Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Muslim dewasa ini menghadapi suatu masalah yang sangat dilematis.
Meskipun berpartisipasi aktif dalam dunia bisnis, namun dalam pikiran mereka juga
ada semacam ketidakpastian apakah praktek-praktek bisnis mereka benar menurut
pandangan Islam.Yang menjadi masalah yaitu bentuk-bentuk baru, institusi, metode
atau teknik-teknik bisnis yang sebelumnya belum pernah ada telah menyebabkan
keraguan tersebut, sehingga dalam beberapa kasus, mereka tetap mengikuti sistem
tersebut dengan perasaan bersalah karena mereka merasa tidak menemukan jalan
keluar.
Semua bentuk organisasi bisnis yang didalamnya dua orang atau lebih
bekerjasama dalam hal dana, kewiraswastaan, ketrampilan, dan niat baik untuk
menjalankan suatu usaha oleh para fuqaha dikategorikan dalam bentuk organsisasi
mudharabah ataupun syirkah.
Syirkah menurut bahasa berarti percampuran. Sedangkan menurut istilah
Syirkah berarti kerja sama antara dua orang atau lebih, dalam berusaha yang
keuntungan dan kerugiannya ditanggung bersama.
Secara etimologis, syirkah berarti mencampurkan dua bagian atau lebih
sedemikian rupa sehingga tidak dapat lagi dibedakan satu bagian dengan bagian
lainnya. Adapun menurut makna syariat, syirkah adalah suatu akad antara dua pihak
atau lebih, yang bersepakat untuk melakukan suatu usaha dengan tujuan memperoleh
keuntungan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa syirkah adalah suatu akad antara dua pihak atau
lebih untuk melakukan kerjasama untuk melakukan suatu usaha dengan tujuan
memperoleh keuntungan dan kerugiannya ditanggung bersama.
Syirkah dilihat sebagai perjanjian atas dasar uqud al-amanah (saling percaya),
ketulusan dan kejujuran mempunyai peran sentral dalam terlaksananya kerjasama ini.
Perintah kerja harus benar-benar dapat dipercaya agar dapat saling menguntungkan
dan setiap upaya untuk melakukan kecurangan dan pembagian pendapatan yang tidak
jujur harus didasari sebagai pelanggaran atas ajaran-ajaran Islam.
Kalau si pemilik uang telah merelakan uangnya itu untuk syirkah dengan
orang lain, maka dia harus berani menanggung segala resiko karena syirkahnya itu.
Dalam sebuah sistem perekonomian dengan perbedaan-perbedaan kekayaan yang
begitu substansial, dan pemberian pinjaman modal yang menginginkan keuntungan
1

tanpa terlibat resiko bisnis, adalah irrasional untuk dapat memberikan pinjaman
kepada orang miskin sama banyaknya seperti halnya yang diberikan kepada orangorang kaya, atau mengulurkan pinjaman sama banyaknya karena persyaratan yang
sama bagi keduanya, seperti tingkat suku bunga yang sama atau bahkan lebih tinggi
kepada pengusaha kecil dari pada yang dikenakan kepada pengusaha besar, dan
keharusan memiliki kolateral (jaminan) dengan nilai yang lebih tinggi dari pinjaman
modal dengan mengabaikan kenyataan apakah mereka akan menghasilkan
keuntungan di atas rata-rata dari investasi modal mereka. Hal ini merupakan sesuatu
yang buruk bagi masyarakat karena akan mengakibatkan pemihakan kepada satu kelas
sosial tertentu saja, dan menimbulkan kegagalan masyarakat dalam memanfaatkan
bakat wirausahanya secara maksimal.

B. RUMUSAN MASALAH
1;
2;
3;
4;
5;
6;

Apakah definisi syirkah ?


Apakah dasar hukum syiirkah ?
Apakah syarat dan rukun syirkah ?
Apakah macam macam syirkah ?
Apakah hukum syirkah ?
Apakah hal hal ayng membatalkan syirkah ?

C. TUJUAN
1;
2;
3;
4;
5;
6;

Mengetahui definisi syirkah


Mengetahui dasar hukum syirkah
Mengetahui syarat dan rukun syirkah
Mengetahui macam macam syirkah
Mengetahui hukum syirkah
Mengetahui hal hal yang membatalkan syirkah

BAB II
PEMBAHASAN

A; Definisi Syirkah
Syirkah secara bahasa berarti Al ikhtilath, yang artinya adalah campur atau
percampuran. Istilah percampuran di sini mengandung pengertian pada seseorang yang
mencampurkan hartanya denga harta orang lain, sehingga tidak mungkin untuk dibedakan.1
Secara etimologi, syirkah ataau perkongsian berarti :


percampuran, yakni bercampurnya salah satu dar dua harta dengan harta lainnya, tanpa
dapat dibedakan antara keduanya
Menurut terminologi, ulama fiqh beragam pendapat dalam mendefinisikan syirkah,
antara lain :
a; Menurut Malikiyah :2







Artinya :
Perkongsian adalah izin untuk mendayagunakan ( tasharruf ) harta yang dimilki dua
orang secara bersama sama oleh keduanya, yakni keduanya saling mengizinkan
kepada salah satunya untuk mendayagunakan harta milik keduanya, namun masing masing memiliki hak unutk bertasharruf.
b; Menurut Hanabilah :


Artinya :
Perimpunan adalah hak ( kewenangan ) atau pengolahan harta ( tasharruf ) .
c; Menurut Syafiiyah :

Artinya :
Ketetapan hak pada sesuatu yang dimilki dua orang atau lebih dengan cara yang
masyhur ( diketahui )
d; Menurut Hanafiyah :
1 Qamarul Huda, Fiqh Mumalah, hlm. 99
2 Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islam Wa Adillatuhu,juz 4, hlm. 792
3


Artinya : Ungkapan tentang adanya tranaksi ( akad ) antara dua orang yang bersekutu
pada pokok harta dan keuntungan.
Apabila diperhatikan secara seksama, definisi yang terakhir dapat dipandang
paling jelas, karena mengungkapkan hakikat perkongsian, yaitu transaksi ( akad ) .
Adapun pengertian lainnya tampaknya hanya menggambarkan tujuan, pengaruh, dan
hasil perkongsian.3

B; Dasar Hukum Syirkah


Landasan syirkah ( perseroan ) terdapat dalam Al Quran, Al Hadits , dan
Ijma, sebagai berikut :
a; Al Quran

Mereka bersekutu dalam yang sepertiga ( QS. An Nisa : 12 )

...


