Anda di halaman 1dari 17

TUGAS II

TEKNIK LINGKUNGAN
PROSES PENGAWETAN DAN PENGALENGAN IKAN :
PENCEMARAN YANG DI TIMBULKAN
Dosen Pengampu: Sri Hastutiningrum, ST., M.Si.

Nama : Rahmadianto
NIM : 121071006
Prodi : Sistem Komputer

JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS SAINS DAN TERAPAN
INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND
YOGYAKARTA
2015

PROSES PENGAWETAN DAN PENGALENGAN IKAN :


PENCEMARAN YANG DI TIMBULKAN
Pengalengan yaitu salah satu cara penyimpanan dan pengawetan bahan pangan yang
dikemas secara hermetic dalam suatu wadah yang disebut can (kaleng) dan kemudian
disterilkan, sehingga diperoleh produk pangan yang tahan lama dan tidak mengalami
kerusakan baik fisik, kimia maupun biologis.
Tahapan Pengalengan Ikan
1. Pengadaaan Bahan Baku Ikan Segar
Ikan yang akan dijadikan sarden bisanya didapat dari nelayan ikan, ikan-ikan dijual
langsung oleh pemilik perahu atau dikumpulkan terlebih dahulu oleh pengepul. Ikan
yang digunakan sebagai bahan baku umumnya tergolong ikan pelagis ukuran kecil
yang hidup bergerombol seperti ikan Lemuru, ikan Sardin, ikan Tamban, ikan Balo,
dan ikan Layang.
2. Pengguntingan (cutting)
Bahan baku ikan segar yang sudah dibeli pabrik akan langsung diproses. Tahapan
pertama disebut dengan pengguntingan (cutting) alat yang digunakan adalah gunting
besi. Ikan digunting pada bagian pre dorsal (dekat dengan kepala) kebawah
kemudian sedikit ditarik untuk mengeluarkan isi perut. Ikan balo diberikan sedikit
perlakuan khusus yaitu sebelum digunting sisik-sisik yang terdapat diseluruh
badannya dihilangkan terlebih dahulu dengan menggunakan pisau. Dalam tahapan
pengguntingan juga dilakukan sortasi. Bahan baku ikan disortasi dari campuran ikan
yang lain dan dari sampah serta serpihan karang yang ikut terbawa saat proses
penangkapan ikan. Ikan yang sudah digunting ditempatkan dalam keranjang plastik
kecil. Setelah keranjang penuh, ikan dimasukkan dalam mesin rotary untuk dilakukan
proses pencucian.

3. Pengisian (Filling)
Ikan yang keluar dari mesin rotary ditampung dalam keranjang plastik, lalu dibawa ke
meja pengisian untuk diisikan kedalam kaleng. Diatas meja pengisian terdapat pipa
air yang digunakan untuk melakukan pencucian ulang sebelum ikan diisikan kedalam
kaleng. Posisi ikan didalam kaleng diatur, misalnya untuk membuat produk kaleng
kecil setelah penghitungan rendemen ditentukan bahwa jumlah ikan yang diisikan
kedalam kaleng adalah 4 ekor ikan. Ikan-ikan tersebut diisikan dalam kaleng dengan
posisi 2 buah pangkal ekor menghadap kebawah dan 2 ekor lagi menghadap keatas.
Kaleng yang sudah diisi ikan diletakkan diatas conveyor yang terus berjalan
disamping meja pengisian untuk masuk tahapan berikutnya.

4. Pemasakan Awal (Pree Cooking)


Dengan bantuan conveyor kaleng yang sudah terisi ikan masuk kedalam exhaust box
yang panjangnya 12 m, didalam exhaust box ikan dimasak dengan menggunakan
uap panas yang dihasilkan oleh boiler. Suhu yang digunakan 800C, proses pree
cooking ini berlangsung selama 10 menit.

5. Penghampaan (Exhausting)
Penghampaan dilakukan dengan menambahkan medium pengalengan berupa saos
cabai atau saos tomat dan minyak sayur (vegetable oil). Suhu saos dan minyak sayur
yang digunakan adalah 800C. Pengisian saos dilakukan secara mekanis dengan
menggunakan filler. Pada prinsipnya proses penghampaan ini dapat dilakukan
melalui 2 macam cara, biasanya pabrik berskala kecil exhausting dilakukan dengan
cara melakukan pemanasan pendahuluan terhadap produk, kemudian produk
tersebut diisikan kedalam kaleng dalam keadaan panas dan wadah ditutup, juga
dalam keadaan masih panas. Untuk beberapa jenis produk, exhausting dapat pula
dilakukan dengan cara menambahkan medium pengalengan misalnya air, sirup, saos,
minyak, atau larutan garam mendidih. Sedangkan, pabrik pengalengan berskala besar
melakukan exhausting dengan cara mekanis, dan dinamakan pengepakan vakum
(vacuum packed). Cara kerjanya adalah menarik oksigen dan gas-gas lain dari dalam
kaleng dan kemudian segera dilakukan penutupan wadah.

