Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Menua merupakan proses yang terus menerus berlanjut secara alamiah.
Permasalahan yang sering dihadapi lansia seiring dengan berjalannya waktu, akan terjadi
penurunan berbagai fungsi organ tubuh. Penurunan fungsi ini disebabkan karena
berkurangnya jumlah sel secara anatomis serta berkurangnya aktivitas, asupan nutrisi yang
kurang, polusi dan radikal bebas, hal tersebut mengakibatkan semua organ pada proses
menua akan mengalami perubahan struktural dan fisiologis, begitu juga otak (Bandiyah,
2009). Otak akan mengalami perubahan fungsi kognitif yaitu kesulitan di dalam mengingat
kembali, berkurangnya kemampuan di dalam mengambil keputusan dan bertindak lebih
lamban. Meskipun gejala penurunan otak ini merupakan hal yang dianggap sebagai suatu
keadaan yang fisiologi, namun penurunan fungsi otak yang berhubungan dengan gangguan
kognitif pada manusia lansia ini menyebabkan menurunnya kemampuan memori atau daya
ingat (Sarwono, 2010).
Penurunan kemampuan memori atau daya ingat berhubungan dengan penurunan
fungsi belahan kanan otak yang berlangsungnya lebih cepat daripada yang kiri hal ini
disebabkan karena kebanyakan orang hanya menggunakan otak kiri saja dan jarang
menggunakan otak kanan. Padahal untuk mencapai fungsi otak yang maksimal, kerja otak
kanan maupun kiri harus seimbang. Para lansia mengalami penurunan berupa kemunduran
daya ingat visual (misalnya, mudah lupa wajah orang), sulit berkonsentrasi, cepat beralih
perhatian. Juga terjadi kelambanan pada tugas motorik sederhana seperti berlari, mengetuk
jari, kelambanan dalam persepsi sensoris serta dalam reaksi tugas kompleks. Sifat
gangguan ini sangat individual, tidak sama tingkatnya satu orang dengan orang lain
(Sulianti, 2010).
Terjadi penurunan daya ingat yang masih wajar pada beberapa lansia disebut sebagai
sifat pelupa keadaan ini tidak menyebabkan gangguan pada aktifitas hidup sehari-hari,
biasanya dikenali oleh keluarga atau teman karena sering mengulang pertanyaan yang
sama atau lupa kejadian yang baru terjadi. Perlu observasi beberapa bulan untuk
membedakannya dengan demensia yang sebenarnya. Bila gangguan daya ingat bertambah
progresif disertai gangguan intelektual yang lain maka kemungkinan besar diagnosis
demensia dapat ditegakkan (Sulianti, 2010).
1

Kondisi

yang

dihadapi lansia merupakan

gangguan daya

ingat

atau

gangguan memori ringan yang dapat digolongkan sebagai sindrom predemensia dan dapat
berkembang menjadi demensia. World Alzheimer Reports mencatat demensia akan menjadi
krisis kesehatan terbesar di abad ini yang jumlah penderitanya terus bertambah. Data WHO
tahun 2010 menunjukkan, di tahun 2010 jumlah penduduk dunia yang terkena demensia
sebanyak 36 juta orang. Jumlah penderitanya diprediksi akan melonjak dua kali lipat di
tahun 2030 sebanyak 66 juta orang (Gustia, 2010). Jumlah penyandang demensia di
Indonesia hampir satu juta orang pada tahun 2011 (Gitahafas, 2011).
Gangguan daya ingat pada lansia yang bisa berkembang menjadi demensia, dapat
mengakibatkan lansia mengalami gangguan dalam melakukan aktivitas sehari-hari (makan,
minum, berpakaian, BAB/BAK, dan lain sebagainya), adanya perubahan emosi dan
tingkah laku. Lansia dengan demensia akan mengalami ketergantungan di dalam
menjalankan semua aktivitasnya karena dia dibantu oleh orang lain, maka untuk itu perlu
adanya metode-metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan memori
dengan cara meningkatkan stimulasi otak, kegiatan seperti membaca, menonton televisi
sebaiknya di jadikan sebuah kebiasaan hal ini bertujuan agar otak tidak beristirahat secara
terus menerus. (Bandiyah, 2009).
Salah satu upaya untuk mencegah gangguan daya ingat berkembang menjadi
dimensia, yaitu dengan melakukan gerakan atau latihan fisik. Seseorang bukannya tidak
mau bergerak karena tua, tapi menjadi tua karena tidak mau bergerak. Secara umum,
terdapat dua macam latihan yang dapat meningkatkan potensi kerja otak yakni
meningkatkan kebugaran secara umum dan melakukan senam otak (brain gym). yaitu
kegiatan yang merangsang intelektual yang bertujuan untuk mempertahankan kesehatan
otak dengan melakukan gerak badan (Markam, 2006).
Berdasarkan pemikiran di atas, kami menulis makalah ini dengan judul Brain Gym
Pada Lansia

1.2

Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Trend
dan Issue Kebidanan. Selain itu juga untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang
mencegah dan mengatasi masalah kemunduran yang sering terjadi pada fase Lansia.

