Anda di halaman 1dari 24

Tugas Paper

KORUPSI DAN TANGGUNG JAWAB MORAL

Oleh :
Maria Raisa J. Warouw
13014101130
Masa KKM : 17 November 14 Desember 2014

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh kemampuan dan keberhasilannya
dalam melaksanakan pembangunan. Pembangunan sebagaisuatu proses perubahan yang
direncanakan mencakup semua aspek kehidupan masyarakat. Efektifitas dan keberhasilan
pembangunan terutama ditentukan oleh dua faktor, yaitu sumber daya manusia, yakni (orangorang yang terlibat sejak dari perencanaan samapai pada pelaksanaan) dan pembiayaan.
Diantara dua faktor tersebut yang paling dominan adalah faktor manusianya.Indonesia
merupakan salah satu negara terkaya di Asia dilihat dari keanekaragaman kekayaan sumber
daya alamnya.1,2
Korupsi sebagai penyakit masyarakat mempunyai banyak wajah, karena sebagai
gejala sosial politik korupsi tidak hanya didorong oleh suatu sebab yang pasti tetapi lebih
merupakan komplikasi dari banyak faktor yang mempengaruhi satu sama lain. Namun satu
hal yang pasti, korupsi berkaitan erat dengan kekuasaan. . Seseorang yang tidak mempunyai
kekuasaan atau jabatan, kecil kemungkinannya terlibat dalam kasus korupsi. Semakin besar
kekuasaan yang dimiliki seseorang semakin besar pula godaan untuk melakukan korupsi.
Lord Acton dengan tepat mengungkapkan bahwa power tends to corrupt but absolute power
corrupt absolutely.2,3
Korupsi bisa berakar pada masalah budaya atau sejarah, namun pada puncaknya akan
menimbulkan dampak yang merusak perekonomian dan sistem politik. Korupsi menimbulkan
inefisiensi dan ketidakadilan dalam distribusi biaya dan manfaat publik. Korupsi yang
dipraktekkan secara luas menunjukkan bahwa sistem politik membiarkan segelintir orang
(yang mempunyai kekuasaan) memperoleh manfaat pribadi dengan mengorbankan
kepentingan publik yang lebih luas (Ackerman 1999).3,4
Secara universal, korupsi telah menyebar dan mengakar di Negara manapun di dunia,
berbagai bentuk korupsi yang tumbuh dan berkembang pada tiap-tiap Negara merupakan
suatu hasil budaya yang terklasifikasikan sebagai bad culture, atau hasil budaya yang tidak
sesuai dengan nilai-nilai etika dalam kehidupan sehari-hari, namun tidak terelakkan, seiring
banyaknya pelaku dari bad culture tersebut, maka lama-kelamaan budaya yang buruk ini
menjelma menjadi suatu kebiasaan yang dianggap wajar oleh masyarakat
Korupsi di Indonesia telah menjadi gejala yang sistemik sehingga menjadi sumber
crisis of governance yang belum mampu ditangani oleh siapapun yang menjadi pucuk
2

pemerintahan di Indonesia. Di sisi lain perkembangan ekonomi global yang ditandai dengan
kompetisi tinggi antar negara menuntut kesiapan sumber daya dan perangkat kelembagaan
serta hukum publik yang mendukung pasar yang sehat. Karena itu pemberantasan korupsi
menjadi keharusan jika suatu negara ingin survive dan diperhitungkan dalam kancah tatanan
ekonomi politik internasional. Dengan kata lain, pemerintahan yang bersih saat ini menjadi
prasyarat mendasar bagi kelangsungan hidup suatu negara.5,6
Dan mengingat korupsi merupakan gejala multifacet,

maka untuk mengobati

penyakit korupsi harus diidentifikasi terlebih dahulu apa saja akar penyebabnya. Dengan
mengenal sumber penyebabnya akan ditemukan strategi yang tepat untuk memberantas
penyakit korupsi.7,8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Korupsi berasal dari bahasa Latin corruptio dari kata kerja corrumpere yang memiliki
arti busuk, rusak, menyogok, menggoyahkan, memutarbalik. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia arti kata korupsi adalah penyelewengan atau untuk keuntungan pribadi atau orang
lain.9
Menurut perspektif hukum, pengertian korupsi secara gamblang dijelaskan dalam UU
No 31 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam
ketentuan peraturan lebih ditekankan pada perbuatan yang merugikan kepentingan
publik atau masyarakat luas untuk kepentingan pribadi atau golongan.10
Menurut Syed Husein Alatas (1986) yang termasuk dalam pengertian korupsi adalah :

apabila seorang pegawai negeri menerima pemberian yang disodorkan oleh seseorang
dengan maksud mempengaruhinya agar memberi perhatian istimewa pada
kepentingan-kepentingan si pemberi (disebut menyogok atau bribery)

pemerasan, yakni permintaan pemberian atau hadiah dalam pelaksanaan tugas-tugas


publik (graft)

pejabat yang menggunakan dana publik bagi keuntungan mereka sendiri

pengangkatan sanak saudara atau famili (nepotisme) , teman-teman atau rekan politik
(kronisme) pada jabatan-jabatan publik tanpa memandang jasa mereka maupun
konsekuensinya pada kesejahteraan publik atau disebut nepotisme.

Adapun ciri-ciri korupsi, antara lain:11,12


1. Melibatkan lebih dari satu orang. Setiap perbuatan korupsi tidak mungkin dilakukan
sendiri, pasti melibatkan lebih dari satu orang.Bahkan, pada perkembangannya acapkali
dilakukan secara bersama-sama untuk menyulitkan pengusutan
2. Serba kerahasiaan. Meski dilakukan bersama-sama, korupsi dilakukandalam koridor
kerahasiaan yang sangat ketat. Masing-masing pihak yangterlibat akan berusaha
semaksimal mungkin menutupi apa yang telahdilakukan.
3. Melibat elemen perizinan dan keuntungan timbal balik. Yang dimaksudelemen perizinan
adalah bidang strategis yang dikuasai oleh negaramenyangkut pengembangan usaha
tertentu. Misalnya izin mendirikanbangunan, izin perusahaan,dan lain-lain.
4. Selalu berusaha menyembunyikan perbuatan/maksud tertentu dibalik kebenaran.