6. Penutupan Wadah Kaleng (Seaming)


Penutupan wadah kaleng dilakukan dengan menggunakan double seamer machine.
Seorang karyawan bertugas mengoprasikan double seamer machine dan mengisi
tutup kaleng kedalam mesin. Kecepatan yang digunakan bervariasi. Double seamer
untuk kemasan kaleng kotak dioprasikan dengan kecepatan penutupan 84 kaleng
permenit (kecepatan maximum 200 kaleng permenit), double seamer untuk kaleng
kecil dioperasikan dengan kecepatan penutupan 375 kaleng permenit (kecepatan
maximum 500 kaleng permenit) sedangkan untuk double seamer kaleng besar
dioperasikan dengan kecepatan 200 kaleng permenit (kecepatan maximum 500

kaleng permenit). Tutup kaleng yang dipakai adalah tutup kaleng yang sudah terlebih
dahulu diberi kode tanggal kedaluwarsa diruang jet print. Ruang jet print sengaja
dibuat berdekatan dengan ruang seamer sehingga tutup kaleng yang sudah diberi
kode dengan segera dapat dipakai untuk penutupan wadah kaleng. Nah, tanggal
kedaluwarsa ini penting banget buat kita. Sebelum membeli produk makanan apapun
tak terkecuali sarden perhatikanlah kode dibawah kaleng, lihat dengan seksama
tanggal kedaluwarsanya. Hal ini semata-mata untuk menjaga kesehatan kita. Di
pabrik pengalengan sendiri penentuan tanggal kedaluwarsa merupakan bagian yang
sangat penting. Jangka waktu kedaluwarsa telah ditentukan oleh pihak perusahaan
dengan berdasarkan pengujian makanan yang dilakukan oleh pihak perusahaan di
departemen kesehatan

7. Sterilisasi (Processing)
Sterilisasi dilakukan dengan menggunakan retort. Dalam satu kali proses sterilisasi
dapat mensterilkan 4 keranjang besi produk ikan kalengan atau setara dengan 6.800
kaleng kecil atau 3.400 kaleng besar. Suhu yang digunakan antara 115 1170C
dengan tekanan 0,8 atm, selama 85 menit jika yang disterilisasi adalah kaleng kecil
dan 105 menit untuk kaleng besar. Sterilisasi dilakukan dengan memasukkan
keranjang besi kedalam menggunakan bantuan rel. Sterilisasi dilakukan tidak hanya
bertujuan untuk menghancurkan mikroba pembusuk dan pathogen, tetapi berguna
untuk membuat produk menjadi cukup masak, yaitu dilihat dari penampilan, tekstur
dan cita rasanya sesuai dengan yang diinginkan.

8. Pendinginan dan Pengepakan


Ikan kalengan yang sudah disterilisasi dikeluarkan dari dalam retort, kemudian
diangkat dengan katrol untuk didinginkan dalam bak pendinginan bervolume 16.5 m 3
yang diisi dengan air yang mengalir. Pendinginan dilakukan selama 15 menit. Produk
setelah didinginkan diistirahatkan terlebih dahulu ditempat pengistirahatan (Rested
area) untuk menunggu giliran pengepakan (packing). Packing diawali dengan aktivitas
pengelapan untuk membersihkan sisa air proses pendinginan, setelah itu produk
dimasukkan kedalam karton. Produk yang kemasannya sudah diberi label (label cat)
bisa langsung di packing, sementara produk yang kemasannya kosong terlebih dahulu
diberi label kertas sesuai dengan keinginan produsen.

