Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
A. Profil Proses Pembelajaran di Kelas
Program Pemantapan Profesi Keguruan atau yang sering disingkat
menjadi P2K berlokasi di SD Negeri 27 Bulu-bulu Desa Mattampapole
Kecamatan Mallawa Kabupaten Maros. Menempatkan penulis sebagai peneliti
dimana meninjau pembelajaran yang terjadi di dalam kelas. Kelas yang diteliti
adalah kelas V. Keadaan muridnya sangat bervariasi, ada yang pintar, ada juga
yang sedang atau biasa-biasa saja, dan ada juga yang sama sekali tidak
memahami pelajaran yang diberikan.
Dalam kelas tersebut muridnya berjumlah 13 orang yang terdiri dari
laki-laki 5 orang dan perempuan 8 orang. Dalam proses belajar mengajar yang
dilakukan, dipilih sebuah model pembelajaran yang dianggap sesuai dengan
situasi dan kondisi para muridnya. Salah satu model yang diterapkan adalah
model pembelajaran

kooperatif

dengan Tipe

STAD

(Student Teams

Achievement Divisions).
Proses pembelajaran berlangsung dengan mengutamakan pemberian
tindakan secara langsung kepada peserta didik. Sesuai dengan penelitian yang
akan dilaksanakan yakni Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pemberian
perlakuan langsung dalam bentuk tindakan ini, diharapkan dapat lebih
meningkatkan hasil belajar murid, aktifitas murid, kreativitas murid, terlebih
dalam meningkatkan motivasi belajar murid yang selama ini masih dianggap
kurang. Dengan demikian, maka peneliti menganggap perlu adanya suatu
metode atau model pembelajaran yang diberikan dalam bentuk sebuah tindakan.
Agar pembelajaran dalam kelas juga tidak berlangsung secara monoton dan
terjadi hanya satu arah, yaitu dari guru ke murid. Tapi lebih dari itu, peneliti
berharap dengan menerapkan model pembelajaran ini, maka diharapkan terjadi
komunikasi dua arah antara guru ke murid dan murid ke guru.
Dalam pembelajaran tipe STAD murid dibentuk dalam beberapa
kelompok kemudian dari kelompok tersebut murid diajak untuk lebih kreatif,

inovatif dan memiliki rasa kebersamaan yang kuat dalam tim masing-masing.
Dalam proses pembelajaran yang dilakukan ada beberapa aspek yang dilakukan
yakni, minat murid, perhatian murid, partisipasi murid, serta presentasi murid di
kelas. Proses pembelajaran di kelas berlangsung dalam bentuk siklus. Ada
beberapa kegiatan yang perlu diperhatikan seorang guru dalam proses belajar
mengajar yakni apersepsi, penjelasan materi, penjelasan metode kooperatif tipe
STAD, teknik pembagian kelompok, pengelolaan kegiatan diskusi, pemberian
pertanyaan

atau

kuis,

kemampuan

melakukan

evaluasi,

memberikan

penghargaan individu dan kelompok, menentukan nilai individu dan kelompok,


menyimpulkan materi pembelajaran dan menutup pelajaran.
Melalui model pembelajaran inilah, diharapkan hasil belajar murid
semakin meningkat. Oleh karena itu, maka peneliti merasa perlu menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini pada kelas V, karena dengan
melihat kondisi pembelajaran sebelumnya, serta melihat keadaan murid di kelas
tersebut sangat heterogen.
B.

Proses Hasil Belajar


Setelah melihat proses pembelajaran yang berlangsung di kelas selama
siklus pertama berjalan, terlihat bahwa hasil pembelajaran murid meningkat. Ini
terlihat dari hasil pemberian tugas kepada murid dalam bentuk tugas kelompok
dan kuis serta tes hasil belajar.
Hal ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD, hasil belajar murid mengalami kemajuan. Termasuk
minat, perhatian, partisipasi dan juga presentasi murid di kelas mengalami
kemajuan.
Sejauh yang dilakukan dalam siklus ini, telah memberikan perubahan
sikap murid ke arah yang baik. Hasil belajar yang diperlihatkan murid telah
membuktikan bahwa model pembelajaran ini cocok digunakan dalam kelas V.
Mengingat bahwa untuk mengetahui perubahan hasil belajar murid yang lebih
konkrit maka tidak hanya diperlukan perlakuan dalam satu siklus saja, tetapi
ada siklus berikutnya yang bisa menunjukkan bahwa penggunaan model
pembelajaran ini valid dan memang sesuai untuk digunakan di kelas tersebut.

yang juga akan dilanjutkan hal yang sama pada siklus ke dua. Maka diharapkan
pada siklus kedua tersebut hasil belajar murid lebih meningkat lagi dari siklus
pertam.
C. Rumusan Masalah Berdasarkan Profil Proses Pembelajaran dan Hasil
Belajar
Berdasarkan profil proses pembelajaran dan hasil belajar, maka rumusan
masalahnya yaitu Apakah dengan penggunaan model pembelajaran koopertif
tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia pada murid
kelas V SD Negeri 27 Bulu-bulu?
D. Bentuk Tindakan untuk Memecahkan Masalah sesuai dengan Masalah
Bentuk tindakan yang dilakukan dalam pemecahan masalah sesuai
dengan masalah yang ada dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah
dengan pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
STAD. Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini,
maka diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar murid kelas V SD Negeri 27
Bulu-bulu.
E. Argumentasi yang Logis
Berdasarkan masalah tersebut, penulis tertarik melakukan perbaikan
pembelajaran dengan melakukan penelitian tindakan kelas. Perbaikan awal
yang

dilakukan

adalah

penerapan

model

pembelajaran

yang

lebih

mengutamakan keaktifan murid dan memberi kesempatan kepada murid untuk


mengembangkan potensi secara maksimal. Model pembelajaran yang dimaksud
adalah model pembelajaran kooperatif.
Model pembelajaran kooperatif tumbuh dari suatu tradisi pendidikan
yang menekankan berpikir dan latihan bertindak demokratis, pembelajaran
aktif, perilaku kooperatif, dan menghormati perbedaan dalam masyarakat multi
budaya. Dalam pelaksanaannya model pembelajaran kooperatif dapat merubah
peran guru dari peran terpusat pada guru ke peran pengelola aktifitas kelompok
kecil. Sehingga dengan demikian peran guru yang selama ini monoton akan
berkurang dan peserta didik akan semakin terlatih untuk menyelesaikan
berbagai permasalahan, bahkan permasalahan yang dianggap sulit sekalipun.
Beberapa penelitian terdahulu yang menggunakan model pembelajaran
3

kooperatif

menyimpulkan

bahwa

model

pembelajaran

tersebut

telah

memberikan masukan yang berarti bagi sekolah, guru dan terutama peserta
didik dalam meningkatkan prestasi.
F. Tujuan
Mengacu pada permasalahan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai
melalui Penelitian ini adalah Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa
Indonesia Murid kelas V SD Negeri 27 Bulu-bulu dengan Penggunaan Model
Pembelajaran kooperatif Tipe STAD.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Belajar

