Anda di halaman 1dari 13

Makalah Penentuan Struktur Molekul Kimia Organik

dengan FT-IR dan GC-MS


Phytochemical screening and antimicrobial activity of extracts from leaves and stem
of Ecbolium linneanum
Dipankar Chaudhuri, Arun K. Pathak dan Murugan Sevanan

Oleh
Richard Anugerah Tigor
3325111358
Program Studi Kimia

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2014

ABSTRAK

Ekstrak sokletasi daun dan stem Ecbolium linneanum dengan pelarutpelarut yang berbeda diteliti sifat fitokimia dan kemampuan antibakteri
terhadap bakteri pathogen. Kemampuan antibakteri diuji dengan metode well
agar dan disc diffusion. Uji awal fitokimia menunjukkan bahwa daun dan stem
mengandung beberapa macam fitokimia yang dikonfirmasi dengan metode
spektroskopi. Bakteri-bakteri patogen dengan baik diinhibisi oleh ekstrak
daun, namun ekstrak aseton dari stem tidak dapat menginhibisi pertumbuhan
bakteri Stapphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa meskipun
dengan konsentrasi yang tinggi. Hasil ini menunjukkan ekstrak daun lebih
efektif dibanding dengan ekstrak stem E. linneanum. Berdasarkan penelitian
ini diketahui E. linneanum mempunyai kemampuan antibakteri terhadap
bakteri patogen yang sering ditemui pada manusia.

Kata kunci: kemampuan antimikroba, Ecbolium linneanum, GCMS, FTIR

PENDAHULUAN

Lebih dari 5000 tahun yang lalu, para pendahulu kita menyadari bahan
alam dapat digunakan dalam pengobatan (Rajendran, 2009). Selain itu
tanaman sudah lama digunakan sebagai bumbu, kosmetik, ornamen,
fumigant, penangkal serangga, dan obat (Nitto et al., 2002). Berdasarkan
WHO sekitar 80% populasi dunia bergantung pada bahan alam untuk
kesehatan karena efek samping yang kecil dan biaya yang minim (Jagtap et
al., 2009). Sekarang ini, terjadi peningkatan dalam penelitian untuk
mengetahui bioaktivitas tanaman. Tanaman telah diketahui menghasilkan
molekul bioaktif tertentu sebagai bentuk pertahanan terhadap organisme
(Harbone dan Baxter, 1995). Infeksi penyakit yang disebabkan oleh
mikroorganisme mulai resistan terhadap antibiotik, hal ini menjadi masalah
besar dalam penanganan infeksi penyakit. Sehingga, para ilmuwan mencoba
untuk mencari senyawa antimikroba yang baru dari berbagai sumber
termasuk tanaman obat karena kurang tersediannya dan mahalnya
antiobiotik generasi baru (Sashikumar et al., 2003).
Ecbolium linneanum adalah anggota dari family Acanthaceae yang
biasa dikenal sebagai Blue Fox Tail atau Blue Justicia (Inggris), Neel Kantha
(Bengali), Udajatiin Hindi dan Nilambari (Tamil). Tanaman ini adalah tanaman
asli daerah India timur, Afrika dan daerah tropis Asia. Masyarakat lokal telah
menggunakan rebusan E. linneanum untuk menangani penyakit kuning,
menorrhoea, rematik (Chopra et al., 1956) dan memiliki sifat antiinflamasi
(Lalitha dan Sethuraman, 2010). Selain itu, sari akar E. linneanum juga
digunakan sebagai anticacing dan menangani sakit perut premenstruasi
(Sharma dan Sharma, 2010). Namun, belum ada yang meneliti sifat
antimikroba dari ekstak daun dan stem E. linneanum. Sehingga, penelitian ini
bertujuan untuk mengatahui fitokimia dan sifat antibakteri E. linneanum
terhadap bakteri patogen.

