Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Dengan perkembangan pengetahuan, dan berkembangnya teknologi yang

sangat jauh berbeda dengan perkembangan pada masa perkembangan Islam pada
masa itu. Dengan perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi sampailah
kepada bidang kedokteran, tidak hanya dibidang informatika, atau sains,
melainkan bidang kedokteranpun menggunakan teknologi yang amat canggih
untuk masa sekarang. Jadi tidak heran jika ada perbedaan tingkahlaku mengenai
penanganan para ahli bidang kesehatan dengan memanfaatkan perkembangan
teknologi seperti cangkok ginjal, transfusi darah dan sebagainya, yang mana jika
di lihat dari kacamatan Hukum Islam mengandung banyak petanyaan apakah hal
semacam itu diperbolehkan ataukah di larang oleh hukum Agama.
Dengan latar belakang inilah kami penulis mengangkat tema Transplantasi
Anggota Badan, Transfusi Darah, Jual Beli Darah yang mana ketiga sub
tema tersebut merupakan kelahiran baru yang berawal dari perkembangan
pengetahuan, karena sebelumnya tidak ditemukan khususnya pada masa
Rasulullah atau pada masa Sahabat.
B.
1.
2.
3.

Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
Apa hukumnya orang yang melakukan tranplasi anggota badan?
Bagaimana pandangan Islam mengenai Tranfusi Darah?
Apa hukumnya orang yang memperjual belikan darah?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Transplantasi Anggota Badan
Transplantasi adalah pemindahan organ tubuh yang masih mempunyai daya
hidup sehat untuk menggantikan organ tubuh yang tidak sehat dan tidak berfungsi
lagi dengan baik. Pencangkokan organ tubuh yang menjadi pembicaraan pada
waktu ini adalah; mata, ginjal dan jantung. Karena ketiga organ tubuh tersebut
sangat penting fungsinya untuk manusia terutama sekali ginjal dan jantung.[1]
1.

Cangkok ginjal
Ginjal adalah salah satu organ tubuh yang terletak pada dinding posterior

abdomen, terutama di daerah lumbal di sebelah kanan dan kiri tulang belakang,
yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan air dalam tubuh, mengatur
konsentrasi garam dalam darah, mengatur keseimbangan asam basa darah,
mengatur eksktesi bahan buangan dan kelebihan garam dalam tubuh. Dan apabila
ada gangguan salah satu sistem pada ginjal itu, maka fungsi-fungsi anggota tubuh
yang lain dapat terganggu. Pencangkokan ginjal adalah pengoperasian dan
pemindahan ginjal dari orang lain atau dari binatang yang sesuai dengan struktur
anatominya kepada pasien yang membutuhkannya.[2]
2.
Hukum Transplantasi Organ Tubuh
Orang yang masih hidup dan sehat ada juga yang ingin menyumbangkan
organ tubuhnya kepada orang yang memerlukan umpamanya karena hubungan
keluarga atau karena ada imbalan dari orang yang memerlukan. Apabila
transplantasi organ tubuh diambil dari orang yang masih dalam keadaan hidup
[1][1] Muhammad Ali Hasan, Masail Fiqhiyah Al-Haditsah Pada
Masalah-Masalah Kontemporer Hukum Islam, Jakarta, PT Raja Grafindo
Persada, 2000, h.121

[2]
[2] Mahjuddin, Masailul Fiqhiyah (berbagai Kasus Yang
Dihadapi Hukum Islam Masa Kini), Jakarta, Kalam Mulia, 2003, h. 130

sehat, maka hukumnya haram.[3] Dengan alasan firman Allah dalam surat al-baqarah ayat 195:
Artinya: Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan
janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan
berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
.berbuat baik
Sedangkan transplantasi organ tubuh donor yang dalam keadaan sudah
meninggal secara yuridis dan medis hukumnya mubah yaitu dibolehkan menurut
pandangan Islam, dengan syarat bahwa resipien (penerima sumbangan organ
tubuh) dalam keadaan darurat yang mengancam jiwanya bila tidak dilakukan
transplantasi itu, sedangkan ia sudah berobat secara optimal tetapi tidak
berhasil.[4]
B. Transfusi Darah
1.
Pengertian Transfusi Darah
Dalam kamus umum bahasa Indonesia kata transfusi diartikan sebagai
pemindahan
darah).[5]

darah

(pemasukan

darah

kepada

Perkataan transfusi darah adalah terjemahan dari bahasa Inggris

orang

yang

kekurangan

blood transfusion, lalu DR.

Ahmad Sofian mengartikan transfusi darah sebagai istilah pindah-tuang darah.


