Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN KEJANG DEMAM

A.

Konsep Kejang Demam


1.

Pengertian
Kejang demam atau febrile convulsion ialah bangkitan kejang yang terjadi pada
kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38oC) yang disebabkan oleh proses
ekstrakranium (Ngastiyah, 1997:229).

2.

Etiologi
Bangkitan kejang pada bayi dan anak disebabkan oleh kenaikan suhu badan yang
tinggi dan cepat, yang disebabkan oleh infeksi diluar susunan syaraf pusat misalnya :
tonsilitis ostitis media akut, bronchitis, dll

3.

Patofisiologi
Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi
CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari permukaan dalam yaitu
lipoid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron
dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion
natrium (Na+) dan elektrolit lainnya, kecuali ion klorida (Cl -). Akibatnya konsentrasi
ion K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedang di luar sel neuron
terdapat keadaan sebalikya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam
dan di luar sel, maka terdapat perbedaan potensial membran yang disebut potensial
membran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran diperlukan
energi dan bantuan enzim Na-K ATP-ase yang terdapat pada permukaan sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh :
3.1 Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraselular
3.2 Rangsangan yang datang mendadak misalnya mekanisme, kimiawi atau aliran
listrik dari sekitarnya
3.3 Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan
Pada keadaan demam kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme
basal 10-15 % dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada anak 3 tahun

sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh tubuh dibandingkan dengan orang dewasa
yang hanya 15 %. Oleh karena itu kenaikan suhu tubuh dapat mengubah
keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi
dari ion kalium maupun ion natrium akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas
muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun
ke membran sel sekitarnya dengan bantuan neurotransmitter dan terjadi kejang.
Kejang demam yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai apnea,
meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang
akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh
metabolisme anerobik, hipotensi artenal disertai denyut jantung yang tidak teratur
dan suhu tubuh meningkat yang disebabkan makin meningkatnya aktifitas otot dan
mengakibatkan metabolisme otak meningkat.
4.

Prognosa
Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat prognosisnya baik dan tidak perlu
menyebabkan kematian, resiko seorang anak sesudah menderita kejang demam
tergantung faktor :
4.1

Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga

4.2

Kelainan dalam perkembangan atau kelainan saraf sebelum anak menderita


kejang

4.3

Kejang yang berlangsung lama atau kejang fokal

Bila terdapat paling sedikit 2 dari 3 faktor tersebut di atas, di kemudian hari akan
mengalami serangan kejang tanpa demam sekitar 13 %, dibanding bila hanya
terdapat satu atau tidak sama sekali faktor tersebut, serangan kejang tanpa demam
2%-3% saja (Consensus Statement on Febrile Seizures 1981).
5.

Manifestasi Klinik
Serangan kejang biasanya terjadi 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung
singkat dengan sifat bangkitan kejang dapat berbentuk tonik-klonik, tonik, klonik,
fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti anak
tidak memberi reaksi apapun sejenak tapi setelah beberapa detik atau menit anak
akan sadar tanpa ada kelainan saraf.

Di Subbagian Anak FKUI RSCM Jakarta, kriteria Livingstone dipakai sebagai


pedoman membuat diagnosis kejang demam sederhana, yaitu :
5.1 Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun
5.2 Kejang berlangsung tidak lebih dari 15 menit
5.3 Kejang bersifat umum
5.4 Kejang timbul dalam 16 jam pertamam setelah timbulnya demam
5.5 Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal
5.6 Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya satu minggu sesudah suhu normal
tidak menunjukkan kelainan
5.7 Frekuensi kejang bangkitan dalam satu tahun tidak melebihi empat kali
6.

Penatalaksanaan Medik
Dalam penaggulangan kejang demam ada 4 faktor yang perlu dikerjakan, yaitu :
6.1 Pemberantasan kejang secepat mungkin
Pemberantasan kejang di Sub bagian Saraf Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak
FKUI sebagai berikut :
Apabila seorang anak datang dalam keadaan kejang, maka :
1. Segera diberikan diazepam intravena dosis rata-rata 0,3 mg/kg
Atau 10 kg : 5 mg bila kejang tidak berhenti 10 kg : 10 mg tunggu 15
menit dapat diulang dengan cara/dosis yang sama, kejang berhenti
berikan dosis awal fenobarbital dosis :
neonatus
:30 mg I.M
1 bulan 1 tahun

