Anda di halaman 1dari 5

MASERASI

Maserasi merupakan salah satu teknik pembuatan preparat yang digunakan untuk
melihat kenampakan sel secara utuh. Prinsip kerja dari teknik pembuatan ini adalah dengan
cara memutuskan lamella tengah dari sel tumbuhan. Pemutusan lamella tengah bertujuan
memisahkan bagian sel dengan sel lainnya sehingga sel bisa dilihat secara satuan utuh. Teknik
ini sangat bermanfaat. Banyak penelitian melakukan teknik ini untuk mengekstraksi suatu zat
atau bagian tertentu dari sel tumbuhan.

Gambar 1. Preparat Maserasi Batang Membujur Anggrek Kalajengking (Arachnis maingayi)


Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan
cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyarian. Cairan penyarian akan menembus
dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut
dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di
luar sel, maka larutan yang terpekat akan didesak keluar. Peristiwa tersebut berulang sehingga
terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel. Maserasi
digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif mudah larut dalam cairan
penyarian, tidak mengandung zat mudah mengembang dalam cairan penyari, tidak
mengandung benzoin, stirak dan lain-lain. Keuntungan cara penyarian dengan Maserasi
adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan.
Kerugian cara Maserasi adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna.

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut


dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar). Secara
teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian konsentrasi pada
keseimbangan. Maserasi merupakan proses dimana simplisia yang sudah halus
memungkinkan untuk direndam dalam menstrum sampai meresap dan melunakkan susunan
sel, sehingga zat-zat mudah larut akan melarut. Maserasi merupakan cara penyarian yang
sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan
penyarian. Cairan penyarian akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang
mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara
larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di luar sel, maka larutan yang terpekat akan didesak
keluar (Gembong, 2005).
Beberapa contoh ekstraksi dengan menggunakan teknik maserasi adalah mengekstrak
artermisin yang terdapat pada tumbuhan Artemisia annua L. Ekstraksi secara maserasi dengan
pelarut n-heksana, dengan alat soxhlet menggunakan pelarut n-heksana, dan maserasiperkolasi dengan pelarut metanol. Ekstrak n-heksana difraksinasi dengan metanol 60%, fraksi
metanol difraksinasi dengan n-heksana-etil asetat (9:1). Ekstrak metanol ditambahkan air
suling, dan disentrifuga. Supernatan yang diperoleh difraksinasi dengan n-heksana.
Pemekatan fraksi n-heksana atau n-heksana-etil asetat menghasilkan kristal yang
direkristalisasi dengan metanol. Artemisinin 0,22 % b/b dari ekstrak n-heksana secara
maserasi pengadukan, 0,29% b/b dari ekstrak n-heksana menggunakan soxhlet, dan 0,4% b/b
dari ekstrak metanol secara maserasi (Kertasaputra, 1998).
Maserasi dilakukan dengan metode Schultze, yaitu ke dalam tabung reaksi yang berisi
potongan kayu dimasukkan asam nitrat (HNO3) konsentrasi 65% hingga kayu terendam dan
potasium klorat (KClO3). Tabung beserta isinya dipanaskan hingga terjadi gelembunggelembung udara berwarna putih kekuningan, sebagai tanda proses maserasi sedang
berlangsung dan serat mulai terpisah. Kemudian tabung segera didinginkan dan serat dicuci
dengan aquades lalu serat dimasukkan ke dalam tabung yang berisi alkohol 50%. Selanjutnya
serat diambil dan diletakkan di kaca objek dan diberi kaca penutup lalu diukur dimensi
seratnya (Hidayat, 1995).
Maserasi merupakan salah satu teknik pembuatan preparat yang digunakan untuk
melihat kenampakan sel secara utuh. Prinsip kerja dari teknik pembuatan ini adalah dengan

cara memutuskan lamella tengah dari sel tumbuhan. Pemutusan lamella tengah bertujuan
memisahkan bagian sel dengan sel lainnya sehingga sel bisa dilihat secara satuan utuh. Teknik
ini sangat bermanfaat. Banyak penelitian melakukan teknik ini untuk mengekstraksi suatu zat
atau bagian tertentu dari sel tumbuhan (Fathiyawati, 2008).

