Anda di halaman 1dari 8

BAB II

SHARIA CARD ( KARTU KREDIT SYARIAH)


2.1 Pengertian, Prisip, Tujuan dan Manfaat Kartu Kredit Syariah
A. Pengertian Kartu Kredit Syariah
Kartu kredit dalam bahasa arab adalah bithaqah al-itiman. Kata bithaqah (kartu) secara
bahasa digunakan untuk potongan kertas kecil. Sementara kata itiman secara bahasa artinya adalah
kondisi aman dan saling percaya. Dalam kebiasaan di dunia usaha artinya semacam pinjaman, yakni
yang berasal dari kepercayaan (pemberi pinjaman) terhadap peminjam dan sikap amanahnya serta
kejujurannya. Oleh sebab itu, ia memberikan dana itu dalam bentuk pinjaman untuk dibayar secara
tertunda. Pihak-pihak yang bermain dalam kartu kredit syariah yaitu pihak penerbit kartu
disebut mushdir al-bithaqah, pemegang kartu disebut hamil al-bithaqah dan penerima kartu
disebut merchant, tajir atau qabil al-bithaqah.
Pengertian syariah card menurut fatwa No 54/DSN-MUI/X/2006, shariah card adalah kartu
yang berfungsi seperti kartu kredit yang hubungan hukum (berdasarkan sistem yang sudah ada)
antara para pihak berdasarkan prinsip syariah sebagaimana diatur dalam fatwa.
Walaupun berdasarkan definisi di atas syariah card berfungsi seperti kartu kredit, tetapi pada
syariah card tidak memberlakukan bunga yang identik dengan riba. Oleh karenanya, syariah card
menggunakan mekanisme akad yang berdasarkan prinsip syariah. Akad yang digunakan dalam
syariah card adalah kafalah, qard danijarah.
Di dalam syariah card terdapat ketentuan tentang batasan (dhabith wa hudud), yakni tidak
menimbulkan riba, tidak digunakan untuk transaksi yang tidak sesuai dengan syariah, tidak
mendorong pengeluaran yang berlebihan (israf), dengan cara antara lain menetapkan pagu meksimal
pembelanjaan. Pemegang kartu harus memiliki kemampuan finansial untuk melunasi pada waktunya
dan tidak memberikan fasilitas yang bertentangan dengan syariah
B. Landasan Hukum
Al-Quran:
1)


dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai Dia
berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu
mengetahui.
(QS. Al-Baqarah: 280)
2)



penyeru-penyeru itu berkata: "Kami kehilangan piala Raja, dan siapa yang dapat
mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin
terhadapnya".
(QS. Yusuf: 72)
Hadist:
1) Dari Salamah bin al-akwa:
Telah dihadapkan kepada Rasulullah s.a.w. jenazah seorang laki-laki untuk dishalatkan.
Rasulullah bertanya, Apakah ia mempunyai utang? Sahabat menjawab, Tidak. Maka,
beliau mensalatkannya. Kemudian dihadapkan lagi jenazah lain, Rasulullah pun bertanya,
Apakah ia mempunyai utang? Mereka menjawab, Ya. Rasulullah berkata, Shalatkanlah
temanmu itu (beliau sendiri tidak mau menshalatkannya). Lalu Abu Qatadah berkata, Saya
menjamin utangnya, ya Rasulullah. Maka Rasulullah punmenshalatkan jenazah tersebut.
(HR. Bukhari)
2) Hadis dari Abu Umamah al-Bahili, Anas bin Malik, dan Abdullah bin Abbas, Nabi s.a.w.
bersabda: Zaim (penjamin) adalah gharim (orang yang menanggungutang). (HR. Abu
Daud, Tirmizi dan Ibn Hibban)
3) Hadits dari Abu Hurairah R.A. bahwa Rasulullah SAW bersabda: Orang yang melepaskan
seorang muslim dari kesulitannya di dunia, Allah akan melepaskan kesulitannya di hari
kiamat; dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya
(HR. Muslim)
C. Konsep Dasar Kartu Kredit Konvensional
Dalam perbankan konvensional, komposisi Kartu kredit saat ini biasanya terdiri dari tiga type,
yaitu :
1.Generic Card, merupakan kartu kredit yang dapat digunakan di sumua merchant yang
menggunakan logo visa/master. Seperti :
a. Visa Classic dan Gold Card
b. Master Classic dan Gold Card
2.Co-Branded Card, merupakan kartu kredit hasil kerja sama dengan perusahaan-perusahaan
besar serta dapat digunakan untuk transaksi di jaringan Visa/Master.Seperti :
a. Hero Master Card
b. Astra CMG Visa Card
3.Private Label Card. Merupakan Kartu Kredit yang hanya dapat digunakan di toko-toko yang
bersangkutan. Seperti :
a. Ramayana Card