Pencemaran Yang Di Timbulkan


A. Karakteristik Limbah Pengalengan Ikan
1. Karakteristik fisik
Adapun karakteristik fisik limbah pengalengan yaitu terdiri dari :
a. Berwujud padat dan cair
b. Warna dari limbah cair adalah berwarna merah bata sampai cokelat, yang
disebabkan bercampur dengan darah ikan.
c. Aroma bau amis, disebabkan oleh dekomposisi lanjut protein yang kaya akan
asam amino bersulfur (sistein), meningkatkan asam sulfida, gugus tiol, dan
amoniak. Asam lemak rantai pendek dikomposisi bahan organik juga akn
menyebabkan bau busuk.
d. Total padatan tersuspensi (TSS) sebesar 50 mg/L dan untuk padatan terlarut
(TDS) sebesar 2000 mg/L.
2. Karakteristik kimia
Terdapat karakteristik kimia limbah pengalengan yaitu terdiri dari :
a. pH limbah pengalengan ikan berkisar 6-9. Semakin tinggi atau rendaahnya
tingkat keasaman dapat menyebabkan terganggunya kehidupan biota air dan
pH yang terlalu asam dapat mempercepat pengkaratan (korosif).
b. Nilai BOD5 100 mg/L dan COD sebesar 75 mg/L berdasarkan standar mutu.
Semakin tinggi nilai BOD maka semakin tinggi pula tingkat pencemaran.
c. Kandungan logam berat, seperti Pb sebanyak 0,1 mg/L pada limbah
pengalengan ikan.
d. Kandungan lemak/minyak, diperoleh dari proses pengolahan sehingga
dihasilkan pada limbah pengalengan ikan yaitu 10 mg/L.
3. Karakteristik biologi
Karakteristik biologi pada limbah industri pengalengan ikan yang berkaitan dengan
penguraian bahan-bahan organik yang dikukan oleh mikroorganime autotrof
berupa proses nitrifikasi. Proses ini terjadi melalui oksidasi ammonium menjadi nitrit
dan selanjutnya menjadi nitrat. Telah diketahui banyak jenis mikroba nitrifikasi yang
berperan didalamnya, tetapi tidak satupun yang dapat merubah langsung ammonium
menjadi

nitrat.

Proses

oksidasi

ammonium

menjadi

nitrit

dilakukan

oleh Nitrosomonas sp, dan oksidasi nitrit dilakukan oleh Nitrobacter sp. Oleh karena
itu pada limbah industri pengalengan ikan sering menimbulkan bau amoniak dan
biasanya dengan jumlah 1 mg/L.

B. Potensi jenis limbah yang dihasilkan dari setiap tahapan proses pengalegan
Terdapat tahapan proses dalam pengalengan ikan yang memungkinkan munculnya
berbagai jenis limbah yaitu sebaagai berikut
1. Penerimaan bahan baku
Setiap bahan baku yang diperoleh harus diperiksa mutunya paling tidak secara
organoleptik dan ditangani sesuai dengan persyaratan teknik sanitasi dan higiene.
Ikan yang tidak memenuhi persyaratan bahan baku harus ditolak. Untuk bahan baku
segar harus segera dilakukan pencucian menggunakan air mengalir dengan suhu
maksimum 5oC. Bahan baku yang diterima dalam keadaan beku, apabila menunggu
proses penanganan selanjutnya maka harus disimpan dalam es yang bersuhu -25oC.
Bahan baku yang dalam keadaan segar apabila menunggu proses penanganan
selanjutnya harus disimpan pada suhu chilling (0C).
Jenis limbah : Limbah cair, penggunaan air mengalir untuk mencuci ikan segar.
2. Persiapan
Apabila bahan baku masih dalam keadaan beku maka dilakukan pelelehan (thawing)
dalam air mengalir yang bersuhu 10o 15 oC. Untuk ikan dalam keadaan utuh,
dilakukan pemotongan kepala, sirip dan pembuangan isi perut. Sedangkan ikan yang
berukuran besar dilakukan pemotongan bagian badan menjadi ukuran yang sesuai
dengan alat precooking dan selanjutnya ditempatkan dalam rak pre-cooking.
Jenis limbah : Limbah padat, sisa bagian tubuh ikan dari kegiatan pemotongan
seperti kepala, sirip, isi perut, darah, sisik.
3. Pemasakan pendahuluan (pre-cooking)
Ikan tuna yang telah disiapkan dalam rak dimasukkan ke dalam alat pemasak
menggunakan uap panas (steam). Waktu yang dibutuhkan untuk pemasakan
pendahuluan tergantung pada ukuran ikan, namun umumnya berkisar 1 4 jam
(mampu mereduksi 17,5 % kadar air dari daging ikan) dengan suhu pemasakan 100 o
105o C.
Jenis limbah : Limbah cair, medium air yang digunakan sebagai pemanas (dalam
jumlah sedikit).
4. Penurunan suhu
Ikan yang telah dimasak dikeluarkan dari alat pemasak dan diturunkan suhunya
sampai ikan dapat ditangani lebih lanjut (30o C) dalam waktu maksimum 6 jam.
5. Pembersihan daging
Daging ikan dibersihkan dari sisik, kulit, tulang dan daging merah menggunakan pisau
yang tajam. Kulit, tulang dan daging merah yang terbuang ditampung dalam wadah
yang terpisah.
Jenis Limbah : Limbah padat, berupa sisik, kulit, tulang, daging merah.

