Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A; LATAR BELAKANG

Zakat adalah ibadah maaliyah ijtimaiyyah yang memiliki posisi sangat penting,
startegis dan menentukan baik dari sisi ajaran Islam maupun dari sisi pembangunan
kesejahteraan ummat. Sebagai suatu ibadah pokok, zakat termasuk salah satu rukun (rukun
ketiga) dari rukun Islam yang lima, sebagaimana dalam hadis nabi sehingga keberadaannya
dianggap sebagai malum minad-diin bidh-dharurah atau diketahui secara otomatis adanya
dan merupakan bagian mutlak dari keislaman seseorang.
Didalam al-quran terdapat dua puluh tujuh ayat yang menyejajarkan kewajiban
sholat dengan zakat. Terdapat berbagai ayat yang memuji orang-orang yang sungguhsungguh menunaikannya, dan sebaliknya memberikan ancaman bagi orang yang sengaja
meninggalkannya. Karena itu khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq bertekad memerangi orangorang yang sholat tetapi tidak mengeluarkan zakat. Ketegasan sikap ini menunjukkan bahwa
perbuatan meninggalkan zakat adalah suatu kedurhakaan dan jika hal ini dibiarkan maka
akan memunculkan berbagai problem sosial ekonomi dan kemudharatan dalam kehidupan
masyarakat.
Salah satu sebab belum berfungsinya zakat sebagai instrument pemerataan dan belum
optimal serta kurang efektifnya sasaran zakat karena manajemen pengelolaan zakat belum
terlaksana sebagaimana mestinya, baik pengetahuan pengelola maupun instrumen
manajemen pengelolaan serta sasaran zakat. Oleh karena itu, itu untuk pengelolaan zakat
yang lebih optimal agar sasaran zakat dapat tercapai ada beberaapa hal yang harus
dilaksanakan.
B; RUMUSAN MASALAH
1; Bagaimana model zakat pada masa klasik
2; Bagaimana model zakat pada masa kontemporer ?
3; Bagaimana model zakat tradisional ?
4; Bagaimana upaya dalam distribusi konsumtif dana zakat ?
5; Bagaimana upaya dalam distribusi produktif dana zakat ?
6; Apakah syarat syarat agar proses management zakat terlaksana dengan sukses ?

1 | Page

C; TUJUAN
1; Mengetahui model zakat pada masa klasik
2; Mengetahui model zakat pada masa kontemporer
3; Mengetahui model zakat tradisional
4; Mengetahui upaya dalam distribusi konsumtif dana zakat
5; Mengetahui upaya dalam distribusi produktif dana zakat
6; Mengetahui syarat syarat agar proses management zakat terlaksana dengan

2 | Page

BAB II
PEMBAHASAN
A;

Model Zakat Klasik


Pada zaman Islam pertama, yakni masa Rasulullah SAW dan sahabat, prinsip
prinsip Islam telah dilaksanakan secara demonstratif, terutama dalam hal zakat yang
merupakan rukunketiga setelah syahadat dan shalat.
Islam turun ke dunia sebagai rahmatan lil alamin. Salah satu misi Islam adalah untuk
mengentaskan kemiskinan. Ajaran zakat dalam Islam adalah simbol kepedulian sosial
terhadap kesenjangan ekonomi, perhatian atas fenomena kemiskinan, dan cita-cita akan
kesejahteraan umat. Melalui zakat, Islam tidak akan membiarkan kemiskinan merajalela dan
menjamur di atas pentas sejarah hidup manusia. Berikut ini adalah gambaran historis
bagaimana pengelolaan zakat sebagai salah satu ajaran Islam yang bervisi mengentaskan
kemiskinan dan dijalankan dengan baik.
1; Zakat pada Zaman Rasulullah

Peradaban Islam adalah cermin kultural dari kalangan elit yang dibangun dengan
kekuatan - kekuatan ekonomi dan perubahan sosial. Peradaban Islam terbentuk berkat
penaklukan bangsa Arab selama delapan tahun masa pertempuran. Nabi Muhammad SAW
berusaha meraih kekuasaan atas suku-suku dalam rangka menundukkan Mekah. Sejumlah
utusan dan duta dikirim ke seluruh penjuru Arabia. Sementara suku-suku bangkit untuk
menyampaikan kesetiaan, membayar zakat dan pajak, sebagai simbol keanggotaan dalam
komunitas muslim dan simbol menerima Muhammad sebagai Nabi dan Utusan Allah swt.
Nabi SAW biasanya mengumpulkan zakat perorangan dan membentuk panitia
pengumpulan zakat dari umat Muslim yang kaya, dan dibagikan kepada orang
orang miskin. Rasulllah juga selalu memerintahkan kepada mereka ( para pejabat )
bagaimana berperilaku mempermudah urusan masyarakat.
Rasulullah SAW pernah mengangkat dan menginstruksikan kepada beberapa sahabat
(Umar ibn al-Khattab, Ibnu Qais Ubadah ibn Samit dan Muaz ibn Jabal) sebagai amil
zakat (pengumpul zakat) di tingkat daerah. Mereka bertanggung jawab membina berbagai
negeri guna mengingatkan para penduduknya tentang kewajiban zakat. Zakat diperuntukkan
untuk mengurangi kemiskinan dengan menolong mereka yang membutuhkan. Pada masa
Nabi Muhammad SAW, ada lima jenis kekayaan yang dikenakan wajib zakat, yaitu: uang,
barang dagangan, hasil pertanian (gandum dan padi) dan buah-buahan, dan rikaz (barang
temuan). Selain lima jenis harta yang wajib zakat di atas, harta profesi dan jasa
sesungguhnya sejak periode kepemimpinan Rasullah SAW juga dikenakan wajib zakat.
3 | Page

