Anda di halaman 1dari 7

PENANGANAN FAUNA AKUATIK:

CUMI-CUMI (Loligo sp)

Penanganan Hasil Perairan


Sabtu, 14 Maret 2015
Laboratorium Karakteristik Bahan Baku Hasil Perairan
Asisten:

Akhmad Khoeron
C34130063
Kelompok 6

DEPARTEMEN TEKNOLOGI HASIL PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Konsumsi makanan yang berasal dari laut seperti cumi-cumi semakin
meningkat, setelah adanya kesadaran akan pentingnya bahan makanan tersebut
sebagai sumber nutrisi bagi tubuh. Protein, lemak dan komponen lain yang
berasal dari makanan hasil laut memiliki keistimewahan tersendiri. Pada
cumi-cumi selain dagingnya yang mudah dicerna, juga mengandung asam
amino esensial serta kaya akan mineral seperti fosfor dan kalsium yang
berguna untuk pertumbuhan dan pembangunan tulang. Cumi-cumi merupakan
produk laut yang banyak terdapat di perairan Indonesia. Sebagian besar cumi
diolah menjadi bahan makanan protein tinggi. Cumi-cumi memiliki sifat mudah
mengalami penurunan mutu sehingga perlu dilakukan pengolahan agar cita
rasanya tidak berkurang. Jenis produk olahan cumi-cumi sebagai konsumsi
lokal masih terbatas antara lain cumi-cumi kertas, cumi-cumi kering asin,
cumi-cumi asap dan cumi-cumi kaleng (Meirina, 2008).
Cumi-cumi memiliki daging putih yang merupakan salah satu
kelebihan tersendiri dan disukai oleh masyarakat. Cumi-cumi adalah jenis
chepalopoda yang dikenal dalam dunia perdagangan disamping sotong dan
gurita. Di bidang perikanan komersial, cumi-cumi merupakan salah satu
komoditas perikanan yang cukup penting dan menempati urutan ketiga
setelah ikan dan udang (Pricilia 2011).
Penaganan cumi-cumi merupakan suatu hal yang sangat penting untuk
dilakukan. Proses penanganan yang baik dapat memberikan added value pada
produk cumi-cumi. Sebaliknya, proses
penanganan yang buruk dapat
menurunkan mutu cumi-cumi.
Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk melakukan cara penanganan dan preparasi
pada cumi-cumi (Loligo sp).

METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Praktikum penanganan fauna akuatik bulu babi dilakukan pada hari Sabtu,
14 Maret 2015. Praktikum dilakukan pada pukul 09.00 WIB hingga pukul 12.00
WIB. Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium Karakteristik bahan baku hasil
perairan, Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikananan Ilmu
Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu, pisau bedah stainless steel,
talenan, sarung tangan dan masker. Bahan yang digunakan yaitu bulu babi dan air.
Prosedur Kerja
Setiap kelompok praktikum mengambil sampel bulu babi, satu bilah pisau,
satu talenan. Sampel tersebut ditimbang dan difoto. Pada proses preparasi perlu
dilakukan pemukulan dengan benda tumpul untuk memecahkan cangkang bulu
babi. Setelah cangkang bulu babi pecah, kemudian gonad bulu babi diambil.
Terakhir yaitu gonad, jeroan, dan cangkang bulu babi ditimbang. Diagram alir
proses prosedur kerja dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Diagram alir preparasi bulu babi (Deadema spinosum)


Keterangan:

:Awal dan akhir proses


:Proses

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil

Sampel bulu babi yang telah ditimbang ekmudian dipecah cangkangnya


dan
diambil gonad dan jeroannya. Gonad, jeroan, dan cangkang kemudian ditimbang.
Berat gonad, jeroan, dan cangkang bulu babi dapat dilihat pada Tabel 1.
Table 1 Berat masing-masing bagian bulu babi
Kelompok
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
Rata-rata