6. Pemotongan
Daging putih yang telah bersih dari kulit, tulang dan daging merah, dipotong-potong
dengan ukuran yang disesuaikan dengan ukuran kaleng. Pada tahap pemotongan ini
sekaligus dilakukan sortasi terhadap daging yang rusak. Daging putih yang telah
dipotong secepatnya harus dimasukkan/diisikan ke dalam kaleng.
Jenis limbah : Limbah padat, berupa daging yang rusak dan daging sisa pemotongan.
7. Pengisian
Pengisian daging ke dalam kaleng dilakukan dengan cara menata daging ikan ke
dalam kaleng sesuai dengan tipe produk (solid, chunk, flake, standard, grated).
a. Solid : 1 2 potong daging putih, bebas serpihan.
b. Standard : 2 3 potong daging putih, serpihan maksimum 2 %.
c. Chunk : serpihan daging putih satu kali makan, sepihan flake maks 40 %.
d. Flake : potongan daging kecil < chunk.
e. Grated : daging kecil (flake, tidak seperti pasta).
Jenis Limbah : Limbah padat, berupa serpihan dari potongan ikan
8. Penambahan medium
Medium ditambahkan sesaat sebelum kaleng ditutup. Suhu medium antara 70 8oC.
Pengisian media hingga batas head space atau antara 6 10 % dari tinggi
kaleng. Tahap ini medium biasanya dapat dipanaskan terlebih dahulu untuk mengusir
oksigen yang dapat dipergunakan oleh mikroorganisme untuk tumbuh, hal ini dikenal
dengan exhausting.
Jenis limbah : Limbah cair, berupa medium pengisian yang terbuang.
9. Penutupan kaleng
Penutupan

kaleng dilakukan

dengan

sistem double

seaming dan

dilakukan

pemeriksaan secara periodik.


Jenis limbah : Limbah padat, berupa tutup kaleng yang rusak.
10. Sterilisasi
Sterilisasi dilakukan di dalam retort dengan nilai Fo sesuai dengan jenis dan ukuran
kaleng, media dan tipe produk dalam kemasan atau equivalent dengan nilai Fo > 2,8
menit pada suhu 120oC. Pada setiap sterilisasi harus dilakukan pencatatan suhu
secara periodik.
Jenis limbah : Limbah cair, berupa air bekas medium pemanas.
11. Penurunan suhu dan pencucian
Penurunan suhu dan pencucian menggunakan air yang mengandung residu khlor 2
ppm. Setelah dikeluarkan dari retort, kaleng dipindahkan ke tempat yang terlindung
(restricted area) untuk pendinginan dan pengeringan.
Jenis limbah : Limbah cair berupa senyawa khlor 2 ppm, es dari penyimapan ikan.

12. Pemeraman
Kaleng yang telah dingin dimasukkan ke dalam suatu ruang dengan suhu kamar dan
diletakkan dengan posisi terbalik, dan kemudian dilakukan pengecekan terhadap
kerusakan kaleng. Kaleng yang dianggap rusak adalah kaleng yang menggembung
atau bocor. Pemeraman dilakukan minimal selama 7 (tujuh) hari.
Jenis Limbah : Limbah padat, berupa kaleng sisa pembentukan pengalengan ikan.
Berikut adalah penjelasan dari beberapa limbah yang disebabkan oleh pengawetan dan
pengalengan ikan :
A. Limbah Padat
1. Sumber limbah padat pengalengan ikan
a. Bagian tubuh ikan
Limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan industri pengalengan ikan dapat berasal
dari bagian tubuh ikan yaitu :
Ingsang
Kepala ikan
Tulang ikan
Perut ikan
Ekor ikan
Sisik
Bahkan ada pengalengan ikan yang mengeluarkan kulit ikan itu sendiri
b. Kemasan
Dalam kegiatan pengalengan biasanya digunakan wadah pengemas untuk mewadahi
sekaligus menjaga keamanan ikan yang dikalengkan sehingga masa simpan dapat
diperpanjang, namun disisi lain sisa hasil pembentukan pengalengan dan setelah
digunakan oleh konsumen menjadi limbah yang berbasis rumah tangga yang
berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu kemasan kaleng
yang digunakan menjadi sumber limbah padat dari pengalengan ikan.
2. Penanganan
a. Bagian tubuh ikan
Limbah padat yang dihasilkan dari proses pengalengan ikan ini umumnya sangat
jarang sekali dilakukan penanganan untuk dibuang ke badan air. Namun mengingat
potensi dari limbah padat yang masih memiliki kandungan gizi dan nilai ekonomis
yang tinggi, sehingga limbah padat diolah menjadi berbagai produk yang bernilai
ekonomis tinggi. Pengolahan seperti itu juga dapat meminimalkan limbah dari ikan

