Anda di halaman 1dari 10

PANDUAN

HAK & KEWAJIBAN


I. PENGERTIAN-PENGERTIAN

Hak : Kekuasaan / kewenangan yang dimiliki oleh seseorang atau


suatu badan hukum untuk mendapatkan atau memutuskan untuk
berbuat sesuatu

Kewajiban : Sesuatu yang harus diperbuat atau yang harus


dilakukan oleh seseorang atau suatu badan hokum

Pasien : Penerima jasa pelayanan kesehatan di rumah sakit baik


dalam keadaan sehat maupun sakit

Perawat : seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik di


dalam maupun di luar negeri sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Rumah Sakit : sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan


kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat dimanfaatkan untuk
pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian

Hak pasien : hak-hak pribadi yang dimiliki manusia sebagai pasien

II. DASAR HUKUM

III.

Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan;

Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran;

Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit;

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269 Tahun 2008 Tentang Rekam Medis;

World Medical Association Declaration of Lisbon 2005 Tentang The Rights of The
Patient.
HAK PASIEN

Dalam World Medical Association Declaration of Lisbon tahun 2005 tentang The
Rights of the Patient disebutkan beberapa hak pasien di antaranya hak memilih dokter,
hak dirawat dokter yang bebas, hak menerima atau menolak pengobatan setelah menerima
informasi, hak atas kerahasiaan, hak mati secara bermartabat, hak atas dukungan moral atau
spiritual.
Dalam UU Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan Pasal 53 disebutkan beberapa hak
pasien yaitu hak atas Informasi, hak atas opini kedua (second opinion), hak atas
kerahasiaan, hak atas persetujuan tindakan medis, hak atas masalah spiritual, dan hak atas
ganti rugi.
Dalam UU Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran Pasal 52 diatur hak-hak
pasien yang meliputi:

Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 45 Ayat 3;

Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;

Mendapat pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis;

Menolak tindakan medis;

Mendapatkan isi rekam medis.


Dalam UU Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit Pasal 4-8 disebutkan setiap
orang berhak atas kesehatan, akses atas sumber daya, pelayanan kesehatan yang aman,
bermutu dan terjangkau; menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan,
lingkungan yang sehat, info dan edukasi kesehatan yang seimbang dan bertanggungjawab,
serta informasi tentang data kesehatan dirinya. Sedangkan hak sebagai pasien meliputi:

Hak menerima atau menolak sebagian atau seluruh pertolongan kecuali tidak
dalam keadaan sadar, penyakit menular berat, atau gangguan jiwa berat;

Hak atas rahasia pribadi kecuali perintah dalam UU, perintah pengadilan, ijin yang
bersangkutan, kepentingan yang bersangkutan, dan kepentingan masyarakat);

Hak tuntut ganti rugi sebagai akibat salah atau kelalaian kecuali tindakan
penyelamatan nyawa atau cegah cacat.
Dalam UU Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit Pasal 32 disebutkan setiap
pasien mempunyai hak meliputi:

Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah
Sakit;

Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien;

Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi;

Memperoleh pelayanan kesehatan bermutu sesuai dengan standar profesi dan


standar prosedur operasional;

Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari
kerugian fisik dan materi;

Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan;

Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan peraturan
yang berlaku di rumah sakit;

Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain (second
opinion) yang memiliki Surat Ijin Praktik (SIP) baik di dalam maupun di luar rumah
sakit;

Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data


medisnya;

Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh
tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya;

Mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan
tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan
prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan;

Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama hal itu
tidak mengganggu pasien lainnya;

Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di


Rumah Sakit;

Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya;
Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan
kepercayaan yang dianutnya;

Menggugat dan atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit itu diduga
memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata
ataupun pidana;

Mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standar pelayanan
melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan;
Dalam Permenkes Nomor 269 Tahun 2009 Pasal 12 disebutkan hak pasien terkait
informasi rekam medis meliputi:

Berkas rekam medis milik sarana pelayanan kesehatan;

Isi rekam medis merupakan milik pasien;

Isi rekam medis sebagaimana dimaksud pada Ayat 2 dalam bentuk ringkasan
rekam medis;

Ringkasan rekam medis sebagaimana dimaksud pada Ayat 3 dapat diberikan,


dicatat, atau disalin oleh pasien atau orang yang diberi kuasa atau atas persetujuan
tertulis pasien atau keluarga pasien yang berhak untuk itu.

