Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada tumbuhan berbiji, perkecambahan merupakan suatu tahap awal
dari perkembangan. Biji akan menjadi dewasa dalam buah. Setelah buah
matang dan biji dikeluarkan, biasanya biji dalam keadaan dorman untuk
waktu yang lama atau pendek saja. Apabila dormansi ini dapat dihilangkan,
maka terbentuk giberelin dan sitokinin yang diperlukan untuk mengungguli
efek kerja penghambat pertumbuhan, sehingga pertumbuhan pun dapat
dimulai (Dwi Sukma, 2010).
Perkecambahan pada biji terjadi ketika radikula mulai mincul dari kulit
biji dalam kondisi baku. Hal ini berarti bahwa meskipun biji cukup air dan
diberi kondisi yang baik untuk perkembangan tetap tidak akan berkecambah.
Namun jika kondisi untuk mematahan dormansi berjalan, biji akan
berkecambah (Sallisbury, 1995).
Pada akhir proses perkecambahan, tumbuhan membentuk akar,
batang dan daun. Pada ujung akar dan ujung batang terdapat sel-sel
meristem yang dapat berdiferensiasi menjadi sel-sel yang memiliki struktur
dan fungsi yang khusus. Aktivitas meristem sel menyebabkan batang dan
akar tumbuh memanjang. Proses pertumbuhan ini dinamakan pertumbuhan
primer. Jaringan primer sebagai hasil diferensiasi pada ujung batang dan
ujung akar dikotil terdiri dari jaringan epidermis, parenkim, kolenkim,
sklerenkim, protofloem, protoxilem, dan jaringan kambium yang tetap
bersifat meristematis. (Dwi Sukma, 2010)
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas,maka rumusan masalah dari praktikum ini
adalah bagaimana pengaruh lama perendaman biji tomat (Solanum lycopersium
L.) dalam air terhadap kecepatan perkecambahan biji tomat (Solanum lycopersium
L.)?

1.3 Tujuan
Berdasarkan latar belakang diatas,maka tujuan dari praktikum ini adalah
untuk mendeskripsikan pengaruh lama perendaman biji tomat (Solanum
lycopersium L.) dalam air terhadap kecepatan perkecambahan biji tomat (Solanum
lycopersium L.).
1.4 Hipotesis
Ha

: ada pengaruh lama perendaman biji tomat (Solanum lycopersium

L.) dalam air terhadap kecepatan perkecambahan biji tomat (Solanum


lycopersium L.).
Ho

: tidak ada pengaruh lama perendaman biji tomat (Solanum

lycopersium L.) dalam air terhadap kecepatan perkecambahan biji tomat


(Solanum lycopersium L.).

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Tomat (Solanum lycopersicum L.)

Kerajaan

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Solanales

Famili

: Solanaceae

Genus

: Solanum

Spesies

: Solanum lycopersicum L.

Biji merupakan rantai penyambung yang hidup antara induk dan


keturuannya merupakan alat penyebaran yang utama. Biji seringkali harus
bertahan untuk melawan lingkungan yang ekstreme (keadaan beku, api banjir,
atau dimakan hewan) selama menunggu kondisi yang menguntungkan bagi
perkecambahan dan pertumbuhan. Secara biologis suatu biji adalah bakal biji
yang masak dan telah dibuahi (Dwijoseutro, 1994).
Perkembangan Biji
Biji berasal dari hasil mikrosporogenesis dan megagametogenesis yaitu,
berturut-turut

pembentukan

butir

serbuk

sari

(gametofit

jantan)

dan

pembentukan embrio (gametofit betina). Sel induk mikrospora dalam kepala sari
3

dan sel induk megaspora dalam kantung embrio kemudian membelah lagi tidak
secara meiosis, menghasilkan sel anak yang haploid, kemudian secara mitosis
untuk melipatgandakan jumlah inti haploidnya. Hasil akhir adalah sel atau butir
serbuk sari masing-masing dengan dua inti dan kantung embrio membelah
untuk membentuk sel telur dan sebuah inti yang membelah lagi untuk
membentuk inti kutub dari bakal biji (Sastramihardja, 1993). Pada fertilisasi, satu
dari dua inti serbuk sari berfusi dengan sel telur pada katung embrio, untuk
membentuk embrio sehingga mengembalikan kantung diploid, kromosom (2N).
Inti sperma yang kedua berfusi dengan inti kutub untuk membentuk
endosperma

(3N)

(Sastramihardja,

1993).

