Anda di halaman 1dari 9

I.

Pengertian Sinusitis
Sinusitis adalah inflamasi atau peradangan pada mukosa sinus paranasal. Sinus paranasal
merupakan rongga-rongga yang berisi udara terletak di sekitar rongga hidung, sinus-sinus ini
dilapisi membran mukosa berupa epitel torak bertingkat semu bersilia dan sel-sel goblet. Selsel goblet dan kelenjar seromukosa di tunika propia memproduksi palut lendir (mucous
blanket)yang menyelimuti seluruh mukosa. Sinus maksila yang normal akan memperbaharui
palut lendir setiap 20-30 menit. Sistem mukosilier terdiri dari gabungan epitel bersilia dan
palut lendir, fungsinya untuk proteksi dan kelembaban udara inspirasi. Debu dan patogen
yang melekat pada palut lendir ini, akan terpapar pada sel mast, lekosit PMN, eosinofil,
lisozim, imunologlobulin G dan interferon. Palut lendir ini akan didorong oleh silia menuju
ostium alami. Vaskularisasi sinus berasal dari a. Karotis interna dan ekterna. Sistem vena dan
limfatiknya melalui ostium sinus bergabung dengan sisitem vena dan sistem limfatik kavum
nasi. Peradangan atau kondisi alergi pada kavum nasi dimana terjadi kongesti vena atau
limfatik akan menyebabkan kongesti sinus sehingga terjadi kegagalan drainase moucus.
Sinus paranasal berjumlah empat pasang yaitu :
1.
2.
3.
4.

Sinus frontalis.
Sinus ethmoidalis anterior dan posterior
Sinus maksilaris.
Sinus sphenoidalis.

Sinus paranasal dibagi dalam dua kelompok yaitu grup anterior dan grup posterior. Grup
anterior terdiri dari sinus frontalis, sinus maksilaris dan sinus ethmoidalis anterior, sedangkan
grup posterior terdiri dari sinus ethmoidalis posterior dan sinus sphenoidalis. Sinus grup
anterior bermuara di meatus media dan sinus grup posterior bermuara di meatus superior. Di
meatus media terdapat celah-celah sempit yang mudah mengalami penyumbatan, daerah
tersebut

disebut

komplek

infundibulum dan bulaetmoid.

II. Klasifikasi Sinusitis

osteo-meatal

yung

terdiri

dari resesus

frontal,

Sinusistis dibagi emapat katagori yaitu sinusistis akut, subakut, kronis dan berulang. Bila
sinusitis berlangsung kurang dari 4 minggu, disebut sinusitis akut. Bila berlangsung lebih dari
4 minggu, tetapi kurang dari 12 minggu disebut sinusitis subakut. Kalau gejala berlangsung
lebih dari 12 minggu disebut sinusitis kronik. Bila sinusitis akut kambuh 4kali atau lebih
dalam setahun disebut sinusitis berulang.
Kalau dilihat dari gejalanya, maka sinusitis dianggap sebagai sinusitis akut bila terdapat
tanda-tanda radang akut. Dikatakan sinusutis subakut, bila tanda akut sudah reda dan
perubahan histologik mukosa sinus masih reversibel dan disebut sinusitis kronik, bila
perubahan histologik mukosa sinus sudah ireversibel, mesalnya sudah berubah menjadi
jaringan granulasi.

III. Patofisiologi Sinusitis


Proses terjadinya sinusitis diawali oleh adanya oklusi atau penyumbatan ostium sinus yang
akan menghambat ventilasi dan drainase sinus sehingga terjadi penumpukan sekret dan
mengakibatkan penurunan oksigenisasi serta tekanan udara di rongga sinus. Penurunan
oksigenisasi sinus akan menyuburkan pertumbuhan bakteri anaerob.Tekanan dalam rongga
sinus yang menurun pada akan menimbulkan rasa nyeri di daerah sinus yang terkena
sinusitis. Karena ventilasi terganggu, PH dalam sinus akan menurun dan hal ini akan
menyebabkan silia menjadi hipoaktif dan mukus yang diproduksi menjadi lebih kental. Bila
sumbatan berlanjut akan terjadi hipoksia dan retensi mukus yang merupakan kondisi ideal
untuk tumbuhnya kuman patogen. Infeksi dan toksin bakteri selanjutnya akan mengganggu
fungsi mukosa karena menimbulkan inflamasi pada lamina propia dan mukosa menjadi
bertambah tebal yang kemudian memperberat terjadinya oklusi, sehingga terjadi semacam
lingkaran setan.

