Anda di halaman 1dari 199

UNIVERSITAS INDONESIA

MODEL PERKASA SEBAGAI MODEL INTERVENSI


PENANGGULANGAN GIZI LEBIH PADA ANAK
USIA SEKOLAH DI KELURAHAN PASIR GUNUNG
SELATAN KECAMATAN CIMANGGIS
KOTA DEPOK

Karya Ilmiah Akhir


Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ners
Spesialis Keperawatan Komunitas

A. SAIFAH
0906594135

PROGRAM STUDI SPESIALIS KEPERAWATAN


KOMUNITAS FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
DEPOK
JUNI, 2012
i

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

iii

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

iv

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
ridha-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Akhir (KIA) ini.
Penulisan KIA ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk
mencapai gelar Spesialis Keperawatan Komunitas pada Program Studi Spesialis
Ilmu Keperawatan Peminatan Komunitas Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Indonesia. Penulis menyadari bahwa dukungan, bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak sangat berarti bagi peneliti dalam menyelesaikan KIA ini. Oleh
karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dewi Irawati, M.A, Ph.D, selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia.
2. Dra. Junaiti Sahar, Ph.D, selaku Wakil Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia yang telah banyak memberi bimbingan, arahan,
masukan dan motivasi yang sangat berharga kepada penulis selama praktek
residensi.
3. Astuti Yuni Nursasi, S.Kp.,MN selaku Ketua Program Pasca Sarjana Fakultas
Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
4. Sigit Mulyono, MN selaku Pembimbing I KIA dan dosen komunitas yang
memberikan masukan dan arahan dalam perbaikan KIA ini dan proses
praktek residensi.
5. Ns.Henny Permatasari, M.Kep.Sp.Kom selaku Pembimbing II yang banyak
memberi masukan dalam perbaikan KIA dan selalu memberi support pada
penulis
6. Semua supervisor praktek residensi yang selalu membimbing dan memberi
dukungan moril pada semua mahasiswa residensi
7. Suami tercinta yang selalu memberikan motivasi dan dukungan yang luar
biasa, ibunda tercinta, saudara di Makassar dan di Palu yang selalu
mendoakan sehingga selalu diberi ketabahan dan kekuatan.

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

8. Keluarga besar Magister Keperawatan Komunitas angkatan 2009 yang selalu


menemani dalam suka dan duka dan penuh kasih sayang memberikan
pembelajaran tentang hidup.
9. Direktur Akper Donggala dan teman-teman kantor yang telah banyak
memberi dukungan moril dan materil.
10. Teristimewa Kepala SDN Pasir gunung Selatan 3, Dewan Guru, Peer
Edukator dan siswa-siswi SDN Pasir Gunug selatan 3 di Kelurahan Pasir
gunung Selatan Kecamatan Cimanggis Kota Depok tempat praktek residensi.
11. Kepala Puskesmas Pasir Gunung Selatan dan staff yang banyak membantu
dalam kegiatan praktek residensi
12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang senantiasa
memberikan dukungan demi terselesaikannya KIA ini.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan KIA ini. Oleh
karena itu segala kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan penulis
demi kesempurnaan

KIA ini. Semoga KIA ini dapat bermanfaat demi

pengembangan keilmuan keperawatan terkait dengan peranan perawat komunitas


di masyarakat khususnya pada aggregat anak usia sekolah.

Depok, Juni 2012

Penulis

vi

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Karya Ilmiah Akhir, Juni 2012


Nama
: A. Saifah
Program Studi : Program Spesialis Keperawatan Komunitas
Judul
: Model PERKASA sebagai Model Intervensi Penanggulangan Gizi
Lebih Pada Anak Usia Sekolah di Kelurahan Pasir Gunung
Selatan Kecamatan Cimanggis Kota Depok
ABSTRAK
Perilaku makan kurang sehat dan rendahnya aktivitas fisik merupakan penyebab
umum gizi lebih pada anak usia sekolah (AUS). Model peer, guru, keluarga,
perilaku makan sehat, dan aktivitas fisik (PERKASA) merupakan model inovasi
keperawatan dalam penanggulangan gizi lebih pada AUS. Integrasi model
PRECEEDE PROCEED, Comprehensive School Health dan Family Center
Nursing menjadi pedoman pengelolaan pelayanan keperawatan, asuhan
keperawatan komunitas pada agregat dan keluarga dengan gizi lebih pada AUS.
Integrasi ketiga model tersebut juga mendasari penerapan model PERKASA.
Hasil implementasi menunjukkan peran peer edukator paling bermakna dalam
menurunkan status gizi lebih (<). Model ini disarankan diterapkan pada tatanan
sekolah di Indonesia.
: peer, guru, keluarga, perilaku makan, aktivitas fisik, gizi lebih,
anak usia sekolah
Daftar Pustaka : 88 (1988-2011)

Kata kunci

Name
: A. Saifah
Study Program : Community Health Nursing Specialist
Title
: Model PERKASA as an intervention model of over nutrition
at school-age children at Kelurahan Pasir Gunung Selatan,
Kecamatan Cimanggis, Kota Depok
ABSTRACT
Unhealthy eating behaviors and lack of physical activity are causes of over
nutrition in school-age children. Model of peer, teacher, family, healthy eating
behaviors and physical activity (PERKASA) is a nursing innovative to manage
over nutrition in school-age children. The PRECEEDE PROCEED Model,
Comprehensive School Health and Family Center Nursing were integrated to
guide the management of nursing services, community nursing care and families
with over nutrition in school-age children. It was also applied on PERKASA
model. The results showed that role of peer educators significantly decrease over
nutritional status. It is suggested to apply PERKASA model at schools.
Key words
Bibliography

: peer, teacher, family, eating behavior, physical activity, over


nutrition, school-age children
: 88 (1988-2011)
viii

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

DAFTAR ISI
Halaman Judul.................................
Pernyataan Orisinalitas............................................................................
Lembar persetujuan.................................................................................
Halaman Pengesahan...............................................................................
Kata Pengantar ...........................................................................................
Pernyataan Persetujuan Publikasi..............................................................
Abstrak .....................................................................................................
Daftar Isi....................................................................................................
Daftar Tabel.............................................................................................
Daftar Skema..............................................................................................
Daftar Singkatan .....................................................................................
Daftar Lampiran .....................................................................................

i
ii
iii
iv
v
vi
viii
ix
xi
xii
xiii
xiv

BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................. 1


1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Tujuan Penulisan ........................................................................................11
1.3 Manfaat ......................................................................................................12
BAB 2 TINJAUAN TEORI ...........................................................................12
2.1 Anak Usia Sekolah Dengan Gizi Lebih Sebagai Kelompok Rentan ............13
2.1.1 Anak Usia Sekolah Sebagai at Risk ...........................................................13
2.1.2 Gizi Lebih Sebagai Kelompok Rentan.......................................................15
2.1.3 Konsep Gizi Lebih ...................................................................................18
2.2 Strategi Intervensi Asuhan Keperawatan Komunitas ..................................22
2.2.1 Pendidikan Kesehatan ...............................................................................22
2.2.2 Proses Kelompok ......................................................................................28
2.2.3 Pemberdayaan...........................................................................................27
2.3 Peran dan Fungsi Perawat Komunitas ..........................................................30
2.4 Model Intervensi Keperwatan Komunitas Pada Anak Usia Sekolah ............
dengan gizi lebih .............................................................................................31
2.4.1 Teori Manajemen Keperawatan.................................................................31
2.4.2 Teori Model PRECEDE PROCEED..........................................................36
2.4.3 Model Comprehensive School Health........................................................45
2.4.4 Model Family Centered Nursing ...............................................................49
BAB 3 KERANGKA KERJA DAN PROFIL WILAYAH ............................54
3.1 Kerangka Kerja Praktik Keperawatan Komunitas .......................................55
3.2 Profil Wilayah..............................................................................................56
BAB 4 PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK USIA
SEKOLAH DENGAN GIZI LEBIH ..............................................................58
4.1 Pengelolaan Manajemen Pelayanan Kesehatan Komunitas ..........................58
4.1.1 Analisis Situasi .........................................................................................58
4.1.2 FishBone Analysis.....................................................................................64
ix

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

4.1.3 Penapisan Masalah ...................................................................................65


4.1.4 Prioritas Masalah ......................................................................................65
4.1.5 Penyelesaian Masalah Pengelolalaan Pelayanan Keperawatan..................65
4.2 Asuhan Keperawatan Komunitas..................................................................74
4.3 Asuhan Keperwatan Keluarga .....................................................................81
BAB 5 PEMBAHASAN ..................................................................................88
5.1 Pengelolaan Manajemen Pelayanan Kesehatan Komunitas ..........................88
5.2 Asuhan Keperawatan Komunitas .................................................................93
5.3 Asuhan Keperawatan Keluarga ...................................................................99
5.4 Keterbatasan ............................................................................................. 101
5.5Implikasi Keperawatan ......................................................................
103
BAB 6 SIMPULAN DAN SARAN.........................................................
6.1 Simpulan .............................................................................................
6.2 Saran ................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

105
105
105

DAFTAR TABEL
Tabel 4.1

Resume Tingkat Kemandirian Keluarga Binaan

xi

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

DAFTAR SKEMA
Skema 2.1 Kerangka Kerja Model Perkasa
Skema 3.1 Kerangka Kerja Penyelesaian Masalah Gizi Lebih pada AUS
Skema 4.1 Analisis FishBone
Skema 4.2 WOC Asuhan Keperawatan Komunitas
Skema 4.3 Pohon Masalah Asuhan Keperawatan Keluarga

xii

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

DAFTAR SINGKATAN
AUS

= Anak usia sekolah

BB

= Berat Badan

CDC

= Center for Disease Control and Prevention

CSC

= Club Senam Ceria

CSH

= Comprehensive School Health

FCN

= Family Center Nursing

GERSABUH = Gerakan makan sayur dan buah


IMT

= Indeks Massa Tubuh

KMS-AS

= Kartu Menuju Sehat Anak Sekolah

KM

= Kemandirian Keluarga

PGS

= Pasir Gunung Selatan

PERKASA

= Peer, Guru, Keluarga, Makan yang Sehat, Aktivitas Fisik

Riskesdas

= Riset Kesehatan Dasar

SD

= Standar Deviasi

SDN

= Sekolah Dasar Negeri

TB

= Tinggi Badan

WHO

= World Health Organisation

xiii

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1

Penapisan Masalah Manajemen

Lampiran 2

Materi Pelatihan Peer Edukator (PE)

Lampiran 3

Format Penilaian Penyuluhan PE

Lampiran 4

Format Penilaian Instruktur CSC

Lampiran 5

Format penilaian PE monitoring perilaku makan

Lampiran 6

Format penilaian PE cara menimbang berat badan

Lampiran 7

Format penilaian PE cara mengukur tinggi badan

Lampiran 8

Format rekapitulasi penilaian tugas PE

Lampiran 9

MOU Pendidikan Gizi

Lampiran 10

Instrumen Pengkajian Komunitas (AUS & Keluarga)

Lampiran 11

Rencana Asuhan Keperawatan Komunitas

Lampiran 12

Jadwal kegiatan PE

Lampiran 13

Soal Pre dan Post kegiatan Peer Group

Lampiran 14

Format penilaian hasil kegiatan Peer group

Lampiran 15

Format Food Recall

Lampiran 16

Format Aktivitas Fisik

Lampiran 17

Status Gizi Pre dan Post Intervensi

Lampiran 18

Penapisan Masalah Keluarga

Lampiran 19

Rencana Asuhan Keperwatan Keluarga

Lampiran 20

Buku Rujukan Keluarga Binaan

Lampiran 21

Indikator Evaluasi Pelaksanaan Model PERKASA

Lampiran 22

Kontrak Belajar

Lampiran 23

Daftar Riwayat Hidup

xiv

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

xv

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pembangunan Nasional bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Anak usia sekolah (AUS) merupakan salah satu sumber daya manusia yang
diharapkan tumbuh dan berkembang secara harmonis dan optimal menjadi sumber
daya manusia yang berkualitas. Anak usia sekolah merupakan generasi penerus
dan aset bangsa. Anak yang berusia 5-19 tahun diperkirakan sepertiga jumlah
penduduk Indonesia (Depkes, 2007), masih dalam tahap tumbuh kembang.
Anak usia sekolah dalam tahap tumbuh kembang berisiko terhadap berbagai
masalah kesehatan, antara lain masalah gizi. Allender dan Spradley (2005)
menjelaskan bahwa salah satu masalah kesehatan pada AUS adalah gizi lebih.
Karakteristik AUS yang mendukung terjadi gizi lebih adalah pemilihan makanan
tidak tepat seperti kecenderungan pola makanan yang mengandung tinggi lemak
dan gula, kurang mengkonsumsi buah-buahan (Maurer & Smith, 2005); tidak suka
mengkonsumsi sayur (Muscary, 2001); peningkatan mengkonsumsi sofdrink dan
makanan ringan yang tidak sehat (Edelman & Mandle, 2010) dan kecenderungan
jajan meningkat (Stanhope & Lancaster, 2004).
Anak usia sekolah yang mengalami gizi lebih termasuk populasi rentan
(vulnerable population). Populasi rentan adalah orang-orang yang mempunyai
peluang lebih tinggi sakit dan berkembangnya masalah kesehatan, lebih sensitif
terhadap faktor risiko, mempunyai masalah kesehatan lebih buruk dibanding
orang lain (Stanhope & Lancaster, 2004). Gizi lebih merupakan faktor risiko
utama berkembangnya penyakit diabetes tipe 2, hyperlipidemia, hipertemsi dan
penyakit jantung (Lau et al, 2007 dalam Edelman & Mandle, 2010). Obesitas
dianggap sebagai faktor yang meningkatkan risiko kematian untuk semua
penyebab kematian (Hadi, 2005). Anak yang kegemukan dapat menimbulkan efek
psikologis yaitu gangguan body image sehingga berlajut menjadi harga diri sangat
rendah dan depresi (Nies & McEwen, 2007). Prestasi akademik AUS yang buruk
juga berkorelasi dengan overweight dan obesitas (Tarras & Potts-Datema, 2005
1
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

dalam Allender, Rector & Wagner, 2010). Kesimpulan tentang gizi lebih dapat
menimbulkan berbagai penyakit dan prestasi akademik kurang baik, juga akan
berdampak langsung terhadap pembiayaan perawatan akibat gizi lebih.
Penurunan prevalensi atau pencegahan gizi lebih juga dapat mengurangi biaya
perawatan. Amerika Serikat yang fokus terhadap penanganan gizi lebih
mengeluarkan biaya untuk anak dan dewasa tahun 2000 diperkirakan sebesar
US$117 milyar, US$61 milyar untuk pengobatan langsung. Laporan tahunan
Departemen Kebijakan Kesehatan AS tahun 2010 tentang biaya pengobatan
individu yang mengalami obesitas sebesar US$150,8-168,9 milyar

dan

overweight sebesar US$45,5-48,1 milyar (Dor et al, 2010). Biaya penanganan


gizi lebih cukup tinggi dibanding biaya gizi kurang sebesar US$11,8 milyar dari
Bank Dunia tahun 2007 kemudian meningkat pada tahun 2010 sebesar US$20
milyar untuk keamanan pangan (Horton et al, 2010). Kecenderungan berbagai
dampak negatif akibat gizi lebih pada AUS dan biaya perawatan yang tinggi
sehingga perlu dilakukan pencegahan sedini mungkin.
Gizi lebih pada anak usia sekolah merupakan masalah kesehatan yang terjadi
hampir di semua negara. WHO (2000) telah mendeklarasikan obesitas sebagai
epidemi global. Berat badan lebih dan obesitas merupakan masalah gizi yang
utama pada anak-anak di Amerika (Edelman & Mandle, 2010). Centers for
Disease Control and Prevention (CDC) tahun 2008 menyatakan bahwa 20% anak
yang berumur 6-11 tahun di Amerika Serikat mengalami overweight dan > 40%
obesitas (CDC, 2010). WHO juga menemukan di Qatar sebanyak 23% anak
mengalami obesitas dan 16% yang mengalami overweight (Naqeeb, 2010 dalam
Gangal, 2009). Gizi lebih juga menjadi ancaman pada anak Indonesia (Kemenkes,
2011).
Peningkatan prevalensi gizi lebih atau berat badan lebih di Indonesia menjadi
fenomena akhir-akhir ini, meskipun gizi kurang juga banyak terjadi pada AUS.
Hasil temuan Departemen Kesehatan tahun 2006 yaitu prevalensi kegemukan
pada AUS di Indonesia mencapai 10% (Depkes, 2006). Gizi lebih mengalami
peningkatan lebih dari 50% pada tahun 2007 menurut hasil riset kesehatan dasar
(Riskesdas) yaitu sebesar 15,9%.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Gizi lebih pada anak SD cukup tinggi di beberapa kota besar seperti 9,7% di
Yogyakarta (Hadi, 2005 dalam Ismail, 1999); 15,8% di Denpasar (Hadi, 2005
dalam Padmiari dan Hadi, 2002). Miharja (2008) melakukan survey pada 1387
anak SD di Jakarta, ditemukan 13% mengalami gizi lebih. Gizi lebih yang terjadi
di Kota Depok tahun 2010 lebih banyak (5,63%) dari gizi kurang (3,21%),
meskipun persentase gizi lebih masih dibawah dari Yogyakarta, Bali dan Jakarta.
Penelitian Saifah (2011) juga menemukan kasus gizi kurang lebih sedikit dari gizi
lebih yaitu 174 siswa yang diperoleh secara acak pada lima SD di wilayah kerja
Puskesmas Mabelopura Kota Palu ditemukan 29,9% gizi lebih dan 2,9% gizi
kurang. Data tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi beban ganda masalah gizi
yaitu gizi kurang masih banyak dan gizi lebih mengalami peningkatan. Gizi lebih
terjadi akibat ketidakseimbangan asupan yang berlebihan dan aktivitas yang
kurang.
Gizi lebih merupakan salah satu dampak kebiasaan makan kurang sehat.
Penyebab epidemi gizi lebih khusus obesitas pada anak antara lain karena
kebiasaan makan yang kurang sehat (Nutrition center, 2011). Makan secara
berlebihan dan dan pemilihan makanan tidak tepat merupakan kebiasaan atau
perilaku makan kurang sehat pada AUS dengan gizi lebih (Allender & Spradley,
2005), termasuk mengkonsumsi makanan tinggi lemak, manis dan minuman
berkarbonat yang lebih banyak tetapi kurang mengkonsumsi buah-buahan dan
sayuran (Cook & Tucker, 2002 dalam Edelman & Mandle, 2005).
CDC (2001) melakukan survey pada AUS gizi lebih ditemukan 79% tidak
mengkonsumsi sayur dan buah sebanyak lima porsi sehari (Allender & Spradley,
2005). Saifah (2011) memperoleh fakta bahwa dari 52 AUS yang mengalami gizi
lebih, 65,39% diantaranya tidak makan buah secara rutin, 28,85% tidak makan
sayur secara rutin, dan 59,62% mempunyai kebiasaan jajan makanan berenergi
tinggi. Aktivitas fisik juga mempengaruhi terjadi gizi lebih, selain perilaku makan
yang tidak sehat.
Gizi lebih atau kegemukan dapat diakibatkan aktivitas fisik yang kurang.
Penyebab epidemi obesitas pada anak karena kurang beraktivitas fisik (Nutrition
center, 2011). Pola aktivitas fisik merupakan bukti kuat menjadi etiologi gizi lebih
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

pada anak di beberapa negara dengan kultur yang berbeda (Jansen et al, 2004).
Aktivitas fisik yang kurang pada anak usia sekolah dapat menyebabkan
overweight dan pada akhirnya menjadi obesitas (Edelman & Mandle, 2010).
Perilaku leissure (santai) dan sedantary (kegiatan kurang gerak) merupakan salah
satu penyebab kegemukan pada anak (Kurniasih dkk, 2011; Sulistyoningsih,
2011). Aktivitas fisik dan latihan fisik yang teratur dapat mengurangi lemak tubuh
atau kegemukan (Pender, Murdaugh, & Parsons, 2006).
Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara aktivitas fisik yang
kurang dengan kejadian obesitas pada anak (Dencker et al, 2006). Pemberian
aktivitas fisik (olah raga dan permainan skipping dan dance) secara teratur yaitu
tiga kali pada jam sekolah dan dua kali diluar jam sekolah dapat mengurangi
prevalensi overweight pada kelompok intervensi anak 6-12 tahun. Penelitian
Foster et al (2008) menemukan bahwa responden yang melakukan aktivitas fisik
1 jam per hari, nonton TV dan main games 2 jam per hari dapat menurunkan
50% insidens overweight pada kelompok intervensi (kelas 4-6) setelah dua tahun.
Hasil temuan tentang kejadian gizi lebih merupakan akibat perilaku makan tidak
sehat dan aktivitas fisik yang kurang, oleh karena itu perlu upaya perbaikan
perilaku gizi dan meningkatkan aktivitas fisik AUS sehingga dapat mengurangi
prevalensi serta mencegah komplikasi gizi lebih.
Upaya penanggulangan gizi lebih AUS difokuskan pada upaya promotif dan
preventif dalam meningkatkan perilaku makan yang sehat dan mengurangi
aktivitas santai melalui pendekatan sekolah. Dua pertiga anak usia sekolah adalah
anak sekolah yang separuh waktu berada di sekolah sehingga promosi kesehatan
baik dilaksanakan di sekolah (Depkes, 2007). Upaya di sekolah seperti pendidikan
gizi yang terintegrasi kedalam kurikulum. Pendidikan gizi masuk kedalam
kurikulum sekolah merupakan salah satu strategi gizi tahun 2010-2019 (WHO,
2009). CDC (2010) menyatakan bahwa sekolah berperan penting dalam
memperbaiki perilaku makan dan aktivitas fisik anak usia sekolah dalam
mencegah atau menurunkan prevalensi overweight atau obesitas.
Hasil penelitian telah membuktikan tentang efektifitas pendidikan gizi dalam
menurunkan angka gizi lebih. Penelitian eksperimen tentang keberhasilan
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

menurunkan obesitas anak usia 5-12 tahun berbasis di sekolah dengan intervensi
pendidikan gizi meliputi modifikasi perilaku, aktivitas fisik penyediaan makanan
dengan melibatkan orangtua terhadap 63 anak sebagai kelompok intervensi dan 14
anak pada kelompok kontrol selama 10 minggu. Hasil penelitian ditemukan 95 %
mengalami penurunan berat badan rata-rata berkurang 4,4 kg pada kelompok
intervensi dan hanya 21% terjadi penurunan berat badan (mean 1,2 kg) pada
kelompok kontrol (Brownel & Kaye, 1982). Dua penelitian lain dengan intervensi
yang sama yaitu pendidikan gizi, modifikasi perilaku dan aktivitas fisik diberikan
selama 5-6 bulan pada anak umur 8-15 tahun. Intervensi tersebut dapat
menurunkan overweight 11% pada kelompok intervensi (n=189) dan 2% pada
kelompok kontrol (n=161) (Seltzer & Mayer, 1970); intervensi selama 9 minggu
terhadap responden jenis kelamin perempuan umur 14 tahun dapat menurunkan
9% overweight pada kelompok intervensi (n=10) dan 1% pada kelompok kontrol
(n=12) (Zakus et al, 1981). Ketiga penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa
semakin banyak jenis intervensi dan semakin lama intervensi diberikan maka
semakin tinggi persentase penurunan kejadian overweight atau obesitas. Peran
guru dan keterlibatan orangtua cukup menentukan keberhasilan intervensi
terhadap penanggulangan gizi lebih melalui pendekatan kesehatan sekolah.
Pendidikan gizi diperlukan di Indonesia untuk menanggulangi gizi lebih yang
mengalami peningkatan kasus.
Penanganan gizi lebih AUS di Indonesia belum menjadi prioritas dalam program
kesehatan masyarakat, masih fokus pada penanganan gizi kurang. Penanganan
gizi lebih masih bersifat umum misalnya promosi kesehatan tentang

gizi

seimbang dan jajanan sehat. Pembiayaan khusus terkait penanganan gizi lebih
belum ada, tetapi pembiayaan gizi kurang pada balita menjadi prioritas
(www.depkes.go.id). Pembiayaan kesehatan ditujukan pada upaya promotif dan
preventif dalam mencegah penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi dan
asam urat pada golongan dewasa dan lansia (http://kebijakan kesehatan
Indonesia.tk).

Penanggulangan gizi lebih tidak terdapat di dalam standar

pelayanan minimal (SPM) 2011 sehingga tidak ada anggaran terkait penanganan
khusus gizi lebih (seksi kesga dan gizi Dinkes Depok, 2011).

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Fakta tentang angka kejadian gizi lebih pada AUS tinggi, sebagai faktor risiko
berbagai penyakit dan membutuhkan biaya yang tinggi serta penanganan di
Indonesia belum menjadi prioritas membuat penulis tertarik untuk membuat suatu
proyek inovasi untuk menanggulangi gizi lebih pada AUS di SDN Pasir Gunung
Selatan 3. Proyek inovasi yang dibuat penulis dilandasi oleh beberapa teori dan
konsep keperawatan. Teori utama yang digunakan sebagai kerangka kerja adalah
teori model Precede-Proceed oleh Green & Kreuter (2005), dilengkapi oleh model
Comprehensive School Health (CSH) dan model Family Center Nursing (FCN)
oleh Friedman (2003).
Model Precede Proceed merupakan salah satu model yang digunakan sebagai
panduan

praktek

keperawatan komunitas

dalam

membuat

perencanaan,

implementasi dan evaluasi promosi kesehatan (Maglaya, 2009). Hitchcock,


Schubert, dan Thomas (1999) juga menyatakan bahwa salah satu teori model yang
digunakan dalam keperawatan komunitas untuk melihat faktor-faktor yang
mempengaruhi perilaku seseorang, perencanaan, implementasi dan evaluasi
kegiatan adalah teori model PRECEDE-PROCEED dari Green dan Kreuter.
Model ini telah digunakan pada penelitian cardiovascular risk factor prevention
in black school children oleh Bush et al (1989), salah satu faktor risiko penyakit
kardiovaskuler yang teridentifikasi adalah kebiasaan tidak sarapan (Green &
Kreuter, 2005).
Model kedua yang digunakan adalah model CSH. Model CSH adalah model
untuk intervensi setting sekolah. Green dan Kreuter (2005) telah menggunakan
model Precede Proceed di sekolah dan menggunakan komponen model CSH
sebagai intervensi. Program kesehatan berbasis di sekolah terbukti efektif
menurunkan penggunaan tembakau pada siswa, pola makan tidak sehat, aktivitas
fisik kurang, angka obesitas dan hampir semua masalah kesehatan siswa ( Green,
1993 dalam Green & Kreuter, 2005). Model CSH juga merupakan kerangka kerja
CDC terhadap program kesehatan sekolah (Stanhope & Lancaster, 2004).
Model ketiga yang digunakan sebagai acuan proyek inovasi adalah model Family
Center Nursing (Friedman, 2003). Model FCN merupakan acuan untuk asuhan
keperawatan keluarga. Model FCN mengkaji tentang praktik diet keluarga yang
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

terkait erat dalam pola asuh AUS dengan gizi lebih. Kunci utama dalam keluarga
yang menerapkan nilai-nilai dan budaya adalah orangtua (Syarkawi, 2008).
Budaya atau nilai-nilai yang diharapkan dari keluarga atau orangtua adalah
budaya perilaku hidup sehat. Orang tua berperan dalam merencanakan dan
penyediaan makanan yang sehat bagi anggota keluarga (Edelman & Mandle,
2010). Keluarga atau orangtua berperan meningkatkan perilaku gizi dan aktivitas
fisik atau olahraga bagi anggota keluarga (Friedman, 2003). Strategi intervensi
yang tepat diperlukan dalam praktek keperawatan komunitas selain teori model
yang melandasi praktek.
Strategi intervensi praktek keperawatan komunitas meliputi pendidikan kesehatan,
proses kelompok, kemitraan dan pemberdayaan (Anderson McFarlane, 2004;
Stanhope & Lancaster, 2004; Green & Kreuter, 2005; Notoatmojo, 2011).
Pendidikan kesehatan merupakan strategi penting terhadap upaya promotif dan
preventif untuk membantu individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
mencapai derajat kesehatan yang optimal (Edelman & Mandle, 2010). Konsep
pemberdayaan digunakan untuk meningkatkan efektivitas pendidikan kesehatan
dan sustainability program (Notoatmojo, 2010). Proses kelompok memberi
peluang yang baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan individu atau
kelompok (Gilbert, Sawyer & McNeil, 2011). Perawat komunitas dalam bekerja
membutuhkan keterlibatan sektor lain atau melakukan kemitraan. Kemitraan
adalah kerjasama untuk membangun kepentingan bersama, kerelaan, saling
keterbukaan dan saling menguntungkan (Notoatmojo, 2010).
Strategi intervensi yang digunakan dalam proyek inovasi adalah pemberdayaan,
pendidikan kesehatan dan proses kelompok. Pemberdayaan peer, guru dan
keluarga untuk memberi pendidikan kesehatan terhadap AUS gizi lebih untuk
memperbaiki perilaku makan dan meningkatkan aktivitas fisik sehingga
menurunkan overweight atau obesitas. Peer, guru dan keluarga/orangtua adalah
faktor penguat yang dapat mempengaruhi perilaku AUS (Green & Kreuter, 2005),
termasuk perilaku makan (Edelman & Mandle, 2010; Sulistyonongsih, 2011).
Ketiga unsur tersebut merupakan subjek yang selalu berada di lingkungan
kehidupan anak.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Keluarga merupakan salah satu faktor penguat terhadap pembentukan perilaku


gizi anak. Perilaku orangtua dalam memilih makanan akan mempengaruhi
perilaku makan anak (Sulistyoningsih, 2011). Praktik diet keluarga menentukan
perilaku makan anak, keluarga sebagai penyedia makanan (Friedman, Bowden &
Jones, 2000). Praktik diet keluarga yang buruk dapat menyebabkan obesitas
sebagai akibat gaya hidup tidak sehat (Friedman, Bowden, dan Jones (2003).
Penelitian membuktikan bahwa penyediaan makanan oleh keluarga berkorelasi
dengan perilaku makan anak (Oliveria et al, 2001; Tibbs et al, 2001). Hasil
tersebut dibantah oleh Lowe et (2004) yang mengatakan bahwa perilaku makan
anak tidak selalu ditentukan dengan penyediaan dari orangtua tetapi tergantung
dari rasa makanan, penghargaan yang diberikan atau sebagai modelling.
Teman sebaya juga berperan penting terhadap pembentukan perilaku AUS
termasuk perilaku gizi. Teman sebaya dapat memberi pengaruh positif atau
negatif pada AUS. Teman sebaya dapat menjadi peer edukator, sebagai salah satu
strategi pendidikan kesehatan (Gilbert, Sawyer & McNeil, 2011). WHO (1998)
menyatakan bahwa teman sebaya dapat diberdayakan dalam mempengaruhi
kebiasaan makan yang sehat pada anak usia sekolah. Penelitian Hayati (2009)
dapat membuktikan bahwa teman sebaya sebagai peer edukator dapat
meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang jajanan sehat pada
anak usia sekolah kelas 4 dan 5 di SD Lhokseumawe Aceh dengan < 0,000.
Guru berperan penting dalam memberikan pendidikan gizi di sekolah. Guru
mempunyai andil terhadap makanan yang dikonsumsi anak selama di sekolah
(Moore, 2009). Mike, David dan John (1997) menyatakan bahwa perilaku gizi
AUS berkorelasi positif dengan peran guru dalam memberi pendidikan gizi di
sekolah (=0,02; r=0,18). Hasil temuan Quatrin et al (2005) menunjukkan peran
guru yang tidak optimal terhadap pengelolaan makanan yang bergizi dan aman
anak usia sekolah, meskipun telah mendapat pelatihan.
Peberdayaan peer, guru dan keluarga untuk meningkatkan perilaku makan yang
sehat dan aktivitas fisik AUS akan bekerja secara bersama-sama. Peer edukator
melakukan edukasi tentang prinsip gizi seimbang, sekaligus melakukan
monitoring terkait perilaku makan dan aktivitas fisik AUS gizi lebih, melakukan
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

pengukuran berat badan dan tinggi badan serta menjadi instruktur senam.
Orangtua di rumah juga memberikan edukasi tentang prinsip gizi seimbang dan
menjadi penyedia makanan yang sesuai Tumpeng gizi seimbang dan kemampuan
keluarga. Guru mengajarkan tentang prinsip gizi seimbang dengan metode yang
berbeda tiap kelas.
Pemberdayaan peer, guru dan keluarga/orangtua diadopsi dari model PrecedeProceed. Integrasi model Precede-Proceed, CSH dan FCN sebagai kerangka kerja
dan membentuk satu model baru dengan nama model PERKASA. PERKASA
adalah akronim dari PEer, guRu, Keluarga, perilaku mAkan Sehat, Aktivitas
fisik. Istilah PERKASA diadopsi dari sinonim faktor penguat Precede-Proceed
(Perkasa=kuat=sehat). Model PERKASA digunakan untuk memperbaiki perilaku
makan dan meningkatkan aktivitas fisik sehingga dapat mencegah atau
menurunkan kejadian gizi lebih.
Gizi lebih yang terjadi di Kota Depok tahun 2010 lebih banyak (5,63%) dari gizi
kurang (3,21%) pada anak baru masuk sekolah, meskipun persentase gizi lebih
dibawah dari ke-empat kota besar yang telah disebutkan terdahulu. Masalah gizi
yang terjadi untuk tingkat Puskesmas Pasir Gunung Selatan sebesar 1,6% gizi
lebih dan tidak terdapat gizi kurang. Hasil penjaringan di SD PGS III pada 331
anak bulan Oktober 2011 diperoleh gizi lebih sebesar 9,97% dan gizi kurang
sebesar 5,1%. Persentase kasus gizi lebih di SD PGS 3 melebihi persentase gizi
lebih di Kota Depok maupun tingkat kelurahan Pasir Gunung Selatan.
Hasil survey dari 28 anak gizi lebih yang diwawancara diperoleh data antara lain
35,7% frekuensi makan lebih dari tiga kali, kebiasaan makan sayur yang kadangkadang sebesar 42,9%, bahkan 14,3% tidak pernah makan sayur. Selain kebiasaan
makan sayur, kebiasaan makan buah juga kurang yaitu 57,56% yang kadangkadang makan buah dan 28,6% tidak pernah makan buah. Kebiasaan jajan
makanan yang mengandung energi atau lemak tinggi sebesar 78,6%. Penyebab
kedua gizi lebih adalah aktivitas fisik yang kurang.
Survey 28 anak gizi lebih di SDN PGS III diperoleh hasil yaitu 75% anak tidak
berolahraga secara teratur minimal tiga kali seminggu. 62,5% anak sering

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

10

melakukan aktivitas yang kurang bergerak seperti nonton TV, main laptop, main
games, atau permainan yang dilakukan sambil duduk seperti boneka, rumahrumahan dan bekel. 32,1% anak menonton TV sambil ngemil. Perilaku makan
kurang sehat tinggi dan kurang aktivitas fisik dapat disebabkan karena rendah
pengetahuan dan praktik diet keluarga.
54,5% pengetahuan rendah tentang prinsip gizi seimbang, 45,5% bersikap negatif
terhadap gizi seimbang, 81,8% praktik gizi seimbang kurang baik. Anak usia
sekolah berperilaku gizi kurang sehat akibat kurang dukungan dari keluarga.
Survey terhadap 25 keluarga dengan AUS gizi lebih ditemukan 52% keluarga
mempunyai pandangan bahwa anak gemuk adalah sehat, 12% keluarga jarang
menyediakan sayuran, 6,1% keluarga tidak pernah menyediakan buah, 52%
keluarga kadang-kadang menyediakan buah, 40% keluarga membiasakan anak
jajan. 92% keluarga tidak terbiasa melakukan olahraga secara teratur, 72%
keluarga kadang-kadang menimbang berat badan, 36% keluarga tidak tahu
menghitung berat badan normal. Masalah gizi akan meningkat apabila kurang
dukungan dari sekolah termasuk pelaksanaan pendidikan gizi.
Pendidikan gizi sebagai salah satu TRIAS UKS belum terintegrasi secara
kurikuler atau ekstra kurikuler di semua kelas. Materi gizi hanya diberikan pada
kelas 4, 5 dan 6. Pemahaman tentang prinsip gizi seimbang perlu ditanamkan
sedini mungkin sehingga akan mencegah berbagai masalah gizi. SD PGS3
mempunyai UKS dan terdapat 40 kader kesehatan sekolah tetapi peran dan fungsi
tim pelasana UKS belum optimal. Pelaksanaan UKS hanya bekerja sesuai
kemampuan sekolah, tidak ada pengembangan karena tidak ada supervisi dari Tim
Pembina UKS. Pengarahan dan sistem reward punishment tidak dilakukan.
Pelayanan kesehatan anak sekolah terkait gizi lebih belum dilaksanakan. Oleh
karena itu perawat komunitas perlu melakukan inovasi untuk penanggulangan gizi
lebih yang sudah fenomenal di Indonesia khususnya di kota-kota besar.
Langkah awal yang dilakukan adalah berkoordinasi dengan kepala sekolah dan
kepala Puskesmas PGS untuk membenahi sistem manajemen UKS seperti
merevisi struktur organisasi dan penerbitan SK kepala sekolah, merevisi rencana
kerja yang telah dibuat, rencana pelatihan guru UKS dan semua guru, peer
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

11

edukator, dan promosi kesehatan yang akan dilaksanakan di sekolah dengan


aplikasi model PERKASA.
Hasil implementasi model PERKASA dapat menurunkan kejadian gizi lebih dari
9,97% menjadi 5,4%, peningkatan pengetahuan, sikap dan praktik gizi AUS gizi
lebih. Peer edukator berperan secara signifikan (<) tetapi peran guru dan
keluarga belum optimal namun terjadi peningkatan persentase peran lebih baik
sebelum dan setelah intervensi.
1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujuan Umum
Tujuan umum adalah memberikan gambaran tentang penerapan model PERKASA
terhadap penanggulangan gizi lebih pada aggregate anak usia sekolah di SDN
Pasir Gunung Selatan 3 Kelurahan Pasir Gunung Selatan.
1.2.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini adalah teridentifikasi:
a.

Prevalensi gizi lebih pada aggregat anak usia sekolah di SD Pasir Gunung
Selatan 3 sebelum dan sesudah intervensi dengan menggunakan Model
PERKASA

b.

Kemampuan (pengetahuan, sikap dan keterampilan) anak usia sekolah dengan


gizi lebih melaksanakan penanggulangan gizi lebih di SD Pasir Gunung
Selatan Kelurahan Pasir Gunung Selatan sebelum dan sesudah intervensi
dengan menggunakan Model PERKASA.

c.

Pengelolaan manajemen pelayanan keperawatan komunitas di SDN Pasir


Gunung selatan 3 kelurahan Pasir Gunung Selatan terkait penanggulangan
gizi lebih pada anak usia sekolah

d.

Keseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh pada anak usia sekolah di
SDN Pasir Gunung Selatan 3 setelah aplikasi model PERKASA

e.

Kesiagaan mempertahankan keseimbangan nutrisi menjadi optimal setelah


aplikasi model PERKASA

f.

Kemandirian keluarga terhadap penanggulangan gizi lebih setelah aplikasi


model PERKASA

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

12

1.3 Manfaat
1.3.1 Pelayanan Keperawatan Komunitas
Penerapan model PERKASA diharapkan dapat meningkatkan perilaku makan
yang sehat, aktivitas fisik/olahraga secara teratur, pemantauan berat badan setiap
bulan secara terus menerus pada anak usia sekolah. Kondisi ini diharapkan
menjadi kebijakan sekolah dan pendidikan gizi terintegrasi dengan intrakurikuler.
Penerapan Model PERKASA diharapkan dapat meningkatkan kualitas praktek
keperawatan komunitas di masa yang akan datang khususnya pada aggregat anak
usia sekolah dengan gizi lebih sehingga tidak terjadi masalah kesehatan (fisik,
psikologis dan sosial) akibat gizi lebih. Penerapan model PERKASA dapat
meningkatkan kemandirian keluarga (KM-IV) sehingga dapat meningkatkan
status kesehatan anggota keluarga.
1.3.2 Ilmu Keperawatan Komunitas
Penerapan model ini menjadi evidence base yang dapat digunakan dalam
merencanakan praktik keperawatan komunitas setting sekolah pada umumnya
dalam mengurangi atau mencegah kejadian gizi lebih. Model ini dapat menjadi
rujukan dalam penanggulangan gizi lebih pada setting yang berbeda misalnya
tempat kerja atau di masyarakat.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

13

BAB 2
TINJAUAN TEORI
Bab ini penulis memaparkan beberapa konsep yaitu keperawatan komunitas pada
aggregat anak usia sekolah dengan gizi lebih sebagai kelompok vulnerable,
strategi intervensi asuhan keperawatan komunitas, peran dan fungsi perawatan
komunitas serta teori dan model konseptual yang mendasari model PERKASA
dan praktik keperawatan komunitas pada aggregat anak usia sekolah.
2.1 Anak Usia Sekolah dengan Gizi Lebih Sebagai Kelompok Vulnerable
2.1.1 Anak Usia Sekolah sebagai At Risk
Anak usia sekolah merupakan kelompok berisiko (at risk) terhadap masalah
kesehatan sepanjang fase tumbuh kembang. Anak usia sekolah berisiko masalah
kesehatan akibat karakteristik perubahan kondisi biofisik, psikologis atau
lingkungan sehingga akan mempengaruhi perkembangan fisik, kognitif maupun
psikososial (Maurer & Smith, 2005). Karakteristik dan perilaku yang dimiliki
anak usia sekolah berisiko mengalami masalah kesehatan (Stone, McGuire, &
Eigsti, 1998), antara lain adalah kelebihan berat badan (overweight dan obesitas)
(Edelman & Mandle, 2010).
Kelebihan berat badan pada anak usia sekolah terkait dengan karakteristik yang
dimiliki. Kematuran sistem gastrointestinal dan peningkatan kapasitas lambung
membuat anak usia sekolah cenderung makan secara berlebihan yang berdampak
pada kelebihan berat badan, oleh karena itu makanan tinggi kalori dan jajanan
kurang sehat perlu dikurangi (Edelman & Mandle, 2010). Anak memiliki
makanan kesukaan atau makanan favorit dan sebaliknya juga memiliki makanan
yang tidak disukai (benci) (Hitchcock, Schubert, & Thomas, 1999). Perilaku
makan anak usia sekolah cenderung tidak menyukai sayur (Muscary, 2001) dan
buah-buahan (Maurer & Smith, 2005). Kurang mengkonsumsi sayur dan buah
terkait dengan kelebihan berat badan. Foster et al (2008) memberi fakta bahwa
50% insiden overweight dapat diturunkan pada kelompok intervensi (kelas 4-6)
dengan makan sayur dan buah 5 porsi selama 2 tahun intervensi. Selain
13

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

14

pertumbuhan fisik, perkembangan sosial cukup berkontribusi terjadi kelebihan


berat badan pada anak usia sekolah.
Perkembangan sosial berperan penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan
anak usia sekolah secara optimal. Perkembangan sosial anak usia sekolah banyak
dipengaruhi oleh kelompok sebaya (Hockenberry & Wilson, 2009). Aktivitas
anak usia sekolah di luar rumah lebih banyak dipengaruhi oleh teman sebaya
(Friedman, Bowden & Jones, 2000), aktivitas kegiatan berkelompok termasuk
kelompok olahraga dan kelompok terkait pemilihan waktu makan dan jenis
makanan (Muscary, 2001). Teman sebaya dapat mempengaruhi perilaku makan
anak usia sekolah.
Teman sebaya akan mempunyai pengaruh lebih besar terhadap perilaku makan
anak usia sekolah karena waktu anak lebih banyak berinteraksi di sekolah atau di
luar rumah (Sulistyoningsih, 2011). Teman sebaya mempunyai pengaruh kuat
terhadap anak usia sekolah dalam pemilihan makanan kurang sehat (Muscary,
2000), berlebihan pada makanan yang mengandung tinggi lemak dan gula
(Maurer & Smith, 2005), konsumsi soft drink tinggi (Edelman & Mandle, 2010)
dan perilaku jajan (Hitchcock, 1999).
Perilaku makan kurang sehat anak usia sekolah dapat dipengaruhi oleh kebiasaan
jajan. Stanhope dan Lancaster (2004) mengatakan bahwa perilaku jajan cenderung
meningkat pada masa anak usia sekolah. Peningkatan jajan meningkat akibat
keterbatasan keluarga mengolah makanan sendiri dan makanan jajanan praktis,
murah, cita rasa lebih menarik sehingga menjadi kegemaran anak sekolah
(Judarwanto, 2008). Hasil survey Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)
tahun 2008 dalam suara Media (2011) menemukan bahwa makanan jajanan
mengandung 31% energi atau karbohidrat. Jajan yang berlebihan membuat
perilaku makan kurang sehat sehingga asupan nutrisi tidak seimbang. Permaianan
anak usia sekolah juga berkontribusi terhadap kegemukan.
Muscary (2001) menjelaskan bahwa anak usia sekolah mulai mempunyai
ketangkasan atau keahlian membuat atau bermain video games serta peningkatan
kemampuan menggunakan komputer. Penggunaan komputer, video games,

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

15

internet

atau sejenis bagi anak usia sekolah sangat diperlukan untuk

meningkatkan kreativitas, tetapi perlu pembatasan waktu. Aktivitas kurang gerak


(sedentary) mempunyai hubungan dengan kejadian berat badan lebih atau
obesitas. Anak yang bermain komputer, videogames, nonton TV, internet lebih
dari 2 jam mempunyai korelasi positif dengan kejadian overweight atau obesitas
pada anak (CDC, 2011). Gaya hidup kurang gerak akibat penggunaan teknologi
modern seperti electronic games dan televisi serta transportasi bermotor
berkontribusi terhadap kejadian overweight pada anak usia sekolah (Nies &
McEwen, 2007). Penggunaan komputer atau internet dapat mengembangkan
kognitif anak tetapi perlu pembatsan waktu dalam bermain elektronik.
2.1.2 Gizi Lebih Sebagai Kelompok Rentan (Vulnerable)
Kelompok rentan (vulnerable) adalah kelompok yang berisiko tinggi mempunyai
status kesehatan yang merugikan (Leight, 2003 dalam Allender, Rector &
Wagner, 2010). Maurer dan Smith (2005) juga menyatakan bahwa seseorang
yang mempunyai faktor risiko untuk menjadi tidak sehat atau kesehatan buruk,
lebih berisiko menjadi individu atau kelompok rentan. Pengertian populasi rentan
oleh Aday (1999) dalam Pender, Murdaugh dan Parsons (2006) adalah individu
atau kelompok yang berisiko paling besar mengalami kesehatan fisik, psikologis
dan sosial yang buruk. Faktor yang berkontribusi terhadap kerentananan adalah
keterbatasan sumber (sosial ekonomi dan lingkungan), status kesehatan yang
buruk dan mempunyai faktor risiko kesehatan (Stanhope & Lancaster, 2004;Nies
& McEwen, 2007;Allender, Rector & Wagner, 2010). Gizi lebih merupakan salah
satu faktor risiko kesehatan yang dapat menimbulkan risiko kesehatan secara
fisik, psikologis dan sosial.
Risiko kesehatan secara fisik yang dialami anak dengan obesitas akan berdampak
sampai dewasa. Obesitas pada usia anak dapat menjadi obesitas pada usia dewasa
(CDC, 2010). Obesitas pada usia dewasa cenderung lebih parah yang kelebihan
berat badan dimulai sejak anak-anak (CDC, 2011). Laporan ahli Bedah di
Amerika Serikat menyatakan bahwa 70% kemungkinan overweight atau obesitas
usia dewasa karena overweight saat anak dan remaja (Allender, Rector & Warner,
2010).

