Anda di halaman 1dari 4

KOMPLIKASI HIV (1)

1. Sistem Respirasi
Penyakit pada sistem respirasi merupakan bentuk komplikasi yang sering terjadi pada
infeksi HIV. Pada pasien yang mengalami penurunan jumlah sel T CD4+, lebih sering
mengalami bronkitis akut dan sinusitis. Selain itu Pneumonia juga sering terjadi,
terutama Pneumonia yang disebabkan oleh protozoa Pneumocystis carinii (PCP:
Pneumocystis carinii pneumonia). Komplikasi yang paling sering adalah infeksi oleh
bakteri basil tahan asam Mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan penyakit
tuberkulosis.
2. Sistem Kardiovaskular
Penyakit kardiovaskular dapat dilihat sebagai komplikasi langsung dari infeksi HIV
(HIV-associated cardiomyopathy, pericarditis, efusi perikardial / tamponade
jantung) atau sebagai akibat dari pemberian terapi antiretrovirus sebagai bagian dari
sindrom lipodistrofi.
3. Oropharynx dan Sistem Gastrointestinal
Komplikasi yang terjadi pada oropharynx dan sistem gastrointestinal juga merupakan
komplikasi yang sering terjadi akibat infeksi HIV, biasanya terjadi akibat infeksi
oportunistik. Penyakit-penyakit yang dapat terjadi adalah candidiasis, esofagitis.
Gejala pada sistem gastrointestinal dapat disebabkan oleh infeksi bakteri (Salmonella,
Shigella, Campylobacter), protozoa (Cryptosporidia, Mycrosporidia, dan Isospora
belli), jamur (histoplasmosis, coccidioidomycosis, dan penicilliosis).
4. Sistem hepatobiliaris
Penyakit pada sistem hepatobiliaris merupakan komplikasi yang paling berbahaya
yang diakibatkan oleh infeksi HIV, dan diperkirakan sepertiga pasien dengan infeksi
HIV meninggal akibat penyakit pada liver. Kira-kira 95% dari pasien yang terinfeksi
HIV juga terinfeksi virus hepatitis B (HBV), dan 5-40% terjadi co-infeksi dengan
hepatitis C (HCV), hepatitis D,E, dan/atau G.

5. Ginjal dan Sistem Genitourinaria


Komplikasi pada ginjal dan sistem genitourinaria biasanya juga disebabkan oleh
infeksi oportunistik. Untuk penyakit ginjal, biasanya akan ditemukan proteinuria.
Selain itu penggunaan pentamidine, amphotericin, adefovir, cidofovir, dan foscarnet
juga dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal.

Infeksi sistem genitourinaria ditemukan dengan gejala disuria, hematuria, dan/atau


piuria dan paling sering disebabkan oleh infeksi Treponema pallidum yang
menyebabkan penyakit sifilis
6. Sistem Endokrin dan Metabolik
Pemberian terapi antiretroviral dapat menyebabkan sindrom lipodistrofi yang terdiri
dari peningkatan trigliserida plasma, kolesterol total, apo-lipoprotein B. Fungsi
kelenjar tiroid biasanya normal, akan tetapi 2-3% pasien dapat mengalami
peningkatan TSH (Thyroid Stimulating Hormone) akibat infeksi patogen oportunistik
pada kelenjar tiroid, antara lain P.carinii, Toxoplasma gondii, dan Cryptococcus
neoformans.
7. Sistem Hematopoetik
Komplikasi pada sistem hematopoetik yang disebabkan oleh infeksi HIV antara lain
limfadenopati, anemia, leukopenia, dan/atau trombositopenia. Keadaan tersebut
dapat diakibatkan oleh infeksi langsung dari HIV, infeksi sekunder dan neoplasma,
atau sebagai efek samping dari terapi.
8. Kulit
Komplikasi pada kulit terjadi pada lebih dari 90% pasien dengan infeksi HIV, dapat
berupa dermatitis seboroik, eosinophilic pustular folliculitis, psoriasis, iktiosis,
reaktivasi herpes zoster, herpes simpleks).
9. Sistem Neurologis
10. Mata
Kelainan yang paling sering ditemukan pada pasien dengan infeksi HIV melalui
pemeriksaan funduskopi adalah cotton-wool spots, yaitu sebuah area berwarna putih
yang terdapat di permukaan retina dan biasanya memiliki tepi yang tidak teratur.
KOMPLIKASI TUBERKULOSIS (2)
Selain paru-paru, kuman tuberkulosis juga dapat menyerang organ-organ ekstrapulmonal dan
menyebabkan penyakit antara lain :
1. Lymph-node tuberculosis
Lymph-node tuberculosis ditandai dengan pembengkakan dari kelenjar getah bening,
umumnya ditemukan di kelenjar getah bening servikal dan supraklavikular (biasanya
disebut dengan skrofula).

