Anda di halaman 1dari 12

Multimeter digunakan untuk mengukur arus DC

Untuk mengukur arus DC dari suatu sumber arus DC, skalar pemilih pada
multimeter diputar ke posisi DCmA dengan batas ukur 500 mA. Kedua test lead
multimeter
dihubungkan secara seri pada rangkaian sumber DC (perhatikan Gambar 4 di
bawah)

Ketelitian adalah modal utama karena bisa-bisa merusak


multimeter/multitester jika kita tidak teliti. Hal yang harus diperhatikan adalah letak
dari arah saklar putar, jika mengukur AC harus ke arah AC begitupun dengan DC,
dan cara pengukurannya harus dari batas ukur yang lebih besar jika belum di batas
maksimal batas ukur dibawahnya, maka batas ukur boleh diturunkan ke yang lebih
rendah.
Multimeter digunakan untuk mengukur Voltan AC
Untuk mengukur voltan AC dari suatu sumber elektrik AC, skalar pemilih
multimeter diputar pada kedudukan ACV dengan batas ukur yang paling besar misal
1000 V. Kedua test lead multimeter dihubungkan ke kedua kutub sumber elektrik AC
tanpa memandang kutub positif atau negatif. Selanjutnya caranya sama dengan
cara mengukur voltan DC di atas.
Multimeter digunakan untuk mengukur Voltan DC
Untuk mengukur Voltan DC (misal dari bateri atau power supply DC), skalar
pemilih multimeter ditetapkan pada kedudukan DCV dengan had ukur yang lebih
besar dari voltan yang akan diukur. Test lead merah pada kutub (+) multimeter
dihubungkan ke kutub positif sumber voltan DC yang akan diukur, dan test lead
hitam pada kutub (-) multimeter dihubungkan ke kutub negatip (-) dari sumber
tegangan yang akan diukur. Hubungan semacam ini disebut hubungan paralel.
Untuk mendapatkan ketelitian yang paling tinggi, usahakan jarum penunjuk meter
berada pada kedudukan paling maksimum, caranya dengan memperkecil batas
ukurnya secara bertahap dari 1000 V ke 500 V; 250 V dan seterusnya. Dalam hal ini
yang perlu diperhatikan adalah bila jarum sudah didapatkan kedudukan maksimal
jangan sampai batas ukurnya diperkecil lagi, karena dapat merosakkan multimeter.

Multimeter digunakan untuk mengukur rintangan


Untuk mengukur rintangan suatu resistor, posisi skalar pemilih multimeter
diatur pada kedudukan dengan batas ukur x 1. Test lead merah dan test lead hitam
saling dihubungkan dengan tangan kiri, kemudian tangan kanan mengatur tombol
pengatur kedudukan jarum pada posisi nol pada skala . Jika jarum penunjuk meter
tidak dapat diatur pada posisi nol, berarti baterainya sudah lemah dan harus diganti
dengan baterai yang baru. Langkah selanjutnya kedua hujung test lead dihubungkan
pada hujung-hujung resistor yang akan diukur rintanganya. Cara membaca
penunjukan jarum meter sedemikian rupa sehingga mata kita tegak lurus dengan
jarum meter dan tidak terlihat garis bayangan jarum meter. Supaya ketelitian tinggi
kedudukan jarum penunjuk meter berada pada bagian tengah daerah tahanan. Jika
jarum penunjuk meter berada pada bagian kiri (mendekati maksimum), maka batas
ukurnya di ubah dengan memutar skalar pemilih padaposisi x 10. Selanjutnya
dilakukan lagi pengaturan jarum penunjuk meter pada kedudukan nol, kemudian
dilakukan lagi pengukuran terhadap resistor tersebut dan hasil pengukurannya
adalah penunjukan jarum meter dikalikan 10 . Apabila dengan batas ukur x 10 jarum
penunjuk meter masih berada di bagian kiri daerah tahanan, maka batas ukurnya
diubah lagi menjadi K dan dilakukan proses yang sama seperti waktu mengganti
batas ukur x 10.Pembacaan hasilnya pada skala K, yaitu angka penunjukan jarum
meter dikalikan dengan 1 K .