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

16

Obesitas merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskuler, diabetes, kanker dan


aterosklerosis (Allender & Spradley, 2005); hipertensi, sleep apnea, masalah
orthopedi, hyperlipidemia, resistensi insulin dan diabetes type 2 (Lau et al, 2007
dalam Edelman & Mandle, 2010), batas glukosa darah sewaktu anak adalah 60100 mg/dl (Wong, 2009). 70% anak obesitas memiliki minimal satu faktor risiko
penyakit kardiovaskuler, dan 39% memiliki dua atau lebih faktor risiko
(Freedman, 2007). Terdapat hubungan dengan berbagai jenis kanker dan
ketidaknyamanan muskuloskeletal seperti osteoatritis (Maglaya, 2009).
Kelebihan berat badan atau obesitas menimbulkan risiko lebih besar berkembang
sindrom metabolik dibandingkan yang mempunyai berat badan normal pada anakanak (OR= 189; 95% CI, 70,8-504,8) dan terdapat 5,3% anak yang mengalami
overweight atau obesitas memiliki sindrom metabolik dengan < 0,01 (Wee,
2011). Lee et al (2011) menyimpulkan bahwa kelebihan berat badan (overweight)
dan obesitas saat preadolescent (7-9 tahun) berisiko lebih tinggi mengalami
sindrom metabolik.
Gizi lebih dapat menimbulkan gangguan kesehatan secara fisik juga dapat
menimbulkan masalah psikologis. Dampak psikologis anak usia sekolah dengan
gizi lebih yaitu memiliki wajah bulat dan menjadi bahan lelucon oleh teman
sebaya sehingga anak dapat mengalami gangguan gambaran tubuh dan harga diri
rendah (Hayden-Wade et al, 2005 dalam Edelman & Mandle, 2010; CDC, 2010;
Geissler & Powers, 2005). Stigma terhadap anak dengan obesitas membuat harga
diri rendah, sering mendapat ejekan dan gangguan sehingga menimbulkan
masalah yang lebih berat, terjadi konflik emosi dan gangguan psikologis (Gibson
et al, 2002 dalam Rugg, 2004) .
Dampak psikologis seseorang akan berpengaruh pada masalah sosial. Dampak
psikologis yang terjadi pada anak overweight atau obesitas akan mengakibatkan
dampak sosial seperti isolasi diri sehingga berpengaruh terhadap perkembangan
anak di masa mendatang (Hayden-Wade et al, 2005 dalam Edelman & Mandle,
2010). Karakteristik anak dengan overweight atau obesitas adalah malas dan
bodoh (Geissler & Powers, 2005), hal ini dapat juga menimbulkan dampak sosial.
Konsekuensi obesitas anak yang berdampak luas adalah masalah psikososial

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

17

seperti stigma sosial dan diskriminasi (Gidding, 1996 dalam Story, 1999). Anak
dan remaja obesitas mempunyai risiko lebih besar terhadap masalah psikologis
dan sosial seperti harga diri rendah, diskriminasi dan kemiskinan yang dapat
berlanjut ke usia dewasa (CDC, 2011).
Faktor lingkungan dan sosial juga berperan penting dalam karakteristik populasi
rentan, khususnya status sosial ekonomi rendah yang paling banyak ditetapkan
sebagai penyebab penyakit dan kematian. Status sosial ekonomi meliputi
penghasilan, pekerjaan dan pendidikan merupakan fakor manusia yang
mempengaruhi kerentanan (Stanhope & Lancaster, 2004; Pender, Murdaugh &
Parson, 2006).
Hasil penelitian tentang hubungan status ekonomi keluarga dengan pola makan
sehat anak: kemampuan membeli bahan makanan bergizi ditentukan oleh
penghasilan yang terbatas (Basiotis, Kramer, Kenedi, 1998); keluarga cenderung
mengkonsumsi makanan yang mengenyangkan saja yaitu makanan yang
mengandung tinggi lemak dan gula karena harga murah, kurang mengkonsumsi
buah dan sayur (French, 2003). Makanan tinggi lemak dan kalori serta nilai gizi
yang rendah, buah dan sayur kurang dikonsumsi, meningkatkan kejadian gizi
lebih (Nies & McEwen, 2007; Edelman & Mandle, 2010).
Gizi lebih cenderung terjadi pada keluarga dengan status ekonomi tinggi.
Pendapatan keluarga yang tinggi tetapi tidak diimbangi pengetahuan yang cukup,
akan menyebabkan seseorang menjadi sangat konsumtif dalam pola makan seharihari dan gaya hidup santai (sedentary life style) meningkat. Kemampuan membeli
makanan cepat saji dan makanan yang ditayangkan melalui iklan tetapi bernilai
gizi rendah, kemampuan membeli dan menggunakan peralatan listrik, games
elektronik, televisi, komputer dan bertransportasi listrik meningkatkan perilaku
sedentary yang berkontribusi terhadap kejadian gizi lebih (Edelman & Mandle,
2010; Pender, Murdaugh & Parsons, 2006; Nies & McEwen, 2007).
Pendapatan yang tinggi dengan pengetahuan yang rendah sering terkait dengan
pendidikan keluarga. Pendidikan sering berkorelasi dengan pengetahuan termasuk
cara pemenuhan gizi keluarga (Sulistyoningsih, 2011). Penyediaan makanan

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

18

tinggi lemak dan rendah zat gizi mikro berhubungan dengan status pendidikan
orang tua yang rendah (Pelto, Bakstrand, 2003). Choi et al (2008) membuktikan
bahwa semakin tinggi pendidikan ayah dan ibu, semakin baik perilaku gizi anak
(<0,05). Kesimpulan tentang sumber ekonomi bahwa status ekonomi tinggi
maupun rendah sama-sama rentan terhadap kejadian gizi lebih.
2.1.3 Konsep Gizi Lebih
Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor: 1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang
standar antropomentri penilaian status gizi anak menyatakan bahwa kategori dan
ambang status gizi anak usia 5-18 tahun terdiri dari lima ketegori yaitu 1) Sangat
kurus, ambang batas < -3 SD. 2) Kurus, ambang batas -3 SD sampai dengan < -2
SD. 3) Normal, ambang batas -2 SD sampai dengan 1 SD. 4) Gemuk, ambang
batas > 1 SD sampai dengan 2 SD. 5) Obesitas, ambang batas > 2 SD. Status gizi
ditentukan dengan membandingkan nilai IMT dan ambang batas (Z-score)
menurut jenis kelamin dan umur (bulan). Gizi lebih meliputi kategori gemuk
(overweight) dan obesitas yang terkait dengan perilaku makan dan aktivitas fisik.
Perilaku makan kurang sehat dan aktivitas fisik serta olahraga teratur kurang
penyebab utama terjadi obesitas (CDC, 2011). Overweight atau obesitas hasil dari
ketidakseimbangan energi yang masuk dan energi yang dikeluarkan (Spidell &
Vischer, 2004 dalam Maglaya, 2009). Nursing Times Net menyebutkan etiologi
atau penyebab overweight dan obesitas, sebagai berikut:
a. Genetik
Genetik berperan penting dan determinan kuat terhadap kejadian overweight
atau obesitas. Faktor yang berkontribusi terhadap overweight dan obesitas
adalah pengaruh genetik (Maglaya, 2009). Gen merupakan penyebab langsung
terjadi obesitas. Kejadian obesitas tidak terjadi peningkatan secara cepat oleh
faktor genetik tetapi lebih cepat mengalami peningkatan akibat faktor non
genetik. Perilaku makan berlebihan dan aktivitas fisik yang kurang termasuk
faktor non genetik (CDC, 2011).
b. Pola makan
Perilaku makan tidak sehat seperti konsumsi makanan berenergi tinggi, lemak
tinggi, kurang mengkonsumsi sayur dan buah dapat menyebabkan overweight

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

19

dan obesitas (Edelman & Mandle, 2010; Murray, 2001; Maurer & Smith,
2005; Sulistyoningsih, 2010). Penelitian terhadap 52 AUS yang mengalami
gizi lebih, ditemukan 65,39% diantaranya tidak makan buah secara rutin,
28,85% tidak makan sayur secara rutin, dan 59,62% mempunyai kebiasaan
jajan makanan berenergi tinggi (Saifah, 2011). Perilaku makan berlebihan
dapat menyebabkan overweight dan obesitas (CDC, 2011). Mereka yang
terlibat dalam makan berlebihan lebih dari dua kali per minggu memiliki tiga
kali resiko kelebihan berat badan (OR=3,10; interval kepercayaan (CI) 95%=
1,39-6,92), (Wee et al, 2011).
c. Gaya hidup kurang gerak (sedentary lifestyle)
Aktivitas fisik yang kurang dan tinggi aktivitas kurang gerak atau santai salah
satu penyebab overweight dan obesitas (CDC, 2011; Nies & Mcewen, 2007).
Pola hidup santai cenderung mendorong makin meningkatnya masalah
kelebihan gizi (Kurniasih dkk, 2011). Aktivitas kurang gerak seperti
menonton TV, main games, computer dan internet lebih dari dua jam
berkorelasi positif dengan overweight dan obesitas (Poskit, 2005; Kaizer
family fondation, 2007; BHF 2000 dalam Rugg, 2004; NHLBI, 2007). Anak
yang berjam-jam di depan televisi dan komputer diidentifikasi salah satu
penyebab obesitas anak usia sekolah (Maurer & Smith, 2005). Hasil penelitian
Mustaq (2011) menemukan korelasi negatif yaitu semakin tinggi aktivitas
fisik lebih satu jam sehari secara teratur maka semakin menurun kejadian
overweight dan obesitas pada anak usia sekolah di Pakistan ( < 0,01). Gaya
hidup santai dan durasi berjalan antara rumah dan sekolah berhubungan
dengan kejadian overweight dan obesitas (Alborzimanesh, 2011).
d. Lingkungan
Status kesehatan dipengaruhi oleh paparan lingkungan dan perilaku orangtua.
Orangtua yang bekerja lama di luar rumah membuat kurang waktu untuk
mensupervisi anak pada perilaku santai dan tinggi membeli makanan padat
energi di restoran atau makanan favorit (Ebbeling et al, 2002 dalam Rugg,
2004). Iklan makanan rendah gizi melalui televisi dan spanduk-spanduk,
restoran makanan fast food terdapat dimana-mana, penjaja makanan

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

20

berkendaraan banyak terdapat di sekolah atau di rumah dan kurang makanan


tersedia di rumah cenderung meningkatkan perilaku makan anak kurang sehat
yang berkontribusi terhadap kejadian gizi lebih (Nies & mcEwen,
2007;Edelman & Mandle, 2010).
Praktik diet keluarga dalam menyediakan makanan sehat cenderung mencegah
overweight dan obesitas pada anak usia sekolah (Friedman, Bowden & Jones,
2003). Aktivitas fisik kurang seperti berjalan ke sekolah atau ke toko karena
kurangnnya fasilitas untuk pejalan kaki atau jarak yang jauh (CDC, 2011).
Lingkungan sosial termasuk pengaruh budaya juga berkontribusi terhadap
kejadian overweight dan obesitas (Nies & Mcewen, 2007). Budaya makan
sayur dan buah perlu diterapkan sedini mungkin untuk mencegah kelebihan
berat badan (Notoatmojo, 2010).
Kesimpulan terkait gizi lebih adalah penyebab utama adalah faktor perilaku
makan yang kurang sehat dan aktivitas fisik yang kurang, oleh karena itu,
penanganan gizi lebih difokuskan pada perbaikan perilaku makan yang sehat,
meningkatkan aktivitas fisik dan mengontrol berat badan. Pengaturan diet AUS
yang direkomendasikan oleh Komite Nutrisi Anak (1998) dalam Stanhope dan
Lancaster (2004) adalah: 1) Pilih makanan sumber protein rendah lemak seperti
protein nabati, ikan dan ayam. 2) Gunakan minyak yang berasal dari tumbuhtumbuhan dan sayur. 3) Kurangi garam, gula dan lemak. 4) Tingkatkan konsumsi
karbohidrat kompleks seperti karbohidrat dari jenis biji-bijian. 5) Tingkatkan
konsumsi buah dan sayuran paling sedikit 5 porsi sehari khususnya sayur dan
buah berwarna hijau dan orange. 6) Konsumsi susu rendah lemak, tinggi kalsium.
7) Batasi konsumsi suplemen kecuali jika dibutuhkan. 8) Pertahankan olah raga
secara teratur dan batasi nonton TV.
Keseimbangan nutrisi pada AUS sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan
perkembangan yang optimal. Para pakar gizi merekomendasikan keseimbangan
gizi AUS mengikuti pola Tumpeng Gizi Seimbang dengan penerapan prinsip gizi
seimbang (Kurniasih dkk, 2010) sebagai berikut: 1)Makan makanan bervariasi
setiap pagi, siang atau malam yang mengandung unsur karbohidrat (4-5 porsi),
protein hewani dan nabati (3-3,5 porsi), vitamin dan mineral (3-4 porsi), lemak,

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

21

gula dan garam secukupnya dan air minimal 8 gelas perhari. Frekuensi makan
yaitu 3 kali makan utama dan 2 kali selingan (Dinkes Kota Depok, 2011; Edelman
& Mandle, 2010). Biasakan makan pagi, membawa bekal makanan dan minuman
ke sekolah dan hindari jajanan tidak sehat. Daftar menu dan porsi AUS terlampir.
2)Pola hidup bersih antara lain menggosok gigi setelah makan dan sebelum tidur,
mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir dan lain-lain. 3)Aktivitas fisik.
Aktivitas fisik dan olah raga menyebabkan peredaran darah menjadi lancar,
sehingga aliran oksigen ke otak dan jaringan otot menjadi lancar. Aktivitas fisik
dan olahraga yang baik untuk AUS adalah aktivitas yang menyenangkan seperti
bermain yang menggunakan banyak motorik kasar (sepak bola, bulu tangkis,
bersepeda, skipping, jogging dan olahraga tradisional antara lain petak umpet,
galasin dan lompat tali perlu digalakkan kembali. Aktivitas fisik dan olah raga
dianjurkan 30 menit setiap hari atau tiga kali seminggu selama satu jam (Depkes,
2006; Pender, Murdaugh & Parsons, 2006). Peningkatan aktivitas fisik dan teratur
dapat menurunkan IMT pada anak perempuan dan laki-laki overweight (Berkey et
al, 2003 dalam Allender & Spradley, 2005) dan mengurangi risiko berat badan
lebih (Pender, Murdaugh & Parsons, 2006). 4)Pemantauan berat badan ideal.
Berat badan ideal merupakan indikator kesesuaian asupan makanan dan aktivitas
fisik yang dilakukan. Berat badan ideal diukur melalui IMT dan membandingkan
standar antropomentri.
Edelman dan Mandle (2010) menerangkan tentang intervesi keperawatan untuk
mencegah overweight/obesitas selama AUS yaitu 1) Masukkan ke program
sekolah tentang penyediaan makanan sehat dan aktivitas yang baik setiap hari
sekolah. 2) Dorong keluarga untuk menjadi role model bagi anak menjadi aktif
dan merencanakan aktivitas fisik keluarga. 3) Buat aktivitas yang menyenangkan.
4) Batasi jumlah dan penggunaan TV, videogames, waktu pemakaian komputer
dan internet. 5) Hindarkan makan sambil nonton TV. 6) Dorong keluarga untuk
mempertimbangkan budaya yang mempengaruhi pola makan, evaluasi kebiasaan
jajan dan pilihan makanan anak. Seimbangkan makanan sehat dan pemilihan
makanan tradisional. 7) Anjurkan keluarga untuk mengkaji makanan cepat saji
yang sering dikonsumsi anak dan anjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang
sesuai piramida gizi. 8) Dorong anak untuk berpartisipasi dalam pengolahan dan

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

22

penyediaan makanan. 9) Dukung pilihan makanan siang yang mengandung semua


unsur gizi.
2.2 Strategi intervensi Asuhan Keperawatan Komunitas
Strategi intervensi keperawatan komunitas pada aggregate anak usia sekolah
dengan gizi lebih ditekankan pada tiga level prevensi: primer, sekunder, dan
tersier, tetapi lebih fokus pada upaya promotif dan preventif (Ervin, 2002;
Stanhope & Lancaster, 2004). Prevensi primer terhadap gizi lebih berupa
pendidikan kesehatan tentang keseimbangan diet dan latihan, promosi makanan
bergizi seimbang dan aktivitas fisik menjadi gaya hidup, dorong anak di kelas
untuk memlilih makanan sehat terutama anak kelas satu, batasi aktivitas pasif dan
tingkatkan olahraga/aktivitas fisik, ajarkan pada anak yang lebih besar untuk
membuat makanan dan memilih makanan cepat saji yang sehat di restoran.
Prevensi sekunder meliputi mengajar anak untuk menghitung IMT sendiri,
monitor IMT anak, screening gejala metabolik dan rujukan. Prevensi tersier
meliputi pengawasan pengobatan diabetes dan

komplikasi

(Stanhope &

Lancaster, 2004; Allender, Rctor & Wagner, 2010).


Strategi yang digunakan dalam implementasi ini adalah pendidikan kesehatan,
proses kelompok, kemitraan dan pemberdayaan (Anderson McFarlane, 2004;
Stanhope & Lancaster, 2004; Green & Kreuter, 2005; Pender, Murdaugh &
Parsons, 2006; Notoatmojo, 2011).
2.2.1 Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan adalah proses pemberian informasi sebagai tindakan sosial
dengan cara mengarahkan masyarakat untuk memperoleh kemampuan dalam
mengontrol kehidupannya dan sumber komunitas (Anderson & Mc Farlane,
2003). Pendidikan kesehatan merupakan suatu kegiatan dalam rangka upaya
promotif

dan

preventif

dengan

melakukan

penyebaran

informasi

dan

meningkatkan motivasi masyarakat untuk berperilaku sehat. Pendidikan kesehatan


merupakan salah satu kunci bekerja dengan populasi rentan (Stanhope &
Lancaster, 2004). Tujuan pendidikan kesehatan adalah untuk perubahan perilaku
sehat dan perbaikan status kesehatan.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

23

Pendidikan kesehatan memberi pengetahuan, pemahaman, dan penguasaan


informasi baru sehingga berkembang suatu perubahan perilaku yang menetap
(Allender & Spradley, 2005). Pendidikan kesehatan terkait erat dengan
pengetahuan, sikap dan praktik sehat yang dapat membentuk suatu perilaku sehat
(Edelman & Mandle, 2010). Pendidikan kesehatan bertujuan dan berharap agar
masyarakat berperilaku sesuai dengan nilai-nilai kesehatan (Notoatmojo, 2011),
termasuk pada aggregat anak usia sekolah.
Perilaku sehat adalah perilaku yang didasari atas keinginan meningkatkan status
kesehatan, mencegah sakit dan proteksi diri (Pender, Murdaugh & Parsons, 2001).
Perilaku sehat dijabarkan lebih rinci oleh Notoatmojo (2010) yaitu aktivitas yang
dilakukan seseorang seperti makan dengan menu seimbang, aktivitas fisik yang
teratur, tidak merokok dan minum minuman keras serta narkoba, istirahat yang
cukup, mampu mengelolah stres dan menjaga kebersihan diri dan lingkungan
untuk mempertahankan dan meningkatkan status kesehatan secara optimal.
Perilaku sehat terdiri dari tiga domain yaitu pengetahuan (kognitif), sikap (afektif)
dan psikomotor (Bloom 1908 dalam Notoatmojo, 2010). Pengetahuan merupakan
proses recall dari pengetahuan yang sudah ada, mengembangkan kemampuan
intelektual dan keterampilan (Bloom, 1956 dalam Allender & Spradley, 2005).
Notoatmojo (2010) menjelaskan pengetahuan adalah hasil tahu seseorang dari
proses penginderaan yang dimiliki terhadap objek yang akan mempengaruhi
tindakan seseorang. Pengetahuan tentang kesehatan merupakan pondasi kuat
untuk berperilaku promosi kesehatan di sekolah pada anak usia sekolah (Edelman
& Mandle, 2010). Evaluasi pengetahuan dilakukan dengan cara mengajukan
pertanyaan-pertanyaan secara langsung (wawancara) atau melalui kuesioner atau
angket. Indikator hasil pengetahuan melalui kuesioner atau wawancara adalah
Tinggi atau rendah pengetahuan responden tentang kesehatan (Notoatmojo,
2010).
Domain kedua perilaku adalah sikap. Sikap diartikan sebagai keinginan atau
kesiapan untuk melakukan sesuatu, atau penilaian seseorang terhadap sesuatu
yang terkait dengan pemeliharaan kesehatan. Pengukuran sikap dapat dilakukan
melalui kuesioner atau wawancara terhadap penilaian suatu objek atau stimulus.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

24

Responden dapat mengatakan setuju atau tidak setuju atas jawaban sikap.
Jawaban responden dapat ditingkatkan lagi dengan menggunakan skala Likert
yaitu lebih dari 2 pilihan jawaban (Notoatmojo, 2010).
Psikomotor atau keterampilan merupakan domain ketiga perilaku. Keterampilan
atau

praktik

menggunakan

koordinasi

otak

dan

otot

sehingga

selalu

mengutamakan keterampilan motorik. Pengukuran keterampilan dapat dilakukan


secara langsung melalui pengamatan atau observasi. Pengukuran praktik tidak
langsung melalui metode mengingat kembali (recall). Metode recall dilakukan
melalui pertanyaan-pertanyaan terhadap subjek tentang hal-hal yang telah
dilakukan. Pengukuran perilaku makan secara tidak langsung adalah recall 24 jam
terakhir (Notoatmojo, 2010), perilaku makan lebih mewakili dengan recall jenis
makanan yang dimakan 3 kali 24 jam terakhir (Friedman, Bowden & Jones,
2003).
Kesimpulan indikator pencapaian pengetahuan, sikap dan keterampilan oleh
Departemen Pendidikan Nasional (2008) menyatakan indikator penilaian
pengetahuan, sikap dan keterampilan dinyatakan berhasil dengan standar
pencapaian minimal 60%. Pencapaian > 75% untuk masing-masing indikator
termasuk krteria ideal. Pencapaian > 85% dinyatakan anak sudah kompeten.
Indikator tersebut dapat digunakan pada program pendidikan kesehatan termasuk
pendidikan kesehatan terkait nutrisi.
Beberapa program pendidikan kesehatan terkait nutrisi di sekolah yaitu pilihan
makanan sehat, resep makanan untuk keluarga sibuk, makan siang sehat yang
dapat disiapkan anak-anak, makan siang sehat seperti salad satu minggu sekali,
the muscle mover club yang menekankan pada aktivitas fisik yang berupa latihan
aerobik yang dilakukan secara reguler atau kompetisi (Anderson & McFarlane,
2003); mengajarkan pada siswa tentang penting keseimbangan diet dan aktivitas
fisik (Stanhope & Lancaster, 2004). Program sekolah terkait peningkatan aktivitas
fisik seperti Walking Wheeling Wednesday minimal satu hari dalam seminggu
siswa dan pihak sekolah wajib bersepeda atau berjalan kaki ke sekolah, live it up
Chalennge mendorong setiap orang/siswa melakukan aktivitas fisik minimal 20
menit setiap hari dan diikuti makan snack yang sehat (JCSH, 2009).

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

25

Hasil penelitian kualitatif Perez dan Mouncastle (2010) terhadap implikasi


keperawatan

dalam

mencegah

diabetes

anak

akibat

kegemukan,

merekomendasikan pada sekolah dan masyarakat sebagai berikut: 1) Buat Pogram


sarapan dan makan siang di sekolah sesuai standar gizi untuk mencegah obesitas
dan diabetes pada siswa. 2) Bentuk program olahraga dan latihan fisik setiap kelas
minimal 60 menit setiap hari di sekolah. 3) Kembangkan pendidikan gizi dan
program konseling untuk orangtua dan anak di sekolah serta di masyarakat.
4) Buat program gizi di sekolah dan masyarakat dengan menekanakan penyediaan
makanan rendah lemak, tinggi serat, buah-buahan dan sayuran. 5) Buat program
pendidikan berkelanjutan pada guru dan tokoh masyarakat tentang pentingnya
mencegah obesitas dan diabetes pada anak melalui peningkatan aktivitas
fisik/olahraga teratur (kurangi nonton TV dan menggunakan komputer) dan
penyediaan makanan bergizi (jajanan sehat). 6) Integrasikan pendidikan kesehatan
ke dalam kurikulum sekolah.
Salah satu metode pendidikan kesehatan untuk anak usia sekolah di sekolah
adalah Peer Education (Gilbert, Sawyer & Mc Neil, 2011). Edukasi sebaya adalah
konsep populer yang berimplikasi pada sebuah pendekatan komunikasi,
metodologi, philosofi dan strategi antara satu dengan yang lain yang mempunyai
group sosial sama khusus umur dan status termasuk pendidikan kesehatan tentang
gizi (Mead dalam Mc Kinley Health Center, 2011). Edukasi sebaya dilaporkan
sebagai strategi yang signifikan untuk pembelajaran aktif promosi kesehatan
(McLauchlan, 2002 dalam Gilbert, Sawyer, and McNeil, 2011).
Keuntungan pendidikan kesehatan metode peer edukasi (Gilbert, Sawyer &
McNeil, 2011), sebagai berikut: 1)Memberi pengalaman atau peluang pada peer
edukator menjadi seorang modelling. Individu sering belajar melalui modelling.
Anak usia sekolah terpengaruh oleh peer modelling termasuk dalam hal perilaku
makan (Briggs, Safaii & Beall, 2003). WHO (1998) memperkuat bahwa teman
sebaya dapat diberdayakan untuk mempengaruhi anak usia sekolah berperilaku
makan yang sehat. Hasil penelitian tentang meningkatnya perilaku anak sekolah
dasar sebanyak 402 siswa (kelompok intervensi) di Inggris dalam mengkonsumsi
buah dan sayur melalui peer modelling videos dengan < 0,00 (Lowe et al, 2004).

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

26

Anak usia sekolah mengadopsi kebiasaan makan dari teman sebayanya dan sering
makan di rumah teman sebaya (Paul & Robinson, 2011). 2)Peer edukator
mempunyai pengaruh lebih besar daripada pendidik kesehatan seorang. Peer
edukator mempunyai lebih banyak cara untuk masuk ke populasi dan dapat
menjangkau lebih banyak orang. 3)Edukasi sebaya berpotensi memberi edukasi
informal secara berkelanjutan. Peer edukator menjadi dikenal di masyarakat
sebagai sumber informasi dan mempunyai kesempatan lebih sering mengedukasi
teman sebaya meskipun mempresentasikan program tidak secara terstruktur.
4)Edukasi sebaya dapat mempengaruhi orang-orang yang tidak dapat dilakukan
oleh tenaga profesional, dikarenakan anggota dalam kelompok sebaya mempunyai
nilai-nilai tertentu dan saling berinteraksi dengan kuat. 5)Edukasi sebaya memberi
peluang yang baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan individu atau
kelompok selama proses kelompok, jangan hanya fokus pada penerima program
edukasi sebaya.
Gilbert, Sawyer dan McNeil (2011) memberi tips untuk efektifitas edukasi sebaya
adalah sebagai berikut: 1) Menentukan kriteria keterampilan dan kualitas yang
dibutuhkan dalam merekrut calon peer edukator, lakukan seleksi. Kriteria yang
dilakukan disini adalah sesuai dengan kriteria Departemen Kesehatan (2005)
dalam pemilihan dokter kecilyaitu: a) Siswa kelas 4/5 SD/MI; b)Berprestasi di
sekolah; c)Berbadan sehat; d)Berwatak pemimpin dan bertanggung jawab;
e)Berpenampilan bersih dan berperilaku sehat; f)Berbudi pekerti baik dan suka
menolong; g)Izin orangtua. 2) Libatkan peer edukator dalam proses perencanaan
untuk memastikan bahwa mereka paham tujuan program. 3) Berikan pelatihan
dan kesempatan pada peer edukator untuk berlatih terlebih dahulu, selanjutnya
mempraktekkan selama program berlangsung.
Peer Edukator atau pendidik sebaya adalah pendidik dari teman sebaya atau seusia
yang mempunyai pengetahuan tentang permasalahan teman lain dan saling
berbagi penglaman untuk meningkatkan perilaku positif. Peer edukator berperan
sebagai penguat dalam berbuat sesuatu hal yang positif dengan catatan bahwa peer
edukator yang dibentuk mempunyai norma kelompok yang positif dan sebagai

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

27

wadah dalam melakukan tukar pengalaman dan dapat digunakan untuk aktualisasi
diri atau pengakuan pihak lain (Sahar, Widyatuti & Mulyadi, 2010).
Pelaksanaan peer edukasi dilakukan dalam empat fase (Sahar, Widyatuti &
Mulyadi, 2010), yakni: 1) Fase sebelum interaksi. Kegiatan fase ini adalah
menanyakan apa yang menjadi minat teman peer edukasi untuk dibahas atau
dibicarakan, menanyakan kondisi kesehatan teman peer edukasi, menyiapkan diri
untuk mendengarkan keluhan teman peer edukasi (menyiapkan buku catatan,
modul, dan tarik nafas dalam untuk menenangkan diri), meminta teman peer
edukasi bercerita tentang apa yang dialami dalam tiga hari terakhir yang kurang
menyenangkan, mengklarifikasi pernyataan teman yang belum jelas, mencatat
semua ungkapan teman. 2) Fase orientasi. Tahapan fase orientasi adalah
mengenali permasalahan yang dihadapi teman, menyampaikan pada teman sebaya
tentang kesimpulan yang diambil peer edukator terkait masalah yang dihadapi,
mengidentifikasi solusi yang dianggap sesuai, menanyakan kepada teman sebaya
tentang kesiapannya untuk membahas masalah atau situasi yang dihadapi. 3) Fase
kerja. Tahapan fase kerja yaitu menggali pendapat dengan menanyakan kepada
teman apa yang ia lakukan selama ini untuk menyelesaikan masalah atau situasi
yang dihadapi, menanyakan kepada teman apakah cara yang dilakukan cukup
membantu, memberikan penjelasan yang merupakan solusi dari masalah atau
situasi yang dihadapi teman, meminta teman untuk mengulangi apa yang
disampaikan peer edukator kepadanya, memberikan pujian atas kemampuan
teman peer edukasi dapat mengulangi penjelasan dan menambahkan informasi
yang belum lengkap. 4) Fase terminasi sementara/akhir meliputi menanyakan
kepada teman apakah pembicaraan yang dilakukan oleh peer edukator dapat
membantu mengurangi masalah atau situasi yang dihadapi, membuat janji dengan
teman sebaya untuk diskusi berikut, menganjurkan kepada teman untuk
menerapkan apa yang telah dijelaskan dan membuat catatan atau dokumentasi
hasil penyuluhan kepada teman.
Prinsip pendidikan kesehatan untuk mencapai kesuksesan oleh Edelman dan
Mandel (2010) dan Allender, Rector dan Wagner (2010) yaitu 1) menggunakan
metode yang dapat menstimulasi perasaan dan pola pikir. 2) Melibatkan keaktifan

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

28

peserta selama proses pembelajaran. 3) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan


kondusif. 4) Mengkaji kesiapan pengajar termasuk faktor fisik dan emosi. 5)
Memberi informasi yang relevant sesuai kebutuhan, menarik dan sesuaikan
status/kondisi peserta. 6) Lakukan pengulangan beberapa konsep yang penting
dengan cara yang berbeda. 7) Membuat pertemuan menjadi hal yang positif, beri
penguatan positif pada peserta. 8) Mulai dari hal yang tidak diketahui dan lanjut
ke hal yang ingin diketahui, dari hal yang simpel sampai kompleks. 9) Tambahkan
beberapa contoh dengan setting yang berbeda untuk memudahkan pemahaman.
10) Pastikan kepuasan peserta selama proses. 11) Berikan kesempatan pada
peserta untuk mengulangi materi yang telah diajarkan.
Prinsip pendidikan kesehatan pada anak yaitu: 1) Aktivitas pembelajaran menarik
dan berarti bagi anak. 2) Pengajar menunjukkan rasa cinta dan perhatian pada
semua anak. 3) Pelajaran berdasarkan teori, philosofi, tujuan umum dan tujuan
khusus. 4) Menggunakan materi dan contoh yang konkrit, mulai dari konkrit ke
abstrak. 5) Pelajaran berpusat pada anak. 6) Pelajaran berdasarkan ketertarikan
anak. Hal lain yang mendukung adalah menggunakan metode games, dialog
interaktif antar anak, berlatih/praktek, role play/dramatic play, menjelaskan atau
menujukkan beberapa contoh, menggunakan buku, boneka, cerita dan wayang,
melalui menggambar atau melukis (Edelman & Mandle, 2010).
2.2.2 Proses Kelompok
Proses kelompok adalah salah satu strategi intervensi keperawatan komunitas
yang dilakukan bersama dengan masyarakat melalui pembentukan peer atau sosial
support berdasarkan kondisi dan kebutuhan masyarakat (Sthanhope & Lancaster,
2004; Hitchock, Schuber & Thomas, 1999). Salah satu keterampilan perawat
komunitas yang penting adalah bekerja dengan kelompok. Proses kelompok
adalah cara untuk menginisiasi atau mengimplementasikan perubahan terhadap
individu, keluarga, organisasi dan masyarakat. Perawat komunitas dapat
membentuk kelompok baru atau bekerja sama dengan kelompok yang telah ada
(Sthanhope & Lancaster, 2004).
Proses kelompok dan interaksi AUS adalah melalui peer groups. Pengaruh peer
group terhadap peningkatan harga diri AUS tidak diragukan lagi. Penerimaan oleh

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

29

kelompok sebaya berkontribusi terhadap harga diri tinggi, pengendalian diri dan
gambaran diri yang menjadi keinginan kelompok. Perawat dalam memperbaiki
perkembangan harga diri pada semua AUS yaitu mengingatkan pada anggota peer
group bahwa anak membutuhkan pengalaman untuk sukses melalui tugas-tugas
dan aktivitas yang terstruktur dalam kegiatan kelompok sebaya. Kesempatan
tersebut tidak didapatkan pada semua anak (Edelman & Mandle, 2010).
Proses kelompok pada AUS dapat melalui kelompok latihan/aktivitas fisik dan
organisasi olah raga seperti club base ball, club tari dan club senam. Aktivitas
fisik yang dilakukan bersifat menyenangkan dan disukai oleh kelompok teman
sebaya, anggota keluarga dan masyarakat di sekitar anak (Allgier, 2007 dalam
Edelman & Mandle, 2010). Aktivitas bermain dalam kelompok sebaya
memperbaiki perkembangan sosial, personal dan kognitif anak.
2.2.3 Pemberdayaan
Pemberdayaan adalah strategi promosi kesehatan yang ditujukan kepada individu,
keluarga atau masyarakat langsung sehingga dapat mewujudkan kemampuan
masyarakat dan berperan aktif dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan
sendiri ( Stanhope & Lancaster, 2004; Notoatmojo, 2011). Pemberdayaan sebagai
suatu jalan bagi komunitas untuk memperoleh kontrol terhadap sumber dan
mengubah perbedaan kekuatan melalui perubahan sosial, kunci pemberdayaan
adalah komunikasi antara individu dalam komunitas (Anderson & McFarlane,
2003). Inti dari pemberdayaan adalah informasi, komunikasi dan pendidikan
kesehatan (WHO, 1994 dalam Allender, Rector & Wagner, 2010).
Tujuan pemberdayaan adalah membantu klien (AUS, guru, keluarga) memperoleh
kemampuan untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan
dilakukan untuk menolong diri sendiri. Pemberdayaan pada individu, kelompok,
keluarga atau masyarakat diharapkan mempunyai pengetahuan dan pengalaman
praktek untuk mengembangkan program sejenis di masa mendatang (Notoatmojo,
2010). Pemberdayaan peer, guru dan keluarga terkait penanganan gizi lebih
diharapkan dapat menolong teman sebaya, peserta didik atau anggota keluarga.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

30

Pemberdayaan peer diharapkan dapat mengedukasi AUS dalam memperbaiki


perilaku makan sesuai piramida gizi dan aktivitas fisik (Allender & Spradley,
2005). Pemberdayaan keluarga khusus ibu (perempuan) termasuk dalam
Milennium Development Goals (MDGs) indikator 3 yaitu kesetaraan gender dan
pemberdayaan perempuan untuk memperbaiki status kesehatan, sosial dan
ekonomi. Pemberdayaan ibu bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan
anak (WHO, 2012). Pemberdayaan keluarga bertujuan untuk membantu AUS gizi
lebih dapat belajar menghitung sendiri kebutuhan nutrisi, merencanakan makanan
keluarga, perilaku makan yang sehat bagi semua anggota keluarga (Edelman &
Mandle, 2010). Salah satu bentuk pemberdayaan keluarga adalah partisipasi
terhadap dana sehat sekolah (Adisasmito, 2007). Perawat sekolah memberdayakan
guru dalam mengajar di sekolah tentang cara memilih makanan sehat oleh siswa,
pemantauan berat badan dan kesehatan dan membantu komunitas sekolah
memahami peran media dan budaya memilih makanan. Guru dan staf sekolah
menjadi role model untuk mengoptimalkan perubahan perilaku makan dan latihan
peserta didik (Edelman & Mandle, 2010; Allender, Rector & Wagner).
2.3 Peran dan Fungsi Perawat Komunitas
Perawat komunitas bekerja pada level prevensi primer, sekunder dan tersier
terhadap individu, keluarga, kelompok dan masyarakat (Edelman & Mandle,
2010). Perawat komunitas mempunyai beberapa peran terkait penanganan gizi
lebih antara lain 1) Educator. Perawat komunitas berperan sebagai health
educator. Perawat melakukan edukasi pada individu, keluarga dan masyarakat.
Pemahaman tentang proses belajar mengajar merupakan hal yang penting bagi
perawat komunitas. Proses pembelajaran fokus pada promosi kesehatan,
mempertahankan kesehatan dan pencegahan penyakit (Hitchcock, Schubert &
Thomas, 1999; Edelman & Mandle, 2010) seperti perilaku makan yang sehat dan
meningkatkan aktivitas fisik secara teratur (Pender, Murdaugh & Parsons (2006),
Allender, Rector dan Wagner, 2010). 2) Consultant. Setiap perawat komunitas
adalah konsultan. Perawat memberi informasi kepada klien untuk memilih
beberapa alternatif kegiatan. Perawat membantu klien memahami masalahnya dan
klien membuat keputusan (Hitchcock, Schubert & Thomas, 1999). 3) Researcher.
Perawat komunitas berparisipasi dalam proses penelitian. Kegiatan peneliti

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

31

meliputi mengidentifikasi area masalah, mengumpulkan data, menganalisis,


menginterpretasi data, menggunakan hasil penemuan, mengevaluasi, merancang
dan memimpin penelitian (Hitchcock, Schubert & Thomas, 1999).
2.4 Model Intervensi Keperawatan Komunitas Pada Anak Usia Sekolah
dengan Gizi Lebih
Beberapa model dan teori yang mendasari intervensi asuhan keperawatan
komunitas dengan gizi lebih pada tatanan sekolah, sebagai berikut:
2.4.1 Teori Manajemen
Manajemen keperawatan merupakan proses pelayanan keperawatan untuk
memberikan kerangka dalam asuhan keperawatan pada pasien, keluarga dan
masyarakat. Manajemen pelayanan sebagai rangkaian semua kegiatan yang perlu
dilakukan untuk pencapaian tujuan dalam yang telah ditetapkan. Manajemen
keperawatan sangat dibutuhkan untuk menjamin bentuk aplikasi pelayanan dan
asuhan keperawatan di komunitas dapat dijalankan sesuai dengan tujuan yang
ditentukan pada kerangka awal. Asuhan keperawatan komunitas terkait program
gizi anak usia sekolah dasar menerapkan teori manejemen oleh Terry dan Rue
(2010)

yang

meliputi

pengorganisasian,

lima

fungsi

kepegawaian

manajemen

yaitu

(staffing),

perencanaan,
pemotivasian

(motivating/directing/actuating) dan pengawasan (controlling).


a. Perencanaan
Perencanaan merupakan fungsi dasar atau elemen pertama manajemen
(Swanburg, 2000). Perencanaan memberikan arah dan tujuan suatu organisasi.
Perencanaan kesehatan adalah sebuah proses untuk merumuskan masalahmasalah kesehatan yang terjadi di masyarakat, menentukan kebutuhan dan
sumber daya yang tersedia, memprioritaskan tujuan program yang akan
dicapai, dan menyusun strategi intervensi yang dapat digunakan dalam
mencapai tujuan yang telah disusun (Muninjaya, 2004). Terry dan Rue (2010)
mengatakan bahwa perencanaan menentukan objectives atau tujuan-tujuan
organisasi yang merupakan titik tolak proses manajemen.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

32

Tujuan organisasi tergambar melalui visi dan misi. Suatu instansi atau
organisasi perlu mengumpulkan data dan menganalisisnya, baik data nasional
maupun regional melalui berbagai sumber yang akan digunakan dalam
merumuskan visi, misi, dan rencana strategis (Marquis & Huston, 2006). Dinas
kesehatan Kota Depok mempunyai visi dan misi yang tertuang dalam rencana
strategis Dinas Kesehatan Kota Depok tahun 2011-2016. Visi Dinas Kesehatan
Kota Depok adalah Terwujudnya Kota Depok Sehat dengan layanan
kesehatan merata dan berkualitas. Salah satu misi Dinkes Kota Depok yaitu
meningkatkan promosi kesehatan dan kualitas lingkungan untuk mendukung
pencegahan penyakit (Profil Dinkes Kota Depok, 2010).
Promosi kesehatan sekolah melalui UKS diharapkan mampu meningkatkan
kesehatan komunitas sekolah melalui tiga upaya pokok yaitu pendidikan
kesehatan, pemeliharaan dan pelayanan kesehatan dan menciptakan lingkungan
sekolah yang sehat (Notoatmojo, 2010). Tiga upaya pokok UKS perlu
diperhatikan dalam penyususnan rencana kegiatan UKS setiap tahun. Program
kerja UKS akan dibina dan dikembangkan terus menerus yang tertuang dalam
visi dan misi UKS. Visi UKS adalah membantu generasi sehat, cerdas dan
berkualitas yang berakhlakul karimah. Visi UKS dijabarkan ke dalam misi
UKS yaitu: 1) memberdayakan siswa berperilaku sehat, mandiri, dan
berwawasan lingkungan; 2) meningkatkan peran serta masyarakat dalam
melembagakan dan membudayakan perilaku hidup sehat; 3) mengoptimalkan
lembaga pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat untuk mewujudkan
kabupaten/kota sehat (Dinas Pendidikan Jawa Barat, 2010). Visi dan misi UKS
akan terlaksana sesuai harapan dengan tersedia sumber daya yang memadai.
Sumber daya manusia dalam pelaksanaan UKS terdiri dari orang-orang sebagai
Tim Pembina dan Tim Pelaksana UKS. Tim Pembina dimulai dari tingkat
Pusat sampai tingkat Kecamatan. Tim Pelaksana UKS terdiri dari kepala
sekolah, unsur guru, petugas UKS Puskesmas, unsur komite sekolah, dan unsur
siswa (dokter kecil). Sasaran pelaksanaan UKS adalah peserta didik dari
tingkat Pendidikan Dasar sampai dengan tingkat Pendidikan Menengah
termasuk peserta didik di perguruan dan pondok pesantren beserta

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

33

lingkungannya (Tim Pembina UKS Pusat, 2010). Sumber daya yang cukup
berperan dalam pelaksanaan UKS adalah sumber dana.
Pendanaan UKS tingkat Kabupaten/Kota bersumber dari APBD Tingkat
Kabupaten/Kota. Pendanaan tersebut untuk pelatihan dokter kecil, kader
kesehatan remaja dan pembinaan guru UKS secara bertahap di setiap sekolah
(PJ UKS Dinkes Kota Depok). Pendanaan UKS di tingkat sekolah dapat
bersumber dari partisipasi masyarakat (orangtua) yaitu dana sehat, bertujuan
untuk kegiatan promorif, preventif, kuratif dan rehabilitatif (Dinas Pendidikan
Jawa Barat, 2010; Adisasmito, 2007). Pendanaan UKS terkait juga penyediaan
sarana dan prasarana.
Sarana UKS terdiri dari ruang dan peralatan UKS, antara lain tempat todur,
timbangan berat badan, alat ukur tinggi badan, snellen chart, kotak P3K, obatobatan (betadin, oralit, parasetamol), lemari obat, buku rujukan, KMS, posterposter, struktur organisasi, jadwal piket, tempat cuci tangan, data angka
kesakitan murid, peralatan gigi, contoh model organ tubuh, dan lain-lain (Tim
Pembina UKS Pusat, 2010).
Hasil penelitian dari Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Kesehatan,
Departemen Agama, dan Departemen Dalam Negeri menemukan beberapa
permasalahan yang terkait perencanaan ke depan antara lain: kurangnya guru
yang mengajar pendidikan kesehatan/guru pembina UKS, kader kesehatan
sekolah (dokter kecil) perlu dilatih dalam bidang kesehatan, terbatasnya sarana
dan prasarana UKS (UKS kit, ruang UKS); media komunikasi, informasi dan
edukasi (KIE) seperti poster, leafleat, lembar balik, KMS; buku pedoman di
biadang pembinaan, pelaksanaan dan pengembanangan UKS; sekretariat tim
pembina UKS belum optimal berfungsi (Dinas Pendidikan Jawa Barat, 2010).
b. Pengorganisasian
Terry dan Rue (2010) menyatakan pengorganisasian adalah pengelompokkan
dan menentukan berbagai kegiatan, struktur organisasi, tugas pokok dan
fungsi (tupoksi). Pengorganisasian juga menentukan struktur organisasi
dimulai dari tingkat pusat, propinsi, kabupaten, kecamatan sebagai tim
pembina UKS. Sekolah atau Madrasah sebagai tim pelaksana UKS. Struktur

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

34

organisasi Tim Pelaksana UKS adalah Kepala Sekolah selaku Ketua Tim
Pelaksana UKS, guru pembina UKS sebagai sekretaris I, Ketua Komite
sekolah sebagai sekretaris II, anggota-anggota terdiri dari unsur guru, komite
sekolah, petugas UKS Puskesmas dan unsur siswa. Tugas Tim Pelaksana UKS
adalah melaksanakan tiga program UKS (TRIAS UKS), menjalin kerjasama
dengan orangtua murid, mengadakan penilaian/evaluasi, menyusun program
dan menyampaikan laporan ke TP UKS Kecamatan dan melaksanakan
ketatausahaan. Fungsi Tim Pelaksana sebagai penanggung jawab dan
pelaksana program UKS di sekolah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan TP
UKS Kecamatan (Tim Pembina UKS Pusat, 2010). Untuk lebih memantapkan
pembinaan dan penyelenggaraan UKS secara terpadu diterbitkan Surat
Keputusan Bersama (SKB 4 Menteri) antara Menteri Pendidikan dan
kebudayaan, Menteri Kesehatan, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri
(Disdik Jawa Barat, 2010).
c. Kepegawaian
Untuk keberhasilan suatu organisasi diperlukan sumber daya manusia yang
kompeten atau potensial (Terry & Rue, 2010). Pembina UKS mulai tingkat
pusat sampai tingkat sekolah adalah Dirjen Manajemen Dikdasmen
Depdiknas, Gubernur, Bupati/Walikota, Camat, Lurah/Kepala Desa. Ketua
Pelaksana UKS adalah kepala sekolah/madrasah. Guru Pembina UKS adalah
guru yang ditunjuk membina UKS dan atau guru yang telah mendapat
pelatihan tentang UKS minimal 30 jam pelajaran. Kader kesehatan sekolah
(dokter kecil) yang terpilih memenuhi kriteria yaitu berprestasi di kelas,
berwatak pemimpin, bertanggung jawab, bersih, berperilaku sehat serta telah
mendapatkan pelatihan dari petugas Puskesmas/Tim Pembina UKS (Disdik
Jawa Barat, 2010).
d. Pemotivasian atau Pengarahan
Fungsi pengarahan merupakan fungsi penggerak semua kegiatan program
(ditetapkan pada fungsi pengorganisasian) untuk mencapai tujuan program
(dirumuskan dalam fungsi perencanaan) (Muninjaya, 2002). Salah satu upaya
pengarahan sebagai fungsi manajemen adalah supervisi (Swanburg, 2000).