1.2.1 Sistematika Penulisan


2

Adapun sistematika penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :


KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

1.2

Tujuan Penulisan

1.3

Sistematika Penulisan

BAB II PEMBAHASAN
2.1

2.2

2.3

Konsep Lansia
2.1.1

Pengertian Lansia

2.1.2

Batasan Usia Lansia

2.1.3

Perubahan-perubahan yang Terjadi Pada Lansia

2.1.4

Penyakit yang Sering Dijumpai Pada Lansia

Konsep Demensia
2.2.1

Pengertian Demensia

2.2.2

Penyebab Demensia

2.2.3

Angka Kejadian Demensia

2.2.4

Gejala Demensia

2.2.5

Pencegahan Demensia

2.2.6

Penatalaksanaan Demensia

Konsep Terapi Brain Gym


2.3.1

Pengertian Brain Gym

2.3.2

Mekanisme Kerja Brain Gym

2.3.3

Waktu yang dibutuhkan Dalam Brain Gym

2.3.4

Batasan Usia Dalam Brain Gym


3

2.3.5

Aturan Dalam Brain Gym

2.3.6

Macam-macam Gerakan Brain Gym

2.3.7

Kelebihan Terapi Brain Gym

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan
3.2 Saran / Kritik
DAFTAR PUSTAKA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1
2.1.1 Pengertian Lansia
Lansia bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari suatu proses
kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan
stress lingkungan (Pudjiasti & Utomo, 2003). Wlaupun bukan merupakan suatu penyakit,
tetapi kondisi ini dapat menimbulkan masalah yang dapat mempengaruhi kehidupan lansia.
2.1.2 Batasan Usia Lansia
Banyak pendapat mengenai batasan umur pada lansia. Berikut salah satu pendapat
mengenai batasan usia lansia menurut WHO, yaitu :
1) Middle Age/ Usia Pertengahan

: 45-49 tahun

2) Elderly Age/ Usia Lanjut

: 60-74 tahun

3) Old Age/ Usia Lanjut Tua

: 72-90 tahun

4) Very Old/ Usia sangat tua

: 90 tahun

2.1.3 Perubahan-perubahan yang Terjadi Pada Lansia


4

Perubahan yang terjadi pada lansia antara lain perubahan-perubahan pada fisik,
mental dan psikososial (Nugroho,2000). Padas sel terjadi penurunan jumlah dan ukurannya
lebih besar, mekanisme perbaikan sel terganggu, berkurangnya jumlah cairan tubuh dan
berkurangnya cairan intrasel, jumlah sel otak menurun dan otak menjadi atrofis beratnya
berkurang 5-10%. Pada sistem persyarafan terjadi pengecilan syaraf panca indera sehingga
mengakibatkan berkurangnya fungsi panca indera. Selain itu terjadi penurunan fungsi juga
pada system tubuh yang lain.
2.1.4 Penyakit yang sering dijumpai pada lansia
Macam-macam penyakit yang sering dijumpai pada lansia menurut The National Old
Peoples Welfare Council, terdapat dua belas gangguan umum pada lansia meliputi:
1) Depresi mental
2) Gangguan pendengaran
3) Bronkitis kronis
4) Gangguan pada tungkai Gangguan pada koksa atau sendi panggul
5) Anemia
6) Demensia
7) Gangguan penglihatan
8) Ansietas
9) Dekompensasi kordis
10) Diabetes Melitus
11) Osteomalasia dan hipotiroidisme
12) Gangguan pada defekasi
2.2