Sesungguhnya kebanyakan dari orang orang yang bersrikat itu sebagian
mereka berbuat zhalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang orang yang
beriman dan beramal shaleh dan amat sedikitlah mereka ini. ( QS . Shad : 24 )
b; As Sunnah
: : ..
( )

Dari Abu Hurairah yang dirafakan kepada Nabi SWT berfirman Aku adalah
yang ketiga pad dua orang yang bersekutu selama salah seorang dari keduanya
tidak mengkhianati temannya, Aku akan keluar dari persekutuan tersebut apabila
salah seorang mengkhianatinya ( HR. Abu Dawud dan Hakim dan menyahihkan
sanadnya ).
Maksudnya, Allah SWT akan menjaga dn menolong dua orang yang bersekutu
dan menurunkan berkah pada pandngan mereka. Jika salah seorang yang bersekutu
itu mengkhianati temannya , Allah SWT akan menghilangkan pertolongan dan
keberkahan tersebut.
Legalitas perkongsian pun diperkuat, ketika Nabi diutus , masyarakat sedang
melakukan perkingsian. Beliau besabda :

Kekuasaan Allah selalu berada pada dua orang yang bersekutu selama keduanya
tidak berkhianat ( HR. Bukhari dan Muslim ).
3 Rachmat Syafei, Fiqh Muamalah, hal. 185
4

c; Al Ijma

Umat Islam sepakat bahwa syirkah dibolehkan. Hanya saja, mereka berbeda
pendapat tentang jenisnya.

C; Rukun dan Syarat Syirkah


Rukun Syirkah diperselisihkan oleh para Ulama, menurut ulama hanafiyah
bahwa rukun syirkah ada dua, yaitu ijab dan qabul sebab ijab dan qabul (akad
menentukan adanya syirkah. Adapun yang lain seperti dua orang atau pihak yang
berakad dan harta berada di luar pembahasan akad.4
Menurut Al-jaziri, ada tiga pokok rukun syirkah, yakni:
a.

Akad (ijab-kabul), disebut juga shighat.

b.

Dua pihak yang berakad (qidni), syaratnya harus memiliki kecakapan (ahliyah)

melakukan tasharruf (pengelolaan harta).


c.

Obyek akad (mahal), disebut juga maqd alayhi, yang mencakup pekerjaan (amal)

dan/atau modal (ml).


Sedangkan untuk syarat sahnya akad ada dua, yaitu:
a.
Obyek akadnya berupa tasharruf, yaitu aktivitas pengelolaan harta dengan
melakukan akad-akad, misalnya akad jual-beli.
b. Obyek akadnya dapat diwakilkan (wakalah), agar keuntungan syirkah menjadi hak
bersama di antara para syark (mitra usaha).

4 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, hlm. 127


5

D; Macam macam Syirkah


Menurut Ulama Hanafiyah, perkongsian terbagi menjadi dua :5
a; Perkongsian Amlak , adalah dua orang atau lebih yang memiliki barang tanpa
adanya akad. Perkongsian ini terbagi menjadi dua, yaitu :
Syirkah Jabariyah, yaitu perkongsian yang ditetapkan kepada dua
orang atau lebih yang bukan didasarkan atas perbuatan keduanya ,
seperti A dan B menerima warisan sebuah rumah. Dalam contoh ini
rumah tersebut dimiliki bersama oleh A dan B secara otomatis
( paksa ), dan keduanya tidak bisa menolak.
Syirkah Ikhtiyariah, yaitu perkongsian yang muncul karena adanya
kontrak dari dua orang yang bersekutu. Contoh A dan B membeli
sebidang tanah. Dalam hal ini pembeli yaitu A dan B bersama sama
memiliki tanah tersebut secara sukarela tanpa ada paksaan dari pihak
lain.
b; Perkongsian Uqud, adalah bentuk transaksi yang terjadi antara dua orang
atau lebih untuk bersekutu dalam harta dan keuntungannya.
Ulama Hanafiyah membagi syirkah menjadi tiga bagian, yaitu :
1; Syirkah amwal
a; Mufawadhah
b; inan
2; Syirkah amal
a; Mufawadhah
b; Inan
3; Syirkah Wujuh
a; Mufawadhah
b; Inan
2; Menurut Malikiyah dan Syafiiyah, syirkah terbagi menjadi 4 bagian , yaitu :
a; Syirkah Inan
b; Syirkah Mufawadhah
c; Syirkah Abdan
d; Syirkah Wujuh6
Ulama fiqh sepakat bahwa perkongsian inan diperbolehkan , sedangkan
bentuk bentuk lainnya masih diperselisihkan.
1;

5 Abdurrahman Al Jaziri, Kitabul Fiqh Alal Madzahib Al Arbaah, Juz III ,hal 60 65,
(Beirut : Darul Kutub Al Ilmiyah), 2003
6 Ibn Rusyd, Bidayah Al Mujtahid wa Nihayah Al Muqtashid, juz II , hlm. 248