Dalam bidang pengelolaan zakat Nabi Muhammad SAW memberikan contoh


dan petunjuk operasionalnya. Manajemen operasional yang bersifat teknis tersebut
dapat dilihat pada pembagian struktur amil zakat, yang terdiri dari: (1) Katabah,
petugas yang mencatat para wajib zakat, (2) Hasabah, petugas yang menaksir,
menghitung zakat, (3) Jubah, petugas yang menarik, mengambil zakat dari para
muzakki, (4) Khazanah, petugas yang menghimpun dan memelihara harta, dan (5)
Qasamah, petugas yang menyalurkan zakat pada mustahiq (orang yang berhak
menerima zakat).1
Adapun petunjuk Rasulullah SAW tentang pembagian zakat, diriwayatkan dari Zaid
Bin Al Suddai bahwa seorang laki laki datang menghadap Rasulullah SAW dan
menanyakan tentang zakat, kemudian Rasul menjawab :
Allah tidak menerima pertimbangan dari Rasul maupun dari orang ketiga
menyangkut pembagian zakat. Melainkan Allah menentukan penerimaan zakat ke dalam
delapan golongan. Jika engkau salah seorang di antara para penerima zakat, maka akan aku
berikan 2
Rasulullah SAW berasabda :
Aku telah diperintah untuk mengambil zakat dari orang Muslim yang kaya dan
membagikannya kepada orang yang miskin
Diriwayatkan dari Umar Bin Al Khaththab Ra bahwa Rasulullah SAW bersabda :
Zakat tidak sah jika dibagi untuk orang kaya atau orang yang masih mampu,
bertanggung jawab dan sehat badannya 3
Pada zaman Rasulullah SAW, dikenal sebuah lembaga yang disebut Baitul Mal.
Baitul Mal ini memiliki tugas dan fungsi mengelola keuangan negara. Sumber
pemasukannya berasal dari zakat, infaq, kharaj ( pajak bumi ), jizyah ( pajak yang
dikenakan bagi non muslim ), ghanimah ( harta rampasan perang ), fai , dan lain
lain. Sedangkan penggunaannnya untuk ashnaf mustahiq yang telah ditentukan,
seperti untuk kepentingan dakwah, pendidikan, pertahanan, kesejahteraan sosial,
pembuatan infrastruktur, dan lain lain.4
2; Zakat pada Zaman Sahabat

Pertama, periode Abu Bakar ash - Shiddiq ra


Pengelolaan zakat pada masa Abu Bakar ash - Shiddiq ra. sedikit mengalami
kendala. Pasalnya, beberapa umat muslim menolak membayar zakat. Mereka
meyakini bahwa zakat adalah pendapat personal Nabi SAW. Menurut golongan
ingkar zakat ini, zakat tidak wajib ditunaikan pasca wafatnya Nabi SAW. Pemahaman
1 http://download.portalgaruda.org/article.php?articleSEJARAH
2 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ad- Daruqthuni
3 Diriwayatkan oleh Abu Dawud
4 Gustian Djuanda, dkk, Pelaporan Zakat Pengurang Pajak Penghasilan, hlm.2
4 | Page

yang salah ini hanya terbatas di kalangan suku-suku Arab Baduwi. Suku-suku Arab
Baduwi ini menganggap pembayaran zakat sebagai hukuman atau beban yang
merugikan.
Abu Bakar, khalifah pengganti Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabat lainnya
untuk mendiskusikan masalah tersebut. Maka dihasilkan kemufakatan untuk memerangi
para penunggak zakat. Hal itu dimaksudkan untuk mengembalikan kesatuan umat dan
memurnikan ajaran ajaran Ilahi yang bersumber dari Al Quran.
Sebenarnya apa yang dilakukan Abu Bakar terhadap penunggakan zakat telah
ditentukan dasar dasarnya dalam Islam perihal harta kekayaan. Yaitu, dibenarkan jihad
untuk mengembalikan hak hak masyarakat atas harta kekaayaan.
Abu Bakar mengikuti petunjuk Rasul berkenaan dengan pembagian zakat di antara
orang orang Muslim yang berhak menerimanya. Ia biasanya membagikan semua jenis
harta kekayaan secara merata tanpa memperhatikan status masyarakat.
Kedua, periode Umar Bin Khattab
Said Ra mengatakan bahwa Umar Bin Al Khattab berkata kepada Abdullah Bin
Arqam Ra, Bagikanlah harta kekayaan orang Muslim sekali dalam sebulan. Beliau
berkata lagi, Bagikanlah harta kekayaan orang Muslim setiap hari Jumat, Akhirnya
Umar berkata Bagikanlah harta kekayaan orang Muslim setiap hari .
Anas Bin Malik dan Ibn Musayyab Ra menuturkaan, Umar Bin Khattab
menempatkan nama Muhajirin dalam daftar orang orang yang diberi sebanyak 5000
dirham, sedangkan kaum Anshar mendapat 4000 dirham, juga termasuk keturunan
Muhajirin yang tidak ambil bagian dalam perang badar. Nama nama seperti Umar Bn
Salamah bin Abdil Asad Makhzumi, Usamah Bin Zayd, Muhammad Bin Abdullah Bin
Jahsy Asadi dan Abdullah Bin Umar Ra tercantum dalam daftar terakhir. Maka Abdur
Rahman Bin Auf mengusulkan agar Ibn Umar tidak termasuk kelompok itu. Ketika
mendengar hal itu, Ibn Umar menegaskan , Demi Allah ! Engkau dan aku tidak bisa
termasuk dalam daftar orang orang yang mendapat 5000 dirham.
Umar ra. adalah salah satu sahabat Nabi saw.. Ia menetapkan suatu hukum
berdasarkan realitas sosial. Di antara ketetapan Umar ra. adalah menghapus zakat bagi
golongan muallaf, enggan memungut sebagian usyr (zakat tanaman) karena merupakan
ibadah pasti, mewajibkan kharraj (sewa tanah), menerapkan zakat kuda yang tidak pernah
terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW. Tindakan Umar ra. menghapus kewajiban zakat
pada muallaf bukan berarti mengubah hukum agama dan mengenyampingkan ayat-ayat alQuran. Ia hanya mengubah fatwa sesuai dengan perubahan zaman yang jelas berbeda dari
zaman Rasulullah saw. Sementara itu Umar tetap membebankan kewajiban zakat dua kali
lipat terhadap orang - orang Nasrani Bani Taglab, hal ini disebut zakat mudhaafah.
Zakat mudhaafah itu adalah terdiri dari jizyah (cukai perlindungan) dan beban
tambahan. Jizyah sebagai imbangan kebebasan bela negara, kebebasan Hankamnas,
5 | Page