Konsep Demensia

2.2.1 Pengertian Demensia


Menurut WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) dan Asosiasi Psikogeriatrik Amerika,
Demensia adalah kehilangan kemampuan intelektual, termasuk daya ingat yang cukup
parah sehingga mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan yang diakibatkan dari gangguan
di otak.
2.2.2 Penyebab Demensia
Menurut Harianti (2008: 9), berdasarkan persepsi yang berkembang di masyarakat,
dengan bertambahnya usia, seseorang akan bertambah menjadi pelupa atau demensia, tidak
5

kreatif dan tidak bisa bekerja lagi. Hal ini tentu saja tidak benar. Demensia sebenarnya
bukan karena faktor usia orang menjadi pikun. Beberapa faktor penyebab demensia antara
lain sering mengonsumsi jenis obat tertentu, penyakit, gizi yang kurang baik dan
memercayai anggapan yang beredar bahwa usia yang menua akan membuat seseorang
menjadi pelupa atau demensia.
Ahli saraf dari Jepang, Dr Nozomi Okamoto dalam penelitian terbarunya
mengungkap bahwa kondisi kesehatan gusi yang merupakan penyebab gigi tanggal
berhubungan erat dengan risiko kepikunan. Ia menyimpulkan hal itu setelah meneliti 6.000
lansia berusai 65 tahun ke atas. Infeksi yang terjadi di gusi dapat menyebabkan senyawa
tertentu yang memicu radang yang bisa terbawa oleh aliran darah menuju tempat lain
termasuk otak, kemudian menyebabkan radang di jaringan tersebut. Radang yang terjadi di
jaringan otak dapat menyebabkan kematian sel-sel saraf yang hampir seluruhnya berpusat
di sana. Kerusakan pada saraf-saraf memori dan kognitif adalah penyebab utama terjadinya
demensia pada orang dewasa maupun lansia.
2.2.3 Angka Kejadian
Bertambahnya usia memang membawa akibat menurunnya kemampuan memori
secara wajar dan dianggap tidak ada kaitannya dengan demensia. Berbagai penelitian
menemukan angka kejadian demensia sebesar 35 persen pada usia di atas 65 tahun. Ada
pula studi yang menemukan angka kejadian 39 persen pada usia 50-59 tahun, dan 85
persen pada usia di atas 80 tahun (Suara Merdeka, 30-06-2010).
2.2.4 Gejala Demensia
Gejala Demensia menurut American Academy Family Physicians (2001):
1) Hilang ingatan baru-baru ini, tidak hanya sekedar lupa
2) Lupa kata-kata atau tata bahasa yang tepat
3) Perasaan berubah-ubah (moody), kepribadian mendadak berubah, atau mendadak tidak
berminat untuk melakukan suatu aktivitas
4) Tersesat atau tidak ingat jalan pulang ke rumah
5) Tidak ingat cara mengerjakan tugas sehari-hari
2.2.5 Pencegahan Demensia
Beberapa cara untuk mencegah pikun adalah: berolahraga fisik, makan makanan
yang sehat untuk tubuh dan otak, selalu aktif berpikir dengan cara membaca, menulis,
6

melukis atau kegiatan berpikir lainnya, tidur teratur dan cukup, melindungi otak dari
ancaman cedera atau yang lainnya.
2.2.6 Penatalaksanaan Demensia
Dalam penanganan menurut A. Tjahyanto dan Surilena (2009), Tujuan utama
penanganan demensia adalah agar penderita dapat mengoptimalkan kemampuan yang
masih ada serta memperbaiki kualitas hidupnya,terapi farmakologis dan terapi non
farmakologis yang diterapkan dapat menghambat progresivitas demensia . Terapi
farmakologis berupa asetilkolinesterase inhibitor (AChE-inhibitor atau penghambat
asetilkolinesterase), yang memperbaiki sistem kolinergik kerja otak melalui peningkatan
konsentrasi ACh. Telah terbukti bahwa pasien demensia mengalami penurunan ACh
(asetilkolin) di korteks otak secara progresif. Di balik kehebatan ACh-E inhibitor itu,
tentunya terdapat pula kelemahan. Di samping, efek samping yang sering terjadi akibat
mengkonsumsi obat seperti mual, muntah, diare, penurunan berat badan, dan
ketidakmampuan menjaga keseimbangan tubuhnya, AChE-inhhibitor tidak dapat
menghentikan progresivitas perburukan demensia di tingkat selular. Selain itu, AChE
inhibitor tidak mampu memperbaiki degenerasi saraf kolinergik otak, yang terus
berlangsung selama pasien mengalami demensia. Obat ini hanya mampu memperlambat
di samping meningkatkan perangsangan motorik melalui peningkatan neurotransmitter
ACh dalam darah. Hingga saat ini, terapi farmakologis telah dijelaskan di atas belum
mampu memperbaiki NFTs dan SPs dalam sel otak demensia. Sedangkan terapi
nonfarmakologis.
Tiga bentuk terapi non-farmakologis pasien-pasien demensia adalah:
1) Managing the family
2) Managing the environment
3) Mananging the patient
Tujuan penatalaksaan non-farmakologis dimaksudkan untuk memperbaiki orientasi
realitas pasien, memodifikasi perilaku, membantu keluarga dalam pembuatan program
aktivitas harian.
2.3