b. Yogya Kartu Serba Bisa dll


Dalam makalah ini yang dimaksud dengan kartu kredit konvensional adalah suatu alat
pembayaran yang berlaku dalam sebuah transaksi sebagai pengganti uang tunai dimana pemegang
kartu kredit berkewajiban membayar bunga cicilan dan denda.
Dalam aktifitas kartu kredit baik syariah maupun konvensional, terdapat beberapa pelaku
yang terlibat, yaitu :
1. Penerbit/ Issuer, yaitu Perusahaan atau Bank yang menerbitkan kartu Kredit. Seperti VISA,
Master Card dll.
2. Pemegang/Card Holder, yaitu Perorangan atau perusahaan yang memiliki Kartu Kredit,
setelah mengajukan permohonan pada penerbit.
3. Merchant, yaitu Toko,Restoran,Hotel dll yang bersedia untuk menerma pembayaran dengan
Kartu Kredit.
4. Acquirer, adalah lembaga yang mengelola penggunaan kartu kredit terutama dalam
penagihan dan pembayaran antara pihak Issuer dengan pihak Merchant

D. Praktik Kartu Kredit dalam Perbankan Konvensional


Ini adalah hal-hal yang harus di pahami saat menggunakan kartu kredit dalam perbankan
konvensional:
1. Perjanjian Kartu Kredit Salah satu hal paling hebat dari penggunaan kartu kredit adalah tidak
ada rahasia tentang ketentuan-ketentuannya. Bank penerbit akan memberikan semua informasi yang
diperlukan untuk pengajuan aplikasi kartu dan juga memberikan ketentuan-ketentuan dalam
penggunaan kartu kreditnya
2. Hak-hak Pemegang kartu kredit Seorang pemegang kartu kredit akan mempunyai hak-hak
dalam menggunakan kartu kreditnya yaitu seperti:

a. Berbelanja di semua pedagang/merchant yang telah ditunjuk oleh penerbit dengan


menggunakan kartu kredit.
b.

Mengambil uang tunai di bank dengan batasan jumlah tertentu.

c.

Memperoleh kartu pengganti, baik atas kartu yang telah hilang maupun kadaluarsa.

d.

Menolak memperpanjang keanggotaan dengan memberitahukan secara tertulis kepada


bank.

3. Ketentuan-ketentuan Beberapa kewajiban pengguna kartu kredit dan ketentuan yang biasanya
ada dalam perbankan konvensional yaitu:
a. Berbagai Biaya Beberapa penerbit kartu mengenakan biaya tahunan atau sejumlah
uang yang harus dibayarkan untuk mendapatkan atau memperpanjang kartu tiap tahunnya.
Beberapa bank juga mengenakan biaya untuk pengajuan aplikasi, keterlambatan
pembayaran, penarikan uang di muka, penggunaan yang melampaui batas kredit atau tidak
ada penggunaan sama sekali.

