Anda di halaman 1dari 17

Skenario 1 KEPUTIHAN

A. Anatomi Sistem Reproduksi Wanita


ANATOMI MAKRO
1. Genetalia Eksterna (vulva)

Yang terdiri dari:


a. Tundun (Mons veneris)
Bagian yang menonjol meliputi simfisis yang terdiri dari jaringan dan lemak, area ini mulai ditumbuhi
bulu (pubis hair) pada masa pubertas. Bagian yang dilapisi lemak, terletak di atas simfisis pubis
b. Labia Mayora
Merupakan kelanjutan dari mons veneris, berbentuk lonjong. Kedua bibir ini bertemu di bagian bawah
dan membentuk perineum. Labia mayora bagian luar tertutp rambut, yang merupakan kelanjutan dari
rambut pada mons veneris. Labia mayora bagian dalam tanpa rambut, merupakan selaput yang
mengandung kelenjar sebasea (lemak). Ukuran labia mayora pada wanita dewasa panjang 7- 8 cm, lebar
2 3 cm, tebal 1 1,5 cm. Pada anak-anak dan nullipara kedua labia mayora sangat berdekatan.
c. Labia Minora
Bibir kecil yang merupakan lipatan bagian dalam bibir besar (labia mayora), tanpa rambut. Setiap labia
minora terdiri dari suatu jaringan tipis yang lembab dan berwarna kemerahan;Bagian atas labia minora
akan bersatu membentuk preputium dan frenulum clitoridis, sementara bagian. Di Bibir kecil ini
mengeliligi orifisium vagina bawahnya akan bersatu membentuk fourchette
d. Klitoris

DYANA PASTRIA UTAMI 1102010084

Page 1

Merupakan bagian penting alat reproduksi luar yang bersifat erektil. Glans clitoridis mengandung banyak
pembuluh darah dan serat saraf sensoris sehingga sangat sensitif. Analog dengan penis pada laki-laki.
Terdiri dari glans, corpus dan 2 buah crura, dengan panjang rata-rata tidak melebihi 2 cm.
e. Vestibulum (serambi)
Merupakan rongga yang berada di antara bibir kecil (labia minora). Pada vestibula terdapat 6 buah
lubang, yaitu orifisium urethra eksterna, introitus vagina, 2 buah muara kelenjar Bartholini, dan 2 buah
muara kelenjar paraurethral. Kelenjar bartholini berfungsi untuk mensekresikan cairan mukoid ketika
terjadi rangsangan seksual. Kelenjar bartholini juga menghalangi masuknya bakteri Neisseria gonorhoeae
maupun bakteri-bakteri patogen
f. Himen (selaput dara)
Terdiri dari jaringan ikat kolagen dan elastic. Lapisan tipis ini yang menutupi sabagian besar dari liang
senggama, di tengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi dapat mengalir keluar. Bentuk dari himen
dari masing-masing wanita berbeda-beda, ada yang berbentuk seperti bulan sabit, konsistensi ada yang
kaku dan ada lunak, lubangnya ada yang seujung jari, ada yang dapat dilalui satu jari. Saat melakukan
koitus pertama sekali dapat terjadi robekan, biasanya pada bagian posterior
g. Perineum (kerampang)
Terletak di antara vulva dan anus, panjangnya kurang lebih 4 cm. Dibatasi oleh otot-otot muskulus levator
ani dan muskulus coccygeus. Otot-otot berfungsi untuk menjaga kerja dari sphincter ani

2. Genetalia Interna

a. Vagina
Merupakan saluran muskulo-membraneus yang menghubungkan rahim dengan vulva. Jaringan
muskulusnya merupakan kelanjutan dari muskulus sfingter ani dan muskulus levator ani, oleh karena itu
dapat dikendalikan.
Vagina terletak antara kandung kemih dan rektum. Panjang bagian depannya sekitar 9 cm dan dinding
belakangnya sekitar 11 cm.
DYANA PASTRIA UTAMI 1102010084

