Anda di halaman 1dari 20

GANGGUAN OBSESIF KONFULSIF

Dipresentasikan Oleh
ADE WIJAYA 09310169
Pembimbing:
dr. Laila Sylvia Sari, Sp.KJ

Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kedokteran


Kesehatan Jiwa
RSUD Embung Fatimah Batam
Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Gangguan obsesif-kompulsif merupakan sebuah
gangguan kecemasan di mana orang memiliki keinginan
yang tidak diinginkan dan diulang, perasaan, ide, sensasi
(obsesi) atau tingkah laku yang membuat mereka selalu
ingin melakukan sesuatu (kompulsif).1
Istilah obsesi menunjuk pada suatu ide atau bayangan
mental yang mendesak ke dalam pikiran secara berulang.
Istilah kompulsi menunjuk pada dorongan atau impuls yang
tidak dapat ditahan untuk melakukan sesuatu.

TUJUAN

Tujuan
Umum

Tujuan
Khusus

I.2.1Tujuan umum
Meningkatkan pengetahuan masyarakat
tentang
kesehatan jiwa, sehingga dapat
menciptakan lingkuangan yang kondusif
I.2.2 Tujuan khusus :
a). Memberikan pembekalan kepada
tenaga kesehatan untuk dapat
menyampaikan informasi kepada
masyarakat mengenai kesehatan jiwa.
b). Meningkatkan peran serta masyarakat
dalam menangani remaja bermasalah
dan upaya pencegahannya.
c). Meningkatkan pelayanan kesehatan
jiwa.

BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Definisi
Suatu obsesi adalahpikiran, perasaan, ide,atau
sensasi yang mengganggu (intrusif). Suatu kompulsi adalah
pikiran atau perilaku yang disadari, dibakukan dan rekuren,
seperti menghitung, memeriksa atau menghindari.
Seseorang dengan gangguan obsesif-kompulsif biasanya
menyadari irasionalitas dari obsesi dan merasakan bahwa
obsesi dan kompulsi sebagai ego-distonik.
Gangguan obsesif-kompulsif dapat merupakan gangguan
yang menyebabkan ketidakberdayaan karena obsesi dapat
menghabiskan waktu dan dapat mengganggu secara
bermakna pada rutinitas normal seseorang, fungsi
pekerjaan, aktivitas sosial yang biasanya atau hubungan
dengan teman dan anggota keluarga.3

II.2 Epidemiologi
Prevalensi seumur hidup gangguan obsesif-kompulsif
pada populasi umum diperkirakan adalah 2 sampai 3 persen
dimana pria dan wanita memiliki resiko sama. Beberapa
peneliti telah memperkirakan bahwa gangguan obsesifkompulsif ditemukan pada sebanyak 10 persen pasien rawat
jalan di klinik psikiatrik.
Untuk orang dewasa, laki-laki dan wanita sama mungkin
terkena; tetapi untuk remaja, laki-laki lebih sering terkena
gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan perempuan. Usia
onset rata-rata adalah kira-kira 20 tahun walaupun laki-laki
memiliki onset usia yang agak lebih awal (rata-rata sekitar
usia 19 tahun) dibandingkan wanita (rata-rata sekitar 22
tahun).

II.3 Etiologi
II.3.1 Faktor Biologis
a. Neurotransmiter
Banyak uji coba kinis yang telah dilakukan terhadap berbagai obat
mendukung
hipotesis bahwa suatu disregulasi serotonin adalah terlibat
di dalam pembentukan gejala obsesi dan kompulsi dari gangguan
b. Genetik
Penelitian keluarga pada pasien gangguan obsesif kompulsif telah
menemukan
bahwa 35 persen sanak saudara derajat pertama pasien
gangguan obsesif- kompulsif juga menderita gangguan. 3
c. Databiologislainnya
Penelitianelektrofisiologis,penelitianelektroensefalogram(EEG) tidur,
dan
penelitian neuroendokrin telah menyumbang data yang
menyatakan adanya
kesamaan antara gangguan depresif dan
gangguan obsesif-kompulsif.

