Anda di halaman 1dari 9

Artikel Ilmiah PANDANGAN ISLAM TENTANG

WISATA KOLAM RENANG


Posted by : dery ariswantoSenin, 14 Juli 2014
PANDANGAN ISLAM TENTANG WISATA KOLAM RENANG
15. Dery Ariswanto
______________________________________________________________________
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memberikan manfaat kepada orang Islam agar lebih
memperhatikan aspek-aspek syariat di kolam renang.
Karya ilmiah ini disusun menggunakan metode observasi atau pengamatan langsung ke
beberapa kolam renang yang dijadikan sebagai sampel. Dari penelitian itu didapatkan bahwa
di dalam kolam renang banyak terjadi pelanggaran syariat. Pelangggaran syariat itu
disebabkan karena pengelola dan pengunjung yang kurang sadar akan penyelewengan itu
sendiri. Meskipun saat ini sudah bermunculan kolam renang syariah atau kolam renang
khusus muslimah tetapi pada kenyataannya di dalamnya masih terdapat hal-hal yang tidak
sesuai dengan ajaran Islam.
Ketidaksesuaian kolam renang dengan syariat itu menyebabkan terjadinya konflik di
lingkungan sekitarnya. Sehingga banyak ulama yang mengritik adanya kolam renang akibat
pelanggaran-pelanggaran yang terjadi. Perlu adanya regulasi baru mengenai tata kelola
kolam renang agar terciptanya kondisi kolam renang yang sesuai dengan syariat.
Kata Kunci: Kolam renang, Islam.
______________________________________________________________________
I. Pendahuluan
Di era modern seperti ini telah menjamur berbagai macam tempat pemandian umum di
berbagai penjuru daerah. Maraknya tempat pemandian umum itu dikarenakan daya tarik
yang tinggi dari masyarakat terhadap tempat pemandian umum, sehingga mengakibatkan
banyak kalangan yang sadar bahwa bisnis membuka kolam renang itu merupakan bisnis
yang sangat menguntungkan. Antusias tinggi dari masyarakat itu dikarenakan olahraga
renang merupakan olahraga yang sangat kompleks dan banyak manfaatnya sehingga banyak
orang yang menyukai olahraga ini. Di samping itu, kolam renang merupakan tempat yang
sangat menarik untuk berlibur.
Berkembangnya kolam renang di berbagai daerah mengakibatkan munculnya konflik
sosial dalam masyarakat. Konflik itu terjadi karena ketidaksesuaian kolam renang dengan
syariat Islam sehingga para ulama banyak yang mengritik adanya kolam renang tersebut.
Mereka berkeinginan untuk merubah citra negatif kolam renang dan mengurangi konflik
yang ada di lingkungan masyarakat sehingga mereka sering melakukan lobi-lobi dengan
pihak pengelola kolam renang untuk menyelesaikan konflik itu.

Sering terlepas dari perhatian khalayak ramai, di dalam kolam renang terdapat
masalah-masalah yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Ketidaksesuaian itu didasarkan
pada aspek-aspek keislaman, sehingga di dalam kolam renang dapat diketahui persoalanpersoalan yang bertentangan dengan ajaran-ajaran agama Islam. Islam dengan tegas
mewajibkan setiap muslim/ muslimah untuk menutup auratnya dan melarang memerlihatkan
auratnya kepada orang lain yang selain mahromnya. Lebih khusus lagi, wanita muslimah
dilarang menampakkan auratnya kepada wanita lain yang non-muslim.
Adapun persoalan-persoalan yang terdapat pada kolam renang diantaranya: (1)
Bercampur-baurnya antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom serta dengan nonmuslim (2) Pengunjung kolam renang banyak yang menggunakan pakaian yang pendek dan
ketat (3) Kurang terjaganya kebersihan air kolam itu sendiri.
Dari berbagai persoalan tersebut, maka dapat diambil rumusan masalah yang akan
menjadi pokok pembahasan pada tulisan ini, yaitu: (1) Bagaimanakah hukumnya
perempuan muslimah mandi di kolam renang? (2) Bagaimanakah hukumnya mendirikan
kolam renang? (3) Bagaimana kondisi kolam renang khusus muslimah pada saat ini? (4) Apa
dampak positif dan negatifnya dari pendirian kolam renang?.
Dari pemaparan rumusan masalah di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa
tujuan penulisan ini yaitu: (1) Dapat mengetahui hukum perempuan muslimah mandi di
kolam renang (2) Dapat mengetahui hukumnya mendirikan kolam renang (3) Untuk
mengetahui bagaimana kondisi kolam renang khusus muslimah pada saat ini (4) dapat
mengetahui apa dampak positif dan negatifnya dari pendirian kolam renang.
Secara umum, tujuan dari penulisan ini adalah agar dapat menyadarkan dan
mengingatkan kaum muslim/ muslimah untuk lebih memperhatikan aspek-aspek keislaman
dimanapun mereka berada, khususnya ketika akan mengunjungi kolam renang. Oleh karena
itu, maka perlu adanya kajian yang mendalam mengenai regulasi kolam renang itu sendiri.
Maka dari itu, tulisan ini akan mengupas tentang berbagai persoalan tersebut dan dikemas
secara ringkas serta dengan pembahasan yang menarik.