yang diwajibkan kepada warga negara muslim. Sedangkan beban tambahannya


adalah sebagai imbangan zakat yang diwajibkan secara khusus kepada umat Islam.
Umar ra. tidak merasa ada yang salah dalam menarik pajak atau jizyah dengan nama
zakat dari orang-orang Nasrani karena mereka tidak setuju dengan istilah jizyah
tersebut.
Ketiga, Periode Usman Bin Affan
Diriwayatkan dari Abu Ubayd bahwa Ibn Sirrin berkata, Zakat diserahkan
kepada Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, dan wakil wakil mereka. Tetapi pada
zaman Usman, orang orang memilik pandangan yang berbeda. Pada masa itu, ada
orang yang memberikan zakatnya langsung kepada orang miskin dan ada pula yang
menyerahkannya kepada para utusan Usman.
Pengaturan pengumpulan dan pembagian zakat berlaku sesekali saja, dan
beberapa jenis harta kekayaan disimpan di Baitul Mal. Namun, Usman membolehkan
pembayaran zakat dengan barang barang yang tidak nyata, seperti uang kontan,
emas, dan perak. Kemudian barang barang itu dibagikan oleh pembayar zakat
kepada yang membutuhkan. Sementara barang barang yang nyata, seperti hasil
pertanian, buah buahan, dan ternak dibayarkan melalui Baitul Mal.
Hasan menuturkan bahwa Usman ra telah menyumbangkan 950 ekor Unta dan 50
ekor kuda. Hasan juga pernah mengatakan bahwa Usman pernah mengeluarkan biaya untuk
sepertiga batalion yang dikirim ke medan perang di Tabuk. Hal itu secara umu m
menggambarkan bahwa segala kebutuhan para prajurit perang terpenuhi.
Mengenai sistem pembbagian, Usman menunjuk Zayd Bin Tsabit untuk bertanggung
jawab atas Baitul Mal dan memerintahkan agar membagikannya kepada kaum Muslim. Jadi,
Ia tidak hanya mengikuti langkah dua khlifah pendahulunya, tetapi juga mampu
meningkatkan pendanaaan dan menghormati perintah Umar Ra.5
Keempat, periode Ali Bin Abi Thalib
Situasi politik pada masa kepemimpinan Khalifah Ali ibn Abi Thalib berjalan tidak
stabil, penuh peperangan dan pertumpahan darah. Akan tetapi, Ali ibn Abi Thalib rtetap
mencurahkan perhatiannya yang sangat serius dalam mengelola zakat. Ia melihat bahwa
zakat merupakan urat nadi kehidupan bagi pemerintahan dan agama. Ketika Ali ibn Abi
Talib bertemu dengan orang-orang fakir miskin dan para pengemis buta yang beragama
non-muslim (Nasrani), ia menyatakan bahwa biaya hidup mereka harus ditanggung oleh
Baitul Mal. Khalifah Ali ibn Abi Talib juga ikut terjun langsung dalam mendistribusikan
zakat kepada para mustahiq (delapan golongan yang berhak menerima zakat).
Harta kekayaan yang wajib zakat pada masa Khalifah Ali ibn Abi Talib ini
sangat beragam. Jenis barang-barang yang wajib zakat pada waktu itu berupa
dirham, dinar, emas dan jenis kekayaan apapun tetap dikenai kewajiban zakat.
5 Yasin Ibrahim Al Syaikh, Zakat memberihkan kekayaan , menyempurnakan puasa
Ramadhan,hlm. 139

6 | Page

3; Zakat Pada Zaman Tabiin

Pengelolaan zakat pada masa tabiin terekam dalam catatan sejarah Daulah Bani
Umayyah, yang berlangsung selama hampir 90 tahun (41-127H). Khalifah Umar ibn Abd
al-Aziz ( 717 M) adalah tokoh terkemuka yang patut dikenang sejarah, khususnya dalam
hal pengelolaan zakat. Di tangannya pengelolaan zakat mengalami reformasi yang sangat
memukau. Semua jenis harta kekayaan wajib dikenai zakat.
Pada masanya, sistem dan manajemen zakat ditangani dengan amat profesional.
Jenis harta dan kekayaan yang dikenai wajib zakat semakin beragam.Umar ibn Abd
al-Aziz adalah orang pertama yang mewajibkan zakat dari harta kekayaan yang
diperoleh dari penghasilan usaha atau hasil jasa, termasuk gaji, honorarium,
penghasilan berbagai profesi dan berbagai mal mustafad lainnya. Sehingga pada masa
kepemimpinannya, dana zakat melimpah ruah tersimpan di Baitul Mal. Bahkan
petugas amil zakat kesulitan mencari golongan fakir miskin yang membutuhkan harta
zakat.
Beberapa faktor utama yang melatarbelakangi kesuksesan manajemen dan
pengelolaan zakat pada masa Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz. Pertama, adanya kesadaran
kolektif dan pemberdayaan Baitul Mal dengan optimal. Kedua, komitmen tinggi seorang
pemimpin dan didukung oleh kesadaran umat secara umum untuk menciptakan
kesejahteraan, solidaritas, dan pemberdayaan umat. Ketiga, kesadaran di kalangan muzakki
(pembayar zakat) yang relatif mapan secara ekonomis dan memiliki loyalitas tinggi demi
kepentingan umat. Keempat adanya kepercayaan terhadap birokrasi atau pengelola zakat
yang bertugas mengumpulkan dan mendistribusikan zakat.
B; Model Zakat Kontemporer
1; Pengelolaan Zakat dari Harta Tetap dan Tidak Tetap
Para ahli fiqh telah membagi harta yang wajib dikeluarkan zakatnya ke dalam dua
bagian, yaitu harta tetap ( current assets ) dan tidak tetap ( fixed assets ).
Harta tetap adalah harta yang terlihat di mana setiap orang mampu
menggambarkannya dan menghitungnya, mencakup di dalamnya biji bijian dan buah
buahan yang termasuk hasil perkebunan, hewan ternak seperti unta, sapi, dan kambing.
Sedangkan harta tidak tetap adalah uang atau yang sama dengannya seperti barang
dagangan. Para ulama berbeda pendapat tentang zakat fitrah. Sebagian dari mereka
menganggapnya sebagai harta tetap, sedang sebagian yang lainnya menganggapnya sebagai
harta tidak tetap.
Ulama telah sepakat bahwa yang berhak mengumpulkan zakat pada harta tetap dan
mendistribusikannya adalah pemimpin yang ada pada suatu daerah kaum Muslim. Hal ini
tidak boleh ditangani secara perorangan, termasuk pendistribusiannya.
Para ulama telah sepakat bahwa pengumpulan dan pendistribusian zakat pada harta
bergerak, baik berupa uang maupun barang dagangan, dilakukan oleh pemimpin. Namun,
7 | Page