II.3 Etiologi

II.3.2. Faktor Perilaku


II.3.3 Faktor Psikososial
a. Faktor kepribadian
Gangguan obsesif-kompulsif adalah berbeda dari gangguan
kepribadian obsesif-kompulsif. Sebagian besar pasien gangguan
obsesif-kompulsif tidak memiliki gejala kompulsif pramorbid
b. Faktor psikodinamika
Sigmund Freud menjelaskan tiga mekanisme pertahanan
psikologis utama yang menentukanbentuk dan kualitas gejala
dan sifat karakter obsesif-kompulsif; isolasi,
meruntuhkan
(undoing), dan pembentukan reaksi. 3

II.4 Gejala Klinis


Obsesif dan kompulsi memiliki ciri tertentu secara umum:
1. Suatu gagasan atau impuls yang memaksakan dirinya secara
bertubi-tubi dan terus-menerus ke dalam kesadaran seseorang.
2. Suatu perasaan ketakutan yang mencemaskan yang menyertai
manifestasi sentral dan seringkali menyebabkan orang melakukan
tindakan kebalikan melawan gagasan atau impuls awal.
3. Obsesi dan kompulsi adalah asing bagi ego (ego-alien), yaitu
dialami sebagai suatu yang asing bagi pengalaman seseorang
tentang dirinya sendiri sebagai makhluk psikologis.
4. Tidak peduli bagaimana jelas dan memaksanya obsesi atau
kompulsi tersebut, orang biasanya menyadarinya sebagai mustahil
dan tidak masuk akal.
5. Orang yang menderita akibat obsesi dan kompulsi biasanya
merasakan suatu dorongan yang kuat untuk menahannya. 3

II.4 Gejala Klinis


Terdapat juga beberapa gangguan yang biasa merupakan bagian
merupakan bagian dari atau dengan kuat dihubungkan dengan
spectrum GOK (gangguan gangguan obsesif-kompulsif)
1. Gangguan dismorfik tubuh (body Dysmorphic Disorder)
Pada gangguan ini orang terobsesi dengan keyakinan bahwa
mereka buruk rupa atau bagian tubuh mereka berbentuk
tidak normal.
2. Trikhotilomania
Orang dengan Trikhotilomania terus menerus mencabuti
rambut mereka sehingga timbul daerah-daerah botak.
3. Sindrom Tourettes
Gejala sindrom Tourettes meliputi gerakan yang pendek dan
cepat, tik dan ucapan kata-kata kotor yang tak terkontrol. 2

II.5 Diagnosa
Kriteria diagnostik untuk gangguan obsesif-kompulsif menurut DSM
IV:
1. Salah satu obsesi atau kompulsi
Obsesi seperti yang didefinisikan sebagai berikut:
a. Pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan yang rekuren
dan persisten yang dialami, pada suatu saat dimana
selama gangguan, sebagai intrusif dan tidak sesuai,
dan menyebabkan kecemasan dan penderitaan yang
jelas.
b. Pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan tidak sematamata kekhawatiran yang berlebihan tentang masalah
kehidupan yang nyata.
c. Orang berusaha untuk mengabaikan atau menekan
pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan tersebut
untuk mentralkannya dengan pikiran atau tindakan
lain.
d. Orang menyadari bahwa pikiran, impuls, atau
bayangan-bayangan obsesional adalah keluar dari
pikirannya sendiri (tidak disebabkan dari luar seperti
penyisipan pikiran).

Kompulsi seperti yang didefinisikan sebagai berikut:


a. Perilaku
(misalnya,
mencuci
tangan,
mengurutkan, memeriksa) atau tindakan mental
(misalnya berdoa, menghitung, mengulangi katakata
dalam
hati)
yang
berulang
yang
dirasakannya mendorong untuk melakukannya
sebagai respon terhadap suatu obsesi, atau
menurut dengan aturan yang harus dipatuhi
secara kaku.
b. Perilaku atau tindakan mental ditujukan untuk
mencegah atau menurunkan penderitaan atau
mencegah suatu kejadian atau situasi yang
menakutkan, tetapi perilaku atau tindakan mental
tersebut tidak dihubungkan dengan cara yang
realistik dengan apa mereka dianggap untuk
menetralkan
atau
mencegah,
atau
jelas
berlebihan.