Page 2

Bagian serviks yang menonjol ke dalam vagina disebut portio. Portio uteri membagi puncak (ujung)
vagina menjadi:
-Forniks anterior -Forniks dekstra
-Forniks posterior -Forniks sisistra
Sel dinding vagina mengandung banyak glikogen yang menghasilkan asam susu dengan pH 4,5.
keasaman vagina memberikan proteksi terhadap infeksi.
Fungsi utama vagina:
1) Saluran untuk mengeluarkan lendir uterus dan darah menstruasi.
2) Alat hubungan seks.
3) Jalan lahir pada waktu persalinan.
b. Uterus
Merupakan Jaringan otot yang kuat, terletak di pelvis minor diantara kandung kemih dan rektum. Dinding
belakang dan depan dan bagian atas tertutup peritonium, sedangkan bagian bawah berhubungan dengan
kandung kemih.Vaskularisasi uterus berasal dari arteri uterina yang merupakan cabang utama dari arteri
illiaka interna (arterihipogastrika interna).
Bentuk uterus seperti bola lampu dan gepeng.
1) Korpus uteri : berbentuk segitiga
2) Serviks uteri : berbentuk silinder
3) Fundus uteri : bagian korpus uteri yang terletak diatas kedua pangkal tuba.
Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan :
a) Peritonium
Meliputi dinding rahim bagian luar. Menutupi bagian luar uterus. Merupakan penebalan yang diisi
jaringan ikat dan pembuluh darah limfe dan urat syaraf. Peritoneum meliputi tuba dan mencapai dinding
abdomen.
b) Lapisan otot
c) Endometrium
Ligamentum yang menyangga uterus adalah:
1) Ligamentum latum
Ligamentum latum seolah-olah tergantung pada tuba fallopii.
2) Ligamentum rotundum (teres uteri)
Terdiri dari otot polos dan jaringan ikat.
Fungsinya menahan uterus dalam posisi antefleksi.
3) Ligamentum infundibulopelvikum
Menggantung dinding uterus ke dinding panggul.
4) Ligamentum kardinale Machenrod
Menghalangi pergerakan uteruske kanan dan ke kiri.
Tempat masuknya pembuluh darah menuju uterus.
5) Ligamentum sacro-uterinum
Merupakan penebalan dari ligamentum kardinale Machenrod menuju os.sacrum.
6) Ligamentum vesiko-uterinum
DYANA PASTRIA UTAMI 1102010084

Page 3

Merupakan jaringan ikat agak longgar sehingga dapat mengikuti perkembangan uterus saat hamil dan
persalinan.
d. Tuba Fallopii
Tuba fallopii merupakan tubulo-muskuler, dengan panjang 12 cm dan diameternya antara 3 sampai 8 mm.
fungsi tubae sangat penting, yaiu untuk menangkap ovum yang di lepaskan saat ovulasi, sebagai saluran
dari spermatozoa ovum dan hasil konsepsi, tempat terjadinya konsepsi, dan tempat pertumbuhan dan
perkembangan hasil konsepsi sampai mencapai bentuk blastula yang siap melakukan implantasi.
e. Ovarium
Merupakan kelenjar berbentuk buah kenari terletak kiri dan kanan uterus di bawah tuba uterina dan terikat
di sebelah belakang oleh ligamentum latum uterus. Setiap bulan sebuah folikel berkembang dan sebuah
ovum dilepaskan pada saat kira-kira pertengahan (hari ke-14) siklus menstruasi. Ovulasi adalah
pematangan folikel de graaf dan mengeluarkan ovum. Ketika dilahirkan, wanita memiliki cadangan ovum
sebanyak 100.000 buah di dalam ovariumnya, bila habis menopause.
Ovarium yang disebut juga indung telur, mempunyai 3 fungsi:
a. Memproduksi ovum
b. Memproduksi hormone estrogen
c. Memproduksi progesteron

ANATOMI MIKRO
OVARIUM
Fungsi ovarium :

DYANA PASTRIA UTAMI 1102010084

Page 4

Produksi sel germinal

Biosintesis hormon steroid

Sel germinal terdapat pada folikel ovarium. Masing-masing


folikel berada dalam keadaan istirtahat dan mengandung oosit
primordial ( primitif ) yang dikelilingi satu lapis sel yaitu sel
granulosa. Disekitar sel granulosa terdapat sekelompok sel
yaitu sel teka.
Sel teka memproduksi androgen yang oleh sel granulosa di
konversi menjadi estrogen. Hormon steroid dari ovarium
bekerja dalam folikel untuk menujang perkembangan oosit dan di luar ovarium, hormon steroid bekerja
pada jaringan target.

