Anda di halaman 1dari 28

7

TINJAUAN PUSTAKA
Stres
Pengertian Stres
Pengertian stres (cekaman), menurut Haber dan Runyon (1984), adalah
konflik yang berupa tekanan eksternal dan internal serta permasalahan lainnya
dalam kehidupan. Lazarus dan Folkman (1984) memberikan pengertian stres
adalah

keadaan atau situasi yang rumit dan dinilai sebagai keadaan yang

menekan dan membahayakan individu serta telah melampui sumber daya yang
dimiliki individu untuk mengatasinya
Selye (1982) yang dianggap sebagai pelopor penggunaan istilah stres,
mendefinisikan stres sebagai respon umum dan tidak spesifik terhadap setiap
tuntutan fisik maupun emosional, baik dari lingkungan (eksternal) maupun dari
dalam diri (internal). Robins (2001) mengatakan bahwa stres adalah suatu kondisi
dinamik, dalam hal ini seorang individu dihadapkan dengan sebuah peluang yang
dikaitkan dengan apa yang sangat diinginkannya. Stres tidak hanya mempunyai
nilai negatif, tetapi juga positif. Stres merupakan suatu peluang bila stres itu
menawarkan perolehan yang potensial. Stres juga sebagai kendala jika dapat
menghambat seseorang mengerjakan apa yang diinginkannya.
Para ahli psikologi seperti Baum, Coyne dan Holroy (Sarafino, 2002),
mengelompokkan stres dalam tiga perspektif yaitu stres sebagai stimulus, stres
sebagai suatu respon dan stres sebagai suatu proses. Menurut perspektif stres
sebagai stimulus, stres terjadi disebabkan oleh lingkungan atau kejadian yang
dapat mengancam atau berbahaya, sehingga menimbulkan ketegangan dan
perasaan tidak nyaman. Menurut pandangan stres sebagai respon, stres
merupakan reaksi/respon individu terhadap kejadian yang tidak menyenangkan.
Stres sebagai suatu proses terjadi karena adanya interaksi antara individu dan
lingkungan.
Alva (2003) mengklasifikasikan stres menjadi dua jenis, yaitu stres akut
(acute stres) dan stres kronis (chronic stres). Stres akut, yang berjangka waktu
tidak lama (short-item), adalah reaksi segera terhadap ancaman, yang secara
umum diketahui sebagai respons melawan (fight) atau menghindar (flight).
Ancaman tersebut dapat berupa setiap situasi yang dialami, bahkan di bawah
sadar, sebagai sesuatu yang berbahaya. Sumber stres akut pada umumnya

8
meliputi keributan, kerumunan, terisolasi, kelaparan, bahaya, infeksi, dan
membayangkan suatu ancaman atau mengingat peristiwa yang berbahaya.
Orang yang sering mengalami berbagai situasi yang sifatnya mencekam
secara terus menerus dalam waktu yang lama akan mendorong untuk bertindak
maka stres menjadi kronis. Sumber stres kronis pada umumnya meliputi peristiwa
yang sangat menekan secara terus-menerus, masalah-masalah hubungan jangka
panjang, kesepian, dan kekhawatiran akan finansial karena kepala rumahtangga
sebagai pencari nafkah menjadi korban bencana. Ini banyak dialami oleh para
pengungsi, seperti di tempat penampungan atau barak-barak dalam jangka waktu
lama. Mereka berada dalam situasi ketidakpastian terutama dalam kehidupannya
di masa mendatang.

Sumber Stres
Menurut Lazarus dan Cohen (Gatchel, Baum & Krantz, 1989), sumber
stres dapat digolongkan menjadi tiga yaitu :
(1) Perubahan

menyeluruh

(cataclymic

stressor).

Kejadian

yang

dapat

menimbulkan stres dan terjadi secara tiba-tiba serta dirasakan oleh banyak
orang secara bersamaan seperti bencana alam (banjir, badai, tsunami).
(2) Sumber stres dari pribadi (personal stressor). Perubahan yang terjadi dalam
kehidupan

seseorang

turut

berpotensi

menimbulkan

stres,

misalnya:

pernikahan, perceraian, kematian pasangan, mencari atau kehilangan


pekerjaan.
(3) Sumber stres dari lingkungan fisik. Kejadian atau keadaan yang berupa
ketidaknyamanan dalam keseharian seseorang. Kejadian ini merupakan
gangguan kecil tetapi berlangsung terus-menerus, sehingga menjadi masalah
yang

mengganggu

dan

menekan

emosional,

contohnya:

lingkungan

rumah/kerja yang bising, pencahayaan yang tidak terang dan sebagainya.


Lazarus (1976) membagi sumber stres berdasarkan sifatnya, yaitu:
(1) Sumber stres yang bersifat fisik. Atwater (1983) menyebut stres yang
disebabkan oleh sumber stres fisik ini sebagai stres biologis. Stres biologis
dapat mempengaruhi daya tahan tubuh dan emosi.
(2) Sumber stres bersifat psikososial. Menurut Atwater (1983) stres psikologis
dapat mempengaruhi kesehatan fisik. Terdapat empat sumber stres yang
bersifat psikososial yaitu :

9
(a) Tekanan. Tekanan merupakan pengalaman yang menekan, berasal dari
dalam diri, luar, atau gabungan keduanya. Dalam porsi yang tidak
berlebihan tekanan dalam individu memang diperlukan untuk dapat
berbuat yang terbaik. Sebaliknya, bila berlebihan tekanan dapat merugikan
individu atau membuatnya tidak berdaya.
(b) Frustasi. Frustasi yaitu emosi negatif yang timbul akibat terhambatnya atau
tidak terpuaskannya tujuan/keinginan individu. Dapat pula diakibatkan oleh
tidak adanya subjek atau objek yang diinginkan.
(c) Konflik. Konflik merupakan kondisi yang ditandai dengan adanya dua atau
lebih pilihan yang bertentangan, sehingga pemenuhan suatu pilihan akan
dapat menghalangi tercapainya pilihan yang lain.
(d) Kecemasan. Kecemasan sangat berhubungan dengan perasaan aman.
Dalam keadaan normal, kecemasan dapat membantu seseorang untuk
lebih menyadari akan situasi bahaya tertentu. Sebaliknya, bila berlebihan
dapat memperburuk perilaku individu.

Gejala Stres
Gejala stres mencakup gejala psikis, fisik dan perilaku, misalnya gejala
psikis kelelahan mental, diikuti gejala fisik seperti gangguan kulit, dan perubahan
perilaku yaitu penurunan kualitas hubungan interpersonal.
Menurut Cox dan Ferguson (1991), stres berkembang secara bertahap,
tetapi gejala-gejalanya dapat dikenali sejak dini. Tanda-tanda stres dapat dilihat
dari beberapa aspek:
Kognitif:
(1) Ketidakmampuan untuk menghentikan berpikir tentang bencana.
(2) Kehilangan objektivitas
(3) Ketidakmampuan untuk membuat keputusan atau mengekspresikan dirinya
baik secara verbal maupun tulisan
Fisik:
(1) Overwhelming/kelelahan kronik/gangguan tidur
(2) Gangguan pencernaan, sakit kepala, dan keluhan lainnya
(3) Adanya masalah makan, misalnya nafsu makan bertambah atau hilangnya
selera makan

10
Afektif:
(1) Timbul keinginan bunuh diri, depresi berat
(2) Mudah marah
(3) Sinisme dan atau pesimisme yang berlebihan
(4) Kekhawatiran yang berlebihan mengenai korban dan keluarganya
(5) Merasa cemburu melihat pihak lain yang sedang menangani korban
(6) Merasa ada tekanan/paksaan
(7) Adanya keresahan yang signifikan setelah mendapatkan penanganan
Tingkah laku:
(1) Mengkonsumsi alkohol dan penyalahgunaan obat
(2) Menarik diri dari hubungan dengan teman, rekan kerja, dan keluarga.
(3) Bertingkah laku sesuka hatinya.
(4) Merasa tidak perlu untuk melakukan hubungan dengan korban lain
(5) Ketidakmampuan

untuk menyelesaikan

atau bertanggung jawab

atas

pekerjaan secara normal


(6) Berusaha untuk tidak tergantung kepada tim penanganan korban
Allen (2001) mengidentifikasi gejala-gejala (symptoms) orang mengalami
stres, baik secara fisik, mental, maupun psikologis. Simtom-simtom tersebut
adalah sebagai berikut:
(1)

Pikiran-pikiran menakutkan (scary-thought)