METODE PENELITIAN
Bahan
Bahan kimia: semua pelarut etanol, aseton, diklorometan, dan
pertroleum ether dibeli dari Merck, India. Nutrient Broth untuk kultur bakteri
dan medium agar Mueller-Hinton untuk uji antimikroba dibeli dari Hi-Media,
India. Semua bahan kimia digunakan pada penelitian ini adalah tingkat
analitik.
Preparasi Sampel
Pengumpulan dan proses sampel tanaman: daun dan stem E.
linneanum dikumpulkan pada bulan Mei 2010 dari desa Bankura, distrik
Bengal barat, India. Tanaman yang telah dikumpulkan, telah diidentifikasi oleh
Departemen Botani, PSGR Krishnammal College for Women, Coimbotore,
India Selatan. Daun dan stem yang yang dikumpulkan, dicuci dengan tap
water, kemudian dibilas dengan air distilasi sampai tidak ada pengotor (daun
yang rusak dibuang). Bahan tanaman kemudian dikeringkan pada ruang
tertutup (25-28C) selama 10 hari. Kemudian ditumbuk dengan blender listrik
untuk memaksimalkan menjadi bubuk. Bubuk sampel selanjutnya disimpan
dalam wadah tertutup dan terhindar dari sinar matahari.
Preparasi ekstrak: 25 gram bubuk sampel diekstrak dengan beberapa
pelarut berbeda seperti etanol, aseton (80%), diklorometan, dan petroleum
eter yang berdasarkan perbedaan kepolaran dengna aparatus soklet ekstraksi
pada titik didih masing-masing pelarut selama 12-16 jam atau sampi warna
pelarut ekstrak menjadi jernih. Setiap Ekstrak dipekatkan dengan rotary
evaporator, kemudian dituangkan ke dalam vial, selanjutnya dikeringkan
sampai tercapai berat keringnya. Yield dari 100g bubuk sampel dihitung
dengan rumus

Yield produk=

Jumlah Produk yang dihasilkan


100
Jumlah sampel yang diperlukan

Uji Pendahuluan Fitokimia


Analisa Fitokimia: analisa fitokimia ekstrak daun dan stem E. linneanum
diuji dengan metode standar kualitatif yang dijelaskan oleh Harborne dan
Baxter (1995). Senyawa-senyawa tersebut diuji untuk fitokimia alkaloid,
karbohidrat, flavonoid, glikosida, fenol, fitosterol, protein, resin, saponin,
tannin, dan thiol.
Identifikasi Fitokimia
Analisa Kromatografi gas spektroskopi massa: dari smeua ekstrak,
hanya ekstrak etanol daun yang diidentifikasi senyawa kimianya dengan KGSM, di South Indian Textile Association (SITRA), Coimbatore, India Selatan,
4

dengan Termo GC Trace Ultra Version: 5.0, Alat Thermo MS DSQ II dalam
kapiler TR5 Ms standar dengan kolom nonpolar (dimensi: 30 m, ID: 0, 25
mm, film: 0,25 m). kromatogram yang didapat hasil dari GC yang kemudian
dianalisa massa fraksi dari MS. Identifikasi senyawa tersebut kemudian
dilakukan dengan data pencarian perpustakan senyawa tumbuhan.
Analisa FTIR: analisa ekstrak cair daun E. linneanum menggunakan FTIR
Shimadzu-8400s, dari PSG College of Arts and Science, Coimbatore, India
Selatan, dengan pellet KBR. Analisa FTIR dilakukan pada daerah 400 hingga
4000 cm-1. Variasi model vibrasi yang didapat kemudian diidentifikasi untuk
mengetahui gugus fungsi yang terkandung dalam ekstrak.
Preparasi Uji Antibakteri
Bakteri patogen dan kondisi pertumbuhannya: bakteri patogen
Staphylococcus aureus, Enterococcus faecalis, Escherichia coli, Klebsiella
pneumonia, dan Pseudomonas aeruginosa dikultur di Laboratorium
Mikrobiologi, Kovai Medical Centre dan Hospital Coimbatoer, India. Galur
bakteri-bakteri tersebut dijaga dalam media nutrient agar miring pada 4 C.
Preparasi inokulasi: stok kultur bakteri dijaga dalam media nutrient
agar miring pada 4C. Kultur bakteri untuk penelitian dipindahkan ke tabung
reaksi yang berisi Mueller-Hinton Broth (MHB) dengan jarum ose, dan
diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37 C tanpa pengadukan. Selanjutnya
kultur sel diencerkan dnegan MHB baru sampai mencapai densitas optis 0,5
atau sekitar 105-106 CFU/mL dengan standar McFarland.
Uji Bakteri
Metode difusi agar well: cawan petri berisi agar Mueller-Hinton
digoreskan pada 3 bagian dengan cotton swab, yang telah dicelupkan ke
dalam kultur sel yang telah diencerkan sebelumnya. Selanjutnya dibuat 6
lubang pada agar dan diisi dengan ekstrak daun dan stem dengan
konsentrasi yang berbeda (50, 100, 150, 200 dan 250 mg/mL), kemudian
didiamkan selamat 1 jam untuk proses perfusi ekstrak (Esimone et al., 1998)
dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 30 C. Setelah inkubasi, cawan petri
diamati pada setiap lubang terhadap kemampuan antibakterinya dan diukur
diameter dalam millimeter daerah inhibisi setiap ekstrak. Pelarut digunakan
sebagai kontrol negative sedangkan antibiotik seperti kanamycin (30 g),
norfloxacin (10 g) dan ciprofloxacin (5 g) digunakan sebagai kontrol positif.
Analisa statistik: kemampuan antimikroba ditentukan
pengukuran diameter daerah inhibisi, yaitu triplicates SD