b. Masa Tenggang Ini adalah jumlah hari dimana bank memperbolehkan Anda meminjam
uang mereka tanpa dikenakan bunga. Masa tenggang bisa bervariasi hingga 25 hari
tergantung bank penerbitnya. Masa tenggang ini biasanya berlaku untuk transaksi-transaksi
baru, namun hanya ada jika tidak ada sisa tagihan dari bulan sebelumnya. Jika masa
tenggang berakhir, jika pengguna belum melunasi tagihannya, maka bunga akan
diperhitungkan mulai dari tanggal pembelanjaan. Namun, beberapa kartu tidak
memberlakukan masa tenggang bebas bunga, dan Anda dikenakan bunga mulai dari tanggal
pembelanjaan.
c. Penarikan Uang Tunai Bank atau institusi penerbit kartu memperlakukan penarikan
uang tunai seperti pinjaman, bukan seperti pembelanjaan. Saat pengguna menarik uang tunai
dengan kartu kreditnya, maka ia akan dikenakan bunga yang kadang disertai masa tenggang
dan bunga lebih tinggi. Tanyakan kepada bank penerbit ketentuan tentang biaya-biaya serta
bunga yang berlaku.
d. Perhitungan bunga Saat pengguna menggunakan kartu kredit, bank atau institusi
keuangan penerbit kartu sebenarnya memberikan pinjaman sejumlah nilai pembelanjaan
pengguna. Bank kemudian mengenakan biaya yang disebut bunga atas penggunaan uang
itu. Kemudian penerbit kartu akan melunasi pembelanjaan Anda dalam tempo beberapa hari
setelah transaksi, dan Anda harus mulai mengangsur atau menulasi hutang itu saat tagihan
bulanan Anda diterima.
Semua beban bunga bisa dihindari dengan membayarkan tagihan secara penuh sebelum
jatuh tempo pembayaran yang sudah ditentukan. Oleh karena itu pengguna hendaknya
memeriksa dengan seksama teks berhuruf kecil yang tertera dalam tagihan, karena sejumlah
bank mengenakan biaya untuk tagihan Rp. 0 atau tidak memiliki masa tenggang.
Jika pengguna memilih untuk tidak melunasi semua pinjaman dari bank, maka akan
dikenakan bunga. Tentunya semakin cepat tagihan dilunasi, semakin sedikit bunga yang
harus dibayarkan. Tingkat suku bunga bervariasi dari satu kartu ke kartu lainnya, sebagian
memperhitungkan bunga tanpa masa tenggang.
Dan jika pengguna tidak membayar tagihan secara penuh, maka bunga dari jumlah yang
belum dibayarkan akan ditambahkan ke jumlah tagihan hutang Anda. Jika hal ini terjadi,
maka pengguna akan membayar bunga berbunga atau bunga majemuk. Setiap pembelanjaan
baru dapat dimasukkan ke dalam total tagihan dan mulai ditagihkan bunganya. Jika
pengguna memiliki tagihan yang lebih besar, maka pembayaran minimum adalah cara yang
mahal untuk menggunakan kartu kreditnya.

E. Problem Kartu Kredit Konvensional Menurut Kacamata Syariah


Berdasarkan hal-hal yang telah digambarkan diatas maka hal-hal yang praktik yang tidak sesuai
dengan prinsip syariah adalah sebagai berikut :
1. Adanya tambahan bunga atau riba yang berlipat
Dalam pratik kartu kredit konvensional apabila pengguna tidak membayar tagihan
secara penuh, maka bunga dari jumlah yang belum dibayarkan akan ditambahkan ke jumlah
tagihan hutang Anda. Jika hal ini terjadi, maka pengguna akan membayar bunga berbunga
atau bunga majemuk. Setiap pembelanjaan baru dapat dimasukkan ke dalam total tagihan
dan mulai ditagihkan bunganya dan begitu seterusnya.

Hal ini tidak sesuai dengan prinsip syariah yang mengatur untuk melarang praktik
pengambilan riba yang berlipat ganda yaitu seperti yang terdapat dalam surah Ali-Imran ayat
130



130. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda.
dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.
2. Dapat digunakan untuk melakukan transaksi yang tidak sesuai syariah
Dalam Praktik kartu kredit konvensional, pengguna kartu kredit mempunyai hak
Berbelanja di semua pedagang/merchant yang telah ditunjuk oleh penerbit dengan
menggunakan kartu kredit. Tidak peduli apakah merchant tersebut menjual barang-barang
dan jasa halal dalam Islam atau tidak. Dalam hal ini bank konvensional sebagai penerbit
tidak memberikan batasan dalam hal perbelanjaan konsumen dan tidak juga membatasi
merchant-merchant berbagai produk untuk mengikuti program pembayaran melalui kartu
kredit ini, yang penting hal-hal tersebut akan memberikan keuntungan besar kepada bank.
Hal ini juga bertentangan dengan prinsip syariah. Bagaimana jika pembeli
menggunakan kartu kreditnya untuk membeli hal-hal yang diharamkan secara syariah
seperti miras, makanan-makanan tidak halal di restaurant, pembiayaan dalam permainan judi
dll?
Padahal Allah SWT melarang setiap muslim untuk membelanjakan hartanya kepada
barang-barang tersebut




90. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban
untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka
jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maidah : 90)





173. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan
binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. tetapi Barangsiapa dalam
Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula)
melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. (QS Al-Baqarah: 173)
3. Mendorong pengguna berlaku boros atau konsumtif
Tidak adanya batasan dalam berhutang atau menarik pinjaman dari bank melalui kartu kredit
merangsang pengguna kartu kredit untuk hidup berlebihan dan membelanjakan uang secara

boros. Tidak adanya batasan jumlah ini atau dalam beberapa kartu kredit lain memberikan
batasan yang terlalu tinggi ini di maksudkan oleh bank agar pengguna memiliki hutang yang
sangat banyak kepada bank karena semakin banyak hutang maka akan semakin
menguntungkan pihak bank, karena semakin besar pula biaya bunga dari persentase jumlah
hutangnya. Hal inilah yang banyak membuat pelanggan sering kali tercekik dalam jumlah
hutang yang semakin besar. Hal ini juga bertentangan dengan prinsip syariah yaitu larangan
untuk hidup berlebihan dan boros dalam penggeluaran harta. Seperti yang Allah SWT
Firmankan dalam ayatnya:

26. dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin
dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu)
secara boros.
27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu
adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isra: 26-27)
F. Model Alternatif Syariah dalam Masalah kartu Kredit
Dalam model praktik kartu kredit di perbankan syariah tidak semua hal yang di praktikan
oleh perbankan konvensional di haramkan atau tidak dipakai. Ada beberapa yang serupa namun ada
pula yang dirubah karena tidak sesuai dengan prinsip syariah. Dalam praktiknya kartu kredit syariah
menggunakan 3 akad yang berbeda dalam hal yang berbeda:
1. Kafalah ( Penjamin Transaksi)
Dalam akad kafalah, bank sebagai penerbit kartu bertindak sebagai penjamin (kafil) bagi
pemegang kartu terhadap merchant atas semua kewajiban bayar (dayn) yang timbul dari transaksi
antara pemegang kartu dengan merchant, dan atau penarikan tunai selain bank atau ATM bank
Penerbit Kartu. Dengan demikan dapat dikatakan bahwa merchant bertindak sebagai pihak penerima
jaminan dari bank berdasar prinsip kafalah. Atas pemberian kafalah ini, penerbit kartu dapat
menerima fee (ujrah) dari pemegang kartu.
2. Qardh (hutang uang tanpa bunga)
Qardh adalah pemberian pinjaman untuk pengambilan tunai dalam akad qardh bank sebagai
penerbit kartu bertindak selaku pemberi pinjaman (muqridh) kepada pemegang kartu (muqtaridh)
melalui penarikan tunai dari bank atau ATM bank penerbit kartu.
3. Ijarah (upah)
Ijarah adalah biaya keanggotaan (iuran tahunan). Dalam akad ijarah ini penerbit kartu adalah
penyedia jasa sistem pembayaran dan pelayanan terhadap pemegang kartu. Pemegang kartu
dikenakan membership fee. Semua fee yang ditetapkan pada kartu kredit syariah harus dinyatakan
jumlahnya pada saat akad aplikasi kartu secara jelas dan nilainya tetap, kecuali untuk merchant fee.
Ketentuan Biaya-biaya (Fee)

Karena kartu kredit syariah sangat


penggunaan bunga, maka ada beberapa
mendapatkan keuntungan dari produk kartu
tertuang dalam ketentuan-ketentuan dibawah

menghindari praktik riba atau


alternatif sarana untuk tetap
kredit ini. Beberapa alternatif ini
ini:

a. Iuran keanggotaan (membership fee)


