Anda di halaman 1dari 13

BAB III

KARSINOMA TIROID

3.1.Definisi
Karsinoma tiroid adalah suatu keganasan (pertumbuhan tidak terkontrol dari sel) yang terjadi
pada kelenjar tiroid

Gambar 1. Nodul Pada glandula tiroid

3.2.Epidemiologi
Karsinoma tiroid agak jarang di dapat, yaitu sekitar 3-5 % dari semua tumor maligna. Insiden
karsinoma tiroid diperkirakan berkisar antara 36-60 kasus per satu juta populasi per tahun. Di
Amerika Serikat, insiden karsinoma tiroid adalah 4 per 100.000 populasi atau sekitar 0,004% per
tahun. Insiden lebih tinggi di negara dengan struma endemik, terutama jenis tidak
berdiferensiasi. Karsinoma tiroid didapat pada semua usia dengan puncaknya pada usia muda (720 tahun) dan usia setengah baya (40-60tahun). Karsionoma jarang ditemukan pada anak-anak
dan insiden meningkang sejalan dengan peningkatan usia. Rasio perbandingan insiden antara
wanita dan pria dilaporkan 2,5 : 1
2

2.3.Etiologi
Radiasi merupakan merupakan salah satu faktor resiko yang bermakna. Kurang lebih 25% orang
yang mengalami radiasi pada usia muda kemudian timbul struma nodosa dan kurang lebih 25%
dari struma ini akan menjadi adenokarsinoma tiroid. Bila radiasi tersebut terjadi pada usia lebih
dari 20 korelasinya kurang bermakna. Masa laten mungkin lama sekali, sampai puluhan tahun
seperti terlihat pada penduduk hiroshima dan penderita lain yang mengalami radiasi pada
lehernya dalam bentuk apappun.
Stimulasi TSH yang lama merupakan salah satu faktor etiologi karsinoma tiroid. Pemberian diet
tanpa garam Jodium pada binatang percobaan, pemberian zat radioaktif atau sub total
tiroidektomi berakibat stimulasi STH meninngkat dan dalam jangka waktu yang lama dapat
terjadi karsinoma tiroid (SOEKIMIN). Faktor lain yang dijuga dilaporkan berhubungan dengan
terdinya karsinoma tiroid adalah jenis kelamin dan kelainan benigna pada tiroid

2.4.Faktor resiko
Faktor resiko adanya malignansi pada nodul tiroid :
1. Umur <20 tahun, dan > 50 tahun
2. Jenis kelamin laki-laki
3. Pemberian radioterapi sebelumnya pada daerah leher
4. Family MEN II (Multiple Endocrine Neoplasma tipe II)
2.5.Macam-macam neoplasma tiroid
1. Benigna
Penampilan sebagai nodul soliter dari tiroid dengan sisa jaringan palpable. Teoritis
ada adenoma papiler tetapi kebanyakan adenoma folikular. Sangat sukar dibedakan dengan
karsinoma. Oleh karena itu, tindakan selalu pembedahan karena berdasar morfologi sendiri
adenoma selalu tidak dapat dibedakan dengan karsinoma, diagnosis hanya dikonfirmasikan
histologi yang dapat menunjukkan invasi ke kapsula atau ke pembuluh darah.
2. Maligna