5. Koruptor menginginkan keputusan-keputusan yang tegas dan memilikipengaruh.


Senantiasa berusaha mempengaruhi pengambil kebijakan agarberpihak padanya.
Mengutamakan kepentingannya dan melindungisegala apa yang diinginkan.
6. Tindakan korupsi mengundang penipuan yang dilakukan oleh badan hukum publik dan
masyarakat umum. Badan hukum yang dimaksudsuatu lembaga yang bergerak dalam
pelayanan publik atau penyediabarang dan jasa kepentingan publik.
7. Setiap tindak korupsi adalah pengkhianatan kepercayaan. Ketika seseorang berjuang
meraih kedudukan tertentu, dia pasti berjanji akan melakukan hal yang terbaik untuk
kepentingan semua pihak. Tetapisetelah mendapat kepercayaanm kedudukan tidak pernah
melakukan apayang telah dijanjikan.
8. Setiap bentuk korupsi melibatkan fungsi ganda yang kontradiktif darikoruptor sendiri.
Sikap dermawan dari koruptor yang acap ditampilkan di hadapan publik adalah bentuk
fungsi ganda yang kontradiktif. Di satupihak sang koruptor menunjukkan perilaku
menyembunyikan tujuanuntuk menyeret semua pihak untuk ikut bertanggung jawab, di
pihak lain dia menggunakan perilaku tadi untuk meningkatkan posisi tawarannya.
Tanggung jawab menurut kamus umum Bahasa Indonesia adalah, keadaan wajib
menanggung segala sesuatunya.Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku
atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak di sengaja. Tangung jawab juga berarti
berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.12,13,14
Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan yang
disengaja maupun yang tidak di sengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai
perwujudan kesadaran akan kewajiban.15,16,17
Difinisi moral ialah tingkah laku yang telah ditentukan oleh etika, iaitu menunjukkan
sesuatu perkara yang baik atau buruk di dalam diri seseorang itu. Seseorang yang bermoral
itu adalah yang mempunyai perilaku dan tindak tanduk yang baik dan luhur. Dalam ertikata
yang lainnya moral meletakkan perbuatan yang baik-baik di dalam diri seseorang individu
itu. Menurut istilah, moral berasal daripada bahasa latin iaitu moralis atau mores iaitu jamak
kepada perkataan mos yang bererti kebiasaan iaitu perbuatan, budi pekerti dan perangai.
Dictionary of Education menyatakan bahawa moral ialah suatu istilah yang digunakan untuk
menentukan batas-batas sifat,perangai,kehendak, pendapat atau perbuatan secara layak dapat
dikatakan benar, salah, baik, atau buruk.17,18,19,20

Moral bermaksud concerned with principles of right and wrong behavior (Oxford
Advanced Learners Dictionary: 2005). Manakala dalam kamus dewan (1986) pula, moral
bermaksud ajaran atau pegangan berkenaan baik buruk sesuatu perbuatan atau yang berkaitan
dengan betul atau salah. Moral berasal dari bahasa latin iaitumor alitas yang bermaksud adat,
kebiasaan sopan, tradisi, budi pekerti, dan sebagainya yang mempunyai kaitan dengan
peraturan dan piawaian dalam sesebuah masyarakat.21,22,23
2.2. Faktor faktor Penyebab Korupsi
Steve Bosserman (2005) mengilustrasikan di dalam tulisannya:24,25

Ilustrasi ini merupakan suatu gambaran mengenai terjadinya korupsi di dalam


masyarakat, yang pada bekerjasama dengan anggota masyarakat lainnya dalam membangun
suatu masyarakat yang ideal. Sedangkan tamak akan materi, akan menimbulkan suatu
ketidaktakutan untuk melakukan tindakan-tindakan yang korupdasarnya adalah salah satu
bagian dari sifat-sifat manusiawi yang dasar. Bahwa manusia memiliki 2 (dua) kepentingan
yakni dengan masyarakat lainnya melalui nilai-nilai yang ideal dan prinsip-prinsip yang
mulia, dan dengan materi yang menimbulkan suatu ketergantungan atas benda atau keadaan
tertentu.15,26
Manusia sendiri memiliki 2 (dua) sikap dasar yakni takut atau tamak. Takut akan
melakukan suatu tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ideal dan prinsip-prinsip
yang mulia menimbulkan suatu hasrat untuk.22,27
Korupsi yang terjadi di lingkup birokrasi merupakan gejala yang komplek yang
didorong oleh berbagai faktor yang saling terkait satu sama lain, karena itu korupsi disebut
6

sebagai multi-faceted social problems. Dari berbagai faktor penyebab korupsi

pada

dasarnya dapat dikelompokkan menjadi penyebab kultural, struktural, dan individual.28,19


Salah satu faktor kultural yang banyak digunakan untuk memahami kasus korupsi di
negara sedang berkembang adalah faktor budaya politik setempat. Birokrasi di Indonesia
menunjukkan ciri-ciri campuran antara birokrasi feodal yang merupakan ciri dari
pemerintahan kerajaan dan birokrasi rasional yang diperkenalkan ke Indonesia oleh
pemerintah kolonial Belanda. Birokrasi yang merupakan campuran antara unsur-unsur
birokrasi barat dan unsur-unsur yang bersumber dari budaya politik kerajaan oleh Max Weber
diistilahkan sebagai Birokrasi Patrimonial. The patrimonial office lacks above all the
bureaucratic separation of the private and the official sphere. For the political
administration, too, is treated as purely personal affair of the ruler, and political power is
considered part of his personal property His exercise of power is therefore entirely
discreationary (Max Weber 1978 : 1029).29,30
Seorang pemimpin dalam birokrasi bertipe patrimonial punya kecenderungan untuk
menganggap kekuasaan politik sebagai bagian dari milik pribadi, sehingga dalam
penggunaannya banyak melakukan diskresi. Pemahaman atau persepsi pemimpin terhadap
kekuasaan akan mempengaruhi perilaku kepemimpinannya. Budaya patrimonial yang
menganggap kekuasaan sebagai milik pribadi ini cocok untuk menggambarkan budaya politik
feodal pada masa kerajaan di Indonesia terutama Jawa. Pemahaman dan persepsi raja-raja di
Jawa yang menganggap kekuasaan sebagai miliknya mempengaruhi kepemimpinan mereka.
Gaya kepemimpinan yang muncul adalah kepemimpinan yang cenderung otoriter dan
sentralistis, dalam arti kekuasaan terpusat di tangan pemimpin sedang bawahan dianggap
sebagai hamba ataupun anak yang harus menurut bapak . Dalam kondisi semacam ini apabila
pucuk pimpinan atau pemegang kekuasaan tidak punya kualitas moral dan integritas yang
tinggi, maka akan mudah menggunakan kekuasaannya secara sewenang-wenang atau untuk
kepentingan keluarga atau kelompoknya sendiri, salah satunya adalah korupsi dan nepotisme.
Dan apabila atasannyanya seorang yang korup, dapat dipastikan anak-anaknya (bawahannya)
akan berkiblat pada perilaku atasan, entah itu karena alasan hormat atau takut ataupun karena
kelemahan moral bawahan itu sendiri.22.23

