Anda di halaman 1dari 13

TRIKOMONIASIS

I.

DEFINISI
Trikomoniasis merupakan infeksi saluran urogenital bagian bawah pada
wanita maupun pria, dapat bersifat akut atau kronik, disebabkan oleh
Trichomonas vaginalis dan penularannya biasanya melalui hubungan seksual.(1-4)

II.

EPIDEMIOLOGI
Trikomoniasis dikatakan penyakit menular seksual yang paling bisa

disembuhkan. Penyakit ini menyebar luas di seluruh dunia, baik di pedesaan


maupun di perkotaan. Trikomoniasis ditemukan pada 2 hingga 3 juta wanita di
Amerika Serikat. Di dunia, Trichomonas vaginalis mengenai lebih dari 180 juta
wanita. Sulit untuk menentukan berapa jumlah pria yang terinfeksi karena pada
pria, infeksi Trichomonas vaginalis bersifat asimptomatis. Centers for Disease
Control and Prevention (CDC) menganggarkan 3,7 juta kasus terinfeksi
Trichomonas

vaginalis di Amerika Serikat, namun hanya 30% yang

memperlihatkan gejala Trikomoniasis.(2-4)


Trichomonas vaginalis dapat mengenai seluruh ras yang ada di dunia,
namun laporan membuktikan delapan kali lebih banyak terjadi pada ras kulit
hitam dibandingkan dengan ras kulit putih. Trikomoniasis ini terutama ditemukan
pada orang dengan aktivitas seksual yang tinggi, dan dikatakan penderita wanita
lebih banyak dibandingkan dengan pria. Walaupun terakhir banyak ditemukan
pada pasien dalam dekade kedua dan ketiga, infeksi dapat terjadi di segala usia,
dan dilaporkan 17% pada bayi, dari 1 hari hingga 11 bulan.(4, 5)

III.

ETIOLOGI

Penyebab trikomoniasis ialah Trichomonas vaginalis yang pertama kali


ditemukan oleh DONNE pada tahun 1836. Trichomonas vaginalis masuk dalam
golongan protozoa

patogen pada penyakit menular seksual. Ia merupakan

flagelaat berbentuk filiformis, berukuran 15-18 mikron, mempunyai 4 flagela, dan


bergerak seperti gelombang,(1, 6)
Parasit ini berkembang biak secara belah pasang memanjang dan dapat
hidup dalam suasana pH 5-7,5. Pada suhu 50C akan mati dalam beberapa menit,
tetapi pada suhu 0C dapat bertahan sampai 5 hari.(1)
Secara keseluruhanyya, ada tiga spesies Trichomonads yang dapat
ditemukan pada manusia yaitu Trichomonas vaginalis, Trichomonas tenax dan
Trichomonas hominis. Trichomonas vaginalis menyerang vagina, uretra dan
prostat, dan bersufat patogenik. Manakala, Trichomonas tenax hidup di rongga
mulut atau paru-paru, dan Trichomonas hominis hidup dalam kolon, yang pada
umumny bersifat non patogenik yaitu tidak menimbulkan penyakit.(1, 5, 7)
IV.

FAKTOR RESIKO
Faktor risiko trikomoniasis dapat meningkat pada pasien yang sering

berganti-ganti pasangan seks, berhubungan intim dua kali seminggu atau lebih,
tiga pasangan seks atau lebih dalam sebulan terakhir, dan penyakit menular
seksual lainnya. Trikomoniasis juga dihubungkan dengan infeksi traktus genitalia
bagian atas, seperti yang terjadi pada bakterial vaginosis, termasuk infeksi post
partum, pembedahan, dan aborsi, pelvic inflammatory disease, dan kelahiran
prematur. Sejumlah faktor telah dikaitkan dengan peningkatan risiko tertular
trikomoniasis, antara lain:(6-9)
a)
b)
c)
d)

Multiple Sex Partners (pasangan seks lebih dari satu);


Sebelumnya atau sedang terinfeksi PMS lain;
Bakterial vaginosis;
pH (derajat keasaman) vagina yang tinggi.
Trichomonas vaginalis menular melalui hubungan seksual meskipun masih

diperdebatkan, dapat juga melalui pakaian, handuk, atau karena berenang.


Trichomonas vaginalis dapat hidup pada obyek yang basah selama 45 menit pada
kloset duduk, kain lap pencuci badan, baju, air mandi dan cairan tubuh. Penularan

perinatal terjadi kira-kira 5% dari ibu yang terinfeksi tetapi biasanya sembuh
sendiri dengan metabolisme yang progresif dari hormon ibu.(1, 6)
V.

