Anda di halaman 1dari 12

Proposal Skripsi

STUDI TENTANG KEBUTUHAN AIR BERSIH PADA


PULAU TIDUNG, KEPULAUAN SERIBU

Peni Puspitasari
431501505

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI


JURUSAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2014

1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :


1. Mengetahui berapa kebutuhan air bersih penduduk di Pulau Tidung.
2. Menentukan proyeksi jumlah penduduk dan kebutuhan air untuk lima tahun ke
depan di Pulau Tidung.
2. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara yang kaya air dan menduduki urutan ke 5 diantara
negara-negara kaya air setelah Brazil, Rusia, China, dan Kanada. Diketahui bahwa Indonesia
memiliki enam persen persediaan air dunia atau sekitar 21% dari persediaan Asia Pasifik.
Cekungan air di Indonesia diperkirakan mempunyai diperkirakan mempunyai total volume
sebesar 308 juta meter kubik. Walaupun air merupakan senyawa kimia yang terdapat di alam
secara berlimpah-limpah. Namun, ketersediaan air yang memenuhi syarat bagi keperluan
manusia relatif sedikit. Hanya 0,62% yang meliputi air yang terdapat di sungai, danau, dan air
tanah. (Hefni Effendi 2003:25).
Indonesia yang dikategorikan sebagai negara yang berlimpah airnya memiliki
kontradiksi dengan kenyataan warga yang masih kekurangan akan air bersih. Berdasarkan
Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals /
MDGs) tahun 2010, yang diterbitkan oleh Bappenas, menyatakan jumlah rumah tangga yang
memiliki akses terhadap air bersih yang layak sebanyak 47,71% dan rumah tangga yang
memiliki akses sanitasi sebanyak 51,19%. Ini disebabkan oleh pengelolaan sumber daya air
bersih yang tidak optimal mengakibatkan tidak meratanya penyebaran air, sehingga masih
saja mengalami kelangkaan air bersih. Sekitar 119 juta rakyat Indonesia belum memiliki
akses terhadap air bersih. Daerah yang dilanda krisis salah satunya adalah pulau-pulau kecil
yang memiliki jumlah air yang sangat terbatas untuk dapat dikonsumsi.

Pulau Tidung merupakan salah satu pulau di Kepulauan Seribu yang memiliki jumlah
penduduk ketiga terbanyak di antara pulau-pulau lain di Kepulauan Seribu. Pada tahun 2010
menurut BPS tercatat bahwa sebanyak 4.148 jiwa menghuni wilayah tersebut dengan
kepadatan penduduk mencapai 3,88 km2. Pulau ini juga dikenal sebagai salah satu destinasi
wisata yang ada di Kepulauan Seribu. Pulau Tidung yang memiliki luas wilayah sebesar 109
ha ini merupakan pulau dengan pengunjung terbanyak kedua setelah Pulau Untung Jawa bila
dibandingkan dengan pulau-pulau di Kepulauan Seribu lainnya. Menurut data Badan Pusat
Statistik (BPS), pada tahun 2014 diketahui bahwa jumlah wisatawan yang mengunjungi
Pulau Tidung baik lokal maupun mancanegara berjumlah 373.887 jiwa. Warga memanfaatkan
hal tersebut dengan cara menyewakan kamar dan sarana pariwisata dengan keuntungan 500
ribu rupiah per hari di saat musim liburan. Namun, mengingat bahwa pulau kecil rentan
terhadap ketersediaan air, maka tak heran bila salah satu masalah yang mendera pulau ini
adalah ketersediaan air bersih yang sangat terbatas. Diketahui bahwa pasokan air bersih dari
teknologi reverse osmosis belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan warga, terutama pada
saat musim liburan. Pada saat musim liburan, beberapa warga bahkan merelakan untuk tidak
memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti melakukan MCK (Mandi Cuci Kakus) hingga akhir
liburan selesai. Terlebih, pada saat memasuki musim kemarau yang berkepanjangan membuat
stok air bersih semakin berkurang. Pada tanggal 10 September 2012, Bupati Kepulauan
Seribu, Achmad Lutfi mengakui bahwa kekurangan air bersih terasa di 3 kelurahan, dan salah
satunya adalah Kelurahan Pulau Tidung. Melihat hal tersebut, maka alternatif yang dicapai
adalah menggunakan sumur resapan yang memanfaatkan air hujan sebagai pasokan air untuk
cadangan. Diketahui bahwa sumur resapan di Pulau Tidung pada tahun 2012 mencapai 10
titik.
Penelitian ini menganalisis dan memprediksi banyaknya kebutuhan air bersih untuk
kondisi sekarang dan untuk kebutuhan di masa yang akan datang di Pulau Tidung, Kepulauan