Pada

tumbuhan

monokotil,

endosperma merupakan suatu satuan struktural utama biji yang mempunyai ciri
tersendiri. Endosperma monokotil tersusun atas sel parenkim yang tidak
mengalami diferensiasi yang terbungkus dalam kantung lapisan luar yang tipis,
yang membungkus sel hidup dan kaya akan protein, yaitu aleuron (Lovelles,
1999). Pada tumbuhan dikotil, endosperma sebagian besar atau seluruhnya
diserap oleh embrio, khususnya oleh kotiledon atau daun biji. Kulit biji atau testa
merupaka derivat dari integumen luar ovarium yang merupakan jaringan induk.
Hilum merupakan bekas ari-ari biji (penghubung pembuluh). Hilum ini
membantu lewatnya air dan oksigen terlarut secara bolak-balik, keduanya
penting bagi perkecambahan. Air dan gas terlarut juga masuk ke dalam mikrofil,
suatu saluran yang mikroskopis bekas tempat masuknya pembuluh serbuk
menuju ke integumen. Seringkali hilum dilengkapi dengan suatu sumbat untuk
memungkinkan terjadinya kehilangan air tetapi bukan pemasukan air (Lovelles,
1999).
Biji yang masak mempunyai empat komponen yang secara fisiologis maupun
ekologis penting bagi kelangsungan hidupnya yaitu 1). kulit biji, suatu
pebungkus pelindung, 2). embrio, suatu bakal tanaman atau sporofit, 3).
cadangan makanan cadangan mineral yang memberi maka sporofit muda hingga
dapat berdiri sendiri, 4). Enzim dan hormon yang diperlukan untuk mencera
cadangan makanan dan untuk menyusun jaringan baru dalam semai selama
perkecambahan. Keadaan tersebut juga memelihara biji dengan mekanisme
perlindungan untuk mempertahankan diri terhadap lingkungan yang amat

buruk selama dalam keadaan dorman (istirahat dalam keadaan kering). Dalam
keadaan dorman, biji tidak aktif tetapi masih hidup. Suatu keadaan yang
berlangsung hingga kondisi meguntungkan bagi perkecambahan. Kandungan
kelembaban dan laju metabolisme pada biji selama dormansi, mungkin hanya
sepersepuluh atau kurang dibandingkan pada jaringan tumbuhan (Lovelles,
1999).
Perkecambahan
Definisi perkecambahan menurut seorang analis biji yaitu sebagai suatu
perubahan morfologis, seperti penonjolan akar lembaga (radikula), tetapi bagi
seorang petani, perkecambahan adalah munculnya semai. Secara tehnis,
perkecambahan adalah permulaan munculnya pertumbuhan aktif yang
menghasilkan pecahnya kulit biji dan munculnya semai (Santoso, 1990).
Pada

perkecambahan

meliputi

peristiwa-peristiwa

fisiologi

dan

morfologi, sebagai berikut :


imbibisi dan absorpsi air
hidrasi jaringan
absorpsi oksigen
pengaktifan ezim dan penceraan
trasport molekul yang dihidrolisis ke sumbu embrio
peningkatan respirasi dan asimilasi
inisiasi pembelahan dan pembesaran sel
munculnya embrio
Pada pertumbuhan suatu embrio, awal mula pertumbuhan akar lembaga
(radikula) lebih cepat daripada pucuk lembaga (plumula) dan umumnya
radikula pertama muncul dari kulit biji yang pecah. Berat kering pada pucuk
melampaui berat kering akar dalam waktu beberapa hari. Berat keseluruhan
semai mengalami kemunduran dalam waktu kira-kira 10 hari karena hilangnya
respirasi. Suatu urutan pertumbuhan dengan pertumbuhan akar mendahului
pertumbuhan pucuk. Tampaknya menguntungkan bagi kelangsungan hidup
suatu semai (Dwijoseputro, 1994).
Metabolisme