(2) Ada gangguan (distraction)


(3) Pikiran bersaing (racing mind)
(4) Tidak yakin atau ragu-ragu (uncertainty)
(5) Tidak logis (illogic)
(6) Lupa (forgetfulness)
(7) Kecurigaan (suspicion)
(8) Lekas marah (irritability)
(9) Kecemasan (anxiety)
(10) Depresi (depression)
(11) Gusar atau marah-marah (anger)
(12) Kesepian (lonliness)
(13) Rendah diri (low-self esteem)
(14) Gangguan perut (upset stomach)
(15) Keletihan (fatigue)
(16) Sakit punggung (backache)

11
(17) Sakit kepala (headache)
(18) Sembelit (constipation)
(19) Diare (diarrhea)
(20) Dada sumpek (chest tightness)
(21) Kebiasaan tidur yang buruk (poor sleeping habits)
(22) Kebiasaan bangun yang buruk (poor calling habits)
(23) Berbicara cepat (rapid speech)
(24) Menggunakan obat-obatan (drug use)
(25) Mengendarai dengan sembrono (reckless driving)
(26) Merokok berlebihan (excessive smoking)
(27) Minum (Alkohol) berlebihan (excessive drinking)
Dari beberapa gejala stres yang telah disampaikan oleh para ahli ada
yang telah mengarah kepada coping yang tidak efektif (maladaptif) seperti
Kebiasaan tidur yang buruk, kebiasaan bangun yang buruk, berbicara cepat,
menggunakan obat-obatan, mengendarai dengan sembrono, merokok berlebihan
dan minum alkohol dan obat terlarang.
Pengukuran Tingkat Stres dengan
Metode Holmes dan Rahe
Pada tahun 1967, Dr. Thomas H. Holmes dan Dr. Richard H. Rahe telah
mengembangkan alat ukur stres diri yang disebut Social Readjusment Rating
Scale

(Tabel 1). Holmes dan Rahe mengkategorikan tingkat stres kedalam

empat katagori. Skor kurang dari 150 sebagai stres minor, skor 150-199 tergolong
stres ringan, skor 200-299 tergolong stres sedang dan skor di atas 300 tergolong
stres mayor/berat. Holmes dan Rahe memperkirakan bahwa 35 persen individu
dengan skor di bawah 150 akan mengalami sakit atau kecelakaan dalam dua
tahun, 51 persen individu dengan skor antara 150-300 dan mereka dengan skor di
atas 300 berpeluang 80% mengalami sakit atau kecelakaan. Dalam penelitian ini
tidak semua item yang dinyatakan oleh Holmes dan Rahe diadopsi, hanya 10 item
dan disesuaikan dengan kondisi di lapangan yaitu: kematian pasangan,
perpisahan perkawinan, kehilangan aset, perubahan kondisi keuangan, kematian
anggota keluarga, luka atau sakit parah, kematian teman dekat, perubahan jenis
pekerjaan,pinjaman keuangan dan perubahan tempat tinggal. Pengkatagoriannya
tetap mengadopsi dari Holmes dan Rahe.

12
Tabel 1. Penyebab dan tingkat stres menurut metode Holmes dan Rahe
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43

Penyebab Stres
Kematian pasangan
Perceraian
Perpisahan perkawinan
Masuk penjara
Kematian anggota keluarga
Luka atau sakit parah
Perkawinan
Dipecat dari pekerjaan/kehilangan aset
Pensiun
Rekonsiliasi perkawinan
Perubahan kesehatan atau perilaku anggota keluarga
Kehamilan
Masalah seksual
Memperoleh anggota keluarga baru lewat kelahiran atau adopsi
Penyesuaian bisnis secara besar-besaran
Perubahan kondisi keuangan
Kematian teman dekat
Perubahan jenis pekerjaan
Perubahan banyaknya argumen dengan rekan
Mengambil hipotek baru/pinjaman keuangan
Penyitaan hipotek atau pinjaman
Perubahan tanggung jawab
Anak meninggalkan rumah
Masalah dengan mertua
Prestasi individu yang luar biasa
Rekan mulai/berhenti bekerja
Mulai atau tamat sekolah
Perubahan kondisi kehidupan
Revisi kebiasaan individu
Masalah dengan pimpinan
Perubahan jam atau kondisi kerja
Perubahan tempat tinggal
Perubahan sekolah
Perubahan kebiasaan tamasya
Perubahan aktivitas gereja
Perubahan aktivitas sosial
Pembelian besar seperti mobil baru
Perubahan kebiasaan tidur
Perubahan pertemuan keluarga
Perubahan kebiasaan makan
Liburan
Ketaatan terhadap Natal atau liburan
Pelanggaran kecil pada hukum

Skor
100
73
65
63
63
53
50
47
45
45
44
40
40
39
39
38
37
36
35
31
30
29
29
29
28
26
26
25
24
23
20
20
20
19
19
18
17
16
15
15
13
12
11

Pengukuran Tingkat Stres Metode


Family Inventory of Life
Family Inventory Life Efents and Changes (FILE) mengukur setumpuk
peristiwa yang dialami keluarga dan dikembangkan sebagai indeks stres keluarga
(McCubbin, Patterson & Wilson, 1979). Versi pertama FILE (McCubbin, Patterson

13
& Wilson, 1979) terdiri dari 171 item yang secara konseptual dikelompokkan
menjadi delapan kategori yaitu perkembangan keluarga, pekerjaan, manajemen,
kesehatan, keuangan, aktivitas sosial, hukum dan hubungan keluarga luas.
Pemilihan item pertanyaan ditentukan oleh perubahan kehidupan individu
(Dohrenwend, Krasnoff, Askenasy & Dohrenwend, 1978; Coddington, 1972;
Holmes dan Rahe, 1967). Selain itu, dimasukkan pula perubahan situasional dan
perkembangan yang dialami keluarga pada tahapan yang berbeda pada siklus
kehidupan. Item-item tersebut berasal dari pengalaman klinis dan penelitian
tentang stres keluarga serta dari literatur tentang stresor yang diidentifikasi
selama dekade terakhir. Dalam penelitian ini item pertanyaan tidak semuanya
diadopsi, namun disesuaikan dengan kondisi sampel penelitian. Pertanyaan
terutama yang berhubungan dengan gejala-gejala stres yang dialami keluarga
baik secara fisik, psikis, kognitif dan perilaku yang diakibatkan oleh bencana
gempa dan tsunami.
Model Stres Keluarga
Model ABCX dari McCubbin dan Patterson (1980) merupakan bentuk
pengembangan dari teori ABCX-nya Hill. Mengingat teori Hill meliputi variabelvariabel krisis, teori McCubbin dan Patterson menjelaskan perbedaan dalam
adaptasi keluarga pasca krisis. Setiap variabel asli (ABCX) diuji kembali dan
definisi-definisinya dimodifikasi. Setiap variabel dalam model digambarkan secara
ringkas pada Gambar 1.
CC

CCC

PSC

XX

AA
Keterangan :
X = Krisis keluarga/masalah keluarga
R = Tingkat regeneratif keluarga
T = Tipologi keluarga
AA = Setumpuk stresor keluarga
BB = Sumberdaya coping keluarga
BBB = Dukungan sosial
CC= Persepsi rumahtangga terhadap stresor
CCC = Skema keluarga
XX = Adaptasi Keluarga
PSC = Penyelesaian masalah keluarga

BB

BBB

Gambar 1. Model T ganda ABCX (McCubbin & Patterson, 1980)

