Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia di dalam hidupnya disamping sebagai makhluk Tuhan, makhluk individu,
juga merupakan makhluk sosial. Di mana dalam kehidupannya di bebani tanggung
jawab, mempunyai hak dan kewajiiban, dituntut pengabdian dan pengorbanan.
Tanggung jawab itu sendiri merupakan sifat yang mendasar dalam diri manusia. Selaras
dengan fitrah. Tapi bisa juga tergeser oleh faktor eksternal. Setiap individu memiliki
sifat ini. Ia akan semakin membaik bila kepribadian orang tersebut semakin meningkat.
Ia akan selalu ada dalam diri manusia karena pada dasarnya setiap insan tidak bisa
melepaskan diri dari kehidupan sekitar yang menunutut kepedulian dan tanggung
jawab. Inilah yang menyebabkan frekwensi tanggung jawab masing-masing individu
berbeda. jawab mempunyai kaitan yang sangat erat dengan perasaan. Yang kami
maksud adalah perasaan nurani kita, hati kita, yang mempunyai pengaruh besar dalam
mengarahkan sikap kita menuju hal positif. Nabi bersabda: Mintalah petunjuk pada
hati (nurani)mu.
B. Makna Keragaman, Kesederajatan dan Kemartabatan
a. Makna Keragaman Keragaman berasal dari kata ragam.Dalam kamus besar bahasa
indonesia ragam berarti
1. Tingkah, laku, ulah,
2. Macam, jenis,
3. Lagu, musik langgam,
4. Warna, corak, ragi.
Sedangkan keragaman sendiri berarti :
a) Perihal berjenis-jenis atau beragam-ragam,
b) Keadaan beragam-ragam. Ragam juga dapat diartikan bersatu hati, rukun
sehingga keragaman berarti kerukunan.
c) Makna Kesederajatan
Kesederajatan berasal dari kata derajat. Dalam kamus besar bahasa indonesia
derajat berarti :
a. Tingkatan, martabat, pangkat,

b.

Gelar yang diberikan oleh perguruan tinggi kepada mahasiswa yang telah lulus
ujian.Sederajat berarti sama tingkatannya (pangkatnya, kedudukannya) dan
kesederajatan berarti perihal kesamaan tingkatan.

C. Unsur-Unsur Keragaman Dalam Masyarakat


1) Suku bangsa dan ras Suku bangsa yang menempati wilayah Indonesia dari
sabang sampai merauke sngat beragam. Sedangkan perbedaan ras muncul
karena adanya pengelompokan besar manusia yang memiliki ciri-ciri
biologis lahiriah yang sama seperti rambut, warna kulit, ukuran tubuh, mata,
ukuran kepala, dan lain sebagainya.
2) Agama dan keyakinan
Agama mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia.
Ikatan yang dimaksud berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari
manusia sebagai kekuatan gaib yang tak dapat ditangkap dengan panca
indra.
Dalam peraktiknya fungsi agama dalam masyarakat antara lain adalah :
a. Berfungsi edukatif : ajaran agama secara hukum berfungsi menyuruh
dan melarang
b. Berfungsi penyelamat
c. Berfungsi sebagai perdamaian
d. Berfungsi sebagai Social control
e. Berfungsi sebagai pemupuk rasa solidaritas
f. Berfungsi transformative
g. Berfungsi sublimatif
3) Ideologi dan politik
Ideologi adalah suatu istilah umum bagi sebuah gagasan yang
berpengaruh kuat terhadap tingkah laku dalam situasi khusus karena
merupakan kaitan antara tindakan dan kepercayaan yang fundamental.
4) Tatakrama
Tatakrama yang dianggap arti bahasa jawa yang berarti adat sopan
santun, basa basi pada dasarnya ialah segala tindakan, perilaku, adat
istiadat, tegur sapa, ucap dan cakap sesuai kaidah atau norma tertentu.
5) Kesenjangan ekonomi dan social Masyarakat Indonesia
Merupakan masyarakat yang majemuk dengan bermacam tingkat,
pangkat, dan strata sosial.
2