:50 mg I.M

> 1 tahun

:75 mg I.M

2. Bila diazepam tidak tersedia, langsung memakai fenobarbital dengan dosis


awal dan selanjutnya diteruskan dengan dosis rumat.
6.2 Pengobatan penunjang
Pengobatan penunjang saat serangan kejang adalah :
1. Semua pakaian ketat dibuka
2. Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung
3. Usahakan agar jalan napas bebasuntuk menjamin kebutuhan oksigen
4. Pengisapan lendir harus dilakukan secara teratur dan diberikan oksigen
6.3 Pengobatan rumat
Fenobarbital dosis maintenance : 8-10 mg/kg BB dibagi 2 dosis pada hari pertama,
kedua diteruskan 4-5 mg/kg BB dibagi 2 dosis pada hari berikutnya.
3

2.2.6.4 Mencari dan mengobati penyebab


Penyebab kejang demam adalah infeksi respiratorius bagian atas dan astitis media
akut. Pemberian antibiotik yang adekuat untuk mengobati penyakit tersebut. Pada
pasien yang diketahui kejang lama pemeriksaan lebih intensif seperti fungsi lumbal,
kalium, magnesium, kalsium, natrium dan faal hati. Bila perlu rontgen foto
tengkorak, EEG, ensefalografi, dll.

B.

Konsep Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Kejang Demam


Langkah-langkah dalam proses keperawatan ini meliputi :
1.

Pengkajian
Pengkajian adalah pendekatan sistemik untuk mengumpulkan data dan menganalisa,
sehingga dapat diketahui kebutuhan perawatan pasien tersebut. (Santosa. NI, 1989,
154)
Langkah-langkah dalam pengkajian meliputi pengumpulan data, analisa dan sintesa
data serta perumusan diagnosa keperawatan. Pengumpulan data akan menentukan
kebutuhan dan masalah kesehatan atau keperawatan yang meliputi kebutuhan fisik,
psikososial dan lingkungan pasien. Sumber data didapatkan dari pasien, keluarga,
teman, team kesehatan lain, catatan pasien dan hasil pemeriksaan laboratorium.
Metode pengumpulan data melalui observasi (yaitu dengan cara inspeksi, palpasi,
auskultasi, perkusi), wawancara (yaitu berupa percakapan untuk memperoleh data
yang diperlukan), catatan (berupa catatan klinik, dokumen yang baru maupun yang
lama), literatur (mencakup semua materi, buku-buku, masalah dan surat kabar).
Pengumpulan data pada kasus kejang demam ini meliputi :
1.1 Data subyektif
a. Biodata/Identitas
Biodata anak mencakup nama, umur, jenis kelamin.
Biodata orang tua perlu dipertanyakan untuk mengetahui status sosial anak
meliputi

nama,

umur,

agama,

suku/bangsa,

pendidikan,

pekerjaan,

penghasilan, alamat.
b. Riwayat Penyakit (Darto Suharso, 2000)
Riwayat penyakit yang diderita sekarang tanpa kejang ditanyakan :
4

Apakah betul ada kejang ?


Diharapkan ibu atau keluarga yang mengantar dianjurkan menirukan gerakan
kejang si anak
Apakah disertai demam ?
Dengan mengetahui ada tidaknya demam yang menyertai kejang, maka
diketahui apakah infeksi infeksi memegang peranan dalam terjadinya
bangkitan kejang. Jarak antara timbulnya kejang dengan demam..
Lama serangan
Seorang ibu yang anaknya mengalami kejang merasakan waktu berlangsung
lama. Lama bangkitan kejang kita dapat mengetahui kemungkinan respon
terhadap prognosa dan pengobatan.
Pola serangan
Perlu diusahakan agar diperoleh gambaran lengkap mengenai pola serangan
apakah bersifat umum, fokal, tonik, klonik ?
Apakah serangan berupa kontraksi sejenak tanpa hilang kesadaran seperti
epilepsi mioklonik ?
Apakah serangan berupa tonus otot hilang sejenak disertai gangguan
kesadaran seperti epilepsi akinetik ?
Apakah serangan dengan kepala dan tubuh mengadakan flexi sementara
tangan naik sepanjang kepala, seperti pada spasme infantile ?
Pada kejang demam sederhana kejang ini bersifat umum.
Frekuensi serangan
Apakah penderita mengalami kejang sebelumnya, umur berapa kejang terjadi
untuk pertama kali, dan berapa frekuensi kejang per tahun. Prognosa makin
kurang baik apabila kejang timbul pertama kali pada umur muda dan
bangkitan kejang sering timbul.
Keadaan sebelum, selama dan sesudah serangan
Sebelum kejang perlu ditanyakan adakah aura atau rangsangan tertentu yang
dapat menimbulkan kejang, misalnya lapar, lelah, muntah, sakit kepala dan
lain-lain. Dimana kejang dimulai dan bagaimana menjalarnya. Sesudah
kejang perlu ditanyakan apakah penderita segera sadar, tertidur, kesadaran
menurun, ada paralise, menangis dan sebagainya ?
Riwayat penyakit sekarang yang menyertai
5