IV.

KEWAJIBAN PASIEN
Dalam UU Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran Pasal 53 diatur
kewajiban sebagai pasien yaitu:

V.

Pasien memberi informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya
kepada dokter yang merawatnya;

Pasien mematuhi nasihat dan petunjuk dokter dan dokter gigi;

Pasien mematuhi ketentuan yang berlaku di tempat pelayanan kesehatan baik di


Rumah Sakit, Puskesmas, atau tempat pelayanan kesehatan lainnya;

Pasien memenuhi hal-hal yang telah disepakati atau perjanjian yang telah
dibuatnya;

Pasien memberi imbalan jasa atas pelayanan kesehatan yang diterimanya.


HAK TENAGA MEDIS
Hak tenaga medis sebagai berikut:

Memperoleh perlindungan hukum sepanjang sesuai Standar Profesi (SP) dan


Standar Operasional Prosedur (SOP);

Memberikan layanan medis menurut Standar Profesi dan Standar Operasional


Prosedur;

Memperoleh informasi yang jujur dan lengkap dari pasien atau keluarga pasien
yang bersangkutan;

Menerima imbalan jasa atas pelayanan kesehatan yang diberikannya

Menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan peraturan perundangan serta


standart profesi dan kode etik profesi.

Meningkatkan pengetahuan berdasarkan perkembangan IPTEK dalam bidangnya


secara terus menerus.

Diperlakukan adil dan jujur oleh rumah sakit maupun klien/pasien dan atau
keluarganya.

Mendapat jaminan perlindungan terhadap resiko kerja yang berkaitan dengan


tugasnya

Diikut sertakan dalam penyusunan /penetapan kebijakan pelayanan kesehatan


diRumah sakit

Diperhatikan privasinya dan berhak menuntut apabila nama baiknya dicemarkan


oleh klien/pasien dan atau keluarganya serta tenaga kesehatan lain

Menolak pihak lain yang memberi anjuran/permintaan tertulis untuk melakukukan


tindakan yang bertentangan dengan perundang-undangan, standart profesi dan
kode etik profesi.

Memperoleh kesempatan menembangkan karir sesuai dengan bidang profesinya.


Adanya perlindungan hukum bagi dokter ini mengingat bahwa pekerjaan dokter dianggap
sah sepanjang memenuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku. Dan dalam bekerja seorang
dokter harus bebas dari intervensi pihak lain, dan bebas dari kekerasan. Jika pun terdapat
dugaan "malpraktik" harus melalui proses pembuktian hukum terlebih dahulu, termasuk di
antaranya tentu saja seorang dokter bebas memperoleh pembelaan hukum.

VI.

KEWAJIBAN TENAGA MEDIS


Kewajiban sebagai tenaga medis yaitu:

Memberi pelayanan medis sesuai Standar Profesi (SP) dan Standar Operasional
Prosedur (SOP) serta kebutuhan medis pasien;

Merujuk pasien bila tidak mampu;

Menjamin kerahasiaan pasien;

Memberikan pertolongan darurat atas dasar peri kemanusiaan, kecuali bila yakin
ada orang lain yang bertugas dan mampu;

Menambah dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi


kedokteran.

Mematuhi semua peraturan RS dengan hubungan hukum antara perawat dan bidan
dengan pihak RS.

Mengadakan perjanjian tertulis dengan pihak rumah sakit

Memenuhi hal-hal yang telah disepakati / perjanjian yang telah dibuatnya.

Menghormati hak-hak klien atau pasien.

Memberikan kesempatan kepada klien/pasien agar senantiasa dapat berhubungan dengan


keluarganya dan dapat menjalankan ibadah sesuai dengan agama atau keyakinannya
sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan pelayanan kesehatan.

Bekerjasama dengan tenaga medis/tenaga kesehatan lain yang terkait dalam memberikan
pelayanan kesehatan/asuhan kebidanan kepada klien/pasien.

Memberikan informasi yang adekuat tentang tindakan keperawatan atau kebidanan


kepada klien/pasien dan atau keluarganya sesuai dengan batas kewenangannya.