apakah hal ini menjadi kewajiban bagi seorang pemimpin atau apakah pemimpin diharuskan
untuk memaksa manusia untuk menunaikannya kepadanya dan juga kepada pekerjanya, itu
masih diperdebatkan para ulama.
Yang terlihat dari kesemuanya ini adalah adanya Nash dan juga dalil syari yang
menjadikan pemimpin dan juga pemerintahan sebagai penanggung jawab terhadap zakat,
dengan tidak membedakan apakah zakat tersebut diambil dari harta yang tetap ataupun tidak
tetap. Sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah Islam untuk menangani permasalahan
zakat dan juga pendistribusiannya. Jelaslah, bahwa tugas seorang pemimpin adalah
mengumpulkan zakat, baik dari harta tetap maupun harta tidak tetap.
Ada beberapa syarat yang disampaikan oleh Yusuf Qardhawi, apabila ada sang
pemilik yang ingin mendistribusikan hartanya sendiri untuk diberikan kepada kerabat dan
juga tetangga , yaitu :
a; Bagian zakat yang diberikan pemilik untuk didistribusikan secara pribadi tidak
boleh lebih dari sepertiganya. Karena sepertia adalah hal yang sangat banyak
sebagaimana dijelaskan dalam hadits.
b; Menentukan kadar maksimal, seperti halnya bagi seseorang yang sepertiga
zakatnya melebihi seratus ribu riyal / dirham atau sepuluh ribu, maka sisanya
harus diberikan seluruhnya kepada lembaga zakat.
c; Lembaga zakat mempunyai hak untuk mengambil semua zakat yang wajib
ditunaikan, apabila didapati pemilik tersebut tidak memberikan sebagian yang
diminta kepada orang yang berhak menerimanya.6
2; Sosok, Kultur, dan Perilaku Organisasi Amil Zakat
Menurut jenisnya, secara garis besar organisasi amil zakat dapat dibagi ke dalam dua
kategori, yaitu yang dikelola pemerintah, disebut dengan Badan Amil Zakat ( BAZ ) dan
yang dikelola swasta, dalam hal ini masyarakat dan dikukuhkan oleh pemerintah disebut
dengan Lembaga Amil Zakat ( LAZ ). Sebagai tambahan ada juga lembaga amil zakat yang
dibentuk oleh masyarakat secara tidak resmi yang disebut dengan lembaga amil zakat
tradisional.
BAZ yang dibentuk di tingkat nasional disebut BAZNAS, dan yang dibentuk di setiap
provinsi hingga kecamatan disebut denagn BAZ Daerah. Begitu juga LAZ yang beroperasi
secara nasional disebut LAZNAS. Sedangkan lembaga amil zakat tradisional ada secara
sporadis di seluruh tanah air. Pada umumnya, mereka berada di daerah tingkat kecamatan ke
bawah.
Berdasarkan pada kekhasan masing masing, terdapat empat model pengeleloaan
zakat, sebagai berikut :
a; Model birokrasi ( Pemerintah )
6 Yusuf Qatdhawi, Spektrum Zakat dalam Membangun Ekonomi Kerakyatan,hlm 121 122

8 | Page

Model amil zakat berbentuk model birokrasi atau pemerintah disebut dengan Badan
Amil Zakat ( BAZ ). BAZ model birokrasi diurus unsur pemerintah dan masyarakat yang
memenuhi syarat tertentu. Namun, untuk jabatan ketua diisi unsur pemerintah ( pegawai
negeri ) yang memperoleh gaji dari dinas. BAZ biasanya memilki pengurus terbanyak dari
unsur pegawai negeri , dan tidak bekerja penuh waktu.
Model pendekatan organisasi yang diterapkan BAZ menganut kelaziman sebagaimana
berlaku di dalam birokrasi pemerintah. Begitu juga kultur dan situasi kerja BAZ sangat
dipengaruhi oleh karakter atau kultur kerja birokrasi yang lebih mengandalkan pada
kekuatan komando atau instruksi pimpinan. Mekanisme kerja birokrasi bisanya terkesan
kaku, mengikuti pola dan prosedur baku atau petunjuk pimpinan. Dalam menjalankan
tugasnya, BAZ bertanggung jawab kepada pemerintah sesuai dengan tingkatannya, dan
memberikan laporan tahunan atas pelaksanaan tugasnya kepada DPR RI atau DPRD.
Termasuk dalam model birokrasi adalah BAZIS dari Jakarta serta BAZDA di seluruh
daerah. Hubungan kerja antara BAZ di semua tingkatana bersifat koordinatif, konsultatif,
dan informatif.7
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) adalah lembaga yang melakukan
pengelolaan zakat secara nasional. BAZNAS merupakan Lembaga pemerintah nonstruktural
yang bersifat mandiri dan bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri Agama.
BAZNAS berkedudukan di ibu kota negara.
b; Model Organisasi Bisnis
Pengelolaan zakat dengan organisasi bisnis pada umumya adalah model yang dianut
oleh Lembaga Amil Zakat ( LAZ ) yang prakarsai oleh para karyawan di suatu perusahaan.
Sebagian besar LAZ yang menganut model organisasi bisnis berada di lingkungan
perbankan dan beberapa badan usaha milk swasta dan milki negara. Kultur dan situasi kerja
yang dikembangkan LAZ model ini pada umunya lebih dinamis, inovatif, dan kreatif,
sebagaimana lazimnya organisasi bisnis yang selalu berorientasi pada kinerja bisnis.
LAZ yang masuk kategori ini adalah : Lembaga Amil Zakat Baitul Mal Muamalat
( BMM ), Lembaga Amil Zakat Bangun Sejahtera Miitra Umat ( BSM Umat ), Lembaga
Amil Zakat Yayasan Baitul Mal Bank Rakyat Indonesia ( YBM BRI ), Lemabaga Amil
Zakat Bamuis Bank BNI, Lembaga Amil Zakat Yayasan Amanah Takaful ( YAT ), dan
Lembaga Amil Zakat Dompet Dhuafa Republika ( DDR ).
c; Model Organisasi Masyarakat
Pengelolaan zakat dengan organisasi masyarakat ( ormas ) yaitu pengelolaan zakat
yang menganut kulltur dan pola kerja organisasi di bawah naungan ormas. Berbeda dengan
model organisasi birokrasi dan organisasi bisnis, lemabaga amil zakat dengan model ormas
sangat pekat diwarnai oleh semangat kerja keras sekaligus kelonggaran yang tak terikat
7 Umrotul Khasanah, Manajemen Zakat Modern hlm. 159
9 | Page