Folikel primer berada dibagian superfisial sehingga memungkinkan untuk terjadinya ovulasi pada saat
folikel sudah matang ( folikel dgraaf ) dimana terdapat area sekeliling oosit yang disebut zona pellucida

Ovulasi adalah ekspulsi sel telur melalui daerah tipis (stigma ). Setelah pelepasan oosit, folikel
mengempis (collaps) dan terbentuk corpus luteum

DYANA PASTRIA UTAMI 1102010084

Page 5

TUBA FALOPII

Lumen Tuba Falopii dilapisi epitel kolumnar dengan silia panjang pada permukaan selnya. Silia bergerak
konsisten ke arah uterus untuk memfasilitasi pergerakan zygote ke dalam uterus agar mengadakan
implantasi pada endometrium

UTERUS

DYANA PASTRIA UTAMI 1102010084

Page 6

Sebagian besar dinding uterus terdiri dari otot polos yang dinamakan miometrium. Uterus harus mampu
untuk membesar selama kehamilan. Pembesaran uterus terjadi akibat hipertrofi sel otot polos miometrium
(miosit) dan penambahan miosit baru dari stem sel yang terdapat dalam jaringan ikat miometrium.
Rongga uterus dilapisi oleh endometrium. Endometrium merupakan organ target dan kelenjar endokrin.
Dibawah pengaruh produksi siklis hormon ovarium endometrium mengalami perubahan mikroskopik
pada struktur dan fungsi kelenjar.
KEPUTIHAN (LEUKOREA)
DEFINISI
Keputihan atau Fluor Albus merupakan sekresi vaginal abnormal pada wanita. Keputihan yang
disebabkan oleh infeksi biasanya disertai dengan rasa gatal di dalam vagina dan di sekitar bibir vagina
bagian luar. Yang sering menimbulkan keputihan ini antara lain bakteri, virus, jamur atau juga parasit.
Infeksi ini dapat menjalar dan menimbulkan peradangan ke saluran kencing, sehingga menimbulkan rasa
pedih saat si penderita buang air kecil.

ETIOLOGI
Leukorea fisiologis dapat terjadi karena kehamilan, premenstrual, pasca menstruasi, pasca partum,
ovulasi dan pasca coitus. Sedangkan leukore patologis dapat disebabkan oleh radang, iritasi/ benda asing
atau adanya proses keganasan.
Fluor albus fisiologik pada perempuan normalnya hanya ditemukan pada daerah porsio vagina. Sekret
patologik biasanya terdapat pada dinding lateral dan anterior vagina.
Fluor albus fisiologik ditemukan pada :
1. Bayi baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari: disini sebabnya ialah pengaruh estrogen dari
plasenta terhadap uterus dan vagina janin.
2. Waktu disekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen. Leukorea disini hilang
sendiri akan tetapi dapat menimbulkan keresahan pada orang tuanya.
3. Wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus, disebabkan oleh
pengeluaran transudasi dari dinding vagina.
DYANA PASTRIA UTAMI 1102010084

Page 7

4. Waktu disekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri menjadi lebih encer.
5. Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga bertambah pada wanita dengan
penyakit menahun, dengan neurosis, dan pada wanita dengan ektropion porsionis uteri.
Sedang fluor albus abnormal (patologik) disebabkan oleh :
1. Infeksi :
1. Bakteri : Gardanerrella vaginalis, Chlamidia trachomatis, Neisseria gonorhoae, dan
Gonococcus
2. Jamur : Candida albicans
3. Protozoa : Trichomonas vaginalis
4. Virus : Virus Herpes dan human papilloma virus
2. Iritasi :
1. Sperma, pelicin, kondom
2. Sabun cuci dan pelembut pakaian
3. Deodorant dan sabun
4. Cairan antiseptic untuk mandi.
5. Pembersih vagina.
6. Celana yang ketat dan tidak menyerap keringat
7. Kertas tisu toilet yang berwarna.
3. Tumor atau jaringan abnormal lain
4. Fistula
5. Benda asing
DYANA PASTRIA UTAMI 1102010084