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

35

Supervisi Tim Pembina UKS dilakukan secara berjenjang yaitu TP UKS Pusat
ke TP UKS Provinsi 1x/tahun, TP Provinsi ke TP Kabupaten 1x/6 bulan (2x),
TP Kabupaten ke TP Kecamatan 1x/4bulan (3x), TP kecamtan ke Tim
Pelaksana 1x/3bulan (4x). Sasaran supervisi adalah manajemen/pengelolaan
kegiatan, jenis dan pelaksanaan kegiatan, keberhasilan kegiatan dan upaya
pengembangan. Bila ditemukan adanya hambatan/penyimpanagn, maka perlu
dilakukan bimbingan dan pengarahan agar kegiatan dapat berjalan dengan
baik (Disdik Jawa Barat, 2010). Reward dan punishment dibutuhkan dalam
pemotivasian (Terry & Rue, 2010). Reward diberikan pada sekolah sehat
terbaik baik secara tingkat Nasional, Provinsi, kabupaten/Kota, maupun
tingkat Kecamatan. Penanggung jawab UKS tingkatPuskesmas mendapat
insentif setiap tahun (PJ UKS Dinkes, 2011).
e. Pengawasan
Fungsi pengawasan adalah menilai standar keberhasilan dengan target,
prosedur kerja dan sebagainya yang harus selalu dibandingkan dengan hasil
yang telah dicapai atau yang mampu dikerjakan oleh staff (Muninjaya, 2003).
Evaluasi dilakukan dengan cara pelaporan secara tertulis dari Tim Pembina
UKS secara berjenjang dan Tim Pelaksana tehadap TP UKS Kecamatan
dengan

menggunakan

instrumen

yang

telah

ditentukan

dan

dapat

dikembangkan sesuai kebutuhan. Ruang lingkup evaluasi meliputi semua


komponen perencanaan program UKS, proses maupun hasil pelaksanaannya
(Disdik Jawa Barat, 2010). Cara evaluasi dilakukan dalam bentuk kualitatif
atau kuantitatif. Indikator strata pelaksanaan UKS dibagi menjadi 4 tingkatan
yaitu: Strata Minimal, Strata Standar, Strata Optimal dan Strata Paripurna
(Tim Pembina Pusat, 2010).

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

36

2.4.2 Model PRECEDE PROCEED

Phase 5

Phase 4

Phase 3

Phase 2

Administrative &
Policy & intervention alligment

Educational & Behavioral


Epidemiological Sosial
organizational & enviromental assesment
assesment
assesment
Precede evaluation tasks: specifying

Phase 1

measurable objektives and baselines

HEALTH
PROGRAM
Educational
strategies

Policy
regulalation
organization

Predisposing
factors

Reinforcing
factors

Enabling
factors

Genetic

Behavior
Health

Quality
of life

Enviroment

Proceed evaluation tasks : Monitoring & continuous Quality Improvement

Phase 6

Phase 7

Phase 8

Phase 9

Implementation

Process

Impact

Outcome

Evaluation

evaluation

evaluation

Gambar 1. Model PRECEDE-PROCEED (Green & Kreuter,1999)


Model Precede-Proceed dikembangkan oleh Green (1999 dalam Maglaya, 2009)
merupakan salah satu model yang digunakan sebagai panduan praktek
keperawatan dalam membuat perencanaan promosi kesehatan, implementasi dan
evaluasi kesehatan. Model Precede-Proceed telah digunakan pada setting sekolah
dalam menciptakan program promosi dan proteksi kesehatan di sekolah (Green &
Kreuter, 2005). Pernyataan Maglaya diperkuat oleh Hitchcock, Schubert, dan

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

37

Thomas (1999) menyatakan bahwa salah satu teori model yang digunakan dalam
keperawatan komunitas untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
seseorang adalah teori model PRECEDE-PROCEED dari Green dan Kreuter.
Model ini memungkinkan perawat komunitas dalam menentukan kebutuhan
populasi sebelum melakukan implementasi program. Model Precede-Procede
terdiri dari 9 fase, yaitu :
a. Fase I : Pengkajian Sosial
Pengkajian sosial secara umum adalah proses mengidentifikasi persepsi
masyarakat terhadap kebutuhan atau kualitas hidup yang dimiliki serta aspirasi
masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup melalui partisipasi dan aplikasi
berbagai informasi yang diterima. Indikator sosial antara lain: ketidakhadiran,
prestasi, kriminal, diskriminasi, kebahagiaan, permusuhan dan keselamatan
(Notoatmojo, 2010). Pengkajian sosial terkait AUS mencakup pengkajian
tentang kualitas hidup AUS misalnya prestasi pendidikan atau akademik,
kehadiran, angka dropout sekolah, dukungan orangtua dan masyarakat untuk
sekolah, dukungan sekolah dan staff yang stabil, masalah pelanggaran disiplin
dan siswa yang dibanggakan di sekolah. (Green & Kreuter, 2005).
b. Fase II: Pengkajian Epidemiologi
Pengkajian epidemiologi menggunakan pendekatan multipel. Perencana
kesehatan meminta informasi dari berbagai sumber seperti perawat sekolah
(guru UKS), petugas klinik sekolah (PJ UKS Puskesmas), data dari
Departemen kesehatan, agency pelayanan sosial, laporan dari dokter anak, dan
lain-lain yang terkait kesehatan sekolah (Green & Kreuter, 2010). Pengkajian
epidemiologi mengungkapkan tentang masalah kesehatan terkait personal,
waktu dan tempat kejadian dengan indikator meliputi mortality, morbidity,
fertility, disability atau deformity, incidence, prevalence, durasi dan lain-lain,
tanda dan gejala yang ditimbulkan, serta cara untuk menanggulangi masalah
kesehatan tersebut. Data tersebut berupa data lokal, tingkat Desa, Kecamatan,
Kabupaten, Provinsi dan tingkat Nasional (Maglaya, 2009; Notoatmojo, 2010;
Green & Kreuter, 2005). Data epidemiologi terkait AUS dan remaja seperti
kehamilan remaja, penyakit seksual menular, penggunaan alkohol dan

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

38

narkoba, merokok, obesitas dan aktivitas fisik yang kurang (Green & Kreuter,
2005).
c. Fase III: Pengkajian Behavioral dan environmental
Fase III mengidentifikasi domain perilaku dan lingkungan di komunitas
(sekolah) yang berkontribusi menyebabkan masalah kesehatan atau sebagai
faktor determinan (Green & Kreuter, 2005; Maglaya,2009). Indikator faktor
lingkungan meliputi lingkungan fisik, ekonomi, sosial dan pelayanan
kesehatan terkait keterjangkauan, kemampuan dan pemerataan (Notoatmojo,
2010). Indikator perilaku meliputi pemanfaatan pelayanan kesehatan, upaya
pencegahan (pengendalian berat badan, olah raga teratur, perilaku makan yang
sehat), pola konsumsi makanan, kepatuhan terhadap regimen terapeutik,
kemampuan pemeliharaan kesehatan sendiri dengan dimensi frekuensi,
kualitas, range dan persisten ( Green & Kreuter, 2005; Maglaya, 2009;
Notoatmojo, 2010). Fokus pengkajian perilaku pada anak dengan gizi lebih
adalah perilaku makan dan aktivitas fisik (CDC, 2011). Pengkajian tentang
faktor lingkungan terkait gizi lebih pada AUS adalah faktor ekonomi, sosial
dan budaya yang mempengaruhi keterjangkauan dan ketersediaan makanan
(Edelman & Mandle, 2010); pengaruh iklan makanan dan minuman melalui
televisi dan papan reklame serta penjaja makanan melalui kendaraan bermotor
mempengaruhi perilaku makan anak tidak sehat (Allender, Rector & Warner,
2010).
d. Fase IV: Edukasional dan organisasional
Fase edukasional dan organisasional terdiri dari tiga faktor yang berkontribusi
yaitu faktor predisposisi, enabling dan reinforcing. Pengkajian tentang faktor
predisposisi meliputi; pengetahuan mengenai kesehatan, kepercayaan
terhadap kesehatan (upaya promosi, pencegahan, pengobatan, rehabilitasi),
nilai tentang kesehatan, sikap dan persepsi terhadap kesehatan secara spesifik
terkait masalah kesehatan yang terjadi. Faktor enabling meliputi; ketrampilan
kesehatan dan sumber (dukungan/ rujukan sosial dan kesehatan) di komunitas
(aksesibilitas/ keterjangkauan dari aspek biaya, jarak, transpostasi, waktu
pelayanan). Faktor reinforcing meliputi; dukungan, reward dan punishment

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

39

dari pihak yang berpengaruh di komunitas sekolah seperti guru, teman sebaya,
keluarga dan media massa. Guru, teman sebaya, keluarga dan media massa
merupakan faktor penguat yang dapat mempengaruhi perilaku makan AUS,
lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut:
1) Keluarga/orangtua
Keluarga atau orangtua merupakan tempat pertama anak memperoleh
pengetahuan atau nilai-nilai. Orangtua dianggap sebagai kunci utama
dalam penerapan nilai-nilai atau prinsip-prinsip terhadap anggota keluarga
(Syarkawi, 2008).

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat dan

sebagai lembaga sosial yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap


anggota

keluarga

sehingga

menjadi

faktor

determinan

terhadap

keberhasilan atau kegagalan anggota keluarga (Friedman, Bowden &


Jones, 2003). Keberhasilan atau kegagalan terjadi pada anggota keluarga
karena terdapat dukungan emosional, fisik dan ekonomi serta interaksi di
dalam keluarga (Kaakinen et al, 2010). Friedman, Bowden dan Jones
(2003) menambahkan bahwa keluarga berfungsi dalam pemenuhan
kebutuhan,

memberi

asuhan

fisik,

emosional

dan

pembentukan

kepribadian.
Keluarga juga berfungsi sebagai pemberi asuhan dalam bidang kesehatan.
Lima tugas keluarga dalam bidang kesehatan diharapkan keluarga
mempunyai

kemampuan

mengambil

keputusan,

mengenal
merawat

masalah

anggota

kesehatan

keluarga,

keluarga,

memodifikasi

lingkungan dan memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan (Depkes,


2006; Maglaya, 2009). Keluarga juga merupakan faktor utama dalam
mendorong dan mengimplementasikan perilaku kesehatan terhadap
anggota keluarga dan masyarakat (Gochman, 1988). American Academy
of Pediatrics (AAP) Commitee tentang nutrisi (1998 dalam Stanhope dan
Lancaster, 2004) menegaskan bahwa orangtua yang mengajarkan anakanak tentang perilaku hidup sehat sepanjang masa merupakan strategi
yang baik dalam mencegah sakit dan promosi kesehatan.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

40

Keluarga atau orangtua diharapkan berperan dalam penyelenggaraan


promosi kesehatan di rumah atau di sekolah sehingga membantu anak
dalam mempraktikkan kebiasaan hidup bersih dan sehat (Notoatmojo,
2010). WHO (1998) telah menganjurkan orangtua dan guru untuk
bekerjasama dalam hal penyediaan makanan sehat di lingkungan sekolah
atau di luar lingkungan sekolah. Keluarga mempunyai peranan besar
dalam pembentuka perilaku termasuk perilaku gizi anak.
Penelitian Saifah (2011) memperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang
bermakna antara peran keluarga dengan perilaku gizi anak usia sekolah di
wilayah kerja Puskesmas Mabelopura Kota Palu. Orangtua dapat
menolong anak-anaknya mengembangkan kebiasaan makan yang sehat
seperti makanan yang direkomendasikan oleh American Heart Association
yaitu mengurangi makanan yang mengandung gula dan lemak tinggi
(Allender, Rector & Wagner, 2010). Nicklas et al (2001) dan Stepherd et
al (2001) menyatakan bahwa perilaku makan anak mengikuti perilaku
makan orang tua. Terdapat hubungan positif antara kebiasaan anak
mengkonsumsi buah dengan kebiasaan ibu mengkonsumsi buah (Gibson,
Wardle & Watts, 1998). Field et al (2001) mengatakan bahwa anak usia
sekolah lebih mencontoh perilaku orangtua dalam melakukan pemantauan
berat badan secara teratur dan diet (OR= 2,6 ; CI 95%).
2) Guru
Guru adalah salah satu faktor penguat dalam merubah perilaku anak
(Green & Kreuter, 2005). Guru berperan dalam pembentukan kepribadian
anak dengan cara menanamkan nilai-nilai, mengembangkan moral dan
kognitif, menganalisis nilai-nilai dan pembelajaran dalam praktek tentang
sesuatu (Syarkawi, 2008). Mike, David, dan Jon (1997) juga menyatakan
bahwa peran guru dapat memberi pengaruh positif pada peserta didik.
Guru merupakan orang tua kedua karena siswa banyak waktu berinteraksi
dengan guru. Guru berperan dalam kesuksesan siswa. Sikap guru
mempunyai pengaruh positif pada siswa dalam jangka waktu yang lama.
Analisis lebih lanjut ditemukan ada korelasi positif peran guru sebagai

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

41

pelaksana pemberi pesan-pesan kesehatan terkait gizi dengan perilaku gizi


anak usia sekolah (= 0,02; r=0,18), menciptakan lingkungan sekolah
sehat dan pelayanan kesehatan dasar terkait gizi belum optimal. Peran
guru terkait pembentukan perilaku gizi anak usia sekolah didukung oleh
Moore (2009) yang menyatakan bahwa pemilihan makanan selama anak di
sekolah ditentukan oleh pengaruh guru.
Tiga penelitian tentang pemberian pendidikan gizi di sekolah oleh guru
terhadap anak usia sekolah dengan overweight dan obesitas dapat
menurunkan berat badan lebih banyak pada kelompok intervensi
dibandingkan kelompok kontrol (Brownel & Kaye,1982; Seltzer & Mayer,
1970; Zakus et al, 1981). Pendidikan gizi di sekolah merupakan salah satu
program

utama

dalam

rangka

perbaikan

gizi tahun

2010-2014

(Kementerian Pendidikan Nasional dalam Kurniasih dkk, 2010),


dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah adalah penting (Edelman &
Mandle, 2010).
Peran guru sangat strategis melakukan promosi kesehatan pada peserta
didik. Promosi kesehatan tentang gizi di sekolah melalui pembelajaran di
kelas, sebagai mentors dan role model adalah hal yang penting dilakukan
oleh guru (WHO, 1998). Wakil Menteri Pendidikan Nasional dalam pidato
di Hari Gizi Nasional 2011 mendukung tentang peran guru dalam
menyampaikan pengetahuan gizi seimbang di sekolah (Media Indonesia,
2011). WHO (1998) menambahkan bahwa guru bertanggung jawab
membahas perilaku gizi anak dengan orangtua dan bekerjasama dalam
penyediaan jajanan sehat di sekolah.
Penyediaan jajanan sehat di sekolah membutuhkan keterlibatan guru
secara optimal. Kesimpulan wawancara terhadap 12 remaja awal
menyatakan bahwa para pelajar mempunyai kebiasaan jajan yang sehat
karena telah disediakan beberapa jajanan sehat di sekolah (Power et al,
2008). Penelitian Quattrin et al (2005) menemukan hasil yang
bertentangan yaitu peran guru belum optmal dalam pengelolaan makanan
sehat dan aman di sekolah meskipun guru telah diberi pelatihan.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

42

3) Teman sebaya (peer)


Teman sebaya adalah seseorang atau kelompok yang mempunyai
karakteristik hampir sama misalnya umur, jenis kelamin, etnis, budaya,
tempat tinggal atau mempunyai pengalaman yang sama (Shinner, 1999
dalam Mc Donald et al, 2003). Teman sebaya mempunyai pengaruh kuat
terhadap pembentukan perilaku anak usia sekolah (Green & Kreuter, 2005;
Friedman, Bowden & Jones, 2003). Teman sebaya dapat memberi dampak
positif atau negatif.
Dampak positif teman sebaya dapat berperan sebagai pemberi ilmu atau
penyuluh yang merupakan salah satu strategi pendidikan kesehatan
(Gilbert, Sawyer & Mc Neil, 2011). Fitriani (2011) membuktikan bahwa
peer edukator dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan
hidup bersih dan sehat anak usia sekolah yang berisiko kecacingan secara
bermakna di Desa Baru Kecamatan Manggar Belitung Timur ( < 0,000;
= 0,05). Sebuah penelitian tentang 21 peer edukator dalam mencegah
dan perawatan HIV/AIDS pada 10 negara di Afrika, Amerika Latin, dan
Caribia menyatakan bahwa edukasi sebaya merupakan strategi efektif
mencegah HIV/AIDS (Flanagan & Mahler, 2006 dalam www.undoc.org).
Keberhasilan positif peer terjadi pada penelitian Lowe et al (2004) yaitu
terdapat hubungan bermakna antara peer modelling videos dengan
peningkatan perilaku anak Sekolah Dasar (n=402) dalam mengkonsumsi
buah-buahan dan sayur (<0,001).
Peer dapat memberi pengaruh negatif terhadap anak usia sekolah. Teman
sebaya mempengaruhi perilaku gizi kurang sehat pada anak usia sekolah
(Muscary, 2001; Maurer & Smith, 2005; Edelman & Mandle, 2010),
termasuk perilaku jajan (Hitchcock, 1999) karena fase anak usia sekolah
terjadi kecenderungan perilaku jajan meningkat (Stanhope & Lancaster,
2004). Penelitian kualitatif Cullen et al (2000) menemukan teman sebaya
tidak

berhasil

mempengaruhi

anak

usia

sekolah

untuk

tidak

mengkonsumsi sayur dan buah secara rutin. Saifah (2011) juga


mendukung belum terdapat hubungan bermakna antara peran teman

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

43

sebaya dengan perilaku gizi anak usia sekolah. Teman sebaya belum
mampu memberi pengaruh positif

terhadap anak usia sekolah dalam

menerapkan prinsip gizi seimbang

khususnya kebiasaan makan buah,

sarapan dan pemantauan berat bada ideal karena anak usia sekolah
dominan dipengaruhi oleh keluarga dan media massa.
e. Fase V: Pengkajian Administratif dan kebijakan
Mencakup identifikasi tentang analisis kebijakan, sumber daya manusia,
sumber dana, dan peraturan yang berlaku yang dapat memfasilitasi atau
menghambat pengembangan program kesehatan. Pengertian kebijakan adalah
seperangkat peraturan yang digunakan sebagai acuan untuk melaksanakan
suatu kegiatan dari program kesehatan, sedangkan peraturan diartikan sebagai
penerapan kebijakan dan penguatan hukum serta perundang-undangan dan
organisasional. (Notoatmojo, 2010). Kewajiban melaksanakan UKS diatur
pada Kepmenkes No.1457 tahun 2003 tentang Standar Pelayanan Minimal
(SPM) bidang kesehatan di Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Peraturan
lain yang mendukung adalah UU No.32 tahun 2004 tentang penyerahan
kepada daerah Kabupaten/Kota untuk menentukan prioritas berbagai program
pelaksanaan UKS. Peraturan yang memperkuat dilaksanakan UKS adalah UU
No.2 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga
yang demokratis serta bertanggung jawab.
Kebijakan

pembinaan

dan

pengembangan

UKS

melibatkan

empat

kementerian terkait SKB 4 Menteri tahun 1984, Tim Pembina Pusat, Tim
Pembina tingkat Provinsi, Tim Pembina Tingkat Kabupaten/Kota, Tingkat
Kecamatan dan Tim Pelaksana di sekolah (Disdik Jawa Barat, 2010).

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

44

f. Fase VI: Implementasi program


Pendidikan kesehatan dalam TRIAS UKS menggunakan beberapa pendekatan
dan metode. Pendekatan yang dapat dilakukan adalah pendekatan individual
dan pendekatan kelompok (kelas, bebas, keluarga). Metode yang dapat
digunakan dalam proses belajar mengajar oleh guru atau pembina antara lain
ceramah, belajar kelompok, diskusi, pemberian tugas, karyawisata, bermain
peran, demonstrasi, tanya jawab dan bimbingan/konseling (Tim Pembina
Pusat, 2010).
Pelayanan kesehatan dilakukan melalui kegiatan promotif, preventif, kuratif
dan rehabilitatif. Kegiatan pelayanan kesehatan dilakukan oleh sebagai
didelegasikan kepada guru pembina UKS dan sebagain kegiatan hanya boleh
dilakukan oleh petugas Puskesmas. Pendekatan pelayanan kesehatan ditujukan
untuk mengurangi masalah perorangan, masalah lingkungan di sekolah dan
membentuk perilaku hidup sehat masyarakat sekolah. Metode yang digunakan
berupa penataran dan pelatihan seperti bimbingan kesehatan dan bimbingan
khusus,

penyuluhan

kesehatan,

dan

pemeriksaan

langsung

dan

pengamatan/observasi (Disdik Jawa Barat, 2010) .


Pembinaan lingkungan sekolah sehat meliputi program pembinaan lingkungan
sekolah, fisik (penyediaan air bersih, pemeliharaan penampungan air bersih,
penyediaan tempat penampungan sampah, pengadaan dan pemeliharaan air
limbah, pemeliharaan WC, kamar mandi, pemeliharaan kebersihan semua
ruangan, kebersihan dan keindahan halaman, kantin/warung, pengadaan pagar
sekolah) dan lingkungan mental dan sosial melalui konseling kesehatan, bakti
sosial sekolah terhadap lingkungan, perkemahan, darmawisata, teater, musik,
olahraga, kepramukaan, PMR, dokterkecil, dan lomba/karnaval/bazar.
Pembinaan lingkungan sekolah termasuk pembinaan lingkungan keluarga dan
pembinaan masyarakat sekitar sekolah (Disdik Jawa Barat, 2010).
g. Fase VII: Evaluasi Proses
Evaluasi proses mengukur aktivitas dari program, kualitas dan orang-orang
yang diluar jangkauan termasuk respon peserta, respon penerimaan, respon

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

45

praktisi, kompetensi personal yang terlibat dalam program serta inisiatif untuk
pengembangan program.
h. Fase VIII: Evaluasi Dampak
Dilaksanakan pada (menjelang) akhir PBL, evaluasi dampak merujuk pada
dampak

yang terjadi pada

komunitas

pada

aspek behavioral

dan

environmental, aspek edukasional dan organisasional serta aspek administrasi


dan kebijakan terkait masalah kesehatan spesifik yang terjadi.
i. Fase IX: Evaluasi Hasil
Pada akhir program dilakukan evaluasi hasil yang mencakup perubahan aspek
sosial (kualitas hidup) dan aspek epidemiologi (kesehatan) komunitas sekolah
setelah dilaksanakan progam.
2.4.3 Comprehensive School Health Models
Comprehensive school health program model dikembangkan oleh Allensworth
dan Kolbe (1987 dalam Story, 1999) dengan delapan komponen yang saling
berinteraksi, yaitu:
a. Pendidikan kesehatan (Health education)
Pendidikan kesehatan menggunakan strategi pembelajaran dan fokus pada
perubahan perilaku untuk meningkatkan status kesehatan (Edelman &
Mandle, 2010). Tujuan pendidikan kesehatan di lingkungan sekolah adalah
diharapkan peserta didik memiliki antara lain:

pengetahuan tentang ilmu

kesehatan, nilai dan sikap positif terhadap prinsip hidup sehat dan dapat
menerapkan perilaku hidup sehat, prinsip-prinsip pencegahan penyakit
sehingga dapat menghindari pengaruh buruk dari luar dan memiliki derajat
kesehatan yang optimal (Disdik Jawa Barat, 2010).
Tujuan utama dari pendidikan kesehatan terhadap pencegahan overweight dan
obesitas adalah membantu anak dalam melaksanakan perilaku makan sehat
dan aktivitas fisik/olahraga secara teratur. Pendidikan kesehatan menekankan
kepada siswa untuk mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan
yang dibutuhkan dalam mempertahankan pola makan yang sehat dan aktivitas
fisik. Konsep pembelajaran termasuk kesehatan fisik, sosial dan mental

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

46

bermanfaat terhadap aktivitas fisik dan pola makan sehat, ukuran porsi makan,
tehnik mengatur berat badan yang cocok/ideal dan pengembangan program
aktivitas fisik yang aman dan efektif. Peserta didik diajarkan bagaimana
mengaplikasikan perilaku sehat seperti menaksir dan mengontrol diet dan
latihan fisik/olahraga, tujuan untuk berubah dan tehnik mempertahankan
perubahan perilaku sehat yang telah dicapai. Pendidikan kesehatan paling
efektif apabila diintegrasikan kedalam kurikulum sekolah. Metode yang baik
digunakan

adalah

pembelajaran

dengan

penugasan

(mencari

jawaban/pemecahan masalah), kerja kelompok, analisis situasi, peer teaching,


membuat tujuan dan komitmen untuk berubah, menentukan peluang untuk
meningkatkan manfaat akibat modifikasi perilaku sehat. Pelatihan diberikan
terhadap guru tentang konsep aktivitas fisik dan pola makan yang sehat,
strategi pembelajaran aktif dan perubahan perilaku. Pelatihan guru tentang
materi gizi dan aktivitas fisik di kelas perlu ditingkatkan (Story, 1999).
b. Pelayanan kesehatan
Pelayanan kesehatan sekolah pada umumnya mencakup pelayanan yang
bersifat prevensi primer (promosi dan pendidikan kesehatan, pencegahan
masalah kesehatan pada anak); sekunder (skrining terhadap berbagai
penyakit,monitoring tumbuh kembang anak, memberi pertolongan pertama
pada penyakit atau kecelakaan/cedera); tersier (perawatan lanjutan pada anak
yang membutuhkan pelayanan perawatan jangka panjang bersama-sama
dengan pihak pendidikan dan mansyarakat (Stanhope & Lancaster, 2004).
Pelayanan kesehatan yang diberikan di sekolah adalah pelayanan bersifat
pencegahan seperti imunisasi dan skrining, pelayanan yang bersifat emergecy
(darurat), pengelolaan penyakit akut dan kronik, rujukan, konseling kesehatan,
pendidikan tentang gaya hidup sehat, dan administrasi pengobatan yang
dibolehkan (Nies & McEwen, 2007).
Pelayanan kesehatan terhadap pencegahan dan pengobatan obesitas meliputi
screening berat badan lebih, konseling pencegahan obesitas, pengelolaan dan
pemantauan berat badan secara teratur, pengobatan atau rujukan. Pelayanan
kesehatan terhadap siswa dapat dilakukan di klinik kesehatan sekolah (UKS)

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

47

atau dirujuk ke pusat pelayanan kesehatan masyarakat (Puskesmas) dan


bekerjasama dengan keluarga (Story, 1999). Pelayanan kesehatan di
Puskesmas bagi peserta didik yang dirujuk dari sekolah diperlukan
kesepakatan dalam rapat perencanaan tentang pembiayaan peserta didik yang
dirujuk. Dana sehat sekolah merupakan salah satu solusi untuk pembiayaan
sehingga tidak menghambat pelayanan yang diberikan (Tim Pembina UKS
Pusat, 2010).
c. Pelayanan gizi
Pelayanan gizi adalah sekolah menyediakan berbagai makanan bergizi dan
menarik. Pelayanan gizi termasuk school breakfast program dan school lunch
program, baik merupakan program nasional atau swadana siswa (Story, 2009).
d. Lingkungan sekolah sehat
Lingkungan sekolah mempunyai kebijakan untuk membina kantin sekolah,
penjaja makanan yang berada di lingkungan sekolah terhadap penyediaan
berbagai jenis makanan dan aktivitas nutrisi. Sekolah mempromosikan pilihan
makanan sehat dan aman melalui kafetaria, kantin sekolah, atau penjaja
makanan di lingkungan sekolah (Story, 2009), termsuk pengadaan dan
pemeliharaan warung/kantin sekolah (Disdik Jawa Barat, 2010).
e. Pendidikan jasmani
Pendidikan

jasmani

adalah

salah

satu

kurikulum

sekolah

yang

mempromosikan aktivitas fisik dan olahraga secara teratur yang diikuti semua
siswa untuk mempertahankan berat badan normal dan kebugaran. Pendidikan
jasmani dapat dilakukan di kelas dan di luar kelas (Story, 2010). Pendidikan
jasmani fokus pada aktivitas fisik yang dapat dilakukan secara kontinyu
sampai dewasa seperti jalan kaki, berenang, bersepeda, dan jogging.
Pendidikan jasmani mendorong anak untuk mengurangi aktivitas santai dan
meningkatkan aktivitas fisik dan olahraga secara teratur. Aktivitas
fisik/olahraga teratur dapat meningkatkan atau mempertahankan kesehatan
otot dan tulang (Nies & McEwen, 2007). Penelitian menunjukkan bahwa anak
dan remaja yang aktif berolahraga mempunyai rasa percaya diri dan harga diri
yang tinggi dan mengurangi kecemasan, stres dan depresi (CDC, 2004 dalam

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

48

Nies & McEwen, 2007). Lama aktivitas fisik yang baik adalah 3-5 kali per
minggu selama satu jam atau 30 menit setiap hari (Depkes, 2002).
f. Promosi kesehatan bagi staff sekolah
Program promosi kesehatan

ditujukan bagi semua personel sekolah yaitu

guru-guru, staff, penjaga dan petugas kantin/warung sekolah melaksanakan


pola makan sehat berpartisipasi dalam beraktivitas fisik/olahraga dan
manajemen berat badan. Semua personel sekolah berkomitmen untuk
melaksanakan perilaku makan sehat dan aktivitas fisik secara teratur sebagai
program pencegahan obesitas. Personel sekolah berperan menjadi role model
bagi siswa dalam berperilaku makan sehat dan beraktivitas fisik secara teratur
(Story, 1999).
g. Program psikologis dan konseling sekolah
Konseling berbasis sekolah dilakukan pada saat terdapat tantangan terhadap
pencegahan dan perawatan obesitas dalam melaksanakan pola makan sehat
dan beraktivitas fisik secara teratur. Misalnya, ditemukan anak obesitas tidak
terdapat perubahan dalam pelaksanaan pola makan sehat dan aktivitas fisik,
maka dilakukan konseling gizi oleh guru yang terlatih, perawat sekolah atau
dirujuk ke ahli gizi (Story, 1999).
h. Keterlibatan keluarga dan masyarakat
Kesuksesan terhadap intervensi obesitas akibat dukungan dari berbagai
individu yang terdapat di lingkungan anak (guru, teman sebaya, orangtua,
profesional kesehatan) dan di lingkungan dimana anak berfungsi (sekolah,
rumah, masyarakat). Keterlibatan keluarga dan masyarakat efektif dalam
merubah perilaku makan dan aktivitas fisik anak. Orangtua merupakan kunci
dalam melakukan promosi kesehatan tentang pola makan sehat dan aktivitas
fisik bagi anak-anak. Orangtua merupakan role model dan pendukung utama
bagi anggota keluarga dalam berperilaku sehat (Story, 1999). Keterkaitan
antara 8 komponen CSHM dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

49

Health
education
Physical
education

family/com
munity
involvement

Health
services

Anak
Usia
Sekolah

health
promotion
for staff

Healthy
school
enviroment

Nutrition
services
Counseling,
psycological
services

Gambar 2. Comprehensive School Health Models (CDC, 2001 dalam


Stanhope & Lancaster, 2004)

Model Precede-Proceed pertama kali digunakan pada tatanan sekolah


dengan integrasi Comprehensive School Health Models (Green & Kreuter,
2005). CDC (2011) menyatakan bahwa dua intervensi kunci terhadap
pencegahan atau pengendalian gizi lebih yaitu meningkatkan aktivitas fisik
dan mengkonsumsi makanan sehat (rendah lemak dan kalori). Upaya
untuk mempromosikan aktivitas fisik dan makan sehat pada semua siswa
dengan program kesehatan sekolah secara komprehensif.
2.4.4 Family Nursing Center Model (FNCM)
Family Nursing Center Model oleh Friedman, Jones dan Bowden (2003)
dirancang untuk asuhan keperawatan keluarga. Variabel-variabel yang harus
dikaji menurut model Friedman adalah: 1) Variabel sosiokultural (suku/bangsa,
bahasa, agama, umur, jenis kelamin, status sosial ekonomi, pendidikan). 2)
Variabel lingkungan (struktur rumah, karakteristik tetangga dan komunitas,
keamananan dan bahaya lingkungan). 3) Variabel struktural (pola komunikasi,
struktur kekuatan, struktur peran, nilai dan norma) 4) Variabel fungsional (fungsi
afektif, fungsi sosialisasi, fungsi perawatan kesehatan: pola makan, pola
tidur/istirahat, latihan dan rekreasi, medikasi, kebersihan dan kesehatan

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

50

lingkungan, medikasi untuk pencegahan, terapi alternatif yang digunakan).


5) Variabel stres dan koping keluarga. 6) Pemeriksaan fisik anggota keluarga.
Keluarga merupakan unit terkecil dari sistem sosial masyarakat. Keluarga terdiri
atas kumpulan individu yang bergabung oleh adanya ikatan pernikahan, hubungan
darah, atau adopsi dan tinggal dalam suatu rumah tangga yang sama (Friedman,
Bowden & Jones, 2003). Keluarga atau orangtua diharapkan berperan dalam
penyelenggaraan promosi kesehatan di rumah atau di sekolah sehingga membantu
anak dalam mempraktikkan kebiasaan hidup bersih dan sehat (Notoatmojo, 2010).
Fungsi keluarga di bidang kesehatan diharapkan mampu melaksanakan tugas
kesehatan keluarga (Friedman, Bowden, & Jones, 2003). Lima katagori yang
berkaitan dengan ketidakmampuan keluarga dalam melaksanakan tugas kesehatan
(Maglaya, 2009) meliputi 1) Ketidampuan mengenal masalah kesehatan keluarga.
2) Ketidakmampuan keluarga

mengambil keputusan

yang tepat

untuk

keperawatan keluarga. 3) Ketidakmampuan keluarga melaksanakan perawatan


kesehatan terhadap anggota keluarga yang mengalami maslah kesehatan.
4) Ketidakmampuan keluarga memelihara lingkungan keluarga yang kondusif.
5) Ketidakmampuan keluarga menggunakan sumber-sumber pelayanan kesehatan.
Pelaksanaan tugas keluarga di bidang kesehatan diukur dengan melihat tingkat
kemandirian keluarga berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan nomor 279
tahun 2006. Tingkat kemandirian keluarga terdiri dari tujuh indikator yaitu:
1) Menerima petugas kesehatan. 2) Menerima pelayanan kesehatan sesuai rencana
keperawatan. 3) Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara
benar.

4) Memanfaatkan fasilitas

pelayanan kesehatan sesuai anjuran.

5) Melakukan tindakan keperawatan sederhana sesuai anjuran. 6) Melakukan


tindakan pencegahan secara aktif. 7) Melakukan tindakan peningkatan kesehatan
(promotif) secara aktif. Tingkat kemandirian keluarga terdiri dari empat kategori
yaitu tingkat kemandirian I-IV (Depkes, 2006). Tingkat kemandirian keluarga
terkait penanganan gizi lebih akan tergambar melalui fungsi perawatan kesehatan
keluarga khususnya praktik diet keluarga dan aktivitas fisik keluarga.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

51

Praktik diet keluarga adalah menggambarkan tentang pola makan keluarga.


Praktik diet keluarga yang buruk dapat menyebabkan obesitas. Jenis dan jumlah
asupan makanan (asupan kalori) disesuaikan dengan jumlah energi yang
digunakan tubuh. Makanan yang dikonsumsi sebaiknya mengikuti piramida
pedoman makanan (Tumpeng gizi seimbang). Riwayat makan dan kualitas diet
keluarga dilihat dari catatan makanan tiga hari. Catatan harian diet keluarga
meliputi tiga kali makan utama dan dua kali selingan atau kudapan. Pengkajian
terhadap pilihan makanan keluarga harus merupakan upaya kolaboratif antara
keluarga dan perawat.
Sistem nilai dan kepercayaan keluarga yang mendasari praktik makanan mereka
perlu dipahami sebagai landasan bekerja sama untuk memodifikasi yang
diperlukan. Informasi tambahan yang relevan dalam mengkaji praktik diet
keluarga meliputi kesadaran mengenai fungsi waktu makan, kebiasaan makan
bersama. Praktik diet keluarga juga mengkaji praktik belanja, perencanaan dan
penyajian makanan. Keluarga diajarkan dan dibimbing dalam memperbaiki
praktik diet keluarga (Friedman, Jones & Bowden, 2003). Anggota keluarga perlu
diajarkan makan makanan bervariasi sejak kecil. Pengaruh unsur budaya
dipelajari sejak awal dari proses sosialisasi terhadap perilaku kesehatan, termasuk
budaya makan sayur dan buah diterapkan sejak awal kehidupan anak
(Notoatmojo, 2010), optimalisasi tumbuh kembang dan mencegah kelebihan berat
badan (Edelman & Mandle, 2010).
Faktor budaya dapat mempengaruhi persepsi orangtua yang dapat menghambat
penaggulangan gizi lebih pada AUS. Kegagalan terhadap upaya mengurangi
overweight atau obesitas disebabkan karena persepsi orangtua terhadap anak
gemuk adalah sehat dan didukung oleh budaya keluarga sehingga menghambat
pemberian informasi dan pemeriksaan IMT (Fitzgibbon & Beech, 2009); motivasi
orangtua kurang dalam menangani kelebihan berat badan anak anak mereka
(Soderlund et al, 2009). Motivasi diperlukan dalam penanggulangan gizi lebih
pada anggota keluarga.
Motivasi mendorong seseorang untuk bertindak atau berperilaku sehat termasuk
praktik diet keluarga yang sehat (Notoatmojo, 2010). Seseorang berperilaku sehat
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

52

karena dipengaruhi tiga hal yaitu pengetahuan yang tepat, motivasi dan
keterampilan hidup sehat (John et al, 1994 dalam Notoatmojo, 2010). Sebaliknya,
seseorang sulit termotivasi untuk berperilaku sehat karena dampak yang
ditimbulkan tidak dirasakan langsung secara cepat (Notoatmojo, 2010).
Upaya penanggulangan gizi lebih melalui perbaikan perilaku makan anak dan
aktivitas fisik dimulai dari lingkungan rumah sejak awal tahap perkembangan
anak. Orangtua mempunyai peran sangat penting dalam pencegahan dan
pengawasan kelebihan berat badan anak. Keterlibatan dan upaya langsung dari
orangtua dimulai sejak dini tahap tumbuh kembang anak untuk melaksanakan
praktek hidup sehat baik di dalam maupun di luar rumah (Lindsay et al, 2006).
Perawatan overweight atau obesitas harus dilakukan sedini mungkin dan berbagai
macam cara (Montalto, 1998 dalam Nies & McEwen, 2007). Kesimpulan tentang
hambatan budaya dari keluarga dapat diperbaiki dengan memberi pendidikan
kesehatan pada orangtua tentang perilaku makan yang sehat dan aktivitas fisik
yang tinggi terhadap pencegahan kelebihan berat badan dilakukan sejak awal
tahap perkembangan anak sehingga akan tertanam budaya atau perilaku makan
yang sehat dan aktivitas fisik pada keluarga dan anak sedini mungkin.
Aktivitas fisik yang teratur meningkatkan kesehatan secara umum. Anjuran
kesehatan masyarakat terbaru mengenai aktivitas fisik dianjurkan setiap hari
selama 30 menit. Pengkajian terkait persepsi keluarga terhadap aktivitas fisik
antara lain aktivitas kerja harian, keyakinan keluarga mengenai hubungan
aktivitas fisik dengan kesehatan dan perasaan keluarga tentang kepuasan setelah
beraktivitas fisik dan tipe aktivitas (Friedman, Jones & Bowden, 2003). Anak
yang susah melakukan perilaku makan sehat dan aktivitas fisik, anak perlu
dilakukan modifikasi perilaku.
Tehnik modifikasi perilaku dapat membantu dalam mengurangi masalah perilaku
anak. Beberapa perilaku yang diharapkan dibuat dalam satu daftar perilaku.
Dorong anak untuk memilih perilaku sehat dan dimasukkan dalam daftar,
kemudian anak melaksanakan di rumah sesuai kemampuan anak. Modifikasi
perilaku dapat menggunakan sistem reward dan punsihment pada anak (Sears,
2010) .

