Anda di halaman 1dari 7

TUGAS RANGKUMAN

TEKNIK PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI


(Pedoman dan Pelaksanaan Identifikasi Karakteristik Das)

Oleh :
Nama : Rosullah Aprilian Ihsan
NPM : 240110120017
Lab

: Teknik Tanah dan Air

DEPARTEMEN TEKNIK MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2015

PEDOMAN IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK DAS


DAS adalah suatu wilayah kesatuan ekosistem yang dibatasi oleh pemisah
topografis dan berfungsi sebagai pengumpul, penyimpan, dan penyalur air,
sedimen, polutan, dan unsur hara dalam sistem sungai dan keluar melalui satu
outlet tunggal.
DAS mempunyai 3 (tiga) ciri/watak, yaitu
- DAS Bagian Hulu didefinisikan sebagai daerah aliran yang terbatas pada
bagian Hulu dimana > 70% dari permukaan lahan DAS tersebut umumnya
mempunyai kemiringan lahan > 8%. Biasanya sebagai fungsi produksi
atau sebagai daerah resapan
- DAS Bagian Tengah didefinisikan sebagai aliran yang terbatas pada
bagian tengah, dimana kurang lebih 50% dari permukaan lahan DAS
tersebut mempunyai kemiringan lahan < 8% Biasanya sebagai fungsi
transpot material
- DAS Bagian Hilir didefinisikan sebagai daerah aliran yang terbatas pada
bagian Hilir, dimana kurang lebih 70% permukaan lahannya mempunyai
kemiringan < 8%. Biasanya sebagai fungsi deposisi (pengendapan).
Pengelolaan DAS adalah upaya manusia dalam mengatur hubungan
timbal-balik antara sumberdaya alam dengan manusia di dalam DAS dan segala
aktivitasnya, agar terwujud kelestarian dan keserasian ekosistem serta
meningkatnya kemanfaatan sumberdaya alam bagi manusia secara berkelanjutan.
Pengelolaan DAS dilakukan sesuai dengan azas One Watershed One
Management Plan yang artinya bahwa satuan DAS telah ditetapkan sebagai
satuan (unit) pengelolaan dan penanganan yang berbeda antara satu DAS dengan
satuan DAS yang lain sesuai dengan karakteristik DAS.
Secara umum metode identifikasi karakteristik DAS yang digunakan :
1. Metode interpretasi dilakukan pada citra penginderaan jauh dan pada petapeta tematik
2. Melakukan integrasi data geofisik DAS yang diperoleh hasil interpretasi
citra penginderaan jauh dan peta dasar serta peta-peta tematik dengan data
social ekonomi budaya dan kelembagaan DAS hasil pengumpulan data
sekunder dari instansional.
Karakteristik DAS pada dasarnya meliputi 2 (dua) bagian
a. Karakteristik biogeofisik meliputi:
(a) karakteristik meteorologi DAS,
- Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam
tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.
- Intensitas hujan adalah banyaknya curah hujan persatuan jangka waktu
tertentu.
(b) karakteristik morfologi DAS,