Berat Total
(gram)
54
72
68
68
77
66
59
72
69
76
70
57
77
69
61
47
66,375

Berat Gonad
(gram)
6
2
2
3
1
3
7
0,1
3
11
4
6
5
7
3
2
4,06875

Berat Jeroan
(gram)
7
10
17
14
13
13
9
16
10
17
18
11
7
11
16
6
11,5

Berat Cangkang
(gram)
29
34
48
48
47
44
36
42
48
42
42
35
48
45
37
29
40,875

Berat total bulu babi terbesar yaitu pada sampel bulu babi kelompok 5
seberat 77 gram. Berat total bulu babi terendah yaitu pada sampel bulu babi
kelompok 16 seberat 47 gram. Berat gonad terbesar yaitu pada sampel bulu babi
kelompok 10 seberat 11 gram, sedangkan yang terendah yaitu pada sampel
kelompok 8 seberat 0.1 gram. Berat cangkang terberat yaitu pada sampel bulu
babi kelompok 3, 4, 13 seberat 48 gram, sedangkan yang terendah yaitu pada
sampel kelompok 1 dan 16 yaitu seberat 29 gram.
Pembahasan
Bulu babi merupakan salah satu organisme avertebrata (tak bertulang
belakang) air yang dapat dimanfaatkan gonadnya sebagai bahan makanan. Bulu
babi biasanya dicari dengan cara mengkorek- korek daerah lamun dan juga cerukceruk karang dengan mengunakan pisau. Ukuran bulu babi yang bisa
dimanfaatkan secara komersial adalah bulu babi dengan ukuran diameter berkisar
4-7 cm dengan rata-rata 5,5 cm. ukuran yang lebih kecil dari 4 cm tidak dapat
dimanfaatkan secara komersial karena jumlah gonadnya masih sedikit (Yulianto
2012).
Ambarita (2003) menyatakan penanganan bulu babi menjadi produk segar
harus benar dan tepat karena biota ini sangat sensitif terhadap perubahan habitat,
dapat mengalami stress dan mengeluarkan cairan gonadnya, sehingga volume
gonad berkurang dan menurunkan penampakan gonad. Stress juga menyebabkan
kematian sebelum diolah dan gonad yang dihasilkan berbau busuk. Gonad sulit

dipisahkan dari cangkangnya, jika pembukaan cangkang tidak tepat dan tidak hatihati gonad dapat sobek, terpotong dan hancur sehingga sulit untuk diperoleh
gonad segar yang utuh dan rapi. Penanganan bulu babi yang umum dilakukan
adalah dengan cara memecah cangkang bulu babi, kemudian memisahkan gonad
yang menempel pada bagian dalam cangkang bulu babi.
Afifudin (2014) menyatakan keanekaragaman jenis bulu babi di perairan
Indonesia sangat tinggi, namun pemanfaatannya belum maksimal. Bulu babi di
Indonesia, saat ini belum dimanfaatkan secara komersial. Pemanfaatannya
hanya sebagai pakan ternak tambahan dan sebagai lauk pauk terutama masyarakat
pesisir. Hewan ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi terutama gonadnya
sebagai komoditas ekspor . Spesies bulu babi yang sudah diketahui sangat
banyak, namun hanya beberapa spesies saja yang sudah dimanfaatkan. Beberapa
jenis bulu babi yang sudah dimanfaatkan antara lain Diadema spinosum,
Heliocidaris arythrogramma, echinus esculentus, Evenchinus choroticus,
Loxechinus albus, dan Tripneustes gratilla. Gonad bulu babi memiliki harga jual
yang tertinggi dalam bentuk segar atau didinginkan. Gonad kering atau digarami
atau dalam media brine harganya hampir setengah harga gonad segar. Gonad beku
lebih murah lagi dari gonad kering (Ramachandran 2004).
Ukuran/banyaknya gonad pada setiap jenis bulu babi berbeda-beda.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ukuran gonad bulu babi yaitu, spesies bulu
babi, ukuran bulu babi, dan fase gametogenesis. Jumlah gonad pada setiap spesies
bulu babi berbeda-beda. Jumlah gonad pada bulu babi berbanding lurus dengan
ukuran tubuh bulu babi. Jika ukuran tubuh bulu babi semakin besar, maka jumlah
gonadnya akan semakin banyak, dan sebaliknya jika ukuran tubuh bulu babi
semakin kecil, maka jumlah gonadnya akan semakin sedikit (Afifudin et al.
2014). Hasil penelitian Darsono (2009) menunjukkan bahwa ukuran gonad bulu
babi akan bertambah besar seiring dengan fase gametogenesisnya. Gonad jantan
dan betina pada fase matang (mature) akan mencapai puncak perkembangan dan
memiliki ukuran dan volume maksimal. Gonad akan kembali kosong setelah masa
pijah (spent). Ukuran dan berat gonad ini akan maksimal menjelang masa pijah.
Berat gonad rata-rata yaitu sebesar 4.60875 gram. Sampel kelompok 5
dengan berat total bulu babi sebesar 77 gram hanya memiliki gonad sebesar 1
gram, sedangkan sampel kelompok 16 dengan berat total bulu babi sebesar 47
gram memiliki gonad sebesar 2 gram. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian
Afifudin et al. (2014) yang menunjukkan bahwa berat gonad akan berbanding
lurus dengan ukuran bulu babi. Jika semakin besar/berat bulu babi, maka
kandungan gonadnya akan semakin banyak, dan begitu pula sebaliknya.
Perbedaan ini dapat disebabkan karena pada saat praktikan mengambilan gonad
dari bagian dalam cangkang, tidak semua gonad ikut terambil sehingga bobot
gonadnya sedikit. Selain itu juga dapat disebabkan karena ketikan praktikan
mengambil gonad dari bagian dalam cangkang, jeroan bulu babi juga ikut
terambil, sehingga bobot gonad yang ditimbang semakin banyak.