Faktor budaya lainnya yang mendorong timbulnya korupsi adalah :14

1. Adanya tradisi pemberian hadiah, oleh-oleh atau semacam itu kepada pejabat
pemerintah. Tindakan semacam ini di Eropa dan Amerika Utara dianggap korupsi, tetapi
di kebanyakan negara Asia tidak. Bahkan pemberian seperti ini bisa dianggap sebagai
bentuk pemenuhan kewajiban kawula kepada gustinya.
2. Sangat pentingnya ikatan keluarga dan kesetiaan parokial lainnya. Dalam masyarakat
seperti Indonesia , kewajiban seseorang pertama-tama adalah memperhatikan saudara
terdekatnya, kemudian trah atau sesama etniknya. Sehingga seorang saudara yang
mendatangi seorang pejabat untuk minta perlakuan khusus sulit untuk ditolak. Penolakan
bisa diartikan sebagai pengingkaran terhadap kewajiban tradisional. Tetapi menuruti
permintaan berarti mengingkari norma-norma hukum formal yang berlaku, yaitu hukum
Barat. Sehingga selalu terjadi konflik nilai, yaitu antara pertimbangan kepentingan
keluarga atau kepentingan publik/negara (Mochtar Masoed,1994).
Korupsi juga didorong oleh faktor struktural utamanya faktor pengawasan. Semakin
efektif sistem pengawasan, akan semakin kecil kemungkinan peluang terjadinya korupsi dan
kolusi. Sebaliknya bila korupsi dan kolusi dipraktekan secara luas berarti ada yang salah
dalam sistem pengawasan. Sebagaimana yang terjadi dalam birokrasi di Indonesia, walaupun
lembaga-lembaga pengawasan fungsional telah dibangun berlapis-lapis, lembaga-lembaga itu
umumnya tidak mampu mengemban fungsinya dengan baik. Padahal, diluar lembagalembaga pengawasan fungsional internal itu terdapat lembaga-lembaga pengawasan
eksternal, seperti Badan Pengawasan Keuangan dan Dewan Perwakilan Rakyat.18
Lemahnya pengawasan terjadi karena pengaruh dua faktor struktural berikut :11,16
1. Posisi dominan birokrasi pemerintah sebagai sumber utama barang, jasa dan lapangan
kerja dan sebagai pengatur kegiatan ekonomi; dan
2. Dominasi negara yang mengerdilkan kekuatan lain dalam masyarakat.
(Mochtar Masoed, 1994)
Masoed menyatakan bahwa dominasi negara yang nampak dari ketimpangan antara
birokrat dan rakyat dalam hal status, pendidikan, dan pemilikan informasi menimbulkan dua
konsekuensi. Pertama, pejabat bisa membuat keputusan sewenang-wenang tanpa bisa
dihukum dan bisa minta uang semir atau sogokan lain dari masyarakat. Kedua, si warga yang
lemah akan lebih sering menawarkan sogokan dengan harapan bisa merubah perilaku birokrat
yang menjaga jarak agar lebih mendekat padanya dan menjadi patronnya, sehingga si warga
bisa memperoleh keuntungan diistimewakan dalam urusan dengan pemerintah.23,28

Alfiler (1986) secara rinci mengemukakan berbagai faktor struktural penyebab


korupsi, yaitu :24

Tingkat kompensasi atau gaji pegawai negeri yang tidak mencukupi atau tidak
realistis

Lemahnya kontrol terhadap wilayah atau bagian yang rawan korupsi

Kurangnya standard kinerja untuk mengukur keberhasilan kerja pegawai atau


lembaga

Buruknya prosedur rekruitmen dan seleksi pegawai

Terlalu banyak red tape di dalam prosedur birokrasi dan ketaatan yang berlebihan
pada hukum dan regulasi

Kondisi dan fasilitas kerja yang buruk

Kurangnya informasi ke masyarakat

Ketergantungan pegawai pada patronase dan keinginan untuk menjaga hubungan baik
dengan atasan dan kolega

Lemahnya kepemimpinan birokrasi sehingga tidak bisa menjadi panutan bagi disiplin
dan integritas pegawai
Dari berbagai faktor struktural penyebab korupsi, faktor rendahnya tingkat gaji

pegawai negeri merupakan kenyataan umum di banyak negara sedang berkembang


(Alfiler,1986). Di Indonesia, gaji pegawai negeri tidak cukup untuk hidup sebulan. Tidak
cukupnya gaji akan melahirkan korupsi tingkat rendah. Namun dengan perbaikan gaji tidak
berarti korupsi akan hilang. Bahkan logikanya bisa dibalik, tidak cukupnya gaji pegawai
negeri disebabkan oleh adanya korupsi pemerintah. Pemerintah Indonesia akan mempunyai
cukup uang untuk menggaji pegawai negerinya bila pajak dibayar semestinya secara jujur.
Korupsilah yang mengeringkan sumber-sumber pemerintah. Perbaikan struktur pajak atau
peraturan administratif tidak akan menyelesaikan masalah selagi orang-orang yang terlibat
didalamnya tetap korup (Syed Husein Alatas 1987 :169).25,16
Faktor rendahnya gaji hanya dapat menjelaskan korupsi pada tingkat street level
bureaucrats, tidak untuk korupsi yang canggih atau kolusi tingkat tinggi. Susan Rose
Ackerman (1999) menyatakan ada dua tipe korupsi yakni korupsi tingkat tinggi yang
melibatkan pejabat tinggi Negara (biasanya) dengan perusahaan multinasional atau
perusahaan raksasa dalam negeri dan korupsi yang endemik dalam kegiatan pemerintahan
sehari-hari seperti pemungutan pajak, lisensi dan perijinan. Diantara kedua tipe korupsi
9

tersebut, korupsi yang terjadi dalam privatisasi, tender dan konsensi yang melibatkan pejabat
dan perusahaan ekonomi raksasa yang paling banyak memberi kontribusi terhadap kerusakan
ekonomi negara.29
Faktor penyebab korupsi lainnya yang sangat menentukan menurut Alfiler