Cadangan Makanan Perkecambahan dan munculnya semai memerlukan


suatu energi yang tinggi lewat respirasi cadangan makanan biji. Energi dalam
ikatan kimia pada karbohidrat, lemak, dan protein dilepaskan oleh pencernaan
dan fosforilasi oksidatif, yang menghasilkan nukleotida berenergi tinggi, seperti
adenosin trifosfat (ATP), di dalam mitokondria yang merupakan tempat
terjadinya respirasi (Sallisbury, 1995).
Tepung dihidrolisis oleh - dan - amilase, diperantarai oleh giberelin,
menjadi gula maltose (disakarida) dan glukose Beberapa glukose diubah oleh
enzim invertase menjadi sukrose, gula yang umumnya ditranspor pada
tumbuhan. Metabolisme glukose dilakukan dengan
1. Glikolisis, yang membentuk dua molekul asam piruvat dan ATP, dan
2. Oksidasi lewat daur krebs atau daur asam trikarboksilat, yang secara
lengkap dapat mengoksidasi asam perantara menjadi CO2, H2O, dan
ATP atau kemungkinan lain menjadi jalur lintas pentosa fosfat
(Sallisbury, 1995). D. Germinabilitas (kemampuan berkecambah) dan
Viabilitas Biji yang masak viable (terkecambahkan) sebelum berpisah atau
saat berpisah dengan tumbuhan induknya, tetapi biji tersebut mungkin
tidak dapat dikecambahkan (mampu berkecambah dengan cepat dalam
kondisi yag meguntungkan). Biji pada beberapa spesies adalah dorman
dan dapat menjadi dikecambahkan hanya sesudah dikenai kondisi
tertentu. Biji tanaman budidaya adalah viabel dan dorman (yaitu, hidup
tetapi tidak berkecambah karena kondisi lingkungan kurang mendukung
untuk perkecambahan, seperti tidak cukup air atau temperatur yang
tidak cocok) dan umumnya dapat dikecambahkan apabila dipisahkan
dari tumbuhan induknya (Salisbury, 1995).
Germinabilitas (kemampuan berkecambah) dan Viabilitas
Biji yang masak viable (terkecambahkan) sebelum berpisah atau saat
berpisah dengan tumbuhan induknya, tetapi biji tersebut mungkin tidak dapat
dikecambahkan (mampu berkecambah dengan cepat dalam kondisi yag
meguntungkan). Biji pada beberapa spesies adalah dorman dan dapat menjadi
dikecambahkan hanya sesudah dikenai kondisi tertentu. Biji tanaman budidaya
adalah viabel dan dorman (yaitu, hidup tetapi tidak berkecambah karena kondisi
lingkungan kurang mendukung untuk perkecambahan, seperti tidak cukup air
6

atau temperatur yang tidak cocok) dan umumnya dapat dikecambahkan apabila
dipisahkan dari tumbuhan induknya (Salisbury, 1995).
Kebanyakan dari biji atau hampir semua spesies liar dan spesies
budidaya makanan ternak tertentu tetap dorman, walaupun kondisinya
menguntungkan bagi perkecambahan. Karena itu germinabilitas dan viabilitas
mungkin berbeda 100% pada populasi biji yang berbeda. Perkecambahan tidak
berlangsung hingga masa dormansi berlalu, walaupun biji viabel dan germinabel
(dapat dikecambahkan). Pada umumnya viabilitas mengalami penurunan dan
germinabilitas mengalami peningkatan sejalan dengan umur, karena secara
alami terjadi pemecahan faktor-faktor dormansi pada biji (lovelles, 1999).
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkecambahan
1. Air
Air merupakan faktor yang paling penting, karena biji berada dalam
keadaan terdehidrasi. Secara normal biji mengandung sekitar 5-20% dari berat
totalnya dan harus menyerap sejumlah air sebelum perkecambahan dimulai.
Tahap awal perkecambahan adalah pengambilan air dengan cepat yang disebut
imbibisi (Salisbury, 1995).
Biji yang hidup atau mati mengalami imbibisi air dan membengkak.
Banyaknya air imbibisi tergantung pada komposisi kimia biji. Protein, getah, dan
pektin lebih bersifat koloid dan hidrofilik dan lebih banyak mengalami imbibisi
air daripada zat tepung. Laju perkecambahan berlangsung lebih lambat pada
kelembaban tanah yang mendekati titik layu. Kandungan air yang kurang dari
batas optimum biasanya menghasilkan imbibisi sebagian dan memperlambat
atau menahan perkecambahan. Komposisi medium, khususnya kandungan zat
terlarut mempengaruhi ketersediaan air (Salisbury, 1995).
2. Temperatur atau suhu Selain imbibisi
proses perkecambahan juga meliputi sejumlah proses katabolisme dan
anabolisme yang dikendalikan enzim dan karenanya sangat responsive terhadap
temperatur. Temperatur kardinal (maksimum, minimum, dan optimum) untuk
perkecambahan pada kebanyakan biji tanaman budidaya pada dasarnya
merupakan

