Anda di halaman 1dari 14

PRESENTASI KASUS

OTITIS MEDIA SUPURATIVA KRONIS

Pembimbing:
Prof. dr. Soepomo Soekardono, Sp. THT-KL(K)
Disusun oleh:
Elisia Atnil
2013-061-016

Departemen Ilmu Kesehatan THT-KL


Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta
Periode 2 Juni 2014 5 Juli 2014

STATUS PASIEN
I.

Identitas Pasien
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Pekerjaan
Alamat
Tanggal pemeriksaan

II.

: Nn. AM
: 47 tahun 8 bulan 23 hari
: Perempuan
: Ibu rumah tangga
: Jalan KS Tubun 6 RT 2/2 Klaten
: 11 Juni 2014

Anamnesa
Dilakukan secara autoanamnesis
Keluhan Utama
Telinga kiri mengeluarkan cairan bening sejak 1 hari yang lalu

Keluhan Tambahan
Telinga kiri sedikit sakit, tidak gatal. Sejak 2 hari yang lalu pilek dan kepala pusing
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan keluarnya cairan dari telinga kiri sejak 1 hari
yang lalu. Cairan yang keluar berwarna bening dan bau disangkal. Selain itu pasien
juga mengeluhkan adanya riwayat batuk dan pilek sejak tiga hari yang lalu. Keluhan
serupa pernah dirasakan pasien sejak 1 tahun yang lalu, tetapi keluhan dirasakan
hilang timbul, dengan riwayat 6 bulan yang lalu pernah ada nanah dan darah yang
keluar dari telinga. Pasien juga mengeluh telinga kiri sedikit sakit dan tidak gatal.
Keluhan nyeri menelan disangkal. Riwayat pengobatan, trauma ataupun kemasukan
benda asing disangkal. Tidak ada keluhan untuk telinga kanan.

III.

Riwayat Penyakit Dahulu


Keluhan pada telinga kiri sudah dirasakan pasien sejak 1 tahun yang lalu, dan ada
riwayat batuk dan pilek sejak 2 hari yang lalu
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit keluarga disangkal
Riwayat Kebiasaan
Mengorek telinga, trauma pada telinga maupun kepala disangkal
Pemeriksaan fisik
Keadaan Umum
Kesadaran
Tanda Vital
Suhu
Tekanan darah
Laju nadi
Laju napas

: Tampak sakit ringan


: Compos Mentis
: Afebris
: 100/80 mmHg
: 86 x/menit, teratur, kuat, penuh
: 20 x/menit

Pemeriksaan telinga
Aurikula dextra
Pinna: deformitas (-) edema (-) hiperemis (-)
Nyeri tekan tragus (-)
Retroaurikuler: sikatriks (-) peradangan (-) limfadenopati (-)
Kanalis akustikus eksternus: hiperemis (-) edema (-) furunkel (-) serumen (+)

sekret (+)
Membran timpani:
- Perforasi subtotal, sentral
- Cone of light (-)
- Hiperemis (+) edema (-)
- Retraksi/bulging (-)

Aurikula dextra
Pinna: deformitas (-) edema (-) hiperemis (-)
Nyeri tekan tragus (-)
Retroaurikuler: sikatriks (-) peradangan (-) limfadenopati (-)
Kanalis akustikus eksternus: hiperemis (-) edema (-) furunkel (-) serumen (+)

sekret (-)
Membran timpani:
- Perforasi sentral
- Cone of light (-)
- Hiperemis (+) edema (-)
- Retraksi/bulging (-)

Pemeriksaan hidung
Inspeksi dan palpasi hidung luar :
Perdarahan (-) tanda radang (-)
Deformitas (-)
Krepitasi (-)
Rinoskopi anterior :
Mukosa hidung dan konka tampak normal
Konka tampak normal
Sekret serosa (+)
Deviasi septum (-)
Rinoskopi posterior : tidak dilakukan
Pemeriksaan tenggorok
Rongga mulut:
Stomatitis (-)
Hiperemis pada rongga mulut (-)

Lidah:
Tidak tampak ada perlukaan
Permukaan lidah kasar dan tidak kotor
Tonsil palatina: Hipertrofi tonsil (-), hiperemis (-)
Faring : Mukosa faring hiperemis (+)
IV.