Rosai J. membedakan tumor tiroid atas adenoma folikular, karsinoma papillare,


karsinoma folikular, hurtle cell tumors, clear cell tumors, tumor sel skuamous, tumor
musinus, karsinoma medulare, dan karsinoma anaplastik.
Karsinoma tiroid sering hormone-dependent. Misalnya pada TSH dimana mengatur
sekresi normal dari tiroid. Hormone-dependent maksimal pada Ca papiller dan praktis nol
pada tipe anaplastik dan folikuler bervariasi responnya.
2.6.Klasifikasi karsinoma tiroid
1. Klasifikasi karsinoma tiroid menurut WHO :
a. Tumor epitel maligna
Karsinoma folikulare
Karsinoma papilare
Campuran karsinoma folikulare papilare
Karsinoma anaplastik (undifferentiated)
Karsinoma sel skuamosa
Karsinoma tiroid medulare
b. Tumor non-epitel maligna
Fibrosarkoma
Lain-lain
c. Tumor maligna lainnya
Sarcoma
Limfoma maligna
Hemangiotelioma maligna
Teratoma maligna
d. Tumor sekunder dan unclassified tumor
2. Klasifikasi karsinoma tiroid berdasarkan histopatologi mayor, antara lain :
a. Karsinoma papiler
Karsinoma ini merupakan jenis karsinoma yang banyak diderita pada umur
muda. Sebanyak 1/3 penderita umumnya menunjukkan metastase intraglanduler
lymphatic (yang sebelumnya dianggap multisentrik). Metastasis yang paling sering
terutama ke limfonodi servikal, namun karsinoma ini relatif tidak terlalu ganas.
Secara histologis, terciri atas struktur papiler yang sangat bercabang dilapisi selsel yang tersusun tidak teratur dengan inti yang umumnya jernih opaque. Benda-benda
psamoma (konkremen kapur dengan susunan berlapis konsentris) sering didapatkan. Di
samping daerah papiler, sering terdapat campuran dengan bagian folikuler.
b. Karsinoma folikuler

Karsinoma folikuler biasanya terjadi pada penderita yang lebih tua. Karsinoma
ini bersifat lebih ganas dibandingkan tipe papiler. Selain itu, karsinoma ini sering
merupakan komplikasi dari adenoma benigna soliter ataupun struma multinoduler.
Metastasis jauh sering ditemukan terutama secara hematogen ke dalam otot dan paru.
Secara histologi, sering menyerupai jaringan kelenjar tiroid normal. sel
berukuran medium dan teratur dalam berkas atau trabekula dengan daerah folikuler
yang teratur. Oleh karena secara mikroskopik terlihat sel teratur dalam bentuk aciner
(sel kolumner rendah atau kuboid), terkadang digambarkan seperti halnya karsinoma
alveolar. Bentuk khusus karsinoma folikular adalah karsinoma sel hurtle, terdiri dari selsel eosinofil, granular halus yang mengandung banyak mitokondria.
c. Karsinoma anaplastik
Karsinoma jenis ini merupakan tumor yang tidak menunjukkan diferensiasi ke
arah folikuler ataupun papiler dan terdiri dari rangkaian sel-sel solid yang tidak
mempunyai aspek khas untuk karsinoma meduler. Biasanya diderita pada usia lanjut.
Penyebaran biasanya secara limfogen ataupun hematogen pada stadium awal.
Secara histologi, terdapat 2 tipe sel yaitu tipe small cell dan giant cell. Kedua
tipe menunjukkan gambaran pleomorphi tetapi tipe giant cell lebih ganas.
d. Karsinoma meduler
Karsinoma ini berasal dari sel parafolikuler C (derivat dari corpus
ultimobranchial) dan beberapa ragu-ragu bahwa ini berasal dari jaringan tiroid. Ada 2
tipe, yaitu familial dan sporadis. Tipe familial sering melibatkan dua lobus dan dapat
berasal multifocal sebagai sel parafolikular pada jaringan interstisial dari kelenjar tiroid.
Metastasis dengan limfonodi dalam persentase yang tinggi penderita dan
prognosis buruk. Tipe sporadis biasanya unilobar dan kurang malignant.
Histologi menunjukkan karakter undifferentiated terdiri dari berkas-berkas gel
bulat dan dapat menyerupai tumor karsinoid. Karakteristik adanya amiloid baik
mikroskopik maupun makroskopik. Tumor juga menyebabkan kelainan biokimia karena
kenaikan sekresi dari :
Kalsitonin (hipokalsemia, osteoporosis, pembesaran paratiroid, dan sakit tulang)
5-hidroksitriptamine seperti pada karsinoid (dengan manifestasi diare)
ACTH (nampak cushingoid)
e. Karsinoma epidermoid
Karsinoma ini merupakan kanker sekunder berasal dari luar, biasanya dari
perluasan sekunder kanker esofagus atau faring. Dalam klinik terkadang ditemukan
5