Ulama Syafiiyah, Zhahiriyah, dan Imamiyah membatalkan semua syirkah


kecuali syirkah inan dan mudharabah.
Ulama Hanabilah membolehkan semua syirkah kecuali syirkah mufawadhah.
Ulama Malikiyah membolehkan semua syirkah kecuali syirkah wujuh dan
mufawadhah yang disebutkan ulama Hanafiyah.
Pada bagian ini akan dijelaskan jenis jenis syirkah menurut Syafiiyah, yang
meliputi :
1; Syirkah Inan
Definisi syirkah inan sebagaimana dikemukakan oleh Sayyid Sabiq adalah
sebagai berikut :

Syirkah inan adalah suatu perssekuutan atau kerja sama antara dua pihak dengan
harta ( modal ) untuk diperdagangkan dan keuntungan dibagi di antara mereka.7
Dari definisi tersebut, dapat dipahami bahwa syirkah inan adalah persekutuan
dalam modal dan keuntungan, termasuk kerugian. Dengan demikian, dalam syirkah
inan seorang persero tidak hanya dibenarkan bersekutu dalam keuntungan saja,
sedangkan dalam kerugian ia dibebaskan.
Dalam hal modal yang diinvestasikan sama, maka keuntungan yang dibagikan boleh
sama antarampara peserta dan boleh pula berbeda. Hal tersebut tergantung pada
ksepakatan yang dibuat oleh para peserta pada waktu terbentuknya akad. Adapun
dalam hal kerugian maka perhitungannya disesuaikan pada modal yang
diinvestasikan. Hal ini sesuai dengan kaidah yang berbunyi :

,
Keuntungan diatur sesuai dengan syarat yang mereka sepakati, sedangkan kerugian
tergantung pada besarnya modal yang diinvesatsikannya.8
Contoh : A dan B pengrajin atau tukang kayu. A dan B sepakat menjalankan
bisnis dengan memproduksi dan menjualbelikan meubel. Masing-masing memberikan
konstribusi modal sebesar Rp.50 juta dan keduanya sama-sama bekerja dalam syirkah
tersebut.
Dalam syirkah ini, disyaratkan modalnya harus berupa uang (nuqd);
sedangkan barang (urdh), misalnya rumah atau mobil, tidak boleh dijadikan modal
syirkah, kecuali jika barang itu dihitung nilainya pada saat akad. Keuntungan
didasarkan pada kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung oleh masing-masing
mitra usaha (syark) berdasarkan porsi modal. Jika, misalnya, masing-masing
modalnya 50%, maka masing-masing menanggung kerugian sebesar 50%.

7 Sayid Sabiq, Fiqh Sunnah, Juz III, Dar Al Fikr, Beirut, cet III , 1981, hlm . 295
8 Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islam Wa Adillatuhu,juz 4, hlm. 797
7

2; Syirkah Mufawadhah

Muwafadhah dalam arti bahasa adalah al musawah , yang artinya


persamaan . Syirkah yang kedua ini dinamakan syirkah muwafadahah karena di
dalamnya terdapat unsur persamaan dalam modal, keuntungan, melakukan tasharruf,
dan lain lainnya.
Menurut satu pendapat, mufawadhah diambil dai kata at tafwidh
( penyerahan ), karena masing masing peserta menyerahkan hak untuk melakukan
tsharruf kepada teman serikat yang lainnnya9 .
Dalam arti istilah, syirkah mufawadhah didefinisikan oleh Wahbah Zuhaili
sebgai berikut :
:
) ( .
Syirkah mufawadhah menurut istilah adalah suatu akad yang dilakukan oleh dua
orang atau lebih untuk bersekutu ( bersama sama ) dalam mengerjakan sesuatu
perbuatan dengan syarat keduanya sama dalam modal, tasarruf, dan agamanya, dan
masing masing peserta modal menjadi penanggung jawab atas yang lainnya di
dalam hal hal yang wajib dikerjakan , baik berupa penjualan maupun pembelian.10
Dari defiinisi tersebut juga dapat diketahui bahwa dalam syirkah mufawadhah
terdapat syarat syarat yang harus diketahui , yaitu :
1; Persamaan dalam modal. Apabila salah satu peserta modalnya lebih besar
daripada peserta yang lainnya. Misalnya A modal yang ditanamnya Rp.
10.000.000,00 sedangkan B hanya Rp. 5.000.000,00 , maka syirkah hukumya
tidak sah.
2; Persamaan dalam hak tasarruf. Maka tidak sah syirkah mufawadhah antara anak
yang masih di bawah umur dan orang dewasa. Karena hak tasarruf keduanya tidak
sama.
3; Persamaan dalam agama. Dengan, tidak sah syirkah mufawadhah antara orang
Muslim dan orang kafir.
4; Tiap tiap peserta harus menjadi penanggung jawab atas peserta yang lainnya
dalam hak dan kewajiban sekaligus sebagai wakil. Dengan demikian, tindakan
hukuk peserta yang satu tidak boleh lebih besar daripada tindakan peserta hukum
yang lainnya.11
Menurut Hanafiah dan Malikiyah, syirkan mufawadhah ini hukumnya
dibolehkan. Hal ini karena syirkah mufawadhah banyak dilakukan oleh orang selama

9 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Juz III, hlm. 296


10 Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islam Wa Adillatuhu,juz 4, hlm. 798
11 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Juz III, hlm. 296

beberapa waktu, tetapi tidak seorangpun yang menolaknya. Sedangkan Imam Syafii
tidak membolehkannya. Beliau mengatakan :