Istilah belajar sebenarnya telah lama dan banyak dikenal. Bahkan pada
era sekarang ini, hampir semua orang mengenal istilah belajar. Lebihlebih
setelah dicanangkannya wajib belajar. Namun, apa sebenarnya belajar itu,
rasanya masingmasing orang mempunyai pendapat yang tidak sama. Sejak
manusia ada, sebenarnya ia telah melaksanakan aktivitas belajar. Oleh karena
itu, kiranya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa akitivitas belajar itu telah
ada sejak adanya manusia.
Belajar mempunyai sejumlah ciri yang dapat dibedakan dengan
kegiatan-kegiatan lain yang bukan belajar. Oleh karena itu, tidak semua
kegiatan yang meskipun mirip belajar dapat disebut dengan belajar.
Dalam pengertian umum, belajar adalah mengumpulkan sejumlah
pengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh dari seseorang yang lebih tahu
atau yang sekarang ini dikenal dengan guru. Orang yang banyak
pengetahuannya diidentifikasi sebagai orang yang banyak belajar, sementara
orang yang sedikit pengetahuannya didentifikasi sebagai orang yang sedikit
belajar, dan orang yang tidak berpengetahuan dipandang sebagai orang yang
tidak belajar.
Ada beberapa defenisi belajar menurut beberapa pakar pendidikan
dalam Agus Suprijono (2011:2) antara lain:
a) Gagne
Belajar adalah perubahan disposisi atau kemamapuan yang dicapai
seseorang melalui aktivitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh
langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara ilmiah.
b) Travers
Belajar adalah proses menghasilkan penyesuaian tingkah laku

c) Cronbach
Learning is shown by a change in behavior as a result of experience
(belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman).
d) Harold Spears
Learning is to observe, to imitate, to try something themselves, to listen, to
follow direction. (Dengan kata lain, bahwa belajar adalah mengamati,

membaca, meniru, mencoba sesuatu, mendebar dan mengikuti arah


tertentu).
e) Geoch
Learning is change in performance as a result of practice. (Belajar adalah
perubahan performance sebagai hasil latihan)
f) Morgan
Learning is any relatively permanent change in behavior that is a result of
past experience. (Belajar adalah perubahan perilaku yang bersifat
permanen sebagai hasil dari pengalaman)
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003 : 729) menyebutkan
belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu tertentu dengan
tergantung pada kekuatan harapan bahwa tindakan tersebut akan diikuti oleh
suatu hasil tertentu dan pada daya tarik hasil itu bagi orang bersangkutan.
Dari teori-teori diatas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah
suatu proses perubahan di dalam kepribadian dan tingkah laku manusia dalam
bentuk kebiasaan, penguasaan pengetahuan atau ketrampilan, dan sikap
berdasarkan latihan dan pengalaman dalam mencari informasi, memecahkan
masalah,

mencermati

lingkungan

untuk

mengumpulkan

pengetahuan

pengetahuan melalui pemahaman, penguasaan, ingatan, dan pengungkapan


kembali di waktu yang akan datang. Belajar berlangsung terusmenerus dan
tidak boleh dipaksakan tetapi dibiarkan belajar bebas dalam mengambil
keputusan dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya.

B. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki murid setelah
ia menerima pengalaman belajarnya. Individu yang belajar akan memperoleh hasil
dari apa yang telah dipelajari selama proses belajar itu. Hasil belajar yaitu suatu
perubahan yang terjadi pada individu yang belajar, bukan hanya perubahan
mengenai pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk kecakapan, kebiasaan,
pengertian, penguasaan, dan penghargaan dalam diri seseorang yang belajar.
Menurut Hamalik (2002:115) hasil belajar tampak sebagai terjadinya
perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam
perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan.

Hasil belajar yang dicapai siswa melalui proses belajar mengajar yang
optimal cenderung menunjukan hasil yang berciri sebagai berikut:
1. Kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi pada diri siswa
2. Menambah keyakinan akan kemampuan dirinya.
3. Hasil belajar yang dicapai bermakna bagi dirinya seperti akan tahan lama
diingatannya, membentuk prilakunya, bemanfat untuk mempelajarai aspek lain,
dapat digunakan sebagai alat untuk memperoleh informasi dan pengetahuan
yang lainya.
Kemampuan siswa untuk mengontrol atau menilai dan mengendalikan
dirinya terutaman adalam menilai hasil yang dicapainya maupun menilai dan
mengendalikan proses dan usaha belajarnya
Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian,
sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Menurut Gagne dalam Agus Suprijono
(2011:5-6) hasil belajar berupa:
1. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk
bahasa, baik lisan maupun tertulis. Kemampuan merespon secara spesifik
terhadap ransangan spesifik. Kemampuan tersebut tidak memerlukan
manipulasi symbol, pemecahan masalah maupun penerapan aturan.
2. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempersentasikan konsep dan
lambang. Keterampilan intelektual terdiri dari keterampilan mengategorisasi,
kemampuan analitis-sintesis fakta-konsep dan mengembangkan prinsip-prinsip
keilmuan. Keterampilan intelektual merupakan kemampuan melakukan
aktivitas kognitif bersifat khas.
3. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas
kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah
dalam memecahkan masalah.
4. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani
dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
5. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian
terhadap objek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan
eksternalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai-nilai
sebagai standar perilaku.
Menurut Howard Kingsley dalam Nana Sudjana (2004:22) hasil belajar
dibagi menjadi tiga macam yaitu: (a) keterampilan dan kebiasaan; (b) pengertian
dan pengetahuan; (c) sikap dan cita-cita, yang masing-masing golongan dapat diisi
dengan bahan yang ada pada kurikulum sekolah.