Sebagaimana dikemukakannya dalam rumusan definisinya yang berbunyi:
pengertian pindah-tuang darah adalah memasukkan darah orang lain ke dalam
pembuluh darah orang yang akan ditolong. Sedangkan Asy-Syekh Husnain
Muhammad Makhluuf merumuskan definisinya sebagai berikut: transfusi darah
adalah memanfaatkan darah manusia dengan cara memindahkannya dari (tubuh)
[3] Dengan alasan firman Allah dalam surat al-baqarah ayat 195: [3]
Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A, Masail Al-Fiqhiyah, Jakarta, UIN Jakarta
Press, 2006, h. 103
[4] [4] Ibid. h. 107

[5] Perkataan transfusi darah adalah terjemahan dari bahasa Inggris


[5] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta,
Balai Pustaka, 1986, h. 1089

orang yang sehat kepada orang yang membutuhkannya, untuk mempertahankan


hidupnya.[6]
Masalah transfusi darah adalah masalah baru dalam hukum Islam, karena
tidak ditemukan hukumnya dalam fiqih pada masa-masa pembentukan hukum
Islam. Al-Quran dan hadits pun sebagai

sumber hukum Islam. Tidak

menyebutkan hukumnya, sehingga pantaslah hal ini disebut sebagai masalah


ijtihad. Sebenarnya transfusi darah telah dilakukan oleh para ahli bidang
kedokteran sejak ratusan tahun yang lalu. Pada masa itu pengetahuan tentang
sirkulasi darah yang dirintis oleh William Harvey masih belum memuaskan.
Namun para ahli tidak henti-hentinya melakukan percobaan hingga pada suatu
saat Dr. Karl Landsteiner pada tahun 1900 telah menemukan golongan-golongan
darah dan transfusi darah tidak merupakan pekerjaan yang berbahaya. Tetapi
sebaliknya banyak menolong jiwa manusia dari ancaman kematian disebabkan
kehilangan darah. Dalam hal ini agama Islam sangat menyambut baik
perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang kedokteran yang
menyangkut pada permasalahan transfusi darah manusia,

dalam rangka

penyelamatan jiwa manusia.[7] Sesuai dengan firman Allah surat Al-Maidah ayat 32:
Artinya: Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolaholah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya
telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-

[6] [6] Mahjuddin, Masailul Fiqhiyah (berbagai Kasus Yang


Dihadapi Hukum Islam Masa Kini), Jakarta, Kalam Mulia, 2003, h. 89-90

[7] Sesuai dengan firman Allah surat Al-Maidah ayat 32: [7]
Muhammad Ali Hasan, Masail Fiqhiyah Al-Haditsah Pada MasalahMasalah Kontemporer Hukum Islam, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada,
2000, h. 111

keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguhsungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.[8]
Namun dalam prakteknya, banyak masalah yang dihadapi. Bahkan menjadi
bahan polemik yang berkepanjangan. Ada orang yang setuju dan ada pula yang
tidak setuju dalam beberapa hal.[9]
2. Unsur-unsur darah dan fungsinya
a. Sel darah merah (Erythrocyt), Mengenai fungsinya adalah:
1)
Untuk membawa zat pembakar dari luar melalui jalan pernapasan, lalu dibawa
ke tempat pembakaran dalam tubuh kita. Dan sebaliknya, zat asam arang dibawa
2)

dari tempat pembakaran keluar dari paru-paru dengan saluran yang lain.
Mengambil zat-zat makanan dari usus, untuk disebarkan ke seluruh anggota

3)
4)
b.
1)

tubuh yang memerlukannya.


Untuk mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna lagi.
Untuk membagi temperatur yang panas ke seluruh tubuh.
Sel darah putih (Leucocyt), mengenai fungsinya:
Membawa zat anti racun yang diperlukan untuk menghancurkan racun-racun

dan bakteri yang akan berbahaya bagi tubuh.


2)
Membawa zat lemak dari dinding usus menuju membuluh getah lemak yang
c.

terdapat dalam rongga perut yang disebut sebagai pembuluh chylus.


Sel pembeku (Trhombocyt), adapun fungsinya adalah untuk membekukan darah
yang keluar dari anggota tubuh yang terluka sehingga darah tersebut dapat

bertahan.
d. Plasma darah, mengenai fungsinya yakni menjaga darah yang mengalir dalam
tubuh agar selalu encer sehingga peredarannya tidak tersendat-sendat, terutama
3.

bila tubuh mengalami cuaca dingin.


Pandangan agama Islam
Pada dasarnya, darah yang dikeluarkan dari tubuh manusia, termasuk najis
mutawasithah menurut hukum Islam. Maka agama melarang mempergunakannya