Apabila syirkah mufawadhah tidak dianggap batal, maka tidak ada lagi sesuatu yang batal
yang saya ketahui di dunia ini12
Syafii berpendapat bahwa syirkah mufawadhah adalah suatu akad yang tidak ada dasrnyya
dalam syara. Untuk mewujudkan persamaan dalam berbagai hal merupakan hal yang sulit,
karena di dalamnya da unsur gharar ( tipuan ) dan ketidakjelasan. Sedangkan hadits yang
digunakan sebagai dasar oleh Hanafiah, merupak hadits yang tidak sha 13hih dan tidak dapat
diterima.
3; Syirkah Wujuh

Syirkah wujuh didefinisikan oleh Sayyid Sabiq adalah " pembelian yang
dilakukan oleh dua orang atau lebih tanpa menggunakan modal, dengan berpegang
pada penampilan mereka dan kepercayaan para pedagang terhadap mereka, dengan
ketentuan mereka bersekutu dalam keuntungan.
Dari defiinisi tersebut, dapat dipahami bahwa syirkah wujuh adalah suatu
syirkah atau kerja sama antara dua orang atau lebih untuk membeli suatu barang tanpa
menggunakan modal. Mereka berpegang pada penampilan mereka dan kepercayaan
para pedagang tehadap mereka. Dengan demikin, transaksi yang dilakukan adalah
dengan cara berutang dengan perjanjian tanpa pekerjaan dan tanpa harta ( modal ).
Menurut Hanafiyah,, Hanabilah, Zaidiyah, syirkah wujuh hukumnya boleh,
karena bentuknya berupa satu jenis pekerjaan. Kepemilikan terhadap barang yang
dibeli boleh berbeda antara satu peserta dengan peserta lainnnya. Sedangkan
keuntungan dibagi natara para peserta, sesuai dengan besar kecilnya bagian masing
masing dalam kepemilikan atas barang yang dibeli. Akan tetapi, Malikiyah,
Syafiiyah, dan Zhahiriyah berpendapat bahwa syirkah wujuh hukumnya batal. Alasan
mereka adalah bahwa syirkah selalu berkaitan dengan harta dan pekerjaan, sedangkan
dalam syirkah wujuh, keduanya ( harta dan pekerjaan ) tidak ada. Yang ada hanya
penampilan para anggota serikat, yang diandalkan untuk mendapatkan kepercayaan
dari para pedagang. 14
4; Syirkah Abdan
12 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Juz III, hlm. 296

13
14 Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islam Wa Adillatuhu,juz 4, hlm. 802
9

Syirkah abdan didefinisikan oleh Sayyid Sabiq adalah kesepakatan antara dua
orang atau lebih untuk menerima suatu pekerjaan dengan ketentuan upah kerjanya
dibagi di antara mereka sesuai dengan kesepakatan.
Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa syirkah abdan ( syirkah amal )
adalah suatu bentuk kerja sama antara dua orang atau lebih untuk mengerjakan suatu
pekerjaan bersama sama, dan upah kerjanya dibagi di antara mereka sesuai dengan
kesepakatan yang disepakati bersama. Contohnya, tukang batu dengan beberapa
temannya berserikat ( bekerja sama ) dalam mengerjakan pembangunan sebuah
gedung sekolah. Kerja sama tersebut bisa dalam satu jenis pekerjaan yang sama,
seperti tukang dengan tukang batu, dan bisa juga dalam jenis pekerjaan yang berbeda.
Misalnya kerja sama antara tukang batu dengan tukang kayu dalam mengerjakan
pembangunan sebuah gedung kantor.
Menurut Malikiyah, Hanafiah, Hnabilah, dan Zaidiyah, syirkah abdan
hukumnya boleh, karena tujuan utamanya adalah memperoleh keuntungan. Dalil
dibolehkannya syirkah abdan adalah hadits Ibnu Masud :
,
:

Dari Abdillah Ibnu Masud ia berkata : Saya , Ammar, dan Saad bersekutu
dalam hasil yang diperoleh pada Perang Badar. Maka Saad datang dengan membawa
dua orang tawanan, sedangkan saya dan Ammar tidak memperoleh apa apa ( HR.
An Nasai ).
Hadis ini menggambarkan tentang kerja sama antara para sahabat dalam hasil
harta rampasan perang. Kerja sama tersebut dilakukan dengan menggunakan tenaga,
tidak menggunakan ( modal ). Ini menunjukkan bahwa syirkan abdan itu dibolahkan.
Hanya saja Malikiyah mengajukan beberapa syarat untuk keabsahan syirkah abdan
ini, yaitu :
a; Pekerjaan atau profesi antara para peserta harus sama. Apabila para profesinya
berbeda maka hukumnya tidak boleh, kecuali garapan pekerjaannya saling
mengikat. Misalnya, tukang kayu dan tukang batu mengerjakan sebuah rumah.
Dalam contoh ini hukum syirkah nya dibolehkan karena pekerjaan yang satu
bergantung pada pekerjaan yang lainnya.
b; Tempat pekerjaannya juga harus satu lokasi. Apabila lokasi keduanya berbeda,
maka syirkahnya tidak sah.
c; Pembagian upah harus sesuai dengan kadar pekerjaan yang disyaratkan bagi setiap
anggota serikat.15

15 Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islam Wa Adillatuhu,juz 4, hlm. 803 - 804


10

Menurut Syafiiah, Imamiyah, dan Zufar dari Hanafiah, syirkah abdan


hukumnya batal, karena menurut mereka syirkah itu hanya khusu dalam modal saja,
bukan dalam pekerjaan.