temperatur

kardinal

untuk

pertumbuhan

vegetative

yang

normal.temperatur optimum adalah temperatur yang memberikan persentase

perkecambahan yang paling tinggi dalam periode waktu yang paling pendek
(Salisbury, 1995).
3. Gas
Perkecambahan memerlukan tingkatan O2 yang tinggi kecuali bila
respirasi yang berhubungan dengan hal ini terjadi karena fermentasi.
Kebanyakan spesies memberikan respon yang baik terhadap komposisi udara
normal: 20 % O2. 0,03 % CO2, dan 80 % N. Penurunan kandungan O2 udara di
bawah 20 % biasanya menurunkan kegiatan perkecambahan. Pada beberapa biji
dapat berkecambah secara anaerob, tetapi hal ini akan menghasilkan kecambah
yang abnormal. Sementara perkecmbahan biji pada kebanyakan spesies
berlangsung dengan baik pada kandungan O2 udara normal atau pada
konsentrasi O2 yang lebih tinggi (Salisbury, 1995).
4. Cahaya
Biji membutuhkan cahaya untuk perkecambahan, yang berpengaruh
sebagai pemicu dalam memeahkan macam dormansi. Cahaya memberikan
respon pada perkecambahan biji sama seperti dengan mekanisme pengendalian
proses

formatif

lainnya

seperti

pembungaan,

pembentukan

pigmen,

pemanjangan batang, dan pelurusan kait hipokotil. Panjang gelombang yang


paling efektif unutk menggalakkan dan menghambat perkecambahan bijji
berturut-turut yaitu merah dan infra merah (Dwijoseputro, 1994).
5. Senyawa kimia eksogen
Dalam Fisiologi Tumbuhan, (Sallisbury, 1995) sejumlah senyawa kimia
dalam medium menggalakkan perkecambahan beberapa spesies. Senyawa kimia
hanya hanya sebagai perangsang dan bukan prasyarat perkecambahan. Beberapa
senyawa

kimia

yang

lebih

penting

perkecambahan adalah sebagai berikut :

Kalium nitrat (KNO3)

Tiourea atau CS(NH2)2

Hidrogen peroksida (H2O2)

Etilen (C2H4)

Giberelin (GA)

6. Kematangan

digunakan

untuk

merangsang

Di dalam lingkungan yang menguntungkan sekalipun, perkecambahan


tidak akan terjadi sampai berlangsung tingkat morfogenesis minimum di dalam
biji. Umumnya terjadi perkembangan yang cukup untuk viabilitas dan
germinabilitas, jauh sebelum biji mengalami pemasakan. Umumnya dormansi
biji meningkat dengan terjadinya pemasakan biji (Sallisbury, 1995).
Hormon-hormon Perkecambahan
Pada dasarnya perkecambahan biji diatur oleh sejumlah hormon yang
kerjanya bertahap. Adapun hormon yang memulai dan memperantai proses
perkecambahan, yaitu fitohormon. Selain itu ada beberapa aktivitas hormon
pertumbuhan lain yang penting, yakni giberelin yang berfungsi untuk
menggiatkan enzim hodrolitik serta sitokinin yang berfungsi untuk merangsang
pembelahan sel, munculnya radikula dan plumula serta auksin yang berfungsi
untuk meningkatkan pertumbuhan (Kimball, 1983). Adapun mekanisme kerja
hormon-hormon ini dalam perkecambahan, yaitu pertama kali absorbsi air dari
tanah menyebabkan embrio memproduksi sejumlah kecil giberelin yang
kemudian berdifusi kedalam selapis sel aleuron yang mengelilingi sel cadangan
makanan endospora, yang menyebabkan sel endospora itu mengalami
pemecahan dan mencair. Dan akibat hal ini, sitokinin dan auksin terbentuk.
Sehingga aktivitas dua hormon ini mengaktifkan pertumbuhan embrio dengan
membuat sel-sel membelah dan membesar sehingga terjadi perkecambahan
(Kimball, 1983)

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah percobaan eksperimental,hal ini dapat
dilihat

saat

proses

percobaan

ini

dilakukan

di

laboratorium

dan

menggunakan beberapa variabel,yaitu variabel kontrol,variabel manipulasi


dan variabel respon.
3.2 Waktu dan Tempat
Hari/tanggal : Jumat,10 April 2015
Jam
: 11.00 WIB
Tempat
: Gedung C10 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam
3.3 Variabel Penelitian
1. Variabel manipulasi
: Lama perendaman biji tomat (Solanum
lycopersium L.)
2. Variabel kontrol
: Volume air perendaman,volume air untuk
menyiram biji tomat (Solanum lycopersium
L.), media tanam, jumlah biji yang
dikecambahkan, tempat untuk menanam
biji tomat (Solanum lycopersium L.),jenis biji
tomat (Solanum lycopersium L.), intensitas
cahaya.
3. Variabel respon

: Prosentase kecepatan perkecambahan dan


indeks kecepatan perkecambahan

3.4 Alat dan Bahan


Bahan
1. Biji tomat (Solanum lycopersium L. )
2. Air
3. Kapas
Alat
Mangkuk gabus
3.5 Prosedur Kerja

5 buah

1. Menyiapkan alat dan bahan

10

250 biji

2. Merendam 50 biji tomat (Solanum lycopersium L. )

untuk

masing-

masing perendaman selama 4 jam,3 jam,2 jam,1 jam, dan 0 jam.