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

53

Ketiga model yang telah dijelaskan digunakan penulis dalam praktek asuhan
keperawatan komunitas pada aggregat anak usia sekolah dengan gizi lebih,
diaplikasikan dalam satu bentuk kerangka kerja (framework) dan membentuk satu
model yang diberi nama Model PERKASA (PEer, guRu, Keluarga, maKan Sehat,
Aktivitas fisik). Lebih jelasnya dapat dilihat pada skema di bawah ini:

Fungsi
Mana
jemen

- Penkes
- proses
kelom
pok
- pember
dayaan

PEER:
-edukator
-monitoring
PM & AF
-senam
-timbang BB

GURU:
- teaching
(kurikuler)

KELUAR
GA/ORTU
(friedman)
- edukator
- penyedia
- modelling

Perilaku makan
sehat:
- sarapan
- sayur & buah
2-3 x/hari
- jajan sehat
CSHM:
- helath
education
- pendidikan
jasmani
- pelayanan
kesehatan
- keterlibatan
keluarga

Kemandirian
keluarga (I-IV)

A
U
S

IMT
menu
run

Preva
lensi
OW &
OB

Aktivitas fisik:
- olahraga min
3x/mg (1jam)
- Nonton TV,
internet, PS,
Games 2 jam

Skema 1. Kerangka kerja Model PERKASA


Sumber:

Modifikasi dari Model Precede-Proceed, Green & Kreuter (2005);


Comprehensive School Health Model (CDC, 2001); Family Nursing Center
Model (Friedman, 2003), fungsi manajemen (Terry & Rue, 2010)

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

QOL

54

BAB 3
KERANGKA KERJA DAN PROFIL SEKOLAH

Bab ini menjelaskan tentang kerangka kerja (framework) asuhan manajemen


pelayanan

dan asuhan

keperawatan komunitas setting

sekolah dengan

menggunakan teori manajemen, model Preceed-Proceed, Comprehensive school


health Model dan Family center nursing model terhadap penanggulangan gizi
lebih pada aggregate anak usia sekolah. Selanjutnya akan dibahas profil Sekolah
Dasar Negeri (SDN) Pasir Gunung Selatan 3 yang menjadi area pelaksanaan
program Model PERKASA
3.1 Kerangka Kerja

54
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

55

Kerangka Kerja Penyelesaian Masalah Gizi Lebih pada Aggregat Anak Usia Sekolah di SD Pasir Gunung Selatan 3
INPUT
Manajemen :

perencanaan

pengorganisasian

supervisi, pengarahan dan bimbingan

monitoring dan evaluasi

Model Precede (Green & Kreuter, 2005) :


1. Predisposing
Pengetahuan
Sikap
Praktik
(Perilaku ttg Prinsip Gizi Seimbang)
2. Enabling
Kebijakan
Ketersediaan/akses
3. Reinforcing

peer

guru

keluarga

Comprehensive School Health Program


model (CDC,2001)
Pendidikan kesehatan
Pendidikan jasmani
Pelayanan gizi

Family centre nursing model (Friedman,


2003) :

Praktik diet

Tugas kesehatan keluarga

PROSES
Reinforcing
factor :
- PEer
- guRu
- Keluarga

Strategi
intervensi:
-edukasi
-pemberdayaan
-proses kelompok

DX KEP
terkait
gizi
lebih
pada
AUS

Komunitas:
Pembentukan peer
edukator
Pendidikan gizi
GERSABUH
Club Senam Ceria (CSC)
Pembentukan dana sehat
Supervisi
Anak Usia Sekolah:
Edukasi sebaya
Game, gerak dan lagu,
buku cerita, diskusi,
praktek menyusun menu
seimbang, pengukuran
BB & TB
monitoring perilaku
makan & aktivitas fisik
Senam dan OR lain
Keluarga :
pendidikan kesehatan
coaching
modifikasi perilaku
konseling

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

OUTPUT
Pelayanan kesehatan
sekolah:
Struktur organisasi UKS
Kemampuan peer
edukator menjalankan
perannya
Pendidikan gizi
terintegrasi kurikulum
Persentase partisipasi
GERSABUH dan CSC
Terbentuk dana sehat
Supervisi berkala
terlaksana

AUS gizi lebih :


Pengetahuan tentang
prinsip gizi seimbang
Perilaku makan Sehat
Aktivitas fisik
IMT menurun/normal

Keluarga :
Tingkat Kemandirian
Keluarga (KM I-KM IV)
Universitas Indonesia

Quality of
life
meningkat

Angka
kejadian
gizi lebih
menurun

56

3.2 Profil SDN Pasir Gunung Selatan 3


SDN Pasir Gunung Selatan 3 berdiri pada tanggal 1 Desember 1983, terletak di
jalan Pondok Pesantren RT 01/ RW 13 Kelurahan Pasir Gunung Selatan
Kecamatan Cimanggis Kota Depok, berbatasan langsung dengan Jakarta Timur,
sebelah Timur terdapat Mako Brimob, Sebelah Barat terdapat asrama Paspampres
dan sebelah Selatan adalah Kelurahan Tugu. SDN Pasir Gunung Selatan 3 jaman
dulu dikenal dengan sekolah pinggiran dan kumuh. SDN Pasir Gunung Selatan 3
mengalami kemajuan (pembangunan dan prestasi) setelah kepemimpinan Kepala
Sekolah sekarang.
Beberapa prestasi yang telah dicapai sejak tahun 2009 diantaranya adalah juara I
Perpustakaan Tingkat kota Depok tahun 2009, juara 2 sekolah sehat tingkat Kota
Depok tahun 2009, juara I sekolah sehat tingkat Kota Depok tahun 2010, juara I
sekolah sehat tingkat Kecamatan Cimanggis tahun 2011, sehingga SDN Pasir
Gunung Selatan 3 lagi yang mewakili Kecamatan Cimanggis ke Tingkat Kota
Depok untuk penilaian sekolah sehat. Beberapa prestasi (juara 1-3) di bidang
olahraga seperti atletik, bulu tangkis, volly, catur untuk tingkat kecamatan
maupun tingkat kota Depok, serta juara 1 putra Pildacil tingkat kecamatan
Cimanggis.
Jumlah tenaga pengajar SDN Pasir Gunung Selatan 3 sangat sedikit dibanding
jumlah kelas yang ada. Jumlah guru sebayak 9 orang, 4 orang berstatus PNS dan 5
berstatus honorer. Setiap guru bertanggung jawab mengajar semua pelajaran pada
satu kelas kecuali mata pelajaran agama diajar oleh seorang guru agama. SDN
Pasir Gunung Selatan 3 tidak mempunyai guru olahraga khusus, sehingga
pelajaran olahraga/ penjaskes diajarkan oleh wali kelas masing-masing. Selain
tenaga pengajar, terdapat dua tenaga penjaga sekolah terdiri dari satu orang
berstatus PNS dan satu orang berstatus honorer. Pendidikan terakhir kepala
sekolah dan tenaga pengajar terdiri dari 2 orang Magister, Adapun jumlah murid
sebanyak 310 murid terdiri dari 152 berjenis kelamin laki-laki dan 158 berjenis
kelamin perempuan. Jumlah kelas sebanyak 9 kelas terdiri dari kelas I, II, III
masing-masing sebanyak 2 kelas dan kelas IV, V, VI masing-masing sebanyak 1
kelas.

1
Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Universitas Indonesia

57
Sarana SDN Pasir Gunung Selatan 3 yang lain adalah memiliki 1 ruang kepala
sekolah yang cukup memadai, 1 ruang guru, 1 ruang perpustakaan,
1 mushollah dan tempat wudhu (5 kran), 1 ruang komputer yang memiliki 8
unit komputer, 1 pos jaga, 1 gudang, dapur, ruang serba guna yang merangkap
ruang kesenian dan memiliki satu set alat musik gamelan. Sarana sekolah
terkait kesehatan meliputi lapangan upacara yang cukup memadai, 1 lapangan
voly dan futsal, 1 ruang UKS yang mempunyai peralatan ideal, 6 WC murid
dan 1 WC guru, tersedia sumber air bersih dan 1 tower air, 10 kran air
mengalir untuk mencucui tangan, tersedia 3 tempat sampah organik dan non
organik dan 2 warung sekolah yang dikelolah oleh penjaga sekolah. Sarana
yang mendukung pembelajaran adalah terdapat 1 kebun tanaman obat
tradisional dan 1 kolam ikan. Keberlangsungan proses belajar mengajar sangat
ditunjang oleh pendanaan.
Pendanaan SDN Pasir Gunung Selatan 3 berasal dari dana Biaya Operasional
Sekolah (BOS) dan swadaya orangtua (komite sekolah). Dana yang ada juga
mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler seperti seni tari dan musik sunda,
Pramuka dan Dokter kecil. Kegiatan seni dibina oleh Bapak S dan Ibu HS.
Kegiatan Pramuka dibina oleh guru/walikelas masing-masing. Kegiatan
Dokter kecil dibina oleh Puskesmas dan guru UKS.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

58
BAB 4
PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK USIA
SEKOLAH DENGAN GIZI LEBIH

Bab 4 menguraikan pelaksanaan pengelolaan pelayanan keperawatan komunitas


di setting sekolah terhadap agregat anak usia sekolah dengan gizi lebih meliputi
analisis situasi dan penyelesaian masalah pengelolaan pelayanan keperawatan.
4.1 Pengelolaan Pengelolaan Pelayanan Keperawatan
4.1.1 Analisis Situasi
Analisis situasi adalah langkah pertama proses penyusunan perencanaan
(Muninjaya, 2004). Analisis situasi merupakan penelaahan penerapan Manajemen
Pelayanan Keperawatan Komunitas terkait program gizi anak usia sekolah dasar
(usia 6-12 tahun) khusus gizi lebih di Kelurahan Pasir Gunung Selatan Kecamatan
Cimanggis Kota Depok. Analisis situasi merupakan proses mengidentifikasi
masalah dan potensi yang digunakan organisasi untuk melakukan intervensi.
Hasil analisis situasi program gizi anak usia sekolah, akan menggunakan
pendekatan manajemen organisasi menurut Swanburg (2000) dan Terry dan Rue
(2010)

yaitu

tahapan

pengorganisasian

manajemen

(organizing),

terdiri

dari

kepegawaian

perencanaan
(staffing),

(planning),
pemotivasian

(motivating/directing/actuating) dan pengawasan (controlling). Analisis situasi


berdasarkan fungsi manajemen sebagai berikut:
a. Perencanaan
Perencanaan merupakan fungsi dasar atau elemen pertama manajemen
(Swanburg, 2000). Terry dan Rue (2010) mengatakan bahwa perencanaan
menentukan objectives atau tujuan-tujuan organisasi yang merupakan titik
tolak proses manajemen. Perencanaan meliputi visi dan misi, rencana kerja,
anggaran dan sumber daya manusia. Analisis situasi dimulai dari fungsi
manajemen Dinas Kesehatan Kota Depok.
Penanggung jawab program usaha kesehatan sekolah (UKS) Kota Depok dan
Puskesmas PGS mengatakan bahwa belum ada perencanaan kegiatan khusus
penanganan gizi lebih, hal ini dikarenakan terbatas anggaran untuk pelayanan
58
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

59
kesehatan anak usia sekolah, masih fokus ke penanganan gizi lebih. SDN PGS
3 tidak mempunyai alokasi dana khusus untuk kegiatan UKS yang merupakan
wadah pelayanan kesehatan anak sekolah. Pendanaan kegiatan yang seperlunya
diambil dari biaya operasional sekolah (BOS). SDN PGS 3 belum mempunyai
dana sehat. Keterbatasan sumber dana merupakan salah satu hambatan
kelancaran program UKS. Sumber dana merupakan hal yang dipertimbangkan
dalam perencanaan organisasi untuk mendukung keberlangsungan suatu
program (Marquis & Huston, 2000).
Selain keterbatasan anggaran, SDN PGS 3 juga keterbatasan sumber daya
manusia, termasuk guru UKS (mengajar UKS) dan guru olah raga khusus.
Sumber daya yang dimiliki suatu organisasi atau sekolah dapat disesuaikan
dengan rencana kerja yang disusun. SDN PGS 3 sudah mempunyai rencana
kerja satu tahun, namun belum efektif dalam pelaksanaan program.
Keterbatasan sumber daya dalam pelaksanaan UKS akan dioptimalkan pada
sistem pengorganisasian.
b. Pengorganisasian
Pengorganisasian

adalah

fungsi

manajemen

yang

mengatur

seluruh

penggunaan sumber daya secara efektif dan efisian guna mencapai tujuan
organisasi. Terry dan Rue (2010) menyatakan pengorganisasian adalah
pengelompokkan dan menentukan berbagai kegiatan, struktur organisasi,
tugas pokok dan fungsi (tupoksi). Analisis fungsi pengorganisasian pada
manajemen pelayanan kesehatan sekolah di SDN Pasir Gunung selatan 3
adalah belum optimal peran dan fungsi tim pelaksana UKS. Tim Pelaksana
UKS yang terdapat pada struktur organisasi UKS tidak sesuai kenyataan
dalam pelaksanaan tupoksi masing-masing sehingga diperlukan revisi struktur
organisasi. Marquis dan Huston (2003) mengatakan bahwa struktur organisasi
bertujuan mengatur alur komunikasi, pembagian kerja dan tanggung jawab.
Guru dan kader kesehatan sekolah yang berperan banyak dalam pelaksanaan
TRIAS UKS.
Guru SDN Pasir Gunung Selatan 3 yang telah mengikuti workshop dan
pelatihan guru UKS belum memperlihatkan kinerja secara optimal serta guru-

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

60
guru lain yang pernah mengikuti pelatihan guru UKS. Pelaksanaan pendidikan
kesehatan sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
khusus pada standar isi telah diatur dalam Peraturan Mendiknas no 22 tahun
2006 pada mata ajar Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (Disdik
Jawa Barat, 2010), namun SDN PGS 3 belum menerapkan secara optimal.
SDN PGS 3 telah mempunyai kader kesehatan sekolah (KKS) sebanyak 40
anak. Jumlah KKS sudah memenuhi syarat untuk kebutuhan sekolah yaitu
10:1, jumlah peserta didik sebanyak 326 siswa. Jumlah KKS yang cukup
merupakan potensi untuk berjalan kegiatan UKS.
Jumlah KKS yang memadai sangat memungkinkan untuk pelaksanaan TRIAS
UKS dengan baik, namun peran KKS belum berjalan secara optimal.
Pemberdayaan KKS belum terlaksana secara optimal. Kegiatan tugas piket
harian belum terorganisir baik.
c. Kepersonaliaan
Kepersonaliaan adalah fase ketiga proses manajemen yang merupakan proses
merekrut, memilih tenaga kerja dan mengorientasikan serta meningkatkan
kinerja untuk mencapai tujuan organisasi (Marquis & Huston, 2000).
Kepersonaliaan melibatkan penyeleksian dan perkembangan personal untuk
pekerjaan-pekerjaan

yang

diciptakan

oleh

fungsi

pengorganisasian.

Kepersonaliaan dianggap sebagai bagian dari fungsi pengorganisasian, tetapi


sebagian

orang

menganggap

sebagai

fungsi

manajemen

tersendiri.

Keberhasilan suatu organisasi diperlukan sumber daya manusia yang


kompeten atau potensial (Terry & Rue, 2010).
Sumber daya manusia yang dimiliki SDN Pasir Gunung Selatan 3 antara lain
40 dokter kecil. Pelatihan dokter kecil sudah dua kali dilakukan oleh
Puskesmas

Pasir Gunung

Selatan.

Kemampuan

dokter kecil

dalam

melaksanakan tugas dan kewajiban sangat terbatas. Rekrutmen dokter kecil


tidak memenuhi semua kriteria karena keterbatasan siswa yang memenuhi
kriteria yang ditentukan. Hal ini diakui oleh PJ UKS bahwa sebagian siswa
berasal dari status sosial ekonomi lemah sehingga rasa percaya diri kurang,
tidak semua dokter kecil mempunyai prestasi baik di kelas, yang penting punya
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

61
kemauan, bersih dan mendapat izin dari orangtua. Kriteria peserta didik yang
dapat menjadi kader kesehatan adalah berprestasi di kelas, berwatak pemimpin
dan bertanggung jawab, bersih dan berperilaku sehat, bermoral baik dan suka
menolong, bertempat tinggal di rumah sehat dan diizinkan orangtua (Disdik
Jawa Barat, 2010). Sumber daya manusia yang paling berperan terhadap
kelancaran program adalah guru.
SDN PGS 3 tidak mempunyai guru UKS yang telah mendapat pelatihan
minimal 30 jam, atau guru khusus olahraga yang pada lazimnya bertanggung
jawab sebagai guru UKS. Keterbatasan guru di SDN Pasir Gunung Selatan
yang merupakan salah satu kendala pelaksanaan TRIAS UKS belum optimal.
Keterbatasan sumber daya manusia salah satu pencapain tujuan organisasi
tidak optimal (Muninjaya, 2004). Jumlah guru sebanyak 9 orang dengan 9
kelas. Setiap guru bertanggung jawab atau menjadi wali kelas dan hampir
semua mata pelajaran kecuali pelajaran agama diajarkan oleh wali kelas. PJ
UKS sekolah mengatakan mata pelajaran wajib saja sudah kewalahan terlebih
lagi dengan tambahan tugas melaksanakan TRIAS UKS secara maksimal. PJ
UKS bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program juga bertanggung
jawab dalam fungsi administratif.
d. Pengarahan/Pemotivasian
Salah satu upaya pengarahan sebagai fungsi manajemen adalah supervisi
(Swanburg, 2000). Menurut Kepala Sekolah SDN PGS 3 dan pengamatan
mahaiswa selama praktek di SDN Pasir Gunung selatan 3, TP UKS
Kecamatan (Camat)

belum pernah datang membina di SD PGS 3 atau

pertemuan di Kecamatan membahas pelaksanaan UKS, demikian juga


koordinasi antara Tim Pembina Tingkat kecamatan dan Tingkat Puskesmas
masih kurang. Pembinaan sekolah oleh Puskesmas dilakukan hanya pada saat
SDN PGS 3 akan mengikuti lomba sekolah sehat. Supervisi secara berkala
atau rutin belum pernah dilaksanakan. Penelitian yang dilakukan oleh
Departemen Pendidikan Nasional, Departemen kesehatan, Depag dan
Depdagri menyimpulkan bahwa belum optimal kerja sama lintas sektor

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

62
maupun lintas program dalam melaksanakan pembinaan dan pengembangan
UKS (Disdik Jabar, 2010).
Analisis fungsi

pengarahan program kesehatan anak usia sekolah adalah:

1) Belum ada jadwal rutin untuk supervisi kinerja puskesmas terhadap


pelaksanaan program pembinaan anak usia sekolah. 2) Alur koordinasi satu
pintu antara lintas sektor dan lintas program belum diterapkan. 3) Proses
pemberian motivasi, pengarahan, bimbingan dan supervisi terkait program
mulai dari tingkat Dinas Kesehatan, Puskesmas sampai ke sekolah belum
terselenggara dengan optimal. 4) Belum ada pengarahan rutin dari sekolah ke
kader kesehatan (dokter kecil) terkait kegiatan dokter kecil. Fungsi pengarahan
dari Dinas kesehatan ke Puskesmas, Puskesmas ke sekolah, sekolah ke dokter
kecil belum optimal.
Selain supervisi, reward dan punishment perlu diperhatikan dalam fungsi
pengarahan. PJ UKS Puskesmas PGS mengatakan bahwa tidak memperoleh
insentif sebagai petugas UKS, kecuali ketika melaksanakan program rutin dari
Dinkes, tetapi nilainya sangat kecil jika dibandingkan tenaga yang dikeluarkan.
Oleh karena itu, program pengembangan tidak dilaksanakan dan supervisi
kurang maksimal. PJ UKS sekolah juga mengatakan bahwa tidak ada yang mau
menjadi PJ UKS karena tidak ada reward dan pekerjaan serta tuntutan banyak.
Pelaksanaan UKS khusus pendidikan kesehatan dan pelayanan kesehatan tidak
optimal. Skinner (1953 dalam Marquis & Huston, 2003) menyatakan bahwa
perilaku yang dihargai akan berulang dan perilaku yang tidak dihargai akan
lenyap. Skinner (1953 dalam Marquis & Huston, 2003) menyatakan bahwa
perilaku yang dihargai akan berulang dan perilaku yang tidak dihargai akan
lenyap. Terry dan Rue (2010) mengatakan bahwa reward dan punishment
diperlukan dalam pemotivasian. Hal ini terbukti dengan pelaksanaan kegiatan
UKS belum berjalan optimal padahal terdapat perencanaan rutin 1 tahun dan
pernah meraih sekolah sehat.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

63
e. Pengawasan
Fungsi pengawasan adalah menilai standar keberhasilan dengan target,
prosedur kerja dan sebagainya yang harus selalu dibandingkan dengan hasil
yang telah dicapai atau yang mampu dikerjakan oleh staff (Muninjaya, 2004).
Monitoring secara langsung belum pernah dilakukan Tim Pembina UKS
kecamatan. Disdik Jawa Barat (2010) monitoring dilakukan dengan melihat
langsung untuk mengetahui apakah kegiatan berjalan sesuai rencana, apa dan
bagaimana hasil yang telah diperoleh. Monitoring dan evaluasi program
pembinaan kesehatan anak usia sekolah oleh Dinkes dan Puskesmas dilakukan
tiap tahun dan adanya pelaporan stratifikasi pelaksanaan kegiatan UKS. Hasil
observasi pelaporan kegiatan UKS tingkat Puskesmas tidak lengkap. Laporan
tahunan dan laporan setiap sekolah tidak lengkap. Dokumentasi sekolah juga
tidak lengkap. Pencapaian target tidak terpenuhi, misalnya target pejaringan
kesehatan sebesar 100%. Penjaringan kesehatan di SD PGS III sebesar 96%.
Tidak ditetapkan target pencapaian pelaksanaan TRIAS UKS. Tidak ada
reward dan punishment dari Puskesmas untuk sekolah. Fungsi pengawasan
yang tidak efektif menyebabkan tidak dapat melakukan pengembangan dan
modifikasi program untuk memenuhi kebutuhan anak usia sekolah, termasuk
dengan penanggulangan gizi lebih.
4.1.2 Fishbone Analysis
Berdasarkan analisis situasi manajemen pelayanan kesehatan anak usia sekolah
teridentifikasi masalah manajemen pada semua fungsi manajemen dengan
fishbone analysis saebagai berikut:

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

64

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

65
4.1.3 Penapisan Masalah
Hasil analisis fish bone tentang manajemen pelayanan anak usia sekolah khusus
dengan gizi lebih dilakukan penapisan masalah untuk menentukan prioritas
masalah (Ervin, 2002). Berdasarkan hasil penapisan tersebut, maka masalah
manajemen yang teridentifikasi adalah: 1) Belum efektif penyusunan rencana
kerja UKS dan keterbatasan sumber daya (dana dan SDM) terhadap pelayanan
kesehatan anak usia sekolah terkait penanggulangan gizi lebih dengan jumlah
skore 12. 2) Belum optimal peran dan fungsi tim pelaksana UKS terhadap
pelayanan kesehatan anak usia sekolah terkait penanggulangan gizi lebih dengan
skore 14. 3) Belum optimal supervisi secara berjenjang terhadap pelaksanaan
TRIAS UKS terkait penanggulangan gizi lebih dengan jumlah skore 13. 4) Belum
ada target pencapaian pelaksanaan TRIAS UKS yang ditetapkan untuk sekolah
dari Puskesmas atau Tim Pembina UKS Kecamatan dengan skore 10.
4.1.4 Prioritas Masalah
Prioritas masalah berdasarkan penapisan masalah dengan jumlah skore tertinggi.
Prioritas masalah yang diselesaikan adalah 1) Belum optimal peran dan fungsi tim
pelaksana UKS terhadap pelayanan kesehatan anak usia sekolah terkait
penanggulangan gizi lebih dengan jumlah skore 14. 2) Belum optimal supervisi
secara berjenjang terhadap pelaksanaan TRIAS UKS terkait penanggulangan gizi
lebih dengan jumlah skore 13
4.1.5 Penyelesaian Masalah pengelolaan pelayanan keperawatan
Masalah manajemen I: belum optimal peran dan fungsi tim pelaksana UKS
terhadap pelayanan kesehatan anak usia sekolah terkait penanggulangan gizi lebih
Tujuan Umum: setelah dilakukan pengelolaan pelayanan keperawatan komunitas
selama 7 bulan diharapkan pelayanan bagi anak usia sekolah terkait
penanggulangan gizi lebih dapat terorganisir dengan baik.
Tujuan Khusus: Setelah dilakukan pengelolaan pelayanan keperawatan
komunitas selama 7 bulan diharapkan: 1) Terbentuknya struktur organisasi UKS
(revisi). 2) Terdapatnya Surat Keputusan Kepala Sekolah tentang struktur
organisasi UKS. 3) Terlaksana pelatihan peer edukator. 4) Terbentuk peer
edukator. 5) Teridentifikasi peran dan fungsi peer eedukator. 6) Terlaksananya
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

66
tugas peer edukator dalam pelaksanaan progam perbaikan perilaku makan anak
usia sekolah gizi lebih. 7) Terlaksananya tugas peer edukator dalam pelaksanaan
program peningkatan aktivitas fisik. 8) Terlaksananya tugas peer edukator dalam
pelaksanaan CSC. 9) Terlaksananya tugas peer edukator dalam pelaksanaan
Gersabuh. 10) Terlaksananya tugas peer edukator dalam pelaksanaan pemantauan
berat badan. 11) Terlaksananya Pelatihan Guru tentang prinsip gizi seimbang.
12) Terlaksananya advokasi pendidikan gizi masuk ke kurikulum.
Alternatif Penyelesaian Masalah: 1) Koordinasi dengan Kepala Sekolah dan
Kepala Puskesmas Pasir Gunung Selatan untuk perencanaan kegiatan terkait
penanggulangan gizi lebih. 2) Workshop guru UKS sekelurahan Tugu dan Pasir
Gunung Selatan. 3) Pelatihan peer edukator. 4) Pendampingan peer edukator
dalam pelaksanaan peer group. 5) Supervisi Pelaksanaan tugas peer edukator. 6)
Pelatihan guru SDN PGS 3. 7) Advokasi ke pihak SDN Pasir Gunung Selatan 3
tentang pendidikan gizi masuk ke kurikulum. 8) Melakukan advokasi kepada
kepala sekolah dan komite sekolah tentang pembentukan dana sehat sekolah guna
pembiayaan pelayanan kesehatan AUS dan kelancaran tugas peer edukator/dokter
kecil.
Pembenaran: Intervensi pada masalah fungsi pengorganisasian ditekankan pada
perbaikan struktur organisasi UKS dan pengoptimalan peran dan fungsi tim
pelaksana UKS SDN Pasir Gunung Selatan 3. Pengoptimalan kader kesehatan
sekolah (dokter kecil) dengan cara memberi satu peran spesifik terkait
penanggulangan gizi lebih yaitu sebagai peer edukator melalui pelatihan.
Pemberdayaan KKS melalui peer edukator bertujuan untuk memperbaiki perilaku
makan dan meningkatkan aktivitas fisik anak usia sekolah dengan gizi lebih.
Pelatihan guru untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru terhadap
pelaksanaan TRIAS UKS. Advokasi terkait pendidikan gizi dimasukkan ke
kurikulum sebagi upaya meningkatkan peran guru dalam penanggulangan gizi
lebih. Terry dan Rue (2010) menyatakan bahwa pengorganisasian yang baik
adalah terdapat struktur organisasi dan pembagian tugas (peran) yang jelas dan
spesifik pada orang yang berkompeten sehingga tujuan organisasi dapat tercapai.
Anggota Tim pelaksana UKS yang diberdayakan dalam rangka mengoptimalkan

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

67
peran dan fungsi peer edukator dan guru dalam memberikan pelayanan kesehatan
adalah komite sekolah. Salah satu bentuk pemberdayaan komite sekolah adalah
dana sehat (Adisasmito, 2007).
Implementasi: 1) Melakukan koordinasi dengan Kepala Sekolah dan Kepala
Puskesmas

Pasir

Gunung

Selatan

untuk

perencanaan

kegiatan

terkait

penanggulangan gizi lebih antara lain pelatihan peer edukator, pelatihan guru
UKS, dana sehat dan merevisi struktur organisasi Tim Pelaksana UKS SDN Pasir
Gunung Selatan 3 dan pembuatan SK Tim Pelaksana UKS SDN Pasir Gunung
Selatan 3 dan penyediaan peralatan ruang UKS guna kelancaran tugas peer
edukator dan dokter kecil. 2) Melakukan workshorp penyusunan rencana kerja
UKS dan guru konselor terhadap semua sekolah yang dilakukan pembinaan oleh
mahasiswa residensi di kelurahan Tugu dan Pasir Gunung Selatan. 3) Melakukan
pelatihan peer edukator selama satu minggu pada tahap residensi I dan melakukan
pemantapan (melatih) tugas peer edukator yang belum memenuhi nilai ideal
(penyuluhan, monitoring perilaku makan, monitoring aktivitas fisik) pada tahap
residensi II selama 4 hari. 4) Melakukan pendampingan terhadap peer edukator
dalam pelaksanaan peer group sebanyak enam kali. Mahasiswa memfasilitasi,
membimbing, coaching terhadap peer edukator dalam melaksanakan peer group.
5) Melakukan supervisi kegiatan dan pelaksanaan tugas peer edukator secara
mandiri. Supervisi bertujuan untuk melihat pelaksanaan kegiatan peer group dan
kemampuan peer edukator dalam menjalankan tugas. 6) Melakukan pelatihan
guru SDN PGS 3 tentang prinsip gizi seimbang dan praktek menghitung indeks
massa tubuh

serta menilai status gizi berdasarkan standar antropomentri

Kemenkes 2010. 7) Melakukan advokasi ke pihak SDN PGS 3 tentang pendidikan


gizi terintegrasi ke kurikulum. Pemaparan tentang dasar teori dan pentingnya
pendidikan gizi sebagai upaya penanggulangan masalah gizi dilakulan setelah
pelatihan guru, dilanjutkan dengan berdiskusi untuk mengambil suatu keputusan.
Evaluasi: 1) Terbentuknya struktur organisasi (revisi) UKS SDN PGS 3
berdasarkan panduan pedoman pembinaan dan pengembangan UKS di Jawa Barat
oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Strukur organisasi terdiri dari
Pembina oleh Lurah dan kepala Puskesmas PGS, ketua oleh kepala sekolah,
sekretaris I oleh guru UKS, sekretaris II oleh ketua komite sekolah, bendahara
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

68
oleh guru SDN PGS 3, anggota terdiri dari 5 unsur (guru, petugas UKS
Puskesmas, komite sekolah, kader kesehatan sekolah dan tokoh masyarakat)
berdasarkan surat keputusan kepala sekolah SDN PGS 3 Nomor 421-2/48SD/IV/2012 tanggal 16 April 2012. 2) Terlaksananya workshop penyusunan
rencana kerja UKS dan pelatihan guru konselor pada tanggal 23 adan 24
November di SMPN 8 Tugu. Peserta yang hadir sebanyak 18 guru, masingmasing 2 peserta dari 9 sekolah. Narasumber berasal dari Kepala seksi kesehatan
anak dan remaja Dinas kesehatan Kota Depok, Kepala bidang pengembangan
Dinas Pendidikan Kota Depok dan Wakil Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia. 3) Terlaksananya pelatihan peer edukator pada tanggal 1520 Desember 2012 di SDN PGS 3. Peserta pelatihan sebanyak 15 anak yang juga
merupakan kader kesehatan sekolah, direkrut berdasrkan kriteria dokter kecil.
Metode pelatihan berupa ceramah, diskusi, games, praktek penyuluhan, prektek
mengukur berat badan dan tinggi badan, mengisi KMS-AS, monitoring perilaku
makan dan aktivitas fisik serta praktek senam SRIBU. Nara sumber terdiri dari
petugas UKS Puskesmas dan mahasiswa residensi. Pendampingan kegiatan
dilakukan oleh guru yang telah mengikuti workshop UKS. Peserta pelatihan yang
mengikuti kegiatan sampai selesai sebanyak 14 anak. Hasil pelatihan diperoleh
78,57% memenuhi pengetahuan ideal; 92,86% melakukan pengukuran tinggi
badan baik; 100% dapat melakukan penimbangan berat badan dengan baik;
92,86% menghapal gerakan senam SRIBU meskipun gerakan belum power;
53,85% cara pengisian KMS-AS dengan benar; hanya 1 orang (7,1%) dinyatakan
lulus praktek penyuluhan. Latihan dan praktek pemantapan peer edukator
dilanjutkan pada residensi tahap II. 4) Melakukan pemantapan tugas peer edukator
terkait penyuluhan, monitoring perilaku makan dan aktivitas fisik. Terdapat 2
anak yang mengundurkan diri menjadi peer edukator, sehingga tersisa 12 anak,
namun 3-5 anak yang selalu bergabung pada setiap kegiatan. Terdapat 1 anak
yang terlibat mulai dari kegitan awal sampai akhir dan mempunyai antusias sangat
tinggi dan sangat rajin, sehingga peer edukator yang dinilai sebanyak 13 anak.
Praktek bimbingan dan latihan dilakukan selama 8 hari. 2-3 anak yang praktek
setiap hari, jika belum memenuhi nilai ideal, maka praktek diulang. Nilai praktek
penyuluhan dengan kategori baik sebanyak 45,45%. Sebagian besar kekurangan

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

69
terdapat pada cara penguasaan materi dan cara menjawab pertanyaan.
5) Terlaksananya pendampingan terhadap kegiatan peer edukator melalui peer
group dengan anak usia sekolah gizi lebih (target) sebanyak enam kali.
Pelaksanaan peer group mengalami peningkatan setiap kegiatan. Kegiatan 1 dan 2
termasuk kategori kurang baik, kegiatan 3-6 menujukkan kegiatan kategori baik.
Hasil penilaian terlampir. 6) Terlaksananya supervisi peer edukator adalah
penilaian peer edukator dalam memberi edukasi terhadap sasaran. Kegiatan
edukasi sebaya dilakukan secara mandiri tanpa intervensi mahasiswa atau guru
UKS meskipun mahasiswa hadir secara fisik pada kegiatan peer group. Supervisi
dilakukan pada tanggal 10-17 April 2012. Penilaian akhir pada semua tugas peer
edukator terdiri dari: penyuluhan (53,85% baik; 7,7% sangat baik; 38,46% kurang
baik); monitoring perilaku makan (76,92% baik; 15,38% kurang baik; 7,7%
sangat baik); monitoring aktivitas fisik (76,92% baik; 15,38% kurang baik; 7,7%
sangat baik); monitoring gersabuh (84,6% baik; 7,7% sangat baik dan kurang
baik); pengukuran BB dan TB (92,31% baik; 7,7% sangat baik); instruktur CSC
(38,46% sangat baik; 30,77% baik dan kurang baik). Penilaian tugas peer
edukator secara keseluruhan didapatkan sebagian besar (84,6%) bertugas dengan
baik, masing-masing 7,7% bertugas sangat baik dan kurang baik. 7)
Terlaksananya pelatihan guru pada tanggal 9 Maret 2012. Peserta yang hadir dari
awal sampai selesai sebanyak 9 orang. Peningkatan nilai pre test dan post test luar
biasa yaitu antara 17%-1100%. 66,66% peserta memperoleh kategori pengetahuan
sangat tinggi (sangat baik) dan 33,33% pengetahuan tinggi (baik) setelah
pelatihan. Keterampilan menghitung IMT dan status gizi tidak ada yang tahu,
namun setelah pelatihan 88,88% (8 orang) memperoleh nilai 10 (100%) atau
mampu menghitung IMT dengan benar berdasarkan studi kasus dan 11,12% (1
orang) yang memperoleh nilai 8 (kategori baik). Cara menilai status gizi 100%
peserta dapat menentukan status gizi orang dewasa. Penilaian status gizi anak
33,33% peserta dapat menentukan dengan benar (nilai 10) status gizi AUS dan
66,66% masih kurang tepat (nilai 5). 8) Melakukan negosiasi tentang usulan
pendidikan gizi masuk ke kurikulum. Kesimpulan yang diperoleh adalah
pendidikan gizi tentang prinsip gizi seimbang masuk kedalam intra kurikuler di
mata ajar penjaskes dengan metode yang berbeda tiap kelas. Pendidikan gizi

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

70
belum diajarkan secara profesional pada semester ini karena sudah dilakukan
penyusunan kurikulum pembelajaran sehingga akan dilaksanakan secara
maksimal pada tahun ajaran baru yaitu 2012/2013. Hasil kesepakatan dilakukan
dengan penandatanganan memorandum of understanding (MOU) antara
mahasiswa residensi dan kepala sekolah SDN Pasir Gunung Selatan 3.
9) Terbentuknya dana sehat sekolah dengan iuran setiap bulan minimal Rp 1000,per anak. Pertanggungjawaban keuangan akan dilaporkan setiap 3 bulan.
Rencana tindak lanjut: Peningkatan kinerja Tim Pelaksana UKS SDN Pasir
Gunung Selatan 3 saling bekerja sama antara semua unsur yang ada di struktur
organisasi UKS dalam mengembangkan program UKS, peningkatan berbagai
keterampilan peer edukator dan dokter kecil melalui pelatihan dari Puskesmas
secara berkala, jadwalkan peer edukator minimal satu kali dalam sebulan untuk
memberi penyuluhan sebagai ajang latihan dalam meningkatkan keberanian dan
keterampilan sebagai penyuluh, tingkatkan koordinasi antara Tim Pembina
Kecamatan, Puskesmas dan sekolah untuk mengadakan lomba peer edukator dan
dokter kecil idol sebagai reward dan pemicu dalam meningkatkan peran dan
fungsi peer edukator atau dokter kecil, tingkatkan motivasi peer edukator dan
dokter kecil terhadap monitoring Gersabuh, CSC, pengukuran berat badan/tinggi
badan dan perilaku makan sehat peserta didik sebagai tugas rutin, tingkatkan
motivasi guru terhadap pelaksanaan Pendidikan Gizi, menjadi role model perilaku
makan yang sehat dan berolah raga secara teratur serta meningkatkan pengawasan
warung/kantin sekolah, Penilaian status gizi secara rutin (maksimal enam bulan
sekali) oleh guru untuk semua peserta didik dan melakukan rujukan terhadap
siswa yang mengalami masalah gizi (lebih atau kurang),

pemberdayaan dan

partisipasi orangtua melalui dana sehat untuk pembiayaan kegiatan UKS


khususnya pelayanan kesehatan seluruh komunitas sekolah termasuk upaya
peningkatan tindakan promotif dan preventif, maksimalkan penggunaan media
pendidikan kesehatan yang ada dan lakukan kemitraan pada instansi yang peduli
terhadap peningkatan kesehatan anak usia sekolah.
Masalah manajemen II: belum optimal supervisi secara berjenjang terhadap
pelaksanaan TRIAS UKS terkait penanggulangan gizi lebih

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

71
Tujuan Umum: Setelah dilakukan pengelolaan pelayanan keperawatan
komunitas selama 7 bulan diharapkan adanya pengarahan yang optimal terhadap
pelayanan bagi anak kesehatan usia sekolah terkait penanggulangan gizi lebih.
Tujuan Khusus: 1) Adanya koordinasi antara Dinas Kesehatan, puskesmas dan
sekolah dalam kegiatan kelompok terkait pencegahan dan penanggulangan gizi
lebih. 2) Adanya pendampingan dari guru untuk pelayanan kesehatan pada anak
usia sekolah dengan gizi lebih khususnya dalam kegiatan kelompok. 3)
Terbinanya kerjasama dengan Dinkes, Puskesmas dan sektor lain dalam
memberikan informasi dan pengadaan media informasi bagi anak usia sekolah
dengan gizi lebih. 4) Adanya supervisi berkala dari Puskesmas pada kegiatan
UKS dan kegiatan kelompok. 5) Adanya peran Puskesmas dalam peningkatan
motivasi pihak sekolah dan kinerja peer edukator dengan melakukan penilaian
secara berkala terhadap pelaksanaan TRIAS UKS. 6) Adanya supervisi Tim
Pembina Kecamatan terhadap Puskesmas dan sekolah terkait pelaksanaan TRIAS
UKS.
Alternatif pemecahan masalah: 1) Lokakarya mini kesehatan. 2) Anjurkan
kepala sekolah melakukan koordinasi dengan tim pembina UKS kecamatan untuk
disupervisi secara berkala. 3) Koordinasi dengan kepala puskesmas PGS untuk
membuat jadwal supervisi. 4) Libatkan Dinkes dan Puskesmas untuk
meningkatkan pembinaan terhadap pelayanan anak usia sekolah dengan gizi lebih
dengan melakukan lokakarya mini kesehatan. 5) Bicarakan dengan kepada kepala
sekolah untuk supervisi maksimal tiga kali sebulan terhadap tim pelaksana UKS.
6) Libatkan peer edukator dalam monitoring jadwal diet dan aktivitas fisik anak
usia sekolah dengan gizi lebih. 7) Fasilitasi pendampingan dari Puskesmas dalam
kegiatan kelompok dengan meminta kesediaan menjadi nara sumber dalam
memberikan pendidikan kesehatan pada anak usia sekolah dengan gizi lebih. 8)
Fasilitasi kerjasama dengan Puskesmas, Dinkes dan pihak lain dalam pengadaan
media informasi dan alat-alat terkait penanggulangan gizi lebih. 9) Fasilitasi
penilaian secara berkala terhadap pelaksanaan UKS oleh puskesmas guna
meningkatkan motivasi pihak sekolah dan kinerja peer edukator. 10) Fasilitasi

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

72
pemberian reward oleh Dinkes, Puskesmas atas pelaksanaan UKS dan peer
edukator oleh sekolah dalam penanggulangan gizi lebih.
Pembenaran: 1) Intervensi pada fungsi pemotivasian atau pengarahan ditekankan
pada kegiatan supervisi dan pemberian reward and punishment untuk
meningkatkan kinerja tim pelaksana UKS, hambatan atau kendala pelaksanaan
TRIAS UKS. Muninjaya (2004) menyatakan fungsi pemotivasian adalah
penggerak semua program, supervisi salah satu upaya pemotivasian (Swanburg,
2000). Reward dan punishment diperlukan dalam pemotivasian (Terry & Rue,
2010). Sasaran supervisi adalah manajemen dan pengelolaan kegiatan, jenis dan
pelaksanaan kegiatan, keberhasilan kegiatan dan upaya pengembangan (Disdik
Prov.Jawa Barat, 2010).
Implementasi: 1) Melaksanakan lokakarya mini kesehatan sebayak 3 kali untuk
memaparkan masalah kesehatan anak usia sekolah, rencana kegiatan, pelaksanaan,
evaluasi, hambatan, dan rencana tindak lanjut. 2) Melaksanakan koordinasi
dengan kepala sekolah dan kepala Puskesmas terkait jadwal supervisi dari TP
Kecamatan dan Puskesmas serta pemberian reward pada Tim pelaksana UKS.
3) Memfasilitasi pendampingan dari Puskesmas dalam kegiatan kelompok dengan
meminta kesediaan menjadi nara sumber dalam memberikan pendidikan
kesehatan pada anak usia sekolah dengan gizi lebih atau masalah kesehatan lain.
4) Memfasilitasi penilaian secara berkala terhadap pelaksanaan UKS oleh
puskesmas guna meningkatkan motivasi pihak sekolah dan kinerja peer edukator.
5) Memfasilitasi kerjasama dengan Puskesmas , Dinkes dan pihak lain dalam
pengadaan media informasi dan alat-alat terkait penanggulangan gizi lebih.
Evaluasi: 1) Terlaksananya lokakarya mini (lokmin) kesehatan sebanyak 3 kali.
Lokmin 1 pada tanggal 9 November 2011 memaparkan tentang masalah kesehatan
yang ditemukan pada anak usia sekolah dan pemecahan masalah yang akan
dilakukan dengan melibatkan lintas program dan lintas sektor. Lokmin 2 pada
tanggal 28 Pebruari 2012 bertujuan untuk memaparkan hasil kegiatan yang telah
dilakukan dan rencana tindak lanjut kegiatan terhadap penanggulangan gizi lebih
di SDN Pasir Gunung Selatan 3. Penandatanganan antara pihak sekolah dan
Puskesmas PGS disetujui oleh Kepala Dinas Kesehatan diwakili oleh kepala seksi
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

73
kesehatan anak dan remaja dalam rangka meningkatkan kerjasama dan rencana
tindak lanjut kegiatan. Lokmin 3 pada tanggal 10 Mei 2012 adalah pemaparan
hasil kegiatan, hambatan, tindak lanjut dan penandatanganan MOU tentang
kesepakatan menindaklanjuti kegiatan yang telah dilaksanakan mahasiswa selama
8 bulan dengan pihak sekolah dan Puskesmas Pasir Gunung. 2) Terlaksananya
koordinasi kepala sekolah dengan TP Pembina UKS kecamatan dengan
diberikana SK TP Pembina kecamatan, supervisi telah dilakukan pada tanggal 28
April 2012. 3) Terlaksananya pihak puskesmas menjadi nara sumber dalam
pelatihan peer edukator oleh petugas UKS Puskesmas, pelatihan/penyegaran
dokter kecil di SD PGS3 yang dihadiri oleh 3 staff Puskesmas pada tanggal 27-28
Januari 2012. 4) Terlaksananya supervisi Kepala Puskesmas melakukan terhadap
pelaksanaan UKS dan persiapan lomba sekolah sehat tingkat Kota Depok pada
tanggal 28 April dan 15 Mei 2012. Jadwal supervisi direncanakan 3 bulan sekali.
5) Terlaksananya Kepala Puskesmas Pasir Gunung Selatan membuka acara lomba
Promosi kesehatan terkait aplikasi prinsip gizi seimbang ke dalam kehidupan
sehari-hari pada tanggal 28 April 2012. Peran Puskesmas mengalami peningkatan
melalului pelaksanaan penyegaran dokter kecil, pemberian sertifikat dokter kecil,
supervisi dalam rangka persiapan lomba sekolah sehat dan pemberian bantuan
obat-obatan dan bahan habis pakai serta mengatakan siap membantu dan terlibat
dalam kegiatan pembinaan kesehatan anak usia sekolah. 6) Puskesmas siap
menerima rujukan dari sekolah terkait masalah kesehatan anak usia sekolah dan
sangat mendukung atas terbentuknya dana sehat sekolah. 7) Terpilihnya SDN
PGS 3 sebagai sekolah sehat tingkat kecamatan Cimanggis 8) Terdapatnya reward
terhadap peer edukator yaitu tiket gratis kunjungan wisata ke Museum Mandala
dan Kidz Zania oleh sekolah.
Rencana Tindak lanjut:
Tingkatkan sistem koordinasi antara pihak SDN Pasir Gunung Selatan 3 dengan
pihak Puskesmas pasir Gunung terkait sistem pelaporan pelaksanaan kegiatan
UKS secara berkala (triwulan atau semester) dan sistem rujukan; kerjasama secara
intensif antara pihak sekolah dan Puskesmas terkait jadwal penyuluhan kesehatan,
pemeriksaan kantin sekolah dan peningkatan keterampilan kesehatan dokter kecil;
tingkatkan motivasi guru terhadap pengembangan program UKS; motivasi dokter
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

74
kecil atau peer edukator serta memberikan bimbingan yang adekuat terkait peran
dan fungsi peer edukator/dokter kecil dalam pelaksanaan TRIAS UKS; berikan
reward terhadap peer edukator atau dokter kecil yang mempunyai kinerja baik
dalam pelaksanaan TRIAS UKS.
4.2 Asuhan Keperawatan Komunitas
4.2.1 Analisis Situasi
Alasan SDN PGS 3 sebagai kelompok intervensi yaitu mempunyai angka gizi
lebih tertinggi di wilayah kerja Puskesmas PGS tahun 2010, Kepala SDN PGS 3
yang paling bersedia untuk dilakukan pembinaan kesehatan sekolah, lokasi SDN
PGS 3 tersendiri, sedangkan empat SD lain di PGS bergabung menjadi satu
lokasi. Penjaringan status gizi pada 331 anak usia sekolah (AUS) di SDN PGS 3
pada bulan Oktober 2011, diperoleh 9,97% gizi lebih dan 5,1% gizi kurang. Data
ini lebih tinggi dari data untuk tingkat Puskesmas PGS (gizi lebih 1,6% dan gizi
kurang tidak ada) dan prevalensi Kota Depok tahun 2010 (gizi lebih 5,63% dan
gizi kurang 3,21%). Masalah gizi lebih meningkat bahkan mulai melebihi gizi
kurang. WHO (2000) mengatakan obesitas menjadi epidemi di semua negara.
Hasil kuesioner terhadap 11 AUS gizi lebih diperoleh gambaran lebih dari
sebagian pengetahuan kurang dan sikap negatif terhadap prinsip gizi seimbang,
serta sebagian besar praktik gizi seimbang kurang baik. Hasil wawancara tentang
perilaku makan terhadap 28 AUS gizi lebih diperoleh data sepertiga anak makan
lebih dari 3 kali, lebih sebagian jarang atau tidak pernak makan sayur dan buah
serta sebagian besar sering jajan. Data aktivitas fisik menunjukkan sebagian besar
tidak berolah raga teratur dan sering melakukan aktivitas sedantary seperti
menonton TV/game/playstation 2 jam sehari. Data dari 25 keluarga AUS gizi
lebih diperoleh gambaran: lebih dari sebagian keluarga kadang-kadang
menyediakan buah, sebagian besar menyediakan sayur dan hampir sebagian
keluarga membiasakan anak jajan. Lebih dari sebagian persepsi keluarga bahwa
anak gemuk adalah sehat. Lebih dari sebagian (56,25%) AUS gizi lebih yang
kemampuan intelektual di bawah standar, 15,63% kemampuan sedang, bahkan
15,63% diantaranya pernah tidak naik kelas.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

75
Penyebab gizi lebih antara lain karena kurang mengkonsumsi sayuran, buahan,
jajan yang berlebihan dan aktivitas fisik yang kurang (Nutrition center,
2011;Muscary, 2001;Maurer & Smith, 2003;Hitchcock, 1999). Penyuluhan
tentang gizi lebih belum pernah dilakukan dari Puskesmas atau sekolah,
pengawasan kantin dan penjaja makanan belum dilaksanakan. Jajanan yang
banyak dijual adalah mi instant, snack, minuman manis, susu cair, gula-gula, serta
biskuit-biskuit. Pendidikan gizi belum masuk ke kurikulum. Tidak ada tindak
lanjut dari hasil penjaringan kesehatan anak baru masuk sekolah (kelas I).
4. 2.2 Web of Caution (WOC).
-

persepsi keluarga
kurang pengetahuan
keluarga

TRIAS UKS:
- pendidikan gizi belum masuk kurikulum,
guru olahraga (-),
- Pelayanan kesehatan: penyuluhan gizi (-),
tindak lanjut penjaringan kesehatan (-),
- Lingkungan sekolah: pengawasan kantin
dan penjaja makanan (-)

aktivitas fisik keluarga


tidak optimal

praktik diet keluarga


tidak optimal

- Aktivitas fisik/olahraga
kurang
- Aktivitas santai tinggi

perilaku makan kurang


sehat

kesiagaan dalam mempertahan


kan keseimbangan nutrisi belum
optimal

Gizi lebih dari kebutuhan


tubuh

ketidakseimbangan nutrisi:
lebih dari kebutuhan tubuh

Gaya hidup
kurang gerak
Riwayat
keluarga

Risiko berbagai penyakit : diabetes,


PJK, gangguan konsep diri,dll
Risiko Gangguan tumbuh kembang

Kualitas sumber daya manusia menurun

Aset bangsa berkurang

gambar 3.1 WOC gizi lebih pada anak usia sekolah

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

76
4.2.2

Penapisan Masalah: Diagnosa keperawatan yang muncul adalah


kesiagaan mempertahankan kesimbangan nutrisi pada agregat anak usia
sekolah belum optimal, ketidakseimbangan nutrisi: lebih dari kebutuhan
tubuh pada anak usia sekolah, risiko gangguan tumbuh kembang akibat
obesitas, gaya hidup kurang gerak. Cara penapisan masalah terlampir.