adenoma maligna (perubahan menjadi ganas dalam adenoma. Karsinoma yang terjadi
awalnya dapat berupa struma nodular soliter. Bisa berupa occult (tersembunyi) bila yang
primer tidak palpabel tetapi pasien biasanya menampilkan metastasis pada limfonodi di
dekatnya (thyroid aberrant lateral).
Klasifikasi TNM Karsinoma Tiroid
T Tumor primer
Tx
Tumor primer tidak dapat dinilai
T0
Tidak didapatkan tumor primer
T1
Tumor ? 1 cm, terbatas di tiroid
T2
Tumor > 1cm tapi tidak lebih dari 4 cm, masih terbatas di tiroid
T3
Tumor > 4cm, terbatas di tiroid atau tumor ukuran berapapun dengan ekstensi ekstra
T4a

tiroid yang minimal (misal ke m. sternocleidomastoideus atau kelenjar paratiroid


Tumor telah berekstensi keluar kapsul tiroid dan menginvasi daerah berikut : jaringan

subkutis, laring, trakea, esophagus, n. laryngeus reccurens


T4b Tumor menginvasi fascia prevertebralis, pembuluh mediastinal atau arteri karotis
T4a* Tumor ukuran berapapun yang masih terbatas pada tiroid
T4b* Tumor ukuran berapapun yang berekstensi keluar kapsul tiroid
*khusus pada karsinoma anaplastik
N Kelenjar limfe regional
Nx Kelenjar limfe tidak dapat dinilai
N0 Tidak didapatkan metastase kelenjar limfe
N1 Terdapat metastase kelenjar limfe
N1a Metastase kelenjar limfe servikal ipsilateral
N1b Metastase kelenjar limfe bilateral, midline, atau cervical kontralateral atau
mediastinum
M Metastase jauh
Mx
Metastase tidak dapat dinilai
M0
Tidak ada metastase jauh
M1
Terdapat metastase jauh
Stadium Klinis Karsinoma Tiroid
1. Karsinoma tiroid papilare atau folikulare < 45 tahun
Stadium
Tumor (T)
Nodul (N)
Metastasis jauh (M)
Stadium I
Tiap T
Tiap N
M0
Stadium II
Tiap T
Tiap N
M1
2. Karsinoma tiroid papilare dan folikulare umur ? 45 tahun dan medulare
6

Stadium
Stadium I
Stadium II
Stadium III
Stadium
IVA
Stadium
IVB
Stadium

Tumor (T)
T1
T2
T3
T1, T2, T3
T1, T2, T3
T4a

Nodul (N)
N0
N0
N0
N1a
N1b
N0, N1

Metastasis jauh (M)


M0
M0
M0
M0
M0
M0

T4b

Tiap N

M0

Tiap T

Tiap N

M1

IVC
3. Karsinoma anaplastik / undifferentiated (semua kasus pada stadium IV)
Stadium
Stadium

Tumor (T)
T4a

Nodul (N)
Tiap N

Metastasis jauh (M)


M0

IVA
Stadium

T4b

Tiap N

M0

IVB
Stadium

Tiap T

Tiap N

M1

IVC
2.7.Diagnosis
Prosedur diagnostik dari karsinoma tiroid adalah :
1. Anamnesis
a. Pengaruh usia dan jenis kelamin
Apabila nodul tiroid terjadi pada usia dibawah 20 tahun atau diatas 50 tahun dan jenis
kelamin laki-laki mempunyai resiko malignansi lebih tinggi
b. Pengaruh radiasi di daerah leher dan kepala
Radiasi pada masa anak-anak dapat menyebabkan malignansi pada tiroid 33-37 %
c. Kecepatan tumbuh tumor
Nodul jinak membesar dalam waktu yang tidak terlalu cepat
Nodul ganas membesar dalam waktu yang cepat
Nodul anaplastik membesar dengan sangat cepat
Kista dapat membesar dengan cepat
d. Riwayat gangguan mekanik di daerah leher
Keluhan gangguan menelan, perasaan sesak, perubahan suara dan nyeri dapat terjadi
akibat desakan dan/atau infiltrasi tumor.
e. Riwayat penyakit serupa pada keluarga
2. Pemeriksaan Fisik
7