3. Menanam biji dalam waktu yang bersamaan pada mangkuk gabus
yang telah diberi kapas basah.
4. Menyimpan mangkuk gabus di tempat gelap.
5. Mengamati setiap hari berapa jumlah biji tomat (Solanum lycopersium
L.) yang telah berkecambah selama 10 hari.
3.6 Rancangan Percobaan
Menyiapkan alat dan bahan

Merendam 50 biji tomat (Solanum lycopersium


L.) untuk masing-masing perendaman
selama 4 jam,3 jam,2 jam,1 jam, dan 0 jam

Menanam biji dalam waktu yang bersamaan


pada mangkuk gabus yang telah diberi
kapas basah

Menyimpan mangkuk gabus di tempat


gelap

Mengamati setiap hari berapa jumlah biji


tomat (Solanum lycopersium L.) yang telah
berkecambah selama 10 hari

11

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Setelah melakukan praktikum di dapatkan hasil sebagai berikut :
1. Tabel
Tabel 1. Pengaruh Lama Perendaman Biji Tomat (Solanum lycopersium L.)
Dalam Air Terhadap Kecepatan Perkecambahan Biji Tomat (Solanum
lycopersium L.)
Hari Ke1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Total
Presentase
IKP

0
0
0
3
8
14
15
10
0
0
0
50
100%
6,93

Jumlah biji yang berkecambah pada perendaman


1
2
3
4
0
0
0
0
0
0
0
0
5
6
16
19
8
10
12
19
15
17
17
9
16
17
5
3
6
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
50
50
50
50
100%
100%
100%
100%
7,52
8,73
12,57
13,38

2. Grafik

IKP

Series 1
14
12
10
8
6
4
2
0

12,57
8,73

7,52

6,93

4,5

Lama Perendaman (jam)

12

Grafik 1. Pengaruh Lama Perendaman Biji Tomat (Solanum lycopersium L.) Dalam
Air Terhadap Kecepatan Perkecambahan Biji Tomat (Solanum lycopersium L.)
4.2 Analisis
Berdasarkan data percobaan yang dilakukan dapat dianalisis bahwa dengan
lama perendaman yang berbeda, akan dihasilkan jumlah dan kecepatan
perkecambahan biji yang berbeda-beda pula. Pada lama perendaman 0 jam atau
tanpa perendaman, perkecambahan bijinya lambat, yakni biji baru berkecambah
pada hari ke-3 setelah penanaman dengan jumlah 3 biji yang tumbuh,pada hari
ke-4 jumlah biji yang berkecambah sejumlah 8 biji,pada hari ke-5 jumlah biji yang
berkecambah sebanyak 15 biji,pada hari ke-6 jumlah biji yang berkecambah
sebanyak 15 biji dan sampai hari ke-7 jumlah biji yang berkecambah sejumlah 10
biji,sehingga diperoleh jumlah akhir biji yang berkecambah dari jumlah awal 50
biji adalah sejumlah 50 biji dengan persentase sebesar 100% dan IKP sebesar 6,93.
Pada biji dengan perendaman selama 1 jam, biji mulai berkecambah sejak hari
ke-3 setelah penanaman, dengan jumlah 5 biji, pada hari ke-4 jumlah biji yang
berkecambah sejumlah 8 biji, pada hari ke-5 jumlah biji yang berkecambah
sebanyak 15 biji ,pada hari ke-6 jumlah biji yang berkecambah sebanyak 16 biji
dan sampai hari ke-7 jumlah biji yang berkecambah sejumlah 6 biji,sehingga
diperoleh jumlah akhir biji yang berkecambah dari jumlah awal 50 biji adalah
sejumlah 50 biji dengan persentase sebesar 100% dan IKP sebesar 67,52 . Pada
lama perendaman 2 jam, biji mulai berkecambah sejak hari ke-3 setelah
penanaman, dengan jumlah 6 biji, pada hari ke-4 jumlah biji yang berkecambah
sejumlah 10 biji, pada hari ke-5 jumlah biji yang berkecambah sebanyak 17 biji
,dan sampai hari ke-6 jumlah biji yang berkecambah sebanyak 17 biji,sehingga
diperoleh jumlah akhir biji yang berkecambah dari jumlah awal 50 biji adalah
sejumlah 50 biji dengan persentase sebesar 100% dan IKP sebesar 8,73 .Pada lama
perendaman 3 jam, biji mulai berkecambah sejak hari ke-3 setelah penanaman,
dengan jumlah 16 biji, pada hari ke-4 jumlah biji yang berkecambah sejumlah 12
biji, pada hari ke-5 jumlah biji yang berkecambah sebanyak 17 biji ,dan sampai
hari ke-6 jumlah biji yang berkecambah sebanyak 5 biji,sehingga diperoleh
jumlah akhir biji yang berkecambah dari jumlah awal 50 biji adalah sejumlah 50
biji dengan persentase sebesar 100% dan IKP sebesar 12,57 . Pada lama