Seribu dimana agar kebutuhan air bersih dapat terpenuhi diperlukan kebijakan pengelolaan
yang menyeluruh mencakup pengaturan perlindungan atas sumber daya air, pemanfaatan
sumber daya air dengan didukung oleh penyediaan sarana dan prasarana pendistribusian,
serta pengembangan teknologi bagi penyediaan air, pemanfaatan serta pengolahannya.
Kebutuhan air bersih sangat perlu dianalisis untuk memperoleh kesiapan data dan informasi
tentang air bersih serta jumlah kebutuhan air bersih di suatu daerah yang lengkap dan akurat.
3. Perumusan Masalah
Berapa besar kebutuhan air bersih yang diperlukan pada Pulau Tidung, Kepulauan
Seribu?
4. Teori yang Digunakan
a. Air Bersih
Air bersih adalah salah satu jenis sumber daya berbasis air yang bermutu baik
dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam
melakukan aktivitas mereka sehari-hari. Berdasarkan Peraturan Menteri
Kesehatan No. 416 Tahun 1990 Tentang Syarat-syarat Dan Pengawasan
Kualitas Air, air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari
yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah
dimasak.
1. Persyaratan Kuantitas Air Bersih
Tiap orang perhari membutuhkan air dengan jumlah yang ditentukan oleh
beberapa faktor yaitu faktor kebudayaan, status social ekonomi dan
standar hidup, kesadaran terhadap kebersihan, penggunaan untuk hal-hal
produktif, biaya yang dikeluarkan untuk air bersih dan kualitas air. Pada
kondisi normal tubuh manusia memerlukan antara 3 10 liter air per hari,
tergantung cuaca dan aktifitas yang dilakukannya.
Persyaratan kuantitas dalam penyediaan air bersih adalah ditinjau dari
banyaknya air baku yang tersedia. Artinya air baku tersebut dapat

digunakan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan kebutuhan daerah


dan jumlah penduduk yang akan dilayani. Persyaratan kuantitas juga dapat
ditinjau dari standar debit air bersih yang dialirkan ke konsumen sesuai
dengan jumlah kebutuhan air bersih. Kebutuhan air bersih masyarakat
bervariasi, tergantung pada letak geografis, kebudayaan, tingkat ekonomi,
dan skala perkotaan tempat tinggalnya.
2. Tipe Kebutuhan Air Bersih
Kebutuhan air bersih didefinisikan sebagai jumlah air bersih yang
dibutuhkan atau diminta dalam suatu sistem. Faktor-faktor yang
mempengaruhi kebutuhan air bersih meliputi iklim, karakteristik daerah,
ukuran kota, sistem sanitasi yang digunakan, sistem operasi dan
pemeliharaan, tekanan air dalam pipa, kualitas air, penggunaan materi air,
tingkat ekonomi masyarakat dan harga air. Selain itu juga terdapat
beberapa faktor lain yang mempengaruhi kebutuhan air bersih seperti
jumlah penduduk, fasilitas air bersih dan aktivitas sehari-hari. Dalam
analisis kebutuhan air bersih, kebutuhan air yang diperhitungkan meliputi
kebutuhan air domestik dan kebutuhan air non domestik (Direktorat
Jendral Cipta Karya, 1996).