II. Pembahasan
2.1 Pandangan Umum tentang Batasan-batasan Aurat dalam Islam
Adapun batasan aurat dalam mazhab Syafii adalah sebagai berikut:
a. Aurat wanita merdeka dalam shalat dalam artian wajib ditutupinya adalah seluruh tubuh
kecuali wajah dan telapak tangan.
b. Aurat wanita merdeka di luar shalat dalam artian haram memandangnya oleh laki-laki
ajnabi (bukan mahramnya) adalah seluruh tubuh tanpa kecuali, yaitu termasuk wajah dan
telapak tangan.
c. Aurat wanita merdeka di luar shalat dalam artian wajib menutupinya sama dengan aurat
dalam shalat, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.

d. wajib menutup wajah dan telapak tangan di dalam dan diluar shalat atas wanita apabila
diketahuinya ada pandangan laki-laki ajnabi kepadanya.
Jumhur ulama mengatakan bahwa aurat wanita dihadapan wanita lain adalah antara
pusar dan lutut. Mereka mengiyaskan aurat wanita di hadapan wanita dengan aurat laki-laki
di hadapan laki-laki, dan yang mengumpulkan antara keduanya adalah persamaan jenis
kelamin. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa aurat wanita di depan wanita sama
dengan auratnya di depan mahram yaitu semua badannya kecuali tempat perhiasan yang
nampak seperti kepala, telinga, leher, dada bagian atas, pergelangan tangan, pergelangan
kaki. Mereka berdalil dengan firman Allah Swt.:

31 / ]
Yang artinya: Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali
kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera
mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putra-putra
saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita
Islam (Qs. An-Nuur: 31).
Meskipun jumhur ulama berpendapat bahwa aurat wanita di hadapan wanita adalah
antara pusar dan lutut, bukan berarti bahwasanya seorang wanita muslimah hanya menutup
antara pusar sampai kedua lutut ketika dihadapan wanita lain, tapi hendaknya seorang
muslimah tetap menjaga rasa malu dan kehormatannya dengan berpakaian di hadapan
wanita lain seperti ketika dia berada diantara mahramnya.
Aurat wanita di hadapan wanita seperti aurat laki-laki di hadapan laki-laki yaitu
antara pusar dan lutut, akan tetapi ini bukan berarti bahwa wanita memakai pakaian pendek
yang tidak menutup kecuali apa yang ada diantara pusar dan lutut, karena ucapan seperti ini
tidak pernah dikatakan oleh para ahli ilmu, akan tetapi maknanya adalah bahwasanya
seorang wanita apabila mengenakan pakaian yang luas, tebal, panjang kemudian apabila
nampak sebagian kakinya atau lehernya atau yang lainnya, di depan wanita lain maka ini
tidak berdosa.
2.2 Gambaran Umum tentang Kondisi Kolam Renang
Dewasa ini telah berkembang berbagai macam tempat pemandian umum di berbagai
penjuru daerah. Maraknya tempat pemandian umum itu dikarenakan daya tarik yang tinggi
dari masyarakat terhadap tempat pemandian umum, sehingga mengakibatkan banyak
kalangan yang sadar bahwa bisnis membuka kolam renang itu merupakan bisnis yang sangat
menguntungkan. Antusias yang tinggi dari masyarakat itu dikarenakan olahraga renang
merupakan olahraga yang sangat kompleks dan banyak manfaatnya sehingga banyak orang
yang menyukai olahraga ini. Disamping itu, kolam renang merupakan tempat yang sangat
menarik untuk berlibur.

