. Boston.
12. Megan Coylewright, Jane F. Reckelhoff, Pamela Ouyang. Menopause and
hypertension An Age-Old Debate.Hypertension 2008; 51:952-59.
13. Raghvendra K. Dubey, Suzanne Oparil, Bruno Imthurn. Edwin K. Jackson.
Sex hormones and hypertension. Elsevier Science : Cardiovascular
Research. 2002; 688-708.

13