adalah

faktor individual yaitu rendahnya tingkat moral dan integritas pegawai dan para pemimpin
kunci. Faktor individual ini menurut Syed Husein Alatas, lebih cocok untuk konteks Asia
daripada faktor struktur.
Jika kita perhatikan, pada pemerintah Indonesia bukanlah undang-undang dan
peraturan yang tidak ada melainkan faktor-faktor yang ada diluar struktur
pemerintahan. Jika orang-orang yang korup menguasai pemerintahan yang apapun
strukturnya, struktur tersebut niscaya akan tercemarSebaliknya, pada struktur
macam apapun, jika jenis posistif dan bermoral yang berkuasa., niscaya mereka akan
membiakkan diri dan mempertahankan kekuasaan mereka. Di sepanjang sejarah,
kekuasaan lebih banyak dipegang oleh homo venalis dari pada homo moralis (1997 :
164-165).
Faktor-faktor diatas adalah sebagian dari banyaknya faktor penyebab korupsi, yang
apabila berdiri sendirian tidak cukup untuk menjelaskan fenomena korupsi. Berbicara
mengenai penyebab korupsi, kita akan berputar dari satu faktor ke faktor lainnya seperti
lingkaran setan (vicious circle) yang tiada putusnya. Sebagaimana dikatakan Braibanti (dalam
Syed Husein Alatas, 1975) faktor-faktor itu terletak pada fakta bahwa semuanya itu
tiada lain adalah elemen-elemen dalam suatu matriks ruwet tentang sebab-sebab yang arti
penting masing-masing berbeda menurut ruang, waktu dan keadaan sekeliling .22
Faktor kultural, struktural maupun individual menjadi penyebab terjadinya korupsi di
banyak masyarakat. Namun mengapa ada negara yang mampu menahan desakan korupsi dan
ada yang tidak , ada negara yang relatif bersih dan ada negara yang dikategorikan korup.
Untuk menjawab pertanyaan ini harus diperhatikan adanya variabel penengah yang
berupa sifat pelembagaan politik (Mohtar Masoed, 1994). Hubungan antara desakan untuk
korupsi (variabel penyebab) dengan terjadinya korupsi (variabel akibat) sebenarnya tidak
langsung, tetapi ditengahi oleh sifat pelembagaan politik. Dalam masyarakat yang
menjalankan satu jenis pelembagaan politik tertentu desakan kultural dan struktural ke arah
korupsi mungkin betul-betul menimbulkan tindak korupsi , tetapi dalam masyarakat dengan
jenis pelembagaan politik lain mungkin desakan itu tidak menimbulkan tindakan korupsi.23
10

Penelitian James Scott (dalam Mochtar Masoed : 1994) menunjukkan bahwa dalam
masyarakat dengan ciri pelembagaan politik eksklusif dimana kompetisi politik dibatasi pada
lapisan tipis elit dan perbedaan antar elit lebih didasarkan pada klik pribadi dan bukan pada
isu kebijakan, umumnya desakan kultural dan struktural untuk korupsi itu betul-betul
terwujud dalam tindakan korupsi para pejabatnya.11,12
Sedangkan bentuk pelembagaan politik inklusif dengan nilai-nilai politik yang
mampu menahan atau mengontrol kecenderungan korupsi para pejabat birokrasinya
menunjukkan adanya pemberian kesempatan pada rakyat untuk mempengaruhi proses
pembuatan keputusan pemerintahnya. Ini membuat birokrasi harus selalu bertanggungjawab
pada rakyatnya. Yang lain adalah upaya mengembangkan sangsi sosial dalam masyarakat,
misalnya budaya malu. Berbeda dengan sangsi hukum, pengembangan sangsi sosial yang
efektif akan lebih menghemat sumberdaya pemerintah karena tidak harus menyediakan
sarana ancaman paksaan.22

Selain pendapat Scott di atas, ada beberapa teori yang menganalisis perilaku korupsi.
Misalnya, Robert Klitgaard (dalam Hamid Awaludin, 2001) menjelaskan proses terjadinya
korupsi dengan formulasi M+DA=C. Simbol M adalah monopoly, D adalah discretionary
(kewenangan), A adalah accountability (pertanggungjawaban). Jadi korupsi adalah hasil dari
adanya monopoli (kekuasaan) ditambah dengan kewenangan yang begitu besar tanpa
keterbukaan dan pertanggungjawaban.24

11

Ramirez Torres mengemukakan rumus terjadinya korupsi Rc > Pty X Prob.

Rc

adalah Reward atau Result Corruption (hasil dari korupsi), Pty adalah Penalty (hukuman),
dan Prob adalah Probability of being detected/caught (kemungkinan tertangkap). Jadi aparat
pemerintah tergiur untuk melakukan korupsi, jika jumlah uang yang didapat dari korupsi
lebih besar dari hukuman/sanksi yang diperoleh dan peluang dirinya ditangkap akibat
perbuatannya (Pty).16,17
Dengan memakai pisau analisis teori dari Scott, Klitgaard dan Torres dapat
disimpulkan bahwa korupsi di Indonesia terjadi karena faktor individual, kultural dan
structural yang didukung dengan pelembagaan politik yang eksklusif yang ditandai dengan
monopoli kepemerintahan di lapisan elite pemerintahan tanpa ada pertanggungjawaban
publik dan masyarakat sipil yang berdaya serta sangsi hukum yang tegas bagi koruptor.22

2.3. Macam-macam Korupsi


1. Korupsi transaktif
Korupsi jenis ini ditandai adanya kesepakatan timbal balik antara pihak yang memberi
dan menerima demi keuntungan bersama, dan kedua pihak sama-sama aktif
menjalankan perbuatan tersebut.
Contohnya :
a. Penunjukan langsung pproyek yang seharusnya melalui tender
b. Penjualan aset pemerintah dengan harga murah
2. Korupsi Investif
korupsi investif adalah korupsi yang melibatkan suatu penawaran barang atau jasa
tanpa adanya pertalian langsung dengan keuangan tertentubagi pemberi, selain
keuntungan yang diharapkan akan diperoleh di masa datang.
Contohnya :
Pejabat meminta balas budi pengusaha yang mendapatkan proyek . Kebiasaaan ini
membuat pengusaha selalu menyisihkan sebagian dana proyek dengan mengurangi
kualitas proyek untuk biaya entertainment (hiburan) ini.
3. Korupsi Ekstroktif
korupsi kategori ini menyatakan bentuk-bentuk koersi (paksaan)
tertentu di mana pihak pemberi dipaksa untuk guna mencegah kerugian yang
mengancam dirinya, kepentingan, kelompok , atau hal-hal berharga miliknya.
12