melalui

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Berdarsakan penelitian didapati yield ekstrak antara daun dan stem
berbeda, begitu juga pada hasil untuk setiap pelarut yang digunakan (Tabel
1). Diantara ekstrak-esktrak tersebut, didapati yield yang tertinggi adalah
ekstrak etanol daun E. linneanum (5,5 g/100 g), sedangkan yield paling kecil
adalah ekstrak eter stem (0,7 g/100 g).
Tabel 1. Yield Ekstrak Tanaman E. linneanum pada berbagai pelarut.
Pelarut yang
digunakan
Etanol
Aseton (80 %)

% Yield dari plant powder (g)


Daun
Stem
5,5
2,0
4,0
3,5

Diklorometan
Petroluem eter

2,9
1,4

0,9
0,7

Uji pendahuluan fitokimia menunjukkan adanya alkaloid, karbohidrat,


flavonoid, glikosida, fenol, fitosterol, protein, resin, saponin, tannin, dan thiols
pada ekstrak tanaman E. linneanum (Tabel 2). Semua fitokimia ada dalam
ekstrak air daun namun ekstrak air stem tidak mengandung fenol, fitosterol
dan resin. Pada ekstrak aseton stem E. linneanum terdapat semua fitokimia,
namun pada ekstrak etanolnya tidak mengandung flavonoid, glikosida, dan
saponin. Disisi lain, pada daun E. linneanum terkandung semua fitokimia pada
ekstrak etanol dan aseton, namun pada ekstrak petroleum eter daun hanya
mengandung flavonoid dan glikosida.
Tabel 2. Fitokimia Ekstrak Daun dan Stem E. linneanum
Senyawa

Etano
l
+

Ektrak Daun
Aseto
DCM
Eter
n
+
+
-

Air

Etano
l
+

Ektrak Stem
Aseto
DCM Eter
n
+
+
-

Alkaloid
+
Karbohidra
+
+
+
+
+
t
Flavonoid
+
+
+
+
+
+
+
Glikosida
+
+
+
+
+
+
+
Fenol
+
+
+
+
+
Fitosterol
+
+
+
+
+
+
Protein
+
+
+
+
+
+
Resin
+
+
+
+
+
Saponin
+
+
+
+
Tanin
+
+
+
+
+
thiol
+
+
+
+
+
+
+
Keterangan: + terdapat fitokonstituen; - tidak terdapat fitokonstituen

Air
+

+
+
+
-

+
+
+
+
+
+

Ekstrak etanol daun diuji dengan GC-MS karena pada uji pendahuluan
fitokimia menunjukkan semua fitokimia (Gambar 1). Senyawa yang mungkin
6

terkandung (Tabel 3) pada ekstrak daun dicocokkan dengan massa dan waktu
retensi setiap fraksi dari kolom di Perpustakaan senyawa tumbuhan.
Tabel 3. Daftar Senyawa Fitokimia yang Diidentifikasi Spektra GC-MS

Gambar 1. Kromatogram GC-MS Ekstrak Etanol Daun E. linneanum


Nama senyawa yang
mungkin

Rumus
Molekul

Berat
Molekul

Waktu
Retensi
(menit)

Area (%)

(R)-4-( 1',1'Dimethylethyl)1,3,2-dioxathiolane2-one

C6H12O3S

164

15.74

8.44

Neophytadiene

C20H38

278

20.23

6.11

3,5-Dioxohexanoic
acid

C6H 8O 4

144

23.20

7.6

3-Chloromethylfuran

C5H5ClO

116

25.26

6.22

9,12,15Octadecatrienoic
acid, me- thyl ester,
(Z,Z,Z)- (CAS)