Apakah muntah, diare, truma kepala, gagap bicara (khususnya pada penderita
epilepsi), gagal ginjal, kelainan jantung, DHF, ISPA, OMA, Morbili dan lainlain.
c. Riwayat

Penyakit Dahulu
Sebelum penderita mengalami serangan kejang ini ditanyakan apakah
penderita pernah mengalami kejang sebelumnya, umur berapa saat kejang
terjadi untuk pertama kali ?
Apakah ada riwayat trauma kepala, radang selaput otak, KP, OMA dan lainlain.

d.

Riwayat Kehamilan dan Persalinan


Kedaan ibu sewaktu hamil per trimester, apakah ibu pernah mengalami
infeksi atau sakit panas sewaktu hamil. Riwayat trauma, perdarahan per
vaginam sewaktu hamil, penggunaan obat-obatan maupun jamu selama
hamil. Riwayat persalinan ditanyakan apakah sukar, spontan atau dengan
tindakan ( forcep/vakum ), perdarahan ante partum, asfiksi dan lain-lain.
Keadaan selama neonatal apakah bayi panas, diare, muntah, tidak mau
menetek, dan kejang-kejang.

e.

Riwayat Imunisasi
Jenis imunisasi yang sudah didapatkan dan yang belum ditanyakan serta umur
mendapatkan imunisasi dan reaksi dari imunisasi. Pada umumnya setelah
mendapat imunisasi DPT efek sampingnya adalah panas yang dapat
menimbulkan kejang.

f.

Riwayat Perkembangan
Ditanyakan kemampuan perkembangan meliputi :
Personal sosial (kepribadian/tingkah laku sosial) : berhubungan dengan
kemampuan mandiri, bersosialisasi, dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Gerakan motorik halus : berhubungan dengan kemampuan anak untuk
mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh
tertentu saja dan dilakukan otot-otot kecil dan memerlukan koordinasi yang
cermat, misalnya menggambar, memegang suatu benda, dan lain-lain.
Gerakan motorik kasar : berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.
Bahasa : kemampuan memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah
dan berbicara spontan.
6

g.

Riwayat kesehatan keluarga.


Adakah anggota keluarga yang menderita kejang (+ 25 % penderita kejang
demam mempunyai faktor turunan). Adakah anggota keluarga yang menderita
penyakit syaraf atau lainnya ? Adakah anggota keluarga yang menderita
penyakit seperti ISPA, diare atau penyakit infeksi menular yang dapat
mencetuskan terjadinya kejang demam.

h.

Riwayat sosial
Untuk mengetahui perilaku anak dan keadaan emosionalnya perlu dikaji
siapakah yanh mengasuh anak ?
Bagaimana hubungan dengan anggota keluarga dan teman sebayanya ?

i.