Contohnya :
Seorang pemimpin proyek secara langsung maupun tidak mendapat tekanan untuk
menyetor sejumlah uang kepada pejabat di atasnya. Jika tidak, ia bisa kehilangan
kesempatan untuk menjadi pimpinan pada proyek-proyek berikutnya.
4. Korupsi Nepotistik
Korupsi nepotistik berupa pemberian perlakuan khusus kepada teman atau mereka
yang mempunyai kedekatan hubungan dalam rangkamenduduki jabatan republik.
Contohnya :
Anak atau keluarga pejabat mendapat jatah proyek paling banyak , juga memiliki
peran besar dalam mengatur siapa yang layak melaksanakan proyek-proyek
pemerintah.
5. Korupsi Autogenetik
Korupsi autogenetik adalah korupsi yang di lakukan individu karena memiliki
kesempatan untuk mendapat keuntungan dari pengetahuan dan pemahamnya atas
sesuatu yang hanya diketahui seorang diri.
Contohnya :
seorang penjabat penting melakukan klaim biaya perjalanan dinas tahunan dengan
jumlah hari melebihi jumlah hari dalam setahun.
2.4. Dampak yang Diakibatkan oleh Tindak Pidana Korupsi
1. Bidang Demokrasi
Korupsi menunjukan tantangan serius terhadap pembangunan didalam dunia politik.
Korupsi mempersulit demokrasi dan tata pemerintahan yang baik (good governance)
dengan cara menghancurkan proses formal. Korupsi di pemilihan umum dan di badan
legislatif mengurangi akuntabilitas dan perwakilan di dalam pembentukan
kebijaksanaan. Secara umum, korupsi mengikis kemampuan institusi dari pemerintah,
karenapengabaian prosedur, penyedotan sumber daya, dan pejabat diangkat atau
dinaikan jabatannya bukan karena prestasi.17
2. Bidang Ekonomi
Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dan mengurangi kualitas pelayanan
pemerintahan. Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dengan membuat
distorsi dan ketidak efisienan yang tinggi. Dalam sektor privat, korupsi meningkatkan
ongkos niaga karena kerugian dari pembayaran ilegal, ongkos manajemen dalam
negosiasi dengan pejabat korup, dan risiko pembatalan perjanjian atau karena

13

penyelidikan. Korupsi juga mengurangi pemenuhan syarat-syarat keamanan


bangunan, lingkungan hidup, atau aturan-aturan lain. Korupsi juga mengurangi
kualitas pelayanan pemerintahan dan infrastruktur, dan menambahkan tekanantekanan terhadap anggaran pemerintah.20
3. Bidang Kesejahteraan Negara
Korupsi politis ada dibanyak negara, dan memberikan ancaman besar bagi warga
negaranya. Korupsi politis berarti kebijaksanaan pemerintah sering menguntungkan
pemberi sogok, bukannya rakyat luas. Satu contoh lagi adalah bagaimana politikus
membuat peraturan yangmelindungi perusahaan besar, namun merugikan perusahaanperusahaan kecil (SME). Politikus-politikus "pro-bisnis" ini hanya mengembalikan
pertolongan kepada perusahaan besar yang memberikan sumbangan besar kepada
kampanye pemilu mereka.6
2.5. Upaya yang Dilakukan untuk Memberantas Korupsi
Korupsi tidak dapat dibiarkan berjalan begitu saja kalau suatu negara ingin mencapai
tujuannya, karena kalau dibiarkan secara terus menerus, maka akan terbiasa dan menjadi
subur dan akan menimbulkan sikap mental pejabat yang selalu mencari jalan pintas yang
mudah dan menghalalkan segala cara (the end justifies the means). Untuk itu, korupsi perlu
ditanggulangi secara tuntas dan bertanggung
jawab.19
A.T. Rafique Rahman (1986) mengemukakan empat strategi untuk memerangi
korupsi yaitu : 1) hesistant-environmental, 2) determined-environmental, 3) hesistantinstitutional, 4) determined-institutional. Masing-masing strategi ini menggambarkan sifat
komitmen pemerintah yakni tindakannya lunak atau tegas (hesistant atau determined) dan
preferensi pada salah satu jenis ukuran (strategi atau cara) anti korupsi yakni lingkungan atau
kelembagaaan (environmental atau institutional). Kriteria lingkungan (environmental)
menekankan pada aspek moral dan sosial dalam memerangi korupsi, misalnya melalui
gerakan-gerakan anti korupsi, proyek penyadaran masyarakat, program penanaman nilai-nilai
anti korupsi pada anak-anak, dan sebagainya. Kriteria institusional lebih bergantung pada
prosedur administratif dan hukum atau adanya ancaman hukuman yang tegas pada para
koruptor.29
Hesitant-environmental strategy adalah strategi memerangi korupsi melalui gerakan
moral yang bersifat di luar kerangka legal-konstitusional. Strategi semacam ini ditandai oleh
komitmen emosional yang tinggi pada upaya-upaya menekan atau menghapus tindak korupsi.
14

Bentuk-bentuk tindakannya biasanya berupa program gerakan atau kampanye massa yang
diarahkan untuk meningkatkan rasa anti atau benci korupsi, sehingga orang menghindari dan
mengutuk perilaku korup. Biasanya strategi ini tidak terencana dan berbagai komponennya
tidak terintegrasi dengan baik. Selain itu, ukuran-ukuran anti korupsi bersifat ad hoc dan
tergantung situasi atau momen. Gerakan moral anti korupsi biasa digalakkan oleh pemimpin
politik pada saat kampanye pemilu. Karena itu penggerak utama strategi ini adalah tokohtokoh karismatik atau pemimpin gerakan massa atau tokoh-tokoh agama.23
Determined-environmental strategy adalah strategi gerakan moral yang direncana,
diintegrasikan dan diimplementasikan dengan baik. Sifat dan fokus strateginya sama dengan
strategi lingkungan pada umumnya yakni menekankan pada aspek moral dan nilai dan
fokusnya pada meningkatkan kesadaran moral individu, kelompok, dan masyarakat umum
tentang dampak buruk perilaku korup. Hanya dalam strategi ini ukuran-ukuran anti
korupsinya jelas dan dikembangkan secara sistemik dari berbagai kelompok sosial. Upaya
yang sistematis dilakukan dengan menanamkan nilai-nilai korupsi di berbagai lembaga
(sekolah, keluarga, dan berbagai komunitas) dan struktur yang kebanyakan non birokrasi.27
Kelemahan strategi pendekatan lingkungan, baik yang lunak maupun yang tegas
adalah hanya menekankan pada aspek moral atau ukuran-ukuran sosial, ekstra legal (di luar
hukum dan non birokratis. Strategi ini kurang atau tidak berupaya untuk mengembangkan
danmemperkuat badan-badan anti korupsi, penelitian tentang sebab-sebab rendahnya kinerja
birokrat, merumuskan ukuran-ukuran kontrol formal dan informal terhadap pejabat puncak
birokrasi melalui pembentukan prosedur dan regulasi tertentu.10
Hesitant-institutional strategy adalah strategi yang menekankan pada ukuran-ukran
kelembagaan. Ukuran-ukuran yang biasa dipakai adalah (a)menciptakan hukum atau undangundang anti korupsi; (b) mendirikan biro keluhan masyarakat untuk memfasilitasi kerja sama
dan partisipasi masyarakat dalam memerangi korupsi; (c) mempelopori kampanye anti
korupsi dan program pendidikan publik melalui media massa. Kelemahan yang melekat pada
strategi ini antara lain : kurang mengupayakan perubahan kebijakan, prosedur dan lembaga
dasar administrasi (misalnya menciptakan dan membiayai badan anti korupsi yang
independen), menghapus norma-norma administrasi yang longgar, pengenalan sistem
pelatihan dan rekruitmen yang dapat mencegah korupsi pada tingkat paling awal;
inkonsistensi dalam ukuran-ukuran lembaga, prosedur dan kebijakan anti korupsi, dan adanya