Konsep Terapi Brain Gym

2.3.1 Pengertian Terapi Brain Gym


Terapi Brain Gym adalah senam otak yang bertujuan untuk memicu otak agar tidak
kehilangan daya intelektualnya dan awareness-nya. Senam otak adalah senam ringan yang
7

dilakukan dengan gerakan menyilang, agar terjadi harmonisasi dan optimalisasi kinerja
otak kanan dan otak kiri. (Budhi, 2010). sedangkan Brain gym menurut Dennison (2008)
adalah program pelatihan otak yang dikembangkan oleh Paul E. Dennison dan Gail E.
Dennison sejak tahun 1970. Program ini awalnya dirancang untuk mengatasi gangguan
belajar pada anak-anak dan orang dewasa.
2.3.2 Mekanisme Kerja Brain Gym
Brain gym dapat dilakukan oleh orang lanjut usia (lansia). Pada umumnya, lansia
mengalami penurunan kemampuan otak dan tubuh. Penurunan inilah yang membuat lansia
mudah sakit, tidak kreatif, tidak bisa bekerja lagi dan mundurnya fungsi intelektual berupa
mudah lupa atau sampai pada kemunduran yang ditandai dengan kepikunan. Meski
demikian, penurunan ini bisa diperbaiki dengan brain gym. Brain gym dapat mengaktifkan
otak pada tiga dimensi, yakni lateralitas-komunikasi, pemfokusan-pemahaman dan
pemusatan-pengaturan. Brain gym tidak saja akan memperlancar aliran darah dan oksigen
ke otak, tetapi juga gerakan-gerakan yang bisa merangsang kerja dan berfungsinya otak
secara optimal. Pada Brain gym akan didapatkan kebugaran otak yang ditandai dengan
aliran darah menuju otak lancar atau pasokan Volume O2 maksima memadai. Volume O2
maksimal merupakan kemampuan pengambilan oksigen oleh jantung dan paru-paru,
sehingga aliran darah ke semua jaringan tubuh termasuk otak lebih banyak dan
mempengaruhi otak untuk bekerja maksimal. Dengan melakukan brain gym kualitas hidup
lansia pun akan semakin meningkat (Ag Masykur & Fathani, 2008: 124).
2.3.3 Waktu yang Dibutuhkan dalam Brain Gym
Brain gym juga sangat praktis, karena bisa dilakukan di mana saja, kapan saja oleh
siapa saja khususnya lansia. Porsi latihan yang tepat adalah sekitar 10-15 menit, sebanyak
2-3 kali dalam sehari.
2.3.4 Batasan Usia dalam Brain Gym
Brain gym tidak saja berguna untuk lansia, tetapi juga segala umur. (Ag Masykur &
Fathani, 2008: 124).
2.3.5 Aturan dalam Brain Gym
Menurut Ag Masykur & Fathani (2008:132) sebelum lansia memulai brain gym, ia
harus menjalani PACE. PACE adalah empat keadaan yang diperlukan, untuk dapat belajar
dan berpikir dengan menggunakan seluruh otak. PACE merupakan singkatan dari positif,
8

aktif, clear (jelas) dan energetis. Untuk menjalankan PACE ini, harus memulainya dengan
energetis (minum air), clear (melakukan pijat saklar otak), aktif (melakukan gerakan
silang), positif (melakukan kiat rileks) dan dilanjutkan dengan gerakan-gerakan senam
yang lain.
2.3.6 Macam-macam Gerakan Brain Gym
Denisson (2008:1) mengatakan bahwa otak dibagi ke dalam 3 ( tiga ) fungsi yakni
1) Dimensi Lateralis
0. Gerakan Silang (Cross Crawl)
Cara melakukan gerakan : Menggerakkan tangan kanan bersamaan dengan kaki kiri
dan kaki kiri dengan tangan kanan. Bergerak ke depan, ke samping, ke belakang, atau
jalan di tempat. Untuk menyeberang garis tengah sebaiknya tangan menyentuh lutut
yang berlawanan. Fungsinya : Meningkatkan koordinasi kiri/kanan, memperbaiki
pernafasan dan stamina, memperbaiki koordinasi dan kesadaran tentang ruang dan
gerak, dan memperbaiki pendengaran dan penglihatan.
b. Delapan Tidur (Lazy 8)
Cara melakukan gerakan : Gerakan dengan membuat angka delapan tidur di udara,
tangan mengepal dan jari jempol ke atas, dimulai dengan menggerakkan kepalan ke
sebelah kiri atas dan membentuk angka delapan tidur. Diikuti dengan gerakan mata
melihat ke ujung jari jempol. Buatlah angka 8 tidur 3 kali setiap tangan dan
dilanjutkan 3 kali dengan kedua tangan. Fungsinya : melepaskan ketegangan mata,
tengkuk, dan bahu pada waktu memusatkan perhatian dan meningkatkan kedalaman
persepsi, meningkatkan pemusatan, keseimbangan dan koordinasi.
c. Coretan Ganda (Double doodle)
Cara melakukan gerakan : Menggambar dengan kedua tangan pada saat yang sama, ke
dalam, ke luar, ke atas dan ke bawah. Coretan ganda dalam bentuk nyata seperti :
lingkaran, segitiga, bintang, hati, dan sebagainya. Lakukan dengan kedua tangan.
Fungsinya : kesadaran akan kiri dan kanan, memperbaiki penglihatan perifer,
kesadaran akan tubuh, koordinasi, serta keterampilan khusus tangan dan mata,
memperbaiki kemampuan olahraga dan keterampilan gerakan.
2) Dimensi Pemfokusan
a. Burung Hantu (The Owl)
Cara melakukan gerakan : Urutlah otot bahu kiri dan kanan. Tarik napas saat kepala
berada di posisi tengah, kemudian embuskan napas ke samping atau ke otot yang
tegang sambil relaks. Ulangi gerakan dengan tangan kiri.
9