2. Tuberkulosis pleura
Tuberkulosis pleura disebabkan oleh adanya penetrasi basil tuberkel ke rongga pleura,
dan biasanya dapat menyebabkan efusi pleura. Pada pemeriksaan fisik akan
ditemukan perkusi dullness, dan suara napas menghilang. Dan pada pemeriksaan
radiologis ditemukan adanya efusi dan juga ditemukanlesi parenkim.
3. Tuberkulosis saluran pernapasan atas
Tuberkulosis saluran pernapasan atas melibatkan laring, faring dan epiglotis. Gejala
yang sering ditemukan adalah disfagia dan batuk kronik yang produktif. Pemeriksaan
dengan laringoskopi biasanya ditemukan ulserasi.
4. Tuberkulosis genitourinaria
Tuberkulosis genitourinaria biasanya disebabkan oleh penyebaran kuman secara
hematogen. Gejala yang sering ditemukan antara lain disuria, hematuria, nyeri, dan
pada beberapa pasien dapat ditemukan piuria.
5. Tuberkulosis skeletal
Kuman tuberkulosis dapat menyerang tulang. Pada tuberkulosis ringan, tulang yang
diserang contohnya tulang femur, sedangkan pada tuberkulosis berat, yang diserang
adalah vertebra (spondilitis). Spondilitis biasanya melibatkan dua korpus vertebra
atau lebih, pada orang dewasa paling sering menyerang vertebra torakalis bagian
bawah dan vertebra lumbalis.
6. Tuberkulosis meningitis dan tuberkuloma
Tuberkulosis pada sistem saraf pusat sangat jarang ditemukan, yaitu hanya sekitar 5%.
Terjadi akibat penyebaran kuman tuberkulosis secara hematogen dan dapat
diakibatkan oleh pecahnya tuberkel di ruang subaraknoid.
7. Tuberkulosis gastrointestinal
Komplikasi pada sistem gastrointestinal dapat disebabkan karena menelan sputum
yang mengandung kuman tuberkulosis, penyebaran secara hematogen, dan konsumsi
susu sapi yang mengandung bakteri M.bovis (jarang).
8. Tuberkulosis perikarditis
Tuberkulosis perikarditis dapat merupakan akibat dari penyebaran kuman tuberkulosis
secara per-kontinuitatum ataupun secara hematogen.
9. Tuberkulosis miliaris / diseminata
Tuberkulosis miliaris disebabkan oleh penyebaran basil tuberkel secara hematogen.
Lesi dapat berbentuk granuloma berwarna kekuningan, berdiameter 1-2 mm. Gejala

klinis biasanya tidak spesifik, antara lain demam, keringat malam, anoreksia, lemah,
dan kehilangan berat badan. Selain itu juga ditemukan gejala pada sistem respirasi
dan sistem pencernaan.

Dafpus
1. Fauci AS, Lane HC. Human Immunideficiency Virus Disease: AIDS and Related
Disorders. In: Kasper DL, Braunwald E, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson
JL, Editors. Harissons Principles of Internal Medicine. 16th ed. New York: McGrawHill Medical Publising Division; 2005. p.1076-1123.
2. Raviglione MC, OBrien RJ. Tuberculosis. In: Kasper DL, Braunwald E, Fauci AS,
Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, Editors. Harissons Principles of Internal
Medicine. 16th ed. New York: McGraw-Hill Medical Publising Division; 2005. P.9579.