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar Nana Sudjana (1989:39)


yaitu:
a) Faktor internal (dari dalam individu yang belajar)
Faktor yang mempengaruhi belajar ini lebih ditekankan pada faktor dari dalam
individu yang belajar.
b) Faktor eksternal (dari luar individu yang belajar)
Pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya system lingkungan yang
kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan faktor dari luar murid. Adapun faktor
yang mempengaruhi adalah mendapatkan pengetahuan, peranan, konsep dan
keterampilan serta pembentukan sikap.

C. Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar


Belajar sebuah Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan
intelektual, sosial dan emosional siswa dan merupakan penunjang keberhasilan
dalam mempelajari semua pelajaran. Terutama Belajar Bahasa Indonesia yang
merupakan bahasa persatuan dan menjadi identitas bangsa Indonesia. Salah
satu upaya melestarikan bahasa Indonesia adalah dengan belajar bahasa
Indonesia di sekolah dasar (SD).
Bahasa Indonesia merupakan salah satu materi pelajaran yang diberikan
di Sekolah Dasar, karena bahasa Indonesia mempunyai kedudukan dan fungsi
yang sangat pen-ting bagi kehidupan sehari-hari. Waktu belajar untuk mata
pelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar diberi waktu sebanyak 6 jam
pelajaran untuk kelas 1, 2, 3 dan sebanyak 5 jam pelajaran bagi siswa kelas 4,
5 dan 6 per seminggu.
Belajar Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar dengan jumlah jam
pelajaran yang banyak dimaksudkan agar peserta didik mempunyai
kemampuan ketrampilan berbahasa Indonesia yang baik dan benar serta
mengembangkan kemampuan berbahasa Indonesia sesuai dengan kemampuan,
kebutuhan, dan minatnya.
Secara umum tujuan belajar Bahasa Indonesia di sekolah adalah agar
siswa memiliki kemampuan berbahasa Indonesiayang baik dan benar serta
dapat menghayati bahasa dan sastra Indonesia sesuai dengan situasi dan tujuan
berbahasa serta tingkat pengalaman siswa sekolah dasar. Akhadiah dkk. (1991:

1). Sedangkan menurut BSNP (2006). Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia


bagi siswa adalah untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Indonesia
sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, sedangkan bagi guru
adalah untuk mengembangkan potensi bahasa Indonesia siswa, serta lebih
mandiri dalam menentukan bahan ajar kebahasaan sesuai dengan kondisi
lingkungan sekolah dan kemampuan siswa.
Dari penjelasan di atas maka tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di
Sekolah Dasar dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Lulusan Sekolah Dasar diharapkan mampu menggunakan bahasa
Indonesia secara baik dan benar yang mencakup tujuan kognitif dan
afektif.
2. Lulusan Sekolah Dasar diharapkan dapat menghayati bahasa dan
sastraIndonesia.
3. Penggunaan bahasa harus sesuai dengan situasi dan tujuan berbahasa
sesuai fungsi bahasa sebagai alat komunikasi.
4. Pengajaran bahasaIndonesiadisesuaikan dengan tingkat pengalaman siswa
Sekolah Dasar sesuai tingkatannya.
5. Belajar Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar meliputi aspek kemampuan
keterampilan berbahasa mendengar, berbicara, membaca dan menulis yang
berkaitan dengan ragam bahasa maupun ragam sastra merupakan ruang
lingkup standard kompetensi pembelajaran Bahasa Indonesia.
6. Belajar bahasa Indonesia di sekolah dasar diharapkan membantu siswa
mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain, mengemukakan
gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan
bahasa tersebut dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis
dan imajinatif yang ada dalam dirinya.
Dengan belajar

bahasa Indonesia

di sekolah

dasar, siswa

diharapkan memiliki kemampuan sebagai berikut:


a. Siswa diharapkan mampu menggunakan bahasa Indonesia secara baik
dan benar serta dapat berkomunikasi secara efektif dan efisien baik
secara lisan maupun tulis sesuai dengan etika yang berlaku.

b. Siswa bangga dan menghargai bahasa Indonesia sebagai bahasa negara


dan bahasa pemersatu bangsaIndonesia.
c. Siswa

mampu

memahami

bahasa

Indonesia

serta

dapat

menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan.


d. Siswa mampu menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan
kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial.
e. Siswa dapat membaca dan memanfaatkan karya sastra untuk
memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
f. Siswa diharapkan dapat menghayati bahasa dan sastra Indonesia serta
menghargai dan bangga terhadap sastra Indonesia sebagai khazanah
budaya dan intelektual Indonesia.
(http://sdnkacok02.sch.id/belajar-bahasa-indonesia-di-sekolah-dasar ,
pukul 11.24, 31 Maret 2015)

diakses

D. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD


Pembelajaran kooperatif merupakan ide lama (Johnson dan Johnson
2004). Talmud, seorang filosof, berpendapat bahwa untuk dapat belajar
seseorang harus memiliki teman. Pada awal abad pertama, Quintillion
berargumentasi bahwa siswa mendapat manfaat dari saling mengajar satu sama
lain. Seorang filosofi Romawi, Seneca, mengatakan bahwa when you teach,
you learn twice. Dari sinilah ide pembelajaran kooperatif dikembangkan
(Ibrahim.dkk, 2000:12). Menurut Arends (2001: 316) ide tentang pembelajaran
kooperatif dapat ditelusuri kembali dari zaman

Yunani Kuno. Namun

demikian, perkembangannya pada masa kini dapat dilacak dari karya psikologi
pendidikan dan teori belajar pada awal abad ke-20. Para ahli tersebut
diantaranya adalah john Dewey (1916) dan Herbert Thelan (1954, 1969).
Pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement
Divisions) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling
sederhana, sehingga cocok bagi guru yang baru mulai menggunakan
pembelajaran kooperatif. Menurut Slavin dalam pembelajaran kooperatif tipe
STAD siswa ditempatkan dalam kelompok belajar beranggotakan empat atau
lima orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerja, jenis kelamin