Banyak berdirinya kolam renang di berbagai daerah mengakibatkan munculnya


konflik sosial dalam masyarakat. Konflik itu terjadi karena ketidaksesuaian kolam renang
dengan syariat Islam sehingga para ulama banyak yang mengritik adanya kolam renang
tersebut. Mereka berkeinginan untuk merubah citra negatif kolam renang dan mengurangi
konflik yang ada di lingkungan masyarakat sehingga mereka sering melakukan lobi-lobi
dengan pihak pengelola kolam renang untuk menyelesaikan konflik itu.
Sering terlepas dari perhatian khalayak ramai, didalam kolam renang terdapat
masalah-masalah yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Ketidaksesuaian itu didasarkan
pada aspek-aspek keislaman sehingga di dalam kolam renang dapat diketahui persoalanpersoalan yang bertentangan dengan ajaran-ajaran agama Islam. Islam dengan tegas
mewajibkan setiap muslim/ muslimah untuk menutup auratnya dan melarang memerlihatkan
auratnya kepada orang lain yang selain mahromnya. Lebih khusus, wanita muslimah
dilarang menampakkan auratnya kepada wanita lain yang non-muslim.
Adapun persoalan-persoalan yang terdapat pada kolam renang diantaranya adalah:
Bercampur-baurnya antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom serta dengan nonmuslim, pengunjung kolam renang banyak memakai pakaian yang pendek dan ketat, dan
kurang terjaganya kebersihan air kolam itu sendiri.
2.3 Kondisi Kolam Renang Khusus Muslimah
Sekarang sudah marak berdiri kolam renang khusus muslimah di berbagai daerah.
Berdirinya kolam renang khusus muslimah itu untuk menjawab citra negatif kolam renang
biasa. Dari citra negatif kolam renang biasa itu mengakibatkan timbul upaya untuk
mendirikan kolam renang yang sesuai dengan syariat Islam yaitu dengan mendirikan kolam
renang khusus muslimah.
Pada awalnya, adanya kolam renang khusus muslimah menjadikan pilihan yang
sangat tepat bagi wanita Islam. Wanita muslimah pasti banyak yang beralih dari kolam
renang biasa yang bercampur baur dengan laki-laki kemudian berganti ke kolam renang
khusus muslimah. Akan tetapi, dengan berjalannya waktu ternyata kolam renang khusus
muslimah itu hanya meninggalkan namanya saja. Hal itu dikarenakan walupun namanya
kolam renang muslimah, tetapi di dalamnya masih terdapat lawan jenis, yaitu para petugas
yang menggunakan jasa laki-laki.
Pada asalnya boleh bagi seorang muslimah berenang di kolam renang khusus
muslimah selama tetap menjaga batasan-batasan syariat, misalnya seluruh wanita muslimah
yang berenang di kolam renang tersebut menutup aurat mereka supaya pandangan tidak
terjatuh pada sesuatu yang diharamkan.
Dalam kitab Fathul Bari karangan Ibnu Hajar Asqalany menjelaskan bahwa
Rasulullah saw. pernah bersabda:

Yang artinya: Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki, dan janganlah
seorang wanita melihat aurat wanita lain. (HR. Muslim, dari Abu Said Al-Khudry
radhiallahu anhu)
Beliau juga bersabda:

Yang artinya: Jagalah auratmu kecuali dari istrimu atau budakmu. (HR. Abu
Dawud, At-Tirmidzy, Ibnu Majah, dari Muawiyah bin Haidah radhiyallahu anhu, dan
dihasankan Syaikh Al-Albany)
Hadist ini menunjukkan dilarangnya melihat aurat orang lain selain yang disebutkan
di atas, yaitu laki-laki melihat aurat laki-laki, dan wanita melihat aurat wanita.
Berkata Syeikh Abdul Muhsin Al-Abbaad hafidzahullah:

Yang artinya: Tidak mengapa para wanita berenang bersama wanita-wanita lain
selama mereka dalam keadaan tertutup dengan pakaian mereka.(Syarh Sunan Abu Dawud)
Selain itu kolam renang tersebut harus aman dari pandangan laki-laki, kamera, dan
yang serupa dengan itu, apabila dikhawatirkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang
banyak terjadi di zaman sekarang, maka tentunya menghindari kerusakan lebih didahulukan
daripada mendatangkan mashlahat/ kebaikan (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 1926:343).
Meski diperbolehkan dengan syarat-syarat di atas, tentunya tidak diragukan lagi
bahwa, tetap tinggalnya seorang wanita muslimah di rumah tentu lebih baik dan lebih aman
baginya, dan sering keluarnya seorang wanita ke tempat-tempat seperti itu tentunya hal yang
tidak baik dan akan membawa fitnah. Allah Swt. berfirman:

[33 / ]
Dan tetaplah kalian berada di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias
seperti berhiasnya orang-orang jahiliyyah dahulu. (Qs. Al-Ahzab: 33)
Pada hakikatnya keluarnya seorang wanita dari apa yang sudah digariskan bagi
mereka di dalam agama akan menyebabkan kerusakan bagi dirinya dan orang lain. Seorang
wanita apabila dia belajar berenang di rumahnya maka tidak ada yang melarangnya, namun
apabila dia keluar rumah ke tempat-tempat latihan berenang dengan sifat di atas dan dengan
pakaian yang tidak menutup auratnya, maka yang demikian itu menyelisihi syariat.
Kewajiban para wali adalah bertaqwa kepada Allah Swt. di dalam urusan anak-anak wanita
mereka, dan menjaga amanat tersebut, sesungguhnya Allah Swt. yang akan menanyai
mereka kelak (Majallah Al-Buhuuts Al-Islaamiyyah, 1968:54).
2.4 Pandangan Islam tentang Wanita Muslimah yang Mandi di Kolam Renang
Ditinjau dari pandangan syari, sebagian para ulama melarang wanita memasuki pemandian
umum jika di dalamnya terdapat ikhtilath (bercampur baur) dengan lawan jenis, begitu juga
memasuki kamar mandi umum walaupun sendirian. Karena meski sendirian, kamar mandi
tersebut juga dipakai oleh laki-laki, maka hukumnya tidak boleh kecuali ketika darurat.

