Anda di halaman 1dari 62

Pengendalian Banjir

Maya Amalia, M.Eng

1. Fenomena Banjir

Model koordinasi yang ada belum dapat menjadi jembatan di


antara kelembagaan batas wilayah administrasi (kab/kota) dengan
batas wilayah sungai/DAS (provinsi dan pusat).
Menurut Sjarief (2004), Kodoatie dan Sugiyanto (2002) konsep
pengendalian banjir harus dilakukan secara terpadu baik instream
(badan
sungai)
maupun
off-stream
(DAS-nya)
dengan
melaksanakan pekerjaan baik secara metode struktur (tugas
pembangunan) dan non struktur (tugas umum pemerintahan),
sehingga akan tercapai integrated flood control and river basin
management

Cek dam

Drainase Kota

Pengertian
tentang
drainase
kota
pada
dasarnya
telah
diatur
dalam SK Menteri PU 233
tahun 1987. Menurut SK
tersebut, yang dimaksud
drainase kota adalah:
Jaringan
pembuangan
air
yang
berfungsi
mengeringkan
bagianbagian
wilayah
administrasi kota dan
daerah
urban
dari
genangan air, baik dari
hujan
lokal
maupun
luapan
sungai
yang
melintas di dalam kota.

Drainase
adalah prasarana yang berfungsi mengalirkan air
permukaan ke badan air atau ke bangunan
resapan buatan.

Sistem Drainase
1.Saluran Penerima (Interceptor Drain)
2.Saluran Pengumpul (Collector Drain)
3.Saluran Pembawa (Conveyor Drain)
4.Saluran Induk (Main Drain)
5.Badan Air Penerima (Receiving Water)

Berdasarkan fungsi layanan :


a. Sistem Drainase Lokal
Yang termasuk sistem drainase lokal adalah saluran awal yang
melayani suatu kawasan kota tertentu seperti komplek
permukiman, areal pasar, perkantoran, areal industri dan
komersial.
Sistem ini melayani area kurang dari 10 ha.
Pengelolaan sistem drainase lokal menjadi tanggung jawab
masyarakat, pengembang atau instansi lainnya.
b. Sistem drainase utama:
Yang termasuk dalam sistem drainase utama adalah saluran
drainase primer, sekunder, tersier beserta bangunan
pelengkapnyayang melayani kepentingan sebagian besar
warga masyarakat.
Pengelolaan sistem drainase utama merupakan tanggung
jawab pemerintah kota.

c.Pengendalian
banjir
( flood control)
Sungai
yang
melalui
wilayah
kota
yang
berfungsi mengendalikan
air sungai, sehingga tidak
mengganggu dan dapat
memberi manfaat bagi
kehidupan masyarakat.
Pengelolaan pengendalian
menjadi tanggung jawab
Direktorat Jenderal SDA
Balai Besar Wilayah Sungai

Berdasarkan fisiknya:
a. Sistem saluran primer:
Adalah saluran utama yang
menerima masukan aliran
dari saluran sekunder.
Dimensi saluran ini relatif
besar.
Akhir saluran primer adalah
badan penerimaair.
b. Sistem saluran sekunder:
Adalah saluran terbuka atau tertutup yang berfungsi menerima
aliran air dari saluran tersier dan limpasan air dari permukaan
sekitarnya.
Dimensi saluran tergantung pada debit yang dialirkan.
Meneruskan air ke saluran primer.
c. Sistem saluran tersier :
Adalah saluran drainase yang menerima air dari saluran drainase

Berdasarkan Wilayah Layanan (Catchment


Area)
1.Saluran Drainase Regional (SDR)
Adalah saluran drainase yang hulu atau awal dari
salurannya
berada
diluar
batas
administrasi
kota/wilayah ybs
SDR Dalam
Kota Perkotaan
2. 1A.
Saluran
Drainase
1B SDRsaluran
Luar Kota
Adalah
drainase yang bagian hulu/awalnya
berada dalam wilayah administrasi kota/wilayah ybs.
SD Mayor
a.SD Induk Utama (DPS > 100 ha)
b.SD Induk Madya (DPS 50-100 ha)
SD Minor
c.SD Cabang Utama (DPS 25-50 ha)
d.SD Cabang Madya (DPS 5-25 ha)
e.SD Tersier (0-5 ha)