Resume
Pasien perempuan usia 47 tahun, datang dengan otorrhea, sedikit nyeri, dan
tidak gatal pada aurikula sinistra sejak 1 hari yang lalu. Keluhan lain yaitu batuk dan
pilek dengan sekret serosa sejak 3 hari yang lalu. Pasien pernah merasakan keluhan
keluarnya darah dan nanah sejak 6 bulan yang lalu, dengan riwayat otorrhea sudah
berlangsung dari 1 tahun yang lalu. Riwayat kebiasaan mengorek telinga, trauma
pada telinga maupun kepala disangkal.
Pemeriksaan fisik
Keadaan Umum
Kesadaran
Tanda Vital

Suhu
Tekanan darah
Laju nadi
Laju napas

: Tampak sakit ringan


: Compos Mentis
: Afebris
: 100/80 mmHg
: 86 x/menit, teratur, kuat, penuh
: 20 x/menit

Telinga : terlihat perforasi pada membran timpani dan cone of light tidak terlihat
Hidung : mukosa hidung dan konka normal, konka dalam batas normal, sekret serosa
(+)
V.

VI.

Diagnosis Banding
- Otitis media akut
- Otitis media nekrotik akut
- Perforasi traumatik
- Otitis eksterna
- Otitis media tuberculosis
- Otitis media non supuratif
Diagnosa Kerja
Otitis Media Supurativa Kronis tipe Tubotymphanic ADS

VII.

Tatalaksana
Edukasi : istirahat yang cukup, minum air putih banyak, tidak makan makanan
berminyak, gorengan, cokelat, tidak minum es, saat mandi diusahakan telinga tidak
kemasukan air.

Medika mentosa:
- Augmentin tab 500 mg 3x1
- Kotrimoksazol tab 2x2
- Kalium diklofenak
- Perhydrol 3% 60 ml 2x3 tetes
VIII.

Prognosis:
Quo ad vitam
Quo ad functionam
Quo ad sanationam

: bonam
: dubia
: dubia

TINJAUAN PUSTAKA

I. Definisi
Otitis Media Supurativa Kronis (OMSK) merupakan suatu inflamasi kronik
pada telinga tengah dan rongga mastoid, yang biasanya menimbulkan gejala
keluarnya cairan dari telinga yang berulang (otorrhea) melalui membran timpani
yang mengalami perforasi. Penyakit ini biasanya dimulai pada masa anak anak
sebagai perforasi membran timpani spontan yang disebabkan oleh infeksi akut dari
telinga tengah, yang dikenal dengan Otitis Media Akuta (OMA), atau sebagai
sequele dari jenis otitis media yang tidak terlalu berbahaya (otitis media
sekretorius). Infeksi ini dapat dimulai dari sejak anak berusia 6 tahun, dengan
puncak kejadian pada umur 2 tahun. Waktu dimana terjadi perubahan dari OMA
menjadi OMSK sampai sekarang masih merupakan kontroversial. Pada umumnya,
pasien dengan perforasi membran timpani yang masih mempunyai keluhan
keluarnya sekret telinga mukoid yang berlanjut sampai 2 bulan, dapat
dikategorikan sebagai kasus OMSK.1,2,3
II. Epidemiologi
Insidens OMSK tinggi pada negara berkembang karena kondisi sosial
ekonomi yang masih buruk, nutrisi yang kurang, dan kurangnya edukasi kesehatan.
Di India, prevalensi OMSK adalah 16/1000 orang, terutama mengenai penduduk

pada populasi rural dan urban. OMSK juga menjadi penyebab utama dari gangguan
pendengaran yang terjadi pada populasi rural.2 OMSK dapat mengenai semua umur,
angka kejadian pada wanita dan pria sama.
III. Etiologi dan Faktor Resiko
Penyebab dari OMSK adalah bakteri, dapat berupa bakteri aerob maupun
anaerob. Pada tabel berikut ini akan dijabarkan beberapa contoh dari bakteri aerob
dan anaerob yang dapat menyebabkan penyakit OMSK.3