Pola kebiasaan dan fungsi kesehatan


Ditanyakan keadaan sebelum dan selama sakit bagaimana ?
Pola kebiasaan dan fungsi ini meliputi :
Pola persepsi dan tatalaksanaan hidup sehat
Gaya hidup yang berkaitan dengan kesehatan, pengetahuan tentang kesehatan,
pencegahan dan kepatuhan pada setiap perawatan dan tindakan medis ?
Bagaimana pandangan terhadap penyakit yang diderita, pelayanan kesehatan
yang diberikan, tindakan apabila ada anggota keluarga yang sakit, penggunaan
obat-obatan pertolongan pertama.
Pola nutrisi
Untuk mengetahui asupan kebutuhan gizi anak. Ditanyakan bagaimana
kualitas dan kuantitas dari makanan yang dikonsumsi oleh anak ?
Makanan apa saja yang disukai dan yang tidak ? Bagaimana selera makan
anak ? Berapa kali minum, jenis dan jumlahnya per hari ?
Pola Eliminasi :
BAK : ditanyakan frekuensinya, jumlahnya, secara makroskopis ditanyakan
bagaimana warna, bau, dan apakah terdapat darah ? Serta ditanyakan apakah
disertai nyeri saat anak kencing.
BAB : ditanyakan kapan waktu BAB, teratur atau tidak ? Bagaimana
konsistensinya lunak,keras,cair atau berlendir ?
Pola aktivitas dan latihan
Apakah anak senang bermain sendiri atau dengan teman sebayanya ?
Berkumpul dengan keluarga sehari berapa jam ? Aktivitas apa yang disukai ?
7

Pola tidur/istirahat
Berapa jam sehari tidur ? Berangkat tidur jam berapa ? Bangun tidur jam
berapa ? Kebiasaan sebelum tidur, bagaimana dengan tidur siang ?
1.2. Data Obyektif
a. Pemeriksaan Umum (Corry S, 2000 hal : 36)
Pertama kali perhatikan keadaan umum vital : tingkat kesadaran, tekanan darah,
nadi, respirasi dan suhu. Pada kejang demam sederhana akan didapatkan suhu
tinggi sedangkan kesadaran setelah kejang akan kembali normal seperti sebelum
kejang tanpa kelainan neurologi.
b. Pemeriksaan Fisik
1. Kepala
Adakah tanda-tanda mikro atau makrosepali? Adakah dispersi bentuk kepala?
Apakah tanda-tanda kenaikan tekanan intrakarnial, yaitu ubun-ubun besar
cembung, bagaimana keadaan ubun-ubun besar menutup atau belum ?.
2. Rambut
Dimulai warna, kelebatan, distribusi serta karakteristik lain rambut. Pasien
dengan malnutrisi energi protein mempunyai rambut yang jarang, kemerahan
seperti rambut jagung dan mudah dicabut tanpa menyebabkan rasa sakit pada
pasien.
3. Muka/ Wajah.
Paralisis fasialis menyebabkan asimetri wajah; sisi yang paresis tertinggal
bila anak menangis atau tertawa, sehingga wajah tertarik ke sisi sehat.
Adakah tanda rhisus sardonicus, opistotonus, trimus ? Apakah ada gangguan
nervus cranial ?
4. Mata
Saat serangan kejang terjadi dilatasi pupil, untuk itu periksa pupil dan
ketajaman penglihatan. Apakah keadaan sklera, konjungtiva ?
5. Telinga
Periksa fungsi telinga, kebersihan telinga serta tanda-tanda adanya infeksi
seperti pembengkakan dan nyeri di daerah belakang telinga, keluar cairan
dari telinga, berkurangnya pendengaran.
6. Hidung

Apakah ada pernapasan cuping hidung? Polip yang menyumbat jalan napas ?
Apakah keluar sekret, bagaimana konsistensinya, jumlahnya ?
7. Mulut
Adakah tanda-tanda sardonicus? Adakah cynosis? Bagaimana keadaan lidah?
Adakah stomatitis? Berapa jumlah gigi yang tumbuh? Apakah ada caries
gigi?
8. Tenggorokan
Adakah tanda-tanda peradangan tonsil ? Adakah tanda-tanda infeksi faring,
cairan eksudat ?
9. Leher
Adakah tanda-tanda kaku kuduk, pembesaran kelenjar tiroid ? Adakah
pembesaran vena jugulans ?
10. Thorax
Pada infeksi, amati bentuk dada klien, bagaimana gerak pernapasan,
frekwensinya, irama, kedalaman, adakah retraksi
Intercostale ? Pada auskultasi, adakah suara napas tambahan ?
11. Jantung
Bagaimana keadaan dan frekwensi jantung serta iramanya ? Adakah bunyi
tambahan ? Adakah bradicardi atau tachycardia ?
12. Abdomen
Adakah distensia abdomen serta kekakuan otot pada abdomen ? Bagaimana
turgor kulit dan peristaltik usus ? Adakah tanda meteorismus? Adakah
pembesaran lien dan hepar ?
13. Kulit
Bagaimana keadaan kulit baik kebersihan maupun warnanya? Apakah
terdapat oedema, hemangioma ? Bagaimana keadaan turgor kulit ?
14. Ekstremitas
Apakah terdapat oedema, atau paralise terutama setelah terjadi kejang?
Bagaimana suhunya pada daerah akral ?
15. Genetalia
Adakah kelainan bentuk oedema, sekret yang keluar dari vagina, tanda-tanda
infeksi ?
1.3. Pemeriksaan Penunjang
9

Tergantung sarana yang tersedia dimana pasien dirawat, pemeriksaannya meliputi :


1. Darah
Glukosa Darah

: Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang (N < 200 mq/dl)

BUN

: Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan


indikasi nepro toksik akibat dari pemberian obat.