pengalengan ikan tersebut. Pengolahannya juga dapat menambah pemasukan


industri tersebut.
b. Kemasan
Daurulang kaleng menjadi kaleng yang dapat digunakan kembali, caranya dengan
melakukan peleburan dengan cara melelehkan kaleng dengan suhu 1200 0C dan
kemudian dilakukan pembentukan kembali.
Kaleng merupakan salah satu hasil produksi yang menggunakan alumunium sebagai
bahan bakunya. Gagasan yang diajukan untuk mengurangi jumlah sampah kaleng
yaitu dengan cara recovery, dimana lapisan aluminium dari sampah tersebut menjadi
tawas. Pembuatan tawas dari sampah ini sangat mudah. Kaleng dibakar
untuk menghilangkan pengotor aluminium seperti lapisan plastik, cat ataupun kertas.
Jika sudah bersih, aluminium dipotong kecil-kecil dan dilarutkan dalam KOH dengan
perbandingan masa alumunium dan KOH sebesar 1 : 2. Jika aluminium telah larut
seluruhnya, larutan ini disaring dan filtratnya ditambah dengan H 2SO4 sampai
endapan larut. Jika endapan telah larut maka larutan terebut didiamkandan kristal
tawas akan segera terbentuk.Pembuatan tawas dengan metode ini dapat
mengurangi biaya produksiyang tinggi. Biaya produksi dapat ditekan lebih dari 50%
dengan penggunaan bahan baku sampah aluminium ini. Selain mengurangi biaya
produksi, dengan metode ini limbah aluminium dapat dikurangi karena hampir 99%
sampah aluminium memiliki komposisi aluminium yang sama dengan aluminium
baru, sehingga kualitas produksi tidak akan turun.
B. Limbah Cair
1. Sumber limbah cair
a. Darah
Darah merupakan salah satu sumber limbah cair dari aktivitas industri pengalengan
ikan. Namun jumlahnya tidak menunjukkan presentase dalam jumlah yang besar
sehingga bisanya darah yang berwujud cair ini hanya akan mempengaruhi warna dari
pada badan air yang mengandung limbah pengalengann ikan.
1. Proses pengolahan
Berdasarkan sumbernya air limbah yang dihasilkan dikawasan industri pengolahan
ikan dikelompokan menjadi 2 jenis, yaitu :
a) Air limbah domestik, yaitu air limbah yang berasal dari kamar mandi, toilet,
kantin, wastavel dan tempat wudu. Sesuai dengan aktivitasnya, maka sumber air
limbah ini akan dihasilkan oleh setiap industry yang ada.

b) Air limbah produksi, berasal dari aktifitas produksi seperti pencucian komponenkomponen peralatan dan lantai produksi. Sesuai dengan kegiatan industri dan
setiap aktivitas yang ada didalam suatu perusahaan.
Didalam proses produksi, air yang digunakan untuk kegiatan seperti :
Pencucian/pembersihan bahan baku
Pembersihan isi perut ikan
Pemasakan dan pembersihan lokasi pabrik
Oleh karena itu banyak air yang digunakan dalam sekali produksi tidak sedikit. Dalam data
survey penggunaan air dalam industri ikan dalam suatu daerah dapat dilihat dalam tabel
beriku:
Tabel 1. Penggunaan air dalam berbagai industri pengolahan ikan
No.
Industri
m3/ton
1.
Pengalengan Ikan
20
2.
Tepung Ikan
12
3.
Cold Storage Ikan
15
4.
Minyak Ikan
10
5.
Pengoalah Ikan Lainya
15
6
Keperluan Ikan Domestik
0,10
Dengan asumsi diatas diketahui jumlah air yang digunaan dalam satu hari mencapai rata-rata
14 m3/ton dalam satu kali produksi. Dengan jumlah yang sangat banyak ini tentu akan
menghasilkan limbah cair yang sangat banyak dan tentu tidak dapat langsung dibuang
karena dapat meningkatkan beban lingkungan.
b. Bahan tambahan
Dalam pengalengan ikan digunakan bahan tambahan yang berpotensi menimbukan
limbah. Limbah ini berasal dari air yang mengandung garam, campuran minyak kedelai, asam
sorbat, kalium, natrium sorbat, dan cairan yang mengandung zat zat organik hasil
pengolahan. Selain itu limbah cair juga dihasilkan dari medium pengalengan seperti saos
cabai atau saos tomat dan minyak sayur (vegetable oil), air, sirup, minyak, atau larutan
garam mendidih.
2. Mikroorganisme limbah cair
Limbah cair yang tidak langsung ditangani menimbulkan sejumlah dampak negatif
yang salah satu faktor penyebabnya adalah kegiatan mikroorganisme. Adapun
mikroorganisme yang sering terdapat pada limbah padat dapat diklasifikasikan
menjadi 2, yaitu :
a. Bakteri aerob
Bakteri ini dapat digolongkan menjadi bakteri atau mikroorganisme autotrof dimana
pada kondisi awal limbah yang dibuang masih dalam keadaan aerob akibat
tersedianya oksigen sehingga, dengan tersedianya oksigen bakteri ini dapat tumbuh