Bakteri jarang ditemukan pada kanalis akustikus eksternus, tetapi apabila


ditemukan mungkin diakibatkan karena trauma, inflamasi, ataupun laserasi karna
kelembaban yang tinggi. Bakteri ini dapat memasuki telinga tegah melalui
perforasi membran timpani yang kronis. Diantara semua bakteri yang ada, P.
Aeruginosa merupakan bakteri yang paling bersifat merusak baik di telinga tengah
maupun struktur mastoid, dengan cara mengeluarkan toksin dan enzim yang
dimiliki bakteri tersebut.1
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan OMSK adalah mengalami otitis
media akuta yang rekuren, otitis media kronik nektorik, perforasi traumatik,
retraksi, kolesteatoma kongenital, terapi yang terlambat dan tidak adekuat pada
infeksi telinga sebelumnya, virulensi kuman yang tinggi, seringnya terkena infeksi
saluran pernapasan atas, serta daya tahan tubuh dan kesehatan yang rendah. 1,3,4

IV. Klasifikasi
OMSK dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu OMSK aktif dan tidak aktif.
OMSK disebut aktif apabila pasien tetap mengeluhkan keluhan otorrhea selama
beberapa waktu, sedangkan OMSK dikatakan tidak aktif apabila keadaan telinga
pasien kering, tetapi terdapat perforasi dari membrana timpani, atau pada saat
keluhan otorrhea yang pernah dikeluhkan pasien sebelumnya telah menghilang
tanpa kemungkinan untuk kambuh di masa yang akan datang. Episode dari
otorrhea terkadang dipengaruhi oleh infeksi saluran pernafasan atas, yang banyak
terjadi pada anak anak. Masuknya air ke telinga baik pada saat berenang maupun
mandi dapat mengakibatkan keluarnya sekret yang intermiten dan menimbulkan
rasa tidak nyaman. Pada pasien yang tidak diobati, kemungkinan besar akan
mengalami komplikasi yang harus dijalankan seumur hidup. 1,7 Sedangkan menurut
klinisnya, OMSK dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:2,3
1. Tipe Tubotympanic
Tipe ini merupakan jenis benigna, yang mengenai bagian anteroinferior dari
celah telinga tengah, seperti tuba eustachius dan mesotympanum. Biasanya
pada tipe ini terjadi perforasi sentral. Tipe ini tidak menimbulkan komplikasi
yang serius. Peradangan bersifat supuratif dan kronik pada mukosa ruang
telinga tengah yang disertai perubahan mukosa yang ireversible (> 2 bulan).
2. Tipe Atticoantral
Tipe ini merupakan jenis maligna, yang mengenai bagian posterosuperior dari
celah telinga tengah, seperti atik, antrum, dan mastoid. Biasanya pada tipe ini
terjadi perforasi atik atau marginal. Tipe ini sering menyebabkan erosi pada
tulang, seperti kolesteatoma, granulasi, ataupun osteitis. Tipe ini sangat sering
menimbulkan komplikasi yang serius.

Sekret
Perforasi
Granulasi
Polip
Kolesteatoma
Komplikasi
Audiogram
V. Patofisiologi

Tabel 1
Tipe Tubotympanic
banyak, mukoid, tidak berbau
Sentral
Jarang
Pucat
Tidak ada
Jarang
Tuli konduktif ringan-sedang

Tipe Atticoantral
Sedikit, purulen, berbau
Atik atau marginal
Sering
Kemerahan dan besar
Ada
Sering
Tuli konduktif atau campuran

OMSK dapat terjadi akibat kelanjutan dari otitis media akut (OMA) dimana
ditemukan perforasi membran timpani yang tidak menutup hingga dua bulan atau
lebih. Pada otitis media akut, apabila telah terjadi perforasi membran timpani,
penutupan spontan sulit terjadi. Dengan adanya perforasi membran timpani, bakteri
dapat menginvasi telinga tengah, karena membran timpani tidak lagi intak dan
fungsi perlindungan telinga tengah hilang yang mengakibatkan telinga tengah
menjadi rentan terinfeksi bakteri dan timbul inflamasi. Otitis media akut sendiri
dapat disebabkan karena disfungsi dari tuba eustachius. Disfungsi tuba eustachius
dapat terjadi pada penderita infeksi saluran nafas atas, sehingga memungkinkan
invasi kuman dari nasofaring ke telinga tengah dan menimbulkan peradangan. Pada
anak kecil, anatomi tuba yang lebih pendek, lebar dan horizontal menjadi faktor
resiko yang mempermudah terjadinya otitis media akut.
Pada otitis media akut stadium supurasi, terdapat eksudat yang purulen pada
kavum timpani dan membuat membran timpani menonjol (bulging) ke arah luar.
Apabila pada stadium ini tidak dilakukan miringotomi, dapat terjadi ruptur
membran timpani disertai dengan keluarnya eksudat purulen dari telinga tengah.
Ketika membran timpani sudah mengalami ruptur, maka akan sulit untuk menutup
kembali. Daya tahan tubuh yang buruk disertai dengan virulensi kuman yang kuat
dapat memperlambat proses pemulihan. Perforasi yang menetap dan sekret yang
keluar terus menerus atau hilang timbul kemudian menjadi OMSK.
Selain disebabkan oleh otitis media akut, OMSK juga dapat terjadi akibat
komplikasi dari pemasangan timpanostomy tube (grommet) pada otitis media efusi.
Meskipun pada otitis media efusi tidak terdapat perforasi membran timpani, namun
cairan yang berada di balik membran timpani dapat menyebabkan degenerasi pada
lapisan fibrosa membran timpani sehingga membran timpani menjadi rentan
mengalami perforasi. Degenerasi lapisan fibrosa tersebut juga dapat menghambat
proses penutupan spontan membran timpani. Perforasi menetap yang disebabkan
oleh pemasangan timpanostomy tube dan ketidakmampuan membran timpani untuk
menutup spontan memungkinkan infeksi bakteri ke telinga tengah.
Kolesteatoma adalah suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel
(keratin). Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatoma
bertumbuh