Elektrolit

: K, Na

Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang


Kalium ( N 3,80 5,00 meq/dl )
Natrium ( N 135 144 meq/dl )
2. Cairan Cerebo Spinal

Mendeteksi tekanan abnormal dari CCS tanda infeksi,

pendarahan penyebab kejang.


3. Skull Ray

Untuk mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan adanya


lesi

4. Tansiluminasi:

Suatu cara yang dikerjakan pada bayi dengan UUB masih


terbuka (di bawah 2 tahun) di kamar gelap dengan lampu
khusus untuk transiluminasi kepala.

5. EEG

Teknik untuk menekan aktivitas listrik otak melalui tengkorak


yang utuh untuk mengetahui fokus aktivitas kejang, hasil
biasanya normal.

6. CT Scan

Untuk mengidentifikasi lesi cerebral infaik hematoma, cerebral


oedem, trauma, abses, tumor dengan atau tanpa kontras.

1.4. Analisa dan Sintesa Data


Analisa
mentabulasi,

data

merupakan

menyeleksi,

proses

intelektual

mengelompokkan,

yang

mengaitkan

meliputi
data,

kegiatan

menentukan

kesenjangan informasi, melihat pola data, membandingakan dengan standar,


menginterpretasi dan akhirnya membuat kesimpulan. Hasil analisa data adalah
pernyataan masalah keperawatan atau yang disebut diagnosa keperawatan.
1.5.

Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas, singkat, dan pasti tentang
masalah pasien/klien serta penyebabnya yang dapat dipecahkan atau diubah melalui
tindakan keperawatan.
Diagnosa keperawatan yang muncul adalah :
10

1 Potensial terjadinya kejang ulang berhubungan dengan hiperthermi.


2 Potensial terjadinya trauma fisik berhubungan dengan kurangnya koordinasi otot
3 Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan hiperthermi yang ditandai :
a. Suhu meningkat
b. Anak tampak rewel
4. Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan keterbatasan informasi yang
ditandai : keluarga sering bertanya tentang penyakit anaknya.
1.6.

Perencanaan
Perencanaan merupakan keputusan awal tentang apa yang akan dilakukan,
bagaimana, kapan itu dilakukan, dan siapa yang akan melakukan kegiatan tersebut.
Rencana keperawatan yang memberikan arah pada kegiatan keperawatan. (Santosa.
NI, 1989;160)
1

Diagnosa Keperawatan : potensial terjadi kejang ulang berhubungan dengan


hipertermi

Tujuan

: Klien tidak mengalami kejang selama berhubungan dengan


hiperthermi

Kriteria hasil :
1.

Tidak terjadi serangan kejang ulang.

2.

Suhu 36,5 37,5 C (bayi), 36 37,5 C (anak)

3.

Nadi 110 120 x/menit (bayi)


100-110 x/menit (anak)

4.

Respirasi 30 40 x/menit (bayi)


24 28 x/menit (anak)

5.

Kesadaran composmentis

Rencana Tindakan :
1.

Longgarkan pakaian, berikan pakaian tipis yang mudah menyerap keringat.

Rasional

: proses konveksi akan terhalang oleh pakaian yang ketat dan tidak
menyerap keringat.

2.

Berikan kompres dingin

Rasional
3.

Berikan ekstra cairan (susu, sari buah, dll)

Rasional
4.

: perpindahan panas secara konduksi


: saat demam kebutuhan akan cairan tubuh meningkat.

Observasi kejang dan tanda vital tiap 4 jam


11

Rasional
5.

Batasi aktivitas selama anak panas

Rasional
6.

: aktivitas dapat meningkatkan metabolisme dan meningkatkan panas.

Berikan anti piretika dan pengobatan sesuai advis.