geologi merupakan variabel yang sangat penting dalam pembentukan


karakteristik DAS dalam kaitannya dengan air permukaan maupun air
tanah.
- Geomorfologi mempengaruhi besarnya potensi limpasan permukaan,
erosi, banjir dan tanah longsor yang terjadi di wilayah DAS.
- topografi dibagi menjadi ketinggian DAS, orientasi DAS, kemiringan
lereng DAS dan bentuk lereng DAS.
(c) karakteristik morfometri DAS,
- Luas DAS dibatasi oleh igir pegunungan yang berfungsi sebagai batas
(river divide) dan akhirnya mengalirkan air hujan yang bertemu pada satu
outlet.
- Bentuk DAS mempunyai pengaruh pada pola aliran sungai dan ketajaman
puncak discharge banjir.
- Pola aliran atau susunan sungai pada suatu DAS merupakan karakteristik
fisik setiap drainase basin yang penting karena pola aliran sungai
mempengaruhi efisiensi sistem drainase serta karakteristik hidrografis dan
pola aliran menentukan bagi pengelola DAS untuk mengetahui kondisi
tanah dan permukaan DAS khususnya tenaga erosi.
- Kerapatan Aliran adalah panjang aliran sungai per kilometer persegi luas
DAS.
- Profil Sungai Utama
(d) karakteristik hidrologi DAS,
- Limpasan permukaan (overland flow) merupakan bagian kelebihan hujan
(excess rainfall) yang mengalir di permukaan lahan pada saat
terjadinhujan, apabila hujan berhenti maka tidak terjadi lagi limpasan
permukaan.
- Perhitungan debit maksimum (banjir puncak, Qmaks) dilakukan pada
mulut sungai dari DAS ataupun Sub DAS diestimasi berdasarkan pada
nilai koefisien limpasan permukaan (C), intensitas hujan (I) yang lamanya
sama dengan waktu konsentrasi (Tc), dan luas DAS (A).
- Perhitungan debit minimum (Qmin) di lapangan dilakukan di mulut sungai
dalam suatu DAS atau Sub-DAS dalam kondisi musim kemarau pada saat
debit sungai terkecil.
- Debit aliran rata-rata (Qav) dari suatu sungai merupakan besaran hidrologi
yang penting sebagai indikator potensi DAS dalam menyimpan air hujan
yang jatuh ke dalam lapisan akuifer untuk selanjutnya dikeluarkan secara
pelan-pelan dalam bentuk mataair ataupun rembesan.
- Debit jenis atau spesifik (Qsp) dari suatu sungai sebagai indikator
kemampuan satuan luas DAS dalam menyimpan dan mengalirkan air
hujan yang tersimpan dalam DAS sebagai prosesor yang baik, sehingga
hal ini juga menunjukkan karakteristik DAS atau kesehatan DAS terjaga
atau tidak.
- Koefisien Regime Sungai (Qmaks/Qmin)

Koefisien Storage sungai (Qmin/Qav) merupakan indikator besaran


hidrologi untuk menyatakan apakah DAS itu berfungsi sebagai prosesor
untuk menyimpan air hujan yang jatuh sehingga dapat membentuk mataair
yang permanen atau relatif permanen.
(e) karakteristik kemampuan DAS.
- Erosi dan Sedimentasi. Pendugaan kehilangan Lapisan Tanah Atas sebagai
Erosi Permukaan (Surface Erosion) dan sedimentasi dapat dilakukan
melalui berbagai cara, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif
berdasarkan konsep satuan lahan dalam satuan Daerah Aliran Sungai
(DAS) atau sub-DAS.
- Penutup Lahan merupakan tingkatan skala kecil (makro) atau dalam
perencanaan DAS termasuk skala provinsi (DAS antar provinsi),
Penggunaan Lahan tingkatan skala menengah (meso) dan dalam
perencanaan DAS termasuk skala kabupaten (dalam satu atau antar dua
kabupaten), dan Pemanfaatan Lahan merupakan tingkatan skala besar
(mikro) dan dalam perencanaan DAS termasuk skala rencana teknis
lapangan (RTL) untuk manajemen lahan.
- Daya dukung lahan adalah kemampuan suatu lahan untuk mendukung
dalam alokasi pemanfaatan ruang/lahan dalam wilayah DAS untuk tujuan
penataan ruang yang sesuai dengan kapasitas penyediaan (supportive
capacity) dan kapasitas daya tampung DAS (assimilative capacity).
Kemampuan lahan berkaitan dengan tingkat bahaya kerusakan dan
hambatan dalam pengelolaan lahan DAS, apabila tingkat bahaya atau
resiko kerusakan dan hambatan penggunaan ruang meningkat maka
spektrum penggunaan ruang dalam DAS akan menurun.
b. Karakteristik sosial ekonomi budaya dan kelembagaan meliputi:
(a) karakteristik sosial kependudukan DAS,
- Jumlah dan Kepadatan Penduduk yang merupakan cerminan dari besarnya
tekanan penduduk terhadap lahan. Cara mengukur kepadatan penduduk
geografis adalah dengan membagi jumlah penduduk dengan satuan jiwa di
suatu wilayah dengan luas wilayah tersebut dengan satuan km2.
- Jumlah dan Kepadatan Penduduk Agraris yang menunjukkan adanya
tekanan terhadap lahan pertanian. Cara mengukur kepadatan penduduk
agraris adalah dengan membagi jumlah petani dengan satuan jiwa di suatu
wilayah dengan luas lahan pertanian di wilayah tersebut dengan satuan
km2.
- Persentase Rumah Tangga Petani
(b) karakteristik sosial budaya DAS,
- Tingkat Pendidikan
- Kearifan/Nilai-Nilai Lokal Masyarakat yang dapat diperoleh dengan cara
wawancara terstruktur dengan panduan kuesioner atau wawancara
mendalam (indepth interview) dengan metode sampling kepada informan
misal kepada tokoh masyarakat atau kepala desa.