4.2.3

Prioritas Masalah: 1) Ketidakseimbangan nutrisi: lebih dari kebutuhan


tubuh. 2) Kesiagaan mempertahankan keseimbangan nutrisi pada AUS
tidak optimal

4.2.4

Alternatif Penyelesaian Masalah

Masalah 1: Ketidakseimbangan Nutrisi: Lebih dari Kebutuhan Tubuh pada AUS


di SDN PGS 3
Tujuan umum: setelah intervensi keperawatan dilakukan selama tujuh bulan
diharapkan terjadi penurunan ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan
tubuh pada aggregat anak usia sekolah di SDN Pasir Gunung Selatan 3 di
Kelurahan Pasir Gunung Selatan
Tujuan Khusus: 1)Meningkatnya pengetahuan siswa tentang prinsip gizi
seimbang. 2)Meningkatnya perilaku makan yang sehat pada anak usia sekolah. 3)
Meningkatnya aktivitas fisik/olahraga pada anak usia sekolah.

4) Pemantauan

berat badan ideal setiap bulan. 5)Meningkatnya praktik diet keluarga sesuai
prinsip gizi seimbang. 6)Penurunan prevalensi gizi lebih
Rencana Tindakan: 1)Pendidikan kesehatan tentang penanggulangan gizi lebih
oleh peer edukator. 2)Pendidikan gizi oleh guru. 3)Kampanye kesehatan.
4)Monitoring Perilaku makan. 5)Monitoring aktivitas fisik. 6)Screening gejala
metabolik. 7)Pemantauan berat badan ideal. 9)Lomba promosi kesehatan terkait
prinsip gizi seimbang. 10)Pembinaan keluarga anak usia sekolah dengan gizi
lebih.
Pembenaran: Strategi intervensi yang digunakan adalah pendidikan kesehatan
dan pemberdayaan oleh peer, guru dan keluarga. Green dan Kreuter (2005)
menyatakan bahwa peer, guru dan keluarga merupakan faktor penguat terhadap
perubahan perilaku sehat anak usia sekolah. Strategi utama perbaikan gizi adalah

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

77
pendidikan gizi (WHO, 2010). Salah satu TRIAS UKS adalah pendidikan
kesehatan. Upaya untuk mengevaluasi perubahan perilaku makan dan aktivitas
fisik adalah monitoring melalui food recall terkait frekuensi dan jenis makanan
(Friedman, Bowden & Jones, 2003; Notoatmojo, 2010) dan catatan harian tentang
aktivitas fisik selama satu minggu (CDC, 2010). Pendidikan kesehatan terhadap
keluarga melalui pembinaan keluarga untuk memperbaiki fungsi kesehatan
keluarga (praktik diet dan kebiasaan keluarga berolahraga serta mengurangi
aktivitas santai) (Friedman, Bowden & Jones, 2003). Pemantauan berat badan dan
tinggi badan untuk menilai status gizi (Depkes, 2010)
Implementasi: 1) Memberikan pendidikan kesehatan oleh peer edukator melalui
peer group sebanyak 10 kali, penyuluhan kelompok besar 2 kali dan penyuluhan
massal 1 kali. 2) Memberdayakan guru untuk memberikan pendidikan gizi dengan
metode berbeda tiap kelas. 3) Melakukan kampanye kesehatan dengan penyebaran
leafleat prinsip gizi seimbang tanggal 4 april 2012 dan pembagian pin gersabuh
tanggal 20 April 2012. 4) Melakukan monitoring perilaku makan melalui format
food recall tentang frekuensi dan jenis makanan yang dikonsumsi 24 jam terakhir
tanpa menghitung jumlah, dilakukan secara acak 1-2 minggu sekali oleh peer
edukator. Melakukan monitoring aktivitas fisik setiap hari oleh peer edukator,
penilaian dilakukan setiap minggu. 5) Melakukan screening nilai GDS pada
tanggal 8-10 Maret 2012 sebanyak 22 anak. 6) Melakukan lomba promosi
kesehatan terkait prinsip gizi seimbang, lomba menulis cerita pengalaman
melaksanakan prinsip gizi seimbang pada kelas 4-6, lomba menulis cerita
bergambar pada kelas 3 dan lomba menulis indah pada kelas 1 dan kelas 2 yang
dibuka oleh kepala Puskesmas Pasir gunung selatan. 7) Pemantauan berat badan
ideal pada semua kelas, khusus AUS dengan gizi lebih dilakukan evaluasi kembali
status gizi. 8) Melakukan pembinaan terhadap 10 keluarga.
Evaluasi: 1) Terjadi peningkatan pengetahuan AUS gizi lebih setelah diberi
pendidikan kesehatan oleh peer edukator sebesar 20%-200%. Hampir setiap
kegiatan terjadi peningkatan jumlah peserta dengan kategori pengetahuan minimal
cukup. 80% kegiatan diperoleh pengetahuan peserta kategori kurang dibawah
20% pasca peer group. Sebagian besar (80%) pasca kegiatan, peserta memperoleh

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

78
nilai pengetahuan cukup. Pengetahuan sangat tinggi diperoleh 7,1%-37,5%. 2)
Pendidikan gizi yang terlaksana berupa sosialisasi prinsip gizi seimbang, misalnya
ceramah singkat, membuat konsep prinsip gizi seimbang pada karton atau
dibuatkan figura kemudian di gantung di dinding, pemutaran video tentang
manfaat vitamin dan mineral di kelas 1 dan 2. 3) Terlaksananya kampanye
kesehatan dengan penyebaran leafleat sebanyak 250 lembar dan 100 pin gersabuh.
4) Terlaksananya monitoring perilaku makan sebanyak 4 kali. Peningkatan
perilaku makan sehat sebanyak 10-16 anak secara berfluktuasi. Hasil kuesioner
praktik gizi: 73,91% baik, masing-masing 8,7% sangat baik dan kurang baik,
4,35% tidak baik. 5)Hasil monitoring aktivitas fisik selama 4 minggu, 90,63%
baik. 6) Melakukan screening GDS pada 22 AUS gizi lebih, diperoleh hasil GDS
antara 97-176 mg/dl. 21 anak (95,45%) nilai GDS melebihi normal (N=60-100
mg/dl, Wong,2009). 7) Terlaksananya lomba promosi kesehatan dengan 255
peserta (82,26%) dan 24 pemenang. 8) Terlaksananya penimbangan berat badan
100% setiap bulan dengan waktu 1 minggu untuk kejar timbang. Penilaiaian IMT
32 AUS gizi lebih sebelum dan sesudah intervensi yaitu 78,13% mengalami
penurunan IMT; 18,75% mengalami peningkatan dan 3,1% tetap. Status gizi
setelah intervensi kurang lebih 8 minggu ditemukan 43,75 % kategori overweight
menjadi kategori normal; kategori obesitas menetap sebesar 21, 88%; kategori
overweight menetap sebesar 18,75%; kategori obesitas berubah menjadi
overweight sebesar 15,62%.
Rencana Tindak Lanjut: lanjutkan kegiatan peer edukator dengan topik lain
yang pembinaannya diserahkan pada PJ UKS dan petugas UKS Puskesmas,
pendidikan gizi secara profesional akan dilaksanakan pada tahun ajaran
2012/2013, kampanye kesehatan akan melibatkan puskesmas, monitoring perilaku
makan tetap dilanjutkan dan penilaian status gizi akan diserahkan pada wali kelas
masing-masing. Monitoring aktivitas fisik akan dimasukkan kedalam program
pelayanan kesehatan secara berkala. Screening selanjutnya diserahkan ke PJ UKS
untuk bekerjasama dengan pihak puskesmas. Lomba promosi kesehatan akan
dijadwalkan setiap tahun. Penimbangan BB ditetapkan setiap bulan dan setiap
enam bulan menilai status gizi.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

79
Masalah 2: kesiagaan mempertahankan keseimbangan nutrisi pada anak usia
sekolah dengan gizi lebih belum optimal
Tujuan Umum: Setelah intervensi keperawatan selama tujuh bulan diharapkan
kesiagaan dalam mempertahankan keseimbangan nutrisi optimal pada aggregat
anak usia sekolah dengan gizi lebih di SDN Pasir Gunung Selatan 3 di Kelurahan
Pasir Gunung Selatan
Tujuan

Khusus:

1)

Terdapatnya

kebijakan

sekolah

terhadap

upaya

mempertahankan keseimbangan nutrisi pada agregat anak usia sekolah. 2)


Meningkatnya

program

kerja

UKS

terkait

kesiagaan

mempertahankan

keseimbangan nutrisi pada agregat anak usia sekolah. 3) Meningkatnya dukungan


keluarga anak usia sekolah terhadap kesiagaan mempertahankan keseimbangan
nutrisi pada agregat anak usia sekolah. 4) Terbentuknya dana sehat
Rencana Tindakan: 1) Gerakan makan sayur dan buah (Gersabuh). 2) Senam
bersama setiap hari Jumat. 3) Aktifkan Club Senam Ceria (CSC). 4) Pendidikan
kesehatan tentang fenomena gizi lebih terhadap orangtua. 5) Praktek penyusunan
menu gizi seimbang oleh orangtua. 6) Pembentukan dana sehat.
Pembenaran: Intervensi utama adalah bersifat prevensi primer terhadap agregat
anak usia sekolah dengan gizi lebih dan orangtua. Gersabuh dan CSC merupakan
kebijakan sekolah bertujuan sebagai promosi kesehatan meemperbaiki perilaku
makan sehat (konsumsi sayur dan buah) dan meningkatkan aktivitas fisik untuk
mencegah atau menurunkan kegemukan. Nutrition Center (2011) menyatakan
bahwa penyebab epidemi overweight dan obesitas disebabkan oleh perilaku
makan yang kurang sehat tinggi dan aktivitas fisik yang kurang. Perilaku makan
kurang sehat antara lain kurang mengkonsumsi buah-buahan (Maurer & Smith,
2003) dan sayur (Muscary, 2000). Foster et al (2008) membuktikan bahwa makan
buah dan sayuran 5 porsi per hari dapat menurunkan 50% insidens overweight
pada kelompok intervensi kelas 4-6. Dana sehat adalah bentuk pemberdayaan
keluarga (Adisasmito, 2007).
Implementasi: 1) Melaksanakan Gersabuh setiap hari Jumat. 2) Melaksanakan
senam bersama setiap hari Jumat jam 07.00-08.00 WIB. 3) Melaksanakan
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

80
aktivitas CSC setiap hari Selasa dan Kamis jam 15.15-16.15 sejak tanggal 6 Maret
2010 yaitu senam SRIBU dan olahraga yang lain. 4) Melaksanakan pendidikan
kesehatan tentang fenomena gizi lebih dan penanganan masalah gizi terhadap
orangtua pada tanggal 16 Maret 2012 jam 10.00-11.00 di Mushollah sekolah. 5)
Melaksanakan praktek menyusun menu seimbang terhadap orangtua pada tanggal
20 Maret jam 10.15-11.30 WIB. 6) Melakukan advoksi terhadap kepala sekolah
dan komite sekolah untuk pembentukan dana sehat.
Evaluasi: 1)Terlaksananya gersabuh selama 5 bulan. Persentase partisipasi siswa
tehadap gersabuh tiga bulan pertama sebesar 60-91%. Persentase menurun akhir
Maret sampai minggu ke-4 April 2012 mulai tidak ada yang bawa makanan
sampai < 60%. Persentase menigkat lagi pada awal mei setelah orangtua diberi
surat pemberitahuan tentang Gersabuh merupakan kegiatan rutin sekolah.
Sebagian besar (68%) dari 25 orangtua sangat setuju Gersabuh dipertahankan dan
4% kurang setuju . 2)Terlaksananya senam bersama setiap hari Jumat sebesar
100% siswa yang masuk pagi. > 75% siswa menghapal gerakan senam SRIBU,
meskipun gerakan belum power. 3)Terlaksananya CSC selama 2 bulan. Jumlah
peserta yang hadir antara 15-45 peserta. 5-13 AUS gizi lebih diantaranya. 64%
orangtua sangat setuju dengan adanya CSC dan 4 % yang kurang setuju. 4)
terlaksananya pendidikan kesehatan terhadap orangtua. Trend nilai pre dan post
yaitu 66,7%-233%. Perolehan nilai rendah sebanyak 3 orang (15%), 45% cukup,
20% tinggi dan sangat tinggi. 5) Terlaksananya praktek menyusun menu dengan
hasil 55,56% peserta menyusun menu cukup lengkap dan 44,44% lengkap.
6)Terbentuknya dana sehat sejak tanggal 10 Mei 2012 ketika ketua komite
mengirim surat pemberitahuan tentang persetujuan dana sehat dan besaran iuran
minimal Rp 1000,- per bulan. Kurang lebih 30% orangtua sudah melunasi iuran
dana sehat.
Rencana Tindak Lanjut: Tingkatkan gersabuh yang telah menjadi kebijakan
sekolah dan menjadi kegiatan rutin. Pendidikan kesehatan tehadap orangtua akan
dijadwalkan setiap 2 kali setahun dengan narasumber dari puskesmas.
Pertahankan CSC dan tambah jenis senam. Dana sehat yang terbentuk akan
dilaporkan ke Kepala Puskesmas dan Kepala UPT Pendidikan kecamatan

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

81
Cimanggis sebagai Tim Pembina UKS tingkat kecamatan. Dana sehat akan
digunakan untuk pembiayaan program preventif, kuratif atau rahabilitatif terhadap
anak usia sekolah.
4.3 Asuhan Keperawatan Keluarga
4.3.1 Analisis situasi
Pembinaan keluarga dilakukan tanggal 10 November 2011- 2 Mei 2012 sebanyak
10 keluarga. Sebagian besar keluarga (80%) mempunyai persepsi bahwa anak
gemuk adalah sehat. Semua keluarga pemahaman terntang prinsip gizi seimbang
masih kurang. Praktik diet tidak optimal terjadi pada 10 keluarga. Sebagian besar
keluarga berada pada KM-II. Semua anak dengan gizi lebih pada keluarga binaan
mempunyai

perilaku

makan

yang

kurang

sehat

(konsumsi

makanan

berkarbohidrat tinggi, kurang makan sayur dan buah, jajan) dan aktivitas fisik
kurang. Makan berlebihan dan aktivitas fisik kurang penyebab utama kegemukan
(Nutrition center, 2011). 3 keluarga (30%) yang mempuyai faktor genetik gemuk.
Faktor yang berkontribusi terhadap overweight dan obesitas adalah genetik
(Maglaya, 2009). Analisis situasi pada satu keluarga dijelaskan pada keluarga
Bapak S karena keluarga ini memiliki masalah paling kompleks.
Pengkajian: Keluarga Bapak S adalah keluarga inti. Pekerjaan Bapak S adalah
tukang ojek dan ibu J sebagai tukang cuci. Bapak S mempunyai 4 anak yaitu anak
R (9 tahun), anak A (8 tahun), anak Rj (5,5 tahun) dan anak T (2 tahun). Anak T
telah diadopsi oleh saudara laki-laki ibu J sejak umur 8 bulan. Semua anak bapak
S termasuk kategori gizi lebih berdasarkan standar antropometri nomor
1995/Menkes/SK/XII/2010. Berat badan (BB) anak R=40kg; Tinggi badan
(TB)=137,1cm; IMT=21,3 (N=14,6-20,49)gemuk/overweight; GDS=170 mg/dl
(N=60-100mg/dl). BB anak A=50 kg; TB=136 cm; IMT=27,03(3SD) sangat
gemuk/obesitas; GDS=141mg/dl. BB anak Rj=37 kg; TB=130 cm; IMT=21,89
obesitas.
Persepsi keluarga bahwa anak gemuk adalah sehat. Pola makan keluarga tidak
menentu. Makan bersama jarang dilakukan. Rata-rata frekuensi makan anak
adalah 4-5 kali sehari. Menu seimbang jarang disediakan. Perawat melihat anak

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

82
makan hanya telur 1 butir dan nasi atau nasi dan perkedel atau krupuk. Porsi nasi
setiap makan sekitar 2-2,5 porsi nasi. Anak-anak jarang makan sayur karena ibu
tidak menyediakan dengan alasan tidak sempat membuat (buru-buru mau
berangkat kerja).
Keluarga juga jarang menyediakan buah karena tidak ada anak yang suka buah.
Keluarga sering menyediakan cemilan berupa gorengan (martabak, pisang molen,
tahu isi, bakwan) karena dapat dimakan bersama nasi. Bapak S hampir setiap
malam membawa gorengan ketika pulang dari ngojek dan anak dibangunkan
untuk makan gorengan. Anak dibiasakan jajan makanan yang mengandung
karbohidrat tinggi (indo mie, coklat, gorengan, minuman manis). Keluarga tidak
terbiasa olahraga. Anak A paling suka nonton TV berlama-lama. Makan
berlebihan dan aktivitas fisik kurang penyebab utama kegemukan (Nutrition
center, 2011).
Ibu J sering terlihat mengatakan anak A bodoh (tidak naik kelas tahun lalu), jelek,
capek mengurus anak-anak, mau dibawa ke panti saja. Ibu J sering melakukan
kekerasan (menampar, memukul dengan sapu) pada anak A ketika marah atau
stres. Bapak S kurang peduli sama anak-anaknya, yang penting cari uang, tetapi
yang memenuhi kebutuhan keluarga adalah penghasilan ibu J. Bapak S malas,
bodoh, tidak kreatif, hanya tidur-tiduran (menurut saudara ibu J).
Anak batuk pilek 2 hari, mukus agak kental, sekali-kali rasa tersumbat,
R=24x/menit. personal higyene bapak S, anak R, A, dan Rj kurang. gigi kurang
bersih, kuku panjang dan hitam, telinga kotor. Ibu J dan Bapak S sering merokok
di dalam rumah. Lingkungan dalam rumah kurang bersih, lembab, sering bau amis
dan pesing. Semua anak masih ngompol. Tugas keluarga dalam bidang kesehatan
adalah kemandirian keluarga I (KM-I)

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

83
4.3.2 Pohon masalah
Kualitas sumber daya manusia menurun

Aset Bangsa
berkurang
gangguan konsep
diri(body imge)

prestasi akademik kurang

gangguan tumbuh kembang

risiko berbagai penyakit

dampak psikologis

Ketidakseimbangan nutrisi:
lebih dari kebutuhan tubuh

GIZI LEBIH
riwayat keluarga

perilaku

perilaku makan tidak sehat


praktik diet tidak optimal

aktivitas fisik kurang

Perilaku kesehatan berisiko

aktivitas fisik tidak optimal


PHBS rendah

Fungsi perawatan kesehatan keluarga tidak optimal

gangguan peran menjadi orangtua

Ketidak mampuan keluarga mengenal masalah kesehatan


promosi/penkes kurang

kurang pengetahuan keluarga

kurang pengetahuan
tentang peran

Gambar 3.2 Pohon masalah gizi lebih pada anak usia sekolah
4.3.3 Penapisan Masalah
Diagnosa keperawatan ditegakkan mengacu pada NANDA 2009-2011. Masalah
keperawatan yang muncul berdasarkan pengkajian adalah: 1) Ketidakseimbangan
nutrisi: lebih dari kebutuhan tubuh anak A, R, Rj. 2) Bersihan jalan napas tidak
efektif pada anak A. 3) Gangguan peran menjadi orangtua (bapak S dan Ibu J). 4)
Perilaku kesehatan berisiko (PHBS kurang). 5) perilaku kekerasan. 6) Gangguan
eliminasi BAK. Masalah yang muncul akan dilakukan penapisan masalah dengan
menggunakan kriteria berdasarkan sifat masalah, kemungkinan masalah dapat
diubah, potensi masalah dapat dicegah dan menonjolnya masalah menurut
Maglaya (2009). Skoring masalah terlampir.
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

84
4.3.4 Prioritas Masalah
Berdasarkan penapisan masalah yang telah dilakukan, maka diperoleh prioritas
masalah berdasarkan skoring yaitu: 1) Ketidakseimbangan nutrisi: lebih dari
kebutuhan tubuh pada anak A, R, Rj. 2) Gangguan peran menjadi orangtua
(Bapak S dan Ibu J). 3) Bersihan jalan nafas tidak efektif pada anak A. 4)
Perilaku kesehatan berisiko
4.3.5 Penyelesaian Masalah
Masalah 1: Ketidakseimbangan nutrisi pada anak A, R dan Rj
Tujuan Umum: Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 8 minggu
diharapkan terjadi keseimbangan nutrisi atau penurunan IMT pada anak A, R, Rj
Tujuan Khusus: diharapkan keluarga mampu: 1) Mengenal konsep gizi lebih. 2)
Memutuskan merawat anggotan keluarga dengan gizi lebih. 3) Merawat anggota
keluarga dengan gizi lebih. 4) Memodifikasi lingkungan. 5) memanfaatkan
fasilitas pelayanan kesehatan
Rencana Tindakan: 1) Gali persepsi keluarga tentang anak gemuk. 2)Jelaskan
paradigma anak gemuk. 3) Gali pengetahuan dasar keluarga tentang cara menilai
status gizi. 4) Jelaskan dan ajarkan cara menghitung IMT dan sttaus gizi.
5) Diskusikan penyebab gizi lebih. 6) Diskusikan akibat/risiko kegemukan.
7) Jelaskan upaya mengatasi/merawat kegemukan. 8) Gali kemampuan keluarga
dalam mengatasi kegemukan. 9) Diskusikan cara memodifikasi lingkungan untuk
mengatasi kegemukan. 10) Gali kemampuan keluarga tehadap pemanfaatan
fasilitas pelayanan kesehatan.
Implementasi:

1)

Menggali

persepsi

keluarga

terhadap

anak

gemuk.

2) Mendiskusikan penyebab kegemukan. 3) Mengajarkan cara menghitung IMT


dan status gizi. 4) Menjelaskan risiko dan akibat kegemukan. 5) Menggali pola
makan keluarga, besaran porsi dan cara penyediaan. 6) Mendiskusikan tentang
menu gizi seimbang. 7) Menunjukkan lewat gambar ukuran porsi makanan yang
yang tepat untuk anak gemuk. 8) Membantu membuat daftar menu.
9) Mendemonstrasikan cara mengukur 1 porsi nasi, sayur, lauk dan buah. 10)
Menyarankan aktivitas fisik yang baik untuk anak gemuk. 11) Modifikasi perilaku

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

85
anak A dengan token ekonomi. 12) Mendiskusikan cara memodifikasi lingkungan
untuk mengatasi kegemukan. 13) Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan
fasilitas kesehatan. 14) Mengevalusi perilaku makan dan aktivitas fisik anak A.
15) Mengevaluasi TUK 1-5
Evaluasi: persepsi ibu J terhadap anak gemuk tidak lagi sehat karena berisiko
menimbulkan penyakit diabetes, jantung, dan lain-lain. Penyediaan sayur buat
keluarga hampir setiap hari. Penyediaan buah sekali-sekali karena tidak semua
anak suka kecuali anak A. Anak A bermain raket, hula hop, sepeda setiap hari,
nonton TV tidak lebih dari 2 jam. Lingkungan rumah tampak bersih. Pemanfaatan
fasilitas kesehatan sangat baik. BB anak A=48 kg (turun 2 kg), BB anak R=39 kg
(turun 1 kg), Kemandirian keluarga mencapai KM-III
Rencana Tindak Lanjut: intervensi pada anak A dan R dilanjutkan di sekolah
melalui program UKS
Masalah 2: Gangguan peran menjadi orangtua (Bapak S dan ibu J)
Tujuan Umum: setelah dilakukan kunjungan rumah 8 minggu diharapkan
gangguan peran (ketidakmampuan menjadi orangtua) dapat diatasi.
Tujuan khusus: Keluarga mampu 1) Memahami konsep peran orangtua dalam
keluarga. 2) Memutuskan untuk memperbaki peran orangtua secara adekuat. 3)
Menjalankan peran sebagai orangtua secara adekuat. 4) Memodifikasi lingkungan
keluarga dalam menjalani peran sebagai orangtua secara adekuat. 5)
Memanfaatkan fasilitas kesehatan untuk mengatasi ketidamampuan menjadi
orangtua yang baik.
Rencana Tindakan: 1) Gali pengetahuan dasar keluarga tentang konsep peran
orangtua. 2) Diskusikan dengan keluarga tentang ketidakmampuan menjadi
orangtua. 3) Jelaskan pengertian, tanda, gejala dan penyebab gangguan peran
orangtua. 4) Bimbing keluarga untuk mengenali masalah gangguan peran menjadi
orangtua. 5) Kaji pendapat keluarga tentang akibat peran orangtua tidak adekuat.
6) Motivasi keluarga untuk mengidentifikasi akibat yang terjadi pada anggota
keluarga. 7) Motivasi keluarga untuk mengambil keputusan terhadap perbaikan

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

86
peran sebagai orangtua. 8) Gali pemahaman keluarga tentang peran dasar
orangtua. 9) beri contoh peran keluarga yang adekuat terkait gizi lebih. 10)
Jelaskan strategi meminimalkan perilaku yang salah. 11) jelaskan pada keluarga
cara mengatasi ketidakmampuan menjadi orangtua secara adekuat. 12) Bantu
keluarga membuat peraturan dengan gaya otoriter, permisif dan demokratis. 13)
Lakukan konseling keluarga jika sulit untuk mampu berperan menjadi orangtua
secara adekuat. 14) Diskusikan dengan keluarga cara memelihara lingkungan
yang kondusif dalam menjalani peran menjadi orangtua. 15) Motivasi keluarga
untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan jika masalah peran tidak bisa teratasi dan
mengganggu keharmonisan keluarga.
Implementasi: 1) Menggali dan mendiskusikan dengan bapak S dan ibu J tentang
konsep peran dan ketidakmampuan menjadi orangtua. 2) Memotivasi untuk
mengidentifikasi ketidakmampuan yang terjadi 3) Membantu keluarga untuk
mengenali penyebab ketidakmampuan menjadi orangtua secara adekuat seperti
kurang pengetahuan tentang tumbang AUS, riwayat kekerasan, masalah
pekerjaan. 3) Menjelaskan dan memberi contoh peran dasar orangtua sebagai
provider. 4) Menjelaskan gaya perilaku orangtua yang bersifat otoriter, permisif
atau demokratis, kapan sebaiknya digunakan. 5) Membantu orangtua berperilaku
gaya demokratik terkait ketidakpatuhan anak A melaksanakan modifikasi
perilakunya. 6) Menjelaskan kembali perilaku gaya kontrol. 7) Memberi
reinforcement terhadap apa yang telah dicapai keluarga.
Evaluasi: 1) Bapak S mengatakan peran orangtua adalah memberi nafkah pada
anggota keluarga meskipun disadari bahwa belum dapat memenuhi kebutuhan
dengan baik, ibu J sering marah-marah karena ibu J yang memenuhi semua
kebutuhan, kendati harus kerja pagi, siang dan malam. 2) Bapak S lebih banyak
menunduk dan terlihat malu, biacara seperlunya, namun mulai banyak bicara
ketika perawat mengatakan isteri harus tetap menghargai suami meskipun
uangnya sedikit dan tidak boleh selalu mengatakan anak bodoh, mengurus anak
adalah urusan suami dan isteri. 3) Ibu J mengatakan sudah mengurangi
pekerjaannya, sekarang tinggal 2 keluarga, jam kerja dimulai setelah duhur
sampai sore, supaya dapat mengurus anak-anak membuatkan sarapan dan makan

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

87
siang serta membersihkan rumah. Ibu J sering terlihat berada di rumah sampai jam
1, menu sarapan dan makan siang selalu tersedia, sayur tersedia setiap hari, anakanak mulai tampak lebih sopan dan bersih, anak A terlihat mencuci piring,
menyapu dan mengepel. Bapak S belum maksimal mengurus anak-anaknya
namun lebih awal pulang dari ngojek. Ibu J juga terlihat lebih lembut berbicara
dengan anak-anaknya, menyuapi anak Rj. Nilai UTS anak A rata-rata meningkat,
paling tinggi Bahasa Indonesia dan bahasa Sunda (nilai 9), matematika (8). Ibu J
membawa anak A ke Puskesmas karena demam. Sebagian besar TUK 1-5 (Dx1-4)
tercapai, Kemandirian keluarga meningkat menjadi kemandirian (KM-III).
Rencana Tindak Lanjut: intervensi anak A dan Rt diserahkan ke sekolah
melalui program UKS.
Gambaran singkat tingkat kemandirian 10 keluarga binaan di bawah ini:
tabel 4.1 Resume Tingkat Kemandirian keluarga binaan
Keluarga Masalah
Binaan ditemukan

Masalah
teratasi

Bpk S

Bpk B

Bpk WP

Bpk W

Ibu C

Bpk AQ

Bpk GR

Bpk YS

Bpk St

Bpk BB

Tingkat Kemandirian Keluarga


I

II

III

IV

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

88
BAB 5
PEMBAHASAN
5.1 Pengelolaan Pelayanan Keperawatan
Proses perbaikan sistem pelayanan kesehatan anak usia sekolah khususnya
pelaksanaan TRIAS UKS di SDN Pasir Gunung Selatan 3 ditujukan pada
perbaikan manajemen organisasi UKS antara lain fungsi pengorganisasian tanpa
mengabaikan fungsi-fungsi manajemen yang lain. Advokasi dan kordinasi
dilakukan secara intens terhadap kepala sekolah untuk pembenahan sistem
manajemen di UKS. Kepala Sekolah dan guru sangat mendukung tentang
perbaikan manajemen UKS. Kepala sekolah sangat memahami karena beliau
seorang

Magister Manajemen,

namun

belum menjadi

prioritas karena

keterbatasan sumber daya. Notoatmojo (2010) menyatakan bahwa seseorang akan


cepat melakukan perubahan positif ketika seseorang mempunyai pengetahuan.
Masalah prioritas adalah masalah pengorganisasian yang belum optimal khusus
pada peran dan fungsi tim pelaksana.
Perbaikan fungsi pengorganisasian meliputi revisi struktur organisasi yang tidak
efektif dan pengoptimalan peran dan fungsi tim pelaksana UKS khususnya kader
kesehatan sekolah atau dokter kecil dan guru. Muninjaya (2004) mengatakan
bahwa pengorganisasian akan mengatur sumber daya yang dimiliki oleh
organisasi, akan diatur penggunaannya secara efektif dan efisien untuk mencapai
tujuan organisasi. Pengorganisasian dimulai dari struktur organisasi.
Tim pelaksana UKS pada struktur organisasi UKS SDN Pasir Gunung Selatan 3
tidak bertugas dan berfungsi sesuai peran masing-masing. Perubahan struktur
organisasi dilakukan sejak awal tahap residensi, namun penerbitan revisi SK
dimulai pada bulan April 2012. Meskipun belum ada SK, tetapi nama-nama yang
telah disusun untuk menjadi tim pelakasana UKS telah bekerja sesuai peran yang
diberikan. Guru UKS terlihat antusias membenahi sistem administrasi UKS,
kelengkapan dokumentasi, menyusun jadwal piket dokter kecil, dan sering
bertanya tentang hal-hal apa lagi yang diperlukan untuk kelengkapan administrasi
UKS. Guru UKS juga sering mendampingi residen setiap kegiatan penanganan
gizi lebih termasuk pemantapan PE dan kegiatan CSC. Bendahara UKS juga
88
Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Universitas Indonesia

89
terlihat antusias melaksanakan peran sebagai bendahara UKS merangkap
bendahara dana sehat termasuk menagih dan mencatat pemasukan dan pengeluran
dana sehat. Kelengkapan sistem administrasi dana sehat difasilitasi oleh residen.
Penguatan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) tim pelaksana UKS diperlukan ada
Surat Keputusan (SK) dari kepala sekolah tentang revisi struktur organisasi UKS.
Beberapa literatur mengatakan bahwa didalam pengorganisasian sangat ditentukan
oleh adanya struktur organisasi untuk membentuk suatu garis komando. Struktur
organisasi mengacu pada bagaimana suatu kelompok dibentuk, jalur komunikasi,
cara mengatur otoritas dan mengambil keputusan (Marquis & Huston, 2003).
Komponen struktur organisasi UKS di SD PGS 3 antara lain adalah guru UKS
dan dokter kecil sebagai kader kesehatan. Guru UKS berperan dalam memantau
kesehatan siswa, termasuk lingkungan sekolah. Peran ini akan memberatkan tugas
guru yang juga harus mengajar di kelas. Melihat fakta ini menggambarkan bahwa
hanya guru UKS yang berperan banyak terhadap pelaksanaan TRIAS UKS. Hal
ini yang membuat program kerja UKS tidak dapat terlaksana secara optimal. Oleh
sebab itu, diperlukan ada perpanjangan tangan dari guru UKS ke siswa lainnya,
sehingga sangat penting adanya dokter kecil sebagai kader kesehatan yang
membantu peran guru UKS (Dinas Pendidikan Jawa Barat, 2010). Seperti halnya
upaya pencegahan terhadap obesitas, guru UKS tidak mampu memberi
penyuluhan atau memantau perilaku diet AUS obesitas. Tugas Peer edukator telah
teridentifikasi yaitu penyuluhan kesehatan tentang prinsip gizi seimbang,
monitoring perilaku makan dan aktivitas fisik terhadap AUS gizi lebih,
monitoring Gersabuh untuk semua siswa, instruktur senam di CSC dan
pemantauan berat badan setiap bulan. Tugas ini akan memudahkan guru terhadap
pelaksanaan TRIAS UKS.
Tugas dan peran peer edukator dan guru akan berjalan optimal jika mempunyai
kompeten atau keterampilan yang baik. Organisasi perlu memastikan bahwa
terdapat tenaga kerja/staff yang cukup terampil untuk memenuhi tujuan organisasi
(Marquis & Huston, 2003). Tenaga kerja pada struktur UKS antara lain adalah
kader kesehatan/dokter kecil dan guru. Dokter kecil dispesifikkan tugasnya
menjadi peer edukator. Pelatihan peer edukator yang dilakukan pada praktik
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

90
residensi tahap I belum memenuhi kriteria sehingga dilakukan pemantapan tugas
peer edukator terkait penanggulangan gizi lebih pada residensi tahap II. Pelatihan
peer edukator tahap I diperoleh hasil adalah sebagian besar telah memenuhi
pengetahuan ideal (> 6), baik dalam pengukuran berat badan dan tinggi badan,
hampir semua menghapal gerakan senam SRIBU meskipun gerakan belum
optimal. Peer edukator yang betahan sampai tahap II sebanyak 12 orang, bahkan
3-5 siswa selain peer edukator yang ingin terlibat dalam kegiatan pemantapan peer
edukator. Mereka mengatakan senang dengan kegiatan tersebut karena menambah
ilmu dan belajar berbicara di depan umum. Suasana diciptakan senyaman
mungkin, tidak ada ketegangan, diselingi humor sehingga anak-anak PE tidak
bosan dalam melakukan latihan dan praktek. Fakta ini didukung oleh Edelman
dan Mandle (2010) bahwa susasana pembelajaran harus dengan suasana kondusif,
diselingi humor dan beri kesempatan pada peserta untuk lebih aktif sehingga
tujuan pembelajaran tercapai.
Hasil penilaian semua tugas peer edukator berdasarkan indikator menunjukkan
sebagian besar (84,6%) bertugas dengan baik. Hal ini terjadi karena motivasi peer
edukator dalam bekerja cukup tinggi, sebagai aktualisasi diri dan merupakan
pengalaman pertama. Kinerja peer edukator yang baik karena motivasi tinggi
dibenarkan oleh Notoatmojo (2010) yang menyatakan bahwa motivasi merupakan
kekuatan dorongan yang menggerakkan kita untuk berperilaku tertentu. Terry dan
Rue (2010) mengatakan bahwa keberhasilan mencapai tujuan organisasi
diperlukan sumber daya manusia yang kompeten dengan cara pelatihan dan
praktek.
Pelatihan dan pendidikan lanjutan terhadap tim pelaksana (pegawai) merupakan
kegiatan pengembangan organisasi untuk mendukung optimalisasi pelaksanaan
organisasi (Muninjaya, 2004), termasuk unsur guru. Oleh karena itu guru diberi
pelatihan juga dalam penilaian status gizi anak usia sekolah dengan menggunakan
standar antropometri terbaru berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia nomor: 1995/MENKES/SK/XII/2010.
Guru mempunyai salah satu tugas pada pelaksanaan TRIAS UKS yaitu
pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan diberikan melalui kegiatan kurikuler
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

91
atau ekstrakurikuler (Dinas Pendidikan Jawa Barat, 2010). Pendidikan kesehatan
yang terkait penanggulangan masalah gizi antara lain gizi lebih adalah pendidikan
gizi. Unicef (2005), WHO (2009) dan Edelman dan Mandle (2010) menyatakan
bahwa salah satu upaya penanggulangan gizi adalah pendidikan gizi dimasukkan
kedalam kurikulum sekolah.
Pendidikan gizi merupakan salah satu intervensi yang terbukti dapat menurunkan
prevalensi gizi lebih. Pendidikan gizi diberikan pada anak usia 5-12 tahun dengan
gizi lebih sebanyak 63 anak pada kelompok intervensi dan 14 anak pada
kelompok kontrol selama 10 minggu. Hasil yang diperoleh sebanyak 95%
mengalami penurunan berat badan (rata-rata berkurang 4,4 kg) pada kelompok
kontrol dan sebanyak 21% terjadi penurunan (rata-rata 1,2 kg) pada kelompok
kontrol (Brownel & Kaye, 1982). SDN Pasir Gunung Selatan 3 belum
memasukkan pendidikan gizi kedalam kurikuler, oleh sebab itu advokasi
dilakukan untuk memasukkan pendidikan gizi kedalam kurikuler.
Keterlibatan orangtua (komite sekolah) juga berperan penting terhadap
pelaksanaan TRIAS UKS selain peer edukator dan guru. Komite sekolah
merupakan salah satu tim pelaksana pada struktur UKS (Dinas Pendidikan
Provinsi Jawa Barat, 2010). Peran komite sekolah antara lain adalah membentuk
dana sehat untuk pembiayaan pelayanan kesehatan anak usia sekolah. SDN Pasir
Gunung Selatan 3 tidak mempunyai anggaran khusus terhadap pelaksanaan UKS.
Dana sehat merupakan salah satu solusi untuk pelaksanaan UKS secara optimal
dan pemberdayaan orangtua (Adisasmito, 2007). Sumber dana sangat mendukung
tugas-tugas kelompok kerja (Muninjaya, 2004), termasuk penyediaan obat-obatan,
bahan habis pakai dan peralatan UKS yang mendukung kelancaran tugas kader
kesehatan sekolah.
Optimalisasi peran dan fungsi tim pelaksana UKS secara kontinyu diperlukan
adanya pemotivasian atau pengarahan. Salah satu upaya pengarahan sebagai
fungsi manajemen adalah supervisi (Swanburg, 2000). Fungsi pengarahan
terhadap pelayanan kesehatan anak usia sekolah belum optimal dilaksanakan di
SDN Pasir Gunung Selatan 3. Penyebab fungsi pengarahan tidak optimal karena
keterbatasan sumber daya dan waktu yang dimiki oleh Tim Pembina UKS Tingkat
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

92
Kabupaten/Kota, Kecamatan maupun Puskesmas, oleh karena itu pengembangan
kegiatan UKS belum optimal. Upaya yang telah dilakukan untuk membuat fungsi
pengarahan fokus pada supervisi dapat optimal adalah melibatkan Puskesmas
setiap acara lokakrya mini kesehatan. Lokakarya mini kesehatan telah diadakan
tiga kali dan Kepala Puskesmas hadir, setelah itu dilanjutkan dengan
penandatanganan nota kerjasama antara pihak sekolah dan Puskesmas, termasuk
kerjasama melakukan supervisi secara berkala.
Koordinasi dengan kepala Puskesmas Pasir Gunung Selatan yang bertindak
sebagai tim pembina juga sering dilakukan untuk membicarakan kegiatankegiatan yang telah dilakukan dan pentingnya supervisi tindak lanjut hasil kegitan
tersebut. Pada prinsipnya, proses supervisi telah ditetapkan dalam buku panduan
pengelolaan UKS di sekolah bahwa supervisi dilakukan minimal 3 bulan sekali
dari Puskesmas ke sekolah. Format-format tentang supervisi juga terdapat di buku
panduan UKS sehingga akan memudahkan pembinaan pada saat supervisi.
Keterbatasan jumlah tenaga Puskesmas membuat petugas UKS merangkap
berbagai tugas fungsional. Petugas UKS Puskesmas yang baru adalah Kepala
Puskesmas juga merangkap sebagai dokter gigi yang harus melayani pasien.
Supervisi yang disepakati secara lisan adalah pada awal tahun ajaran baru
bertepatan dengan penjaringan anak baru masuk sekolah, kemudian setiap tiga
bulan berikut.
Residen menyarankan pada tim pelaksana UKS adalah lebih proaktif untuk
dilakukan supervisi dengan cara mendatangi langsung ke Puskesmas atau lewat
telpon. Kepala Sekolah menemui langsung kepala Puskesmas untuk dilakukan
supervisi, cara ini lebih efektif menghadirkan kepala Puskesmas. Kepala sekolah
dan guru tampak senang melihat kedatangan kepala Puskesmas untuk melakukan
supervisi. Masukan dari kepala puskesmas langsung dibenahi seperti pengadaan
Snellen Chart untuk pemeriksaan visus. Penelitian Mua (2011) mendukung
tentang manfaat supervisi yaitu supervisi klinik Kepala Ruangan dapat
meningkatkan kepuasan dan kinerja perawat pelaksana di ruang rawat inap RS
Woodward Palu. Kepala Puskesmas juga dilibatkan untuk membuka perlombaan
menulis cerita terkait prinsip gizi seimbang.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

93
Keberlangsungan program UKS sangat membutuhkan adanya supervisi dari Tim
Pembina UKS kecamatan dan Puskesmas. Supervisi dilakukan secara berjenjang,
dari

tingkat atas

ke

tingkat

di

bawahnya.