Rasional
2

: Pemantauan yang teratur menentukan tindakan yang akan dilakukan.

: Menurunkan panas pada pusat hipotalamus dan sebagai propilaksis

Diagnosa Keperawatan : potensial terjadi trauma fisik berhubungan dengan


kurangnya koordinasi otot
Tujuan

: Tidak terjadi trauma fisik selama perawatan.

Kriteria Hasil :
1.

Tidak terjadi trauma fisik selama perawatan.

2.

Mempertahankan tindakan yang mengontrol aktivitas kejang.

3.

Mengidentifikasi tindakan yang harus diberikan ketika terjadi kejang.

Rencana Tindakan :
1.

Beri pengaman pada sisi tempat tidur dan penggunaan tempat tidur yang
rendah.

Rasional : meminimalkan injuri saat kejang


2.

Tinggalah bersama klien selama fase kejang..

Rasional : meningkatkan keamanan klien.


3.

Berikan tongue spatel diantara gigi atas dan bawah.

Rasional : menurunkan resiko trauma pada mulut.


4.

Letakkan klien di tempat yang lembut.

Rasional : membantu menurunkan resiko injuri fisik pada ekstimitas ketika kontrol
otot volunter berkurang.
5.

Catat tipe kejang (lokasi,lama) dan frekuensi kejang.

Rasional : membantu menurunkan lokasi area cerebral yang terganggu.


6.

Catat tanda-tanda vital sesudah fase kejang

Rasional : mendeteksi secara dini keadaan yang abnormal


3

Diagnosa Keperawatan / Masalah : Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan


hiperthermi.
Tujuan

: Rasa nyaman terpenuhi

Kriteria hasil

: Suhu tubuh 36 37,5 C, N ; 100 110 x/menit,


RR : 24 28 x/menit, Kesadaran composmentis, anak tidak rewel.

Rencana Tindakan :
12

1. Kaji faktor faktor terjadinya hiperthermi.


Rasional

mengetahui

penyebab

terjadinya

hiperthermi

karena

penambahan pakaian/selimut dapat menghambat penurunan suhu tubuh.


2. Observasi tanda tanda vital tiap 4 jam sekali
Rasional

: Pemantauan tanda vital yang teratur dapat menentukan

perkembangan keperawatan yang selanjutnya.


3. Pertahankan suhu tubuh normal
Rasional

: suhu tubuh dapat dipengaruhi oleh tingkat aktivitas, suhu

lingkungan, kelembaban tinggiakan mempengaruhi panas atau dinginnya tubuh.


4. Ajarkan pada keluarga memberikan kompres dingin pada kepala / ketiak .
Rasional

: proses konduksi/perpindahan panas dengan suatu bahan

perantara.
5. Anjurkan untuk menggunakan baju tipis dan terbuat dari kain katun
Rasional

: proses hilangnya panas akan terhalangi oleh pakaian tebal dan

tidak dapat menyerap keringat.


6. Atur sirkulasi udara ruangan.
Rasional

: Penyediaan udara bersih.

7. Beri ekstra cairan dengan menganjurkan pasien banyak minum


Rasional

: Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh

meningkat.
8. Batasi aktivitas fisik
Rasional
4

: aktivitas meningkatkan metabolismedan meningkatkan panas.

Diagnosa Keperawatan / Masalah : Kurangnya pengetahuan keluarga sehubungan


keterbataaan informasi
Tujuan

: Pengetahuan keluarga bertambah tentang penyakit anaknya.

Kriteria hasil :
1.

Keluarga tidak sering bertanya tentang penyakit anaknya.

2.

Keluarga mampu diikutsertakan dalam proses keperawatan.

3.

keluarga mentaati setiap proses keperawatan.

Rencana Tindakan :
1.

Kaji tingkat pengetahuan keluarga

Rasional : Mengetahui sejauh mana pengetahuan yang dimiliki keluarga dan


kebenaran informasi yang didapat.
13

2.

Beri penjelasan kepada keluarga sebab dan akibat kejang demam

Rasional : penjelasan tentang kondisi yang dialami dapat membantu menambah


wawasan keluarga
3.

Jelaskan setiap tindakan perawatan yang akan dilakukan.

Rasional : agar keluarga mengetahui tujuan setiap tindakan perawatan


4.

Berikan Health Education tentang cara menolong anak kejang dan mencegah

kejang demam, antara lain :


1.