dan mereduksi limbah yang terdapat pada badan air terutama dengan bantuan
matahari dan hasil fotosintesa tumbuhan air.
b. Bakteri anaerob
Bakteri ini dikenal dengan bakteri pembusuk dimana air limbah tanpa penangan jika
langsung dibuang ke badan air dapat menurunkan kandungan oksigen yang terlarut
pada air sehingga akan tercipta kondisi anaerob yang memicu pertumbuhan bakteri
anaerob yang dapat mengubah bahan-bahan organik limbah menjadi senyawasenyawa yang dapat menganggu ekosistem lingkungan seperti dihasilkannya H2S dari
penguraian sulfur, gas metan (CH4) dari penguraian unsur karbon, amina dari
penguraian ammonium, dan PH4 dari penguraian phospat. Kebanyakan bakteri dapat
hidup pada aw >0.90, sehingga kerusakan oleh bakteri terutama terjadi pada produkproduk yang berkadar air tinggi. Untuk beberapa bakteri lainnya, oksigen bersifat
racun. Bakteri ini dinamakan anaerob. Contoh bakteri yang bersifat anaerobik
adalah Clostridium. Ada juga bakteri yang dapat tumbuh pada kondisi tanpa dan
dengan

adanya

oksigen.

Kelompok

ini

disebut

fakultatif

anaerobik,

contohnya Bacillus.
3. Penanganan
1. Desain Pengolahan Limbah
Jika dilihat dari karakteristik limbah cair industri pengolahan hasil ikan memiliki kadar
BOD 2,96 kg/ton ini berarti memiliki range yang cukup besar. Untuk membuat
pengolahan limbah harus diturunkan dahulu COD hingga mencapai 200 ppm atau
disesuaikan dengan ambang batas COD, dan biasanya menggunakan pengolahan
sebagai berikut :
a. Penyaring, penyaring ini dibutuhkan untuk memisahkan padatan yang terbawa
oleh limbah cair, penyaringan ini dipasang sesuai kebutuhan.
b. Bak/Tangki Equalisasi, Tangki ekualisasi ini berfungsi untuk menampung limbah
yang keluar sebelum diolah sehingga kualitas limbah menjadi homogen.
c. Fixed Bed Reactor, merupakan peralatan pengolahan anaerob yang digunakan
untuk COD diatas 6000 ppm.
d. Trikling Filter, merupakan peralatan poses biologi aerob fan anaerob yang biasa
digunakan untuk pengolahan limbah 4000 ppm.
e. Instalasi dan pompa, yang merupakan alat penunjang proses pengolahan
sebelum dan sesudah.
2. Proses Pengolahan Limbah Cair
1. Pengolahan Primer
Beberapa proses pengolahan primer yang biasa digunakan untuk mengolah
limbah cair adalah :