Meningkatkan mutu pelayanan sesuai standar profesi demi kepuasan kklien/pasien.

VII.

KEWAJIBAN RUMAH SAKIT


Dalam UU Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit diatur kewajiban Rumah Sakit
sebagai berikut:

Memberikan informasi yang benar tentang pelayanan Rumah Sakit kepada


masyarakat;

Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, tidak diskriminasi, dan efektif
dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan Standar Pelayanan
Rumah Sakit;

Memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan


pelayanannya;

Berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan pada bencana, sesuai


dengan kemampuan pelayanannya;

Melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan fasilitas pelayanan


pasien tidak mampu atau miskin, pelayanan gawat darurat tanpa uang muka,
ambulan gratis, pelayanan korban bencana dan kejadian luar biasa, atau bakti
sosial bagi misi kemanusiaan;

Menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu atau miskin;

Membuat, melaksanakan, dan menjaga standar mutu pelayanan kesehatan di


Rumah Sakit sebagai acuan dalam melayani pasien;

Menyelenggarakan rekam medis;

Menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak antara lain sarana ibadah,
parkir, ruang tunggu, sarana untuk orang cacat, wanita menyusui, anak-anak,
lanjut usia;

Melaksanakan sistem rujukan;

Menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan standar profesi dan etika
serta peraturan perundang-undangan;

Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai hak dan kewajiban
pasien;

Menghormati dan melindungi hak-hak pasien;

Melaksanakan etika Rumah Sakit;

Memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana;

Melaksanakan program Pemerintah di bidang kesehatan baik secara regional


maupun nasional;

Membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran atau


kedokteran gigi dan tenaga kesehatan lainnya;

Menyusun dan melaksanakan peraturan internal Rumah Sakit (Hospital by Laws);

Melindungi dan memberikan bantuan hukum bagi semua petugas Rumah Sakit
dalam melaksanakan tugas;

Memberlakukan seluruh lingkungan Rumah Sakit sebagai kawasan tanpa rokok.

VIII. TANGGUNG JAWAB HUKUM/URAIAN TUGAS PERAWAT DALAM PRAKTEK


Dalam tatanan klinis pada dasarnya ada 2 jenis tindakan yang dilakukan oleh perawat
yaitu tindakan yang dilakukan berdasarkan pesanan dokter dan tindakan yang dilakukan
secara mandiri. Tindakan yang berdasarkan pesanan dokter tidak dapat sepenuhnya
secara hukum dibebankan kepada perawat sedangkan tindakan mandiri sepenuhnya dapat
dibebankan pada perawat.
Menjalankan pesanan dokter dalam hal medis
Becker (1983) mengemukakan 4 hal yang harus ditanyakan perawat untuk melindungi
mereka secara hukum :
a. Tanyakan setiap pesanan yang diberikan dokter
Jika pasien yang telah menerima injeksi im memberitahu perawat bahwa dokter telah
mengganti pesanan dari obat injeksi ke obat oral, maka perawat harus memeriksa kembali
pesanan sebelum meberikan obat.
b. Tanyakan setiap pesanan bila kondisi pasien telah berubah
Perawat bertanggung jawab untuk memberitahu dokter tentang setiap perubahan kondisi
pasien. Misalnya bila seorang pasien yang menerima infus intravena tiba-tiba mengalami
peningkatan kecepatan denyut nadi, nyeri dada dan batuk, perawat harus segera
memberitahu dokter dan menanyakan kelanjutan pengaturan kecepatan tetesan infus.
c. Tanyakan dan catat pesanan verbal untuk mencegah kesalahan komunikasi.
Catat waktu/jam, tanggal, nama dokter, pesanan, keadaan yang harus diberitahukan
dokter, baca kembali pesanan kepada dokter dan cata bahwa dokter telah menyepakati
pesanannya sewaktu diberikan.
d. Tanyakan pesanan, terutama bila perawat tidak pengalaman.
Hal ini memberikan tambahan tanggung jawab perawat dalam melatih diri membuat
keputusan sewaktu melaksanakannya. Bagi perawat yang merasa tidak berpengalaman
harus minta petunjuk baik dari perawat senior maupun dokter.
2. Melaksanakan intervensi keperawatan mandiri