PERFUSI
Fiksasi dengan Cara Perfusi
Fiksasi dengan cara perfusi yaitu dilakukan dengan cara memaksa masuk fiksatif kedalam
jaringan dengan alat tertentu. Perfusi dapat dilakukan dengan baik pada hewan yang sudah mati
maupun pada hewan masih hidup tetapi sudah berada dibawah pengaruh bahan anestesi. Cara
perfusi ini sangat bermanfaat pada jaringan atau organ tertentu yang membutuhkan fiksasi sesegera
mungkin tetapi tidak dapat dikoleksi dengan cepat, contoh utamanya adalah sistem saraf pusat.
Namu kebanyakan organ tidak dapat terfiksasi secara memadai hanya dengan metode perfusi
karena cairan perfusi biasanya mengalalir keluar dari dalam sel selama proses pemompaan.
Peralatan utama yang digunakan adalah kanula gelas dengan ukuran sesuai dengan diameter aorta
yang akan digunakan, dan beberapa selang karet yang berfungsi untuk menghubungkan kanula dan
botol perfusi.

Gambar 2. Peristaltic Pump sering digunakan untuk melakukan fiksasi dengan perfusi pada hewan coba kecil seperti
mencit dan tikus

Cara melakukan perfusi


Setelah hewan dibius, potong pembuluh darah disekitar leher. Dedahkan jantung dengan
cara memotong bagian kartilago rusuk yang diikuti dengan mengangkat sternum. Setelah itu syat
bagian perikardium dan lipat ke bagian belakang hingga arteri arteri besar terlihat dengan jelas.
Bersihkan aorta dari jaringan lain yang melekat dan buat ikatan dibelakangnya. Buat satu celah
kecil pada dinding aorta ( mengarah ke posterior ) dan dengan hati hati selipkan sebuah kanula yang
sebelumnya telah dibasahi. Buka atrium kanan sehingga darah dan cairan lain dapat mengalir
keluar.
Sebelum fiksatilf diperfusi ada baiknya diawali dengan injeksi larutan salin (50 100 ml)
untuk mengeluarkan residu darah yang masih menenpel pada dinding pembuluh darah. Jika fiksatif
yang akan digunakan adalah formalin dikromat subtitusi kalium dikromat 2,5% dengan salin
normal. Isi botol perfusi dengan fiksatif (500 1000 ml, tergantung ukuran tubuh hewan), yang
telah dihangatkan setara dengan suhu tubuh. Letakkan botol perfusi selevel dengan permukaan
meja, buka keran yang terdapat pada selang karet kemudian botol perfusi secara perlahan sampai
mencapai ketinggian 4 5 kaki pada ketinggian mana akan timbul tekanan yang memadai untuk
memaksa darah keluar. Setelah 5 menit, buak abdomen dan amati organ yang ingin diferfusi. Jika
pembuluh darah pada permukaan organ masih berisi darah dan organ belum berubah warna maka
ada kemungkinan bahwa perfusi tidak berhasil.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan selama perfusi
1.

Menyangkut hal-hal teknis.

2. Menyangkut persoalan praktis.


Beberapa kekurangan metode perfusi yang pernah dicatat antara lain:
1. Darah yang terdapat dalam pembuluh darah akan hilang sehingga ketika pengamatan
sel-sel darah dan komponennya tidak bisa lagi diamati dalam pembuluh darah.
2. Perfusi tidak bisa lagi dilakukan pada organ atau jaringan jika jaringan telah kaku
( posmoten clotting ).

PERTANYAAN DAN JAWABAN :


1. Maserasi dikenal sebagi perlakuan pendahuluan yang umum, mengapa maserasi dikatakan
seperti pernyataan tersebut?
Jb : Sebelun teasing,biasanya dilakukan berbagai tindakan pendahuluan, misalnya dengan
pelunakan jaringan keseluruhan ataupun sebagian saja dengan jalan perendaman dalam air
atau jenis larutan tertentu.
2. Apa keuntungan dan kerugian teknik Maserasi?
Jb : Keuntungan cara penyarian dengan Maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan
yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Kerugian cara Maserasi adalah
pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna
3. Apa kelebihan dan kekurangan fiksasi dengan cara perfusi?
Jb :
Kelebihannya ialah sangat bermanfaat pada jaringan atau organ tertentu yang
membutuhkan fiksasi sesegera mungkin tetapi tidak dapat dikoleksi dengan cepat, contoh
utamanya adalah sistem saraf pusat. Sedangkan kekurangannya ialah kebanyakan organ
tidak dapat terfiksasi secara memadai hanya dengan metode perfusi karena cairan perfusi
biasanya mengalalir keluar dari dalam sel selama proses pemompaan
4. Indikator apa yang menandakan bahwa suatu proses perfusi itu tidak berhasil?
Jb : Indikatornya ialah jika pembuluh darah pada permukaan organ masih berisi darah dan
organ belum berubah warna maka ada kemungkinan bahwa perfusi tidak berhasil
5. Bagaimana mekanisme cara kerja Maserasi?
Jb : Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyarian.
Cairan penyarian akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang
mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi
antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di luar sel, maka larutan yang terpekat
akan didesak keluar

Anda mungkin juga menyukai