Anda di halaman 1dari 5

Patofisiologi

Kanker atau tumor ganas maigna berasal dari bahasa latin yang berartikan
kepiting, maksud dari kata kepiting ini adalah tumor melekat erat ke semua
permukaan yang di pijaknya, seperti seekor kepiting. Secara umum proses yang
menyebabkan tebentuknya suatu tumor baik jinak dan ganas disebut karsinogenesis.
Secara garis besar, pada kanker terdapat 3 tahapannya :
1. Fase inisiasi.
Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel yang memancing
sel menjadi ganas. Perubahan dalam bahan genetik sel ini disebabkan oleh suatu agen
yang disebut karsinogen, yang bisa berupa bahan kimia, virus, radiasi (penyinaran)
atau sinar matahari. Tetapi tidak semua sel memiliki kepekaan yang sama terhadap
suatu karsinogen. Kelainan genetik dalam sel atau bahan lainnya yang disebut
promotor, menyebabkan sel lebih rentan terhadap suatu karsinogen. Bahkan gangguan
fisik menahun pun bisa membuat sel menjadi lebih peka untuk mengalami suatu
keganasan.
2. Fase promosi.
Pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah menjadi
ganas. Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak akan terpengaruh oleh promosi.
Karena itu diperlukan beberapa faktor untuk terjadinya keganasan (gabungan dari sel
yang peka dan suatu karsinogen).
3. Fase progressi
Suatu periode dimana banyak tumor menjadi lebi agresif dan semakin ganas.
Ditingkat molekular, progressi tumor kemungkinan besar terjadi akibat mutasi
multipel yang terakumulasi secara indenpenden pada sel yang berbeda-beda.

Namun meningkatnya literatur yang mendalami tentang dasar molekular,


mengkaji secara biomol sifat karsnogen. Prinsip secara mendasar mengenai
biomolekular kanker adalah :
1. Adanya kerusakan genetik non letal
2. iga gen reguatorik normal, protoonkogen yang mendorong pertumbuhan,
tumor supressor gene yang menghambat pertumbuhan, dan gen yang mengatur
program kematian cell (apoptosis). Alel mutan protoonkogen disebut
onkogen.

3. Gen yang mengatur perbaikan DNA yang rusak. Gen yang memerbaiki DNA
memengaruhi proliferasi atau kelangsungan hidup sel secara tidak langsung
dengan memengaruhi kemampuan organisme memerbaiki kerusakan non letal
di gen lain, termasuk protoonkogen, gen penekan tumir,, dan gen yang
mengendalikan poptosis. Kerusakan pada gen yang memerbaiki DNA dapat
memudahka terjadinya mutasi luas di genom dan transformasi neoplastik.
Namun secara fisiologis sel kanker memiliki 5 regulasi dalam melakukan
karsinogenesis, yakni :
1. self sufficiency (menghasilan sendiri) sinyal pertumbuhan
2. insensitivitas pada sinyal penghambat pertumbuhan
3. menghindari apoptosis
4. kemampuan replikasi tanpa batas
5. angiogenesis berkelanjutan
6. kemampuan menginvasi dan beranak akar
A.
Menghasilkan sendiri sinyal pertumbuhan
Pada keadaan fisiologis, proliferasi sel dapat dengan mudah dibagi menjadi langkahlangkah berikut :
Terikatnya suatu faktor pertumbuhan ke reseptor spesifik di membran sel
Aktivasi reseptor faktor pertumbuhan secara transien dan terbatas, yang
kemudian mengaktifkan beberapa protein transduksi-sinyal dalam membrn
plasma
Transmisi sinyal ditransduksi melintasi sitosol menuju inti sel melalui
perantara kedua
Induksi dan aktivasi faktor regulatorik inti sel yang memicu transkripsi DNA
Sel masuk dalam dan mwngikuti siklus sel yang akhirnya menyebabkan sel
membelah.
Pada sel yang mengalami karsinogenesis terjadi disregulasi dari fisiologis diatas,
seperti beberapa proses berikut :
1. Mampu menyintesis faktor pertumbuhan , seperti PDGF (platelet derived
growth factor), TGF-alpha (transforming growth factor-alpha).
2. Mengalami mutasi sehingga mampu mengekspressikan berlebihan terhadap
peerjemahan ikatan reseptor dan molekul faktor pertumbuhan. Seperti pada
kanker payudara yang telah dikenal ERBB2 , sehingga pengobatan
biomolekular dapat dilakukan melalui blokade ERBB2 atau anti HER-2.
3. Mutasi yang mengakibatkan aktivasi secara kontinue pada protein penghantar
sinyal seperti pada gen BCR-ABL yang mengontrol aktivitas tirosen kinase ,
yang telah juga ditemukan pengobatannya blokade BCR-ABL ( STI 571 ).
Mutasi juga dapat terjadi pada gen yang mengotrol RAS, serta penontaktivan
RAS (insensitivitasnya GTPase untuk menghidrolisis fofat GTP menjadi GDP
untuk proses nonaktiv pada RAS).
4. Mutasi pada gen yang mengatur transkripsi didalam inti sel. Banyak gen yang
menyandi untuk proses transkrip DNA untuk sinyal proliferasi sel salah
satunya MYC, MYB, JUN, FOS, REL. Namun yang berperan penting dalam
karsinogenesis adalah mutasi gen MYC yang dimana protein MYC yang
dihasilkannya, berlebih sehingga terjadi ikatan dengan DNA yang
menyebabkan proliferasi sel yang berlebih pula.