3. Kebutuhan Air Domestik


Kebutuhan domestik (domestic demand) adalah air bersih yang dibutuhkan
untuk aktivitas sehari-hari seperti air untuk minum, MCK (Mandi Cuci
Kakus), memasak, dan lain-lain.
Kebutuhan dasar domestik merupakan kebutuhan air bersih bagi penduduk
lingkungan perumahan yang terbatas pada keperluan rumah tangga seperti
mandi, minum, memasak, dan lain lain (Kementrian PU,Kebutuhan Air
Hari Maksimum). Tingginya kebutuhan ini tergantung pada perilaku,

status sosial dan juga kondisi iklim (BSN Raju, 1995). Standar kebutuhan
air domestik yaitu kebutuhan air bersih yang digunakan pada tempattempat hunian pribadi untuk memenuhi hajat hidup sehari-hari, seperti
pemakaian air untuk minum, mandi, dan mencuci. Satuan yang dipakai
adalah liter/orang/hari. Analisis sektor domestik untuk masa mendatang
dilaksanakan dengan dasar analisis pertumbuhan penduduk pada wilayah
yang direncanakan.
Untuk memperkirakan jumlah kebutuhan air domestik saat ini dan di masa
yang akan datang dihitung berdasarkan jumlah penduduk, tingkat
pertumbuhan penduduk dan kebutuhan air perkapita. Kebutuhan air
perkapita dipengaruhi oleh aktivitas fisik dan kebiasaan atau tingkat
kesejahteraan. Oleh karena itu, dalam memperkirakan besarnya kebutuhan
air domestik perlu dibedakan antara kebutuhan air untuk penduduk daerah
urban (perkotaan) dan daerah rural (perdesaan). Adanya pembedaan
kebutuhan air dilakukan dengan pertimbangan bahwa penduduk di daerah
urban cenderung memanfaatkan air secara berlebih dibandingkan
penduduk di daerah rural. Besarnya konsumsi air dapat mengacu pada
berbagai macam standar yang telah dipublikasikan. Berikut adalah tabel
mengenai kriteria perencaanan air bersih :
KATEGORI KOTA BERDASARKAN JUMLAH PENDUDUK (JIWA)
>1.000.000

500.000

100.000

20.000

s/d 1.000.000

s/d 500.000

s/d 100.000

Kota
Metropolitan

Kota Besar

Kota Sedang

Kota Kecil

Desa

Konsumsi Unit Sambungan


Rumah (SR) (liter/orang/hari)

190

170

130

100

80

URAIAN

<20.000

Konsumsi Unit Hidran (HU)


(liter/orang/hari)

30

30

30

30

30

Konsumsi Unit Non Domestik


(liter/orang/hari)

20-30

20-31

20-32

20-33

20-34

Kehilangan Air (%)

20-30

20-30

20-30

20-30

20-30

Faktor Hari Maksimum

1,1

1,1

1,1

1,1

1,1

Faktor Jam Puncak

1,5

1,5

1,5

1,5

1,5

Jumlah Jiwa per SR (jiwa)

Jumlah Jiwa per HU (jiwa)

100

100

100

100-200

200

Sisa Tekan di Penyediaan


Distribusi (Meter)

10

10

10

10

10

Jam Operasi (jam)

24

24

24

24

24

Volume Reservoir (%) Max


Day Demand)

15-25

15-25

15-25

15-25

15-25

SR:HU

50 : 50

50 : 50

80 : 20

70 : 30

70 : 30

s/d 80 : 20

s/d 80 : 20

90

90

90

90

70

Cakupan Wilayah Pelayanan


(%)

Sumber : Direktorat Jendral Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum, 1996