PATOFISIOLOGI
Trichomonas vaginalis mampu menimbulkan peradangan pada dinding

saluran urogenital dengan cara invasi sampai mencapai jaringan epitel dan
subepitel. Trichomonas vaginalis dapat menimbulkan reaksi radang pada rongga
vagina

yang

didominasi

oleh

sel leukosit

polymorphonuclear

(PMN).

Trichomonas vaginalis dan ekstraknya dapat merangsang kemotaktik sel lekosit


PMN, yang mungkin mempengaruhi perkembangan gejalanya. Mekanisme
lengkap penghancuran sel epitel vagina yang diserang oleh Trichomonas
vaginalis belum diketahui dengan pasti.(1, 3, 9)
Pria yang mengandung Trichomonas vaginalis sebagian besar asimptomatik
dan respon radang pada uretra pria biasanya tidak ditemukan. Hal ini berhubungan
dengan epitel kuboid pada uretra. Trichomonas vaginalis dapat menginfeksi epitel
skuamosa pada vagina tetapi hanya yang rentan saja.(2, 3)
Masa inkubasi terjadi sebelum timbulnya gejala infeksi, biasanya antara 4
hingga 28 hari. Pada kasus yang lanjut terdapat bagian-bagian dengan jaringan
granulasi yang jelas. Nekrosis dapat ditemukan di lapisan subepitel yang menjalar
sampai di permukaan epitel. Di dalam vagina dan uretra parasit hidup dari sisasisa sel, kuman-kuman, dan benda lain yang terdapat di dalam sekret.(1, 2)

VI.

GEJALA KLINIS

a) Trikomoniasis pada wanita


Manifestasi klinis dari infeksi trichomoniasis pada wanita bervariasi dari
asimptomatis sampai vaginitis berat. Discharge vagina didapatkan pada wanita
yang terinfeksi tanpa gejala klinis lain. Wanita terinfeksi yang menunjukkan
gejala adalah 20-50%. Wanita yang terinfeksi biasanya mengeluhkan adanya bau
yang tidak sedap pada organ kewanitaannya, duh vagina yang berwarna kuning

kehijauan, gatal dan kemerahan pada daerah vulva, dispareunia, rasa tidak
nyaman pada perut bagian bagian bawah, dan nyeri saat berkemih. Baik pria
maupun wanita dapat menjadi carrier asimptomatik. Bayi yang baru lahir pun
dapat terinfeksi saat persalinan melalui jalan lahir ibu yang terinfeksi.(1, 3, 5, 6)
Biasanya yang diserang utamanya dinding vagina, dapat bersifat akut maupun
kronik. Pada kasus akut terlihat sekret vagina seropurulen berwarna kekuningkuningan, kuning-hijau, berbau tidak enak (malodorous), dan berbusa. Dinding
vagina tampak kemerahan dan sembab. Kadang-kadang terbentuk abses kecil
pada dinding vagina dan serviks, yang tampak sebagai granulasi yang berwarna
merah daan dikenal sebagai strawberry appearance dan disertai gejala
dispareunia, perdarahan pascakoitus, dan perdarahan intermenstrual. Bila sekret
banyak yang keluar dapat timbul iritasi pada lipat paha atau di sekitar genitalia
eksterna. Selain vaginitis, dapat pula terjadi uretritis, bartholinitis, skenitis, dan
sistitis yang pada umumnya tanpa keluhan. Pada kasus yang kronik, gejala lebih
ringan dan sekret vagina biasanya tidak berbusa. Selain duh vagina yang purulen,
vulva dan serviks juga bisa tampak eritematous dan edema. Perdarahan servikal
yang berbentuk punctat dengan ulserasi mengacu pada kolpitis makularis dan
strawberry cervix. Nyeri abdomen yang ditemukan pada lebih dari 12% wanita
mengindikasikan adanya vaginitis berat, limfadenopati regional, atau endometritis
atau salpingitis oleh karena Trichomonas vaginalis.(1, 5, 6)

b) Trikomoniasis pada laki-laki


Pada laki-laki yang diserang terutama uretra, kelenjar prostat, kadang-kadang
preputium, vesikula seminalis, dan epididimis. Pada umumnya gambaran klinis
lebih ringan dibandingkan dengan wanita. Bentuk akut gejalanya mirip uretritis
non-gonore, misalnya disuria, poliuria, dan sekret uretra mukoid atau
mukopurulen. Urin biasanya jernih, tetapi kadang-kadang ada benang-benang
halus. Pada bentuk kronik gejalanya tidak khas; gatal pada uretra, disuria, dan urin
keruh pada pagi hari.(1, 3, 5, 6)

VII.