Page 8

6. Radiasi
7. Penyebab lain :
1. Psikologi : Volvovaginitis psikosomatik
2. Tidak diketahui : Desquamative inflammatory vaginitis
Ada empat hal yang menyebabkan timbulnya keputihan:
1. Kondisi Tubuh
Akibat penyakit kronis yang menahun yang dapat melemahkan daya tahan tubuh orang tersebut
sehingga menyebabkan keluarnya cairan keputihan secara berlebihan dan juga bisa terjadi pada wanita
yang senantiasa tegang atau stress.
2. Kelainan Endokrin Atau Hormone
Disini sebagai contoh pada saat hamil atau terjadi perubahan hormonal, terjadi suasana asam menjadi
basa sehingga mengakibatkan banyak ibu hamil mendapat jamur. Apabila ini tidak segera diobati maka
akan menyebabkan ketuban pecah dini.
3. Infeksi
Infeksi dapat berasal dari bermacam-macam organ reproduksi, misalkan infeksi vulva, vagina, mulut
rahim, selaput lendir rahim dan saluran telur. Semua infeksi ini dapat memberikan gambaran berupa
keputihan. Infeksi vulva umumnya disebabkan oleh kuman GO (gonorrhea (gonore)), chlamydia, dan
herpes simplex. Infeksi lain disebabkan jamur candida (candidiasis), bakteri (vaginosis) dan parasit
tricomonas vaginatis
4. Benda Asing
Benda asing ini bermacam-macam seperti kondom, benang IUD yang tertinggal didalam vagina,
kelainan fistula akibat persalinan atau tindakan operasi, hubungan antara rektum dengan vagina atau
antara kandung kencing dengan vagina, serta tissue pembasuh.
PATOGENESIS

DYANA PASTRIA UTAMI 1102010084

Page 9

Meskipun banyak variasi warna, konsistensi, dan jumlah dari sekret vagina bisa dikatakan suatu yang
normal, tetapi perubahan itu selalu diinterpretasikan penderita sebagai suatu infeksi, khususnya
disebabkan oleh jamur. Beberapa perempuan pun mempunyai sekret vagina yang banyak sekali. Dalam
kondisi normal, cairan yang keluar dari vagina mengandung sekret vagina, sel-sel vagina yang terlepas
dan mucus serviks, yang akan bervariasi karena umur, siklus menstruasi, kehamilan, penggunaan pil KB.
Lingkungan vagina yang normal ditandai adanya suatu hubungan yang dinamis antara Lactobacillus
acidophilus dengan flora endogen lain, estrogen, glikogen, pH vagina dan hasil metabolit lain.
Lactobacillus acidophilus menghasilkan endogen peroksida yang toksik terhadap bakteri pathogen.
Karena aksi dari estrogen pada epitel vagina, produksi glikogen, lactobacillus (Doderlein) dan produksi
asam laktat yang menghasilkan pH vagina yang rendah sampai 3,8-4,5 dan pada level ini dapat
menghambat pertumbuhan bakteri lain.
Kandidiasis vaginalis merupakan infeksi vagina yang disebabkan oleh Candida sp. terutama C.
albicans. Infeksi Candida terjadi karena perubahan kondisi vagina. Sel ragi akan berkompetisi dengan
flora normal sehingga terjadi kandidiasis. Hal-hal yang mempermudah pertumbuhan ragi adalah
penggunaan antibiotik yang berspektrum luas, penggunaan kontrasepsi, kadar estrogen yang tinggi,
kehamilan, diabetes yang tidak terkontrol, pemakaian pakaian ketat, pasangan seksual baru dan frekuensi
seksual yang tinggi. Perubahan lingkungan vagina seperti peningkatan produksi glikogen saat kehamilan
atau peningkatan hormon esterogen dan progesterone karena kontrasepsi oral menyebabkan perlekatan
Candida albicans pada sel epitel vagina dan merupakan media bagi pertumbuhan jamur. Candida albicans
berkembang dengan baik pada lingkungan pH 5-6,5. Perubahan ini bisa asimtomatis atau sampai sampai
menimbulkan gejala infeksi. Penggunaan obat immunosupresan juga menjadi faktor predisposisi
kandidiasis vaginalis.
Pada penderita dengan Trikomoniasis, perubahan kadar estrogen dan progesterone menyebabkan
peningkatan pH vagina dan kadar glikogen sehingga berpotensi bagi pertumbuhan dan virulensi dari
Trichomonas vaginalis.
Vaginitis sering disebabkan karena flora normal vagina berubah karena pengaruh bakteri patogen atau
adanya perubahan dari lingkungan vagina sehingga bakteri patogen itu mengalami proliferasi. Antibiotik
kontrasepsi, hubungan seksual, stres dan hormon dapat merubah lingkungan vagina tersebut dan memacu
pertumbuhan bakteri patogen. Pada vaginosis bacterial, diyakini bahwa faktor-faktor itu dapat
menurunkan jumlah hidrogen peroksida yang dihasilkan oleh Lactobacillus acidophilus sehingga terjadi
perubahan pH dan memacu pertumbuhan Gardnerella vaginalis, Mycoplasma hominis dan Mobiluncus
yang normalnya dapat dihambat. Organisme ini menghasilkan produk metabolit misalnya amin, yang
DYANA PASTRIA UTAMI 1102010084