Sinus grup anterior lebih sering terkena sinusitis karena di meatus media terdapat celah-celah
sempit yang mudah mengalami penyumbatan, daerah tersebut disebut komplek osteomeatal
yung terdiri dari resesus frontal, infundibulum dan bulaetmoid. Permukaan mukosa di daerah
osteomeatal komplek berdekatan satu sama lain, bila terjadi edema maka mukosa yang
berhadapan pada daerah sempit ini akan menempel erat atau kontak sesamanya sehingga silia
tidak dapat bergerak dan mukus tidak dapat dialirkan dan pada saat yang bersamaan dapat

terjadi edema serta oklusi ostium sinus grup anterior yang merupakan awal dari proses
terjadinya sinusitis. Khusus untuk sinus maksilaris dasarnya berbatasan dengan akar gigi
premolar I sampai molar III atas dan bila terjadi infeksi pada gigi tersebut dapat menyebar ke
sinus maksila dan biasanya unilateral.
Beberapa faktor yang mempengaruhi berkembangnya sinusitis :
-

Alergi
Varian anatomi
Infeksi
Tumor nasal
Polip
Defisiensi immun
Kelainan mukosiliar
Iritasi polusi udara
Trauma maxilofacial

Sinusitis akut dan sinusitis berulang :


-

Streptococcus pneumoniae
Moraxella catarrhalis
Haemophilus influenzae
Staphylococcus aureus

Sinusitis kronis :
-

Staphylococcus aureus
Streptococcus pneumonia
Haemophilus influenzae
Pseudomonas aeruginosa
Peptostreptococcus Sp
Aspergilus Sp

IV. Pengelolaan

1.

Sinusitis akut

Gejala subjektif

Terdapat gejala sistemik yaitu demam dan rasa lesu; gejala lokal pada hidung

terdapat

ingus kental yang kadang-kadang berbau dan dirasakan mengalir ke nasofaring. Hidung
tersumbat, gangguan penciuman, rasa nyeri di daerah sinus yang terkena, kadang-kadang
dirasakan di tempat lain karena nyeri alih.
Pada sinusitis maksila nyeri di bawah kelopak mata dan kadang-kadang menybar ke alveolus,
sehingga terasa nyeri di gigi. Nyeri alih dirasakan di dahi dan di depan telinga. Pada sinusitis
etmoid rasa nyeri dirasakan di pangkal hidung , kantus medius, bola mata atau di
belakangnya, dan nyeri bertambah bila mata digerakan. Nyeri alih dirasakan di pelipis.

Pada sinusitis frontal rasa nyeri terlokalisir di dahi atau dirasakan di seluruh kepala. Pada
sinusitis sfenoid rasa nyeri di verteks, oksipital, di belakang bola mata dan di daerah mastoid.
Gejala pada sinusitis akut biasanya di dahului pilek yang tidak sembuh dalam waktu lebih
dari 5 7 hari. Bisa juga disertai batuk terutama pada malam hari.

Gejala obyektif
Pada sinusitis akut tampak pembengkakan di daerah muka. Pada sinusitis maksila
pembengkakan di pipi dan kelopak mata bawah, pada sinusitis frontal di dahi di dahi dan
kelopak mata atas, pada sinusitis etmoid jarang ada pembengkakan, kecuali bila ada
komplikasi.
Pada rinoskopi anterior mukosa konka tampak hiperemis dan edema. Pada sinusitis maksila,
sinusitis frontal dan sinusitis etmoid anterior tampak mukopus atau nanah di meatus medius,
sedangkan pada sinusitia etmoid posterior dan sinusitis sfenoid nanah tampak keluar dari
meatus superior. Pada rinoskopi posterior tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip).
Pada pemeriksaan transluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap.
Pemeriksaan radiologik posisi waters, PA dan lateral. Akan tampak perselubungan atau
penebalan mukosa atau batas cairan-udara (air fluid level) pada sinus yang sakit.

Pemeriksaan mikrobiologik

Pada pemeriksaan mikrobiologik dari sekret di rongga hidungterutama dari meatus media
atau superior ditemukan bakteri flora normal di hidung atau kuman patogen, seperti
pneumococcus, Streptococcus, Stafilococcus dan hemophilus influenza.

Terapi
SINUSITIS AKUT
Kuman penyebab sinusitis akut yang tersering
1. Streptococcus pneumoniae
2. Haemophilus influenzae
Medikamentosa :

Antibiotik empirik (2x24 jam). Antibiotik lini I yakni golongan penisilin atau
cotrimoxazol dan terapi tambahan yakni obat dekongestan oral + topikal

Mukolitik : memperlancar drenase

Analgetik untuk menghilangkan rasa nyeri

Pada pasien atopi: antihistamin atau *kortikosteroid topikal (*tidak


dianjurkan).

Jika ada perbaikan diteruskan 10-14 hari

Jika tidak ada perbaikan : beri antibiotik lini II selama 7 hari yakni :
1. Amoksisilin klavulanat/ampisilin sulbaktan
2. Cephalosporin generasi II
3. Makrolid dan terapi tambahan.

Non Medik

Jika tidak ada perbaikan lakukan rontgen-polos / CT Scan dan / nasoendoskopi

Bila dari pemeriksaan ditemukan kelainan lakukan terapi sinusitis kronik.

Tidak ada kelainan? lakukan evaluasi diagnosis evaluasi komprehensif


alergi dan kultur fungsi sinus.

Terapi pembedahan pada sinusitis akut jarang diperlukan, kecuali bila telah
terjadi komplikasi ke orbita atau intrakranial, atau bila ada nyeri yang hebat
karena ada sekret tertahan oleh sumbatan.

2.