Gambar proliferasi sel dan kaitanya dengan mutasi pada sel kanker
5. etelah pengikatan protein dan DNA, aktivasi siklin yang akan berikatan dengan
CDK menyebabkan fosforilasi pada inti sel sehingga mampu untuk memulai proses
proliferasi sel (G1 S G2 M ) yang mengalahkan inhibitor CDK dalam
penghambatan mitosis sel. Adanya mutasi pada siklin, sehingga dia terekspressi
berlebihan, menyebabkan pengikatan CDK-siklin yang berlebih yang sudah barang
tentu meningkatkan mutasi sel.

6 . Terjadinya insensitivitas terhadap sinyal yang


menghambat pertumbuhan. Faktor ini tidak begitu berperan pada kanker mammae,
telah ada study yang memelihatkan adanya keterkaitan proses ini pada kanker kolon.

Gambar peran APC sebagai antiproliferasi dan keterkaitan mutasinya.


Menghindar dri apoptosis dilakukan dengan perubahan mutasi pada gen-gen yang
menyandi apoptosis seperti pada BID, BAX, gangguan pelepasan sitokrom-c ,
ekspressi berlebihan dri gen BCL-2 yang meningkatkan proliferasi.

Gambar jalur apoptosis sel


8. secara noemal sel mampu menggandakan diri 60 sampai 70 kali. Setelah itu sel
akan mengalami kemampuan membelah dan masuk masa pensiun nonreplikatif. Hal
ini diperkirakan adanya kemampuan sel kanker yang mampu menyintesis enzimenzim penting dalam memertahankan panjangnya telomer, yang seharusnyaktor
pertumbuhan kian memendek.

9. neovaskularisasi sangat dibutuhkan sel kanker untuk menunjang aktivitas


biologiknya yang sangat tinggi. Jika jauh pada vascular segera pembentukan faktor
vascularisasi terkativasi seperti VEGF (vascular endothelial growth factor), basic
fibroblast growth factor. Adanya penemuan jalur vascularisasi ini juga berguna untuk
terapi terkait pemutusan jalur vascularisasi sehingga hipoksia dan kematian sel kanker
yang diharapkan terjadi.
10. kemampuan metastasis adalah sikap akhir dari suatu kanker. Kemampuannya
bermetastasis beragam, dekat hingga jauh dari asalnya sel kanker itu sendiri. Proses
invasi sel kanker pada vascular, limfogen. Sekat antar sel kanker atau tight junction
yang telah berubah pada sel kanker menyebabkan kerenggangan satu dan lain,
reseptor yang banyak pada sel kanker menyebabkannya mampu berrikatan dengan
membrana basalis dan stroma-stroma menuju vascular atau limfonodus. Salah satu
reseptor kuat yang telah diperlihatkan pada kanker mammae adalah laminin, yang
berkorelasi dengan metastasisnya pada limfogen. Sel kanker mampu menghasilkan
enzim proteolisis jaringan, seperti ketepsin D, kolagenase tipe IV. Saat ini tengah
diusahakan terpi anti katepsin D yang mencegah metastasis pada deteksi kanker dini.
Setelah masuknya kanker pada vascular atau limfogen sel kanker yang memiliki
banyak reseptornya ini akan migrasi dan melakukan ekstravasasi pada jaringan yang
disukainya.

Gambar metastasis suatu cancer


Karsinogenesis akan memberikan dampak sebagai berikut ;