15

unsur-unsur simbolisme dalam ukuran-ukuran anti korupsi tanpa ada pengurangan yang
signifikan pada luas dan tingkat korupsi.12
Determined-institutional strategy adalah strategi yang ditandai oleh ukuran-ukuran
yang sistematis dan terkoordinir untuk mendeteksi dan menghukum perilaku korup maupun
mengeliminasi atau mengurangi berbagai sumber atau penyebab korupsi. Dengan strategi ini,
klas penguasa dikendalikan oleh lingkungan sosial yang merancang ukuran-ukuran
prosedural, organisasi, hukum, dan kelembagaan untuk benar-benar menghapus korupsi.
Strategi anti korupsi benar-benar dijalankan secara konsisten dan permanen dengan
menerapkan sangsi yang sangat tegas. Strategi ini meliputi : (a) menetapkan badan anti
korupsi yang independen dari pengaruh kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif, (b)
sistem insentif dan hukuman untuk memaksakan implementasi ukuran anti korupsi; (c) sistem
pemerintahan yang terbuka: (d) upaya yang sistematis untuk mereformasi sistem, prosedur,
dan praktek untuk mengurangi secara drastis praktek korupsi; (e) mass media yang bebas
sehingga bisa menjadi media kontrol publik. 2,17
Dalam kasus Indonesia, korupsi sudah pada tingkatan sistemik. Korupsi tidak hanya
pada tingkatan petty corruption, tapi sudah pada level grand dan state capture. Korupsi
dilakukan bareng-bareng mulai semua pejabat di puncak struktur sampai pegawai terendah di
semua jajaran lembaga negara ( eksekutif, legislatif dan yudikatif). Karena itu ,
pemberantasan korupsi di Indonesia harus dilakukan secara struktural dan individual, secara
kelembagaan dan lingkungan. Dan karena korupsi sudah seperti kanker yang menyebar dan
menjerat seluruh organ masyarakat, maka pemberantasan korupsi harus dimulai dengan
reformasi sosial dan mental seluruh komponen masyarakat. Untuk itu dibutuhkan pemimpinpemimpin yang punya tekad kuat dan sungguh-sungguh. Jadi pemberantasan korupsi tidak
hanya berhenti sebagai lip service ataupun sebagai komoditas politik menjelang pemilu
saja, tapi sungguh-sungguh menjadi kekuatan politik yang hendak diwujudnyatakan. Untuk
tingkatan korupsi di Indonesia, strategi penanggulangan yang efektif adalah determinedinstitutional strategy atau penegakan hukum yang tegas dengan menjatuhkan sangsi hukum
yang berat pada semua pelaku korupsi.18

Ada beberapa upaya penggulangan korupsi yang ditawarkan para ahli yang
masing-masing memandang dari berbagai segi dan pandangan.
Caiden (dalam Soerjono, 1980) memberikan langkah-langkah untuk

16

menanggulangi korupsi sebagai berikut :19


a. Membenarkan transaksi yang dahulunya dilarang dengan menentukan sejumlah
pembayaran tertentu.
b. Membuat struktur baru yang mendasarkan bagaimana keputusan dibuat.
c. Melakukan perubahan organisasi yang akan mempermudah masalah pengawasan
dan pencegahan kekuasaan yang terpusat, rotasi penugasan, wewenang yang saling
tindih organisasi yang sama, birokrasi yang saling bersaing, dan penunjukan instansi
pengawas adalah saran-saran yang secara jelas diketemukan untuk mengurangi
kesempatan korupsi.
d. Bagaimana dorongan untuk korupsi dapat dikurangi? dengan jalan meningkatkan
ancaman.
e. Korupsi adalah persoalan nilai. Nampaknya tidak mungkin keseluruhan korupsi
dibatasi, tetapi memang harus ditekan seminimum mungkin, agar beban korupsi
organisasional maupun korupsi sestimik tidak terlalu besar sekiranya ada sesuatu
pembaharuan struktural, barangkali mungkin untuk mengurangi kesempatan dan
dorongan untuk korupsi dengan adanya perubahan organisasi.
Cara yang diperkenalkan oleh Caiden di atas membenarkan (legalized) tindakan yang
semula dikategorikan kedalam korupsi menjadi tindakan yang legal dengan adanya pungutan
resmi. Di lain pihak, celah-celah yang membuka untuk kesempatan korupsi harus segera
ditutup, begitu halnya dengan struktur organisasi haruslah membantu kearah pencegahan
korupsi, misalnya tanggung jawab pimpinan dalam pelaksanaan pengawasan melekat, dengan
tidak lupa meningkatkan ancaman hukuman kepada pelaku-pelakunya.15
Selanjutnya, Myrdal (dalam Lubis, 1987) memberi saran penaggulangan korupsi yaitu
agar pengaturan dan prosedur untuk keputusan-keputusan administratif yang menyangkut
orang perorangan dan perusahaan lebih disederhanakan dan dipertegas, pengadakan
pengawasan yang lebih keras, kebijaksanaan pribadi dalam menjalankan kekuasaan
hendaknya dikurangi sejauh mungkin, gaji pegawai yang rendah harus dinaikkan dan
kedudukan sosial ekonominya diperbaiki, lebih terjamin, satuan-satuan pengamanan
termasuk polisi harus diperkuat, hukum pidana dan hukum atas pejabat-pejabat yang korupsi
dapat lebih cepat diambil. Orang-orang yang menyogok pejabat-pejabat harus ditindak pula.
Persoalan korupsi beraneka ragam cara melihatnya, oleh karena itu cara
pengkajiannya pun bermacam-macam pula. Korupsi tidak cukup ditinjau dari segi deduktif
saja, melainkan perlu ditinaju dari segi induktifnya yaitu mulai melihat masalah praktisnya
(practical problems), juga harus dilihat apa yang menyebabkan timbulnya korupsi.15
17

Kartono (1983) menyarankan penanggulangan korupsi sebagai berikut :


1. Adanya kesadaran rakyat untuk ikut memikul tanggung jawab guna melakukan
partisipasi politik dan kontrol sosial, dengan bersifat acuh tak acuh.
2. Menanamkan aspirasi nasional yang positif, yaitu mengutamakan kepentingan
nasional.
3. Para pemimpin dan pejabat memberikan teladan, memberantas dan menindak
korupsi.
4. Adanya sanksi dan kekuatan untuk menindak, memberantas dan menghukum tindak
korupsi.
5. Reorganisasi dan rasionalisasi dari organisasi pemerintah, melalui penyederhanaan
jumlah departemen, beserta jawatan dibawahnya.
6.