10

dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja di dalam


kelompok mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah
menguasai materi pelajaran tersebut. Pada akhirnya siswa diberikan tes yang
mana pada saat tes ini

mereka tidak dapat saling membantu. Poin setiap

anggota tim ini selanjutnya dijumlahkan untuk mendapat skor kelompok. Tim
yang mencapai kriteria tertentu diberikan sertifikat atau ganjaran lain.
Dalam pembelajaran kooperatif STAD, materi pembelajaran dirancang
untuk pembelajaran kelompok dengan menggunakan LKS atau
pembelajaran yang lain, siswa bekerja secara bersama-sama

perangkat
untuk

menyelesaikan materi. Siswa saling membantu satu sama lain untuk memahami
materi pelajaran, sehingga setiap anggota kelompok dapat memahami materi
pelajaran.
Menurut Slavin STAD terdiri dari lima komponen utama secara
presentasi Kelas, yaitu: Kelompok, Kuis (tes), Skor peningkatan individual,
tuntas dan Penghargaan kelompok.
Ide utama di balik STAD adalah untuk memotivasi siswa saling
memberi semangat dan membantu dalam menuntaskan keterampilanketerampilan yang dipresentasikan guru. Apabila siswa menginginkan tim
mereka mendapatkan penghargaan tim, mereka harus membantu teman satu
tim dalam mempelajari bahan ajar tersebut. Mereka harus memberi semangat
teman satu timnya yang lain.
Sekarang ini, pembelajaran ini terus dikembangakan. Jacob dan Hannah
(2004) mendefinisikan cooperative learning, also known as collaborative
learning is a body of concepts and techniques for helping to maximize the
benefits of cooperation among students (pembelajaran kooperatif yang juga
dikenal sebagai pembelajaran kolaboratif adalah sebuah konsep-konsep dan
teknik untuk membantu memaksimalkan manfaat dari kerja sama antar siswa).
Arends

(1997:

111)

mengemukakan

beberapa

pembelajaran

kooperatif, yaitu:
a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi
belajarnya;
b. Kelompok dibentuk dari siswa dengan kemampuan tinggi, sedang, rendah,

11

c. Jika mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, suku, budaya, dan jenis
kelamin berbeda.
d. Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok dari pada individu.
Dalam pembelajaran kooperatif, sebagain besar aktifitas pembelajaran
berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran, berdiskusi untuk
memecahkan masalah (tugas). Suherman ( Nur Arifah, 2006: 12),
mengemukakan bahwa belajar pembelajaran kooperatif mencakup suatu
kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai tim untuk menyelesaiakan sebuah
masalah, menyelesaikan suatu tugas atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai
tujuan bersama lainnya.
Model pembelajaran kooperatif akan dapat melatih siswa untuk
mendengarkan pendapat orang lain, tugas-tugas kelompok akan dapat memacu
para siswa untuk bekerja sama saling membantu satu sama lain untuk
mengintegrasikan pengetahuan-pengetahuan baru dengan pengetahuan yang
telah dimilkinya. Dengan mempraktekkan pembelajaran kooperatif di kelas,
suatu hari kelak akan menuai sebuah sebagai makhluk sosial (homo homini
socius), bukan homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi temannya).
Dengan kata lain, pembelajaran kooperatif adalah cara belajar mengajar
berbasis peace education yang pasti mendapat perhatian.
Pembelajaran kooperatif bukan bermaksud untuk menggantikan
pendekatan kompetitif (persaingan). Nuansa kompetitif dalam kelas akan sangat
baik bila diterapkan secara sehat. Pendekatan kooperatif ini adalah sebagai
alternatif pilihan dalam mengisi kelemahan kompetensi, yakni hanya sebagai
siswa saja yang akan bertambah pintar, sementara yang lainnya semakin
tenggelam dalam ketidaktahuannya.
Secara umum sintaks model pembelajaran kooperatif dapat dilihat
sebagai berikut:
Sintaks model pembelajaran kooperatif
Fase
Fase-1

Guru

Kegiatan Guru
menyampaikan

tujuan

Menyampaikan tujuan dan motivasi pembelajaran (indicator hasil belajar)


siswa

guru memotivasi siswa mengaitkan


12

pembelajaran sekarang dengan yang


Fase-2

terdahulu.
Guru menyajikan informasi kepada

Menyajikan informasi

siswa dengan jalan demonstrasi atau

Fase-3

lewat bacaan.
Guru menjelaskan kepada siswa cara

Mengorganisasikan

siswa

kedalam membentuk kelompok belajar, guru

kelompok belajar

mengorganisasikan

siswa

kelompok-kelompok

kedalam

belajar

(setiap

kelompok beranggotakan 4-5 orang dan


harus heterogen terutama jenis kelamin
dan kemampuan siswa).
Guru membimbing kelompok belajar

Fase-4
Membimbing

kelompok

kerja

dan pada saat siswa mengerjakan tugas.

belajar
Fase-5

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang

Evaluasi

materi

yang

telah

dipelajari

atau

meminta siswa mempresentasikan hasil


kerjanya, kemudian dilanjutkan dengan
Fase-6

diskusi.
Guru memberikan penghargaan kepada

Memberikan penghargaan

siswa

yang

berprestasi

untuk

menghargai upaya maupun hasil belajar


siswa baik secara indiIVdu maupun
kelompok.
1. Unsur-Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif
Menurut Lundren (Isjoni, 2007: 13), unsur-unsur dasar pembelajaran
kooperatif antara lain sebagai berikut:
a.

Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka tenggelam atau


berenang bersama

b.

Para siswa harus memiliki tanggung jawab siswa atau peserta didik lain
kelompoknya, selain tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari
materi yang dihadapi.
13

c.

Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan


yang sama.

d.

Para siswa membagi tugas dan tanggung jawab diantara para anggota
kelompok.

e.

Para siswa diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut
berpengaruh terhadap evaluasi kelompok.

f.

Para siswa berbagi kepemimpinan memperoleh keterampilan bekerjasama


selama belajar.

g.