a. Ketahui pembagian tugas mereka. Ini memudahkan perawat untuk berfungsi sesuai
dengan tugas dan tahu apa yang diharapkan dan tidak diharapkan.
b. Ikuti kebijaksanaan dan prosedur yang ditetapkan ditempat kerja
c. Selalu identifikasi pasien, terutama sebelum melaksanakan intervensi utama.
d. Pastikan bahwa obat yang benar diberikan dengan dosis, waktu dan pasien yang benar.
e. Lakukan setiap prosedur secara tepat.
f. Catat semua pengkajian dan perawatan yang diberikan dengan cepat dan akurat.
g. Catat semua kecelakaan yang mengenai pasien. Catatan segera memudahkan untuk
tetap melindungi kesejahteraan pasien, menganalisa mengapa kecelakaan terjadi dan
mencegah pengulangan kembali.
h. Jalin dan pertahankan hubungan saling percaya yang baik dengan pasien.
i. Pertahankan kompetisi praktek keperawatan. Dengan tetap belajar, termasuk
mempertahankan pengetahuan dan ketrampilan klinis perkembangan jaman.
j. Mengetahui kekuatan dan kelemahan perawat.
k. Sewaktu mendelegasikan tanggung jawa keperawatan, pastikan orang yang diberi
delegasi tugas mengetahui apa yang harus dikerjakan dan memiliki pengetahuan dan
ketrampilan yang dibutuhkan.
l. Selalu wapada saat melakukan intervensi keperawatan dan perhatikan secara penuh
setiap tugas yang dilaksanakan.
IX.

TANGGUNG JAWAB DAN TANGGUNG GUGAT PERAWAT

Tanggung jawab (responsibilitas) adalah eksekusi terhadap tugas-tugas yangberhubungan dengan


peran tertentu dari perawat. Pada saat memberikan obat perawat bertanggung jawab untuk
mengkaji kebutuhan pasien akan obat tersebut, memberikannya dengan aman dan benar dan
mengevaluai respons pasien terhadap obat tersebut. Perawat yang selalu bertanggung jawab
dalam bertindak akan mendapatkan kepercayaan dari pasien karena melaksanakan tugas
berdasarkan kode etiknya.
Tanggung jawab / tugas perawat secara umum :
1. Menghargai martabat setiap pasien dan keluarganya.
2. Menghargai hak pasien untuk menolak pengobatan, prosedur atau obat-obatan tertentu dan
melaporkan penolakan tersebut kepada dokter dan orang-orang yang tepat ditempat tersebut.
3. Menghargai setiap hak pasien dan keluarganya dalam hal kerahasiaan informasi
4. Apabila didelegasikan oleh dokter menjawab pertanyaan-pertanyaan pasien dan memberi
informasi yang biasanya diberikan oleh dokter.
5. Mendengarkan pasien secara seksama dan melaporkan hal-hal penting kepada orang yang
tepat.
Tanggung gugat (akuntabilitas) ialah mempertanggungjawabkan prilaku dan hasil-hasilnya yang
termasuk dalam lingkup peran profesional seseorang sebagaimana tercermin dalam laporan
periodik secara tertulis tentang prilku tersebut dan hasil-hasilnya. Perawat bertanggunggugat

terhadap dirinya sendiri, pasien, profesi, sesama karyawan dan mayarakat. Jika seorang perawat
memberikan dosis obat yang salah kepada pasien, maka ia dapat digugat oleh pasien yang
menerima obat tersebut, dokter yang memberikan instruksi, pembuat standar kerja dan
masyarakat. Agar dapat bertanggung gugat perawat harus bertindak berdasarkan kode etik
profesinya. Akuntabilitas dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas perawat dalam melakukan
praktek. Akuntabilitas bertujuan untuk :

1. Mengevaluasi praktisi-praktisi profesional baru dan mengkaji ulang praktisi-prakstisi yang


sudah ada.
2. Mempertahankan standar perawatan kesehatan
3. Memberikan fasilitas refleksi profesional, pemikiran etis dan pertumbuhan pribadi sebagai
bagian dari profeional perawatan kesehatan
4. Memberi dasar untukmebuat keputusan etis.