14
Dalam Model ABCX T ganda setumpuk stresor keluarga (AA)

yaitu

beberapa stresor utama, yang bertumpuk menjadi stresor keluarga", ini


berpengaruh penting dalam tingkat adaptasi keluarga, karena krisis keluarga
berkembang dan berubah dalam satu kurun waktu, penumpukan stresor (AA)
juga diakibatkan oleh perubahan siklus hidup dan ketegangan yang tidak terselesaikan.
Persepsi keluarga terhadap stresor (CC) pada dasarnya menyangkut
penilaian keluarga terhadap stres yang dialami. Penilaian dan adanya tuntutan
keluarga, secara sadar atau tidak sadar memunculkan interpretasi dari
pengalaman sebelumnya. Untuk memenuhi berbagai tuntutan, keluarga memiliki
potensi yaitu sumberdaya dan kemampuan. Dalam model ABCX T ganda,
sumberdaya dan kemampuan keluarga terdiri dari sumberdaya pribadi anggota
keluarga dan sumber-sumber internal dan sistem keluarga (faktor BBB)
mencakup semua karakteristik, kompetensi dan makna personal termasuk
pendidikan, kesehatan, karakteristik kepribadian dan dukungan masyarakat
yang merupakan lembaga di luar keluarga yang dapat diakses untuk memenuhi
tuntutan keluarga.
Dalam model ABCX T ganda, faktor tipologi keluarga menjadi suatu hal
penting karena tipologi keluarga (faktor T) merupakan suatu kekuatan yang dapat
mempengaruhi bagaimana penyesuaian dan adaptasi keluarga dilakukan, karena
keluarga memegang teguh kepercayaan atau asumsi-asumsi yang disebut skema
keluarga yakni hubungan satu sama lain dan hubungan keluarga dengan
masyarakat dan sistem. Untuk mengatasi berbagai stresor dan krisis, keluarga
melakukan coping adaptif (PSC). Dalam proses coping keluarga mengalokasikan
sumberdaya dan kemampuan semua anggota keluarganya untuk memenuhi
berbagai tuntutan yang dihadapi keluarga.
Adaptasi Keluarga (XX) dalam model ABCX Ganda terdiri dari tiga tingkat
analisis yaitu anggota keluarga (individu), unit keluarga dan komunitas.
Masing-masing unit ini memiliki tuntutan dan kemampuan. Adaptasi keluarga
dicapai lewat hubungan timbal balik, tuntutan dari satu unit keluarga dipenuhi
lewat kemampuan dari yang lain, untuk mencapai suatu keseimbangan secara
simultan pada dua tingkat interaksi primer antara individu dan sistem keluarga
dan antara sistem keluarga dengan komunitas diperlukan adanya adaptasi
keluarga. Adaptasi keluarga (faktor XX) merupakan outcome dari upaya keluarga
untuk mencapai tingkatan baru dari keseimbangan dan penyesuaian setelah krisis

15
keluarga. Dalam penelitian ini Model ABCX dari McCubbin dan Patterson (1980),
dijadikan sebagai kerangka konseptual yang melandasi pembuatan kerangka
berpikir operasional.
Coping
Pengertian Coping
Coping adalah perilaku yang terlihat dan tersembunyi yang dilakukan
seseorang untuk mengurangi atau menghilangkan ketegangan psikologi dalam
kondisi yang penuh stres (Achir Yani, 1997). Menurut Sarafino (2002), coping
adalah usaha untuk menetralisasi atau mengurangi stres yang terjadi. Dalam
pandangan Haber dan Runyon (1984), coping adalah semua bentuk perilaku dan
pikiran (negatif atau positif) yang dapat mengurangi kondisi yang membebani
individu agar tidak menimbulkan stres.
Lazarus dan Folkman (1984) mengatakan bahwa keadaan stres yang
dialami seseorang akan menimbulkan efek yang kurang menguntungkan baik
secara fisiologis maupun psikologis. Individu tidak akan membiarkan efek negatif
ini terus terjadi, ia akan melakukan suatu tindakan untuk mengatasinya. Tindakan
yang diambil individu dinamakan strategi coping. Strategi coping sering
dipengaruhi oleh latar belakang budaya, pengalaman dalam menghadapi
masalah, faktor lingkungan, kepribadian, konsep diri, faktor sosial dan lain-lain
sangat

berpengaruh

pada

kemampuan

individu

dalam

menyelesaikan

masalahnya.
Dari beberapa pengertian coping yang telah dikemukakan di atas dapat
disimpulkan bahwa coping merupakan (1) respon perilaku dan fikiran terhadap
stres; (2) penggunaan sumber yang ada pada diri individu atau lingkungan
sekitarnya; (3) pelaksanaannya dilakukan secara sadar oleh individu dan (4)
bertujuan untuk mengurangi atau mengatur konflik-konflik yang timbul dari diri
pribadi dan di luar dirinya (internal or external conflict), sehingga dapat
meningkatkan kehidupan yang lebih baik. Perilaku coping dapat juga dikatakan
sebagai transaksi yang dilakukan individu untuk mengatasi atau mengurangi
berbagai tuntutan (internal dan eksternal) sebagai sesuatu yang membebani dan
mengganggu kelangsungan hidupnya.

16
Strategi Coping
Strategi coping bertujuan untuk mengatasi situasi dan tuntutan yang dirasa
menekan, menantang, membebani dan melebihi sumberdaya (resources) yang
dimiliki. Sumberdaya coping yang dimiliki mempengaruhi strategi coping. Menurut
John, Catherine dan MacArthur (1998), ada dua jenis mekanisme coping yang
dilakukan individu yaitu coping yang berpusat pada masalah (problem focused
form of coping mechanism/direct action) dan coping yang berpusat pada emosi
(emotion focused of coping/palliatif form).
Menurut Stuart dan Sundeen (1991), yang termasuk mekanisme coping
yang berpusat pada masalah adalah:
(1) Konfrontasi (Confrontative) adalah usaha-usaha untuk mengubah keadaan
atau menyelesaikan masalah secara agresif dengan menggambarkan tingkat
kemarahan serta pengambilan resiko.
(2) Isolasi. Individu berusaha menarik diri dari lingkungan atau tidak mau tahu
dengan masalah yang dihadapi.
(3) Kompromi. Mengubah keadaan secara hati-hati, meminta bantuan kepada
keluarga dekat dan teman sebaya atau bekerja sama dengan mereka.
Mekanisme coping yang berpusat pada emosi menurut Stuart dan
Sundeen (1991) adalah sebagai berikut:
(1) Denial, menolak masalah dengan mengatakan hal tersebut tidak terjadi pada
dirinya.
(2) Rasionalisasi, menggunakan alasan yang dapat diterima oleh akal dan
diterima oleh orang lain untuk menutupi ketidakmampuan dirinya. Dengan
rasionalisasi kita tidak hanya dapat membenarkan apa yang kita lakukan,
tetapi juga merasa sudah selayaknya berbuat demikian secara adil.
(3) Kompensasi, menunjukkan tingkah laku untuk menutupi ketidakmampuan
dengan menonjolkan sifat yang baik, karena frustasi dalam suatu bidang
maka dicari kepuasan secara berlebihan dalam bidang lain. Kompensasi
timbul karena adanya perasaan kurang mampu.
(4) Represi, yaitu dengan melupakan masa-masa yang tidak menyenangkan dari
ingatannya dan hanya mengingat waktu-waktu yang menyenangkan
(5) Sublimasi, yaitu mengekspresikan atau menyalurkan perasaan, bakat atau
kemampuan dengan sikap positif.
(6) Identifikasi, yaitu meniru cara berfikir, ide dan tingkah laku orang lain.

17
(7) Regresi, yaitu sikap seseorang yang kembali ke masa lalu atau bersikap
seperti anak kecil
(8) Proyeksi, yaitu menyalahkan orang lain atas kesulitannya sendiri atau
melampiaskan kesalahannya kepada orang lain
(9) Konversi, yaitu mentransfer reaksi psikologi ke gejala fisik.
(10) Displacement, yaitu reaksi emosi terhadap seseorang kemudian diarahkan
kepada seseorang lain
Menurut Lazarus dan Folkman (1984), secara umum strategi coping dapat
dibagi menjadi dua yakni:
(1) Strategi coping berfokus pada masalah. Strategi coping berfokus pada
masalah adalah suatu tindakan yang diarahkan kepada pemecahan masalah.
Individu akan cenderung menggunakan perilaku ini bila dirinya menilai
masalah yang dihadapinya masih dapat dikontrol dan dapat diselesaikan.
Yang termasuk strategi coping berfokus pada masalah adalah:
(a) Planful problem solving yaitu bereaksi dengan melakukan usaha-usaha
tertentu yang bertujuan untuk mengubah keadaan, diikuti pendekatan
analitis dalam menyelesaikan masalah. Contohnya seseorang yang
melakukan coping planful problem solving akan bekerja dengan penuh
konsentrasi dan perencanaan yang cukup baik serta mau merubah gaya
hidupnya agar masalah yang dihadapi secara berlahan-lahan dapat
terselesaikan.
(b) Confrontative coping yaitu bereaksi untuk mengubah keadaan yang dapat
menggambarkan tingkat risiko yang harus diambil. Contohnya seseorang
yang melakukan coping confrontative akan menyelesaikan masalah
dengan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan yang berlaku
walaupun kadang kala mengalami resiko yang cukup besar.
(c) Seeking social support yaitu bereaksi dengan mencari dukungan dari pihak
luar, baik berupa informasi, bantuan nyata, maupun dukungan emosional.
Contohnya seseorang yang melakukan coping seeking social support akan
selalu berusaha menyelesaikan masalah dengan cara mencari bantuan
dari orang lain di luar keluarga seperti teman, tetangga, pengambil
kebijakan dan profesional, bantuan tersebut bisa berbentuk fisik dan non
fisik.
Perilaku coping yang berpusat pada masalah cenderung dilakukan jika
individu merasa bahwa sesuatu yang kontruktif dapat dilakukan terhadap situasi