Setiap siswa akan diminta mempertanggung jawabkan secara indiIVdual


materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

2. Ciri-Ciri Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:


a. Siswa belajar dalam kelompok, produktif mendengar, mengemukakan
pendapat, dan membuat keputusan secara bersama.
b. Kelompok siswa terdiri dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan yang
tinggi, sedang dan rendah.
c. Jika dalam kelas, terdapat siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku,
budaya, jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar dalam tiap
kelompoknya terdiri dari ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda
pula.
d. Penghargaan lebih diutamakan pada kerja keolompok daripada perorangan.
Pada hakekatnya pembelajaran kooperatif sama dengan kerja kelompok,
walaupun pembelajaran kooperatif terjadi dalam bentuk kelompok, tetapi tidak
setiap kerja kelompok pembelajaran kooperatif.
Bennet (Isjoni, 2007: 41) menyatakan ada lima unsur dasar yang dapat
membedakan pembelajaran kooperatif dengan kerja kelompok, yaitu:
a.

Positive intercepence, yaitu hubungan timbal balik yang didasari adanya


kepentingan yang sama atau perasaan diantara anggota kelompok dimana
keberhasilan seseorang merupakan keberhasilan yang lain pula atau sebaliknya.

b.

Interaction face to face, yaitu interaksi yang langsung terjadi antar siswa
tanpa ada perantara.

14

c.

Adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam anggota


kelompok.

d.

Membutuhkan keluwesan.

e.

Meningkatkan keterampilan bekerjasama dalam memecahkan masalah


(proses kelompok).

3. Tujuan Pembelajaran Kooperatif


Arends (1997: 111) meyatakan bahwa the cooperative learning
model was developed to achieve at least there important instructional
goals: academic achievement, acceptance of diversity and social skill
development . yang maksudnya adalah bahwa model pembelajaran
kooperatif dikembangkan untuk mencapai sekurang-kurangnya tiga
tujuan pembelajaran penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan
terhadap perbedaan indiIVdu dan pengembangan keterampilan sosial.
4. Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif
a. Tugas-tugas perencanaan seperti memilih pendekatan, pemilihan
materi yang sesuai, pembentukan kelompok siswa, pengembangan
materi dan tujuan mengenalkan siswa pada tugas dan peran,
merencanakan waktu dan tempat.
b. Tugas-tugas intertaktif, yaitu menyampaikan tujuan pembelajaran,
membangkitkan motivasi, menyajikan informasi, mengorganisasikan
dan membentuk kelompok belajar, mengevaluasi dan memberikan
penghargaan.
5. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif
Adapun

langkah-langkah

pembelajaran

langsung

setting

kooperatif tipe STAD (Student Team Acheivment Divisions) adalah


sebagai berikut:
a. Persiapan
1) Guru menentukan dan membatasi materi yang akan diberikan.

15

2) Menetapkan siswa dalam kelompok.


a) Meranking siswa berdasarkan prestasi akademik di dalam
kelas.
b) Menemukan jumlah kelompok, masing-masing kelompok
beranggotakan 4-5 orang.
c) Membagi siswa dalam kelompok secara heterogen dalam
kemampuanya.
3) Menentukan nilai dasar yang merupakan nilai rata-rata siswa
pada tes yang telah lalu, atau nilai akhir siswa secara individual
b. Tahap Pembelajaran
1) Guru menyampaikan informasi materi kepada Siswa sesuai
dengan TIK.
2) Guru mengorganisasikan Siswa ke dalam kelompok-kelompok
belajar, diikuti dengan langkah di mana Siswa dibawah
bimbingan guru bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan
LKS (Lembar Kerja Siswa) atau tugas.
c. Evaluasi Mandiri dan Penghargaan Kelompok
Setelah

melaksanakan

kegiatan

pembelajaran,

siswa

mengerjakan tes atau kuis secara sendiri-sendiri, setelah selesai guru


memberikan skor

individu dan skor tim

yang kemudian

diumumkan secara tertulis dipapan pengumuman, skor individu


didapat dari nilai tes masing-masing siswa, sedangkan skor tim di
dapat dari jumlah keseluruhan poin yang di sumbangkan masingmasing anggota tim dibagi dengan jumlah anggota tim (Nur, 2000 :
31-35).
E. Kerangka Pikir
Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah diuraikan, kerangka pikir
merupakan garis-garis besar yang sangat mendukung agar dalam pengumpulan
data, menganalisis data dan penarikan kesimpulan dapat lebih terarah. Adapun
kerangka pikir dapat dilihat pada bagan berikut:

16

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir


Bahasa Indonesia pada aspek mendengarkan

Metode Kooperatif STAD

Tidak Meningkat

Meningkat

Hasil /Temuan

F. Hipotesis
Hipotesis penelitian yaitu Model pembelajaran kooperatif tipe STAD
digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, dapat meningkatkan hasil
belajar siswa kelas V SD Negeri 27 Bulu-bulu.

17

BAB III
PROSEDUR PELAKSANAAN
A. Jumlah Murid, Tempat, dan Waktu Pelaksanaan P2K
Pelaksanaan P2K ini dilaksanakan di SD Negeri 27 Bulu-bulu, pada
semester genap tahun pelajaran 2014/2015 selama kurang lebih tiga bulan,
dimulai pada bulan Januari sampai Maret 2015. Sebagai subjek penelitian
adalah murid kelas V SD Negeri 27 Bulu-bulu, yang terdaftar pada tahun
pelajaran 2014/2015 sebanyak 13 orang murid yang terdiri atas 5 laki-laki dan
8 perempuan.
B. Langkah langkah Pembuatan Perangkat Pembelajaran Inovatif seperti
RPP dan Alat Evaluasi.
Langkah pertama adalah meminta Silabus pada guru kelas (Guru
Pembimbing),

langkah

kedua

menyusun

RPP

(Rencana

Pelaksanaan

Pembelajaran), serta merumuskan alat evaluasi berupa soalsoal dalam bentuk


kelompok dan individu. Selanjutnya dapat dilihat pada bagan alur di bawah ini:
Menyusun RPP
dan Rencana
tindakan Siklus