Pedoman diagnosis menurut PPDGJ III:


1. Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala-gejala
obsesif atau tindakan kompulsif, atau kedua-duanya,
harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya dua
minggu berturut-turut.
2.Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distress)
atau mengganggu aktivitas penderita.
3. Gejala-gejala obsesif harus mencakup hal-hal berikut:
a. Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri
sendiri.
b. Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang
tidak berhasil dilawan meskipun ada lainnya yang
tidak lagi dilawan oleh penderita.
c. Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut di atas
bukan merupakan hal yang memberi kepuasan
atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari
ketegangan atau anxietas, tidak dianggap sebagai
kesenangan seperti dimaksud di atas.
d. Gagasan, bayangan pikiran, atau impuls tersebut
harus merupakan pengulangan yang tidak
menyenangkan (unpleasantly repetitive).

II.6 Terapi
1. Farmakoterapi
a. Penggolongan
1) Obat Anti-obsesif kompulsif
trisiklik

SSRI (Serotonin
Fluvoxamine,

Contoh: Clomipramine.
2) Obat Anti-obsesif kompulsif
Reuptake Inhibitors)
Contoh: Sertraline, Paroxetine,
Fluoxetine, Citalopram. 7

2. Terapi perilaku
Walaupun beberapa perbandingan telah
dilakukan, terapi perilaku sama efektifnya
dengan farmakoterapi pada gangguan obsesifkompulsif.
Pendekatan perilaku utama pada gangguan
obsesif-kompulsif adalah pemaparan dan
pencegahan respon. Desensitisasi, menghentikan
pikiran, pembanjiran, terapi implosi, dan
pembiasaan tegas juga telah digunakan pada
pasien gangguan obsesif kompulsif. Dalam terapi
perilaku pasien harus benar-benar
menjalankannya untuk mendapatkan perbaikan. 3

3. Psikoterapi
Psikoterapi suportif jelas memiliki bagiannya,
khususnya untuk pasien gangguan obsesifkompulsif, walaupun gejalanya memiliki berbagai
derajat keparahan, adalah mampu untuk bekerja
dan membuat penyesuaian sosial.

4. Terapi lain
Terapi keluarga seringkali berguna dalam
mendukung keluarga, membantu menurunkan
percekcokan perkawinan yang disebabkan
gangguan, dan membangun ikatan terapi dengan
anggota keluarga untuk kebaikan pasien. Terapi
kelompok berguna sebagai sistem pendukung bagi
beberapa pasien. 3

II.7 Diagnosa Banding

1. Kondisi medis
Gangguan neurologis utama yang dipertimbangkan dalam
diagnosis banding adalah gangguan Tourette, gangguan tik
lainnya, epilepsi lobus temporalis, dan kadang-kadang
komplikasi trauma dan pascaensefalitik. Gejala karakteristik
dari gangguan Tourette adalah tik motorik dan vokal yang
sering dan hampir setiap hari terjadi. 3
2. Kondisi psikiatrik
Pertimbangan psikiatrik utama di dalam diagnosis banding
gangguan obsesif-kompulsif adalah skizofrenia, gangguan
kepribadian obsesif-kompulsif, fobia, dan gangguan depresif.

II.8 Prognosis
Gangguan obsesif-kompulsif merupakan penyakit yang kronik
dengan perode dari gejala-gejala yang seiring dengan
berjalannya waktu akan mengalami peningkatan. Penderita
gangguan ini tidak biasanya sembuh sempurna atau bebas
dari gejala.

BAB III
KESIMPULAN
Gangguan obsesifkompulsif merupakan suatu kondisi yang
ditandai dengan adanya pengulangan pikiran obsesif atau
kompulsif, dimana membutuhkan banyak waktu (lebih dari
satu jam perhari) dan dapat menyebabkan penderitaan
(distress).
Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejalagejala obsesif atau
tindakan kompulsif atau keduaduanya harus ada hampir
setiap hari selama sedikitnya 2 minggu berturutturut.
Beberapa faktor berperan dalam terbentuknya gangguan
obsesif-kompulsif diantaranya adalah faktor biologi seperti
neurotransmiter, pencitraan otak, genetika, faktor perilaku dan
faktor psikososial, yaitu faktor kepribadian dan faktor
psikodinamika.
Ada
beberapa
terapi
yang
bisa
dilakukan
untuk
penatalaksanaan gangguan obsesifkompulsif antara lain
terapi farmakologi (farmakoterapi) dan terapi tingkah laku.
Prognosis pasien dinyatakan tidak bisa sembuh sempurna.
Dengan pengobatan bisa memberikan pengurangan gejala.

TERIMA KASIH