Page 10

menaikkan pH vagina dan menyebabkan pelepasan sel-sel vagina. Amin juga merupakan penyebab
timbulnya bau pada flour albus pada vaginosis bacterial.
Flour albus mungkin juga didapati pada perempuan yang menderita tuberculosis, anemia, menstruasi,
infestasi cacing yang berulang, juga pada perempuan dengan keadaan umum yang jelek , higiene yang
buruk dan pada perempuan yang sering menggunakan pembersih vagina, disinfektan yang kuat.

KLASIFIKASI LEUKOREA
Leukorea terbagi menjadi dua yaitu:

Leukorea fisiologis
Ciri-ciri leukorea fisiologis:

1. Berupa cairan, terkadang mukus.


2. Banyak epitel.
3. Jarang ditemukan leukosit.
Leukorea fisiologik ditemukan pada:
1. Bayi yang baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari;disini sebabnya ialah pengaruh estrogen dari
plasenta terhadap uterus dan vagina janin;
2. Waktu di sekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen; leukorea di sini hilang
seniri, akan tetapi dapat menimbulkan keresahan pada orang tuanya;
3. Wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus, disebabkan oleh
pengeluaran transudasi dari dinding vagina;
4. Waktu disekitar ovulasi; dengan sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri menjadi lebih encer
5. Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga bertambah pada wanita dengan
penyakit menahun, dengan neurosis, dan pada wanita dengan ektropion persionis uteri.

Leukorea patologis

DYANA PASTRIA UTAMI 1102010084

Page 11

Penyebab paling penting dari leukorea patologik adalah infeksi. Disini ditemukan:
1. Banyak leukosit
2. Warnanya agak kekuning-kuningan sampai hijau, seringkali lebih kental dan berbau,
radang vulva, vagina, serviks dan kavum uteri dapat menyebabkan leukorea patologik;
pada adneksitis gejala tersebut dapat pula timbul.
Ciri-ciri leukorea patologis:
1. Banyak ditemukan leukosit.
2. Warnanya agak kekuning-kuningan sampai hijau.
3. Lebih kental dan berbau.
4. Biasanya disebabkan karena infeksi.
Penyebab leukorea patologis:
Infeksi
1. Radang vulva
2. Radang vagina
3. Radang serviks
4. Radang kavum uteri
Leukorea patologis dapat timbul karena:
1. Radang yang disebabkan oleh: trikomoniasis, kandidiasis, gonore, vaginitis senilis, endoservitis
akut atau kronis, vaginitis hemofilus vaginalis.
2. Iritasi benda asing yang dapat disebabkan oleh iritasi khemis/ iritasi vagina (vaginal jelly),
adanya benda asing (tampon, pesarium atau IUD).
3. Tumor yang dapat berupa tumor jinak, seperti polip, mioma uteri, kista atau dapat berupa tumor
ganas (kanker serviks).
DYANA PASTRIA UTAMI 1102010084

Page 12

MANIFESTASI KLINIS LEUKOREA


Gejala klinis dari leukorea atau keputihan antara lain:
-

Gatal, berbau, dan berbuih.