Studi Pendahuluan
dengan meneliti silabus.
Rencana
Tindakan
Siklus 2

Pelaksanaan
Tindakan dan
Pengamatan

Pelaksanaa
n Tindakan
dan
Refleks

18
Refleks

Simpulan

C. Implementasi RPP dan Evaluasi di Kelas


Setelah menyusun Rencana Pelakasanaan Pembelajaran (RPP), maka proses
belajar mengajar pun dapat dimulai. Implementasi dari RPP meliputi
pembukaan, penjelasan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, pemaparan
tujuan pembelajaran, penyampaian materi, penyampaian metode pembelajaran
yang dilaksanakan, pembentukan kelompok, mengarahkan murid dalam
kelompoknya, membuat kesimpulan dan Penutup. Evaluasi di kelas
dilaksanakan dalam bentuk tugas individu dan uji kompetensi. Selanjutnya
dapat dilihat pada lampiran mengenai RPP dan alat evaluasi.
D. Prosedur Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang berlangsung selama dua
siklus. Rancangan masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu
perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, evaluasi, dan refleksi (Kemmis
dan Taggart,1998).
Adapun kriteria keberhasilan untuk setiap siklus adalah jika seluruh subyek
penelitian:
a) Dapat memahami materi yang sedang dipelajari,
b) Dapat menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan materi yang
dipelajari,
c) Senang dan aktif mengikuti pembelajaran,
d) Memperoleh skor pada tes akhir tindakan minimal 65.
E. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, prosedur yang digunakan untuk pengumpulan data
adalah sebagai berikut:

19

1. Tes pada setiap akhir tindakan, dengan tujuan untuk mengetahui


peningkatan pemahaman murid terhadap materi yang dipelajari setelah
pemberian tindakan. Tes yang diberikan dalam bentuk uraian, karena
peneliti ingin mengetahui proses jawaban murid secara rinci.
2. Observasi: Observasi dilakukan untuk mengamati aktifitas murid selama
kegiatan penelitian, sebagai upaya untuk mengetahui adanya kesesuaian
antara perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, dan untuk mengetahui
sejauh mana tindakan dapat menghasilkan perubahan yang dikehendaki
oleh peneliti. Observasi ini dilakukan oleh peneliti selama pelaksanaan
tindakan dalam dua siklus.

F. Teknik Analisa Data dan Kriteria Keberhasilan


Data yang telah dikumpul dianalisis dengan menggunakan teknik analisis
kualitatif

dan

kuantitatif.

Untuk

data

kuantitatif

digunakan

teknik

pengkategorian dengan skala lima berdasarkan kategorisasi standar yang


ditetapkan oleh Depdiknas (dalam Misnah, 2003: 21) sebagai berikut:

NILAI
KUANTITATIF
0 - 34

KATEGORI
Sangat Rendah

35 - 54

Rendah

55 - 64

Sedang

65 - 84

Tinggi

85 - 100

Sangat Tinggi

20

BAB IV
HASIL PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN
Hasil dan analisis data penelitian dibuat berdasarkan data yang diperoleh
dari kegiatan penelitian tentang hasil belajar siswa melalui pembelajaran kooperatif
tipe STAD yang telah dilaksanakan di SD Negeri 27 Bulu-bulu. Pelaksanaan ini
dilaksanakan dua siklus yaitu siklus I , dan Siklus II, adapun yang dianalisis adalah
hasil tes akhir siklus I dan tes akhir siklus II.
A. Hasil Pelaksanaan
1. Siklus Pertama
Data setiap siklus dipaparkan secara terpisah, untuk melihat adanya
persamaan, perbedaan, dan perkembangan setiap siklus. Setiap siklus
memiliki tahap-tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan
evaluasi, serta refleksi.
a. Perencanaan
1) Peneliti melakukan analisis kurikulum untuk menentukan standar
kompetensi dan kompetensi dasar yang akan disampaikan kepada
siswa dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe STAD.
2) Membuat rencana pembelajaran.
3) Membuat instrumen yang digunakan dalam PTK
4) Menggunakan alat evaluasi pengajaran.

21

b. Pelaksanaan
Pada siklus I pelaksanaan pembelajaran siswa dengan rencana
pelaksanaan yang telah disusun oleh peneliti yakni menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar
siswa. Pertama-tama peneliti mencoba membuat suasana kelas menjadi
lebih akrab dengan terlebih dahulu saling memperkenalkan diri
kemudian

peneliti

memulai

pembelajaran

dengan

mengajukan

pertanyaan-pertanyaan ringan kepada siswa yang berkaitan dengan


materi ajar. Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian siswa mengikuti
pelajaran.
c. Evaluasi dan Observasi
1. Hasil Evaluasi
Pembelajaran ini diikuti oleh 13 siswa, pada siklus I model
pembelajaran kooperatif tipe STAD yang diterapkan belum
sempurna, hal tersebut berdampak pada kemampuan siswa
melaksanakan kegiatan dan berakibat terhadap rendahnya prestasi
siswa pada perolehan skor hasil tes evaluasi pada tabel berikut ini:

Tabel 4.1 Daftar Skor Hasil Evaluasi Siswa pada Siklus 1


No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Nama
Asnayanti
Rudi
Erik Wahyu Permana
Zikra Aryuni
Putri Ramadani
Rosmawati
Elsya Novianti
Nuralisa
Muhammad Rifai
Ayu Alfirah Asis
Selfi Aulia
Haikal

22

Jenis
kelamin
P
L
L
P
P
P
P
P
L
P
P
L

Skor Perolehan
26
57
56
80
69
82
65
69
66
61
70
68

13

Fikra

66
64,2

Rata-Rata
Ket : - = tidak hadir

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Skor Evaluasi Siswa pada Siklus 1


Skor

Kategori

Frekuensi

85-100
65-84
55-64
35-54
0-34

Sangat tinggi
Tinggi
Sedang
Rendah
Sangat rendah

0
9
3
0
1

Jumlah

Persentase (%)

0
69,2
23,1
0
7,7

13

100

Dari tes siklus I pada tabel 1 di atas tergambar bahwa dari 13


siswa kelas V SD Negeri 27 Bulu-bulu, 4 orang murid atau 30,8%
belum mencapai batas ketuntasan, sedang yang mencapai batas
tuntas yaitu 9 siswa atau hanya 69,2%, nilai rata-rata seluruh siswa
yaitu 64,2% sehingga dikategorikan sedang.
2. Hasil Evaluasi
Pengamatan aktifitas siswa digunakan pada lembar observasi
untuk mencatat kejadian-kejadian yang terjadi selama proses belajar
mengajar berlangsung. Hasil observasi aktifitas belajar pada siklus I
ditampilkan dalam tabel berikut.
Tabel 4.3. Hasil Observasi Aktifitas Proses Pembelajaran pada
Siklus I
No.
1.
2.
3.