3. Drainase berwawasan lingkungan:


a. Pola detensi (menampung air sementara), misalnya dengan membuat
kolam penampungan.
b. Pola retensi (meresapkan), antara lain dengan membuat sumur resapan,
saluran resapan, bidang resapan atau kolam resapan.
4. Pengendali banjir adalah bangunan untuk mengendalikan tinggi muka air agar
tidak terjadi limpasan dan atau genangan yang menimbulkan kerugian.
5. Badan penerima air adalah sungai, danau, atau laut yang menerima aliran dari
sistim drainase perkotaan

Produk Pengaturan mengenai drainase


yang sudah ada :
SK SNI T-06-1990-F, tentang Tata Cara
Perencanaan Teknik Sumur Resapan Air Hujan
untuk Lahan Pekarangan.
SK SNI S-14-1990-F, tentang Spesifikasi Sumur
Resapan Air Hujan untuk Lahan Pekarangan.

SK
SNI
T-07-1990-F,
tentang
Cara
Perencanaan Umum Drainase Perkotaan

Fungsi drainase perkotaan :


Mengeringkan bagian wilayah kota dari genangan
sehingga tidak menimbulkan dampak negatif.
Mengalirkan air permukaan kebadan air penerima
terdekat secepatnya.
Mengendalikan kelebihan air permukaan yang dapat
dimanfaatkan untuk persediaan air dan kehidupan
akuatik.
Meresapkan air permukaan untuk menjaga
kelestarian air tanah (konservasi air).

Berdasarkan fungsi pelayanan, sistem drainase


kota dibagi menjadi dua bagian pokok yaitu:
a. Sistem drainase lokal:
Yang termasuk dalam sitem drainase lokal adalah sistem saluran
awal yang melayani suatu kawasan kota tertentu seperti
kompleks permukiman, areal pasar, perkantoran, areal industri
dan komersial. Sistim ini melayani area kurang dari 10 ha.
Pengelolaan sistem drainase lokal menjadi tanggung jawab
masyarakat, pengembang atau instansi lainya.
b. Sistem drainase utama:
Yang termasuk dalam sistem drainase utama adalah saluran
drainase primer, sekunder, tersier beserta bangunan
kelengkapannya yang melayani kepentingan sebagian besar
warga masyarakat. Pengelolaan sistem drainase utama
merupakan tanggung jawab pemerintah kota.
c. Pengendalian banjir (Flood Control):
Adalah sungai yang melintasi wilayah kota yang berfungsi
mengendalikan air sungai, sehingga tidak mengganggu
masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi kegiatan
kehidupan
manusia.
Pengelolaan
pengendalian
banjir
merupakan tanggung jawab dinas pengairan.(sumber daya air)

Berdasarkan fisiknya, sistim drainase terdiri atas saluran


primer,
sekunder, tersier dst.
a. Sistem saluran primer :
Adalah saluran utama yang menerima masukan aliran dari saluran
sekunder. Dimensi saluran ini relatif besar. Akhir saluran primer
adalah badan pemerima air.
b. Sistem saluran sekunder :
Adalah saluran terbuka atau tertutup yang berfungsi menerima
aliran air dari saluran tersier dan limpasan air dari permukaan
sekitarnya, dan meneruskan air ke saluran primer. Dimensi saluran
tergantung pada debit yang dialirkan.
c. Sistem saluran tersier :
Adalah saluran drainase yang menerima air dari saluran drainase
lokal.

Menurut definisi, banjir adalah sejumlah besar air yang menutupi


wilayah lahan yang biasanya sering, sebagai hasil dari aliran air
sungai atau laut yang melebihi diatas batas umumnya, rusaknya
bendungan, gelombang pasang surut, atau angin kencang yang
menimbulkan ombak besar di sekitar pulau.
Penggenangan adalah kata kerja transitif dari banjir atau tindakan
menggenangi. Penggenangan lebih berhubungan dengan
besarnya banjir, sebagai contoh kedalaman penggenangan atau
luas areal penggenangan.
Suatu sistem pengendalian banjir adalah suatu sistem drainase
yang memanfaatkan keseluruhan drainase dari suatu area (kota).
Pekerjaan ini pada umumnya dibangun untuk mengurangi banjir
di wilayah perkotaan yang ada dan dapat meliputi suatu saluran
terbuka, saluran pembuangan air hujan, fasilitas peresapan air
hujan, fasilitas penampungan air hujan (kolam/waduk), dan / atau
stasiun pompa drainase atau suatu kombinasi dari komponen
sistem ini

Rencana Induk (Master Plan)