13

perendaman 4 jam, biji mulai berkecambah sejak hari ke-3 setelah penanaman,
dengan jumlah 19 biji, pada hari ke-4 jumlah biji yang berkecambah sejumlah 19
biji, pada hari ke-5 jumlah biji yang berkecambah sebanyak 9 biji ,dan sampai
hari ke-6 jumlah biji yang berkecambah sebanyak 3 biji,sehingga diperoleh
jumlah akhir biji yang berkecambah dari jumlah awal 50 biji adalah sejumlah 50
biji dengan persentase sebesar 100% dan IKP sebesar 13,38.
4.3 Pembahasan
Tumbuhan memerlukan nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangan.
Nutrisi atau zat makanan terdiri dari unsur-unsur atau senyawa-senyawa kimia.
Nutrisi yang diperlukan merupakan sumber energi dan sumber materi untuk
sintesis berbagai komponen sel yang diperlukan selama pertumbuhan. Sebelum
tumbuhan mengalami perkembangan lebih dewasa, maka akan dimulai terlebih
dahulu dengan fase embrio. Embrio yang tumbuh belum memiliki klorofil,
sehingga embrio belum dapat membuat makanan sendiri. Pada tumbuhan
dikotil embrio mengambil makanan dari kotiledon, sedangkan monokotil dari
endosperma. Pengambilan nutrisi dari tanah pada umumnya bersamaan dengan
air. Air dibutuhkan tumbuhan sebagai pelarut bagi kebanyakan reaksi dalam
tubuh tumbuhan dan sebagai medium reaksi enzimatis.
Pada percobaan ini, biji yang direndam lebih lama, 4 jam, memiliki
persentase perkecambahan dan Indeks Kecepatan Perkecambahan (IKP) yang
lebih besar dibandingkan dengan biji yang direndam selama 3 jam, 2 jam, 1 jam
atau biji yang tidak direndam. Hal tersebut disebabkan oleh, semakin lama biji
direndam, maka semakin besar masuknya air ke dalam endosperma biji.
Perendaman biji dalam air mengakibatkan kulit biji lembab dan lebih lunak
memungkinkan pecah dan robek sehingga perkembangan embrio dan
endosperm lebih cepat terjadi, serta untuk memberikan fasilitas masuknya
oksigen (larut dalam air) kedalam biji. Selain itu air juga berfungsi mengencerkan
protoplasma sehingga dapat mengaktifkan berbagai fungsinya serta sebagai alat
transport larutan makanan dari endosperm atau kotiledon ke titik tumbuh,
dimana akan terbentuk protoplasma baru.
Perkecambahan dimulai dari masuknya air kedalam sel-sel biji, atau disebut
proses imbibisi. Proses ini merupakan proses fisika. Imbibisi menyebabkan

14

enzim- enzim dalam biji dapat bekerja. Bekerjanya enzim merupakan proses
kimia. Pada saat air diserap oleh biji maka enzim amilase yang ada pada biji
dapat bekerja memecah tepung menjadi maltosa, selanjutnya maltosa dihidrolisis
oleh maltase menjadi glukosa. Saat proses ini berlangsung, protein juga dipecah
menjadi berbagai macam asam amino. Senyawa glukosa masuk ke dalam proses
metabolisme dan dipecah menjadi energi atau diubah menjadi senyawa
karbohidrat yang menyusun struktur tubuh. Berbagai macam asam amino yang
terbentuk nantinya akan dirangkai menjadi protein yang berfungsi untuk
menyusun enzim-enzim baru. Sedangkan asam lemak terutama dipakai untuk
menyusun membran sel. Air yang diserap oleh biji akan mempercepat proses
metabolisme dalam biji, karena air dibutuhkan tumbuhan sebagai pelarut bagi
kebanyakan reaksi di dalam tubuh tumbuhan dan dipakai sebagai medium
reaksi enzimatis, sehingga proses metabolisme yang terjadi dalam biji yang
direndam lebih lama akan berlangsung lebih cepat dan menyebabkan
perkecambahan biji juga akan lebih cepat dan lebih efisien.
Sebaliknya pada biji yang tidak direndam, kulit biji menjadi keras sehingga
proses perkembangannya menjadi lambat. Keberadaan air bagi biji akan
mengimbibisi dinding sel biji dan menentukan turgor sel sebelum membelah.
Biji dapat diketahui berkecambah jika yang pertama muncul dari biji tersebut
adalah radikula (akar lembaga) yang berasal dari kulit biji yang pecah akibat
pembengkakan biji setelah biji mengalami proses imbibisi. Pada biji yang kering
gas O2 akan masuk ke dalam sel secara difusi. Apabila dinding sel kulit biji dan
embrio telah menyerap air, maka suplai okigen akan meningkat pada sel-sel
hidup, sehingga memungkinkan untuk terjadinya proses respirasi dan CO2 yang
dihasilkan lebih mudah berdifusi keluar. Sedangkan untuk biji yang tidak
direndam, dinding selnya hampir tidak permeable untuk gas, sehingga
masuknya O2 ke dalam biji akan menjadi lambat. Pada biji yang direndam
dengan air dapat membentuk alat transport makanan yang berasal dari
endosperm, kotiledon pada titik tumbuh, pada embrionik di ujung yang
nantinya akan digunakan untuk membentuk protoplasma baru. Namun, ketika
suplai air rendah atau tidak tersedia maka pembentukan sitoplasma baru akan
berlangsung sangat lambat.