Fungsinya : melepaskan ketegangan tengkuk dan bahu yang timbul karena stress,
menyeimbangkan otot leher dan tengkuk (Mengurangi sikap tubuh yang terlalu
condong ke depan), dan menegakkan kepala (Membantu mengurangi kebiasaan
memiringkan kepala atau bersandar pada siku).
b. Mengaktifkan Tangan (The Active Arm)
Cara melakukan gerakan : luruskan satu tangan ke atas, tangan yang lain ke samping
kuping memegang tangan yang ke atas. Buang napas pelan, sementara otot-otot
diaktifkan dengan mendorong tangan keempat jurusan (depan, belakang, dalam dan
luar), sementara tangan yang satu menahan dorongan tersebut. Fungsinya :
peningkatan fokus dan konsentrasi tanpa fokus berlebihan, pernafasan lebih lancar dan
sikap lebih santai, dan peningkatan energi pada tangan dan jari
c. Lambaian Kaki (The Footflex)
Cara melakukan gerakan : cengkeram tempat-tempat yang terasa sakit di pergelangan
kaki, betis dan belakang lutut, satu persatu, sambil pelan-pelan kaki dilambaikan atau
digerakkan ke atas dan ke bawah. Fungsinya : sikap tubuh yang lebih tegak dan relaks,
lutut tidak kaku lagi,dan kemampuan berkomunikasi dan memberi respon meningkat.
d. Luncuran Gravitasi (The Gravitational glider)
Cara melakukan gerakan :Duduk di kursi dan silangkan kaki. Tundukkan badan
dengan tangan ke depan bawah, buang nafas waktu turun dan ambil nafas waktu naik.
Ulangi 3 x, kemudian ganti kaki. Fungsinya : merelaksasikan daerah pinggang,
pinggul dan sekitarnya, tubuh atas dan bawah bergerak sebagai satu kesatuan.
e. Pasang kuda-Kuda (Grounder)
Cara melakukan gerakan : Mulai dengan kaki terbuka. Arahkan kaki kanan ke kanan,
dan kaki kiri tetap lurus ke depan. Tekuk lutut kanan sambil buang napas, lalu ambil
napas waktu lutut kanan diluruskan kembali. Pinggul ditarik ke atas. Gerakan ini untuk
menguatkan otot pinggul (bisa dirasakan di kaki yang lurus) dan membantu kestabilan
punggung. Ulangi 3x, kemudian ganti dengan kaki kiri. Fungsinya : keseimbangan dan
kestabilan lebih besar, konsentrasi dan perhatian meningkat, dan sikap lebih mantap
dan relaks.
3) Dimensi Pemusatan
0. Air (Water)
Air merupakan pembawa energi listrik yang sangat baik. Dua per tiga tubuh manusia
terdiri dari air. Air dapat mengaktifkan otak untuk hubungan elektro kimiawi yang
efisien antara otak dan sistem saraf, menyimpan dan menggunakan kembali informasi
10