BAB II
PEMBAHASAN
A. Studi Kasus
Kasus yang akan di bahas di sini menunjukkan bagaimana permasalahan yang
berhubungan dengan keragaman etnis, suku, dan ras serta toleransinya yang tidak
berjalan mengakibatkan suatu konflik besar dan dahsyat di masa lalu.
Di kutip dari republika.co.id dengan judul Hari ini 18 Februari : Kekerasan
Antaretnis Dayak dan Madura Pecah.
12 tahun lalu, 18 Februari 2001, konflik Sampit pecah. Ini adalah tragedi berdarah
yang menelan banyak korban di masa orde reformasi dimulai. Konflik ini dimulai di kota
Sampit, Kalimantan Tengah dan meluas ke seluruh provinsi, termasuk ibu kota Palangka
Raya.
Konflik ini terjadi antara suku Dayak asli dan warga migran Madura dari pulau
Madura. Konflik tersebut pecah pada 18 Februari 2001 ketika dua warga Madura diserang
oleh sejumlah warga Dayak.
Konflik Sampit pada 2001 bukanlah insiden yang terisolasi, karena telah terjadi
beberapa insiden sebelumnya antara warga Dayak dan Madura. Konflik besar terakhir
terjadi pada Desember 1996 dan Januari 1997 yang mengakibatkan 600 korban tewas.
Penduduk Madura pertama tiba di Kalimantan tahun 1930 di bawah program
transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintah kolonial Belanda dan dilanjutkan oleh
pemerintah Indonesia.
Tahun 2000, transmigran membentuk 21 persen populasi Kalimantan Tengah. Suku
Dayak merasa tidak puas dengan persaingan yang terus datang dari warga Madura yang
semakin agresif. Aturan-aturan baru telah memungkinkan warga Madura memperoleh
kontrol terhadap banyak industri komersial di provinsi ini seperti perkayuan, pertambangan
dan perkebunan.
Ada sejumlah cerita yang menjelaskan insiden kerusuhan tahun 2001. Satu versi
mengklaim bahwa ini disebabkan serangan pembakaran sebuah rumah Dayak. Rumor
mengatakan bahwa kebakaran ini disebabkan oleh warga Madura dan kemudian
sekelompok anggota suku Dayak mulai membakar rumah-rumah di permukiman Madura.

Konflik Madura dan Dayak ini merupakan salah satu konflik yang atau suku
(diskriminasi etnis). Walau masih ada kasus-kasus lain seperti, konflik Ambon dan

Poso, konflik Papua, konflik Lampung Selatan, dan Konflik di Salatiga yang juga
sama-sama kasus yang didasari dengan adanya keragaman di Indonesia ini.
Konflik Dayak dan Madura ini murni konflik antar suku, konflik antara
pendatang dan warga asli, konflik yang lebih tepatnya lagi dikatakan sebagai
konflik yang berawal dari kecemburuan warga asli yaitu suku dayak terhadap
pendatang dalam hal ini suku Madura yang lebih menguasai lingkaran ekonomi
Kalimantan, konflik duel antara dua etnis yang memiliki karakter yang keras,
konflik turun temurun sejak dulu dan mencapai puncaknya pada tragedi Sampit.
Jika di teliti lebih mendalam bahwasanya suku dayak yang merupakan warga
asli Kalimantan merupakan masyarakat tradisional yang sangat memegang teguh
harga diri. Gambaran kasar tentang orang dayak secara umum, orang dayak adalah
masyarakat tradisional dan mempunyai sifat pemalu terhadap para pendatang. Tidak
jarang jika dijumpai masyarakat Dayak yang lari bersembunyi dan hanya berani
mengintip dari balik papan dinding rumahnya ketika melihat ada orang asing datang
mendekat pada mereka.
Dalam keseharian Masyarakat Dayak, kehidupan mereka ternyata jauh dari
anggapan kita yang mengira bahwa mereka itu beringas. Mereka ternyata sangat
pemalu, menerima para pendatang, dan tetap menjaga keutuhan masyarakatnya baik
religi dan ritual mereka. Mereka tidak pernah mengganggu para penebang kayu
yang mendesak mereka untuk terus mengalah. Mereka tidak pernah menentang
anggota masyarakatnya yang ingin masuk agama yang dibawa oleh orang-orang
pendatang. Mereka dengan ringan-tangan membantu masyarakat sekitarnya. Mereka
tidak pernah membawa mandau, sumpit, ataupun panah ke dalam kota Sampit untuk
petantang-petenteng.
Lalu jika dilihat dari karakternya yang kasar tapi pemalu dan suka mengalah,
lalu kenapa konflik itu muncul dan terjadi sangat menggenaskan?