C19H32O2

292

26.29

10.11

C10H16

136

33.86

7.49

1-(Cyclohexan-1yl)but-3- ene

Struktur Senyawa yang


mungkin

Gugus fungsi senyawa yang terkandung dalam ekstrak air daun


diidentifikasi dengan spektra FTIR. Puncak-puncak mayor pada spektrum FTIR
ekstrak air E. linneanum (Gambar 2) adalah 601, 1049, 1388, 1620, 2924,
3356 cm-1 dan puncak-puncak minor pada 3796, 2283, 1226, 902 cm -1.
Spektrum FTIR menunjukkan ciri khas tertentu pada pita finger print. Adsorpsi
paling kuat terjadi pada 3356 cm-1 yang menunjukkan vibrasi regangan O-H
7

dan N-H amina primer (Silverstein et al., 1981). Spektrum juga menunjukkan
adanya serapan pada
2924 cm-1, serapan tersebut merupakan vibrasi
regangan gugus CH2 hibridisasi sp3 (Kukherjee et al., 2008) dan adsorpsi luas
sekitar 1620 cm-1 dihasilkan dari vibrasi regangan -CC- (Huang et al., 2007).
Serapan pada 1388 cm-1 menunjukkan perubahan CH3 sebagai metil germinal
(Shankar et al., 2004) dan pada 1226 cm -1 kemungkinan adalah gugus C-O
dari polyol seperti hidroksiflavon dan katekhin (Jain et al., 2009). Adsorpsi
pada 1049 cm-1 menunjukkan ikatan eter atau C-O-C- atau C-O-, sedikit
melebarnya pada puncak tersebut dapat disebabkan oleh gugus C-O- polyols
seperti flavon, terpenoid, dan polisakarida yang ada dalam biomassa (Huang
et al., 2007). Adanya absorbansi pada puncak antara 941-803 cm -1
menunjukkan deformasi C-H planar.

Kemampuan antibakteri ekstrak daun dan stem diukur berdasarkan

Gambar 2. Kromatogram FTIR Ekstrak Etanol Daun E. linneanum

daerah inhibisinya. Berdasarkan Panduan uji klinis dan laboratorium institus


(2006), pada pengujian antibakteri harus memiliki patoggen yang resistan
terhadap tiga antibiotic (kontrol positif). Esktrak-ekstrak daun dan stem E.
linneanum menunjukkan kemampuan antibakteri yang berbeda-beda
terhadap bakteri patogen (Tabel 4). Hal tersebut juga terjadi pada daerah
inhibisi antibiotik yang digunakan sebagai kontrol positif. Pada tabel terlihat
bahwa ekstrak daun mempunyai kemampuan inhibisi yang baik untuk setiap
konsentrasinya, bahkan pada bakteri S. aureus dan E. faecalis diinhibisi
dengan konsentrasi yang rendah (50 mg/mL), kecuali pada ekstrak petroleum
eter, dimana kemampuan inhibisi hanya pada konsentrasi 100mg/mL.
Kemampuan inhibisi ini juga dijumpai pada ekstrak stem, dimana ekstrak
etanol stem dapat menginhibi bakteri patogen pada konsentrasi yang rendah.
Sedangkan ekstrak lain memiliki kemampuan menginhibisi bakateri patogen
yang bervariasi. Namun, pada bakteri K. pneumoniae pertumbuhannya tidak
dapat diinhibisi walaupun dengan konsentrasi ekstrak diklorometan dan
8

petroleum eter yang tinggi (250 mg/mL). Pada ektrak methanol daun
dibandingkan dengan ekstrak metanol stem, diketahui bahwa kemampuan
ektrak daun lebih baik untuk menginbisi bakteri S.aureus, P. aeruginosa dan
E. coli, sedangkan ekstrak stem lebih baik untuk menginhibisi E. faecalis dan
K. pneumoniae dengan daerah inhibisi sebesar 24,45 0,38 mm dan 18,38
0,23 mm. Diantara ekstrak-ekstrak tersebut, ekstak etanol dan diklorometan
daun dan ektrak etanol stem memiliki kemampuan inhibisi bakteri yang lebih
baik pada 250 mg/mL dibanding antibiotic standar. Sehingga berdasarkan
penelitian diketahui bahwa eksktrak daun dan stem memiliki kemampuan
yang bervariasi terhadap mikroorganisme patogen.
Tabel 4. Kemampuan Antibakteri Ekstrak Daun dan Stem E. linneanum
Ekstrak