oleh batasan disiplin kerja. Lembaga amil zakat yang termasuk dalam kategori ini adalah :
Lembaga Amil Zakat Muhammadiyah dan Lembaga Amil Zakat Dewan Dakwah Islamiyah
Indonesia ( DDII ).
d; Model Amil Tradisional
Lembaga amil yang paling tua dan menjadi cikal bakal lembaga amil modern adalah
lembaga amil tradisional. Pengelolaan dana zakat dalam model tradisional ini sesungguhnya
kepanitiaan yang pembentukan dan pembubarannya terjadi dengan sendirinya selama masa
masa keberadaannya diperlukan. Dalam perannya, lembaga amil zakat tradisonal ini lebih
banyak didominasi oleh peran elit desa. Antara pengurus utama dan pengurus pendukung
terdapat semacam hubungan kolaboratif dalam suasana patron client. Hal itu timbul
sebgaian besar merupaka akibat dari kuatnya semangan dn nilai paternalistik yang dianut
oleh masyarakat pedesaan. Oleh sebab itu, lembaga amil zakat tradisional tumbu subur di
daerah daerah tingkat kecamatan ke bawah, mereka berbasis di pesantren, masjid, dan
musholla.
Pada umumnya, lembaga amil zakat memilki struktur organisasi yang hampir sama,
kecuali beberapa memilki sturktur lebih rumit. Struktur organisasi tersebut sekurangnya
terdiri dari tiga lapisan, yakni lapisan atas ( upper layer ) terdiri dari Dewan Pembina atau
Dewan Pertimbangan, lapisan tengah ( middle layer ) terdiri dari komisi pengawas dan
lapisan bawah ( lower layer ) terdiri dari Badan Pengurus dengan segenap jajarannya.
Sebagian lainnya ada yang menambahkan lapisan lebih atas yang terdiri dari Dewan Pendiri
atau Dewan Penyantun.
Sedangkan struktur lembaga amil zakat tradisional sangat sederhana dan praktis.
Karena dalam struktur itu yang terpenting terdiri dari ketua dan penasehat, pembina atau
pelindung. Sementara ketua tersebut dibantu oleh asisten penerima dan asisten penyalur
dana zakat.
Sementara itu, struktur organisasi badan amil zakat terdiri dari lapisan atas ( Dewan
Pembina atau Dewan Pertimbangan ), lapisan tengah ( Komisi Pengawas ), dan Lapisan
Bawah ( Badan Pelaksana ).
3; Gaya Management Badan dan Lembaga Amil Zakat
Dalam melaksanakan tugas dan fungsi baznas provinsi wajib melakukan tiga hal :
melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian atas pengumpulan,
pendistribusian, dan pendayagunaan zakat di tingkat provinsi.
melakukan koordinasi dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama dan
instansi terkait di tingkat provinsi dalam pelaksanaan, pengumpulan,
pendistribusian, dan pendayagunaan zakat.
melaporkan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan zakat, infak, dan
sedekah serta dana sosial keagamaan lainnya kepada Baznas dan gubernur.8
8 http://m.bisnis.com/quick-news/read/20141006/79/262621/badan-amil-zakat-ini-33baznas-provinsi-di-indonesia

10 | P a g e

Tugas pokok BAZ yaitu, mengumpulkan, mendistribusikan dan mendayagunakan


zakat sesuai dengan ketentuan agama yang berasaskan iman, dan takwa, keterbukaan dan
kepastian hukum sesuai Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 (pasal 4).
Pengumpulan zakat dilakukan dengan cara menerima atau mengambil dari muzakki
setelah ada pemberitahuan dari yang bersangkutan. Zakat yang dikumpulkan terdiri dari zakat
Mal (zakat harta) dan zakat Fitrah (zakat jiwa). Dalam pengumpulan zakat, BAZ dapat
bekerjasama dengan bank untuk mengambil zakat harta dari muzakki yang ada di bank itu
atas permintaan dari muzakki. Yang dimaksud disini adalah muzakki memberikan
kewenangan kepada bank untuk memungut zakat simpanan muzakki yang kemudian
diserahkan kepada Badan Amil Zakat.
Dalam pengumpulan zakat, semuanya tergantung pada kesadaran muzakki sendiri
untuk menunaikannya. Pengurus BAZ tidak memaksa setiap umat Islam yang memenuhi
syarat untuk mengeluarkan zakatnya. Karena dalam UUPZ tidak ada landasan yuridis bagi
BAZ untuk melakukan tindakan demikian, dan tidak dikenakan sanksi bagi para muzakki
yang menolak mengeluarkan zakat.
BAZ setiap tahun diwajibkan memberikan laporan tahunan pelaksanaan tugasnya
kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia atau kepada Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah sesuai dengan tingkatannya.
4; Tehnik Pengumpulan Zakat Oleh BAZ-LAZ

Dalam pelaksanaannya BAZ dan LAZ mempunyai berbagai tehnik pengumpulan


zakat diantaranya:
a. Membentuk tim penyuluh guna melaksanakan sosialisasi sadar Zakat, Infak dan Shadaqah
melalui dinas/instansi, BUMN/BUMD, asosiasi pengusaha muslim dan organisasi lainnya.
b. Membentuk pengurus UPZ (Unit Pengumpul Zakat)
c. Melakukln sosialisasi Gerakan Sadar Zakat melalui berbagai jalur seperti penerbitan buletin,
d.

pembuatan brosur, panflet serta pemasangan baliho di tempat-tempat strategis.


Melakukan kerjasama dengan berbagai pihak sebagai peningkatan pengumpulan ZIS, seperti:

e.

pasaraya, program sms amal, dll.