18
tersebut atau ia yakin bahwa sumberdaya yang dimiliki dapat mengubah situasi,
contoh penelitian yang dilakukan oleh Ninno et al. (1998), yakni strategi coping
yang digunakan rumahtangga dalam mengatasi masalah kekurangan pangan
akibat banjir besar di Bangladesh adalah strategi coping berpusat pada masalah
yaitu: melakukan pinjaman dari bank, membeli makanan dengan kredit,
mengubah perilaku makan dan menjual aset yang masih dimiliki.
(2) Strategi coping berfokus pada emosi (Lazarus & Folkman, 1984) adalah
melakukan usaha-usaha yang bertujuan untuk memodifikasi fungsi emosi
tanpa melakukan usaha mengubah stressor secara langsung. Yang termasuk
strategi coping berfokus pada emosi adalah:
(a) Positive reappraisal (memberi penilaian positif), adalah bereaksi dengan
menciptakan makna positif yang bertujuan untuk mengembangkan diri
termasuk melibatkan diri dalam hal-hal yang religius. Contohnya adalah
seseorang yang melakukan coping positive reappraisal akan selalu berfikir
positif dan mengambil hikmahnya atas segala sesuatu yang terjadi dan
tidak pernah menyalahkan orang lain serta bersyukur dengan apa yang
masih dimilikinya
(b) Accepting responsibility (penekanan pada tanggung jawab) yaitu bereaksi
dengan menumbuhkan kesadaran akan peran diri dalam permasalahan
yang dihadapi, dan berusaha mendudukkan segala sesuatu sebagaimana
mestinya. Contohnya adalah seseorang yang melakukan coping accepting
responsibility akan menerima segala sesuatu yang terjadi saat ini sebagai
nama mestinya dan mampu menyesuaikan diri dengan kondisi yang
sedang dialaminya
(c) Self controlling (pengendalian diri) yaitu bereaksi dengan melakukan
regulasi baik dalam perasaan maupun tindakan. Contohnya adalah
seseorang yang melakukan coping ini untuk penyelesaian masalah akan
selalu berfikir sebelum berbuat sesuatu dan menghindari untuk melakukan
sesuatu tindakan secara tergesa-gesa
(d) Distancing (menjaga jarak) agar tidak terbelenggu oleh permasalahan.
Contohnya

adalah

seseorang

yang

melakukan

coping

ini

dalam

penyelesaian masalah, terlihat dari sikapnya yang kurang peduli terhadap


persoalan yang sedang dihadapi bahkan mencoba melupakannya seolaholah tidak pernah terjadi apa-apa.

19
(e) Escape avoidance (menghindarkan diri) yaitu menghindar dari masalah
yang dihadapi. Contohnya adalah seseorang yang melakukan coping ini
untuk

penyelesaian

masalah,

terlihat

dari

sikapnya

yang

selalu

menghindar dan bahkan sering kali melibatkan diri kedalam perbuatan


yang negatif seperti tidur terlalu lama, minum obat-obatan terlarang dan
tidak mau bersosialisasi dengan orang lain
Perilaku coping yang berpusat pada emosi cenderung dilakukan bila
individu merasa tidak dapat mengubah situasi yang menekan dan hanya dapat
menerima situasi tersebut karena sumberdaya yang dimiliki tidak mampu
mengatasi situasi tersebut, contohnya masih dalam penelitian yang dilakukan oleh
Ninno et al. (1998), yakni strategi coping yang digunakan rumahtangga dalam
mengatasi masalah pangan akibat banjir besar di Bangladesh berpusat pada
emosi adalah pasrah menerima apa adanya, berdoa dan mengharapkan bantuan,
simpati dan belas kasihan dari masyarakat dan pemerintah.
Jenis coping mana yang akan digunakan dan bagaimana dampaknya,
sangat tergantung pada jenis stres atau masalah yang dihadapi. Pada situasi
yang masih dapat berubah secara konstruktif (seperti mengalami kelaparan akibat
bencana) strategi yang digunakan adalah problem focused. Pada situasi yang sulit
seperti kematian pasangan, strategi coping yang dipakai adalah emotion focused,
karena diharapkan individu lebih banyak berdoa, bersabar dan tawakkal.
Keberhasilan atau kegagalan dari coping

tersebut akan menentukan apakah

reaksi terhadap stres akan menurun dan terpenuhinya berbagai tuntutan yang
diharapkan.
Menurut Friedman (1998), terdapat dua tipe strategi coping keluarga, yaitu
internal atau intrafamilial dan eksternal atau ekstrafamilial. Ada tujuh strategi
coping internal, yaitu :
(1) Mengandalkan kemampuan sendiri dari keluarga. Untuk mengatasi berbagai
masalah yang dihadapinya, keluarga seringkali melakukan upaya untuk
menggali dan mengandalkan sumberdaya yang dimiliki. Keluarga melakukan
strategi ini dengan membuat struktur dan organisasi dalam keluarga, yakni
dengan membuat jadwal dan tugas rutinitas yang dipikul oleh setiap anggota
keluarga yang lebih ketat. Hal ini diharapkan setiap anggota keluarga dapat
lebih disiplin dan patuh, mereka harus memelihara ketenangan dan dapat
memecahkan masalah, karena mereka yang bertanggung jawab terhadap diri
mereka sendiri.

20
(2) Penggunaan humor. Menurut Hott (Friedman, 1998), perasaan humor
merupakan aset yang penting dalam keluarga karena dapat memberikan
perubahan sikap keluarga terhadap masalah yang dihadapi. Humor juga diakui
sebagai suatu cara bagi seseorang untuk menghilangkan rasa cemas dan
stres.
(3) Musyawarah bersama (memelihara ikatan keluarga). Cara untuk mengatasi
masalah dalam keluarga adalah: adanya wak-tu untuk bersama-sama dalam
keluarga, saling mengenal, membahas masalah bersama, makan malam
bersama, adanya kegiatan bersama keluarga, beribadah bersama, bermain
bersama, bercerita pada anak sebelum tidur, menceritakan pengalaman
pekerjaan maupun sekolah, tidak ada jarak diantara anggota keluarga. Cara
seperti ini dapat membawa keluarga lebih dekat satu sama lain dan
memelihara serta dapat mengatasi tingkat stres, ikut serta dengan aktivitas
setiap anggota keluarga merupakan cara untuk menghasilkan suatu ikatan
yang kuat dalam sebuah keluarga.
(4) Memahami suatu masalah. Salah satu cara untuk menemukan coping yang
efektif adalah menggunakan mekanisme mental dengan memahami masalah
yang dapat mengurangi atau menetralisir secara kognitif terhadap bahaya
yang dialami. Menambah pengetahuan keluarga merupakan cara yang paling
efektif untuk mengatasi stresor yaitu dengan keyakinan yang optimis dan
penilaian yang positif. Menurut Folkman et al. (Friedman, 1998), keluarga yang
menggunakan strategi ini cenderung melihat segi positif dari suatu kejadian
yang penyebab stres.
(5) Pemecahan

masalah

bersama.