Adapun cara pemakaian multimeter adalah pertama-tama jarum penunjuk


meter diperiksa apakah sudah tepat pada angka 0 pada skala DCmA , DCV atau
ACV posisi jarum nol di bagian kiri (lihat gambar 3a), dan untuk skala ohmmeter
posisi jarum nol di bagian kanan (lihat gambar 3b). Jika belum tepat harus diatur
dengan memutar sekrup pengatur kedudukan jarum penunjuk meter ke kiri atau ke
kanan dengan menggunakan obeng pipih (-) kecil.

Dari gambar multimeter dapat dijelaskan bagian-bagian dan


fungsinya :
(1) Sekrup pengatur kedudukan jarum penunjuk (Zero
Adjust Screw), berfungsi untuk mengatur kedudukan
jarum penunjuk dengan cara memutar sekrupnya ke
kanan atau ke kiri dengan menggunakan obeng pipih
kecil.
(2) Tombol pengatur jarum penunjuk pada kedudukan zero
(Zero Ohm Adjust Knob), berfungsi untuk mengatur
jarum penunjuk pada posisi nol. Caranya : saklar
pemilih diputar pada posisi (Ohm), test lead + (merah
dihubungkan ke test lead (hitam), kemudian tombol
pengatur kedudukan 0 diputar ke kiri atau ke kanan
sehingga menunjuk pada kedudukan 0 .
(3) Saklar pemilih (Range Selector Switch), berfungsi untuk
memilih posisi pengukuran dan batas ukurannya.
Multimeter biasanya terdiri dari empat posisi
pengukuran, yaitu :
(4) Posisi (Ohm) berarti multimeter berfungsi sebagai
ohmmeter, yang terdiri dari tiga batas ukur : x 1; x 10;
dan K
(5) Posisi ACV (Volt AC) berarti multimeter berfungsi
sebagai voltmeter AC yang terdiri dari lima batas ukur :
10; 50; 250; 500; dan 1000.
(6) Posisi DCV (Volt DC) berarti multimeter berfungsi
sebagai voltmeter DC yang terdiri dari lima batas ukur :
10; 50; 250; 500; dan 1000.

(7) Posisi DCmA (miliampere DC) berarti multimeter


berfungsi sebagai mili amperemeter DC yang terdiri dari
tiga batas ukur : 0,25; 25; dan 500.
(8) Tetapi ke empat batas ukur di atas untuk tipe
multimeter yang satu dengan yang lain batas ukurannya
belum tentu sama.
(9) Lubang kutub + (V A Terminal), berfungsi sebagai
tempat masuknya test lead kutub + yang berwarna
merah.
(10) Lubang kutub (Common Terminal), berfungsi
sebagai tempat masuknya test lead kutub - yang
berwarna hitam.
(11) Saklar pemilih polaritas (Polarity Selector Switch),
berfungsi untuk memilih polaritas DC atau AC.
(12) Kotak meter (Meter Cover), berfungsi sebagai tempat
komponen-komponen multimeter.
(13) Jarum penunjuk meter (Knife edge Pointer), berfungsi
sebagai penunjuk besaran yang diukur.
(14) Skala (Scale), berfungsi sebagai skala pembacaan
meter.
Teknik Pengukuran Pararel

Pada prinsipnya pengukuran resistansi atau tahanan adalah mengukur besaran arus
yang akan mengalir pada suatu rangkaian, maka bila disaat pengukuran terdapat