Seperti haid, nifas, janabat, sakit, atau mandi yang tidak mungkin mereka kerjakan di
rumahnya karena ditakutkan akan bertambah sakitnya atau akan ada madharat-madharat
yang lain. Maka dari itu, diperbolehkan wanita mandi di kolam renang dengan catatan
bahwa didalam kolam renang jangan sampai ada yang melanggar syariat.
Sedangkan sebagian lain dari para ulama menolak dengan keras adanya kolam
renang ditempat kaum muslimin. Penolakan itu dikarenakan kolam renang yang seperti
itu dapat menyingkap aurat wanita sesama wanita walaupun ia memakai pakaian yang syari
sekalipun.
Adapun memasuki pemandian umum khusus wanita, hukumnya bisa diperbolehkan
jika tidak ada illah (sebab) yang menjadikan penghalang. Yaitu ketidakamanan tempat
sehingga menyingkap aurat dan menimbulkan madhorot-madhorot lain. Jika illah tersebut
tidak ada, maka hukum memasukinya menjadi dibolehkan. Meski demikian, sebagai bentuk
kehati-hatian dan menjaga iffah seorang muslimah lebih baik menghindari tempat
pemandian umum, sebab sebaik-baik wanita adalah yang menjaga kehormatannya dihadapan
laki-laki dan wanita asing.
Berenang merupakan perkara yang mubah dan tidak wajib. Karena sebagaimana yang
diketahui, banyak manfaat yang dapat diambil dari olahraga tersebut. Namun kolam renang
termasuk ke dalam pemandian umum yang terlarang bagi para wanita untuk memasukinya.
Sebagaimana Rasulullah saw bersabda: Tidak ada seorang wanita pun yang melepas
bajunya bukan di rumahnya sendiri kecuali dia telah membuka aib antara dirinya dengan
Allah Swt.
Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, pada asalnya hukum hadits memasuki
pemandian umum itu tidak diperbolehkan karena beberapa sebab, seperti tempatnya
yang tidak aman, aurat dapat terlihat oleh orang lain, menimbulkan bahaya-bahaya yang
lain, dan menimbulkan fitnah. Namun jika di kolam renang itu tidak terdapat penghalangpenghalang yang menyebabkan adanya ketidaksesuaian dengan ajaran Islam, maka hal
itu diperbolehkan seorang wanita berenang di dalamnya.
Tetapi banyak wanita pada zaman sekarang ini yang pergi ke tempat-tempat
pemandian umum, khususnya kolam renang. Para pengelola tempat pemandian itu tidak
memelihara kehormatan kaum wanita dan bahkan tidak menjaga aurat mereka. Lebih dari
itu, kebanyakan dari penyelenggara ini adalah orang-orang pengabdi hawa nafsu dan
memiliki tujuan-tujuan keji.
Ketika mandi atau singgah di tempat-tempat seperti itu, seorang muslimah akan
saling melihat aurat mereka satu dengan yang lainnya dan auratnya akan terlihat oleh wanita
non-muslim jika di dalam kolam renang itu terdapat wanita yang non-muslim, bahkan tidak
jarang banyak laki-laki khususnya penyelenggara tempat-tempat itu yang melihat aurat para
wanita yang ada di sana.
Oleh karena itu, wanita muslimah dilarang mengunjungi atau mandi di kolam renang
yang tidak memperhatikan aspek-aspek keislaman. Aspek yang mendasar sehingga

diperbolehkannya seorang wanita muslimah mandi di kolam renang adalah didalam kolam
renang itu seluruhnya harus wanita, baik itu pengunjung ataupun karyawannya dan memakai
pakaian yang longgar dan tidak ketat.
2.5 Pandangan Islam tentang Mendirikan Kolam Renang
Pada dasarnya, Islam memperbolehkan seseorang mendirikan berbagai usaha untuk
memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dan keluarganya. Dengan catatan bahwa usaha yang
mereka lakukan itu tidak melanggar apa yang sudah menjadi ketentuan hukum Islam. Oleh
karena itu, usaha mendirikan kolam renang hukum asalnya yaitu boleh, tetapi masih harus
memerhatikan aspek-aspek keislaman,seperti mengkhususkan kolam renang itu untuk
wanita atau laki-laki, menganjurkan pengunjung untuk memakai pakaian yang tidak ketat
dan pendek, jangan sampai ada pengunjung ataupun karyawan yang membuka
auratnya, dan lebih memerhatikan kebersihan air kolam dan memperbaiki sistem keamanan
pengunjung. Pada intinya, pihak pengelola kolam renang harus melakukan regulasi baru
mengenai sistem di dalamnya dan menjaga agar tidak terjadi persoalan-persoalan yang tidak
sesuai dengan syariat Islam di kolam renang.
Jika seseorang ingin mendirikan kolam renang, maka mereka perlu memperhatikan
syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjaga agar kolam renang itu sesuai dengan
ajaran-ajaran Islam. Adapun syarat-syaratnya adalah sebagai berikut:
a. Tidak ikhtilat (campurbaur) dengan laki-laki
b. Hendaknya tempat tersebut tersebut tertutup di setiap sisinya, yang tidak mungkin orang
asing melakukan tindak kejahatan
c. Hendaknya tempat tersebut aman, terlebih aman dari jangkauan laki-laki
d. Hendaknya tempat tersebut terdapat penghalang untuk menutupi auratnya
e. Hendaknya tempat tersebut dilindungi oleh kaum muslimin yang terpercaya
f. Hendaknya tempat tersebut terhindar dari perkara-perkara haram, seperti khamr, lesbi,
homo, gambar-gambar porno, sihir, dll,.
2.6 Dampak yang Ditimbulkan dari Adanya Kolam Kenang.
Dengan maraknya kolam renang, tentunya terdapat manfaat dan kekurangannya sehinggga
pengunjung dapat mengetahui yang lebih besar antara dampak negatif atau positif yang
ditimbulkan. Hal itu akan memberikan pengaruh bagi calon pengunjung ketika akan
mendatangi kolam renang.
2.6.1 Dampak Positif
Adapun dampak negatif yang ditimbulkan dari adanya kolam renang adalah sebagai berikut:
a) Menjadikan tempat libuaran yang sangat menarik untuk melepas sejenak penat dan
masalah-masalah yang ada;
b) Menyehatkan badan dengan menggerakkan seluruh tubuh ketika pengunjung berenang di
kolam renang;