besar. Terdapat

beberapa

teori

tentang

proses

pembentukan

kolesteatoma, diantaranya adalah teori invaginasi, teori migrasi, teori metaplasi,


dan teori implantasi. Jenis kolesteatoma dapat dibedakan menjadi kolesteatoma
kongenital dan kolesteatoma akuisital.

Kolesteatoma kongenital merupakan kolesteatoma yang terbentuk pada masa


embrionik dan ditemukan pada telinga dengan membran timpani yang utuh dan
tanpa tanda tanda infeksi. Lokasi dari kolesteatoma biasanya di kavum timpani,
petrosus mastoid, atau di cerebellopontin angle yang biasanya ditemukan secara
tidak sengaja.
Kolesteatoma akuisital merupakan jenis kolesteatoma yang terbentuk setelah
anak lahir. Jenis ini terbagi atas dua, yaitu kolesteatoma akuisital primer dan
sekunder. Kolesteatoma akuisital primer terbentuk tanpa didahului oleh perforasi
membran timpani. Kolesteatoma dapat timbul akiba terjadinya proses invaginasi
dari membran timpani pars flaksida karena adanya tekanan negatif di telinga tengah
akibat gangguan tuba. Teori ini juga dikenal sebagai teori invaginasi. Tipe kedua
adalah kolesteatoma akuisital kolesteatoma sekunder, yang terbentuk setelah
adanya perforasi membran timpani. Kolesteatoma terbentuk sebagai akibat dari
masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membran
timpani ke telinga tengah, yang juga dikenal sebagai teori migrasi. Proses
terbentuknya kolesteatoma ini juga bisa disebabkan akibat metaplasi mukosa
kavum timpani karena iritasi infeksi yang berlangsung lama, yang juga dkenal
sebagai teori metaplasia.
Pada teori implantasi menyatakan bahwa kolesteatoma terjadi karena adanya
implantasi dari epitel kulit secara iatrogenik ke dalam telinga tengah sewaktu
operasi, setelah blust injury, pemasangan pipa ventilasi atau setelah miringotomi.
Kolesteatoma yang terbentuk ini merupakan media yang baik untuk tempat
pertumbuhan kuman (infeksi), yang paling sering adalah

Proteus dan

Pseudomonasi Aeruginosa. Infeksi yang terjadi ini dapat memicu respon imum
lokal yang mengakibatkan terjadinya produksi dari mediator inflamasi dan berbagai
sitokin. Sitokin yang diidentifikasihkan terdapat pada matriks kolesteatoma adalah
IL-1, IL-6, dan TGF (Transforming Growth Factor). Zat yang dihasilkan ini dapat
menstimulasi

sel

keratinosit

matriks

kolesteatoma

sehingga

bersifat

hiperproliferatif, destruktif, dan mampu berangiogenesis. Massa dari kolesteatoma


ini akan menekan dan mendesak organ disekitarnya serta menimbulkan nekrosis
terhadap tulang. Proses ini makin diperberart karena pembentukan reaksi asam oleh
pembusukan bakteri, sehingga mempermudah timbulnya komplikasi seperti
labirinitis, meningitis, dan abses otak.8