DIAGNOSIS
Diagnosis trikomoniasis dapat ditegakkan melalui anamnesis, gejala klinis

baik yang subjektif maupun objektif, dan pemeriksaan laboratorium. Pada pria,
biasanya bersifat asimptomatik. Keluhannya berupa duh tubuh uretra dan disuria.
Pada pemeriksaan laboratorium, dapat dijumpai organisme Trichomonas vaginalis
tetapi pada pria hanya dijumpai sedikit organisme Trichomonas vaginalis
dibandingkan dengan wanita penderita trichomoniasis. Kultur merupakan baku
emas untuk diagnosis trikomoniasis.(3, 5-7)
Pada pemeriksaan fisis, tampak punctate hemorrhage pada dinding vagina
dan cervix. Keadaan ini dihubungkan dengan perdarahan yang ada pada kolpitis
makularis atau strawberry cervix. Hal ini merupakan tanda yang spesifik pada
trikomoniasis, sampai saat ini ditemukan 1 hingga 2% pada wanita yang
melakukan pemeriksaan ginekologi yang berkala. Ini dapat terlihat hingga 45 %
kasus yang menggunakan kolposkopi.(3, 5)

Gambar 1. Infeksi Trichomonas vaginalis: Strawberry appearance pada cervix.(3)

(a)

(b)
Gambar 2a. Terlihat dinding vagina yang berbusa; 2b. kolpofotograf dari strawberry servix,
terlihat adanya petechiae pada ectocervix pasien dengan trichomonal vaginitis dan endocervicitis.
(5)

Sedangkan pada pria, organisme ditemukan di daerah genital bagian luar,


epididimis, prostat, dan semen. Pada umumnya gambaran klinis pada pria lebih
ringan daripada wanita. Bentuk akut gejalanya mirip uretritis non-gonore,
misalnya disuria, poliuria, dan sekret uretra mukoid atau mukopurulen. Urin
biasanya jernih. Tetapi kadang-kadang ada benang halus. Pada bentuk kronik,
gejalanya tidak khas, gatal pada uretrra, disuria, dan urin keruh pada pagi hari.(5-7)
Wanita dengan trikomoniasis diketahui menjadi berisiko untuk terjadinya
ko-infeksi oleh kuman urogenital patogen lainnya. Oleh karena itu, kegagalan
dalam mengidentifikasi karakteristik manifestasi klinis dari trikomoniasis dalam
beberapa penelitian menyatakan bahwa hal inilah yang menyebabkan kegagalan
untuk membedakan antara temuan klinis yang disebabkan oleh Trichomonas
vaginalis dan yang disebabkan oleh mikroorganisme lain yang secara simultan
menginfeksi traktus genital bawah.(5, 6)

Pemeriksaan penunjang untuk mendukung diagnosis pada trikomoniasis,


yaitu:
a) Pemeriksaan mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopik secara langsung dilakukan dengan cara membuat
sediaan dari sekret dinding vagina dicampur dengan satu tetes garam fisiologis
diatas gelas objek dan langsung dapat dibaca dibawah mikroskop. Protozoa yang
berbentuk oval dapat divisualisasikan secara mikroskopis dengan pemeriksaan
lapangan pandang gelap.(1, 3, 4, 6)
Selain pemeriksaan langsung dengan mikroskopik sediaan basah dapat juga
dilakukan pemeriksaan dengan pewarnaan Giemsa, akridin oranye, Leishman,
Gram dan Papanicolau. Akan tetapi pengecatan tersebut dianggap sulit karena
proses fiksasi dan pengecatan diduga dapat mengubah morfologi kuman.(1)

Gambar 3. Trichomonas vaginalis pada pemeriksaan lapangan pandang gelap.(3)

b) Kultur
Teknik kultur menggunakan berbagai cairan dan media semi-solid yang
merupakan suatu masa dulu adalah baku emas untuk diagnosis Trikomoniasis.
Terutama pada mereka yang sedikit jumlah organisme Trichomonas vaginalis-nya,
seperti pada pria ataupun wanita penderita trikomoniasis kronik. Biasanya
menggunakan medium Feinberg-Whittington yang memberikan hasil yang dapat
dipercaya. Pemeriksaan yang lebih sensitif adalah teknik kultur anaerobik, yang
biasanya menunjukkan hasil yang positif dalam 48 jam, dan metode ini sangat
baik digunakan untuk mendiagnosis trikomoniasis pada pria. Teknik kultur ini
memiliki sensitivitas 97%.(3, 6)