E; Syarat Syarat Syirkah Uqud


Ulama Hanafiah menetapkan syarat syarat untuk syirkah uqud. Sebagian
dari syarat syarat tersebut ada yag berlaku umum untuk semua jenis syirkah uqud,
dan sebagian lagi berlaku khusus untuk masing masing jenis syirkah. Syarat syarat
itu adalah sebagai berikut :
1; Syarat syarat umum syirkah uqud
Untuk keabsahan syirkah uqud harus dipenuhi syarat syarat sebagai berikut:
a; Tasarruf yang menjadi objek akad syirkah harus bisa diwakilkan
Dalam syirkah uqud keuntungan yang iperoleh merupakan milik bersama
yang harus dibagi sesuai dengan kesepakatan. Kepemilikan bersama dalam
keuntungan tersebut menghendaki agar setiap anggota serikat menjadi wakil dari
anggota serikat lainnya dalam pengelolaan harta ( modal ) , di samping bertindak atas
namanya sendiri. Atas dasar itu maka setiap anggota serikat memberikan kewenangan
kepada anggota serikat lainnya untuk melakukan tasarruf, baik dalam hal penjualan,
pembelian maupun penerimaan kontarak kerja. Dengan demikian, masing masing
peserta menjadi wakil bagi peserta lainnya.
b; Pembagian keuntungan harus jelas
Bagian keuntungan untuk masing - masing anggota serikat nisabnya harus
ditentukan dengan jelas, misalnya 20 %, 10 %, 30 %, atau 40 %. Apabila pembagian
keuntungan tidak jelas, maka syirkah menjadi fasid, karena keuntungan merupakan
salah satu maqud alaih.
c; Keuntungan harus merupakan bagian yang dimilki bersama secara keseluruhan,
tidak ditentukan untuk A 100, B 200 misalnya. Apabila keuntungan telah
ditentukan, maka akad syirkah menjadi fasid. Hal itu karena syirkah
mengharuskan adanya penyertaan dalam keuntungan, sedangkan penentuan
kepada orang tertentu akan menghilangkan hakikat perkongsian.
2; Syarat khusus untuk syirkah Amwal
Untuk keabsahan syirkah amwal, baik syirkh inan maupun syirkah
mufawadhah, harus dipenuhi beberapa syarat yang khusus, sebagai berikut :
a; Modal syirkah harus berupa barang yang ada
Menurut Jumhur fuqaha modal syirkah harus berupa barang yang ada, baik
pada waktu akad maupun pada waktu jual beli. Dengan demikian, modal tidak boleh
berupa utang, atau harta yang tidak ada di tempat akad. Hal ini karena tujuan syirkah

11

adalah memperoleh keuntungan yang didapatkan melaui tasharruf, sedangkan tasarruf


tidak bisa dengan utang atau barang yang tidak ada di tempat akad.
Menurut Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah, modal dari para peserta tidak
harus dicampur menjadi satu, karena menurut mereka dalam syirkah yang penting
akdnya, bukan hartanya. Akan tetapi, menurut Zufar, Syafiiyah, Zhahiriah, Zaidiyah,
dan Imamiyah, modal dari para peserta harus dicampur menjadi satu, sehingga tidak
bisa dibedakan antara modal yang satu dengan yang lainnya. Hal tersebut dikarenakan
arti syirkah adalah ikhthilath ( campur ), dan percampuran tidak akan terwujud
apabial harta masih dibedakan antara yang satu dengan yang lain. 16
b; Modal syirkah harus berharga secara mutlak
Ulama madzhab empat sepakat bahwa modal syirkah harus berupa sesuatu
yang bernilai secara mutlak, seperti utang. Oleh karena itu, tidak sah modal syirkah
dengan modal barang barang, baik berupa benda tetap maupun benda bergerak. Hal
ini karena syirkah dengan modal barang, bukan uang menyebabkan ketidakjelasan
dalam pembagian keuntungan, dan hal itu memicu terjadinya perselisihandan
pertentangan di antara para peserta. Menurut Imam Malik, odal syirkahtidak mesti
beruoa uang, melainkan juga boleh dengan barang yang diperkirakan nilainya, baik
jenisnya sama atu berbeda. Alasannya adalah bahwa syirkah adalah dilakukan dengan
modal yang jelas, sehingga mirip dengan uang.17
3; Syarat untuk Syirkah Mufawadhah
Ulama Hanafiah mengemukakan syarat syarat untuk syirkah mufawadhah
sebagai berikut :
a; Masing - masing anggota serikat memilki kecakapan untuk melakukan wakalah
dan kafalah, yaitu harus merdeka, baligh, berakal, dan cerdas.
b; Persamaan dalam modal, baik ukyran maupun harganya, sejak awal sampai akhir.
c; Segala sesuatu yang layak menjadi modal dari salah seorang anggota serikat harus
dimasukkan ke dalam syirkah
d; Pembagian keuntungan harus sama. Apabila pembagian keuntungan tidak sama,
maka syirkahnya bukan mufawadhah
e; Persamaan dalam kegiatan perdagangan. Ulama Hanafiyah dan Muhammad
mensyaratkan syirkah mufawadhah antara sesama Muslim, dan tidak boleh
dengan orang kafir.
f; Dalam melakukan transaksi ( akad ) harus menggunakan kata mufawadhah.18
Syarat syarat yang disebutkan tadi harus dipenuhi untuk syirkah
mufawadhah. Apabila salah satu syarat tidak ada, maka syirkah akan berubah menjadi
syirkah inan, karena syarat syarat tersebut tidak diperlukan dalam syirkah inan.
16 Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islam Wa Adillatuhu,juz 4, hlm. 806 - 807
17 Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islam Wa Adillatuhu,juz 4, hlm. 808
18 Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalah,hlm. 355
12