secara efisien. Minum air yang cukup sangat bermanfaat sebelum menghadapi test
atau kegiatan lain yang menimbulkan stress. Kebutuhan air adalah kira-kira 2 % dari
berat badan per hari. Fungsinya : konsentrasi meningkat (mengurangi kelelahan
mental), melepaskan stres, meningkatkan konsentrasi dan keterampilan sosial,
kemampuan bergerak dan berpartisipasi meningkat, koordinasi mental dan fisik
meningkat (Mengurangi berbagai kesulitan yang berhubungan dengan perubahan
neurologis).
b. Sakelar Otak (Brain Buttons)
Cara melakukan gerakan :Sakelar otak (jaringan lunak di bawah tulang selangka di kiri
dan kanan tulang dada), dipijat dengan satu tangan, sementara tangan yang lain
memegang pusar. Fungsinya: keseimbangan tubuh kanan dan kiri, tingkat energi lebih
baik, memperbaiki kerjasama kedua mata (bisa meringankan stres visual, juling atau
panoangan yang terus-menerus), dan otot tengkuk dan bahu lebih relaks.
c. Tombol Bumi (Earth Buttons)
Cara melakukan gerakan : Letakkan dua jari dibawah bibir dan tangan yang lain di
pusar dengan jari menunjuk ke ba-wah.Ikutilah dengan mata satu garis dari lantai ke
loteng dan kembali sambil bernapas dalam-dalam. Napaskan energi ke atas, ke tengahtengah badan. Fungsinya : kesiagaan mental (Mengurangi kelelahan mental), kepala
tegak (tidak membungkuk), dan pasang kuda-kuda dan koordinasi seluruh tubuh.
d. Tombol imbang (Balance Buttons)
Cara melakukan gerakan : Sentuhkan 2 jari ke belakang telinga, di lekukan tulang
bawah tengkorak dan letakkan tangan satunya di pusar. Kepala sebaiknya lurus ke
depan, sambil nafas dengan baik selama 1 menit. Kemudian sentuh belakang kuping
yang lain. Fungsinya : perasaan enak dan nyaman, mata, telinga dan kepala lebih tegak
lurus pada bahu, dan mengurangi fokus berlebihan pada sikap tubuh
e. Tombol Angkasa
Titik positif dengan kedua ujung jari tangan selama 30 detik sampai dengan 30 menit.
Fungsinya Space Buttons)
Cara melakukan gerakan : Letakkan 2 jari di atas bibir dan tangan lain pada tulang
ekor selama 1 menit, nafaskan energi ke arah atas tulang punggung. Fungsinya :
kemampuan untuk relaks, kemampuan untuk duduk dengan nyaman, lamanya
perhatian meningkat.
f. Pasang Telinga (The Tinking Cap)
Cara melakukan gerakan: Pijit daun telinga pelan-pelan, dari atas sampai ke bawah 3x
sampai dengan 5x.
11

Fungsinya : energi dan nafas lebih baik, otot wajah, lidah dan rahang relaks, fokus
perhatian meningkat, dankeseimbangan lebih baik.
g. Kait relaks (Hook-Ups)
Cara melakukan gerakan : Pertama, letakkan kaki kiri di atas kaki kanan, dan tangan
kiri di atas tangan kanan dengan posisi jempol ke bawa, jari-jari kedua tangan saling
menggenggam, kemudian tarik kedua tangan ke arah pusat dan terus ke depan dada.
Tutuplah mata dan pada saat menarik napas lidah ditempelkan di langit-langit mulut
dan dilepaskan lagi pada saat menghembuskan napas. Tahap kedua, buka silangan
kaki, dan ujung-ujung jari kedua tangan saling bersentuhan secara halus, di dada atau
dipangkuan, sambil bernapas dalam 1 menit lagi. Fungsinya : keseimbangan dan
koordinasi meningkat, perasaan nyaman terhadap lingkungan sekitar (Mengurangi
kepekaan yang berlebihan), dan pernafasan lebih dalam.
h. Titik Positif (Positive Point)
Cara melakukan gerakan: Sentuhlah: mengaktifkan bagian depan otak guna
menyeimbangkan stres yang berhubungan dengan ingatan tertentu, situasi, orang,
tempat dan ketrampilan, menghilangkan refleks.
2.3.7 Kelebihan Terapi Brain Gym
Banyak kelebihan dari terapi Brain gym, beberapa antara lain : Memungkinkan
belajar dan bekerja tanpa stress, dapat dipakai dalam waktu singkat (kurang dari 5 menit),
tidak memerlukan bahan atau tempat khusus, dapat dipakai dalam semua situasi,
meningkatkan kepercayaan diri, menunjukkan hasil dengan segera.
Gambar 2.1
Gerakan Brain Gym
Cross crawls (Gerakan Silang)
Untuk mengaktifkan indera kinestetik, sentuhlah tiap
tangan ke lutut yang berlawanan
Gerakan silang sambil duduk (dengan menggerakkan
kaki dan tangan yang berlawanan)
Kemampuan Akademik :
Mengeja
Menulis
Mendengarkan
Membaca dan memahami/mengerti