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan

Bulu babi merupakan biota perairan yang dapt dimanfaatkan gonadnya


sebagai bahan makanan. Gonad bulu babi dapat diambil dengan cara memecah
Cangkang bulu babi, kemudian mengambil gonadnya dari bagian dalam
cangkang. Banyaknya gonad pada bulu babi dipengaruhi oleh spesies bulu babi,
ukuran bulu babi, dan fase gametogenesis pada bulu babi.
Saran
Sampel bulu babi yang digunakan pada praktikum seharusnya lebih
beragam lagi spesiesnya. Hal ini bertujuan agar praktikan lebih paham dan dapat
membedakan banyaknya rendemen gonad pada setiap spesies bulu babi. Selain
itu, praktikan juga dapat mengetahui keanekaragaman spesies bulu babi.

DAFTAR PUSTAKA
Afifudin IK, Suseno SH, Jacoeb AM. 2014. Profil asam lemak dan asam amino
gonad bulu babi. Jurnal Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan
Indonesia. 17(1): 60-70.
Ambarita MTD. 2003. Pengaruh kapur sirih terhadap penanganan bulu babi dan
kualitas gonad bulu babi Tripneustes gratilla (Linnaeus) dan Echinothrix
calamaris (Pallas). Jurnal Ilmu dan teknologi Pangan. 1(1): 94-105.
Darsono P. 2009. Gonad bulu babi. Oseana. 6(4):151162.
Darsono P, Sukarno. 2005. Beberapa aspek bulu babi Tripneustes gratilla di Nusa
Dua-Bali. Oseanologi di Indonesia. 26(1): 13-25.
Ramachandran A, Terushige. 2004. Sea Urchin for Japan. Ninfofish International.
5(91): 20-23.
Suharsono 2007. Keunggulan dan nilai gizi makanan dari laut. Berita Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi. 4(3): 17-23.
Yulianto AR. 2012. Pemanfaatan bulu babi secara berkelanjutan pada kawasan
padang lamun (Studi Pada Kawasan Padang Lamun Banjar Semawang dan
Batu Jimbar, Kelurahan Sanur, Denpasar) [tesis]. Program Studi Ilmu
Lingkungan, Universitas Indonesia.