Adanya sistem penerimaan pegawai yang berdasarkan achievement dan bukan


berdasarkan sistem ascription.

7. Adanya kebutuhan pegawai negeri yang non-politik demi kelancaran administrasi


pemerintah.
8.

Menciptakan aparatur pemerintah yang jujur

9. Sistem budget dikelola oleh pejabat-pejabat yang mempunyai tanggung jawab etis
tinggi, dibarengi sistem kontrol yang efisien.
10. Herregistrasi (pencatatan ulang) terhadap kekayaan perorangan yang mencolok
dengan pengenaan pajak yang tinggi.
Marmosudjono (Kompas, 1989) mengatakan bahwa dalam menanggulangi korupsi,
perlu sanksi malu bagi koruptor yaitu dengan menayangkan wajah para koruptor di televisi
karena menurutnya masuk penjara tidak dianggap sebagai hal yang memalukan lagi.15
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa upaya
penanggulangan korupsi adalah sebagai berikut :19
A. Strategi Preventif
Strategi ini harus dibuat dan dilaksanakan dengan diarahkan pada hal-hal yang
menjadi penyebab timbulnya korupsi. Setiap penyebab yang terindikasi harus dibuat
upaya preventifnya, sehingga dapat meminimalkan penyebab korupsi. Disamping itu
perlu dibuat upaya yang dapat meminimalkan peluang untuk melakukan korupsi dan
upaya ini melibatkan banyak pihak dalam pelaksanaanya agar dapat berhasil
danmampu mencegah adanya korupsi.19
B. Strategi Deduktif
Strategi ini harus dibuat dan dilaksanakan terutama dengan diarahkan agar
apabila suatu perbuatan korupsi terlanjur terjadi, maka perbuatan tersebutakan dapat
18

diketahui dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dan seakurat-akuratnya, sehingga


dapat ditindaklanjuti dengan tepat. Dengan dasar pemikiran ini banyak sistem yang
harus dibenahi, sehingga sistem-sistem tersebut akan dapat berfungsi sebagai aturan
yang cukup tepat memberikan sinyal apabila terjadi suatu perbuatan korupsi. Hal ini
sangat membutuhkan adanya berbagai disiplin ilmu baik itu ilmu hukum, ekonomi
maupun ilmu politik dan sosial.19
C. Strategi Represif
Strategi ini harus dibuat dan dilaksanakan terutama dengan diarahkan untuk
memberikan sanksi hukum yang setimpal secara cepat dan tepat kepada pihak-pihak
yang terlibat dalam korupsi. Dengan dasar pemikiran ini proses penanganan korupsi
sejak dari tahap penyelidikan, penyidikan dan penuntutan sampai dengan peradilan
perlu dikaji untuk dapat disempurnakan di segala aspeknya, sehingga proses
penanganan tersebut dapat dilakukan secara cepat dan tepat. Namun implementasinya
harus dilakukan secara terintregasi. Bagi pemerintah banyak pilihan yang dapat
dilakukan sesuai denganstrategi yang hendak dilaksanakan. Bahkan dari masyarakat
dan parapemerhati / pengamat masalah korupsi banyak memberikan sumbangan
pemikiran dan opini.19
Strategi pemberantasan korupsi secara preventif maupun secara represif antara
lain:27
1. Konsep carrot and stick

yaitu konsep pemberantasan korupsi yang

sederhana yang keberhasilannya sudah dibuktikan di Negara RRC dan


Singapura. Carrot adalah pendapatan netto pegawai negeri, TNI dan Polri yang
cukup untuk hidup dengan standar sesuai pendidikan, pengetahuan,
kepemimpinan,

pangkat

dan

martabatnya,

sehingga

dapat

hidup

layak bahkan cukup untuk hidup dengan gaya dan gagah. Sedangkan
Stick adalah bila semua sudah dicukupi dan masih ada yang berani
korupsi,maka hukumannya tidak tanggung-tanggung, karena tidak ada alasan
sedikitpun untuk melakukan korupsi, bilamana perlu dijatuhi hukuman mati.
2. Gerakan Masyarakat Anti Korupsi yaitu pemberantasan korupsi di Indonesia
saat ini perlu adanya tekanan kuat dari masyarakat luas dengan
mengefektifkan gerakan rakyat anti korupsi, LSM, ICW, Ulama NU dan
Muhammadiyah ataupun ormas yang lain perlu bekerjasama dalam upaya
memberantas korupsi, serta kemungkinan dibentuknya koalisi dari partai
politik untuk melawan korupsi. Selama ini pemberantasan korupsi hanya
19

dijadikan sebagai bahan kampanye untuk mencari dukungan saja tanpa ada
realisasinya dari partai politik yang bersangkutan. Gerakan rakyat ini
diperlukan untuk menekan pemerintah dan sekaligus memberikandukungan
moral agar pemerintah bangkit memberantas korupsi.
3. Gerakan Pembersihan yaitu menciptakan semua aparat hukum (Kepolisian,
Kejaksaan, Pengadilan) yang bersih, jujur, disiplin, dan bertanggungjawab
serta memiliki komitmen yang tinggi dan beranimelakukan pemberantasan
korupsi tanpa memandang status sosial untuk menegakkan hukum dan
keadilan. Hal ini dapat dilakukan dengan membenahi sistem organisasi yang
ada dengan menekankan prosedur structure follows strategy yaitu dengan
menggambar struktur organisasiyang sudah ada terlebih dahulu kemudian
menempatkan orang-orangsesuai posisinya masing-masing dalam struktur
organisasi tersebut.
4. Gerakan Moral yang secara terus menerus mensosialisasikan bahwa korupsi
adalah kejahatan besar bagi kemanusiaan yang melanggar harkatdan martabat
manusia. Melalui gerakan moral diharapkan tercipta kondisi lingkungan sosial
masyarakat yang sangat menolak, menentang, dan menghukum perbuatan
korupsi dan akan menerima, mendukung, dan menghargai perilaku anti
korupsi. Langkah ini antara lain dapat dilakukan melalui lembaga pendidikan,
sehingga dapat terjangkau seluruh lapisan masyarakat terutama generasi muda
sebagai langlah yang efektif membangun peradaban bangsa yang bersih dari
moral korup.
5. Gerakan Pengefektifan Birokrasi yaitu dengan menyusutkan jumlah
pegawai dalam pemerintahan agar didapat hasil kerja yang optimal dengan
jalan menempatkan orang yang sesuai dengan kemampuan dan keahliannya.
Dan apabila masih ada pegawai yang melakukan korupsi, dilakukan tindakan
tegas dan keras kepada mereka yang telah terbukti bersalah dan bilamana
perlu dihukum mati karena korupsi adalah kejahatan terbesar bagi
kemanusiaan dan siapa saja yang melakukan korupsi berarti melanggar harkat
dan martabat kehidupan. Pemerintah setiap negara pada umumnya pasti telah
melakukan langkah-langkah untuk memberantas korupsi dengan membuat
undang-undang.

