Anda di halaman 1dari 3

FYI

: INI DI AMBIL PADA TAUN 2009 SILAM



(kutipan dari www.indonesianphotograper.com - Bapak Darwis Triadi)

Mungkin Anda pernah merasa kesal karena orang lain tidak menghargai Anda. Atau,
barangkali Anda juga sering marah karena orang lain tidak memerhatikan Anda.
Sepertinya, saling menghormati, menghargai dan tidak mencibirkan karya orang lain,
seolah menjadi sesuatu yang terlalu mewah untuk dimiliki dan temui saat ini. Padahal,
suka atau tidak, kita hidup saling berinteraksi dengan orang lain.

Saya bukan termasuk pengamat dunia fotografi. Tapi saya mencoba untuk berpendapat
dan mengatakan berdasarkan pengalaman yang sudah saya alami selama kurang dari tiga
puluh tahun bergelut di dunia fotografi. Sejak pertamakali saya memantapkan diri
menggeluti dunia ini, perkembangan fotografi di Indonesia hingga kini sungguh
memprihatinkan. Itu terlepas dari fotografer profesional atau non profesional.

Sekarang ini, banyak fotografer kita lebih mengembangkan paradigmanya (baca: pola
berpikir atau cara pandang) masing-masing untuk menjalani profesinya melalui lensa
kepentingan, ketimbang kegentingannya. Akibatnya, tak ada lagi ruang untuk saling
menghormati dan menghargai sesama fotografer.

Meski ada hal tersebut, tapi hanya sebatas dalam satu komunitas saja. Banyak sekali
penghargaan kepada fotografer itu diberikan di dalam kelompoknya sendiri. Mereka
saling memuji di dalam kelompok dan sangat sempit pola berpikirnya. Bila ada fotografer
lain menghasilkan karya bagus di luar kelompoknya, mereka dengan cepat berlomba-
lomba untuk mencibirnya dengan nada minus.

Mengubah mindset fotografer
Menilai hasil karya orang lain sungguh mudah. Tapi, benarkah pendapat kita itu? Seorang
fotografer bila ingin menilai karya orang lain, seharusnya berpikir dengan rasa terlebih
dahulu. Karena seorang fotografer berpikir tanpa didahului dengan rasa, berarti
fotografer itu tidak memiliki pendewasaan dalam berpikir. Permasalahannya adalah,
benarkah pujian dan menghargai karya sesama fotografer dalam sebuah komunitas itu
berangkat dari hati yang tulus?

Menurut pengalaman saya, hal itu hanyalah sebatas topeng belaka. Kelihatannya
kumpulan dari fotografer itu kompak dalam community-nya. Tapi dibelakangnya mereka
saling bersaing dan membandingkan. Ya, layaknya orang menjual pompa dragon yang
melakukan praktik bisnis fotografi dengan cara menjatuhkan dan bersifat fisik semata.
Baginya, sukses mendapatkan sebanyak-banyaknya materi adalah tujuan utamanya
meski harus dengan cara seperti penjual pompa dragon. (Dahulu di pasar Senen,
Jakarta, sepanjang jalan banyak sekali orang menjual pompa dragon dengan memberi
label paling murah. Padahal, disamping kiri-kanannya juga menjual pompa dengan
merk dan kualitas yang sama)

Tapi apakah dengan cara seperti itu kesuksesan diraih? Melihat kondisi seperti ini saya
menilai, dunia fotografi itu dunianya iri. Atau kalau boleh saya meminjam istilah Gus
Dur, dunia fotografi di Indonesia sama halnya dengan Dunia Taman Kanak-kanak.
Padahal, kita itu hidup dalam satu atap rumah yang namanya fotografi. Kita hidup bukan

untuk saling bersaing. Tapi kita ada untuk saling melengkapi.



Sebenarnya, semua itu bermuara pada cara pandang, pola pikir dan komitmen rasa
fotografer kepada profesinya. Sementara ini, kebanyakan para fotografer kita yang sudah
lama menggeluti dunia fotografi, nyaris tidak memiliki kedewasaan dalam pola berpikir.
Kebanyakan dari mereka, lagi-lagi menurut pendapat saya, tidak pernah menghargai
orang muda dengan karya-karyanya. Bagi mereka, yang muda haruslah menghargai dan
menghormati seniornya.

Begitu pun sebaliknya. Menurut saya, yang muda juga tak menghargai para seniornya.
Jelaslah terlihat yang ada hanyalah saling mencela, mencibir, beroritentasi pada materi
dan itu sudah menjadi sebuah karekter umum. Dan hukum yang berlaku adalah antara
senior dan yunior. Justru yang harus dibangun adalah, bagaimana satu sama lain harus
bisa saling menghargai dan menghormati tanpa melihat status.