Air berpengaruh terhadap kecepatan reaksi

biokimia dalam sel yang berhubungan dengan kerja enzim. Perkecambahan


15

memerlukan suhu yang tepat untuk aktivitas enzim, sehingga dalam percobaan
ini diletakkan pada tempat gelap. Keadaan gelap berpengaruh terhadap bentuk
luar dan laju perpanjangan. Tumbuhan yang diletakkan di tempat gelap akan
tumbuh lebih cepat daripada yang ditempatkan di tempat yang terkena cahaya.
Hal ini dilakukan untuk menjaga intensitas cahaya yang diterima tumbuhan agar
pertumbuhan berlangsung dengan baik.

Salah satu faktor dalam yang

mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman adalah hormon


tumbuhan. Pada biji tomat (Solanum lycopersium L.) mengalami masa dormansi
namun tidak lama. Ketika dormansi biji tomat (Solanum lycopersium L.) telah
hilang maka biji akan membentuk hormon giberelin dan sitokinin yang
diperlukan untuk mengungguli efek kerja asam absisat yang penghambat
pertumbuhan, sehingga pertumbuhan pun dapat dimulai. Dalam keadaaan
tersebut, apabila dilakukan perendaman dalam air maka biji pun akan
berkecambah. Kadar air dalam sel berpengaruh terhadap pembentukan hormon,
sehingga biji tomat (Solanum lycopersium L.) yang direndam selama 4 jam akan
lebih

cepat

berkecambah,

akibatnya

nilai

IKP

tinggi

dan

persentase

perkecambahanpun juga tinggi. Sebaliknya dengan biji tomat (Solanum


lycopersium L.) yang tidak direndam dalam air memiliki nilai IKP yang rendah,
akibat hormon giberelin dan sitokinin ketika sudah dihasilkan tidak dapat
diteruskan pada proses lebih lanjut yaitu perkecambahan karena ketersediaan air
tidak mencukupi. Oleh karena itu ketersediaan air mempengaruhi proses
pertumbuhan dan perkembangan. Proses perkecambahan biji juga dipengaruhi
oleh oksigen, suhu dan cahaya. Oksigen dipakai untuk proses oksidasi dan
reduksi sel, untuk menghasilkan energi. Perkecambahan memerlukan suhu yang
tepat untuk proses aktivasi enzim. Perkecambahan tidak dapat berlangsung
dalam suhu yang tinggi, karena suhu yang tinggi dapat merusak enzim.
Perkecambahan umumnya berlangsung baik dalam keadaan gelap, karena
proses ini membutuhkan hormon auksin dan hormon ini mudah mengalami
kerusakan pada intensitas cahaya tinggi. Jika sudah terjadi perkecambahan maka
tahap selanjutnya adalah pembentukan akar, batang dan daun. Pada ujung akar
dan ujung batang terdapat sel- sel meristem yang dapat berdiferensiasi menjadi
sel-sel yang memiliki struktur dan fungsi yang khusus. Aktivitas meristem sel
menyebabkan batang dan akar tumbuh memanjang.
16

BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
ada pengaruh lama perendaman biji tomat (Solanum lycopersium L.) dalam air
terhadap kecepatan perkecambahan biji tomat (Solanum lycopersium L.). Semakin
lama waktu perendaman biji tomat (Solanum lycopersium L.) maka kecepatan
perkecambahan biji tomat (Solanum lycopersium L.) akan semakin tinggi.
5.2 Saran
Saran untuk melakukan praktikum ini adalah sebelum menanam biji tomat
(Solanum lycopersium L.) lebih baik terlebih dahulu memilih biji dengan cara
merendam biji kemudian ambil biji tomat (Solanum lycopersium L.) yang
tenggelam bukan yang menggambang dan juga harus tetap menjaga
kelembapan air pada kapas.

