Anda di halaman 1dari 5

Pemeriksaan ALP

(Alkaline Phospatase)

I.

Dasar Teori
A. Hati
Hati merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh, terdapat di rongga perut sebelahkanan
atas, berwarna kecoklatan. Hati mendapat suplai darah dari pembuluh nadi (arteri hepatica)
dan pembuluh gerbang (vena porta) dari usus. Hati dibungkus oleh selaput hati (capsula
hepatica). Hati terdapat pembuluh darah dan empedu yang dipersatukan selaput jaringan ikat
(capsula glison). Hati juga terdapat sel-sel perombak sel darah merah yang telah tua disebut
histiosit (Wahyu, 2014).
Hati manusia dewasa normal memiliki massa sekitar 1,4 Kg atau sekitar 2.5% dari
massa tubuh. Letaknya berada di bagian teratas rongga abdominal, disebelah kanan, dibawah
diagfragma dan menempati hampir seluruh bagian dari hypocondrium kanan dan sebagian
epigastrium abdomen. Permukaan atas berbentuk cembung dan berada dibawah diafragma,
permukaan bawah tidak rata dan memperlihatkan lekukan fisura transverses. Permukaannya
dilapisi pembuluh darah yang keluar masuk hati (Nur Hayati, 2013).
Sebagai alat eksresi hati menghasilkan empedu yang merupakan cairan jernih
kehijauan, di dalamnya mengandung zat warna empedu (bilirubin), garam empedu, kolesterol
dan juga bakteri serta obat-obatan. Zat warna empedu terbentuk dari rombakan eritrosit yang
telah tua atau rusak akan ditangkap histiosit selanjutnya dirombak dan haemoglobinnya
dilepas (Wahyu, 2014).
Hati pada manusia memiliki fungsi yang banyak, lebih dari 500 fungsi hati. Beberapa
fungsi hati yang penting antara lain menetralisir racun dalam tubuh sebagai organ yang
mengontrol lemak, asam amino dan kadar gula dalam darah, memerangi infeksi, memproses
makanan yang sudah selesai dicerna oleh usus halus, mengatur kerja empedu, menghasilkan
enzim dan protein yang berguna untuk berbagai proses dalam tubuh seperti dalam proses
pembekuan darah dan perbaikan jaringan tubuh yang rusak.
Fungsi hati biasanya tetap akan berfungsi dengan baik tanpa dipengaruhi faktor umur.
Namun, beberapa "musuh" yang dapat merusak hati antara lain karena konsumsi alkohol yang

berlebihan, perlemakan hati dan virus hepatitis yang menyerang hati. Pemeriksaan dini
terhadap fungsi hati dapat menyelamatkan hati agar dapat tetap menjalankan fungsinya.
B. Pemeriksaan Fungsi Hati
Pemeriksaan uji fungsi hati merupakan salah satu pemeriksaan kimia klinik yang
sering diminta oleh para dokter klinisi. Hal ini dikarenakan peran hati sebagai organ tubuh
yang penting, dan penyakit yang mengenai hati atau berkaitan dengan perubahan fungsi hati
cukup sering dijumpai. Fungsi hati yang merupakan organ pusat metabolisme banyak
macamnya. Karena itu uji fungsi hati juga banyak jenisnya. Untuk menilai fungsi hati,
mendeteksi adanya gangguan dan menegakkan diagnosisnya diperlukan pemahaman tentang
fungsi hati, jenis fungsi hai dan patofisiologi jenis-jenis penyakit hati. Umumnya pemeriksaan
dilakukan dengan beberapa jenis uji fungsi hati sebagai suatu panel.
C. Pemeriksaan ALP (Alkaline Phosphatase)
Fosfatase alkali (alkaline phosphatase, ALP) merupakan enzim yang diproduksi
terutama oleh epitel hati dan osteoblast (sel-sel pembentuk tulang baru); enzim ini juga
berasal dari usus, tubulus proksimalis ginjal, plasenta dan kelenjar susu yang sedang
membuat air susu. Fosfatase alkali disekresi melalui saluran empedu. Meningkat dalam
serum apabila ada hambatan pada saluran empedu (kolestasis). Tes ALP terutama digunakan
untuk mengetahui apakah terdapat penyakit hati (hepatobiliar) atau tulang (Siti B. Kresno,
R. Gandasoebrata, J. Latu. 1989).
Pada orang dewasa sebagian besar dari kadar ALP berasal dari hati, sedangkan pada
anak-anak sebagian besar berasal dari tulang. Jika terjadi kerusakan ringan pada sel hati,
mungkin kadar ALP agak naik, tetapi peningkatan yang jelas terlihat pada penyakit hati akut.
Begitu fase akut terlampaui, kadar serum akan segera menurun, sementara kadar bilirubin
tetap meningkat. Peningkatan kadar ALP juga ditemukan pada beberapa kasus keganasan
(tulang, prostat, payudara) dengan metastase dan kadang-kadang keganasan pada hati atau
tulang tanpa matastase (isoenzim Regan) (Sesuri, 2012).
Kadar ALP dapat mencapai nilai sangat tinggi (hingga 20 x lipat nilai normal) pada
sirosis biliar primer, pada kondisi yang disertai struktur hati yang kacau dan pada penyakitpenyakit radang, regenerasi, dan obstruksi saluran empedu intrahepatik. Peningkatan kadar
sampai 10 x lipat dapat dijumpai pada obstruksi saluran empedu ekstrahepatik (misalnya
oleh batu) meskipun obstruksi hanya sebagian. Sedangkan peningkatan sampai 3 x lipat