B. Penyebab
Dalam hal ini maka dapat di tunjukkan berdasar teori identitas yang melihat
bahwa konflik yang mengeras di masyarakat tidak lain disebabkan identitas yang
terancam yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan masa lalu
yang tidak terselesaikan. Juga teori transformasi yang memfokuskan pada penyebab
terjadi konflik adalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai
masalah sosial budaya dan ekonomi.
Fakta di lapangan menyatakan bahwa sebenarnya dari kasus pelarangan
menambang intan di atas tanah adat mereka sendiri karena dituduh tidak memiliki
izin penambangan, sampai kampung mereka harus berkali-kali berpindah karena
harus mengalah dari para penebang kayu yang terus mendesak mereka makin ke
dalam hutan. Sayangnya, kondisi ini diperburuk lagi oleh ketidakadilan hukum yang
seakan tidak mampu menjerat pelanggar hukum yang menempatkan masyarakat
Dayak menjadi korban kasus tersebut. Tidak sedikit kasus pembunuhan orang
dayak, bahkan Menurut Pengakuan Profesor Usop dari Asosiasi Masyarakat Dayak
mengklaim bahwa pembantaian oleh suku Dayak dilakukan demi mempertahankan
diri setelah beberapa anggota mereka diserang.Selain itu, juga dikatakan bahwa
seorang warga Dayak disiksa dan dibunuh oleh sekelompok warga Madura setelah
sengketa judi di desa Kerengpangi pada 17 Desember 2000, yang merugikan
masyarakat Dayak karena tersangka tersangka yang membunuh (orang Madura)
tidak bisa ditangkap oleh aparat yang katanya penegak hukum.
Di satu sisi etnis Madura yang berada di Kalimantan sejak 1920-an juga
memiliki latar belakang budaya kekerasan serta karakter yang keras pula dan
ternyata menurut masyarakat Dayak dianggap tidak mampu untuk beradaptasi
(mengingat mereka sebagai pendatang). Sering terjadi kasus pelanggaran tanah
larangan orang Dayak oleh penebang kayu yang kebetulan didominasi oleh orang
Madura. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu konflik antar etnis DayakMadura, selain itu ada desas desus yang menyatakan bahwa sampit yang saat itu

menjadi pusat terjadinya konflik akan diubah namanya menjadi Sampang kedua,
sehingga sangat menambah kebencikan masyarakat suku dayak kepada masyarakat
suku Madura yang merasa masyarakat suku Madura telah kurang ajar ingin
merebut sampit dan merubahnya seperti kampung asal mereka sendiri. Selain itu
suku Madura telah menjadi common enemy bagi suku suku pendatang lainnya yang
merasa dirugikan baik dalam lingkup ekonomi ataupun kehidupan sehari hari,
bahkan semakin diperparah dengan respon masyarakat Madura yang juga memiliki
karakter keseharian yang keras sehingga meletuslah konflik ini.
C. Dampak
Dampak yang ditimbulkan akibat konflik tersebut yang terjadi selama
berpuluh-puluh tahun tidak hanya merugikan penduduk sekitar tetapi juga
merugikan negara. Kerugian yang ditimbulkan dari konflik tersebut terhadap negara
adalah sulitnya investor masuk untuk menanamkan modalnya karena para investor
menganggap jika ia menanamkan modalnya maka resiko yang ia akan hadapi terlalu
besar selain itu memburuknya nama Indonesia di mata dunia. Banyak sekali media
massa yang meliput atau LSM-LSM baik LSM dalam negeri maupun LSM dari luar
negeri. Hal ini menimbulkan citra negatif tersendiri bagi Indonesia terlebih lagi
Indonesia merupakan negara dunia ketiga yang membutuhkan bantuan terhadap
negara maju. Jika pencitraan negatif telah diberikan kepada Indonesia maka sulit
sekali bagi Indonesia untuk mendapatkan kepercayaan dari pihak asing.
Dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat adalah timbulnya rasa ketakutan
tidak hanya dari kedua etnis tersebut saja tetapi juga bagi masyarakat lain yang
berbeda etnis tapi tinggal di daerah konflik tersebut. Mereka akan takut apabila
menjadi korban selanjutnya atau mereka takut untuk berusaha dan bekerja karena
mementingkan keselamatan mereka masing-masing. Hal ini menimbulkan
ketidakproduktifan masyarakat dan hingga akhirnya banyak sekali orang yang akan
kehilangan

mata

pencahariannya.

Jika

seseorang

telah

kehilangan

mata

pencahariannya maka akan bertambah lagi angka pengangguran yang ada di


Indonesia.
7

Selain itu kerusakan rumah atau fasilitas umum yang menyebabkan sebagian
orang tidak memiliki rumah lagi akibat rumahnya itu dibakar atau dirusak oleh salah
satu etnis yang marah. Mereka terpaksa harus mencari tempat perlindungan
sementara dan dengan kejadian seperti itu maka akan menimbulkan trauma
tersendiri bagi anak-anak. Menurut Peneliti Yayasan Denny JA, Novriantoni Kahar
menerangkan bahwa terdapat 469 korban meninggal dunia dan 108.000 warga
mengungsi, dengan lama konflik mencapai 10 hari sepanjang tahun 2001. Cakupan
konflik juga terjadi dari Kota Sampit ibukota Kotawaringin Timur meluas ke Kota
Palangkaraya, Kuala Kapuas, dan Pangkalanbun. Kerugian materi akibat konflik ini
terdiri atas 192 rumah dibakar dan 748 rumah rusak serta 16 mobil dan 43 sepeda
motor hancur.
Dampak lain yang penting adalah pada relasi sosial di Kalteng, yakni segregasi
sosial antara warga Madura dan non-Madura, yang setelah konflik terlihat semakin
lebar. Warga non-Madura (Dayak dan lainnya) cenderung menyalahkan perilaku
Madura atas sebab terjadinya konflik. Oleh sebab itu, kembalinya Madura ke
Kalteng dikuatirkan akan memicu konflik berikutnya, karena perilaku ini sangat
melekat dengan kultur Madura. Selain itu, terhadap dinamika politik lokal kiranya
terjadi secara tidak langsung. Setelah konflik pemekaran beberapa kabupaten
dilakukan dan ini agaknya dapat mengadopsi kompetisi dan kepentingan politik elit
lokal sekaligus menurunkan tensi konflik.
D. Penyelasaian
Konflik ini merupakan sebuah konflik yang termasuk diskriminasi dalam
keragaman etnis. Diskriminasi adalah setiap tindakan yang melakukan pembedaan
terhadap seseorang