17

DAFTAR PUSTAKA
Dwi Sukma,Ratna.2010. Perendaman Pemanasan Terhadap Perkecambahan
Benih.
(http://eprints.unipa.ac.id/464/1/Sikoway,Isaac.S_Perendaman%20%26%2
0Pemanasan%20thp%20P'cambahan%20Benih%20Masoi.pdf.pdf/ Diakses
tanggal 17 April 2015.)
Dwijoseputro. D. 1994. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia
Pustaka Tama.
Kimball, John. 1983. Biologi jilid II edisi ke lima. Jakarta: Erlangga.
Rahayu, Yuni dkk. 2014. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Surabaya
Santoso. 1990. Fisiologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press.
Sastramihardja, D. dkk. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: Biologi FMIPA ITB
Soerodikosoemo, Wibisono. 1993. Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan. Jakarta :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sallisbury dan Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB Press.
Lovelles, A. R. 1999. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik.
Jakarta: PT. Gramedia Indonesia.

18

LAMPIRAN
Perhitungan IKP

0 jam

1 jam

2 jam

3 jam

19

4 jam

20

Gambar

Gambar 1. Hari pertama Gambar 2. Hari pertama Gambar


penanaman
(Solanum

biji

tomat penanaman

lycopersium

perendaman 4 jam

biji

3.

Hari

tomat pertama penanaman

L.) (Solanum lycopersium L.) biji tomat (Solanum


perendaman 3 jam

lycopersium

L.)

perendaman 2 jam

Gambar 4. Hari pertama Gambar 5. Hari pertama Gambar


penanaman
(Solanum

biji

tomat penanaman

lycopersium

perendaman 1 jam

biji

tomat kedua

6.

Hari

penanaman

L.) (Solanum lycopersium L.) biji tomat (Solanum


perendaman 0 jam

lycopersium

L.)

perendaman 4 jam

Gambar

7.

penanaman
(Solanum

Hari

kedua Gambar 8. Hari kedua Gambar

biji

tomat penanaman

lycopersium

perendaman 3 jam

biji

tomat kedua

9.

Hari

penanaman

L.) (Solanum lycopersium L.) biji tomat (Solanum


perendaman 2 jam

lycopersium
perendaman 1 jam

21

L.)

Gambar 10. Hari kedua Gambar 11. Hari ketiga Gambar 12. Hari ketiga
penanaman

biji

tomat penanaman

biji

tomat penanaman

biji

tomat

(Solanum lycopersium L.) (Solanum lycopersium L.) (Solanum lycopersium L.)


perendaman 0 jam

perendaman 4 jam

Gambar 13. Hari ketiga Gambar


penanaman

biji

14.

Hari Gambar 15. Hari keempat

tomat keempat penanaman biji penanaman

(Solanum lycopersium L.) tomat


perendaman 2 jam

perendaman 3 jam

biji

tomat

(Solanum (Solanum lycopersium L.)

lycopersium

L.) perendaman 3 jam

perendaman 4 jam

Gambar

16.

Hari Gambar 17. Hari kelima Gambar 18. Hari kelima

keempat penanaman biji penanaman


tomat

biji

tomat penanaman

biji

tomat

(Solanum (Solanum lycopersium L.) (Solanum lycopersium L.)

lycopersium

L.) perendaman 4 jam

perendaman 2 jam

22

perendaman 3 jam

Gambar 19. Hari kelima Gambar 20. Hari keenam Gambar 21. Hari keenam
penanaman

biji

tomat penanaman

biji

tomat penanaman

biji

tomat

(Solanum lycopersium L.) (Solanum lycopersium L.) (Solanum lycopersium L.)


perendaman 2 jam

perendaman 4 jam

perendaman 3 jam

Gambar 22. Hari keenam Gambar 23. Hari keenam Gambar 24. Hari keenam
penanaman

biji

tomat penanaman

biji

tomat penanaman

biji

tomat

(Solanum lycopersium L.) (Solanum lycopersium L.) (Solanum lycopersium L.)


perendaman 2 jam

perendaman 1 jam

perendaman 0 jam

Gambar 25. Hari ketujuh Gambar 26. Hari ketujuh


penanaman

biji

tomat penanaman

biji

tomat

(Solanum lycopersium L.) (Solanum lycopersium L.)


perendaman 1 jam

perendaman 0 jam

23