Pemecahan

masalah

bersama

dapat

digambarkan sebagai suatu situasi dimana setiap anggota keluarga dapat


mendiskusikan masalah yang dihadapi secara bersama-sama dengan
mengupayakan solusi atas dasar logika, petunjuk, persepsi dan usulan dari
anggota keluarga yang berbeda untuk mencapai suatu kesepakatan.
(6) Fleksibilitas peran. Fleksibilitas peran merupakan suatu strategi coping yang
kokoh untuk mengatasi suatu masalah dalam keluarga. Pada keluarga yang
berduka, fleksibilitas peran adalah sebuah strategi coping fungsional yang
penting untuk membedakan tingkat berfungsinya sebuah keluarga.
(7) Normalisasi. Salah satu strategi coping keluarga yang biasa dilakukan untuk
menormalkan keadaan sehingga keluarga dapat melakukan coping terhadap
sebuah stressor jangka panjang yang dapat merusak kehidupan dan kegiatan

21
keluarga. Knafl dan Deatrick (Friedman, 1998), mengatakan bahwa normalisasi merupakan cara untuk mengkonseptualisasikan bagaimana keluarga
mengelola ketidakmampuan seorang anggota keluarga, sehingga dapat
menggambarkan respons keluarga terhadap stres.
Strategi coping eksternal ada empat yaitu:
(1) Mencari informasi. Keluarga yang mengalami masalah rnemberikan respons
secara kognitif dengan mencari pengetahuan dan informasi yang berubungan
dengan stresor. Hal ini berfungsi untuk mengontrol situasi dan mengurangi
perasaan takut terhadap orang yang tidak dikenal dan membantu keluarga
menilai stresor secara lebih akurat.
(2) Memelihara hubungan aktif dengan komunitas. Coping berbeda dengan
coping yang menggunakan sistem dukungan sosial. Coping ini merupakan
suatu coping keluarga yang berkesinambungan, jangka panjang dan bersifat
umum, bukan sebuah coping yang dapat meningkatkan stresor spesifik
tertentu. Dalam hal ini anggota keluarga adalah pemimpin keluarga dalam
suatu kelompok, organisasi dan kelompok komunitas.
(3) Mencari pendukung sosial. Mencari pendukung sosial dalam jaringan kerja
sosial keluarga merupakan strategi coping keluarga eksternal yang utama.
Pendukung sosial ini dapat diperoleh dari sistem kekerabatan keluarga,
kelompok profesional, para tokoh masyarakat dan lain-lain yang didasarkan
pada kepentingan bersama. Menurut Caplan (Friedman, 1998), terdapat tiga
sumber umum dukungan sosial yaitu penggunaan jaringan dukungan sosial
informal, penggunaan sistem sosial formal, dan penggunaan kelompokkelompok mandiri. Penggunaan jaringan sistem dukungan sosial informal yang
biasanya diberikan oleh kerabat dekat dan tokoh masyarakat. Penggunaan
sistem sosial formal dilakukan oleh keluarga ketika keluarga gagal untuk
menangani masalahnya sendiri, maka keluarga harus dipersiapkan untuk
beralih kepada profesional bayaran untuk memecahkan masalah. Penggunaan
kelompok mandiri sebagai bentuk dukungan sosial dilakukan melalui
organisasi.
(4) Mencari dukungan spiritual. Beberapa studi mengatakan keluarga berusaha
mencari dukungan spiritual anggota keluarga untuk mengatasi masalah.
Kepercayaan kepada Tuhan dan berdoa merupakan cara paling penting bagi
keluarga dalam mengatasi stres.

22
Strategi coping yang dikemukakan oleh Stuart dan Sundeen (1991) dan
Lazarus dan Folkman (1984) memiliki beberapa persamaan yaitu secara garis
besar strategi coping dilakukan dengan dua cara yaitu berfokus pada masalah
dan berfokus pada emosi. Coping berfokus pada masalah menurut Stuart dan
Sundeen (1991) dapat dilakukan dengan cara

konfrontasi dan kompromi, hal

yang sama juga dikatakan oleh Lazarus dan Folkman (1984) bahwa coping
berfokus pada masalah dapat dilakukan dengan confrontative dan seeking social
support. Kedua jenis strategi coping memiliki pengertian yang sama. Selain
persamaan ada juga perbedaan dari kedua pendapat tersebut yaitu pada coping
yang berfokus pada masalah yang dikemukakan oleh Stuart dan Sundeen (1991)
menambahkan strategi coping Isolasi dan Lazarus dan Folkman (1984)
memasukkan planful problem solving, kedua coping tersebut memiliki pengertian
yang bertolak belakang.
Persamaan coping yang berfokus pada emosi yang dikemukakan oleh
Stuart dan Sundeen dengan Lazarus dan Folkman yaitu pada hal-hal yang positif
yakni

identifikasi

dan

sublimasi

dengan

positive

reappraisal,

accepting

responsibility dan self controlling. Perbedaan kedua pendapat tersebut adalah


strategi coping berfokus pada emosi yang dikemukakan oleh Stuart dan Sundeen
lebih banyak yang mengarah kepada perilaku yang negatif atau tidak
menguntungkan seperti denial, rasionalisasi, kompensasi, represi, regresi,
konversi, proyeksi dan displacement. Strategi coping yang berfokus pada emosi
yang dikemukakan oleh Lazarus dan Folkman lebih banyak hal-hal yang positif
seperti positive reappraisal, accenting responsibility dan self controlling.
Coping yang dikemukakan oleh Friedman tidak jauh berbeda dengan
coping yang dikemukakan oleh Lazarus dan Folkman. Strategi coping dengan
cara memahami suatu masalah dan mencari dukungan spiritual memiliki
pengertian

yang

sama

dengan

coping

positive

reappraisal.

Accepting

responsibility memiliki pengertian yang sama dengan pemecahan masalah


bersama. Mencari informasi sama dengan self controlling. Seeking social support
sama maksudnya dengan mencari pendukung sosial. Walaupun banyak
persamaan jenis coping yang dikemukakan oleh dua tokoh tersebut masih ada
perbedaan yaitu adanya perilaku coping yang negatif yang dikemukakan oleh
Lazarus dan Folkman dan semua coping yang dikemukakan oleh Friedman
bersifat positif.

23
Dalam penelitian ini, strategi coping yang digunakan adalah strategi coping
yang dikemukakan oleh Lazarus dan Folkman karena dalam strategi coping ini
terlihat dengan jelas upaya penyelesaian masalah yang dilakukan melalui
starategi coping berfokus pada masalah yaitu melalui coping planful problem
solving. Selain itu strategi coping yang berfokus pada emosi lebih banyak ke arah
yang positif seperti

positive reappraisal, accenting responsibility dan self

controlling. Hal ini sangat sesuai dengan lokasi penelitian yang masyarakatnya
yang sebagian besar beragama islam.
Sumberdaya Coping
Sumberdaya mengandung dua arti yakni sumber dan daya, yang bermakna
sebagai sumber dari kekuatan, potensi dan kemampuan untuk mencapai suatu manfaat
dan tujuan. Dalam ilmu ekonomi didefinisikan sebagai input dari proses produksi
(Suratman, 1994/1995). Menurut Firebaugh dan Deacon (1988), sumber- daya
diartikan sebagai:
(1) Alat atau bahan yang mempunyai kemampuan untuk memenuhi atau
mencapai tujuan
(2) Bahan yang tersedia atau kemampuan potensial untuk mengatasi keadaan.
Bahan tersebut dapat bersifat materi atau non materi.
Dengan demikian sumberdaya merupakan alat dan potensi yang digunakan untuk
mencapai kebutuhan. Dalam keluarga sumberdaya terdiri atas:
(1) Unsur manusia: jumlah anggota keluarga, umur, jenis kelamin, hubungan antar
anggota dalam keluarga dan hubungan antara keluarga dengan keluarga lain,
dan faktor-faktor yang ada pada manusia seperti pengetahuan (knowledge),
keterampilan (skills) dan minat (intrest).
(2) Unsur materi: pendapatan berupa uang atau barang, kekayaan milik keluarga
dapat berupa lahan (pekarangan, kebun, sawah serta rumah yang dihuni
(3) Unsur waktu. Menurut Steidl dan Bratton (1968), waktu adalah salah satu
sumberdaya, sehingga pemanfaatan waktu perlu dikelola agar seluruh
kegiatan dapat dilaksanakan dengan tepat sesuai dengan tujuan yang
diinginkan.
Sumberdaya coping dapat diartikan segala sesuatu yang dimiliki keluarga
baik bersifat fisik dan non fisik untuk membangun perilaku coping. Sumberdaya
coping tersebut bersifat subjektif sehingga perilaku coping bisa bervariasi pada
setiap orang. Menurut Lazarus dan Folkman (1984), cara seseorang atau