Jangan panik saat kejang

2.

Baringkan anak ditempat rata dan lembut.

3.

Kepala dimiringkan.

4.

Pasang gagang sendok yang telah dibungkus kain yang basah, lalu dimasukkan

ke mulut.
5.

Setelah kejang berhenti dan pasien sadar segera minumkan obat tunggu sampai

keadaan tenang.
6.

Jika suhu tinggi saat kejang lakukan kompres dingin dan beri banyak minum

7.

Segera bawa ke rumah sakit bila kejang lama.

Rasional

: sebagai upaya alih informasi dan mendidik keluarga agar mandiri

dalam mengatasi masalah kesehatan.


5.

Berikan Health Education agar selalu sedia obat penurun panas, bila anak panas.

Rasional
6.

: mencegah peningkatan suhu lebih tinggi dan serangan kejang ulang.

Jika anak sembuh, jaga agar anak tidak terkena penyakit infeksi dengan

menghindari orang atau teman yang menderita penyakit menular sehingga tidak
mencetuskan kenaikan suhu.
Rasional
7.

: sebagai upaya preventif serangan ulang


Beritahukan keluarga jika anak akan mendapatkan imunisasi agar

memberitahukan kepada petugas imunisasi bahwa anaknya pernah menderita kejang


demam.
Rasional

: imunisasi pertusis memberikan reaksi panas yang dapat menyebabkan

kejang demam

1.7. Pelaksanaan

14

Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan


rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri
dan kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor
kemajuan kesehatan klien ( Santosa. NI, 1989;162 )
1.8.

Evaluasi
Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subyektif
dan obyektif yang akan menunjukkan apakah tujuan pelayanan keperawatan sudah
dicapai atau belum. Bila perlu langkah evaluasi ini merupakan langkah awal dari
identifikasi dan analisa masalah selanjutnya ( Santosa.NI, 1989;162).

Tabel 2.2 Evaluasi Pada Kasus Kejang Demam

Diagnosa/Masalah

Evaluasi

O.
1.

Potensial

Klien

kejang

tidak

mengalami

berulang berhu-bungan

kejang selama 2x24 jam.

dengan hiperthermi.

Kriteria :
-

Tidak

terjadi

serangan

ulang
-

Suhu : 36 37,5 C

100

110

kali/menit
Potensial terjadi trauma
fisik
kurangnya

berhubungan

Kesadaran

composmentis

koordina-si

Tidak terjadi trauma fisik

otot.

selama perawatan.
Kriteria :
-

Tidak terjadi traumas fisik


selama kejang.

Mempertahankan
tindakan yang mengontrol

3.

aktivitas kejang.
Gangguan rasa nyaman

Mengidentifikasi tindakan
yang

harus

diberikan

15

berhu-bungan

dengan

ketika terjadi kejang.

hiperthermi.

Rasa nyaman terpenuhi


Kriteria :
-

Tanda vital :
Suhu : 36 37,5C

4.

: 100 110 kali/ menit

RR

: 24 28 kali/menit
-

Kurangnya pengetahuan
keluarga

berhubungan

dengan

keterbatasan

Kesadaran

composmentis
-

Anak tidak rewel


Pengetahuan

informasi.

keluarga

bertambah

tentang

penyakit anaknya.
.

Kriteria :
-

Keluarga

tidak

sering

bertanya tentang penyakit


anaknya.
-

Keluarga
diikutserta-kan

mampu
dalam

proses perawatan.
-

Keluarga mentaati setiap


proses perawatan.

DAFTAR PUSTAKA
a. Lumbantobing SM, 1989, Penatalaksanaan Mutakhir Kejang Pada Anak, Gaya Baru,
Jakarta.
b. Lynda Juall C, 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, Penerjemah
Monica Ester, EGC, Jakarta.
c. Marilyn E. Doenges, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan, Penerjemah Kariasa I
Made, EGC, Jakarta.
d. Matondang, Corry S, 2000, Diagnosis Fisis Pada Anak, Edisi ke 2, PT. Sagung Seto:
Jakarta.
e. Ngastiyah, 1997, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta.
16

f. Rendle John, 1994, Ikhtisar Penyakit Anak, Edisi ke 6, Binapura Aksara, Jakarta.
g. Santosa NI, 1989, Perawatan I (Dasar-Dasar Keperawatan), Depkes RI, Jakarta.

17