a. Equalisasi
Proses ini dimaksudkan untuk mengontrol karakteristik limbah cair agar
supaya fluktuasi kualitasnya dapat dikurangi. Proses ini sangat diperlukan
apabila limbah cair akan mengalami proses pengolahan berikutnya.
Equalisasi dilakukan dalam suatu bak yang ukuran dan jenis baknya sangat
bervariasi. Hal ini tergantung pada jumlah limbah cair yang diolah dan
variabilitas aliran air limbah cair. Bak equalisasi yang digunakan harus dapat
menampung keseluruhan jadwal proses dari suatu kegiatan produksi yang
mungkin bervariasi dari segi debit limbah cair yang dihasilkan.
Bak equalisasi ini dapat pula dipakai sebagai tempat pengkondisian limbah
cair sebelum mengalami proses pengolahan berikutnya. Secara sistematis,
tujuan dilakukan proses di dalam bak equalisasi adalah sebagi berikut :
1. Untuk menjaga terjadinya umpan kejutan (shock loading) pada system
proses biologi.
2. Untuk mengontrol pH.
3. Untuk menjaga agar aliran limbah cair yang diolah pada sistem biologi
dapat mengalir secara kontinyu, khususnya apabila kegiatan produksi
sedang diberhentikan.
4. Untuk mencegah konsentrasi tinggi dari bahan-bahan toksik yang
mungkin dihasilkan dari kegiatan produksi sebelum masuk ke sistem
pengolahan biologi.
Bak equalisasi biasanya memerlukan mixer untuk menjamin homogenitas
limbah cair. Tambahan pula, mixer ini juga membantu terjadinya proses
transfer oksigen dari udara ke dalam limbah cair yang pada gilirannya akan
mengurangi kadar BOD di dalam limbah.
2. Netralisasi
Beberapa limbah cair industri makanan bersifat asam atau alkali. Kondisi ini
memerlukan langkah-langkah netralisasi sebelum limbah cair itu diijinkan
untuk dibuang ke badan air atau dimasukkan ke dalam sistem pengolahan
berikutnya, baik secara biologi maupun kimia.
a. Pengolahan Sekunder
Pada umumnya proses pengolahan sekunder terdiri dari proses aerobik
dan anaerobik, digunakan untuk mendegradasi senyawa-senyawa
organik yang terlarut di dalam limbah cair. Proses pengolahan ini
menggunakan mikrooganisme untuk mendegradasi bahan organik yang
terkandung di dalam limbah cair. Mikroorganisme yang digunakan pada
umumnya diambil dari sistem yang sudah berjalan, dan dapat diambil

dari keluaran sistem maupun dari lumpur yang terjadi. Di dalam


prakteknya, mikrooorganisme awal yang biasa disebut sebagai starter,
terlebih dahulu harus dilakukan aklimatisasi untuk mengkondisikan
kebiasaan hidupnya dengan lingkungan yang baru.
3. Proses Anaerobik
Dekomposisi bahan organik di dalam limbah cair akan menghasilkan gas
metana dan karbondioksida. Proses dekomposisi ini berjalan tanpa adanya
oksigen. Walaupun secara kinetika dan keseimbangan bahan sangat mirip
dengan proses aerobik, tetapi beberapa syarat dasar perlu mendapatkan
perhatian dalam merancang unit anaerobik ini.
Pada proses ini konversi dari asam-asam organik yang akan membentuk gas
metana menghasilkan energi yang rendah. Akibat dari hal tersebut maka hasil
pertumbuhan mikroorganisme dan kecepatan degradasinya juga rendah.
Konversi bahan organik menjadi gas baik metana maupun karbondioksida
dapat mencapai kisaran antara 80 90%. Untuk mencapai efisiensi yang
tinggi, diperlukan kenaikan temperatur. Tetapi hal ini perlu diperhitungkan
dengan matang, mengingat bahwa kenaikan temperatur ini akan menambah
biaya operasional dari penanganan limbah cair. Keuntungan dari proses ini
adalah dihasilkannya gas metana yang merupakan bahan bakar yang dapat
digunakan sebagi sumber panas. Selain itu, keuntungan lain adalah bahwa
proses ini mampu untuk mendegradasi bahan organik yang tinggi di dalam
limbah cair. Kandungan bahan organik yang rendah tidak efisien untuk diolah
secara anaerobik.
4. Proses Aerobik
Proses aerasi bertujuan untuk memindahkan oksigen, baik oksigen murni
maupun udara, ke dalam proses pengolahan biologis. Aerasi dapat juga
digunakan untuk membuang senyawa yang mudah dari sejumlah limbah cair.
Aerasi merupakan proses perpindahan (transfer) massa antara gas (oksigen)
dan cairan. Transfer oksigen ke dalam limbah cair dipengaruhi oleh variabel
fisik dan kimia, antara lain :
Temperatur
Pencampuran secara turbulen
Kedalaman limbah cair
Karakteristik limbah cair
Beberapa peralatan aerasi yang umum digunakan pada skala industri saat ini
adalah unitair diffusion yaitu sistem aerasi turbin dimana udara dilepaskan
dari bawah baling-baling yang berputar dan dari unit aerasi permukaan