24
keluarga melakukan strategi coping tergantung pada sumberdaya yang
dimiliki. Adapun sumberdaya tersebut antara lain:
(1) Kondisi kesehatan. WHO (1984) mendefinisikan sehat sebagai status kenyamanan
menyeluruh dari jasmani, mental dan sosial, dan bukan hanya tidak adanya penyakit
atau kecacatan. Kesehatan mental diartikan sebagai kemampuan berfikir jernih dan
baik,

dan

kesehatan

sosial

memiliki

kemampuan

untuk

berbuat

dan

mempertahankan hubungan dengan orang lain. Kesehatan jasmani adalah dimensi


sehat yang nyata dan memiliki fungsi mekanistik tubuh. Kondisi kesehatan sangat
diperlukan agar seseorang dapat melakukan coping dengan baik agar berbagai
permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik.
(2) Kepribadian adalah perilaku yang dapat diamati dan mempunyai ciri-ciri
biologi, sosiologi dan moral yang khas baginya yang dapat membedakannya
dari kepribadian yang lain (Littauer, 2002). Pendapat lain menyatakan bahwa
kepribadian adalah ciri, karakteristik, gaya atau sifat-sifat yang memang khas
dikaitkan dengan diri seseorang. Dapat dikatakan bahwa kepribadian itu
bersumber dari bentukan-bentukan yang terima dari lingkungan, misalnya
bentukan dari keluarga pada masa kecil dan juga bawaan sejak lahir misalnya
orang tua membiasakan anak untuk menyelesaikan pekerjaannya sendiri,
menyelesaikan

setiap

permasalahan

bersama-sama,

tidak

mudah

tersinggung/marah dan harus selalu bersikap optimis. Menurut Maramis


(1998), kepribadian dapat digolongkan menjadi dua yaitu: (a) Introvert,
adalah orang yang suka memikirkan tentang diri sendiri, banyak fantasi,
lekas merasakan kritik, menahan ekspresi emosi, lekas tersinggung dalam
diskusi, suka membesarkan kesalahannya, analisis dan kritik terhadap diri
sendiri dan pesimis; dan (b) Ekstrovert, adalah orang yang melihat kenyataan
dan keharusan, tidak lekas merasakan kritikan, ekspresi emosinya spontan,
tidak begitu merasakan kegagalan, tidak banyak mengadakan analisis dan
kritik terhadap diri sendiri, terbuka, suka berbicara dan optimis.
(3) Konsep diri. Menurut Maramis (1998), konsep diri adalah semua ide, pikiran,
kepercayaan dan pendirian seseorang yang diketahui dalam berhubungan
dengan orang lain. Konsep diri dipelajari melalui kontak sosial dan
pengalaman berhubungan dengan orang lain misalnya orang tua yang
menginginkan anak-anaknya tetap sekolah walaupun dalam keadaan
darurat, sehingga berupaya keras mencarikan sekolah untuk anaknya.

25
(4) Dukungan sosial adalah adanya keterlibatan orang lain dalam menyelesaikan
masalah. Individu melakukan tindakan kooperatif dan mencari dukungan dari
orang lain, karena sumberdaya sosial menyediakan dukungan emosional,
bantuan nyata dan bantuan informasi. Menurut Cronkite dan Moos (Holahan &
Moos, 1987), orang yang mempunyai cukup sumberdaya sosial cenderung
menggunakan strategi problem-focused coping dan meng- hindari strategi
avoidance coping dalam menyelesaikan berbagai masalah.
(5) Aset ekonomi. Keluarga yang memiliki aset ekonomi akan mudah dalam melakukan coping untuk penyelesaian masalah yang sedang dihadapi. Namun
demikian, tidak berimplikasi terhadap bagaimana keluarga tersebut dapat
menggunakannya (Lazarus & Folkman, 1984). Menurut Bryant (1990) aset
adalah sumberdaya atau kekayaan yang dimiliki keluarga. Aset akan berperan
sebagai alat pemuas kebutuhan. Oleh karena itu, keluarga yang memiliki
banyak aset cenderung lebih sejahtera jika dibandingkan dengan keluarga
yang memilki aset terbatas.
Dalam penelitian ini sumberdaya coping yang digunakan adalah karakteristik sosial ekonomi

(jumlah anggota keluarga, umur, pendidikan ayah/ibu,

pekerjaan, pendapatan keluarga, aset ekonomi, dan tingkat kesehatan), ciri-ciri


pribadi (kepribadian dan konsep diri) dan dukungan sosial.

Keberfungsian Keluarga
Definisi Keluarga
Definisi keluarga menurut Mattesssich da Hill (Zetlin et al., 1995) adalah
suatu kelompok yang berhubungan dengan kekerabatan, tempat tinggal, dan
hubungan emosional yang sangat dekat yang memperlihatkan empat hal yaitu
hubungan intim, memelihara batas-batas yang terseleksi, mampu untuk
beradaptasi dengan perubahan dan memelihara identitas sepanjang waktu, dan
memelihara tugas-tugas keluarga. Para ahli keluarga seperti Gelles (1995); Vosler
(1996); Day et al. (1995) dan UU Nomor 10 Tahun 1992 Pasal 1 Ayat 10,
mendefinisikan keluarga sebagai unit sosial-ekonomi terkecil dalam masyarakat
yang merupakan landasan dari semua institusi, yang merupakan kelompok primer
yang terdiri dari dua atau lebih orang yang mempunyai jaringan interaksi
interpersonal, hubungan darah, hubungan darah dan adopsi.

26
Menurut BKKBN (1997), keluarga yang sejahtera diartikan sebagai
keluarga yang dibentuk berdasarkan atas ikatan perkawinan yang sah, mampu
memenuhi kebutuhan fisik dan mental yang layak, bertakwa kepada Tuhan yang
Maha Esa serta memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar
anggota keluarga, dan antar keluarga dengan masyarakat dan lingkungannya.
Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat, memiliki kewajiban untuk
memenuhi kebutuhan anak-anaknya yang meliputi pendidikan, agama, kesehatan
dan lain sebagainya.
Ruang Lingkup Ilmu Keluarga
Ilmu keluarga secara ontologi membatasi lingkup penelaahan keilmuannya
pada jangkauan fenomena serta interpretasi atau penafsiran hakekat realitas dari
objek kegiatan organisasi kehidupan yang paling primer yang disebut keluarga.
Objek formal dari ilmu keluarga adalah (1) terjadinya/terbentuknya keluarga
(perkawinan); (2) memelihara keluarga (mengusahakan makanan, pakaian,
perumahan, pendidikan/pengasuhan, kesehatan, dan lain-lain); (3) meningkatkan
mutu/kualitas keluarga dan anggota-anggotanya (interaksi antar anggota dalam
keluarga, keluarga dengan keluarga lain dan masyarakat luas); (4) tingkat
kehidupan yang dicapai, kualitas individu-individu yang akan terjun ke masyarakat
luas dan/atau membentuk keluarga-keluarga baru (produk yang dihasilkan).
Dilihat dari segi epistemologi tampak bahwa ilmu keluarga dalam
memperoleh, menilai dan memahami fenomena serta realitas dari fenomena
obyek formalnya (misalnya, pola asuh anak dalam keluarga, interaksi antar
anggota dalam keluarga yang berakibat keharmonisan atau konflik, perilaku
keluarga pada setiap perubahan strukturnya) menerapkan metode-metode ilmiah
secara konsisten, sehingga dicapai hasil yang obyektif, rasional, logis, empiris,
pragmatis dan transparan. Secara aksiologi, ilmu keluarga merupakan alat untuk
meningkatkan kualitas sumberdaya manusia seutuhnya dalam konteks kehidupan
keluarga dan interaksinya dengan lingkungan. Biasanya kajian dalam ilmu
keluarga akan berkaitan dengan ilmu ekonomi, sosiologi, psikologi, hukum,
bisnis.dan biologi/ekologi.
Landasan Teori (Struktural Fungsional)
Para sosiolog ternama seperti William F Ogburn dan Talcott Parsons
mengemukakan pentingnya pendekatan struktural fungsional dalam kehidupan

27
keluarga saat ini, karena pendekatan ini mengakui adanya segala keragaman
dalam kehidupan sosial yang kemudian diakomudasi dalam fungsi yang sesuai
dengan posisi seseorang dalam struktur sebuah sistem

(Megawangi, 1999).