Komponen Yang
Diamati
Siswa yang hadir saat
pembelajaran.
Siswa
yang
memperhatikan
pembahasan materi.
Siswa yang aktif pada
23

Persenta
se %

Pertemuan
I

II

III

13

12

13

10

11

12

IV
E
V
A
L
U
A
S
I

97,44
84,62
35,90

4.

5.

6.

saat
pembahasan
contoh soal
Siswa
yang
mengerjakan
soal
latihan.
Siswa
yang
membutuhkan
bimbingan.
Siswa yang melakukan
kegiatan yang lain yang
tidak relevan dengan
pembelajaran.

13

13

13

100

12,82

S
I
K
L
U
S

10,26

Dari tabel 3. di atas diperoleh bahwa dari 13 siswa kelas V


SD Negeri 27 Bulu-bulu frekuensi kehadiran siswa tergolong tinggi
yaitu 97,44%. Siswa yang memerhatikan pembahasan materi yaitu
84,62%, yang aktif saat pembahasan contoh soal rata-rata mencapai
35,90%, siswa yang mengerjakan soal latihan rata-rata mencapai
100%, siswa yang membutukan bimbingan 12,82%, dan siswa yang
melakukan kegiatan lain yang tidak relevan dengan pembelajaran
mencapai 10,26%.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi pada pelaksanaan
tindakan siklus I belum mencapai indikator kinerja yang diharapkan
dengan kata lain masih ada kekurangan atau kelemahan-kelemahan
yang terjadi. Adapun kelemahan yang terjadi pada siklus I adalah;
1) Peneliti belum terbiasa menciptakan suasana pembelajaran yang
menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
2) Masih banyak siswa yang harus mempresentasikan kegiatan untuk
memperbaiki kelemahan dan mempertahankan keberhasilan yang
telah dicapai pada siklus pertama, maka pada pelaksanaan siklus II
dibuat perencanaan yang lebih baik lagi.

24

2. Siklus Kedua
Seperti pada siklus I, siklus II ini juga terdiri dari perencanaan,
pelaksanaaan, observasi dan evaluasi, serta refleksi.
a. Perencanaan
Perencanaan pada siklus II didasarkan perencanaan pada siklus I,
dengan memperbaiki kesalahan dan kekurangan yang terdapat pada
siklus I yaitu:
1) Memberikan motivasi kepada siswa agar lebih aktif lagi dalam
pembelajaran.
2) Lebih intensif membimbing dan memerhatikan siswa yang
mengalami kesulitan.
3) Membuat suasana kelas menjadi lebih nyaman dan lebih hidup.

b. Pelaksanaan
Setelah peneliti memperbaiki kesalahan dan kekurangan yang terdapat
pada pelaksaan tindakan siklus I, maka suasana pembelajaran sudah
tampak mengena ke arah pembelajaran yang sesuai dengan penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
c. Evaluasi dan Observasi
1) Hasil Evaluasi
Pada siklus kedua model pembelajaran kooperatif tipe STAD
yang diterapkan mengalami peningkatan, hal tersebut berdampak
pada perolehan skor hasil tes evaluasi pada tabel berikut.
Tabel 4.4 Daftar Skor Hasil Evaluasi Siswa pada Siklus II
No
.
1
2

Nama
Asnayanti
Rudi

25

Jenis kelamin

Skor Perolehan

P
L

51
68

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Erik Wahyu Permana


L
Zikra Aryuni
P
Putri Ramadani
P
Rosmawati
P
Elsya Novianti
P
Nuralisa
P
Muhammad Rifai
L
Ayu Alfirah Asis
P
Selfi Aulia
P
Haikal
L
Fikra
L
Rata-Rata
Ket : - = tidak hadir pada saat evaluasi

65
82
74
75
70
76
72
66
72
69
68
69,85

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Skor Evaluasi Siswa pada Siklus II


Persentase
Skor
Kategori
Frekuensi
(%)
85-100

Sangat tinggi

65-84

Tinggi

12

92,3

55-64

Sedang

35-54

Rendah

7,7

0-34

Sangat rendah

13

100

Jumlah

Dari tes siklus II pada tabel 4 di atas tergambar bahwa dari


13 siswa kelas V SD Negeri 27 Bulu-bulu, 1 siswa atau 7,7% belum
mencapai batas ketuntasan sedang yang mencapai batas tuntas yaitu
12 siswa atau 92,3%, nilai rata-rata seluruh siswa yaitu 70%
sehingga dikategorikan tinggi.
2) Hasil Observasi

26

Seperti pada siklus I, pada siklus II ini juga dilakukan


pengamatan aktifitas siswa pada lembar observasi untuk mencatat
kejadian-kejadian yang terjadi selama proses belajar mengajar
berlangsung. Hasil observasi aktifitas belajar pada siklus II ditampilkan
dalam tabel berikut.
Tabel 4.6 Hasil Observasi Aktivitas Proses Pembelajaran pada
Siklus II
No
Komponen Yang
Pertemuan
Persen
I
II
III
IV tase %
.
Diamati
Siswa yang hadir saat
1.
13
12
13
100
pembelajaran.
Siswa yang
E
2. memperhatikan
12
12
12
92,31
V
A
pembahasan materi.
L
Siswa yang aktif pada
U
A
3. saat pembahasan
6
7
7
74,36
S
I
contoh soal
Siswa yang
4. mengerjakan soal
13
13
13
100
S
I
latihan.
K
L
Siswa yang
U
S
5. membutuhkan
1
1
1
7,69
bimbingan.
I
Siswa yang
melakukan kegiatan
6. yang lain yang tidak
1
1
1
7,69
relevan dengan
pembelajaran.
Dari tabel 6, diperoleh bahwa dari 13 siswa kelas V SD Negeri
27 Bulu-bulu frekuensi kehadiran siswa menurun menjadi 97,44%.
Siswa yang memerhatikan pembahasan materi menurun menjadi
92,31%, yang mengajukan diri pada saat pembahasan contoh soal
meningkat menjadi 74,35%, siswa yang mengerjakan soal latihan
menurun menjadi 51,28%, dan siswa yang membutuhkan bimbingan
7,69%, sedangkan siswa yang melakukan kegiatan lain yang tidak
relevan dengan pembelajaran menurun menjadi 7,69%.
A. Refleksi
27