Dengan demikian, dalam syirkah inan tidak disyaratkan kecakapan dalam wakalah,
persamaan dalam mdal dan keuntungan, dan persamaan dalam kegiatan perdagangan,
sebagaimana yang disyaratkan dalam syirkah mufwadhah.
4; Syarat syarat Syirkah Amal ( Abdan )
Apabila bentuk syirkah amal ini mufawadhah maka berlakulah syarat syarat
syirkah mufawadhah, sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Apabila bentuk
syirkah inan maka tidak ada persyaratan syirkah mufawadhah tersebut, kecuali
kecakapan dalam wakilah. Oleh karena itu, Imam Abu Hanifah mengatakan setiap
akad yang di dalamnya dibolehkan kafalah dibolehkan pula syirkah, dan apa yang
tidak boleh wakalah, maka tidak boleh pula syirkah.19
Apabila pekerjaan memerlukan alat, sedangkan alat itu dipakai oleh salah
seorang anggota serikat maka hal itu tidak mempengaruhi syirkah, dengan ketentuan
alat itu tidak disewakan untuk orang lain. Apabila alat itu disewakan unuk menggarap
pekerjaan lain maka upahnya untuk orang yang memilki alat, dan syirkah menjadi
fasid.
5; Syarat syarat Syirkah wujuh
Apabila bentuk syirkah ini mufawadhah maka berlakulah syarat syarat
syirkah mufawadhah ( persamaan dalam berbagai hal ). Akan tetapi, apabila
bentuknya syirkah inan maka tidak ada persyaratan syirkah mufawadhah, seperti
persamaan dalam tasarruf, pembagian keuntungan, dan sebagainya.

F; Hukum Syirkah Uqud


Hukum syurkah uqud ada dua macam :
a; Shahih
b; Fasid
Syirkah shahih adalah syirkah yang syarat syarat sahnya terpenuhi.
Sedangkan syirkah fasid adalah syirkah yang syarat syaratnya tidak terpenuhi atau
rusak. Secara garis besar, menurut Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hanabilah, apabila
syirkah fasid maka keuntungan dibagi di antara para peserta, sesuai dengan modal
masing masing. Di bawah ini akan di jelaskan hukum hukum syirkah yang shahih,
sesuai dengan jenis syirkahnya yang meliputi syirkah inan, mufawadhah, wujuh, dan
abdan.
1; Hukum Syirkah Inan
a; Syarat pekerjaan

19 Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islam Wa Adillatuhu,juz 4, hlm. 814

13

Dalam syirkah inan para anggota serikat dibolehkan membuat persyaratan


persyaratan di antara mereka berkaitan dengan kegiatan usaha. Misalnya A dan B
berserikat dan keduanya melakukan jual beli yang hasilnya dibagi berdua dengan
syarat syarat sesuai kesepakatan. Atau salah satu anggota serikat melakukan jual
beli, sedangkan yang lainnya tidak.
b; Pembagian keuntungan
Pembagian keuntungan disesuaikan dengan besanya modal yang
diinvestasikan, baik sama besarnya atau berbeda. Apabila modal yang diinvestasikan
sama maka keuntungan juga dibagi dengan kadar yang sama. Akan tetapi, apabila
modalnya berbeda maka keuntngannya juga berbeda. Contohnya, A dan B berkongsi
dengan masing masing menanamkan modal Rp. 10.000.000,00. Apabila usahanya
mendapatkan keuntungan Rp. 4.000.000,00, maka A dan B masing masing
mendapat bagian 50 % dari keuntungan, yaitu Rp. 2.000.000,00. Akan tetapi, apabila
A menanamkan modal Rp. 20.000.0000,00 sedangkan B Rp.10.000.000,00 dan
keuntunagan yang diperoleh Rp.4.500.000,00, maka pembagian keuntungan
diperhitungkan dengan modal yang diinvestasikan, yaitu A : 2/3 x Rp. 4.500.000,00 =
Rp. 3.000.000,00, sedangkan B : 1/3 x Rp.4.500.000,00 = Rp. 1.500.000,00.
Dalam keadaan modal yang diinvestasikan sama, menurut Ulama Hanfiyah
kecuali Zufar, boleh ditetapkan pembagian keuntungan bagi salah satu anggota serikat
berbeda ( lebih besar ) , namun dengan syarat harus disertai dengan imbalan pekerjaan
yang lebih besar daripada angoota serikat lainnya. Hal tersebut dikarenakan menurut
mereka pemberian keuntungan didasatkan atas mal ( modal ), oekerjaan ( amal ), dan
tanggung jawab ( dhaman ). Dalam hal ini keuntungan disebabkan oleh tambahan
pekerjaan. Hanabilah dan Zaidiyah sama pendapatnya dengan Hanafiyah, yaitu
dibolehkan pembagian keuntungan yang lebih besar kepada anggota serikat. Adapun
dalam hal kerugian, ulama sepakat dibagi sesuai dengan besar kecilnya modal.20
Menurut Malikiyah, Syafiiyah, Zhahiriyah, Imamiah, dan Zufar dari
Hanafiyah, unntuk sahnya syirkah inan disyaratkan keuntungan dan kerugian
diperhitungkan nisbahnya dengan modal yang ditanamnya, karena keuntungan
merupakan tambahan atas harta ( modal ) dan kerugian merupakan pengurangan atas
harta ( modal ). Dengan demikian, kerugian mnyerupai keuntungan.
c; Rusaknya Harta Syirkah
Menurut Hnafiyah dan Syafiiyah, apabila harta ( modal ) syirkha seluruhnya
atau salah satunya rusak atau hilang sebelum digunakan untuk membeli atau sebelum
dicampur, maka syirkah menjadi batal. Hal tersebut dikarenakan maqud alaih
( objek ) akad syirkah adalah harta ( modal ). Apabila maqud aai rusak maka akad
menjadi batal. Apabila kerusakan terjadi setelah dibelanjakan maka akad syirkah tidak
20 Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islam Wa Adillatuhu,juz 4, hlm. 816
14