Penerbit Kartu berhak menerima iuran keanggotaan (rusum al-udhwiyah)
termasuk perpanjangan masa keanggotaan dari pemegang Kartu sebagai
imbalan (ujrah) atas izin penggunaan fasilitas kartu.
b. Merchant fee
Penerbit Kartu boleh menerima fee yang diambil dari harga objek transaksi atau
pelayanan sebagai upah/imbalan (ujrah) atas perantara (samsarah), pemasaran
(taswiq) dan penagihan (tahsil al-dayn).
c. Fee penarikan uang tunai
Penerbit kartu boleh menerima fee penarikan uang tunai (rusum sahb al-nuqud)
sebagai fee atas pelayanan dan penggunaan fasilitas yang besarnya tidak
dikaitkan dengan jumlah penarikan. Dalam hal ini diberlakukan akad ijarah atas
jasa penarikan uang tunai karena menggunakan fasilitas penerbit kartu seperti
ATM dll. Pinjaman yang berikan kepada pengguna menggunakan akad Qardh,
oleh karena itu tidak diperbolehkan mengambil keuntungan dari jumlah
pinjaman yang diberikan namun bisa dikenakan upah jasa karena menggunakan
fasilitas Penerbit kartu kredit
d. Fee Kafalah
Penerbit kartu boleh menerima fee dari Pemegang Kartu atas pemberian
Kafalah. Karena penerbit kartu memberikan penjaminan atas pembayaran
transaksi pengguna kartu, maka penerbit berhak memperoleh upah atas hal
tersebut (Kafalah bil Ujrah)
e. Semua bentuk fee tersebut di atas (a s-d d) harus ditetapkan pada saat akad
aplikasi kartu secara jelas dan tetap, kecuali untuk merchant fee.

Ketentuan Tawidh dan Denda


a. Tawidh
Penerbit Kartu dapat mengenakan tawidh, yaitu ganti rugi terhadap biayabiaya yang dikeluarkan oleh Penerbit Kartu akibat keterlambatan pemegang
kartu dalam membayar kewajibannya yang telah jatuh tempo.
b. Denda keterlambatan (late charge)
Penerbit kartu dapat mengenakan denda keterlambatan pembayaran yang akan
diakui seluruhnya sebagai dana sosial.

Kritik dan Saran

Menurut saya perbankan syariah dalam upaya menghindari praktek


bunga (riba) sudah cukup maksimal walaupun belum dapat dikatakan maksimal
secara penuh. Penggunaan 3 akad dalam hal-hal yang berbeda dan beberapa
ketentuan lainnya untuk menghindari praktik riba, memakan harta secara bathil
dll membuktikan kesungguhan perbankan syariah yang tercermin dari fatwa
DSN-MUI no 54 tentang Kartu kredit.
Namun kekurangan menurut saya penggunaan upah-upah tersebut
seringkali besarannya hampir sama bahkan melebihi jumlah bunga yang
dikenakan oleh bank konvensional. Hal ini terkadang membuat nasabah yang
rasionalis beralih kepada bank konvensional yang menurut mereka lebih
menguntungkan dalam sisi material. Ini yang membuat produk kartu kredit
syariah sulit berkembang.
Hal lain menurut saya dari penjelasan kartu kredit syariah adalah tidak
terlalu mengurangi budaya konsumtif masyarakat, karena penggunaan limit
kartu kredit syariah juga hampir menyamai kartu kredit konvensional yang
disesuaikan dengan jenis kartunya.
Semoga kedepannya dalam semangat ekonomi Rabbani, perbankan
syariah lebih mampu mengimplementasikan prinsip syariah secara kaffah
seiiring dengan kondisi perekonomian Indonesia yang semakin baik akan dapat
memotivasi untuk dapat ber muamalah tanpa memandang lagi praktik-praktik
ekonomi yang dilaksanakan perbankan konvensional dalam pengambilan
kebijakannya, terlebih khusus lagi masalah kartu kredit ini.