[8][8] Al-Quran dan terjemahnya, Jakarta, 1971, h. 164

[9][9] Muhammad Ali Hasan, Masail Fiqhiyah Al-Haditsah Pada


Masalah-Masalah Kontemporer Hukum Islam,h.112

baik secara langsung maupun tidak. Dan keterangan tentang haramnya


mempergunakan darah terdapat pada surat Al-Maidah ayat 3:[10]
Artinya: Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan)
yang disembelih atas nama selain Allah[11]
Masalah donor darah adalah masalah yang baru, dalam arti kata tidak
ditemukannya hukum pada masa pembentukan hukum Islam. Ataupun dalam alQuran dan hadits. Agama Islam tidak melarang seorang Muslim atau Muslimah
menyumbangkan darahnya untuk tujuan kemanusiaan dan bukan komersial.
Darah itu dapat disumbangkan secara langsung kepada yang memerlukannya,
seperti untuk keluarga sendiri atau diserahkan kepada palang merah atau bank
darah untuk disimpan dan sewaktu-waktu digunakan untuk menolong orang
apakah seagama atau tidak. Sebagai dasar hukum yang membolehkan donor darah
ini, dapat dilihat dalam kaidah hukum Islam bahwa ada prinsipnya segala
sesuatu itu boleh kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Berdasarkan kaidah
tersebut, maka hukum donor darah itu dibolehkan karena tidak ada dalil yang
melarangnya baik dari al-Quran maupun hadits. Namun demikian tidak berarti,
bahwa kebolehan itu dapat dilakukan tanpa syarat, bebas lepas begitu saja. Sebab
bisa saja terjadi bahwa sesuatu yang pada awalnya diperbolehkan, tetapi karena
ada hal-hal yang dapat membahayakan resipien. maka akhirnya menjadi
terlarang.[12]
C.

Jual beli darah


[10][10] Mahjuddin, Masailul Fiqhiyah (berbagai Kasus Yang
Dihadapi Hukum Islam Masa Kini),h. 90-93

[11][11] Al-Quran dan terjemahnya, Jakarta, 1971, h. 157

[12] [12] Muhammad Ali Hasan, Masail Fiqhiyah Al-Haditsah Pada


Masalah-Masalah Kontemporer Hukum Islam,h. 115-116

Berkaitan tentang memperjualbelikan darah, kalau dipikir-pikir maka orang


yang memperjualbelikan darah itu kurang manusiawi. Sebab penggunaan darah
itu adalah untuk menolong nyawa si penderita. Dalam keadaan yang semacam ini
seharusnya yang berbicara adalah nurani bukan materi yang menonjol. Kalau
ditinjau dari segi hukum, maka di antara ulama ada yang memperbolehkan jual
beli darah, sebagaimana halnya jual beli barang najis yang ada manfaatnya, seperti
kotoran hewan. Dengan demikian secara Qiyas diperbolehkan memperjualbelikan
darah manusia (sama-sama najis) dan memang besar manfaatnya untuk menolong
jiwa manusia.[13]

[13] [13] Ibid

BAB III
PENUTUP

A.

Kesimpulan
Transplantasi adalah pemindahan organ tubuh yang masih mempunyai daya
hidup sehat untuk menggantikan organ tubuh yang tidak sehat dan tidak berfungsi
lagi dengan baik. Pencangkokan organ tubuh yang menjadi pembicaraan pada
waktu ini adalah; mata, ginjal dan jantung.
Sedangkan transfusi Dalam kamus umum bahasa Indonesia kata transfusi
diartikan sebagai pemindahan darah (pemasukan darah kepada orang yang
kekurangan darah). Perkataan transfusi darah adalah terjemahan dari bahasa
Inggris blood transfusion, lalu DR. Ahmad Sofian mengartikan transfusi darah
sebagai istilah pindah-tuang darah.
Masalah transfusi darah adalah masalah baru dalam hukum Islam, karena
tidak ditemukan hukumnya dalam fiqih pada masa-masa pembentukan hukum
Islam. Al-Quran dan hadits pun sebagai

sumber hukum Islam. Tidak

menyebutkan hukumnya, sehingga pantaslah hal ini disebut sebagai masalah


ijtihad.
Dalam hal ini agama Islam sangat menyambut baik perkembangan ilmu
pengetahuan, khususnya di bidang kedokteran yang menyangkut pada
permasalahan transfusi darah manusia, dalam rangka penyelamatan jiwa manusia.
Sesuai dengan firman Allah surat Al-Maidah ayat 32.
Berkaitan tentang memperjualbelikan darah, kalau dipikir-pikir maka orang
yang memperjualbelikan darah itu kurang manusiawi. Sebab penggunaan darah
itu adalah untuk menolong nyawa si penderita.

B.

Saran
Sebagaimana kata orang tidak ada gading yang tak retak oleh karenanya makalah
ini yang berkenaan dengan Transplantasi Anggota Badan, Transfusi Darah,
Jual Beli Darah belum mendekati sempurna, maka dari itu diperlukan saran

yang berarti dan membangun untuk kesempurnaan pembuatan malah selanjutnya


dan bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya serta penulis pada khususnya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran dan terjemahnya, Jakarta, 1971


Hasan, Muhammad Ali, Masail Fiqhiyah Al-Haditsah Pada Masalah-Masalah
Kontemporer Hukum Islam, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2000
Mahjuddin, Masailul Fiqhiyah (berbagai Kasus Yang Dihadapi Hukum Islam Masa
Kini), Jakarta, Kalam Mulia, 2003
Nata, Prof. Dr. H. Abuddin, M.A, Masail Al-Fiqhiyah, Jakarta, UIN Jakarta Press, 2006
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1986
http://tanpahentimencariilmu.blogspot.com/2012/03/masailul-fiqhtransplantasianggota.html