Anda di halaman 1dari 1

Uji ketoksikan khas ialah uji toksikologi yang dirancang untuk mengevaluasi

secara rinci efek toksik yang khas suatu senyawa atas fungsi organ atau kelenjar
tertentu pada aneka ragam subyek atau hewan uji. Termasuk dalam uji
ketoksikan khas ini meliputi uji potensiasi, uji reproduksi, uji kemutagenikan, uji
kekarsinogenikan, uji kulit dan mata, serta uji perilaku.
Uji potensiasi dikerjakan untuk menentukan kemungkinan peningkatan efek
toksik suatu senyawa dengan hadirnya senyawa lain. Misalnya untuk
mengevaluasi ketoksikan sediaan obat kombinasi. I
Uji reproduksi, dibagi lagi menjadi tiga segmen, yakni uji kesuburan (fertilitas),
uji keteratogenikan, dan uji pranatal serta pascanatal. Pada dasarnya, uji
reproduksi ini dikerjakan untuk menentukan apakah suatu senyawa dapat
mempengaruhi kapasitas reproduksi subyek atau hewan uji tertentu, meliputi
efek atas kesuburan, efek embriotoksik, dan efek teratogenik (cacat bawaan)
sampai generasi ketiga subyek uji.
Uji kemutagenikan dikerjakan untuk menentukan pengaruh suatu senyawa
atas sistem kode genetik. Dengan demikian, uji ini dapat digunakan untuk
mengevaluasi kemungkinan suatu senyawa menyebabkan perubahan, luka, atau
cacat hayati yang sifatnya menurun.
Uji kekarsinogenikan dikerjakan untuk menentukan kemampuan suatu
senyawa dalam menimbulkan tumor atau kanker pada aneka ragam jenis hewan
uji, baik jangka pendek atau jangka panjang.
Uji kulit dan mata, pada dasarnya dikerjakan untuk menentukan pengaruh
setempat suatu senyawa bila bersentuhan langsung dengan kulit atau mata.
Efek toksik setempat tersebut, dapat berupa iritasi primer, korosi, sensitisasi
kutan, fototoksis, dan fotoalergi. Karena itu, termasuk uji kulit dan mata meliputi
uji iritasi primer kulit, uji sensitisasi kutan, dan uji fototoksik serta uji fotoalergi.
Uji perilaku, dikerjakan untuk menentukan pengaruh suatu senyawa atas
keaktifan lokomotor subyek atau hewan uji tertentu. Untuk itu terdapat beberapa
jenis uji, yakni uji roda berputar, uji lapangan terbuka, uji sangkar hewan
piaraan, uji sangkar rumit, dan uji khas. Pada dasarnya, semua jenis uji perilaku
ini, bermanfaat guna mengetahui pengaruh atau efek toksik suatu senyawa atas
sistem syaraf pusat atau otak.