suatu jalur yang tidak mempunyai nilai resistansi (Jarum AVO Meter tidak bergerak
sedikitpun) atau short (Jarum AVO Meter bergerak penuh ke arah kanan / 0 ohm),
besar kemungkinan tidak akan ada arus listrik yang dapat mengalir dari jalur
tersebut. Akan tetapi bila terdapat nilai resistansi yang kecil (Jarum AVO Meter akan
bergerak lebih jauh ke arah kanan) maka arus yang akan mengalir pada jalur
tersebut sangat besar. Bila nilai resistansinya besar (Jarum AVO Meter hanya
bergerak sedikit saja ke arah kanan) maka makin kecil arus yang akan mengalir
pada rangkaian tersebut. Akan tetapi bila AVO-Meter tidak menunjukan nilai
Resistansi (Jarum tidak bergerak sedikitpun) maka tidak terdapat arus yang mengalir
pada jalur tersebut.
Belum tentu bila dalam pengukuran tersebut tidak menujukan nilai resistansi maka
dapat dipastikan jalurnya yang putus, bisa saja tidak terdapat arus yang disebabkan
karena terdapat komponen yang bermasalah, mungkin rusak atau hubungannya
tidak baik. Oleh karena itu cara pengukuran pararel dapat dilakukan juga untuk
menganalisa kerusakan pada suatu komponen atau rangkaian.
Teknik Pengukuran Seri
Bila hasil pengukuran pararel menunjukan bahwa jalur tersebut tidak mempunyai
arus, sebaiknya anda jangan dulu mengambil kepastian bahwa jalur tersebut putus,
anda dapat meyakinkannya dengan cara pengukuran secara seri, cara ini
membutuhkan skema diagram untuk mengetahui komponen yang akan dilalui oleh
setiap jalurnya, pada prakteknya anda akan mengukur satu persatu disetiap
komponen yang akan dilalui oleh jalur tersebut.
Metode pengukuran secara seri dapat diperlihatkan pada gambar dibawah ini:

Berbeda dengan metoda pengukuran pararel, dimana AVO-Meter akan menunjukan


nilai resistansinya. Sedangkan metoda pengukuran seri dilakukan untuk mengetahui
terhubung atau tidaknya suatu jalur. Bila hasil pengukuran menunjukan suatu nilai
resistansi (tahanan) maka jalur tersebut tidak terhubung dengan baik, apalagi bila
hasil pengukuran AVO-Meter tidak bergerak sedikitpun dipastikan jalur tersebut telah
putus. Jalur tersebut normal bila jarum avometer menunjukan 0 Ohm ( Jarum AVO-

Meter bergerak penuh ke arah kanan). Seperti gambar dibawah ini:

Cara Menganalisa kerusakan jalur


Sebagai contoh kasus, disini saya akan mempraktekan cara menganalisa jalur SIM
Card pada ponsel Nokia NGAGE QD, walaupun dalam praktek ini hanya diberikan
contoh pada permasalahan SIMCard saja, akan tetapi bila anda telah benar-benar
paham dengan yang akan dijelaskan ini maka akan mudah dalam penganalisaan
jalur pada rangkaian yang lainnya.
Pertama kali langkah yang harus dilakukan adalah mengukur nilai Resistansi
disetiap jalur/pin out pada Konektor atau Interface SIMCard pada PWB Ponsel. Test
Probe AVO-Meter dihubungkan secara pararel, hitam ke Ground sedangkan yang
merah dihubungkan kesetiap jalur/pin out. Caranya dapat diperlihatkan pada gambar
dibawah ini:

Gambar diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:


1. Setel AVOMeter pada kalibrasi OHM X1, karena pada setingan ini AVOMeter akan
dapat memberikan arus yang cukup besar untuk mengalirkan arus listrik pada
rangkaian yang akan kita ukur dan AVOMeter tidak akan terlalu peka dalam
pengukurannya, terkecuali bila jarum petunjuk AVOMeter hanya bergerak sedikit
saja, maka anda dapat menaikan kalibrasinya menjadi OHM X10 atau yang lebih
diatasnya.
2. Hubungkan Testprobe yang berwarna hitam kepada Ground (Negatif) pada PWB
Ponsel, selanjutnya Testprobe yang berwarna merah hubungkan kepada salah satu
jalur SIMCard. Anda ukur satu persatu ke semua kaki-kaki konektor SIMCard. Bila
disetiap kaki konektror tersebut terdapat nilai resistansi maka dapat dipastikan jalur
tersebut adalah normal / tidak bermasalah. Disaat pengukuran akan ditemukan dari
salah satu jalur tersebut, dimana AVOMeter menunjukan 0Ohm (jarum bergerak
penuh / Short) ini bisa diartikan bahwa jalur tersebut terhubung langsung dengan
Ground. Akan tetapi bila salah satu kaki konektor tersebut tidak memiliki nilai
resistansi, kemungkinan besar jalur tersebut telah putus, untuk meyakinkan jalur
tersebut putus atau memang jalur itu adalah jalur kosong atau jalur aktif, maka anda
dapat melihatnya pada skema diagram. Dapat diperlihatkan pada gambar dibawah
ini:

Jalur konektor SIM Card


Pada SIM READER pin 6 (VPP), disana terlihat jelas bahwa jalur tersebut adalah
jalur yang tidak digunakan, maka bila tidak terdapat nilai resistansi, keadaan
tersebut adalah wajar. Pada pin 5 akan dihubungkan ke Ground, maka hal yang
wajar bila hasil pengukuran jarum AVO-Meter akan bergerak secara penuh ke arah
kanan.
Menentukan antar blok yang bermasalah
Bila hasil dari pengukuran diatas terdapat salah satu jalur yang putus maka
selanjutnya anda tinggal mengetahui jalur alternatif yang akan dihubungkan.
Langkah inilah yang cukup memusingkan karena kita harus betul-betul memahami
hubungan antar sistemnya, misalkan saja untuk permasalahan SIM Card yang
sedang kita bahas ini. Sebelum melakukan pengukuran, harus diketahui hubungan
antar sistem yang berkaitan dengan jalur dari konektor SIM Card ini. Bila anda
belum mengetahuinya, maka diperlukan skema diagram.

Dari penjelasan skema diagram diatas, terlihat bahwa jalur dari konektor SIM Card
akan diteruskan kepada EMI-Filter, selanjutnya diteruskan kepada UEM. Setelah kita
mengetahui hubungan antar sistem tersebut, langkah pengukuran dapat dilakukan
secara bertahap dari komponen ke komponen di setiap bloknya, agar jalur alternatif
yang akan di Jumper adalah jalur aktif yang semestinya tersambung tanpa harus
melewati suatu rangkaian yang aktif, misalkan melakukan jumper dari konektor SIM
card langsung ke UPP tanpa melewati UEM sedangkan UEM berfungsi sebagai SIM
Detektor dan SIM IF, maka hal ini adalah tindakan yang salah! Ponsel tidak akan
dapat bekerja dengan baik.
Yang akan menyulitkan adalah menentukan jalur dari komponen manakah jalur yang
putus tersebut, apakah jalur dari konektor SIM Card kepada EMIF? atau justru yang
putus adalah jalur EMIF kepada UEM?. Oleh karena itu cara pengukurannya harus
secara sistematis dan berurutan berdasarkan Sistem didalamnya. Cara
pengukurannya gunakan metoda pengukuran secara seri.

25 November, 2010
CARA MENGGUNAKAN AVOMETER MULTIMETER MULTITESTER
(part 1)
Banyak sekali istilah yang digunakan untuk menyebut alat ini, ada yang menyebut
Avometer karena merujuk kegunaanya dari satuan yang digunakan Ampere, Volt
dan Ohm. Multimeter dari kata Multi (banyak) dan Meter (dikonotasikan sebagai alat
ukur). Multitester dari kata Multi (banyak) dan tester (alat untuk menguji).
Sebelum kita menggunakanya alangkah baiknya bila kita mengenal panel, terminal,
dan fasilitas yang dimiliki alat ukur elktronika ini.