Newman dan Grauerholz (2002) mengatakan bahwa pendekatan teori struktural


fungsional dapat digunakan untuk menganalisis peran keluarga agar dapat
berfungsi dengan baik dan menjaga keutuhan keluarga dan masyarakat. Macionis
(1995) mengatakan pendekatan teori struktural fungsional juga menganalisis
adanya penyimpangan, misalnya penyimpangan nilai-nilai budaya dan norma,
kemudian memperhitungkan seberapa besar penyimpangan dapat berkontribusi
pada stabilitas atau perubahan sosial.
Menurut Megawangi (1999), konsep teori struktural fungsional antara lain:
(1) Setiap subsistem, elemen atau individu dalam sebuah sistem mempunyai
peran dan konstribusi kepada sebuah sistem secara keseluruhan
(2) Adanya saling keterkaitan antar subsistem, elemen atau individu dalam sebuah
sistem (Interdepedensi)
(3) Keterkaitan antar subsistem, elemen atau individu dicapai melalui konsensus
daripada konflik
(4) Untuk mencapai keseimbangan diperlukan keteraturan atau integrasi antar
subsistem, elemen atau individu
(5) Untuk mencapai keseimbangan baru diperlukan adanya perubahan secara
evolusioner.
Penganut teori ini melihat sistem sosial sebagai sistem yang harmonis,
berkelanjutan, dan senantiasa menuju kepada suatu keseimbangan, konsep dari
keseimbangan mengacu kepada konsep homeostasis suatu organisme, yaitu
kemampuan untuk menjaga stabilitas agar kelangsungan sistem tetap terjaga
(Winton, 1995). Teori struktural fungsional menjadi keharusan yang harus ada
agar keseimbangan sistem tercapai baik pada tingkat masyarakat maupun pada
tingkat keluarga. Adanya struktur atau strata dalam keluarga dimana masingmasing individu mengetahui dimana posisinya, dan patuh pada sistem nilai yang
melandasi struktur dapat menciptakan ketertiban sosial. Menurut Megawangi
(1999), ada tiga elemen utama dalam struktur internal keluarga, yaitu :
(1)

Berdasarkan

status

sosial,

keluarga inti biasanya mencakup tiga struktur utama, yaitu bapak/suami


(pencari nafkah), ibu/istri (ibu rumahtangga), dan anak-anak (balita, sekolah,
remaja, dewasa) serta hubungan timbal balik antar individu dengan status

28
sosial berbeda.
(2) Konsep peran sosial menggambarkan peran masing-masing individu menurut
status sosialnya dalam sebuah sistem. Ketidakseimbangan antara peran
instrumental (oleh suami/bapak) dan eksprensif (oleh istri/ibu) dalam keluarga
akan membuat keluarga tidak seimbang.
(3) Norma sosial adalah sebuah peraturan yang menggambarkan bagaimana
sebaiknya seseorang bertindak atau bertingkah laku dalam kehidupan
sosialnya. Norma sosial berasal dari dalam masyarakat itu sendiri yang
merupakan bagian dari kebudayaan. Setiap keluarga dapat mempunyai norma
sosial yang spesifik untuk keluarga tersebut, misalnya norma sosial dalam hal
pembagian tugas dalam rumahtangga, yang merupakan bagian dari struktur
keluarga untuk mengatur tingkah laku setiap anggota dalam keluarga.
Fungsi Keluarga
Salah satu aspek penting dari perspektif struktural-fungsional adalah dalam
setiap keluarga yang sehat terdapat pembagian peran atau fungsi yang jelas,
fungsi tersebut terpolakan dalam sebuah struktur hirarkis yang harmonis, dan
komitmen terhadap terselenggaranya peran atau fungsi itu. Peran adalah
sejumlah kegiatan yang diharapkan bisa dilakukan oleh setiap anggota keluarga
sebagai subsistem keluarga dengan baik untuk mencapai tujuan sistem.
Keluarga sebagai sebuah sistem sosial mempunyai tugas atau fungsi agar
sistem tersebut berjalan. Tugas tersebut berkaitan dengan pencapaian tujuan,
integritas dan solidaritas, serta pola kesinambungan atau pemeliharaan keluarga
(Megawangi, 1999). Resolusi Majelis Umum PBB menguraikan fungsi utama
keluarga adalah Keluarga sebagai wahana untuk mendidik, mengasuh dan
sosialisasi anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat
menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik, serta memberikan kepuasan
dan lingkungan sosial yang sehat guna tercapainya keluarga sejahtera
(Megawangi, 1994). Agar fungsi keluarga berada pada kondisi optimal, perlu
peningkatan fungsionalisasi dan struktur yang jelas, yaitu suatu rangkaian peran
dimana sistem sosial dibangun.
Di Indonesia, PP Nomor 21 tahun 1994 tentang Penyelenggaraan
Pembangunan Keluarga Sejahtera menjelaskan bahwa keluarga adalah unit
terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami, istri dan anaknya, atau ayah

29
dan anaknya, atau ibu dan anaknya. Menurut BKKBN (1997), fungsi keluarga
secara umum diarahkan sebagai berikut:
(1) Fungsi Keagamaan, keluarga perlu memberikan dorongan kepada seluruh
anggotanya agar kehidupan keluarga sebagai wahana persemaian nilai-nilai
agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa dan untuk menjadi insan-insan
agamais yang penuh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
(2) Fungsi Sosial Budaya, memberikan kesempatan kepada keluarga dan seluruh
anggotanya untuk mengembangkan kekayaan budaya bangsa yang beraneka
ragam dalam satu kesatuan.
(3) Fungsi Cinta Kasih, keluarga memberikan landasan yang kokoh terhadap
hubungan anak dengan anak, suami dengan isteri, orang tua dengan anaknya,
serta hubungan kekerabatan antar generasi sehingga keluarga menjadi wadah
utama bersemainya kehidupan yang penuh cinta kasih lahir dan batin.
(4) Fungsi Melindungi, dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa aman dan
kehangatan
(5) Fungsi Reproduksi, merupakan mekanisme untuk melanjutkan keturunan yang
direncanakan dapat menunjang terciptanya kesejahteraan manusia di dunia
yang penuh iman dan takwa.
(6) Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan, memberikan peran kepada keluarga untuk
mendidik keturunan agar bisa melakukan penyesuaian dengan alam
kehidupan di masa depan.
(7) Fungsi Ekonomi, menjadi unsur pendukung kemandirian dan ketahanan
keluarga.
(8) Fungsi

Pembinaan

Lingkungan,

memberikan

kepada

setiap

keluarga

kemampuan menempatkan diri secara serasi, selaras, dan seimbang sesuai


daya dukung alam dan lingkungan yang berubah.
Menurut Berns (1997), untuk memahami pentingnya keluarga kita harus
kembali kepada fungsi dasarnya. Secara umum, keluarga melakukan berbagai
fungsi yang memungkinkan masyarakat bertahan walaupun fungsi-fungsi tersebut
sangat beragam. Kesuksesan keluarga dapat dipandang sangat berfungsi dan
tidak sukses atau disfungsi. Keluarga yang mengalami stres berisiko mengalami
disfungsi kecuali mereka dapat memperoleh dukungan untuk berfungsi dengan
baik. Fungsi keluarga ada lima, yakni :
(1) Reproduksi. Keluarga menjamin bahwa populasi masyarakat akan stabil,
sehingga sejumlah anak akan terlahir dan dirawat untuk menggantikan mereka

30
yang telah meninggal
(2) Sosialisasi/Pendidikan. Keluarga menjamin bahwa nilai-nilai masyarakat,
kepercayaan, sikap, pengetahuan, keahlian dan teknologi akan ditransfer
kepada yang lebih muda
(3) Peran Sosial. Keluarga memberikan identitas bagi keturunannya (ras, etnis,

agama, sosial ekonomi dan peran gender). Sebuah identitas mencakup


perilaku dan kewajiban.
(4) Dukungan Ekonomi. Keluarga memberikan tempat berlindung, memelihara

dan melindungi. Pada beberapa keluarga, semua anggota keluarga kecuali


anak yang masih kecil memberikan kontribusi terhadap fungsi ekonomi melalui
produksi barang. Pada keluarga lainnya, salah satu atau kedua orang tua
membayar barang yang dibeli oleh semua anggota keluarga sebagai
konsumen
(5) Dukungan Emosional. Keluarga memberikan pengalaman pertama pada anak

dalam melakukan interaksi sosial. Interaksi ini dapat mengakrabkan,


mengasuh dan sekaligus memberikan jaminan emosional bagi anak, dan
perawatan keluarga bagi anggotanya ketika mereka sakit, luka dan tua.
Menurut Guhardja et al. (1989), keluarga bertanggung jawab dalam
menjaga anggotanya serta menumbuhkan dan mengembangkan kepribadian
anggota keluarganya. Kelanjutan dari suatu masyarakat dimungkinkan adanya
orang tua dan anak. Oleh sebab itu, tujuan kebanyakan rumahtangga dan keluarga adalah reproduksi, adopsi dan sosialisasi. Fungsi keluarga dapat diuraikan
sebagai berikut:
(1) Pemeliharaan dan dukungan terhadap anggota keluarga. Pangan, pakaian dan
tempat tinggal adalah kebutuhan dasar dari setiap individu yang harus
dipenuhi keluarga. Rumah dan sandang memberikan perlindungan dan
merupakan sumber ekspresi bagi individu. Pangan yang cukup diperlukan
untuk memenuhi kebutuhan gizi, sehingga mampu melaksanakan segala aktivitasnya. Memelihara kesehatan adalah juga tanggung jawab keluarga
(2) Perkembangan anggota keluarga. Dengan memperhatikan kebutuhan dasar
dari anggota keluarga, maka kesempataan berkembang yang lebih luas dapat
dibangun. Melalui kesempatan yang lebih banyak, individu dan keluarga akan
mendapatkan ekspresi yang lebih banyak dalam aspek budaya, intelektual dan
aspek sosial dari kehidupan mereka
Rice dan Tucker (1986) membagi fungsi keluarga menjadi dua fungsi