Rencana Induk Sistem Drainase perkotaan adalah perencanaan
menyeluruh sistem drainase pada satu perkotaan, untuk waktu
perencanaan 25 tahun. Lingkupnya adalah sistem drainase utama saja
yang berada dalam satu daerah administrasi kota/perkotaan.
Study Kelayakan
Study Kelayakan Sistem Drainase Perkotaan adalah perencanaan
sistem drainase pada satu atau lebih daerah pengaliran air, untuk
waktu perencanaan 5 atau 10 tahun. Lingkupnya diarahkan pada
daerah prioritas yang telah ditentukan dalam Rencana Induk
Drainase Perkotaan. Kajian yang dilakukan meliputi kelayakan teknis,
kelayakan ekonomi, serta kelayakan lingkungan
Perencanaan Teknis
Perencanaan teknis dibuat untuk daerah prioritas yang telah mempunyai
study kelayakan atau rencana kerangka (Outline Plan). Jangka waktu
perencanaan untuk 2 sampai 5 tahun. Rencana teknis harus memuat
persyaratan teknis dan gambar teknis, kriteria perencanaan dan langkahlangkah perencanaan konstruksi sistem drainase didaerah perkotaan

Beberapa prinsip utama yang harus diletakkan sebagai dasar pembangunan


sistem drainase perkotaan, antara lain :

1. Kapasitas sistem harus mencukupi, baik untuk melayani air hujan yang
dialirkan kebadan penerima air (laut, sungai) atau yang diserapkan kedalam
tanah. Bilamana kapasitas tidak mencukupi, maka sistem akan menemui
kegagalan, dan terjadilah banjir atau genangan. Untuk mencapai kapasitas
sistem yang memadai, dilakukan berdasarkan prinsip hidrologi dan hidrolika.
2. Tata letak sistem memenuhi kriteria perkotaan dan memiliki kesempatan
untuk perluasan sistem. Dalam pelaksanaannya harus diperhatikan segi
hidraulik dan tata letak dalam kaitannya dengan prasarana lain.
3. Stabilitas sistem harus terjamin, baik dari segi struktural, keawetan sistem
dan kemudahan dalam operasi dan pemeliharaannya. Dalam pelaksanaannya
diperlukan prinsip-prinsip struktural yang harus dipenuhi, termasuk bentuk
struktur yang memudahkan operasi dan pemeliharaan.
4. Mengalirkan secara gravitasi, sistem drainase perkotaan sedapat mungkin
menggunakan sistem pengaliran secara gravitasi, mengingat cara ini lebih
ekonomis dalam pengoperasian dan pemeliharaannya. Penggunaan system
pompa hanya pada situasi-situasi khusus yang keadaan medannya memang
tidak memungkinkan untuk diterapkan system gravitasi
5. Minimalisasi pembebasan tanah, pengembangan sistem drainase
perkotaan harus diusahakan mencari jalur terpendek kebadan penerima air.
Hal ini agar pembebasan tanah dapat ditekan sekecil mungkin.

KRITERIA DISAIN TEKNIS SISTEM DRAINASE


A. Kriteria Pelayanan
Tipe drain Periode Ulang Rencana
a) Saluran hujan didaerah perumahan 2 tahunan
b) Saluran hujan di daerah perdagangan dan industri 5 tahunan
c) Saluran yang melayani daerah tadah > 100 Ha 20 tahunan
d) Sungai-sungai besar 20-50 tahunan
B. Kriteria Keamanan
Keamanan adalah pertimabngan penting dalam pendesainan system
drainase daerah perkotaan dan pengembangan perkotaan pada dataran
banjir dari suatu sungai. Kriteria keamanan yang dianjurkan adalah sebagai
berikut :
e) Menggunakan terali pengaman dimuka inlet dan saluran drainase
yang panjang dan tertutup.
f) Menggunakan penutup yang kuat dan aman dipasang bila penutup
itu dipakai untuk jalan.
g) Menggunakan pagar terali ditepi bangunan yang terletak diatas air
yang mengalir cepat, atau salurannya dalam dan umum mudah
mencapainya.

Langkah-2 Utama Pembuatan Rencana Induk


1. Pengumpulan dan pengecekan data
2. Analisa hidrologi dan hidrolika
3. Identifikasi kekurang mampuan system yang ada
4. Pembuatan berbagai konsep cara penanggulangan kekurangmampuan tersebut
5. Memformulasikan rencana induk

Ad.1 Data Tata Guna Tanah ( dari Rencana Induk Tata Guna Tanah
untuk rencana pengembangan ) Kondisi Fisik daerah,( Peta
kontour dan survey penunjang ) Data hidrologi, ( Data hujan,
Catatan banjir, studi-studi terdahulu,pengenalan medan)

Ad 3 Berkaitan dengan kriteria desain teknik dan penggunaan lahan


yang diusulkan.