VI. Manifestasi Klinis


Otitis media kronik aktif berarti adanya pengeluaran sekret dari telinga
(otorrhea). Umumnya otorrhea bersifat purulen (kental, putih) atau mukorid
(seperti air dan encer), tergantung dari stadium peradangannya. Sekret yang bersifat
mukus dihasilkan oleh aktivitas kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid.
Sekret yang sangat bau, berwarna kuning abu-abu kotor memberi kesan
kolesteatoma dan produk degenerasinya, dapat terlihat juga keping-keping kecil,
berwarna putih dan mengkilap. Pada saat ditemukan sekret yang encer berarir
dengan onset tanpa nyeri, dapat diarahkan pada kemungkinan tuberkulosis,
sedangkan pada sekret encer berbau busuk dan bercampur darah, perlu
dipertimbangkan akan adanya kemungkinan keganasan.
Gejala OMSK yang penting lainnya adalah gangguan pendengaran, yang
biasanya bersifat konduktif ataupun campuran. Gangguan pendengaran yang terjadi
mungkin saja ringan, walaupun proses patologi sangat hebat, karena daerah yang
sakit, ataupun kolesteatoma dapat menghantarkan bunyi dengan efektif ke fenestra
ovalis.
Gejala yang tidak lazim ditemukan pada OMSK adalah nyeri dan vertigo.
Gejala ini lebih merupakan gejala komplikasi lanjutan dan harus diwaspadai.
Gejala nyeri dapat terjadi karena adanya hambatan pengaliran sekret, terpaparnya
duramater atau dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak.
Sedangkan untuk gejala vertigo, biasanya gejala ini menggambarkan terjadinya
suatu fistula, yang berarti ada erosi pada labirin tulang yang paling sering mengenai
kanalis semisirkularis horizontalis. Fistula merupakan keluhan yang cukup serius,
karena dapat mengakibatkan perpindahan bakteri menuju ke telinga dalam, yang
pada akhirnya dapat mengakibatkan terjadinya labirinitis, yang dapat menyebabkan
ketulian komplit, dan mungkin dapat berlanjut menjadi meningitis.7
VII. Diagnosis
Diagnosis pada OMSK ditegakkan melalui anamnesa dan pemeriksaan fisik.
Dari anamnesa, bisa didapatkan gejala nyeri telinga, cairan yang keluar dari telinga,
dan apakah ada rasa menyentak pada telinga. Riwayat kelainan telinga sebelumnya,
apakah ada cairan yang keluar dari telinga, terlebih bila disertai dengan pilek, nyeri
tenggorokan, batuk, ataupun gejala lain dari infeksi saluran pernafasan atas. Harus
ditanyakan pula kepada pasien apakah ada riwayat membersihkan telinga dengan
kuat sebelumnya, trauma pada telinga, gatal, ataupun berenang. Apabila terdapat

nyeri telinga, bisa saja merupakan otitis eksterna akut (OEA), otitis media akut
(OMA), dan OMSK. Pada OMA, telinga hanya sakit sampai pada saat terjadi
perforasi membran timpani, setelah itu gejala akan berkurang. Apabila gejala utama
adalah otorrhea, durasi dari keluhan pasien dapat membedakan OMA dan OMSK.1
Pemeriksaan fisik harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari pinna, saluran
telinga luar, dan membran timpani. Pemeriksaan membran timpani dapat dilakukan
dengan menggunakan otoskop. Pemeriksaan ini diperlukan untuk melihat perforasi
dari membran timpani, melihat apakah ada granulasi, aural polip, ataupun
kolesteatoma. Pemeriksaan dengan otoskop hanya dapat dilakukan setelah
membersihkan serumen, debris, ataupun masa dari kanalis akustikus eksternus.
Tidak semua keluhan otorrhea merupakan OMSK. OAE dan OMA juga
menimbulkan keluhan otalgia dan otorrhea. Apabila ditemukan nyeri tragus,
diagnosis lebih memungkinakan ke arah OAE, sedangkan apabila ditemukan nyeri
mastoid, kemungkinan lebih besar ke arah otisis media. Pada OMSK, biasanya
otorrhea bersifat mukoid dant idak terlalu nyeri, tidak ada demam, kecuali jika
disertai dengan OAE ataupun infeksi intrakranial maupun ekstrakranial. 1
Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan otoskop
pneumatik. Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien OMSK dengan riwayat vertigo,
yang digunakan untuk mendeteksi apakah terdapat fistula antara telinga dalam dan
telinga tengah dari pasien. Apabila hasil uji fistula menunjukkan hasil negatif,
belum dapat menyingkirkan kemungkinan adanya fistula.7
Pemeriksaan tambahan lain adalah audiometri, untuk mengetahui jenis tuli
apakah yang dialami oleh pasien, apakah tuli konduktif atau tuli campuran. Dapat
juga dilakukan rontgen pada mastoid untuk melihat mastoid yang tampak sklerotik,
dan juga CT Scan tulang temporal.
VIII. Diagnosis Banding
Pada pasien dengan gejala utama otorrhea, khususnya yang telah terjadi
berulang, harus dipertimbangkan diagnosis OMSK, baik yang tipe tubotimpanik atau
atticoantral. Otitis eksterna dapat juga menimbulkan otalgia dan otorrhea dan dapat
menjadi diagnosis primer, atau sekunder akibat terinfeksi cairan yang keluar dari
telinga tengah. Sedangkan pada pasien dengan gejala utama otalgia, maka perlu
ditanyakan apakah terdapat referred pain, khususnya apabila pada pemeriksaan
otoskopi ditemukan membran timpani yang normal. Lokasi yang sering menjadi