Pada pembiakan pemilihan media merupakan hal penting, mengingat banyak


jenis media yang digunakan. Media modifikasi Diamond, misalnya In Pouch TV
digunakan secara luas dan menurut penelitian yang dilakukan media ini yang
paling baik dan mudah didapat.(1)
c) Trichomonas Rapid Test
Trichomonas Rapid Test adalah tes diagnostik yang mendeteksi antigen untuk
trikomoniasis. Dengan memasukkan sampel usap vagina ke dalam tabung reaksi
dengan 0,5 ml buffer khusus dengan beberapa perlakuan dan kemudian hasilnya
dapat dibaca dalam waktu 10 menit.(3)
d) Polymerase Chain Reaction
Dalam Polymerase Chain Reaction (PCR), sampel diperlakukan dengan
enzim yang memperkuat daerah tertentu dari DNA T.vaginalis. PCR telah terbukti
sebagai metode diagnostik yang paling akurat dalam studi baru-baru ini. Namun,
PCR saat ini hanya digunakan dalam penelitian, bukan pengaturan klinis.(3, 7)
e) Deteksi Molekular
Tes Amplifikasi Asam Nuklear atau Nucleic Acid Amplification Test (NAATs)
menunjukkan persentase sensitivitas yang paling tinggi dan merupakan baku emas
yang terkini untuk mendiagnosa Trikomoniasis vaginalis.(6)
VIII. DIAGNOSIS BANDING(1)
a) Servisitis Gonore
Dapat bersifat asimptomatik, kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri pada
punggung bawah. Pada pemeriksaan, serviks tampak merah dengan erosi dan
sekret mukopurulen. Duh tubuh akan terlihat lebih banyak, bila terjadi
servisitis akut atau disertai vaginitis yang disebabkan oleh Trichomonas
vaginalis.(1)

Gambar 4. Servisitis gonore

b) Kandidiasis Vulvovaginal

Keluhan utama berupa gatal di daerah vulva. Pada yang berat, terasa panas,
disuria, dan dispaneuria. Pada pemeriksaan yang ringan tampak hyperemia di
labia minora, introitis vagina dan vagina terutama 1/3 bagian bawah. Sering
pula terdapat kelainan yang khas ialah bercak-bercak putih kekuningan. Pada
kelainan berat juga terdapat edema pada labia minora dan ulkus-ulkus yang
dangkal pada labia minora dan sekitar introitus vaginal.(1)
Fluor albus berupa cottage cheese appearance, dan berbau seperti susu
asam. Tanda yang khas adalah disertai gumpalan-gumpalan sebagai kepala
susu berwarna putih kekuningan. Gumpalan tersebut berasal dari massa yang
terlepas dari dinding vulva atau vagina terdiri atas bahan nekrotik, sel-sel
epitel, dan jamur.(1)

Gambar 5. Kandidiasis vulvovaginal

c) Bakterial Vaginosis
Wanita dengan penyakit ini akan mengeluh adanya duh tubuh dari vagina
yang ringan atau sedang dan berbau tidak enak (amis), yang dinyatakan oleh
penderita sebagai satu-satunya gejala yang tidak menyenangkan. Bau lebih
menusuk setelah sanggama dan mengakibatkan darah menstruasi berbau
abnormal. Sepertiga penderita mengeluh gatal dan rasa terbakar, dan
seperlima timbul kemerahan dan edema pada vulva. Nyeri abdomen,
dyspareunia, atau nyeri waktu kencing jarang terjadi, dan kalau ada penyakit
lain.(1)

Gambar 6. Bakterial vaginosis

IX.