Sekret vagina bertambah banyak.
Bergumpal, campur darah
Dispareunia / sakit pada waktu koitus.
Disuria / rasa panas saat kencing.
Keputihan yang disertai rasa gatal, ruam kulit dan nyeri.
Sekret vagina berwarna putih dan menggumpal
Berwarna putih kerabu-abuan atau kuning dengan bau yang menusuk

Gejala Klinis Bakteri Leukorea.


1.) Kandidiasis Vulvovaginalis (KVV)
Kandidiasis Vulvovaginalis (KVV) disebabkan oleh candida albicans atau kadang oleh candida sp atau
ragi lainnya. Gejala klinisnya antara lain: Infeksi klamidia Biasanya tidak bergejala. Sekret vagina
yang berwarna kuning seperti pus. Sering kencing dan terdapat perdarahan vagina yang
abnormal. Gatal pada vulva dan vagina; vulva lecet; duh tubuh vagina dan dapat sampai
dispareuni dan rasa terbakar. Sedangkan gejala lain yang mungkin timbul antara lain: eritema;
dapat timbul fisura; edema; sekret vagina putih seperti susu mungkin bergumpal, tidak berbau
dan terdapat lesi satelit. Pemeriksaan penunjang dengan sediaan apus dari duh tubuh vafina dengan
pewarnaan garam ditemukan blastospora dan pseudohifa; sediaan basah dengan larutan KOH 10 %
ditemukan pseudohifa dan atau blastospora. Penatalaksanaan Kandidiasis Vulvovaginalis (KVV) akut
dengan pemberian Ketokonazole 200 mgr tablet 2 tab x 5 hari; Flukonazol 150 mgr tablet dosis tunggal;
Intrakonazolel 100 mgr tablet 2 tab x 3 hari.
2.) Trikomoniasis
Trikomoniasis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit ber Flagela Trikomonas
vaginalis. Gejala klinis antara lain: 10-50 % asimtomatik; duh tubuh vagina berbau, dapat disertai
gatal pada vagina; kadang-kadang terdapat rasa tidak enak di perut bagian bawah. Sedangkan
gejala lain antara lain: Sekret berwarna kuning kehijauan berbusa dan berbau amis, dapat terjadi
pada 1030 % wanita; vuivitis dan vaginitis; gambaran serviks strobery dapat ditemukan pada 2
% pasien; pada 515 % tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan. Adapun pemeriksaan
penunjang dengan cara duh tubuh vagina dari forniks posterior dan dilakukan pemeriksaan sediaan basah
dengan larutan NaCl fisiologis. Terdapat Tricomonas Vaginalis dengan pergerakan flagella yang khas.
Penatalaksanaan dengan pemberian Metonidazole 2 gram oral dosis tunggal atau Metronidazole 2 x 0,5
mg oral selama 7 hari.
3.) Vaginosis bacterial
Vaginosis bacterial adalah sindrom klinis yang disebabkan oleh pergantian lactobacillus sp
penghasil H2O2 yang normal di dalam vagina dengan sekelompok bakteri aerob. Gejala klinis antara
lain: Sekret vagina yang keruh, encer, putih abu-abu hingga kekuning-kuningan dengan bau busuk
atau amis. Bau semakin bertambah setelah hubungan seksual. Duh tubuh vagina putih homogen,
DYANA PASTRIA UTAMI 1102010084