tempat penjalaran referred pain adalah gigi dan sendi temporomandibular. Bila
penderita adalah orang dewasa dan mengalami otalgia sebagai satu-satunya gejala
maka perlu dipertimbangkan diagnosis keganasan faring dan laring. Bila penderita
adalah neonatus dan anak-anak yang mengalami demam tinggi dan gejala sistemik,
maka perlu dipertimbangkan diagnosis meningitis.5
IX. Tata Laksana
Tatalaksana OMSK biasanya membutuhkan waktu yang lama dan harus
berulang. Sekret yang keluar tidak cepat kering, ataupun sering kambuh lagi.
Keadaan ini mungkin saja disebabkan oleh beberapa keadaan yaitu adanya
perforasi membran timpani yang permanen sehingga telinga tengah berhubungan
dengan dunia luar, terdapat sumber infeksi di faring, nasofaring, hidung, dan sinus
paranasal, sudah terbentuknya jaringan patologik yang ireversibel dalam rongga
mastoid, dan juga gizi dan higiene yang kurang.8 Tatalakasana yang dapat
dilakukan

pada

pasien

OMSK

dapat

berupa

pencegahan,

konservatif,

medikamentosa, dan tindakan. Pencegahan yang dapat dilakukan pada OMSK


adalah menjaga kebersihan telinga, dan .
Tatalaksana konservatif yang dilakukan pada OMSK pada dasarnya berupa
nasihat untuk menjaga telinga agar tetap kering, serta pembersihan telinga (aural
toilette) dengan suction secara berhati-hati di tempat praktik dokter. Dalam
membersihkan telinga dapat digunakan hidrogen peroksida atau alkohol dengan
menggunakan aplikator kawat berujung kapas untuk mengangkat jaringan yang
sakit dan supurasi yang tidak berhasil keluar.
Tatalaksana medikamentosa pada OMSK adalah dengan menggunakan
antibiotik.1,6 Antibiotik yang digunakan harus dapat mengeradikasi patogen yang
paling sering menyebabkan OMSK, yaitu P. Aeruginosa dan S. Aureus. Pada pasien
dengan infeksi rekuren ataupun kronis, sebaiknya dilakukan kultur bakteri terlebih
dahulu agar penggunaan antibiotik dapat lebih efektif. Penggunaan antibiotik
secara teratur dapat menyembuhkan perforasi yang terjadi, terutama kalau perforasi
masih kecil, dan telinga harus dijaga tetap kering. Antibiotik yang dapat digunakan
dapat berupa topikal ataupun sistemik. Antibiotik topikal yang dapat digunakan
adalah sulfamethoxazole, kloramfenikol, dan hidrokortison. Antibiotik dapat
diberikan sendiri ataupun dengan kombinasi. Antibiotik topikan merupakan pilihan
utama dan harus diberikan dalam konsentrasi tinggi. Antibiotik golongan
aminoglikosid bersifat ototoksis, sedangkan golong kuinolon tidak bersifat