12

Lazy eight's ( 8 Tidur)


Angka 8 digambar dalam posisi tidur dengan titik
tengah yang jelas :
Gerakan tangan mulai dari titik tengah ke arah kiri
atas, melingkar ke kiri bawah naik ke titik titik
tengah lagi dan terus ke kanan atas, berputar ke
kanan bawah, kembali ke titik tengah, demikian
seterusnya
Kemampuan Akademik :
Mekanisme membaca
Pengenalan simbol
Pengertian membaca
Double doodle (Coretan Ganda)
Ini adalah kegiatan menggambar di kedua sisi tubuh
yang dilakukan pada bidang tengah untuk menunjang
kemampuan agar mudah mengetahui arah dan orientasi
yang berhubungan dengan tubuh :
Coretan ganda dalam bentuk nyata seperti :
lingkaran, segitiga, bintang, hati, dsb. Lakukan
dengan kedua tangan.
Kemampuan Akademik :
Mengikuti petunjuk
Memahami/mengerti dan membuat simbol
Menulis, mengeja & menghitung
The elephant (Gajah)
Gerakan gajah mengaktifkan bagian dalam telinga untuk
keseimbangan dan kesetimbangan yang lebih baik, juga
mengintegrasikan otak untuk mendengar dengan kedua
telinga, membuat relaks otot tengkuk yang tegang akibat
dari terlalu banyak membaca.
Kemampuan Akademik
Pemahaman mendengar
Berbicara
Mengeja
Mengingat secara berurutan
Dimensi Pemfokusan
Untuk menstimulasi bagian belakang otak (Batang otak atau brainstem) dan bagian depan otak
( frontal lobes). Ketidakmampuan menstimulasi bagian tersebut akan mengakibatkan kurang
mampu mengekspresikan diri sendiri dan ikut aktif dalam proses belajar, dengan kata lain
disebut kurang perhatian, kurang pengertian, terlambat bicara atau hiperaktif.

13

The owl (Burung Hantu)


Gerakan burung hantu dimaksudkan untuk melepaskan
ketegangan tengkuk dan bahu yang timbul karena stress,
khususnya ketika mengangkat buku berat atau ketika
mengkoordinasikan mata untuk membaca atau
kemampuan melihat dekat lainnya.
Murid memijat satu bahu untuk membuat relaks otot
leher yang tegang sambil menggerakkan kepala
perlahan
Kemampuan Akademik :
mendengar dengan pemahaman
pidato atau laporan lisan
perhitungan matematika
ingatan
komputer atau kerja lain yang memakai papan
tombol
The active arm (Mengaktifkan Tangan)
Mengaktifkan tangan untuk mengaktifkan gerakan
motorik kasar dan halus:
Aktifkan satu tangan (lihat gambar) dan kepala tetap
rileks
Pada saat melakukan gerakan murid mengembuskan
napas dalam hitungan delapan atau lebih
Kemampuan Akademik :
Menulis indah
Mengeja
Menulis kreatif
The gravitational glider (Luncuran Gravitasi)
Gerakan ini untuk merelakskan daerah pinggang,
pinggul dan sekitarnya.:
Dapat dilakukan dengan berdiri atau duduk yang
nyaman
Murid
duduk
dengan
menyilangkan
kaki
dipergelangannya dan merentangkan tangan depan,
lalu meluncurkannya ke daerah kaki
Kemampuan Akademik :
Pemahaman waktu membaca
Mencongak
Pemikiran abstrak

14

The rocker (Olengan Pinggul)


Olengan pinggul mengendorkan punggung bawah dan
tulang kelangkang, juga menstimulasi saraf di pinggul
yang melemah karena terlalu lama duduk.
Untuk melindungi tulang ekor, lakukan olengan
pinggul di atas alas (bantal/matras) dengan tangan
atau lengan sebagai penyangga badan
Kemampuan Akademik :
Mengoperasikan mesin (komputer, motor, mobil)
Perhatian & pemahaman
Dimensi Pemusatan
Untuk menstimulasi system limbis (midbrain) yang berhubungan dengan emosi dan otak besar
(cerebral cortex) untuk berpikir abstrak. Ketidakmampuan untuk menstimulus bagian tersebut
akan ditandai oleh ketakutan yang tak beralasan, cenderuk bereaksi berjuang atau melarikan
diri, atau ketidakmampuan untuk merasakan atau menyatakan emosi.