Page 13

melekat pada dinding vagina dan vestibulum; pH cairan vagina > 4,5; terciumnya bau amis seperti
ikan pada vagina yang diolesi dengan larutan KOH 10 %. Pemeriksaan penunjang dengan sediaan
apus dengan pewarnaan gram ditemukam clue cell. Penatalaksanaan Non medikamentosa dengan cara:
pasien dianjurkan untuk menghindari vaginal douching atau bahan antiseptic; konseling. Sedangkan
penatalaksanaan Medikamentosa dengan pemberian obat pilihan yaitu Metronidazole 2 x 500 mg / hari
selama 57 hari; Metronidazole 2 gram peroral dosis tunggal; pemberian obat alternatif yaitu Klindamicin
2x 300 mg / hari peroral selama 7 hari.
4.) Infeksi klamidia
Biasanya tidak bergejala. Sekret vagina yang berwarna kuning seperti pus. Sering kencing dan
terdapat perdarahan vagina yang abnormal
5.) Infeksi genital non spesifik
Infeksi genital non spesifik adalah infeksi saluran genital yang disebabkan oleh penyebab
nonspesifik. Istilah ini meliputi berbagai keadaan yaitu uretritis non spesifik, uretritis non gonore proktitis
non spesifik dan infeksi spesifik pada wanita. Keluhan pada wanita berupa duh tubuh vagina; perdarahan
antar menstruasi; perdarahan pasca koitus; disuria bila mengenai uretra; asimptomatik. Gejalanya tubuh
endoserviks mukopurulent; ektopia serviks disertai edema serviks rapuh, mudah berdarah.
Pemeriksaan penunjang dari duh tubuh genetalia. Penatalaksanaan dengan pemberian Doksisiklin 2 x 100
mg / hr selama 7 hari; Terasiklin 4 x 500 mg / hr selama 7 hari; Eratromicin 4 x 500 mg / hr selama 7 hari.

DIAGNOSIS
1. Anamnesis: apakah keputihan yang terjadi itu terus menerus atau kadang-kadang, apakah ada
hubungannya dengan fase-fase haid, bagaimana sifat Leukoreanya, apakah lendir, berwarna
keputihan atau atau kekuningan. Bagaimana sekret vagina apakah banyak, sedikit. Apakah
menimbulkan rasa gatal yang hebat. Ditanyakan mengenai usia, metode kontrasepsi yang dipakai
oleh akseptor KB kontak seksual, perilaku, jumlah, bau dan warna Leukorea, masa inkubasi,
penyakit yang diderita, penggunaan obat antibiotik atau kortikosteroid dan keluhan-keluhan lain
2. Pemeriksaan umum seperlunya (disesuaikan dengan keluhan dari penderita).
3. Pemeriksaan ginekologik.
Inspeksi Kulit perut bawah, rambut pubis, terutama perineum, dan anus. Inspeksi dan palpasi
genitalia eksterna. Pemeriksaan ini harus dikerjakan secara sistematik, dilanjutkan dengan inspeksi vulva
(apakah ada tanda bekas garukan, apakah vulva basah), palpasi kelenjar bartholini dan kelenjar skene,

DYANA PASTRIA UTAMI 1102010084

Page 14

selanjutnya pemeriksaan yang menggunakan spekulum untuk melihat serviks, pemeriksaan ini sangat
penting karena sebagian besar dai lekore berasal dari serviks
Pemeriksaan laboratorik
Hasil pengukuran pH cairan vagina dapat ditentukan dengan kertas pengukur pH dan pH diatas 4,5
sering disebabkan oleh trichomoniasis tetapi tidak cukup spesifik. Cairan juga dapat diperiksa dengan
melarutkan sampel dengan 2 tetes larutan normal saline 0,9% diatas objek glass dan sampel kedua di
larutkan dalam KOH 10%.
PROGNOSIS
Biasanya kondisi-kondisi yang menyebabkan fluor albus memberikan respon terhadap pengobatan
dalam beberapa hari. Kadang-kadang infeksi akan berulang. Dengan perawatan kesehatan akan
menentukan pengobatan yang lebih efektif

PENCEGAHAN

Pola hidup sehat yaitu diet yang seimbang, olah raga rutin, istirahat cukup, hindari rokok dan

alkohol serta hindari stres berkepanjangan.


Setia kepada pasangan. Hindari promiskuitas atau gunakan kondom untuk mencegah penularan

penyakit menular seksual.


Selalu menjaga kebersihan daerah pribadi dengan menjaganya agar tetap kering dan tidak lembab
Biasakan membasuh dengan cara yang benar tiap kali buang air yaitu dari arah depan ke

belakang.
Penggunaan cairan pembersih vagina sebaiknya tidak berlebihan karena dapat mematikan flora
normal vagina. Jika perlu, lakukan konsultasi medis dahulu sebelum menggunakan cairan

pembersih vagina.
Hindari penggunaan bedak talkum, tissue atau sabun dengan pewangi pada daerah vagina karena

dapat menyebabkan iritasi.