PENATALAKSANAAN
Metronidazole merupakan antibiotik pilihan pertama dan yang paling baik

untuk kasus-kasus trikomoniasis, meskipun telah hadir sejumlah turunannya,


seperti tinidazole, ornidazole, dan lain-lain.(2, 3)
Metronidazole hampir sempurna diserap melalui usus, berpresentasi dengan
baik ke dalam jaringan dan cairan tubuh (vagina, semen, saliva dan ASI) serta
diekskresi sebagian besar melalui urin.(6)
T.vaginalis sering menginfeksi urethra dan kelenjar periurethral sehingga
pengobatan sistemik lebih diperlukan dibanding pengobatan topikal. Terapi yang
hanya mengobati organisme pada vagina akan menyebabkan adanya organisme di
lokasi lain dan akhirnya bisa terjadi infeksi pada organ endogen. Metronidazole
atau tinidazole merupakan pengobatan pilihan untuk trikomoniasis baik buat
wanita mau pun laki-laki, dengan dosis tertentu. (10)
Dosis Sistemik:(1, 3, 10)
Infeksi vagina:
Obat Anjuran:
a. Metronidazol : dosis tunggal 2 gram.
b. Tinidazol : dosis tunggal 2 gram
c. Metronidazol : 2x400-500mg per hari selama 5-7 hari

10

Obat Alternatif:
a. Metronidazol : 2x500mg per hari selama 7 hari
b Tinidazol : 2x500mg per hari selama 5 hari
Wanita hamil:
a. Metronidazol : dosis tunggal 2 gram
Infeksi uretra:
Dosis Anjuran:
a. Metronidazol : 2x500 mg per hari selama 7 hari
b. Metronidazol : dosis tunggal 2 gram per hari selama 3-5 hari
Dosis Alternatif:
Tinidazol : 2x2gram per hari selama 14 hari
Tinidazol : 3x500mg per hari selama 7-10 hari
Tinidazol : 3x1.5 gram per hari selama 14 hari
Tinidazol : 2x1gram per hari selama 14 hari
Infeksi pada neonatal:
Dosis Anjuran:
a. Metronidazol : 3x5mg/kgBB per hari secara oral
Secara topikal:(1)
a. Bahan cairan berupa irigasi, misalnya hydrogen peroksida 1-2% dan larutan
asam laktat 4%.
b. Bahan berupa supositoria, bubuk yang bersifat trikomoniasidal.
c. Jel dan krim yang berisi zat trikomoniasidal.
Pada waktu pengobatan perlu beberapa anjuran pada penderita:(1)
a) Pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasangan seksual untuk mencegah
jangan terjadi infeksi ping-pong.
b) Jangan melakukan hubungan seksual selama pengobatan dan sebelum
dinyatakan sembuh.
c) Hindari pemakaian barang-barang yang mudah menimbulkan transmisi.

11

X.

PROGNOSIS
Prognosis baik jika diberikan pengobatan secara tepat. Jika pasangan

seksualnya diobati bersama-sama, maka angka kesembuhannya melebihi 95%. (3, 5,


6)

DAFTAR PUSTAKA

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Daili SF. Trikomoniasis. In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editors. Ilmu


Penyakit Kulit & Kelamin. 6 ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2013. p. 106-391.
Prevention DoS. Trichomoniasis Fact Sheet. CDC National Prevention
Information.1:2.
Rosen T. Trichomoniasis. In: L.A G, S.I K, B.A G, A.S P, D.J L, K. W,
editors. Fitzpatrick's Dermatology In General Medicine. 8 ed. New York:
Mc Graw Hill Medical; 2012. p. 3585-87.
Affairs OoP. Trichomoniasis Fact Sheet. Dep of He & Hum Ser. 2012;1:13.
Lopez FV, Hay RJ. Parasitic Worms and Protozoa. UK: Blackwell
Publishing Ltd.
Sherrard J, Ison C, Moody J, Wainwright E, Wilson J, Sullivan A. United
Kingdom National Guideline on the Management of Trichomonas
vaginalis 2014. BASHH. 2014;1:1-7.
Schwebke JR. Update of Trichomoniasis. BMJ. 2002;1:1-3.
Schwebke JR, Hook EW. High Rates of Trichomonas vaginalis among
Men Attending Sexually Transmitted Diseases Clinic: Implications for
Screening and Urethritis Management. JID. 2003;1:465-8.
Pierre RJ, Aberra G, Tenna M. Prevalance of Trichomonas vaginalis
infections among patients at Kiziba refugee camp and Centre Hospitalier
Universitaire de Kigali (CHUK). KIST 2011;1:31-8.
M.Hobbs M, Sena AC, Swygard H, Schwebke JR. Trichomonas vaginalis
and Trichomoniasis. In: Holmes KK, Sparling PF, Stamm WE, Piot P,
Wasserheit JN, Corey L, et al., editors. Sexual Transmitted Diseases. 4 ed.
New York: Mc Graw Hill Medical; 2008. p. 798-810.

12

13