ototoksis. Menurut Cochrane Review, dalam golongan antibiotik topikal,


florokuinolon merupakan golongan yang paling efektif. Antibiotik kuinolon yang
digunakan secara topikal dapat membersihkan sekret lebih baik daripada antibiotik
yang diberikan secara sistemik. Pada pasien dengan keluhan berulang, dapat
digunakan antibiotik sistemik seperti ciprofloxacin, ofloxacin, dan norfloxacin.
Tatalaksana tindakan atau operatif bertujuan untuk membasmi infeksi dan
mendapatkan telinga yang kering dan aman melalui berbagai prosedur seperti
timpanoplasti dan mastoidektomi. Tujuan timpanoplasti adalah menyelamatkan dan
memulihkan pendengaran, dengan cangkok membrana timpani dan rekonstruksi
telinga tengah. Timpanoplasti dilakukan pada telinga yang mengalami infeksi
berulang tetapi diantara dua episode keadaan telinga bersih. Idealnya, telinga
dengan membran timpani yang mengalami perforasi harus bebas dari infeksi
selama 3 bulan sebelum dilakukan timpanoplasti. Tindakan ini dilakukan untuk
menghilangkan jaringan patologis dari telinga tengah, memperbaiki membran
timpani,

dan

rekonstruksi

tulang

pendengaran.

Sedangkan

tujuan

dari

mastoidektomi adalah menghilangkan jaringan infeksi dan menciptakan telinga


yang kering serta aman.6 Terdapat beberapa jenis operasi pada mastoidektomi yaitu
simpel mastoidektomi, mastoidektomi radikal, canal wall down mastoidektomi,
canal wall up mastoidektomi, dan modified radikal mastoidektomi (bondy
procedure).
Simpel mastoidektomi dilakukan pada OMSK tipe aman yang dengan
pengobatan konservatif tidak sembuh. Pembedahan ini bertujuan untuk
memberihkan jaringan patologis di mastoid sehingga telinga tidak berair lagi dan
infeksi menjadi tenang. Tindakan ini menghubungkan antara mastoid dengan
kavum timpani melalui antrum mastoid.4,8
Canal Wall Down Mastoidektomi bertujuan untuk menghilangkan jaringan
patologis dari telinga tengah dengan merendahkan tulang kanal telinga posterior
sehingga telinga tengah, mastoid & epitimpani menjadi satu ruangan.
Canal wall up masotidektomi sama seperti simpel mastoidektomi, tapi facial
recess dibuka (timpanostomi posterior)
Radikal Mastoidektomi dilakukan pada OMSK tipe bahaya dengan infeksi
ataupun kolesteatoma yang sudah meluas. Pada operasi ini rongga mastoid dan
kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan patologik, dan sama seperti canal
wall down mastoidektomi, dinding batas antara liang telinga, telinga tengah dengan
rongga mastoid diruntuhkan sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu

ruangan. Perbedaan dengan wall down mastoidektomi adalah pada radikal


mastektomi semua osikel dilepas. Tindakan ini hanya dilakukan apabila tidak ada
keinginan untuk memperbaiki fungsi pendengaran, dan pasien juga tidak
diperbolehkan

untuk

berenang

seumur

hidupnya.

Akan

dilakukan

juga

penyumbatan tuba eustachius. Modifikasi operasi ini adalah dengan memasang


tandur (graft) pada rongga operasi serta membuat meatoplasti yang lebar, sehingga
rongga operasi kering permanen, tetapi terdapat cacat anatomi yaitu meatus liang
telinga luar menjadi lebar.4,8
Modified radical mastoidektomi (Bondy procedure) dilakukan pada OMSK
dengan kolesteatoma di dareah atik, tetapi belum merusak kavum timpani. Seluruh
rongga mastoid dibersihkan dan dinding posterior telinga tengah direndahkan.
Tujuan dari operasi ini adalah untuk membuang semua jaringan patologik dari
ruang mastoid dan juga mempertahankan pendengaran yang masih ada.8

X. Komplikasi
Komplikasi dari OMSK dapat dilihat berdasarkan struktur anatomisnya, yaitu
intratemporal dan intrakranial. Komplikasi intratemporal diantaranya adalah
mastoiditis, petrositis, paralisis fasial, dan labirinitis. Sedangkan komplikasi
intrakranial yang dapat disebabkan oleh OMSK adalah abses ekstradural, abses
subdural, meningitis, abses otak, tromboflebitis sinus lateralis, dan hidrosefalus
otitik.2
XI. Prognosis