batal, dan apa yang dibelanjakan menjadi tanggungan para peserta syirkah, karena
mereka melakukan pembelian dalam konteks syirkah.
Menurut Hanabilah, syirkah terjadi karena semata mata telah dilakukannya
akad, dan secara otomatis semua modal peserta menyatu menjadi modal syirkah.
Apabila odal yang dimiliki oleh salah seorang peserta rusak atau hilang sebelum
dicampur atau dibelanjakan, maka kerusakan atau kehilangan tersebut diangap
sebagai kerusakan sebagian modal syirkah dan tidak membatalkan akad syirkah.
d; Melakukan Tasarruf dengan Harta Syirkah
Setiap anggota serikat dalam syirkah inan berhak melakukan jual beli dengan
harta syirkah karena dengan telah dilakukannya akad syirkah, setiap anggota
mengizinkan kepada anggota lainnya untuk menjual harta syirkah. Di samping itu,
syirkah mengandung unsur wakalah, sehingga setiap anggota serikat bisa mewakili
anggota serikat lainnya dalam melakukan jual beli.
Di samping itu, setiap anggota serikat boleh menjual harta syirkah dengan
tunai atau utang, sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di kalangan para pedagang.
Akan tetapi, ulama Syafiiyah tidak membolehkan jual beli utang dengan modal
syirkah. Sedangkan di kalangan ulama Hanabilah dengan pendpat yang rajih
membolehkan jual beli utang dengan harta syirkah.21
Di antara bentuk bentuk tasarruf yang boleh dilakukan menggunakan harta
syirkah, yaitu :
Membelanjakan dan menitipkan hrta syirkah
Memberikan modal kepada seseorang dengan cara mudharabah
Memberkan kuasa kepada orang lain untuk melakukan jual beli
Menggadaikan dan menerima gadai
Melakukan hiwalah ( pemindahan utang )
Menggunakan untuk ongkos perjalanan22
2; Hukum Syirkah Mufawadhah
Semua ketentuan ketentuan yang berlaku dan boleh dilaksanakan oleh para
anggota serikat dalam syirkah inan, juga boleh berlaku dalam syirkah mufawadhah.
Demikian pula hal hal yang menjadi syarat sahsyirkh inan juga menjadi syarat sah
syirkah mufawadhah, dan segala hal yang menyebabkan rusak atau batalnya syirkah
inan, juga mneyebabkan rusaknya syirkah mufawdhah. Hal ini karena syirkah
mufawadhah itu adalah syirkah inan dengan diberi tambahan.
Adapun ketentuan ketentuan khusus yang berlaku untuk syirkah
mufawadhah dalah sebagai berikut:
21 Muwafiquddin bin Qudamah, Al Mughni, juz 5 , Dar al Kutub Al Ilmiyah, Beirut,
hlm 129
22 Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islam Wa Adillatuhu,juz 4, hlm. 819-820

15

a; Pengakuan utang, dibolehkan atas dirinya atau rekannya


b; Penetapan kesamaan utang
c; Harus ada peminjaman harta
d; Masing masing memiliki hak menuntut segala aturan yang berkaitan

dengan pembelian atau penjualan


e; Segala perbuatan yang tidak berhubungan dengan perkongsian tidak boleh
diambil dari perkongsian, seperti membayar denda, mahar, dan lain lain.
3; Hukum Syirkah Wujuh
Dua orang yang bersekutu dalam syirkah wujuh, baik mufawadhah maupun
inan, dia berada pada posisi syirkah amwal, baik dalam hal perkara yang wajib
dikerjakan oleh keduanya atau yang boleh dikerjakan oleh salah satunya. Apabila
syirkah dimutlakkan, ia menjadi syirkah inan, sebab syirkah mutlak mengaruskan
inan.
Jika syirkah wujuh berbentuk mufawadhah berarti berbagai hal yangg
berkaitan dengan jual beli, harus sama. Sebab mufawadhah melarang ketidaksamaan.
Ulama Hanabilah meskipun membolehkan syirkah wujuh, mereka
mensyaratkan harus berbentuk syirkah inan. Jika melarang syirkah yang berbentuk
mufawadhah, tidak ada ketetapan syara sebab mengandung unsur penipuan, seperti
pada jual beli gharar.
4; Hukum Syirkah Amal
a; Berbentuk mufawadhah
Apabila syirkah amal berbentuk mufawadhah, setiap orang yang bersekutu
diwajibkan menanggung segala sesuatu yang berhubungan dengan perkongsian.
Contoh syirkah mufawadhah, dua orang menerima suatu pekerjaan dengan cara
bersekutu, maka keduanya harus menanggung pekerjaan tersebut secara seimbang.
Begitu pula dalam keuntungan dan kerugian. Selain itu, hendaklah seorang di antara
mereka dapat menjadi penjamin rekannya.
b; Berbentuk inan
Ketetapan pada syirkah inan sebenarnya sama dengan syirkah mufawadhah di
atas apabila dihubungkan denagn keharusan menanggung pekerjaan secara baik. Satu
pihak boleh saja menyuruh rekannya kapan saja, sebagimana rekannya juga dapat
meminta upah kapan saja. Segi kebaikan dari syirkah ini adalah dapat menuntut
pekerjaan dari salah seorang yang bersekutu, untuk selanjutnya menjadi tanggung
jawab bersama.
c; Pembagian laba
Pembagian laba pada syirkah ini bergantung ada tanggungan bukan pada
pekerjaan, apabila salah seorang pekerja, sedang lainnnya tidak sakit atau pergi, maka
upah tetap diberikan sesuai dengan persyaratan yang mereka tetapkan.
16

d; Penanggungan Kerugian

Menanggung kerugian pada syirkah juga bergantung jaminan yang mereka


berikan.