atau

sekelompok

orang berdasarkan

ras,

agama, suku,

etnis, kelompok, golongan, status, kelas sosial ekonomi, jenis kelamin, kondisi fisik,
usia, orientasi seksual, pandangan ideologi, dan politik serta batas negara dan
kebangsaan seseorang.
Ketika konflik puncak itu terjadi, pemerintah melakukan tindakan-tindakan
dengan upaya untuk menghentikan laju permasalahan konflik itu.
a. Menerjunkan satuan pengamanan dari POLRI dan TNI ke lokasi kerusuhan.
Misalnya:
8

1. Dengan memberikan seruan kepada semua pihak pertikaian.


2. Mengadakan evakuasi para korban dan warga Madura kewilayah tetangga.
3. Melaksanakan patroli dan menempatkan pasukan pada tempat yang rawan
pertikaian.
b. Melakukan tindakan persuasif dan preventif terhadap kelompok yang bertikai
untuk

mengantisipasi

berkembangnya

kerusuhan

yang

meluas.

Seperti

mengeluarkan himbauan yang disampaikan media massa dan elektronik serta


mobil keliling secara kontinyu.
c. Meyakinkan Gubernur,para Bupati dan Camat di Kalimantan Tengah agar tidak
mengambil jalan pintas memulangkan suku Madura kepulau Madura. Karena
warga Madura tinggal didaerah Kalimantan Tengah sudah sejak tahun 1930
apabila Pemerintah memulangkan suku Madura ke pulau Madura akan
mengakibatkan kecemburuan social.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Konflik ini jelas bukan konflik yang penyebabnya ringan, melainkan konflik antar
etnis yang didasari dengan kecemburuan dan tidak adanya sikap nasionalisme sebagai
seorang yang satu yakni Indonesia. Keberadaan konflik berdarah antara etnis asli
daerah tersebut yaitu Dayak dan etnis pendatang yaitu suku Madura memang sudah
terjadi lama hingga puncak konflik pada tahun 2001 di Sampit yang berakhir dengan
ribuan warga Sampit baik Madura maupun dayak memilih mengungsi ke tempat yang
aman.
Pada dasarnya masyarakat Dayak secara teoritis telah melakukan metode
menghindari dalam menanggapi permasalahan-permasalahan yang terjadi. Metode
menghindari adalah pemecahan masalah dengan cara salah satu pihak yang berselisih
menarik diri atau menghindari konflik.
Namun, karena habisnya control diri dan kesabaran maka konflik itupun terjadi.
Pemerintahpun telah melakukan tindakan penyelesaian, walaupun tindakan yang lebih
tepat seharunya tindakan pencegahan.
Hal ini menerangkan kepada kita betapa pentingnya toleransi didalam keragaman
di negeri ini.
B. Saran
Upaya

yang

dilakukan

pemerintah

memang

bisa

dikatakan

berhasil

menghentikan dan mengatur agar konflik dapat terhenti. Namun, perlu kita ketahui
bahwa sebaiknya kita atau pemerintah harus tetap tidak lengah walau masalah di
masa lalu sudah terlewati. Tetap harus ada penjagaan keharmonisan antaretnis,
penegasan akan diskriminasi, dan toreansi.
Pasal 281 Ayat 2 UUD NKRI 1945 Telah menegaskan bahwa Setiap orang
berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan

10

berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif


itu.
Sementara itu Pasal 3UU No 30 Tahun 1999 tentang HAM Telah menegaskan
bahwa Setiap orang dilahirkan bebas dengan harkat dan martabat yang sama dan
sederajat
Kedua pasal diatas merupakan tonggak yang harus secara serius diingat dan
diterapkan sebagai pedoman hidup masyarakat bangsa ini agar tidak terjadi lagi
kasus-kasus seperti ini. Karena, terciptanya Tungal Ika dalam masyarakat
Bhineka dapat diwujudkan melalui Integrasi Kebudayaan atau Integrasi
Nasional .

11