Untuk bisa mengubah cara pandang, pola berpikir yang disebut paradigma, sama halnya
seperti kacamata. Paradigma ini sangat mempengaruhi cara kita melihat segala sesuatu
dalam hidup kita. Buat saya, dalam fotografi itu terdapat proses pendewasaan. Untuk bisa
mencapai hal itu dalam berpikir dan berprilaku, sungguh membutuhkan waktu.

Untuk itulah, saya mendirikan sekolah fotografi. Materi yang kita berikan di sekolah ini
tak sekadar teknik belaka. Tapi lebih dari itu misalnya, bagaimana cara mengendalikan
hati, pikiran, mengamalkan ilmu, tidak berpikir secara kelompok tetapi lebih blending
dan bersifat nasional. Bahkan kalau bisa mengglobal. Itu yang lebih penting.

Melebur dalam rasa dan komitmen profesi
Perubahan mindset tersebut pada hakikatnya merupakan berkah besar yang pada
akhirnya bermanifestasikan dalam bentuk pola berpikir dan cara pandang yang lebih
positif dalam bersikap dan hidup bermasyarakat.

Lalu, bagaimana cara kita membina hubungan baik dengan orang lain (di luar komunitas)
agar hidup kita menjadi lebih menyenangkan? Nah, mungkin inilah yang harus kita coba
latih bagaimana cara menghargai orang lain, komitmen pada profesi dan mengolah rasa
sesama fotografer. Kuncinya hanya satu: buat orang lain merasa penting, berharga dan
hidup bermasyarakat tanpa membawa predikat sebagai fotografer. Kita harus dikenal
semua orang atau masyarakat secara menyeluruh. Mulai dari kepribadian yang baik,
attitude, komitmen dan memegang teguh tanggungjawab profesi kita sebagai fotografer.

Mungkin pendapat saya ini sepertinya berlebihan. Tapi sejujurnya yang harus diingat
adalah bahwa, kita hidup di negeri timur yang dituntut saling menghargai, bertepo
seliro dan bertingkah laku baik. Bila hidup di negeri barat, meski kita punya karya yang
bagus tapi memiliki pola berpikir yang sempit dan tingkah laku yang minus, tidak akan
dibicarakan oleh orang lain dan tidak terlalu dipersoalkan. Tapi karyanya yang mereka
diskusikan.

Disitulah perbedaannya antara kehidupan fotografer di Indonesia dan di luar negeri.
Meski saya pernah belajar fotografi di luar negeri dan banyak memberikan makalah
seminar fotografi di luar negeri, bukan berarti saya bangga. Justru saya lebih senang
berbagi ilmu kepada masyakarat Indonesia, kalau ingin belajar kepada saya soal fotografi.

Buat apa saya memajukan negara lain, sedangkan di negeri ini masih membutuhkan
pengetahuan fotografi?

Menurut saya, belajar fotografi yang dikaitkan dengan kehidupan, hanya ada di Indonesia.
Saya sangat belajar dengan itu. Misalnya: bagaimana cara menghormati dan menghargai
orang lain. Kita harus bisa hidup dan diterima ditengah masyarakat, bukan karena profesi
kita. Tapi kita dikenal sebagai personal diri yang memiliki pola berpikir dewasa.

Saya masih ingat betul pengalaman menarik tahun 1986 ketika di Bandung bersama
almarhum Bapak H. Boediardjo, mantan Menteri Penerangan Republik Indonesia (1968-
1973). Saat itu, ada sebuah gathering komunitas fotografer, Bandung yang diprakarsai
almarhum. Persoalan utama yang dibahas oleh almarhum adalah: bahwa fotografer itu
tidak boleh hidup berkelompok. Atau mengkotak-kotakkan diri bahwa saya fotografer
jurnalis, wedding, atau lainnya. Sebaiknya blending dengan komunitas lainnya sehingga
satu sama lain bisa saling menghargai. Itulah ide almarhum yang sangat saya ingat.

Dari pengalaman itu saya berusaha untuk keluar dan mulai membaur dengan segala
macam lapisan masyarakat tanpa membawa identitas saya sebagai fotografer. Saya mulai
belajar akan kedewasaan hidup dari fotografi. Berbagi ilmu kepada masyarkat, meski
hanya data teknis secara basic. Buat saya, memberikan data teknis bukanlah
pembodohan. Akan tetapi dibalik itu yang lebih penting adalah bahwa setiap foto harus
memiliki jiwa/soul. Hal itu baru bisa dilakukan kalau kita sudah pada tahap pengolahan
rasa. Karena sebetulnya fotografi adalah: bicara cahaya. Dan cahaya itu harus kita coba,
kita lihat, dan kita rasakan.