dimana akan terjadi perpindahan oksigen yang memungkinkan terjadinya


turbulensi yang tinggi dari permukaan limbah cair.
5. Trickling Fillter (Unggun Percik)
Trickling Filter merupakan tumpukan media dimana limbah cair memercik dari
bagian atas media dan menembus sela-selanya. Dalam prosesnya, media akan
diselimuti oleh lapisan yang merupakan mikroorganisme. Saat limbah cair
melintasi media ini, maka akan terjadi proses degradasi bahan organik di
dalam limbah cair. Media yang dipakai biasanya terbuat dari bahan plastik.
Untuk skala besar, tinggi media ini bisa sampai 12 m dengan laju
pengumpanan sebesar 0,16 m3/(min.m2). Sistem ini mampu mencapai
degradasi bahan organik sebesar 90%. Limbah cair yang melalui tumpukan
media memberikan nutrien kepada lapisan film yang adalah lapisan
mikroorganisme. Bersamaan dengan itu, oksigen juga terdifusi masuk ke
dalam lapisan film tersebut. Disinilah terjadi proses degradasi bahan organik
yang terkandung di dalam limbah cair. Dari proses degradasi ini lalu dihasilkan
gas CO2 yang terdifusi keluar dari lapisan film. Apabila lapisan film ini terlalu
tebal, maka kemungkinan akan terjadi proses anaerobik pada bagian lapisan
film sebelah dalam. Hal ini mengingat bahwa oksigen tidak dapat menembus
masuk jauh ke dalam lapisan film tersebut.
Pada trickling filter ini, unjuk kerja akan erat berhubungan dengan
terbentuknya lapisan film pada permukaan media dan lama waktu kontak
antara limbah cair dengan lapisan film tersebut. Karena transfer oksigen ke
dalam lapisan film berhubungan erat dengan turbulensi dari limbah cair, maka
transfer oksigen ini sangat dipengaruhi oleh laju pengumpanan dan
konfigurasi dari media yang dipakai di dalam trickling filter. Apabilatrickling
filter ini akan dipakai untuk mendegradasi limbah cair yang mengandung
bahan organik tinggi, maka konsentrasinya harus diperhatikan. Apabila
konsentrasi bahan organik terlalu tinggi, maka akan terjadi proses anaerobik
di dalam trickling filter. Akibatnya, daritrickling filter ini akan timbul bau
busuk. Pada umumnya, bahan organik di dalam limbah cair yang
diperkenankan untuk diolah di dalam trickling filter mempunyai besaran BOD
antara 600 sampai 1200 mg/l. Lebih dari 1200 mg/l, prosesnya memerlukan
resirkulasi untuk pengenceran konsentrasi dari limbah cair umpan.Kondisi
temperatur

sangat

mempengaruhi

kinerja

dari trickling

filter.

Pada

temperatur rendah, maka kecepatan degradasi akan berkurang, transfer


oksigen ke dalam lapisan film akan berkurang serta limbah cair akan cepat
mencapai

kejenuhan oksigen. Akibat dari kondisi tersebut

adalah

menurunnya aktivitas dari lapisan mikroorganisme, sehingga kinerja


dari trickling filter akan menurun.
Standar baku mutu limbah cair pengalengan ikan
Baku mutu limbah sangat penting untuk diterapkan, hal ini berkaitan erat dengan
menghindari pencemaran lingkungan yang diakibatkan beban limbah yang telalu berat.
Kriteria baku mutu limbah merupakan standar dari limbah yang terkait dengan keamanan
limbah yang dapat dibuang ke lingkungan. Berikut adalah standar baku mutu limbah cair dari
kegiatan pengalengan ikan.
Tabel 2. Baku mutu limbah cair pengalengan ikan
No Parameter
Satuan
Baku Mutu
Fisika
1. suhu
35
2. Total Suspended Solid
mg/L
50
Kimia
1. pH
6-9
2. Sulfida (H2S)
mg/L
0,05
3. Khlorin Bebas
mg/L
1
4. Amoniak Bebas
mg/L
5
5. BOD5
mg/L
100
6. COD
mg/L
75
7. Nitrat
mg/L
8. Detergen
mg/L
9. Pb (Timbal)
mg/L
0,1
10. Minyak Lemak
mg/L
10

Sumber :
http://wismanpermana3.blog.com/pengalengan-ikan/
http://itpanggela.blogspot.com/2015/02/makalah-limbah-pengalengan-ikan_4.html
https://www.scribd.com/doc/225996807/Contoh-Tugas-ILING-Makalah-RKL-PengalenganIkan