Konsentrasi
(mg/mL)
50

Ekstrak
Etanol Daun

Ekstrak
Aseton Daun

Ekstrak
Diklorometan Daun

S. aureus

P. aeruginosa

E. coli

8.12 0.60 10.82 0.30 9.51 0.50

100

10.23 0.30 13.56 0.60

150

13.82 0.60 15.34 0.30

200

16.45 0.40 16.29 0.40

250

19.24 0.20 20.76 0.30

50

8.24 0.31

100

11.37 0.23

150

14.21 0.34

200

17.46 0.57 9.25 0.36

250

20.21 0.35 12.92 0.27

50

7.26 0.18 10.27 0.49

100

9.31 0.12 12.55 0.10

150

11.28 0.74 15.25 0.21

200

14.35 0.25 18.48 0.91

250

16.67 0.37 21.59 0.61

50
Ekstrak
Petroleum
Eter Daun

Daerah Inhibisi (mm)

6.22 0.51

11.28
0.40
13.37
0.60
16.19
0.40
19.21
0.60
-

E. faecalis
12.61
0.50
14.47
0.30
17.48
0.20
19.36
0.60
21.33
0.30
8.45 0.15

10.24
0.41
7.38 0.21 13.10
0.32
10.10
17.29
0.17
0.24
13.31
22.21
0.56
0.36
10.22 9.71 0.24
0.26
12.49
11.21
0.41
0.67
15.31
13.37
0.22
0.89
17.33
16.48
0.67
0.28
19.66
18.27
0.28
0.43
-

K.
pneumoniae
7.34 0.40
10.5 0.30
12.76 0.20
15.34 0.40
17.32 0.30
7.26 0.16
8.31 0.24
11.24 0.27
6.45 0.27
8.37 0.16
10.78 0.24
12.55 0.78
15.24 0.32
-

100

6.17 0.31 7.33 0.51 6.26 0.61 6.31 0.56

150

7.27 0.67 9.47 0.42 8.36 0.25 8.22 0.35 6.34 0.55

200

10.35 0.34 13.54 0.61

250

12.71 0.27 15.25 0.39

10.25
0.37
13.28
0.24

9.23 0.39 8.31 0.62


10.55
0.23

10.42 0.24

Tabel 4. Kemampuan Antibakteri Ekstrak Daun dan Stem E. linneanum (Lanjutan)

Ekstrak

Daerah Inhibisi (mm)

Konsentrasi
(mg/mL)

Ekstrak
Etanol Daun

Ekstrak
Aseton Daun

Ekstrrak
Diklorometan
Stem

Esktrak
Petroleum
Eter Stem

S. aureus

P. aeruginosa

E. coli

10.31
0.41
12.50
0.54
15.37
0.60
18.98
0.40
24.45
0.38
6.47 0.63

7.21 0.36 8.69 0.50

50

7.23 0.57 10.39 0.73 7.66 0.60

100

9.07 0.38 12.71 0.21 9.15 0.61

50

10.28
0.74
14.89
0.32
17.23
0.52
-

100

150

200

250

50

6.51 0.27

10.45
0.37
12.34
0.61
-

100

7.63 0.33

150

11.85 0.22 15.56 0.43

200

15.78 0.37 17.11 0.48

250

18.11 0.23 19.27 0.52

E. faecalis K. pneumoniae
7.35 0.11
10.15 0.25
13.25 0.69
16.42 0.67
18.38 0.23
-

11.85
6.49 0.12
0.46
14.10
8.15 0.56
0.52
6.56 0.28
8.24 0.45

150

7.00 0.37 9.12 0.38 6.75 0.52 9.87 0.21

200

8.00 0.54 10.74 0.36 7.26 0.39

250

10.00 0.39 12.19 0.87 9.18 0.24

50

11.52
0.60
13.33
0.42
-

100

150

6.58 0.34

6.68 0.45

200

7.41 0.12

7.21 0.22

8.12 0.45 8.33 0.23 7.10 0.51 9.33 0.25

250

- tidak ada daerah inhibisi; Nilai adalah rerata SD dari 3 kali pengukuran

Tabel 5. Kemampuan Antibakteri Antibiotik Standar


Daerah Inhibisi (mm)
Mikroorganisme Kanamycin Norfloxacin
(30 g)
(10 g)
S. aureus

Ciprofloxacin
(5 g)

