Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tingginya tingkat penyebaran HIV memerlukan suatu tindakan universal
precautions untuk mencegah penyebaran inveksi. Universal precautions adalah tindakan
adalah tindakan pengendalian infeksi oleh seluruh petugas kesehatan, untuk semua pasien ,
dimana pun dan kapan pun serta pada semua pasien. Universal precautions bertujuan
mengendalikan infeksi secara konsisten serta mencegah penularan bagi petugas kesehatan
dan pasien. Universal precautions meliputi, pengelolaan alat kesehatan habis pakai, cuci
tangan guna menceah infeksi silang, pemakaian alat pelindung diantara pemakaian sarung
tangan untuk mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksius yang lain, pengelolaan
jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan, pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan,
desinfeksi dan sterilisasi untuk alat yang digunakan ulang, pengelolaan linen. Peran
perawat dalam perawatan pasien HIV/AIDS salah satunya adalah menerapkan universal
precautions untuk mencegah penularan HIV/AIDS pada petugas sendiri, petugas, dan
pasien lainnya. (Dr. nursalam.hal:82)

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana cara penularan HIV/AIDS ?
2. Bagaimana cara pencegahan penularan HIV/AIDS ?
3.Bagaimana cara pelaksanaan universal precaution pada kasus HIV/AIDS ?
1.3 Tujuan

1.

Tujuan Umum Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas yang diberikan
untuk
memenuhi mata kuliah communicable desiases. Diharapkan setelah membaca
makalah ini mahasiswa dapat mengetahui lebih dalam tentang pencegahan
penularan infeksi HIV/AIDS melalui universal precaution yang akan dibahas
dalam makalah ini.

2.

Tujuan Khusus Diharapkan setelah membaca makalah ini, pembaca dapat :


a. Mengetahui definisi dari HIV/AIDS
b. Mengetahui cara penularan HIV/AIDS
c. Mengetahui cara pencegahan penularan infeksi HIV/AIDS
d. Mengetahui cara pelaksanaan universal precaution pada kasus HIV/ AIDS

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Universal Precaution (Kewaspadaan universal) adalah langkah sederhana
pencegahan infeksi yang mengurangi resiko penularan dari patogen yang ditularkan
melalui darah atau cairan tubuh diantara pasien dan pekerja kesehatan.
Universal precautions (Kewaspadaan Universal) merujuk pada praktek dalam
kedokteran, menghindari kontak dengan cairan tubuh pasien, dengan cara pemakaian
barang seperti sarung tangan medis, kacamata, dan perisai wajah. Praktek ini
diperkenalkan pada 1985-88. [1] [2] Pada tahun 1987, praktek Universal precautions telah
disesuaikan dengan seperangkat aturan yang dikenal sebagai isolasi zat tubuh. Pada tahun
1996, kedua praktik tersebut diganti dengan pendekatan terbaru yang dikenal sebagai
kewaspadaan standar (perawatan kesehatan).
Saat ini dan di isolasi, praktek Universal precautions memiliki makna sejarah.

2.2 Sejarah pentingnya Universal precautions


Di bawah Universal precautions semua pasien dianggap pembawa kemungkinan
patogen melalui darah. Pedoman yang direkomendasikan memakai sarung tangan ketika
mengambil atau penanganan darah dan cairan tubuh yang terkontaminasi dengan darah,
memakai perisai hadapi ketika ada bahaya percikan darah pada selaput lendir dan
membuang

semua

jarum

dan

benda

tajam

dalam

wadah

tahan

tusukan.

Universal precautions dirancang untuk dokter, perawat, pasien, dan pekerja


perawatan kesehatan dukungan yang diperlukan untuk datang ke dalam kontak dengan
pasien atau cairan tubuh. Ini termasuk staf dan orang lain yang mungkin tidak datang ke
dalam kontak langsung dengan pasien.