Sasaran supervisi

adalah

manajemen/pengelolaan kegiatan, jenis dan pelaksanaan kegiatan dan upaya


pengembangan. Supervisi dilakukan dengan melihat secara langsung pelaksanaan
kegiatan untuk mengetahui apakah kegiatan dapat berjalan sesuai dengan rencana,
apa dan bagaimana hasil yang telah diperoleh. Bila ditemui adanya
hambatan/penyimpangan, maka perlu dilakukan bimbingan dan pengarahan agar
kegiatan dapat berjalan dengan baik (Disdik provinsi Jawa Barat, 2010).
Supervisi pada fungsi pengarahan diperlukan, reward dan punishment juga
dibutuhkan dalam pemotivasian (Terry & Rue, 2010). Penilaian sekolah sehat
merupakan reward yang diberikan dari Tim Pembina UKS. SDN PGS 3 cukup
semangat untuk memperbaiki program dan sarana UKS. Dokter kecil atau guru
UKS yang berkinerja baik sebaiknya diberi penghargaan juga. Sebaliknya,
sekolah yang tidak melaksanakan TRIAS UKS dengan baik diberi punishment.
Kesimpulan tentang fungsi pengarahan bahwa pelaksanaan program UKS akan
optimal apabila fungsi pengarahan optimal termasuk supervisi secara berjenjang.
Kerjasama yang baik antara internal sekolah, dengan pihak Puskesmas atau pihakpihak lain yang terkait, komunikasi lancar, supervisi berkala, reward dan
punishment diterapkan serta mempunyai pemimpin yang berwawasan kesehatan
dapat menjalankan TRIAS UKS dengan maksimal.
5.2 Asuhan Keperawatan Komunitas
Asuhan keperawatan dimulai dari proses pengkajian atau analisis situasi.
Ketertarikan terhadap fenomena gizi lebih terbukti pada pengkajian yang
dilakukan di SDN PGS 3. Kasus gizi lebih jauh lebih banyak dari kasus gizi
kurang. SDN PGS 3 merupakan sekolah yang sebagian besar peserta didik berasal
dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Gizi lebih cenderung selalu
dihubungkan dengan status sosial ekonomi tinggi. Fakta ini cukup membuat kaget
pihak sekolah karena SDN PGS 3 bukan sekolah bonafit. Residen menjelaskan
bahwa gizi lebih pada AUS mengalami peningkatan terus menerus dan merupakan
predisposisi beberapa penyakit, oleh karena itu akan membuat program melalui
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

94
UKS untuk mencegah peningkatan kasus dan komplikasi akibat gizi lebih. Gizi
lebih atau gemuk tidak lagi dipandang sebagai anak sehat. Pihak sekolah sangat
setuju dengan program yang akan dilakukan. SDN PGS 3 juga cukup peduli
dengan pelayanan kesehatan anak sekolah meskipun program kerja UKS belum
optimal.
Masalah kesehatan anak sekolah yang ditemukan

dan rencana kegiatan

dipaparkan terhadap pihak sekolah. Rencana kegiatan yang akan dilakukan


disesuaikan dengan potensi sekolah. Ada tiga unsur yang akan diberdayakan
terhadap penanganan gizi lebih yaitu peer, guru dan keluarga. Program utama
bersifat promotif dan preventif yaitu perbaikan perilaku makan yang sehat dan
peningkatan aktivitas fisik. Rencana tindakan yang akan dilakukan adalah
pendidikan kesehatan tentang prinsip gizi seimbang, pendidikan gizi oleh guru,
kampanye kesehatan, monitoring perilaku makan, monitoring aktivitas fisik,
penimbangan berat badan setiap bulan, pendidikan kesehatan terhadap orangtua,
lomba promosi kesehatan, gerakan makan sayur dan buah (gersabuh), membentuk
club senam ceria, dan pembentukan dana sehat. Penanganan gizi lebih di SDN
PGS 3 menggunakan model PERKASA sebagai model intervensi.
Pendidikan kesehatan sebagian besar dilaksanakan oleh peer edukator. Gilbert,
Sawyer dan McNeil (2011) menjelaskan bahwa salah satu pendekatan pendidikan
kesehatan adalah melalui peer edukator. Peer edukator mempunyai enam tugas
yaitu edukasi, monitoring (perilaku makan, aktivitas fisik, gersabuh), instruktur
senam dan bersama dokter kecil melaksanakan penimbangan berat badan setiap
bulan dan screening gejala metabolik. Indikator keberhasilan model PERKASA
adalah penurunan IMT pada AUS gizi lebih.
Intervensi dengan model PERKASA memberi gambaran pada uji t yaitu terdapat
perbedaan nilai IMT sebelum dan sesudah intervensi (=0,000). Hal ini
menunjukkan keberhasilan intervensi yang dilakukan dalam menurunkan IMT
atau kategori gizi anak menjadi lebih baik. Pengukuran IMT dilakukan sebelum
dan sesudah intervensi selama 8 minggu. Penilaian standar gizi menggunakan
standar antropometri tahun 2010. AUS gizi lebih sebelum intervensi sebanyak 33
anak, terdapat 1 anak pindah sekolah sehingga sasaran menjadi 32 anak.
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

95
Pengukuran pertama terdapat 13 anak kategori obesitas dan 20 anak kategori
overweight. Pengukuran kedua diperoleh hasil terdapat 14 anak menjadi kategori
gizi normal, kategori obesitas menjadi overweight sebesar 5 anak, tetap obesitas
sebanyak 7 anak dan tetap overweight sebanyak 6 anak. Kesimpulan tentang gizi
lebih adalah terjadi penurunan prevalensi dari 9,97% menjadi 5,4%.
Keberhasilan intervensi model PERKASA didukung tiga penelitian yaitu 1)
Brownel dan Kaye (1982) dengan penelitian eksperimen dapat menurunkan
obesitas AUS (5-12 tahun) sebanyak 95% pada kelompok intervensi (n=63), 21%
pada kelompok kontrol (n=14), intervensi dilakukan selama 10 minggu dengan
pendidikan gizi, modifikasi perilaku, aktivitas fisik dan keterlibatan orangtua
dalam penyediaan makanan. 2) Seltzer dan Mayer (1970) menemukan penurunan
overweight 11% pada kelompok intervensi (n=189) dan 2% pada kelompok
kontrol (n=161), intervensi pendidikan gizi, modifikasi perilaku dan aktivitas fisik
diberikan selama 5-6 bulan pada kelompok umur 8-15 tahun.

3) Zakus et al

(1981) menurunkan 9% overweight pada kelompok intervensi (n=10) dan 1%


pada kelompok kontrol (n=12) dengan intervensi pendidikan gizi, modifikasi
perilaku dan aktivitas fisik selama 9 minggu.
Keberhasilan tersebut atas peran peer edukator, guru dan keluarga. Ditemukan
perbedaan pengetahuan, sikap dan praktik gizi yang signifikan pada uji t
(=0,000) sebelum dan setelah intervensi peer edukator. Hasil analisis
menunjukkan bahwa terdapat peningkatan rata-rata skor pengetahuan, sikap dan
praktik gizi yang bermakna sebelum dan sesudah edukasi sebaya. Hasil penelitian
yang diperoleh sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Fitriani (2011),
menunjukkan bahwa terjadi peningkatan skor pengetahuan (=0,000), skor sikap
(=0,000), skor keterampilan (=0,022) terhadap PHBS pada AUS berisiko
kecacingan secara bermakna di Desa Manggar Belitung Timur. Hayati (2009) juga
mendukung hasil yang diperoleh yaitu edukasi sebaya dapat meningkatkan
pengetahuan, sikap dan perilaku jajan pada AUS di Aceh (=0,000).
Hal yang turut mendukung terjadi peningkatan skor perilaku gizi adalah
pembelajaran melalui peer group menggunakan metode bermain selain ceramah
dan lingkungan yang kondusif. Edelman dan Mandle (2010) mengatakan
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

96
pembelajaran pada anak membutuhkan berbagai metode misalnya permainan dan
ciptakan suasana yang nyaman dan santai. Persepsi AUS gizi lebih berubah positif
dari 79,2% mengatakan gemuk adalah sehat, setelah intervensi 83,3% menyatakan
anak gemuk tidak lagi dikatakan sehat. Hal ini cukup kuat mempengaruhi perilaku
anak menjadi lebih sehat. Notoatmojo (2010) menyatakan bahwa hal internal yang
dapat mempengaruhi perilaku seseorang.
Penurunan IMT juga didukung oleh perbaikan perilaku makan AUS gizi lebih
yaitu peningkatan kebiasaan (sering dan selalu) makan sayur tiga kali sehari dari
57,2% menjadi 75%, kebiasaan makan buah minimal 2 potong sehari dari 14,2%
menjadi 50%, kebiasaan jajan menurun dari 78,6% menjadi 54,2%, kebiasaan
sarapan lebih sebesar 66,66%. Perilaku makan yang cenderung sehat dapat
menurunkan kejadian obesitas. Hasil ini didukung oleh CDC (2001) dalam
Allender dan Spradley (2005) bahwa 79% AUS gizi lebih makan sayur dan buah
kurang dari lima porsi sehari. Survey Saifah (2011) menemukan 65,35% tidak
makan buah secara rutin, 28,85% tidak makan sayur secara rutin dan 59,62%
sering jajan pada 52 anak AUS gizi lebih. Edelman dan Mandl (2010); Maurer
dan Smith (2005) setuju bahwa overweight dan obesitas terjadi dampak dari
kurang mengkonsumsi sayur dan buah serta jajan makanan berenergi dan lemak
tinggi.
Berdasarkan food recall 24 jam dan 3x 24 jam rata-rata 33%-40% perilaku makan
anak baik secara berfluktuasi, perilaku makan sayur dan buah yang mengalami
peningkatan, sebagian besar anak makan golongan karbohidrat sebanyak dua kali.
Hal ini juga kurang baik karena mengingat anak dalam tahap tumbuh kembang.
Berdasarkan observasi residen setiap hari, hampir semua sering terlihat jajan
seperti gula-gula, indomie tanpa sayur, susu, makanan ringan dan minuman
manis. Hal ini terjadi karena sebagian besar (76,9%) orangtua memberi uang jajan
secara rutin. Perilaku jajan AUS sulit untuk dirubah karena tersedia sarana jajan
kurang sehat. Hal ini dibutuhkan ketegasan dari pihak sekolah atau instansi yang
berwenang.
Kebijakan kepala sekolah tentang promosi kesehatan adalah dicanangkan pada
GERSABUH menjadi agenda rutin sekolah setiap hari Jumat pada tanggal 16
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

97
Desember 2011. Gerakan ini bertujuan untuk membudayakan makan sayur dan
buah dimulai dari sekolah dan berlanjut sampai di rumah. Penyediaan sayur oleh
sekolah bagi anak yang tidak membawa sayur. Awal gerakan ini membuat siswa
bersemangat dengan pencapaian 60%-90%. Persentase menurun drastis pada
minggu ke-2 dan ke-3 April 2012 kemudian meningkat lagi setelah Kepala
Sekolah memberitahu secara resmi melalui surat ke orangtua. Pendapat orangtua
dari kuesioner menyatakan 68% sangat setuju dan 28% setuju supaya
GERSABUH dipertahankan atau ditingkatkan. Testimoni lima orangtua siswa
kelas satu dan dua mengatakan anaknya menjadi suka makan sayur dan buah
setelah ada GERSABUH. Wali kelas lima mengatakan terdapat beberapa siswa
kelas lima yang diketahui tidak suka makan sayur, tetapi pada hari GERSABUH
anak tersebut makan sayur bersama teman-temannya. Dukungan GERSABUH
diperkuat dengan kampanye kesehatan melalui pembagian 100 pin ajakan makan
sayur dan buah. GERSABUH terinspirasi dari program makan salad satu kali
dalam seminggu (Anderson & McFarlane,2003) dan lunch program di Amerika
(Story, 2009).
Penurunan IMT juga didukung oleh aktivitas fisik yang baik. Hasil monitoring
aktivitas fisik ditemukan 90,6% (pre intervensi sebesar 25%) beraktivitas fisik
memenuhi kriteria yaitu minimal 3 kali seminggu selama 1 jam. Penurunan
perilaku sedentary nonton TV > 2 jam dari 60,7% menjadi 50%. Kebiasaan
ngemil sambil nonton TV dari 32,1% menjadi 25%. Observasi residen terhadap 5
anak laki-laki yang bertetangga, terlihat main sepak bola atau futsal setiap 2-3 kali
per minggu ketika residen lewat dari kunjungan keluarga. Menurut wali kelas dan
teman-temannya bahwa kelima anak tersebut hampir setiap hari di warnet selama
2-3 jam. Residen mencoba mengklarifikasi tentang kebiasaan di warnet, anak
mengaku sudah jarang kecuali jika ada tugas. Residen pernah secara tidak sengaja
bertemu di warnet, anak tersebut kaget dan spontan mengatakan saya baru saja
main karena ada tugas, petugas membenarkan. Terdapat temannya yang iseng
mengatakan bahwa anak J masih sering ke warrnet, spontan anak J marah karena
dituduh hal yang tidak benar. Anak J tenang ketika residen mengatakan ibu
percaya apa yang kamu katakan.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

98
Aktivitas fisik kurang terkait erat dengan kejadian gizi lebih. CDC (2011) dan
Nutrition center (2011) menyatakan kejadian gizi lebih akibat kurang melakukan
aktivitas fisik. Poskit, 2005; Kaizer family fondation, 2007; BHF 2000 dalam
Rugg, 2004; NHLBI, 2007 menjelaskan bahwa overweight dan obesitas
berkorelasi positif dengan kebiasaan nonton TV, main games, komputer dan
internet lebih dari 2 jam. Mustaq (2011) juga menemukan korelasi negatif bahwa
semakin tinggi aktivitas fisik lebih satu jam sehari secara teratur maka semakin
menurun kejadian overweight dan obesitas pada anak usia sekolah di Pakistan
( < 0,01).
Promosi kesehatan sekolah terkait peningkatan aktivitas fisik adalah pembentukan
Club Senam Ceria (CSC). CSC bertujuan untuk mengajak anak berolah raga
sambil bermain di luar jam sekolah sehingga tumbuh kembang dapat optimal.
CSC di launching pada tanggal 22 Desember 2011. CSC juga merupakan wadah
untuk meningkatkan aktivitas fisik pada AUS dengan gizi lebih. Jumlah peserta
CSC setiap kegiatan antara 15-45 anak. 64% orangtua sangat setuju dan 32%
setuju CSC dipertahankan.
Pendidikan kesehatan tentang prinsip gizi seimbang dan praktek menyusun menu
untuk usia anak sekolah. Pendidikan kesehatan yang dilakukan di sekolah bersifat
umum. Kegiatan ini dilakukan mengacu dari MDGs 2015 indikator 3 tentang
pemberdayaan perempuan. Ilmu dan keterampilan diberikan supaya perempuan
(ibu) dapat meningkatkan status kesehatan diri sendiri ataupun anak sebagai
generasi muda. Ibu AUS gizi lebih yang tidak hadir dan tidak juga menjadi
keluarga binaan maka buku prinsip gizi seimbang diberikan melalui anaknya
untuk menjadi bahan bacaan. Kegitan ini bertujuan untuk memperbaiki praktik
diet dalam keluarga. Peer edukator memberi ilmu di sekolah, selanjutnya keluarga
yang menyediakan makanan bergizi seimbang di rumah. Friedman, Bowden dan
Jones (2003) menyatakan bahwa praktik diet keluarga sangat menentukan
perilaku gizi anak.
Praktik diet keluarga berdasarkan hasil kuesioner mengalami peningkatan
meskipun tidak signifikan yaitu dari 72% keluarga menyediakan sayur setiap hari
menjadi 84,6%; penyediaan buah dari 52% kadang-kadang meningkat menjadi
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

99
61,6% sering dan selalu menyediakan buah buat keluarga; persepsi keluarga anak
gemuk adalah sehat menurrun dari 52% menjadi 16%, sebagian besar (72%)
mengatakan perlu perbaikan perilaku makan dan peningkatan aktivitas fisik.
Hasil uji korelasi antara peran keluarga dalam praktik diet dan hasil IMT anak
menunjukkan peran orangtua/keluarga belum maksinal (=0,17). Hal ini disukung
oleh masih terdapat perilaku diet orangtua perlu ditingkatkan seperti kebiasaan
makan bersama masih rendah (30,3%), menyusun menu sebesar 42,4%, bahkan
terdapat perilaku yang perlu dikurangi adalah kebiasaan memberi uang jajan pada
anak sebesar 76,9%. Semua (100%) anak mengatakan bahwa alasan tidak makan
sayur dan buah atau tidak suka karena keluarga tidak menyediakan atau
mencontoh orangtua yang tidak suka. Terdapat hubungan positif antara kebiasaan
anak mengkonsumsi buah dengan kebiasaan ibu mengkonsumsi buah (Gibson,
Wardle & Watts, 1998; Stheperd et al, 2001).
Peran guru dalam intervensi model PERKASA belum maksimal karena
pelaksanaan pendidikan gizi belum berjalan, tahun ajaran 2012/2013 mulai akan
dilaksanakan. Guru hanya sebatas sosialisasi prinsip gizi seimbang seperti guru
kelas 3 menempel poster prinsip gizi seimbang di dinding, guru kelas 1 membuat
figura tips mencegah penyakit, salah satu adalah tingkatkan konsumsi sayur dan
buah, bahkan menyuap siswa supaya mau makan sayur pada hari GERSABUH,
guru kelas 4, 5, dan 6 memberi ceramah singkat serta mengadakan lomba
membuat jajanan sehat dan makanan non beras.
5.3 Asuhan Keperawatan Keluarga
Asuhan keperawatan keluarga dilakukan pada 10 keluarga binaan. Keluarga
binaan diawali dari kemandirian keluarga (KM-II). Terdapat dua keluarga menjadi
KM-IV dan 8 keluarga menjadi KM-III. Sebagian besar keluarga belum
melakukan promosi kesehatan secara aktif, karena kemampuan menyampaikan
dan motivasi yang masih kurang untuk menyebarkan informasi terkait
penanggulangan gizi lebih. Hal ini juga karena akibat gizi lebih belum dirasakan
atau terlihat dampak negatif serta nilai-nilai di masyarakat tentang anak gemuk
masih tinggi. Notoatmojo (2010) mengatakan bahwa ada tiga hal yang membuat
seseorang lambat melakukan perilaku kesehatan yaitu pengetahuan yang terbatas,
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

100
motivasi kurang dan keterampilan hidup sehat serta dampak yang ditimbulkan
tidak dirasakan langsung secara cepat. Dua keluarga yang menjadi KM-IV karena
satu keluarga latar belakang pendidikan yang tinggi dan disiplin ilmu kesehatan
serta sudah merasakan akibat gizi lebih yaitu anaknya sering mengalami masalah
kulit (korengan) dan malas. Keluarga binaan kedua yang KM-IV karena sering
terlibat di posbindu sehingga sering mendapat penyuluhan kesehatan dan
suaminya menderita diabetes yang mempunyai riwayat kegemukan.
Penguatan intervensi keluarga terhadap penanganan gizi lebih adalah praktik diet
keluarga yang dioptimalkan. Sebagian besar (70%) keluarga berada pada status
sosial ekonomi menengah. Berdasarkan observasi residen, sebagian besar
keluarga tidak memperhatikan menu seimbang bagi AUS gizi lebih. Gizi
seimbang yang diajarkan mengacu pada Tumpeng Gizi Seimbang. Keluarga diberi
pendidikan kesehatan terlebih dahulu untuk meningkatkan pengetahuan tentang
gizi. Pender, Murdaugh, Parsons (2006) menyatakan bahwa dari internalisasi
pengetahuan kemudian diaplikasikan menjadi perilaku sehari-hari.
Fokus bimbingan (coaching) pada keluarga adalah menyusun menu seimbang
sesuai jenis dan porsi. Keluarga diperkenalkan nilai gizi yang terkandung dalam
setiap makanan, cara pengolahan yang baik, frekuesni makan serta ukuran porsi.
Keluarga dibimbing untuk membuat menu seimbang berdasarkan kemampuan
keluarga. Ukuran porsi karbohidrat khusus nasi dikonversi kedalam mangkok
yang dimiliki keluarga. Pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki diterapkan
pada AUS dengan gizi lebih 90% keluarga dapat menyusun menu seimbang dan
dipraktekkan sesuai keadaan ekonomi dan kesempatan mengolah makanan.
Setiap keluarga juga diajarkan cara menilai status gizi AUS. Tujuan yang
diharapkan adalah dapat menilai sendiri sehingga dapat mengatur pola makan
anak. Rata-rata 2-3 kali latihan untuk dapat menghitung sendiri. 30% keluarga
yang tidak dapat menghitung IMT anak dan membaca standar antropometri.
Semua keluarga yang tidak dapat menilai status gizi anak mempunyai latar
belakang pendidikan yang rendah (maksimal SMP). Pengetahuan selalu
dihubungkan dengan tingkat pendidikan seseorang. Hal ini dimungkinkan karena
seseorang yang berpendidikan tinggi cenderung mempunyai nalar dan wawasan
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

101
yang lebih baik dibanding yang pendidikan rendah, sehingga informasi kesehatan
yang diberikan lebih mudah dicerna dan diterima.
Praktik diet keluarga khususnya penyediaan buah dan sayur bagi keluarga masih
berfluktuasi karena beberapa anggota keluarga tidak suka mengkonsumsi buah
dan sayur. Budaya makan sayur dan buah belum diterapkan dalam keluarga.
Notoatmojo (2010) menjelaskan bahwa faktor nilai dan budaya dapat menjadi
penghambat berperilaku kesehatan, oleh karena itu budaya yang terkait perilaku
sehat perlu diajarkan sejak awal termasuk budaya makan sayur dan buah.
Motivasi orangtua juga menentukan terhadap perbaikan praktik diet keluarga.
Soderlund et al (2009) setuju bahwa motivasi orangtua yang kurang dalam
menangani kelebihan berat badan anak mereka sehingga praktik diet sehat juga
kurang diperhatikan. Lindsay et al (2006) juga mendukung keterlibatan dan upaya
langsung dari orangtua perlu dimulai sejak dini pada tahap tumbuh kembang anak
dalam melaksanakan praktek hidup sehat baik di dalam maupun di luar rumah.
Perbaikan perilaku makan dan aktivitas fisik anak dilakukan dengan modifikasi
perilaku, khusus anak kelas 3 kebawah modifikasi perilaku token ekonomi. Sears
(2010) mengatakan bahwa tehnik modifikasi perilaku dengan sistem reward dan
punishment membantu anak untuk mengurangi perilaku yang kurang baik.
Modifikasi perilaku tidak bertahan lama jika keluarga kurang peduli sehingga
kembali ke perilaku awal. Kaakinen et al (2010) sependapat bahwa keberhasilan
atau kegagalan pada anggota keluarga karena pengaruh dukungan emosional, fisik
dan ekonomi yang adekuat atau tidak adekuat. Friedman, Bowden dan Jones
(2003) menambahkan bahwa keluarga berfungsi terhadap kebutuhan fisik,
emosional dan pembentukan kepribadian. Kesimpulan dapat ditarik bahwa
anggota keluarga yang mau berubah perlu mendapat dukungan dari anggota
keluarga sehingga lebih termotivasi pada perubahan yang dilakukan.
5.4 Keterbatasan
Beberapa keterbatasan dan hambatan pada proyek inovasi model PERKASA
sebagai model intervensi terhadap penanggulangan gizi lebih sebagai berikut:

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

102
a. Sumber Daya
Pemberdayaan guru terhadap optimalisasi proyek inovasi dan program
kegiatan UKS adalah cukup sulit. Jumlah guru yang terbatas membuat
pemberdayaan guru belum maksimal. Tidak terdapatnya guru UKS khusus
yang tidak sebagai wali kelas. Adanya guru UKS khusus sehingga akan
konsentrasi pada tugas pokok dan fungsinya dalam pelaksanaan program
UKS. Minimnya anggaran membuat kurang kreatif dan motivasi dalam
mengembangkan program UKS. Tidak tedapatnya guru olah raga yang fokus
pada pendidikan jasmani. Kurang motivasi keluarga untuk mengikuti kegiatan
yang dilakukan di sekolah sehingga pemberian ilmu dan keterampilan tidak
maksimal.

Lingkungan

sekolah

yang

tidak

mendukung

juga

akan

mempengaruhi kesuksesan program inovasi.


Intervensi terhadap lingkungan sekolah sehat yang meliputi penyediaan
jajanan sehat dan penertiban penjaja makanan sulit dilakukan. Kebijakan
kepala sekolah tentang jenis jajanan yang dapat dijual oleh warung sekolah
dan penjaja makanan di luar pagar sekolah belum ada. Petugas warung
sekolah belum pernah mendapat pelatihan tentang pengelolaan warng sehat.
Kepala Sekolah dan Guru UKS sering mengingatkan tentang jajanan yang
dijual sebaiknya makanan yang mempunyai komposisi gizi seimbang atau
tidak ada snack yang tidak mempunyai nilai gizi, namun petugas warung
sekolah agak keras kepala (tidak peduli). Petugas warung adalah isteri dari
staf sekolah sehingga kepala sekolah tidak tega untuk memberi sanksi
(punishment). Penjaga sekolah juga tidak disiplin dalam aturan menutup pagar
ketika jam sekolah sehingga anak-anak dengan mudah keluar membeli
jajanan.
Keterbatasan pada keluarga meliputi belum diyakini gizi lebih dapat
mengganggu kesehatan keluarga sehingga penyediaan sayur dan buah dalam
praktik diet keluarga serta aktivitas fisik/olahraga secara teratur belum
menjadi suatu nilai atau budaya dalam keluarga. Masalah ini membutuhkan
waktu yang lama untuk penyelesaiannya, oleh karena itu perlu pendekatan

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

103
budaya dalam memberi intrevensi. Keterbatasan ekonomi juga menjadi faktor
penghambat terhadap penyediaan buah secara rutin dalam keluarga.
b. Variabel model Precede-Proceed
Variabel model Precede-proceed yang belum diintervensi maksimal adalah
faktor pemungkin (enabling) sehingga semua faktor yang mempengaruhi
perilaku tidak diintervensi secara komprehensif.

Faktor enabling terkait

sarana jajan dan sarana aktivitas fisik. Perilaku jajan anak yang sulit berubah
karena

tersedia

sarana jajanan

yang belum

memenuhi

persyaratan

kantin/warung sehat. Sarana bermain untuk beraktivitas fisik di keluarga atau


di masyarakat seperti tanah lapang mulai berkurang akibat pembangunan
rumah dan toko sehingga anak cenderung bermain di dalam ruangan.
5.5 Implikasi Keperawatan
5.5.1 Pelayanan Keperawatan Komunitas
Keberhasilan peer edukator dalam meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktik
gizi AUS dengan gizi lebih dapat menjadi paket layanan kesehatan sekolah selain
masalah gizi lebih. Hal ini merupakan strategi intrevensi yang bervariasi sehingga
mendorong untuk mengembangkan peer edukator tentang masalah lain misalnya
peer edukator PHBS, peer edukator kesehatan reproduksi dan lain-lain. Tugas
Kader Kesehatan Sekolah akan lebih spesifik sehingga penguasaan materi akan
lebih mudah dipahami. Sebagai contoh pelatihan dokter kecil dengan waktu yang
singkat tertapi materi sangat banyak sehingga anak juga tidak dapat mengadopsi
ilmu yang diberikan. Tugas peer edukator yang lain dalam meningkatkan layanan
kesehatan adalah penimbangan berat badan setiap bulan (sebelumnya enam bulan
sekali) sehingga akan lebih cepat mendeteksi masalah gizi yang terjadi.
Manfaat GERSABUH yang dirasakan langsung oleh beberapa orangtua sehingga
GERSABUH dijadikan sebagai agenda rutin sekolah. GERSABUH dapat menjadi
bentuk strategi intrevensi komunitas di wilayah kerja Puskesmas Pasir Gunung
Selatan atau Dinas Kesehatan sebagai gerakan, motto atau kampanye
membudayakan makan sayur dan buah pada semua setting sekolah. Perilaku jajan
anak yang sulit untuk dikurangi dapat dimodifikasi dengan Gerakan Jajan Sehat.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

104
Anak akan terlatih untuk tidak jajan sembarangan dan pertugas kantin juga
berupaya menyediakan jajanan sehat. Cara yang terbaik adalah kebijakan tentang
aturan jenis jajanan yang boleh dijual. BPOM melakukan razia jajanan pada
semua sekolah. Reward dan punishment diterapkan untuk motivasi menjual
jajanan sehat. Berdayakan orangtua untuk membuat jajanan sehat.
Peningkatan aktivitas fisik dapat menurunkan nilai IMT sehingga dapat mencegah
risiko penyakit akibat kegemukan. CSC menjadi sarana promosi kesehatan anak
dan mengembangkan sosialisasi anak. Aktivitas fisik yang lain dapat dikemas
seperti walking wheelin Tuesday minimal satu hari dalam seminggu siswa dan
pihak sekolah wajib bersepeda atau berjalan kaki ke sekolah.
Peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan keluarga tentang gizi seimbnag
setelah pendidikan kesehatan. Sekolah terdorong untuk membuat program khusus
tentang pemberian pendidikan kesehatan terhadap orangtua terkait tumbuh
kembang anak atau cara pola asuh AUS dengan mendatangkan narasumber yang
kompeten dengan menggunakan uang dana sehat jika memungkinkan. Dana sehat
merupakan partisipasi orangtua dan menjadi salah satu strategi promosi kesehatan.
5.5.2 Perkembangan Ilmu Keperawatan Komunitas
Gizi lebih merupakan hal yang baru dan model PERKASA merupakan ilmu untuk
mengendalikan gizi lebih. Hasil praktek residensi menjadi langkah awal untuk
memusatkan perhatian pada intervensi kelompok risiko atau kelompok gizi lebih
sehingga diharapkan untuk menerapkan bentuk-bentuk intervensi gizi lebih.
Strategi pemberdayaan merupakan salah satu solusi bagi penanggulangan gizi
lebih.
Model PERKASA dapat menjadi inspirasi atau rujukan bagi residen selanjutnya
atau acuan membuat modul-modul, buku panduan dan media-media pembelajaran
yang lebih menarik untuk pendidikan gizi di sekolah, keluarga atau di masyarakat.
Model PERKASA dapat digunakan untuk ilmu komunitas dan

menambah

evidence base practice community nursing.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

105
BAB 6
SIMPULAN DAN SARAN
6.1 Simpulan
6.1.1 Prevalensi gizi lebih pada anak usia sekolah tinggi sebelum dilakukan
intervensi dan hampir sebagian menjadi status gizi normal setelah aplikasi
model PERKASA.
6.1.2 Peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan anak usia sekolah
dengan gizi lebih terkait prinsip gizi seimbang setelah aplikasi model
PERKASA
6.1.3 Peningkatan peran dan fungsi tim pelaksana UKS dapat menurunkan
angka gizi lebih pada anak usia sekolah khususnya peran peer edukator
secara bermakna, peran guru dan keluarga belum maksimal.
6.1.4 Supervisi Puskesmas dapat mengoptimalkan pelaksanaan program kerja
UKS terhadap penanggulangan gizi lebih pada anak usia sekolah
6.1.5 Penurunan ketidakseimbangan: gizi lebih pada kebutuhan anak usia
sekolah setelah aplikasi model PERKASA melalui peningkatan perilaku
makan sehat dan aktivitas fisik
6.1.6 Peningkatan kesiagaan mempertahankan keseimbangan nutrisi menjadi
optimal setelah aplikasi model PERKASA melalui kebijakan sekolah
seperti GERSABUH, CSC dan dana sehat
6.1.7 Peningkatan kemandirian keluarga terhadap penanggulangan gizi lebih
yaitu sebagian besar dari KM-II menjadi KM-III setelah aplikasi model
PERKASA.
6.2 Saran
6.2.1 Bagi Dinas Kesehatan
Dinas Kesehatan dan Puskesmas perlu menindaklanjuti program yang telah
berjalan terkait penanggulangan gizi lebih melalui pemberdayaan sekolah dengan
optimalisasi dokter kecil sebagai peer edukator sehingga perlu memberi pelatihan
peer edukator pada sekolah-sekolah lain yang kasus gizi lebih juga tinggi, atau
dapat membentuk peer edukator terkait permasalahan yang ada di

sekolah

105
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

106
masing-masing. Program Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas) perlu
ditingkatkan untuk pembinaan dan pemberdayaan keluarga.
6.2.2 Bagi Tim Pembina UKS
UKS dapat berjalan optimal bila dikelolah oleh guru UKS yang terlatih dan tidak
menjadi wali kelas oleh karena itu diperlukan kebijakan dari Tim Pembina UKS
baik Pusat, Propinsi atau Kota untuk memberi pelatihan guru UKS secara
kontinyu dengan bekerja sama antara Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan
Kota Depok atau menempatkan guru UKS yang terlatih pada setiap sekolah.
6.2.3 Bagi Sekolah
Sekolah perlu mengambil suatu kebijakan terkait jajanan sehat antara lain
penertiban penjaja makanan atau warung sekolah seperti menjual makanan dan
pengelolaan warung sekolah mengikuti aturan atau kebijakan sekolah, oleh karena
itu pendidikan gizi perlu diterapkan sedini mungkin terhadap peserta didik dan
seluruh warga yang berada di lingkungan sekolah. Hal ini perlu mendapat
dukungan dari orangtua atau komite sekolah dan Dinas Pendidikan.
6.2.4 Bagi Keluarga
Keluarga perlu mendukung kegiatan sekolah misalnya GERSABUH sebagai
upaya untuk membuadayakan makan sayur dan buah, Club Senam Ceria sebagai
sarana beraktivitas fisik/olahraga dan sarana bermain anak serta dana sehat
sebagai modal untuk pelayanan kesehatan anak sekolah. Keluarga perlu
membudayakan mengkonsumsi semua jenis sayur dan buah serta berolahraga
secara teratur dalam keluarga sedini mungkin sehingga menjadi nilai-nilai dalam
keluarga.
6.2.5 Profesi Keperawatan Komunitas
Perawat komunitas perlu pengembangan pendekatan budaya untuk merubah
perilaku kurang sehat menjadi perilaku sehat misalnya perilaku makan sayur dan
buah serta aktivitas fisik menjadi budaya dalam keluarga atau masyarakat.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

107
DAFTAR PUSTAKA

Adisasmito,W. (2007). Sistem kesehatan. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta


Alborzimanesh,M., Kimiagar,M., Rashidkhani,B., Atefi-Sadraini,S. (2011). The
relation between overweight and obesity with some lifestyle factors in the
3rd-5th grade primary schoolgirls in Tehran city 6th district. Iranian
Journal of nutrition sciences and food technology.2011 autumn;6(3):84.s
Allender, J.A & Spradley, B.W. (2005). Community health nursing: promoting
and protecting the public health., sixth edition. Philadelphia: Lippincott
Allender,J.A,.Rector,C.,Warner,K.D. (2010). Community health nursing:
promoting & protecting the publics health. 7th edition. China: wolters
kluwer health. Lippincott Williams & Wilkins
Basiotis, P.P., Kramer,L.B.,Kennedy,E.T.(1998).Maintaining nutrition security
and diet quality: the role food stamp program and WIC. Family economic
nutrition revisi;11:4-16
Briggs,M.,Safai,S.,& Beal,D.L.(2003). Position of the American Dietetic
Association, society nutrition education and American school food
services association-nutrition services: an essential component of
comprehensive school health programs. Journal of American diet
Association,103,505-14
Brownell,K.D., Kaye,F.S.(1982). A school-based behaviour modification,
nutrition education and physical activity program for obese children.
America Journal Clinic Nutrition 1982; 35:277-283
Caulfield,L.E., Richard,S.A., Rivera,J.A., Musgrove,P., Black,R.E. (2004).
Stunting, wasting and micronutrient deficiency disorders.
Centers for Disease Control and Prevention (2010). Fast Stats, Obesity and
Overweight page. http:// www.cdc.gov/nchs/fastats/overwt.htm
CDC
(2010).
Healthy
youth!Coordinated
School
Health.
http//www.cdc.gov/healthy youth/CSHPP. diakses pada tanggal 11 Oktober
2011
CDC (2011). Obesity and overweight for professionals: causes and consequences.
Cullen,K.W.,
Baranowski,T., Rittenberry,L., Olverra,N.(2000). Social
enviromental influences on childrens diets: results from focus group with
African, Euro and Mexican-American children and their parents. Health
education, Res. 15:581-590
107

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

108
Dencker et al (2006). Daily physical activity related to body fat in children aged
8-11 years. Journal Pediatric, 2006; 14938-42
Depkes (2008). Standar Pelayanan Minimal bidang kesehatan
Departemen Kesehatan (2005). Pedoman, modul dan materi pelatihan dokter
kecil.
Depkes (2007). Riskesdas 2007. www.balitbangkes.go.id. diakses tanggal 28
September 2009.
Departemen Kesehatan RI (2006). Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
Dinas Kesehatan Kota Depok (2011). Pedoman Umum Gizi Seimbang untuk
Guru
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat (2010). Pedoman pembinaan dan
pengembangan usaha Kesehatan Sekolah di Jawa Barat. Kegiatan
peningkatan akses dan kualitas layanan pendidikan TK dan SD di Jawa Barat
tahun 2010.
Dor,A., Ferguson,C., Langwith,C., Tan,E. (2010). Research report. A heavi
burden: the individual costs of being overweight and obese in the United
States. Departemen of Health Policy
Field,A.E., Camargo,C.A., Taylor,B., Barkey, C.S., Roberts, S.B., Graham, A.C.
(2001). Offician journal of the American Academy of pediatrics,
vol.107.No.1, January 2001; pp 54-60.
Fitriani,D (2011). Pengaruh edukasi sebaya terhadap perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS) pada aggregat anak usia sekolah yang berisiko kecacingan di
desa Baru Kecamatan Manggar Belitung Timur. Universitas Indonesia.
Fitzgibbon,M.L., Beech,B.M. (2009). The role of culture in context of schoolbased BMI screening. Journal pediatrics, 2009 Sept; 124: supplement
1: s50-62
Foster et al (2008). A policy-based school intervention ti prevent overweight and
obesity. Official Journal of American Academic of Pediatrics, 2008; 121;
e 794
Freedman DS, Mei Z, Srinivasan SR, Berenson GS, Dietz WH. Cardiovascular
risk factors and excess adiposity among overweight children and adolescents:
the Bogalusa Heart Study. J Pediatr. 2007;150(1):1217.e2.
French,S.A.(2003). Pricing on food choices. Journal of nutrition;133:841S-843S
Friedman,.M,.Bowden,V.R,.Jones,E.G. (2003). Family Nursing : Research,
theory & Practice. Fifth edition. New Jersey. Person Education Inc.
Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

109
Geissler, C & Powers, H. (2005). Human Nutrition. eleven edition. Elseiver
Churchill Livingstone. Philadelpia. USA.
Gibson,E., Wardlw,J., Watts,C. (1998). Fruit and vegetable consumtion, nutrional
knowledge and beliefs in mothers and children. Appetite,31: 205-228.
Green,L.W & Kreuter, M.W. (2005). Health program planning an educational
and ecological approach. Fourth edition. New York . The McGraw-Hill
Companies,Inc.
Gilbert, Sawyer, R.G., McNeil, E.B. (2011). Health education: creating strategies
for school and community health. Third edition. United states of America.
Jones and Barlet Publishers
Grodner, M., Long, S., Walkinshaw, B.C. (2007). Foundations and clinical
applications of nutrition: a nursing approach. fourth edition. St Louis
Missouri, Mosby.Inc
Gochman, D.S.(1988). Health behavior: emerging research perspectives. New
York. Plenum Press
Hadi, H. (2005). Beban ganda masalah gizi dan impilkasinya terhadap kebijakan
pembangunan kesehatan nasional. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar
pada Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada. http://depkes.go.id,
diakses tanggal 17 Pebruari 2011.
Hasmi (2012). Metode penelitian epidemiologi. Jakarta Timur. Trans info media.
Hayati,M (2010). Pengaruh peer edukator terhadap perilaku jajan anak usia
sekolah dasar di Lhouksemauwe Aceh. Universitas Indonesia.
Hittchcok,J.E et al.(1999). Community Health Nursing, caring in action. New
York. Delmar Publisher
Horton,S., Shekar,M., McDonald,C., Mahal,A., Brooks,J.K (2010). Scaling up
Nutrition.
What
will
it
cost
?
The
Word
Bank.
http:siteresources.wordbank.org. diakses tanggal 8 April 2012
Joint Consortium for School Health (JCSH) (2009). physical activity within a
comprehensive school health model.Best Practices Toolkit
Kaizer family foundation (2007). television advertising and child obsity.
http://www.apa.org/topics/kids-media/food, 27 Desember 2010.
Kementerian Kesehatan RI.(2011). Gizi lebih merupakan ancaman masa depan
anak.
http://depkes.go.id//index.php/berita/press-release/1385-gizi-lebihmerupakan-ancaman-masa-depan-anak.html. diakses tanggal 17 Pebruari
1011.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

110
Lee, H.A. (2011). The effect of eating behavior on beig overweight or obese
during preadolescense. Journal of Preventif medicine and public health. 2011
Sep; 44(5): 226-23
Lindsay,A.C., Sussner,K.M., Kim,J., Gortmaker,S (2006). The role of parents in
preventing childhood obesity. Future child. 2006. Spring; 16(1):169-86
Lowe,C.F., Horne,P.J., Tapper,K., Bowdery,M., Egerto,C.(2004). Effects of peer
modelling and rewards-based intervention to increase fruit and vegetable
consumption in children. European Journal of clinical Nutrition, 58:510-522
Maglaya, A. (2009). Nursing practice in the community. fifth edition. Philipina.
Argonauta Corporation
Marquis,B.L., Huston,C.J.(2003). Leadership roles mangement functions in
nursing: Theory and application. USA. Lippincott Williams & Wilkins Inc.
Maurer,F.A & Smith,C.M.(2005). Community public health nursing practice:
Health for families and populations. Third edition.
McKinley Health Center (2011) Peer edcation Program: students helping
students take charge of their health.
Media Indonesia (2011). Hari Gizi Nasional 2011. www.media.indonesia.co.id
Mua, E.L (2011). Pengaruh pelatihan supervisi klinik karu terhadap kepuasan
kerja dan kinerja perawat pelaksana di ruang rawat inap RS Woodward Palu.
Universitas Indonesia.
Muninjaya, G.A.A.(2004). Manajemen Kesehatan. Jakarta. EGC
Muscary,M.E. (2001). Advanced pediatric clinical assessment: skill and
procedures. Philadelphia . Lippincott William & Wilkins
Mushtaq,M.A., Gull,S., Mushtaq, K., Shahid,U., Shad, M.A., Akram,J. (2011).
Dietary behaviors, physical activity and sedentary lifestyle associated with
overweight and obesity, and their socio-demografic correlates, among
Pakistani promary school children. Int Journal of Behavior Nutrition
Phys. Act.2011 Nov 25;8:130
Moore,M.C .(2009). Nutritional assessment and care. Sixth edition. St.Louis,
Missouri. Mosby.
National Heart Lung and Blood Institut (NHLBI) people science health (2007).
Working group on future research directions in chilhood obesity
prevention
and
treatment.
http:www//.nhlbi.nih.gov/meetings/workshops/child
obesity/index.htm.
diakses tanggal 31 Januari 2011.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

111
Nies, M.A., McEwen, M. (2007). Community/Public Health Nursing: promoting
the health of populations. Fourth edition. Canada. Sauders Elseiver Inc.
Notoatmojo,S (2010). Promosi kesehatan, teori dan aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta
Nursing Times Net----------------------------------------Oliveria,S.A.,Ellison,R.C., Moore,L.L., Gilman,M.W., Garrahie,E.J., Singer,M.R.
(1992). Parent-child relationships in nutrient intake: The framingham
childrens study. America journal of clinic nutrition,56,593-98.
Paul, M.W., Robinson, L.(2011). Nutrition for children and teens: helping your
kids develop healthy eating habits. http://help guide.org/life/healthy eating
children-teens.html# school. diakses pada tanggal 21 november 2011.
Pender,N.J., Murdaugh,C.L., & Parsons,M.A. (2006). Health promotion in
nursing practice. Fifth edition. New jersey. Pearson education Inc.
Perez & Mountcastle (2010). Proposed recommendations for health policies in
childhood diabesity prevention in the dominican republic: Implications for
nursing. Springer Publishing Company.
Poskitt.EME. (2005). childhood obesity. Elsevier Ltd
Power,T.G., Bindler,R.C., Goetz.S., Daratha,K.B.(2008). Obesity prevention in
early adolesence: student, parent and teacher views. Journal of school Health,
80; 13-19
Quattrin,
R.,
Toffolini,L.,
Turello,D.,
Calligaris,
L.,
Farnetti,F.,
Brussafero,S.(2005). Italian public school: A Pilot study abaout disorders
related to nutrition and their management. Journal of America college of
nutrition, vol.27.No.1;75-79 (2008)
Rugg, K (2004). Chilhood obesity: its incidence, consequences and prevention.
Nursing Times.Net, 20 January 2004; vol:100, issue: 03, p.28
Saifah, A (2011). Hubungan Peran keluarga, guru, teman sebaya dan media massa
dengan perilaku gizi anak usia sekolah dasar di wilayah kerja Puskesmas
Mabelopura Kota Palu. Universitas Indonesia
Sahar, J., Widyatuti., Mulyadi, B. (2010). Masa puber anak jalanan: panduan
menghadapi masa puber pada anak jalanan. Lembaga penerbit fakultas
ekonomi. Universitas Indonesia.
Sjarkawi (2008). Pembentukan kepribadian anak: peran moral, emosional dan
sosial sebagai wujud integritas membangun jati diri. Cetakan kedua. Jakarta.
PT Bumi Aksara.