a. Pada tumor primer dapat berupa suatu nodul soliter atau multipel dengan konsistensi
yang bervariasi dari kistik sampai dengan keras bergantung kepada jenis patologi
anatominya.
b. Perlu diketahui ada atau tidaknya pembesaran kelenjar getah bening regional.
c. Perlu dicari ada tidaknya benjolan pada kalvaria, tulang belakang, klavikula, sternum, dll,
serta tempat metastasis jauh lainnya yaitu paru-paru, hati dan otak.
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Human Thyroglobulin ; suatu tumor marker untuk keganasan tiroid ; jenis yang
berdiferensiasi baik, terutama untuk follow up.
Pemeriksaan kadar FT4 dan TSHS untuk menilai fungsi tiroid
Kadar kalsitonin hanya untuk pasien yang dicurigai karsinoma meduler.
b. Pemeriksaan radiologis
Dilakukan pemeriksaan foto paru posterior anterior, untuk menilai ada tidaknya
metastasis, foto polos leher antero-posterior dan lateral dengan metode soft tissue
technique dengan posisi leher hiper ekstensi, bila tumor besar. Untuk melihat ada
atau tidaknya mikrokalsifikasi.
Esofagogram dilakukan bila secara klinis terdapat tanda-tanda adanya infiltrasi ke
esophagus
Pembuatan foro tulang dilakukan bila ada tanda-tanda metastasis ke tulang yang
bersangkutan
c. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)
Diperlukan untuk mendeteksi nodul yang kecil atau nodul posterior yang secara
klinis belum dapat dipalpasi. Disamping itu dapat dipakai untuk membedakan nodul
yang padat dan kistik serta dapat dimanfaatkan untuk penuntun dalam tidakan biopsi.
d. Pemeriksaan sidik tiroid
Bila nodul menangkap lebih sedikit dari jaringan tiroid yang normal disebut
nodul dingin (cold nodule), bila sama afinitasnya maka disebut nodul hangat (warm
nodule) dan bila afinitasnya lebih maka disebut nodul panas (Hot nodule).
Karsinoma tiroid sebagai besar adalah nodul dingin. Sekitar 10-17% struma
dengan nodul dingin ternyata adalah suatu keganasan. Bila akan dilakukan pemeriksaan
sidik tiroid, maka obat-obatan yang mengganggu penangkapan iodium oleh tiroid harus
dihentikan selama 2-4 minggu sebelumnya.
e. Pemeriksaan sitologi BAJAH.
Keberhasilan dan ketepatan hasil BAJAH tergantung atas 2 hal yaitu faktor
kemampuan pengambilan sampel dan faktor ketepatan interpretasi oleh seorang sitolog
sehingga angka akurasinya sangat bervariasi. Ketepatan pemeriksaan ini pada
8

karsinoma tiroid anaplastik, medulare dan papilare hampir mendekati 100%, tetapi jenis
folikulare hampir tidak dapat dipakai karena gambaran sitologi untuk adenomatosus
goiter, adenoma folikulare dan adeno karsinoma folikuler adalah sama, tergantung dari
gambaran invasinya ke kapsul dan vaskular yang hanya dapat dilihat dari gambaran
histopatologi.
f. Pemeriksaan histopatologi
Merupakan pemeriksaan diagnostik utama jaringan diperiksa, setelah dilakukan
tindakan lobektomi atau isthmolobektomi
Untuk kasus inoperabel, jaringan yang diperiksa diambil dari tindakan biosi insisi.

2.8.Penatalaksanaan
Penatalaksanaan karsinoma thyroid tergantung pada jenis, penyebaran sel kanker,
ketersedian alat, dan ketersedian sumber daya manusia yang mengerjakanya. Pada penderita
karsinoma thyroid dilakukan tindakan pembedahan yang bisa dikuti dengan radioterapi
tergantung jenis histopatologis dan stadiumnya. Pemeriksaan klinis penting untuk menentukan
apakah nodul tiroid tersebut suspek maligna atau suspek benigna.
Bila nodul tersebut suspek maligna dibedakan atas apakah kasus tersebut operabel atau
inoperabel. Bila kasus yang dihadapi inoperabel maka dilakukan tindakan biopsi insisi dengan
pemeriksaan histopatologi secara blok parafin. Dilanjutkan dengan tindakan debulking dan
radiasi eksterna atau kemoradioterapi.