Hindari pemakaian barang-barang yang memudahkan penularan seperti meminjam perlengkapan
mandi dsb. Sedapat mungkin tidak duduk di atas kloset di WC umum atau biasakan mengelap
dudukan kloset sebelum menggunakannya.

PAPSMEAR
Pap smear merupakan pemeriksaan sitologi eksfoliative dengan memeriksa sel-sel epitel cervix
yang lepas. Pemeriksaan ini lebih mudah, murah, sederhana, aman dan akurat. Di negara maju, skrinning
Pap Smear terbukti dapat menemukan lesi prakanker, menurunkan insiden dan menurunkan angka
DYANA PASTRIA UTAMI 1102010084

Page 15

kematian akibat kanker serviks sampai 70-80%. Tujuan tes Pap adalah menemukan sel abnormal atau sel
yang dapat berkembang menjadi kanker termasuk infeksi HPV. Kanker serviks merupakan penyakit
menular seksual, bila penyakit prakanker/ displasia ditemukan lebih dini kemungkinan angka
penyembuhan mencapai 80-90 % tergantung beratnya lesi dan cara pengobatannya.
Kapan Melakukan Pap Smear
Pemeriksaan Pap Smear dilakukan paling tidak setahun sekali bagi wanita yang sudah menikah
atau yang telah melakukan hubungan seksual. Para wanita sebaiknya memeriksakan diri sampai usia 70
tahun.Pap Smear dapat dilakukan kapan saja, kecuali pada masa haid. Persiapan pasien untuk melakukan
Pap Smear adalah tidak sedang haid, tidak coitus 1 3 hari sebelum pemeriksaan dilakukan dan tidak
sedang menggunakan obat obatan vaginal.
Sampel / Bahan yang Diperiksa
Bahan yang dapat dijadikan sampel adalah dari cervical/ vaginal smear, sputum, bronchial
washing/ brushing, nasopharyngeal smear/ washing/ brushing, urin, cairan lambung/ pleura/ ascites/
sendi, liquor cerebrospinal, aspirat AJH, inprint neoplasma.
Sampel yang biasa digunakan adalah dari cervical/ vaginal smear.
Fiksasi Sampel
Fiksasi sampel adalah cara mengawetkan sampel dengan bahna kimia tertentu agar sel yang
terkandung dalam sampel tidak rusak/ lisis. Bahan kimia untuk fiksasi antara lain : alkohol 96 %, alkohol
70 %, methanol, alkohol 50 %, either alkohol 95 %.
Bahan kimia yang biasa digunakan untuk fiksasi sampel adalah alkohol 96%.
Alat Pengambilan Sampel
Alat pengambilan sampel untuk pap smear dengan menggunakan spatula yang dapat terbuat dari
kayu maupun plastik. Jenis spatula antara lain : cervix brush, cytobrush, plastic spatula, maupun wooden
spatula.
Teknik pemeriksaan Pap smear
Dua hari menjelang pemeriksaan, ibu dilarang melakukan senggama maupun memakai obatobatan yang dimasukkan ke dalam liang senggama. Waktu yang baik untuk pemeriksaan adalah beberapa
hari setelah selesai menstruasi. Ibu dalam posisi litotomi, pasang spekulum vagina tanpa menggunakan
pelicin, dan tanpa melakukan periksa dalam sebelumnya. Setelah portio tampak, maka spatula
DYANA PASTRIA UTAMI 1102010084

Page 16

dimasukkan ke dalam kanalis servikalis, lalu spatula diputar 180 searah jarum jam. Spatula dengan ujung
pendek diusap 360 pada permukaan serviks. Lendir yang didapat dioleskan pada objek glass berlawanan
arah jarum jam. Apusan hendaknya dilakukan sekali saja, lalu difiksasi atau direndam dalam larutan
alkohol 96% selama 30 menit

DYANA PASTRIA UTAMI 1102010084

Page 17