4. Kebutuhan Air Non Domestik


Kebutuhan dasar air non domestik merupakan kebutuhan air bagi
penduduk di luar lingkungan perumahan (Kementrian PU, Kebutuhan Air
Hari Maksimum). Kebutuhan air non domestik sering juga disebut
kebutuhan air perkotaan (municipal). Besar kebutuhan air bersih ini
ditentukan banyaknya konsumen non domestik yang meliputi fasilitas
perkantoran (pemerintah dan swasta), tempat-tempat ibadah (masjid,
gereja, dll), pendidikan (sekolah-sekolah), komersil (toko, hotel), umum
(pasar, terminal) dan Industri.
Besarnya kebutuhan air perkotaan dapat ditentukan oleh banyaknya
fasilitas perkotaan tersebut. Kebutuhan ini sangat dipengaruhi oleh tingkat
dinamika kota dan jenjang suatu kota.Untuk memperkirakan kebutuhan air

perkotaan suatu kota maka diperlukan data-data lengkap tentang fasilitas


pendukung kota tersebut.
Analisis sektor non domestik dilaksanakan dengan berpegangan pada
analisis data pertumbuhan terakhir fasilitas fasilitas sosial ekonomi yang
ada pada wilayah perencanaan. Kebutuhan air non domestik untuk kota
dapat dibagi dalam beberapa
kategori :
1) Kota Kategori I (Metro)
2) Kota Kategori II (Kota Besar)
3) Kota Kategori III (Kota Sedang)
4) Kota Kategori IV (Kota Kecil)
5) Kota Kategori V (Desa)
Berikut adalah tabel yang menampilkan standar yang dapat digunakan
untuk menghitung kebutuhan air perkotaan apabila data rinci mengenai
fasilitas kota dapat diperoleh.

Tabel Kebutuhan Air Non Domestik Untuk Kategori I, II, III, dan IV.
SEKTOR

NILAI

SATUAN

Sekolah
Rumah Sakit
Puskesmas
Masjid
Kantor
Pasar
Hotel
Rumah Makan
Komplek Militer
Kawasan Industri
Kawasan Pariwisata

10
200
2000
3000
10
12000
150
100
60
0,2 0,8
0,1 0,3

Liter/murid/hari
Liter/bed/hari
Liter/unit/hari
Liter/unit/hari
Liter/pegawai/hari
Liter/hektar/hari
Liter/bed/hari
Liter/tempat duduk/hari
Liter/orang/hari
Liter/detik/hektar
Liter/detik/hektar

Sumber : Direktorat Jendral Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum, 1996

Tabel Kebutuhan Air Non Domestik Untuk Kategori V (Desa)


SEKTOR

NILAI

SATUAN

Sekolah

Liter/murid/hari

Rumah Sakit

200

Liter/bed/hari

Puskesmas

1200

Liter/unit/hari

Masjid

3000

Liter/unit/hari

Mushola

2000

Liter/unit/hari

Pasar

12000

Liter/hektar/hari

Komersial/Industri

10

Liter/hari

Sumber : Direktorat Jendral Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum, 1996

Tabel Kebutuhan Air Non Domestik Kategori Lain


SEKTOR

NILAI

SATUAN

Lapangan Terbang

10

Liter/orang/detik

Pelabuhan

50

Liter/orang/detik

Stasiun KA dan Terminal Bus

10

Liter/orang/detik

Kawasan Industri

0,75

Liter/detik/hektar

Sumber : Direktorat Jendral Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum, 1996

Cara lain untuk menghitung besarnya kebutuhan perkotaan adalah dengan


menggunakan standar kebutuhan air perkotaan yang didasarkan pada
kebutuhan air rumah tangga (domestik). Besarnya kebutuhan air perkotaan
dapat diperoleh dengan presentase dari jumlah kebutuhan rumah tangga,
berkisar antara 25 - 40% dari kebutuhan air rumah tangga. Angka 40%
berlaku khusus untuk kota metropolitan yang memiliki kepadatan
penduduk sangat tinggi seperti Jakarta. Kebutuhan air perkotaan dapat
dilihat pada Tabel 2.7. Tabel ini digunakan bila tidak ada data rinci
mengenai fasilitas kota.