c) Dapat digunakan sebagai media pembelajaran bagi siswa-siswi yang mempelajari tentang
olahraga renang;
d) Dapat melahirkan atlit-atlit renang dari non-klub.
2.6.2 Dampak Negatif
Adapun dampak negatif dari maraknya kolam renang adalah sebagai berikut:
a) menimbulkan berbagai kecaman dari para ulama islam karena kolam renang yang ada itu
banyak yang melanggar syariat islam;
b) akan menimbulkan fitnah, pelecehan seksual, pemerkosaan, dan sebagainya;
c) aurat dapat terlihat oleh yang bukan mahram;
d) akan menimbulkan kejahatan dari orang yang tidak bertanggung jawab.

III. Penutup
Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, pada asalnya hukum mandi di kolam renang
tidak diperbolehkan karena beberapa sebab, diantaranya karena tempat tidak aman, aurat
dapat terlihat oleh orang lain, menimbulkan bahaya-bahaya yang lain, dan menimbulkan
fitnah. Namun jika di kolam renang tersebut tidak ada penghalang-penghalang yang
disebutkan, maka diperbolehkan seorang wanita berenang atau mandi di dalamnya.
Wanita muslimah dilarang mengunjungi atau mandi di kolam renang yang tidak
memperhatikan aspek-aspek keislaman. Aspek yang mendasar sehingga diperbolehkannya
seorang wanita muslimah mandi di kolam renang adalah di dalam kolam renang itu
seluruhnya harus wanita, baik itu pengunjung ataupun karyawannya dan memakai pakaian
yang longgar dan tidak ketat.
Berdasarkan pemaparan sebelumnya maka dapat diambil simpulan sebagai berikut:
a. kaum muslim harus menutup auratnya ketika mandi di tempat umum;
b. wanita muslimah wajib menutup auratnya ketika mandi di tempat mandi yang dikhaskan
untuk wanita;
c. melihat suasana tempat mandi umum itu, wanita hendaklah menghindari kolam renang yang
di dalamnya tidaksesuai dengan syariat islam, hal itu bertujuan untuk menjaga kesucian
iman dan pandangan;
d. wanita hendaklah memelihara sungguh-sungguh sifat malu dan mesti sentiasa berhati-hati di
dalam setiap perbuatan, khususnya yang melibatkan aurat mereka, contohnya ketika
menukar pakaian.

Daftar Pustaka
Al-Asqalani. Ibnu Hajar. 1996. Fathu al-Baari bi Syarhi Shahih al-Bukhari, Bairut: Dar al-Fikr.
Rahmah, Annisa. 2013. Hukum Wanita Memasuki Pemandian Umum, (Online), (http://ghazaauthor.blogspot.com/2013/04/hukum-wanita-memasuki-pemandian-umum.html , diakses 7
Juni 2014).
Saif, Muhammad. 2012. Aurat Wanita Merdeka Menurut Madzhab Syafii, (Online),
(http://www.saif1924.wordpress.com/2012/11/03/batasan-aurat-wanita-menurut-madzhabsyafii/, diakses 7 Juni 2014)