31
utama, yakni fungsi instrumental seperti memberikan nafkah dan memenuhi
kebutuhan biologis dan fisik kepada para anggota keluarga. Fungsi kedua adalah
fungsi ekspresif yaitu memenuhi kebutuhan psikologis, sosial dan emosi serta
pemenuhan kebutuhan psikologis seperti kasih sayang, kehangatan, aktualisasi
dan pengembangan diri anak.
Parsons dan Bales (Megawangi, 1999) menyatakan bahwa peran orang
tua dalam keluarga meliputi peran instrumental yang diharapkan dilakukan oleh
suami atau bapak dan peran emosional atau ekspresif yang biasanya dipegang
oleh figur istri atau ibu. Peran instrumental dikaitkan dengan peran pencari nafkah
untuk

kelangsungan

hidup

seluruh

anggota

keluarga.

Peran

ini

lebih

memfokuskan pada bagaimana keluarga menghadapi situasi eksternal. Dalam


keluarga inti suami sebagai pencari nafkah diharapkan memerankan peran ini
agar tujuan secara keseluruhan dapat tercapai. Peran emosional ekspresif adalah
peran memberi dan menerima, mencintai dan dicintai, kelembutan dan kasih
sayang. Peran ini bertujuan untuk dapat mengintegrasikan atau mencip- takan
suasana harmonis dalam keluarga serta meredam tekanan-tekanan yang terjadi
karena adanya interaksi sosial antar anggota keluarga atau antar individu di luar
keluarga. Suami diharapkan berada di luar rumah untuk mencari nafkah, istri
biasanya tinggal di rumah, maka istri diharapkan berperan memberikan
kedamaian agar integrasi dan keharmonisan dalam keluarga dapat tercapai.
Keseimbangan antara peran instrumental dan ekspresif dalam keluarga perlu
dijaga dan dipertahankan.
Parsons dan Bales (Nye & Berardon, 1967) mengemukakan bahwa kajian
tentang hubungan internal dalam sebuah keluarga berfokus pada pembagian
tugas dalam keluarga secara seksual, yakni antara fungsi ekspresif dan
instrumental. Pembedaan fungsi sebenarnya bukan hanya terkait dengan jenis
kelamin, tetapi juga dengan proses interaksi dalam pengambilan keputusan.
Proses interaksi ini menyebabkan spesialisasi dua jenis aktivitas yang berbeda,
yakni ekspresif dan instrumental.
Fungsi instrumental secara primer berkaitan dengan hubungan keluarga
dengan situasi eksternal dan penetapan hubungan keluarga. Menurut Slater
(1974), keterkaitan fungsi ini dengan proses atau upaya adaptasi keluarga dengan
situasi eksternal menyebabkan penyebutan fungsi ini menjadi fungsi instrumentaladaptif. Fungsi atau aktivitas ini menjadi peran utama dari ayah atau suami, dan
salah satu aspeknya adalah pencari nafkah (breadwinner).

32

Winch (Bigner, 1979) mengaitkan fungsi ini dengan fungsi kontrol, yang
didasarkan pada penerapan otoritas dan tanggung jawab orangtua terhadap
kesejahteraan anaknya. Fungsi kontrol merupakan mekanisme yang mendasari
proses sosialisasi anak dengan pola perilaku, nilai-nilai, norma sosial, dan sikap
yang dianggap baik dan penting bagi anak untuk adaptasi (child adjustment)
dengan lingkungan eksternal. Berdasarkan penjelasan Winch, maka fungsi dan
aktivitas instrumental-adaptif ini lebih luas. Ayah bukan saja dominan sebagai
pencari nafkah, tetapi juga sebagai agen utama sosialisasi ini, perilaku, sikap, dan
norma sosial.
Fungsi ekspresif dikaitkan terutama dengan solidaritas keluarga, hubungan
internal antar anggota keluarga, dan pemenuhan kebutuhan emosional-afeksional
anggota keluarga. Ibu atau istri dianggap paling dominan dalam melaksanakan
fungsi ini, karena itu dia dianggap menjadi simbol integratif keluarga. Penekanan
fungsi ini pada masalah integrasi keluarga menyebabkan ia disebut juga fungsi
ekspresif-integratif (Slater, 1974).
Winch (Bigner, 1979) mengaitkan fungsi ekspresif dengan fungsi pengasuhan (nurturance). Fungsi ini secara sempit diartikan sebagai kegiatan atau
penanganan aspek pemeliharaan (maintenance) anak sehari-hari seperti makan,
memandikan, dan mengenakan baju. Dalam pengertian yang lebih luas
pengasuhan

diartikan

sebagai

proses

psikologis

pemenuhan

kebutuhan

emosional-afeksional anak melalui ucapan (termasuk bercerita, menyanyi), tindakan, dan sentuhan fisik. Kegiatan ini sering dikaitkan dengan istilah penyediaan
kehangatan untuk anak.
Benson (Bigner, 1979) mengemukakan bahwa ibu yang baik juga melaksanakan bagian-bagian tertentu dari fungsi instrumental, ayah yang baik
melaksanakan aktivitas-aktivitas tertentu yang bersifat ekspresif. Parke (1996)
menjelaskan bahwa akhir-akhir ini fatherhood ideology dalam parenting semakin
fenomenal. Ini menandai bangkitnya sebuah era yang mengakui pentingnya
parenting yang dilakukan oleh ayah. Kecenderungan ini harus dipahami tidak
dalam konteks pergantian fungsi (role replacement). Ayah tetap dianggap sebagai
pelaku utama dari fungsi instrumental, yang dalam momen-momen tertentu dia
juga bisa terlibat dalam fungsi ekspresif.
Dari beberapa fungsi keluarga yang telah dikemukakan di atas ada
beberapa persamaan antara fungsi keluarga yang dikemukaan oleh BKKBN

33
(1997), Berns (1997), Guhardja et al. (1989) dan Rice dan Tucker (1986) yaitu :
(1)

sebagai

mekanisme

procreation

yaitu

mengadakan

keturunan

yang

selanjutnya melestarikan eksistensi masyarakat sebagai satu kesatuan, (2)


memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan dasar bagi anggota keluarganya
mulai dari sandang, pangan, perlindungan, pendidikan, kesehatan serta
kebutuhan emosional lainnya, dan (3) memberikan peran sosial dan keagamaan
dalam kehidupan bermasyarakat dan keikutsertaannya dalam mengabdikan
norma-norma sosial dan keagamaan melalui interaksi anak-anak dan orangtua
dalam keluarga dan interaksi keluarga dengan masyarakat serta interaksi dengan
Yang Maha Pencipta.
Perbedaan dari fungsi-fungsi keluarga yang telah disebutkan di atas terletak
pada peran orang tua (ayah dan ibu) untuk menjalankan fungsi keluarga. Rice dan
Tucker (1986) membagi dengan jelas fungsi keluarga menjadi dua yaitu fungsi
instrumental dan fungsi ekspresif. Fungsi instrumental yang diperankan oleh ayah
dan fungsi ekspresif diperankan oleh ibu. BKKBN (1997), Berns (1997), Guhardja
et al. (1989) tidak membagi dengan jelas masing-masing fungsi keluarga ke dalam
peran ayah dan ibu, sehingga untuk menjalankan semua fungsi tersebut dilakukan
bersama-sama. Dalam penelitian ini, fungsi keluarga yang digunakan adalah yang
dikemukakan oleh Rice dan Tucker (1986) dengan alasan peneliti ingin melihat
apakah kedua fungsi keluarga yaitu instrumental yang diperankan oleh ayah dan
ekspresif yang diperankan oleh ibu telah dapat dijalankan dengan baik pasca
terjadinya gempa dan tsunami.

34