Mengoptimalkan petugas Juru Pungut (JUPUNG) dari berbagai daerah. Dll.
5;

Pendistribusian Zakat

Zakat yang telah terkumpul di lembaga pengelola zakat, harus segera disalurkan
kepada mustahik sesuai skala prioritas yang telah disusun dalam program kerja, sesuai
dengan surat at Taubah ayat 60:
1. Fakir dan miskin
11 | P a g e

Walaupun kedua kelompok ini berbeda tetapi dalam teknis operasionalnya sering disamakan,
yaitu mereka tidak memiliki penghasilan sama sekali atau memiliki tetapi tidak mencukupi
kebutuhan pokok dirinya dan keluarga yang menjadi tanggungannya. Zakat yang disalurkan
ini dapat bersifat konsumtif, yaitu untuk memenuhi keperluan sehari-hari dan dapat pula
2.

bersifat produktif, yaitu untuk menambah modal kerja.


Kelompok amil
Kelompok ini berhak menerima zakat maksimal seperdelapan dengan catatan bahwa petugas
zakat ini memang melakukan tugas keamilan dengan sebaik-baiknya dan waktunya sebagian

besar atau seluruhnya untuk tugas tersebut.


3. Kelompok muallaf
Yaitu kelompok yang dianggap masih lemah imannya karena baru masuk Islam. Mereka
diberi zakat agar bertambah kesungguhannya dalam ber-Islam dan bertambah keyakinan
4.

mereka, bahwa segala pengorbanan mereka dengan sebab masuk Islam tidaklah sia-sia.
Dalam memerdekakan budak berlian.
Yaitu bahwa zakat antara lain dipergunakan untuk membebaskan budak belian dan

5.

menghilangkan segala bentuk perbudakan.


Kelompok gharimin
Kelompok orang yang berhutang yang sama sekali tidak bias melunasinya. Tiga kelompok
orang yang termasuk kategori hutang: orang yang hartanya terbawa banjir atau orang yang
hartanya musnah terbakar, orang yang berhutang untuk kemaslahatan orang atau pihak lain,
orang yang mempunyai keluarga tetapi tidak mempunyai harta untuk menafkahi keluarganya

sehingga ia berhutang.
6. Kelompok fi sabilillah
Pada zaman rasulullah yang dimaksud fi sabilillah adalah sukarelawan perang yang tidak
mempunyai gaji tetap, tetapi dalam konteks sekarang bias dianalogikan kepada ustadz, guru,
pelatihan para daI, bisa untuk pembangunan masjid, dll.
7. Kelompok Ibnu sabil
Yaitu orang yang terputus bekalnya dalam perjalanan. Bias juga untuk membiayai sekolah
anak-anak jalanan yang kini semakin banyak jumlahnya.
Tugas utama BAZ dan LAZ dalam mendistribusikan zakat adalah menyusun skala
prioritas berdasarkan program-program yang disusun berdasarkan data-data yang akurat.
Karena BAZ dan LAZ sekarang jumlahnya semakin banyak maka perlu adanya semacam
spesifikasi dari masing-masing lembaga. Misalnya lembaga zakat A mengkhususkan
program-progamnya untuk usaha produktif, lembaga B untuk pemberian daripada beasiswa
dan pelatihan-palatihan, sehati (sehat ibu dan buah hati) santunan anak yatim, dan program
sosial lainnya.9
9 http://siti-khamidiyah.blogspot.com/2012/04/manajement-ppengelolaan-zakatmasa.html

12 | P a g e

C; Model Zakat Tradisional

Dalam praktik, amil tradisional menerapkan model penghimpunan dan penyaluran


dengan membentuk kepanitiaan pasif yang hanya siap menampung dan tidak menggali dana
zakat. Ada pula di antara mereka menempuh langkah langkah aktif dengan mendatangi
rumah rumah para muzakki. Keberadaan mereka sporadis dan lazimnya keberadaan antara
amil amil zakat itu bersifat instan dan spontan. Keberadaannya dan ketiadaannya terjadi
dengan sendirinya sejauh mereka masih merasa diperlukan.
Pada sisi lain, tidak sedikit pula yang tidak percaya pada amil amil zakat yang
dibentuk oleh takmir masjid, pengurus musholla, kiyai pesantren atau amil lainnya sehingga
mereka secara sendiri sendiri menyerahkan dana zakatnya langsung kepada siapapun yang
dianggapnya berhak untuk menerima dana zakat.
Betapa pun keberadaan dan pola kerja mereka, dalam pengelolaan dana zakat mereka
tampaknya tidak mengenal dana untuk berjaga jaga apalagi dana untuk proyek produktif
jangka panjang. Dana zakat yang berhasil dihimpun pada umunya disalurkan seluruhnya
seketika itu juga. Hal itu dikarenakan perolehan dana zakat di antara mereka memang tidak
begitu besar. Selain daripada itu, pengeloalaan dana zakat tradisional juga tidak berorientasi
pada prinsip pemerataan distribusi dana zakat, sebab distribusi dilakukan atas dasar asas
kedekatan, baik dalam konteks wilayah maupun personal.
Dengan demikian, seluruh dana zakat hanya dimanfaatkan oleh para mustahiq yang
tinggal di wilayah tertentu dan sekitarnya.10
D; Distribusi Konsumtif Dana Zakat

Biro Pusat Statistik mengukur kemiskinan dari ketidakmampuan orang / keluarga


dalam mengkonsumsi kebutuhan dasar, konsepnya menjadikan konsumsi beras sebagai
indikator utama. Sedangkan Badan Koordinasi Keluarga Berencana ( BKKBN ) melihatnya
dari ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar dan kebutuhan sosial psikologis ( tingkat
kesejahteraan ),kemudian United Nation Development Program Peserikatan Bangsa
Bangsa ( UNDP PBB ) menguur berdasarkan ketidakmampuan orang dalam memperluas
piliha pilihan hidupnya pada tataran tranisisi ekonomi dan demokrasi Indonesia ( model
pembangunan manusia ).
Kesemua model pengukuran di atas, jika dikaitkan dengan pengembangan pola
distribusi dan zakat secara konsumtif berarti konsep dari pola pendistribusian diarahkan
kepada :