Indonesia

juga

pemberantasan tindak pidana korupsi.

20

membuat

undang-undang

tentang

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Korupsi adalah suatu tindak pidana yang memperkaya diri yang secara langsung
merugikan negara atau perekonomian negara. Jadi, unsur dalam perbuatan korupsi meliputi
dua aspek. Aspek yang memperkaya diri dengan menggunakan kedudukannya dan aspek
penggunaan uang negara untuk kepentingannya. Adapun penyebabnya antara lain, ketiadaan
dan kelemahan pemimpin, kelemahan pengajaran dan etika, kolonialisme penjajahan,
rendahnya pendidikan, kemiskinan, tidak adanya hukuman yang keras. Korupsi dapat
diklasifikasikan menjadi 5 macam, korupsi transaktif, korupsi investif, korupsi ekstroktif,
korupsi nepotistik, dan korupsi autogenetik. Dampak korupsi dapat terjadi di berbagai bidang
diantaranya, bidang demokrasi, ekonomi, dan kesejahteraan negara.
3.2. Saran
Sikap untuk menghindari korupsi seharusnya ditanamkan sejak dini. Dan pencegahan
korupsi dapat dimulai dari hal yang kecil. Sehingga dapat tercipta generasi yang bertanggung
jawab dan bebas dari tindakan korupsi.

21

DAFTAR PUSTAKA
1. Muzadi, H. 2004. Strategi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Malang :
Bayumedia Publishing.
2. Saleh, Wantjik. 2008. Tindak Pidana Korupsi Di Indonesia. Jakarta : Ghalia
Indonesia.
3. Ackerman, Susan Rose. 1999. Corruption and Government : Causes, Consequences,
and Reform, Cambridge University Press
4. Alfiler, M.A. Concepcion P. , The Process of Bureaucratic Corruption in Asia :
Emerging Pattern, dalam Ledivina V. Carino (Ed.), Bureaucratic Corruption in Asia :
Causes, Consequences and Controls, Quezon City, JMC Press Inc., 1986
5. A.T. Rafique Rahman, Legal and Administrative Measures Against Bureaucratic
Corruption in Asia, dalam Ledivina V. Carino (Ed.), Bureaucratic Corruption in Asia :
Causes, Consequences and Controls, Quezon City, JMC Press Inc., 1986.
6. Hamid Awaluddin, (2001). Korupsi Semakin Ganas, Kompas 16 Agustus
7. Weber, Max . Economic and Society : An Outline of Interpretive Sociology, Volume
Two, Los Angeles, University of California Press, 1978.
8. Mochtar Masoed (1997), Politik, Birokrasi dan Pembangunan, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta
9. Syahrir (2003) , Korupsi di Indonesia : Kanker Terminal. Kompas 17 Maret.
10. Syed Husein Alatas, Sosiologi Korupsi : Sebuah Penjelajahan Dengan Data
11. Kontemporer, Jakarta, LP3ES, 1996.
12. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3800/1/fisip-erika1.pdf diaskes

30

Mei 2012
13. Http://ebookbrowse.com/145-amrul-muzan-ok1-pdf-d381978675
14. http://kumpulanmakalah-cncnets.blogspot.com/2012/02/makalah-korupsi.html

Di

akses pada tanggal 5 mei 2014 pukul 14:15 WIB


15. http://yusdanmohammad.blogspot.com/2012/05/makalah-pkn_4968.html
pada tanggal 5 mei 2014 pukul 14:30 WIB

22

Di

akses

16. http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi Di akses pada tanggal 5 mei 2014 pukul 14:49


WIB
17. http://id.wikipedia.org/wiki/Komisi_Pemberantasan_Korupsi Di akses pada tanggal 5
mei 2014 pukul 15:00 WIB
18. http://hipni.blogspot.com/2011/09/pengertian-analisis-swot.html

Di

akses

pada

tanggal 8 mei 2014 pukul 18:25 WIB


19. http://sosialdasar.blogspot.com/2011/03/manusia-dan-arti-tanggung-jawab.html
20. http://ti-cenatcenut.blogspot.com/2012/07/manusia-dan-tanggung-jawab.html
21. http://www.scribd.com/doc/59849935/Tanggungjawab-Kepada-Diri-Sendiri
22. Holtzapple, Mark T; W Dan Reece. 2011. Concept in Engineering. Jakarta: Kencana
23. Mustofa, Muhammad. kleptokrasi: Persengkongkolan Birokrat-Korporat sebagai Pola
White-Collar Crime di Indonesia. Jakarta: Kencana, 2010.
24. Alfiler, M.A. Concepcion P. , The Process of Bureaucratic Corruption in Asia :
25. A.T. Rafique Rahman, Legal and Administrative Measures Against Bureaucratic
26. Hamid Awaluddin, (2001). Korupsi Semakin Ganas, Kompas 16 Agustus
27. Hartanti, evi. 2006. Tindak Pidana Korupsi. Semarang: Sinar Grafika.
28. Jaya, hermansyah.2008. Memeberantas Korupsi Bersama KPK (Komisi Pemberantas
Korupsi ) Kajian Yuridis Normatif UU Nomor 31 Tahun 1999 Jonto UU Nomor 20
Tahun 2001 Versi UU Nomor 30 Tahun 2002. Jakarta : Sinar Grafika.
29. Wijayanto,dkk.2009. Korupsi mengorupsi Indonesia : sebab, akibat, dan prospek
pemberantasan.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
30. Pope, Jeremy.2003. Strategi memberantas korupsi: elemen sistem integritas
nasional.Jakarta: Yayasan obor Indonesia.

23

24