Gambar 1. bagan penatalaksanaan neoplasma tiroid


Bila nodul tiroid suspek maligna tersebut operabel dilakukan tindakan isthmolobektomi
dan pemeriksaan potong beku (VC). Ada 5 kemungkinan hasil yang didapat :
1. Lesi jinak maka tindakan operasi selesai dilanjutkan dengan observasi
2. Karsinoma papilare.
Dibedakan atas risiko tinggi dan risiko rendah berdasarkan klasifikasi AMES. Bila
risiko rendah tindakan operasi selesai dilanjutkan dengan observasi. Bila risiko tinggi
dilakukan tindakan tiroidektomi total.
3. Karsinoma Folikulare dilakukan tindakan tiroidektomi total
4. Karsinoma Medulare dilakukan tindakan tiroidektomi total
5. Karsinoma Anaplastik

10

Bila memungkinkan dilakukan tindakan tiroidektomi total. Bila tidak memungkinkan,


cukup dilakukan tindakan debulking dilanjutkan dengan radiasi eksterna atau
khemoradioterapi.
Bila nodul tiroid secara klinis suspek benigna dilakukan tindakan FNAB/BAJAH (Biospi
Aspirasi Jarum Halus). Ada 2 kelompok hasil yang mungkin didapat yaitu :
1. Hasil FNAB suspek maligna, foliculare Pattern dan Hurthle Cell.
Dilakukan tindakan isthmolobektomi dengan pemeriksaan potong beku seperti diatas.
2. Hasil FNAB benigna
Dilakukan terapi supresi TSH dengan tablet Thyrax selama 6 bulan kemudian
dievaluasi, bila nodul tersebut mengecil diikuti dengan tindakan observasi dan apabila
nodul tersebut tidak ada perubahan atau bertambah besar.sebaiknya.dilakukan tindakan
isthmolobektomi dengan pemeriksaan potong beku seperti diatas.

11

Daftar Pustaka
1. Ganong, William. Kelenjar Thyroid, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, edisi kedua puluh.
Jakarta, McGraw-Hill & EGC. 2003.
2. Guyton, Arthur C. Hormon Thyroid, Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, edisi ketiga.
Jakarta, EGC. 1995.
3. Geneser, Finn. Kelenjar Thyroid, Buku Teks Histologi, jilid 2, edisi pertama. Jakarta, Binarupa
Aksara.1994.
4. Sadler, T. W. Glandula Thyroidea, Embriologi Kedokteran Langman, edisi ketujuh. Jakarta,
EGC. 2000.
5. Sabiston, David C. Glandula Thyroidea, Buku Ajar Ilmu Bedah, jilid 1. Jakarta, EGC. 1995.
6. Sloane, Ethel. Kelenjar Thyroid, Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula, edisi pertama. Jakarta,
EGC.2004.
7. Guibson, John. Kelenjar Thyroid, Fisiologi & Anatomi untuk Perawat, edisi kedua. Jakarta,
EGC. 2003.
8. Moore, Keith L. and Anne M. R. Agur. Glandula Thyroidea, Anatomi Klinis Dasar. Jakarta,
Hipokrates. 2002.
9. Putz, R. and R. Pabst. Neck, Sobotta, Atlas of Human Anatomy, part 1, 12th edition. Los
Angeles, Williams & Wilkins. 1999.
10. Kierszenbaum, Abraham L. Endocrine System, Histology and Cell Biology, an Introduction
to Pathology, 1st edition. Philadelphia, Mosby, Inc. 2002.
11. Junqueira, L. Carlos, et al. Tiroid, Histologi Dasar, edisi kedelapan. Jakarta, EGC. 1998.

12

12. Price, Sylvia Anderson, et. al. Gangguan Kelenjar Thyroid, Patofisiologi, Konsep Klinis
Proses-proses Penyakit, edisi keenam. Jakarta, EGC. 2006.
13. Syaifuddin. Kelenjar Thyroid. Struktur dan Komponen Tubuh Manusia, edisi pertama.
Jakarta, Widya Medika. 2002.
14. Schwartz, Seymour I., et. al. Tiroid dan Paratiroid, Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah, edisi
keenam. Jakarta, EGC. 2000.

13