2.3 Penggunaan
Universal precautions yang biasanya dilakukan dalam lingkungan di mana para
pekerja terkena cairan tubuh, seperti:
1. Darah
2. Semen
3. Sekresi vagina
4. synovial cairan
5. cairan ketuban
6. Cerebrospinal cairan
7. cairan pleura
8. peritoneal cairan
9. perikardial cairan
Cairan Tubuh yang tidak memerlukan tindakan pencegahan seperti:
1. Tinja
2. Nasal sekresi
3. Urine
4. Muntahan
5. Keringat
6. Dahak
7. Air liur

Universal precautions adalah teknik pengendalian infeksi yang dianjurkan


mengikuti wabah AIDS di tahun 1980-an. Setiap pasien diperlakukan sebagai jika tindakan
pencegahan terinfeksi dan karena itu dilakukan untuk meminimalkan risiko.
Pada dasarnya, Universal precautions kebiasaan kebersihan yang baik, seperti
mencuci tangan dan penggunaan sarung tangan dan hambatan lainnya, penanganan yang
tepat pada jarum suntik dan pisau bedah, dan teknik aseptik.
Peralatan Pakaian pelindung seperti:
1. Gaun
2. Sarung tangan

3. Eyewear (kacamata)
4. Perisai wajah
2.4 Tambahan tindakan pencegahan
Pencegahan tambahan digunakan selain untuk kewaspadaan universal untuk pasien
yang diketahui atau diduga memiliki kondisi menular, dan bervariasi tergantung pada
pengendalian infeksi diperlukan pasien tersebut. Tindakan pencegahan tambahan tidak
diperlukan untuk infeksi melalui darah, kecuali ada komplikasi. Kondisi menunjukkan
tindakan pencegahan tambahan:
1. Prion penyakit (misalnya, penyakit Creutzfeldt-Jakob)
2. Penyakit dengan transmisi udara ditanggung (misalnya, TBC)
3. Penyakit dengan transmisi tetesan (misalnya, gondok, rubella, influenza,
pertusis)
4. Transmisi melalui kontak langsung maupun tidak langsung dengan kulit kering
(misalnya, kolonisasi dengan MRSA) atau permukaan yang terkontaminasi atau
kombinasi di atas.
2.5 Standard Kewaspadaan
1. Cuci tangan
2. Pakai sarung tangan saat menyentuh cairan tubuh, kulit tak utuh dan membran
mukosa
3. Pakai masker, pelindung mata, gaun jika darah atau cairan tubuh mungkin
memercik
4. Tutup luka dan lecet dengan plester tahan air
5. Tangani jarum dan benda tajam dengan aman
6. Buang jarum dan benda tajam dalam kotak tahan tusukan dan tahan air
7. Proses instrumen dengan benar
8. Bersihkan tumpahan darah dan cairan tubuh lain segera dan dengan seksama
9. Buang sampah terkontaminasi dengan aman

2.6 Prosedur pencegahan infeksi


1) Cuci tangan
Cuci tangan adalah cara pencegahan infeksi yang penting. Cuci tangan
5

harus dilakukan dengan benar , sebelum melakukan tindakan.


Sarana untuk cuci tangan :
a. Air mengalir
b. Sabun dan detergan
c. Larutan anti septic
2) Alat pelindung diri (APD)
Adalah peralatan yang dirancang untuk melindungi pekerja dari kecalakaan
atau penyakit yang serius ditempat kerja akibat kontak dengan potensi bahaya.
Jenis pelindung APD antara lain : sarung tangan,masker (pelindung wajah),
kacamata (pelindung mata), penutup kepala (kap), gaun pelindung, alas kaki
(pelindung kaki).
3) Pengelolaan alat bekas pakai
Bertujuan untuk mencegah penyebaran infeksi melalui alat kesehatan, atau
untuk menjamin alat tersebut dalam kondisi steril dan siap pakai. Penatalaksanaan
pengelolaan alat bekas pakai melalui 4 tahap kegiatan yaitu : dekontaminasi,
pencucian, sterilisasi atau DTT, dan penyimpanan.
4) Pengelolaan alat tajam
Penyebab utama HIV adalah terjadinya kecelakaan kerja seperti tertusuk
jarum atau alat tajam yang tercemar.
Membuang benda tajam
1. Buang jarum dan spuit segera setelah digunakan diwadah benda tajam yang
tahan tusukan
2. Jangan isi wadah melebihi ketinggian tiga perempat penuh
3. Insinerasi wadah pembuang benda tajam

5) Pengelolaan limbah
Limbah rumah sakit atau di pelayanan kesehatan adalah limbah yang
dihasilkan oleh seluruh kegiatan rumah sakit dan limbah yang terbanyak adalah
6

limbah infeksium yang memerlukan penerangan khusus.