Brain buttons (Sakelar Otak)


Sakelar otak (jaringan lunak di bawah tulang selangka
di kiri dan kanan tulang dada) dipijat dengan satu
tangan, sementara tangan yang lain memegang pusar.
Kemampuan Akademik :
Kemampuam membaca
Koordinasi tubuh

Earth buttons (Tombol Bumi)


Ujung jari satu tangan menyentuh bawah bibir, ujung
lainnya di pinggir atas tulang kemaluan ( 15 cm di
bawah pusar).
Kemampuan Akademik:
Kemampuan membaca.

15

Balance buttons (Tombol Imbang)


Biarkan murid menyentuh Tombol Imbang yang
terdapat di belakang telinga, pada sebuah lekukan di
batas rambut antara tengkorak dan tengkuk (4-5 cm kek
iri dan kekanan dari garis tengah tulang belakang).
Sementara tangan yang satunya menyentuh pusar
selama 30 detik, lalu ganti dengan tangan yang satunya
lagi. Dagu relaks dan kepala dalam posisi normal
menghadap ke depan
Kemampuan Akademik:
Pengertian tentang hal-hal tersirat
Mengenali berbagai sudut pandang
Penilaian kritik dan pengambil keputusan
Keterampilan mengeja dan matematika.
Space buttons (Tombol Angkasa)
Letakkan satu tangan di atas bibir di garis tengah depan,
yang lain di garis tengah belakang pada tulang ekor atau
lebih ke atas agar aman dan sopan
Kemampuan Akademik :
Keterampilan mengatur
Kemampuan membaca
Konsentrasi pada tugas
Meningkatkan minat dan motivasi
The thinking cap (Pasang Telinga)
Gerakan ini menolong murid memusatkan perhatian
pada pendengarannya. Dengan ibu jari dan telunjuk,
pijat secara lembut daun telinga sambil menariknya
keluar, mulai dari ujung atas, menurun sepanjang
lengkungan dan berakhir di cuping
Kemampuan Akademik :
Pemahaman ketika mendengar
Berbicara, menyanyi, tampil di depan umum
Berbicara dalam hati dan penyampaian lisan
Mengeja.
Hook-ups (Kait Relaks)
Sambil duduk, murid menyilangkan pergelangan kaki
kiri ke atas kaki kanan. Silangkan pergelangan tangan
kirinya ke atas tangan kanan, lalu menjalinkan jari-jari,
menarik kedua tangan, dan meletakkannya di dada.
Sambil menutup mata, bernapas dalam dan relaks
selama 1 menit
Kemampuan Akademik:
Mendengar dan berbicara lebih jelas
Menghadapi tes dan tantangan sejenis
Belajar dengan papan ketik
16

The energetic yawn (Menguap Berenergi)


Menguap baik jika dibarengi dengan menyentuh tempattempat tegang di rahang yang dapat menolong
menyeimbangkan tulang tengkorak dan menghilangkan
ketegangan di kepala dan rahang
Kemampuan Akademik :
Membaca dengan suara
Menulis kreatif
Berbicara di depan umum

BAB III
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Lansia bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari suatu proses
kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan
stress lingkungan (Pudjiasti & Utomo, 2003). Salah satu masalah yang dapat
mempengaruhi kualitas hidup lansia adalah demensia yang lebih dikenal dengan
kepikunan. Untuk mencegah demensia pada lansia tersebut, solusi yang dapat ditawarkan
adalah dengan melakukan brain gym. Brain gym bisa dilakukan kapan pun, dimana pun
dan gerakan brain gym sederhana dan mudah untuk dilakukan. Macam-macam gerakan
brain gym adalah 1) dimensi lateralis (gerakan silang, 8 tidur (lazy 8), coretan ganda, 2)
dimensi pemfokusan ( burung hantu, mengaktifkan tangan, lambaian kaki ), 3) dimensi
pemusatan ( Air (water), sakelar otak, tombol imbang, tombol angkasa, pasang telinga, kait
relaks.
Brain gym berpengaruh terhadap pencegahan demensia pada lansia karena gerakan brain
gym tidak saja akan memperlancar aliran darah dan oksigen ke otak, tetapi juga
merangsang kedua belahan otak. Selain itu, bisa membantu menyeimbangkan kedua
belahan otak untuk bekerja, mempertajam konsentrasi, bahkan meningkatkan kreatifitas &
percaya diri para lansia. Dengan demikian, brain gym akan meningkatkan kualitas hidup
pada lansia.

3.2

Saran
17

Untuk mencegah demensia bisa dilakukan dengan mengaplikasikan brain gym.


Gerakan-gerakan brain gym yang diberikan hendaknya disesuaikan dengan kemampuan
lansia dan saat melakukan brain gym lansia tidak dalam keadaan terpaksa.

18