Ad 4 Kenali konsep pemecahan masalah yang bisa menanggulangi


ketidak-mampuan system drainase yang ada.
Jenis penyelesaian dasar Contoh
a) Peningkatan Pengubahan suatu alur alami menjadi saluran drainase
yang permukaannya dilapisi pasangan.
b) Penahanan Cekungan atau ceruk penahan bendungan pengurangan
atau pengendalian banjir
c) Pengalihan / Pembelokan Pengalihan / pembelokan sebagian /
Pembagian tadahan ke saluran lain, pembelokan aliran yang
berlebihan
d) Pompa Pembuatan stasion Pompa pengendali banjir

PENG-EVALUASIA-AN BERBAGAI ALTERNATIF


dengan pertimbangan faktor-faktor :
a. Biaya (investasi, operasi dan biaya)
b. Sosial ( penyediaan lahan )
c. Lingkungan ( dampaknya didaerah hilir)
Alternatif yang terpilih seyogyanya yang termurah yang bisa diterima
secara sosial dan memenuhi persyaratan lingkungan. Beberapa dampak
negatif yang mungkin timbul dari suatu system drainase perkotaan pada
lingkungan dan cara penanggulangannya

PERUMUSAN RENCANA INDUK


Penetapan komponen-komponen rencana induk :
1. Penentuan lebar lahan peruntukan
2. Penentuan perbaikan-perbaikan terhadap saluran yang ada (dimensi,
pengaturan lereng, penyediaan lahan )
3. Penentuan cara mengurangi banjir atau pengendalian banjir melalui
pembatasan daerah apabila sungai melewati kota.
4. Penentuan secara jelas dimana system drainase perkotaan akhirnya
melimpahkan alirannya, bangunan-bangunan apa yang diperlukan,
Sebelum rencana induk drainase disyahkan, dianjurkan agar suatu
cek akhir dilakukan agar diyakini keterpaduannya dengan rencana
induk prasarana lainnya.

1. PENGUMPULAN DATA dan INFORMASI


Penyusunan studi kelayakan drainase ditinjau
dari 3 (tiga) aspek pokok :
1. Umum :
(1). Kelayakan Teknis
a) Rencana induk;
(2). Kelayakan Ekonomis
b) Studi-studi yang terkait;
(3). Kelayakan Lingkungan
c) Data-data kependuduk, sosial -ekonomi.

2.
a)
b)
c)
d)

3.
a)
b)
c)

d)
e)

Teknis :
inventarisasi sistem drainase yang ada,
data hidrologi,
data hidraulik,
data kapasitas dan truktur bangunan
pelengkap
Sosial-Ekonomi :
Data aspek sosial ekonomi
Data kerugian langsung yang diakibatkan oleh
genangan
Data kerugian tidak langsung yang ditimbulkan
karena adanya genangan, gangguan kesehatan
4. Lingkungan:
dan terganggunya aktifitas ekonomi
a) data lingkungan,
Data partisipasi masyarakat
b) data lingkungan pada lokasi
Data harga tanah

pembebasan tanah,
c) data lingkungan pada tempat
penampungan (pemukiman)
penduduk yang terkena proyek.

2. Analisa masalah

3. Usulan

Analisis biaya
Analisa biaya dilakukan dengan memperhatikan pengaruh langsung dan
tidak langsung, biaya pembangunan serta biaya operasi dan
pemeliharaan :
1) Manfaat proyek dihitung dari pengaruh langsung dan tidak langsung
2) Biaya proyek dihitung dari biaya pembangunan dan biaya operasi dan
pemeliharaan,
3) Pengaruh langsung, terdiri dari:
a) Pengurangan biaya untuk pembuatan dan perbaikan sistem
drainase yang rusak,
b) Pengurangan biaya untuk pembuatan dan perbaikan prasarana dan
sarana kota lainnya yang rusak,
c) Pengurangan biaya untuk pembuatan dan perbaikan bangunan dan
rumah-rumah yang rusak,
d) Pengurangan biaya penanggulangan akibat genangan,
e) Biaya harga tanah.
4. Pengaruh tidak langsung terdiri dari:
f) Pengurangan biaya sosial akibat bencana banjir, seperti :
kesehatan, pendidikan dan lingkungan,
g) Pengurangan biaya ekonomi yang harus ditanggung masyarakat
akibat banjir, seperti: produktifitas, perdagangan, jasa pelayanan,
h) Kenaikan harga tanah.