6) Dalam Universal Precaution Tidak direkomendasikan
a. Sterilisasi panas kering karena tergantung listrik & waktu yang lama
b. Sterilisasi kimia karena waktu yang lama & glutaraldehid-beracun
c. Merebus instrument karena merupakan bentuk dari DTT
d. Menyimpan instrumen dalam antiseptik cair karena tidak efektif
e. Membakar instrument tidak efektif
Pencegahan HIV Dalam Kondisi Darurat
Penyuntikan yang aman
1. Minimalkan kebutuhan menangani jarum dan spuit
2. Gunakan spuit dan jarum steril sekali pakai untuk setiap penyuntikan
3. Tangani spuit dan jarum dengan aman
4. Tata ruang kerja untuk mengurangi risiko cedera
5. Gunakan vial dosis tunggal sebagai ganti vial multi dosis
6. Jika vial adalah untuk multi dosis, hindari meninggalkan jarum di karet penutup
vial
7. Setelah dibuka, simpan vial multi dosis di kulkas
8. Jangan menutup kembali jarum
9. Posisikan dan peringatkan pasien dengan benar untuk penyuntikan
10. Praktekkan pembuangan limbah tajam medis yang aman
Paparan Kerja: PPPK
1. Luka akibat jarum atau benda tajam yang sudah dipakai dan kulit terluka
a. Jangan dipijat atau digosok
b. Segera cuci dengan air dan sabun atau cairan chlorhexidine gluconate
c. Jangan gunakan cairan yang keras. Pemutih atau yodium akan mengiritasi
luka
2. Percikan darah atau cairan tubuh pada kulit yang luka
a. Cuci segera. Jangan gunakan desinfektan yang kuat
3. Percikan pada mata

a. Airi mata segera dengan air atau normal saline


b. Miringkan kepala ke belakang dan minta teman menuangkan air atau
normal saline
c. Jangan gunakan sabun atau desinfektan pada mata
4. Percikan pada mulut
a. Ludahkan segera
b. Basuh mulut dengan menyeluruh menggunakan air atau saline. Ulang
beberapa kali
c. Jangan gunakan sabun atau desinfektan pada mulut
d. Laporkan kejadiaan dan minum PEP jika ada indikasi.
Memastikan transfusi darah aman dan rasional
1. Mengumpulkan darah hanya dari Donor sukarela yang tidak dibayar dengan
risiko rendah terkena infeksi yang ditularkan lewat transfusi (TTI) dan kriteria
donor darah yang ketat
2. Memeriksa semua darah yang didonorkan untuk TTI, golongan darah dan
kompatibilitas;
3. Pemakaian darah yang sesuai secara klinis dan pemakaian alternatif dan obat
untuk meminimalkan transfusi yang tidak perlu
4. Praktek Transfusi aman di tempat tidur dan pembuangan kantung, jarum dan
tabung darah yang aman

BAB III
PENUTUP
8

3.1 Kesimpulan
Universal Precaution (Kewaspadaan universal) adalah langkah sederhana
pencegahan infeksi yang mengurangi resiko penularan dari patogen yang ditularkan
melalui darah atau cairan tubuh diantara pasien dan pekerja kesehatan.
3.2 Saran
Dengan selesainya makalah ini disarankan kepada para pembaca agar dapat lebih
memperdalam lagi pengetahuan tentang universal precaution (pencegahan infeksi) dan
dapat menjaga kesehatan agar tidak terkena infeksi maupun penyakit lain.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.docstoc.com/docs/51596719/pedoman-pengelolaan-BDRS
mercywodabankdarahrumahsakit(BDRS).blogspot.com/2010/09