(c) karakteristik sosial ekonomi DAS,


- Mata Pencaharian
- Tingkat Pendapatan
(d) karakteristik kelembagaan DAS.
- Peran Lembaga Pemerintah Dalam Konservasi DAS. Kegagalan berbagai
proyek pembangunan di Indonesia salah satu penyebabnya adalah belum
siapnya lembaga di tingkat lokal yang langsung menyentuh target group
(msayarakat) dalam menjalankan proyek pembangunan tersebut.
- Peran Lembaga Adat Masyarakat Dalam Konservasi DAS
- Sinergisme fungsi Kelembagaan DAS yang bertujuan untuk optimasi hasil
pembangunan dengan penggabungan berbagai kelembagaan yang berbeda
akan dicapai hasil yang lebih baik dari pada masing-masing kelembagaan
berdiri sendiri-sendiri. Sinergisme fungsional kelembagaan antar institusi
dalam ruang/wilayah/daerah yang sama dalam pengelolaan suatu DAS
perlu diatur untuk menentukan tugas dan wewenang, sehingga penanganan
program pembangunan dapat dilaksanakan dengan baik.

PELAKSANAAN IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK DAS


A. Tahap Persiapan
1. Pembentukan Tim Pelaksana
- Tim Pemetaan/GIS. Tim ini bertanggung-jawab dalam pekerjaan kartografi
dan proses analisis peta-peta digital. Disamping itu Tim juga melakukan
pelaksanaan ground-check hasil pemetaan tersebut;
- Tim Survey. Tim ini bertanggung jawab dalam proses pengumpulan dan
pengolahan data sekunder (kondisi umum Biofisik dan Sosial Ekonomi
DAS).
- Tim Penyusun Naskah Karakteristik DAS. Tim ini bertugas menyusun naskah
Buku I, II dan III.
2. Administrasi
B. Tahap Kegiatan
1. Pengadaan Bahan
a. Alat tulis dan alat gambar
b. peralatan survey sampel air, bor tanah, kompas, termometer, pengukur
debit, dlL
c. Peta meliputi: Peta topografi atau Peta Rupabumi Indonesia, Peta tanah,
Peta geologi, Peta iklim, Peta penggunaan lahan, Peta penutupan lahan,
Peta lereng, Peta tingkat bahaya erosi, Peta pola aliran DAS/sub DAS
2. Pembuatan Borang/Blangko Isian: Morfometri DAS, Morfologi, Penutupan
lahan DAS, Penggunaan lahan, Debit sungai, Data erosi DAS, Iklim dari stasiun
meteorologidalam DAS, Data penduduk, Data sarana/prasaran dan social ekonomi
penduduk
C. Tahap Pelaksanaan
Untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan dilakukan dengan:
1. Deliniasi batas DAS dan penggambaran peta dasar DAS
2. Pengumpulan data sekunder, meliputi: peta-peta (hutan,pola aliran, topografi,
tingkat bahaya erosi, iklim, lereng, tanah, goelogi, penggunaan lahan,
penutupan lahan), data statistic, data DAS (morfometri, morfologi, erosi,
debit, lereng, panjang sungai, dll. Tabel isian terlampir pada Format 3).
3. Penggunaan data primer/survey lapangan, meliputi pengamatan dan
pengukuran kondisi DAS, lereng , penggunaan lahan, proses geomorfik
dalam DAS.
D. Tahap Penyusunan Laporan
1. Laporan dan Pembahasan I (Lingkup Kementerian Kehutanan di Daerah)
dititikberatkan pada metode penyusunan karakteristik DAS yang telah
disusun oleh Tim Penyusun.

2. Laporan dan Pembahasan II (Melibatkan Instansi Terkait di Daerah)


dititikberatkan pada hasil pemetaan karakteristik DAS dan hasil survei
lapangan yang telah disusun oleh Tim Penyusun.
3. Laporan Akhir dititikberatkan pada hasil analisis terhadap pemetaan
karakteristik DAS dan hasil survei lapangan yang telah disusun oleh Tim
Penyusun.
4. Penggandaan, Penjilidan, dan Pengiriman Laporan