Sinusitis subakut

Gejala klinisnya sama dengan sinusitis akut, hanya tanda-tanda radang akutnya (demam, sakit
kepala, nyeri tekan) sudah reda.
Pada rinoscopi anterior tampak sekret purulen di meatus medius atau superior. Pada rinoskopi
posterior tampak sekret purulen di nasofaring. Pada pemeriksaan transluminasi tampak sinus
yang sakit suram atau gelap. Terapinya diberikan antibiotik bersepektrum luas, atau sesuai tes
resistensi kuman, selama 10 14 hari. Juga diberikan dkongestan, analgetik, mukolitik dan
antihistamin bila ada alergi.
Dapat juga dilakukan tindakan diatermi dengan sinar gelombang pendek, sebanyak 5 sampai
6 kali pada daerah yang sakit untuk memperbaiki vaskularisasi sinus. Kalau belum membaik,
maka dilakukan pencucian sinus.
Tindakan intranasal lain yang mungkin perlu dilakukan antara lain operasi koreksi septum
bila terdapat devisiasi sevtum, pengangkatan polip dan konkotomi bila ada hipertofi konka.
Prinsipnya supaya drainase sekret menjai lancar.
Terapi
Terapinya mula-mula Medikamentosa, bila perlu dibantu dengan tindakan, yaitu
diatermi atau pencucian sinus.
Obat Antibiotika spektrum luas atau yang sesuai dengan resistensi kuman selama 10
14 hari.
Juga simptomatis dekongestan.

Selain itu dapat pula diberikan analgetika, anti histamin dan mukolitik.
Tindakan dapat berupa diatermi dengan sinar gelombang pendek (Ultra Short Wave
Diathermy) sebanyak 5 6 kali pada daerah yang sakit untuk memperbaiki vaskularisasi
sinus. Kalau belum membaik, maka dilakukan pencucian sinus.
Pada sinusitis maksilaris dapat dilakukan pungsi irigasi. Pada sinusitis ethmoid, frontal
atau sphenoid yang letak muaranya dibawah, dapat dilakukan tindakan pencucian sinus
cara Proetz.

3.

Sinusitis kronik

Sinusitis kronis berbeda dari sinusitis akut dalam beberapa aspek, umumnya sukar sembuh
dengan pengobatan medikamentosa saja. Harus dicari faktor penyebab dan faktor
predisposisinya.
Gejala subjektif
Gejala subjektif bervariasi, dari ringan sampai berat :
-

gejala hidung dan nasofaring, berupa sekret di hidung dan nasofaring

gejala faring, yaitu rasa tidak nyaman di tenggorok

gejala telinga, berupa pendengaran terganggu, oleh karena

tersumbatnya tuba

Eustachius
-

nyeri kepala

gejala mata, oleh karena penjalaran infeksi melalui duktus naso- lakrimalis

gejala saluran napas berupa batuk, dan kadang-kadang terdapat komplikasi di paru,

berupa bronkitis atau bronkiektasis atau asma bronkial, sehingga terjadi penyakit
sinobronkitis
-

gejala di saluran cerna, oleh karena mucopus yang tertelan. Dapt terjadi

gastroenteritis.

Kadang-kadang gejala sangat ringan, hanya terdapat sekret di nasofaring yang menggangu
pasien. Sekret di nasofaring (post nasal drip) yang terus menerus akan mengakibatkan batuk
kronik.
Nyeri kepala pada sinusitis kronis biasanya pada pagi hari, dan akan berkurang atau
menghilang setelah siang hari.

Gejala objektif
Pada sinusitis kronis, temuan pemeriksaan klinis tidak seberat sinusitis akut dan tidak
terdapat pembengkakan muka. Pada rinoskopi anterior dapat ditemukan sekret kental purulen
dari meatus medius atau meatus superior. Pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen di
nasofaring atau turun ke tenggorok.
Pemeriksaan mikrobiologik
Biasanya merupakan infeksi campuran oleh bermacam-macam mikroba, yaitu kumam aerob
dan kuman anaerob.
Pemeriksaan penunjang berupa trasluminasi untuk sinus maksila dan sinus frontal,
pemeriksaan radiologik, pungsi sinus maksila, sinoskopi sinus maksila, pemeriksaan
histologik dari jaringan yang diambil pada waktu dilakukan sinoskopi, pemeriksaan meatus
medius dan meatus superior dengan menggunakan naso-endoskopi dan pemeriksaan CT
Scan.

Sumber:
Boies L.R, Adams G.L, Hilger P.A, Fundamental of Otolaryngology, A text book of Ear,
Nose and Thoat Disease, 6th ed, 1989, W.B Saunders Co. Philadelphia, pp. 249-272.
Bolger W.E, Kennedy D.W, Zinreich S.J, Disease of the Sinuses Diagnosis and Management,
2001, Deker B.C Inc. London, pp.1-28, 149-178.
Soepardi E.A, Iskandar N, Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok, Edisi 3,
1997, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta, hal. 121-126.

McCaffrey T.V, Knoops J.L, Kem E.B, Physiology Clinical Applications, The Ontologic
Clinics of North America, Inflammatory Disease of the Sinuses, 1993, W.B Sounders
Company, pp. 517-533.