10 Umrotul Hasanah, Manajemen Zakat Modern, hlm. 192 - 193


13 | P a g e

a; Upaya pemenuhan kebutuhan konsumsi dasar dari para mustahik

Ini sama halnya dengan pola distribusi bersifat konsumtif tradisional , yaitu zakat
dibagikan kepada mustahiq untuk dimanfaatkan secara langsung, dengan begitu realisasinya
tidak akan jauh dari pemenuhan sembako bagi kelompok delapan ashnaf. Hanya saja yang
menjadi persoalan kemudian adalah seberapa besar volume zakat yang bisa diberikan kepada
mustahiq, apakah untuk kebutuhan konsumtifnya sepanjang tahun ataukah hanya untuk
memenuhi kebutuhan makan satu hari satu malam.
Dalam hal ini, menurut Arif Mufraini, bentuk pendistribusian seperti ini kemungkinan
besar akan sangat tidak mendidik jika diberikan sepanjang tahun dan tidaka akan berarti apa
apa jika hanya diberikan untuk pemenuhan kebutuhan sehari semalam. Dikhawatirkan pola
ini akan mebuat tingkat dan perilaku konsumsi mustahiq akan mempunyai ketergantungan
tinggi kepada penyaluran zakat, apalagi bila mustahiq sangat sadar bahwa dana zakat yang
terkumpul tersebut adalah hak mereka.
Untuk itu, dalam rangka optimalisasi, dana terkumpul dari instrumen zakat mal
sebaiknya atidak diarahakan untuk penyaluran sembako. Namun, dapat diambil alih oleh
dana infaq, sedekah, dan hasil zakat fitrah. Penerapan instrumen ini tidak bisa dilakukan
secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu, akan tetapi berlaku aksidental, seperti
pada saat umat Islam merayakan idul Fitri ataupun pada saat mendapatkan musibah, seperti
kebakaran rumah, kecelakaan, sakit, atau musibah lokal / nasional seperti bancana alam.
Penyaluran sembako yang ideal menurut Arif Mufraini adalah apabila tingkat
kesadarn perusahaan perusahaan yang bergerak di bidang industri pengadaan pangan
Indonesia turut serta sebagai pelaku wajib zakat. Karena secara teori fiqh zakat, kategori aset
wajib zakat komoditas perdagangan dapat disalurkan dari koomoditas itu sendiri atau dalam
bentuk setara nilai uang.
Dengan begitu, bila perusahaan tersebut menyalurkannya dalam bentuk komoditas
yang menjadi industri mereka di bidang pangan, maka lembaga amil dapat segera
menyalurannya dalam bentuk barang kepada para mustahiq.11
b; Upaya Pemenuhan Kebutuhan yang Berkaitan dengan Tingkat Kesejahteraan

Sosial dan Psikologis


Pola konsumtif untuk item kedua ini dapat diarahkan kepada pendistribusian
konsumtif nonmakan( sembako ). Dalam hal ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk
peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat mustahiq adalah distribusi yang mengupayakan
renovasi tempat tempat pemukiman bagi masyarakat delapan asnaf yang tuna wisma,
11 Arif Mufraini, Akuntansi dan Manajemen Zakat, hlm 149 - 150
14 | P a g e

membelikan alat elektronik, seperti televisi dan radio, sehingga dapat dimanfaatkan
peningkatan kualitas hidup, atau dengan mendistribusikan dalam bentuk perlengkapan rumah
tangga, dan lain lain.
Sedangkan untuk peingkatan kesejahteraan psikologis, lembaga amil dapat
menyalurkannya dalam bentuk bantuan pembiayaan untuk mustahiq yang hendak
melangsungkan perikahan. Karena salah satu penyebab penyimpangn psikologis adalah
keterlambatan dalam melaksanakan pernikaha, apalagi jika hal tersebut disebabkan atas
ketidakmampuan mustahiq secara materi.
c; Upaya Pemenuhan Kebutuhan yang Berkaitan dengan Peningkatan Sumber Daya

Manusia
Pola distribusi ini tidak hanya beasiswa untuk sekolah umum, namun bisa juga
diarahkan untuk penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan untuk peningkatan keterampilan
nonformal yanag adapat dimanfaatkan mustahiq untuk kelanjutan menjalani hidup dan
menggapai kesejahteraannya. Seperti, jahit menjahit, pelatihan Bahasa Asing, dan pelatihan
kerja profesi lainnya.
Hal ini sudah dilakukan oleh lembaga amil zakat Dompet Dhuafa dalam
mencanangkan program program pendidikanuntuk ara mustahiq.
Dalam pelaksaaan dan penerapan rencana strategis, BAZ / LAZ harus mampu
melakukan pemantauan yang berkesinambungan, baik kondisi pemetaan delapan asnaf secara
umum, atau pihak pihak mustahiq yang langsung meneima penyaluran dana zakat, sehingga
memungkinkan pengambil kebijakan untuk dapat mendukung rumah tangga mustahiq,
terutama untuk mereka yang tergolong miskin, agar memliki peluang untuk secara terus
menerus memperbaiki kehidupannya sehingga dapat terbebas dari situasi yang rentan.
Dalam jamgka pendek, pmnatauan harus dapat memberikan data dan informasi yang
tepat tentang rumah tangga mustahiq. Dalam hal ini, BAZ / LAZ bisa bekerja sama dengan
jaringan masjid, sehingga program program bantuan dapat didistribusikan tepat sasaran.
E; Distribusi Produktif Dana Zakat

Saat ini yang menjadi trend dari Islamization process yang dikembangkan oleh
pemikir kontemporer ekonomi Islam adalah mengganti ekonomi sistem bunga dengan sistem
ekonomi bagi hasil, mengoptimalkan sistem zakat dalam perekonomian.
Belakangan ini, intermediary sistem yang mengelola investasi dan zakat lahir secara
menjamur. Lembaga perbankan bergerak dengan proyek investasi nonriba, sedangkan
lembaga zakat selain mendistribusikan zaat secara konsumtif, saat ini juga telah
mengembangkan sistem distribusi dana zakatv secara produktif.