G; Hal Hal Yang Membatalkan Syirkah


Hal hal yang membatalkan syirkah ada yang sifatnya umum dan berlaku
untuk semua syirka, dan ada yang khusus untuk syirkah tertentu, di antaranya :
Sebab sebab yang membatalkan syirkah secara umum
a; Pembatalan oleh salah seorang anggota serikat. Hal tersebut
dikarenakan akad syirkah merupakan akad jaiz dan ghairu lazim,
sehingga memungkinkan untuk difasakh.
b; Meninggalnya salah seorang anggota serikat.
Apabila salah seorang anggota serikat meninggal dunia, maka
syirkah menjadi batal atau fasakh karena batalnya hak milik, dan
hilangnya kecakapan untuk melakukan tasarruf karena meninggal,
baik anggota serikat lainnya mengetahu atau tidak.
c; Murtadnya salah seorang anggota serikat dan berpindah ke darul
harb. Hal ini disamakan dengan kematian.
d; Gilanya peserta yang terus menerus, karena gila menghilangkan
status wakil dari wakalah, sedangkan syirkah mengandung unsur
wakalah.
1; Sebab sebab yang membatalkan syirkah secara khusus
a; Rusaknya harta syirkah seluruhnya atau harta salah seorang
anggota serikat sebelum digunakan untuk membeli barang dalam
syirkah amwal. Alasannya, karena yang menjadi barang transaksi
adalah harta, maka kalau rusak akan menjadi batal sebagaimana
yang terjadi pada transaksi jual beli.
b; Tidak ada kesamaan modal
Apabila tidak ada kesamaan modal dalam syirkah mufawadhah
pada awal transaksi, perkongsian batal. Sebab hal itu merupakan
syarat syirkah mufawadhah.23
STUDI KASUS
Kerja sama dalam Investasi modal untuk pembangunan sebuah
hotel agar mendapat keuntungan yang berakhir pada penentian laba
yang tak kunjung datang. Semua modal telah terkumpul dan hotel
23 Rachmat Syafei, Fiqh Muamalah, hal. 201
17

belum dibangun. Pihak pihak yang berinvestasi akhirnya


melaporkan kasus ini. Dalam hal ini, beberapa pihak penginvestasi
menyatakan untuk keluar dari kerja sama ini.
Analisis kami, bahwa syirkah dalam kasus ini adalah batal. Karena
berdasarkan hal hal yang membatalkan syirkah secara umum
adalah pembatalan oleh salah satu anggota serikat.
Untuk pihak yang masih melanjutkan syurkah, maka harus
dilangsungkan akad baru dan dengan kesepakatan baru.

18

BAB III
PENUTUP

A; KESIMPULAN

syirkah adalah suatu akad antara dua pihak atau lebih untuk melakukan
kerjasama untuk melakukan suatu usaha dengan tujuan memperoleh
keuntungan dan kerugiannya ditanggung bersama.
Landasan hukum syirkah adalah :

...


Sesungguhnya kebanyakan dari orang orang yang bersrikat itu sebagian
mereka berbuat zhalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang orang yang
beriman dan beramal shaleh dan amat sedikitlah mereka ini. ( QS . Shad : 24 )
Rukun Syirkah diperselisihkan oleh para Ulama, menurut ulama hanafiyah
bahwa rukun syirkah ada dua, yaitu ijab dan qabul sebab ijab dan qabul (akad
menentukan adanya syirkah. Adapun yang lain seperti dua orang atau pihak
yang berakad dan harta berada di luar pembahasan akad.
Macam macam Syirkah adalah syirkah amlak, inan, mufawadhah, abdan,
dan wujuh.
Sebab sebab yang membatalkan syirkah secara umum adalah :
a; Pembatalan oleh salah seorang anggota serikat. Hal tersebut dikarenakan
akad syirkah merupakan akad jaiz dan ghairu lazim, sehingga
memungkinkan untuk difasakh.
b; Meninggalnya salah seorang anggota serikat.
Apabila salah seorang anggota serikat meninggal dunia, maka
syirkah menjadi batal atau fasakh karena batalnya hak milik, dan
hilangnya kecakapan untuk melakukan tasarruf karena meninggal, baik
anggota serikat lainnya mengetahu atau tidak.
c; Murtadnya salah seorang anggota serikat dan berpindah ke darul harb. Hal
ini disamakan dengan kematian.
d; Gilanya peserta yang terus menerus, karena gila menghilangkan status
wakil dari wakalah, sedangkan syirkah mengandung unsur wakalah.

DAFTAR PUSTAKA
Syafii, Rahmat, Fiqh Muamalah, Bandung : CV. Pustaka Setia, 2001
Zuaili, Wahbah, Al Fiqh Al Islam wa Adillatuhu, Beirut : Dar Al Fikr, 1989
19

Sabiq, Sayyid, Fiqh As Sunnah, Beirut : Dar Al Fikr, 1981


Suhendi, Hendi, Fiqh Muamalah, Jakarta : PT. Raja Grafindo, 2007
Qudamah ,Muwafiquddin , Al Mughni, Beirut : Dar al Kutub Al Ilmiyah
Ibn Rusyd, Al Hafiz, Bidayah Al Mujtahid wa Nihayah Al Muqtashid, Beirut : Dar Al
Fikr
Muslich, Ahmad Wardi, Fiqh Muamalah
Abdurrahman Al Jaziri, Kitabul Fiqh Alal Madzahib Al Arbaah, Juz III ,hal 60 65,
(Beirut : Darul Kutub Al Ilmiyah), 2003
Huda, Qamarul, Fiqh Muamalah, Yogyakarta : Teras, 2011

20