Besarnya Kebutuhan Air Non Domestik Menurut Jumlah Penduduk


Kriteria

Jumlah Kebutuhan Air Non Domestik

(Jumlah Penduduk)
> 500.000
100.000 500.000
< 100.000

(% Kebutuhan Air Rumah Tangga)


40
35
25

Sumber : Pedoman Konstruksi dan Bangunan, Dep. PU.

b. Proyeksi Pertumbuhan Penduduk

Prediksi jumlah penduduk di masa yang akan datang sangat penting dalam
memperhitungkan jumlah kebutuhan air bersih di masa yang akan datang.
Jumlah penduduk mempengaruhi tingkat kebutuhan air bersih. Semakin
meningkatnya populasi penduduk dari masa ke masa akan mengakibatkan
peningkatan akan kebutuhan air bersih di masa-masa yang akan datang.
Prediksi jumlah penduduk dapat diperoleh dengan proyeksi penduduk.
Proyeksi penduduk berdasarkan sensus penduduk. Disini proyeksi penduduk
tidak hanya beberapa tahun sesudah sensus tetapi mungkin sampai beberapa
puluh tahun sesudah sensus. Dengan memperhatikan laju perkembangan
jumlah penduduk masa lampau, maka metode statistik merupakan metode
yang paling mendekati untuk memperkirakan jumlah penduduk di masa
mendatang.
1. Metode Proyeksi Penduduk
Metode yang dapat digunakan untuk menganalisa perkembangan jumlah
penduduk di masa mendatang adalah sebagai berikut :
Metode Aritmatika
Metode ini biasanya disebut juga dengan rata-rata hilang. Metode ini
digunakan apabila data berkala menunjukkan jumlah penambahan yang
relative sama setiap tahun. Hal ini terjadi pada kota dengan luas wilayah
yang kecil, tingkat pertumbuhan ekonomi rendah dan perkembangan kota
tidak terlalu pesat. Rumusnya :
Pn = Po + n.Ka
( Po Pt )
t
Ka =
Dimana :
Pn = Jumlah penduduk pada tahun ke-n (jiwa)
Po = Jumlah penduduk pada tahun awal
n = Periode waktu dalam tahun
Ka = Konstanta aritmatika
Metode Geometrik

Metode ini digunakan bila data menunjukkan peningkatan yang pesat dari
waktu ke waktu. Jadi pertumbuhan penduduk dimana angka pertumbuhan
adalah sama atau konstan untuk setiap tahun, rumusnya :
Pn = Po ( 1 + r )n
Dimana :
Pn = Jumlah penduduk pada tahun n
Po = Jumlah penduduk pada tahun awal
r = Angka pertumbuhan penduduk
n = Periode waktu dalam tahun
5. Metode Penelitian
Metode penelitian yang akan digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan
metode deskriptif kualitatif dengan 2 cara penelitian, yaitu :
1. Penelitian Kepustakaan
2. Penelitian Empiris
6. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian data lapangan dilakukan di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Pengumpulan
data lapangan dilaksanakan pada bulan Desember 2014. Sedangkan pengolahan data
dilakukan pada bulan Januari-Februari 2015.
7. Populasi dan Sampel
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh warga yang ada di Pulau Tidung.
Sedangkan untuk sampel penelitian adalah warga yang berdomisili di Pulau Tidung.
8. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data pada penelitian ini adalah menggunakan analisis data statistik
dengan menggunakan variabel dan pengukuran sebagai berikut :
Variabel penelitian dibedakan atas variabel bebas dan variabel terikat, yang terdiri dari
:

Dua variabel bebas :


1) Jumlah penduduk (X1)
2) Besarnya produksi air yang tersalurkan di wilayah yang diteliti (X2)
Satu variabel terikat :
1) Pemenuhan kebutuhan air bersih di wilayah yang diteliti (Y)

Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut, digunakan cara regresi linier sederhana
dengan persamaan :
Y

= a + bx

Dimana akan ditentukan grafik yang berhubungan antara trend (t) pertambahan
penduduk Pulau Tidung, dan trend besarnya kebutuhan air bersih masyarakat Pulau
Tidung.
Untuk mengetahui hubungan anatara variabel jumlah penduduk DKI Jakarta dan
besarnya produksi air bersih di DKI Jakarta terhadap pemenuhan kebutuhan air bersih
dapat dilakukan analisis metode regresi linier ganda yaitu :
Y

= a + b1X1 + b2X2

Dimana :
Y

: variabel terikat

X1, X2

: variabel bebas

a, b1 dan b2 : konstanta