Adapun keberhasilan yang diperoleh selama siklus II ini adalah:


1) Aktifitas siswa dalam proses belajar mengajar sudah mengarah pada
pembelajaran kooperatif tipe STAD. Siswa mampu membangun kerja
sama serta memotivasi dirinya untuk memahami tugas yang
diberikan oleh peneliti, siswa mulai berpartisipasi dalam kegiatan
dan tepat waktu dalam melaksanakannya.
2) Meningkatkan aktifitas siswa dalam proses belajar mengajar
didukung oleh meningkatnaya aktifitas peneliti dan guru dalam
mempertahankan dan meningkatkan suasana pembelajararan yang
mengarah pada pembelajaran melalui penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD. Peneliti intensif membimbing saat siswa
mengalami kesuilitan dan ini dapat dilihat dari hasil evaluasi siswa
mengalami peningkatan.

B. Pembahasan
1. Analisis Hasil Evaluasi
Tabel 7. Perbandingan Hasil Evaluasi pada Siklus I dan II
Siklus
I
II

Maks.
100
100

Nilai Perolehan Siswa


Min.
Mean
0
63
0
69,8

Tuntas
9
12

Ketuntasan
Tidak Tuntas
4
1

Tabel 7 menunjukkan bahwa skor rata-rata (mean) setelah diterapkan model


pembelajaran kooperatif tipe STAD mengalami peningkatan yakni dari 63%
menjadi 69,8%. Begitu pula ketuntasan belajar siswa yang mengalami peningkatan
dari siklus I ke siklus II.

2. Analisis Hasil Observasi

28

Data aktifitas siswa pada siklus I dan II diperoleh melalui hasil observasi
selama pembelajaran berlangsung di setiap pertemuan. Adapun perbandingan
deskripsi aktivitas siswa pada siklus I dan II dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.8 Perbandingan Aktivitas Proses Pembelajaran Siswa Pada Siklus I
dan II
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Komponen Yang Direspon

Persentase(%)
Siklus I
Siklus II
97,44
100

Siswa yang hadir saat pembelajaran.


Siswa
yang
memperhatikan
84,62
92,31
pembahasan materi.
Siswa yang aktif pada saat pembahasan
35,90
74,36
contoh soal
Siswa yang mengerjakan soal latihan.
100
100
Siswa yang membutuhkan bimbingan.
12,82
7,69
Siswa yang melakukan kegiatan yang
lain yang tidak relevan dengan
10,26
7,69
pembelajaran.
Berdasarkan tabel 8 di atas maka dapat dikatakan bahwa terdapat beberapa

aktivitas siswa yang mengalami peningkatan seperti kehadiran siswa, siswa yang
memperhatikan pembahasan materi, siswa yang bertanya dan siswa yang
mengerjakan soal latihan. Sedangkan siswa yang membutuhkan bimbingan dan
siswa yang melakukan kegiatan lain yang tidak relevan dengan pembelajaran
mengalami penurunan.

29

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Kelas dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Peranan

pembelajaran

kooperatif

dengan

tipe

STAD

dapat

meningkatkan aktivitas proses belajar mengajar.


2. Dari hasil observasi memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan dari
siklus I dan siklus II.
3. Kemampuan dalam diskusi kelompok juga mengalami kemajuan yang
sangat berarti. Hal ini disebabkan karena murid sudah mulai terbiasa
belajar kelompok.
4. Penguasaan murid terhadap materi pembelajaran menunjukkan
peningkatan. Hal ini dapat ditunjukkan hasil rata-rata ulangan harian
B. Saran
Berdasarkan kajian teori dan hasil penelitian ini, maka penulis
menyarankan bebarapa hal yaitu :

30

1. Agar para guru di SD Negeri 27 Bulu-bulu selalu termotivasi untuk memacu


diri dan terus menggunakan metode pembelajaran yang efektif, sesuai dan
serasi dengan bidang studi yang diajarkan baik itu secara individu maupun
organisasi.
2. Agar pihak sekolah jangan pernah merasa puas dengan prestasi mendidik yang
bagus tetapi harus selalu introspeksi diri dan mencari tahu dimana letak
kekurangan dan kelebihan demi membantu dan mengawal program Pendidikan
Nasional.
3. Kepada pembaca yang budiman supaya dapat membuat penelitian yang lebih
bagus dari sekarang dan juga dengan hasil penelitian ini dapat membantu para
peneliti selanjutnya untuk berpacu mencari hal-hal yang baru untuk diteliti dan
untuk pengembangan diri pribadi, kelompok untuk masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
A.M, Sardiman. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta; Rajawali
Ekspress.
Arief Tiro, Muhammad. 2007. Dasar-dasar Statistika. Makassar; State University
of Makassar Press.
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian. Cet. XI. Jakarta; PT. Rineka Cipta.
Dimyati Dan Mudjiono 1999; Belajar dan Pembelajaran .Rineka Cipta :Jakarta.
Djamarah, S. B. dan Zaim A. 2002; Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta
Jakarta
Muslimin, Uses dan Usman 2000; Menjadi Guru Profesional Edisi Kedua PT.
Rewaja Rosdakerja Bandung.
Sanjaya, Wina. 2007; Strategi Pembelajaran. Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Samad, Sulaiman. Dkk. 2008. Profesi Keguruan. Makassar; FIP-UNM.
Sudjana, Nana. 1998. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung; Sinar Baru.
Sudjana, Nana. 200 4. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung; Sinar
Baru-Algesindo.

31

(http://sdnkacok02.sch.id/belajar-bahasa-indonesia-di-sekolah-dasar, diakses pukul


11.24, 31 Maret 2015)

LAMPIRAN

32