dapat dijumpai pada penyakit hati oleh alcohol, hepatitis kronik aktif, dan hepatitis oleh
virus.
Pada kelainan tulang, kadar ALP meningkat karena peningkatan aktifitas osteoblastik
(pembentukan sel tulang) yang abnormal, misalnya pada penyakit Paget. Jika ditemukan
kadar ALP yang tinggi pada anak, baik sebelum maupun sesudah pubertas, hal ini adalah
normal karena pertumbuhan tulang (fisiologis). Elektroforesis bisa digunakan untuk
membedakan ALP hepar atau tulang. Isoenzim ALP digunakan untuk membedakan penyakit
hati dan tulang; ALP1 menandakan penyakit hati dan ALP2 menandakan penyakit tulang.
Jika gambaran klinis tisak cukup jelas untuk membedakan ALP hati dari isoenzimisoenzim lain, maka dipakai pengukuran enzim-enzim yang tidak dipengaruhi oleh
kehamilan dan pertumbuhan tulang. Enzim-enzim itu adalah : 5nukleotidase (5NT),
leusine aminopeptidase (LAP) dan gamma-GT. Kadar GGT dipengaruhi oleh pemakaian
alcohol, karena itu GGT sering digunakan untuk menilai perubahan dalam hati oleh alcohol
daripada untuk pengamatan penyakit obstruksi saluran empedu (E.N. Kosasih & A.S.
Kosasih, 2008).
Metode pengukuran kadar ALP umumnya adalah kolorimetri dengan menggunakan
alat (mis. fotometer/spektrofotometer) manual atau dengan analizer kimia otomatis.
Elektroforesis isoenzim ALP dilakukan untuk membedakan ALP hati dan tulang. Bahan
pemeriksaan yang digunakan berupa serum atau plasma heparin.
D. Nilai Rujukan

DEWASA : 42 136 U/L, ALP1 : 20 130 U/L, ALP2 : 20 120 U/L, Lansia : agak
lebih tinggi dari dewasa

ANAK-ANAK : Bayi dan anak (usia 0 20 th) : 40 115 U/L), Anak berusia lebih
tua (13 18 th) : 50 230 U/L.

E. Masalah Klinis

Peningkatan Kadar: obstruksi empedu (ikterik), kanker hati, sirosis sel hati, hepatitis,
hiperparatiroidisme, kanker (tulang, payudara, prostat), leukemia, penyakit Paget, osteitis
deforman, penyembuhan fraktur, myeloma multiple, osteomalasia, kehamilan trimester
akhir, arthritis rheumatoid (aktif), ulkus. Pengaruh obat : albumin IV, antibiotic
(eritromisin, linkomisin, oksasilin, penisilin), kolkisin, metildopa (Aldomet), alopurinol,

fenotiazin, obat penenang, indometasin (Indocin), prokainamid, beberapa kontrasepsi


oral, tolbutamid, isoniazid, asam para-aminosalisilat.

Penurunan Kadar: hipotiroidisme, malnutrisi, sariawan/skorbut (kekurangan vit C),


hipofosfatasia, anemia pernisiosa, isufisiensi plasenta. Pengaruh obat : oksalat, fluoride,
propanolol (Inderal)

F. Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :

Sampel hemolisis,

Pengaruh obat-obatan tertentu (lihat pengaruh obat),

Pemberian albumin IV dapat meningkatkan kadar ALP 5-10 kali dari nilai
normalnya,

Usia pasien (mis. Usia muda dan tua dapat meningkatkan kadar ALP),

Kehamilan trimester akhir sampai 3 minggu setelah melahirkan dapat


meningkatkan kadar ALP (Riswanto, 2009).

II.

Daftar Pustaka
D.N. Baron, alih bahasa : P. Andrianto, J. Gunawan. 1990. Kapita Selekta Patologi Klinik,
Edisi 4. Jakarta : EGC
E.N. Kosasih & A.S. Kosasih. 2008. Tafsiran Hasil Pemeriksaan Laboratorium Klinik, Edisi
2. Tangerang : Karisma Publishing Group.
Joyce LeFever Kee. 2007. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium & Diagnostik, Edisi 9.
Jakarta :EGC
Nur Hayati, 2013, Fungsi dan Pengertian Hati pada Manusia, online, http://nhinspiration.blogspot.com/2013/01/fungsi-dan-pengertian-hati-pada-manusia.html, 4
mei 2015
Riswanto,

2009,

Fosfatase

Alkali,

online,

http://labkesehatan.blogspot.com/2009/12/fosfatase-alkali.html, 14 Juni 2014


Sesuri,

2012,

Pemeriksaan

Fungsi

Hati,

online,

http://sesuri.blogspot.com/2012/11/pemeriksaan-fungsi-hati_287.html, 4 mei 2015


Siti B. Kresno, R. Gandasoebrata, J. Latu. 1989. Tinjauan Klinis Atas Hasil Pemeriksaan
Laboratorium, Edisi 9. Jakarta : EGC

The Royal College of Pathologists of Australasia. 1990. Manual of Use and Interpretation
of Pathology Tests. South Australia : Griffin Press Ltd., Netley
Wahyu,

2014,

Pengertian

Hati,

http://www.scribd.com/doc/36497178/PENGERTIAN-HATI, 4 mei 2015

online,

Anda mungkin juga menyukai