15 | P a g e

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah At Taubah : 60, Sesunggyhny zakat
zakat itu hanyalah untuk orang orang fakir, orang orang miskin, pengurus pengurus
zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk ( memerdekakan ) budak, orang orang
yang berutang, dan orang orang yang sedang dalam perjalanan, sevagai suatu ketetapan
yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mnegetahui Maha Bijaksana.
Oleh karena itu, dana zakat yang digulirkan secara produktif tentunya tidak dapat
menuntut adanya tingkat pengembalian tertentu, sebagaimana haknya sumber dana selain
zakat.
Adanya pola qardul hasan, yaitu :
a; Muzaki membayar zakat kepada BAZ / LAZ
b; BAZ / LAZ menyalurkan kepada mustahiq 1 untuk dimanfaatkan sebagai modal
c;
d;
e;
f;
g;

usaha
Usaha untung maka mustahiq mengemblikan modalnya kepada BAZ / LAZ
Usaha rugi maka tidak perlu mengembalikan modalnya
BAZ / LAZ menerima modal kembali dari mustahiq yang mengalami keuntungan
usaha
BAZ / LAZ memilih menyalurkan kembali kepada mustahiq unuk penambahan
modal
BAZ / LAZ memilih meyalurkan kepada mustahiq II untuk dimanfaatkan sebagai
modal usaha, dan begitu seterusnya

Selain pola qardul hasan, ada fenomena menarik yang dilakukan oleh BAZIS DKI
sejak tahun 1999, yaitu penyaluran dana zakat produktif yang memanfaatkan pola
mudharabah. Pola mudharabah itu terdiri dari :
a; Muzaki memayar zakat kepada BAZ / LAZ
b; BAZ / LAZ menyalurkan kepada mustahiq I untu dimanfaatkan sebagai modal

usaha
c; Usaha untung, maka mustahiq dan BAZ / LAZ saling membagi hasil keuntungan
d; Mustahiq mengambil sejumlah persen keuntungan dan sejumlah persen
dikembalikan kepada BAZ / LAZ berikut modalnya
e; BAZ / LAZ menerima modal kembali berikut prosentase keuntungan usaha
f; BAZ / LAZ memilih meyalurkan kembali kepada mustahiq untuk penambahan
modal
g; BAZ / LAZ memilih menyaalurkan kepada mustahiq II untuk dimanfaatkan
sevagai modal usaha, dan begitu seterusnya
h; Usaha rugi, maka mustahiq tidak perlu mengembalikan modalnya.12
F; Syarat Syarat Kesuksesan Penerapan Zakat Pada Masa Kontemporer
12 Arif Mufraini, Akuntansi dan Manajemen Zakat, hlm. 154 -- 168
16 | P a g e

Banyak persyaratan penting apabila dipenuhi dapat menjamin keuksesan penerapan


zakat pada masa kini, khususnya apabila masalah ii ditangani oleh suatu lembaga, di
antaranya :
a; Perluasan dalam kewajiban zakat

Yang tercakup dalam konsep ini adalah bahwasannya semua harta yang berkembang
mempunyai tanggungan wajib zakat dan berpotensi sebagai investasi bagi penanganan
kemiskinan.
Secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut :

b;
c;

d;

e;

Sesungguhnya keumuman yang ada dalam nash Al Quran dan


Hadits Rasulullah SAW menetapkan, bahwasannya di setiap harta
tedapat hak orang lain.
Setiap orang memilki kelebihan harta ( orang kaya ) membutuhkan
penyucian atas harta yang mereka miliki
Sesungguhnya zakat disyariatkan untuk menutupi kebutuhan para
delapan asnaf

Qiyas atas semua harta yang berkembang dengan harta yang


Rasulullah wajibkan untuk dikeluarkan zakatnya
Pengelolaan zakat dari harta tetap dan tidak tetap
Administrasi yang accountable, terdapat dua hal yaitu :
Pemilihan SDM terbaik untuk menempati lembaga zakat
Menjaga keseimbangan dan juag hemat dalam keuangan administratif
Pendistribusian yang Accountable
Mengutamakan distribusi domestik ( penerima zakat berada dalam
lingkungan terdekat )
Pendistribusian yang merata ( keadilan bagi setiap mustahiq )
Membangun kepercayaan antara pemberi zakat dan penerima zakat
Produktivitas pekerjaan melalui manajemen Islam13

13 Yusuf Qardhawi, Soektrum Zakat dalam Pembangunan Ekonomi Kerakyatan,hlm. 93


17 | P a g e

BAB III
PENUTUP
A; Kesimpulan

Zakat adalah ibadah maaliyah ijtimaiyyah, artinya ibadah dibidang harta yang
memiliki kedudukan yang sangat penting dalam pembangunan masyarakat. Jika zakat
dikelola dengan baik, baik pengambilan maupun pendistribusiannya dengan menerapkan
fungsi-fungsi manajemen modern, insya Allah akan dapat mengangkat kesejahteraan
masyarakat.
Karena itu di dalam al-quran dan hadis, banyak perintah untuk berzakat, sekaligus
pujian bagi yang melakukannya, baik didunia ini maupun di akhirat nanti. Sebaliknya,
banyak pula ayat al-quran dan hadis nabi yang mencela orang yang enggan melakukannya,
sekaligus ancaman duniawi dan ukhrawi bagi mereka. Olehnya itu perlunya pengelolaan
zakat secara profesional oleh lembaga yang dipercaya dan dikelola oleh pengelola zakat
(amil) yang amanah, jujur, dan profesional.

18 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA
Qardhawi, Yususf, Spektrum Zakat, Jakarta : Zikrul Hakim, 2005
Khasanah, Umrotul, Manajemen Zakat Modern, Malang : UIN MALIKI Press,
2010
Mufairin, Arif, Akuntansi dan Manajemen Zakat, Jakarta : Prenada Media Group,
2006
Syaikh, Ibrahim Yasin, Zakat Membersihkan Kekayaan Menyempurnakan Puasa
Ramdhan, Bandung : Penerbit Marja, 2004
Djuanda, Gustian, dkk, Pelaporan Zakat Pengurang Pajak Penghasilan,
http://siti-khamidiyah.blogspot.com/2012/04/manajement-ppengelolaan-zakatmasa.html
http://m.bisnis.com/quick-news/read/20141006/79/262621/badan-amil-zakat-ini33-baznas-provinsi-di-indonesia
http://download.portalgaruda.org/article.php?articleSEJARAH

19 | P a g e