I. BATAS UKUR (BU) pada Multimeter seperti berikut ini.


Batas Ukur merupakan Nilai maksimal yang bisa diukur oleh multimeter

1. Paling kiri atas merupakan blok selektor DC Volt. Ini merupakan blok selektor
yang harus kita pilih saat melakukan pengukuran tegangan DC. Perlu diingat
Ini merupakan Batas Ukur (BU) yang harus kita perhatikan saat akan
melakukan pengukuran. Bila diketahui perkiraan nilai tegangan yang akan
diukur maka Batas Ukur yang harus dipilih harus berada diatas nilai perkiraan
tersebut. Sebagai contoh bila kita akan mengukur tegangan pada suatu
rangkaian yang memiliki nilai tertera pada PCB tersebut 9 volt DC maka kita
boleh menggunakan batas ukur 10 volt DC.
2. Paling kiri atas merupakan blok selektor AC Volt. Ini merupakan blok selektor
yang harus kita pilih saat melakukan pengukuran tegangan AC. Demikian
juga untuk pengukuran teganganAC Batas Ukur yang harus dipilih harus
berada diatas nilai perkiraan tersebut tegangan AC tersebut. Contoh Bila akan
mengukur tegangan Jala-jala PLN seperti kita ketahui nilai tegangan PLN
berkisar antara 220 Volt AC maka harus dipilih batas ukur 250 volt AC.
3. Bawah kanan tertulis satuan Ohm untuk mengukur resistansi, ini tidak terlalu
kritik atau beresiko bila salah memilih selektor. Hanya akan berpengaruh
pada ketelitian dan cara kita menghitung nilai resistansi terukur.
4. Kiri bawah tertulis DC mA yang digunakan untuk mengukur Arus DC. Arus
yang terukur maksimal 250 milli Ampere DC. penggunaan batasn ukur harus
diatas nilai arus perkiraan yang ada pada rangkaian.
5. Bila tidak diketahui perkiraan nilai tegangan gunakan batas ukur yang paling
besar (bisa 1000 VoltDC atau 1000 VoltAC). Demikian juga untuk arus DC
gunakan skala batas ukur tertinggi. Yang paling penting pada pengukuran
arus dan tegangan DC polaritas colokan (probe) jangan terbalik. Kutup (-)
terhubung colokan hitam dan (+) terhubung colokan merah.

6. Bila dalam pengukuran terjadi kesalahan batas ukur ataupun polaritas


colokan terbalik sebaiknya cepat-cepat kita tarik colokan dari titik ukur yang
kita lakukan. Hal ini pada multimeter analog beresiko terhadap rusaknya alat
ukur kita meskipun dalam multimeter terdapat sekring pengaman.

II.

SKALA

MAKSIMUM

Skala Maksimum (SM) merupakan batas nilai tertinggi pada panel meter.

1. Pada Skala Maksimum paling atas merupakan skala yang dibaca saat
mengukur resistansi. Perlu diingat bahwa penunjukan jarum pada simpangan
paling ujung kanan merupakan nilai resistansi paling kecil. Sedang pada
simpangan paling kiri untuk atau jarum (bergerak sedikit) mengindikasikan
nilai resistansi paling besar. Karena nilai skala resistansi (ohm) paling kiri
memiliki angka paling besar, sedangkan paling kanan nilainya nol.
2. Pada gambar di bawah ini diperjelas untuk Skala Maksimum pengukuran
arus, tegangan AC ataupun DC.
Pada gambar diatas ada tiga nilai yang umumnya dipakai pada multimeter
analog

yaitu

skala

maksimum

10,

50,

dan

250.

III. MENGUKUR RESISTANSI


1. Letakan selektor atau batas ukur (BU) resistansi yang paling sesuai. Pilih
batas ukur resistansi sehingga mendekati tengah skala. Sebagai contoh:
dengan skala yang ditunjukkan dibawah dengan resistansi sekitar 50kohm
pilih

1kohm
range.
2. Hubungkan kedua ujung probe (colokan) jadi satu. Bila jarum belum bisa
menunjuk skala pada titik nol putar ohm ADJ sampai jarum menunjukan nol
(ingat skala 0 bagian kanan!). jika tidak dapat diatur ke titik nol maka batteray
didalam meter perlu diganti.

3. Cara menghitung nilai resistansi yang terukur :

R = BU x JP
R = resistansi yang terukur (ohm)
BU = Batas Ukur yang digunakan
JP = Penunjukan Jarum pada skala
sehingga pada contoh diatas dapat kita hitung resistansi yang terukur memiliki nilai :

BU = x 1K
JP = menunjuk pada angka 50 ohm
terhitung :
R = 1K x 50
R = 50K ohm