10

12

P. aeruginosa

10

10

14

E. coli

10

14

18

E. faecalis

11

10

14

K. pneumonia

12

16

18

Pembahasan
10

Diantara pelarut-pelarut yang digunakan, yield ekstrak daun dan stem


lebih banyak didapat saat menggunakan etanol sebagai pelarutnya,
sedangkan aseton hanya menghasilkan yield ekstrak yang banyak pada stem.
Disisi lain, terdapat penurunan jumlah yield dengan kepolaran pelarut yang
digunakan. Perbedaan yield ekstrak yang dihasilkan dari bahan alam dapat
dipengaruhi perbedaan kemampuan distribusi senyawa bahan alam (Hsu et
al., 2006). Jumlah senyawa antioksidan yang dapat diektraksi dari bahan alam
dipengaruhi oleh pelarut yang digunakan untuk ekstraksi, dimana setiap
sampel bervariasi. Uji fitokimia tanaman dapat digunakan sebagai informasi
pendahulu terhadap komponen yang terkandung pada tanaman tersebut.
Berdasarkan uji Ekstrak air E. linneanum memiliki semua kandungan
fitokimia. Hal ini menjelaskan bahwa ekstraksi fitokimia secara bertahap
berkurang seiring dengan kepolaran pelarut yang digunakan. Analisis awal
fitokimia dengan GC-MS pada ektrak air dan etanol pada daun dan stem
menunjukkan kandungan terbanyak adalah fenol, alkaloid, terpenoid, amina,
asam, eter, dan lainnya. Sedangkan pada analisis FTIR menunjukkan
terkandung banyak senyawa fenol, polyol, amina, aldehid, keton, eter,
alkaloid, flavon, terpenoid, protein, dan polisakarida. Sehingga analisa hasil
uji pendahuluan fitokimia dengan reaksi pembentukan warna diperkuat
dengan adanya data dari GC-MS dan spektrokopi FTIR.
Baik daun dan stem tanaman yang digunakan pada penelitian ini telah
digunakan secara tradisional untuk menyembuhkan beberapa macam
penyakit, termasuk yang disebabkan oleh mikroorganisme. Ekstrak etanol
dan aseton daun serta ekstrak etanol stem diketahui mempunyai kemampuan
antibakteri yang tinggi terhadap bakteri patogen dan mempunyai
kemampuan inhibisi lebih baik dibanding antibiotic. Beberapa senyawa
fitokimia seperti glikosida, saponin, tanin, flavonoid, terpenoid, dan alkaloid
telah dilaporkan memiliki kemampuan antibakteri yang baik (Okeke et al.,
2009). E. linneanum juga memiliki senyawa alkaloid yang juga memiliki
kemampuan biokativitas. Pada penelitian ini, beberapa bakteri patogen tidak
diinhibisi, sedangkan beberapa ektrak menunjukkan kemampuan yang
bervariasi. Hal ini dikarenakan pengaruh senyawa inhibitor yang terkandung
ataupun pengaruh ekstrak yang bervariasi akibat perbedaan kepolaran
pelarut. Hasil dari penelitian ini dapat digunakan untuk mencari alternatif dari
antibiotik yang telah lama digunakan pada penangan infeksi, terutama pada
infeksi yang mulai resistan pada antibiotik yang sekarang (Singleton, 1999).
Berdasarkan pertimbangan keragaman tumbuhan, diharapkan untuk menguji
fitokimia dari ekstrak tanaman dan mengevaluasi kemampuan antimikroba.
Singkatnya, penelitian mengenai ektrak daun dan stem E. linneanum ini
menunjukkan kemampuan antimikroba terhadap bakteri patogen dan
menyediakan kesempatan yang cukup untuk merancang obat dari tanaman
berdasarkan kajian fitokimia. Penggunaan tanaman ini dalam penanganan
bakteri patogen sangat memungkinkan, karena ramah lingkungan serta
memiliki efek samping yang sedikit.

11

12

KESIMPULAN

Analisis awal fitokimia dengan GC-MS pada ektrak air dan etanol pada
daun dan stem menunjukkan kandungan terbanyak adalah fenol, alkaloid,
terpenoid, amina, asam, eter, dan lainnya. Sedangkan pada analisis FTIR
menunjukkan terkandung banyak senyawa fenol, polyol, amina, aldehid,
keton, eter, alkaloid, flavon, terpenoid, protein, dan polisakarida.
Bakteri-bakteri patogen dengan baik diinhibisi oleh ekstrak daun,
namun ekstrak aseton dari stem tidak dapat menginhibisi pertumbuhan
bakteri Stapphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa meskipun
dengan konsentrasi yang tinggi. Hasil ini menunjukkan ekstrak daun lebih
efektif dibanding dengan ekstrak stem E. linneanum. Berdasarkan penelitian
ini diketahui E. linneanum mempunyai kemampuan antibakteri terhadap
bakteri patogen yang sering ditemui pada manusia.

13