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

112
Sears (2010).How to use a child behaviour chart.California Departemen of
Education (2010)
Seltzer,C.C., Mayer,J. (1970). An effective weight control program in a public
school system. America Journal Public Health 1970; 60:679-689
Soderlund,L.L., Nerdqvist,C., Angbratt,M., Nilsen,P. (2009). Applying
motivational intreviewing to counselling overweight and obese children.
Health education research (Health educ res). 2009 Jun; 24(3):442-9
Story.M (1999). School-based approaches for preventing and treating obesity.
Internasional Journal of Obesity (1999) 23,suppl 2,S43-S51.
Stanhope,M., Lancaster,J. (2004). Community and Public Health Nursing. Sixth
edition. St.Louis. Mosby. Inc.
Stepherd,J et al. (2001). Young people and healthy eating: a systematic review of
research on barriers and facilitators. London, England:Evidence for
policy and practice (EPPI-centre).
Sulistyoningsih, H. (2011). Gizi untuk kesehatan ibu dan anak. Edisi pertama.
Cetakan pertama. Yogyakarata. Graha ilmu.
Terry.G.R & Rue.L.W (2010). Principles management.Do Jones-Irwin.
Tibbs,T et al.(2001). The relationships between parental modelling, eating
patterns, and dietary intake among African-American Parents. Journal of
America diet association, 101, 535-41.
Tim Pembina UKS Pusat (2010). Cara melaksanakan UKS di sekolah dan
madrasah. Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani Depdiknas. Jakarta
Vacchiarelli, S et al (2003). Nutrition friendly schools and communities model to
prevent overweight in children. University of California Los Angeles
School of Public health.
Verloigne,M., Van, L.W., Maes,L., Brug,J., DeBourdeadhuij,L (2012). Family
and school-based correlates of energy balance related behaviours in 10-12
year old children: e systematic review within the ENERGY (EuroeaN
Energy balance Research to prevent excessive weight Gain among Youth)
project. Belgia. Public Health Nutrition, 2012 Jan 24:1-16.
Wee,B.S., Poh,B.K., Bulqiba,A., Ismail,M.N., Ruzita,A.T., Hills,A.P.(2011). Risk
of metabolic syndrome among children living in metropolitan Kuala
Lumpur: a case control study. BMC public health, 2011 May 18; 11:333
WHO (2012) Milennium Development Goals.
http://www.who.int/topics/milennium development Goals

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

113
WHO (2000). Report of a WHO consultation, Report No.894. Obesity: preventing
and managing the global epidemic. WHO: Geneva, Switzerland.
WHO (1998). WHO information series on school health document four.
www.who.int/school-youth-health-media/428.pdf
www.unodc.org. Modul 1. Peer education.
Zakus,G., Chin,M.L., Cooper,H., Makovsky,E., Merril,C. (1970). Treating
adolescent obesity: a pilot project in a school. Journal School Health 1981;
51: 663-666

Universitas Indonesia

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Lampiran 1
Penapisan Masalah Manajemen Pelayanan Keperawatan menurut Ervin (2000)
No

Masalah
manajemen

Tingkat
pentingnya
masalah
untuk
diselesaikan:
1=rendah
2=sedang
3=tinggi

1.

Belum efektif
penyusunan
rencana kerja dan
terbatas sumber
daya
Peran dan Fungsi
tim pelaksana
UKS belum
optimal
Belum optimal
supervisi secara
berjenjang
terhadap
pelaksanaan
TRIAS UKS
Belum
optimalnya
rekruitmen KKS

2.

3.

4.

5.

Belum optimal
monitoring dan
evaluasi proses
pelaksanaan dan
pencapaian
pelayanan
kesehatan AUS

Peningkatan
kualitas
hidup jika
diselesaikan:
0=tidak ada
1=rendah
2=sedang
3=tinggi

Prioritas
masalah
dari 1-6:
1=kurang
penting ,
6=sangat
penting

Jumlah

Perubahan
positif bagi
masyarakat
sekolah jika
masalah
diselesaikan:
0=tidak ada
1=rendah
2=sedang
3=tinggi
2

12

14

13

10

10

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Lampiran 2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena atas perkenanNya,
buku panduan peer edukator atau pendidik sebaya dalam memberi
informasi

pengetahuan atau keterampilan tentang perilaku

gizi

seimbang terhadap teman siswa yang mengalami gizi lebih/ kegemukan


dapat diselesaikan.
Materi yang ada dalam buku ini disesuaikan dengan kebutuhan
kesehatan di lingkungan Sekolah Dasar Pasir Gunung Selatan III
Kelurahan Pasir Gunung Selatan kecamatan Cimanggis Kota Depok.
Tujuan dari penyusunan materi ini agar peserta pelatihan peer
edukator mendapatkan kemudahan dalam mengenal dan memahami gizi
lebih serta penanganannya pada anak usia sekolah di lingkungan
sekolahnya.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada berbagai pihak yang
telah

mendukung

penyusunan

buku

ini.

Semoga

bermanfaat

sebagaimana diharapkan.

Depok, Desember 2011


Andi saifah

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar isi
I.

Latar Belakang

........................................................

II.

Konsep Gizi

.......................................................

III.

Gizi Lebih

.......................................................

IV.

Prinsip Gizi Seimbang

.......................................................

10

V.

Peer edukator

.......................................................

15

VI.

Tehnik komunikasi

.......................................................

19

Daftar Pustaka

22

Lampiran

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Lampiran 3
Format Penilaian Penyuluhan PE
Nama PE:
No

Kegiatan

Penilaian
1

1.

Penampilan

2.

Cara menyampaikan materi

3.

Cara penguasaan materi

4.

Cara menjawab pertanyaan

5.

Cara penggunaan media


Jumlah
Nilai total

Setiap indikator diberikan pilihan jawaban:


1. Tidak baik
2. Kurang
3. Baik
4. Sangat baik
Penilaian akhir :
5- 8 = tidak baik
9-12 = kurang
13-16 = baik
17-20 = sangat baik
Penilai:..................................................

Paraf: ..............................

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Lampiran 4
Format Penilaian Instruktur CSC

Nama Peer Edukator:------------------------------No

Kegiatan

Penilaian
1

1.

Kehadiran

2.

Gerakan senam

3.

Memimpin di depan

4.

Mengajar gerakan senam

5.

Memotivasi peserta
Total nilai

Setiap indikator diberikan pilihan jawaban:


1. Tidak baik
2. Kurang
3. Baik
4. Sangat baik
Penilaian akhir :
5- 8 = tidak baik
9-12 = kurang
13-16 = baik
17-20 = sangat baik

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Lampiran 5
Format penilaian Cara monitoring perilaku makan (food recall),
aktivitas fisik dan monitoring gersabuh
Nama Peer edukator:-----------------------Nama sasaran/target: -----------------------No

Kegiatan

Penilaian
1

1.

Tepat waktu melakukan

2.

Tepat waktu mengumpulkan format

3.

Pengisian lengkap

4.

Inisiatif monitoring

5.

Tanggung jawab
Nilai Total

Setiap indikator diberikan pilihan jawaban:


1. Tidak baik
2. Kurang
3. Baik
4. Sangat baik
Penilaian akhir :
5- 8 = tidak baik
9-12 = kurang
13-16 = baik
17-20 = sangat baik

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Lampiran 6
Format penilaian cara menimbang berat badan
Nama:
No

Kegiatan

Penilaian
1

1.

Timbangan diletakkan di tempat yang terang dan


datar, tempat berdiri diberi alas berpijak (misalnya
sehelai kertas) agar tempat berdiri tidak kotor

2.

Jarum penimbangan menunjuk angka nol sebelum


penimbangan dimulai

3.

Sepatu, sendal, topi/peci, baju atas/ jaket, barang di


kantong dilepas dahulu

4.

Anak disuruh naik ke atas timbangan dan berdiri


tegak tanpa berpegang pada dinding

5.

Baca dan catatlah angka yang ditunjukkan oleh jarum


Jumlah
Nilai total

Setiap indikator diberikan pilihan jawaban:


1. Tidak baik
2. Kurang
3. Baik
4. Sangat baik
Penilaian akhir :
5- 8 = tidak baik
9-12 = kurang
13-16 = baik
17-20 = sangat baik

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Lampiran 7
Format penilaian cara mengukur tinggi badan
Nama:
No

Kegiatan

Penilaian
1

1.

Sepatu, sandal, topi/peci, dilepas dan anak disuruh


berdiri tegak dengan punggung dan belakang
kepalanya menempel ke tiang pengukur atau dinding
yang ada alat pengukurnya

2.

Letakkan sisi siku-siku dari alat bantu tepat pada


bagian tertinggi dari kepala dengan sisi siku-siku
satunya menempel pada pita pengukur

3.

Bacalah dan catatlah tinggi badan anak


Jumlah
Nilai total

Setiap indikator diberikan pilihan jawaban:


1. Tidak baik
2. Kurang
3. Baik
4. Sangat baik
Penilaian akhir :
3- 5 = tidak baik
6-8 = kurang
9-10 = baik
11-12 = sangat baik

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Lampiran 8
Format Rekapitulasi Nilai Tugas Peer Edukator
Nama Peer Edukator: ---------------------No

Kegiatan

Penilaian
1

1.

Penyuluhan /edukasi

2.

Monitoring perilaku makan

3.

Monitoring aktivitas fisik

4.

Monitoring gersabuh

5.

Pengukuran BB/TB

6.

Instruktur CSC
Total nilai

Setiap indikator diberikan pilihan jawaban:


1. Tidak baik
2. Kurang
3. Baik
4. Sangat baik
Penilaian akhir :
6-10 = tidak baik
11-15 = kurang
16-20 = baik
21-24 = sangat baik

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Lampiran 10 a
DATA DEMOGRAFI DAN PERILAKU GIZI ANAK USIA SEKOLAH
Petunjuk :
1. Isilah titik-titik dengan jawaban yang sejujurnya
2. Berilah tanda cheklist () pada pilihan jawaban yang tersedia
A. Data demografi AUS
1. Nama
:
2. Umur
:
3. Kelas
:
4. Jenis kelamin :
5. Berat badan :
6. Tinggi badan :
7. Uang jajan
: Rp ..............................................

No. responden:

B. Data perilaku gizi


1. Pengetahuan
No Pernyataan
Benar
1. Nasi, jagung, roti bermanfaat sebagai sumber
tenaga
2. Ikan, daging, tempe, dan protein lainnya dapat
meningkatkan kecerdasan
3. Banyak makan sayur dan buah dapat mencegah
atau mengurangi kegemukan
4. Mengurangi makan makanan yang mengadung
lemak membuat tubuh tidak sehat
5. Sarapan atau makan pagi menyebabkan
mengantuk
6. Mencuci tangan yang baik cukup dengan
menggunakan air bersih saja
7. Makan yang berlebihan dan kurang olahraga
dapat menyebabkan kegemukan
8. Air yang paling baik untuk diminum adalah air
yang direbus sampai mendidih
9. Menimbang berat badan secara teratur tidak
penting
10. Berat badan lebih atau gemuk adalah sehat

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Salah

2. Sikap
No Pernyataan
1.
2.
3.
4.
5.

Setuju

Tidak
setuju

Pendapat saya, sebaiknya makan dengan


makanan bervariasi yaitu terdiri dari nasi, sayur,
lauk pauk, dan buah
Pendapat saya, makan makanan yang bervariasi
cukup satu kali dalam sehari
Pendapat saya, sebaiknya makan sayur yang
berdaun warna hijau tua
Pendapat saya, sebaiknya minum air putih
minimal 8 gelas per hari
Pendapat saya, sebaiknya tidak perlu sarapan
setiap hari

6.

Pendapat saya, menimbang berat badan


dilakukan hanya pada saat baru masuk kelas satu
sekolah dasar .
7. Pendapat saya, kegiatan fisik perlu ditambah
seperti nonton TV, main game
8. Sebaiknya saya bermain yang mengeluarkan
keringat seperti main bola, bersepeda, lompat tali
dan lain-lainya
9. Sebaiknya saya jajan makanan seperti gorengan,
coklat, es krim, makanan yang manis, indo mie
10. Pada saat saya nonton TV, sebaiknya sambil
ngemil atau makan makanan ringan/snack
3. Praktik
No Pertanyaan
1.
2.

3.
4.
5.
6.
7.

Selalu Sering

Saya makan sayur tiga kali


dalam sehari.
Saya
makan
lauk-pauk
(misalnya ikan atau tempe atau
tahu atau telur atau daging) satu
kali dalam sehari
Saya makan buah sedikitnya 2
potong setiap hari
Saya sarapan setiap pagi
Saya jajan setiap hari
Saya mencuci tangan pakai
sabun setiap sebelum makan .
Saya
bermain
sampai
mengeluarkan
keringat
sedikitnya tiga kali per minggu

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Kadang- Tidak
kadang pernah

8.

(misalnya main bola, kejarkejaran, sepeda, lompat, karate,


bulu tangkis, pimpong, dll ).
Saya nonton TV atau main
game/komputer paling sedikit
3 jam setiap hari

9.

Saya menimbang berat badan


teratur, misalnya setiap bulan
atau setiap 6 bulan.
10. Saya nonton TV sambil
ngemil/makan snack setiap hari
C. Data peran
No Pernyataan
Selalu Sering
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

9.
10.
11.
12.

Orangtua
atau
keluarga
menyediakan sayur untuk saya di
rumah setiap hari
Orangtua
atau
keluarga
menyediakan buah untuk saya di
rumah setiap hari
Orangtua
atau
keluarga
memberitahu manfaat makan sayur
Orangtua memberi tahu manfaat
makan buah
Orangtua atau keluarga tidak
melarang saya untuk tidak makan
sayur
Orangtua
atau
keluarga
membiarkan saya untuk tidak
makan buah
Guru
mengajarkan
tentang
makanan yang memenuhi gizi
seimbang
Guru melarang siswa bermain jika
mengeluarkan keringat seperti
kejar-kejaran, berlarian, main bola,
dan lain-lain
Guru melarang untuk jajan
makanan ringan
Saya suka jajan karena diajak atau
dipengaruhi teman
Saya suka main game atau internet
karena mencontoh teman
Saya sering membeli makanan
ringan karena dipengaruhi iklan di
TV

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Kadang- Tidak
kadang pernah

Jenis jajanan yang paling sering dibeli setiap hari, sebutkan :


.....................................
..............................................................................................................................
..................................................................

Permainan atau olah raga yang sering dilakukan sehari-hari:


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Lingkari jawaban yang sesuai anak-anak alami :
Alasan tidak makan sayur:
a. tidak suka
b. orangtua tidak menyediakan
c. lain-lain-----------------------------------------------------------

Alasan tidak makan buah:


a. tidak suka
b. orangtua tidak menyediakan
c. lain-lain ---------------------------------------------------------------

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Lampiran 10 b
DATA TENTANG PRAKTIK DIET dan AKTIVITAS FISIK KELUARGA

Petunjuk Pengisian:
1. Bapak/Ibu diharapkan menjawab semua pertanyaan dengan jujur
2. Berilah tanda centang () pada pilihan jawaban yang tersedia
3. Bila jawabannnya berupa titik-titik (.....................) maka isilah titik-titik
tersebut.

N
o

Praktik diet dan aktivitas


fisik keluarga sehari-hari

Jawaban
SELALU
(diterap
kan dalam
kehidu pan
sehari-hari
dan terusmenerus
pada anak)

1.

Kebiasaan keluarga makan


bersama

2.

Kebiasaan keluarga
merencanakan atau menyusun
menu yang akan
diolah/dimasak
Keluarga memberitahu manfaat
setiap jenis makanan pada
anaknya yang Sekolah
Dasar(SD)
Keluarga memberitahu akibat
makan secara berlebihan pada
anaknya yang SD
Keluarga memberitahu akibat
makan tidak teratur pada anak
yang SD
Kebiasaan keluarga
sarapan/makan pagi
Keluarga menyediakan sarapan
pada anak SD
Keluarga memberitahu akibat
jika anak tidak suka atau jarang
makan sayuran

3.

4.
5.
6.
7.
8.

SERING
(dilaku
kan
minimal 3
kali sehari)

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

KADANGKADANG
(hanya 1-2
kali sehari)

TIDAK
PERNAH
(sama
sekali tidak
pernah atau
sangat
jarang
dilakukan)

9.

10
.
11
.
12
.
13
.
14
.
15
.
16
.
17
.
18
.
19
.
20
.
21
.
22
.
23
.
24
.
25
.

26
.
27
.

Keluarga tidak
mendorong/memotivasi untuk
menyukai makan sayur pada
anak yang jarang atau tidak
suka sayur
Kebiasaan keluarga
menyediakan sayur
Keluarga akan marah jika anak
tidak makan sayur
Keluarga memberitahu akibat
jika anak tidak suka atau jarang
makan buah
Keluarga mendorong atau
memotivasi anak untuk
menyukai buah
Kebiasaan keluarga
menyediakan buah
Keluarga akan marah jika anak
tidak makan buah
Keluarga menyediakan snack
atau cemilan
Kebiasaan keluarga mengolah
makanan dengan cara digoreng
Kebiasaan keluarga membeli
makanan masak di warung
Kebiasaan keluarga membeli
jajanan/snack
Kebiasaan keluarga memberi
uang jajan pada anak
Keluarga memberi contoh cara
makan yang sehat pada anak
Keluarga berolah raga secara
teratur (senam, voli, lari/jalan
pagi, badminton, dll)
Keluarga memberitahu manfaat
berolahraga atau bermain yang
bergerak (menggunakan tenaga
lebih banyak) pada anak
Keluarga mendorong anak
untuk bermain di dalam rumah
Keluarga mendorong anak
untuk bermain misalnya
sepeda, bola, badminton,
skipping, voli, berlarilari/kejar-kejaran dan lain-lain
Keluarga menonton televisi
lebih dari 2 jam (satu kali
nonton/acara)
Keluarga membatasi anak
menonton televisi

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

28. Waktu yang diberikan anak untuk menonton televisi/main game: ---------- jam
29. Uang jajan anak: Rp ------------------- s/d --------------30. Persepsi keluarga terhadap anak kegemukan:
(

) sehat

) saya suka

) berisiko menimbulkan berbagai penyakit

) perlu diatur pola makan dan aktivitasnya

) lain-lain ----------------------------------------------------------------

31. Pendapat keluarga tentang Gerakan makan sayur dan buah (Gersabuh) di
sekolah setiap hari Jumat yang bertujuan untuk meningkatkan,
membudayakan dan menjadi kebiasaan anak setiap hari dalam
mengkonsumsi buah dan sayuran: (
) sangat setuju, ( ) setuju,
( ) kurang setuju, ( ) tidak setuju
32. Pendapat keluarga tentang Club Senam Ceria di sekolah yang bertujuan untuk
membiasakan anak berolahraga dan kebugaran: (
) sangat setuju,
( ) setuju, ( ) kurang setuju, ( ) tidak setuju
32. Saran keluarga untuk sekolah terhadap upaya perbaikan perilaku makan dan
aktivitas fisik anak : -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Semoga anak-anak kita berperilaku sehat selalu dan menjadi anak-anak yang
sehat, cerdas, bermoral dan beriman sehingga menjadi generasi
pembangun Bangsa dan Negara
TERIMA KASIH

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Lampiran 11
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA AGGREGATE ANAK USIA SEKOLAH DENGAN GIZI LEBIH
DI SD PASIR GUNUNG SELATAN 3 DI KEL.PASIR GUNUNG SELATAN

No

MASALAH

TUJUAN

1.

Kesiagaan dalam
mempertahankan
keseimbangan
nutrisi belum
optimal pada anak
usia sekolah dengan
gizi lebih di Sekolah
Dasar PGS 3 di
Kel.Pasir Gunung
Selatan

Tujuan Umum : setelah


dilakukan tindakan
keperawatan selama enam
bulan diharapkan pihak
sekolah dan keluarga
mempunyai kesiagaan yang
optimal terhadap upaya
mempertahankan
keseimbangan nutrisi pada
AUS di SD PGS 3
TUK :
1. Berlanjutnya kebijakan
sekolah terhadap upaya
mempertahankan
keseimbangan nutrisi

RENCANA KEGIATAN
STRATEGI

Proses
kelompok

EVALUASI

INTERVENSI

KRITERIA

Sosialisasi
rencana program
tahap II terhadap
pihak sekolah dan
orangtua :
- Melanjutkan
gerakan makan
sayur dan buah
- Melanjutkan
hari olahraga

Terlaksananya
sosialisasi program
tahap II antara
mahasiswa dan
pihak sekolah serta
perwakilan orangtua

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

STANDAR

Terdapatnya
kesepakatan
melanjutkan
kebijakan Kepala
Sekolah pada tahap I
dan tahap II terkait
program kesiagaan
mempertahankan
keseimbangan nutrisi
pada AUS:

EVALUATOR

Supervisor
Mahasiswa

Pemberda
yaan

2. Meningkatnya program
kerja UKS terkait

Proses
kelompok

bersama
- Pelaksanaan
Club Senam
Ceria
- Praktek
penyusunan
menu seimbang
- Praktek
pembuatan
jajanan sehat
- Pembentukan
dana sehat
sekolah

Peer Group

- disepakatinya
kegiatan peer
edukator
- ditetapkannya
kembali hari
makan sayur dan
buah bersama
- ditetapkannya
kembali hari
olahraga bersama
- ditetapkannya
kembali jadwal
kegiatan CSC
- Tersusunnya
jadwal praktek
penyusunan menu
dan pembuatan
jajanan sehat
- Tersusunnya
jadwal dan jenis
pembuatan jajanan
sehat
- terdapatnya
kesepakatan
pembentukan dana
sehat
Terlaksanannya
proses peer group

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Adanya jadwal
kegiatan peer group 2

Mahasiswa/Pj
UKS

Mahasiswa

kesiagaan
mempertahankan
keseimbangan nutrisi
pada AUS gizi lebih

kali dalam seminggu.


pelaksanaan 80%
Pendidikan
Kesehatan

Edukasi sebaya

Terlaksananya
pendidikan
kesehatan
/penyuluhan oleh PE
terhadap individu,
kelompok kecil dan
kelompok besar

Pendidikan
kesehatan:
- 2 x/minggu untuk
individu
- 1 x seminggu
untuk kelompok
kecil
- 1 x seminggu
untuk kelompok
besar
- meningkat
pengetahuan
individu atau
kelompok kecil
setelah pendidikan
kesehatan (cut of
point)

Pemberda
yaan

- Pemantapan
peer edukator
- Dokter kecil
sebagai Peer
edukator prinsip
gizi seimbang
dan latihan
fisik bagi AUS
gizi lebih

Terlaksananya
pemantapan tugas
dan fungsi PE

- terdapatnya tugas
dan fugsi masingmasing PE
- terdapatnya jadwal
kegiatan PE

Kognitif (pre dan


post)

- meningkatnya
pengetahuan
tentang prinsip gizi

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

seimbang setelah
edukasi sebaya (cut
of point)

Kemitraan

Psikomotor (pre dan


post)

- meningkatnya
praktik gizi
seimbang sesuai
indikator (sarapan
setiap pagi; makan
sayur 2-3
porsi/hari; makan
buah 3-4 porsi/hari;
latihan
fisik/olahraga
minimal 1 jam/3
kali seminggu atau
30 menit setiap
hari; kegiatan
sedentary minimal
2 jam sehari), 80%
praktik gizi baik

Pemantaun BB
dan status gizi

Terlaksanannya
pemantauan BB dan
status gizi secara
teratur

100% siswa terpantau


BB/bulan dan status
gizi /6 bulan oleh PE

Sisten rujukan

Terlaksanannya
sistem rujukan

100% siswa gizi


lebih dengan

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

komplikasi dirujuk ke
Puskesmas

3. Meningkatnya dukungan Pendidikan


keluarga AUS terhadap
kesehatan
kesiagaan
mempertahankan
keseimbangan nutrisi

Pemberda
yaan

2.

Ketidakseimbangan
nutrisi: lebih dari
kebutuhan tubuh
pada anak usia
sekolah di SD PGS 3
di kelurahan Pasir

Penyuluhan
kesehatan tentang
fenomena gizi
lebih dan prinsip
gizi seimbang
terhadap orangtua
siswa

Terlaksanannya
penyuluhan
kesehatan terhadap
orangtua siswa

Pembentukan
dana sehat

Terbentuknya dana
sehat

TUM :
Setelah intervensi
keperawatan dilakukan
selama 6 bulan diharapkan
terjadi penurunan kejadian
ketidakseimbangan nutrisi

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Meningkatnya
pengetahuan, sikap,
keterampilan
orangtua siswa
setelah penyuluhan
dan praktek 50%
Terbentuknya dana
sehat disertai
dengan pengurus,
sistem pembayaran,
jenis pelayanan
yang dibiayai danan
sehat dan sistem
pelaporan .

Gunung Selatan

lebih pada AUS di SD


PGS 3kelurahan pasir
Gunung Selatan
TUK :
1. Meningkatnya
pengetahuan siswa
tentang prinsip gizi
seimbang

2. Meningkatnya
keterlibatan peer dalam
pencegahan dan
perawatan AUS dengan
gizi lebih setiap
kegiatan yang sudah
direncanakan

Proses
kelompok

- terlaksananya
peer group
discussion
membahas
tentang prinsip
gizi seimbang

Meningkat nya
pengetahuan AUS
terkait prinsip gizi
seimbang untuk
sebagai upaya
pencegahan dan
penatalaksanaan
perawatan gizi lebih

Pengetahuan AUS
setelah diskusi,
meningkat > 75%

- pemantauan
Berat badan
setiap bulan dan
penilaian IMT

Terlaksananya
penimbangan BB
dan penilaian IMT

Penimbangan BB
pada semua siswa
setiap bulan, 100%
penilaian IMT pada
AUS dengan gizi
lebih

- kampanye
kesehatan
- Monitoring
siswa dalam
gerakan makan
sayur dan buah
- monitoring
siswa terhadap

Terlaksananya
kampanye kesehatan
oleh PE

Kampanye kesehatan
minimal 2 kali
sebulan, tersebarnya
leaflet/stiker 100
lembar setiap
kampanye

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Minimal 75% siswa

Residen/guru
UKS

membawa sayur dan


buah

acara senam
bersama
Pendidikan
kesehatan

3. Meningkatnya
keterlibatan orangtua
siswa dalam
pencegahan dan
perawatan AUS dengan
gizi lebih setiap
kegiatan yang sudah

Pendidikan
kesehatan,
Pemberda
ya

Screening
Gula Darah
Sewaktu
(risiko
diabetes) atau
penyakit lain
terkait gizi
lebih.
Lomba
kesehatan
(senam
SRIBU,
mengarang,
menggambar,
mading, dll)

Terlaksana screening 100% AUS dengan


gejala metabolik
gizi lebih dilakukan
screening

Pembinaan
keluarga
Pendidikan
kesehatan
tentang
perawatan
AUS gizi
lebih pada

Pembinaan Keluarga
AUS dengan gizi
lebih

Terlaksananya lomba
promosi kesehatan
minimal 1 lomba
setiap bulan

Meningkatknya
pengetahuan, sikap
dan keterampilan

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Terbinanya minimal
5 keluarga binaan,
kemandirian keluarga
minimal KM=III

direncanakan

3.

Ketidak efektifan
pola makan Anak
Usia Sekolah dengan
gizi lebih dalam
mengonsumsi menu
seimbang di SD
PGS 3

kelbin

Tujuan Umum: setelah


dilakukan tindakan
keperawatan selama 6 bulan
diharapkan pola makan AUS
dengan gizi lebih menjadi
efektif
Tujuan khusus:
1. meningkatkan
pengetahuan AUS
tentang pola makan
yang sehat
2. meningkatkan
praktik/perilaku makan
sehat pada AUS

keluarga terhadap
perawatan AUS gizi
lebih

Kemitraan

Masih mencari
organisasi atau
perusahaan yang
konsen terhadap
upaya mengatasi
gizi lebih

Terjalinnya
kerjasama sekolah
dan organisasi/
perusahaan untuk
pencegahan
overweight atau
obesitas

Mimimal 1
perusahaan atau
organisasi yang
bermitra

Proses
Kelompok/
pemberda
yaan

Monitoring
perilaku makan
melalui oleh PE

Terlaksanakannya
monitoring perilaku
makan AUS dengan
gizi lebih melalui
food diary 2 kali
dalam seminggu

100% AUS dengan


Residen/ PE/
gizi lebih terpantau
guru UKS
perilaku makan
melalui food diary
dan dibandingkan
dengan standar gizi
seimbang oleh depkes

Pendidikan
kesehatan

Edukasi sebaya
secara individu

Terlaksananya
edukasi sebaya

Meningktanya
pengetahuan tentang

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Residen/guru
UKS

3. Terdapatnya dukungan
dari sekolah terkait
makanan sehat

4. terdapatnya dukungan
dari keluarga terkait
penyediaan
makanan/jajanan sehat

atau kelompok

secara individu atau


kelompok oleh PE
minimal 1
kali/minggu

perilaku makan dan


praktik makan yang
sehat sesuai indikator
( makan sayur dan
buah 2-3 porsi sehari,
karbohidrat 3-4 porsi
sehari, gula dan
lemak secukupnya)
sebanyak 2 SD post
edukasi sebaya

Pendidikan
kesehatan

Penyuluhan
kesehatan

Penyuluhan tentang
jajanan sehat

Meningktnya
perilaku siswa dalam
membeli jajanan
sehat

Supervisor

Pemberda
yaan

Penyediaan
jajanan sehat

tersedianya
jajanan sehat di
kantin

Tersedianya jajanan
sehat minimal 3 jenis
di kantin sekolah

Residen / PJ
UKS/

Kemitraaan

Pengawasan
kantin sehat

terlaksananya
pengawasan
kantin sehat dari
Puskesmas

Pengawasan kantin
sehat 2 kali dalam
setahun oleh
Puskesmas

Kepala Sekolah

Promosi
kesehatan/
pemberda
yaan

psikomotor

praktek
menyusun
menu
seimbang
oleh keluarga

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

80% orangtua
mampu
menyusun menu
seimbang

Praktek
membuat
jajanan sehat
oleh keluarga

psikomotor

80% membuat
jajanan sehat
minimal 2 jenis
terdapat orangtua
yang mau
berjualan jajanan
sehat

4.

Perilaku aktivitas
fisik kurang gerak
pada Anak Usia
Sekolah dengan gizi
lebih di SD PGS 3

Tujuan Umum; setelah


dilakukan tindakan
keperawatan selama 6 bulan
diharapkan AUS dengan gizi
lebih meningkatkan aktivitas
fisik dan mengurangi
aktivitas santai atau
sedentary
Tujuan Khusus:
1. Meningkatnya
pengetahuan siswa
tentang pengtingnya
aktivitas fisik

Proses
kelompok

Monitoring
aktivitas fisik
oleh PE

Terlaksananya
monitoring aktivitas
fisik melalui daftar
catatan harian 2 kali
dalam seminggu

100% dilakukan
monitoring aktivitas
fisik pada AUS
dengan gizi lebih

Pendidikan
kesehatan

Penyuluhan
kesehatan melalui
edukasi sebya
secara individu
atau kelompok

Terlaksananya
pendidikan
kesehatan oleh PE
minimal 1 kali
seminggu

Meningkatnya
pengetahuan dan
sikap AUS dengan
gizi lebih tentang
pentingnya aktivitas
fisik/olahraga secara
teratur setelah
edukasi sebaya
(....%), praktik

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Residen/guru
UKS/PE

aktivitas
fisik/olahraga
minimal 3 kali
seminggu selama 1
jam atau 30 menit
setiap hari.
Menurunnya (....%)
aktivitas
santai/sedentary
( 2 jam)
2. Meningktanya
praktik/perilaku
aktivitas fisik/olahraga
secara teratur
Pemberda
yaan

Olahraga bersama
staff sekolah

Terlaksananya
olahraga bersama
setiap minggu

100% siswa dan 90%


guru melakukan
senam SRIBU
bersama setiap Jumat

Pelaksanaan
Kegiatan CSC

Terlaksananya
kegiatan CSC 3 kali
seminggu diluar jam
belajar

75% AUS gizi lebih


mengkuti kegiatan
CSC secara teratur,
100% mengalami
peningkatan denyut
jantung maksimal
(DJM) peserta yang
hadir

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Lampiran 12
Jadwal kegiatan Peer Edukator
No

Waktu

Kegiatan/Materi

1.

13 Maret 2012

2.

15 Maret 2012

3.

16 Maret 2012

4.

20 Maret 2012

5.

22 Maret 2012

6.

5 April 2012

7.

7 April 2012

Peer group: prinsip gizi


seimbang, makanan
bervariasi
Peer group: prinsip gizi
seimbang, makanan
bervariasi
Penyuluhan massal:
Makanan bervariasi
Peer group: Aktivitas
fisik
Peer group:aktivitas
fisik
Peer group: vitamin &
mineral
Peer group: vitamin &
mineral

8.

10 April 2012

9.

11 April 2012

10.

Sasaran
gizi
lebih
Kelas IV & V

P.Jawab (PE)

Kelas III & II

Miratna,
Nabila.Z,
Arcindy
Ditentukan
kemudian
Dicky,
Farouq, Azmi
Anya, Dinda,
Septi
Puji, Pipih,
Nabila.M
Mira,
Arcindy,
Dinda
Dicki, Farouq,
Azmi
Septi,
Nabila.M,
Puji
Arcindy,
Dinda,
Nabila.Z
Semua
terlibat

Semua murid
Kelas IV & V
Kelas II & III
Kelas IV & V
Kelas II & III

Kelas: vitamin &


mineral
Peer group: menu
seimbang & praktek

Kelas I

12 April 2012

Peer group: pola hidup


bersih

Kelas II & III

11.

13 April 2012

Semua

12.

17 April 2012

Penyuluhan massa:
prinsip gizi seimbang,
kampanye kesehatan
(leafleat)
Peer group: sarapan
dan air

13.

20 April 2012

14.
15.

21 April 2012
27 April 2012

Kampanye gersabuh:
PIN
Peer Group: permainan
Lomba promosi
kesehatan:menulis
cerita, menulis indah

Mengetahui,
Ka.Sekolah SDN PGS 3

Kelas IV & V

Septi, Puji,
Pipih

Kelas IV & V

Septi,
Nabila.M,
Pipih
Semua PE

AUS gizi lebih


Semua kelas

Semua PE
Semua PE

Pasir Gunung Selatan, 8 Maret 2012


Penanggung Jawab
UKS

(Ngatimin, S.Pd.MM)

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

(Mujiyani, S.Pd)

Lampiran 13
Soal pre dan post test tentang prinsip gizi seimbang pada peer group
(Pertemuan I)

Petunjuk Pengisian
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan cara melingkari pada huruf (a,b,c,d)
di depan jawaban yang dianggap benar
1. Makanan gizi seimbang mengandung:
a. Karbohidrat dan protein
b. Vitamin dan mineral
c. Lemak dan guka secukupnya
d. Semua jawaban benar
e. Semua jawaban salah
2. Unsur tambahan makanan gizi seimbang adalah:
a. Ikan
b. Jagung
c. Mangga
d. Sayuran
e. Air
3. Peran makanan bergizi terhadap tubuh kita adalah:
a. Zat tenaga dan zat pengatur
b. Zat pembangun dan zat pelindung
c. Semua salah
d. Semua benar
4. Salah satu prinsip gizi seimbang adalah:
a. Makanan yang mengenyangkan
b. Minuman yang menghilangkan haus
c. Aktivitas fisik
d. Main games
e. Jajanan yang bentuknya menarik
5. Contoh pola hidup bersih adalah:
a. Mencuci tangan pakai sabun sebelum makan
b. Memasak air minum sampai mendidih
c. Membuang sampah pada tempatnya
d. Semua benar
e. Salah satu jawaban salah
6. Asupan energi melebihi kebutuhan aktivitas, akan menyebabkan:
a. Berkeringat
b. Kegemukan
c. Kemalasan
d. Ketiduran

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

7. Kegemukan diakibatkan karena tidak mengikuti pola makan


seimbang,antara lain:
a. Tinggi karbohidrat
b. Tinggi lemak
c. Rendah sayuran
d. Benar semua
e. Salah satu jawaban salah
8. Makanan yang mengandung tinggi serat adalah:
a. Daging
b. Sayuran
c. Kentang
d. Es cream
e. Tempe
9. Upaya untuk mengurangi kegemukan adalah:
a. Tingkatkan jajanan seperti roti manis, donat, minuman kemasan
b. Tingkatkan makanan yang mengandung lemak
c. Batasi makan sayur dan buah
d. Biasakan sarapan
e. Minum obat pelangsing
10. Permainan yang baik untuk anak yang mengalami kegemukan adalah:
a. Main games
b. Main playstation
c. Main boneka
d. Main rumah-rumahan
e. Main petak umpet
Kunci jawaban:
1. d
2. e
3. d
4. c
5. d

6.b
7d
8.b
9. d
10. e

Soal Pertemuan ke-3 peer group


1. Sebutkan prinsip gizi seimbang, minimal 2 !
2. Sebutkan fungsi makanan !
3. Sebutkan unsur makanan yang harus terkandung dalam makanan kita !
4. Apa yang dimaksud makanan bervariasi ?
5.

Makanan yang dikonsumsi untuk mengurangi kegemukan ?

Soal pertemuan ke-4 dan 5 peer group

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

1. Apa manfaat kita beraktivitas fisik/olah raga?


2. Sebutkan aktivitas fisik yang baik untuk anak usia sekolah ?
3. Sebutkan aktivitas fisik yang perlu dikurangi ?
4. Berapa lama (waktu) sebaiknya berolahraga atau bermain yang menggunakan
energi/tenaga?
5. Berapa lama sebaiknya kita menonton TV/playstation/games/internet ?

Soal pertemuan ke-6 peer group


1. Apa manfaat vitamin ?
2. Apa manfaat mineral ?
3. Makanan apa yang banyak mengandung vitamin, contohnya ?
4. Makanan apa yang banyak mengandung mineral, contohmya ?
5. Apakah pengaruhnya bagi tubuh jika kekurangan vitamin dan mineral ?
Soal pertemuan ke-9 peer group
1. Sebutkan prinsip gizi seimbang ?
2. Sebutkan 2 contoh pola hidup bersih
3. Kapan kita harus mencuci tangan pakai sabun ?
4. Kapan kita wajib sikat gigi ?
5. Apakah anak gemuk perlu menjaga kebersihan, mengapa ?
Soal pertemuan ke-10 peer group
1. Apa manfaat sarapan ?
2. Apa manfaat air ?
3. Makanan apa yang sebaiknya untuk sarapan ?
4. Berapa kebutuhan air dalam sehari ?
5. Bagaimana Air yang baik untuk diminum ?

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

lampiran 14
Format penilaian hasil kegiatan
Nama kegiatan:
Hari/Tanggal:
Tempat:
Nama PE:
No

Kegiatan

Penilaian
1

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Partisipasi aktif teman dalam mengikuti setiap


kegiatan kesehatan sekolah bersama PE
Ketepatan waktu teman dalam setiap janji untuk
mengikuti kegiatan bersama PE
Keingintahuan teman terhadap penjelasan yang
diberikan oleh PE
Ungkapan teman tentang penjelasan yang diberikan
oleh PE (teman merasa senang)
Adanya perubahan perilaku positif teman setelah
mengikuti pendidikan sebaya
Kemampuan
PE
dalam
menyampaikan
pandangannya terhadap masalah gizi
Kemampuan PE dalam menarik minat teman
Pembinaan oleh PE dirasakan manfaatnya positif
Penjelasan yang diberikan PE sesuai untuk setiap
permasalahan atau pertanyaan yang diajukan teman
Kemampuan PE untuk memantau penjelasan/solusi
yang telah diberikan pada teman
Jumlah
Nilai total

Setiap indikator diberikan pilihan jawaban:


1 Tidak baik
2 Kurang
3 Baik
4 Sangat baik
Penilaian akhir :
10-17 = tidak baik
18-25 = kurang
26-33 = baik
34-40 = sangat baik
Penilai :.........................................Paraf: ......................................

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Lampiran 15
Frekuensi makan 1 hari (24 jam terakhir)
Nama:
Kelas:
Tanggal:
Waktu/jenis
makanan

Pagi

Selingan
pagi

Siang

Selingan
sore

Malam

keterangan

Karbohidrat
Lauk-pauk
Sayur
Buah

Karbohidrat
Lauk-pauk
Sayur
Buah

Karbohidrat
Lauk-pauk
Sayur
Buah

Nama Peer Edukator: ---------------------

Paraf: ----------------------------

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Lampiran 16
Catatan aktifitas fisik harian
Nama:

Kelas:
APRIL 2012
Lama

Komentar

Tgl 2-8 April


Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
Minggu
Tgl 9-15 April
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
Minggu
Tgl 16-22 April
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
Minggu
Tgl 23-28 April
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
Minggu
Nama Peer Edukator :

paraf: -------------------------

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

lampiran 17
STATUS GIZI PRE DAN POST INTERVENSI
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10
11.
12.
13
14
15
16
17
18
19
20

Nama
Alfa Rizki.A
Dio Septian
Fahri U
Alisda R
Salsabila P
Wandi R
Annisa
Mariska
Savira
Ester P
Daniella
Dinda Elya
Melia Angel
Bova Aprilio
Arcindy
Marcella M
Nazma N
Nazwa
Rahma Nur
Ipan Apandi

Kelas
I
I
I
I
I
I
II
II
II
II
II
II
II
II
III
III
III
III
III
III

Tgl lahir
4-4-2005
14-9-2004
20-8-2005
16-8-2005
17-12-2005
8-12-2005
6-9-2004
14-7-2004
30-11-2003
21-6-2003
21-3-2005
28-7-2003
6-9-2004
27-4-2004
9-5-2002
9-2-2003
24-2-2003
19-4-2003
24-10-2003
15-9-2001

Berat badan
Pre
35
38
38
28
35
33
50
30
49
50
31
45
53
50
39
40
65
39
38
51

Post
34
37
25
38
35
50
33
52
51
34
45
55
52
42
41,2
68
39
30
55

Tinggi badan
Pre
122
123,5
129
121
120,5
123
136
123
136
139
121
128
136
138
132
134
137
134
131
145

Post
125,4
133,7
124,7
125
126,9
142
129
147
141
128
132,6
141
141
137
140
140,5
138,8
136
155,5

Indeks Massa
Tubuh (IMT)
Pre
Post
23,51
21,62
24,9
23,84
20,70
28
16,08
24,1
24,32
21,8
21,73
27
24,73
19,83
19,83
26,49
24,73
25,91
25,65
21,17
20,75
27,5
25,83
28,65
27,66
26,33
26,15
22,38
22,37
22,3
21,02
34,63
34,45
21,72
20,24
22,14
16,22
24,26
22,75

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Status Gizi
Pre
Obesitas
Obesitas
Obesitas
Overweight
Obesitas
Obesitas
Obesitas
Overweight
Obesitas
Obesitas
Overweight
Obesitas
Obesitas
Obesitas
Overweight
Overweight
Obesitas
Overweight
Overweight
Overweight

Ket
Post
OW

OW
N
OB
OB
OB
N
OW
OW
OW
OW
OB
OB
N
N
OB
N
N
N

Pindah

21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Moammar S
Adi P
Rahmat H
Rina R
Ahmad Aldi
Rifkalaila
Sabrillah
Wahid
Bagus ikhsan
Abhel A
I Gede A
Joshua
Safira

III
IV
IV
IV
IV
V
V
V
V
V
IV
VI
VI

28-1-2003
15-6-2001
19-11-2002
13-12-2001
19-10-2001
9-4-2000
8-7-2001
12-9-2000
29-4-2000

33
35
40
43
40
49
59
47
45
42
47
65
51

33
34
45
44
43
44
65
49
47
45
51
72
54

127
134
137.1
131,9
142
137
151
142
134
140
150,5
149
141

134
139,5
141
134
144,5
142,5
151,7
146
139
145
155
152,6
145

20,46
19,56
21,28
24,72
19,84
26.1
25,87
23,98
25,06
21,43
20,75
29,28
25,65

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

18,38
17,47
22,63
24,5
20,59
21,67
27,88
22,99
24,33
21,40
21,23
30,92
25,6

Overweight
Overweight
Overweight
Overweight
Overweight
Overweight
Overweight
Overweight
Overweight
Overweight
Overweight
Obesitas
Overweight

N
N
OW
OW
N
N
OW
N
OW
N
N
OB
OW

Lampiran 18
Penapisan Masalah atau skoring pada Keluarga Bapak S
1. Gangguan keseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh khusunya an
A, Rt, dan Rj
Kriteria

Nilai

Sifat masalah : aktual

3/3 x 1

Skor
1

Pembenaran
IMT an A dan an RJ > 2SD
IMT an Rt > 1 SD, < 2 SD

Kemungkinan masalah dapat


diubah ; mudah

2/2 x 1

Penyebab kegemukan akibat


makan
makanan
yang
mengandung
karbohidrat
berlebihan, rendah serat dan
kurang aktivitas fisik

Potensi
masalah
dicegah ; cukup

dapat

2/3 x1

2/3

Masalah dapat dicegah agar tidak


tidak terjadi penyakit akibat
kegemukan, namun memerlukan
waktu dan motivasi yang tinggi
dari
keluarga
untuk
meningkatkan
prinsip
gizi
seimbang.

Menonjolnya masalah :
masalah ada, perlu segera
ditangani

1/2 x 1

1/2

Keluarga menganggap gemuk


adalah sehat, tetapi kegemukan
membuat anaknya kuat makan
dan jajan (biaya meningkat),
malas dan bodoh

Total skor

3 1/6

2. Perilaku kesehatan berisiko (PHBS kurang) pada keluarga Bpk S


Kriteria

Nilai

Skor

Pembenaran

Sifat masalah : aktual

3/3x1

Perilaku merokok sehari-hari,


tidak
tahu
dampak
lanjut
merokok, pengaruh kuat dari
teman-teman ojek bpk S dan
sahabat Ibu J; personal higiene
anak-anak kurang; jarang makan
sayur dan buah

Kemungkinan masalah dapat


diubah ; sebagian

1/2 x 2

1/2

Ada keinginan yang tinggi dari


Bpk S untuk mengurangi atau
menghentikan kebiasaan merokok

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

dan mengkonsumsi menu


seimbang, ibu RT sering memberi
sayur mentah, mempunyai kartu
jamkesda,
Potensi masalah dapat
dicegah ; rendah

2/3 x 1

2/3

Pengaruh kuat dari teman-teman


bpk S dn Ibu J, ibu J menganggap
merokok dapat menghilangkan
stress

Menonjolnya masalah: ada


masalah tapi tidak perlu
segera ditangani

1/2 x 1

1/2

Batuk-batuk kering bpk S susah


sembuh tetapi tidak mengganggu
aktivitas sehingga tidak perlu
ditangani segera. Meskipun anakanak jarang makan sayur dan
buah, tidak cuci tangan dengan
sabun sebelum makan tetapi
anak-anak gemuk-gemuk dan
jarang sakit.

Total skor

2 2/3

3. Gangguan peran: ketidakmampuan menjadi orangtua pada Bpk S & Ibu J


Kriteria
Nilai
Skor
Pembenaran
Sifat masalah : Aktual

3/3 x 1

Anak tidak naik kelas tahun lalu,


perilaku kekerasan, anak-anak
kurang ajar, tanggung jawab
rumah tangga sebagian besar
dipenuhi oleh ibu J, Bpk S lebih
mementingkan kebutuhan
rokoknya.

Kemungkinan masalah dapat


diubah ;sebagian

1/2x2

Ada keinginan ibu J untuk


menjadi orangtua yang baik,
tetapi suaminya sering pulang
telat, sifatnya baik dan
penyanyang tapi tidak peduli
dengan kebutuhan anak-anak,
semua diserahkan kepada ibu J
atau minta bantuan sama saudara
ibu J (uwak)

Potensi
masalah
dicegah ; cukup

2/3x1

2/3

Keluarga tidak tahu tentang peran


orangtua terhadap perkembangan
AUS sehingga perlu pemberian
informasi secara jelas

1/2 x 1

1/2

Keluarga menganggap peran


menjadi orangtua belum
maksimal tapi anak-anaknya
sehat sehingga belum perlu
ditangani segera.

dapat

Menonjolnya
masalah;
masalah ada tapi tidak perlu
segera ditangani

Total skor

3 1/6

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

4. Bersihan jalan nafas tidak efektik pada keluarga Bpk S khusus


Kriteria

Nilai

Skor

an A

Pembenaran

Sifat masalah : aktual

3/3 x 1

An A mengalami batuk pilek 2 hari,


sekret agak kental

Kemungkinan
masalah
dapat diubah ; mudah

2/2x1

Keluarga mempunyai jamkesda,


keluarga ingin anak sehat terus

Potensi masalah
dicegah ; cukup

dapat

2/3x1

2/3

Keluarga tidak mengetahui penyebab


ISPA, akibat lanjut, perawatan
sederhana sehingga perlu pemberian
informasi secara jelas dan bimbingan

Menonjolnya
masalah:
masalah ada tapi tidak
perlu segera diatasi

1/2x 1

Meskipun ISPA, tapi masih ke sekolah


dan bermain, meskipun ada rencana ke
Puskesmas

Total skor

3 2/3

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Lampiran 19
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA BPK S KHUSUS AN. A, R dan Rj DENGAN
KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI: LEBIH DARI KEBUTUHAN TUBUH

No.

1.

Diagnosa
Keperawatan
Ketidakseimbangan
nutrisi: lebih dari
kebutuhan tubuh
pada keluarga Bpk S
khususnya An A, R,
dan Rj

Tujuan
Jangka
panjang
Setelah
dilakukan
kunjungan
rumah selama
8 minggu
terjadi
penurunan BB
atau
penurunan
kategori gizi
lebih (kategori
sangat gemuk
menjadi
gemuk, gemuk
menjadi
normal)

Jangka pendek

Kriteria Evaluasi
Kriteria

Rencana Intervensi

Standar

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan selama 2 X 60
menit keluarga mampu :
1.

Mengenal masalah gizi


lebih/kegemukan
1.1 Menyebutkan bahwa
gemuk merupakan
masalah kesehatan

Respon verbal

Keluarga mempunyai persepsi


bahwa anak gemuk tidak lagi
dipandang sebagai anak sehat
karena merupakan faktor risiko
penyakit diabetes, hipertensi, PJK,
gangguan tulang, kulit dan
gangguan psikologis.

1.1.1
1.1.2
1.1.3
1.1.4
1.1.5

1.2 Penilaian status gizi


lebih

Penilaian gizi lebih berdasarkan


KMS-AS: apabila titik potong

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Gali persepsi keluarga


tentang anak gemuk
jelaskan tentang paradigma
anak gizi lebih atau gemuk
Beri kesempatan keluarga
untuk bertanya
Evaluasi kembali penjelasan
yang sudah diberikan
Beri reinforcement positif
atas usaha keluarga
menjelaskan kembali.

1.2.1 gali pengetahuan dasar keluarga


tentang penilaian dan kategori

antara TB dan BB berada > P 97.


Penilaian gizi dan kategori gizi
lebih berdasarkan IMT
(BB dalam kg /(TB dalam meter)2 )
menurut umur; gemuk apabila nilai
IMT/U = > 1 SD 2 SD
Obesitas = nilai IMT/U > 2 SD
(Kemenkes RI, 2011)

1.3 Kategori gizi lebih

1.4 Menyebutkan faktor


penyebab gizi lebih

2.

Respon verbal

gizi lebih
1.2.2 jelaskan cara menilai status
gizi lebih
1.2.3 dorong untuk menghitung
status gizi anak-anaknya
1.2.4 beri pujian atas penilaian status
gizi yang dibuat

Keluarga dapat menyebutkan 3 dari


4 penyebab gizi lebih, yaitu
Penyebab:
makan makanan yang
mengandung gula dan lemak
berlebihan
- Kurang makan makanan yang
berserat (sayur dan buah)
- Aktivitas fisik yang rendah
- Olahraga tidak teratur

1.4.1

Keluarga menyebutkan 5 dari 8


akibat/risiko kegemukan
- Mudah sakit
- Mudah lelah

2.1.1 Diskusikan dengan keluarga


akibat kegemukan
2.1.2 Gali pendapat keluarga tentang
akibat kegemukan yang terjadi

1.4.2
1.4.3
1.4.4

Diskusikan dengan keluarga


tentang penyebab kegemukan
Beri kesempatan keluarga
untuk bertanya
Tanyakan kembali pada
keluarga tentang penyebab
dan faktor risiko kegemukan
Beri reinforcement positif

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan selama 1 X
60 menit keluarga mampu
Memutuskan untuk
merawat anggota keluarga
yang mengalami masalah
kegemukan:
2.1. Keluarga mampu
menyebutkan akibat
kegemukan bila tidak
ditangani dengan baik

Respon verbal

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

2.2. Keluarga mampu


mengambil keputusan
untuk merawat
/mengatasi anggota
keluarga yang
mengalami
kegemukan

3.

Respon afektif

Mudah mengantuk
pada keluarga
2.1.3 Beri kesempatan keluarga
Kecerdasan akan menurun
untuk bertanya
Cenderung malas
2.1.4 Motivasi keluarga untuk
Lecet pada paha bagian dalam
mengungkapkan kembali
Malu/minder
akibat kegemukan
Berisiko diabetes, hipertensi,
PJK, gangguan kulit, tulang, dan 2.1.5 Beri reinforcement positif
gangguan konsep diri.

Keluarga memutuskan untuk


merawat/mengatasi anggota
keluarga yang mengalami
kegemukan

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan selama 3 X
60 menit keluarga mampu
merawat anggota keluarga
yang kegemukan:

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

2.2.1 Gali pengetahuan dasar


keluarga upaya mencegah atau
mengurangi kegemukan
2.2.2 Tanyakan upaya apa yang telah
dilakukan untuk mengurangi
atau mencegah kegemukan
pada keluarga
2.2.3 Beri pujian positif atas upaya
yang sudah dilakukuan
keluarga
2.2.4 Diskusikan dengan dengan
keluarga tentang akibat bila
kegemukan tidak diatasi
2.2.5 Beri kesempatan pada keluarga
untuk bertanya bila ada yang
belum jelas
2.2.6 Beri reinforcement positif atas
keputusan yang diambil
keluarga

3.1 Menyebutkan cara


pencegahan atau
mengurangi
kegemukan

Respon verbal

Keluarga menyebutkan cara


pencegahan dan mengurangi
kegemukan, yaitu menerapkan
prinsip gizi seimbang:
1. Makan makanan bervariasi:
makan makanan sumber
karbohidrat, protein, buah,
sayur, lemak beranekaragam;
mengurangi makan makanan
padat energi dan tinggi lemak,
meningkatkan konsumsi sayur
dan buah khususnya berwarna
hijau tua dan orange,biasakan
sarapan
2. Meningkatkan aktivitas fisik
dan olahraga secara teratur
seperti bersepeda, main voli,
petak umpet, galasin,
bulutangkis dll minimal 3x
seminggu selama 1 jam atau 30
menit setiap hari; kurangi
aktivitas santai seperti nonton
TV, main games 2 jam
3. Timbang berat badan secara
teratur
4. Lakukan pola hidup bersih dan
sehat seperti mencuci tangan
dengan air dan sabun setiap
sebelum makan dan setelah
buang air, gosokk gigi,
membersihkan lingkungan,
buang sampah pada tempatnya
dll

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

3.1.1
3.1.2
3.1.3

3.1.4
3.1.5
3.1.6
3.1.7

Gali pengetahuan keluarga


dalam mengatasi
kegemukan
Diskusikan dengan keluarga
cara mengatasi kegemukan
Tanyakan upaya apa yang
telah dilakukan untuk
mengurangi atau mencegah
kegemukan pada keluarga
Beri pujian positif atas upaya
yang sudah dilakukuan
keluarga
Motivasi keluarga untuk
mengungkapkan kembali
apa yang telah disampaikan
Beri kesempatan pada
keluarga untuk bertanya bila
ada yang belum jelas
Beri reinforcement positif
pada keluarga

(Kurniasih dkk, 2011)


3.2 Keluarga mampu
mengaplikasikan
prinsip gizi seimbang
pada anggota keluarga
yang mengalami
kegemukan

Respon
psikomotor

Keluarga menerapkan prinsip gizi


seimbang padaanggota keluarga:
Tersedia makanan bersumber
dari karbohidrat, protein
hewani dan nabati, sayuran,
buahan-buahan, dan air minum
yang direbus min 8
gelas/anak/hari
memberi porsi yang
dikonsumsi anak sesuai takaran
yang dianjurkan
Menganjurkan anak untuk
melakukan aktivitas
fisik/bermain yang
menggunakan banyak energi
seperti bersepeda, kejarkejaran, main bola, lompat tali,
dll minimal 30 menit setiap hari
atau 1 jam 3x seminggu
Membatasi anak nonton TV 2
jam sehari
Menganjurkan untuk
menimbang BB setiap bulan di
sekolah
Mengingatkan anak untuk
mencuci tangan menggunakan
air bersih dan sabun setiap mau
makan dan setelah BAB, kuku
pendek dan bersih,
membersihkan lingkungan
rumah dll

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

3.2.1. Gali pola makan keluarga,


besaran porsi anggota
keluarga dan cara peyediaan
makanan
3.2.2. Beri pujian positif tentang hal
positif yang telah dilakukan
3.2.3. Diskusikan dengan keluarga
tentang menu gizi seimbang
sesuai pedoman gizi
3.2.4. Bantu membuat daftar menu
3.2.5. Demonstrasikan ukuran
rumah tangga (porsi) yamg
sesuai menu seimbang
3.2.6. Jelaskan tentang jajanan yang
sehat untuk anggota keluarga
3.2.7. Buat catatan diet dan aktivitas
fisik keluarga
3.2.8. Monitoring catatan diet dan
aktivitas fisik anak
3.2.9. Jelaskan aktivitas fisik yang
baik untukanak yang
kegemukan
3.2.10.Anjurkan nutuk membatasi
nonton TV
3.2.11.Bantu keluarga membuat
daftar kegiatan anak termasuk
pekerjaan membersihkan
lingkungan rumah
3.2.12.Modifikasi perilaku
3.2.13.Anjurkan keluarga untuk
mengikutkan anak dalam club

4.

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan selama 2 X
60 menit keluarga mampu
memodifikasi lingkungan:
4.1. Menyebutkan caracara modifikasi
lingkungan untuk
mengatasi masalah
kegemukan

senam yang dilakukan di


sekolah
3.2.14.Timbang BB anak setiap
bulan melalui UKS
3.2.15.Jelaskan makna hasil
pengukuran BB dan TB
berdasarkan KMS-AS atau
IMT
3.2.16.Demonstrasikan cara mencuci
tangan dengan benar
3.2.17.Beri reinforcement positif atas
jawaban dan redemontrasi
yang benar

Respon verbal

Keluarga menyebutkan cara


memodifikasi lingkungan mengatasi
masalah kegemukan
Keluarga menciptakan kondisi
di meja makan/lemari
penyimpanan makanan dengan
menyediakan makanan dan
porsi sesuai standar yang
ditentukan pada setiap anak
(tidak dibiarkan anak
mengambil sesukanya)
Menyediakan cemilan berupa
buah
Air putih tersedia selalu di
rumah
Melibatkan anak dalam
kegiatan kebersihan lingkungan
rumah

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

4.1.1. Diskusikan bersama keluarga


cara memodifikasi lingkungan
terkait mengatasi kegemukan
4.1.2. Beri kesempatan keluarga
untuk bertanya
4.1.3. Tanya kembali tentang cara
modifikasi lingkungan terkait
mengatasi kegemukan
4.1.4. Beri reinforcement positif

5.

4.2 Bersedia melakukan


modifikasi
lingkungan

Respon afektif

4.3 Melakukan modifikasi


lingkungan

Respon
psikomotor

Melepas kabel televisi ketika


orangtua tidak di rumah
Menempelkan pesan-pesan gizi
seimbang di dinding rumah,
misalnya ingat makan sayur
dan buah, kurangi makan nasi
atau gorengan dsb.
Motivasi keluarga untuk
memodifikasi lingkungan
Beri pujian atas upaya yang
akan dilakukan

Keluarga menyatakan bersedia


memodifikasi lingkungan untuk
mengatasi kegemukan pada anggota
keluarga

4.2.1

Keluarga memodifikasi lingkungan


untuk mengatasi kegemukan pada
anggota keluarga:
Lingkungan rumah bersih dan
rapih
tersedia makanan sesuai menu
seimbang
Tersedia air putih
Tidak tersedia cemilan yang
mengandung kalori tinggi
Terdapat jadwal nonton TV dan
aktivitas fisik
dll

4.3.1 Observasi kegiatan


modifikasi lingkungan yang
sudah dilakukan
4.3.2 lakukan kunjungan tidak
terencana

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan selama 1 X
60 menit keluarga mampu
memanfaatkan pelayanan
kesehatan fasilitas

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

4.2.2

kesehatan yang ada untuk


mengatasi dampak
kegemukan
5.1 jenis dan manfaat
fasilitas kesehatan

5.2 Memanfaatkan fasilitas


kesehatan

Respon verbal

5.1.1
Keluarga menyebutkan jenis
fasilitas kesehatan untuk mengatasi
kegemukan dan dampak yang
ditimbulkan akibat kegemukan yaitu
Puskesmas, Rumah sakit, Praktek
Dokter, atau klinik-klinik kesehatan
yang lain.
Manfaat fasilitas kesehatan untuk
mengatasi kegemukan pada anggota
keluarga:
konsultasi gizi untuk
pencegahan atau menurunkan
pemantauan BB, TB untuk
menilai status gizi
pemeriksaan glukosa darah
pengobatan jika terdapat
masalah kesehatan akibat gizi
lebih

Respon
Psikomotor

Keluarga memanfaatkan fasilitas


kesehatan untk mengatasi masalah
kegemukan (gizi lebih) pada
anggota keluarga misalnya lecet
pada paha dalam, gejala diabetes,
gejala hipertensi, gangguan
pernapasan atau penyakit lain.

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

5.1.2

5.1.3
5.1.4

5.2.1

5.2.2

Klarifikasi pengetahuan
keluarga tentang jenis dan
manfaat fasilitas kesehatan
jelaskan tentang jenis dan
manfaat fasilitas pelayanan
kesehatan untuk mengatasi
gizi lebih
beri kesempatan bertanya
beri reinforcement positif

Jelaskan tanda-tanda
masalah kesehatan aakibat
kegemukan yang harus
segera dibawa ke fasilitas
pelayanan kesehatan
Motivasi keluarga untuk
memanfaatkan pelayanan
kesehatan bila terdapat
penyakit atau gangguan
kesehatan akibat
kegemukan

Lampiran 20

Buku Rujukan Keluarga Binaan

PRINSIP GIZI SEIMBANG


untuk Anak Usia Sekolah (6-12
(6 12 tahun)

PROGRAM SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
2012

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

I.

LATAR BELAKANG

Salah satu masalah kesehatan anak usia sekolah adalah masalah gizi, baik
gizi kurang maupun gizi lebih. Mana yang terbaik ? Apakah kekurangan gizi
atau kelebihan gizi? Kekurangan atau kelebihan gizi merupakan masalah
gizi yang dapat memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan
perkembangan anak.
Gizi lebih merupakan masalah gizi utama di negara Eropa dan negara maju
lainnya. Sekarang ini, masalah gizi lebih mulai meningkat kejadiannya di
Indonesia, bahkan terdapat angka

kejadian gizi lebih mempunyai

persentase lebih tinggi dari gizi kurang untuk tingkat Kota/Kabupaten.


Contoh untuk Kota Depok: Penjaringan kesehatan pada anak kelas I
Sekolah Dasar se-Kota Depok tahun 2010, ditemukan anak yang mengalami
gizi lebih sebesar 5,63% ( 1533 murid) dan anak yang mengalami gizi
kurang sebesar 3,21% (874 murid).
Hasil penjaringan status gizi kelas I-VI SDN III Pasir Gunung Selatan
pada bulan Oktober 2011 ditemukan gizi lebih sebesar 9,97% (33 murid)
dan gizi kurang sebesar 5,1% (17 murid). Persentase masalah gizi di SDN
III PGS lebih besar dibanding persentase kota Depok. Hal ini menunjukkan
perlunya elemen sekolah dan masyarakat untuk mencegah atau mengurangi
kejadian gizi lebih khususnya pada anak usia sekolah.
Mengapa demikian ? Gizi lebih pada anak cenderung menetap sampai usia
dewasa. Gizi lebih atau kegemukan merupakan salah satu faktor risiko
terjadi beberapa penyakit tidak menular seperti diabetes melitus,
hipertensi, gangguan tulang dan sendi, penyakit jantung koroner (PJK)
serta gangguan konsep diri. Penyakit tidak menular tersebut memerlukan
pengobatan yang mahal. Pada akhirnya dapat mengganggu tumbuh kembang
anak sehingga akan menghasilkan generasi penerus bangsa yang tidak
berkualitas.
Meskipun demikian, masih banyak orangtua menganggap anak gemuk (gizi
lebih) adalah sehat. Pendapat ini sudah harus diubah bahwa anak
gemuk/sangat gemuk adalah kurang benar, yang benar adalah anak yang
mempunyai berat badan dan tinggi badan sesuai dengan standar (normal).
Solusi atau jalan

keluar untuk mencegah dan menurunkan kejadian gizi

lebih adalah dengan menerapkan prinsip gizi seimbang (PGS). PGS

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

sebaiknya diterapkan untuk semua anak, baik yang gizi kurang, normal atau
kelebihan gizi.

Hj. Andi Saifah, M.Kep

Daftar Isi
Halaman
Pendahuluan ........................................................................................
Konsep Gizi ........................................................................................

1
2

Prinsip Gizi Seimbang ..........................................................................

Makanan Bervariasi ..............................................................................

Menu gizi seimbang ................................................................................

Pola Hidup bersih .......................................................................................... 10


Aktivitas Fisik ..................................................................................................... 11
Pemantauan Berat Badan Ideal .......................................................................12
Gizi Lebih ......................................................................................................13
Daftar Pustaka
Lampiran-lampiran

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI ( 2002). Pedoman kesehatan olahraga. Jakarta
Grodner.M, Long.S, Walkingshaw.B.C. (2007). Foundations and

clinical applications of nutrition: a nursing approach.


Fourth edition. St.Louis Missouri. Mosby, inc.
Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jendral Bina Gizi dan
Kesehatan Ibu dan Anak (2011). Keputusan Menteri

Kesehatan

RI

nomor:

1995/MENKES/SK/XII/2010

tentang standar antropometri penilaian status gizi anak.


Jakarta
Kurniasih,D., Hilmansyah, H., Astuti,M.P., & Imam,S. (2010).

Sehat

dan

bugar

berkat

gizi

seimbang.

Jakarta.

PT.Gramedia
Sulistyoningsih,H (2011). Gizi kesehatan ibu dan anak. Graha
Ilmu.
www.google.co.id

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Lampiran 21
Indikator Evaluasi Pelaksanaan Model PERKASA
No
1

Kegiatan
Program
Manajemen
pelayanan
kesehatan
sekolah

Indikator

Keperawatan
komunitas

Sumber

Program
penanggulangan
gizi lebih pada
anak usia sekolah
di sekolah
TRIAS
UKS,
Kurniasih,
dkk (2010)
dan penulis

Pendidikan gizi
terintegrasi ke
dalam kurikulum

Format wawancara:
Penilaian akhir:
Diajarkan semua
materi 4 Prinsip Gizi
Seimbang= baik
Diajarkan minimal
prinsip makanan
bervariasi & aktivitas
fisik = cukup
Diajarkan < 2 materi=
kurang baik

Gerakan makan
sayur dan buah
(GERSABUH)

Penulis
Format evaluasi:
75% aktif= baik
50- <75% aktif= cukup
<50% aktif= kurang

Club senam Ceria


(CSC)

Cara Pengukuran

Absensi CSC:
75% aktif= baik
Penulis
50- <75% aktif= cukup
<50% aktif= kurang

Kemampuan peer
edukator
melakukan edukasi
sebaya dengan
berbagai metode

Kuesioner (10 soal)


Penilaian akhir:
10-17 : tidak baik
18-24 : kurang
25-31 : baik
32-40 : sangat baik

Sahar,
Widyatuti,
Mulyadi
(2009)

Pengetahuan AUS
dengan gizi lebih
tentang prinsip gizi
seimbang sebelum

Kuesioner (10 soal)


Penilaian akhir :
86-100:pengetahuan tinggi
76-85: pengetahuan tinggi

Depdiknas
(2008)

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Keperawatan
keluarga

dan sesudah
intervensi
menggunakan
model PERKASA

60-75: pengetahuan cukup


< 60=pengetahuan rendah

Perilaku makan
sebelum dan
sesudah intervensi
dengan model
PERKASA

Format wawancara
frekuensi makan
berdasarkan Tumpeng gizi
seimbang, penilaian akhir:
Baik= sarapan, makan
sayur & buah 2x/hari,
jajan sehat
Kurang baik= tidak
dilaksanakan salah satu

Indeks Massa
Tubuh (IMT)

Kemenkes
Pengukuran BB dan TB
RI (2010)
(rumus IMT):
Baik= bila terjadi
penurunan IMT
Kurang baik= bila IMT
stabil atau meningkat

Aktivitas fisik
sebelum dan
sesudah intervensi
dengan model
PERKASA

Format aktivitas fisik,


penilaian akhir:
Baik= melakukan
aktivitas fisik/olahraga
(sepeda, bola, senam,
voli, dll) 3xseminggu,
nonton TV, main games,
internet 2 jam sehari
sedang= bila salah
satunya tidak memenuhi
kriteria baik
tidak baik= bila 2 kriteria
tidak terpenuhi

Kurniasih
dkk (2010),
CDC
(2005),
Depkes(200
2)

Kemandirian
keluarga dalam
pelaksanaan
prinsip gizi
seimbang

Kuesioner (7 soal)
(Kemandirian : I sampai
dengan IV

KepMen
Kes No.
279/Men
Kes/SK/IV/
2006

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Notoatmojo
(2010),
Friedman
(2003)

Lampiran 22
KONTRAK PEMBELAJARAN RESIDENSI TAHAP II SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA AGREGATE ANAK USIA
SEKOLAH DENGAN GIZI LEBIH DI KELURAHAN PASIR GUNUNG SELATAN KECAMATAN CIMANGGIS KOTA DEPOK

A. MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN KOMUNITAS


No

Kegiatan

Tujuan

Keluaran

Kompetensi
3.1

Penyusunan kontrak
belajar residensi
tahap II

Membantu pencapaian tujuan


pembelajaran residensi
tahap II

Adanya bukti kontrak belajar sesuai


pedoman pembelajaran residensi
tahap II

Pemantapan peer
edukator (PE)

Memberikan perencanaan
kegitan edukasi sebaya

a. Adanya perencanaan kegiatan


edukasi sebaya terkait gizi sbg
pelayanan keperawatan
komunitas setting sekolah di SD
Pasir III wilayah kelurahan Pasir
Gunung Selatan

3.2, 3.3

b. Tersusunnya perencanaan
kegiatan edukasi sebaya
pelayanan keperawatan di SD
Pasir III wilayah kelurahan Pasir
Gunung Selatan

3.4

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Target/sasaran
 Residen

Metode
 Studi Literatur
 Konsultasi

Waktu

Sumber

Mgg I

Buku Pedoman
(BPKM)
Residensi

 PE
 Studi Literatur
 Pengurus UKS  Konsultasi

Mgg II

 Buku
Panduan
pelatihan PE


 PE

Mgg II

 Buku panduan
pelatihan PE


 Studi Literatur

Pengorganisasian kegiatan
edukasi sebaya terkait gizi
di SD Pasir III kelurahan
Pasir Gunung Selatan

Adanya tupoksi, jadwal kegiatan


peer edukator, jenis kegiatan,
pembagian kelompok (1 PE
bertanggung jawab 2-3 AUS gizi
lebih) di SD Pasir III wilayah
kelurahan Pasir Gunung Selatan

3.4

 PE
 Studi Literatur
 AUS gizi lebih  Rapat
 Diskusi

Mgg II

 buku panduan
pelatihan PE

Meningkatknya
keterampilan PE
(pelaksanaan) dalam praktek
edukasi sebaya

80% PE mampu melaksanakan


tupoksinya (edukator, monitoring,
instruktur senam, mengontrol
BB/bulan, status nutrisi/6 bulan)

3.5

 PE

 studi literatur
 demonstrasi

Mgg II

 buku panduan
pelatihan PE

Melakukan pengarahan dan


pengawasan pelaksanaan
edukasi sebaya

75% pelaksanaan program edukasi


sebaya sesuai tujuan dan terkontrol
secara kontinyu

3.5

 PE

 studi literatur
 ceramah

Mgg II

 buku panduan
pelatihan PE

 personel
sekolah
 Puskesmas
 komite sekolah
 orangtua siswa
 PE
 siswa gizi
lebih

 Rapat
 Diskusi

Mgg II

 BPKM

 Peer group
 edukasi sebaya

Mgg
III-XII

 Panduan
pelatihan PE

3.

Lokmin Keperawatan

Mensosialisasikan hasil
yang dicapai residensi
Tahap I dan rencana
kegiatan Tahap II

Terselenggaranya Lokmin Tahap II

3.5

Pelaksanaan kegiatan
edukasi sebaya

Terlaksananya kegiatan
edukasi sebaya fokus utama
promotif gizi seimbang dan
preventif gizi lebih melalui
peer group dan peer educator
anak usia sekolah di SD Pasir
III wilayah kelurahan Pasir

a. Terlaksananya peer group 2 kali


seminggu (diskusi tentang pola
makan sehat dan aktivitas fisik)

3.5

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Gunung Selatan

b. Terlaksanaya monitoring (dairy


food dan aktivitas fisik) PE
terhadap AUS gizi lebih

3.5

c. Terlaksananya penyuluhan
kelompok terkait prinsip gizi
seimbang setiap hari Jumat oleh 1
PE (bergiliran)

3.5

c. 90% peserta senam setiap hari


Jumat di SD Pasir III wilayah
kelurahan Pasir Gunung Selatan

3.5

d. 75% peserta CSC diluar jam


belajar

3.5

 PE
 siswa gizi
lebih

 Peer group
 Monitoring

Mgg
III-XII

 Panduan
edukasi
sebaya

 Penyuluhan


Mgg
III-XII

 panduan
edukasi
sebaya

 PE
 siswa gizi
lebih
 staff sekolah

 latihan/olahraga

Mgg
III-XII

 Panduan
edukasi
sebaya/
jadwal

 PE
 siswa gizi
lebih

 latihan
fisik/olahraga

Mgg
III-XII

 Jadwal CSC

 PE
 siswa gizi
lebih

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

5.

Koordinasi dengan
pihak Puskesmas

Merencanakan pemeriksaan
kantin sekolah

e. Kampanye kesehatan 1-2


kali/bulan oleh PE

3.5

 PE
 semua siswa

 penyebaran
stiker, pin

Mgg
IV,
VIII,
XI

 panduan
edukasi
sebaya

f. Penimbangan BB/bulan,
penilaian status gizi/6 bulan

3.5

 PE
 semua siswa

 demonstrasi
 observasi

Mgg II
setiap
bulan

g. Monitoring gerakan makan sayur


dan buah (75%)

3.5

 PE
 semua siswa

 cheklist
 observasi

Mgg
II-XII

h. Lomba terkait promosi kesehatan


(mengarang/ majalah dinding/
menggambar/menyusun menu
seimbang/senam SRIBU)

3.5

 PE
 semua siswa

 kompetisi

Mgg
VII dan
XII

 panduan UKS
 panduan
edukasi
sebaya
 sekolah
 panduan
edukasi
sebaya
 sekolah

a.

Terdapatnya jadwal
pemeriksaan kantin sekolah

3.5

 Koordinasi
 konsultasi

Mgg X

b.

Terdapatnya kesepakatan pihak


Puskesmas dan sekolah tentang
pendidikan kesehatan oleh
Puskesmas

 Kepala
sekolah dan
guru
 Ka.Puskesmas

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

 PJ UKS
 Kepala
sekolah

 Kepala
sekolah
 Ka.Puskesmas

Tersusunnya jadwal dan jenis


Pendidikan kesehatan oleh
Puskesmas

Mendiskusikan jadwal
Pendidikan kesehatan di SD
PGS III , pihak Puskesmas
sebagai nara sumber

6.

Pengoptimalan sistem
administrasi terkait
pelaporan UKS di
tingkat kel.Pasir
Gunung Selatan,
kec.Cimanggis &
kota Depok

3.5

Mendiskusikan permintaan
obat dan bahan habis pakai
(P3P dan P3K)

Tersedianya obat (Paracetamol,


oralit, CTM, B6, dll) dan bahan
habis pakai (bethadin, alkohol,
kapas, verban)

Tersusunnya sistem
administrasi terkait pelaporan
UKS di tingkat kel.Pasir
Gunung Selatan,
kec.Cimanggis & kota Depok

Adanya juklak dan format


pencatatan & pelaporan seluruh
kegiatan UKS di SD Pasir III di
wilayah kelurahan Pasir Gunung
Selatan

 Kepala
sekolah dan
guru
 Ka.Puskesmas
PGS

 Diskusi
 Koordinasi

3.5

 PJ UKS
 Ka.Puskesmas
PGS

3.5

 Kepala
 Studi Literatur
sekolah
 Dokumen
 PJ UKS di
 Rapat Pengurus
Puskesmas
UKS
 Pengurus UKS

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

 proposal

Mgg X

Mgg X

 PJ UKS

Mgg X

 PJ UKS di
Puskesmas
 Pengurus
UKS
 Buku
panduan
pelaksanaan
UKS

7.

Penyusunan sistem
rujukan (kerjasama
dg puskesmas utk
intervensi lanjutan
bagi siswa yang
obesitas)

Tersusunnya sistem rujukan


dari pihak sekolah ke
puskesmas

8.

Penyusunan sistem
Terkendalinya program
edukasi sebaya dan Dokter
monitoring &
kecil melalui kegiatan
evaluasi oleh petugas
supervisi, bimbingan dan
UKS
pengarahan.

Penanggung jawab UKS di


Puskesmas melakukan
supervisi setiap satu bulan
sekali pada peer educator di
SD Pasir III wilayah
kelurahan Pasir Gunung
Selatan
MONEV oleh Puskesmas
secara langsung atau tidak
langsung, 1 kali/bulan

Adanya format rujukan bagi siswa


yang memiliki masalah kesehatan
terutama obesitas oleh pengurus
UKS

3.5

 Kepala
 Studi Literatur
Puskesmas
 Dokumen
 Kepala
 Rapat Pengurus
sekolah
UKS
 PJ UKS di
Puskesmas
 Pengurus UKS

Mgg X

70% pelaksanaan edukasi sebaya


dan kegiatan Dokter kecil sesuai
tujuan dan dapat terkontrol secara
kontinu

3.5

 PJ UKS di
Dinkes
 PJ UKS di
Puskesmas
 Pengurus
UKS

 Curah pendapat
 Evaluasi diri
 Lembar cek list

Mgg X

a. 70% tersusun pelaporan kegiatan


peer educator

3.5

 PJ UKS di
Puskesmas
 Pengurus
UKS
 Peer edukator

 Curah pendapat
 Evaluasi diri
 Lembar cek list

Mgg X

b. 100% terjadi rujukan dari


pengurus UKS pada puskesmas
Pasir Gunung Selatan terkait
komplikasi obesitas

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

 Kepala
Puskesmas
 PJ UKS di
Puskesmas
 Pengurus
UKS
 Buku
panduan UKS

 Kepala
Puskesmas
 PJ UKS di
Puskesmas
 PJ CHN
 Pengurus
UKS

 PJ UKS di
Puskesmas
 PJ CHN
 Pengurus
UKS

9.

Evaluasi kegiatan

Penanggung jawab UKS di


Dinkes melalukan supervisi
setiap tiga bulan sekali pada
petugas puskesmas
(pengampu klinik kesehatan
dan gizi anak usia sekolah)

70% tersusun laporan bulanan


puskesmas tentang pelaksanaan
overweight and obsity care model
di SD Pasir III wilayah kelurahan
Pasir Gunung Selatan

Menilai tingkat keberhasilan


pemberian asuhan
manajemem keperawatan

80% pemberian asuhan


keperawatan pada aggregate
dilakukan sesuai rencana.

 PJ UKS di
Dinkes
 PJ UKS di
Puskesmas
 Pengurus
UKS
 Kader siswa
peer educator

 Curah pendapat
 Evaluasi diri
 Lembar cek list

Mgg
XI

 PJ UKS di
Puskesmas
 PJ CHN
 Pengurus
UKS

3.6; 3,7

 Residen

 pengkajian
 kuesioner
 cheklist

Mgg
XIII

 Residen
 BPKM

3,6

 Residen

 Ujian

Mgg
XIII

 BPKM
 residen

Mgg
XIV

 BPKM

3.5

Adanya rencana tindak lanjut yang


disepakati.
10.

Uji kompetensi

Mengevaluasi keterampilan
yang telah dikuasai residen

Adanya kemampuan spesialistik


peserta residensi dalam melakukan
manajemen keperawatan di sekolah

11.

Menyusun Laporan
akhir

Mendokumentasikan
kegiataan manajemen
pelayanan kesehatan
komunitas

Adanya bukti fisik laporan


manajemen pelayanan kesehatan
komunitas

3,8

 Residen

12.

Desiminasi hasil
residensi

Mensosialisasikan hasil
residensi secara keseluruhan
pada lintas sektor dan lintas
program untuk dilakukan
tindak lanjut atau

Terselenggaranya desiminasi
kepada lintas sektor dan lintas
program dan terdapat keputusan
tentang hasil residensi

3,7

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

terdapatnya kebijakan
tentang program hasil
residensi

B. KEPERAWATAN KOMUNITAS LANJUT III


No

Kegiatan

Revisi
Penyusunan
program
kerja
penanggulan
gan gizi
lebih pada
anak usia
sekolah

Tujuan

Keluaran

Kompetensi

Menyusun rencana
kerja penanggulangan
gizi lebih pada
agregate AUS melalui
penerapan model
PERKASA

Adanya bukti fisik rencana asuhan keperawatan


komunitas setting sekolah hasil konsultasi dan
revisi meliputi pencegahan primer, sekunder
dan tersier

2.1 dan 2.2

Mensosialisasikan
rencana program
inovasi dan kegiatan
lainnya (Tahap II) di
SD Pasir III wilayah
kelurahan Pasir
Gunung Selatan

a. Kegiatan akan dilakukan selama 2 kali


pertemuan di sekolah dalam bentuk Lokmin
dan deseminasi hasil residensi terkait
penanggulangan gizi lebih pada AUS

2.3

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Target/sasaran
 residen






Metode

Waktu

 Studi literatur
 konsultasi

Mgg II

Kepala sekolah  Studi literatur


Guru
 Lokmin
Pengurus UKS
lintas sektor

Sumber
 BPKM


Mgg III  Residen


 Sekolah

Pelaksanaan
program
kerja
penanggulan
gan gizi
lebih pada
AUS

Menyusun berbagai
program kerja secara
terstruktur dan
terjadwal

b. Kegiatan promosi kesehatan diadakan dalam


bentuk pendidikan kesehatan oleh peer
edukator, kampanye dan penyebaran media
promkes PGS (leafleat & stiker), program
olahraga bersama, senam oleh CSC, makan
sayur dan buah/Jumat, lomba terkait PGS,
pengawasan kantin sehat, penimbangan
BB/bulan, screening status gizi/6 bulan,
pemeriksaan GDS dan gejala metabolik,
demonstrasi penyusunan menu seimbang dan
pembuatan jajanan sehat pada orangtua siswa

2.4

a. Terlaksana penyuluhan perkelomok kecil (1-2


kali/minggu) atau kelompok besar (1
kali/minggu) terkait Prinsip Gizi Seimbang
(PGS), perawatan gizi lebih) oleh peer
edukator
b. Kampanye PGS 1-2 kali/ bulan melalui
penyebaran leafleat dan stiker 100 lembar
c. Terlaksana program hari olahraga bersama
siswa dan guru setiap hari Jumat diluar jam
secara kontinyu
d. Hasil monitoring perilaku makan (food diary)
dan aktivitas fisik (2 kali/minggu)
e. Terlaksananya kegiatan senam SRIBU oleh
CSC 3 kali dalam seminggu
f. Terlaksana lomba terkait kesehatan
g. Terdapatnya dan terlaksananya hari makan
sayur dan buah setiap minggu secara kontinyu
h. Terlaksananya pengawasan kantin sehat oleh
peer edukator dan guru setiap bulan
i. Penimbangan BB siswa setiap bulan,
screening status gizi setiap 6 bulan

2.5 dan 2.7

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012






Kepala sekolah  studi literatur


Guru
 Lokmin
Pengurus UKS
lintas sektor

 semua siswa
 pihak sekolah
 orangtua siswa

 Peer group
 Studi literatur
 kampanye
kesehatan
 praktek
 latihan
fisik/olahraga
 demonstrasi
 pemeriksaan
fisik

Mgg III  Residen


 BPKM

Mgg
III-XII

 Residen
 Sekolah
 Panduan
edukasi
sebaya


j. Pemeriksaan GDS dan gejala metabolik lain


k. 100% siswa obesitas dengan komplikasi
dirujuk ke yankes
l. Penyuluhan pada orangtua tentang fenomena
gizi lebih
m.Demonstrasi penyusunan menu seimbang
bersama orangtua siswa
n. Demonstrasi pembuatan jajanan sehat

Evaluasi
hasil
pelaksanaan
kegiatan

Terlaksananya
kegiatan peer educator a. Peningkatan perilaku gizi seimbang 60%
sebagai bentuk
(pre dan post test)
intervensi model
b. Terjadi penurunan berat badan atau menjadi
overweight and obesity
berat badan ideal pada siswa staus gizi lebih.
care

2.5

 siswa gizi
lebih
 Peer educator

 Peer group
 Studi literatur
 cheklist

Mgg
 Buku panduan
edukasi
III- XII
sebaya
 Sekolah

a. 80% terlaksana kegiatan/tugas Peer educator


sesuai indikator, dapat melakukan kegiatan
edukasi sebaya
b. Terjadi perubahan pengetahuan, sikap, dan

2.8

 Residen
 PE
 pihak sekolah

 Studi literatur
 Curah
pendapat
 Evaluasi diri

Mgg
XIII

Menilai tingkat
keberhasilan pemberian
asuhan keperawatan
komunitas setting

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

 Supervisor
 Buku Panduan
Dokter Kecil
 Buku PGS

model
obesity care
dalam
penanggulan
gan gizi
lebih pada
AUS

sekolah di SD

4.

Promosi
kesehatan di
tempat kerja

Meningkatnya perilaku
sehat (kognitif, afektif,
praktik) pegawai home
industry

5.

Ujian
keterampilan
di komunitas

Mengevaluasi
keterampilan yang telah
dikuasai residen

6.

Refferat
askep
komunitas

Mensosialisasikan
metode model atau
bentuk intervensi yang
dapat digunakan dalam
asuhan keperawatan
komunitas terkini terkait
gizi lebih pd AUS

 Lembar cek
list
 Wawancara

ketrampilan AUS sebelum dan sesudah


pelaksanaan SPA melalui angket tentang
pengetahuan, sikap, dan ketrampilan siswa
c. Adanya rencana tindak lanjut yang disepakati

2.3

 Pekerja home
industry

 kuesioner
 ceramah
 diskusi

Mgg V

 Residen
 BPKM

Adanya kemampuan spesialistik peserta


residensi dalam membina komunitas

2.9

 Residen

 ujian praktek

Mgg
VI

 Residen
 BPKM

Tersosialisasikannya metode model atau bentuk


intervensi yang dapat digunakan dalam asuhan
keperawatan komunitas terkini terkait gizi lebih
pd AUS

2.6

 Residen

 Presentasi
 Tanya Jawab

Mgg
VIII

 Residen
 BPKM

Pengetahuan, sikap dan keterampilan pekerja


setelah promosi kesehatan meningkat minimal
30%

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

7.

Penyerahan
laporan

Mendokumentasikan
hasil kegiatan komunitas

Adanya bukti fisik laporan asuhan kep


komunitas

2.10

 Residen

Mgg
XIV

 BPKM

C. KEPERAWATAN KELUARGA
No

Kegiatan

Pengkajian pada 5
keluarga AUS dgn staus
gizi lebih

Tujuan

Keluaran

Kompetensi

Mengidentifikasi berbagai
faktor yang ada dalam
keluarga AUS gizi lebih
dengan menggunakan model
Friedman

Adanya hasil pengkajian hasil


konsultasi dan revisi keluarga
dengan AUS gizi lebih sejumlah
5 keluarga.

2.3

Keluarga AUS
dgn gizi lebih

 Wawancara
 Pemeriksaan fisik
 Observasi

Mgg III  Studi


literatur
 Keluarga
 Residen

Melakukan analisis data


& menetapkan masalah
keperawatan keluarga
AUS gizi lebih

Mengidentifikasi masalah
keperawatan keluarga (aktual,
risiko, potensial)

Adanya rumusan masalah


keperawatan keluarga
berdasarkan penapisan masalah
yang ada

2.3

Keluarga AUS
dgn gizi lebih

 Konsultasi
 Diskusi
 Kunjungan rumah

Mgg III  Studi


literatur
 Supervisor
 Keluarga

Bersama keluarga
merumuskan intervensi
dlm upaya menangani
masalah gizi lebih pada

Menyusun rencana asuhan


keperawatan keluarga dengan
AUS gizi lebih bersama

Adanya bukti fisik berupa


rencana asuhan keperawatan
keluarga dengan ditandatangani

2.3

Keluarga AUS
dg gizi lebih

 Konsultasi
 Diskusi
 Kunjungan rumah

Mgg
III-IV

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Target/ sasaran

Metode

Waktu

Sumber

 Studi
literatur
 Supervisor
 Keluarga

AUS

keluarga

residen, keluarga dan supervisor

Melakukan implementasi
keperawatan keluarga
berupa kognitif, afektif
dan perilaku ;

Melaksanakan berbagai
intervensi keperawatan yang
telah disusun dan disepakati
dengan keluarga

80% intervensi yang telah


disusun dilakukan bersama
keluarga sesuai dengan hasil
kesepakatan bersama

2.4 dan 2.5

Keluarga AUS
dg gizi lebih






2.6 dan 2.7

Residen

a.
b.
c.
d.
e.

Mgg
IV-XII

 Studi
literatur
 Keluarga

 Konsultasi
 Diskusi

Mgg
X IV

 Studi
literatur
 Supervisor

Residen

 Pengkajian fisik
 Observasi
 Wawancara

Mgg
IV-IX

 Studi
literatur
 Supervisor
 Keluarga

 Keluarga
 Residen






Mgg
XIV

 Supervisor
 Studi
Literatur

Simulasi
Demonstrasi
Evaluasi
Kunjungan rumah

pendidikan kesehatan
Konseling
Coaching
Modifikasi perilaku
Food combining

Penyerahan laporan
keluarga binaan pada
AUS gizi lebih

Mengevaluasi kegiatan yang


telah dilaksanakan

Adanya dokumen laporan


keluarga vulnerable

Ujian keetrampilan di
keluarga dlm konsep
vulnerable gizi lebih

Mengevaluasi keterampilan
yang telah dikuasai oleh
residen

Adanya kemampuan spesialistik


peserta residensi

2.4 2.8

Menilai hasil asuhan


keperawatan keluarga
berdasarkan tingkat
kemandirian keluarga

Mengidentifikasi pencapaian
kemandirian keluarga

80% pencapaian kemandirian


keluarga berada pada tingkat IV
(mandiri penuh).

2.8 dan 2.9

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Evaluasi diri
Lembar cek list
Curah pendapat
Kunjungan rumah

Peningkatan perilaku PGS


setelah pembinaan keluarga
(75%)
8

Penyerahan draff laporan


praktek kepada
supervisor

Mendokumentasikan hasil
kegiatan praktek residensi
tahap II

Tersusunnya laporan akhir


praktek manajemen, komunitas,
dan keluarga

2.10

 Residen
 Supervisor

 Studi literatur
 Konsultasi

Mgg
XVI

BPKM

9.

Penyerahan laporan akhir

Mendokumentasikan hasil
praktek residensi tahap II

Tersusunnya laporan akhir


praktek manajemen, komunitas,
dan keluarga hasil revisi

2.10

 Residen
 Supervisor

 Studi literatur
 Konsultasi

Mgg
XVII

BPKM

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


Nama

: Andi Saifah

Tempat/tgl lahir

: Bone, 4 April 1972

Pekerjaan

: PNS

Alamat

: BTN Palupi Permai Blok G2/7 Palu


Prov. Sulawesi Tengah ,HP 081341204825,
E mail: Saifah90@yahoo.co.id

Riwayat Pendidikan:
1. Spesialis Keperawatan Komunitas Universitas Indonesia tahun 2011-2012
2. Magister Keperawatan Universitas Indonesia tahun 2009-2011
3. Profesi Ners Universitas Hasanudin tahun 2002-2003
4. Sarjana Keperawatan Universitas Hasanudin tahun 2000-2002
5. D III Keperawatan Banta-bantaeng Makassar Depkes RI tahun 1990-1993
6. SMA I Pangkep tahun 1987-1990
7. SMP IV Watampone tahun 1984-1987
8. SD 22 Macege tahun 1978-1984

Riwayat Pekerjaan:
1. Staf Puskesmas Cabenge kab. Soppeng tahun 1994-2000
2. Staf Dinas Kesehatan Kab. Soppeng tahun 2003-2004
3. Staf Pengajar AKPER PEMDA Donggala 2004- sekarang

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012

Model perkasa..., A. Saifah, FIK UI, 2012